Posted in Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance, School Life

Two Person – Do (not) Stop

Prev :: #1.Nerd and Innocent #2.Aggressive #3.Control #4.Can (not) Stop | #52person

Genre :: School Life Romance

Rated :: PG

Length :: Mini Series

||KiSoo||

 ::a bit rude and flashback::

happy reading!

ㅡㅡ

When he wants her to back…

ㅡㅡ

WAKTU telah berlalu, rasanya begitu cepat, dan dia tidak merelakan akan berjalannya waktu yang dia tangani.

Gadis itu tampak duduk termenung di halte. Ada sesuatu yang menohok benaknya setelah keluar dari kedai dan berpisah dengan lelaki itu. Mengingat apa yang sudah dia katakan kala di kedai tadi, dia menyadari bahwa dia tidak sepenuhnya berkata jujur.

Setelah melihat bagaimana kerasnya lelaki itu menolaknya, ia sepenuhnya tersadar bahwa dirinya memang tidak memiliki kesempatan untuk membuat lelaki itu menatapnya. Ia juga sepenuhnya tersadar bahwa selama ini kelakuannya begitu bodoh dan lebih bodoh daripada orang idiot. Tapi dia tidak dapat memungkiri bahwa perasaannya memang seperti ini.

Dia… tidak bisa menampik bahwa dia begitu senang dapat menyukai seseorang dengan gamblang. Selama ini dia begitu takut untuk melakukannya karena kondisinya. Seolah bahwa perasaan itu merupakan sesuatu yang berbahaya bagi kelangsungan hidupnya. Namun dia tersadar bahwa tidak seharusnya dia mengkhawatirkan hal tersebut. Bukankah itu merupakan hal yang lumrah dan wajar terjadi? Dia juga ingin merasakan seperti apa menyukai seseorang dengan bebas.

Ternyata begitu menyenangkan.

Hanya saja, melihat lelaki itu menolak keras dirinya, ada kala di mana dia merasa lemah dan sedih melihat bagaimana usahanya yang tergolong sia-sia. Dia menyadari bahwa rasa itu sangat rentan memanggil kelemahannya, tapi dia juga menyadari bahwa rasa itu mengajarkannya bagaimana untuk menjadi orang yang tahan banting. Itulah mengapa dia memilih untuk tidak berhenti begitu saja.

Dan ternyata ia mampu melakukannya hampir sebulan ini.

Tapi, melihat bagaimana lelaki itu membentaknya saat di belakang gedung sekolah tadi, menonjok telak batinnya yang sudah ia bangun pertahanan sedemikian rupa sekaligus menyadarkannya. Bahwa perasaannya itu bertepuk sebelah tangan.

Inilah yang dia takutkan. Karena dia belum siap untuk menghadapinya. Atau lebih tepatnya, dia tidak siap.

Menarik napas dalam-dalam, ia mulai merasakan bahwa deru napasnya memberat. Sebelah tangannya bergerak meremas bawah kerah seragamnya, menekan dadanya yang kembali bergolak sedikit demi sedikit. Entah sudah berapa kali dia mengeluhkan kelemahannya ini. Selalu seperti ini. Merutuki kondisinya yang bisa dikatakan berlainan dibandingkan yang lain. Namun dia tidak bisa mengelak kenyataan yang ada pada dirinya.

Dia merasa sakit… sakit yang berbeda-beda dalam satu waktu. Dan di antaranya adalah sakit karena sudah ditolak.

“Apa seperti ini namanya patah hati?”

****

Terdengar suara pintu rumah tertutup hingga mengundang penghuni yang ada di dalam untuk segera berlari ke ruang tamu. Matanya melebar begitu mendapati seseorang yang sedari tadi ditunggu-tunggu sudah masuk dan tengah melepas sepatu sekolah juga kaus kakinya serta menggantinya dengan sandal rumah.

Noona, kenapa Noona pulang terlam—” lelaki berparas muda itu menghentikan tegurannya begitu menyadari kondisi gadis yang merupakan kakaknya itu, tampak pucat. Langsung saja dirinya merengkuh pundak kecil sang kakak. “Noona, ada apa— Noona!” dan mulai panik kala tubuh kakaknya hampir terjatuh karena limbung. Untung saja dia segera memegang kuat kedua pundak kecil itu. “Hyung! Hyung!!”

Derap langkah cepat segera menggema menandakan datangnya orang lain. Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi itu segera meraih tubuh sang gadis dan membantu lelaki itu menuntun sang gadis untuk duduk di sofa ruang tamu. Mata teduhnya memancarkan sinar kekhawatiran bersamaan sebelah tangannya menyingkap poni adik perempuannya yang sudah basah karena keringat dingin.

“Soo Rin-ah, ada apa? Kenapa kau pucat sekali?”

Soo Rin—gadis berwajah pucat itu menatap kakaknya yang tengah berjongkok di hadapan. “Oppa…”

Eo, ini Oppa. Ada apa? Ceritakan pada Oppa.”

Oppa…” mata jernih Soo Rin mulai mengembun. Napasnya kembali tersengal kala dirinya mulai terisak, dan semakin menjadi hingga kedua bahunya naik-turun. “Jung Soo Oppa…”

Melihat adiknya semakin kesulitan bernapas, Jung Soo segera menatap adik bungsunya yang duduk tak tenang di samping Soo Rin. “Ji Min, ambilkan nebulizer-nya, cepat!”

Lelaki bungsu bernama Ji Min itu segera melesat ke lantai dua. Sedangkan Jung Soo—pria yang tak lain merupakan kakak sulung di rumah ini kembali beralih menatap Soo Rin. Sepasang tangannya mengusap pundak gadis yang mulai menangis hingga kesulitan bernapas. “Soo Rin-ah, tenanglah. Kau harus tenang supaya bisa menarik napas, eo?”

Op—pa…” Soo Rin tergagap di tengah-tengah bernapasnya. Tangisnya berubah deras sebagaimana dengan rasa sakit yang semakin menderanya. Tidak karuan, campur aduk. Membuat raut tegas di hadapannya semakin khawatir lalu beralih duduk di sebelah Soo Rin, membantu menyandarkan tubuhnya pada badan sofa yang empuk.

“Jangan berbicara dulu. Kau harus fokus bernapas,” titah Jung Soo dengan lembut. Mencoba menenangkan adiknya yang tampak kalut.

Ji Min kembali membawa sebuah alat medis beserta sebotol obat bernama Ventolin dan segera menyerahkannya pada Jung Soo. Pria itu dengan cekatan mengisi bagian cup pada nebulizer dengan ventolin dalam dosis tertentu, kemudian memasang masker berbentuk sungkup pada mulut cup sebelum memasangkannya pada sekitar mulut dan hidung Soo Rin. Sedangkan Ji Min segera menancapkan selang yang menyambung pada cup tersebut pada komposernya sebelum mengaktifkannya.

pneumatic-nebulizer

Langsung saja Soo Rin menghirup rakus obat liquid yang telah diproses pada cup yang mengocoknya—menjadikan aerosol yang mengepul masuk menuju sungkup. Gadis itu tampak menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata, tubuhnya yang menegang perlahan melemas bersandar pada badan sofa begitu merasakan efek kinerja obat tersebut. Dan ia merasakan sebuah tangan besar mengusap lembut puncak kepalanya, menghantarkan ketenangan padanya.

“Berceritalah pada Oppa jika kau sudah merasa baik, eo?” Jung Soo bersuara lagi. Tidak ada respon yang berarti yang didapatnya mengingat adiknya itu belum sepenuhnya memulih.

Noona ada masalah lagi?” Ji Min kini bersuara. Ia ikut duduk di sebelah Soo Rin. Menggenggam sebelah tangan kakaknya yang terasa dingin. Tidak kalah dengan kakaknya, ia juga khawatir melihat kakak perempuannya ini.

Soo Rin akhirnya membuka mata. Tatapannya begitu kosong dan sedih. Dia tidak ingat pernah merasa sesedih ini, hanya karena seseorang. Mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan selama ini, ia merasa begitu bodoh karena sudah menjadi gadis yang tidak tahu diri. Beruntung dia mampu menahan rasa sakit yang menyiksa hingga berhasil menapak rumah, namun dia tidak bisa menahan diri lagi kala melihat kakak dan adiknya begitu mengkhawatirkannya. Mengkhawatirkan dirinya yang pucat karena tertekan—tertekan oleh rasa sakit…

Berhenti mengejar lelaki itu? Apakah dia benar-benar ingin melakukannya? Mengenai apa yang ia rasakan selama ini yang memang terdengar konyol dan bodoh, berselera payah dan serampangan, tapi… memang seperti itulah perasaannya.

Apakah dia memang harus menyerah?

“Aku akan buatkan teh hangat untuk Noona.” Ji Min memecah keheningan, ia berdiri lalu beranjak ke dapur. Menyerahkan Soo Rin pada Jung Soo. Untungnya kakak sulungnya sedang menjalani hari libur. Setidaknya Jung Soo mampu menangani Soo Rin yang tengah kambuh dengan lebih cepat lagi.

Oppa…”

Eo?” Jung Soo masih betah mengusap kepala adiknya. Ia menatap hangat wajah yang sebagian telah dibungkus dengan masker itu. Menunggu sang adik kembali bicara.

Dan Soo Rin kembali mengalirkan air mata, beruntung ia masih menghirup obat ventolin hingga pernapasannya terbantu. Ia melirih, “Aku ditolak…”

****

Meski sebenarnya Soo Rin telah berkata bahwa dia akan kembali ke semula, tetap saja ia menunggu kedatangan lelaki itu di depan gerbang sekolah. Hanya saja, dia sudah tidak memiliki keberanian untuk menyapa juga mengirim pesan pada lelaki itu.

Pikiran dan perasaannya tidak sejalan. Dia berencana untuk tidak mengganggu Kim Ki Bum tapi perasaannya berkata lain. Dia tetap mengikuti lelaki itu meski dalam jarak yang lebih jauh dibandingkan dulu, meski dia harus bersembunyi terlebih dahulu kala lelaki itu melewati pagar sekolah. Dan dia tidak dapat menampik bahwa dia senang mengikuti lelaki itu.

Mungkin mereka  mengatakan bahwa Kim Ki Bum tidaklah menarik—sama sekali. Tapi Soo Rin mampu melihat betapa tegapnya punggung lelaki itu, begitu lebarnya pundak lelaki itu, dan begitu tegaknya tubuh lelaki itu. Dia menyukai cara Ki Bum berjalan di depannya. Dia menyukai bagaimana melihat lelaki itu dari belakang. Dan sebenarnya berkali-kali Soo Rin berpikir untuk berlari menghampiri lelaki itu lalu memeluk punggung tegap itu.

Soo Rin tahu bahwa angan-angannya terlalu berlebihan. Dia pasti akan dicap sebagai gadis nakal karena berani memeluk orang sembarangan. Apalagi orang itu adalah lelaki. Dan dia adalah lelaki yang disukainya.

Tapi dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia tidak bisa melakukannya. Tidak akan pernah bisa. Karena Kim Ki Bum tidak suka padanya, tidak suka dengan perasaannya, juga tidak suka dengan kedatangannya. Ada masanya di mana Soo Rin menemukan lelaki itu merasa jenuh dengan kelakuannya, yaitu kemarin. Lelaki itu pasti sudah sangat jengkel padanya karena sudah menambah beban yang selalu berurusan dengan Kang In. Lelaki itu pasti sudah sangat marah karena Soo Rin sudah ikut campur pada urusannya dengan Kang In.

Dia cukup terkejut mendengar Ki Bum berkata memerintah pada Kang In, untuknya. Dia berpikir bahwa Ki Bum melakukan itu karena seharusnya dia tidak terlibat. Seharusnya dia tidak ikut campur. Dan seharusnya dia tidak bertindak seperti itu… sejak awal. Ki Bum pasti rela melakukan hal itu hanya agar dirinya tersingkir dari masalah tersebut dan membiarkan Ki Bum sendiri yang akan menghadapinya.

Juga, dia menyadari bahwa perilakunya sia-sia. Itulah mengapa dia memilih untuk menghentikannya kala bertemu dengan lelaki itu di waktu pulang sekolah. Hanya saja, dia justru merasakan sakit sampai-sampai berdampak pada kelangsungan paru-parunya. Dia bahkan takut untuk menangis kencang kala mencurahkan isi hatinya pada Jung Soo—kakaknya. Karena dia memikirkan bagaimana khawatirnya sang kakak jika melihatnya tidak bisa bernapas.

Seharusnya sejak awal Soo Rin tidak pernah merasakan hal ini. Seharusnya dia mengetahui resiko dari memiliki perasaan ini. Seharusnya Soo Rin tidak pernah melakukannya. Tapi… bukankah rasa suka itu tidak bisa ditahan? Sampai sekarang pun, sampai dia memilih untuk berhenti mengejar lelaki itu, Soo Rin tidak bisa menampik bahwa dia tidak bisa berhenti.

Menyukai begitu mudah, namun menghilangkannya… itulah yang sangat sulit.

****

Sudah tiga hari Soo Rin berusaha menjadi seperti murid kebanyakan. Tidak mengejar-kejar Kim Ki Bum, tidak membawakan bekal untuk Kim Ki Bum, tidak berurusan dengan Kim Ki Bum. Sejauh ini dirinya merasa bersyukur karena lelaki itu tidak diganggu oleh komplotan Kang In, dan dia merasa lega karena lelaki itu menjalankan aktivitas belajarnya dengan tenang seperti yang lainnya. Hanya kesendiriannya yang tidak berubah.

Soo Rin menyadari bahwa Kim Ki Bum tidak pernah memiliki teman di sini. Lelaki itu selalu sendiri, di mana pun dia berada. Di kantin pun Ki Bum selalu duduk memojok sendirian. Seandainya Soo Rin memiliki muka tebal juga memang tidak tahu diri, dan sudah tidak peduli dengan keselamatan paru-parunya, dia pasti akan memberanikan diri menghampiri Ki Bum, menemani lelaki itu.

Sampai kemudian ia melihat lelaki itu kembali dikerubungi komplotan Kang In. Barulah emosinya bermunculan. Soo Rin mengira bahwa Kang In sudah bosan mengganggu lelaki itu tapi ternyata lelaki gempal itu kembali berulah. Bahkan dengan pengecutnya membawa kawanannya. Melihat bagaimana Ki Bum ditawan seperti itu membuat Soo Rin panas sendiri. Apalagi dia melihat teman-teman Kang In memandang remeh lelaki yang terduduk menunduk terpojok.

Tanpa berpikir panjang, Soo Rin menyingkirkan makanannya dari atas nampan, membiarkannya tergeletak begitu saja di atas meja, kemudian dengan nyali dibesar-besarkan, Soo Rin melangkah cepat mendekati gerombolan itu dengan membawa nampannya.

Dia tidak bisa menahannya. Sungguh.

“Di mana gadis itu? Setidaknya gadis itu bisa membuat Nerd ini bersuara—”

PLAK

Tanpa berpikir dua kali, Soo Rin mengayunkan nampan di pegangannya dan menampar wajah sangar Kang In. Meski perlakuannya sudah terbilang sangat kasar, Soo Rin masih mengingat bagaimana parahnya Kang In membuat babak belur Ki Bum sebulan lalu. Dia bahkan merasa tidak puas membuat wajah Kang In hanya sekedar memerah, dia bahkan berpikir untuk menampar wajah lelaki ini berkali-kali dengan nampannya!

YA!! Beraninya kau—”

PLAK

Tak tanggung-tanggung Soo Rin mengayunkan nampannya kembali, kini pada wajah teman Kang In yang hendak membentaknya. Habis sudah kesabaran Soo Rin melihat kelakuan mereka yang seenak jidat mengganggu kehidupan Kim Ki Bum. Memangnya Kim Ki Bum tidak boleh hidup sebagaimana murid-murid di sini, hah?! Memangnya mereka ini siapa?!

“Jika ada yang berani mendekat selangkah saja, kalian akan merasakan ini! Pergi!!!” Soo Rin mengangkat nampannya dengan berani. Menatap nyalang tiap-tiap wajah yang menahan amarah akibat perbuatannya. Apakah mereka tidak sadar bahwa perbuatan mereka justru lebih parah? Soo Rin belum ada apa-apanya!

Soo Rin membalas pelototan Kang in. Lelaki itu sudah merah padam karena sudah sangat marah, juga karena bekas tamparan nampan Soo Rin. Biarkan saja dia dikatakan gadis mencari mati pada Kang In. Justru dia yang akan membuat keadaan berbalik. Kang In yang mencari mati padanya!

“Kau tidak dengar? Aku bilang pergi, dasar Alien tidak tahu diri!!”

Seruan Soo Rin semakin memancing amarah Kang In. Dia dapat melihat mata tajam itu semakin menggelap. Diam-diam dia merasa merinding kala mendengar desisan tajam keluar dari mulut lelaki itu, “Kau benar-benar gadis yang ingin kuberi pelajaran!”

Spontan Soo Rin melindungi wajahnya dengan nampan kala melihat kepalan besar itu terbang ke arahnya. Seketika Soo Rin menyesal karena sudah membuat lelaki sangar itu melayangkan tinju untuknya. Oh, habislah sudah dirinya. Setelah ini pasti akan muncul lebam besar di wajahnya sekaligus menjelekkan wajahnya.

Namun di waktu bersamaan, ia mendengar suara decitan kursi yang sangat gaduh lalu merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Hingga dia tidak merasakan apa yang sudah ditunggu-tunggu olehnya. Rasa tinju seorang Kang In.

Semua tampak terkejut melihat apa yang baru saja terjadi. Kim Ki Bum—lelaki yang sedari terdiam tegang kini melesat mendekati Soo Rin dan menangkap tangan Kang In tepat waktu. Bahkan Kang In harus terkejut bukan main melihat begitu gesitnya pergerakan Ki Bum serta tepat sasaran. Tidak hanya menangkap, Kang In juga dapat merasakan tangan lelaki itu begitu pas membungkus pergelangan tangannya hingga dengan mudah mencengkeram, meremasnya, dan Kang In harus meringis tertahan.

Soo Rin yang baru saja mengintip keadaan, segera menolehkan kepala ke belakang, lalu terkejut melihat Ki Bum yang sudah berubah drastis dengan wajah yang mengeras juga menatap tajam Kang In dengan berani. Dia tidak pernah menyangka akan melihat lelaki itu begitu menyeramkan. Lebih menyeramkan dibandingkan kala ia melihat di belakang gedung sekolah tiga hari lalu.

Bagaimana bisa?

Y-ya, kau berani—aak!” Kang In hampir memekik saking sakitnya pergelangan tangannya yang seolah hendak diremukkan sampai ke tulang. Astaga, bagaimana bisa lelaki ini begitu kuat mencengkeram tangannya yang besar? “Ya! Apa yang kalian lakukan?! Hajar dia! Hajar gadis itu!” Kang In berteriak pada salah satu temannya.

Dan lelaki ber-name tag Kim Dae Hyun itu meringsek maju. Spontan Soo Rin kembali menjadikan nampan sebagai tamengnya. Sebelum kemudian gadis itu memekik terkejut merasakan sebuah tangan merangkul sekaligus memutar tubuhnya hingga berbenturan dengan tubuh tegap di belakangnya.

Hanya dalam hitungan detik, tangan Ki Bum beralih menangkap kepalan tangan Kim Dae Hyun sekaligus memelintirnya, jelas membuat sang empu memekik kesakitan merasakan tangannya seperti tengah diperas kencang sebelum tubuhnya terhuyung jatuh karena Ki Bum segera mendorongnya kasar, menabrak teman-teman yang lain.

Hanya dengan satu tangan, Kim Ki Bum mampu membuat satu orang tumbang? Bahkan dia masih kuat menahan tangan Kang In dengan tangan yang lain.

Apa dia benar-benar Kim Ki Bum?

“Kau sudah berani melawan kami, huh?! Bocah sialan!!”

Mata tajam yang sudah menggelap itu menghunus tepat ke manik mata Kang In. Membuat lelaki itu terpaku hingga niat untuk melayangkan tinju dengan tangan lainnya lenyap begitu saja. Jangankan dia, teman-temannya pun—tanpa kemauan mereka sendiri—merasa merinding. Sekaligus terpana. Bagaimana bisa lelaki culun itu membuat tidak ada satu pun dari mereka yang berani maju?

Soo Rin yang sempat terpaku memandang dada bidang Ki Bum di balik nampan, mencoba mendengakkan kepala, ingin memastikan bahwa ini memang Kim Ki Bum, namun niatnya harus terputus karena merasakan tangan besar itu merengkuh kepalanya sekaligus menenggelamkannya ke dalam dekapan. Dapat dirasakan bahwa jantungnya seperti melompat-lompat karena berdetak sangat cepat mendapatkan perlakuan ini.

“Kalian tidak ada bedanya dengan lelaki pengecut yang gemar menyiksa perempuan. Menyedihkan.”

Soo Rin mampu mendengar suara berat itu, penuh dengan penekanan sekaligus sangat dingin. Bahkan dia merasakan bulu kuduknya meremang mendengar suara itu. Dan dia tidak memiliki ide kala mendengar suara rintihan Kang In untuk yang terakhir kali karena lelaki yang—mendekapnya ini segera merebut nampan dari tangannya dan melemparnya begitu saja hingga terdengar bunyi dentingan yang cukup memekakkan telinga. Lalu meraih pergelangan tangannya, menariknya pergi dari sana.

****

Ki Bum membawa gadis ini menuju atap gedung sekolah. Dia merasa bahwa tempat itu lebih baik dibandingkan halaman belakang gedung sekolah yang pengap dan tidak terawat. Entah kenapa dia masih sempat-sempatnya memikirkan kondisi Soo Rin yang pernah dilihatnya saat itu.

Entah harus merasa senang atau menyesal, Ki Bum sudah berani melakukan hal yang sebenarnya sangat ia hindari. Dia tidak mampu berpikir panjang kala melihat gadis di gandengannya ini melawan Kang In dan teman-temannya sendiri. Yang benar saja, satu gadis melawan lima laki-laki? Bagaimana Ki Bum bisa bersikap tidak peduli? Apalagi gadis itu adalah Soo Rin.

Ki Bum tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis ini.

Dia bahkan tidak kuasa melihat wajah gadis ini untuk sekarang. Dia belum bisa menetralkan perasaannya yang campur aduk sekaligus wajahnya yang masih mengeras. Dia tidak mungkin memperlihatkan seperti apa raut wajahnya saat ini pada gadis di genggamannya.

Atau lebih tepatnya, tidak mengizinkan gadis ini melihat wajahnya. Ki Bum bahkan berani melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya hanya agar gadis ini tidak melihat wajahnya. Mendekap gadis ini di kantin tadi!

Soo Rin sendiri memilih untuk tidak bersuara selama lelaki ini membawanya ke lantai atap. Dia juga belum mampu menetralkan kinerja jantungnya yang masih saja berdetak cepat. Perlakuan lelaki ini masih terbayang jelas, bagaimana cara lelaki ini merengkuh tubuhnya hingga berbalik dan hampir memeluk tubuh tegap itu, dan bagaimana dia merasakan sentuhan yang mampu meletupkan sesuatu di dalam benaknya—saat lelaki ini merengkuh kepalanya dan mendekapnya.

Ya Tuhan, Soo Rin memang selalu membayangkan ingin memeluk punggung tegap Kim Ki Bum tapi tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan dipeluk oleh Kim Ki Bum!

Oh, tapi apakah itu bisa disebut dengan pelukan? Ah, siapa peduli? Soo Rin jelas menyimpulkan bahwa lelaki ini sudah memeluknya!

Hingga mereka berdiri di atap gedung pun, tidak ada yang bicara untuk beberapa waktu. Hanya terdengar suara deru angin musim gugur yang meredam deru napas keduanya.

Ki Bum memejamkan mata rapat-rapat, sejenak. Berharap bahwa raut wajahnya sudah kembali seperti semula dan dia sudah kembali membuat benteng pertahanan. Ia pun segera berbalik menghadap Soo Rin, mencoba menguarkan raut datar andalannya pada gadis yang masih digandengnya.

“Kau benar-benar—”

Ki Bum terpaksa berhenti bicara begitu melihat dengan jelas wajah Soo Rin. Tunggu, ada yang salah dengan gadis ini. Kenapa—kenapa wajahnya tampak merona padam seperti itu? Astaga, kenapa Ki Bum seperti tengah dihantam oleh gemuruh aneh kala melihat wajah gadis ini begitu merona? Kenapa gadis ini seperti mendorong sebuah naluri yang jelas terkubur di dalam benak Ki Bum hanya dengan wajah merona padam itu?!

Apa yang dilakukan gadis ini? Apa yang tengah terjadi dengan perasaan Ki Bum sampai-sampai dia harus mengepal tangannya begitu kuat? Kenapa Ki Bum ingin sekali menyentuh semburat kemerahan itu?!

Soo Rin merasakan genggeman di pergelangannya mengerat. Segera ia melepaskan diri begitu kesadarannya kembali utuh akibat gerakan itu. Tidak, dia sudah berbuat salah. Dia tidak seharusnya berada di dekat lelaki ini. Dan dia tidak seharusnya merasakan gemuruh ini. Ugh, kenapa dia merasakan wajahnya memanas hanya karena mengingat apa yang sudah dilakukan Kim Ki Bum di kantin tadi?

Dia hanya ingin menolongmu!

“Ma-maafkan aku. Aku tidak seharusnya ikut campur dalam urusanmu. Aku—aku hanya ingin sedikit menolong tapi justru membesarkan masalah. Maafkan aku… Aku akan pergi.”

Soo Rin hendak berbalik tatkala merasakan tangan besar itu kembali menggenggam pergelangan tangannya. Dia harus merasakan jantungnya berdebar tak karuan lagi. Dia tidak mengerti kenapa sentuhan lelaki ini menjadi sangat berdampak dengan kinerja jantungnya.

“Kenapa kau menyerah begitu saja?”

Ne?” Soo Rin terpaksa mendengakkan kepala, menatap tidak mengerti lelaki di hadapannya. Apa… yang sedang dibicarakan Kim Ki Bum?

“Kenapa kau berhenti mengikutiku? Kenapa kau berhenti mengoceh padaku? Kenapa kau berhenti mengirim pesan untukku? Kenapa kau berhenti membawakan bekal untukku?”

Soo Rin mengerjap kaget mendapat serangan dadakan berupa pertanyaan beruntun Ki Bum. Mulutnya terbuka hendak sekedar mengucap ‘apa’, namun ia merasa kelu seketika, kala lelaki ini kembali menghujaninya dengan pertanyaan lain.

“Kenapa kau berhenti mengejarku? Apa kau sudah berhenti menyukaiku?”

Soo Rin seperti tengah dipojokkan oleh Ki Bum. Bagaimana dia bisa menjawab jika lelaki ini menatap penuh minat dirinya seperti ini? Yang semakin mengacaukan kinerja jantungnya hingga harus bermarathon. Sebenarnya Soo Rin juga tidak mengerti kenapa lelaki ini justru mempertanyakan hal ini.

Berhenti menyukai Kim Ki Bum? Soo Rin justru semakin dibuat tidak karuan oleh Kim Ki Bum!

“Aku—”

“Aku bahkan belum memulainya. Kau belum membuatku benar-benar menatapmu dan kau belum membuatku juga menyukaimu. Lalu kenapa kau berhenti?”

Telak. Soo Rin dibuat mati kutu dengan pertanyaan Ki Bum. Iris kecoklatannya melebar dan mulutnya sudah tak mampu ia katupkan. Dan jantungnya serasa tengah berjungkir balik di tempatnya.

Apa maksud dari pertanyaan beruntun Ki Bum? Apa lelaki ini sedang mengutarakan bahwa lelaki ini tidak setuju jika dia berhenti? Tapi bukankah lelaki ini tidak suka dengan kehadirannya? Bukankah lelaki ini sangat tidak menyukainya? Bukankah lelaki ini sudah berkali-kali menyuruhnya untuk menjauh? Lalu…

Memulai? Memulai apa? Soo Rin tidak memiliki ide untuk kalimat yang satu itu. Memangnya Ki Bum ingin memulai apa?!

Lambat mencerna, Soo Rin harus kembali dikejutkan dengan perilaku lelaki ini, yang tanpa aba-aba menarik pergelangan tangannya hingga tubuhnya mendekat pada tubuh tegap di hadapannya. Kemudian dia harus merasakan namanya tersengat listrik begitu tangan besar itu merengkuh pinggangnya, menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan hangat yang sungguh mendebarkan, juga merasakan sapuan halus di sebelah telinganya… yang sangat jelas membuat tubuhnya berdesir hingga merambat ke tungkai kakinya.

“Aku tidak mengizinkanmu untuk berhenti. Kau harus membuatku juga menyukaimu!”

.

.


sebenernya aku update cepet (lagi) karna kuota udah mau abis hahah takutnya kalo diulur-ulur malah ga cukup secara aku seneng banget buka-buka inet hehet

gimana gimana?? makin ngambang ya? ikr~ ;w;

mengenai tokoh misterius itu, aku berencana ga pake member SJ, melainkan seorang aktor yang punya killer smile kayak Kibum juga dan dia terkenal waktu main sama Lee Min Ho dan…..dan….ah, coba tebak saja sendiri #plakk nanti dia muncul lagi di part selanjutnya ><

oh ya, sekali lagi, aku minta maaf ya tiap part berasa pendek. Karna aku bikin konsepnya mini series gitu. Dan kemungkinan cerita ini bakal lebih dari 10 part ^^ semoga ga membosankan ya ;__;

oke! Waah, aku udah ngasih bocoran lagi kan XD dan sekarang, salam dari tokoh yang baru muncul~ para saudara Soorin~~><

Park Jung Soo
Park Jung Soo
Park Ji Min - BTS xD
Park Ji Min – BTS xD

yosh! terima kasih sudah mampir yaa~^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

35 thoughts on “Two Person – Do (not) Stop

  1. Wah… Lanjutannya keluar xD
    Enaknya nasib Soo rin punya saudara Park Jungsoo dan Park Jimin -.-
    Aku sungguh iri T^T

    Kayaknya aku tau tuh siapa tokoh tambahannya 😀
    Moga2 tebakan aku bener #Hope

    “Aku tidak mengizinkanmu untuk berhenti. Kau harus membuatku juga menyukaimu!”
    Suka dah sama nih dialog xD
    Cwo gentle mah harus gini, iya ga kak ? 😀

    1. ugh, aku juga iri sebenernya hahahah x’D
      hmhm…siapa hayoo~ moga ga nyesel ya kalo salah #eh xD
      woiya dong! kimkibum tuh kudu tanggung jawab (?) wkwk makasih ya buat masukannya~><

  2. aaaakkkk ini pendek cekaliiiiihh >//< ga yakin sih tapi menurut aku pribadi /haa/ kim Woobin itu senyumnya mematikan♥ aku udah mati berkali2 -///- /gak
    yewlaa komen aku selalu panjang padahal juga isinya ga bermanfaat :'33
    udah deh itu ajaaa~ update cepet aja gapapa kok, Poku doesnt mind~~~ x'DDD
    /hughugs/

  3. aaaakkkk ini pendek cekaliiiiihh >//< ga yakin sih tapi menurut aku pribadi /haa/ kim Woobin itu senyumnya mematikan♥ aku udah mati berkali2 -///- /gak
    yewlaa komen aku selalu panjang padahal juga isinya ga bermanfaat :'33
    udah deh itu ajaaa~ update cepet aja gapapa kok, Poku doesnt mind~~~ x'DDD
    /hughugs/

    btw kok komenanku sering kepotong ya? ada batas karakternya kah? ._____.

  4. Akhhhhh kluar jga lanjutannya…

    Kibum kreeeeeennnn deh..:p
    sorin bruntung bangt, iri aku..:(

    siapa kira” cowok misterius itu..
    Selalu saja bikin penasaran..
    Kajja akh lanjut, gk sabar nunggu lanjutannya..:)

  5. Arghhhh suka sama sikapnya Kibum di part ini….
    Keluarga Park ganteng2 sama cantik nih…iri deh sama Soo rin yg dikelilingi sama namja2 ganteng kkkk….
    Aku fak bosen2 sama ff mu jg sama couple KiSoo yg super manis ini…aku tunggu part selanjutnya 😉😉😉

  6. kasian sekali soo rin. sampe rumah langsung tumbang karena terlalu kecewa ya.
    ki bum jadi garang ya. gara2 liat soo rin dalam bahaya.

    wow wow wow ki bum mulai gak kuat ya dijauhin soo rin. nah gitu dong pertahankan perasaan yang sepertinya mulai tumbuh.hehehe

  7. woahhhh, makin penasarannnn semoga soo rin gak berhenti buat kim ki bum suka sama diaa. semangat soo rin, semangat Juga buat authornyaa…..

  8. Oi Oi Oi akhirnya Ki Bum kalah sama perasaannya ^^ , ayo Soo Rin semangat buat Ki Bum tambah suka bahkan cinta sama Soo Rin kalo perlu tergila gila 😀 Aaaa sedikit lagi itu Soo Rin pasti Dag Dig Dug dipeluk Ki Bum ^^

  9. Lagian perilaku kibum buat soorin bingung, kemarin marah karena merasa terganggu dengan kehadiran soorin, giliran soorin berhenti, malah minta agar soorin tidak berhenti. Mulai terbiasa dengan kehadiran soorin nih, terus semakin lama jadi suka sama soorin nih

  10. giliran udah dicuekin aja, baru sadar kalo dia mulai suka sama Soorin 😀
    btw kalimatnya Kibum yang terakhir itu manis banget 😀

  11. Ughh suka sama 2 kalimat terakhir part ini. Ngebuat harapan Soo Rin muncul kembali. Hayooo kira-kira siapa orang misterius itu. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s