Posted in Category Fiction, Fiction, One Shot, PG-17, Romance, School Life

Dangerous (Boy) Kid

prev :: Why Me?! | Be Mine | Trapped

DangerousKid

Genre :: School Life, Absurd

Rated :: PG-17 (?)

Length :: Oneshot

Recommended Songs :: Tae Min – Danger, EXO – Playboy

||KiSoo||

Happy reading!! ^^

ㅡㅡ

When you think it’s too late, you’ve already fallen for me.
It’s out of your control, isn’t it?

ㅡㅡ

PADA akhirnya Soo Rin hanya bisa mengalah dan memilih untuk duduk manis di sofa ruang tamu. Mata buramnya kini hanya mampu meraba-raba menelisik tiap sisi ruangan yang cukup luas ini. Sepertinya ruangan ini merangkap menjadi ruang tengah karena di hadapannya terhias televisi berukuran 42 inch. Ruangan ini juga berhadapan dengan pintu apartemen. Jika di sebelah kanan merupakan ruang makan yang sepertinya juga merangkap dapur bersih, di sebelah kiri ruangan ini diyakini merupakan kamar lelaki itu. Sepertinya apartemen ini meski terkesan mewah hanya menyediakan satu kamar, bahkan hanya dibatasi dengan sekat tembok. Tidak ada pintu karena Soo Rin melihat lelaki itu masuk begitu saja melalui celah di pojok sana.

Apa lelaki itu tinggal sendiri? Soo Rin juga baru menyadari bahwa apartemen ini sangat sepi. Dia bahkan tidak mendapati orang tua lelaki itu di sini. Benar-benar sepi.

Asyik melihat-lihat, hingga mata buramnya menemukan meja bercorak emas berdiri di belakangnya. Ukiran di tiap sisi hingga kaki-kakinya memang sangat menarik dan bernilai seni, tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan apa yang terpajang di atasnya. Dan itu menggerakkan Soo Rin untuk berdiri demi menghampiri meja tersebut.

Membungkukkan badan, Soo Rin melihat foto-foto yang tersimpan rapi di balik pigura-pigura itu dari dekat. Ada banyak sosok yang terabadikan di sana. Soo Rin meyakini bahwa mereka merupakan keluarga Kim Ki Bum. Ada sosok lelaki itu juga di sana. Dan, Soo Rin baru menyadari bahwa lelaki itu ternyata bisa tersenyum manis seperti di foto-foto tersebut.

Tunggu, apa Soo Rin baru saja mengatakan bahwa Kim Ki Bum tersenyum manis?

Soo Rin mendengus, salah tingkah sendiri. Aih, sepertinya otak Soo Rin memang sedang bermasalah. Itulah mengapa dia segera beralih melihat foto yang lainnya, kemudian terpaku.

Berbeda dengan foto-foto yang membidik Ki Bum bersama banyak orang, foto yang satu ini menampilkan sosok Ki Bum tengah bersama seorang gadis. Ah, baru Soo Rin sadari bahwa di samping foto itu terdapat foto dengan sosok yang sama, hanya saja tidak mereka sendiri, melainkan ada sosok lain. Tapi, Soo Rin mulai penasaran dengan foto yang ini. Ki Bum tampak merangkul gadis itu, dan keduanya tampak tersenyum lepas. Juga terlihat sangat… dekat.

Apa gadis itu merupakan adik dari Ki Bum? Tapi Soo Rin tidak menemukan titik kemiripan mereka. Bahkan jika dilihat-lihat, kedekatan mereka tidak sebagaimana kakak merangkul adiknya, melainkan sebagaimana seorang lelaki merangkul seorang gadis.

Jadi, siapa gadis yang dirangkul Ki Bum di foto ini?

“Apa kau mulai penasaran denganku?”

Terkesiap, Soo Rin segera menegakkan tubuhnya lagi sekaligus berbalik. Namun dia harus merutuki gerak refleknya yang memilih untuk berbalik karena dia hampir menabrak tubuh tegap yang ternyata sudah berdiri di—hadapannya.

“T-tidak! Aku—aku hanya sedang melihat-lihat,” Soo Rin mencoba berkilah, sekaligus mengulur waktu demi meredakan jantungnya yang kembali berulah. Karena kembali berhadapan langsung dengan Kim Ki Bum.

Sedangkan Ki Bum sejenak melirik ke belakang, tepat pada foto yang baru saja dipelototi Soo Rin, lalu kembali menatap lekat gadis di hadapannya. “Kau tahu, bahwa tidak semua orang merasa senang jika ada orang lain mencoba menyentuh barang-barangnya?”

Soo Rin meneguk saliva. Baiklah, untuk yang ini dia mengaku telah berbuat lancang. Meski hanya sekedar melihat-lihat—yah, secara tidak sadar sebenarnya Soo Rin ingin menyentuh benda itu tadi. “Maaf…” ucapnya seraya menunduk, kemudian ia mendumal, “Seharusnya kau tidak mengizinkanku untuk masuk!”

Benar juga.

Ki Bum mendengus pelan. Dia hampir terkekeh lepas mendengar dumelan Soo Rin yang ada benarnya. “Well, aku tidak serius dengan itu, sebenarnya.”

Tanpa sadar Soo Rin merasa lega. Rasanya jika mendengar suara berat itu menjadi datar selalu memancing jantung Soo Rin untuk berdebar gugup. Kenapa begitu? Apa karena posisinya yang sedang berada di area kekuasaan lelaki ini?

“Kau tinggal sendirian? Di mana orang tuamu?” Soo Rin mencoba untuk mengalihkan topik.

“Aku tinggal sendiri. Orang tuaku menetap di luar negeri.”

“Benarkah? Lalu, bagaimana bisa kau hidup sendirian di sini?”

“Aku sudah biasa hidup sendiri.”

Soo Rin memicing mendapatkan jawaban enteng itu. “Kau bekerja sampingan?”

Ki Bum mengulum senyum. Tubuhnya ia bungkukkan hingga wajah mereka sejajar. Jelas saja perbuatannya itu berhasil membuat gadis itu tampak gugup dan, Ki Bum menikmatinya. “Kau memang mulai penasaran denganku, eh?”

Soo Rin menggigit bibir bawahnya diam-diam. Lelaki ini benar-benar menyebalkan! Apakah bertanya itu berarti Soo Rin penasaran dengannya? Soo Rin hanya tidak habis pikir kenapa lelaki yang masih berstatus sebagai murid Menengah Atas sudah tinggal sendiri di apartemen kelas atas seperti ini. Tidak lebih!

Tidak lebih, bukan?

Tapi, Soo Rin juga mulai bertanya-tanya soal foto itu…

Aih, kenapa Soo Rin harus peduli?! Ki Bum ingin berfoto dengan siapa, itu bukan urusannya, bukan?

Ya, bukan urusannya.

Membicarakan soal Ki Bum yang tidak masuk sekolah hari ini, apakah karena sesuatu yang tercetak di wajah tegas lelaki itu? Soo Rin baru menyadari bahwa di sisi kiri wajah Ki Bum terdapat dua lebam samar. Satu di bagian tulang pipi, satu lagi di sudut bibir, bahkan di sudut bibir itu berbekas sangat jelas jika diperhatikan dari dekat seperti ini. Soo Rin yakin sebelumnya di bagian itu sempat berdarah karena ada sesuatu yang mengering di sana.

“Kau… berkelahi?”

Ki Bum mengerjap mendengar pertanyaan itu. Baru disadari bahwa iris kecoklatan itu menancap tidak di matanya, melainkan di bagian lain.

“Kau terluka…” gumam Soo Rin, terdengar pelan dan ragu-ragu. Dia tidak yakin bahwa lelaki itu habis berkelahi. Tapi, melihat luka lebam itu, bukankah berarti lelaki ini berkelahi? Kalau begitu, berkelahi dengan siapa?

“Ini bukan apa-apa,” Ki Bum menyahut. Nada bicaranya begitu tenang, namun sebenarnya terselip keraguan karena sebenarnya dia masih merasakan efeknya.

“Bukan apa-apa bagaimana? Itu harus diobati!” Soo Rin memberanikan diri untuk membantah. Hei, dia ada benarnya. Bagaimana pun luka lebam harus diobati jika tidak ingin membengkak.

“Sayangnya aku tidak memiliki obat.”

Soo Rin hampir tercengang mendengar jawaban itu dan hampir memarahi lelaki ini jika dia tidak memilih untuk mengalah lebih dulu. “Kalau begitu, boleh kupinjam dapurmu?”

Ki Bum mengangkat sebelah alisnya. Tapi akhirnya Ki Bum menegakkan tubuh dan menunjuk letak dapurnya hingga kemudian Soo Rin segera melesat ke sana.

Sejenak Soo Rin terkesima begitu melihat dapur tersebut. Sangat minimalis dengan meja bar sebagai pembatas antara dapur dengan ruang makan, dan kerapihannya yang sangat tampak menjadi nilai tambah. Soo Rin segera menghampiri tempat itu dan membuka lemari pendingin, mengambil sedikit es batu menggunakan tatakan plastik yang tersedia di sana. Kemudian mata buramnya mencari-cari, hingga menemukan wujud yang dia yakini sekotak tissue di atas meja bar. Menghampirinya, lalu mengambil beberapa lembar tissue, menumpuknya dengan rapih sebelum kemudian membungkus satu es batu dengannya.

Barulah Soo Rin menyadari bahwa Ki Bum ternyata mengikutinya dan berdiri di belakangnya. Dia tidak yakin bahwa wajah tegas itu tampak mengerut bingung, tapi Soo Rin mencoba untuk tidak peduli dengan menunjukkan hasil kerja kecilnya itu pada Ki Bum. “Kompres dengan ini!”

Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya lagi, terkesima sejenak, tapi segera berganti dengan senyum penuh arti bersamaan dengan dirinya bergerak maju. Membuat Soo Rin bergerak mundur, hanya selangkah karena punggung bawahnya sudah bertemu dengan mulut meja bar, mata ovalnya mengerjap beberapa kali kala tubuh tegap itu membungkuk hingga wajah mereka kembali sejajar.

“Kompreskan aku,” ujar Ki Bum, menitah dengan halus. Dan senyum miringnya tercetak kala wajah manis di hadapannya mulai merengut tidak suka.

Ki Bum hampir mengaduh begitu merasakan benda dingin itu menempel di sudut bibirnya dengan—sedikit—kasar. Hanya sebuah desisan tertahan yang keluar dari bibirnya sebelum mata hitamnya menatap Soo Rin, melakukan aksi protes melalui tatapan tajamnya. Namun ternyata reaksi itu justru membuat Soo Rin hampir tertawa. Gadis itu berjuang untuk tidak sekedar mengulum senyum.

Setidaknya dia tidak ingin membuat lelaki di hadapannya tersinggung dengan mengucap, “Maaf…” tapi percayalah bahwa ada nada geli terselip di sana. Dan Ki Bum sangat menyadarinya.

Lelaki itu membalasnya dengan kembali membuat jantung Soo Rin berulah. Bergerak semakin dekat bersamaan kedua tangan bergerak menuju kedua sisi tubuh gadis itu, bertumpu di sisi meja hingga tubuh ramping itu terhimpit dengan tubuhnya juga meja bar di belakang sana. Dan sepasang iris hitam pekatnya menancap tepat pada iris kecoklatan itu, seolah ingin terhisap ke dalam sana.

Aah, kenapa mata oval itu sangat menarik perhatiannya?

Sedangkan Soo Rin harus mengatur napas, atau lebih tepatnya menahan napas, dengan batin yang mengumpat karena jantungnya sudah berpacu sangat cepat hingga merasakan wajahnya menghangat. Kenapa rasanya di sekelilingnya begitu pengap? Dan dia hampir menjatuhkan es yang masih di genggaman karena mulai terbawa suasana.

Ough, kenapa Soo Rin bereaksi seperti ini?

Menggeleng samar, Soo Rin mencoba untuk tidak menghiraukannya. Ia memberanikan diri untuk kembali mengompres luka di sudut bibir Ki Bum yang sudah mengering. Diam-diam dia menggigit bibir karena menyadari sepasang mata di hadapannya tengah menatap lekat dirinya. Dan dia tidak berani untuk membalasnya, memilih untuk fokus pada pekerjaannya.

“Jika kau tidak menyukai obat, setidaknya kau bisa melakukan ini…”

“Bagaimana kau tahu bahwa aku tidak menyukai obat?”

Soo Rin mengerjap tertegun. “Aku hanya asal menebak. Jadi itu benar?”

Ki Bum mendengus hingga mampu menimbulkan senyum lebar. Entah kenapa dia merasa geli melihat wajah itu berubah menjadi sangat polos hanya karena mengutarakan pertanyaan itu. Mendorong sebuah hasrat yang ingin mencium benda yang sudah berani mengutarakan kalimat itu.

Hei, berhenti berpikiran kotor, Man!

“Tepat sasaran.”

Soo Rin mengangkat kedua alisnya sebelum mengangguk-angguk.

Oh, bisakah dia tidak bersikap seperti itu? Tidak sadarkah bahwa reaksi yang tergolong lugu itu justru memancing peperangan di dalam batin Kim Ki Bum?

“Pertolongan pertama pun tidak punya?”

“Tidak.”

“Sekedar obat merah maupun plester?”

“Tidak ada.”

“Astaga. Apa kau sangat anti dengan obat-obatan?”

“Tepat sasaran lagi.”

Soo Rin mendengus tak percaya. Lelaki macam apa dia? Apa dia tidak khawatir jika sesuatu terjadi yang membuatnya terluka? Seperti lebam-lebam ini? Sekedar plester pun seolah tidak sudi disimpan untuk berjaga-jaga. Soo Rin menggeleng heran. Lelaki ini memang aneh.

Tangannya beralih menuju tulang pipi yang belum terkompres. Matanya sedikit memicing. “Kau benar-benar berkelahi?”

“Kenapa?”

“Kau memiliki musuh?”

“Memangnya kenapa?

“Kau bermasalah dengan mereka?”

“Kenapa? Kau penasaran?”

Soo Rin mengerutkan bibirnya. Apa lelaki ini sedang mempermainkannya? Kenapa dia berkata ‘kenapa’ sebagai jawabannya dan berakhir dengan menuduhnya? Soo Rin tidak penasaran! Hanya—hanya tidak habis pikir saja! Ish, membuat Soo Rin kesal saja sampai-sampai melampiaskannya dengan menekan es batu pada tulang pipi Ki Bum. Membuat sang empu merintih sebelum kemudian menatap tajam Soo Rin.

“Lihat akibatnya! Kau pikir melakukan adu jotos itu keren? Kau justru menjadi terlihat menyedihkan!” semprot Soo Rin dengan berani. Meski sebenarnya dia tidak tahu pasti apakah Ki Bum memang berkelahi. Dan memiliki musuh.

Ki Bum merasa tergelitik. Apalagi wajah manis di hadapannya itu tengah menantangnya, namun tersirat hal lain yang mampu Ki Bum tebak. “Kau mengkhawatirkanku?”

“A-apa?” Soo Rin hampir melotot mendengarnya. Kemudian ia berdeham pelan, mencoba meredam rasa gugupnya yang kembali muncul. “Ti-tidak! Memangnya menasehatimu berarti mengkhawatirkanmu? Aku hanya tidak habis pikir kenapa lelaki muda jaman sekarang senang sekali memamerkan kekuatan dengan cara berkelahi. Jangan terlalu percaya diri, Tuan!”

Dan celotehan itu berhasil membuat Ki Bum tertawa, sekaligus reaksi itu membuat Soo Rin terpana. Hei, ternyata lelaki di hadapannya ini bisa tertawa? Oh, astaga, kenapa tawanya itu justru membuat pesonanya semakin menguar menyerang Soo Rin?!

Sial, Soo Rin semakin merasa pengap saja! Entah Ki Bum memang sengaja, dia menghentikan tawanya tapi senyumnya justru terus mengembang. Dia bahkan tidak peduli bahwa tarikan itu berdampak pada luka di sudut bibirnya, toh rasanya seperti hanya digigit nyamuk. Karena Ki Bum lebih peduli dengan gadis yang diam-diam mengkhawatirkannya.

Ya, Ki Bum percaya itu.

“S-sudahlah! Kau kompres saja sendiri!” mencoba membebaskan diri, Soo Rin meletakkan es batu yang mulai mencair dan membasahi seluruh tissue yang membungkusnya ke meja bar. “Tanpa bantuanku pun kau bisa melakukannya sendiri. Dan jika kau tidak berniat untuk kerja kelompok hari ini, aku pulang sa—”

Soo Rin hampir memekik karena saking terkejutnya. Lelaki itu tiba-tiba meraih pinggangnya dan dengan begitu mudahnya mengangkat tubuhnya hingga terduduk di atas meja bar. Dan tangan itu tidak segera beralih, justru memeluknya yang membuat kinerja jantungnya menjadi-jadi karena, lelaki itu semakin dekat dengannya!

“A-apa yang—”

Ssh…” Ki Bum berdesis halus, tepat di depan wajah Soo Rin yang sukses membuat sang empu menutup mulut. Juga menahan napas. “Kau tahu? Sejak awal kau sudah membahayakan diri karena berani datang ke rumahku. Dan sangat disayangkan bahwa, aku tidak mungkin melepasmu yang sudah berani menginjakkan kaki sejak di depan rumahku begitu saja.

Soo Rin melebarkan mata. Darahnya serasa mengalir deras di balik kulitnya bersamaan debaran jantungnya yang seperti debuman drum yang sedang dimainkan. Ada gemuruh aneh yang menyerang benak Soo Rin kala mendapati mata hitam pekat itu menggelap di hadapannya. Semacam sebuah peringatan bahwa Soo Rin sudah masuk ke dalam lingkaran berbahaya dan dia harus segera melarikan diri.

Dia menyadari bahwa kedatangannya kemari memang salah, dan seharusnya dia tidak memberanikan diri untuk menemui lelaki ini karena lelaki ini sangat berbahaya untuknya. Tapi kenapa dia masih saja datang sekaligus menginjakkan kaki kemari?

Soo Rin sendiri tidak mengerti.

Dan kini, dia sudah terperangkap dalam kurungan Kim Ki Bum.

Lalu, apa yang harus dia lakukan?!

Menelan saliva, Soo Rin kelabakan dalam diam. Ia menggigit bibir bawahnya seraya menahan napas. Menyadari bahwa Ki Bum semakin mengikis jarak di antara mereka dengan wajah tegas itu dimiringkan, seolah ingin menjangkau sesuatu. Dan, melihat mata gelap itu sedang mengarah ke mana, Soo Rin tahu lelaki ini menginginkan apa…

“Kenapa… kau berbuat seperti ini?”

Ki Bum berhenti. Ada binar terkejut di matanya begitu mendengar pertanyaan lirih itu. Matanya kembali menyorot iris kecoklatan yang tengah menatapnya, dan dia menangkap—samar-samar—binar keraguan di dalam sana… atau takut? Tapi yang jelas mampu membuatnya mencelos seketika dalam diam.

Apa dia sudah menakuti gadis ini?

Soo Rin sendiri harus membuang napas sedikit demi sedikit, lalu menarik napas kembali secara perlahan. Sungguh, keadaan mereka yang begitu dekat benar-benar membuat Soo Rin pengap. Apalagi dia harus merasakan gelenyar aneh itu seolah membludak di benaknya begitu merasakan sentuhan halus yang mana kala hidung mereka saling bertemu.

Ki Bum kembali menjauh, menatap Soo Rin dengan raut datar. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan apapun yang tengah dia rasakan setelah melihat binar itu.

“Karena kita berpacaran.” Ki Bum akhirnya menjawab. Dia masih berusaha untuk tidak terbawa suasana.

Apa itu bisa disebut dengan jawaban telak? Karena pada kenyataannya status mereka memang seperti itu sejak di hari Sabtu lalu. Ki Bum meminta Soo Rin untuk menjadi gadisnya. Bukankah itu marupakan arti lain bahwa Ki Bum ingin mereka berpacaran? Tapi dengan keadaan mereka saat ini yang masih sangat asing membuat Soo Rin bingung bagaimana harus menanggapinya. Juga menyikapinya.

“Tapi…” Soo Rin menelan saliva lagi. Mencoba mengatur suaranya yang mulai menampakkan getaran sebelum melanjutkan, “kita belum saling mengenal. Kau tahu sendiri, bukan? Aku—aku tidak mengenalmu, begitu juga sebaliknya. Meski kita berada di kelas yang sama, kita tidak pernah bertegur sapa. Sampai di waktu kemarin, kau tiba-tiba memintaku untuk menjadi… g-gadis—mu… dan aku rasa itu merupakan kali pertama kita saling berbicara. Tapi aku—”

Soo Rin tidak mampu melanjutkan kata-katanya begitu merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Jari telunjuk lelaki itu menempel di sana, juga, Soo Rin melihat lelaki itu tampak mengerutkan dahi. Entah karena merasakan sakit pada lebam-lebam itu atau karena hal lain. Ah, apakah, karena lelaki ini tidak suka mendengar pendapatnya?

Ki Bum menurunkan telunjuknya begitu yakin gadis ini akan berhenti berpendapat. Ya, dia menyadari bahwa mereka seperti yang Soo Rin jelaskan. Selama ini mereka tidak pernah saling menegur meski berada di kelas yang sama. Ki Bum justru memilih untuk memperhatikan gadis ini dalam diam tanpa berniat untuk menghampiri. Hingga pada kesempatan di Sabtu kemarin, dia baru menyapa gadis ini dan langsung mengikatnya.

Memang tampak aneh.

Tapi bagaimana cara Ki Bum untuk menjelaskan alasannya? Sebenarnya, Ki Bum sendiri bukanlah lelaki yang dengan mudah berkata terang-terangan. Yang dalam arti, dia bukanlah lelaki yang mudah berkata terbuka dan memilih untuk menunjukkannya dengan caranya sendiri. Itulah mengapa dia memilih untuk melakukan ini…

“Kalau begitu, bagaimana jika kita berkenalan sekarang?”

Soo Rin mengerjap. Ia terpana melihat lelaki di hadapannya kini mengumbar senyum meski sangat tipis, tapi dia mampu melihat mata tajam itu meneduh serta menunjukkan sebuah aura hangat. Apalagi dia menyaksikan bahwa lelaki itu bergerak mundur dan berdiri tegak di hadapannya. Sedikit memberi kebebasan padanya.

“Aku Kim Ki Bum. Tinggal sendiri di sini karena orang tuaku tidak ikut kemari. Sempat menetap di California selama sepuluh tahun. Merupakan anak tunggal. Dan, aku lahir di bulan Agustus, tepatnya pada tanggal dua puluh satu.”

Soo Rin mengerjap beberapa kali. Wajah manisnya berubah menjadi tampak polos karena melongo tidak percaya. Apa Ki Bum sedang mengajaknya bermain petak umpet? Kenapa Soo Rin merasa ajakan lelaki ini untuk saling berkenalan terdengar konyol?

Berbeda dengan Ki Bum yang mengangkat kedua alis seraya tersenyum. Diam-diam dia merasa geram melihat reaksi wajah manis di hadapannya yang justru semakin menggemaskan. Dia menyadari bahwa idenya itu terdengar konyol tapi setidaknya dia ingin membuat gadis ini tampak rileks. Juga, setidaknya dia mengetahui hal kecil dari gadis ini. Dimulai dengan hal ini, “Giliranmu!”

Barulah Soo Rin tersadar lalu berdeham salah tingkah. Aih, dia pasti terlihat sangat bodoh sekarang karena sudah menatap lekat lelaki di hadapannya. Well, dia bahkan tidak sadar bahwa dirinya belum beranjak turun dari meja bar.

“Aku Park Soo Rin. Aku tidak pernah menetap di negara manapun selain di sini. Tinggal bersama kedua orang tuaku, juga anak tunggal. Dan aku lahir di bulan April, tepatnya pada tanggal dua puluh,” kemudian Soo Rin tampak menyadari sesuatu. “Tunggu, bukankah itu berarti aku lahir lebih dulu darimu?”

Ki Bum kembali memasang wajah datar. Entah apa yang berada di dalam pikirannya saat ini ketika gadis itu mulai memicing padanya.

Ya, seharusnya kau bersikap lebih sopan lagi padaku! Aku ini lebih tua empat bulan darimu dan tidak sepantasnya kau berbuat seenaknya!”

Sudah diduga bahwa Soo Rin pasti akan bereaksi seperti ini. Gadis itu tampak berkacak pinggang dengan mengangkat dagunya seolah penuh nyali, menatap tajam Ki Bum yang masih berdiri di hadapannya.

Geurae?” Ki Bum menyeringai. “Tapi sangat disayangkan bahwa aku lebih berpengalaman dibandingkan dirimu.”

“A-apa?” Soo Rin melongo lagi. “Berpengalaman dalam apa?”

Ki Bum menyeringai lebih lebar. Ia membuka langkah dan kembali mendekat, mengikis jarak mereka kembali yang serta merta membuat keberanian Soo Rin memudar secara perlahan hingga gadis itu kembali gugup.

Y-ya, mau apa kau? Ja-jangan berbuat macam-macam, dasar anak kecil!”

Oops!

Sepertinya pencetusan Soo Rin berhasil membuat Ki Bum mematung. Mata hitam itu tampak membesar karena terkejut mendengar sebutan yang ditujukan untuknya. Hei, dia tidak salah dengar, bukan? Gadis ini mengatainya anak kecil? Anak Kecil?!

Benar-benar memancing seorang Kim Ki Bum.

“Anak kecil, kau bilang?”

Soo Rin terpaksa mengatupkan bibir. Apakah dia sudah salah sebut? Apa ucapannya keterlaluan? Memangnya kata anak kecil terdengar berlebihan? Kenapa Ki Bum terlihat sangat tidak suka?

Tapi pikiran Soo Rin segera tersendat kala merasakan sentuhan dadakan di bagian pinggangnya. Merasakan tangan besar itu menyusup ke belakang dengan perlahan seolah membangkitkan sebuah sensasi asing di dalam diri Soo Rin sekaligus membuatnya terhenyak hingga menahan napas.

“Apa anak kecil bisa melakukan ini?” Ki Bum menggumam halus di depan wajah Soo Rin. Suaranya terdengar berat dan dalam yang dengan mudah membuat Soo Rin bergidik. Wajah tegasnya semakin mendekat hingga hidung mereka kembali bertemu, sedikit menggodanya dengan beralih menuju sebelah pipi yang merona alami itu lalu menggeseknya di sana, bergerak turun demi bibir penuhnya menyentuh dagu Soo Rin, sebelum kemudian menciumnya begitu dalam sekaligus lamat-lamat.

Menghantarkan aliran listrik statis ke sekujur tubuh Soo Rin hingga menggetarkannya. Astaga, reaksi apa lagi ini? Soo Rin bahkan harus menggigit bibirnya kuat-kuat karena takut bersuara. Matanya terpejam, entah karena tidak kuat menahan serangan gelenyar aneh tersebut atau justru menikmatinya.

Oh, tidak, Soo Rin tidak mungkin menikmatinya, bukan?!

“Apa anak kecil bisa melakukan ini?” Ki Bum menggumam lagi, mengutarakan kalimat tanya yang sama namun dengan intensitas suara yang semakin berat juga parau. Bersamaan dengan dirinya berulah lagi dengan semakin merapatkan tubuh mereka, serta wajahnya kembali merangkak naik. Percayalah bahwa saluran pernapasannya juga mulai mengadat karena sebenarnya dia tidak kuasa menghirup terlalu banyak aroma yang menguar alami dari diri gadis ini. Yang justru semakin membuat gejolak primitifnya tak terkendali. Menyerang gadis ini dengan segala sentuhan memabukkan yang menarik kesadaran mereka untuk semakin terbuai.

Soo Rin bahkan merasakan jantungnya meronta hebat, merasakan panas yang sungguh menyesakkan di dalam sana, menjalar ke sekujur tubuh juga wajahnya. Merasakan bibir yang terasa panas sekaligus ujung hidung itu menyapu garis rahangnya dengan sewenang-wenang menuju ke bawah telinganya.

Dan sensasi asing ini semakin liar menyerangnya. Hangga tanpa sadar sebelah tangannya yang berdekatan dengan tangan besar yang masih terbebas itu, bergerak meraihnya kemudian menggenggamnya, menjadikannya sebagai tempat untuk mencari kekuatan dengan meremasnya.

Merasakan remasan itu, Ki Bum terpaku, dengan mulut yang hampir meraup daun telinga yang sudah memerah padam di hadapannya. Sedikit kesadarannya muncul hingga dirinya merasakan tubuh ramping di pelukannya sudah kaku juga tegang. Lalu, diam-diam dia menggeram tertahan karena sepenuhnya sadar bahwa dirinya hampir menyerang gadis ini lebih jauh lagi.

Dia lepas kendali!

Keadaan menjadi senyap untuk beberapa saat. Mungkin jika seseorang seperti Do Min Joon ada di sana, dia pasti bisa mendengar detak jantung mereka yang saling beradu kecepatan. Hingga akhirnya Ki Bum memilih untuk menarik pinggang Soo Rin dengan satu tangannya itu lalu mengangkat tubuh Soo Rin demi menurunkannya dari atas meja bar—dengan begitu mudah. Lelaki itu memilih untuk tidak segera beranjak barang sedikit pun dan membiarkan dirinya memeluk tubuh ramping Soo Rin yang mulai melemas.

Karena Soo Rin belum merasakan dirinya memijak lantai marmer dapur bahkan masih menggenggam erat tangan Ki Bum. Meski kedua matanya sudah terbuka dan memancarkan binar tidak percaya.

Tidak percaya dengan apa yang sudah dia lewati.

“Dengarkan aku.”

Suara berat Ki Bum yang kini terdengar serak berhasil menembus gendang telinga Soo Rin. Lelaki itu masih memosisikan mulutnya di sana. Dan tanpa gadis itu ketahui, Ki Bum memejamkan mata—begitu erat—untuk beberapa saat, menekan sekuat tenaga gejolaknya yang ingin menyerang indera pendengaran Soo Rin yang jelas terjangkau dengan bibirnya dan berniat untuk melanjutkannya.

Ki Bum benar-benar menahannya, hampir setengah mati. Dan merutuki emosinya yang menggelegak tak terduga hanya karena sebutan yang keluar dari mulut gadis ini.

“Jika aku adalah anak kecil, maka aku adalah anak kecil yang berbahaya bagimu, Park Soo Rin.”

Soo Rin meneguk saliva dengan susah payah. Jantungnya semakin tak terkendali karena suara serak itu benar-benar mengalun begitu jelas di telinganya, memperingatinya. Dan tubuhnya masih berdesir hebat karena masih merasakan bibir itu—bergerak kala berbicara—tepat di telinganya.

Ya. Kim Ki Bum memang anak kecil yang berbahaya. Sangat berbahaya. Bagi Soo Rin.

I can’t stop, but same for you too
You don’t wanna lose me, right?
My babe…

****

“Park Soo Rin-sshi.”

Soo Rin hampir tersedak minumannya kala mendengar namanya terpanggil. Bukan, bukan karena dia terkejut karena terpanggil, melainkan karena suara yang sudah berani menyebut namanya itu. Membenarkan letak kacamatanya, ia pun menoleh meski ragu-ragu.

Benar saja. Lelaki itu ternyata sudah berdiri di samping mejanya. Lebih tepatnya meja mereka, karena saat ini Soo Rin tengah bersama teman-temannya yang masih bersikeras menraktirnya. Karena jasanya.

Hanya saja, Ki Bum yang Soo Rin lihat saat ini adalah si murid baru yang sangat dingin dan sangat menarik perhatian teman-temannya, tidak lupa dengan mata tajam yang selalu tampak mengintimidasi. Sangat berbeda jauh dari apa yang Soo Rin lihat, kemarin.

“Mengenai tugas dari Kang Seonsaengnim, aku dengar dari Kwang Soo bahwa aku sekelompok denganmu, benar?”

Eoh?” Soo Rin sempat tidak paham, namun ia segera menyadari. “E-eo…

“Bisakah kau menjelaskannya padaku mengenai tugasnya sepulang sekolah nanti? Aku meminta maaf karena sudah absen kemarin.”

Eo, tidak apa…”

“Kalau begitu kita bertemu di perpustakaan nanti.”

Soo Rin hanya mampu terbengong-bengong begitu Ki Bum segera berlalu setelah mengucapkan kalimat itu. Sungguh, dia masih tidak percaya dengan sikap lelaki itu yang tampak acuh tak acuh sebagaimana yang dilakukannya tiap di sekolah. Sebagai lelaki yang terlihat tidak tertarik dengan tatapan memuja dari teman-teman Soo Rin apalagi dengannya.

Setelah apa yang sudah Soo Rin alami kemarin.

Heol, Kim Ki Bum ternyata juga pandai berlakon di hadapan orang banyak seperti ini. Dan itu berhasil membuat Soo Rin mendumal sebal di dalam hati.

Dasar lelaki bermuka dua!

Omo, dia berbicara denganmu, Soo Rin-ah… itu keren sekali!”

Soo Rin kembali ditarik pada kenyataan di mana dirinya masih dikerubungi keempat gadis cantik. Dan Hyun Ah baru saja menyadarkannya.

“Suara beratnya, aku masih bisa mengingat suara beratnya. Rasanya dekat sekali,” untuk yang ini, percayalah bahwa Soo Rin hampir merasa mual karena Hye Min mulai terdengar norak. Astaga, gadis yang satu ini terlalu berlebihan.

Tidak tahu saja bahwa Kim Ki Bum bisa bersuara lebih berat lagi. Dan Soo Rin masih mengingatnya dengan begitu jelas karena lelaki itu berbicara langsung di depan telinganya.

Apa?

Hei! Apa yang sedang dipikirkan Soo Rin?! Oh, astaga! Kenapa Soo Rin berani mengingat hal itu hingga kembali terngiang-ngiang di pikirannya saat ini?! Apa dia sedang mencari masalah dengan jantungnya sekarang?!

Aku pasti memang sudah gila! keluh Soo Rin, menjerit di dalam hati. Jantungnya berdebar-debar kencang lagi!

“Soo Rin-ah, wajahmu memerah,” dan Ra Na ternyata menyadarinya.

Argh! Kenapa Soo Rin harus bereaksi seperti ini?!

“Jangan katakan bahwa kau tersipu karena Kim Ki Bum baru saja bicara padamu.” Hye Bin mulai memicing curiga. Jelas mengundang perhatian ketiganya. “Kau tidak tertarik padanya juga, bukan?”

“A-apa? Tidak! Ak-aku hanya—hanya sedang merasa sesak karena lelaki itu sudah membuatku hampir tersedak! Dia sungguh mengejutkanku!” Soo Rin segera menyeruput minumannya, sebanyak mungkin hingga merasakan tenggorokannya kembali basah. Rasanya tenggorokannya begitu kering karena kedatangan lelaki itu yang tiba-tiba sekaligus menyapanya dengan mimik datar seperti tadi.

Juga sesak karena membayangkan kepribadian lelaki itu yang sebenarnya.

Ugh, Soo Rin tidak terpengaruh, bukan? Dia sedang tidak terpengaruh dengan pesona lelaki itu, bukan? Dia tidak tertarik, bukan?

Rasanya dia ingin mengumpat karena saking kesalnya dengan kinerja tubuhnya sekarang.

Soo Rin melirik lelaki yang sudah duduk di meja kantin di seberangnya, tampak menghadap ke arahnya, tengah berbaur dengan beberapa teman di sana sekaligus menyeruput minuman kotak pesanan. Dan tidak di sangka bahwa hanya dalam jangka sekian detik saja, lirikannya bertubrukkan dengan mata tajam itu yang kini terang-terangan menatapnya.

Hanya dalam sepersekian detik—yang pasti hanya bisa dilihat olehnya—Soo Rin melihat mata tajam itu berkedip untuknya, menggodanya diam-diam.

Dan Soo Rin harus merasakan jantungnya berjumpalitan yang seketika membuatnya kembali menunduk dalam.

Siapa saja, tolong Park Soo Rin karena Kim Ki Bum benar-benar berbahaya sekaligus menyebalkan!!

.

.

FIN


KAN!!

astaga, aku udah apain Kim Ki Bum coba? yaampun…… T______T duh, maafkan ya.. jangan salahin Kim Ki Bum, salahin aku aja hwhw

oke, berhubung aku posting otomatis karna aku pasti udah pergi jalan-jalan, maaf kalo berantakan, juga minta maaf belum bisa balas komenannya karna, lagi-lagi terburu-buru ;__; tapi makasih banyak sekalii atas dukungannya~ aku masih bisa nulis sampe sekarang berkat dukungan kalian ;/\;

yosh! terima kasih sudah mampir! ^-^ mau dilanjut lagikah? #duagh

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “Dangerous (Boy) Kid

  1. Ahaha kim kibum-kim kibum tingkah mu menggemaskan,

    hah bukan kim kibum yg menggemaskan tapi authornya kkkkkk…..

  2. Seperti biasa Kim kibum selalu bisa bikin jantung Soo rin jumpalitan…
    Hahhhhh dan itu jg berlaku buatku yg membaca nih ff…
    Author sukses karena bikin aku selalu kangen sama couple KiSoo ini dan cerita2nya yg manis dan mendebarkan…👍👍👍
    Keep writing thor !!!!
    파이팅 ✊✊✊
    ❤❤❤❤❤

  3. Gak tau mau ngoment apa 😡 tapi baneran saya suka banget sama tulisan kaka. Tapi, entah hp saya yang bermasalah atau apa, kok tulisannya nggak rapih, ya ? (hanya pendapat saya). Keep writing !!!

  4. Kibum memang sangat berbahaya. Bisa berpotensi membuat jantung soorin dan jantungku*eh? berdebar tak terkendali..

  5. Yeiyyy dibuka jg,blm ngantuk iseng” buka librari’a :-D..
    Ternyta sdh dibuka,kibumie >_< ..ya ampun bnr" anak kecil yg berbahaya kkkk
    bermuka dua kata soorin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s