Posted in Chaptered, Family, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance, School Life

Two Person – About Park Soo Rin

Prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop | #6.Start Again, Meet Again | #7.The Real Kim Ki Bum | #82person-pt8

Genre :: School Romance

Rated :: PG

Length :: Mini Series

||KiSoo||

enjoy the story ^^ Happy reading!

ㅡㅡ

When he knows her big secret…

ㅡㅡ

KIBUM baru saja keluar dari Ruang Kepala Sekolah. Bersama dengan dua siswa yang tak lain merupakan para anak buah Kang In. Setelah kejadian yang hampir berujung saling membunuh itu berakhir, muncul seorang guru konseling yang akrab dipanggil Guru Shin Dong. Beliau mendengar kabar dari salah satu murid yang telah mengadu padanya karena melihat bagaimana kejamnya Kim Ki Bum menghabisi Kang In hingga berakhir dengan dibawanya Kang In ke rumah sakit oleh dua temannya yang lain.

Kepala Sekolah Daejeon Gwanjeo menjatuhkan hukuman pada keduanya, setelah mendengar pengakuan dari dua teman Kang In sebagai wakil lelaki itu, Ki Bum dan Kang In mendapat skorsing empat minggu lamanya. Beliau juga memberikan dua surat pemberitahuan untuk orang tua mereka mengenai perihal ini. Satu surat untuk Kang In dititipkan kepada salah satu temannya. Bahkan, keempat teman Kang In juga mendapat getahnya karena sudah membantu Kang In sekaligus menawan seorang gadis yang tidak seharusnya terlibat. Mereka juga mendapat skorsing seminggu lamanya. Lebih ringan dibandingkan kedua petarung berandal itu.

Ki Bum tidak segera pulang. Ia melangkah menuju Ruang Kesehatan di mana gadis itu berada saat ini. Terakhir sebelum memenuhi panggilan dari Kepala Sekolah, kondisi gadis itu masih tampak kacau kala ditangani oleh Guru Goo yang merupakan dokter khusus sekolah ini.

Memasuki ruangan tersebut, mendekati bilik tirai di mana gadis itu berada, Ki Bum mendapati sosok yang selama ini berputar di kepalanya kini tengah terlelap di tempat tidur dengan ditemani oleh sang guru.

“Dia belum lama terlelap. Kondisinya berangsur membaik sebagaimana dengan dirinya mampu mengatasi rasa sakitnya.” Goo Hye Sun, dokter sekolah ini menjelaskan dengan suara halusnya. Dokter muda itu kini bangkit dari duduknya lalu menghadap lelaki itu. Seulas senyum tipis terpatri di bibir tipisnya. “Dia terlalu memikirkanmu, asal kau tahu itu,” lanjutnya penuh arti.

Ki Bum harus merasa tercekat kala mendengar pemberitahuan itu. Ia mendesah pelan melihat bagaimana gadis itu terlelap tak jauh di sebelahnya. Kenapa gadis itu justru memikirkannya dibandingkan diri sendiri? Tidak kah dia tahu bahwa itu membuat Ki Bum semakin merasa bersalah?

“Kau juga butuh pemulihan, Kim Ki Bum.”

Ki Bum kembali mengalihkan pandangannya pada Hye Sun. Dokter muda itu melangkah keluar dari bilik, mengambil beberapa alat pengobatan sebelum memerintah Ki Bum untuk menghampirinya dengan isyarat mata. Lalu harus meringis tertahan kala Hye Sun menyentuh sebelah pundaknya yang terasa sangat nyeri.

“Kau memiliki riwayat cedera?”

Sejenak Ki Bum tertegun mendengar pertanyaan tepat sasaran itu. Oh, ya, tentu saja tepat sasaran. Bukankah orang yang ada di hadapannya merupakan seorang dokter? Lagipula, sedikit masuk akal jika ia langsung meringis padahal Hye Sun hanya sekedar menyentuh jika itu hanyalah luka ringan.

Ne.”

“Berhati-hatilah. Kau hampir membuat bahumu lumpuh, kau tahu?” Hye Sun menasihati.

Seonsaengnim.”

Hye Sun yang kini tengah menyiapkan beberapa obat untuk menyeka luka Ki Bum kini harus merespon panggilan lelaki itu dengan kembali mendengak.

“Apa Seonsaengnim tahu riwayat penyakit yang diderita Soo Rin?”

Ada jeda yang cukup lama bagi Ki Bum setelah melontarkan pertanyaan itu. Ia melihat Hye Sun tampak berpikir dalam diamnya. Seolah jawaban yang diperlukan Ki Bum adalah jawaban yang sulit untuk dilontarkan. Hingga akhirnya mendengar perempuan itu menghela napas singkat.

“Kau tidak perlu khawatir. Soo Rin sudah cukup membaik dan—”

“Tolong beri tahu aku, Seonsaengnim.”

Hye Sun menelan kembali ucapannya kala mendengar pernyataan memohon itu. Ia menatap serius lelaki yang juga tengah menatap serius padanya. Sedikit tidak menyangka bahwa lelaki ini akan memotong ucapannya yang merupakan bentuk kilahan karena dia tidak yakin akan mengutarakan hal ini mengingat siapa orang di hadapannya kini.

“Tapi, ini cukup raha—”

“Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan kekasihku.”

Mendengar pengakuan lugas itu, Hye Sun mengatup bibirnya dan memilih untuk merasa tergelitik. Selama ini dirinya tahu apa yang terjadi dengan dua insan ini. Mendengar bagaimana gencarnya gadis yang selalu berada dalam pengawasannya itu terhadap lelaki ini, juga bagaimana acuhnya lelaki ini terhadap gadis itu. Dan kini, dia tidak menyangka akan mendengar kata itu keluar dari mulut lelaki acuh ini. Apakah itu berarti bahwa lelaki ini sudah menerima sang gadis?

Well, bukan ini yang seharusnya dia pikirkan. Kim Ki Bum sedang mengorek informasi soal Soo Rin padanya. Dan mungkin tidak ada salahnya dia memberitahu perihal ini kepada lelaki yang sudah mengakui Soo Rin sebagai kekasihnya. Oh, jika gadis itu mendengarnya sendiri, sudah dipastikan bahwa gadis itu akan berjingkrak senang bukan main.

“Aku akan mengobatimu di ruanganku. Sekaligus bicara padamu.”

****

Ki Bum melangkah gontai keluar dari ruangan Hye Sun. Kedua matanya menatap kosong lantai lorong yang dipijakinya. Kondisinya saat ini memang lebih baik setelah mendapat pengobatan dari Hye Sun, namun ada hal lain yang membuatnya seperti sekarang ini.

Penjelasan dari Hye Sun, berhasil membuat batinnya mencelos hingga merasa kebas. Sebuah kanyataan yang baru ia ketahui mengenai kenapa Soo Rin seperti sekarang ini ternyata berhasil mengguncang perasaannya.

“Soo Rin memiliki kelainan pada paru-parunya. Ukuran paru-parunya lebih kecil dibandingkan ukuran paru-paru normal. Ditambah ia memiliki inflamasi pada dinding saluran bronki yang cukup memprihatinkan sebagaimana dengan yang dimiliki oleh penderita asma. Hanya saja, karena kelainan yang dimilikinya, ia menjadi lebih rentan untuk terkena asma dibandingkan penderita asma akut kebanyakan.

Dia tidak bisa terlalu lelah, tidak bisa untuk banyak berpikir, juga tidak bisa merasa tertekan barang sedikit pun. Sedikit saja dia merasa tertekan karena sesuatu, akan memengaruhi saluran pernapasannya hingga menyempit dan mudah sekali sesak napas. Itulah mengapa selama ini dirinya diwanti-wanti untuk terus mengantungi inhaler ke mana pun ia pergi. Dia bahkan memilih untuk meninggalkan obatnya di sekolah karena takut tertinggal di rumah dan memilih menyimpan obat penahan rasa sakit di dalam tasnya. Mungkin obat itu jarang dipakai, namun sekalinya ia mengonsumsi kala kambuh, dia harus memakan 2 tabletnya sekaligus.

Dia bahkan pernah tidak sadarkan diri karena kehabisan napas, dan kami hampir kehilangan dirinya. Itulah mengapa, sebenarnya aku cukup ketakutan jika sudah menghadapi dirinya yang kambuh seperti tadi. Karena aku sangat mengkhawatirkan kondisinya yang sangat memprihatinkan.

Tidak ada yang tahu mengenai hal ini selain aku dan Kepala Sekolah. Kakaknya yang merupakan dokter kenalanku juga menitipkan Soo Rin padaku serta meminta untuk tidak menyebarkan hal ini pada siapapun. Hanya saja, karena kau adalah orang yang paling dekat dengan Soo Rin di sini, aku rela membocorkannya padamu. Dan aku harap kau bisa menjaga rahasia ini, juga menjaga Soo Rin lebih baik lagi jika seandainya aku lengah mengawasinya.”

Ki Bum menatap nanar gadis yang masih terlelap di tempat tidur ruang kesehatan. Dia masih tidak menyangka bahwa gadis seperiang Soo Rin ternyata memiliki kekurangan. Mengingat bagaimana begitu aktifnya Soo Rin ke sana kemari, begitu gencarnya mengejar ke sana kemari, mengulas senyum yang lebar hingga bersikap layaknya orang yang tidak pernah mengenal seperti apa memiliki beban.

Tapi sebenarnya, inilah beban yang dimiliki Soo Rin. Beban yang hanya bisa dipikul oleh diri sendiri dan tidak bisa diberikan maupun sekedar dibagi pada orang lain. Memiliki cacat pada organ dalam tubuh yang sangat vital. Bahkan bisa berujung fatal.

Kini Ki Bum mengerti kenapa gadis ini kambuh di belakang gedung kala itu, kenapa gadis ini selalu mengantungi obat medis itu ke mana pun, kenapa gadis ini bersikap tidak peduli dengan segala omongan orang yang menggunjingnya, dan memilih untuk bersikap seperti gadis polos yang tidak mengerti apa itu sindiran.

Semua itu karena Soo Rin tidak boleh merasakan apalagi mengenal apa namanya tertekan. Dan bodohnya, dengan brengseknya Ki Bum membuat gadis ini harus merasakan itu sebanyak dua kali. Atau bahkan mungkin berkali-kali, hanya saja Ki Bum tidak mengetahuinya.

Bisa dibayangkan sebesar apa rasa bersalah yang sudah memenuhi batinnya saat ini. Membayangkan bagaimana gadis ini begitu menderita diam-diam karena segala macam bentuk penolakan yang sudah dilontarkannya selama ini. Bagaimana Ki Bum membentak Soo Rin beberapa kali, meneriaki Soo Rin, hingga merendahkan usaha memasak Soo Rin kala itu. Semua itu kembali menghantui pikiran Ki Bum hingga terolah menjadi sebuah rasa bersalah yang begitu besar.

Bagaimana bisa Ki Bum menginjak-injak perasaan Soo Rin yang sebenarnya sangat lemah dibandingkan apa yang selama ini Soo Rin tunjukkan padanya?

Ya Tuhan, Ki Bum memang tidak pernah berubah dari yang namanya lelaki brengsek. Selalu bersikap kasar pada semua gadis yang mendekatinya. Bahkan dulu, Ki Bum tidak tanggung-tanggung untuk murka pada gadis yang berani menyentuhnya, mendorong kasar gadis yang berani mendekatinya, bahkan menghina gadis-gadis itu dengan kata-kata kasar.

Dan Ki Bum masih mengulanginya, pada gadis yang kini tengah terbaring lemah di hadapannya.

Tangan besarnya bergerak menyentuh poni yang menjuntai menghalangi kening Soo Rin. Ada gemetar yang nampak di jemarinya kala berhasil menyentuh surai itu, menggambarkan begitu berhati-hatinya Ki Bum melakukannya, seolah sedikit saja ia melakukan kesalahan, dia bisa menghancurkan gadis yang tampak rapuh saat ini. Ia menyingkap poni Soo Rin dengan perlahan, melihat bagaimana kerutan yang tercipta di permukaan kulit tersebut samar-samar, menandakan bahwa sebenarnya gadis itu tidak begitu nyaman di dalam lelapnya. Kemudian, ia mengusap lembut bagian itu, dengan penuh rasa… seolah ingin menyalurkan perasaannya pada gadis di hadapannya saat ini.

Namun ternyata sentuhan kecilnya mampu menarik Soo Rin dari alam bawah sadar. Gadis itu perlahan membuka mata dan langsung mendapati sosok dirinya yang masih berdiri di sebelah tempat tidur ini. Lalu tanpa diduga, gadis itu langsung tersadar penuh dan segera mendudukkan diri. Menatap dirinya penuh cemas.

“Kim Ki Bum, kau baik-baik saja? Apa kau terluka parah?”

Ki Bum seperti mendapatkan tonjokan keras dari kepalan tangan Kang In tepat di ulu hati. Tenggorokannya serasa tercekat mendengar suara gadis ini justru melantunkan kalimat yang menohoknya. Menanyakan keadaannya.

Ya Tuhan, kenapa gadis ini justru mengkhawatirkannya?

“Astaga, Kim Ki Bum, wajahmu penuh luka seperti ini!” Soo Rin bahkan tanpa sadar menarik tangan Ki Bum hingga lelaki itu terduduk di sisi tempat tidur dengan mudahnya. Memudahkan Soo Rin untuk melihat lebih jelas goresan-goresan lebam yang menghiasi wajah tegas yang sudah tidak terbingkai kacamata itu. “Bagaimana bisa Kim Young Woon sampai membuat wajahmu seperti ini? Apakah masih terasa sakit? Apakah sangat sakit? Apa kau butuh—”

Kata-kata Soo Rin terputus seketika saat Ki Bum segera memeluk tubuhnya. Begitu erat seolah hendak menenggelamkan tubuh rampingnya ke dalam besarnya kungkungan tubuh Ki Bum yang begitu kekar. Jantung Soo Rin segera berpacu begitu cepatnya begitu merasakan tangan besar itu merengkuh tengkuk di balik rambutnya sekaligus belakang kepalanya, merasakan suatu kehangatan yang tersalurkan dari tangan tersebut sekaligus menggelitiknya. Dia pernah merasakan sentuhan ini kala dirinya ingin membela Ki Bum di kantin beberapa hari lalu namun berujung Ki Bum yang melindunginya, tapi sekarang sentuhan ini terasa lebih kuat sensasinya kerena tubuhnya yang benar-benar rapat dengan tubuh lelaki ini.

O1

“Bodoh…” Ki Bum akhirnya bersuara. Namun ia harus sedikit menahannya karena begitu berat dan serak suaranya saat ini. Dia bahkan harus menelan saliva susah payah sebelum kembali bersuara, “Kau benar-benar bodoh.”

Tubuh Soo Rin meremang kala merasakan lelaki ini menjatuhkan dagunya pada pundak kecilnya. Jantungnya berdebar kencang mendengar suara berat itu bergetar menusuk sebelah telinganya.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku? Apa karena aku yang selalu menolakmu?”

Soo Rin mengerjap bingung. “Kau bicara apa?”

“Kau mambuatku menjadi lelaki kejam karena terus menyakiti perasaanmu, kau tahu? Kau membuatku kembali menjadi lelaki yang tidak memiliki perasaan karena terus menyiksa gadis sepertimu.”

“Kim Ki Bum—”

“Jangan bicara seolah kau tidak pernah tahu. Jangan bicara seolah kau tidak pernah merasa sakit!” Ki Bum mengeraskan rahangnya, mengatup mulutnya rapat-rapat kala merasakan suatu desakan mendorong di dalam tubuhnya, memaksanya untuk menyeruakkan hingga dirinya harus setengah mati menahannya. “Aku sudah tahu. Semuanya. Mengenai dirimu.”

Soo Rin menelan saliva. Jantungnya seperti baru saja meloncat begitu menangkap maksud dari ucapan yang terdengar serak itu. Jadi, Kim Ki Bum sudah tahu? Sudah tahu mengenai penyakitnya? Soo Rin harus terpaku di tempat, apalagi merasakan pelukan lelaki ini semakin mengerat seolah ingin mengikat segala pergerakannya barang sekecilpun. Dia tidak tahu harus merasa senang, sedih, atau merasa begitu lemah karena lelaki ini sudah mengetahuinya, sekaligus memeluknya seperti sekarang ini.

“Apa yang harus aku lakukan… untuk menebus semua kesalahanku?”

Mengerjap pelan, Soo Rin merasakan batinnya mencelos mendengar suara yang menusuk sebelah telinganya terdengar begitu berat dan tertekan. Soo Rin tidak pernah bermaksud untuk membuat Kim Ki Bum merasa bersalah padanya. Tidak pernah berharap Kim Ki Bum akan mengetahuinya. Dia justru berusaha keras untuk menyembunyikan kelemahannya ini pada Kim Ki Bum. Tapi, dia merasa gagal setelah apa yang terjadi di lapangan tadi. Dia menunjukkannya, mempertontonkannya di hadapan lelaki ini, hingga akhirnya ia memilih pasrah serta dirundung ketakutan bahwa lelaki ini justru akan menjauhinya.

Tidak kah dia terlihat bodoh? Dia justru mengkhawatirkan hal itu di saat semua orang tengah ketakutan akan wujud asli lelaki ini kala di lapangan tadi. Meski sebenarnya dia juga ketakutan melihatnya. Dia lebih takut akan kecacatannya yang sudah terlihat jelas.

Soo Rin akhirnya menggeleng pelan. Kedua tangannya bergerak perlahan melingkari tubuh Ki Bum, membalas pelukannya, meremas kemeja yang dikenakan lelaki ini, dan menyamankan diri pada kurungan erat lelaki ini. Lalu menjawab, “Bisakah kau tetap bersamaku?”

Mata tajam Ki Bum yang sudah meredup mulai memanas. Ki Bum tidak pernah merasa seemosional ini hanya karena seorang gadis. Dia bahkan masih mengingat bagaimana dirinya setiap berada di dekat gadis dulu. Dan dia masih seperti itu kala bersama gadis ini. Tapi kenapa gadis ini masih menginginkan dirinya? Kenapa gadis ini masih ingin berada di dekatnya dan memintanya untuk tetap berada di dekat gadis ini?

“Kau masih menyukaiku setelah melihat siapa aku sebenarnya?”

Soo Rin mengangguk di dalam pelukan Ki Bum. Membuat Ki Bum tercekat.

“Aku berbahaya, kau tahu itu.”

Soo Rin menggeleng. “Kau berbahaya bagi Kim Young Woon, bukan bagiku.”

“Kau tidak mengerti…”

“Aku memang tidak mengerti. Yang kumengerti adalah aku menyukaimu bagaimana pun dirimu saat ini.”

Ki Bum memejamkan mata rapat-rapat. Apa gadis ini benar-benar bodoh? Apa dia tidak mengerti bagaimana berbahayanya Ki Bum bagi gadis ini? “Kenapa kau begitu menyukaiku?”

Ada jeda sesaat setelah Ki Bum mengutarakan pertanyaan itu. Tanpa lelaki itu sadari, saat ini Soo Rin tengah tersenyum serta dihiasi dengan wajah merona. Gadis itu menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”

Ki Bum mulai gemas dibuatnya. Sebenarnya terbuat dari apa otak Soo Rin sampai tetap berpikiran seperti itu? Dia ingin sekali mencubit kedua pipi gadis ini karena begitu polosnya pikiran yang dimilikinya. Namun Ki Bum harus menelan niatnya itu karena gadis ini justru tidak ingin melepas pelukannya kala ia hendak bergerak mundur, justru semakin merapatkan diri.

“Jangan lepaskan! Aku ingin seperti ini lebih lama,” gumam Soo Rin malu-malu. “Kau tahu? Aku selalu membayangkan untuk bisa memeluk punggungmu, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa memelukmu seperti ini. Hehehe.”

“Ya Tuhan, Park Soo Rin…” desah Ki Bum merasa geli. Apa gadis ini tidak bisa membaca situasi? Dia sedang merasa bersalah tapi gadis ini justru bertingkah seolah ingin menghiburnya! Dan lagi, pengakuan macam apa itu? Gadis lugu ini selalu membayangkan untuk bisa memeluk punggungnya—selama ini?

“Aku menyukai punggungmu. Karena aku selalu berjalan di belakangmu hingga setiap saat melihat betapa lebarnya punggungmu, aku jadi ingin memeluknya. Tapi, aku lebih senang jika memelukmu seperti ini. Apalagi kau juga memelukku…” Soo Rin memejamkan mata sejenak, wajahnya semakin terlihat merona kala menjelaskan hal tersebut. “Ini lebih menyenangkan, sepertinya…”

Ki Bum mendengus halus. Tanpa Soo Rin ketahui, Ki Bum sudah dibuat rela untuk mengulas senyum yang begitu manis seperti sekarang ini. Lelaki yang hampir tidak pernah tersenyum, kini berani melakukannya hanya karena kata-kata konyol nan polos dari mulut Soo Rin. Menyadarkannya untuk tidak melepas dekapannya dalam beberapa waktu ke depan, membiarkan gadis ini merasakan kehangatannya, membiarkan gadis ini merasakan detak jantungnya yang berdegup cepat. Dia harus tahu bahwa perlakuannya itu telah berhasil memporak-porandakan hati keras Ki Bum dan berujung menjadi seperti sekarang ini.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Bisakah kau menyebut namaku sekali lagi?”

Kini Ki Bum mengernyit kala Soo Rin akhirnya melepas pelukannya, lalu beralih terpana melihat wajah manis itu sudah merona disertai senyum yang menawan, menimbulkan desiran aneh sekaligus dorongan ingin merengkuh wajah itu—dalam benaknya. Oh, astaga, Ki Bum berharap tangannya tidak lancang untuk melakukan hal itu.

“Aku baru menyadari bahwa itu adalah kali pertama kau menyebut namaku.” Soo Rin memamerkan cengirannya, membuat semburat merah di kedua pipinya menjadi-jadi.

Persetan dengan pertahanan. Ki Bum sudah tidak kuasa menahan dorongan yang semakin kuat karena melihat wajah merona itu. Sebelah tangan besarnya segera bergerak merengkuh wajah Soo Rin, merasakan begitu halusnya kulit permukaan yang memerah itu, membangkitkan sensasi seperti tersengat listrik bertegangan rendah bagi keduanya. Memicu lebih cepat debaran hingga desiran yang berputar-putar di sekujur tubuh mereka.

Begitu menyenangkan…

“Lalu, aku harus berkata apa setelah menyebut namamu, Park Soo Rin?”

Seketika senyum Soo Rin mengembang setelah mendengar namanya kembali keluar dari mulut Kim Ki Bum. Ada raut senang yang begitu cerah memancar di sorot matanya. Apalagi melihat lelaki di hadapannya akhirnya mengulas senyum padanya. Meski dengan wajah penuh luka, Soo Rin masih mampu menangkap begitu menawannya Kim Ki Bum jika sedang tersenyum.

Hanya dengan melihat lelaki itu akhirnya tersenyum padanya, sudah membuat Soo Rin begitu bahagia. Bukankah itu merupakan kemajuan baginya untuk membuat lelaki ini menyukainya?

Ataukah, Kim Ki Bum memang sudah memulainya…

BAM

Pintu Ruang Kesehatan menjeblak setelah dibuka paksa. Mengejutkan keduanya hingga Ki Bum melepas rengkuhannya sebelum menoleh ke arah ambang bilik tirai di mana muncul seseorang dengan wajah tegang tak lama setelahnya. Namun orang itu segera mematung di ambang bilik tirai begitu melihat pemandangan di hadapannya—melihat seseorang yang tengah duduk menemani adiknya…

“Jung Soo Oppa?” Soo Rin terkejut melihat kakaknya datang dalam keadaan terengah-engah. Masih mengenakan kemeja biru muda yang diingat Soo Rin memang dikenakan oleh sang kakak untuk bekerja hari ini.

Jung Soo sendiri justru memilih untuk tidak bergerak. Matanya bahkan sudah tidak fokus pada adiknya yang memandang penuh heran dirinya. Dia menatap penuh pada lelaki yang juga tengah menatapnya dengan raut yang sama seperti dirinya saat ini—terkejut sekaligus tidak menyangka.

“Dokter…”

Tebakan Jung Soo memang benar adanya.

****

Jung Soo mendapat kabar dari Hye Sun bahwa adiknya kembali kambuh. Itulah mengapa ia memilih untuk pulang dari rumah sakit lebih cepat dan segera melajukan mobilnya menuju sekolah adiknya  demi menjemputnya.

Tapi, Jung Soo hampir melupakan akan lelaki yang selama ini diceritakan oleh Soo Rin. Dia juga tidak menyangka bahwa lelaki itu menemani Soo Rin di tempatnya beristirahat. Sekaligus terkejut bahwa lelaki itu memanglah lelaki yang Jung Soo khawatirkan selama ini.

Setelah mendapatkan data medis yang diberikan Dong Hae beberapa hari lalu. Jung Soo menebak bahwa Kim Ki Bum yang diceritakan Soo Rin adalah Kim Ki Bum yang pernah dirawat di rumah sakit tempat dirinya bekerja, tepatnya di Bulan Desember tahun lalu. Sesuai dengan data yang didapatkannya, Ki Bum dahulu merupakan murid dari Sekolah Gwangju kala menjadi pasien. Dan Soo Rin pernah bercerita bahwa Ki Bum merupakan pindahan dari sekolah sana.

Dia mengenal bagaimana Kim Ki Bum yang sebenarnya kala ia dilarikan di rumah sakit sana. Lelaki itu dalam keadaan terluka parah setelah bertarung dengan seseorang hingga membutuhkan Dokter Spesialis Orthopedi karena cedera serius di bahunya. Sedangkan Jung Soo sendiri adalah dokter pertama yang menangani lelaki itu ketika masuk ruang Instalasi Gawat Darurat kala itu. Setelah mencari tahu, Jung Soo menyimpulkan bahwa lelaki itu merupakan anak berandalan yang sudah membuat beberapa musuhnya terluka parah.

Jung Soo tidak menyangka bahwa adiknya menyukai orang yang sama. Sejak mendapatkan data itu, Jung Soo terus dirundung gelisah karena mencemaskan adiknya. Dan kecemasannya semakin menjadi bahwa apa yang dikhawatirkannya memanglah benar. Lelaki itu kembali muncul di hadapannya, dan kini memengaruhi adiknya.

“Soo Rin-ah, masuklah dan tunggu di dalam. Ada yang harus Oppa bicarakan dengan temanmu.”

Soo Rin mengerjap beberapa kali. Matanya kemudian melirik lelaki yang berdiri tidak jauh di belakang Jung Soo, mengawasinya dari jauh. Soo Rin masih sempat mendengar bahwa Ki Bum memanggil kakaknya itu dengan sebutan dokter. Dan Soo Rin bertanya-tanya, apakah kakaknya sudah pernah bertemu dengan Kim Ki Bum? Lalu sekarang, untuk apa Jung Soo bicara pada Kim Ki Bum?

Jung Soo segera membuka pintu mobilnya, menghela Soo Rin agar duduk manis di kursi penumpang sebelum akhirnya menutup kembali pintunya. Lalu berbalik melangkah mendekati Ki Bum yang sedari tadi ikut mengantar Soo Rin meski dari jarak terjaga.

Ada aura tidak mengenakkan begitu keduanya berdiri saling berhadapan. Ki Bum memilih untuk menundukkan pandangannya kala tahu bahwa Jung Soo tengah menatap tajam dirinya. Sejak dulu, Jung Soo selalu memandangnya dengan tatapan seperti ini. Masih diingat olehnya kala Jung Soo mendumal betapa buruknya dia yang bertabiat sangat liar saat melakukan pengecekan ke ruangannya. Ki Bum menyadari bahwa pria ini tengah menasihatinya meski dengan cara menyindir saat itu. Karena memang benar bahwa tidak seharusnya pelajar seperti dirinya berkelakuan seperti kala itu.

“Kau bertarung lagi?”

Ki Bum tidak segera menjawab. Melihat wajahnya yang dibalut akibat luka di sana-sini, bagaimana Jung Soo tidak menyimpulkan seperti itu? Ki Bum akhirnya mengangguk pelan, hanya sekali, “Ne.”

“Siapa korbanmu yang kesekian kali?” tanya Jung Soo sarkastis.

Ki Bum memilih untuk tidak menjawab. Ia mendengar pria di hadapannya mendesah keras.

“Aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan. Tapi perlu kutegaskan sekali lagi bahwa Park Soo Rin adalah adikku. Dan adikku begitu menyukaimu,” ada nada tidak suka terselip di kalimat Jung Soo kala mengutarakannya. Keningnya pun mengerut menandakan hal yang sama. “Hanya saja, aku tidak menyukai lelaki seperti dirimu, Kim Ki Bum. Dengan tabiatmu yang ternyata belum berubah sejak aku melihatmu dulu, aku rasa aku akan menentang hubungan kalian jika kau berani menyukai adikku.”

Ki Bum harus merasakan tenggorokannya tercekat mendengar kalimat telak dari Jung Soo. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Batinnya menolak keras akan sebuah keputusan yang sudah dijatuhkan oleh Jung Soo. Dia bahkan belum memulainya, tapi pria ini sudah memeringatinya!

Jung Soo sendiri memilih untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menyembunyikan kepalannya di dalam sana begitu sebuah kalimat membayangi kepalanya. “Kau adalah orang yang bisa saja membahayakan adikku, kau tahu itu.”

Kemudian Jung Soo melangkah pergi begitu saja, menuju mobilnya yang terparkir di lapangan sekolah dan masuk ke dalam kursi kemudi. Meninggalkan  Ki Bum yang berdiri kaku di pinggir lapangan, mengantar kepergian mobil itu yang melewatinya begitu saja untuk keluar dari area sekolah.

Barulah Ki Bum merasakan rasanya ditampar setelah menyadari sepenuhnya rentetan kalimat Jung Soo. Kakak dari gadis itu sudah menunjukkan bahwa dia tidak menerima kehadiran Ki Bum. Dan secara tersirat menyuruhnya untuk tidak menyukai gadis itu dan berhubungan dengan gadis itu. Atau lebih tepatnya, menyuruhnya untuk mundur sekarang juga.

Ki Bum menunduk dalam. Merasa sulit untuk bernapas. Dia sadar betul bahwa tabiatnya sangatlah buruk dan sudah pasti akan membahayakan gadis itu—kapan pun dan di mana pun. Tapi…

Apakah Ki Bum bisa melakukannya? Di saat dirinya justru sudah memulainya?

****

Suasana sekolah sedikit berubah hari ini. Tidak ada keriuhan akan aksi penindasan yang selalu dilakukan oleh komplotan Kang In. Mereka sedang menjalankan masa skorsing mulai hari ini, Kang In bahkan dalam masa perawatan setelah tak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Kondisi lelaki itu bisa dikatakan cukup beruntung meski harus mengalami gegar otak ringan, ia harus memakai penyangga leher karena cedera pada leher di bagian belakang, juga harus terbaring lemah karena hampir sekujur tubuhnya seperti remuk akibat pertarungan di hari Sabtu lalu.

Semua murid yang sudah menjadi saksi bahkan belum bisa berhenti membicarakan topik tersebut hari ini. Meski para tokoh utama tidak hadir, kejadian dua hari lalu masih sangat hangat untuk dibahas. Mereka tidak menyangka bahwa siswa yang selama ini dikenal pendiam dan selalu ditindas, mengamuk pada sang penindas layaknya orang yang sudah tidak mampu menahan diri. Masih diingat di kepala mereka betapa bringasnya lelaki itu mengalahkan sekaligus menjatuhkan seorang Kim Young Woon yang selalu berkuasa dan gemar menindas kaum lemah di sini.

Hanya saja, Soo Rin yang tidak tahu menahu soal kabar setelah kejadian itu sempat menganggap bahwa Ki Bum tidak hadir dikarenakan tengah memulihkan diri. Dia bahkan hanya sekedar mengirim pesan pada lelaki itu untuk banyak beristirahat dan tidak perlu memikirkan nasib sekolahnya.

Aku akan meminjamkan catatanku padamu nanti.

Begitulah isi dari setiap pesan yang dikirim untuk lelaki itu.

Hingga menginjak hari kedua Soo Rin tidak mendapati lelaki itu berada di sekolah, dia tidak sengaja mendengar desas-desus dari teman sekelas yang masih saja membicarakan kejadian tersebut pada saat istirahat berlangsung.

“Aku masih tidak menyangka bahwa lelaki itu bisa terlihat menyeramkan.”

“Kau masih ingat bagaimana dia membantai Kang In? Dia seperti berandalan yang pandai sekali bertarung!”

“Aku rasa itu sudah sewajarnya Kang In mendapatkan balasan atas segala perbuatannya. Dia selalu meremehkan orang-orang lemah seperti kita. Oh, aku menjadi sangat bersalah pada Kim Ki Bum itu.”

“Aku juga. Dan kudengar dia bersama Kang In mendapat hukuman berupa skorsing dari Kepala Sekolah?”

Eo.”

S-skorsing?” Soo Rin mendesis tak percaya. Sontak ia berdiri dan segera menghampiri gerombolan yang tengah bergosip ria itu. “K-kau bilang apa? Kim Ki Bum mendapat skorsing??”

Siswi yang sempat melontarkan kata itu mengangguk pelan seraya mengerutkan kening. “Kau tidak tahu? Bukankah kau sangat dekat dengan Kim Ki Bum?”

Soo Rin tercenung di tempat. Dia tidak memberi tahuku sama sekali, gumamnya dalam hati. Ia segera kembali ke tempat duduk, meraih ponselnya di dalam tas lalu mengetik sebuah pesan untuk lelaki itu.

Ya! Kau mendapat skorsing? Kenapa tidak memberi tahu aku?!

Dan untuk kali pertama, Soo Rin mendesah gusar karena tidak segera mendapatkan balasan.

 .

.

Sampai waktu belajar-mengajar berakhir pun Soo Rin tetap tidak mendapatkan balasan. Dia bahkan beberapa kali mengirim pesan setelahnya setiap waktu istirahat maupun waktu luang lain. Seperti:

Berapa lama kau menjalankan skorsing?

Apakah sangat lama?

Ya! Beri tahu aku!

Kim Ki Bum!

Soo Rin menghentak-hentakkan kaki di tempat duduknya karena ponselnya tidak pernah memberi tanda adanya pesan masuk. Sebenarnya dia sadar betul bahwa lelaki itu tidak akan pernah membalas pesan-pesannya tapi, kenapa sekarang Soo Rin berharap sekali lelaki itu membalasnya?

Apakah karena dia terlalu khawatir pada Kim Ki Bum?

“Aah, seharusnya aku tidak berharap banyak seperti ini…” gumam Soo Rin lemah. Ia pun segera membereskan peralatan tulisnya ke dalam tas. Menyimpan obat semprot yang selalu disakunya ke dalam loker kelas, kemudian keluar dari kelas. Memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu dan berpikir untuk segera pulang.

Drrrtt… drrrtt…

Tepat ketika ia berhasil menapaki lantai dasar, ponsel di saku Soo Rin bergetar panjang yang menandakan adanya panggilan masuk. Begitu ia berhasil mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya, ia terkejut bukan main.

Soo Rin berpikir bahwa Jung Soo atau mungkin Ji Min yang menelepon. Tapi kini dia harus merasakan jantungnya serasa melompat tinggi begitu melihat layar sentuh pada ponselnya menerterakan nama orang yang terus ia khawatirkan seharian ini.

Kim Ki Bum meneleponnya!!

Ada rasa senang yang membuncah di dalam benaknya begitu mendapatkan kenyataan ini, namun di sisi lain ia merasakan kedua tangannya bergetar karena mulai gugup. Hei! Bagaimana tidak gugup jika orang yang kau sukai, yang selama ini tidak pernah membalas pesan-pesanmu, tiba-tiba saja meneleponmu tanpa adanya prediksi dari dirimu sendiri?!

Soo Rin bahkan merasakan jantungnya sudah berdegup kencang melihat kenyataan ini. Ibu jarinya segera menyentuh layar sentuhnya dan menggeser tanda jawab. Cepat-cepat ia menempelkan ponselnya ke sebelah telinga.

Yeoboseyo?”

“Kupikir kau sudah tahu bahwa aku mendapatkan skorsing.”

Ini benar-benar suara Kim Ki Bum!!

Oh, astaga, Soo Rin bahkan sudah tampak merona di pipinya begitu suara berat itu menggema di sebelah telinganya. Rasanya seperti lelaki itu tengah berbisik tepat di telinganya, begitu mendebarkan! Dia bahkan secara tidak sadar sudah mengembangkan senyum manisnya meski sebenarnya dia tengah mengkhawatirkan si pemilik suara berat itu. Heol

“A-aku hanya tahu bahwa kau tidak hadir karena sedang memulihkan diri…”

“Kau tidak ingat bahwa aku bertarung di lingkungan sekolah?”

Soo Rin memajukan bibir bawahnya. “Aku tidak ingin mengingatnya.”

Ada jeda cukup lama di seberang sana. Soo Rin bahkan harus menelan saliva menunggu suara itu mengalun lagi dengan gugup. Sempat dirinya berpikir, apakah dia sudah salah bicara? Sampai-sampai lelaki itu tidak langsung membalas ucapannya.

“Karena itu menyeramkan, bukan?”

Kini giliran Soo Rin yang tidak langsung membalas pertanyaan itu. Ia mampu menangkap adanya nada penyesalan di balik ucapan itu. Dan Soo Rin tidak tahu bagaimana harus berkata. Apakah dia harus meminta maaf karena sudah membuat lelaki itu seperti tengah menyesal? Sungguh, Soo Rin tidak menyimpulkan bahwa Kim Ki Bum lelaki yang menakutkan hingga dia harus menghindarinya. Dia hanya, terkejut melihat sebuah sifat yang hampir tidak pernah dilihat selama hidupnya dan ternyata cukup membuatnya terguncang. Berbeda dengan sifat Kang In yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sifat itu.

“Maafkan aku.”

Soo Rin tertegun mendengar ucapan yang tergolong lirih itu. Padahal dia sendiri juga ingin mengucapkan kata tersebut, namun lelaki itu lebih cepat darinya. Serta, Soo Rin harus mencelos mendengar ucapan yang bagaikan sesuatu yang tidak pernah keluar dari mulut lelaki itu.

“Kenapa kau meminta maaf?”

“Kau masih tidak mengerti juga?”

“Sudah kubilang, aku tidak mau mengerti,” Soo Rin mulai memberengut. Ia segera melanjutkan, “Berapa lama kau akan menjalankan skorsing?”

“Empat minggu.”

“Selama itu?!” Soo Rin melotot tidak percaya. Jika Ki Bum melihat reaksinya ini, mungkin lelaki itu akan tertawa meski harus ditahan setengah mati. Percayalah bahwa gadis itu begitu menggemaskan saat ini. “Yaa, aku tidak bisa bertemu denganmu selama itu?!”

Eo.”

Ish!” mengerucutkan bibir, Soo Rin menghentakkan kaki dengan kesal. “Kalau begitu, beri tahu aku alamat rumahmu!”

“Untuk apa?”

“Aku akan mendatangi rumahmu. Setiap pulang sekolah!”

“Kau gila?”

Soo Rin semakin merengut mendengar desisan itu. “Beri tahu aku alamat rumahmu, Kim Ki Bum!”

“Tidak.”

“Kenapa?!”

“Aku tidak mengizinkan!”

“Lalu bagaimana aku bisa bertemu denganmu?!”

“Kau hanya perlu menunggu empat minggu lagi.”

“Itu terlalu lama!” Soo Rin mulai memelas. “Hiks… kau tega membiarkanku tidak melihatmu selama itu?”

Well, jika ada yang penasaran bagaimana reaksi Ki Bum di seberang telepon, percayalah bahwa lelaki itu tengah menahan diri untuk tidak melepas tawa mendengar suara memelas Soo Rin. Dia hanya mampu mengumbar senyum geli yang sudah jelas tidak akan dilihat oleh gadis itu.

Ya ampun, apakah gadis itu begitu menyukainya? Sampai-sampai rela memelas seperti itu karena tidak akan bisa melihatnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Ki Bum tidak pernah sesenang ini mengetahui fakta bahwa ada seorang gadis yang begitu merindukannya dan akan merindukannya selama beberapa minggu ke depan nanti.

Hanya saja, ada sesuatu yang berhasil menahan dirinya untuk tidak memberi tahu alamat rumahnya dan membiarkan gadis itu menemuinya dalam waktu dekat. Bahkan hal itu masih terngiang jelas di kepalanya. Meski sebenarnya dia ingin sekali mematahkan peringatan itu.

“Hanya empat minggu. Kau bisa melakukannya,” hanya itu yang bisa Ki Bum ucapkan pada gadis di seberang teleponnya.

Jika ada yang penasaran kenapa akhirnya Ki Bum berani menghubungi Soo Rin—bahkan memilih untuk langsung meneleponnya dibandingkan mengirim pesan, itu dikarenakan bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama seperti gadis itu.

Ia ingin mendengar ocehan gadis itu, karena dia begitu merindukannya.

.

.


hwaaaaaaaaaaaahh~ gimana? Ada kemajuan kah buat hubungan mereka? hahahah

ugh, aku bingung mau cuap-cuap apa soal part ini.. aku lagi baper banget gegara udah bikin cerita ini sampe 3 pt ke depan dan…..yah, begitulah TwT hihihihi //blushblush//?

yap! Sepertinya cerita ini lebih dari 10 pt. Aku gatau lebih tepatnya berapa karena emang belum kelar. Dan aku mulai merasa ragu kalo cerita ini masuk dalam kategori mini series #ditendang ;-;

yaudah, salam aja dari cameo baru kita~ tau drama Blood? Atau gampangnya BBF deh XD

Goo Hye Sun Seonsaengnim :D
Goo Hye Sun Seonsaengnim

kalo di sini, dia jadi Dokter bernama Yoo Rita di drama Blood ><  makanya aku pinjem dia di sini (?) heheheh

yosh! Aku berterima kasih sekali buat para readers yang udah bersedia baca cerita absurd ini, sekaligus memberi masukan. Berkat readers aku jadi semangat lanjutin cerita ini loh~ semoga ga bosan nyemangatin aku biar cerita ini kelar ya~^^ juga, semoga ceritanya ga membosankan ;w; hwhw

Terima kasih sudah mau mampir!! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

35 thoughts on “Two Person – About Park Soo Rin

  1. haduhhh Kibum mulai menyukai Soo Rin kkkk~ rasanya senang sekali. Tapi walau begitu kisah Soo Rin dan Kibum pasti tidak akan mudah, dari sang kakak dan Kim Sang Bum huffttt berjuanglah kalian berdua ^^

  2. wuahhh, makin keren aja ceritanyaaa penasaran sama kelanjutannya. semoga entar kim ki hum berhasil buat yakinin jung soo
    hahhhh, semangat lanjutinnya kak :))

  3. kemajuan yang signifikan untuk hubungan ki bum dan soo rin. tapi kenapa jung soo opppa tidak merestui? padahal ki bum kan udah mulai berubah jadi lelaki baik-baik!!

  4. Aaaahhh aku suka part ini, banyak sweet moments nya … DAEBAK
    nextnya jangan lama-lama yah dor di tunggu nih ..

  5. Haaah aku ketingalan….

    Seru, klw bisa panjangin lgi ea..kkkk

    kim bum kok gk ada ea, kmna dia..?
    Hyuk ah d lanjut jangan lama” ea..

  6. duhh.. kenapa jung soo oppa gak ngerestuin sih. Padahal itu awal dari merek, semoga aja restuin deh. Kkk~

    Ditunggu oart berikutnya eonni. Semangat yoshhh!!😄

  7. kasihannya ki bum karna gak di kasih restu hohoho
    oh pt ini tenang dan damai sekali karna gak ada si sangbum hihihi >,,<dan itu karna soo rin nyahahahahaha
    next part ,aku tunggu ❤

  8. Yah gimana nih Jung Soo oppa gak suka adiknya deket sama Ki bum yg berandalan menurutnya…
    Dah ada kemajuan nih KiSoo nya, moga kedepannya Jong soo oppa bisa kasih restunya buat hubungan KiSoo…
    Akhirnya Ki bum kalah jg sama Soo rin yg pantang menyerah, yg tetep suka sama Ki bum walo udah liat aslinya Ki bum kayak gimana….
    KiSoo nya moga langgeng 😘😘😘

  9. aku.. bayangin kim kibum itu lee jongsuk di drama school 2013 .-.
    Siskachi tau drama nya? hihi soalnya karakternya hampir sama, cupu tapi ternyata berandal xD
    ossu!! sbenernya aku baca ff ini selalu deg2an, soalnya serius banget :’33 tegang juga /atau emang aku aja yg biasa ga serius
    tapi emang kim kibum orangnya kaku(?) jadi ff ini cocok buat dia x33
    soorin, aku berharap kamu bisa ke rumah kibum dan ngerusuh disana wkwkwk xD

  10. Klau gitu soo rin gk bleh tertekan dong bahaya jga penyakit yg di derita soo rin,haha ktawa liat soo rin duh cinta bgt sma bang kibum gk mau pisah trussss gimna klanjutann hubungan kibum klau leeteuk gk setuju,dah lma gk mampir kangen bgt bca ff author

  11. Kenap Jung Soo Oppa gak ngerestuin padahal Ki Bum kalo didekat Soo rin jadi cowok hangat , penyayang dan perhatian T.T , ih Soo Rin bikin gemes kelakuannya lucu banget kayanya Ki Bum tergila gila tuh 😀 , ayo Ki Bum jangan nyerah-terus berjuang jangan dengerin omongan Jung Soo Oppa anggap aja dia angin lewat :v , wks~ Kang In geger otak untung geger otak gak sampe geger nyawa 😀

  12. Masih sangat penasaran dengan masa lalu kibum? Apa yang terjadi? Kenapa jungsoo kelihatan seperti benar-benar tidak suka dengan kibum? Padahal kibum sudah mulai membuka perasaannya untuk soorin, tapi sekarang harus terkendala oleh jungsoo. Masa lalu kibum masih belum jelas. Beruntungnya jadi soorin, akhirnya perasaannya terbalas, walau sepertinya masih banyak rintangan yang harus dihadapi oleh keduanya.

  13. yaah.. giliran Kibum udah mulai suka dan menerima keberadaan Soorin, Jungsoo malah nggak ngerestuin dan minta Kibum buat menjauh dari Soorin.
    Padahalkan Kibum berantem sama Kang In juga untuk melindungi Soorin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s