Posted in Category Fiction, Chaptered, KiSoo FF "Two Person", PG-17, Romance, School Life

Two Person – The Real Kim Ki Bum

Prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop | #6.Start Again, Meet Again#72person-pt7

Genre :: School Romance Life

Rated :: PG-17

Length :: Mini Series

||KiSoo||

::Harshness scene! Beware!!::

Happy reading^^

ㅡㅡ

When he chose to change—because of her…

ㅡㅡ

DUA lelaki itu berdiri berhadapan menatap satu sama lain. Aura tidak mengenakkan mengelilingi mereka yang saling menghujani sorot tajam dengan cara masing-masing. Seolah tengah bersaing siapa yang lebih kuat sekaligus tahan dengan tajamnya mata mereka.

Meski dengan raut wajah tenang, lelaki berparas menawan itu menyimpan segudang kemisteriusan di balik senyum ramahnya. Berbeda dengan lelaki yang kini membiarkan barang belanjaannya tergeletak begitu saja di atas permukaan bahu jalan. Tampak tegang sekaligus menyimpan ketidaksukaan akan keberadaan lelaki di hadapannya kini.

“Mau apa kau kemari?”

Lelaki berparas menawan itu hanya mendengus pelan mendengar pertanyaan dingin itu. Ia kemudian menjawab, “Apakah ini merupakan daerah kekuasaanmu sehingga aku tidak diperbolehkan menginjakkan kaki kemari?” ia kembali mengulas senyum ramahnya, senyum ramah yang menyimpan penuh arti. “Aku mencarimu ke mana-mana, tapi begini caramu menyambutku, Kim-Ki-Bum?”

Ki Bum, lelaki dengan wajah dinginnya itu mulai merasakan sesuatu yang panas di dalam benaknya. Mendengar namanya dieja oleh mulut itu telah berhasil membuat rasa tidak sukanya terpancing. “Untuk apa kau mencariku? Apa kau belum puas juga merasakan kepalan tanganku?”

Lelaki itu hampir tergelak. “Bukan kepalan tanganmu, melainkan tongkat baseball-mu.”

Ki Bum hampir melayangkan kepalan tangannya kala mendengar kalimat meremehkan itu. Dengan mudahnya lelaki itu mengutarakan hal yang sangat dihindarinya sekaligus sangat rentan memancing gejolak emosinya. Dan ia harus menekan hasrat untuk menerjang lelaki itu karena melihat senyum layaknya orang tak berdosa padanya. Membuatnya ingin mendecih keras.

“Kau masih menyimpannya, bukan? Kalau begitu, siapkan saja untuk berjaga-jaga. Mungkin saja suatu saat aku akan mengajakmu berduel lagi.”

Setengah mati Ki Bum berusaha untuk tidak melakukan apapun. Hanya menyorotkan tatapan mematikan pada lelaki di hadapannya ini. Dia masih ingat tujuannya hingga berada di tahap sekarang. Dia tidak ingin mengulangi hal-hal seperti itu. Dia sudah bersumpah untuk tidak melakukannya lagi.

“Ah, aku hampir melupakan sesuatu,” lelaki itu tampak memandang Ki Bum dimulai dari atas hingga ke bawah. “Kau berubah drastis. Bahkan aku baru menyadari bahwa kau ternyata memiliki penglihatan buruk hingga harus mengenakan kacamata, eh?”

“Berhenti mengusik kehidupanku, Kim Sang Bum.”

Lelaki berparas menawan itu, yang dipanggil Kim Sang Bum oleh Ki Bum, hanya mengulas senyum manis misterius kala mendengar lelaki di hadapannya akhirnya menyebut namanya. “Tapi aku tidak menyangka bahwa dengan penampilanmu seperti ini, kau masih mampu mengundang seorang gadis untuk tertarik padamu.”

Seketika wajah Ki bum mengeras mendengar ungkapan itu. Bagaimana bisa Kim Sang Bum mengetahui akan hal itu? Apakah dia sudah mengawasi kehidupannya beberapa waktu belakangan ini? Oh, astaga, bagaimana bisa lelaki ini tahu keberadaannya? Hingga kehidupan pribadinya yang baru ini?

“Bahkan gadis itu selalu mengawasimu dari jauh. Tidakkah dia terlihat sangat manis dengan tingkah lugunya itu? Aah, rasanya aku sangat ingin berkenalan dengannya. Siapa namanya?”

Sialan.

Ki Bum meringsek maju, hanya selangkah, namun sudah mampu membuat mereka berhadap-hadapan sekaligus menambah intensitas aura gelap di sekeliling. Seolah saat ini mereka tengah bertanding saling menjulangkan tubuh tinggi mereka. Sekaligus bertanding saling melempar tatapan menghunus dengan cara tersendiri.

“Kuperingatkan padamu untuk tidak pernah mencampuri urusanku lagi. Dan gunakan kesempatan keduamu untuk hidup dengan benar.” Ki Bum mendesis tajam, tepat di hadapan Sang Bum. Mata di balik kacamatanya itu mulai menggelap setelah mendengar tutur kata terakhir dari Sang Bum.

Dan Sang Bum menyadari perubahan itu.

“Atau lebih tepatnya, kau tidak mengizinkanku untuk mendekatinya.”

Tepat sasaran.

&&&

Sejak pertemuan tak terduga itu, Ki Bum sudah dilanda perasaan tidak tenang. Tanpa sadar dirinya selalu memeriksa ke sekitar setiap bertemu dengan Soo Rin di luar sekolah. Seperti di saat bertemu di depan gerbang sekolah maupun kala mereka keluar dari sekolah bersama. Memang hal itu tidak disadari oleh Soo Rin mengingat tidak pekanya gadis itu akan perilaku diam-diam Ki Bum ini. Dan itulah yang membuat Ki Bum semakin was-was.

Soo Rin tidak pernah tahu akan kehidupan pribadinya. Tidak pernah mengenal orang-orang terdekatnya. Dan tidak pernah mengetahui tabiat aslinya. Soo Rin hanya mengetahui kepribadiannya selama berada di sekolah. Hanya sebatas itu. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia menjadi seperti ini. Tidak mengerti kenapa dia mengkhawatirkan perkataan Kim Sang Bum yang masih terngiang di kepalanya. Tidak mengerti kenapa dia mengkhawatirkan bahwa lelaki itu akan melakukan hal tersebut.

Mengkhawatirkan Soo Rin yang bisa saja bertemu dengan Kim Sang Bum kapan saja.

Tidak. Bukankah sudah sepantasnya dia merasa seperti ini? Dia hanya tidak ingin Soo Rin mengetahui hal yang tidak seharusnya diketahui. Soo Rin tidak ada urusannya dengan hal ini. Dan Soo Rin tidak sepatutnya dilibatkan oleh masalah pribadi mereka.

Meski sebenarnya ada alasan lain mengapa Ki Bum menjadi was-was akan hal ini.

Tapi waktu terasa berjalan begitu cepatnya. Apa yang dikhawatirkan Ki Bum benar-benar terjadi. Dia melihat sendiri, di depan mata, bahwa Sang Bum menghampiri Soo Rin sekaligus berkenalan dengan gadis itu… dengan gelang sebagai pengantar pertemuan mereka. Sekaligus memberikan tatapan menantang yang jelas ditujukan padanya, menunjukkan bahwa Sang Bum sudah memulai ancaman halusnya. Dengan cara yang halus pula.

Kim Sang Bum telah berhasil membuat Ki Bum kelimpungan diam-diam.

 .

.

“Kim Ki Bum, neo wae geurae (kau kenapa)?”

Ki Bum tersentak di tempat duduknya. Kemudian ia menghela napas cukup panjang. Heol, dia sudah melamun berapa lama barusan? Seingatnya suasana kelas masih sunyi menyimak Guru Jang menjelaskan materi di depan kelas. Tiba-tiba saja sekarang kelas hampir kosong karena jam istirahat sudah dimulai.

Soo Rin sendiri tempak mengerutkan kening di balik poninya. Tumben sekali dirinya melihat Ki Bum melamun sampai-sampai meja belajarnya masih dipenuhi dengan buku-buku catatan yang terbuka berserakan. Bukankah itu menandakan bahwa lelaki ini melamun sejak bel istirahat berbunyi?

“Kau melamun?”

Ki Bum berdeham salah tingkah. Ia segera membereskan buku-buku catatannya dan memilih untuk menjawab pertanyaan Soo Rin secara tidak langsung, hanya dengan gumaman pelan. Aah, benar-benar! Apakah Ki Bum benar-benar sudah mengkhawatirkan hal ini?

“Kau melamunkan apa? Beri tahu aku! Ayo kita lamunkan bersama!”

Pletak!

“Aak!” Soo Rin langsung memegangi kening berponinya yang baru saja menjadi sasaran sentilan tangan Ki Bum. Mengusap-usapnya seraya meringis kesakitan.

“Dasar bodoh!” gerutu Ki Bum sedikit jengkel. Mana ada orang mengajak temannya untuk melamunkan sesuatu bersama-sama? Gadis ini bodoh atau apa, sih? Membuat Ki Bum gemas saja.

Hiks… Kim Ki Bum memukulku… ini sakit sekali…” Soo Rin mulai merengek seperti anak kecil. Bahkan tangannya tidak berhenti mengusap-usap keningnya. Wajah manisnya terlihat lucu dengan bibir melengkung ke bawah seperti tengah menangis.

Seketika Ki Bum merasa bersalah melihat wajah memelas itu. Juga batinnya merutuki perbuatannya yang sudah melakukan hal yang bisa saja masuk dalam tahap kekerasan pada gadis ini. Bahkan ia segera dihantui oleh bayang-bayang masa lalu…

Tanpa berpikir lagi, dengan sedikit panik Ki Bum menyingkirkan tangan Soo Rin dari sana, menyingkap poni gadis itu demi memeriksa lokasi yang sudah menjadi sasaran empuk sentilannya. Err, tidak berbekas… hanya ada bercak merah yang sangat samar bahkan hampir tidak terlihat. Apakah itu bisa dikatakan membekas?

Tentu saja iya, Bodoh! Ki Bum mengumpat di dalam hati. Dengan rasa bersalah ia mengusap lembut bercak memerah itu dengan ibu jarinya. Berharap dengan begini mampu menyembuhkan rasa sakitnya. Dia bahkan terlihat begitu berhati-hati.

Tanpa ia sadari, Soo Rin yang mendapat perlakuan tak terduga itu mengerjap terperangah. Matanya menyorot penuh wajah Ki Bum yang memancarkan kekhawatiran di baliknya. Hingga kemudian ia merasakan sesuatu meletup-letup di dalam perutnya lalu merambat ke dadanya, memicu jantungnya untuk berdetak di atas normal, kemudian merambat lagi ke atas—menuju wajah manisnya.

Barulah Ki Bum menyadari reaksi gadis di hadapannya itu. Wajah yang mulai menampakkan semburat kemerahan itu berhasil menyerang ketenangan seorang Kim Ki Bum. Kedua tangannya yang masih bertengger di kepala Soo Rin mendadak kaku karena ia tengah menahan sebuah dorongan yang muncul tiba-tiba. Astaga, dia berharap pertahanannya tidak runtuh hanya karena sebuah keinginan untuk merengkuh wajah itu dan berakhir dengan dirinya yang mencium kedua pipi merah merona itu.

Hentikan pikiran anehmu, Kim Ki Bum! Oh, ya ampun, kenapa Ki Bum berani berpikiran seperti itu?!

Segera saja Ki Bum menyingkirkan kedua tangannya dari sana. Berdeham pelan menetralkan rasa gugupnya sekaligus jantungnya. Dia baru menyadari bahwa jantungnya sudah berdegup secara tidak wajar hanya karena melihat gadis itu merona. Apakah pipi merah itu sangat menarik di matanya? Haishi!

Soo Rin sendiri segera menunduk seraya merapikan kembali poninya. Diam-diam dirinya mengatur napas yang sedikit tidak karuan karena sedari tadi menahan napas, hanya karena melihat wajah tegas itu cukup dekat di hadapannya. Juga merasakan gelenyar aneh yang menyenangkan menggelitik benaknya, mengingat kembali perhatian kecil yang diberikan oleh Kim Ki Bum baru saja.

Lihat saja, dia mulai mengulum senyum malu-malunya itu.

“Kau… tidak ke kantin?”

Soo Rin segera mendengak. Ada letupan kecil menggelitik jantungnya kala mendapati wajah tegas itu tengah menatap datar dirinya. Meski tanpa ekspresi seperti itu, sudah membuat Soo Rin berdesir-desir tidak karuan.

Tidak tahu saja bahwa sebenarnya Kim Ki Bum sedang berusaha keras untuk tidak terbawa suasana!

E-eo! Ayo kita ke kantin! Aku membawa bekal untukmu.”

Ddo… (lagi…)” Ki Bum menggumam jengah kala gadis itu segera beranjak kembali ke tempat duduknya untuk mengambil kotak makan. Bukan apa-apa, hanya saja dia tidak habis pikir kenapa gadis itu masih saja berbaik hati membawakan bekal untuknya. Ki Bum menjadi tidak enak hati karena secara tidak langsung dia sudah merepotkan gadis itu. Benar, bukan?

Kaja!” ajak Soo Rin ketika kembali berada di dekat Ki Bum. Sebelah tangannya menarik-tarik bagian lengan blazer Ki Bum seperti anak kecil yang mengajak orang dewasa untuk bermain. Membuat lelaki itu akhirnya mendengus menahan geli sebelum bangkit dari duduk. Melangkah keluar dari kelas bersama.

Hanya saja begitu mereka sampai di depan kantin. Kang In datang menghampiri mereka dengan raut wajah menahan amarah. Entah amarah karena apa, tapi yang jelas mata sipit nan tajamnya itu menatap lurus pada Ki Bum yang hanya menguarkan raut datar.

“Kau pikir hanya dengan mencengkeram tanganku maka kau sudah menjadi pemenang? Jangan berbangga hati, Nerd!”

Mendengar desisan tajam dari Kang In, sontak Soo Rin bergerak maju demi melakukan pembelaan. Lelaki gempal yang satu ini harus diberi pencerahan! Apakah dia tidak ada puas-puasnya menindas Kim Ki Bum?!

Namun niatnya harus terkurung begitu merasakan sebelah tangannya digenggam, menahan pergerakannya hingga ia memilih untuk menoleh pada sang pelaku. Sayangnya Soo Rin hanya melihat raut datar yang tidak berubah sedikit pun dari wajah tegas Ki Bum. Mengejutkannya, Soo Rin justru ditarik mundur hingga berdiri di belakang Ki Bum. Seolah dirinya perlu dihindari dari seorang Kang In.

Melihat perilaku tersebut, Kang In mendengus sinis. Dengan congkaknya ia mengangkat dagu menantang Kim Ki Bum. Ia berucap, “Aku memang tidak akan berurusan dengan gadismu meski dia sudah membuat masalah denganku, tapi aku akan berurusan sepenuhnya denganmu! Jika kau memang bukan pengecut sebagaimana denganmu yang sudah merendahkanku, temui aku di tengah lapangan sepulang sekolah nanti!”

Soo Rin harus membelalakkan mata, menangkap maksud dari undangan itu. Oh, tentu saja dia tahu maksud dari Kang In menyuruh Ki Bum bertemu dengannya. Selama ini, jika Kang In sudah menjatuhkan keputusan itu, itu berarti Kang In ingin bermain fisik dengan lawan yang diundangnya!

Kang In bergerak semakin mendekat, seolah ingin membuktikan bahwa dirinya memiliki tubuh yang lebih menjulang sekaligus kuat dibandingkan Ki Bum. Bahkan telunjuknya bermain-main di bahu Ki Bum, menunjuk keras bagian itu seolah sedang meremehkan sang empu. “Jika kau tidak datang, kuanggap kau lebih buruk dari pengecut!”

Tanpa menunggu jawaban dari Ki Bum, Kang In pergi begitu saja, bahkan dengan seenaknya menyenggol kasar bahu Ki Bum kala melewatinya. Meninggalkan para saksi yang mulai bermunculan karena penasaran dengan apa yang tengah Kang In lakukan pada lelaki culun itu.

“Kim Ki Bum, kau tidak akan menghiraukan ucapan Kim Young Woon, bukan?” Soo Rin mulai dilanda gelisah melihat wajah tegas itu tetap tidak mengumbar ekspresi apapun. Hanya kediaman yang justru membuat Soo Rin mampu merasakan aura tidak mengenakkan yang menguar dari lelaki ini. Yang segera Soo Rin tangkap apa yang tengah direncanakan oleh lelaki ini.

Oh, tidak…

****

dgfield

Suasana lapangan sekolah sudah dipadati banyak murid begitu bel tanda akhir belajar-mengajar berbunyi. Berita tantangan itu menyebar dengan cepatnya mengingat Kang In mengutarakannya secara terang-terangan di depan kantin. Kini mereka berkumpul membentuk lingkaran besar di mana Kang In sudah berdiri menunggu di tengah-tengah dengan angkuh. Ia membiarkan tasnya tergeletak di pinggir lingkaran massa dengan blazer sekolah yang sudah tertanggal tergeletak di atas tasnya.

Lelaki itu bahkan sudah menyingsingkan bagian lengan kemejanya hingga batas sikut. Wajah sangarnya sudah mengeras meski dihiasi dengan senyum penuh sombong. Bayang-bayang kala lelaki berkacamata itu hampir meremukkan pergelangan tangannya pada 2 hari lalu masih berputar di kepalanya. Menyulut sebuah emosi hingga menggelegakkan sekujur tubuh, membuatnya merasa gatal ingin segera membalas dendam.

Enak saja, seorang penindas yang paling berkuasa di sekolah dikalahkan oleh siswa culun? Mau ditaruh di mana wajahnya?

“Kim Ki Bum, kau tidak mungkin datang ke sana, bukan? Kau ingin langsung pulang, bukan?”

Soo Rin yang sudah tidak tenang sejak pertemuan di depan kantin tadi, hampir tidak pernah melepas tatapan khawatir pada lelaki yang masih tampak tenang di sebelahnya. Dia bahkan terus mengekori ke mana pun lelaki itu pergi dengan terus melontarkan pertanyaan yang sama, sejak pertemuan itu. Entah pikiran dari mana karena Soo Rin tiba-tiba saja membayangkan seandainya lelaki ini datang mendatangi Kang In dan mencari mati di tangan Kang In. Sungguh, itu membuatnya merinding sendiri.

“Kim Ki Bum, kita keluar lewat belakang gedung saja, eo? Di sana ada pintu gerbang kecil yang biasa dilewati tukang kebun sekolah ini untuk membuang sampah!”

Lagi, Soo Rin tidak digubris oleh lelaki itu. Dia semakin dibuat panik lantaran Ki Bum terus menuruni tangga yang semakin dekat dengan lokasi lapangan yang terletak di bawah gedung sana. Terpaksa Soo Rin memberanikan diri menggenggam tangan Ki Bum demi menahan lelaki itu melanjutkan menapak anak-anak tangga.

“Kim Ki Bum! Kau tidak boleh mendatangi Kim Young Woon sekarang!!”

Ki Bum akhirnya menatap gadis yang sudah panik setengah mati, karenanya. Dia mampu melihat napas Soo Rin mulai jelas naik-turun. Iris hitam di balik kacamata tebalnya memancarkan keteduhan yang samar kala melihat dengan jelas bahwa gadis ini tengah mengkhawatirkannya. Tanpa berpikir dua kali, digerakkannya sebelah tangan yang masih terbebas, menuju puncak kepala Soo Rin dan mengusapnya—bahkan menepuknya dengan pelan.

“Aku akan baik-baik saja.”

Soo Rin terperangah. Merasakan sentuhan tak terduga itu, juga mendengar suara yang begitu halus dan tenang tersebut, mampu memicu desiran yang menggelitik sekujur tubuhnya. Entah kenapa dia merasakan intensitas bernapasnya yang sempat begitu cepat kini perlahan menurun. Seolah perilaku lelaki ini adalah pelaku dari reaksi aneh ini.

Bagaimana bisa?

Perlahan Ki Bum melepas genggaman Soo Rin yang mengendur. Menatap sejenak wajah yang kini memancarkan raut tercengang untuknya, sebelum kembali beranjak menuruni anak-anak tangga. Meninggalkan Soo Rin yang berdiri mematung di atas sana.

Apa ini? Kenapa Soo Rin menjadi berdebar-debar di waktu yang tidak tepat seperti ini? Bahkan Soo Rin harus merasakan kedua kakinya seperti tidak menapak. Dia tidak mendapatkan sebuah senyum manis maupun hangat dari lelaki itu. Dia juga tidak mendapatkan sebuah pelukan yang bisa saja menenangkannya. Dan dia tidak mendapatkan kata-kata manis yang keluar dari mulut lelaki itu. Tapi, kenapa hanya sebuah sentuhan dan kalimat sederhana, sudah menggerakkan gelenyar aneh hingga merambat ke sekujur tubuhnya dengan sangat sukses?

Tidak, tidak, tidak! Park Soo Rin, sadarlah! Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkannya! Kim Ki Bum sedang dalam bahaya! Dia harus dihentikan!!

.

Ki Bum menerobos kerumunan para murid Daejeon Gwanjeo yang sudah siap melihat sebuah pertunjukan. Tanpa ada rasa takut, tanpa raut bagaimana pun, ia masuk ke dalam lingkaran massa di mana lelaki berparas sangar itu sudah berdiri di tengah. Menunggunya. Memamerkan seringai tajam yang menggambarkan bahwa sang empu tengah mengintimidasinya.

“Oh! Lihat siapa yang datang! Aku tidak menyangka bahwa dia akan memenuhi undangan dariku!” dengan penuh percaya diri, Kang In bertepuk tangan keras yang segera diikuti oleh beberapa massa yang berdiri tak jauh dari keduanya.

Ki Bum melepas tas punggungnya, meletakkannya di pinggir sebelum akhirnya melangkah ke tengah lingkaran, mendekati Kang In.

Melihatnya, Kang In mendengus keras akan apa yang baru saja dilakukan Ki Bum. Hanya melepas tas punggung? Apa dia bercanda? Apa dia tidak takut seragamnya kotor? Apa dia tidak sayang dengan kacamata tebalnya itu? Apa dia pikir Kang In akan berbelas kasih lalu membiarkannya dalam keadaan rapih seperti sekarang ini? Oh, rasanya Kang In ingin tertawa keras saat ini.

Soo Rin yang baru saja sampai langsung menerobos kerumunan itu. Ia hampir berlari ke tengah jika dua orang yang tak lain adalah anak buah Kang In tiba-tiba datang dan langsung menahan kedua lengannya serta menghimpit tubuhnya di tiap sisi. Mengunci pergerakannya.

Ya! Lepaskan aku!” Soo Rin meronta-ronta yang justru membuat kedua lelaki itu tertawa, meremehkan perbuatannya yang sia-sia.

Mendengar pekikan itu, Ki Bum segera menoleh memeriksa. Mata di balik kacamatanya membesar melihat gadis itu sudah seperti sandera di pinggir sana. Menimbulkan sederet umpatan di dalam batinnya hingga fokusnya mulai hilang.

“Jangan mengalihkan pandanganmu, Nerd!!”

Duagh!

Tanpa basa-basi Kang In memanfaatkan kelengahan itu dengan satu tonjokan keras di sisi wajah Ki Bum sebagai pembukaan. Lelaki itu terhuyung ke belakang dengan wajah yang mulai memerah tepat di bagian bekas pendaratan tangan Kang In. Bahkan kacamatanya terlepas dan terlempar akibat hentakan keras di wajahnya.

Menciptakan keriuhan dari tiap mulut para penonton di sana, sekaligus pekikan keras dari mulut Soo Rin yang melihat lelaki itu jatuh berlutut.

Parahnya, Kang In menginjak keras kacamata lelaki itu, menggerak-gerakkan kakinya dengan terus menyiksa benda tak berdosa itu hingga tidak berwujud lagi. Hancur tak bersisa. Sungguh, malang sekali benda itu.

Tak puas dengan satu pukulan, Kang In menarik kerah Ki Bum, memaksa lelaki itu untuk berdiri kemudian kembali melayangkan bogem mentah hingga sudut bibir lelaki itu robek dan mengeluarkan darah pekat.

“KIM KI BUM!!!”

Kang In menyeringai lebar mendengar teriakan Soo Rin. Sejenak ia melirik gadis yang tengah ditawan oleh dua anak buahnya itu, tampak panik sekaligus kalang kabut melihat kondisi lelaki di genggamannya.

Melepas cengkeramannya dengan kasar, Kang In kembali melayangkan tonjokan keras di sisi wajah Ki Bum yang lain hingga sang empu terjerembab ke permukaan tanah lapangan.

“Bangun, Nerd!! Apa kau tidak bisa melawanku?! BUKANKAH KAU BISA MEREMUKKAN TANGANKU, HAH!!” teriak Kang In seraya menarik paksa Ki Bum untuk kembali berdiri.

“Hentikan!! Kim Young Woon, hentikan!!!”

Kang In justru semakin menjadi-jadi. Tak tanggung-tanggung ia meninju perut juga dada Ki Bum dengan lututnya berkali-kali sebelum menendang telak bahu lelaki itu hingga kembali terjerembab. Membuat suasana semakin panas dengan kerasnya teriakan para murid yang menyoraki kedua petarung ini. Lebih tepatnya menyoraki kekuatan seorang Kim Young Woon.

“KUMOHON HENTIKAN!!!” Soo Rin dapat merasakan suaranya bergetar tak terkendali. Melihat lelaki itu tak berdaya oleh segala serangan tanpa ampun dari Kang In jelas menohok keras benaknya hingga tak mampu membendung rasa ngilu di sekujur tubuh, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh lelaki itu. Mata jernihnya memerah dan berair, dia bahkan sudah menumpahkan airnya yang sudah membumbung di pelupuk mata tanpa sadar. Tubuhnya bergetar hebat bersamaan napasnya yang semakin tak beraturan. Dia sudah tidak mampu untuk meronta demi melepaskan diri.

Ki Bum mengerang beberapa kali, merasakan sakit di beberapa titik bagian tubuhnya. Napasnya sudah tak beraturan hingga ia merasakan sedikit sesak di bagian dadanya. Apalagi merasakan bahunya seperti ditusuk sebilah pedang hingga menembus ke belakang, sungguh nyeri. Rasa khawatir akan nasib bahunya kini mulai muncul. Setelah hampir setahun lamanya ia sembuh dari yang namanya cedera parah, sepertinya dia harus kembali merasakan kambuhnya cedera itu. Dia masih ingat bagaimana Kang In sempat menendang daerah rawannya ini.

Sudut matanya menangkap Kang In yang masih berdiri tegak dan angkuh tak jauh dari tempatnya. Sorak sorai penonton yang meneriaki nama lelaki berandal itu menggema menusuk indera pendengarannya. Membuatnya merasa muak karena dia tahu pasti bahwa lelaki itu tengah berbangga diri. Di atas penderitaannya menahan sakit.

Kang In melangkah mendekat, menahan tubuh Ki Bum yang hendak bangkit dengan sebelah kakiknya. Ia bahkan tanpa belas kasih menginjak sebelah bahu yang sempat menjadi korban tendangan kerasnya. Dan menyeringai penuh kemenangan melihat wajah babak belur itu tampak meringis menahan sakit.

“Aku mohon, hentikan…”

Suara lemah itu berhasil menerobos gendang telinganya. Menggerakkan syaraf motoriknya untuk menggerakkan kepala demi melihat wujud si pemilik suara. Hingga, ia merasakan batinnya mencelos melihat pemandangan yang baru saja didapatnya.

Gadis itu, tampak begitu kacau dengan wajah pucat pasi serta bahu naik-turun. Dengan mata yang memerah itu menyorot ke arahnya. Memancarkan sinar ketakutan dan kekalutan yang jelas ditujukan padanya. Menangis begitu derasnya karena melihat dirinya seperti sekarang ini. Ditambah posisinya yang dicengkeram kuat di tiap sisi oleh dua bocah sialan itu. Dan ia menyadari bahwa kondisi gadis itu sudah menurun drastis.

Membangkitkan sebuah jiwa yang sudah dia kubur begitu rapih selama hampir setahun ini—di dalam sana, juga amarah yang hampir tidak pernah dia rasakan. Amarah yang bermunculan karena melihat gadis itu dilibatkan!

“Aah, sungguh malang melihat gadismu menangis karena melihat dirimu tidak berdaya.” Kang In bersuara dengan nada merendahkan. Ia melepas injakannya, merasa belum puas melihat lelaki itu sudah babak belur di sana-sini, Kang In membungkuk demi kembali menarik kerah seragam Ki Bum yang hampir koyak, memaksa lelaki itu untuk berdiri. “Tapi kita belum selesai, Nerd!!”

“Ya. Belum selesai.”

Dan situasi segera berbalik kala tangan besar Ki Bum mencengkeram tangan itu dengan kuat sebelum memutarnya tanpa ampun, hingga sang empu mengerang lalu terlempar beberapa langkah setelah didorong dengan kasar.

Hanya sepersekian detik bagi Kang In untuk menyadari bahwa lelaki itu sudah berdiri kembali di hadapannya lalu terjungkal begitu mendapatkan tonjokan keras di dagunya. Dan kembali mendapatkan layangan kepalan tangan di wajahnya sebelum mendapatkan sebuah tendangan lutut telak di bagian ulu hatinya.

Suasana yang sebelumnya ramai akan sorakan kini berubah sunyi dan berganti dengan memasang raut tercengang melihat sebuah pemandangan baru. Kim Ki Bum—lelaki yang sudah babak belur itu bagaikan tidak pernah merasakan namanya terkuras tenaga dan memutar balikkan keadaan menjadi dirinya yang kini menyerang Kang In tanpa ampun. Menyikut wajah Kang In dengan bringasnya, menendang lelaki itu hingga terjerembab beberapa kali, menarik paksa tubuh yang tampak lebih besar darinya itu hingga mengoyakkan kemeja yang dikenakan oleh lelaki itu.

Melakukan hal yang hampir sama dilakukan Kang In padanya sebelumnya. Hanya saja, ada yang membuat mereka semua bergidik ngeri melihat pemandangan itu. Wajah babak belur Kim Ki Bum… menampilkan raut wajah menyeramkan layaknya dewa kematian yang hendak menghabisi nyawa Kang In. Mata yang menggelap dengan sorot penuh kekejaman serta segala serangan yang membabi buta, sukses membuat semua insan di sana tak mampu sekedar menelan saliva. Berdiri kaku layaknya melihat eksekusi mati tepat di depan mata.

Bahkan, pemandangan itu mampu membuat Soo Rin seolah tidak bernapas. Tubuhnya semakin kaku dengan mulut yang terbuka namun sangat kelu. Tercengang luar biasa. Soo Rin belum pernah melihat Kim Ki Bum yang seperti sekarang ini. Menyerang Kang In tanpa henti sampai-sampai yang diserang sudah benar-benar kehilangan tenaga, tak berdaya, dan penuh luka di sana-sini. Lebih parah dari Kim Ki Bum!

Apakah yang dilihatnya saat ini adalah Kim Ki Bum? Apakah sosok yang lebih pantas disebut berandal kelas atas itu adalah Kim Ki Bum? Apakah… seperti ini wujud sebenarnya seorang Kim Ki Bum?

DUAGH

Kang In benar-benar terkapar di atas permukaan tanah setelah mendapat tendangan telak di kepala. Wajah sangarnya terlihat mengenaskan dengan darah dan lebam yang sangat parah. Dia bahkan sudah tidak bergerak setelah tergeletak di sana. Membiarkan Ki Bum yang berdiri tegak dengan mata tajam yang menyorot sadis di balik iris hitamnya yang sudah menggelap. Sangat mengerikan.

Ia menoleh cepat ke belakang, menatap bengis pada mereka yang masih berani menahan Soo Rin. Tapi ternyata tatapannya mampu membuat nyali mereka ciut seketika hingga bersamaan melepas cengkeraman mereka dari kedua lengan Soo Rin. Membiarkan gadis itu merosot hingga jatuh terduduk di atas permukaan tanah lapangan. Menyadarkannya untuk kembali merasakan sesak yang begitu menyiksa.

Soo Rin tidak menyangka bahwa apa yang dilihatnya barusan menjadi sebuah tekanan baru untuk keselamatan paru-parunya.

Mereka yang berdiri di belakang Soo Rin langsung bergerak mundur penuh ketakutan. Bahkan dua anak buah Kang In itu segera menyingkir dari sana dan memilih untuk menolong Kang In yang sudah tak sadarkan diri. Oh, sepertinya Kim Ki Bum sudah membuat seseorang dalam keadaan sekarat!

Soo Rin sendiri memilih untuk merogoh kantung blazer-nya. Tangannya sudah bergetar hebat hingga menyulitkannya untuk meraih benda yang berada di sana. Masih diingat bahwa dirinya belum sempat menyimpannya kembali ke dalam loker kelas karena terus mencemaskan lelaki itu. Napasnya semakin memburu hingga timbul suara mengi di sela-sela hembusan beratnya. Dan ia hampir menjatuhkan obat semprot yang sudah berhasil ia keluarkan dari saku jika sebuah tangan tidak segera menggenggam tangannya.

Ki Bum sudah berlutut di hadapan Soo Rin, mengambil alih obat semprot itu ke tangannya dan dengan mulus membuka tutupnya. Ia merangkul bahu yang terasa gemetar juga naik-turun tak beraturan itu lalu membantu menyemprotkan obat tersebut ke dalam mulut Soo Rin dengan cekatan. Kemudian membiarkan gadis itu menghirup udara dengan rakusnya, menelan obat tersebut ke dalam rongga dadanya dengan tergesa.

Hingga tanpa diduga oleh Ki Bum, Soo Rin memeluk tubuhnya sekaligus menyandarkan tubuh melemahnya ke dadanya, mengatur napas di dalam kungkungan tubuhnya, dan Ki Bum mendengar isakan kecil keluar dari mulut gadis ini. Juga sebuah lirihan yang membuat dirinya serasa mencelos.

“Jangan lakukan lagi… kumohon jangan lakukan lagi…”

Ki Bum merasakan pelukan gadis ini mengerat hingga tubuh yang tengah terengah-engah itu semakin merapat padanya. Juga merasakan tangan yang melingkar di punggungnya meremas kuat kemejanya dengan penuh gemetar. Lalu kembali menangis di sana.

Itu terlihat menakutkan…

Sebuah tamparan keras menghantam Ki Bum mendengar kalimat yang hampir menyamai bisikan itu. Jelas membuat Ki Bum merasakan sebuah gejolak yang membumbung di dalam benaknya hingga menjungkir balikkan isi perutnya—terasa mulas luar biasa… mulas karena rasa bersalah.

Ya Tuhan, gadis ini… justru memilih untuk memeluk dirinya dibandingkan berlari menjauh seperti kebanyakan orang meski tahu bahwa dirinya begitu menakutkan.

Tanpa berpikir lagi, ia menggerakkan kedua tangannya yang terasa nyeri untuk memeluk tubuh lemah Soo Rin. Menyandarkan kepala Soo Rin dengan sangat hati-hati. Mengusap punggung kecil Soo Rin perlahan—lebih tepatnya penuh kehati-hatian juga. Mencoba memberikan ketenangan yang dia tidak yakini ada mengingat saat ini dirinya tengah berada dalam wujud yang begitu ditakuti oleh semua orang di sini.

Seharusnya gadis ini tidak pernah melihatnya. Seharusnya gadis ini tidak pernah menyadarinya. Seharusnya gadis ini tidak pernah tahu.

Bahwa… inilah Kim Ki Bum yang sebenarnya. Lelaki yang jauh—sangat jauh dari predikat baik karena tabiat aslinya yang liar juga mengerikan. Lelaki yang pantas untuk dijauhi oleh banyak orang bukan karena dirinya sangat terbelakang, melainkan karena dirinya yang layaknya dewa pengantar maut hingga patut untuk dihindari. Begitu menakutkan.

Mianhae…

Satu kata. Hanya satu kata yang mampu meluncur dari mulutnya. Satu kata yang hampir tidak pernah ia lontarkan selama masa hidupnya yang kelam. Satu kata yang kini mengandung segudang penyesalan setelah apa yang sudah diperbuatnya baru saja. Satu kata… yang tulus ia ucapkan pada gadis di pelukannya… untuk saat ini.

Maafkan aku.

hg

 .

Kim Sang Bum melihat semua kejadian menegangkan itu tanpa ada satupun yang terlewatkan, dengan berdiri berbaur di tengah-tengah kerumunan yang hanya mempedulikan pertunjukan berdarah itu. Keadaan sekolah yang sudah bebas dari waktu belajar-mengajar telah memudahkannya untuk masuk ke dalam area, ikut menjadi penonton pertunjukan tersebut.

Senyum miring tercetak di bibirnya. Ia menurunkan sedikit lidah topinya sebelum berbalik keluar dari kerumunan itu. Merasa sudah cukup dengan apa yang sudah dilihatnya. Melihat sesuatu yang berhasil membuatnya menarik satu kesimpulan.

Welcome back, Kim Ki Bum.

The real Kim Ki Bum.

.

.


sebenernya, part ini yang pengen banget aku posting hahahah

aku gatau ini sukses bikin tegang atau apa, tapi kalo buat aku sendiri……oh my, gosh! what have you done, KimKiBum?!! Aku baper banget baca ulang part ini hahahahahahah x’D heol! Kok bisa aku bikin kimkibum jadi sadis begini orz ><

maafkan aku wahai snowers, aku udah nistain dia sejauh ini TT #dessh

well, tadinya aku mikir mau tulis rating jadi pg15, tapi rasanya ini udah masuk keras jadi….ya begitulah._. meski aku juga mendeskripsikan adegannya ga terlalu detil, sebagaimana aku ngebayangin adegan brantem di beberapa k-drama aja tapi tetep aja udah keras hihihi

gimana? masih kuat mau lanjut? mungkin buat ke depannya udah ga ada lagi julukan si culun kimkibum wkwk #ditendang

udah ah, kebanyakan cuap cuap XD

Terima kasih sudah mau mampir!!! ><

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

46 thoughts on “Two Person – The Real Kim Ki Bum

  1. Wow ki bum telah kembali. Sepertinya soo rin takut liat ki bum yg berantem. Tp meski takut dia tetep ada disisinya dan menenangkannya. Penasaran part selanjutnya? Bagaimana reaksi temen2 ki bum setelah liat itu ke esokan harinya.

  2. Ko aku malah mau yah punya pacar kaya Kibum di part ini *lho xD
    Hehehehehehe kidding deh ..

    Tapi beneran bikin merinding kalo bacanya sebagai readers .. Entah gemana author bikinnya .. Ini part paling ngena banget feelnya ..
    Suka suka suka 😀 😀 😀

  3. huaa, ki bum yg sebenernya kayak gitu thor
    ckckck, kang in udah dpt balasan sekarang

    trus hubungan kimbum dan ki bum dimasa lalu sbnernya apa thor??
    knpa kimbum datang lgi k kehidupan ki bum yg sekarang??

    ,,, daebak, , lnjut thor

  4. Eum, mau bilang apa ya.
    Sampe bingung gini mau bilang apa -.-

    Yang pasti, ini part KEREN !
    Seperti yang kubilang sebelumnya kak,
    ini mengingatkanku pada Lee Jong Suk dalam 2013.

    Aku pikir ini awal part yang paling menegangkan.
    Hayo kak, di next nya jgn lamalama ya xD
    Para ‘pembaca’ mu menunggu ‘Kisu Couple’ 😀

  5. huuuuuu! ki bum serem baget >,<
    oh iya kalo ditelusur telusur lagi sih mungkin si ki bum yng 'dulu' itu adalah anak berandal yang jadi flamboyan daaannn pemain baseball. terus karena entah gulat sama si sang bum itu ,ki bum cidera parah di area bahu -yang pada keyataannya itu sangat penting bagi pemukul pada baseball , dan karena itu ki bum jadi gini dan gitu dan gana *ehhh
    yah itu mungkin cuma ramalan(?) aku ,,nebak nebak ding XD

    moga aja si sang bum itu gak membuang buang pesonanya sama si soorin huhuhu

  6. Kereeeeennnn…..

    Thor critain dong masalalu ki bum sama kimbum seperti apa..?

    Hem kang in sudah dapt blsan dari ki bum, kira” apa lgi yg akn d lakukan kangin nanti sama kibum.? D next akh……!

  7. Wah, aku selalu suka ff kibum di blog ini. Aku ngerasa karakter yang dibuat hidup banget. Berasa kalo itu karakter asli kibum.

    Uni, aku kangen ff Henry-Saehee kapan buat ‘couple ga akur’ itu lagi? XD hehehe

  8. whoaaa
    Kibum yang asli seram banget .. Soorin sampai khawatir begitu. Part selanjutnya ceritain masa lalu Kibum ya jeballl ^^

  9. Woaaa, part ini malah bikin Kibum keliatan keren thor !! Padahal jelas jelas ditulis menakutkan muehehe 😀
    Lanjut terus thor, ditunggu part selanjutnya 😉

  10. huaahhhh the real kim ki bum!!!
    sumpah, kim ki bum kerennn bangett dsiniii. sukaa sama kim ki bum di part ini hahahaha
    gak sabar nunggu part selanjutnyaaaa, semangat kak :))

  11. Woah.. part ini tuh sungguh sungguh mendebarkan. Melihat reaksinya si kibum yg kayak dewa kematian itu jadi ngeri euyy.. dan bagusnya soorin gak ngejauh dari kibum malah peluk kibum.

    Ditunggu part selanjutnya.. udah gak sabar nih kak. 😄

  12. Wuah part ini bikin aku deg2an, suka sama pria dgn karakter seorang Kim Ki Bum…Kang in memang perlu dikasih pelajaran biar kapok kkkkkk….

    The Real Kim Ki Bum keluar, apa yg akan dilakukan Kim Sang Bum?
    Soo rin jd penenang buat netralin emosi Ki bum kayaknya…

    Ditunggu next partnya 😉😉😉

  13. kimkibum :’)) do you wanna be ma hero? /duk
    aaaakk ya ampun cowo petarung ituu emang selalu keren yah wkwkwwwk x//D /malusendiri
    tapi aku sama dokter Dongeks aja boleh? pfft ///
    yewlaa aku degdegan nya malah pas scene ada kim sangbum /loh x(
    aku ngeri soalnya baca yg scene berantem itu :’D /ngakunya suka cowo petarung /
    ahayy udah itu aja mau langsung baca next chapt hihihii (≧▽≦)/~┴┴

  14. kim kibum ama kim sang bum? sodaraan? temen lama? atau musuh sejati?
    kok aku baca ini serasa jdi soorin yaa.
    .
    penyakit kibum sama kaya penyakit yoochun di drama TGWSS ? nntn full geh kaga.
    .
    keren lah kibun ngalahin kang in. kaget juga. hahahhhhhaa
    .
    abaikan.

  15. Kibum berhenti jadi bad boy gara2 cedera nya kah? ._.
    Kimbum seneng bgt kayaknya liat tabiat kibum kembali lagi 😀

  16. Yeah! The real Kim ki bum. Keren pas berantemnya, aku bayangin dengan drama action 😀
    Akhirnya bisa baca “Two person” karena lama banget gk pernah aktif internetan. Alhamdulilah 😉

  17. Mampus tuh Kang In soksokan mau adu jotos sama Ki Bum tau rasakan bukannya menang malah sekarat :v , ih bener bener mengerikan Ki Bum hebat tapi menakutkan , itu Soo Rin takut Ki Bum nyiksa orang atau takut Ki Bum terluka 😀 , Omaygad itu Sang Bum kaya jelangkung tiba tiba muncul terus bikin penasaran

  18. Sebenarnya ada hubungan apa antara kibum dan sangbum? Seperti apa kehidupan masa lalu seorang kim kibum? Kibum yang biasanya selalu diam, tiba-tiba berubah menjadi sangat menakutkan, bahkan melawan kangin hingga membuat kangin menjadi sekarat? Apakah kibum memiliki masa lalu yang sangat kelam?

  19. Kim Ki Bum yang sebenarnya telah kembali/?
    Kibum yang biasanya hanya diam tiba-tiba menjadi menakutkan bahkan dia bisa ngalahin Kang In/?
    Siapa Sang Bum sebenarnya, kenapa Kibum kelihatanya sangat tidak menyukai Sang Bum/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s