Posted in Category Fiction, Chaptered, KiSoo FF "Two Person", Romance, School Life, Teen

Two Person – Aggressive

Prev :: #1.Nerd and Innocent | #2twoperson

Genre :: School Romance Life

Rated :: Teen

Length :: Mini Series

||KiSoo||

Happy reading!! ^^

ㅡㅡ

When you see them only from their ‘outside’…

ㅡㅡ

“SELAMAT pagi, Kim Ki Bum!!”

Lelaki itu terpaksa menghentikan langkahnya kala dihadang oleh seorang gadis yang baru saja menyapanya. Mata beriris kecoklatan itu menatap polos disertai senyum cerah yang mengembang di bibir kecilnya. Ki Bum terpaksa mendengus jengah karena… sudah dua hari ini dirinya terus dibuntuti oleh gadis tak tahu diri ini.

Bagaimana dirinya tidak menyebut Soo Rin adalah gadis tak tahu diri? Sejak pengakuan terlampau berani di atap gedung sekolah dua hari yang lalu, Soo Rin sudah seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya. Mengikuti Ki Bum ke mana saja. Sampai-sampai penghuni sekolah ini tahu serta menertawakannya.

Seorang siswa culun ternyata memiliki penggemar fanatik. Park Soo Rin penggemar fanatik Kim Ki Bum.

Bagaimana Ki Bum tidak risih? Bahkan setiap bertemu Kang In, lelaki sangar itu menghinanya habis-habisan akibat berita yang menyebar dengan cepatnya itu.

Woah, bahkan orang jelek sepertimu bisa memiliki penggemar fanatik? Yaa, sepertinya aku memiliki saingan, eh?”

Dan seorang Kang In tidak pernah luput dari aksi bermain fisik setiap bertemu Ki Bum. Ada saja yang dia lakukan demi melampiaskan tangannya yang entah mengapa terasa gatal ingin mencolek wajah Ki Bum. Salah satunya adalah menoyor kening Ki Bum tanpa ampun.

“Jangan terlalu percaya diri, Nerd! Gadis itu tidak ada apa-apanya jadi tidak perlu membanggakan diri!”

Siapa juga yang merasa bangga dengan adanya penggemar fanatik? Yang ada Ki Bum seperti memiliki peneror lain selain Kang In.

“Hei, Kim Ki Bum, apa kau tidur nyenyak semalam? Sudah sarapan? Sudah mengerjakan PR dari Do Seonsaengnim?”

Ki Bum berusaha untuk tidak menghiraukan segala kicauan yang menyerangnya dari belakang. Mencoba untuk tidak peduli dengan gadis yang sudah seperti ekornya karena terus mengikutinya sejak dirinya masuk ke area sekolah. Bahkan dengan kurang kerjaan gadis itu menunggunya di depan gerbang sekolah!

Soo Rin sendiri merasa tidak gentar dengan keacuhan Ki Bum. Dia terus mengintili lelaki itu sebelum akhirnya memilih untuk mendahuluinya dan kembali menghadangnya. “Aku baru ingat bahwa kita belum bertukar nomor ponsel. Kemarikan ponselmu!”

“Kau pikir aku akan memberikannya padamu?!” ketus Ki Bum, ia hampir melotot. “Minggir!” Ki Bum hendak melanjutkan langkahnya kala gadis itu justru meringsek maju. Dan kejadian tak terduga harus dialaminya.

Gadis itu tanpa permisi meraba-raba tubuhnya, memeriksa tiap kantung seragam yang melekat di tubuhnya. Yang, astaga! Apakah gadis ini tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya? Ki Bum harus merasakan jantungnya meloncat keras karena saking terkejutnya mendapatkan sentuhan tak terduga itu!

YA!!”

Soo Rin menghentikan aksi tak sopannya itu kala mendengar Ki Bum akhirnya membentak. Menatap tajam dirinya, setajam-tajamnya, yang justru dibalas olehnya dengan tatapan innocent-nya itu. “Mana ponselmu?”

“Apa harus dengan cara seperti ini?!” Ki Bum hampir berteriak jika tidak mengingat di mana dirinya sekarang. Oh, astaga, dia bahkan sudah menjadi tontonan para murid yang berlalu-lalang di sekitarnya. Segera saja dia pergi dari situ, kembali melangkah.

Tapi Soo Rin menahan langkahnya lagi. Percayalah bahwa Ki Bum tengah mengeluarkan berbagai umpatan untuk gadis ini.

“Ayo kita bertukar nomor ponsel!”

Ki Bum mendesah kasar. Kembali dirinya menatap tajam gadis di dekatnya itu. “Memangnya kau siapa? Berani sekali meminta nomor ponselku, huh?” dengan segera dia meninggalkan gadis yang sudah mengganggunya itu.

Batinnya menggerutu karena mendengar bisik-bisik para murid yang sudah dipastikan melihat kejadian tadi. Segala ejekan sekaligus remehan yang terlontar dari tiap mulut ditujukan padanya. Dia masih sadar sepenuhnya bahwa dia siswa yang dikucilkan di sini. Kejadian seperti tadi sudah pasti dijadikan bahan ejekan bukan bahan pengaguman.

“Aku pacarmu!!”

Lagi-lagi Ki Bum harus menghentikan langkah. Kini tubuhnya terperanjat begitu berhasil mencerna suara sekaligus kalimat itu. Ya Tuhan, dia berharap sedang bermimpi sekarang.

Sejak kapan Park Soo Rin menjadi pacarnya?!

Soo Rin sendiri segera berlari menghampiri lelaki yang kembali mematung itu. Wajah cerahnya menatap wajah terperangah itu seraya menengadahkan kedua tangannya. Menebarkan senyum yang entah mengapa menjadi terlihat menyebalkan di mata Ki Bum. “Mana ponselmu?”

Ya Tuhan, tolong tabahkan Kim Ki Bum!

****

Dan sejak kejadian bertukar ponsel secara paksa itu, Soo Rin benar-benar bertingkah seperti stalker sejati Ki Bum. Meski tidak separah sasaeng fans, tetap saja Ki Bum merasa terusik dengan pesan-pesan yang selalu masuk ke dalam ponselnya.

Selamat pagi! Ayo kita bertemu di depan sekolah!

Itu dikirim ketika Ki Bum hendak berangkat ke sekolah.

Hati-hati di jalan. Kabari aku jika kau sudah sampai rumah, oke?

Itu dikirim ketika Ki Bum sudah keluar dari lingkungan sekolah. Sejenak Ki Bum berdecih sinis. Memangnya dia sudi mengabari gadis itu? Dasar!

Jangan melewatkan makan malam!

Dan itu dikirim kala waktu petang menjelang.

Selamat malam! Tidurlah yang nyenyak. Sampai bertemu besok ^^ Jaljayong~

Sedangkan itu dikirim kala dirinya ingin pergi tidur. Heol, untuk yang ini Ki Bum merasa heran karena Soo Rin mengirim pesan di waktu yang cukup tepat. Tapi hei! Memangnya siapa yang ingin bertemu dengan gadis itu lagi?

Berhari-hari Ki Bum tidak pernah luput dari pesan-pesan rutin itu. Berhari-hari pula dia terus dibuntuti Soo Rin di sekolah. Sampai-sampai Kang In dan kawan-kawannya semakin gencar mengejeknya. Anehnya, Soo Rin yang juga selalu mendengar ejekan itu tidak terpengaruh yang bisa saja membuatnya jera. Justru dia bertindak melawan Kang In.

Pernah sekali Soo Rin menghampiri Kang In setelah lelaki itu menghina Ki Bum juga dirinya. Di depan teman-teman lelaki itu, Soo Rin berkacak pinggang serta menyuguhkan pelototan tajam yang sebenarnya tidak berpengaruh pada mereka.

“Aku justru merasa kasihan pada kalian yang tidak memiliki penggemar setia. Kalian pikir mereka-mereka itu mengagumi kalian? Bangunlah dari mimpi! Kalian itu seperti alien yang tidak tahu tempat dan seenaknya berkuasa. Dasar tidak tahu diri!”

Mwo?!” jelas saja semburan Soo Rin memancing Kang In untuk menghampirinya. Lelaki itu, dengan tubuh menjulangnya yang bisa saja menenggelamkan tubuh kecil Soo Rin, berdiri menghadap gadis itu dengan tatapan tidak terima.

Tapi sebelum Kang In melancarkan aksi semburan balasan, Soo Rin sudah keburu ditarik menjauh dari sana. Pelakunya? Kim Ki Bum lah yang menarik gadis itu menjauh.

Entah kenapa dia bertindak seperti ini. Mungkin karena melihat tubuh Soo Rin yang bisa ditiban telak oleh tubuh besar Kang In kapan saja berhasil menggerakkannya untuk segera menyelamatkan Soo Rin. Hei, jika hal itu sampai terjadi, dia bisa menjadi target utama yang akan disalahkan karena gadis ini berani seperti itu untuk membelanya.

Ya, lepaskan aku! Aku belum selesai berurusan dengan bocah gempal itu! Enak sekali dia menghinamu terus-terusan?! Dia harus diberi pelajaran sesekali!”

Ki Bum menghempaskan tangan Soo Rin begitu sampai di belakang gedung sekolah. Tempat yang aman untuk menegur gadis ini. Dengan tatapan tajam sekaligus dingin di balik kacamata tebalnya, ia mencoba menggertak. “Kau pikir aku senang? Kau pikir aku akan tersanjung dengan sikapmu itu? Kau pikir aku membutuhkanmu untuk membelaku, huh?”

“Memangnya kenapa? Aku berhak melakukannya dan aku berhak untuk membelamu. Bukankah aku pacarmu?” Soo Rin membalas dengan tatapan polosnya. Nada bicaranya pun sudah meringan dan terdengar santai.

“Sejak kapan kau adalah pacarku?” sambar Ki Bum kesal. “Aku tidak pernah menerimamu untuk menjadi pacarku dan aku tidak mau berpacaran denganmu! Jangan membuang waktumu hanya untuk mengikutiku bahkan membelaku!”

“Tapi aku peduli padamu!”

“Dan aku tidak peduli padamu!” Ki Bum membuang muka. Dengan suara melirih, dia melanjutkan, “Bahkan pada diriku sendiri…”

Soo Rin mengerjap. “Apa?”

Ki Bum kembali menatap tajam Soo Rin. “Menjauh dariku!” barulah ia melangkah pergi. Meninggalkan Soo Rin yang sudah memajukan bibir bawahnya.

“Memangnya kau berbahaya sampai harus dijauhi?” gerutunya seraya mendecih lucu. Kemudian ia ikut membuka langkah. Kembali mengikuti Ki Bum, kini dengan jarak yang terjaga.

****

Park Soo Rin memang gadis yang keras kepala. Berapa kalipun Ki Bum menyuruhnya untuk menjauh, Soo Rin teguh dengan pendiriannya. Dia tetap mendekati Ki Bum dengan senyum innocent-nya yang menyebalkan bagi Ki Bum. Masih selalu mengirim pesan seperti biasa pada Ki Bum. Dan selalu membelanya dari ejekan Kang In dan kawan-kawannya.

Ki Bum sendiri mulai jengah dengan tingkah gadis itu. Terhitung sudah dua minggu dirinya merasa diikuti oleh sasaeng. Tepat setelah si sasaeng—Park Soo Rin—itu mengutarakan perasaan padanya. Baiklah, mungkin untuk sekarang Soo Rin pantas disebut Sasaeng.

Soo Rin menyukai Ki Bum. Entah kenapa Ki Bum tidak percaya sepenuhnya dengan pengakuan Soo Rin di atap gedung kala itu. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa gadis itu benar-benar agresif mendekatinya. Ki Bum sendiri tidak mengerti, memang apa menariknya Ki Bum sampai-sampai gadis itu menyukainya dan rela bertingkah seperti ini?

Kim Ki Bum tidak keren. Tidak sangar seperti Kang In. Berkacamata tebal. Berpakaian rapih. Dan dia adalah siswa yang terasingkan karena dia nerd. Lalu di mana titik menariknya?

Dia tidak mengerti karena hanya Soo Rin yang sangat tertarik padanya. Sejak awal dirinya menjadi murid di sekolah ini, Soo Rin lah yang pertama kali mendekatinya, bersikap baik padanya, menolongnya, bahkan menghiburnya. Hingga sampai di titik di mana dia menyadari bahwa dia siswa yang dikucilkan, Ki Bum sudah tidak percaya dengan kebaikan gadis itu. Dia merasa bahwa gadis itu hanya bersimpati padanya yang tidak memiliki teman.

Dan semakin tidak percaya bahwa gadis itu menyukainya. Bahkan sampai mengajaknya untuk berpacaran! Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu.

Sepertinya otak Soo Rin sedikit terganggu hingga mau-mau saja mengejarnya.

Sampai sekarang Ki Bum bahkan masih merasakan kehadiran gadis itu di belakangnya. Mengekorinya ke mana pun dia pergi. Mungkin karena dia sudah menggertaknya beberapa hari lalu, Soo Rin terlihat sedikit berhati-hati mendekatinya. Intensitas keagresifannya sedikit berkurang meski masih beberapa kali suka mengajak berbicara walaupun tahu akan diacuhkan. Hanya kegiatan mengirim pesannya yang tidak berubah.

Bahkan di sekolah pun Soo Rin suka mengirim pesan padanya. Contohnya saja saat berada di kantin kala waktu istirahat berlangsung seperti ini.

Makanlah yang banyak. Jangan sampai sakit!

Entah kenapa Ki Bum hampir tertawa membaca isi pesan itu. Apalagi kala matanya beredar dan menangkap basah Soo Rin yang tengah menatapnya dari meja di belakangnya. Lalu gadis itu segera menunduk dan berpura-pura menikmati santapannya. Membuat Ki Bum merasa geli dengan tingkah acuh tak acuhnya itu.

“Lucu sekali,” gumamnya seraya kembali menyeruput minumannya.

Apa? Lucu sekali?

Uhuk!” Ki Bum terpaksa tersedak dengan minumannya. Menyadari perbuatannya yang tergolong aneh itu. Apa dia baru saja menganggap bahwa gadis itu sangat lucu?

Aishi, sepertinya otak Ki Bum sedang bermasalah hari ini!

Soo Rin yang mendengar batuk tertahan itu segera mendengak. Apakah lelaki itu baik-baik saja? Ada apa dengannya? Yah, seperti itulah yang ada di pikiran Soo Rin saat ini. Di saat rasa khawatirnya mulai muncul dan hendak menghampiri lelaki itu, sudut matanya mendapati seseorang yang tengah mengangkat tangan mengarah padanya.

Bukan, tapi mengarah pada Ki Bum.

Dia menoleh, kemudian mendapati Kang In terlihat hendak melempar sesuatu di tangannya. Oh, bukankah itu telur yang ada di tangannya? Dan dia seolah tengah membidik Kim Ki Bum?

Tunggu, telur? Kim Ki Bum?!

Oh, tidak!

Soo Rin segera bangkit dari duduknya dan berlari. Tak lama sebelum Kang In melempar 3 telur di genggaman yang mengarah pada Ki Bum. Dengan gesit Soo Rin meraih lengan Ki Bum sekaligus menarik kuat-kuat lelaki itu hingga akhirnya keduanya terjatuh tepat kala 3 telur itu menghantam kursi yang sempat diduduki Ki Bum dan pecah di sana.

Menimbulkan kegaduhan yang sukses besar menarik perhatian para penghuni kantin. Suara pecahan telur sekaligus debuman khas orang yang terjatuh menubruk lantai, bahkan terdengar suara seperti seseorang menghantam benda keras.

Ki Bum yang sempat melenguh karena terjatuh dari duduknya, kini terkejut begitu matanya terbuka dan mendapati gadis itu sudah terduduk bersimpuh di dekatnya dalam kondisi yang cukup menyedihkan. Sebelah tangannya mengusap ke belakang kepala, wajah manisnya itu tampak meringis kesakitan.

Y-ya, kau baik-baik saja?”

“Kepalaku sakit…”

Dan Ki Bum harus dibuat panik begitu melihat gadis itu terisak pelan. Apalagi melihat sudut mata itu mulai mengeluarkan air. Sepertinya kepala gadis itu baru saja menjadi korban tubrukan dengan sisi kursi yang tumpul namun keras.

Aah, benar-benar pemandangan yang mengharukan,” Kang In berdecak. Dengan bersedekap ia menggeleng sinis diiringi tawa meremehkan teman-temannya. “Kau benar-benar beruntung memiliki pahlawan, Nerd,” lanjutnya seraya tertawa mengejek. Barulah ia pergi dari tempat itu, diikuti oleh teman-temannya.

Ki Bum berdecak. Batinnya sudah mengeluarkan sumpah serapah untuk lelaki itu. Jika dia tidak ingat posisinya saat ini, dia pasti sudah melakukannya. Ia pun memilih untuk menatap penuh gadis yang masih kesakitan di hadapannya. Dia tidak ingin peduli dengan kasak-kusuk mereka yang tengah merendahkannya saat ini.

“Apa kau bodoh? Untuk apa kau melakukan hal ini, huh?”

Soo Rin yang baru ingin menangis kini terpaksa menahannya dan beralih merengutkan bibir. “Kau tidak lihat Kang In ingin melemparimu dengan telur? Aku sudah menyelamatkanmu,” ucapnya. Tangannya masih betah mengusap kepalanya yang terasa sangat ngilu. Bahkan punggungnya yang juga terantuk kaki meja pun terasa ngilu.

Ki Bum mendengus kasar. Gadis ini… “Sudah berkali-kali kubilang, aku tidak butuh pedulimu! Kenapa kau bertindak seperti ini bahkan melukai diri sendiri, huh? Kau pikir aku akan bertanggung jawab?”

“Aku melakukannya begitu saja,” gumam Soo Rin seraya menunduk. “Aku ‘kan menyukaimu…”

Ki Bum masih mendengar suara yang melirih itu. Seperti ada sesuatu yang menghantam benaknya begitu mendengar pengakuan halus itu. Astaga, gadis ini mulai lagi. Dia tidak habis pikir kenapa gadis ini menyukainya hingga rela kesakitan hanya demi menolongnya.

Sebenarnya, diam-diam Ki Bum juga merasa khawatir melihat gadis ini terlihat begitu kesakitan. Kedua tangannya mengepal kuat demi menahan suatu dorongan yang ingin sekali memegang kepala gadis itu. Dia tidak mengerti, kenapa dia merasa seperti ini?

“Setidaknya, kau tidak apa-apa, ‘kan?” gumam Soo Rin lagi. Jelas membuat Ki Bum merasa tertohok mendengarnya.

Kenapa gadis ini justru mengkhawatirkanku dibandingkan dirinya sendiri? Ki Bum merasakan sesuatu bergolak di dalam benaknya.

Ya, Kim Ki Bum.” Soo Rin mencoba memanggil. Matanya mulai bergerak khawatir karena tidak mendapatkan jawaban. Sebenarnya dia sudah terbiasa diacuhkan, namun untuk saat ini dia butuh kepastian. “Kau tidak apa-apa, ‘kan?”

“Aku tidak apa-apa.”

Soo Rin mengerjap tertegun. Apakah dia tidak salah mendengar? Rasanya Kim Ki Bum baru saja menjawab dengan begitu halus untuknya. Soo Rin masih ingat bahwa selama ini Kim Ki Bum selalu berbicara ketus dan dingin kepadanya. Tapi ini, dengan menjawab pertanyaannya, Kim Ki Bum menjawabnya dengan nada yang sangat berbeda!

Rasanya ada gemuruh yang menyenangkan mendera di dalam dadanya. Soo Rin merasa takjub, juga merasa senang dengan jawaban itu. Bahkan matanya yang sempat berair kini berubah berbinar-binar.

Melihat perubahan ekspresi itu, membuat Ki Bum sedikit salah tingkah. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia menjawab dengan nada yang melunak seperti tadi. Dan tidak menyangka efeknya bisa berdampak besar pada gadis di hadapannya ini. Berdeham pelan, Ki Bum membuang muka ke arah lain. Rasanya dia tidak bisa berlama-lama melihat wajah yang bersinar itu.

Matanya menangkap sesuatu yang tergeletak tak jauh. Ki Bum memicing demi memastikan bahwa dia tidak salah menebak benda apa itu hingga ia mulai dirundung tanda tanya.

Kenapa benda itu ada di sini?

Soo Rin yang melihat mata hitam itu tefokus pada sesuatu, membuatnya ikut menoleh dan mencari apa yang tengah dilihat oleh Ki Bum. Hingga akhirnya matanya melebar panik dan tangannya segera bergerak meraih benda itu. Aih, kenapa dia begitu ceroboh menjatuhkan benda itu?

Ki Bum mulai mengernyit bingung kala melihat Soo Rin yang mengambil benda tersebut dan langsung mengantunginya. Berpura-pura tidak tahu, dia bertanya, “Itu apa?”

Soo Rin menoleh. Matanya memancarkan binar gugup yang sempat ditangkap oleh Ki Bum. Batinnya berharap bahwa Ki Bum memang tidak tahu apa benda ini. Dia pun menjawab, “Bukan apa-apa.”

Dan Ki Bum mulai menaruh curiga. Dia tahu pasti benda apa itu. Tapi… kenapa Soo Rin memilikinya?

.

.


Jadi begini loh

Sebenernya aku ngga ngebayangin Kibum yang culunnya tuh macam berambut klimis trus pake kacamata bulet kayak Boboho itu….bukan begitu loh, bukan ;w; hahahah Aku cuma ngebayangin Kim Ki Bum di jaman AttackOnThePinUpBoys, serius! Dan istilah culun di sini tuh karna Kibum-nya terlalu kalem dan pendiam sekaligus berseragam rapi layaknya murid kutu buku. Tapi yah ga rapi sampe celana naik kayak Jojon juga, ngga kok ㅜㅜ karena saking kalemnya dia jadi sering buat target bully-an Kangin.

Tapi…

Sebenernya Kibum ngga sekalem itu kok. Buktinya dia dingin banget kan sama Soorin? Ada saat di mana dia bakal melakukan sesuatu. Di cerita ini pun aku berusaha memberi hint pada pembaca bahwa aku gabakal bikin cerita sebatas ini. Karna ini kan masih awal~ belum keliatan sebenernya kepribadian 2 orang ini tuh kayak apa. Sedikit-sedikit aja. Kalo aku bisa menyelesaikan cerita ini, kalian akan mengerti kenapa aku ngasih judul cerita ini dengan ‘Two Person’ ^^

Well, aku udah merancang kerangka cerita ini. Entah kenapa pengen banget aku nerusin cerita ini heheheh aku bahkan udah bikin ini sampe pt.4 loh XD dan tentunya ceritanya ga sekedar stuck di lingkungan ini-ini aja. Plus, bisa aja rating juga bakal bertambah nantinya. Inget loh, ini baru awal~

Dan juga, aku sengaja bikin tiap part-nya sedikit-sedikit, ga kayak With You yang bisa 7-8 ribu words. Tapi ga ajeg 2k words terus, di pt.3 nanti panjangnya bisa dikatakan udah masuk 3k words ^^ yah, namanya juga mini series ㅋㅋ

oke deh! Duh, rasanya baru kali ini aku cuap-cuap panjang banget bahahahah >< terlalu bersemangat menjelaskan sampe ngasih sedikit bocoran wks

Aku berharap pembaca ga jenuh sama cerita ini ya~ dan mau nunggu lanjutannya^^

Yosh! Terima kasih sudah mau mampir~

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

43 thoughts on “Two Person – Aggressive

  1. Iiiihhh serrruuuuuu ^_^
    Ki Bum dingin banget sama Soo Rin .. Dari awal malah .. Tapi Soo Rin ko lempeng aja yah hhe ..
    Kebalikan nya iya kan ?? Biasanya Ki Bum yang ngejar” Soo Rin sekarang Soo Rin yang ngejar” Ki Bum hhe

  2. Penasaran benda apa yg d punyai sorin…..?
    Suka skali sama karakter sorin,…

    Ki bum knapa sh klw d buly sama kang in kaga pernah melawan..?

    Kajja akh d lanjut aku penasar tingkat nasional sama cerita ini kkkkkk

  3. Aku tau Kibum sebenàrnya bisa melawan Kangin kan? dari judulnya kibum pasti memiliki sifat yang tidak diketahui ㅋㅋㅋ

  4. Suka bangeeetttt sama ceritanyaaa… Kayaknya bakalan ada misteri antara mereka berdua deh. Jangan bilang mereka sodara O,O *mulai ngaco* okd sangat dtunggu lanjutannya hoho

  5. Wah.. kibum yg dingin dan soo rin yg agresif bikin gregetan deh. Tapi lagi seru pasti bersambung.. tidaaaak bikin penasaran dah ah eonni.😂😄 tapi ceritanya daebak aku suka 😊

    1. huwaaaaaaahh aku baru nemu komentarmu ini TT entah kenapa punya sempet nyasar dan baru aku alihkan ke tempat seharusnya hwhwhw maaf ;/\;
      makasih banyaak ya udah mau baca~ masukannya juga~ semoga ceritanya ga membosankan hwhw ><

  6. Apa tuh yg disembunyiin Soo rin, duh penasaran nih…langsung aja deh chingu ke part 3 nya…aku telat baca nih…
    ff buatanmu yg selalu manis aku selalu menunggu….
    Soo rin jd stalker boleh jg kkkk…

  7. Suka karakternya soo rin disini, dianya pemberani.
    Kayaknya ada rahasia di balik penampilan culunnya ki bum.

  8. Akhirnya nemu juga ff yang main cast nya kibum. Karakter soo rin nya unik. Oya, itu benda apaan yang diumpetin soo rin??

  9. hey selingkuhannya kibum /nunjuk soorin/ jangan so care ama pacar saya /nunjuk diri/ (?)
    kok soorin innocent nya melebihi saya yaa..
    ahhh!!! soorin udh kaya oh cho rim nih kelakuannya /?

  10. Ternyata kibum bisa juga khawatir sama soorin >_<
    Penasaran bgt sama benda yg disembunyiin soorin
    keep writing kak 😀

  11. Aduh Eonni aku malahan ngebayangin Ki Bum kaya Harry Potter 😀 , bener bener keren beda dari FF yang kemarin disini Soo Rin yang Agressif walaupun gak nyosor kaya Ki Bum :v , Kepolosan Soo Rin malah nimbulin keromantisan ^^ , Ki Bum udah mulai luluh sama Soo Rin ayo Soo Rin lebih semangat 🙂 , bener bener keren Eon ceritanya semangat Go Go Go Semangat 😀

  12. Soorin benar-benar jadi agresif, kibum jadi pribadi yang benar-benar berbeda di sini, memangnya benda apa yang disembunyikan soorin?

  13. Soorin bener-bener keras kepala dan pantang menyerah, dia terus ngikutin Kibum meskipun Kibum nya dingin bgt sama dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s