Posted in Category Fiction, Chaptered, Fiction, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance, School Life

Two Person – Can (not) Stop

Prev :: #1.Nerd and Innocent #2.Aggressive #3.Control | #42person

Genre :: School Romance Life

Rated :: PG

Length :: Mini Series

||KiSoo||

::a little violence, be careful~ hehet::

Happy reading! ^^

ㅡㅡ

When she decided to stay away from him…

ㅡㅡ

TERLIHAT Ki Bum tengah melamun dalam langkah pelannya, menelusuri bahu jalan yang cukup ramai akan lalu-lalang pejalan kaki. Kegiatan rutinnya baik saat berangkat sekolah maupun pulang. Jarak halte yang terdekat dari sekolah sekitar 400 meter. Untuk menuju jalan besar pun dia harus menempuh jarak 200 meter dari Daejeon Gwanjeo—sekolahnya.

Sebenarnya, tidak biasa dia berjalan dalam keadaan seperti ini. Langkah yang lambat disertai pikiran yang melayang jauh. Dia biasa berjalan cepat dan hanya berpikir untuk segera sampai rumah. Tapi untuk hari ini, ada sesuatu yang benar-benar mengganggu pikirannya. Mengenai apa yang sudah dia lihat di waktu istirahat tadi.

Park Soo Rin memakai obat hirup di belakang gedung sekolah—benda yang selama ini dicurigai olehnya sejak pertama kali melihat wujudnya. Gadis itu terlihat kalap juga panik. Masih diingat suara napas gadis itu yang terdengar cepat dan sangat berat, mengalunkan bunyi mengi yang jelas terdengar miris. Juga bagaimana gadis itu menghirup udara kala tubuhnya tengah tegang, terlihat begitu rakus dan dalam. Ki Bum sendiri tidak bisa bergerak melihat kondisi gadis itu, yang akhirnya terduduk lemas di permukaan rumput halaman belakang sekolah yang menumbuh, menetralkan kembali tubuhnya yang tampak naik-turun. Dan Ki Bum terus mengamati hingga gadis itu mampu berdiri lagi.

Itu adalah kali pertama Ki Bum melihat Soo Rin tampak begitu kacau.

Anehnya, Ki Bum melihat gadis itu masih mengumbar senyum padanya begitu kembali bertemu di kelas. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya. Seolah teriakan Ki Bum tidak pernah terjadi. Seolah gadis itu tidak pernah sesak napas sebelumnya. Hanya semburat pucat yang nampak di wajah manisnya, yang masih sanggup Ki Bum tangkap.

Gadis itu terlihat baik-baik saja setelahnya.

Antara percaya dan tidak. Ki Bum seperti tengah berdelusi melihat momen tersebut di depan mata. Karena gadis itu bersikap tidak menunjukkan apapun mengenai apa yang sudah terjadi di belakang sekolah. Hanya saja intensitas kegencarannya yang mendekati Ki Bum terasa berkurang. Meski masih memamerkan senyum konyol tiap mereka bertatap wajah, Soo Rin tidak melakukan lebih setelahnya. Hanya kegiatan mengirim pesannya yang tidak berkurang sama sekali.

Berhati-hatilah di jalan! ^^

Itu adalah pesan yang masuk ke ponsel Ki Bum terakhir kali sebelum ia berada di sini sekarang.

Apakah Soo Rin sakit? Apakah Soo Rin memiliki penyakit? Ki Bum tidak yakin bahwa gadis itu sesak napas secara tiba-tiba jika tidak ada sesuatu yang memicunya.

Apakah karena kondisi halaman belakang sekolah yang tidak cukup terawat? Tapi sebelumnya gadis itu baik-baik saja kala Ki Bum membawanya ke sana.

Apakah karena Ki Bum yang sudah menarik paksa gadis itu sebelumnya? Tapi Ki Bum masih ingat bagaimana gencarnya gadis itu berlari ke sana kemari mengekorinya tanpa mengenal rasa lelah.

Ataukah karena Ki Bum sudah membentaknya…

Tapi apakah sebuah bentakan bisa membuat seseorang sesak napas hingga membutuhkan obat hirup? Kecuali jika orang itu memiliki penyakit serius hingga melemahnya saluran pernapasan dengan mudah, bukan?

Apakah Soo Rin… memiliki penyakit—serius…

Dug!

“Maaf.” Ki Bum sedikit membungkuk pada orang yang sudah ditabraknya. Sudut matanya hanya mendapati orang itu mengangguk seraya menggumam kecil. Lalu kembali melanjutkan langkah melawan arah.

Aih, apakah Ki Bum sudah melamun parah sampai-sampai tidak memerhatikan jalan bahkan orang di depannya?

“Oh! Kim Ki Bum!”

Ki Bum mendengak. Mata di balik kacamatanya sedikit melebar begitu melihat siapa yang kini berada di depannya. Melambai ke arahnya sebelum berlari menghampirinya. Seperti biasa senyum konyol nan polos itu terpatri di bibir kecilnya.

Lihat, bahkan gadis itu masih terlihat biasa saja setelah kejadian di belakang gedung tadi.

“Tidak menyangka bahwa kita akan bertemu di sini. Kau baru mau pulang?” Soo Rin harus menunggu. Lelaki di hadapannya tampak melirik pada apa yang tengah dibawanya.

“Dari apotek?”

Soo Rin melirik bingkisan di tangannya. Segera ia menyimpan bingkisan tersebut ke dalam tas punggungnya seraya menjawab. “Eung—eo! Oppa-ku meminta tolong padaku untuk membelikan obat.”

Tapi Ki Bum tidak percaya dengan jawaban Soo Rin. Entahlah. Setelah mendengar nada gugup di awal kata, juga ia sempat menangkap isi dari bingkisan tersebut, meski samar, Ki Bum dapat menebak apa yang ada di dalam sana. Benda yang sama seperti yang sering gadis itu bawa. Hanya saja dia tidak memiliki ide akan satu botol berisi obat tablet itu—Ki Bum sedikit mendengar suara gemerincingnya.

Hei, untuk apa Ki Bum peduli? Oh, kenapa dia baru menyadari bahwa selama ini Soo Rin selalu berputar-putar di kepalanya?

“Kau sendiri kenapa belum pulang? Rasanya kau keluar kelas lebih dulu dibandingkan aku.”

Ki Bum berdeham pelan mendengar pertanyaan Soo Rin. Yah, dia juga tidak mengerti kenapa gerak langkahnya menjadi sangat lambat. Apa karena terlalu memikirkan gadis ini? Eii, kenapa dia harus melakukannya?

“Aku sedang malas pulang cepat,” Ki Bum akhirnya menjawab—menjawab asal.

“Kalau begitu, ayo jalan-jalan!”

Dan Ki Bum harus melotot. “Mwo?!”

Soo Rin memamerkan cengiran bocahnya. Tanpa ragu dirinya meraih lengan Ki Bum demi menarik lelaki itu. Mengajaknya pergi. Dia bahkan tidak peduli dengan protesan yang keluar dari mulut lelaki itu.

Tanpa disadari, orang itu menatap keduanya yang melangkah semakin jauh. Orang yang sempat bertubrukan dengan Ki Bum, menghentikan langkahnya begitu mendengar seruan sang gadis. Menengok ke belakang lalu menatap punggung tegap lelaki itu. Juga mengamati sosok gadis yang sudah menarik lelaki itu pergi.

Ia menggumamkan sebuah nama. Nama yang terdengar familiar, bahkan familiar di mulutnya. Nama yang sempat dilontarkan dari mulut Soo Rin.

“Kim Ki Bum…”

****

Ahjumma, aku pesan dua ramyeon-nya!”

Nee!”

Ki Bum mengerutkan kening. “Apa sebanyak itu porsi makanmu?”

Eoh?” Soo Rin mengerjap melongo. “Tidak. Aku memesan untuk kita.”

Ya—” Ki Bum hampir menyemprot gadis sewenang-wenang ini. Ada sesuatu yang menahan niatnya untuk menegur gadis ini dan Ki Bum tidak tahu apa itu. Saat ini dirinya sudah duduk berhadapan dengan Soo Rin di sebuah kedai di pinggir jalan. Tidak jauh dari tempat mereka bertemu. Entah kenapa dia menurut saja ditarik oleh gadis ini kemari.

Udara di musim gugur memang cukup dingin. Tidak ada salahnya jika mereka mengisi sekaligus menghangatkan perut dengan semangkuk ramyeon, bukan? Lagipula seharian ini Ki Bum tidak menyantap apapun di sekolah. Apalagi sejak melihat gadis ini di belakang gedung sekolah tadi. Dia tidak mengerti kenapa selera makannya menghilang begitu saja.

Dan kini dia justru memilih diam kala gadis ini memesankan satu porsi untuknya.

“Kim Ki Bum.”

Ki Bum merespon panggilan Soo Rin dengan tatapan datar. Sejenak dirinya tertegun melihat gadis itu terlihat ragu-ragu setelahnya, jari-jemarinya bermain-main tak menentu, dan bibir kecil itu tampak bersembunyi di dalam mulutnya. Terbaca bahwa raut wajahnya tengah menimbang-nimbang.

Wae?”

Soo Rin memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya. Mungkin lelaki itu bersuara karena dia terlalu lama mengambil jeda. Ada gemuruh aneh menyerang benaknya begitu ia berhasil menatap wajah lelaki itu. Wajah yang ternyata begitu tegas di balik kacamata tebal tersebut. Soo Rin sendiri tidak mengerti kenapa dia begitu tertarik dengan lelaki di hadapannya. Meski dia tahu bahwa lelaki itu terasingkan, tidak populer, bahkan sangat terbelakang di sekolah, Soo Rin tidak mempedulikan itu semua.

“Aku ingin meminta maaf.”

Ki Bum mengerjap. Diam-diam ia terperangah mendengar ucapan itu. Tunggu, dia tidak mengerti, kenapa gadis ini yang meminta maaf padanya?

“Seharusnya aku belajar memasak terlebih dahulu sebelum membuatkanmu bekal. Aku menyesal karena sudah memberi kesan yang buruk padamu mengenai masakanku. Aku bahkan tidak yakin bahwa gimbab buatanku sangat enak seperti yang Kim Young Woon katakan—”

“Bisakah kau berhenti membicarakan soal gimbab itu?”

Ne?” Soo Rin menatap Ki Bum tidak mengerti. Dia bingung tatkala tiba-tiba raut wajah lelaki itu berubah. Sedikit dingin.

“Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Dan aku tidak mempermasalahkan kemampuan memasakmu lagi. Jadi berhentilah bicara jika kau hanya ingin berkata soal itu.”

Soo Rin menunduk. Ia tampak menarik napas panjang sebelum kembali mendengak. “Kalau begitu aku akan mengatakan hal lain.”

Kening lelaki itu berkerut samar. Dia menyadari perubahan suasana gadis itu. Dan entah mengapa jantungnya mulai berdetak cepat karena pikirannya mulai mengira-kira.

“Aku ingin meminta maaf karena sudah selalu mengusikmu. Aku sudah keterlaluan mendekatimu, mengganggumu, hingga membuatmu kesal. Aku sudah menghantuimu selama hampir sebulan ini.” Soo Rin terkekeh pelan mengingat kata menghantui keluar dari mulutnya, juga meringis.

Berbeda dengan Kim Ki Bum. Lelaki itu mematung di tempat duduknya. Diam-diam dirinya terhenyak mendengar pengakuan itu, dan entah mengapa dia mulai menebak ujung dari pembicaraan ini.

Berharap apa yang dia tebak itu tidaklah sesuai.

“Mereka semua berkata benar. Aku adalah gadis yang tidak tahu diri karena mengejar lelaki yang jelas-jelas sudah menolakku. Aku adalah gadis kurang ajar karena sudah mengacaukan kehidupan lelaki yang jelas-jelas tidak suka padaku… dan aku adalah gadis yang payah karena menyukai seseorang dengan cara yang sangat bodoh.

Karena itu, aku ingin meminta maaf padamu yang sudah terusik dengan kelakuanku. Aku tidak akan melakukannya lagi dan kembali menjadi temanmu seperti semula.” Soo Rin mengamati perubahan ekspresi lelaki itu, tapi batinnya harus mendesah sedih karena tidak menemukan sesuatu yang berarti. Lelaki itu tetap memasang wajah datarnya.

Bukankah sudah jelas bagaimana jawaban Kim Ki Bum untuknya?

“Maafkan aku.”

Ki Bum dapat merasakan batinnya mencelos mendengar permintaan maaf itu. Apalagi wajah manis di hadapannya—yang meski berusaha mengulas senyum terbaik, tetap masih tertangkap binar kesedihan mengintip di balik iris kecoklatannya. Ada yang salah dengan perasaan Ki Bum. Dia tidak mengerti kenapa dia justru tidak senang dengan keputusan gadis di hadapannya.

Bukankah itu berarti bahwa Park Soo Rin sudah menyerah mengejar Kim Ki Bum?

Ramyeon pesananmu sudah datang, Agasshi!”

Soo Rin segera beralih pada wanita paruh baya yang mengantarkan 2 mangkuk ramyeon ke meja mereka. Ia segera membungkuk sopan untuk wanita tersebut. “Terima kasih, Ahjumma!”

Nee. Nikmatilah waktu berkencan kalian di sini, eo!”

Seketika Soo Rin menggeleng cepat, begitu juga dengan kedua tangannya yang bergerak mengibas-kibas. “A-aniyo! Kami tidak berkencan! A-ahahahaha…”

Ki Bum tidak bergeming melihat gerak-gerik gadis itu. Mata tajamnya sedikit meredup melihat Soo Rin yang segera menghadapi mangkuk ramyeon dan mengaduk-aduknya.

“Apa yang kau tunggu? Ayo makan! Nanti ramyeon-nya dingin,” Soo Rin menggerakkan tangan pada Ki Bum, menyuruh lelaki itu menyantap bagiannya. “Tenang saja. Aku akan menraktirmu. Anggap saja itu sebagai permintaan maafku,” lanjutnya seraya memamerkan cengirannya.

Ki Bum hanya mengamati gadis yang kembali fokus pada mangkuk ramyeon-nya. Entah hanya perasaannya atau justru memang kenyataan, gadis itu terlihat menghindarinya. Tidak ada tatapan lekat yang selalu disuguhkan kepadanya—tatapan yang begitu konyol namun polos. Tidak ada perhatian yang begitu berarti sebagaimana yang sering dilakukannya sebelumnya.

Dan Ki Bum kembali dibuat mencelos melihat mata jernih itu tampak berembun di balik kepulan asap ramyeon. Menyeruput mie kuah itu dengan tergesa sebelum mengibaskan kedua tangannya seolah mengipasi wajah memerahnya.

Ough, ramyeon-nya begitu pedas dan panas!”

Lagi, Ki Bum tidak percaya dengan ucapan maupun tingkah laku gadis itu.

****

Kim Hee Chul mendengus kasar kala melihat lelaki di hadapannya itu hanya mengaduk-aduk makanan tanpa minat. Sebenarnya dia tidak ingin menghiraukannya dan terus menikmati makan malam, tapi mood kenikmatannya berkurang karena tingkah adiknya itu yang cukup mengganggu.

“Kau ini kenapa lagi, huh? Apa bibimbab buatanku tidak enak?”

Ki Bum—lelaki yang hanya mengaduk-aduk isi mangkuknya itu menjawab dengan gelengan pelan. Dari dulu bibimbab buatan kakaknya ini cukup nikmat meski tidak senikmat buatan restoran dan makanan inilah yang merupakan menu andalan sang kakak. Tentunya bukan hal itu yang tengah mengganggu pikirannya.

Hee Chul meletakkan sendoknya, berdecak heran. “Ya, aku melihat seharian ini kau banyak melamun. Apa kau masih saja melamunkan apa yang kau lamunkan dengan tongkat baseball-mu itu, eo?”

Ki Bum menatap Hee Chul sekilas. Ia mulai menyendok bibimbab miliknya, “Aniya,” menjawab pertanyaan sang kakak sebelum menyantap makanannya. Mengunyahnya perlahan. Tanpa selera.

“Lalu apa yang sedang mengganggumu kali ini? Kau ditindas lagi di sekolah? Ya, sudah kukatakan padamu, setidaknya kau melawan mereka! Aku mengerti kau sedang berubah tapi bukan berarti kau menyiksa dirimu sendiri seperti itu!”

Ki Bum tidak menggubris masukan Hee Chul dan memilih untuk menyantap suapan kedua. Memang ada benarnya nasihat sang kakak, bahkan hal itu sering diutarakan seolah Hee Chul ingin menancapkan nasihat itu ke dalam otaknya. Tapi bukan itu yang tengah ia permasalahkan saat ini.

Hyung.”

Hee Chul yang hendak melanjutkan makannya, terpaksa mengurung niatnya dan kembali menatap Ki Bum. “Wae?”

Ki Bum menghela napas sejenak. “Sepertinya aku sudah membuat seorang gadis menangis karenaku.”

Mwo?!” Hee Chul hampir menjatuhkan sendoknya. Mulutnya menganga lebar sejenak sebelum mengerjap tanpa dosa. “Ya, bukankah sejak dulu kau begitu? Lalu apa masalahnya?”

Ki Bum sedikit tersinggung mendengar balasan Hee Chul. Astaga, kenapa pria di hadapannya ini selalu menyangkut-pautkan sesuatu dengan masa lalunya? Menyebalkan!

“Tunggu!” Hee Chul menyadari sesuatu. “Bukankah kau diasingkan di sekolah? Lalu kenapa masih ada yang mengejarmu?”

“Itu dia,” gumam Ki Bum pelan. “Aku juga tidak mengerti kenapa gadis itu mengejarku.”

Hee Chul berdecak kagum. “Yaa, sepertinya gadis itu memiliki indera yang tajam sampai-sampai mampu melihat dirimu yang sebenarnya,” ucapnya, terdengar berlebihan. Dia hampir menyemburkan tawa kala melihat wajah adiknya berubah masam. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?”

Ki Bum hanya menyantap makanannya. Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan sang kakak. Karena dia sendiri tidak mengerti kenapa dia begitu memikirkannya.

Seolma—” Hee Chul memicing pada adiknya. Tubuh tegapnya bergerak maju hingga benar-benar menempel dengan sisi meja. Ia kemudian berbisik, “Kau merasa bersalah padanya?”

Ki Bum menghentikan kunyahan di dalam mulutnya, membuat sebelah pipinya mengembung akibat makanannya yang belum tertelan. Tidak segera menjawab, membuat Hee Chul menjentikkan jari seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang.

“Aku tahu! Kau pasti juga tertarik padanya!”

Uhuk!” Ki Bum segera menyambar gelas minumnya, menenggak isinya demi memperlancar makanannya yang tertelan tiba-tiba akibat kata-kata Hee Chul. Napasnya tersengal hingga Hee Chul akhirnya menyemburkan tawa.

Oh, jika seorang Kim Hee Chul tertawa, itu menandakan bahwa ada sesuatu yang sangat konyol dan menggelikan. Bukankah itu berarti Ki Bum tampak sangat konyol dan menggelikan saat ini?

Yaa, kau ini benar-benar! Masalah seperti ini saja kau tidak mengerti? Kau ini bodoh atau apa, huh?” Hee Chul kembali tertawa melihat wajah adiknya semakin tertekuk.

“Hentikan, Hyung, aku tidak seperti yang Hyung kira!”

“Lalu kau seperti apa? Itu sudah jelas menunjukkan!” Hee Chul berjuang keras menghentikan tawanya demi melanjutkan ucapannya yang—menurutnya—cukup serius. “Coba kau ingat kembali. Dulu kau selalu dikejar-kejar oleh para gadis genit itu, tapi kau tidak menghiraukannya sama sekali. Kau bahkan berbuat kasar pada mereka yang selalu berusaha menyentuhmu hingga berujung membuat mereka menangis. Lalu? Apa yang kau lakukan saat itu? Eobt-ji (Tidak ada ‘kan)?”

“Bisakah Hyung berhenti membicarakan soal masa lalu?” Ki Bum mulai dibuat jengah.

“Kemudian sekarang? Kau merasa bersalah karena sudah membuat seorang gadis menangis—lagi?” Hee Chul tidak menghiraukan protesan Ki Bum. Ia berdecak takjub. “Apa kau tidak sadar? Ini bahkan kali pertamanya kau terlihat tidak tenang karena sudah membuat seorang gadis menangis, sampai-sampai kau terlihat seperti orang bodoh seharian ini. Aigoo…”

Ki Bum tercenung mencerna tiap kata yang terlontar dari mulut Hee Chul. Kedua matanya menerawang menyorot kakaknya yang kini sudah kembali melanjutkan makan malamnya. Seolah wajah sang kakak adalah tempat yang tepat untuk mencari sebuah jawaban.

Tidak… dia tidak mungkin seperti itu, bukan? Dia tidak mungkin merasakan hal itu, bukan?

Aih, kenapa Ki Bum menjadi terlihat frustasi seperti ini? Dia bahkan harus mengusap wajahnya yang tidak terbingkai apapun seperti biasa.

Ya, tidak terbingkai apapun.

****

Lelaki itu berdiri tepat di seberang pintu gerbang Daejeon Gwanjeo. Mata teduhnya yang begitu memikat mengawasi murid-murid yang menyerbu pintu masuk tersebut. Tak jarang banyak siswi Daejeon Gwanjeo yang tidak sengaja mendapatinya mulai mencuri-curi pandang seraya menggumam kagum meski sebenarnya wajah menawannya itu sedikit ter-cover topi hitam. Well, tapi bukan itu tujuannya saat ini. Itulah mengapa dia memilih untuk tidak menghirauhkan tatapan-tatapan memuja itu.

Hingga kemudian ia menangkap sosok yang tidak asing tengah berdiri di depan gerbang, bergerak gelisah dengan kepala dilongokkan memeriksa sepanjang bahu jalan, seperti tengah menunggu seseorang.

Bukankah itu gadis yang dilihatnya kemarin? Gadis yang sudah menyerukan sebuah nama yang sangat dia kenal di telinga? Dia sempat melihat bentuk wajah yang nampak manis itu. Ditambah dilihat dari cara gadis itu mendekati sosok yang membelakanginya kemarin, sepertinya gadis itu cukup mengenal dekat sosok itu.

Ia dibuat bingung begitu melihat gadis itu berlari masuk ke dalam—tidak, bukan masuk ke dalam gedung, melainkan berbelok menuju sisi tembok gerbang dan… bersembunyi?

Apa yang sedang gadis itu lakukan di sana?

Rasa ingin tahunya teralihkan begitu menangkap sosok yang tengah ia cari. Segera ia sedikit menurunkan lidah topinya demi menyamarkan wajahnya. Matanya tidak lepas dari seorang lelaki berkacamata dengan rambut yang tersisir rapih, juga cara berpakaian yang sangat santun untuk level seorang murid sekolah. Dia mengenal wajah di balik kacamata tebal itu. Tapi dia tidak menyangka bahwa, lelaki itu berpenampilan seperti itu? Sampai-sampai dia tidak mengenal sosok itu kemarin.

“Apa dia bercanda?” gumamnya, terselip nada geli di sana.

Kemudian ia melihat gadis itu kembali muncul dari balik tembok. Entah mengapa dia yakin bahwa gadis itu tengah mengantar langkah lelaki itu dari belakang, sebelum akhirnya mengikutinya, dalam jarak yang cukup terjaga.

Mwoya ige (Apaan ini)? Apa dia masih digemari dengan penampilan seperti itu?” ia bergumam lagi. Dan kini dengan seulas senyum miring.

Well, dia memang sudah menemukan orang itu. Untungnya dia hapal jenis seragam yang dikenakan orang itu kemarin, apalagi dibantu dengan gadis itu yang menampilkan tampak depan seragam tersebut kemarin. Ternyata dia sempat bertemu dengan orang itu—orang yang dicari-carinya, dan tidak menyangka akan dipertemukan ketika dirinya tidak sengaja bertubrukan dengan orang itu sendiri, kemarin.

“Jadi kau bersekolah di sini, Kim Ki Bum?”

****

Ada yang hilang di sekitar Ki Bum hari ini. Seperti dirinya tengah menjalani kehidupan sekolah tidak seperti biasa. Dia tidak mendengar ocehan nyaring dari belakang, merasakan ada yang mengekorinya, maupun sekedar pesan masuk di ponselnya. Dia tidak mendapatkan salam seperti biasa di depan sekolah. Dan dia tidak mendapati sosok yang selalu menghantuinya, hari ini.

Sebenarnya, gadis itu ada, di kelasnya. Namun Ki Bum tidak puas hanya melihatnya yang duduk manis di tempatnya, tanpa berniat menghampiri Ki Bum dan merecokinya seperti biasa. Menoleh ke belakang demi menatapnya pun tidak.

Kenapa gadis itu tidak lagi mendekatinya? Kenapa gadis itu diam saja saat dirinya sudah berada di sini? Kenapa gadis itu tidak menyapanya lagi?

Aah, benar juga. Bukankah kemarin sudah dikatakan bahwa gadis itu akan berhenti mengusiknya? Seharusnya Ki Bum senang mendapatkan kenyataan ini. Bukankah Ki Bum selalu meneriaki gadis itu agar tidak mendekatinya? Tapi kenapa sekarang justru dirinya menunggu Soo Rin menghampirinya?

Kenapa Ki Bum tidak senang melihat Soo Rin diam saja di tempat duduk?

Hal itu bahkan terus berlanjut hingga menginjak tiga hari lamanya. Soo Rin juga tetap menjauhinya di waktu istirahat tiba. Bukankah biasanya gadis itu akan menghampirinya dan memberikan bekal buatannya untuk Ki Bum? Tapi dia sudah tidak mendapatkan hal itu selama tiga hari ini. Ki Bum harus menelan rasa pahit mendapati kenyataan bahwa dia pergi sendirian ke kantin sekarang. Duduk sendirian, juga makan sendirian. Dia merasa kosong seketika hari ini. Ada yang kurang dan dia tahu apa itu.

Dia kekurangan kehadiran Soo Rin.

Oh, bagaimana bisa dia merasakan kekosongan macam itu?

“Hei, Nerd, tumben sekali kau sendiri?”

Ki Bum harus mendengus jengah. Kang In datang dan duduk di hadapannya. Kini bersama para anak buahnya.

Yaa, kuperhatikan belakangan ini kau sendiri saja. Di mana gadismu? Bukankah dia selalu melindungimu, eh?” jelas saja Kang In tengah mengejek hingga teman-temannya tertawa—menertawakan Ki Bum.

Well, untuk yang ini Ki Bum cukup tersinggung. Apa mereka pikir dirinya selemah itu hingga harus dilindungi oleh seorang gadis?

Tsk, mereka memang hanya melihat seseorang dari penampilan luar. Menyedihkan.

Ya, mana suaramu? Bukankah kemarin kau berani bersuara di hadapanku?” Kang In menantang, sekaligus meremehkan. “Aah, benar juga. Gadis itu! Ya, gadis itu. Di mana gadis itu?” Kang In seolah tengah mencari-cari. “Setidaknya gadis itu bisa membuat Nerd ini bersuara—”

PLAK

Seketika suasana kantin berubah hening setelah suara tamparan itu terdengar nyaring. Wajah-wajah yang ada di sana mengumbarkan raut terkejut bukan main melihat apa yang baru saja terjadi. Seorang Kim Young Woon baru saja ditampar dengan sebuah nampan oleh seseorang. Apakah ada yang bisa membayangkan bagaimana rasanya ditampar dengan benda yang terbuat dari plastik namun sangat keras itu? Sakit sekali.

YA!! Beraninya kau—”

PLAK

Satu dari teman-teman Kang In juga mendapatkan jatah tamparan nampan setelah berani bersuara.

Ki Bum sendiri ikut terkejut melihat siapa yang sudah dengan beraninya melawan gerombolan Kang In. Dan tidak menyangka bahwa orang itulah yang sudah menolongnya—lagi.

“Jika ada yang berani mendekat selangkah saja, kalian akan merasakan ini! Pergi!!!” Soo Rin—orang yang baru saja menampar Kang In juga temannya itu, kini tengah mengangkat nampan di pegangannya dengan berani, berdiri membelakangi Ki Bum. Gadis itu melotot kala melihat Kang In juga melotot padanya, bergerak hendak mendekatinya namun ia segera menodongkan nampannya. “Kau tidak dengar? Aku bilang pergi! Dasar Alien tidak tahu diri!!”

Tentu saja seruan Soo Rin semakin memancing amarah Kang In, mata sipitnya yang tajam semakin menggelap hingga berkata, “Kau benar-benar gadis yang ingin kuberi pelajaran!” dan mengayunkan kepalannya menuju wajah gadis itu.

Segera Soo Rin melindungi wajahnya dengan nampan di pegangannya. Mungkin itu terlihat sia-sia mengingat bagaimana kerasnya kepalan tangan Kang In hingga mampu membuat tubuh sekecil Soo Rin bisa saja terpental beberapa meter ke belakang meski mengenai nampan.

Hanya saja, Soo Rin tidak segera merasakan dorongan kuat dari kerasnya kepalan Kang In. Di waktu bersamaan ia mendengar suara gaduh seperti orang tengah bangkit dari duduknya secara serampangan lalu mendengar suara seperti orang tengah terkesiap saking terkejutnya. Membuat Soo Rin segera mengintip apa yang tengah terjadi.

Matanya mengerjap bingung melihat tangan yang hampir menyentuh nampannya itu terhenti begitu saja. Tidak, tidak, melainkan tangan besar Kang In terlihat dicengkeram erat oleh sebuah tangan lain. Membuat sang empu sedikit meringis karena begitu kuatnya cengkeraman itu.

Dan, tangan itu berasal tepat dari belakang Soo Rin.

Menolehkan kepala ke belakang, Soo Rin harus dibuat terkejut melihat siapa yang sudah menyelamatkannya. Juga terkejut dengan raut wajah tegas itu yang sudah berubah—drastis. Sepasang mata di balik bingkai tebal itu menyorot begitu tajam, dengan bibir yang mengatup sangat rapat, juga garis rahang yang tampak mengeras. Bahkan ringisan Kang In terdengar semakin jelas yang menandakan bahwa cengkeraman di tangannya semakin kuat, seolah ingin meremukkannya.

Soo Rin seperti melihat sosok Kim Ki Bum yang menyeramkan kala di belakang gedung sekolah beberapa hari lalu. Bahkan lebih menyeramkan.

.

.


yaampun maaf.. aku berasa ga napas posting ff mulu bahahah

mungkin ini efek dari dapat berita rumor kalo kimkibum terdaftar di member smtown sebagai anggota SJ. Huweeeeeeeeeeeehh aku gabisa tidur nyenyak beberapa malam sejak nemu rumor itu ㅠㅠ dan tanganku jadi gatel pengennya posting ff terus-terusan ㅠㅠㅠㅠ padahal imajinasiku lagi ngadat gegara ini rumor ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

rasanya tuh berharap banget abang toyib yg satu ini bakalan bener pulang hahahah

okeh! jadi, gimana ceritanya? maaf ya makin absurd.. apalagi ada karakter baru tuh, cuma masih menjadi misteri XD dan nanti bakal muncul karakter-karakter lain.. ah, entahlah… pokoknya ini cerita udah melewati 5 part di flashdisk (eheheh) mungkin karna di tiap part ga pernah lebih dari 4ribu kata, yah namanya juga mini series >< jadi, mohon maaf kalo ceritanya membosankan ;/\;

yosh! terima kasih sudah mau mampir yaa~^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

31 thoughts on “Two Person – Can (not) Stop

  1. apa penyakit soo rin beneran udah parah?
    wah ki bum merasa kehilangan ya setelah soo rin menjauhinya. cepet sadar+menerima dengan perasaanmu yg udah mulai menyukai soo rin dong.hehehe
    penasaran sama cast arunya siapa? keliatannya dia dari masa lalu ki bum dan tau semua tetang ki bum saat dulu.

    ditunggu next chapter…….

  2. SooRin beneran sakit parah yah ?? Sampe harus pake alat bantu gitu 😦
    Kibum kesepian yahhh gak di gangguin Soorin .. Sini gantian aku yang ganggu aja wakwakwak xD
    Kayanya Kibum mulai suka sama Soorin deh 😀

    1. ehm…aku gatau kalo ‘itu’ bisa dikatakan parah heheheh nanti kalo udah ketauan bisa diambil kesimpulan parah/ngganya 😀
      wks~ gengsinya terlalu gede #eh xD

  3. Walo gak ada tulisan tbc, tp tetep CUT nya ditempat yg bikin penasaran….

    Kibum merasa kehilangan niehhhh….
    Oppa mulai sekrng kau yg harus ngelindungin Soo rin kkkk….

    Pasti selalu ditunggu untuk part2 selanjutnya…😉😉😉

  4. Sepertinya aku tahu ini.
    Pasti Kibum mau berubah tuh yang dari awalnya anak ‘bandel’. Semacam peran Lee Jong Suk di “School 2013” 😀
    Wah… wah. Bakalan seru nih, apalagi ada “warga baru” dalam nih FF.
    Pasti temen’a Kibum dulu nih 😀
    Keep Writting kak *^o^*

  5. ahh siapa orang misterius itu?? sepertinya dia tahu tentang masa lalu Kibum. Kibum sudah menyukai Soorin ya? merasa kehilangan saat Soorin memutuskan berhenti mengusik hidupnya. Penasaran dengan sosok Kim Kibum yang sebenarnya. lanjut author-nim ff nya keren banget >○<)/

  6. Krennn ff nya…

    Pnasaran sama orang yg ngikuti kibum….

    Dan ada cerita apa d balik tongkt kim kibum….

    Penasaran penasaran penasaran….

  7. mwoya ige ?? ige mwoya ??*ehh kebalik

    suka suka konfliknya ,terlihat ringan tapi sangat berat sekali >,<

    sebenernya apa yang ngebuat ki bum 'berubah' dan siapa yang pake topi item itu ??*biasanya sih abang kyuhyun *ehh
    bikin penasaran tingkat aku ,dan aku gak sabar buat baca kelanjutannya..

    berharap banget kalo ff ini bisa di post setiap hari xD *di tabok yang punya blog*
    abis gak sabar buat nunggu sihh.

    aku yakin ini konflik bakal memanas saat di pucuk pucuk part !! kayak di with u ngahahahaha xD

    ey ey ey aku bahkan belom denger berita apapun tentang ki bumku *eh
    moga aja bnern kalo kimkibumku kembali ke sj hahahahahahaha

    1. yaampuuun panjang sekaliiiiih T____T huwaaaahh berasa lagi direview detil banget ceritaku hwhw yaampun yaampun, aku bingung mau ngejawab gimana hahahah tapi aku berharap segala pertanyaan kejawab di cerita selanjutnya nanti hwhwhw >___< makasih banyaaaaak!!
      eeh! dia kimkibumsaya!! (?) wks XD

  8. ada yg ngerasa kehilangan! tapi dia gapeka juga… hahhaaaa, siapa itu yg ketemu kibum kemren sore? aku mikir itu org bagian dri keluarga kibum, mknny kibum tinggal berdua ama heechul /plaakk/ sok tau sumfah!!!! lanjut~~~~

  9. Karakter asli kibum akhirnya keluar jugs >_<
    Tapi yg ditabrak kibum itu siapa yah? Atau mungkin org dari masa lalu nya kah?

  10. Senengnya liat Ki Bum berusaha lindungi Soo Rin ^^ , yaampun Soo Rin katanya mau berhenti tapi tetep nungguin Ki Bum digerbang manis banget ({}) , itu yang liat kelakuan Soo Rin kaka Ki Bum ya 🙂 ,iyalah mau culun mau keren Ki Bum tetep punya fans fanatik 😀

  11. Terus kacamata yang selama ini dipakai kibum itu buat apa? Masa lalu kibum penuh misteri. Cie, kibum mulai suka sama soorin nih. Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh kibum?

  12. Kibum mulai suka nih sama Soorin, setelah Soorin udah nggak ngedeketin dan ngikutin dia lagi, Kibum ngesasa kehilangan.

  13. aku izin baca ff nya lagi ya siskachi :))
    kemarin2 belum baca, berenti di part awal dan sekarang hihii pengen baca kisukisu :*
    btw disini aku bacanya agak baper gegara ada Kangin appa :(( huhuu

    1. pokunyaaaaaaaann! xD #loh
      iya gapapa dan silahkan baca hehe :3 btw, jadi ikutan baper Kangin Appa 😭 huwaaaaah mana di sini dia ngeselin banget hiks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s