Posted in Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, Friendship, KiSoo FF "Two Person", Romance, School Life, Teen

Two Person – Start Again, Meet Again

Prev :: #1.Nerd and Innocent #2.Aggressive #3.Control #4.Can (not) Stop #5.Do (not) Stop | #6

2person-pt6

Genre :: School Romance Life

Rated :: Teen

Length :: Mini Series

||KiSoo||

Happy reading!! ^^

ㅡㅡ

When he meets an old friend…

ㅡㅡ

“AKU pulang!”

Ji Min yang mendengar seruan itu dari ruang tengah segera pergi menyambut. Mata sipitnya sedikit membulat melihat siapa yang datang dengan suara nyaring serta… mengumbar wajah cerah. “Hoo, sepertinya ada yang sedang berbahagia hari ini,” ujarnya kemudian, terdengar menggoda.

Soo Rin yang memang baru datang kini memamerkan cengirannya. Tanpa sadar wajah manisnya itu menampakkan semburat merah merona yang segera ditangkap oleh Ji Min.

“Oh, oh, oh! Wajah Noona merah sekali! Yaa, apa Noona sedang bahagia sekali, eo?” Ji Min tidak dapat menahan rasa gelinya. Ia terkikik pelan. “Jung Soo Hyung pasti akan menganggap Noona sedang tidak waras.”

Yaa!” Soo Rin merengut sebal. Bibirnya mengerucut dibuat-buat karena ia tetap tidak bisa menghentikan senyumnya.

Oh, Ji Min merasa takjub melihat kakaknya begitu bahagia hingga tersipu-sipu seperti itu. Padahal selama tiga hari belakangan ini, setelah kambuh, Ji Min selalu melihat kakak perempuannya itu  begitu lesu. Bukankah noona-nya ini sedang membawa kabar baik?

“Jangan-jangan, Noona baru saja diterima oleh lelaki yang Noona suka?”

Bingo!

Eh, tunggu, bagaimana Ji Min bisa tahu?!

Ish, anak kecil tidak perlu tahu!” Soo Rin mulai tersungut-sungut melihat Ji Min mengerling jahil padanya. Oh, apakah terbaca dengan jelas bahwa dirinya sedang senang karena hal itu? Atau jangan-jangan adiknya yang lebih muda 3 tahun darinya itu mendengar curhatan Soo Rin pada Jung Soo tiga hari lalu?

Heol, sepertinya memang benar. Noona pernah bercerita pada Jung Soo Hyung bahwa Noona menyukai seseorang.” Ji Min bersedekap bangga. Bangga karena tebakannya benar.

Well, tepat sasaran.

Yaa! Kau ini gemar sekali menguping pembicaraan orang!!” Soo Rin meraih telinga Ji Min dan menariknya. Jelas membuat adiknya itu merintih karena tarikannya cukup menyakitkan.

“Aaaakk! Noona, lepas!! Ini telinga berhargaku!!”

“Berharga untuk mencuri dengar, bukan?!”

Noonaa! Sakiiiiiitt!!”

****

“Jadi dia sudah menerimamu?”

Soo Rin mengangguk antusias. Senyum manisnya merekah hingga Jung Soo ikut tersenyum. Saat ini dirinya tengah duduk di tempat tidurnya ditemani sang kakak yang baru pulang bekerja.

“Tapi aku harus membuatnya juga menyukaiku. Oppa, apa yang harus aku lakukan?”

Jung Soo tampak berpikir. Well, dia merasa senang melihat adiknya ini begitu bahagia. Setelah mendengar bagaimana sang adik begitu menyukai seseorang hingga mengejarnya ke mana pun, Jung Soo merasa simpati akan pengalaman pertama sang adik. Jujur saja Jung Soo sedikit terkejut mendengar dari adiknya sendiri bahwa ia sudah diterima kembali. Meski mungkin perasaan adiknya belum terbalaskan sepenuhnya, bukankah itu berarti lelaki itu ingin membuka hati untuk adiknya ini?

“Kau tidak perlu melakukan sesuatu yang berarti, Soo Rin-ah.”

Soo Rin mengerjap bingung. “Maksud Oppa?”

Jung Soo tersenyum. Sebelah tangannya bergerak mengusap pelan rambut tergerai Soo Rin. “Jadilah dirimu sendiri. Oppa rasa dia akan menyukai dirimu sesungguhnya jika kau bersikap apa adanya, sesuai dengan dirimu sendiri.”

“Begitukah?”

Eum.” Jung Soo mengangguk.

Aigo, kenapa adiknya begitu menggemaskan saat sedang menyukai seseorang? Lihat wajah manisnya itu, begitu cerah serta dihiasi dengan semburat kemerahan. Jung Soo tidak pernah melihat adiknya tersipu-sipu seperti ini hanya karena seorang lelaki. Dan Jung Soo harus merasa geli melihat adiknya menjadi seperti anak kecil yang baru mengerti rasa suka. Entah siapa yang beruntung akan hal ini. Adiknya yang sudah berani menyukai seseorang, ataukah lelaki yang sudah menjadi orang pertama yang disukai adiknya ini.

“Jika Oppa boleh tahu, siapa nama lelaki itu?”

Yah, sebelumnya Soo Rin tidak pernah menyebut-sebut nama itu kala bercerita dengan Jung Soo. Dia hanya menyebut dengan sebutan ‘lelaki itu’ kala bercerita. Kini, dengan mata yang berbinar serta wajah yang semakin merona, Soo Rin menjawab, “Kim Ki Bum!”

Perlahan senyum Jung Soo memudar. Ada hal yang tiba-tiba membuat Jung Soo memutuskan untuk berhenti tersenyum kala mendengar nama itu dan berganti dengan kening mulai membentuk beberapa lipatan. “Kim Ki Bum?”

Eung! Namanya Kim Ki Bum.”

Jung Soo tampak tengah berpikir. Keningnya semakin jelas berkerut.

Rasanya nama itu tidaklah asing di telinga Jung Soo.

****

Ki Bum baru saja keluar dari supermarket. Ia mendapat perintah dari Kim Hee Chul untuk membeli beberapa bahan makanan untuk makan malam ini sekaligus untuk keperluan seminggu ke depan. Hari sudah gelap dan kakaknya itu ingin membuatkan makan malam spesial. Oh, dia tidak mengerti kenapa kakaknya itu ingin menyajikan menu spesial hanya karena dirinya sudah berubah.

Bolehkah Ki Bum menyesal karena sudah berani menceritakan hal ini pada Hee Chul? Dia sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba mencurahkan isi hatinya itu kepada seorang Kim Hee Chul.

Bahwa dia kembali menerima kehadiran gadis itu.

Dia masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi gelinya Kim Hee Chul karena berjuang menahan tawa. Bodohnya, dia terus bercerita mengenai dirinya yang menyelamatkan gadis itu hingga berujung menyuruh gadis itu untuk kembali mengejarnya.

“Bagaimana pun, kau melakukan hal itu sudah menunjukkan tanda bahwa kau mulai tertarik dengannya. Buktinya kau tidak rela jika gadis itu berhenti mengejarmu. Kau bahkan tanpa sadar menyelamatkannya dengan tabiatmu. Kau ini sudah terperangkap dengan pesonanya!”

Masih diingat oleh Ki Bum rentetan kalimat yang keluar dari mulut kakaknya itu. Sejenak ingatannya melayang pada momen di mana dirinya berani menyentuh gadis itu bahkan memeluknya. Sungguh, itu dia lakukan dengan mengikuti naluri. Dia tidak berpikir panjang karena—jujur saja—dia tidak ingin melepas genggemannya dari tangan itu hingga berani melakukan lebih.

Astaga, sepertinya Kim Ki Bum sudah dibuat tidak berdaya oleh seorang Park Soo Rin. Bagaimana bisa lelaki sepertinya mudah melakukan hal-hal itu hanya karena seorang gadis serampangan dan polos seperti Park Soo Rin? Dia bahkan menyadari bahwa selama ini dia terus menekan sifat kasarnya yang pernah Hee Chul katakan beberapa hari lalu, di depan gadis itu. Entah kenapa dia tidak bisa melakukan hal berbau fisik yang pernah dia lakukan dulu, setiap gadis itu mendekatinya. Dia justru merasakan dorongan untuk memperlakukan gadis itu dengan baik.

Ough, sepertinya Ki Bum mulai tidak waras. Lihat saja, wajah tegasnya yang masih saja dibingkai kacamata itu kini tengah mengumbar senyum meski samar-samar. Padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini hanya karena seorang gadis!

Dug

Ki Bum menyenggol seseorang dari arah berlawanan. Sejenak batinnya mengumpat karena dirinya kembali melamun hingga tidak memerhatikan jalan. Untung saja dia tidak melepas barang-barang belanjaannya. Jika tidak, habis sudah nasibnya di tangan Kim Hee Chul karena berani menghamburkan uang dengan sia-sia.

“Maaf.”

“Tidak apa, Ki.”

Sontak tubuh Ki Bum membeku setelah mendengar suara itu. Tidak hanya suara itu, tapi kata yang sudah terlontar itu, mampu membuat mata hitamnya melebar sebelum menoleh cepat pada sosok yang baru saja ditabraknya. Dan terhenyak dalam diam begitu berhasil menangkap rupa wajah orang itu.

Wajah yang masih diingatnya, juga sangat dikenalnya, dengan mata teduh yang begitu memikat namun sarat akan ketajaman dan tersimpan sorot kemisteriusan, memamerkan senyum miring yang jatuh menjadi bentuk seringaian. Menyapa Kim Ki Bum.

“Lama tidak berjumpa, Ki.”

Ki Bum harus merasakan jiwa lamanya terpancing untuk kembali.

****

Lelaki itu harus menatap datar kotak makan yang tergeletak di atas meja. Meja kantin. Kemudian menatap gadis yang mengumbar senyum cerah kepadanya seraya membukakan kotak makan tersebut. Memperlihatkan isinya.

Jjaaaaaaaan!

Ki Bum akhirnya menghela napas. “Telur dadar gulung lagi?”

Soo Rin mengangguk cepat. “Karena saat itu kau mengatakan bahwa telur dadar gulung buatanku hambar, aku mencoba membuatnya lagi dengan resep yang lebih benar,” gadis itu meraih sumpit dari dalam lalu mencapit sepotongnya, sambil berkata, “Seharusnya aku mempelajari ini lebih dulu sebelum membuatkan masakan lain. Hehehe.”

Ki Bum terpaksa menahan keinginan tertawanya. Melihat  gadis di hadapannya terkekeh karena diri sendiri, entah kenapa membuat Ki Bum merasa geli. Oh, astaga, kenapa dia bisa goyah semudah ini?

Soo Rin menyerahkan sumpitnya pada Ki Bum. Sedikit menggoyangkannya memberi isyarat pada lelaki itu untuk segera mengambilnya dan segera mencoba. Senyum konyolnya itu tidak pernah menghilang.

Namun hal lain terjadi di luar ekspektasi Soo Rin. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya dan meraih telur dadar gulung tersebut langsung dengan mulutnya, tanpa berniat mengambil sumpit itu dari tangan Soo Rin. Dan ia melihat lelaki itu bergerak mundur kembali menyandar pada kursi, mulai mengunyah.

Apa Kim Ki Bum tidak sadar dengan apa yang sudah diperbuatnya? Apa dia tidak melihat bagaimana reaksi Soo Rin setelah apa yang diperbuatnya? Apa dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu juga menarik perhatian di sekitarnya?

Lihat wajah manis itu, melongo parah dengan mata jernihnya yang mengerjap berkali-kali. Berharap apa yang baru saja dialaminya itu bukanlah halusinasi, khayalan, delusi, atau apalah itu yang berhubungan dengan mimpi di siang hari. Dia tidak pernah berharap atau pun berencana untuk menyuapi lelaki itu. Di kejadian sebelumnya pun dia terpaksa menyuapi lelaki itu karena pemberiannya tidak segera ditanggapi. Soo Rin rasa saat itu bukanlah menyuapi, melainkan menjejalkan telur dadar gulung ke mulut Ki Bum secara paksa.

Dan lagi, tatapan para penghuni kantin di sini. Ada sedikit perubahan mengenai bagaimana cara mereka menatap kedua makhluk itu. Setelah apa yang mereka lihat sehari lalu di tempat yang sama, mereka mulai berpikir bahwa Kim Ki Bum bukanlah sebatas lelaki culun yang pasrah diperlakukan apa saja oleh komplotan Kang In. Ada sisi lain yang dimiliki lelaki itu, yang mulai membuat mereka penasaran sisi apa itu sebenarnya. Kenapa Kang In dan teman-temannya bisa tak berkutik hanya karena Kim Ki Bum menatap mereka kala itu? Bukankah itu berarti lelaki berkacamata itu memiliki sesuatu? Semacam tatapan menghipnotis, mungkin?

Tapi, mereka masih melihat Kim Ki Bum yang berpenampilan rapih seperti biasanya, berkacamata tebal, pendiam, dan dikelilingi kehadiran seorang Park Soo Rin. Mereka sempat berpikir bahwa terjadi sesuatu pada keduanya setelah sempat melihat Kim Ki Bum kembali sendiri dalam jangka waktu yang cukup lama, tiga hari. Dan setelah kejadian itu, mereka melihat keduanya kembali bersama.

Hingga saat ini.

“Berapa banyak garam yang kau masukkan?”

Soo Rin mengerjap sadar. “Garam?” Ia tampak mengingat-ingat. “M-memangnya kenapa? Apakah… terlalu asin?”

Ki Bum melirik kotak makan di antara mereka. “Kau coba saja sendiri.”

Soo Rin segera menggerakkan sumpitnya, mengambil sepotong telur dadar gulung tersebut lalu menyantapnya. Tanpa menyadari sesuatu yang jelas membuat Ki Bum hampir tersedak hingga terpaksa menutup mulutnya dengan sekepal tangan. Apa gadis itu tidak sadar? Sumpit itu sudah menjadi bekas mulut Kim Ki Bum! Oh, lagipula kenapa Ki  Bum menyuruh gadis itu mencobanya? Sudah tahu gadis itu asal menurut saja tanpa berpikir panjang.

“Aku rasa asinnya cukup…” Soo Rin mulai berkomentar. Ia kembali menatap lelaki di hadapannya. “Apakah menurutmu ini terlalu asin?”

Ki Bum memilih untuk tidak menghiraukan hal itu lagi. Sepertinya gadis ini memang tidak peka. Bagaimana bisa Ki Bum disukai oleh gadis yang polosnya kelewatan seperti ini? Ah, sudahlah, lupakan saja. Bukankah itu hanya hal sepele? Kenapa juga Ki Bum harus terlalu memikirkannya?

“Aku tidak berkomentar seperti itu.”

“Lalu? Apakah ini hambar seperti kala itu?”

“Aku juga tidak berkomentar seperti itu.”

Soo Rin mengerucutkan bibir. Sejenak ia merasa lega bahwa lelaki ini tidak menyindir telur dadar gulung buatannya—lagi. Eii, lelaki ini membuat Soo Rin merasa gugup saja.

Ki Bum harus menahan keras untuk tidak tertawa melihat ekspresi menggemaskan itu. Oh, bagaimana bisa wajah dengan bibir mengerucut lucu itu mampu menggoyahkan pertahanan Ki Bum? Sampai-sampai dia harus berjuang untuk mempertahankan wajah datarnya.

“Kau hanya perlu sedikit mengurangi bumbu penyedapnya.”

Ne?”

“Itu terlalu manis.”

Soo Rin menatap kotak makannya juga Ki Bum secara bergantian. Sontak senyumnya kembali mengembang menyadari bahwa Ki Bum tengah memberikan sebuah komentar positif. Tanpa sadar ia membalas dengan antusias, “Begitukah?”

Sedangkan Ki Bum harus mengalihkan pandangannya. Tidak berniat untuk menjawab secara langsung. Dia butuh waktu untuk meredakan desiran aneh di benaknya, hanya karena senyum yang entah kenapa menjadi terlihat manis di matanya.

****

Tok tok

Jung Soo menoleh pada pintu ruang kerjanya. Pintu tersebut segera terbuka setelah dirinya menggumamkan izin, menampakkan seseorang dari baliknya yang kini melangkah masuk dengan membawa sesuatu lalu menunjukkannya dengan cara mengacungkannya.

“Dokter Park, ini daftar pasien yang anda pesan. Banyaknya pasien yang sudah ditangani rumah sakit ini pada tahun lalu sudah dirangkum di dalam sini.”

Jung Soo menerima flashdisk tersebut, menatapnya sejenak sebelum mengangguk-angguk seraya kembali menatap seorang pria yang baru saja mengantarkan pesanannya ini. “Terima kasih, Dong Hae-ya.”

Dong Hae—pria berjubah putih seperti Jung Soo itu akhirnya tersenyum setelah mendengar sebutan akrab itu. Sebuah tanda bahwa dirinya bisa berbicara santai pada pria di hadapannya. “Well, jika membutuhkan sesuatu lagi, telepon saja aku, Hyung!” ujarnya memberi saran seperti biasa. Bisa dikatakan bahwa dirinya merupakan salah satu dokter yang memiliki akses bebas untuk masuk ke dalam situs informasi riwayat perjalanan rumah sakit ini.

Meski sebenarnya semua dokter dapat mengakses situs informasi tersebut, tetapi tidak semua data yang dapat mereka lihat karena sifatnya yang terjaga atau rahasia dan hanya dokter yang bersangkutan pada pasiennya yang mampu melihat data medis sang pasien. Berbeda dengan Dong Hae yang sifatnya bisa dikatakan legal karena dia yang mengurus segala masukan data rumah sakit ini.

Jung Soo mengangguk ringan. Kemudian mengantar kepergian pria itu hingga pintu ruangannya tertutup kembali. Barulah ia menancapkan flashdisk tersebut pada komputer miliknya, menampilkan sebuah file yang berisi daftar nama-nama yang sudah menjadi pasien di sini dalam kurun waktu satu tahun lalu. Mata coklatnya segera mengabsen nama-nama pasien yang tercantum di sana.

Butuh waktu yang cukup lama baginya menelusuri daftar tersebut mengingat begitu banyaknya nama yang berderet menjadi pasien di rumah sakit ini di tahun lalu. Terkelompok pada setiap bulannya, bahkan tercantum nama-nama dokter yang menanganinya. Hingga akhirnya, matanya berhenti pada satu nama yang memang tengah dicari. Nama yang ia rasa cukup familiar karena… dia merasa pernah bertemu pasien bernama ini.

Jung Soo meraih ponselnya yang tergeletak di meja, mencari kontak orang yang sempat datang kemari lalu menghubunginya. Dia membutuhkan orang itu lagi, dengan segera.

Eo, Dong Hae-ya. Bisakah aku meminta tolong padamu lagi? Aku membutuhkan data medis seorang pasien yang pernah dirawat di sini pada bulan Desember lalu. Dia pernah ditangani oleh salah satu Dokter Spesialis Orthopedi*.”

“Siapa namanya, Hyung?”

“Kim Ki Bum.”

****

“Kim Ki Bum, apa kau memiliki saudara?”

Ki Bum melirik gadis yang melangkah di sebelahnya. Saat ini mereka tengah menelusuri jalanan komplek menuju jalan besar. Pemandangan yang cukup baru mengingat mereka selalu pulang sendiri meski arah tujuan mereka sama. Mungkin dikarenakan kondisi mereka yang sudah dikatakan berubah.

Ia hanya menggumam pelan sebagai jawabannya.

Hyung? Noona? Dongsaeng?

Hyung.

“Kau hanya memiliki Hyung?”

Eum.”

Soo Rin membulatkan mulutnya, mengangguk-angguk paham. Ia kembali bertanya. “Bagaimana dengan orang tuamu?”

Langkah Ki Bum segera terhenti, membuat langkah Soo Rin juga ikut terhenti. Wajah cantiknya memandang lelaki di sebelahnya dengan bingung. Ada sedikit perubahan pada raut wajah tegas itu dan Soo Rin tidak mampu menangkap apa itu.

“Aku hanya tinggal bersama hyung-ku.”

Soo Rin mengerjap beberapa kali sebelum menyusul Ki Bum yang sudah membuka langkah kembali. “Kalau begitu, kita sama! Aku juga hanya tinggal bersama oppa-ku dan dongsaeng—namdongsaeng (adik laki-laki)!”

Ki Bum akhirnya menoleh menatap gadis yang tengah tersenyum cerah padanya. Keningnya berkerut samar. Jadi, gadis ini memiliki kakak laki-laki dan adik laki-laki?

Oppa-ku bekerja sebagai dokter. Dia yang membiayai hidup kami,” jelas Soo Rin kemudian. Wajah manisnya tetap memancarkan raut senang pada lelaki itu.

Membuat Ki Bum segera mengalihkan pandangan. Selain karena tidak ingin berlama-lama melihat wajah berseri itu, dia juga mulai berpikir soal apa yang baru saja dikatakan oleh gadis itu. “Aku tidak bertanya akan hal itu,” tapi dia justru berkilah. Mungkin berharap gadis itu sedang tidak menebak apa yang tengah dipikirkannya.

Sebenarnya Soo Rin tidak memikirkan hal itu dan terus mengikuti langkah Ki Bum. Ada hal yang ingin ditanyakannya lagi. Dan ia sedikit ragu untuk mengungkapkannya, sebenarnya.

“Kim Ki Bum, mengenai hal kemarin, bagaimana kau bisa melawan Kim Young Woon dan teman-temannya?”

Terpaksa Ki Bum kembali menghentikan langkah. Ia tidak pernah berharap akan mendapatkan pertanyaan ini, apalagi dari mulut Soo Rin. Karena itu dia sedikit tertegun mendengarnya. Dan ia segera berpikir bagaimana ia harus menjawab.

Soo Rin memiringkan kepala tatkala Ki Bum tidak segera menjawab. Kedua alisnya terangkat menunggu lelaki itu bersuara. “Kau bahkan bisa membuat Kim Young Woon kesakitan hanya karena kau memegang tangannya. Lalu, kau juga bisa membuat teman-temannya tidak bisa menyerangmu, sepertinya.”

Ki Bum masih bungkam kala mendengar penjelasan Soo Rin. Matanya tidak segera beralih dari bawah. Menatap aspal jalanan di depannya yang selalu dipijaki para pejalan kaki.

“Memangnya, apa yang kau lakukan pada mereka sampai mereka tidak menyerangmu?” Soo Rin meluncurkan pertanyaan lagi. Yang kini akhirnya direspon oleh Ki Bum dengan menoleh demi menatap fokus padanya.

“Menatap mereka.”

Soo Rin mengerjap bodoh. Yah, dia masih tidak mengerti dengan jawaban singkat itu. Memangnya hanya dengan menatap, mereka langsung tidak ada yang mau maju? Soo Rin saja yang sudah berjuang menakuti mereka dengan melotot lebar hingga matanya perih pun tidak mempan untuk membuat mereka sekedar ciut. Justru mereka semakin menjadi ingin menyerangnya.

Ia kembali menyusul Ki Bum yang sudah melangkah. Berusaha mensejajarkan posisi mereka kembali. “Hanya itu? Kau tidak melakukan sesuatu? Kenapa hanya dengan menatap mereka langsung tidak ada yang mau menyerangmu? Apakah di matamu ada sesuatu semacam laser berwarna merah seperti yang dimiliki robot-robot jahat?”

Ki Bum memutar bola mata. Diam-diam ia merasa tergelitik dengan pertanyaan konyol ala anak kecil yang terlontar dari mulut Soo Rin. Mendengus jengah, ia menjawab, “Anggap saja seperti itu.”

“Bukankah itu berarti kau berbahaya seperti robot-robot jahat itu?”

Ki Bum merasakan jantungnya serasa meloncat mendapatkan pertanyaan tak terduga itu. Entah kenapa pertanyaan itu seperti sebuah alunan sindiran yang keluar dari mulut gadis itu. Oh, tidak mungkin Soo Rin tahu, bukan? Itu hanyalah pertanyaan polos seorang Park Soo Rin yang sebenarnya sangat asal tapi tanpa diketahui mampu membuat Ki Bum terpojok.

“Kau bisa menarik kesimpulan seperti itu.”

Soo Rin kebingungan dengan jawaban ambigu Ki Bum. Sebelah tangannya bergerak menggaruk pipinya yang tidak gatal. Menandakan bahwa ia tidak mengerti. Tidak memiliki ide untuk menganalisis kalimat itu. Jika Kim Ki Bum adalah orang jahat, kenapa dia rela disiksa oleh Kang In selama ini? Jika dia orang jahat, kenapa tidak bunuh saja Kang In dari dulu? Jika dia orang jahat, kenapa dia tidak… ah, tiba-tiba Soo Rin tidak mampu berandai-andai.

Ish, ternyata kau adalah lelaki yang sulit untuk ditebak,” gerutunya pelan. Namun masih didengar oleh lelaki yang berjalan di sebelahnya.

Diam-diam dia melengkungkan bibir ke atas akan tingkah Soo Rin. Yah, setidaknya, dia tidak akan berbuat jahat kepada gadis di sebelahnya ini.

****

Hari berikutnya di waktu pagi yang hampir terik, Soo Rin melompat turun dari subway. Ia tengah mengejar waktu karena dirinya hampir terlambat pagi ini. Tugas-tugas sekolah yang cukup membuatnya pusing semalaman karena harus dikumpulkan dalam waktu yang sama—hari ini—telah berhasil membuatnya bangun kesiangan dan melewatkan waktu kegiatan rutinnya.

Menunggu Kim Ki Bum di depan gerbang sekolah.

Oh, tentu saja dia harus datang lebih awal dibandingkan lelaki itu yang baru akan datang 5 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Biasanya dia akan stand by di sana 10 menit sebelum lelaki itu datang. Tapi sekarang, karena bangun terlambat, dia sudah membuang waktu 10 menitnya itu. Pasti lelaki itu sudah sampai di sekolah.

Karena berlari tanpa melihat situasi, dia harus menabrak seseorang kala sibuk memeriksa jam tangannya. Tubuh rampingnya terjatuh hingga terduduk di permukaan bahu jalan hingga dirinya mengerang kesakitan. Oh, selamat pagi wahai pantat Soo Rin, mungkin seperti itu sapaan manis dari kasarnya bahu jalan.

“Maaf. Kau tidak apa-apa?”

N-ne…” Soo Rin mencoba untuk berdiri. Sejenak ia tertegun mendapati orang itu meraih lengan tangannya dan membantunya berdiri. “T-terima kasih. Maafkan aku, aku tidak memperhatikan jalan,” ia segera membungkukkan badan sebelum melesat pergi tanpa menunggu jawaban orang itu.

Orang itu hanya mengantar kepergian Soo Rin melalui tatapan teduh yang penuh arti. Kemudian kepalanya tertunduk kala sudut matanya menangkap sesuatu tergeletak tak jauh dari kakinya—tidak, sebenarnya ia sudah tahu sejak awal tatkala gadis itu tanpa sengaja menjatuhkannya. Dipungutnya benda itu lalu ia perhatikan seksama.

Seulas senyum misterius terukir di bibir tipisnya.

 .

.

Soo Rin membungkukkan tubuhnya dalam-dalam demi mengambil napas. Rasanya seperti habis berlari keliling lapangan sekolah setiap pemanasan sebelum berolahraga. Padahal ini masih pagi tapi keringat sudah bercucuran di sisi-sisi wajahnya.

Dia berhasil sampai sekolah. Dan ia mendesah lega karena dia masih lebih cepat dari Kim Ki Bum. Lelaki itu belum datang. Mungkin Soo Rin masih memiliki waktu 2 atau 3 menit lagi. Ia segera memeriksa jam tangannya demi memastikan.

Tunggu, di mana gelang yang selalu bersama dengan jam tangannya?!

Soo Rin mulai panik menyadari pergelangan tangannya hanya dihiasi jam tangan kesayangannya. Dia selalu menggunakan gelang pemberian adiknya itu bersebelahan dengan jam tangan pemberian kakaknya. Dan ia masih ingat selama di perjalanan menuju kemari sudah mengenakannya karena dia terus memeriksa waktu. Tapi kenapa sekarang sudah menghilang?!

“Tenang, Park Soo Rin, tenang. Kau harus mengatur napas terlebih dahulu…” gumamnya menyugestikan diri. Sebelah tangannya mengusap-usap dadanya yang tampak naik turun. Dia harus menjaga kelangsungan bernapasnya dan tidak membiarkannya terhambat hanya karena panik kehilangan gelang. Meski sebenarnya itu juga merupakan benda kesayangannya.

Lama dia mengatur napas, tak sengaja ia mengingat kejadian di mana kala dirinya menabrak seseorang hingga terjatuh. Apakah karena tabrakan dengan orang tadi maka gelangnya terlepas dari pergelangan? Ah, Soo Rin masih ingat bagaimana tangannya ini ikut bertubrukan dan sempat bergesekan dengan jaket yang dikenakan oleh orang itu.

Apakah karena itu? Mungkin saja karena gesekan keras itu maka gelangnya terlepas dan… terjatuh…

Bukankah itu berarti dia menjatuhkannya di sana?!

“Sedang apa?”

Soo Rin berjengit mendengar sapaan itu. Langsung saja ia menoleh pada Kim Ki Bum yang ternyata sudah berdiri di dekatnya. Ternyata lelaki itu sudah sampai.

Melihat wajah Soo Rin yang bercucuran keringat serta dihiasi dengan raut kepanikan, Ki Bum harus mengernyit bingung. Apalagi kedua bahu gadis itu sedikit naik turun. Apakah gadis ini baru saja berlari? Lalu kenapa dengan raut wajahnya itu?

“Ah, selamat pagi, Kim Ki Bum,” well, Soo Rin tidak lupa dengan kegiatan rutinnya untuk menyapa lelaki itu. Namun kini ia segera menimpali, “Aku baru saja kehilangan gelangku.”

“Apa? Bagaimana bisa?” Ki Bum sedikit terpengaruh mendengar laporan itu. Apalagi melihat raut wajah manis itu tampak kelimpungan mencari-cari. Mungkin berharap benda itu terjatuh di sekitar sini.

“Aku tidak sengaja menabrak orang… mungkin karena itu…”

“Di mana?”

Euh… di sana…” Soo Rin tampak mengingat-ingat, telunjuknya menunjuk ke belakang. “Tidak jauh dari halte…”

Ki Bum berdecak gemas. Gadis ini, terlihat sekali bahwa gadis ini sangat ceroboh. Sudah menabrak orang, menjatuhkan barang pribadi, tidak menyadarinya pula. Apalagi dalam keadaan waktu yang sangat sempit seperti ini. Bel sekolah tidak lama lagi akan berbunyi. Apakah mereka harus membolos di jam pelajaran pertama dan menelusuri sepanjang bahu jalan menuju halte?

Agasshi, sepertinya ini milikmu.”

Soo Rin menoleh cepat, merasa bahwa suara itu ditujukan untuknya. Seketika kedua mata jernihnya melebar begitu melihat gelangnya menggantung di tangan seorang lelaki. Tanpa sadar ia berlari menghampiri lelaki itu dan mengambilnya.

“Iya, ini benar milikku!” Soo Rin menatap lelaki yang sudah berada di hadapannya. Langsung saja ia mengingat wujud di hadapannya. “Aah, kau… terima kasih sudah menemukannya. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu. Tapi terima kasih banyak!” Soo Rin membungkukkan badan beberapa kali.

Melihat tingkah Soo Rin, lelaki itu terkekeh pelan sejenak. Mata sipitnya yang begitu memikat tampak menatap Soo Rin begitu teduh. “Aku juga meminta maaf karena sudah menabrakmu. Kuharap kau baik-baik saja.”

Soo Rin meringis malu, sebelah tangannya mengibas-kibas. “Tidak. Aku tidak apa-apa. Sekali lagi, terima kasih!”

Lelaki itu tidak pernah melepas tatapan teduhnya yang terlihat ikut tersenyum. Bibir penuhnya tertarik hingga menipis dan mencetak seulas lengkungan yang sungguh mempesona. Ia pun mengulurkan sebelah tangannya. Memperkenalkan diri, “Aku Kim Sang Bum.”

Soo Rin tertegun sejenak sebelum akhirnya tersadar dan meraih tangan itu, menjabatnya, sekaligus kembali tersenyum, “Aku Park Soo Rin.”

Sang Bum, lelaki itu melirik sosok yang berdiri kaku tak jauh di belakang Soo Rin. Senyumnya yang sarat akan kemisteriusan itu kembali tampak, yang ternyata tidak mudah dibaca oleh gadis yang masih tersenyum polos di hadapannya. Tapi mampu dibaca oleh lelaki di belakang sana.

“Senang bertemu denganmu lagi.”

Wajah tegas Ki Bum semakin mengeras melihat lirikan tajam yang ditujukan untuknya. Kedua tangannya mengepal kuat di tiap sisi tubuhnya, mendengar kalimat halus yang diutarakan untuk gadis itu. Juga untuknya… secara tidak langsung.

.

.

*) Spesialis Orthopedi :: spesialis di dunia kedokteran yang menangani cedera akut, kronis, dan trauma. Lebih singkatnya, dokter spesialis ini menangani masalah persendian. Lebih jelasnya, boleh cek di sini ^^


hyaaaaaahh maaf update-nya lama ><

rencananya mau akhir pekan kemarin, tapi laptop diumpetin kakak terus dan ada acara keluarga mendadak jadinya blog sepi krikrik deh hahahah

Gimana?! Udah kejawab kan lelaki misteriusnya tuh siapa? Hayoo siapa yang tebakannya benaaaarr?? //gaadayangnebak//? XD

yap! Kim Sang Bum!!

m190721405
aka Kim Bum ><

sesuai dengan petunjuk kalo dia pernah main bareng Lee Min Ho, iyakan? Yang main di BBF itu loh~ yang jadi playboy kelas kakap/? trus dia malah kepincut sama cewe lugu bernama Gaeul bahahahah //malahreviewdrama//? XD dia juga punya killer smile kayak kimkibum hwhw aku gatau kenapa kalo liat dia semacam liat kimkibum versi duplikat #ditendang

trus trus ada cameo numpang lewat, Dokter Dongek XD

p18plb7kkn16n63aetl4cl3ag2

well, karna aku bukan ahlinya dalam dunia kedokteran tapi malah berani bikin cerita berbau-bau begituan, aku mencoba untuk cari info mengenai apa yg aku jabarkan di atas.. tapi yah, entahlah itu masuk akal atau ngga karna cara penulisanku yg belibet-belibet -.- heheheh

oke deh! udah kebanyakan cuap-cuap ;w; terima kasih sudah mau mampir!! ><

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

30 thoughts on “Two Person – Start Again, Meet Again

  1. wuahhhh ki bum dan kim ki bum, apa sebenernya hubungan mereka berduaaa. jangan-jangan mereka bermusuhaannnn. hahhhhh gak sabar liat kelanjutannyaaaa, semangat lanjutinyyaaa kak….. :))

  2. Spesialis orthopedi? yak Kibum pernah dirawat di rumah sakit? karena apa? Kim Sang Bum dia pasti tahu masa lalu Kibum. huwaaa makin seru ^^

  3. Hoho kim bum sama kim kibum ada hubungan apa ea,,,? Apa mreka musuhan…? Haaaah makin rame + makin pnasaran

    next thor jangan lama” ne

  4. Sedih. Tebakanku salah kak ~\(≧▽≦)/~
    T^T
    Tapi tak apalah. Sama sama keren juga kok -.-
    Mau tanya kak, RS tempat Park Jung Soo dan Dong Hae kerja dimana seh ???

    Pengen Konsul. Kenapa nih bibir ga berhenti tersenyum setiap nge bayangin mereka o(>﹏<)o

    Entah kenapa, aku pengen jadi Soo Rin ╭(╯^╰)╮

    1. wks~ anda berarti kurang beruntung~ #plak
      hm..nanti juga bakal kukasih tau kok di mana^^ hihihih sama dong.. ngebayangin mereka berjas putih tuh gimanaa gitu XD
      makasih ya buat masukannya~~

  5. Yaaaaaahhh ternyata KIM KI BUM DDM, entah kenapa di part ini auranya udah mulai panas …
    Hwaighting Authdor … 🙂

  6. wah ki bum pernah dirawat di rumah saki? karena apa? apa ada sangkut pautnya dgn kim sang bum? penasaran banget.
    soo rin bener2 polos bgt. ki bum aja sampe gak kuat nahan ketawa karena kepolosan soo rin.

  7. Ki bum dan Kim bum apa hubungan mereka di masa lalu, teman yg jd musuhkah?apakah ada hubungannya sama tongkat bisball itu dan jg apakah KI bum pernah cedera parah sanpe2 dibawa ke RS????
    Duh saeng aku tanya2 terus yah, ditunggu aja deh next partnya…penasaran tingkat akut nih kkkkkkkk……
    😉😉😉😉😉Peace and fighting ✌✌✌✌✌keep writing and sukses selalu buatmu saeng ❤

    1. woah~ semoga kejawab aja nanti pertanyaannya XD heheheh
      tapi makasih loh udah mau ngasih masukan~ semangatnya juga~ terima kasih banyak ya unni >w< hohoh

  8. Kimbum dan kibum, apakah mereka sahabat yg terpisahkan? Apa kimbum berhubungan dgn tabiat buruk kibum? Mari kita saksikan di part selanjutnya~ ^^

  9. Ki Bum sama Sang Bum adek Kaka tapi kaya musuh , bener bener penuh mistery , yaampun liat Soo Rin bahagia diterima Ki Bum jadi ikutan bahagia ^^ , Ki Bum pernah sakit apa sampe ditangani dokter Spesialis Orthopedy , Ki Bum kayanya dulu cowok nakal

  10. Sebenarnya ada apa dengan masa lalu kibum? Sepertinya jungsoo menetahui sesuatu mengenai kibum, kalau nama kibum dalam daftar pasien, berarti kibum pernah dirawat di rumah sakit? Lalu apakah kibum mengenal sangbum?

  11. Ki Bum dan Sang Bum, apa hubungan mereka sebenarnya?

    Kibum pernah dirawat dirumah sakit? Seperti Jungsoo tahu sesuatu tentang itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s