Posted in Category Fiction, Fiction, PG-15, Romance, School Life, Vignette

Why Me?!

whymeCvr

Genre :: School Life, (Absurd) Romance?

Rated :: PG-15

Length :: Vignette

||another KiSoo’Story||

sorry for typos

Happy reading!!

ㅡㅡ

“Aku hanya tertarik padamu.”

ㅡㅡ

“KENAPA aku?!”

Soo Rin, gadis berkacamata itu hampir memekik ketika mendengar perintah dari teman-temannya. Oh, tunggu, apakah mereka pantas disebut dengan teman-teman?

Mereka yang terdiri dari empat orang itu—Moon Hyun Ah, Lee Hye Min, Kim Ra Na, dan Lee Hye Bin—merupakan gadis-gadis yang selalu mengganggu kehidupan tenang Soo Rin. Yeah, secara kasar begitu. Karena mereka selalu menyuruh gadis berkacamata itu untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka.

Ya. Kebutuhan pribadi.

Mereka berempat sedang terserang sindrom yang dikenal dengan nama jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekolah baru saja kedatangan murid baru yang ternyata merupakan murid seangkatan Soo Rin dan mereka. Murid Kelas 2.

Well, sudah bisa ditebak bahwa sang murid baru itu merupakan seorang lelaki. Pindahan dari luar negeri. Berperawakan tinggi dan bertubuh cukup atletis—menurut mereka. Wajahnya luar biasa tampan jika perlu diketahui. Dia merupakan lelaki berdarah asli Korea yang sempat tinggal dan bersekolah di luar negeri itu, California. Serta… yah, sulit untuk didekati.

Entah sudah berapa banyak siswi yang dia tolak, baik berupa coklat sampai berupa ajakan ke kantin. Termasuk mereka berempat itu. Berkali-kali mereka mencoba untuk mengajak bicara lelaki itu, dengan berbagai cara. Mereka bahkan rela menguarkan pesona yang mereka miliki demi menarik perhatian lelaki itu. Tapi, selalu gagal.

Lelaki itu bagaikan Tembok Besar Cina yang sangat sulit untuk dijangkau ujungnya. Juga bagaikan bongkahan es di Kutub Selatan yang keras dan sangat dingin!

Tapi hal itu justru membuat mereka semakin gencar untuk meraih si murid baru tersebut. Mereka selalu bertaruh, siapa yang mampu meluluhkan lelaki itu dengan salah satu pemberian mereka, dialah sang pemenang.

Hanya saja, mereka tidak berani untuk memberikan hadiah mereka itu langsung kepada sang penerima. Karena dari yang mereka tahu, lelaki itu tidak mau menerima pemberian atas nama pribadi. Itulah mengapa mereka membutuhkan seseorang yang akan mengantarkan hadiah mereka kepada lelaki itu. Secara diam-diam tentunya.

Dan, Soo Rin lah korban mereka.

Oh, sebenarnya Soo Rin sudah berkali-kali diperintahkan oleh keempatnya untuk mengirim hadiah mereka kepada lelaki itu. Karena Soo Rin sama sekali tidak tertarik dengan si murid baru itu. Juga, Soo Rin selalu berhasil membuat lelaki itu menerima hadiah mereka. Mereka yakin bahwa hal itu dikarenakan taktik Soo Rin yang selalu memberikannya diam-diam. Tanpa diketahui oleh lelaki itu sebelumnya.

Sekarang, mereka kembali bertaruh. Di tanggal 14 ini, mereka ingin memberi coklat untuk lelaki itu. Yap, ini adalah peringatan White Day. Mereka sudah mencoba di hari Valentine lalu dan ternyata berhasil karena mereka melihat lelaki itu membawa pulang coklat pemberian mereka. Hanya saja mereka tidak puas karena lelaki itu membawa semuanya. Bukan salah satunya.

Dan di hari yang penting ini mereka kembali menyuruh Soo Rin untuk—seperti biasa—mengantarkan coklat mereka untuk lelaki itu.

“Tapi kenapa harus aku? Kenapa tidak kalian sendiri saja yang memberikannya?”

Eii, jika kami memberikannya secara langsung, sudah pasti dia tidak mau menerimanya,” balas Lee Hye Min yang disetujui oleh ketiga lainnya. Gadis berambut panjang bermata kecil namun menggoda itu termasuk dalam jejeran gadis yang paling terkenal dengan kecantikannya.

Soo Rin hampir menggeram. “Tidak bisakah kalian mencoba untuk memberinya secara langsung? Itu sama saja kalian tidak memiliki keberanian untuk mendekati si murid baru itu karena kalian tidak percaya diri!”

Yaa, setidaknya kami ini terkenal di kalangan lelaki! Dan kami tidak berkacamata!” cetus Lee Hye Bin yang langsung dihujani pelototan oleh yang lainnya. Oh, gadis yang satu ini memang selalu tidak bisa menjaga mulutnya.

Dan itu membuat Soo Rin tersinggung. Oh, sebenarnya dia sangat tahu bahwa keempat gadis di hadapannya ini selalu mengejeknya di belakangnya karena penampilannya yang sederhana. Rambut pendek sebahu tanpa sentuhan apapun, seragam yang terlampau rapih dibandingkan siswi lainnya yang memilih untuk memendekkan rok maupun mengetatkan seragam, juga, iris kecoklatannya yang dibingkai dengan kacamata karena minus. Memang apa salahnya jika dia berkacamata?! Dibandingkan mereka yang lebih memilih mengenakan contact lens atau bahkan melakukan operasi lasik. Heol, kenapa mereka lebih senang menyiksa mata indah mereka dengan laser mengerikan itu sekaligus menghamburkan-hamburkan uang?!

Soo Rin hampir berhasil lolos dari jeratan mereka kala mereka dengan sigap menahan bahu juga lengannya. Dan, Soo Rin harus merasa mual melihat wajah memelas mereka yang tampak dibuat-buat. Batinnya merasa heran, kenapa gadis-gadis cantik ini begitu payah untuk mendapati seorang lelaki seperti si murid baru itu jika mereka memiliki pesona yang sangat unggul? Hanya karena si murid baru itu bagaikan Tembok Besar Cina yang diselubungi bongkahan es Kutub Selatan. -_-

“Aku mohon! Sebagai gantinya, kami akan menraktirmu makan di kantin sampai bulan depan. Bagaimana?” kini giliran Moon Hyun Ah yang memohon. Gadis berambut pirang bergelombang itu termasuk dalam jajaran gadis dengan tubuh yang sangat ideal.

“Kau bisa makan sepuasnya!” tambah Kim Ra Na meyakinkan. Gadis yang satu ini memiliki postur wajah yang sangat menawan yang mengesankan bahwa sang empu merupakan gadis yang lemah lembut. Yah, memang benar. Hanya saja jika sudah bergabung dengan ketiga temannya ini, dia akan tampak meninggikan derajat kecantikannya itu. Atau lebih tepatnya, menyombongkan diri.

Soo Rin pasrah. Dia tidak tertarik dengan iming-iming itu, tapi, dia merasa percuma jika berusaha menolak. Karena keempat gadis ini akan terus memaksanya.

.

.

Tanggal 14 akhirnya tiba. Soo Rin harus datang pagi-pagi sekali demi menjalankan tugasnya itu. Seperti biasa dia akan menyimpan hadiah milik keempat temannya itu ke dalam loker milik si murid baru tersebut.

Oh, apakah sebelumnya sudah disebutkan siapa nama si murid baru itu?

Kim Ki Bum. Si murid baru itu bernama Kim Ki Bum. Well, dia berada di kelas yang sama dengan Soo Rin. Mungkin karena fakta itu pula keempat temannya yang mayoritas berbeda kelas—hanya Ra Na yang sekelas dengan Soo Rin dan lelaki itu, mereka pun meminta tolong pada Soo Rin setelah dirundingkan oleh Ra Na. Yah, Kim Ra Na lah yang menjadikan Soo Rin sebagai kandidat penolong mereka.

Soo Rin harus menarik napas berkali-kali, menghembuskannya berkali-kali pula. Sungguh, dia merasa tidak enak hati pada Kim Ki Bum ini. Karena dia sudah membantu teman-temannya yang payah itu untuk mengganggu kehidupan tenang lelaki itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia terpaksa melakukan ini. Selain itu dia juga merasa rendah diri mengingat dia termasuk siswi yang tidak berpenampilan menarik. Tapi percayalah, dia bukan siswi yang selalu di-bully. Dia hanya merasa rendah diri dan ingin menjadi orang yang suka menolong.

“Oke. Anggap saja ini yang terakhir kali. Setelah itu, aku tidak akan mengusik kehidupanmu lagi dengan cara menolak permintaan mereka,” gumam Soo Rin menguatkan diri. Tepat di depan loker milik Kim Ki Bum. Yeah, dia menganggap bahwa loker itu adalah orang yang dimaksud.

Dia bertekad untuk tidak mengabulkan permintaan mereka setelah ini. Bagaimanapun caranya. Ini yang terakhir kali.

Dengan rasa bersalah namun bercampur dengan tekad, Soo Rin membuka loker tersebut. Meski sudah beberapa kali dirinya membuka loker yang jelas bukan miliknya itu secara diam-diam sebelumnya, dia masih memiliki rasa bersalah yang sama. Karena dia sudah seperti orang yang hendak membongkar aib orang lain.

Soo Rin meletakkan coklat-coklat itu ke dalam loker milik Kim Ki Bum. Batinnya terus menggerutu untuk keempat gadis itu yang mungkin saat ini baru turun dari tempat tidur sedangkan dirinya sudah—kembali—berbuat dosa kerena mereka.

Rasanya melegakan sekali bagi Soo Rin begitu berhasil meletakkan coklat-coklat itu ke dalam sana. Menutup lokernya kembali, Soo Rin menghembuskan napas lega yang panjang. Setidaknya, tugasnya sudah selesai. Dan dia ingin segera pergi ke kelasnya demi melanjutkan tidurnya yang tertunda karena harus bangun sangat pagi demi mengantarkan barang-barang yang sudah dititipkan padanya itu sejak kemarin. Toh, kemungkinan sekolah mulai ramai sekitar satu jam lagi.

“Kerja bagus, Nona.”

Soo Rin merasa jantungnya berhenti berfungsi sesaat. Suara itu, terdengar cukup familiar di telinga. Tentu saja, karena dia hampir selalu mendengarnya kala si pemilik suara menjawab segala pertanyaan dari para guru selama waktu belajar-mengajar. Jelas saja otaknya segera mencetuskan bahwa itu adalah dia.

Oh, tidak. Bukankah di sekolah ini hanya ada dirinya?!

Memberanikan diri untuk berbalik, Soo Rin merasakan jantungnya meloncat hingga dirinya hampir ikut meloncat karena keterkejutannya begitu mendapati… lelaki itu sudah berada di hadapannya dengan begitu angkuh. Dengan kedua tangan yang bersembunyi di kantung celana, menguarkan ekspresi dingin andalannya sekaligus memberikan tatapan tajam yang mengintimidasi Soo Rin.

Bagus. Soo Rin sudah tertangkap basah.

“Sepertinya kau sangat pandai menjadi pengagum rahasia.” Kim Ki Bum—lelaki yang diagung-agungkan oleh keempat gadis itu, bahkan mungkin hampir seluruh siswi di angkatannya—kini tengah menyeringai untuk Soo Rin yang sudah berdiri kaku di tempat. “Apa kau begitu mengagumiku sampai-sampai kau selalu memberikan hadiah-hadiah itu untukku?” ujarnya sarkastis.

“A-aku—aku tidak…” Soo Rin tergagap. Astaga, sepertinya lelaki ini sudah salah paham. Dan, apa yang baru saja dikatakan olehnya? Tunggu, apa itu berarti… Soo Rin membelalakkan mata. “K-kau…”

Ki Bum menyeringai semakin lebar. “Kenapa? Kau pikir selama ini aku tidak tahu?” Ki Bum membuka langkah. “Kau yang selalu menyelinap kemari diam-diam, membuka lokerku dan meletakkan benda-benda itu. Kau pikir aku tidak pernah tahu?”

Soo Rin mulai dilanda rasa panik kala lelaki itu melangkah mendekatinya. Terpaksa dia melangkah mundur, tapi sialnya dia baru menyadari bahwa dia masih belum beranjak dari tempat semula hingga punggungnya kini bertemu dengan deretan loker di belakangnya. Soo Rin tidak mampu bergerak lagi karena dengan begitu cepatnya lelaki itu sudah menutup celah yang bisa dia pakai untuk kabur.

Kim Ki Bum sudah mengurungnya.

“Perlu kau ketahui bahwa aku selalu memperhatikanmu, Park Soo Rin,” ucap Ki Bum dengan suara rendahnya. Tepat di depan wajah Soo Rin. Dan Soo Rin harus merasakan gelenyar aneh merambat ke sekujur tubuhnya kala mendengar suara itu menusuk gendang telinganya.

Soo Rin harus kebingungan dengan perasaan aneh ini. Ditambah, cara lelaki ini mengeja namanya, kenapa membuat Soo Rin ingin mendengarnya lagi?

Tidak, tidak! Ingat tugasmu, Park Soo Rin, ingat tugasmu!

“K-kau salah paham. I-itu… itu bukan punyaku… Aku—” Soo Rin harus merasakan jantungnya berulah—seperti tengah berjumpalitan—kala jari telunjuk itu menempelkan diri tepat di bibirnya. Soo Rin hampir melotot begitu menyadari hal itu. Apa yang dilakukan oleh lelaki ini?!

“Aku tahu.” Ki Bum hampir berbisik. Keningnya berkerut menandakan bahwa dirinya tidak suka.

Tidak suka? Tidak suka karena apa?

Tunggu, lelaki ini baru saja mengatakan bahwa dia tahu. Lalu kenapa lelaki ini sempat menuduh Soo Rin sebagai pengagum rahasianya? Enak saja!

“Jika—jika kau tahu kenapa kau—” lagi-lagi Soo Rin tidak mampu menyelesaikan kalimatnya kala jari telunjuk itu bergerak, tidak hanya telunjuk, melainkan jari-jari yang lain. Menelusuri wajahnya, seolah dengan sengaja menggesekkan ujung jemarinya ke sisi wajah Soo Rin dengan begitu lembut dan itu membuat dadanya berdesir hebat. Astaga, kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini?

Ki Bum menggerakkan jemarinya ke atas, menyentuh benda berbingkai itu, lalu menanggalkannya tanpa izin. Hingga terpampanglah sepasang iris kecoklatan yang seketika menarik perhatiannya. Sepasang mata yang begitu memikatnya, dan tidak disangka bahwa efeknya bisa seperti ini untuk tubuhnya. Seolah mata itu berusaha untuk menghisapnya ke dalam sana.

Soo Rin harus menelan saliva dengan susah payah. Dia masih bisa melihat wajah tegas itu dengan sangat jelas mengingat matanya yang minus. Tentu saja masih bisa karena jaraknya begitu dekat! Tapi entah kenapa dia tidak mampu untuk menyemprotkan protes karena lelaki ini sudah seenaknya merampas benda terpentingnya itu. Ada apa dengan kinerja tubuhnya ini?!

Ki Bum segera beralih menuju telinga gadis ini. Dia berbisik, “Aku tidak peduli dengan gadis-gadis yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini. Karena aku tidak tertarik dengan mereka. Aku hanya tertarik padamu.

Soo Rin merasakan jantungnya berdebar keras hingga terasa menyesakkan. Dia berharap bahwa telinganya sedang bermasalah sehingga dia sedang salah mendengar. Apa? Lelaki ini tertarik padanya? Yang benar saja?!

Belum selesai sampai di situ, Soo Rin harus dibuat tak mampu bernapas dengan normal begitu lelaki ini kembali berulah. Mengecup sebelah pelipis Soo Rin dengan bibir penuhnya yang—entah mengapa—terasa begitu panas. Lalu turun menelusuri pipi Soo Rin yang entah sejak kapan sudah berubah warna menjadi padam, dengan cara menggesekkan ujung hidungnya dengan halus dan penuh rasa. Hingga kemudian Soo Rin merasakan sesuatu meletup hebat di dalam benaknya sekaligus menggelitik perutnya begitu merasakan bibir yang panas itu kembali mengecup… kini mengecup sudut bibirnya.

Be my girl,” gumam Ki Bum hampir berbisik. Terdengar berat, halus, namun penuh dengan penegasan. Dan ia mengucapkannya tepat di sudut bibir Soo Rin.

Barulah Ki Bum bergerak mundur. Kembali memamerkan seringai yang—baru Soo Rin sadari—terlihat begitu mematikan begitu memandang wajah Soo Rin yang sudah merona padam akibat ulahnya, dengan leluasa. Kemudian ia mengangkat sebelah tangan, memamerkan kacamata Soo Rin yang berhasil direbutnya.

“Akan aku kembalikan setelah kau menjawabnya,” ucapnya dengan—kini—sebuah senyum kemenangan. Kemudian berlalu masuk ke dalam gedung sekolah. Suasana yang masih hanya ada dirinya dengan gadis itu membuatnya ingin melakukannya lagi jika dia tidak ingat bahwa ini baru sebuah awal. Itulah mengapa dia berusaha untuk tidak menoleh ke belakang dan memilih untuk meninggalkan gadis itu begitu saja.

Sedangkan Soo Rin harus mematung beberapa saat sebelum kesadaran kembali menguasainya yang langsung saja melemaskan tubuhnya. Gadis itu merosot hingga jatuh terduduk di atas lantai, memegangi dadanya yang terasa begitu panas di dalam bersamaan dengan jantungnya yang sudah bertalu-talu dengan liarnya.

Oh, astaga, apa yang baru saja ia lewati? Kenapa dia harus melewatinya? Kenapa dia harus merasakan ini? Kenapa… kenapa tiba-tiba kepalanya penuh dengan ucapan sekaligus bayang-bayang lelaki itu?

Kenapa lelaki itu tertarik padanya?

Kenapa?

“Kenapa aku…”

Soo Rin sudah kehilangan tenaga sekaligus akal.

.

.

FIN


yaampun yaampun yaampun gyaaaaaaaaaaaa!! entah kenapa aku histeris sendiri >////<

ini kisukisu versi lain ya hahahah entah kenapa imajinasi soal ini bermunculan dan bikin aku geregetan sendiri huweeeeeehh T////T

tolong jangan minta sequel/? karna aku gatau mau lanjutinnya gimana hahahahah >/\<

oh ya, untuk cast para cewenya itu, aku ambil dari member Nine Muses~ heheh9musesCasts

Yosh! Terima kasih sudah mampir~~^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

35 thoughts on “Why Me?!

  1. ya ampuuuuuunnn siskachii bikin gemeeesh >////<
    ngebayangin Kim Kibum disini tuh kayak pangeran kutub yg berdarah panas/? /ok ini lebai
    duh kece pokoknya !! thanks for writing this unyu unyu ff, it's really made my day :'3 muchlobuu~♥♥

  2. Kim kibum dasar! Apa yg kau lakukan pada si polos soorin? Astaga astaga astaga aku juga jadi histeris baca ini sampe harus ngegigit bibir spy tdk menjerit/? Hahaha.. ceritanya dilanjut dong yaa sayang tau klo ga dilanjut hehe.. Ohiya, dsini soorin nya yg make kacamata. Kan biasanya kibum yg make..

  3. Ini ceritanya beda dr ff KiSoo yg pertama yah tp aku tetep suka bener2 suka sama karajter Kibum oppa yg cool nya gak abis2…
    Yg pake kacamata disini Soo rin…
    Tetep aja aku ikut deg2an sama nih couple kalo dah scene nya Kibum yg sengaja jahilin Soorin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s