Posted in Category Fiction, Fluff, PG, Vignette

From U

917200

Genre :: Fluff

Rated :: PG

Length :: Vignette

Recommended Song :: Super Junior – From U

||Ki&Soo||

::mungkin ini terlalu picisan atau terlalu cheesy (?) tapi gwaenchanha, sarangiya #hah-_- yang gamau muntah tidak perlu dibuka bahahah karna ini muncul di saat aku sedang pms ㅜㅜ::

oke, Happy reading for you who wanna read ^^

ㅡㅡ

Even my tears, even my little smiles.. Do you know?
They all come from you

ㅡㅡ

SOO Rin melangkah menelusuri bahu jalan begitu turun dari subway. Merasa bosan berdiam diri di rumah, ia memilih untuk pergi menuju rumah sakit di mana pria itu bekerja. Mengingat jarak halte dengan rumah sakit cukup jauh, tidak ada salahnya dia berjalan kaki. Setidaknya dia juga menikmati udara musim semi seraya berjalan-jalan.

Begitu pintu gerbang rumah sakit terlihat, dengan antusias Soo Rin menambah kecepatan langkahnya menjadi taraf berlari kecil. Langkahnya membawanya turun dari bahu jalan dan berniat untuk menyeberang jalan.

Hanya saja, karena terlalu antusias, ia tidak memeriksa keadaan jalanan yang meski sepi namun tidak jarang dilewati kendaraan. Hingga dia harus dikejutkan dengan kedatangan mobil yang menurutnya begitu tiba-tiba.

TIIIIINN

BRUK!

****

Pria itu berlari menelusuri koridor lantai dasar seperti orang kesetanan. Dengan jubah putih yang masih melekat di tubuh tegapnya, ia memasuki ruang instalasi gawat darurat dengan rusuh, tidak seperti sikap dokter semestinya. Mata tajamnya segera mendapati salah satu dokter yang baru saja mengabarinya. Dokter itu segera menunjuk bilik yang baru saja ia masuki dengan mengerlingkan mata. Segera saja pria itu mengerti dan menghampiri bilik tersebut. Menyibak tirainya dengan kasar lalu terpaku melihat… gadis itu sudah terduduk di tempat tidur.

Sejenak pria itu merasa sedikit lega karena apa yang ada dalam bayangannya ternyata salah. Dia pikir gadis itu sudah terbaring lemah tak sadarkan diri dan terluka parah. Oh, bagaimana dia tidak membayangkannya seperti itu jika dia dikabari bahwa gadis itu tertabrak mobil di depan rumah sakit tempat dirinya bekerja? Melegakannya, gadis itu hanya mendapatkan balutan perban di bagian lengan juga kakinya.

Terkejut melihat pria itu datang, gadis itu terkesima sesaat melihat wajah tegas itu tampak tegang dengan bahu naik-turun, sebelum kemudian mulutnya bergerak menyebut nama pria itu, bersamaan dengan kedua matanya yang mengalirkan cairan bening.

“Kim Ki Bum…” gadis itu akhirnya terisak setelah berjuang menahannya karena rasa sakit yang mendera tubuhnya. Entah kenapa dengan melihat sosok pria itu mampu melepas segala beban yang menimpanya sejak tadi.

Ki Bum—pria itu segera mendekati gadisnya setelah mendengar namanya disebut dengan lirih. Kedua tangannya bergerak cepat namun lembut menyentuh beberapa bagian tubuh gadisnya, memeriksa apakah ada luka lain yang tidak terlihat. Tak disangka bahwa itu membuat gadisnya terisak semakin kencang dan jelas membuatnya kalut.

“Soo Rin-ah, bagian mana yang sakit selain ini, eo?”

Soo Rin—gadis itu tergugu serta berucap, “Maafkan aku… aku hampir melukainya… hiks… maafkan aku…”

Ki Bum tertegun sejenak, matanya segera melirik tangan Soo Rin yang tengah memegangi perutnya, jemari lentiknya meremas-remas pakaiannya di sana. Oh, astaga, Ki Bum hampir melupakan yang satu itu.

“Tidak ada yang fatal menimpanya, Dokter Kim. Kau tidak perlu khawatir.”

Ki Bum segera menoleh dan mendapati pria berjubah sama sepertinya sudah berdiri di ambang tirai. Seorang dokter yang sudah menangani Soo Rin sekaligus memberi kabar mengenai gadis itu pada Ki Bum. Ber-name tag Tan Han Kyung.

“Dia sangat beruntung karena memiliki gerak reflek yang baik. Supir mobil itu mengatakan bahwa gadismu masih sempat menghindar meski dia harus terjungkal karena tersandung bahu jalan. Dan sepertinya tanpa sadar dia menumpu tubuhnya dengan lengan juga sikunya agar tidak terbentur keras. Itulah mengapa dia tidak mengalami hal buruk pada kandungannya. Hanya sedikit terguncang yang cukup berdampak pada dirinya sendiri,” jelas Han Kyung panjang lebar sekaligus lancar.

Ki Bum kembali menatap Soo Rin yang kini sudah menunduk meski masih terisak. Dia merasakan tangan yang memegang bahu kecil itu terasa gemetar karena tubuh ramping itu bergetar akibat tangisnya, mungkin juga karena syok. Tapi pada kenyataannya Ki Bum tidak menampik bahwa dirinya merasa cukup lega karena gadis ini tidak terluka parah. Begitu juga dengan… janinnya.

“Aku rasa kau harus izin absen hari ini,” Han Kyung bersuara lagi. Matanya melirik gadis yang masih menunduk menangis. “Kau harus memastikannya selamat sampai rumah, Dokter Kim.”

“Aku tahu. Bolehkah aku meminta tolong padamu untuk mengambilkan kunci mobilku?”

Han Kyung menjentikkan jari. “Segera kuantar,” jawabnya sebelum melangkah meninggalkan mereka.

Barulah Ki Bum menghela napas panjang seraya berjongkok di hadapan Soo Rin. Ada sisi di mana dirinya ingin menegur gadis ini karena sudah membahayakan diri, juga membahayakan nyawa yang bersemayam di dalam perutnya yang masih terlihat rata meski sudah menginjak 4 bulan. Tapi di sisi lain Ki Bum juga tidak tega karena melihat kondisi gadis ini sekarang. Apalagi gadis ini belum berhenti menangis sejak kedatangannya tadi.

Ough, Ki Bum hampir membuat kondisi Soo Rin semakin menurun jika dia tidak segera meraih wajah yang berhasil Ki Bum lihat rupanya. Sedikit pucat dan basah karena air mata. Diusapnya wajah itu dengan ibu jarinya, menghapus sungai kecil di sana dan mencoba memberi ketenangan.

“Hei, tenanglah. Kau bisa membuatnya khawatir karena melihatmu terus menangis.”

Soo Rin berhenti menangis meski masih sesenggukan. Ia memberanikan diri menatap pria yang terlihat lebih rendah darinya. “Memangnya… dia bisa melihatku?”

Ki Bum mengulas senyum. Diam-diam dia merasa geli melihat ekspresi Soo Rin yang sudah berubah dengan cepatnya. Padahal sebelumnya wajah cantik itu tampak terpukul karena merasa bersalah, tapi sekarang sudah berganti menjadi sangat lucu karena melongo dengan mata sembabnya itu. Well, setidaknya Ki Bum berhasil membuat gadisnya berhenti menangis.

“Dia bahkan bisa merasakan apa yang kau rasakan, kau tahu?” Ki Bum mengalihkan tangannya menuju tangan Soo Rin, merengkuhnya yang masih memeluk sekaligus meremas di bagian perutnya. Dia melanjutkan, “Karena dia berada di dalam perutmu dan mampu merangsang segala yang masuk ke dalam dirimu, tentu saja dia bisa merasakannya. Dan itu akan berdampak dengan pertumbuhannya jika kau seperti ini. Apa kau tidak ingat dengan nasehat Dokter Tan bahwa kau tidak boleh seperti sekarang ini?”

Soo Rin merenung murung. “Tapi, aku hampir melukainya…” dan perkataan itu membuatnya kembali menangis karena kembali mengingat kejadian yang menimpanya tadi. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan bila dirinya tidak segera menghindar dan memilih untuk membiarkan tubuhnya ditabrak oleh alumunium bergerak itu. Tubuhnya bergidik ngeri.

“Dan kau juga telah menyelamatkannya,” sahut Ki Bum dengan halus. “Kau bahkan mempertaruhkan keselamatanmu sendiri dengan rela terluka seperti ini. Aku rasa itu hal yang wajar sebagaimana ibu yang melindungi anaknya.” Ki Bum kembali merengkuh wajah Soo Rin, mengusap air mata gadis itu perlahan sebelum kemudian beralih mengusap sisi kepalanya dengan sayang. “Tapi bagaimana pun juga, kau sudah membuatku mengkhawatirkanmu. Kau membuatku takut hingga berpikir yang tidak-tidak mengenai dirimu.”

“Maafkan aku…”

“Sekarang kau mengerti kenapa aku selalu memperingatimu untuk tidak keluar rumah sendirian?”

Soo Rin mengangguk pelan, seperti anak kecil yang tengah ditegur oleh orang tuanya, menyesali perbuatannya. Well, sejak diketahui bahwa dirinya mengandung, sebelum berangkat bekerja Ki Bum selalu memperingatinya untuk tidak pergi ke mana pun tanpa pria itu dan harus menghubunginya jika ingin pergi. Mungkin ini adalah sebuah peringatan pertama karena dia berani keluar rumah tanpa meminta izin pada Kim Ki Bum yang berstatus sebagai… suaminya itu.

“Tapi… aku hanya ingin mengunjungimu…” Soo Rin memilih untuk berkilah meski dirinya sudah mengakui kesalahan.

“Kenapa?”

Soo Rin melirik Ki Bum takut-takut. Tangannya mengusap-usap perutnya bersamaan jemarinya yang bermain-main di bajunya. Sebenarnya dia malu mengatakannya tapi, mau tifak mau menjawab, “Aegi ga appa reul bogoshipeo… (Bayinya merindukan sang ayah)”

Jelas saja jawaban yang terdengar lirih namun mampu menusuk indera pendengaran Ki Bum berhasil membuat pria tampan itu mendengus terkesima sebelum tertawa pelan. Astaga, melihat wajah cantik itu tersipu setelah mengucapkan kalimat tersebut sukses membuat Ki Bum gemas. Dan Ki Bum tidak tahan untuk mencubit hidung bangir gadisnya itu, pelan namun tersirat rasa gemas.

“Aku rasa ibunya yang merindukan sang ayah,” goda Ki Bum yang berhasil menimbulkan rona merah di kedua pipi Soo Rin yang mulai tembam. Aigo, kenapa gadisnya semakin menggemaskan dalam keadaan mengandung seperti ini? Ki Bum tidak dapat menampik fakta itu. Apalagi Soo Rin menjadi manja dan mudah menangis. Sepertinya kalimat perempuan hamil sangat sensitif itu memang benar adanya. Karena hal ini umumnya memang merupakan pengaruh hormonal saat mengandung.

“Kenapa kau tidak menghubungiku lebih dulu? Dengan begitu ‘kan aku bisa segera pulang,” Ki Bum menegur dengan cara halus.

“Aku hanya tidak ingin mengganggumu. Bagaimana jika kau sedang melakukan operasi saat aku meneleponmu?” Soo Rin berkilah lagi. Wajahnya masih ditundukkan. “Setidaknya aku menemuimu di saat kau sedang beristirahat.”

Karena sebenarnya, Soo Rin sudah mengetahui waktu istirahat Ki Bum. Sebagaimana yang dia katakan—ralat, yang Ki Bum katakan tadi, karena merindukan pria itu Soo Rin nekat keluar rumah dan pergi dengan sendirinya.

“Bukankah aku sudah mengatakannya beberapa kali? Aku pasti akan menghubungimu sebelum melakukan operasi dan menyuruhmu untuk menghubungi Henry maupun Sae Hee jika kau membutuhkan sesuatu. Kau lupa?”

Soo Rin merutuk dalam hati. Ya, dia lupa. Padahal biasanya dia selalu ingat tapi kenapa hari ini dia tidak ingat? Apa karena hormonnya yang saat ini sedang bergolak hingga menimbulkan reaksi psikis berupa rasa rindu yang terlalu tinggi?

Ki Bum tahu pasti bahwa gadis ini lupa. Pria itu menghela napas. “Dengan apa kau datang kemari?”

Soo Rin memainkan jemarinya. “Subway…” kemudian matanya mencoba melirik wajah Ki Bum. Kembali ia tundukkan begitu mendapati raut tegas itu tampak datar bersamaan dengan dirinya mendengar helaan napas cepat, seperti dihentak. Oke, dia mengaku salah karena lebih memilih naik subway dibandingkan naik taksi. “Aku—aku ingin jalan-jalan…” cicitnya kemudian, mencoba berkilah.

Sekarang Ki Bum benar-benar mengerti. Gadisnya pasti juga merasa sangat bosan berdiam diri terus di rumah. Menunggunya pulang tanpa melakukan sesuatu. Soo Rin selalu dilarang untuk melakukan pekerjaan yang tergolong berat seperti membersihkan rumah. Karena Dokter Tan sendiri mengingatkan agar gadisnya tidak terlalu lelah jika tidak ingin berpengaruh pada janinnya yang masih lemah itu.

Sebenarnya Ki Bum juga merekomendasikan untuk menghubungi Henry atau Sae Hee karena mereka berdua yang memiliki peluang banyak untuk memberikan bantuan. Toh, mereka sering berkunjung ke apartemen demi menemani maupun membantu Soo Rin. Hanya saja hari ini mereka sedang disibukkan dengan pekerjaan masing-masing sehingga Soo Rin merasa bosan karena sendirian. Dan menunggu kepulangan Ki Bum sendirian itu cukup menyiksa.

Mungkin untuk yang satu ini, Ki Bum harus merasa bersalah. Karena pasien yang datang kepadanya juga yang perlu ditangani sangat banyak hari ini, Ki Bum terpaksa mondar-mandir dari ruang inap satu ke ruang inap yang lain hingga tidak ada waktu untuk sekedar menelepon Soo Rin. Untungnya saja dia tidak memiliki jadwal operasi dan dia bisa segera pulang mengantar Soo Rin hari ini. Dan, mungkin membayar waktu kesendirian Soo Rin dengan melakukan sesuatu.

“Bagaimana jika kita makan malam di luar nanti?” Ki Bum memilih untuk tidak membahas masalah subway dan beralih mengajak Soo Rin. Langsung saja dirinya mendapatkan respon positif dari gadisnya itu.

Jinjja?” meski terdengar pelan, terselip nada antusias bersamaan mata sembabnya itu mulai tampak berbinar.

Dan itu disambut Ki Bum dengan seulas senyum hangat yang menenangkan batin Soo Rin. Pria itu mengangguk. “Kau boleh makan apa saja yang kau mau.”

Topokki?” Soo Rin semakin menunjukkan rasa antusiasnya. Sepertinya Ki Bum berhasil membuat Soo Rin melupakan rasa bersalahnya tadi.

Ki Bum terkekeh sesaat. Sepertinya gadis ini tidak pernah berhenti mengidam makanan kesukaannya itu. “Asalkan tidak pedas,” sahutnya kemudian. Dia masih ingat nasehat Dokter Tan untuk mengontrol gadisnya agar tidak mengonsumsi makanan pedas. Karena mengonsumsi makanan yang pedas bisa menyebabkan rasa mulas dan juga  pencernaan lainnya, juga dapat memengaruhi morning sickness—mual, sakit perut atau muntah akibat perubahan kadar hormon—bagi perempuan mengandung.

Soo Rin mengangguk cepat. Seperti anak kecil. “Hanya yang manis!” timpalnya bersemangat.

Ki Bum mengusap puncak kepala Soo Rin. Gemas namun penuh kasih sayang. Kemudian ia beralih menatap perut yang masih terlihat rata. Kebanyakan orang mengatakan bahwa sebenarnya di usia 4 bulan pun sudah mulai tampak, tapi mungkin karena tubuh Soo Rin yang tergolong seperti tubuh Im Yoon Ah baru akan terlihat jika sudah menginjak usia 5 bulan. Mengingat fakta itu, membuat Ki Bum tersenyum geli. Juga tidak menyangka bahwa, mereka akan segera menjadi orang tua.

Menggenggam tangan Soo Rin, menyingkirkannya dari atas perut Soo Rin, beralih dengan dirinya merengkuh perut gadisnya itu, menggerakkan kepalanya demi mendekat. “Daddy is waiting for you.”

That you’ve got old already because I make you worry so much, don’t say such things. No matter how I look at it, to me there’s no one in this world that is as beautiful as you are. I don’t know why you keep staying with me. Also, I’m sorry because I fall short to you. Just believe me. I will do well…

Tanpa sadar Soo Rin mengembangkan senyum. Senyum yang begitu manis yang untungnya saja masih bisa Ki Bum lihat, karena pria itu segera mendengak menatap wajah cantik yang sudah merona itu. Dan membalas senyum termanis itu dengan sebuah kecupan tepat di bibir yang mengembang itu.

“Aku mencintaimu.”

Selain untuk menunjukkan rasa kasih sayang, juga untuk menunjukkan begitu besarnya Ki Bum berterima kasih pada Soo Rin yang hingga saat ini, berada di dekatnya dan menjadi pasangan hidupnya, bahkan mengandung buah cinta yang akan mengantar mereka menjadi sosok orang tua. Sebuah kalimat yang mengandung magis hingga mampu membuat sekeliling mereka begitu berwarna meski penuh dengan bau obat-obatan yang menyengat. Tapi, memangnya mereka peduli? Mereka bahkan akan tetap saling menatap jika tidak ada yang menghentikannya.

Ehem!”

Mereka menoleh. Namun Soo Rin segera membuang muka dan memilih untuk menunduk begitu melihat siapa yang sudah berdiri di ambang tirai. Tanpa sadar wajahnya memanas, memikirkan, sepertinya orang itu melihat apa yang baru saja Kim Ki Bum lakukan padanya.

Tapi seolah tidak melakukan apapun sebelumnya, dengan santai Ki Bum berdiri lalu menghampiri Han Kyung yang sudah memamerkan kunci mobil di tangan.

“Pesananmu, Dokter Kim,” dengan santai pula Han Kyung membuka suara. Sedangkan Ki Bum segera menerima kunci mobil itu seraya mengucapkan terima kasih untuknya. Barulah Han Kyung menyimpan kedua tangan ke dalam saku jubah putihnya. Memamerkan senyum penuh arti juga mengucapkan sesuatu sebelum kembali meninggalkan mereka, “Selamat bersenang-senang dengan… istrimu,” tidak lupa memberikan kedipan sebelah mata yang jelas menggoda keduanya.

Dan Ki Bum terpaksa memutar bola mata, jengah. Eii, dokter yang satu itu memang senang sekali menggodanya juga gadisnya. Jika bukan karena pria itu merupakan dokter spesialis kandungan untuk Soo Rin, sudah dipastikan Ki Bum tidak akan membiarkan pria itu berada dalam radius kurang dari 5 meter dari keberadaan Soo Rin.

“Kim Ki Bum.”

Ki Bum menoleh, mendapati gadis itu sedang menatapnya dengan wajah memelas. Kemudian kedua tangan gadis itu terulur ke depan, seolah ingin menggapai Ki Bum namun Ki Bum tahu pasti apa yang diinginkan oleh gadis itu.

Well, jika karena pergelangan kaki Soo Rin yang dibalut perban, mungkin Ki Bum akan memaklumi. Tapi, Ki Bum tidak yakin bahwa Soo Rin menginginkan itu karena kakinya yang terluka, melainkan karena… hormonnya yang kembali berulah hingga menimbulkan sifat manja pada diri gadisnya itu. Untuk yang ini, Ki Bum sangat memaklumi, bahkan dengan senang hati ia menghampiri Soo Rin setelah menyimpan kunci mobilnya ke dalam saku. Membungkukkan badan demi meraih tubuh Soo Rin yang masih tampak ramping, lalu menggendongnya ala bridal. Dapat ia rasakan bahwa tangan-tangan kecil itu sudah mengalung di lehernya. Oh, dia bahkan tidak merasakan berat tubuh Soo Rin bertambah.

“Aku juga mencintaimu.”

Sebenarnya Ki Bum merasa senang dengan balasan itu. Hanya saja dia sedikit menyesal karena tidak dapat melihat wajah cantik itu karena sang empu sudah menyembunyikannya pada bahu lebarnya, memeluknya begitu erat. Baiklah, setidaknya Ki Bum masih bisa tersenyum hanya dengan sikap gadisnya ini.

Ya, gadisnya. Sekalipun mereka akan menjadi orang tua, Ki Bum tetap menganggap Soo Rin sebagai gadisnya.

Dan kalian bisa menebak seperti apa reaksi para penghuni rumah sakit yang melihat Ki Bum membawa Soo Rin keluar dari sana seperti itu.

The days of mere beauty, with the mere good things that you and I. We two used to see together, eat together, hear together, cry together, laugh together. Thank you for standing by me, believing in me so that I wouldn’t collapse. Really thank you… Baby, let us never break up. My lady, I really love you. Shawty, it’s only you, the one that I chose. Even my tears, even my little smiles.. Do you know? They all come from you. Always, I thank you and I love you…
(Super Junior – From U)

.

.

FIN


LOH LOH LOH?!

tolong jangan gampar saya yang udah berani bikin cerita macam ini… astaga, aku kerasukan apa sampe bisa bikin cerita genre ini huwaaaaaaaaaaaaaahhh!!! ㅠㅠㅠㅠ

ketauan yang nulis suka ngidam yang manis-manis kalo lagi pms //lirikcermin//? #duaagh

well, this is not really my style rasanya.. biasa bikin cerita genre school romance, bikin genre ini malah….. oh, astaga… oh, yaampun…. gue udah apain Kim Ki Bum tjoba?! ㅠ______ㅠ

udah, gitu aja… hahahah sepertinya aku udah bikin pembaca muntah-muntah sampe butuh gayung tambahan #plak

oke! salam dari cameo!! HAYOO SIAPA YANG KANGEN SAMA HAN GEGE?! //angkattangan// >.<hangeng_png

yosh! Terima kasih sudah mau mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

41 thoughts on “From U

  1. akhirnya cerita tentang soo rin hamil ada juga, wahh kim ki bum suksess yaaa 😀
    kangen school romance nya juga tapinyaa
    ditunggu kisu kisu selanjutnya 😀

  2. Ahhhh ceritanya maniiiiisss banget ;u; Buat sequelnya sampaiong eon masa” kehamilan soorin sampai dia lahiran yaaaa *maksa* kkkkk

  3. OH MY GOSHHH.. kenapa soorin udah hamil aja?? spa yg berbuat jahat k dia?? hahahaha becanda thor.. wong dia udah punya suami toh.. wajar dong kalo hamil.. tp seingat aku ficlet2 sebelumnya ttg kisu-kisu soorin belum hamil kan thor.. bener ga thor spa tw aku lupa.. ehhh sekarang udah hamil aj.. thor selanjutnya pas mereka nikah dong.. aku penasaran acara pernikahan mereka sperti apa.. kan kemaren udah nyampe tunangan dan sekarang udah hamil yg nikah nya belom thor.. ditambah bulan madu jga ga pa2.. biar tambah romantis.. hehehe ya ya ya thor.. #puppy eyes#

    1. iyap! yg sebelumnya cuma masa mereka pacaran setelah….err..merit XD hahahah
      acaranya ya….bulan madunya juga……duh, kuat ga ya T/\T hahahahah aku usahakan dulu ya~ kkk makasih banyaaaaakk ><

      1. iy thor aku baru ingat.. mereka pacaran setelah nikah.. haha udah sebelum nikah pacaran setelah nikah masih aj pacaran #upssss hahaha piissss thor
        bulan madunya ga usah yg muluk2 thor.. bikin yg romantis aj pasti author kuat.. haha author kan plg jago bikin suasana romantis ala kisu2.. pokoknya kalo udah baca kisu2 bawaan nya pengen senyuuummm aj.. kaia org kasmaran.. wks

      2. gapapa lah.. yang penting dirimu senang #loh XD
        gitu ya…oke, aku usahain ya.. duh, gegara masukanmu aku jadi mulai bayangin yg hampir gapernah aku bayangin buat kisukisu #apa ;w; /ga
        makasih banyaaaaaaak lagi ya >/\<

  4. tambah cinta dan sayang sama kisu2 walaupun akan jadi orang tua tapi sisi romantis ala kisu2 tak prnah padam (?)

    kak, pengen tau dong waktu soorin ngidam. share ceritanya dong kak. please

  5. Akhirnya datang juga sorin hamil,,,,

    aku sependapat dngan yg lain, ingin tau cerita kisu yg mnikah, and ber bulan madu kkkkk

    pasti romantis bingit…..

  6. hyaaaaa udah mau punya baby >,<
    sukanya aku…,<
    yang penuh dengan air mata ,dan emosi ..
    *aishhh

    yo wes , tak tunggu part selanjutnya ❤

  7. Omomomo….dah hamil aja tuh Soo rin kkkkk…

    Kibum oppa jd suami koq keliatannya sempurna bgt bener2 meleleh aku dengan sikapnya Bumppa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s