Posted in Category Fiction, PG-15, Romance, School Life, Vignette

Trapped

Prev :: Why Me?! | Be Minetrap

Genre :: School Life, (Absurd) Romance

Rated :: PG-15

Length :: Vignette

Recommended Songs :: Henry – Fantastic, BTS – 상남자 (Boy In Luv)

||KiSoo||

just, please ebjoy~^^

Why are you shaking up my heart?

BARU merasakan nikmatnya akhir pekan namun kini harus kembali bergumul dengan aktivitas di awal pekan. Mungkin akan ada banyak orang yang setuju dengan istilah Hari Senin merupakan hari yang menyebalkan karena membuat orang-orang menjadi malas untuk mulai beraktivitas. Rasanya waktu sangatlah cepat berlalu dan harus menunggu 7 hari lagi untuk bertemu kembali dengan Hari Minggu.

Dan, banyak sekolah yang kembali melakukan aktivitas belajar-mengajarnya seperti biasa. Murid-murid yang kembali memenuhi gedung sekolah, kembali berkutat dengan yang namanya mata pelajaran, kembali bertemu dengan para guru yang sebagiannya sungguh menyebalkan bagi mereka. Oh, mungkin bagi mereka itu adalah kenyataan pahit, tapi percayalah bahwa justru sebaliknya bagi para guru berpredikat killer.

Well, mungkin segitu saja. Karena sebenarnya, bukan itu masalah utamanya. Melainkan gadis bernama Park Soo Rin itu merupakan masalahnya. Tidak. Dia yang sedang bermasalah hari ini. Ketika jam pelajaran berlangsung, Soo Rin tidak bisa sepenuhnya fokus pada segala penjelasan Guru Kang. Bukan karena dirinya tidak menyukai pelajaran yang guru muda itu sampaikan. Hanya saja, ada hal yang mengganggunya sejak pagi ini.

Di bawah buku catatannya yang terbuka, terselip 2 buku catatan yang bukan miliknya. Entah kenapa buku-buku itu berhasil mengganggu pikirannya yang sedang ingin fokus belajar. Apa karena pemilik dari buku-buku tersebut? Oh, apakah harus dijelaskan bagaimana cara Soo Rin memegang 2 buku catatan milik Kim Ki Bum?

Di hari Sabtu lalu, lelaki itu dengan sangat baik hati meminjamkan buku catatannya untuk Soo Rin. Sebagai bentuk rasa maafnya yang sudah dengan berani menyita benda paling berharga dan sudah menjadi alat ketergantungan bagi Soo Rin—kacamata, hingga membuat gadis itu tersiksa seharian. Mungkin juga sebagai bentuk imbalan karena Soo Rin sudah menerima tawaran Ki Bum. Untuk yang itu merupakan kesimpulan Soo Rin sendiri. Karena menurutnya, dia tidak akan mendapatkan buku catatan tersebut jika Soo Rin memilih untuk menolak permintaan lelaki tak dikenal itu.

Soo Rin menghela napas pelan, namun dalam. Sebenarnya, bisa saja dia mengembalikan buku catatan Ki Bum di waktu sebelum jam pelajaran dimulai. Bukankah lelaki itu juga senang datang lebih awal? Hanya saja, Soo Rin tidak dapat bertemu dengannya, hingga saat ini. Bahkan lelaki itu tidak menunjukkan batang hidungnya sampai saat ini. Apa boleh disimpulkan bahwa Ki Bum tidak hadir ke sekolah hari ini?

Pada nyatanya, seisi kelas tidak ada yang tahu keberadaan Ki Bum. Tahu kabar lelaki itu pun tidak. Bisa dikatakan bahwa Kim Ki Bum merupakan siswa yang tertutup. Meski sebenarnya dia selalu terlihat dekat dengan siswa-siswa lain, tidak ada salah satu dari mereka yang mengetahui sedikit kehidupan pribadi lelaki itu. Lokasi rumahnya pun tidak ada yang tahu. Bahkan tidak ada yang sekedar tahu nomor ponselnya.

Bukan berarti Ki Bum tidak memiliki ponsel. Setiap hari dia selalu memperlihatkan ponsel keluaran terbarunya di waktu istirahat. Tapi di situlah letak keanehannya. Tidak ada yang tahu nomor ponsel Kim Ki Bum.

Begitu juga dengan Soo Rin.

Hei, lelaki itu hanya memberikan buku catatannya di Hari Sabtu lalu. Juga mengembalikan kacamatanya. Selebihnya, tidak ada. Soo Rin sendiri bahkan tidak pernah berpikir untuk bertukar nomor ponsel dengan lelaki itu. Bagaimana ingin berpikir seperti itu jika dia sendiri masih menganggap lelaki itu adalah orang asing?

“Baiklah! Saya akan menentukan kelompok untuk kalian.”

Terpaksa Soo Rin sedikit tersentak dari lamunannya begitu mendengar seruan dari Guru Kang. Apa? Kelompok apa? Aih, Soo Rin tidak menyimak penjelasan guru itu sebelumnya.

“Mengingat jumlah kalian yang sama rata, saya rasa dua orang cukup.” Guru Kang mengamati tiap wajah di depannya sekaligus melirik daftar nama murid kelas ini. “Kim Jae Joong dengan Bae Su Ji. Park Jin Young dengan Kang So Ra. Baek Seung Jo dengan Kim Ra Na.”

“Apa?” Ra Na sedikit terkejut. Seketika dia menoleh ke belakang, menatap siswa yang baru saja ditunjuk sebagai teman sekelompoknya. Tidak buruk, memang. Baek Seung Jo termasuk dalam jajaran siswa terpandai seangkatan. Hanya saja, ugh, kenapa Ra Na harus bekerja kelompok dengan siswa tanpa ekspresi itu?

Sedangkan Soo Rin yang belum disebut namanya masih memasang telinga. Dia tidak mungkin melamun lagi dan mengabaikan siapa teman kelompoknya nanti, bukan? Sudah cukup dirinya tidak menyimak lebih detil tugas yang akan dia tangani dan hanya mampu melihat penjelasan singkatnya yang ditulis di papan.

“Choi Jin Hyuk dengan Shin Min Ah. Lee Kwang Soo dengan Choi Jin Ri. Kim Ki Bum dengan Park Soo Rin. Byun—”

NE?!”

Seketika Guru Kang menghentikan aksi pembagiannya, memilih untuk menatap siswi yang baru saja berseru dan jelas menarik perhatiannya. Juga perhatian seisi kelas. “Ada masalah, Park Soo Rin?” tanyanya dengan kening berkerut samar.

Soo Rin sendiri sudah sangat tegak di tempat duduknya, semenjak namanya disebut sekaligus ditunjuk sebagai teman kelompok— “Saya… dengan siapa?” Soo Rin berharap bahwa dia salah mendengar tadi.

“Kim Ki Bum.” Guru Kang mengulang dengan senang hati. Kemudian beliau teringat, “Ah, karena Kim Ki Bum tidak masuk hari ini, kau bisa mengabarinya soal tugas ini nanti. Mengerti?” kemudian Guru Kang kembali melanjutkan pembagian kelompoknya yang sempat tertunda.

Sudah sangat jelas. Soo Rin memang tidak salah mendengar.

Dan beberapa detik kemudian, tubuh Soo Rin kembali melemas di tempat duduknya.

Dia tidak habis pikir, kenapa dia merasa mulai dekat dengan lelaki yang satu itu. Dekat dalam arti, dia mulai berurusan dengan lelaki yang satu itu. Padahal sebelumnya dia tidak pernah yang namanya berurusan dengan sekedar nama atau bahkan dengan orangnya sendiri.

Apakah ini hanya perasaan Soo Rin? Atau sebenarnya hanya sebuah kebetulan?

Baiklah, ini mungkin sebuah kebetulan.

Tapi kebetulan yang sangat kebetulan!

****

“Kyaaaaaa!! Kau benar-benar beruntung, Soo Rin-ah!!”

Soo Rin hanya bisa membuang napas panjang nan beratnya. Percayalah bahwa teriakan itu justru semakin membuatnya tertekan, bukan merasa senang sebagaimana jika salah satu dari keempat gadis itu berada di posisinya. Yah, saat ini dirinya sudah dikerubungi oleh teman-temannya itu. Dari mana mereka tahu? Oh, apakah harus diberi tahu lagi bahwa Kim Ra Na satu kelas bersama Soo Rin?

“Astaga, apa kau tahu bahwa itu merupakan impian kami, Park Soo Rin? Kau seperti mendapat jack pot!” Hye Min bersuara, tampak menggebu-gebu.

“Aku iri padamu. Benar-benar iri!” Hye Bin menimpali. Wajah cantiknya itu merengut masam. Menggambarkan apa yang baru saja diucapkannya.

“Kau akan bersama Kim Ki Bum hingga minggu depan!” giliran Hyun Ah yang menyembur Soo Rin.

Ugh, segitu beruntungnya kah Soo Rin? Rasanya Soo Rin hanya mendapat teman kelompok dari orang biasa. Bukan selebriti. Kenapa mereka begitu membesar-besarkan? Huh, tidak tahu saja mereka, tabiat orang yang mereka sukai itu seperti apa sampai-sampai membuat Soo Rin justru merasa ingin kabur saja dari sekolah ini.

Oke, itu terlihat berlebihan.

Tapi pada kenyataannya, Soo Rin semakin merasa gelisah karena dia tahu pasti bahwa dirinya tidak bisa benar-benar lepas urusan dari lelaki itu. Masalah buku catatan saja belum kelar, sudah ada masalah baru yang tidak jauh dari nama sekaligus sosok Kim Ki Bum!

Ya Tuhan, kenapa dia merasa hidupnya yang hanya diganggu oleh keempat gadis di depannya ini menjadi bertambah tingkat kegangguannya?!

“Tapi, kenapa dia tidak masuk sekolah? Apa dia sakit?” Hye Min melirik bangku milik Ki Bum yang memang kosong sejak pagi tadi. Raut wajahnya berubah menjadi khawatir.

“Entahlah. Sepertinya begitu.” Ra Na bersuara. “Aku jadi mengkhawatirkannya,” lanjutnya.

“Aku juga,” ketiganya kompak menyahut.

Sedangkan Soo Rin berusaha untuk tidak peduli. Karena, ugh, entah kenapa dia mulai bertanya-tanya ke mana lelaki itu. Kenapa hari ini dia tidak masuk? Tidak biasanya dia absen. Apa benar dia sakit? Kenapa tidak ada yang tahu kabar dari lelaki itu?

Hei, dia hanya gelisah karena belum mengembalikan buku catatan milik lelaki itu, bukan? Bukan karena hal lain?

Ra Na mendesah, “Seandainya Kang Seonsaengnim memberi kesempatan untuk bertukar. Aku pasti akan meminta padamu untuk bertukar. Kau pasti tidak keberatan jika bersama Baek Seung Jo, bukan?” keluhnya, terdengar berharap.

“Ya. Aku justru tidak keberatan jika itu terjadi…” gumam Soo Rin. Mencoba memberi seulas senyum meski jatuhnya hambar karena terlalu dipaksa.

Bahkan dia akan dengan sangat senang hati bertukar dengan Ra Na. Lebih baik berkelompok dengan Baek Seung Jo yang pintar namun sangat acuh dibandingkan dengan Kim Ki Bum yang pintar namun berbahaya untuk Soo Rin!

****

“Aku pasti sudah gila…”

Soo Rin mendesis di depan sebuah pintu. Di sebelah pintu itu terpahat sebuah nomor yang merupakan nomor dari pintu tersebut, dan di bawahnya tersedia tombol yang berfungsi untuk memanggil pemilik dari ruangan di balik pintu tersebut. Juga alat peng-imput password untuk membuka pintu tersebut.

Entah kerasukan apa, Soo Rin sudah berdiri di depan pintu apartemen bernomor 2108. Berbekal dengan secarik kertas yang menerterakan sebuah alamat, yang tak lain merupakan alamat pintu 2108 ini. Soo Rin sendiri tidak mengerti kenapa dia berani meminta alamat ini pada wali kelasnya sepulang sekolah tadi dengan tugas kelompok dari Guru Kang menjadi pilihan alasannya.

Sungguh, ini bukan keinginannya. Ini merupakan kinerja tubuhnya yang tidak sejalan dengan pikirannya hingga bergerak membawa dirinya kemari!

Itulah mengapa Soo Rin berasumsi bahwa dirinya pasti sudah gila. Karena berani datang ke tempat tinggal Kim Ki Bum.

Kedua tangannya sudah memeluk dua buku catatan dengan eratnya, sebelah tangan yang memegang kertas alamat tersebut sudah bergerak gelisah antara menghampiri tombol bel di sebelah pintu alumunium itu atau tidak. Hingga akhirnya…

Ting tong

Soo Rin terpaksa menjatuhkan tubuhnya hingga berjongkok, menyumpah serapahi tangannya yang baru saja berhasil menyentuh tombol itu serta menekannya. Entah kenapa jantungnya sudah berulah dengan mulai berolahraga. Padahal dia hanya menekan tombol bel, bukan bertemu dengan orangnya!

“Tenang… tenanglah, Park Soo Rin. Kau hanya mengembalikan buku ini dan memberi tahu tugas kelompoknya. Setelah itu kau bisa pulang. Ya, benar…” Soo Rin mencoba untuk menyugestikan diri. “Kau sudah terlanjur datang kemari. Jadi, lakukanlah!”

Begitu dirinya berhasil menegakkan tubuh kembali, saat itu juga pintu di hadapannya bergerak terbuka. Dan Soo Rin seperti kehilangan kemampuan bernapas begitu mendapati sosok itu muncul dari balik pintu, langsung mengunci tatapannya dengan sepasang mata hitam pekat nan tajam itu.

Siapa saja, tolong beri penjelasan kenapa kedua tungkai kaki Soo Rin gemetar hingga dia ingin jatuh kapan saja!

Lelaki itu, dengan wajah datar nan dinginnya, menatap lekat Soo Rin. Tubuh tegapnya bersandar di ambang pintu serta kedua tangannya bersembunyi di saku celana pendek di bawah lutut. Heol, hanya berpakaian santai pun dia masih mampu menunjukkan pesonanya. Hanya saja, tanpa mengeluarkan sepatah kata, lelaki itu justru mengintimidasi Soo Rin.

Ugh, tahu begini Soo Rin tidak perlu membuang waktu dengan menemui Guru Shim yang merupakan wali kelasnya dan menanyakan alamat rumah Kim Ki Bum. Terlihat bahwa lelaki itu sepertinya tidak senang dengan kunjungannya yang tergolong tiba-tiba ini. Ya, Soo Rin baru saja menyesali perbuatan tak jelasnya ini.

“A-aku—aku hanya… ingin mengembalikan buku catatanmu,” tangan Soo Rin terulur, menyerahkan buku itu tepat ke hadapan Ki Bum. Percayalah bahwa tangannya sedikit gemetar karena dia sudah terlanjur gugup. “Dan… ada tugas kelompok dari Kang Seonsaengnim. Sangat disayangkan bahwa kau sekelompok denganku. Ka-karena itu, s-sepertinya kita akan mulai bekerja sama… besok,” ugh, kenapa dia semakin gugup saja? Apa karena lelaki di depannya itu tidak menyahutnya?

Ditambah, lelaki itu tidak langsung menerima buku catatannya. Membuat Soo Rin semakin gemetar saja dan itu membuatnya tidak nyaman hingga terpaksa menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya. Sepertinya Soo Rin memang sudah lancang mengganggu Kim Ki Bum. Akhirnya ia melanjutkan lagi, “Hanya itu, ya, aku hanya ingin menyampaikan itu.”

Barulah dia merasakan buku-buku itu berpindah tangan. Yang segera menyadarkan Soo Rin untuk cepat-cepat pergi dari sini. “Maaf sudah mengganggu waktumu. Terima kasih untuk buku catatannya dan, aku pergi!” barulah Soo Rin memutar tubuh dan hendak pergi dari situ…

Saat ia merasakan tangan besar menahan lengannya lalu menariknya untuk kembali, bahkan menyeretnya masuk ke balik pintu bernomor 2108 itu. Rasanya pergerakan itu terjadi sangat cepat hingga Soo Rin harus mencernanya terlebih dulu dan harus tersadar kala mendengar pintu di belakangnya terkunci otomatis bersamaan dengan dirinya yang sudah… terperangkap.

“Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah dengan beraninya mendatangi rumahku?”

Akhirnya Soo Rin dapat mendengar suara berat itu mengalun di telinganya.

Tidak, tidak. Apa yang sedang dipikirkan Soo Rin?! Sadarlah, Park Soo Rin, kau sedang terancam!

“Aku—” Soo Rin terpaksa bungkam begitu wajah tegas itu bergerak mendekat, menghampiri wajahnya. Dan harus kembali menahan napas kala ternyata Ki Bum mengarahkan wajahnya tepat di depan telinga—ralat, bukan wajahnya, tapi… astaga, Soo Rin sudah berdebar hanya dengan memikirkan apa itu!

“Merindukanku, eh?”

Sial, bisikannya telak menusuk gendang telinga dan tertangkap nada menggoda di sana. Jelas membuat Soo Rin merinding hingga harus menggigit bibir. Dan dia harus merasa heran kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini.

Merindukan Ki Bum? Soo Rin? Oh, yang benar saja…

Benarkah?

Ki Bum kembali menatap Soo Rin. Wajah tegasnya sudah berganti, memancarkan raut hangat yang membuat Soo Rin diam-diam merasa lega karena tatapan mengintimidasi itu sudah hilang. Entah kenapa lelaki ini senang sekali membuat Soo Rin serasa naik-turun. “Dari mana kau tahu alamatku, hm?”

“S-Shim… Seonsaengnim,” tapi pada kenyataannya Soo Rin masih merasa gugup. Gugup karena, jarak mereka tergolong sangat dekat. Soo Rin tidak mengerti kenapa dia harus berdebar-debar seperti sekarang ini. Menelan saliva pun dia kesulitan. “Aku… hanya ingin menyampaikan itu. Jadi, bolehkah aku pulang sekarang?”

Tanpa sadar pertanyaan Soo Rin memancing Ki Bum untuk memamerkan senyum miring. Senyum yang bisa membunuh Soo Rin kapan saja karena jantungnya serasa baru saja berdebum hebat. Dan semakin menjadi kala Ki Bum memiringkan kepala serta kembali mendekat, bergerak seolah ingin meraih benda yang baru saja mengajukan pertanyaan, jelas membuat Soo Rin mengatupkannya rapat-rapat.

“Bagaimana jika aku tidak mengizinkannya?” gumam Ki Bum dengan halus, tepat di depan bibir Soo Rin. Jika gadis itu bergerak sedikit saja, habislah sudah jarak mereka.

Lelaki itu bergerak mundur lagi, juga berulah lagi, melepas lensa berbingkai yang bertengger di hidung Soo Rin. Kemudian memamerkannya pada sang pemilik. Dengan senyum miring yang masih tercetak di bibir penuhnya, berucap, “Kau tidak bisa keluar tanpa ini, bukan?”

Soo Rin hampir mendelik. Menyadari bahwa, bukankah itu berarti dia akan terperangkap di sini? Di dalam apartemen lelaki ini? Sampai kapan?!

Oh, baiklah, bisakah Soo Rin meminta tolong pada siapa saja sekarang? Lelaki ini benar-benar menyebalkan!

.

.

FIN


tenang, ini baru pemanasan (?)

selanjutnya udah aku siapin kok, tapi….nunggu waktu yang tepat ya.. aku belum siap buat menyebarkan virus Wild Boy-nya Kibum bahahaha T/////T

iya, Kibum jadi Wild Boy di sini…..hiks ;w;

yaudah, aku minta maaf kalo di sini masih berantakan karena akunya juga terburu-buru >< dan, terima kasih banyaaaaaaaaakk banget buat pembaca yang udah ngasih aku kejutan dengan menuhin notifku ini.. tapi aku mohon maaf banget karna belum bisa bales komentar kalian satu-satu.. sekali lagi, aku terburu-buru T/\T

tapi tenang, aku udah baca dan pasti aku bales nanti heheh makasih banyak buat dukungannya.. yaampun, aku pengen nangis liat apresiasi para pembaca, seandainya aku lagi ga di warnet aku udah deres kali huweeeeeehh #jaim ;/\;

yosh! segitu aja~ untuk lanjutan ini, doain aja biar cepet kepublish ya~

salam dari kisukisu~prjct

Terima kasih sudah mau mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

28 thoughts on “Trapped

  1. Haaaaaah aku tarik nafas dulu….kkkk

    keerrrreeennnn, lucu sama karakter sorin,ikkkkh menggemaskan,,,,
    bahkan aku d sebut org gila sama tmnku, karna senyum” sendirian….

    V suwer deh ini menghibur aku bngt,,,makash ea 😉

    d tunggu karya selanjutnya,, jangan lama” ea..tebar kissu”:*:*

  2. Apa ini? Apa ini? Saya belum puaaasssssss. Plis kasih saya yang panjang-panjang(?) greget baca ini dan sy bisa ngebatangin ekspresi gugupnya soorin di bawah tekanan kibum. Aw aw aw aw ><

  3. huaaa kurang puasss kak, panjangin lagiii…
    semakin penasaran kim ki bum wild boy, semangat kakk cepet di post yaaa 😍😘

  4. Ki bum mau ngurung Soo rin…
    Walopun karakternya jd wildboy gak apa koq aku tetep suka…
    Ditunggu cerita2 selanjutnya yg selalu sukses buat aku deg2 dan senyum2 sendiri yah author….

  5. Pertahankan karakter kibum yg seperti ni dingin tegas tp romantis (?) karakter tu serasa lbh cucok dengan’a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s