Posted in Category Fiction, Chaptered, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance, School Life

Two Person – Control

Prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3twoperson_

Genre :: School Romance Life

Rated :: PG

Length :: Mini Series

||KiSoo||

::There is a rude words. Beware!::

Happy reading!! ^^

ㅡㅡ

When he lost control only because of her…

ㅡㅡ

LELAKI itu terduduk di sisi tempat tidur seraya menggenggam sesuatu. Sebuah tongkat baseball berbahan kayu namun kokoh dan kuat. Berdiri tegak dengan bantuan tangannya, memutarnya. Mata tajamnya tampak menerawang menatap benda di genggamannya itu. Wajah tegasnya tidak memancarkan ekspresi maupun binar apapun. Datar… namun tersirat kelam. Seolah dirinya saat ini tengah mengenang sesuatu dengan tongkat tersebut.

Hingga akhirnya dia kembali ditarik dari lamunan oleh seseorang yang masuk ke kamarnya tanpa permisi. Bibir orang itu bergerak mengumpat tanpa suara kala melihat lelaki itu sebelum akhirnya bersuara nyaring.

Ya! Kau ingin terlambat ke sekolah, huh? Cepat turun lalu sarapan!” orang itu—seorang pria berparas menawan dan bisa dikatakan cantik, bernama Kim Hee Chul. Merupakan kakak dari lelaki itu sekaligus tulang punggung di rumah ini. Langkah lebarnya mengantarkan kepada lelaki itu lalu merampas tongkat baseball tersebut. Sejenak dirinya menatap benda itu sebelum berdecih dan mengembalikannya ke tempat semula—menyandarkannya di sudut ruangan. Barulah ia berbalik lagi. “Jangan memaksaku untuk menyeretmu karena tingkah menyebalkanmu ini, Ki Bum-ah. Cepatlah sarapan dan bergegaslah ke sekolah!”

Menghela napas berat, Ki Bum—lelaki itu akhirnya bangkit dari duduknya. Tanpa berniat menatap kakak tunggalnya, menjawab seraya beranjak keluar kamar, “Ne, Hyung…”

Sedangkan pria yang dipanggil Hyung itu mengantar kepergian Ki Bum dengan hembusan napas kasar. “Jika aku sudah hilang kesabaran, sudah kupastikan benda itu akan musnah kubakar,” gerutunya pelan. Lalu menyusul adiknya itu ke ruang makan.

****

“Selamat pagi, Kim Ki Bum!!”

Ki Bum hanya memutar bola mata mendapatkan sambutan nyaring itu. Dia sudah tidak terkejut dengan kemunculan Park Soo Rin di hadapannya, dari jarak 20 meter pun Ki Bum sudah melihat Soo Rin yang berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Selalu begitu. Seperti sudah menjadi sarapan paginya untuk bertemu juga disapa oleh gadis itu di depan sekolah, Ki Bum mengalah dengan tidak membalas dengan semprotan andalannya.

Percuma. Soo Rin tidak akan ciut dengan segala penolakannya.

Soo Rin akan terus mengekorinya. Sekalipun Ki Bum mampir sejenak di bagian loker lantai dasar, Soo Rin akan mengikutinya ke sana. Sekalipun Ki Bum mampir ke toilet, Soo Rin akan menunggunya di depan toilet—well, untuk yang ini Ki Bum sedikit bersyukur karena gadis itu masih memiliki kesadaran akan perbedaan. -_-

Hanya saja, Ki Bum masih dirundung tanya mengenai apa yang dibawa oleh gadis itu. Setelah kejadian di kantin beberapa hari lalu, sejak itu Ki Bum baru menyadari bahwa gelagat gadis itu terlihat aneh setiap menghampiri loker kelas. Dia akan melihat Soo Rin tengah mengambil sesuatu dari sana lalu mengantunginya, kemudian menyimpannya kembali ke dalam loker kala jam sekolah berakhir dan mengunci loker tersebut.

Ki Bum memang tidak melihat secara jelas karena gadis itu menggenggamnya begitu rapat juga benda tersebut memang sangat pas digenggam. Tapi, dia tidak mengerti kenapa Soo Rin mengantunginya selama sekolah berlangsung kemudian meninggalkannya di loker kelas saat pulang. Kenapa tidak dia bawa pulang saja jika benda itu memang penting? Dan jika memang benda itu penting, apakah Soo Rin memiliki… sesuatu?

Sesuatu yang berhubungan dengan benda bernama inhaler. Tahukah benda apa itu? Inhaler—alat medis berupa obat genggam atau obat hirup. Biasa digunakan untuk orang yang menderita sesak napas atau biasa disebut dengan asma.

Melihat diri Soo Rin yang tergolong hyper aktif dan cenderung serampangan, Ki Bum tidak yakin bahwa gadis itu mengidap hal tersebut. Apalagi dibawa setiap waktu di sepanjang kegiatan sekolah berlangsung. Sedikit sulit untuk dipercaya.

Sebenarnya Ki Bum ingin bertanya akan hal itu, namun dia ingat bahwa dia tidak seharusnya peduli. Bukankah dia tidak ingin berurusan dengan Soo Rin?

 .

.

TRAK

Ki Bum hampir berjengit karena suara hentakan di meja belajarnya. Matanya menatap tajam gadis yang baru saja mengejutkannya dengan meletakkan sekotak tempat makan di atas meja sebelum mendudukkan diri di depannya. Menatapnya dengan seulas senyum konyol.

“Kim Ki Bum, aku membawakan bekal untukmu.”

Ki Bum hampir berdecih keras jika tidak mengingat di mana dia saat ini. Astaga, gadis ini tidak ada bosan-bosannya mendekati Ki Bum. Dia menatap horror kotak makan berwarna biru muda itu sebelum beralih menatap dingin Soo Rin. Entah kenapa imajinasinya sudah menampilkan sesuatu yang mengerikan di balik kotak makan itu, seperti gurita yang menggeliat menggerakkan tentakelnya ke sana kemari lalu membelai wajah Ki Bum seolah menggodanya untuk segera menyantapnya. Hiiii! Ki Bum sangat tidak suka dengan makanan mentah itu! Sungguh! Itu menggelikan! Dia masih tidak habis pikir kenapa orang Korea Selatan kebanyakan sangat menggemari makanan jenis itu.

Dia hampir menyemprot gadis itu dengan sebuah penolakan kala melihatnya justru tengah membuka kotak makan tersebut hingga memperlihatkan isinya.

Jjajaaaaaaaan!”

Secara otomatis Ki Bum menyorot kembali kotak makanan itu. Matanya hampir melebar begitu melihat isinya. Nasi kepal dengan telur dadar gulung dan kimchi. Menu bekal yang sangat biasa sebenarnya, tapi entah mengapa Ki Bum terpana melihatnya. Sekaligus merasa lega. Ternyata tidak sesuai dengan imajinasinya yang sebenarnya berlebihan itu.

“Kau tahu? Aku membuatnya sendiri,” Soo Rin memamerkan cengirannya seraya mengambil sumpit yang sudah tersedia di dalam. Mencapit sepotong telur dadar gulung lalu mengarahkannya pada Ki Bum. “Makanlah!”

Ki Bum mendengus pelan. Gadis ini tidak ada lelahnya. Sampai-sampai membuatkan bekal untuknya. Kenapa gadis ini mau merepotkan diri seperti ini? Apalagi sekarang kelas mulai bising dengan bisikan-bisikan tidak mengenakkan begitu melihat tingkahnya di depan Ki Bum.

Gadis aneh. Untuk apa dia mendekati lelaki culun itu? Seleranya rendah sekali. Apalagi sudah berkali-kali ditolak. Tidak tahu diri.

Ki Bum saja merasakan panas di telinga mendengar ejekan itu—yang jelas ditujukan untuk Soo Rin. Tapi kenapa gadis di hadapannya ini tidak bereaksi apapun dan hanya fokus kepadanya? Terus tersenyum konyol untuknya? Apa gadis ini tuli? Apa gadis ini bertopeng tebal? Atau memang benar bahwa gadis ini tidak tahu diri?

“Tunggu apa lagi? Ayo makan!” Soo Rin yang merasa tidak akan dihiraukan oleh lelaki ini, akhirnya dengan paksa menjejalkan telur dadar gulung itu ke mulut Ki Bum. Membuat sang empu melotot sebal yang tidak digubrisnya dan memilih untuk bertanya, “Bagaimana? Enak?”

Ki Bum sendiri sebenarnya sudah dongkol dengan sifat pemaksa Soo Rin. Dengan kasar ia mengunyah makanan di dalam mulutnya itu, hanya dua detik, karena tiba-tiba saja mulutnya berhenti bergerak bersamaan iris di balik kacamata itu mengerjap pelan.

Soo Rin menunggu dengan antusias. Sepertinya Ki Bum tengah mencecapi makanan buatannya itu. Sebenarnya dia tidak begitu pandai memasak, hanya saja telur dadar gulung merupakan masakan yang cukup mudah baginya. Sedangkan kimchi itu, dia memasaknya dengan hati-hati juga mengikuti resep dari kakaknya. Lalu nasi kepalnya, setidaknya dia sudah bisa membuatnya dalam bentuk yang sesungguhnya.

“Bagaimana?” Soo Rin bertanya lagi. Ada sekitar 10 detik lamanya dia menunggu namun tak kunjung mendengar suara dari Ki Bum. Dia benar-benar penasaran dengan kesan lelaki itu. Hei, ini adalah kali pertama dia membuatkan bekal untuk orang lain! Dan itu adalah Kim Ki Bum!

“Hambar.”

Seketika senyum antusias Soo Rin lenyap dan berganti dengan ekspresi melongo. Mata jernihnya mengerjap beberapa kali, mencerna jawaban yang akhirnya keluar dari mulut Ki Bum. Hanya satu kata, tapi telak membuat Soo Rin hilang rasa.

Ki Bum menatap datar gadis di hadapannya. “Kau memaksaku untuk memakan makanan tanpa rasa seperti ini? Apa kau bercanda?”

Soo Rin kembali mengerjap. Kini hanya sekali. “Tidak. Aku—”

“Jika kau tidak bisa memasak, tidak seharusnya kau memaksaku untuk mencoba makanan tak layak seperti ini. Apa kau mengharapkanku untuk berkata enak meski berbanding terbalik? Atau kau memang sedang mempermainkanku?”

Soo Rin bungkam seribu bahasa. Matanya bergerak turun, tidak berani menatap iris hitam di balik kecamata itu yang menusuknya terang-terangan. Kemudian telinganya mendengar suara dengusan kasar.

“Yang benar saja, telur dadar pun kau tidak bisa membuatnya. Bagaimana dengan kimchi?” Ki Bum segera bangkit dari duduknya, melangkah keluar dari kelas dengan acuh. Meninggalkan gadis yang sudah mematung di tempat duduk di depan meja Ki Bum.

Seketika kasak-kusuk kembali terdengar, menyerang indera pendengaran Soo Rin tanpa ampun yang jelas sekali mengguncang perasaannya. Ejekan hingga gunjingan menusuk telak ke telinga hingga batinnya. Memicu rasa sesak yang memilukan di dalam dada hingga menyumbat kemampuannya untuk bernapas. Diam-diam Soo Rin menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Mencoba menarik napas senormal mungkin. Oh, sepertinya dia sudah tidak bisa menahan yang ini.

Tangannya bergerak memasukkan sumpit ke kotak makannya, lalu menutupnya. Sungguh, kedua tangannya itu tampak bergetar sebelum bersembunyi di balik saku blazer-nya. Dan salah satunya menggenggam erat benda berupa obat hirup di balik saku. Sebelum akhirnya ia bangkit dari duduk lalu melangkah cepat keluar dari kelas.

Membiarkan kotak makan itu tidak bergeser sedikit pun dari meja Kim Ki Bum.

****

Ki Bum kembali lagi ke kelas 10 menit sebelum bel masuk berbunyi. Matanya menangkap kotak makan tersebut masih berada di atas mejanya, namun gadis itu tidak ada. Suasana kelas pun sunyi mengingat semua murid masih berkumpul di kantin.

Ada yang aneh, biasanya gadis itu akan selalu mengekorinya ke mana pun dia pergi. Tapi ketika dia keluar dari kelas beberapa waktu tadi, dia tidak mendapati gadis itu berada di belakangnya. Bahkan sampai sekarang pun dia tidak mendapati batang hidungnya. Tanpa sadar batinnya bertanya-tanya, ke mana perginya gadis itu?

Melihat kembali kotak makan tersebut begitu terduduk, Ki Bum mulai dilanda rasa tidak nyaman. Apa dia sudah berkata kasar tadi? Dia masih ingat ekspresi gadis itu kala dirinya mengomentari masakan buatannya. Ada binar terkejut memancar di mata jernih itu tadi. Apalagi kala Ki Bum mengatakan yang jelas menyindir kemampuan memasak gadis itu yang begitu payah, Ki Bum sedikit melihat kilat tersinggung di iris kecoklatan itu.

Apa dia sudah keterlaluan? Karena tidak biasanya gadis itu akan menghilang dari jarak pandangnya seperti sekarang ini. Biasanya, sekeras apapun Ki Bum menolak, gadis itu tetap gencar mengejarnya dan tetap mengekorinya.

Rasa tidak nyaman itu semakin menggandrunginya. Jujur, sebenarnya, dia tidak berkata benar. Dia hanya ingin membuat gadis itu berhenti merecokinya terlalu berlebihan. Ki Bum tidak senang mendengar semua orang di sekitar mengatai Soo Rin yang tidak-tidak, hanya karena terlalu gencar mengejarnya, karena dirinya. Seharusnya Soo Rin tidak mendapatkan getahnya karena terus berada di dekatnya. Menjadi murid yang ikut dikucilkan karena terlalu dekat dengannya.

Tapi, justru sekarang Ki Bum tidak bisa tenang karena tidak mendapati keberadaan gadis itu. Beberapa kali dirinya melirik demi memastikan apakah gadis itu berada di belakangnya atau tidak—tadi. Entah kenapa Ki Bum merasa ada yang kurang.

Apa sekarang dia mengkhawatirkan Soo Rin? Apa sekarang dia peduli dengan Soo Rin? Apa sekarang dia mulai melirik keberadaan Soo Rin?

Ki Bum kembali melirik kotak makan tersebut. Perlahan tangannya bergerak menyentuh benda itu, membukanya. Dia hanya sempat merasakan satu potong telur dadar gulung itu. Kini dia mencapit kimchi dengan sumpit yang tersedia, menyantapnya.

Tidak buruk. Sungguh, tidak buruk. Bahkan telur dadar gulung buatan gadis itu terasa manis serta kadar keasinannya yang pas. Dan sebenarnya dia ingin mencoba nasi kepal itu, hanya saja, Ki Bum sudah cukup keterlaluan karena sudah merendahkan masakan gadis itu.

Boleh dikatakan bahwa Ki Bum kini tengah menyesal.

****

Ternyata, dugaan mengenai Soo Rin yang sudah sedikit jera sangatlah salah. Ki Bum hampir lupa akan kenyataan bahwa gadis itu memang keras kepala. Ki Bum mengira gadis itu akan berhenti melakukannya setelah ia cerca beberapa hari lalu. Gadis itu tetap memberikan bekal padanya.

“Kim Ki Bum, aku buatkan gimbab untukmu hari ini!” dan seperti biasa Soo Rin membuka kotak bekalnya itu hingga menampakkan deretan nasi gulung yang dibungkus dengan rumput laut serta berisi berbagai lauk dan sayuran seperti telur, daging, hingga wortel. Tertata dengan rapih dan cantik di dalam. Membuat Ki Bum hampir terbawa suasana.

Oh, mereka bahkan sudah menjadi pusat perhatian di kantin. Sejak gadis itu terus megekorinya seraya menenteng kotak makan berwarna biru muda itu kemari. Sungguh kekanakan.

“Apa kau tuli? Sudah kukatakan padamu untuk tidak membuatkan makanan untukku!”

Waeyo? Setidaknya aku juga belajar demi mengembangkan kemampuan memasakku,” seperti biasa Soo Rin menjawab dengan enteng. “Lagipula dengan ini kau tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan. Kau bisa berhemat!”

“Dan merelakan diri untuk menjadi korban mencicipi masakanmu itu?” sambar Ki Bum dingin.

Ish…” Soo Rin berdecak lucu. Matanya menyipit dengan bibir mengerucut. Tampak menggemaskan. “Aku melakukan ini demi menjadi kekasih yang baik untukmu.”

Ki Bum hampir tersedak dengan salivanya sendiri. Ya Tuhan, kenapa gadis ini selalu mengaku dirinya sebagai kekasih Ki Bum? Ki Bum tidak habis pikir gadis ini dengan begitu percaya dirinya mengatakan hal itu di depannya. Sungguh, gadis ini begitu blak-blakan dan itulah yang membuat dirinya semakin menyebalkan di mata Ki Bum.

“Sudah kubilang, kau bukan kekasihku, begitu juga sebaliknya!” Ki Bum hendak bangkit kala datang lelaki pengganggu. Menghampiri meja mereka.

Siapa lagi jika bukan Kang In.

Woah, rasanya semakin lama pasangan ini semakin terlihat romantis, eh?” tukas Kang In terdengar sarkastis. Dengan tidak sopannya ia mendudukkan diri tepat di sebelah Soo Rin, merebut sumpit dari tangan gadis itu lalu mencapit satu potong gimbab dan menyantapnya.

Tentu saja perilaku lelaki sangar itu mendapatkan perlawanan dari Soo Rin. Gadis itu berusaha merebut kembali sumpit miliknya seraya menggertak. “Ya! Itu bukan untukmu! Kembalikan!!”

Aih, waee? Bukankah makanan ini tidak ada yang memakannya? Kau hanya membiarkannya tergeletak terbuka seperti ini, tanpa ada yang berniat untuk menyentuhnya,” Kang In beralih merangkul tubuh kecil Soo Rin, membuat sang empu terbelalak kaget. “Tidak seharusnya kau membiarkan makanan menjadi mubazir,” lanjutnya sok menasihati. Kemudian kembali menyantap gimbab tersebut seenaknya.

Ya!! Lepaskan aku! Lep—ya, Kim Young Woon!! Berhenti memakannya!!! Itu bukan untukmu!!” Soo Rin meronta kuat demi melepaskan diri. Lelaki yang merangkul kuat dirinya ini hampir menghabiskan setengah dari gimbab buatannya yang jelas untuk Kim Ki Bum. Sejenak ia melirik lelaki yang sudah tidak bersuara sejak kedatangan lelaki ini.

Hanya sebuah raut datar yang terpancar di wajah Kim Ki Bum.

Yaa, aku tidak menyangka kau pintar memasak, eo? Gimbab buatanmu terasa sangat enak!” Kang In dengan seenak jidatnya terus mengunyah makanan Soo Rin seraya terus merangkul pundak gadis itu. “Hei, Nerd, kenapa kau mengacuhkan makanan seenak ini? Dari gadismu, pula. Apa selera makanmu begitu payah? Hahahaha!” Kang In tertawa sumbang.

“Lepaskan dia.”

Hening segera menyelimuti mereka untuk sejenak. Soo Rin segera menghentikan aksi merontanya dan memilih untuk menoleh pada lelaki di hadapannya, ada binar tidak menyangka setelah mendengar suara itu. Dia berharap telinganya memang tidak salah mendengar.

Apakah yang baru saja itu suara Kim Ki Bum?

Ada reaksi terkejut dari Kang In juga, begitu mendengar suara berat itu, terdengar datar namun sarat akan perintah. Mata tajamnya segera menatap tak percaya sosok Ki Bum yang duduk di hadapannya, yang ternyata tengah menatap dirinya dengan tatapan yang—sulit untuk dijelaskan. Ia mendengus. “Apa? Apa aku baru saja mendengar Nerd memerintahku?”

Suasana kantin berubah sunyi. Segala pasang mata menghujani meja tempat ketiganya berada, menatap penuh penasaran. Tidak sedikit pula dari mereka yang terkejut mendengar suara Ki Bum yang mengandung sebuah perintah itu. Apa lelaki berkacamata itu sedang menambah daftar masalah dengan seorang Kang In?

“Kau bisa mengambil makanan itu jika kau mau, tapi lepaskan dia.” Ki Bum berucap lagi. Matanya melirik gadis yang tampak terperangah, karena ulahnya.

Tak!

Kang In meletakkan sumpit di tangannya dengan sebuah hentakan, hingga menimbulkan suara benturan dengan permukaan meja yang begitu nyaring. Jika lelaki itu sudah bergerak meregangkan leher, itu artinya keadaan semakin mencekam karena lelaki itu sudah dilanda emosi.

“Kau berani berbicara hanya karena gadis ini, rupanya? Sungguh mengejutkan,” Kang In mendesis. Ia segera bangkit dari duduk yang otomatis melepas rangkulannya dari pundak Soo Rin.

Namun ternyata di waktu bersamaan Ki Bum juga ikut bangkit dan segera meraih Soo Rin hingga gadis itu berdiri, menarik pergelangan tangannya sekaligus menyeretnya untuk cepat-cepat pergi dari sana. Meninggalkan Kang In dan seluruh penghuni kantin yang tengah tercengang dengan tingkah lakunya.

“Sialan!!” Kang In akhirnya mengumpat begitu menyadari dirinya telah dipermainkan oleh Ki Bum. Lelaki itu, dengan memanfaatkan kelengahan kecilnya barusan, mampu membawa kabur Soo Rin sekaligus melarikan diri. Bodohnya Kang In, dia harus terdiam karena tercengang dengan perbuatan lelaki itu yang tergolong berani.

Berani melawannya.

 .

.

“Kim Ki Bum, bekalnya! Kita meninggalkan bekalnya di meja kantin!”

Ki Bum tidak menggubris ocehan Soo Rin. Lelaki itu terus membawa Soo Rin hingga ke belakang gedung sekolah. Tempat di mana dia bisa dengan leluasa menegur gadis ini. Ki Bum kesal, jengkel akan perilaku gadis ini. Sungguh! Kali ini emosinya benar-benar sudah naik.

Ya, Kim Ki Bum, bekalnya—”

Ki Bum menghentak pegangannya hingga Soo Rin menelan kembali suaranya. Mereka sudah sampai di belakang gedung sekolah yang sangat sepi. Mata di balik kaca berbingkai itu seperti hendak menusuk mata Soo Rin karena sudah membesarnya emosi. Dan Soo Rin harus mengerjap kaget hingga diam-diam nyalinya mulai menciut.

Bagaimana bisa seorang Kim Ki Bum menjadi terlihat menyeramkan saat ini?

“Kau masih tidak mengerti juga? Berapa kali lagi aku harus mengatakannya padamu agar kau benar-benar mengerti dan tersadar, huh?!”

Soo Rin sedikit bergerak mundur. Mata jernihnya mulai tampak was-was melihat wajah lelaki di hadapannya tampak mengeras, apalagi suara beratnya yang semakin meninggi kala berkata, mampu mengejutkan Soo Rin. “Ke-kenapa?”

“Kau bertanya kenapa? Apa kau bodoh? Apa kau tidak memiliki otak?! Berkali-kali sudah kuperingatkan untuk berhenti peduli padaku! Kau masih tidak mengerti bahwa perbuatanmu itu menjerumuskan dirimu sendiri untuk berhadapan dengan Kang In?!”

Soo Rin menelan saliva susah payah. Kedua tangannya mengepal demi mencari kekuatan, tanpa ada yang melihat, dua kepalan itu tampak bergetar. Bahkan diam-diam Soo Rin menarik napas dalam dan berjuang menetralkan saluran pernapasannya. Oh, tidak, dia mulai goyah sekarang.

“Memang apa salahnya? Aku tidak peduli jika Kim Young—”

“Sangat salah!!” Ki Bum berteriak, akhirnya. “Berurusan dengannya itu sama saja membunuh dirimu sendiri! Dan mendekatiku sama saja bunuh diri! Brengsek!!”

Soo Rin terkesiap mendengar umpatan kasar itu keluar dari mulut Ki Bum. Jantungnya seperti dihantam keras mendengar kata itu ditujukan padanya. Memicu rasa sesak itu semakin parah hingga memucatkan wajah manisnya. Bibirnya yang sedikit terbuka tampak kelu, tak mampu bergerak maupun sekedar mengeluarkan suara.

Kim Ki Bum berkata kasar padanya. Itu merupakan tonjokan telak untuk Soo Rin, tepat mengenai jantungnya. Yang segera memengaruhi semua kinerja syaraf tubuhnya untuk berhenti bekerja hingga semakin memperparah kelangsungan bernapasnya.

Ki Bum berjuang keras untuk tidak meninju apapun yang ada di sekitarnya demi melampiaskan emosinya yang sudah menggelegak. Sungguh, emosinya sudah tak terbendung karena gadis di hadapannya ini. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa lepas kontrol hanya karena melihat gadis ini hampir diapa-apakan Kang In tadi dan justru melampiaskan kekesalannya pada gadis ini.

Dan mengumpat kasar di depan gadis ini.

Astaga, Ki Bum sudah mengeluarkan tabiatnya tanpa sadar!

Tergesa, Ki Bum memilih untuk pergi dari sana. Dia butuh tempat yang benar-benar bisa membuatnya menenangkan diri sekaligus sendiri. Dia bahkan meninggalkan Soo Rin begitu saja di sana, yang masih mematung dengan raut terkejut karena perbuatannya barusan. Suasana koridor yang menghubungkan bagian depan gedung dengan belakang gedung ini memang sangat jarang dilalui para murid mengingat letaknya berada di pojok. Dan Ki Bum memilih untuk melepas kacamata tebalnya demi mengusap wajahnya dengan kasar. Di sana.

Baru kali ini Ki Bum begitu kalut semenjak berada di sekolah ini. Seharusnya masalah ini merupakan hal yang sepele baginya, tapi kenapa dia begitu tertekan hingga—hampir sepenuhnya—lepas kontrol seperti ini? Dia tidak habis pikir kenapa benteng pertahanannya runtuh hanya karena seorang Park Soo Rin.

Ya Tuhan, kini Ki Bum benar-benar menyesali kata-katanya yang keluar dari mulutnya tanpa mampu dihentikan. Serta kini ia memikirkan keadaan gadis yang sudah dia tinggali begitu saja di belakang gedung sekolah. Lagi, gadis itu tidak mengekorinya setelah dimarahi olehnya. Oh, tentu saja, gadis mana yang tidak terkejut digertak dengan kata kasar seperti yang Ki Bum lakukan tadi? Sekali pun gadis keras kepala seperti Soo Rin?

Kelabakan, Ki Bum melangkah kembali menuju belakang gedung sekolah. Dia bahkan berlari tanpa sadar ke sana. Haruskah dia meminta maaf pada Soo Rin? Ya, tentu saja dia harus meminta maaf!

Namun begitu dia sampai di sana, Ki Bum harus menghentikan larinya dan terdiam begitu melihat gadis itu.

Dari belakang, Ki Bum melihat Soo Rin yang berjongkok dengan napas tersengal-sengal. Kedua tangannya bergerak panik memegang sesuatu, seolah tengah berjuang keras untuk membukanya. Begitu berhasil, ia segera mengocoknya—dengan tergesa-gesa—sebelum kemudian mendengakkan kepala dan memasukkan mulut benda tersebut ke dalam mulutnya, menekan bagian atasnya hingga terdengar bunyi semprotan kecil di dalam mulutnya, lalu gadis itu tampak menarik napas dalam-dalam. Menghembuskannya dengan cepat serta terdengar begitu berat. Terus begitu untuk beberapa waktu.

Dan Ki Bum masih dapat melihat sisi wajah itu… tampak pucat, begitu juga dengan kedua tangannya, bahkan terlihat bergetar.

Park Soo Rin… gadis itu…

.

.


udah ketebak belum Kibum sama Soorin tuh siapa dan kenapa?

well, aku gabakal menjelaskan secara gamblang mengenai siapa dan kenapa dengan mereka untuk beberapa part ke depan. Mengenai Kibum yang sebenarnya bisa melawan Kangin dan Soorin yg punya penyakit sesak napas, aku mencoba untuk tidak membuat latar belakang mereka semudah itu.

Karena, akan ada beberapa karakter tambahan yang bakal berpengaruh dengan cerita mereka nantinya~ #eaa bocoran lagi XD

Oh ya! Satu karakter baru udah muncul ya? Kim Hee-nim!! Sekarang dia berperan sebagai kakak dari Kim Ki Bum 😀25heechul2

Dan, ada pembaca yang udah ngasih aku masukan bahwa kata ‘kekasih’ lebih baku daripada ‘pacar’. Well, karna sebelumnya aku mengira ‘pacar’ lebih cocok mengingat suasana cerita, aku akhirnya tersadar bahwa bagaimana pun suasana ceritanya, kata baku lebih enak dibaca. Jadi, aku melakukan sedikit perbaikan mengenai itu di sini^^ Terima kasih ya atas sarannya~><

yosh! Terima kasih juga udah mampir~ tumben ya aku update cepet hahahah

//iyalahorangceritanyaudahdigarapsampepartpiip// XD

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

37 thoughts on “Two Person – Control

  1. apa selama ini soorin selalu menyimpan emosinya dan berakhir dengan asmanya kambuh. penasaan sama cerita dibalik tongkat bisball punya ki bum. ki bum ngeluarin sifat aslinya karena mengkhawatirkan soo rin ya.

  2. Kren…..;)

    kasian sorin jadi plampiasan kemarahan kibum….

    Pnasaran jga sma tongkat yg d pgang kibum, ada apa dngn tongkat itu..?

    D tunggu akh lanjutannya….:)

  3. Soo rin punya penyakit asma, tp aku salut dia bisa nahan omongan temen2 sekolahnya yg suka gunjingin dia…

    Ki bum ngelampiasin marahnya sama Soo rin gak bener tuh…jg Ki bum kenapa pura2 jd nerd…
    uhhhh penasaran nih chingu…ditunggu aja deh part selanjutnya 😉😉😉

  4. Sebenernya siapakah kim kibum itu? Apa dia like a bad boy
    Makin penasaran sama ceritanyaa, semangat lanjutinyaaaa……..

  5. Nah loh ujung2nya kibum khawatir kan sama soo rin waktu soo rin ga ada?! Ish jadi greget sendiri sama kibum deh. Ini kayaknya kibum cuma pura2 jadi nerd deh. Sifat aslinya sedikit2 mulai muncul gara2 kelakuannya soo rin. Ayo soo rin semangat, deketin kibum terus!!

  6. Woww makin keren dan makin bikin penasaran… Akhirnya usaha soo rin ngeganggu kibum selama ini sdkit banyak sdh mempengaruhi kibum yuhhu~ dan aku yakin, kibum pst jago berantem dh! Cuman selama ini dia cuman diem aja. Okd dlanjut. Jgn lama postnya ya.. Sangat dtunggu kelanjutan ceritanya!!!

  7. FF Eonni pertama yang bikin aku kesel kesel banget sama Ki Bum , kenapa Ki Bum gak lawan Kang In sih pasti Ki Bum punya masa lalu yang menyakitkan ya terus tongkat Baseball itu buat apaan ih ngeri berasa Ki Bum kaya Psyco :v , Soo Rin sesek napas kasian tapi dia ceria kaya gak punya penyakit , Ki Bum udah mulai mau lindungi gadisnya ciee 😀

  8. Wah, karakter kibum di sini benar-benar buat syok. Benar-benar jauh dari bayangan. Jika di cerita biasanya, karakternya cerdas, pendiam, bahkan tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, tapi di sini? Soorin punya asma? Lalu bagaimana kelanjutan hubungan mereka?

  9. kasian Soorin jadi korban(?) pelampiasan kemarahannya Kibum, sampe-sampe sakitnya kambuh.
    Tapi kayak nya kibum udah mulai peduli dan mengkhawatirkan Soorin.

  10. Ohhhhh ki udah lepas kontrol dan udah mulai mulai merasa bersalah. Kasian juga soo sampai pucat dan gemetaran,, dasar KI 😣😣
    ㄷ기ㅛ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s