Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, Friendship, KiSoo FF "With You", PG, Romance

With You – Part 8

Pt.8 – Gonewithyou-cover

Genre :: Romance, Complicated, Family, Friendship, Angst

Rated :: PG

Length :: Chaptered

Recomended Songs :: BTOB – 아버지 (Father), Super Junior – 언젠가는 (Someday), Tae Yeon – Can You Hear Me, B2ST – Good Luck, T-Ara – Day By Day, Girls Generation – All My Love Is For You, JIN – 너만없다 (Gone)

||KiSoo’Story||

Happy reading, yoo! ^^

.

ㅡㅡ

“Even if you leave me far away, if I close my eyes, your heart will be near…”
(All My Love Is For You)

ㅡㅡ

.

SETELAH melihat Sae Hee yang hampir menangis di depannya, hingga melihat putrinya itu berlari ke dalam kamarnya, kini giliran Ji Woo memasuki ruangan tersebut, menghampiri Jin Young yang sedang memijit keningnya. Ia melihat pada tablet phone yang masih menerterakan foto yang sama. Membuatnya kini menatap nanar suaminya sebelum bergerak menyentuh sebelah pundak lebar sang suami.

“Aku pernah bertemu dengannya. Kau tahu? Dia adalah gadis yang penuh sopan santun dan sangat polos. Aku bahkan sempat merasa tidak menyangka bahwa putra kita mendapatkan gadis seperti dirinya, cantik, namun sangatlah kaku dan pemalu. Tapi, perlu kau ketahui bahwa dia adalah gadis yang jujur. Meski aku baru bertemu sekali dengannya, aku bisa melihat dari bahasa tubuhnya yang tidak dibuat-buat.”

Ji Woo mencoba untuk tersenyum kala melihat Jin Young yang tampak seperti tengah merenungi sesuatu. Tangannya yang menyentuh pundak lebar suaminya itu bergerak mengusap dengan lembut.

“Coba kau ingat kembali, apakah putra kita pernah membawa gadisnya datang kemari? Ah, aku lupa jika kau tidak selalu berada di rumah. Tapi jika kau ingin mendengar saksiku, Ki Bum tidak pernah membawa gadis itu kemari. Mereka melakukan hubungan yang sewajarnya. Aku tidak tahu pasti sudah berapa kali mereka berkencan, tapi ketahuilah bahwa mereka akhir-akhir ini menghabiskan waktu akhir pekan dengan belajar bersama. Lalu, mana yang salah di matamu?

Yeobo, tidak semua perempuan melihat lelaki hanya dari sisi materialnya. Dan, apa kau tidak menyadari bahwa putra kita sudah dewasa?” Ji Woo melakukan jeda sejenak. “Putra kita sangatlah pintar, Yeobo. Dia bisa membedakan mana yang baik atau tidak, mana yang tulus atau pura-pura. Apa kau tidak mempercayainya?”

“Ji Woo­-ya—

Yeobo…” Ji Woo segera memotong ucapan Jin Young. Beliau membungkuk demi menatap wajah tegas suaminya itu. “Jika kau masih meragukannya, kau bisa mempercayaiku. Sebagai sesama perempuan sekaligus seorang ibu, aku bisa merasakan kecocokan yang ada di diri mereka, dan Ki Bum sudah memilih gadis yang terbaik untuknya.”

Jin Young menatap lekat manik lembut yang begitu meneduhkan hati. Tidak ada keraguan di sana, dan melihat senyum lembut yang mengembang di wajah cantik nan anggun itu, membuatnya tak mampu untuk menampik.

“Tinggalkan aku. Aku ingin sendiri,” hanya itu yang terucap di mulut Jin Young. Beliau memilih untuk kembali memijit keningnya yang otomatis menutup sebagian wajah tegasnya.

Sedangkan Ji Woo hanya menggumam mengiyakan, memahami. “Panggillah aku jika kau membutuhkan sesuatu,” tanpa menunggu jawaban, beliau segera melangkah keluar dari ruangan tersebut. Membiarkan suaminya menenangkan diri.

.

Jin Young yang sudah terdiam mematung bermenit-menit lamanya, akhirnya meraih ponsel pintarnya. Mencoba menghubungi asisten terpercayanya itu.

Eo, Shin Dong Hee, batalkan rencana pemberian uangnya untuk gadis itu. Aku berubah pikiran,” tegasnya lalu memutuskan panggilannya begitu saja. Sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran.

Entah kenapa dia merasa kedua bahunya terasa begitu tegang sebelumnya.

****

Malam harinya, Ki Bum yang masih mengurung diri di kamar setelah bertemu sejenak dengan Sae Hee, kini memilih untuk keluar. Dengan bekal sebuah keputusan yang sudah dia pikirkan dengan sangat matang. Mengingat karena dirinya juga sudah berjanji akan mengutarakannya malam ini. Dan Ki Bum hendak menemui ayahnya kembali.

Tanpa berpikir dirinya melangkah menuju ruang kerja ayahnya. Instingnya mengatakan bahwa ayahnya berada di sana saat ini. Dan, dugaannya memang benar adanya. Kim Jin Young, sang ayah masih betah duduk di sana.

Karena sebenarnya Jin Young juga tengah mengurung diri sejak Ji Woo memarahinya kala di ruang tengah siang tadi.

Suasana berubah kembali tegang ketika ayah dan anak itu kembali berhadapan. Jin Young nyaris tidak mau melihat wajah putranya yang sudah ia tampar hingga menimbulkan luka di sana. Namun dengan modal tatapan mengintimidasi, Jin Young mampu memandang tepat ke manik mata Ki Bum. Dan pria paruh baya itu memilih untuk menunggu putranya membuka mulut lebih dulu.

“Aku sudah mengambil keputusan.” Ki Bum memang membuka mulut lebih dulu. “Aku akan mengambil Fakultas Kedokteran di Universitas Inha.”

Jin Young terhenyak dalam diam. Tertegun. Itu sudah pasti. Karena dia tidak menyangka bahwa putranya memiliki minat ke sana. Bagaimana bisa?

“Sejak kapan kau memiliki minat untuk belajar itu?” Jin Young bertanya dengan nada sinis. Terdengar meremehkan.

“Sejak aku bertemu dengan ayah Soo Rin yang berprofesi sebagai Dokter. Dokter Park Jung Soo,” jawab Ki Bum tanpa ragu.

Jin Young mendengus kasar. “Aku tidak percaya.”

“Awalnya aku juga begitu.” Ki Bum menyambar. “Aku berpikir bahwa keinginan itu bersifat sementara karena kekagumanku terhadap beliau. Tapi setelah Abeoji memberiku kesempatan untuk berpikir lagi, aku menyadari bahwa keinginan itu mendorongku untuk mempelajari bidang tersebut. Aku ingin menjadi seperti Dokter Park Jung Soo.”

Jin Young tersinggung. Bagaimana bisa putranya lebih memilih untuk menjadi seperti orang lain dibandingkan dirinya sendiri?

Ki Bum tersenyum hambar. Seolah mampu membaca perasaan sang ayah, ia melanjutkan, “Panutan bisa diambil dari mana saja, bukan? Karena di luar sana banyak sekali orang yang bisa kita jadikan sebagai contoh untuk menentukan masa depan sendiri. Dan aku memilih Dokter Park Jung Soo sebagai contohku, Abeoji. Karena itu, aku memilih untuk mengambil bidang ini. Dan aku sudah merasa sangat yakin dengan keputusanku.”

“Apa tujuanmu?”

Ki Bum mengerjap mendengar pertanyaan yang mulai menurun volumenya itu. Apakah ayahnya sudah menyerah?

“Aku ingin menjadi orang yang lebih berguna nanti.”

“Kau pikir menjadi sepertiku tidaklah berguna?”

“Bukan begitu, Abeoji. Semua pekerjaan di dunia ini sangatlah berguna bagi kelangsungan hidup. Bahkan pekerjaan yang haram pun bisa berguna bagi mereka yang bekerja dengan cara bersih. Tapi tidak semua manusia yang memiliki tujuan sama dan harus sama. Abeoji memiliki pekerjaan yang berguna, dan aku akan memiliki pekerjaan yang berguna namun berbeda. Karena manusia berhak memilih masa depannya masing-masing.

Pada kenyataannya, aku juga ingin berguna seperti Abeoji. Dunia perbankan yang Abeoji jalankan sangatlah menguntungkan masyarakat karena Abeoji memberikan jasa dalam bidang finansial untuk mereka—tidak, untuk kami. Tapi, menjadi berguna bagiku adalah jalan yang berbeda. Karena aku memiliki masa depan sendiri. Aku ingin memilih menjadi berguna bagi mereka… bagi Eomma, Sae Hee, juga Abeoji… dalam menjaga kelangsungan hidup yang lebih baik. Dan aku ingin menjadi orang pertama yang bisa menolong mereka yang sekarat.”

Hening adalah suasana mereka setelahnya. Jin Young merasa seperti tengah ditampar berkali-kali dengan segala tutur kata yang keluar dari mulut Ki Bum. Merasa terpana dengan penjelasan meyakinkan dari putranya itu. Seolah menyindirnya secara halus bahwa, mengapa putranya memiliki pemikiran yang lebih luas dibandingkan dirinya sendiri? Seolah memaksanya untuk membuka mata dengan umpatan, bagaimana bisa kau melakukan hal yang bisa saja merusak masa depan pada anakmu sendiri?

Ki Bum sendiri seolah tidak menginginkan balasan langsung dari Jin Young. Dia segera membungkuk untuk beliau sebelum berkata, “Terima kasih untuk kesempatan yang Abeoji berikan. Aku permisi,” lalu keluar dari ruangan begitu saja. Meninggalkan Jin Young yang tertegun di tempat duduknya.

Barulah Jin Young melemaskan kedua bahunya beberapa saat kemudian. Bergerak memijat keningnya yang berdenyut tanpa sebab.

.

.

Jin Young mengerti sekarang. Seberapa besar putranya berusaha menolak keinginannya dengan mengambil jalan ini. Semua itu berasal dari keinginannya sendiri. Jin Young dapat melihat keyakinan di mata tajam yang menurun darinya tadi. Sekaligus menurunkan sebuah ego di dalamnya.

Hanya saja, dia masih ingin memastikan lagi. Setelah berbagai laporan yang beliau dapat dari Shin Dong mengenai kondisi gadis itu selama seminggu setelahnya. Di mana gadis itu menjadi orang yang begitu tertekan karena beliau. Jin Young tahu bahwa gadis itu jatuh sakit. Melihat riwayat hidupnya yang ternyata gadis itu memiliki anemia.

Jin Young menyadari bahwa mereka tidak segera pulang di Hari Sabtu itu. Itulah mengapa beliau memerintah Shin Dong untuk pergi menjemput mereka. Ya, mereka. Jin Young membutuhkan kepastian. Beliau memang membatalkan pemberian kedua untuk gadis itu Minggu lalu. Tapi justru berniat untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Dengan membawa masalah ayah dari gadis itu, yang didapat dari informan Shin Dong.

Namun lagi-lagi, Jin Young harus merasakan yang namanya ditampar berkali-kali. Gadis itu juga sama mencengangkannya dengan putranya sendiri. Dengan wajah pucatnya, gadis itu mengutarakan isi hatinya tanpa cela pada Jin Young. Membuat Jin Young tak mampu untuk semakin menjatuhkan gadis itu karena pada kenyataannya, gadis itu memang tulus untuk putranya.

Dan lagi-lagi Jin Young disadarkan oleh orang yang lebih muda.

Jin Young tidak tahu bagaimana menanggapi berbagai kalimat jujur gadis itu, ditambah melihat gadis itu kembali ke sisi putranya, membuat Jin Young mencelos dan hampir merasa malu akibat perbuatannya sendiri. Itulah mengapa Jin Young memilih untuk mengusir mereka dengan cara halus bersamaan dengan menggumamkan sesuatu di dalam hati, bahwa Jin Young tidak akan memperpanjang hal ini lagi.

Jung Ji Woo masuk ke dalam ruangannya sesaat setelah dua insan itu keluar. Jin Young dapat melihat raut terharu sekaligus bangga yang dipancarkan seolah khusus untuknya. Mungkin istrinya sudah tahu akhir dari masalah ini. Itulah mengapa Ji Woo segera memeluk Jin Young yang masih terpaku di tempat duduk.

“Aku senang karena kau sudah menyadarinya, Yeobo,” adalah ucapan yang terdengar sangat halus dan penuh makna yang Ji Woo tujukan untuk Jin Young. Yang seketika meluluhkan hati kerasnya saat itu hingga tak diduga beliau akan mengatakan kalimat yang mencengangkan di telinga Ji Woo.

“Jangan biarkan dia pulang saat ini juga. Ini sudah malam.”

Mungkin Ji Woo seperti tengah mendengar kabar bahwa dunia ini sudah kembali ke masa peradaban Joseon. Wajah rupawannya itu menguarkan ekspresi tidak menduga setelah melepas pelukannya dan memandang Jin Young sangat aneh. Membuat Jin Young harus berdeham pelan seraya mengalih perhatian. Menghindari kontak mata istrinya.

Yeobo?”

“Cepat temui dia sebelum Ki Bum mengantarnya pulang!” Jin Young hampir mengucapkannya dengan ketus. Beliau seolah tengah mempertaruhkan harga dirinya kala mengucapkan kalimat itu. Namun gelagatnya tidak dihiraukan Ji Woo—sepertinya. Karena Jin Young mendengar istrinya itu memekik tertahan karena senang.

“Aku tahu bahwa kau memang pria yang baik!” puji Ji Woo sebelum keluar dari ruangan tersebut.

Meninggalkan Jin Young yang mendesah panjang karena masih menyimpan rasa yang jelas membuatnya tidak tenang.

.

Esoknya, Jin Young berniat untuk menemui putranya lagi. Awalnya Jin Young merasa ragu dengan sesuatu yang didapatnya semalaman berkat bantuan Shin Dong yang mampu mempermudahkannya untuk mendapatkannya. Dan sebenarnya Jin Young sudah melakukan hal ini sejak seminggu yang lalu. Setelah Ki Bum mengutarakan minat padanya. Hingga kemudian keraguannya menghilang kala Sae Hee datang menemuinya. Mengatakan sesuatu yang jelas membuat Jin Young terperangah.

Appa, jika Oppa tidak mau menggantikan posisi Appa nantinya, biarkan aku saja yang menggantikan Oppa untuk Appa nanti.”

“Apa maksudmu?”

Sae Hee tersenyum penuh minat. “Aku yakin Appa mengerti. Tapi, demi meyakinkan Appa, aku akan mengulanginya… bahwa aku bersedia untuk meneruskan usaha Appa nantinya.”

Jin Young segera menghampiri Sae Hee. Beliau menggeleng, antara tidak percaya sekaligus tidak mengerti. “Tidak, tidak. Kau tidak bisa melakukannya.”

“Aku bisa, Appa!” Sae Hee menyambar. “Aku tidak tahu apa minatku di masa depan nanti. Karena itu biarkan aku yang melakukannya. Aku akan melanjutkan pendidikanku di bidang bisnis nanti. Bisnis perbankan! Dan aku akan mengerti bagaimana cara memegang apa yang sudah Appa pegang nantinya.”

“Nak…” Jin Young menghela napas panjang. Melihat anak gadisnya bersikeras seperti ini, membuat Jin Young mengingat seperti apa penolakan Ki Bum mengenai hal ini hingga membuat anak gadisnya yang turun tangan. “Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Apalagi jika kau melakukannya dengan terpaksa. Aku—Appa tidak mau mengambil resiko dengan membiarkanmu untuk turun tangan…”

Di sisi lain, Sae Hee merasa hatinya menghangat mendengar tutur kata Jin Young yang melembut, penuh perhatian sekaligus rasa kasih sayang. Namun di sisi lain Sae Hee tidak setuju dengan alasan yang keluar dari mulut ayahnya itu. Bahkan sebelum dirinya menyemburkan protes, Sae Hee harus dibuat terpaku dengan suara helaan napas panjang.

Appa sudah mengerti, Nak. Oppa-mu sudah menyadarkan Appa. Dan Appa tidak ingin membuat anak-anak Appa tertekan hanya karena ambisiku yang tidak ingin melepas pekerjaan ini ke tangan orang lain. Appa ingin anak-anak Appa memilih masa depannya sesuai dengan keinginan sekaligus minatnya.”

You pretend to feel better after letting out a deep sigh. I can see your invisible tears. You don’t cry over your scarred heart with the painful wounds…

Sae Hee menggeleng cepat. “Appa, tolong jangan menyalahkan diri.”

“Tidak, Nak. Appa memang salah. Appa sudah salah sejak dulu. Appa bahkan sudah membuatmu…” Jin Young menghela napas berat. “Kecewa pada appa-mu sendiri…” lanjutnya terdengar sedih.

Sae Hee merasakan kedua matanya mulai memanas. Masih diingat dengan jelas kala dirinya mengutarakan kata itu di depan ayahnya sendiri. Sebuah rasa yang sudah tidak sanggup ia bendung lagi saat itu. Tapi Sae Hee sadar bahwa dia juga sudah menyinggung perasaan ayahnya sendiri. Dan Sae Hee menyesal telah mengutarakannya.

I made those scars but why do I keep blaming you? And your eyes showed you were tired but you hid it, such a liar. Your beaten hands, your wrinkled eyes, your lonely back… I’m not used to any of those. Maybe that’s why I was like that, that’s why I hurt you. Even your turned back seems like baggage that I left behind…

“Tapi, sungguh, aku menginginkan itu, Appa…” Sae Hee melirih. “Aku tidak memiliki minat lain untuk kujalani di pendidikan selanjutnya nanti…”

“Itu karena kau masih sangat muda, Sae Hee-ya,” kini Jin Young berani menyebut nama putrinya. “Kau masih memiliki banyak waktu untuk menentukan masa depanmu. Jangan gegabah,” titahnya terdengar lembut. Jin Young memberanikan diri untuk menyentuh puncak kepala sang putri, mengusapnya dengan sayang. “Appa sudah tidak menginginkan posisi ini untuk ditempatkan pada kalian nantinya.”

Sae Hee menunduk, yang saat itu juga air matanya jatuh hingga membuatnya terisak pelan. Jin Young mengerti apa yang tengah dirasakan putrinya ini. Karena itu Jin Young bergerak merengkuh tubuh Sae Hee dan mendekapnya dengan penuh kehangatan. Menepuk punggung kecil anak gadisnya itu dengan sayang—sayang seorang ayah. Batin Jin Young mendesah, kapan terakhir kali dirinya memeluk anaknya sendiri seperti ini?

Sae Hee sendiri merasa terkejut dengan perlakuan ayahnya yang tergolong langka. Ada perasaan hangat sekaligus lega yang menyelubungi benaknya karena kembali merasakan kehangatan seorang ayah. Dan Sae Hee segera menyamankan diri di pelukan ayahnya yang terasa menenangkannya. Batin Sae Hee mendesah, kapan terakhir kali dirinya merasakan pelukan sang ayah seperti ini?

Because he always pretended to be calm and smiled. Because he always pretended to be strong in front of me. I didn’t even think of it, I thought I would never see it. So I didn’t know about his lonely back. I didn’t know back then, I was too young. You must have been lonelier than anyone else but I didn’t approach you. Now I finally know, I hope it’s not too late. These are the words I wanted to say so much. I love you forever, my father…
(BTOB – Father)

 

****

Ki Bum memasuki ruangan Jin Young setelah diberi pesan dari Sae Hee. Dia baru saja mengantar Soo Rin pulang dan sempat mampir untuk sekedar mengobrol pada Park Jung Soo—ayah Soo Rin—yang ternyata sedang menjalani waktu liburnya. Karena biasanya beliau mendapat job di akhir pekan seperti ini. Begitu ia memasuki ruang kerja sang ayah, Ki Bum segera mendapati Kim Jin Young tengah berdiri menghadap jendela ruangan yang besar di sudut sana, memandang halaman depan rumah yang begitu luas.

Appa memanggilku?” Ki Bum mencoba untuk menyambut lebih dulu. Benar saja, Jin Young segera menoleh padanya lalu melangkah mendekatinya. Lebih tepatnya, mendekati meja kebesarannya, mengambil setumpuk berkas yang sudah dirangkap menjadi satu.

Ki Bum segera menerimanya setelah Jin Young menyerahkan padanya. Membaca halaman pertama—hanya halaman pertama, dan Ki Bum segera menangkap isi dari berkas di tangannya ini. Ki Bum melemparkan tatapan tak percaya untuk sang ayah. “Appa ingin aku masuk ke sana?” pertanyaan yang sama, yang ia lontarkan saat Jin Young menyerahkan artikel berupa Fakultas Managemen Bisnis di Universitas Inha beberapa minggu lalu.

Hanya saja, kini tidak ada tatapan tajam maupun menuntut dari Kim Jin Young untuknya. Pria paruh baya itu menghela napas sedikit panjang sebelum menjawab, “Ya,” dengan halus.

“Kenapa?” Ki Bum hampir mengucapnya dengan sinis. Dia tidak mengerti kenapa ayahnya berulah lagi. Apakah semalam itu hanyalah sebuah jeda sesaat yang dilakukan oleh beliau untuk kembali menyerangnya seperti sekarang ini? Mengingat hal itu membuat Ki Bum mendengus kasar. Apalagi ayahnya tidak langsung menjawab pertanyaannya. “Aku pikir Appa sudah menerimanya—”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Jin Young segera menyambar. “Appa hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik untuk minatmu itu.”

“Mendapatkan yang terbaik?” Ki Bum hampir mendesis. “Jika yang Appa maksud adalah supaya aku mendapatkan kampus dengan akreditasi terbaik, di sini masih banyak! Aku masih bisa mendapatkan Universitas Seoul jika Appa ingin aku belajar di Fakultas Kedokteran yang sangat menjamin!”

Jin Young tahu bahwa dampaknya akan seperti ini. Dan beliau sudah mempersiapkan sebuah benteng pertahanan agar dirinya tidak terpengaruh dengan amarah putranya yang kembali muncul—karena ulahnya.

“Jika kau ingin percaya, aku sudah melakukan ini sejak minggu lalu, Ki Bum-ah,” ujar Jin Young seraya menunggu perubahan ekspresi putranya itu.  Beliau melanjutkan, “Aku tahu bahwa di Negara kita masih banyak Fakultas Kedokteran yang berakreditas menjanjikan.  Tapi, aku merasa bahwa semua itu belumlah cukup untukku yang ingin membalas segala kesalahanku. Aku…” Jin Young mendesah berat. “Aku benar-benar ingin putraku mendapatkan yang terbaik. Menggapai minatnya dengan sangat baik dan menjadi orang yang lebih sukses dibandingkan ayahnya sendiri.”

Ada rasa terkejut terselip di diri Ki Bum mendengar suara melembut itu. Ki Bum menyadari bahwa ucapan yang keluar dari mulut sang ayahnya terdengar sungguh-sungguh. Hanya saja, Ki Bum masih belum mengerti kenapa ayahnya justru memilih jalan ini demi membantunya.

“Tapi kenapa harus di sana, Appa?” suara Ki Bum melemah. Ia sedang mencoba untuk mengontrol emosinya. “Kenapa aku harus ke luar negeri? Kenapa aku harus kembali ke sana? Aku tidak bisa, Appa…”

“Aku tahu,” Jin Young menatap Ki Bum penuh pemahaman. “Aku tahu bahwa kau tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

Ki Bum sedikit takjub dengan ucapan itu. Ia mendengus halus, mencoba menyembunyikan tawa. “Ya… aku memang tidak bisa meninggalkan Soo Rin begitu saja,” ujarnya memperjelas. “Dia berusaha keras untuk bisa mendapatkan Universitas Inha di mana Appa akan mendaftarkanku sebelumnya. Aku tidak mungkin membuatnya kecewa karena ini,” gumamnya melirih.

Jin Young yang menyadari kegelisahan itu, meraih bahu Ki Bum. Menepuknya perlahan. “Appa mengerti, Ki Bum-ah. Karena itu sebagai gantinya, Appa akan menjaganya selama kau berkuliah di sana. Untukmu.”

Kali ini Ki Bum benar-benar terkejut dengan pengakuan sang ayah. Suara yang melembut dan penuh dengan kehangatan itu, juga suara yang telah menguraikan kata-kata yang tak pernah terbayangkan olehnya, berhasil membuat Ki Bum terperangah sampai-sampai dirinya tidak percaya. Namun keraguan itu hanya bersarang sesaat karena Ki Bum melihat kesungguhan di balik pancaran tatapan tajam itu.

Appa akan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja hingga kau kembali lagi kemari,” tambah Jin Young terdengar begitu meyakinkan.

Appa…”

“Ki Bum-ah,” panggil Jin Young cepat, membuat lelaki itu segera tutup mulut. “Ini… adalah permintaan terakhir Appa. Setelah itu Appa tidak akan mengekangmu lagi dan akan menuruti semua keinginanmu.”

Ki Bum hampir melotot mendengar ayahnya seperti tengah memohon. Bolehkah dia mengatakan bahwa ini adalah kali pertama ayahnya memohon padanya?

Appa mengerti bahwa kau sudah dewasa dan kau pasti sudah mampu mengambil keputusan dengan baik dan benar. Tapi, Appa memohon… kabulkan permintaan terakhir Appa,” kini Jin Young benar-benar memohon pada putranya. Beliau bahkan memegang kedua lengan Ki Bum dengan penuh permohonan. Tidak ada paksaan demi sebuah ego, hanya… “Appa benar-benar ingin putra Appa mendapatkan yang paling terbaik dari yang dia inginkan.”

Ki Bum menundukkan pandangannya. Dia bingung, benar-benar bingung. Sampai-sampai dia kembali mendesah tak percaya ketika dirinya kembali menatap berkas yang masih berada di tangannya. “Tapi kenapa Appa menginginkanku untuk masuk ke sana? Ini adalah universitas yang terkenal dan pasti sangat sulit untuk bisa mendapatkannya. Bagaimana jika aku mengecewakan Appa nanti?”

Untuk pertama kalinya, Jin Young mengulas senyum di hadapan putranya. Senyum yang sarat akan kehangatan juga keyakinan. “Kau pikir Appa tidak pernah tahu? Kau adalah murid tercerdas di sekolahmu. Kau bahkan mendapatkan peringkat lima besar di Ujian Negara di California dulu.” Jin Young menepuk lengan Ki Bum dengan rasa bangga. “Appa percaya bahwa kau bisa mendapatkannya.”

Jin Young menatap Ki Bum yang sudah mematung di hadapannya. Memandangnya dengan begitu lekat. “Kau hanya butuh empat tahun di sana—tidak, tiga setengah tahun. Kau hanya butuh tiga setengah tahun di sana lalu kau bisa kembali lagi kemari.”

.

.

Ki Bum tidak bisa tidur di malam harinya. Bahkan tidak ada niatan untuk membaringkan tubuhnya yang—sebenarnya—sudah terasa lelah ke atas tempat tidurnya. Dia memaksa otaknya untuk berpikir demi mencari jalan keluar dari masalah baru ini. Bukan masalah yang separah sebelumnya, tapi setidaknya, masalah ini kembali memunculkan rasa kekhawatiran Ki Bum mengenai hubungannya dengan Soo Rin.

Kim Jin Young—ayahnya, memang tidak lagi menyinggung hubungannya dengan Soo Rin. Beliau justru menginginkan dirinya mendapatkan pendidikan yang terbaik demi memenuhi minatnya yang ingin berkecimpung ke dunia kedokteran. Tapi sama saja keinginan ayahnya itu berdampak pada dirinya juga diri Soo Rin.

California. Sang ayah menginginkan Ki Bum untuk berkuliah di California. Tempat di mana Ki Bum sempat dibesarkan di sana. Dan beliau menginginkan dirinya untuk mengambil School of Medicine di University of California, Los Angeles atau dikenal dengan singkatan UCLA. Di mana divisi tersebut terkenal dengan divisi David Geffen School of Medicine yang dalam waktu 50 tahun berhasil menjadi salah satu sekolah kedokteran yang prestisius di Amerika.

Awalnya Ki Bum mengira bahwa sang ayah menginginkan hal ini agar dirinya tidak berhubungan lagi dengan Soo Rin. Tapi mendengar bahwa ayahnya yang akan menjaga gadisnya jika dia bersedia mengabulkan permintaan—terakhir—ayahnya ini, juga melihat bahwa ayahnya tampak bersungguh-sungguh, Ki Bum mulai goyah.

Hingga akhirnya di pagi Hari Senin, Ki Bum tampak lesu serta merasakan kepalanya begitu pening karena tidak cukup tidur. Ia pun memilih untuk absen di waktu jam pelajaran pertama untuk berbaring di Ruang Kesehatan. Yang di saat itu juga, Ki Bum mengambil sebuah keputusan.

Ki Bum memilih untuk mengambil pengajuan ayahnya. Sekaligus ingin mengikat Soo Rin lebih jauh lagi.

Setelah sang ayah pulang dari kerjanya, Ki Bum menemui beliau yang sudah terduduk santai di ruang tengah begitu menyelesaikan makan malam. Mengutarakan keinginan pertama-nya pada sang ayah.

“Aku akan berkuliah di California, tapi aku ingin Appa mengabulkan permintaanku.”

Sontak Jin Young menegakkan tubuhnya, ada binar antusias di balik tatapan tajam beliau setelah mendengar persetujuan itu. “Apa? Katakan saja,” titahnya cepat.

“Aku ingin bertunangan dengan Soo Rin. Setelah Suneung usai nanti.”

Jung Ji Woo yang memang sedari tadi duduk di sebelah Jin Young, tersedak oleh minumannya.

Eomma!” Sae Hee yang baru saja keluar dari ruang makan segera menghampiri ibunya demi menenangkan beliau yang terbatuk-batuk. Sebenarnya dia juga terkejut dengan pengumuman kakaknya yang masih terdengar dari ruang makan tadi.

Jin Young berdeham sebelum berbicara. “Kau sudah memikirkannya dengan matang?” Jin Young sedikit ragu, jujur saja.

Ne. Aku sudah memikirkannya. Aku juga sudah mengatakannya pada Soo Rin dan dia mau.”

“Benarkah?” Ji Woo dan Sae Hee berseru kompak. Mereka hampir melotot. Oh, siapa yang akan menyangka bahwa gadis Kim Ki Bum akan menerima ajakan Ki Bum yang… bisa dikatakan sangat serius itu?

Ki Bum sendiri harus berdeham salah tingkah mendapati tatapan menuntut yang menghujaninya dari ketiga anggota keluarganya. Ditambah, ingatannya kembali berputar kala dirinya mengajak Soo Rin untuk bertunangan dengannya sebelum kemudian terjadi hal yang—kau-tahu-apa-itu.

“Baiklah. Aku rasa itu memang yang terbaik, jika kau mengkhawatirkannya karena akan kau tinggal.”

Ki Bum menyadari bahwa ucapan yang terdengar kaku itu secara samar tengah menggodanya. Apalagi melihat ibu dan adiknya itu juga tengah memandangnya dengan mengulum senyum penuh arti. Ki Bum hampir mendengus jengah jika tidak ingat siapa yang sedang ia hadapi saat ini.

.

.

“Tapi, Oppa akan meninggalkan Soo Rin Eonni setelahnya?”

Ki Bum menoleh pada Sae Hee yang terduduk bersila di atas tempat tidurnya. Saat ini Ki Bum tengah belajar dengan ditemani Sae Hee yang sejak tadi berceloteh mengajaknya bicara. Ki Bum kembali fokus pada buku pelajarannya.

Oppa hanya pergi untuk belajar. Bukan meninggalkannya.”

“Tapi itu sama saja. Oppa akan pergi sangat lama. Empat atau lima tahun. Bagaimana jika Eonni tidak bisa menunggu Oppa nantinya?” Sae Hee memicing karena tidak segera mendapatkan jawaban Ki Bum. Dia tahu pasti bahwa kakaknya itu sedang tidak tenggelam dalam buku-buku di hadapannya. Karena wajah tegas itu tampak termenung. “Oppa tidak melakukannya dengan gegabah, bukan?”

Ki Bum menghela napas panjang. “Aniya.”

“Apakah Eonni tahu soal ini?”

Ki Bum menoleh, menatap adiknya lagi. Ia menggeleng pelan. “Jangan beri tahu dia soal ini.”

“Kenapa?” ada nada tidak setuju kala Sae Hee mengucapkannya. Keningnya pun berkerut menandakan dirinya tidak suka.

Oppa hanya tidak ingin dia kecewa.”

“Apa bedanya jika pada akhirnya Soo Rin Eonni akan tahu?!”

“Cukup jangan beri tahu dia dalam waktu dekat ini. Biar Oppa yang memberi tahu.”

“Kapan?”

“Nanti.”

“Nanti itu kapan?!” Sae Hee mulai gemas dibuatnya.

Ki Bum sendiri juga mulai gemas karena terus didesak oleh adiknya. Sehingga dia hanya kembali menjawab. “Nanti,” lebih ditakankan lagi.

.

.

Tapi pada kenyataannya, Ki Bum sendiri tidak tahu bagaimana cara memberi tahu hal ini pada Soo Rin. Sampai-sampai dia terpaksa mengatakan pada gadis itu bahwa dirinya tetap mendaftar ke Universitas Inha. Hingga mereka melewati Ujian Masuk Universitas bernama Suneung itu, bahkan sampai acara pertunangan mereka terlaksana, Ki Bum tetap tidak mengatakannya pada Soo Rin.

Ki Bum bahkan melakukan ujian masuk Universitas California yang diadakan oleh Kedutaan Amerika di Korea Selatan secara diam-diam—beberapa hari setelah Suneung berlangsung. Tepatnya sehari setelah ia berkunjung ke rumah Soo Rin bersama kedua orang tuanya dalam rangka membicarakan masalah pertunangan tersebut. Kemudian dua hari setelah Hari Natal, Ki Bum mendapatkan panggilan dari Kedutaan Amerika untuk melakukan tahap pendaftaran UCLA selanjutnya. Melakukan wawancara dengan salah satu Dosen dari David Geffen School of Medicine UCLA melalui video call. Mungkin dilihat dari cara berbahasa Ki Bum yang fasih, serta cara berpikir Ki Bum yang cepat tanggap dalam menjawab segala pertanyaan yang diberikan oleh Dosen tersebut, Ki Bum langsung diperintahkan untuk segera datang ke UCLA demi mengurus data-data yang akan diberikan oleh pihak kampus. Yang menandakan bahwa Ki Bum sudah diterima menjadi mahasiswa di kampus bergengsi itu.

Karenanya, dua hari setelah acara pertunangan mereka berlangsung, di mana pengumuman hasil Suneung juga keluar, Ki Bum sudah berdiri di Bandara Incheon ditemani oleh keluarganya.

“Jangan lupa memberi kabar setelah kau mendarat di sana, eo?” titah Ji Woo seraya memeluk putra sulungnya itu.

Ne, Eomma.”

“Shin Dong Hee sudah berada di sana. Dia yang akan menjemputmu sekaligus menemanimu di sana nanti.” Jin Young menambahkan.

Ne.”

Jin Young mendekati Ki Bum, menepuk kedua bahu yang lebar seperti miliknya. Diam-diam beliau merasa takjub bahwa putranya sudah sebesar ini. Kapan terakhir kali beliau mengamati putra sulungnya ini tumbuh? Hingga kemudian ada rasa bersalah terselip di benak beliau begitu mengingat selama ini beliau hanya fokus pada pekerjaan dibandingkan pertumbuhan putranya… juga putrinya, mungkin.

“Terima kasih. Dan, maafkan Appa…”

Sejenak Ki Bum terpaku dengan ucapan penyesalan yang keluar dari sang ayah. Namun perasaan hangat itu segera menyelubunginya karena menyadari bahwa sang ayah sudah mengajaknya berdamai. Ki Bum pun mengangguk seraya membalas, “Aku juga, Appa. Maafkan aku.”

Geurae,” Jin Young segera memeluk Ki Bum. Menepuk-tepuk pundak lebar itu sebagaimana sang ayah menunjukkan kasih sayang pada putranya. “Appa akan memegang janji Appa. Kau tenang saja.”

Ki Bum mengangguk di pelukan sang ayah. Ya, dia juga akan memegang janji ayahnya dan mencoba untuk percaya.

Sae Hee mendekat setelah kedua orang tuanya memberi kesempatan. Langsung saja ia memeluk kakak satu-satunya itu. Wajah cantiknya sudah memerah karena menahan tangis. Ugh, siapa yang tidak sedih karena akan ditinggal oleh kakak tersayang?

Oppa, seringlah menghubungiku.”

“Jika Oppa tidak sibuk.”

Oppaa!”

Ki Bum terkekeh melihat adiknya merengut kesal setelah melepas pelukan mereka dengan paksa. Langsung saja ia menoyor kening Sae Hee dengan pelan, membuat bibir kecil itu semakin mengerucut lucu.

“Ah, Oppa sudah mengabari Soo Rin Eonni?”

Seketika senyum Ki Bum lenyap mendengar pertanyaan adiknya itu. Sae Hee yang melihat raut wajah itu berubah drastis segera memicing sebelum kemudian menyemprot sang kakak.

Oppa! Setidaknya kabari Eonni dan ucapkan salam perpisahan! Jangan pergi begitu saja!”

Ki Bum menarik napas panjang. Ki Bum menyadari bahwa keputusan untuk tidak memberi tahu Soo Rin adalah salah. Dia hanya tidak mau, apalagi membuat gadis itu kecewa. Tapi, bukankah jika dia tidak memberi tahu sama sekali justru membuat gadis itu semakin kecewa?

Itulah mengapa Ki Bum mengambil ponselnya kembali setelah masuk ke dalam ruang tunggu bandara, atau biasa disebut boarding lounge, setelah melakukan salam perpisahan dengan keluarganya. Dan melakukan panggilan gadis itu.

Yeoboseyo?

Ki Bum mengulas senyum begitu mendengar suara merdu itu terasa penuh semangat. Sepertinya gadis itu sedang berbahagia saat ini.

“Kau sudah melihat hasilnya?”

Um! Aku diterima di sana.”

Sejenak Ki Bum merasa lega mendengar kabar itu. Sepertinya perjuangan gadis itu tidak sia-sia, dan Ki Bum ikut merasa bangga meski tidak sebangga gadis itu. Karena kondisinya saat ini. “Begitu… syukurlah. Chukha hae.”

“Bagaimana denganmu?”

Ki Bum dapat merasakan antusiasme dari suara itu menurun. Sepertinya gadis itu tahu bahwa dirinya tidak antusias hari ini.

“Kau… juga diterima, bukan?”

Ki Bum merasa sulit untuk bernapas. Mendengar suara itu mulai terdengar lamat-lamat seolah tahu bahwa Ki Bum tidak bersemangat membuat dirinya merasa bersalah. Bahkan sebelum dirinya mengatakan yang sebenarnya, Ki Bum sudah merasa sangat bersalah.

“Kim Ki Bum—”

“Soo Rin-ah…” Ki Bum segera menyambar.

“W-wae?

Dia bertekad untuk mengatakannya sekarang. Ya… meski dengan berat hati.

“Aku tidak mendaftar ke sana…”

Hening adalah jawaban langsung yang Ki Bum dapat. Ki Bum harus menggigit bibir bawahnya sesaat kala tidak langsung mendapatkan jawabannya.

“Apa maksudmu…”

Dan Ki Bum seperti ditohok benda tumpul dengan kerasnya kala mendengar suara merdu itu sudah melirih.

“Aku akan pergi ke California.”

Ki Bum mencelos karena mendapatkan keheningan lagi. Dia tahu pasti bahwa gadisnya itu sedang terkejut bukan main. Baru saja dirinya hendak membuka suara lagi kala sebuah suara menginterupsi lebih dulu.

Selamat siang. Ini adalah pengumuman bagi para penumpang penerbangan KE703 menuju Los Angeles. Penerbangan akan dimulai sekitar sepuluh menit lagi. Mohon untuk para penumpang harap segera masuk

TRAK

Ki Bum yang sempat terpaku dengan pengumuman penerbangannya itu harus terkejut kala mendengar suara benturan keras di seberang sana.

“Soo Rin-ah!!

Noona!!

Dan mulai dibuat panik kala mendengar suara teriakan di seberang sana. Ada apa? Ada apa dengan gadisnya?

“Soo Rin-ah?” Ki Bum semakin panik kala tidak mendapat jawaban langsung. “Yeoboseyo? Soo Rin-ah!”

Yeoboseyo?

Ki Bum harus dibuat bingung mendapati suara di seberang sana bukanlah suara Soo Rin lagi. Melainkan suara… Nyonya Park?

Eo-eomoni?

“Eo, Ki Bum-ah. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

Aniyo, hanya…” Ki Bum kebingungan. “Eomoni, di mana Soo Rin?”

“Dia pergi begitu saja setelah menjatuhkan ponselnya ini. Henry sedang mengejarnya…  tapi Ki Bum-ah, ada apa? Kalian sedang ada masalah?”

Ki Bum lemas seketika.

Setelah menjelaskan apa yang tengah terjadi kepada ibu Soo Rin dan memutus panggilannya, Ki Bum merasakan kepalanya berdenyut hingga dia harus memijit kening hingga batang hidungnya. Astaga, sepertinya gadis itu sedang menuju kemari setelah mendengar kabarnya ini. Memangnya ke mana lagi? Setelah mendengar penjelasan ibu gadis itu bahwa Soo Rin terlihat kalang kabut keluar dari rumah kala dirinya melakukan panggilan. Ia pun segera melakukan panggilan lagi, kini Ki Bum menelepon adiknya.

Oppa, ada apa?”

“Sae Hee-ya, kau masih di bandara?”

Eo. Aku sedang menunggu Appa mengambil mobil.”

“Maukah kau menolong Oppa?”

“Apa? Katakan saja, Oppa.”

“Bisakah kau tidak langsung pulang? Antarkan Soo Rin pulang, nanti.”

Ada jeda sesaat di seberang sana.Eo-eonni akan kemari?”

“Sedang menuju kemari,” ralat Ki Bum dengan suara lirihnya.

Dan Ki Bum mendengar desahan panjang di seberang sana. Pasti adiknya juga tengah merasa cemas kini.

“Maafkan Oppa.”

Mwoyaa, jangan meminta maaf padaku tapi pada Soo Rin Eonni! Aku akan menjelaskan padanya nanti. Aku akan menunggu Soo Rin Eonni datang.”

“Terima kasih.” Ki Bum memutus panggilannya setelah mendengar balasan dari Sae Hee. Tapi dia masih merasakan kecemasan yang sama. Mengingat pengumuman yang sudah terdengar beberapa menit lalu, Ki Bum segera memasuki aviobridge atau jembatan yang menyerupai belalai untuk masuk ke dalam pesawat. Dengan berat hati.

Ki Bum memilih untuk mengutak-atik ponselnya lagi. Karena sumber kecemasannya hanya satu, dia belum memberi salam untuk gadisnya. Mengingat gadis itu sudah membuang ponselnya dan meninggalkannya, Ki Bum memilih untuk melakukan pesan suara.

“Soo Rin-ah…” adalah yang pertama keluar dari mulut Ki Bum begitu pesan suara diaktifkan. “Maafkan aku,” dan itu adalah yang kedua. Tanpa sadar Ki Bum memperlambat langkahnya, tepat sebelum dirinya melangkah masuk ke dalam pesawat. “Seharusnya aku memberi tahu padamu sejak awal. Appa menginginkanku mendapatkan kuliah yang terbaik. Pada awalnya aku menolak ide ini karena—karena jelas aku tidak mau meninggalkanmu untuk jangka waktu yang lama… cukup lama,” suara Ki Bum melirih kala mengucapkan dua kata terakhir itu. “Melihatmu berusaha keras untuk bisa mendapatkan universitas itu, membuatku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya padamu. Karena aku tidak akan bisa melihatmu kecewa. Dan aku menyadari bahwa, kau pasti sedang kecewa sekarang.”

Tanpa sadar Ki Bum sudah terduduk di kursi VIP-nya. Kursi yang sudah dipesankan oleh sang ayah demi kenyamanannya dalam perjalanan yang akan sangat panjang ini.

Karena Ki Bum hanya peduli dengan pesan suara yang tengah dilakukannya.

“Tapi mengingat Appa sudah mengizinkanku untuk berkuliah kedokteran, dan beliau bersedia membiayaiku untuk berkuliah di sana, aku memilih untuk menerimanya. Dan sebagai gantinya, Appa berjanji akan menjagamu selama aku pergi.”

Oh, astaga, Ki Bum hampir tidak sanggup melanjutkannya. Dia merasa ruangan dalam pesawat ini kedap udara hingga dirinya seperti sulit bernapas.

“Aku tahu bahwa aku adalah lelaki yang buruk. Tapi, maukah kau menunggu lelaki buruk ini? Karena aku akan segera kembali sebagai lelaki yang lebih dewasa. Untukmu. Begitu aku menyelesaikan studiku, aku akan segera menemuimu.” Dan Ki Bum harus melihat seorang pramugari sudah memberi isyarat padanya untuk segera mematikan ponselnya karena pesawat akan segera lepas landas. Ki Bum pun memberi isyarat bahwa dia membutuhkan waktu sebentar lagi, dengan menggerakkan satu jari telunjuknya. Maka pramugari itu mengangguk paham dan beralih pada penumpang yang lain.

“Aku harus segera pergi. Dan, aku mencintaimu… Aku akan mendengarmu mengatakan itu nanti.”

Barulah Ki Bum melepas ponsel pintarnya dari telinga. Mengirim pesan tersebut pada nomor ponsel Soo Rin. Kemudian menonaktifkan ponselnya. Selanjutnya, Ki Bum hanya mampu menopang keningnya dengan sebelah tangan, memejamkan mata yang terasa panas, sekaligus menghela napas berat. Sangat berat.

****

Soo Rin melepas ponselnya dari daun telinga, setelah mendengar sebuah pesan suara yang masuk sekitar satu jam yang lalu itu. Kedua matanya yang sudah memerah tidak memancarkan sinar apapun; memancarkan pandangan kosong. Dan ia hanya meletakkan ponselnya di tempat tidurnya begitu saja. Tubuhnya kembali lemas dan hanya sanggup terduduk di atas tempat tidurnya.

Sae Hee yang belum berniat pulang setelah mengantarkan Soo Rin pulang, masih berdiri di dekat pintu kamar Soo Rin yang terbuka hanya setengah, bersama Henry. Mengawasi sosok gadis yang bagaikan sudah tak bernyawa duduk mengenaskan di atas tempat tidurnya. Sungguh, dia tidak kuasa melihat gadis itu terlihat sangat terpukul sampai-sampai tidak merasakan apapun lagi.

Hampa. Kosong. Kebas.

Henry yang tidak bisa menahannya lagi, akhirnya melangkah masuk dan berjongkok di depan kakak sepupunya itu. Meraih tangan yang terasa dingin seperti tidak ada darah yang mengalir di balik kulit putih itu. Memandang nanar wajah cantik yang sudah tidak terlihat ronanya. Pucat pasi. Dan Henry sangat tahu bahwa noona-nya ini sedang terguncang secara batin.

Noona, aku mohon jangan seperti ini. Jika Noona ingin mengeluarkannya, keluarkan saja,” titah Henry dengan sangat halus. Mencoba menuntun Soo Rin. Henry menggenggam kedua tangan itu semakin erat, mencoba memberi kehangatan. “Noona, aku ada di sini. Aku akan menemani Noona, eo? Keluarkan saja, Noona.”

Mendengar dorongan yang sarat akan frustasi itu, ternyata mampu mencairkan kebekuan Soo Rin. Mata yang kosong bagaikan tidak ada sinar di sana, bergerak membalas tatapan hangat namun nanar milik Henry. Tatapan yang sarat akan permohonan itu, berhasil membobol pertahanan terakhir Soo Rin. Satu persatu bulir bening itu tumpah dari pelupuknya, mengaliri kedua pipi pucatnya. Seolah baru saja mendapatkan harta karun, Henry tersenyum sekaligus mengangguk penuh pengertian.

“Ya. Seperti itu, Noona…”

Dan hancur sudah pertahanan terakhir Soo Rin. Gadis itu seperti kehilangan kemampuan bernapas hingga bahunya bergetar hebat. Hingga pada hembusan yang entah keberapa dan terdengar begitu kasar, suara isakannya pecah dan Soo Rin menangis kencang. Langsung saja Henry beralih menjadi duduk di samping Soo Rin dan segera memeluk tubuh yang sudah rapuh sejak tadi. Menepuk dengan sayang punggung sang kakak, Henry pun tak kuasa mendengar raungan yang terdengar menyakitkan itu, memicu rasa sakit di tenggorokannya karena menahan sesuatu yang ingin menyeruak.

Ya Tuhan, ini adalah kali pertama Henry melihat kakak sepupunya menangis hebat karena kehilangan.

Bahkan Sae Hee yang masih berdiri di ambang pintu kamar, membekap mulutnya demi meredam sesuatu yang ingin keluar. Gadis itu sudah tidak bisa menahannya lagi, ikut menangis melihat pemandangan menyedihkan itu.

Sama seperti Henry, ini adalah kali pertama ia melihat gadis itu menangis hebat… karena ditinggal oleh kekasihnya. Yang tak lain adalah kakak dari Sae Hee sendiri.

At the thought of you leaving, again tears fall. Please tell me you will return so our love can be forever. You leave me and go far far away, follow that road and disappear. At the end of this crazy love is the dangerous cliff, I was infected by this tough love and kept trembling. I hope my lips that recite this sad poem will be remembered in your black eyes…
(T-Ara – Day By Day)

&&&

Pupil di balik kelopak yang terkatup rapat itu mulai bergerak menandakan bahwa sang empu mulai terasadar dari lelapnya. Tak lama, mata itu terbuka perlahan, membiarkan bias cahaya menyerbu hingga ia tidak kuat menampungnya sehingga harus mengerjap beberapa kali demi membiasakan diri. Kepalanya bergerak menoleh ke arah jendela kamar yang lupa dia tutup tirai gelapnya semalam. Sebelah tangannya ikut membantu menghalau kilauan cahaya matahari pagi yang seenaknya masuk dan mengganggu penglihatannya yang masih kacau.

Mengingat ini sudah pagi, sudah pukul berapa sekarang?

Gadis itu segera meraih ponselnya yang ia letakkan di sebelah bantalnya. Well, padahal biasanya dia akan meletakkan ponselnya di atas nakas yang terletak di sebelah tempat tidur. Tapi kali ini tidak dilakukannya mengingat nakas tidak ada di samping tempat tidur ini.

Karena ini bukan kamarnya.

Ugh…” ini masih pukul setengah delapan pagi, tapi kenapa sudah terang sekali? Gadis itu melanjutkan gerutuannya di dalam hati.

Tapi sudahlah, lagipula dia masih ingat bahwa dia sedang berada bukan di rumah sendiri. Karena itu dia memilih untuk segera mendudukkan diri. Menutup mulut yang terbuka menguap dengan tangan sebelum meregangkan tubuh, mengumpulkan nyawa.

Kemudian barulah mata kecoklatannya itu bergerak berkeliling. Menelusuri tiap sudut dan sisi ruangan ini. Hingga seulas senyum terpatri di bibirnya.

Tidak ada yang berubah. Dan dia masih merasakan bau khas kamar ini meski sudah ditinggalkan serta berganti ditempati olehnya.

Setidaknya tempat ini adalah satu-satunya yang bisa ia pakai untuk melepas rindu akan lelaki itu.

Aah, lelaki? Sepertinya dia sudah tumbuh sebagai seorang pria sekarang, dan gadis itu terkekeh dalam hati menyadari hal itu. Yang ternyata mampu mengembangkan senyumnya lebih lebar lagi di pagi hari ini.

.

.

“Ah, Eonni! Selamat pagi!”

Gadis itu tersenyum menyambut sapaan dari seorang gadis cantik yang tengah membawa senampan roti panggang dari dapur.

“Selamat pagi, Sae Hee-ya! Tumben sekali kau sudah bangun sepagi ini?” godanya yang tak disangka mendapat balasan menantang dari Sae Hee.

“Tentu saja. Aku sedang membuat sarapan spesial untuk Eonni!”

Gadis itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Belum sempat dia membalas, matanya keburu menangkap sosok Jung Ji Woo yang juga baru keluar dari dapur. Langsung saja ia menyapa wantia paruh baya itu. “Selamat pagi, Eomoni!”

“Selamat pagi, Soo Rin-ah! Bagaimana tidurmu semalam?”

“Nyenyak,” balas gadis itu—yang dipanggil Soo Rin oleh Ji Woo.

Jinjjaa?” Sae Hee memicing. Ia segera menghampiri Soo Rin setelah meletakkan nampan bawaannya ke atas meja makan. Menangkup wajah yang tirus itu dan sedikit menghentaknya untuk mendekat. Mengamatinya. “Ough, Eonni tahu? Eonni seperti sedang ingin berubah menjadi zombie. Apakah tugas kuliah Eonni begitu melelahkan?”

Soo Rin mengerjap gugup. “Ya… begitulah. Tapi sungguh, aku tidur sangat nyenyak semalam.”

Sae Hee tersenyum penuh arti. Ya, selalu seperti ini jawaban gadis di hadapannya. Padahal Sae Hee tahu bahwa gadis ini sedang berdusta. Lihat saja kedua matanya yang tampak bengkak seperti habis menangis, bukan tidur nyenyak. Mungkin tidak hanya dirinya, Jung Ji Woo juga sepertinya tahu. Tapi, mereka memilih untuk memberikan senyum terbaik untuk gadis ini.

Cah, sudah siap! Kaja, yaedeul-ah, kita sarapan!” Ji Woo memilih untuk mengubah topik. Beliau segera menarik mereka untuk duduk di meja makan.

“Di mana Abeonim?” Soo Rin menyadari  ketidaklengkapan di meja makan.

“Aku datang.”

Seketika ketiganya menoleh pada sosok pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruang makan. Jin Young—beliau segera menduduki kursi miliknya. Menebar senyum hangat pada mereka yang menyambutnya dengan senyum hangat pula. Kemudian beliau memberikan perhatian penuh pada Soo Rin. “Sudah merindukan Abeonim-mu ini, eh?”

Soo Rin memamerkan cengiran andalannya. Selalu itu yang dia tunjukkan setiap mendapatkan pertanyaan yang sama dari Kim Jin Young. Membuat beliau terkekeh lepas melihatnya. Begitu juga dengan Ji Woo dan Sae Hee.

Setidaknya, seperti inilah kegiatan Soo Rin dalam menghabiskan waktu akhir pekan sejak menjadi seorang mahasiswi. Menginap di rumah Sae Hee dan bercengkerama banyak bersama mereka. Bahkan dapat dilihat dengan jelas hubungannya dengan Kim Jin Young yang sudah terlihat seperti ayah dan anak. Sungguh akrab dan menunjukkan bahwa mereka—sudah—saling menerima.

Dan Soo Rin baru akan pulang di waktu menjelang sore. Memilih untuk naik subway dibandingkan diantar oleh supir dari Keluarga Kim. Berjalan menelusuri jalanan komplek untuk menuju ke jalan besar di mana halte terdekat berada.

Waktu berlalu… terkadang cepat, terkadang lambat. Seperti itulah yang Soo Rin rasakan. Terasa cepat jika dia sedang disibukkan dengan tugas kuliah, tapi akan berubah lambat setelah terlepas dari itu semua. Dan sebenarnya Soo Rin lebih banyak merasakan kelambatan dibandingkan kecepatan.

Dia bahkan tidak menyangka sudah melewati musim gugur yang ketiga dalam keadaan seperti ini. Baru disadari ketika turun dari subway karena disambut oleh angin yang sudah terasa dingin. Berjalan menelusuri jalanan yang sama… jalanan menuju ke rumahnya. Seorang diri.

Masih diingatnya dengan jelas terakhir kali berjalan menelusuri jalanan ini bersama lelaki itu setelah berkencan—dulu. Tak disangka bahwa itu merupakan momen terakhir sebelum lelaki itu pergi jauh. Karena setelahnya, mereka tidak lagi menelusuri jalanan ini dengan berjalan kaki. Di mana mereka bercengkerama, dengan tangan saling menggenggam, saling melempar senyum. Setelahnya mereka disibukkan dengan urusan sekolah, juga disibukkan dengan merapuhnya hubungan mereka.

Tapi, mereka berhasil memperbaikinya. Menyembuhkan kerapuhan mereka dengan kepercayaan serta perasaan yang sama. Menyatukannya dengan sebuah simbol yang lebih kuat.

Soo Rin mengacungkan satu tangannya ke depan wajah. Tangan di mana salah satu jarinya tersemat sebuah cincin rose gold yang polos namun sangat indah menghiasi jari manisnya. Tapi, itu bukan hanya sekedar hiasan. Itu merupakan simbolnya. Simbol hubungannya dengan lelaki itu. Oh, tidak hanya itu, bahkan di pergelangan tangannya itu masih terpasang gelang yang memiliki pasangan di mana pasangannya ada di tangan lelaki itu.

couple-bracelet

“Hampir tiga tahun…” gumamnya. Menatap nanar cincin tersebut. Sebelum kemudian mendengak menatap langit sore yang membentang luas di atas sana. Berharap dirinya mampu menggambar sosok yang masih sangat jelas membayanginya selama ini—di permukaan langit yang cukup keruh di penghujung musim gugur ini.

Apa aku harus menunggu dua tahun lagi?

Merely resembling your words. Merely resembling your smiles. Merely resembling you… How am I supposed to erase you alone and live when I miss you so much? Your name, which I was barely allowed to speak, can’t be erased. My name, only used by you, is asleep here. In the place where we were together, in those moments where we could’ve walked together, I’m holding onto myself alone. In this place, even our future, my wishes have stopped. I’m standing here and you are gone…
(Jin – Gone)

.

To Be Continued?


hyaaaaaaaaa’ampun!

jujur aku nangis pas bikin beberapa scene di sini, waktu bagian Saehee sama bapaknya, bagian Kibum pamitan sama Soorin, bagian Henry meluk Soorin, daaaaaaann bagian akhir dari part ini huweeeeeeeeeeehh ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
lebay ah -_- pasti yang baca ga begitu hahahah apalagi ini part kebanyakan flashback duhh, maaf ya kalo membosankan ㅠ/\ㅠ

trus bagian Kibum daftar ke UCLA itu, tahap2nya aku ngarang loh.. jadi maaf ya kalo kesannya aneh.. duh, maklum wawasanku masih belepotan sebagaimana Lee Dongek yg masih belepotan English-nya (?) ;_;

well, aku sendiri ga nyangka ceritanya bakal jadi begini hahahah dulu tuh rencananya mau dibikin ending mereka macam dongeng yang happily ever after #cuih-.- tapi duh, ga greget ya… jadi mending sampe sini aja ya? bahahahah

ngga deng, 1 part lagi kok…..maybe XD

ditunggu aja yaa~ kalo mau ^^

Oke! Terima kasih banyaaaaaaakk sudah mampir!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

25 thoughts on “With You – Part 8

  1. Bner2 nyesek pas bcanya kasihan bgt soo rin d tinggal kibum 3 atau 4 thun lma bgt,dan appa kibum dah tobat dan sngat sayang ama soo rin,kibum cpatan pulang jg buat soo rin mnuggu lma

  2. tik tok tik tok yg namanya menunggu itu emang menyakitkan apalagi nunggu cowok yg kita suka itu peka aduhhh itu impossible bgt kayanya #curcol:D
    Sabar ya Soorin kamu harus nunggu Kibum selesai kuliah selama bertahun” tp tenang aja nanti dia juga kembali lg kepelukanmu nak cup cup ah;D
    Jinyoung appa itu sebenernya sosok ayah yg penyayang & bijaksana tp dia mungkin sedikit salah dalam membesarkan anaknya yg harus nurutin semua kemauan dia #soktaudehaku wkwk…

  3. Ouw ternyata appa ki bum sebenarnya udah nyetujuin cuma mau madti in aja kalo soo rin bener2 tulus. Ki bum kenapa gak ngomong sih sama soo rin kalo dia daftar di california.
    Nyesek banget eeeh sampe nangis mlh pas soo rin dinasehatin sama henry kalo harus ngeluarin semuannya aja.

    Tapi gak kerasa udah 3 tahun aja soo rin nunggu ki bum. Ouw sekarang soo rin deket bgt ya sama appa ki bum. Yang sabar ya soo rin nunggu ki bum.

  4. Yang bikin mewek itu pas scene soorin menumpahkan semuanya di pelukan henry huwa air mata mengalir neehh.. Tapi yg bikin seneng akhirnya jin young sadar juga hohoho bahkan udh nganggap soorin kaya anaknya sndr 🙂

  5. Hi…saya pembaca baru d sini…

    Salam kenal ea…:)

    nyesek bangt bacanya…;(

    sabr ea sorin eoni…!

    D tunggu ea lanjutannya..!!! Cumungut;)?

  6. (╥_╥) sedih bgt nih thor…
    Soo rin ditinggal pergi kuliah sama Kibum oppa…
    Yg sabar yah buat nunggu Bumppa nya…
    Yg terpenting semuanya dah restuin…

  7. TBC -_-

    Huaa ternyata seperti tiu ceritanya.. Sekarang jin young apa emang udh baik bgt..

    Semoga kehidupn kedpn nya mereka tetap bahagia wkwkkwk

  8. Annyeong …
    aku pembaca baru disini …
    duh ceritanya bikin mewek 😥
    Aigoo pas mah buka part 9&10 malah pake PW Author boleh minta PWnya gak ?

    1. Alohaa^^ makasih ya udah bersedia mampir~ utk pt.9-10 sengaja kuprotect karna lagi masa perbaikan, tapi akunya blm sempat edit karna blm sempat on di kompi;; jadi tunggu dibuka lagi aja yaa^^ makasih banyak sebelumnya ><

  9. Hks hks~ sampe nangiiiiis Eonni sedih bangeeeeet 😥 , pasti Soo Rin terpuruk banget ditinggalin tanpa perpisahan dulu T.T Ki Bum jahat banget , tapi ada positifnya Jin Young Appa nerima Soo Rin ^^ ,yaampun udah mau 3thn aja Ki Bum nya gak nakal kan gak genit sama cewek kan gak kencan sama bule California kan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s