Posted in Category Fiction, Fiction, PG-15, Romance, School Life, Vignette

Be Mine

Prev :: Why Me?!

bmCover

Genre :: School Life, (Absurd) Romance

Rated :: PG-15

Length :: Vignette

Recommended Songs :: Infinite – Be Mine, EXO – Heart Attack, Super Junior – U

||Another KiSoo’Story||

Happy reading, yoo! ^^.

ㅡㅡ

“I will make you fall in love with me.”

ㅡㅡ

SETELAH kejadian tak terduga itu, Soo Rin tidak berani untuk segera masuk ke dalam kelas dan memilih untuk mengurung diri di dalam toilet. Mengingat sekolah baru akan memulai waktu belajar-mengajar sekitar satu jam lagi, dan dia tidak mungkin menunggu di dalam kelas di mana lelaki itu pasti sedang berada di sana!

Di samping itu dia juga ingin meredakan detak jantungnya yang entah mengapa tidak berhenti meronta sampai-sampai dia harus meremas dada bagian kirinya tanpa jeda. Sepertinya Soo Rin harus memeriksa jantungnya ke klinik dekat rumahnya sepulang sekolah nanti, pikirnya kala mulai frustasi dengan perasaan asing yang berdampak pada kondisi jantungnya itu.

Soo Rin baru keluar dari toilet begitu mendengar suara bel masuk berdering yang menandakan bahwa dirinya sudah bertapa di dalam sana satu jam lamanya. Bahkan dia merasa seperti baru saja menjelajah ke dunia lain begitu keluar dari toilet dan melihat para murid sudah memenuhi koridor berlalu lalang menuju kelas masing-masing.

Dan Soo Rin harus bertemu dengan Kim Ra Na tepat di dekat pintu kelas bagian belakang. Gadis cantik itu sepertinya baru saja datang. Heol, enak sekali dia. Baru datang di saat Soo Rin sudah menjadi korban dari penangkapan basah oleh target mereka.

“Soo Rin-ah! Bagaimana? Kau berhasil, bukan?”

Sesuai dugaan bahwa Ra Na akan menyapanya dengan kata-kata itu.

“Ya… begitulah,” jawab Soo Rin lesu.

Aih, waee? Jawabanmu terdengar tidak meyakinkan!”

“Aku berhasil. Tenang saja. Aku hanya merasa lelah karena harus bangun lebih pagi.” Soo Rin sengaja menekan beberapa kata terakhir. Berharap gadis cantik di hadapannya itu mengerti dan mau meminta maaf. Atau setidaknya menghargai usahanya hari ini.

“Kau memang yang terbaik, Soo Rin-ah! Gomawo! Tenang saja, mulai hari ini kau akan makan gratis sampai bulan depan, eo?” Ra Na menepuk kedua bahu Soo Rin penuh perhatian. Yeah, setidaknya Soo Rin berhasil membuat gadis ini menghargai usahanya. Meski sebenarnya Soo Rin tidak begitu mengharapkan imbalan berupa makan gratis itu. “Omo, aku baru menyadari bahwa kau tidak memakai kacamata. Apa kau sudah memakai contact lens?”

Soo Rin kelabakan. Ugh, kenapa Ra Na harus bertanya seperti itu? Itu sama saja membuatnya kembali mengingat kejadian tadi pagi… astaga, jantungnya berulah lagi. Tepat ketika otaknya membayangkan wajah tegas itu begitu dekat dengannya. Dan Soo Rin tidak bisa berpikir demi mencari jawabannya!

Sial, kenapa efeknya bisa seperti ini?!

“Apa yang kalian lakukan di situ?”

Sejenak Soo Rin merasakan kelegaan mendengar suara berat itu menginterupsi mereka. Namun dia segera panik karena mendapati Guru Shim—guru Sastra Korea yang akan mengajar kelasnya itu—sudah berdiri di dekat mereka dengan tatapan menegur.

“Tidak dengar bel masuk sudah berbunyi sejak tadi? Cepat masuk!” tegas Guru Shim yang segera dituruti oleh mereka berdua.

Ne, Saem!”

****

Soo Rin hampir melukai keningnya kala menjatuhkan kepala ke atas meja dengan keras. Istirahat pertama baru saja berlangsung dan dia sudah merasa lelah. Bagaimana dia tidak merasa lelah karena harus bersikeras menajamkan pandangannya yang buram karena minus-nya itu demi menyalin materi yang ditulis guru di papan tulis. Dan hasilnya? Sudah dipastikan seperti apa. Lihat saja buku catatannya yang masih terbuka di atas mejany. Masih bersih.

Ya Tuhan, rasanya Soo Rin ingin berteriak karena saking frustasinya. Ini masih sampai di istirahat pertama. Masih ada sekitar 7 jam lagi sampai pulang sekolah dan dia harus menderita selama itu karena tidak memakai kacamata minusnya?! Kenapa lelaki itu tega sekali mengambil kacamatanya? Apa lelaki itu tidak kasihan melihat dirinya kesulitan mengikuti pelajaran karena tidak mampu melihat jarak jauh? Ugh, lagipula kenapa kala hari pertama masuk kelas ini di tahun ajaran baru dia tidak mengambil kursi paling depan dan memilih untuk duduk di barisan tengah? Setidaknya dia masih bisa melihat meski samar-samar jika duduk di depan dan tanpa kacamata.

Tunggu, apa Soo Rin baru saja berharap dikasihani oleh murid baru itu?

Tidak, tidak! Tidak boleh! Soo Rin tidak boleh mengharapkan itu. Setelah apa yang dilakukan si murid baru itu padanya tadi pagi, caranya merampas kacamatanya, dan ancamannya yang akan mengembalikan kacamatanya.

Selain membuat Soo Rin kesal, juga mampu membuat wajah Soo Rin memanas.

“Astaga, sepertinya aku sudah gila karena orang itu,” keluh Soo Rin, terdengar lesu dan frustasi.

“Siapa?”

Soo Rin terlonjak kaget hingga kembali menegakkan tubuhnya. Hampir melotot kala melihat keempat gadis itu sudah berdiri mengelilingi mejanya. Oh, bisakah orang-orang ini memberinya sedikit ketenangan hari ini? Soo Rin butuh meredakan gejolak emosi anehnya ini.

“Apa yang kau maksud… kami?” Hye Min menunjuk diri sendiri. Disusul dengan tatapan tak terima dari ketiga yang lain.

A-aniya! Aku hanya…” Soo Rin terpaksa memutar otak. Mencari alasan lain. Mana mungkin dia menjawab dengan jujur?

“Apa?” desak Hyun Ah.

“Hanya sedang kesal dengan orang yang menabrakku di tengah jalan tadi pagi!” akhirnya Soo Rin mampu mencetuskan alasan yang cukup masuk akal. “Karena orang itu, kacamataku rusak jadi tidak bisa dipakai lagi. Ough! Orang itu benar-benar membuatku gila! Aku jadi tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini,” tanpa sadar Soo Rin menjelaskan terlewat antusias yang membuat keempat gadis itu mengangkat alis tinggi-tinggi. Sedikit merasa heran.

“Pantas saja kau melepas kacamatamu,” gumam Ra Na akhirnya, memecah keheningan sesaat mereka. “Bahkan buku catatanmu terlihat seperti tak tersentuh.”

“Apa minusmu separah itu?” Hye Bin bersuara.

“Ya, begitulah.”

“Kenapa tidak memakai contact lens saja? Setidaknya kau tetap aman meski bertubrukan dengan orang.” Hye Min memberi usul. Yah, karena di antara mereka, Hye Min lah yang memakai contact lens karena matanya juga rabun jauh.

“Aku merasa lebih nyaman menggunakan kacamata,” lirih Soo Rin yang langsung mendapatkan helaan prihatin dari mereka.

“Bagaimana jika kau mengisi perut dulu? Setidaknya kita bisa pikirkan lagi nanti.” Hyun Ah segera menarik Soo Rin, menyuruh gadis berambut pendek itu untuk berdiri. “Ingat janji kita? Karena kau sudah membantu kami maka kau bisa makan sepuasnya di kantin!”

“Kau sudah melakukan yang terbaik!” Ra Na hampir berbisik kala mengucapkannya. Sesekali dirinya melirik ke belakang di mana si murid baru itu masih terduduk manis di tempatnya dengan kedua telinga mengenakan earphone.

Ough, dia terlihat sangat keren meski hanya seperti itu,” gumam Hye Bin memuja si murid baru itu.

Karena pada kenyataannya mereka berempat selalu mencuri-curi pandang ke sana. Berbeda dengan Soo Rin yang bersikeras untuk tidak menoleh ke belakang. Entah kenapa dia takut jika menoleh barang sedikit pun ke sana, akan membuat kinerja tubuhnya mengalami disfungsional seperti yang dia alami pagi tadi.

Oh, astaga, sejak kapan dia mengkhawatirkan hal ini? Hanya karena si murid baru itu?!

“Ah, sudahlah! Ayo kita ke kantin dulu!” Hye Min menginterupsi.

E-eo…” dan Soo Rin hanya pasrah ketika digiring oleh mereka beranjak menuju kantin. Yah, setidaknya dia bisa berpikir lebih jernih lagi. Sekaligus terhindar dari lelaki itu untuk sementara. Karena dia merasa… tengah diawasi oleh lelaki itu.

Percaya diri sekali dirimu, Park Soo Rin! gerutu Soo Rin setelah memikirkan hal aneh itu.

Tapi pada kenyataannya, Kim Ki Bum memang selalu mengawasinya. Merasa tergelitik melihat gadis itu tampak frustasi selama waktu belajar-mengajar berlangsung tadi, mendengar alasan yang keluar dari mulut gadis itu mengenai kondisinya yang tidak berkacamata, juga melihat gelagat gadis itu. Sangat menarik baginya.

Oh, sebenarnya Ki Bum tidak sedang mendengarkan musik maupun radio. Mengenakan earphone hanya untuk membuat batas supaya tidak ada yang mengganggu waktu istirahatnya saat ini, sekaligus tidak ada yang mengganggunya yang tengah memperhatikan gadis itu. Sampai gadis itu digiring keluar oleh teman-temannya.

Dan Ki Bum hanya mengulas senyum miring setelahnya. Hanya sekilas hingga tidak ada satupun yang melihatnya. Melihat senyum yang tergolong mematikan itu.

****

Bagaimana Soo Rin meminta pada lelaki itu untuk mengembalikan kacamatanya? Soo Rin masih ingat betul kata-kata lelaki itu sebelum pergi meninggalkannya bersamaan dengan membawa kabur kacamatanya. Dan lelaki itu benar-benar memegang kata-katanya karena dia benar-benar tidak mengembalikan kacamata Soo Rin. Bersikap layaknya lelaki yang acuh padanya sebagaimana yang dilakukannya selama ini. Sampai-sampai Soo Rin tidak menyangka dirinya pernah bertatap wajah dengan lelaki itu sekaligus berbicara dengannya.

Saking lama berpikir, Soo Rin harus menderita sampai jam sekolah berakhir karena tidak memiliki ide untuk meminta kembali kacamatanya dari tangan Kim Ki Bum. Soo Rin seperti murid yang tidak memiliki niat untuk bersekolah karena buku catatannya kosong semua. Dia tidak menulis hari ini!

Oh, tidak. Soo Rin tidak mau dicap sebagai murid yang malas menyalin materi pemberian guru-gurunya. Tapi Soo Rin juga tidak berani mendekati Kim Ki Bum untuk meminta kembali kacamatanya. Bagaimana ini?

Akhirnya, Soo Rin memilih untuk mengikuti lelaki itu ketika pulang sekolah. Diam-diam. Dia ingin menagih pada lelaki itu setelah jauh dari area sekolah. Di mana dirinya tidak perlu mengkhawatirkan akan ada yang melihat dirinya yang berani mendekati murid baru yang dingin namun menarik perhatian para kaum hawa itu.

Bahkan lelaki itu bersikap layaknya tidak pernah berurusan dengannya sebelumnya karena tidak pernah menyinggung hal tersebut sampai sekarang. Tega sekali lelaki itu!

Soo Rin melihat lelaki itu mengambil cokelat-cokelat milik keempat temannya dari dalam lokernya itu. Yeah, cokelat-cokelat yang Soo Rin letakkan di sana tadi pagi. Bahkan Soo Rin melihat ada bingkisan lain yang diambil dari sana. Sepertinya ada penggemar lain yang meletakkan hadiahnya ke dalam sana. Ini ‘kan White Day.

Kemudian lelaki itu pergi meninggalkan area loker, melangkah keluar gedung dan menelusuri koridor yang memang sudah sepi, menuju ke samping gedung di mana taman mini milik sekolah berada. Lalu, Soo Rin melihat lelaki itu menghampiri segerombolan siswa yang tengah berkumpul di sana. Yah, biasanya taman tersebut digunakan para siswa untuk berkumpul di tiap jam kosong sekolah. Berbeda dengan para siswi yang lebih memilih untuk berkumpul di lapangan bagian dalam selain di kantin pada jam kosong.

Soo Rin harus memicing begitu melihat lelaki itu menyerahkan bingkisan-bingkisan itu pada mereka. Dan para siswa itu dengan begitu antusiasnya menerima bingkisan-bingkisan tersebut kemudian membagi rata hingga tidak ada satu pun dari mereka yang tidak dapat.

Apa? Kim Ki Bum memberikan cokelat-cokelat itu untuk mereka?! Soo Rin mulai menyadari maksud dari tingkah lelaki itu. Meski dengan mata rabun, Soo Rin masih bisa melihat bahwa bingkisan yang dibawa oleh Ki Bum sudah berpindah ke tangan para siswa itu. Bagaimana bisa lelaki itu dengan mudahnya memberikan hadiah yang jelas ditujukan untuk dirinya sendiri, pada orang lain?!

Jangan katakan bahwa selama ini Ki Bum juga melakukan hal yang sama ketika mendapatkan hadiah-hadiah seperti itu.

“Astaga, lelaki itu memang tega sekali,” desis Soo Rin tak percaya.

Ki Bum berbalik badan, mata tajamnya segera mendapati gadis itu berdiri di sana. Dengan bodohnya gadis itu bergerak bersembunyi di balik dinding gedung. Mungkin berharap bahwa Ki Bum tidak akan melihatnya yang sedang memata-matai. Tapi, hei, sudah jelas bahwa Ki Bum menangkap basah gadis itu.

Soo Rin sendiri sudah merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Dia tidak tahu pasti apakah lelaki itu sempat melihatnya atau tidak, tapi batinnya berharap bahwa dia tidak ketahuan karena sudah memata-matai lelaki itu. Sempat Soo Rin berpikir untuk melarikan diri dari sana, tapi mengingat tujuan awalnya yang ingin menagih kacamata dari lelaki itu, membuat Soo Rin urung.

Begitu Soo Rin berbalik, hendak mengintip lagi, Soo Rin harus dikejutkan bahwa lelaki itu sudah muncul dari balik dinding. Dengan kedua tangan bersedekap, menatapnya dengan penuh intimidasi, yang jelas membuat Soo Rin kelabakan. Oh, dia memang sudah tertangkap basah.

Stalking me, huh?”

Soo Rin harus berpikir mencari arti dari ucapan lelaki itu. Namun karena mendengar suara itu terdengar datar dan dingin, membuat kinerja otak Soo Rin melambat. Astaga, lagipula kenapa lelaki ini memakai Bahasa Inggris?! Ini ‘kan di Korea Selatan! Apa lelaki ini sedang pamer kemahirannya dalam berbahasa Inggris? Benar-benar membuat Soo Rin geram saja.

“Aku hanya ingin menagih kacamataku!” Soo Rin memilih untuk to the point. Biarlah dia salah menjawab. Toh tujuannya memang itu.

Lagipula jawabanmu memang masuk akal, Park Soo Rin. Karena Ki Bum segera memamerkan seringai yang diperlihatkan di pagi hari tadi. Jelas membuat jantung Soo Rin berulah lagi.

Oh, tidak, tolong kuatkan Soo Rin!

“Ini?” Ki Bum memamerkan kacamata yang ternyata dia simpan di balik jas sekolahnya. Langsung saja Soo Rin bergerak hendak merebut benda itu. Tapi ternyata Ki Bum bergerak lebih cepat, mengangkat tangan yang memegang kacamata gadis itu tinggi-tinggi.

Ya! Kembalikan kacamataku!” bentak Soo Rin yang justru membuat lelaki itu menyeringai lebih lebar lagi. Apa dia tidak sadar bahwa tingkahnya itu—menjinjit hendak meraih kacamatanya—sudah menguntungkan Kim Ki Bum?

Karena Ki Bum segera merengkuh pinggang Soo Rin dan menarik tubuh ramping itu hingga jatuh ke dalam pelukannya. Jelas saja Soo Rin segera terpaku dan tubuhnya berubah kaku, sedangkan organ di dalam tubuhnya sudah bereaksi tak karuan karena merasakan sentuhan dari lelaki ini. Lihat saja efeknya yang sudah mulai tampak: wajahnya mulai merona.

“Bukankah sudah kubilang bahwa aku akan mengembalikannya setelah kau menjawabnya?”

“Me-menjawab apa?”

Perlu diketahui bahwa Soo Rin sudah menahan napas mendapati wajah tegas itu kembali berada tepat di hadapannya. Astaga, kenapa Kim Ki Bum harus sedekat ini dan kenapa pula tubuhnya bereaksi seperti ini? Rasanya ini begitu asing… tapi menyenangkan. Ugh, ada apa dengan Soo Rin?

“Apa aku harus mengulanginya?” Ki Bum menantang dengan halus. Senyum miringnya yang ditujukan khusus untuk gadis di pelukannya ini berhasil menimbulkan semakin jelas rona di kedua pipi gadis itu. Dan itu membuat Ki Bum merasa gemas hingga wajah tegasnya bergerak lebih maju. Bahkan tangan yang memegang kacamata Soo Rin kini bergerak turun demi memeluk punggung Soo Rin.

Membuat Soo Rin menelan saliva dengan susah payah hingga tanpa sadar mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tubuhnya bergetar merasakan sentuhan halus di punggungnya. Dan, astaga, mau apa lagi lelaki ini?! Soo Rin benar-benar kewalahan begitu mendapati sentuhan halus—sangat halus—di sudut bibirnya. Juga merasakan sesuatu menggesek pipinya yang sudah merona, dengan sangat halus. Dan dia merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya itu semakin mengetat seolah memeluknya dengan begitu posesif.

Jantungnya mulai menggila!

“Jadilah gadisku, maka aku akan mengembalikan kacamatamu,” gumam Ki Bum—seperti di pagi hari tadi. Dan ia menambah bumbu menggoda karena bibir penuhnya menyentuh sudut bibir gadis itu ketika bergerak berbicara. Hidung mancungnya itu mengendus seolah menghirup feromon yang menguar dari tubuh gadis ini, juga dengan sengaja menggesek halus permukaan kulit yang terasa begitu lembut. Yang sebenarnya sentuhan sehalus bulu ciptaannya itu tidak hanya membuat tubuh di pelukannya bergetar, tapi dirinya juga!

Dan sebenarnya batin Ki Bum berharap agar sisi primitifnya tidak lepas kendali meski pada dasarnya dia sendiri yang memulai lebih dulu.

“Kenapa aku…” lirih Soo Rin, nadanya tercekat karena reaksi tubuhnya terhadap perilaku Kim Ki Bum. Kaku, tapi juga tak bertenaga. Jika lelaki ini tidak memeluknya, sudah pasti tubuhnya akan rubuh karena lemas.

Ki Bum sudah membuat jarak setelah mendengar cicitan itu, menatap lekat wajah cantik yang sudah kaku berselimut rona kemerahan, lalu memberikan senyum yang—percayalah bahwa selama ini dia belum pernah memamerkannya pada siapapun. Well, pertanyaan yang konyol memang, bagi Ki Bum. Tapi sebenarnya itu adalah wajar karena selama ini keduanya tidak pernah saling bertatap wajah apalagi saling sapa meski berada dalam satu kelas. Jadi bagaimana bisa Ki Bum tiba-tiba menembak Soo Rin yang merupakan gadis yang tidak menarik juga tidak tertarik pada Kim Ki Bum?

“Entahlah,” jawab Ki Bum akhirnya, terdengar santai namun keningnya tampak berkerut samar menandakan dirinya sedikit berpikir. “Tapi pada kenyataannya, aku tidak menginginkan gadis lain. Selain dirimu.”

Baiklah. Meski sebenarnya jawaban itu tidak memuaskan, tapi pada kenyataannya jawaban singkat dan padat dari Ki Bum sudah membuat Soo Rin hampir merasa terbang. Sekaligus membuat jantung Soo Rin semakin merana saja. Oh, tidak, jangan katakan bahwa Soo Rin sudah terjebak dalam pesona lelaki tak dikenal ini.

So, what’s your answer?” tanya Ki Bum. “Ingin kacamatamu kembali, atau membiarkan aku menyitanya sampai waktu yang tidak ditentukan?”

Bagaimana Soo Rin harus menjawab? Di sisi lain dia tidak kenal lelaki ini, tapi di sisi lain dia sangat membutuhkan kacamata minusnya. Dan dia masih tidak mengerti kenapa lelaki ini begitu gencar menginginkan dirinya? Meski dengan cara halus, tapi… astaga, Soo Rin baru menyadari bahwa sorot tajam beriris hitam pekat itu mamancarkan keinginan dan harapan. Apakah lelaki ini… benar-benar menginginkannya? Tapi, kenapa? Sungguh, Soo Rin masih tidak habis pikir.

“Baiklah.”

Ki Bum mengerjap sekali. Menandakan bahwa dirinya sedang mencerna. Dia tidak salah dengar, bukan?

“Apa?”

Soo Rin menelan saliva. Batinnya berdoa semoga pilihannya ini yang terbaik. Well, ini demi mendapatkan kacamatanya kembali. Memangnya mau bagaimana lagi supaya dia bisa mendapatkannya? “Aku—aku menerimanya,” jawabnya kemudian, mencoba terdengar yakin.

Dan Soo Rin lagi-lagi harus diserang dengan pesona Kim Ki Bum. Lelaki ini tersenyum, sangat manis! Hingga Soo Rin bertaruh bahwa senyum itu tidak pernah terbit sebelumnya selain di hadapannya. Karena senyuman itu bagaikan sebuah harta karun yang baru saja dia temukan di dalam bumi antah berantah.

Ya Tuhan, tolong kuatkan Soo Rin, lebih kuat lagi!

“Ta-tapi… hanya kau dan aku… yang tahu.” Soo Rin mencoba memberi syarat. Berharap lelaki ini mengerti mengingat dirinya yang selalu digeromboli oleh empat gadis cantik yang tengah tergila-gila akan lelaki ini. Dan Soo Rin tidak mau mereka tahu. Toh, Soo Rin sendiri tidak suka yang namanya mengumbar suatu status hubungan karena baginya itu seperti berbuat pamer.

Dan, Kim Ki Bum memang mengerti maksud dari syarat gadis ini. Selain karena gadis-gadis itu, Ki Bum mengerti bahwa gadis ini belum sepenuhnya menerimanya. Itulah mengapa dia menyetujui syarat mudah ini dengan menjawab, “As your wish,” lalu berulah lagi dengan memberikan kecupan lembut dan penuh rasa pada hidung bangir Soo Rin sebelum kemudian melepas kurungannya demi memasangkan kacamata itu pada Soo Rin.

Jelas saja perlakuannya itu sukses membuat tubuh Soo Rin menegang karena terkesiap. Sekaligus membuat jantungnya bagaikan gunung berapi yang tengah meletus dan menumpahkan lava yang mendidihkan sekujur tubuhnya. Apalagi perlakuan Ki Bum yang memasangkan kacamata padanya dengan penuh kelembutan seolah lelaki ini tengah menunjukkan sisi perhatiannya. Sebelum kemudian Soo Rin merasakan kedua tangan besar itu merengkuh wajahnya, menuntunnya untuk menatap wajah tegas yang masih sangat dekat dari jarak pandangnya.

Demi Sandy yang bisa hidup di bawah laut, Soo Rin benar-benar terkesima melihat guratan-guratan halus pada wajah tegas itu—yang kini terlihat sangat jelas melalui kacamatanya. Dadanya terasa sesak karena tidak bisa menampik bahwa lelaki ini—sialnya—luar biasa tampan.

And I will make you fall in love with me. Just wait,” gumam Ki Bum penuh percaya diri.

Matilah kau, Park Soo Rin!

To make you mine, I’ll risk all that I’ve got
I’m going to lose it all
Take a note, the game has already started
Now I’m going to be your man
I’ll make you want me, be attached to be…
(Super Junior – U)

.

FIN


duh, ini apa sih ;__; ohya, ini sequel dari “Why Me?!”nya heheheh

aneh ya ㅠ_______ㅠ ikr~

dan, aku posting ini karena kemungkinan minggu ini belum bisa posting With You pt.9 dikarenakan…..hmm…belum ada mood buat nulisnya, ditambah aku mau melakukan perjalanan pulang ke Jakarta.. bayangkan, hampir 4 bulan aku di kampung dan aku baru mau balik bahahahah
sudah dipastikan aku gabakal langsung nulis begitu sampai Jakarta, aku pasti bakal ng-galau dulu & semangat nulisku bakal ilang sementara ;__; ini aja menjelang pulang mood mulai ga karuan.. maklum, aku orangnya perasa/? banget, jadi tolong pengertiannya yaa^^ hehet

oke! segitu aja~ ohya, mau sequel dari cerita absurd ini lagi? hng… ga usah lah ya, duhh, ini udah absurd banget apalagi Kim Ki Bum bad boy banget di sini huweeeeeeeeh bikin aku gemes sendiri ㅠㅠㅠㅠ hwhw

Terima kasih banyaaaaaak sudah mau mampir!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

34 thoughts on “Be Mine

  1. hahaaa…
    terjawab juga.. backstreet nih ceritanya? kalo ada waktu lanjut yaa.. penasaran ama reaksi temen2nya soorin kalo tau kisoo pacaran.
    ahh bacanya jdi inget sesuatu. hahaaa

  2. Dilanjut dong thor :3
    Masih pengen tau gimana cerita selanjutnya nih, hehehe
    Kibum ngegemesin deh disini >///<

  3. Waaa dilanjut dong kak, kereen beda dari cerita yang awalnya ki bum jadi secret admirer-nya soo rin. Ditunggu lanjutannyaaaa…….

  4. Annyeong^^
    aku pengunjung baru disini kak, Dan ff ini yg pertama aku Baca .
    ff nya 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
    Aaaaa sumpah jadi kangen sama kibum ㅠ.ㅠ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s