Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, One Shot, PG-17, Romance

Good Man

goodman

Genre :: Fluff, Romance

Rated :: PG-17

Length :: Oneshot

||KiSoo||

Recommended Songs :: Red Velvet – Ice Cream Cake, Super Junior – Lovely Day (Acapella ver.), Super Junior-D&E – 1+1=LOVE

::another cheesy story yang muncul akibat masa pms saya….ugh, kayaknya emang bener kalo aku demen banget ngidam yang beginian -__- hahahah::

Happy reading aja._.

ㅡㅡ

“Kau hanya boleh merepotkanku.”

.

Be patient, Kim Ki Bum.

ㅡㅡ

“AKU ingin kue es krim!”

Ki Bum melirik gadis yang tengah duduk di sampingnya sekaligus mengayunkan sebelah lengannya. Wajah manis dengan pipi yang tembam itu tengah menguarkan ekspresi memohon bersamaan dengan kedua mata yang berbinar-binar. Di hari liburnya ini, Ki Bum sepertinya tidak bisa beristirahat penuh karena gadis ini selalu meminta hal yang hampir tidak pernah diminta.

Apa harus dijelaskan lagi bahwa Soo Rin seperti itu karena pengaruh hormon yang bergolak tak menentu yang tidak lain merupakan dampak dari mengandungnya itu? Di usia kandungannya yang di penghujung 4 bulan, ada saja yang diinginkan Soo Rin untuk disantap atau biasa disebut dengan mengidam.

Seperti sekarang ini.

“Kim Ki Bum, ice cream cake, juseyo!” rengek Soo Rin dengan pelafalan Inggrisnya yang—percayalah—tidak sefasih Kim Ki Bum. Tangannya tidak berhenti mengusik lengan Ki Bum karena pria itu tidak segera bertindak.

Ki Bum menghela napas. “Apa kau masih lapar? Seharian ini kau sudah makan banyak kue, Soo Rin-ah.”

Soo Rin berhenti sejenak. Kepalanya menunduk seraya memegang perutnya yang mulai tampak mengembang di balik kausnya, mengusapnya. “Aegi terus meminta makan,” jawabnya dengan suara mengecil. Matanya kembali menyorot wajah tampan di hadapannya lalu mengerjap beberapa kali. Tampak lucu di mata Ki Bum.

Pria itu akhirnya mengalah. Jika sudah menyangkut aegi, Ki Bum tidak bisa menolak lagi, atau lebih tepatnya tidak boleh. Bukan berarti dia tidak peduli dengan Soo Rin, melainkan dia justru sangat peduli. Gadis itu masih prioritas utama yang otomatis berpengaruh dengan nyawa di dalam perutnya itu, benar bukan?

“Aku ingin rasa Red Velvet!”

Ki Bum yang sudah meraih kunci mobil tampak mendengus geli. Seharian ini Soo Rin tidak pernah jauh dari yang namanya Red Velvet. Mungkin itu pengaruh dari dirinya yang sejak kemarin menonton penampilan girlband Red Velvet baik Video Musik maupun penampilan di atas panggung grup yang berisi 5 gadis belia itu.

Bahkan sebelum ini, Soo Rin sempat menggodanya dengan menari tarian grup itu demi meminta kue es krim. Meski sambil duduk dan hanya tubuh bagian atas yang bergerak menari, sudah membuat Ki Bum merasa tergelitik.

Juseyo dalkomhan geu mat ice cream cake! Teukbyeol haejil oneur-e eoullineun maseuro. Ibga-e mudeun ice cream-e, ne gasum dugeun georyeo naega daga ogettjyo! It’s so tasty, come and chase me. Mot chamgesseo. Ice cream, you scream! Gimme gimme Ice cream!

Ki Bum harus menahan tawa mendengar gadisnya itu tidak sepenuhnya menyanyi dengan benar. Meski bukan penggemar melainkan sering mendengarnya karena Soo Rin sering memutarnya, dia tahu. Oh, mungkin jika ada yang menyukai grup itu, bisa menebak di mana letak kesalahannya.

Well, sekali lagi, Soo Rin tidak pandai berbahasa Inggris.

“Tunggu di sini, mengerti?”

Soo Rin mengangguk antusias. Setidaknya ia berhasil membuat Ki Bum keluar apartemen demi memenuhi permintaannya yang ke-4. Hari ini.

****

Pria bermata sipit itu harus menahan tawa di balik counter kala melihat pengunjung itu kembali lagi. Senyum gelinya sudah tidak bisa disembunyikan hingga pengunjung tersebut berdiri di hadapannya, dengan memasang wajah datar andalannya.

Red Velvet Cake lagi, Tuan?”

Ki Bum terpaksa memutar bola matanya. Merasa jengah dengan pertanyaan itu, terutama sebutan yang keluar untuknya. “Red Velvet Ice Cream Cake. Aku pesan dua.”

Pria itu akhirnya tertawa. Kepalanya bergerak menggeleng beberapa kali. Merasa geli dengan nasib Kim Ki Bum. “Seharusnya kau memesan seperti itu sejak awal, Ki Bum-ah. Aigo, apakah dia sedang mengidam Red Velvet, eh?”

“Begitulah.” Ki Bum menyahut seadanya. Dia harus menahan rasa jengkel karena pria di hadapannya belum berhenti tertawa. “Suatu saat Hyung juga pasti merasakannya.”

Barulah pria itu menghentikan tawa. Wajah jenakanya yang menawan itu segera merengut. “Ish, araa! Kau sudah lebih berpengalaman dibandingkan aku,” gerutunya.

“Karena itu cepatlah menikah. Chocolat BonBon masih bisa beroperasi meski Hyung sudah menikah nanti. Ingat usiamu!”

Ya! Bagaimana pun wajah tuaku ini masih bisa menjual, kau tahu?!”

Ki Bum memilih untuk berhenti berdebat. Pria seperti Lee Hyuk Jae tidak akan berhenti mengoceh jika masih diladeni. Memang benar bahwa Hyuk Jae—atau biasa dikenal Eun Hyuk—masih dibanjiri job di dunia hiburan mengingat usianya yang hampir di penghujung 30 bersama rekan grupnya, Lee Dong Hae, meski saat ini dia lebih fokus membesarkan usaha bisnisnya ini dan sesekali menciptakan lagu untuk para artis juniornya di SMent. Sayangnya, hingga saat ini dia belum melepas masa lajangnya. Tidak seperti Dong Hae yang sudah menikah sekitar setahun yang lalu, bahkan sudah dikaruniai anak.

Cah, dua paket Red Velvet Ice Cream Cake!” Eun Hyuk menyerahkan satu bingkisan berisi pesanan Ki Bum. Ia melanjutkan, “Sepertinya aku harus buka 24 jam penuh supaya kau tidak kesulitan mencari-cari nanti.”

“Aku berharap Hyung benar-benar melakukannya.”

Eun Hyuk tertawa renyah. “Cepatlah pulang! Jangan membuat gadismu menunggu!”

Ki Bum akhirnya melengkungkan bibir sebelum pamit untuk pulang. Setidaknya Eun Hyuk sudah membuat Ki Bum tersenyum hanya mendengar ucapan ‘gadismu’ itu. Sebutan favoritnya.

****

“Kim Ki Bum.”

Ng…

Soo Rin menggigit bibir dengan gelisah. Sebenarnya dia merasa tidak tega membangunkan Ki Bum yang sudah terlelap mengingat waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Tapi dia sendiri tidak bisa melanjutkan tidurnya karena tiba-tiba saja dia ingin sesuatu. Oh, bahkan dia sempat memimpikannya melahap makanan itu.

“Kim Ki Bum, bangun!” Soo Rin menggoyang-goyangkan lengan Ki Bum. Membuat pria itu akhirnya setengah tersadar.

“Ada apa?” suara seraknya mulai menusuk gendang telinga Soo Rin. Membuat gadis itu menelan saliva karena mulai gugup.

“Aku… ingin Taco.

Ki Bum terpaksa membuka kelopak matanya lebih lebar lagi, juga menajamkan pendengarannya. Berharap dia tidak salah mendengar. “Apa?”

“Aku ingin Taco…” Soo Rin mengulang. Kedua jari telunjuknya mulai bermain-main. “Dari restoran Lee Dong Hae…”

Ki Bum harus tercengang sejenak sebelum mendesah berat. “Soo Rin-ah, ini sudah malam. Restoran Dong Hae Hyung juga pasti sudah tutup.”

Soo Rin memasang ekspresi memelasnya. “Aku ingin Taco sekarang…”

“Tidak bisa nanti saja?”

Soo Rin menggeleng.

“Tapi ini masih malam.”

Soo Rin semakin memelas. “Aku ingin Taco, Kim Ki Bum…”

Ki Bum mengusap wajah mengantuknya. Menghela napas panjang. Sedikit terusik dengan permintaan Soo Rin yang termasuk keterlaluan ini. Bagaimana cara dia mendapatkan Taco dari restoran Dong Hae padahal restoran itu sedang tutup? Membuat Ki Bum mulai dilanda pusing. Ditambah kedua matanya yang sangat berat karena dia baru terlelap tidak lebih dari 3 jam lamanya setelah harus menghabiskan kue es krim yang dibelinya tadi untuk Soo Rin. Sungguh, itu bukan kemauannya melainkan kemauan Soo Rin yang ingin melihatnya menghabiskan satu loyang kue es krim itu.

Tahu begitu seharusnya Ki Bum membeli satu paket saja tadi. Mengingat Soo Rin ternyata sudah kehilangan selera setelah menghabiskan tiga-perempatnya dan dengan kurang ajarnya menyuruh Ki Bum untuk menghabiskan semuanya. Semuanya!

Kini, Ki Bum sudah berada di dalam lift. Dengan rasa bersalah dia menghubungi Dong Hae yang harus memakan waktu cukup lama untuk menunggu jawabannya. Benar saja, panggilannya terjawab oleh suara berat yang sangat serak layaknya orang terpaksa bangun dari lelap.

Hyung, aku minta maaf tapi bisakah Hyung membuka restorannya?”

“Apa? Yaa, ini bahkan belum pagi. Jangan mengada-ngada!”

“Aku sangat membutuhkannya, Hyung.”

Terdengar suara decakan di sana. Ada jeda cukup lama, mungkin orang di seberang sana sedang mengumpulkan nyawa. “Permintaan gadismu, eo?”

Eo…

“Aigo, perempuan hamil memang ada-ada saja,” gerutunya.  Membuat Ki Bum memutar bola mata mendengar suara ringisan konyol di seberang telepon. Apa dia tidak sadar bahwa istrinya juga pasti pernah begitu dulu?

Kemudian terdengar helaan napas panjang. “Baiklah. Aku akan menghubungi Dong Hwa Hyung untuk memasak. Tapi kau harus membayarnya dua—ani, tiga kali lipat!”

Ki Bum bernapas lega. Setidaknya Dong Hae ingin bekerja sama serta mengajak kakaknya yang bisa dikatakan sebagai koki di restoran sana. Dan bayaran lebih dibanding harga normal sangatlah sepadan untuk keadaan seperti ini.

 .

.

Terlihat Soo Rin terlelap di ruang tengah kala Ki Bum kembali dengan membawa bingkisan yang berisi Taco pesanannya. Butuh waktu sekitar 2 jam lamanya agar Ki Bum mendapatkan pesanan ini mengingat dirinya harus menunggu kedatangan Dong Hae dan Dong Hwa di restoran mereka. Beruntung kedua Lee Bersaudara itu mau membantunya dengan senang hati meski harus dengan mata setengah terbuka juga sampai meninggalkan para istri di rumah. Mungkin karena mereka sudah mengerti rasanya berada di posisi Ki Bum saat ini.

Ki Bum berjongkok di hadapan Soo Rin yang terlelap di sofa ruangan. Sebelah tangannya bergerak mengelus pipi tembam itu demi membangunkannya. “Hei, kenapa tidur di sini?”

Mendengar sambutan itu, Soo Rin yang mulai tersadar segera mendudukkan diri. Mata sayunya menyambut Ki Bum seraya mengerjap pelan.

“Menungguku?” Ki Bum segera mendudukkan  diri di sebelah Soo Rin, merangkul pundak kecil Soo Rin dengan lembut. Barulah ia melihat gadis ini mengangguk pelan. “Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Ki Bum pun menunjukkan bingkisannya.

Namun Soo Rin tidak segera menerimanya.

“Kenapa? Ini Taco pesananmu. Masih hangat karena Dong Hwa Hyung langsung membuatnya.”

Soo Rin mengusap tengkuknya. Mulai salah tingkah. “Aku… sudah tidak menginginkannya…”

Rasanya seperti dilempar ke dalam lautan Samudra Arktik yang sangat dingin hingga Ki Bum harus melebarkan matanya sekaligus menahan napas sesaat karena jawaban lirih itu.

Dia hampir mendesah keras karena perasaan yang mulai campur aduk dan hampir membuatnya frustasi. Mengingat sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari dan dia terpaksa membuka mata karena permintaan aneh gadis ini bahkan harus merepotkan orang lain, seperti ini hasilnya? Oh, apakah ini bisa disebut dengan usaha yang berujung sia-sia?

Soo Rin sendiri harus menunduk dalam karena tahu dia pasti sudah membuat pria di sampingnya ini kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Soo Rin tidak bermaksud untuk mengerjai maupun membodohi Ki Bum. Ini karena pengaruh hormon yang kembali berulah tanpa kemauannya dengan berubah menjadi tidak berselera untuk menyantapnya.

Dan berganti mengidam yang lain…

Oh, tidak, apakah Ki Bum akan memenuhi permintaannya yang satu ini? Tapi melihat pria ini sudah mengusap wajahnya yang terlihat lelah itu, apakah tidak lancang jika Soo Rin mengutarakan permintaan lagi?

“Baiklah. Setidaknya bisa untuk sarapan nanti,” gumam Ki Bum seraya bangkit dari duduk lalu melangkah menuju dapur. Hendak menyimpan makanan cepat saji itu ke dalam kulkas. Sekaligus mengalihkan emosinya dengan mencoba berpikir positif: setidaknya makanan itu bisa dipanaskan dengan microwave untuk sarapan pagi nanti.

Baru saja berpikir untuk kembali ke tempat tidur dan melanjutkan istirahatnya yang tertunda, Ki Bum harus dihadapi dengan kenyataan bahwa Soo Rin ternyata mengikutinya. Wajah cantiknya tertunduk serta jari-jemarinya saling bertautan, bergerak gelisah. Melihat gelagat itu, Ki Bum tahu pasti bahwa gadis ini menginginkan sesuatu—lagi.

Sepertinya Ki Bum harus bersabar untuk beberapa menit ke depan. Atau mungkin beberapa jam ke depan.

“Kau ingin apa lagi?”

Soo Rin melirik pria di depannya. Sejenak batinnya menggerutu karena sudah berani mengusik waktu istirahat prianya sendiri. Ugh, salahkan aegi-nya yang meminta ini-itu!

“Kau—kau tahu lagu itu?”

Ki Bum mengernyit bingung. “Lagu apa?”

“Itu… eung… Super Junior…”

“Super Junior?”

Soo Rin menunduk semakin dalam. Sebenarnya dia malu mengatakannya, bahkan tanpa sadar pipi tembamnya itu mulai menunjukkan rona kemerahan. Apakah dia harus menyanyikannya seperti dia menyanyikan Ice Cream Cake milik Red Velvet? Ough, dia bahkan tidak yakin bisa menyanyikannya dengan baik seperti kemarin sore.

I wanna hold your hand… I wanna kiss your—lips… I wanna fall in love with you… it must be beautiful lovely… day…

Siapa saja, bantu Soo Rin untuk pergi dari sana karena sudah berani menyanyikan lirik itu di depan Kim Ki Bum!

Jantungnya mulai berdebar kencang, bahkan jari-jemarinya tampak bergetar jika tidak ia sembunyikan dengan memainkannya, dan Soo Rin menggigit bibir bawahnya dengan keras karena mulai merasakan wajahnya memanas. Dia sudah tidak memiliki nyali untuk menatap wajah tampan di hadapannya.

Tapi meski dengan nada yang sedikit bergetar dan tersendat-sendat, Soo Rin berhasil membuat Ki Bum terpaku di tempat. Rasanya dia membutuhkan waktu untuk mencerna permintaan Soo Rin yang satu ini dengan baik.

Astaga, Soo Rin menginginkan itu?!

Baiklah, sudah cukup Kim Ki Bum membuang waktu dengan hanya berdiri seperti ini. Dia segera meraih pergelangan tangan Soo Rin kemudian menariknya. Menuntun gadisnya itu kembali ke ruang tengah. Ki Bum mendudukkan diri lebih dulu, lalu tanpa berkata apapun menarik lembut gadisnya hingga terduduk di pangkuannya.

Terpaksa Soo Rin tersentak hingga spontan menatap pria ini. Susah payah ia menelan saliva karena melihat wajah tampan itu kini tengah menyungging senyum penuh arti untuknya. Tentunya dia tidak bisa mundur lagi.

Tangan besarnya beralih menggenggam tangan yang sempat ditariknya, menautkan jari-jemari mereka hingga tersalurkan rasa hangat yang cukup membuat Soo Rin berdesir. Mata teduhnya mengunci pergerakan iris kecoklatan Soo Rin. Sedangkan tangan besar yang lain bertengger memeluk pinggang ramping Soo Rin.

Hold my hand, check. Now—” Ki Bum menutup kedua mata. Dengan senyum yang masih mengembang, ia melanjutkan, “Kiss my lips.

Ugh, seharusnya Ki Bum tidak perlu mengucapkannya secara frontal. Tidak tahukah bawah Soo Rin semakin merona saja? Padahal dia belum memulainya.

Tapi, melihat pria di hadapannya sudah menutup mata, Soo Rin tanpa izin menatap benda yang sudah sering mengeluarkan suara berat nan halus itu. Suara yang sudah menjadi favorit Soo Rin sejak dulu. Bahkan, benda itu sudah sering menciumnya di bagian mana—oh, lupakan! Lebih baik dikatakan sebagai benda yang sudah sering mencium bibirnya.

Dan kini, giliran Soo Rin yang akan menciumnya. Meski ini bukan yang kali pertama, tetap saja mendebarkan baginya! Hingga akhirnya secara perlahan Soo Rin bergerak mendekat dan jantungnya serasa berjungkir balik kala berhasil menyatukan mereka. Memejamkan mata, Soo Rin mulai menikmati sentuhan yang ia ciptakan sendiri.

Tanpa ia sadari, Ki Bum membuka mata demi mengamatinya dari sangat dekat. Merasakan tangan yang digenggamnya semakin erat membalas genggamannya. Sebelum akhirnya merasakan bibir kecil itu mulai bergerak di permukaan—dengan perlahan dan sarat akan keragu-raguan. Membuat benaknya menggeram gemas karena gadis ini masih saja berhati-hati jika memulai lebih dulu. Atau memang seperti ini pergerakan khasnya? Entahlah. Setidaknya selalu berhasil membuat Ki Bum ingin membalasnya dengan pergerakan lebih. Namun harus ditahannya karena situasi yang berbeda.

Soo Rin ingin menciumnya. Tidak menginginkan Ki Bum untuk membalasnya.

Pergerakannya semakin terasa karena mulai berubah tempo. Tanpa berniat untuk terpejam kembali, Ki Bum mengamati Soo Rin yang sibuk bermain. Hingga benaknya terasa mendidih begitu merasakan jemari lentik yang terbebas itu bergerak merengkuh wajah tegasnya, bermain di garis rahangnya dengan lembut dan cukup menggoda. Namun mampu membuat Ki Bum akhirnya terpejam kembali lalu mengerang tertahan sebelum akhirnya menekan bibir kecil itu dan membalasnya. Menyapu tiap permukaan benda yang sudah menjadi candu untuknya dengan penuh intensitas.

Persetan dengan pikiran bahwa Soo Rin tidak menginginkan balasan. Ki Bum tidak bisa diam saja untuk hal seperti ini!

Meski sarat akan kelembutan, ada percikan gairah yang menyelubungi karena mereka seolah tengah berlomba. Yang justru semakin melonjakkan hormon di dalam tubuh Soo Rin hingga mendorong dirinya untuk melakukan lebih gencar lagi sehingga dengan berani memberikan lumatan dalam yang jelas membuat prianya menggeram dan membalasnya dengan hal yang sama.

Dan Ki Bum harus mengumpat dalam hati karena merasakan hembusan napas yang tak terkendali menabrak wajahnya. Tidak tahukah Soo Rin bahwa itu membuat Ki Bum menjadi semakin tidak ingin melepas tautan mereka? Apalagi dengan tanpa permisi menggoda pria ini dengan mulai memberikan gigitan halus di sela-sela ciumannya.

Oh, tidak, gadisnya mulai bertindak di luar batas!

Dengan sangat menyesal Ki Bum segera melepas kontak mereka. Bukan apa-apa. Dia tidak mau terpancing lebih jauh lagi dan memilih untuk membawa gadis ini ke atas ranjang hingga akhirnya dia harus absen dari rumah sakit karena mereka akan bangun terlambat. Tidak, tidak. Jangan membayangkan hal itu, Kim Ki Bum!

Dia harus mengalihkan pikiran itu.

“Kau juga butuh bernapas, Sayang.”

Sontak saja perkataan itu membuat Soo Rin semakin merona padam. Ki Bum harus merasa geli karena ada binar kekecewaan di mata indah itu. Mungkin karena dirinya sudah memutus kontak mereka secara tiba-tiba. Hei, dia memang harus seperti itu karena Soo Rin tidak akan berhenti mengingat kondisinya sekarang ini.

“Seharusnya kau sering mengidamkan hal ini karena aku akan mengabulkannya dengan senang hati, kau tahu?” Ki Bum mengucapkannya dengan suara berat nan paraunya di depan wajah Soo Rin. Langsung saja gadis itu memeluk lehernya dan menyembunyikan wajah cantiknya di bahu lebarnya.

Ugh, aku tidak akan mengidamkan hal ini lagi!” gerutu Soo Rin. Sungguh, dia sebenarnya sangat malu akan hal ini. Bagaimana bisa dia mengidamkan hal aneh ini?

“Kenapa aku tidak percaya dengan kata-katamu itu, hm?”

“Aku tidak akan melakukannya lagi!”

Ki Bum akhirnya terkekeh pelan. Gadisnya ini, jika tidak mau kenapa justru semakin menempel dengannya? Benar-benar membuat Ki Bum tergerak untuk memeluk erat tubuh di pangkuannya ini.

“Jadi, kau sudah menggenggam tanganku juga menciumku. Apa kau ingin melanjutkannya dengan jatuh cinta padaku supaya harimu menjadi indah?”

Soo Rin memberengut di pundak Ki Bum. Apa dia harus melakukannya secara detil sesuai dengan lirik lagu itu? Ish, pria ini senang sekali menggodanya yang sedang seperti sekarang ini. “Hariku sudah sangat indah sejak dulu—

karena aku sudah jatuh cinta padamu sejak dulu…”

Ki Bum hampir tidak mendengarnya karena suara itu semakin mengecil. Jika saja gadis ini sedang tidak memeluknya seperti ini, Ki Bum pasti tidak mendengarnya. Dan dia bersyukur hingga memicu rasa senang yang membuncah kala mendengar pengakuan itu. Namun juga merasa tergelitik karena terselip nada malu-malu di sana.

“Apa kau sedang menggodaku?”

Shikkeureo (Diamlah)!” Soo Rin semakin menyembunyikan wajahnya di pundak Ki Bum. Rasanya dia begitu malu meski sebenarnya pria ini tidak melihatnya. Kenapa juga dia berani mengutarakan kalimat aneh itu? Membuatnya harus mengerut sebal kala mendengar pria ini tertawa pelan seraya mengusap kepalanya… juga kembali berdesir karena merasakan jemari besar itu menyusup ke surai rambutnya, merengkuh tengkuknya.

Dan sepertinya Ki Bum benar-benar menuruti perintahnya untuk terdiam dan memilih untuk memberikan kenyamanan untuknya melalui perilaku kecil ini.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Bisakah kau menyanyikan lagunya?”

Ki Bum sedikit terkesima mendengar permintaan Soo Rin. Gadis ini, sudah pernah dikatakan bahwa Ki Bum tidak pandai bernyanyi, tetap saja memintanya untuk bernyanyi. Benar-benar.

“Bagaimana jika aku tidak bisa?”

Ugh, bagaimana jika aku memaksa?”

Ki Bum sudah bisa menebak balasan gadisnya ini. Well, dia memang harus mengalah, bukan?

Geudaewa isseul ttaen nae maeumkkaji, da deulkyeobeorigo maneunji
(When I’m with you, my feelings are always visible)

Geoure bichin nae moseubeul bomyeon, nae maeumi da boyeo
(If I look into a mirror, I can see exactly how my feelings)

Bogoshipdaneun nae ane yaegiga teongmitkkaji na oryeohago
(The words ‘I miss you’ coming right off my tongue)

Chamaboryeogo jamshi saenggak hamyeon, nan eoneusae maran geol
(I try to hold them in, but I let them out unconsciously)

Soo Rin tersenyum di bahu Ki Bum. Batinnya menggerutu, selalu mengelak tidak bisa menyanyi padahal bisa menyanyi. Dengarkan saja, suara beratnya yang mengalun itu bahkan terdengar merdu. Meski tidak sebagus suara Ye Sung maupun Cho Kyu Hyun, setidaknya suara rendahnya itu mampu membuat benak Soo Rin bergetar karena senang.

I wanna hold your hands

I wanna kiss to your lips

I wanna fall in love with you

It must be beautiful lovely day

Dan Soo Rin selalu menyukai bagaimana cara Kim Ki Bum menyanyikan lirik berbahasa Inggris. Dengan lagu ini, dia seperti mendengar lullaby dari negeri barat hingga matanya dengan mudah mengatup.

Nae sarang geudaereul wihaesseo, sesang eodirado
(Anywhere on this eart, my love will be yours)

Naega hamkke hal su ittdamyeon
(If I could only be with you, then)

My love for you, my everything

Tak henti-hentinya Ki Bum membelai rambut panjang Soo Rin. Menyalurkan rasa kasih sayangnya pada gadis di pangkuannya ini serta memberikan kenyamanan dalam pelukannya. Sejenak ia menghirup wangi rambut gadisnya itu sebelum merasakan begitu tenangnya tubuh di pelukannya, juga merasakan napas yang berhembus teratur menerpa lehernya.

I wanna hold your hands

I wanna kiss to your lips

I wanna fall in love with you

It must be beautiful lovely day…

Menempelkan bibir penuhnya di balik telinga Soo Rin, merendahkan suara beratnya, mengulang…

I wanna fall in love with you…

It must be beautiful lovely… day…

Ia terdiam sejenak dengan posisinya. Menikmati sensasi yang tercipta dengan sendirinya dan begitu menggelitik. Senyumnya mengembang di balik uraian rambut panjang Soo Rin. Merasakan gadis ini berada di pangkuannya, sekaligus di pelukannya, dan tertidur karena nyanyiannya… entah mengapa sudah mampu membuat Ki Bum begitu bahagia.

Tidak bisa dibayangkan jika gadis ini bukanlah Soo Rin. Rasanya Ki Bum tidak akan sebahagia ini. Mencintainya, menyayanginya, memerhatikannya, memrioritaskannya, melindunginya… apapun dia lakukan demi mempertahankan keberadaannya yang selalu berada di genggaman, juga jarak pandang.

Perlahan Ki Bum menyelipkan sebelah tangan ke bawah lutut Soo Rin sebelum dirinya bangkit dari duduk lalu mengangkatnya, membawanya ke dalam kamar mereka.

“Kau benar-benar gadis yang merepotkan,” gumam Ki Bum setelah menidurkan Soo Rin di tengah ranjang, seraya melepas kalungan tangan ramping itu dari lehernya perlahan. Tapi percayalah, dia tidak serius dengan ucapannya karena dibarengi dengan senyum hangat kala menatap wajah terlelap itu dari atas seperti ini. Sebelum akhirnya beralih ke samping demi menyelimuti tubuh Soo Rin—lebih tepatnya tubuh mereka, kemudian mendekap gadis itu seolah tidak ingin dilepas lagi.

Jalja.

Dan, ya… hari-hari Ki Bum akan selalu indah jika mencintai Soo Rin.

I want to send my feelings to you. When the wind brushes against my cheek, I suddenly think of you. I want to be a large tree that stays by your side, to watch over you under the skies. I wanna hold your hands, everytime I thinking about you. I wanna kiss to your lips, whole heartedly. I wanna fall in love with you. It must be beautiful lovely day…
(Super Junior – Lovely Day)

****

Pria itu baru saja sampai di toko Chocolat BonBon. Napasnya tampak memburu karena menahan emosi setelah mendapat kabar yang membuatnya terpaksa meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit. Pemilik toko inilah yang mengabarinya.

Samar-samar pendengarannya menangkap suara alunan dari kombinasi 2 suara berat nan merdu, suara tersebut berasal dari tempat duduk yang menjorok ke pojok ruangan di mana tempat tersebut menjadi tempat favorit para pengunjung yang hendak menikmati pelayanan toko merangkap kafe ini.

Neoneun na mankeum gieokhaji anhgil, na boda gwaenchanhgil barae. Oneul neildo!

Woo hoo—

Dua pria itu terpaksa menghentikan nyanyiannya begitu melihat Ki Bum sudah berdiri di dekat mereka. Dengan mata yang menajam seolah mengintimidasi mereka yang sudah berani mengerubungi gadisnya itu. Bahkan salah satu dari mereka sedang dalam posisi yang jelas tidak mengenakkan—mengancang-ancang hendak menyuapi gadisnya dengan sesendok kue.

Langsung saja Dong Hae meraup sendiri kue tersebut, detik kemudian ia tersedak karena baru menyadari bahwa sendok tersebut merupakan bekas milik Soo Rin. Langsung saja ia merampas minuman dinginnya lalu menenggaknya hingga setengah kosong. Sedangkan Eun Hyuk dan Soo Rin hanya mampu meringis pelan melihat kejadian di depan mereka itu.

Ya, Ki Bum mendapat kabar dari Eun Hyuk bahwa Soo Rin kabur kemari seraya mengadu karena dirinya tidak memenuhi permintaan Soo Rin: gadis itu ingin pergi kemari dan bertemu Eun Hyuk. Bukan hanya bertemu, tapi ingin makan bersama Eun Hyuk, disuapi, bahkan ingin memeluk pria itu! Bagaimana Ki Bum ingin mengizinkannya jika permintaan gadisnya itu seperti permintaan ingin berselingkuh?!

Di samping itu, Ki Bum tengah disibukkan dengan urusan rumah sakit. Sebenarnya dia tidak ada waktu untuk menemani Soo Rin tapi mau bagaimana lagi? Bagaimana pun gadis itu merupakan prioritas utamanya hingga akhirnya ia memilih untuk membolos dari rumah sakit. Bahkan dia hanya membawa ponsel sekaligus kunci mobil untuk datang kemari, sisanya dia tinggalkan begitu saja di ruang kerjanya.

Melihat Ki Bum melangkah mendekat dengan raut dinginnya, membuat kedua pria itu merasa was-was. Eun Hyuk yang duduk di samping Soo Rin bahkan spontan menyembunyikan gadis itu dengan lengannya, bergerak melindunginya. Soo Rin sendiri segera merapat pada punggung Eun Hyuk sekaligus menggenggam lengan kekar pria itu. Menatap Ki Bum takut-takut.

Hei, sebenarnya pria Soo Rin itu siapa? -_-

Ya, Ki Bum-ah, kau membuat gadismu ketakutan!” tegur Dong Hae setelah melirik Soo Rin sejenak.

“Menjauhlah! Kau tidak boleh menyentuhnya selama wajahmu itu belum berubah!” Eun Hyuk menimpali.

Justru teguran mereka membuat Ki Bum semakin jengkel. Apalagi melihat Soo Rin seperti anak kecil yang ketakutan karena melihat penculik yang pernah menculiknya hingga dia butuh perlindungan.

Sekali lagi, sebenarnya pria Soo Rin itu siapa? Kenapa Ki Bum tidak boleh menyentuh gadisnya sendiri dan membiarkan Eun Hyuk yang melindungi gadisnya? Rasanya begitu panas di dalam dada melihat pemandangan itu. Benar-benar.

Dia pun memilih untuk menghempas duduk di sebelah Dong Hae, tepat di hadapan Eun Hyuk. Sejenak batinnya menyesali posisinya yang tidak strategis untuk menatap lurus gadisnya itu. Apalagi sudut matanya melihat Dong Hae bergerak membuat jarak. Well, para pria tahu bahwa aura Ki Bum sedang tidak bersahabat saat ini.

“Ki Bum-ah, bagaimana pun kau tetap harus menuruti permintaan Soo Rin. Aku tahu ini memang aneh, tapi kau juga tahu bahwa ini permintaan bayimu!” tegur Dong Hae dengan halus. Sehalus-halusnya.

“Kau tahu sendiri bahwa Soo Rin tidak pernah seperti ini sebelum mengandung. Jadi mengertilah! Beruntung bahwa dia ingin bertemu denganku bukan dengan Dong Hae. Kau ingin menjelaskan apa jika istrinya tahu bahwa seandainya Soo Rin ingin memeluk Dong Hae, huh?” Eun Hyuk ikut menegur.

Terpaksa Ki Bum membenarkan omongan Eun Hyuk di dalam hati. Ia menatap Soo Rin yang tengah menunduk di balik lengan Eun Hyuk. Tangannya bermain-main dengan pakaian yang dikenakan Eun Hyuk, memilin kerutan-kerutan di sana. Kemudian ia melirik Dong Hae. “Lalu kenapa Hyung ada di sini?”

“Aku?” Dong Hae menunjuk diri sendiri. “Aah, kebetulan saja aku sedang berkunjung kemari. Tidak lama sebelum Soo Rin datang dan mengadu pada Eun Hyuk. Aku rasa tidak ada salahnya jika ikut menghiburnya.”

“Dan menyuapinya.” Ki Bum menimpal dengan nada dinginnya.

Seketika Dong Hae tertawa. “Kami melakukannya secara bergantian! Gadismu itu sulit sekali untuk makan jika kami tidak merubah suasana. Kami bahkan harus bernyanyi supaya dia mau makan. Ough, sepertinya mood gadismu untuk makan bersama Eun Hyuk sudah menghilang karena kau tidak segera mengabulkannya,” kemudian Dong Hae menunjuk makanan yang ada di meja. “Dia bahkan belum makan setengahnya.”

“Kau benar-benar. Bagaimana bisa kau membiarkan Soo Rin tidak mau makan seharian ini?” Eun Hyuk menggerutu.

Ki Bum melotot. Astaga, dia ingat bahwa tadi pagi Soo Rin hanya minum susu sebelum akhirnya merajuk karena Ki Bum tidak mengabuli permintaan Soo Rin dan memilih untuk berangkat bekerja. Dan sekarang—sekarang sudah lewat dari waktu makan siang, Soo Rin hanya memakan kue?!

Pria itu segera kembali bangkit, mengusir Eun Hyuk dari tempatnya dengan paksa kemudian meraih gadis itu. Meski tidak kasar tetap saja perlakuannya itu berhasil membuat Soo Rin meronta karena menyadari Ki Bum akan membawanya pergi dari sini.

“Tidak! Lepaskan aku! Eun Hyuk Sunbae, aku tidak mau pergi!! Tolong aku! Eun Hyuk Sunb—” terpaksa Soo Rin menelan suaranya bulat-bulat karena Ki Bum segera menciumnya setelah menarik cepat tengkuknya. Meski hanya sesaat namun gerakan Ki Bum yang diakhiri dengan gigitan gemas di bibir bawahnya itu berhasil membuatnya tak berkutik.

Well, itu dilakukan demi meredam rasa khawatirnya sekaligus ingin membuat gadis ini berhenti menyebut nama pria-pria itu. Telinga Ki Bum terasa sangat panas mendengar gadisnya ini justru meminta tolong pada pria lain.

“Dengar. Aku sudah memperingatimu untuk tidak keluar rumah sendiri. Dan jangan merepotkan orang lain lagi. Kau hanya boleh merepotkanku, mengerti?” gumam Ki Bum penuh penekanan. Percayalah bahwa dia menahan diri untuk tidak menggeram juga ingin kembali menggigit gadis ini.

Sedangkan Soo Rin—dia langsung mengangguk patuh. Oh, dia baru ingat bahwa dia sudah melanggar perintah Ki Bum yang melarangnya untuk keluar rumah sendiri juga tanpa kabar. Ketahuilah bahwa dia sungguh terkejut karena perilaku pria yang sudah menggandengnya ini. Apalagi itu terjadi di depan dua pria dewasa yang kini tampak bungkam karena terkesima.

Wajah cantiknya memanas secara cepat!

Hyung, antarkan paket seperti biasa ke apartemen kami. Dan aku ingin itu sudah sampai begitu kami sampai. Akan kubayar melalui ponselku nanti.”

Mereka masih terbengong-bengong setelah Ki Bum memerintah lalu berhasil membawa Soo Rin keluar dengan cekatan. Barulah Dong Hae bertindak dengan segera meraih ponsel pintarnya demi menelepon restorannya, setelah berdeham menetralisir rasa terkagumnya. Hei, mungkin itu bisa dipraktekkan dengan istrinya suatu saat nanti, bukan? Aishi, Lee Dong Hae, pikirkan bisnismu!

Sedangkan Eun Hyuk, percayalah bahwa saat ini batinnya tengah menjerit ingin segera menikah seperti pasangan muda yang baru saja pergi itu.

Il deohagi ireun duri hanaro puneun sarang… Il deohagi ireun duri anin hanaga dwen sungan…” Eun Hyuk mulai bersenandung.

Before I met you, I had zero emotions. You became fire in my heart. Love is like a vague calculation. It looks easy but it’s like a button that doesn’t fit. Wanna solve it? Our function? Let’s match our eye level, then we’ll match our lips. 1+1 equals two people becoming one in love… 1+1 equals two people becoming one…
(D&E – 1+1=LOVE)

.

.

FIN


jebal……maafkan daku yang udah berani bikin cerita absurd iniiiii!!! ㅠㅠㅠㅠ

yaampun, aku gatau kenapa kalo tiap lagi pms kok imajinasinya beginian huweeeeeeeeehh ini pasti aneh banget yakan ㅠ////ㅠ

oh ya, ini kisukisu versi……mana ya? Ah, ini mah yang kimkibum jadi jenius peringkat satu ya? hahahah yaampun, entah kenapa sejak bikin ff Two Person feeling akan si Jenius Peringkat Satu berubah menjadi feeling si Nerd KimKiBum wkwk ini aja aku ngebayanginnya….ah, aku sendiri juga bingung ini KimKiBum yang mana #duaaaggh

Berharap ceritanya ga ngambang karna pendalaman karakternya yang mulai ga karu-karuan ㅠ/\ㅠ hiks

oke deh! Terima kasih sudah mau baca~>< salam dari duo cameo kita (?)0407ktr-hj23205

ugh, kira-kira gimana ya tampang mereka kalo udah mendekati 40 wks XD

끝!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “Good Man

  1. eunghh romantisnya mereka. ki bum strong abis meski tengah malem tetep diterjang untuk memenuhi ngidamnya soorin. bener2 suami siaga.

  2. Baik sekali kim kibum, mau saja mengabulkan permintaan gadisnya, walaupun tengah malam tetep siaga hehe,,,,

    sosweet dh,,,,:p

    AKU MAU SUAMI DENGAN WATAK YANG DI PERANKAN KIM KIBUM,,,,iiiikkkkhhh gk akan di sia”kn dh kkkkkk

  3. Ah couple ini memang selalu bikin iri….manis sekali….

    Kibum jg suami yg SIAGA….Soo rin benar2 beruntung deh punya Ki bum…

    Ditunggu cerita2 manis KiSoo yg lainnya…fighting✊✊✊

  4. Baca nih ff kok buat aku yg ‘deg deg an’ sendiri.
    Tanggung jawab kak, ff kakak buat jantungku bekerja diluar batas xD

    Mau moment apa pun, mereka nih tetap ‘Te O Pe Be Ge Te’ 😀

    Keep Writing kak

  5. pasangan yg berdua ini selalu behasil bikin ngiri liat kemesraan mereka.. adduuuhh so swwweeet bgt deh.. sampe kibum bela2in keluar tengah mlm cuma buat menuhin prmintaan soorin.. tp yg aku heranin thor.. mang kalo org ngidam mnta nya hrs tengah mlm gitu ya.. aku ga tw krna blom pernah ngidam.. hehe tdk bisakah aeginya brbaik hati mnta siang bolong ato ga shubuh2 gitu knpa hrs tengah mlm coba.. kan kasian kibum nya.. hahahah udah ngaco nih aku ngomongnya.. #piiss author terserah authornya dong mw bikin kaia apa.. y kan thor..
    tp khusus utk ngidam yg trakhir kaianya bkan permintaan aegi deh.. it mah mw ibunya.. udah jarang liat kemesraan mereka.. bsoq2 lebih byk lgi mesra2an ny thor.. biar tmbah sweeet gitu.. wkwkwk #byk minta nih d gaplok author bru tw rasa

    1. wks~ aku sih mikirnya kalo ngidam mah kapan aja, jadi mungkin tengah malem juga bisa hahahah //belumpengalamantapiberanibikinbeginian-.-//?
      eung….jarang ya? aku juga merasa begitu sih.. duh lagi macet kayaknya buat bikin sweetmoment buat mereka huweeeeehh #plak TT
      tapi makasih banyaaaaakk buat masukannya yaaa!! ><

  6. Akhirnya Kisoo couple story update lagi.. Keren banget eonnie ceritanyaa.. Kibum oppa tetep so sweet meskipun sikap suka main kiseu di mana sajanya masih ada.. Kkk dasar si jenius berotak mesum XD *ala SooRin*

  7. Kibum benar-benar overprotective terhadap soorin. park soorin, kehidupanmu benar-benar membuat orang lain iri

    Berharap ada cerita dimana mereka sudah punya anak, hahaha, kibum lebih protect ke siapa nih, soorin atau anaknya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s