Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, Friendship, KiSoo FF "With You", PG-17, Romance, School Life

With You – Part 7

Pt.7 – My Love For Youwithyou_cover

Genre :: Romance, School Life, Complicated, Family, Friendship, Angst

Rated :: PG-17

Length :: Chaptered

Recomended Songs :: Super Junior M – My Love For You, Wu Yi Fan – 有一个地方 (There Is A Place), Lu Han – 我们的明天 (Our Tomorrow), Henry – 자꾸자꾸 (You), Zhou Mi – Without You, Super Junior – 머문다 (Daydream)

||KiSoo’Story||

beware!
almost 9k words ㅜwㅜ

Happy reading!!

ㅡㅡ

I’ll hold your hands
I’ll be your boy, you’ll be my girl
(자꾸자꾸)

ㅡㅡ

“SOO Rin-ah…”

Ki Bum menatap nyalang punggung gadis itu. Tubuh tegapnya serasa ingin jatuh karena tungkai kakinya yang mulai melemas. Ingatannya berputar liar menuju ke masa lalu di mana dia melihat kejadian yang sama. Seperti sebuah déjà vu, Ki Bum kembali melihat gadis yang selalu ia pertahankan… akan meninggalkannya. Demi uang pemberian ayahnya.

Entah ini yang keberapa kali, dadanya terasa ditohok melihat kenyataan di hadapannya. Setelah apa yang dia lewati hari ini. Bersikeras mempertahankan gadis itu, sampai dirinya rela menghancurkan kacamatanya demi melampiaskan emosinya yang sudah meledak, sampai dia ikut menangis melihat bagaimana kacaunya gadis itu—karena dirinya. Menggenggam tangannya dengan begitu erat. Memeluknya seolah tidak ingin melepasnya lagi.

Apakah semua itu hanya mimpi? Apakah semua itu hanya angan-angan? Apakah… semua itu hanyalah tipuan?

Sungguh, rasanya Ki Bum ingin menangis—lagi.

Kim Jin Young bahkan sudah mengumbarkan senyum kemenangan kala melihat gadis itu melangkah mendekatinya. Meninggalkan Ki Bum di belakang. Jin Young dapat melihat dari sudut matanya, separah apa wajah terkejut putranya di belakang gadis itu. Dan, beliau merasa berhasil memperlihatkan seperti apa sebenarnya gadis pilihan putranya itu.

Sama saja, pikirnya meremehkan.

Soo Rin terdiam sejenak begitu berhasil mendekatkan diri pada Kim Jin Young. Dalam hati dirinya meminta maaf, karena dia sudah menyakiti Kim Ki Bum… malam ini. Sekaligus ia meminta maaf pada Kim Jin Young.

Ya, Kim Jin Young. Pria yang duduk penuh percaya diri di hadapannya kini.

Soo Rin melepas tas sekolahnya dari punggungnya, membuka resletingnya, lalu mulai merogoh isinya. Ia mengambil sebuah buku catatan yang selalu ia bawa ke mana-mana, membuka lembar demi lembar, mencari sesuatu. Dan tingkahnya itu membuat Jin Young mengangkat sebelah alisnya.

Sedang apa gadis ini?

Seulas senyum lega terpatri di bibir Soo Rin begitu menemukan apa yang ia cari di dalam buku catatan itu. Sesuatu yang ia simpan dengan menyelipkannya di sana. Karena ia tidak ingin benda itu menjadi kusut atau sekedar terlipat meski barang sedikitpun, apalagi merusaknya. Barulah Soo Rin memasukkan kembali buku catatannya ke dalam tas setelah mengambil benda itu.

Selembar cek.

Mengenakan kembali tasnya, dengan hati-hati Soo Rin meletakkan selembar cek pemberian Jin Young—melalui perantara Shin Dong—dua minggu lalu itu ke atas meja Jin Young. Bahkan dengan kedua tangan, Soo Rin menggeser cek tersebut agar sampai di hadapan Jin Young. Barulah Soo Rin kembali menurunkan tangannya, serta mengangkat pandangannya. Memberanikan diri menatap pria paruh baya itu.

Jwaeseonghajiman… (Maaf, tapi)” Soo Rin mencoba untuk menarik napas dengan normal. Sekaligus mengontrol suaranya yang terdengar bergetar. Menguatkan diri, sebelum ia melanjutkan. “Saya tidak bisa menerima pemberian anda.”

Ada kilat keterkejutan di kedua mata Jin Young yang begitu tajam menatap Soo Rin. Merasa tersinggung, Jin Young semakin mengintimidasi gadis yang kini berani membalas tatapannya itu.

“Ini bukan karena anda belum memberinya dengan jumlah yang sangat banyak. Melainkan, saya memang tidak ada niat untuk menerima segala pemberian anda. Di sisi lain, saya berterima kasih atas ketersediaan anda untuk membantu saya dalam mengambil universitas yang saya inginkan. Tapi, saya tidak yakin apakah anda masih akan membantu saya jika saya mengatakan bahwa saya ingin masuk ke dalam kampus di mana putra anda berada.”

Tatapan mengintimidasi itu terus berusaha menciutkan nyali Soo Rin. Sampai-sampai Soo Rin harus mengepal kedua tangannya demi lebih menguatkan diri lagi.

“Jika saya boleh jujur, selama ini saya tidak pernah tahu bahwa Kim Ki Bum merupakan putra dari seseorang yang sangat sukses seperti anda. Mungkin jika selama ini anda berpikir bahwa saya adalah gadis yang sama seperti yang dulu, anda perlu ketahui bahwa saya justru merasa takut mengetahui kenyataan ini. Ternyata, selama ini saya menjalankan sebuah hubungan dengan putra dari orang yang sangat terpandang.”

Tanpa Soo Rin sadari, Jin Young terhenyak dalam diam mendengar tutur katanya. Kalimat yang berhasil memojokkannya itu, meski tidak secara gamblang, tapi mampu membuatnya terpana. Mungkinkah gadis di hadapannya ini mengetahui masa lalunya? Lebih tepatnya, masa lalu Kim Ki Bum? Tapi bagaimana bisa?

Ki Bum sendiri tampak terperangah mendengar penjelasan Soo Rin. Sama seperti ayahnya, dia bertanya-tanya bagaimana bisa gadis itu mengetahui masa lalunya. Siapa yang sudah memberti tahu?

Siapa lagi jika bukan adiknya? Tebak Ki Bum kemudian.

“Tapi, saya tidak bisa menampik bahwa perasaan saya memang apa adanya. Perasaan saya bermunculan bukan karena Kim Ki Bum berasal dari kalangan atas. Perasaan saya bermunculan bukan karena Kim Ki Bum pernah membawa mobil untuk mengantar saya bepergian. Semua, bermunculan karena putra anda sendiri. Bukan karena status yang dia sandang.” Soo Rin melakukan jeda. Entah kenapa ingatannya berputar di kala dirinya bertemu pertama kali dengan lelaki itu.

Di mana lelaki itu menampakkan diri setelah membuat Soo Rin kelimpungan berhari-hari karena pesan-pesan misteriusnya. Bentuk perhatiannya yang sukses menggerakkan hati Soo Rin yang dulu belum dimiliki secara sepenuhnya. Bagaimana cara dia menyelamatkan Soo Rin setelah terbentur bola voli hingga menyebabkan hidungnya berdarah, cara dia menyembunyikan mereka berdua dari Ah Reum di perpustakaan—yang terlihat konyol, namun sukses membuat jantungnya berdebar tak karuan, menjaganya kala tertidur di kelas karena menunggu Ah Reum, hingga terjadi momen di mana dirinya mengalaminya sebagai pengalaman yang pertama. Semua itu hanya terjadi dalam waktu seminggu… lelaki itu, Kim Ki Bum, mampu menaklukkan hati Soo Rin yang masih dibayang-bayangi oleh cinta pertama. Semua itu bukan karena status yang dimiliki lelaki itu. Semua itu karena lelaki itu sendiri.

Tanpa sadar Soo Rin tersenyum kala mengingat itu semua. Semua ingatan itu, terasa begitu indah. Memori yang sudah mengantarnya hingga ke tahap sekarang ini. Dan dia tidak ingin mengakhirinya begitu saja.

“Jadi, jika anda meminta saya untuk menjauhi putra anda, apalagi dengan membawa masalah ayah saya, mohon maaf. Ayah saya masih sanggup mengumpulkan dana untuk membangun klinik keinginannya meski harus menunggu beberapa tahun lagi. Tapi ayah saya akan lebih merasa bangga jika beliau mampu membangun klinik dengan usahanya sendiri. Begitu juga dengan saya, yang akan merasa lebih bangga jika mampu memasuki universitas idaman saya dengan usaha saya sendiri.”

Soo Rin mulai melangkah mundur, kembali ke tempat semula. Melihat ekspresi kaku yang dikuarkan oleh Jin Young telah menambah rasa percaya dirinya untuk kembali. Ke samping lelaki yang masih berdiri mematung. Mendengakkan kepala, Soo Rin menatap Ki Bum yang ternyata juga menatapnya—dengan raut wajah tak percaya. Entah tak percaya karena perbuatannya barusan, atau karena perbuatannya sebelumnya. Namun Soo Rin memilih untuk kembali menunduk, mencari tangan lelaki itu, lalu meraihnya… menautkan kembali jemari mereka. Kini penuh dengan keyakinan. Barulah ia kembali menatap Jin Young yang… sudah semakin kaku di tempat duduknya.

“Maaf, Tuan Kim. Saya lebih memilih putra anda dibandingkan tawaran anda. Karena saya benar-benar mencintai putra anda.

****

Mereka melangkah menuruni tangga. Hanya berdua. Dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Diam adalah yang mereka lakukan saat ini. Karena mereka tidak tahu bagaimana ingin memulai suatu pembicaraan. Bahkan tautan tangan mereka terasa berbeda. Seperti… rasa yang begitu ringan dan lepas.

Hingga kemudian salah satu di antara mereka hampir tersungkur jika tidak segera ditangkap. Apalagi mengingat posisi mereka yang masih berada di anak-anak tangga, membuat salah satunya merasa ngeri jika dia tidak segera menangkap tubuh yang tiba-tiba melemas itu.

“Soo Rin-ah, gwaenchanha?” Ki Bum, lelaki itu tampak khawatir melihat wajah gadisnya memucat lagi. Astaga, bagaimana bisa dia hampir melupakan bahwa gadisnya ini masih belum membaik. Setelah apa yang sudah mereka lewati, sudah dipastikan bahwa gadis ini kembali menguras tenaga. Bodohnya Kim Ki Bum, kau benar-benar bodoh.

“Aku… aku tidak salah bicara, bukan?” gumam Soo Rin lirih. “Aku… tidak menyangka… bahwa aku bisa bicara seperti itu…” Soo Rin menoleh, menatap Ki Bum demi mencari kepastian. Tapi, dia justru merasa menyesal. “Kim Ki Bum, maaf… aku… sudah menyinggung perasaan ayahmu…”

Ki Bum mendengus geli. Kenapa gadis ini justru meminta maaf untuk ayahnya? Benar-benar. “Babo!” dan Ki Bum memilih untuk menenggelamkan tubuh gadis ini ke dalam pelukannya. Dengan penuh rasa. Ki Bum tidak pernah merasa selega ini, dan semua karena gadis ini. Ki Bum bahkan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat. Gadis ini—gadis di pelukannya ini—berani menghadapi ayahnya dan mengungkapkan sesuatu yang jelas membuat dirinya sendiri tercengang. Sampai-sampai Ki Bum lupa perannya yang ingin melindungi gadis ini. Sebaliknya, gadis ini justru melindunginya.

Melindungi hubungan mereka.

“Terima kasih,” ucapnya halus, sangat tulus. Menyembunyikan sebagian wajahnya di helaian rambut gadisnya yang tergerai. Menghirup udara kebebasan di sana.

Soo Rin juga merasakan kelegaan yang sama. Sejak awal dirinya memang sudah mengambil keputusan yang benar. Mengikuti kata hati. Meski harus menghadapi banyak hal yang berusaha menggoyahkannya, tapi kini Soo Rin merasa lega. Dia mampu melewatinya. Mampu mempertahankan dirinya untuk terus berada di samping lelaki ini. Atau sebaliknya? Sepertinya sama saja, bukan?

Membalas pelukan Ki Bum, Soo Rin menyamankan diri bersandar di tubuh hangat lelaki ini. Dan ia hanya mampu mengangguk seraya menggumam halus. Rasanya tenaga untuk bersuara sudah dihisap habis oleh lelaki ini, dan berganti dengan detakan jantungnya yang berpacu semakin cepat. Bahkan, Soo Rin mampu merasakan detakan jantung lelaki ini secepat miliknya.

Ehem!”

Ki Bum menoleh, namun tidak membuat dirinya melonggarkan pelukannya. Sehingga Soo Rin yang harus melepaskan diri lalu mulai tertunduk malu karena tertangkap basah oleh adik dari Kim Ki Bum.

Sae Hee melangkah turun dengan senyum merekah. Mendekati mereka. Dia hendak mengungkapkan sesuatu kala melihat kondisi Soo Rin yang sudah pucat pasi. “Omo! Eonni tidak apa-apa? Oh, astaga, ini pasti karena Appa. Sungguh, maafkan ayah kami, Eonni,” ucapnya penuh sesal. Kedua tangannya sudah menyentuh lengan Soo Rin.

“Tidak. Aku memang sudah seperti ini sejak pagi tadi…” Soo Rin tersenyum kala tiba-tiba mengingat sesuatu. “Astaga, pukul berapa sekarang? Aku harus pulang!”

“Ini sudah lewat tengah malam, Eonni. Bahkan hampir pukul satu dini hari,” jawab Sae Hee dengan suara mengecil. Ia semakin merasa bersalah.

“Aku akan mengantarmu pulang dengan mobil,” tanggap Ki Bum seraya mulai menuntun Soo Rin ke lantai bawah. Diikuti dengan Sae Hee yang juga menuntun gadis kakaknya ini. Yah, terpaksa dia harus menggunakan mobil pribadi. Memangnya ada taksi yang berkeliaran di sekitar rumahnya? Apalagi di waktu selarut ini?

Yaedeul-ah (Anak-anak)!”

Mereka segera menoleh ke belakang. Mendapati Jung Ji Woo menuruni tangga dengan seulas senyum menawan untuk mereka. Begitu sampai di hadapan, Ji Woo ternyata tengah menatap penuh minat pada Soo Rin.

“Kau terlihat tidak baik. Ini pasti karena perbuatan ayah dari anak-anakku. Tolong maafkan dia, eo?”

Soo Rin menggeleng pelan, tersenyum sopan. “Aniyo…”

Ji Woo mendesah pelan, antara lega dan kagum. Sebelah tangannya terangkat merengkuh wajah Soo Rin. “Aigo… aku sungguh menyesal sudah melibatkan gadis secantik dirimu ke dalam masalah ini. Tapi setidaknya instingku memanglah benar adanya. Kau adalah gadis yang pantas untuk putraku.”

Tak dapat dipungkiri bahwa wajah cantik Soo Rin mulai menghangat karena tersipu. Gadis itu hanya menunduk seraya tersenyum malu. Sedangkan Ki Bum tampak tersenyum penuh lega, dan Sae Hee yang tampak mengulum senyum penuh arti.

Eomma, Soo Rin harus segera pulang. Orang tuanya pasti khawatir karena anak gadisnya belum juga sampai rumah hingga sekarang.” Ki Bum menengahi.

Namun Ji Woo segera mengibaskan sebelah tangan. “Tidak, tidak. Di waktu yang sudah seperti ini, ada baiknya jika Soo Rin menginap di sini malam ini.”

NE?” ketiganya berseru serempak. Jangankan Soo Rin, Ki Bum dan Sae Hee pun tampak melongo hebat. Seolah mereka baru saja mendapat kabar bahwa Gunung Fuji sudah pindah ke Pulau Jeju.

Ji Woo bahkan harus menahan diri untuk tidak melepas tawa dengan mengulum senyum yang semakin terlihat aneh… namun masih tampak menawan. “Bagaimanapun kami harus bertanggung jawab karena sudah membuat anak orang tidak bisa pulang di waktu tepat. Lagipula, ini merupakan perintah ayah kalian untuk menyuruh Soo Rin menginap.” Ji Woo harus berbisik kala mengutarakan kalimat terakhirnya.

Dan itu membuat mereka semakin tercengang. Kim Jin Young yang baru saja ingin menjatuhkan Soo Rin kini berbalik menyuruh gadis itu untuk bermalam di rumahnya?! Sungguh, ini sulit dipercaya. Apakah secepat itu perubahan sikap dari sang ayah?

Kalau begitu, sungguh mengerikan.

Ji Woo akhirnya terkikik geli melihat ketiga anak muda di hadapannya justru terlihat melamun. Kembali beliau mengibaskan tangan demi menyadarkan mereka. “Berhenti melamun dan antar Soo Rin ke kamar. Ah, kamarnya ada di sebelah kamar Sae Hee, eo?”

“Kenapa tidak di kamarku saja?” Sae Hee hampir memekik karena bersemangat. “Eonni, tidur bersamaku saja, ya? Ya? Tempat tidurku cukup untuk dua orang!” Sae Hee beralih menatap Ji Woo. “Boleh, ya, Eomma?”

“Jika Soo Rin tidak keberatan,” gumam Ji Woo seraya kembali menatap Soo Rin yang masih terperangah.

Namun Soo Rin segera tersadar begitu wanita paruh baya itu menyebut namanya. Ia mulai gugup. “A-aku… tidak keberatan tidur di mana saja…”

“Kalau kau tidak keberatan, antarlah dia ke kamarmu,” titah Ki Bum seraya menyerahkan Soo Rin pada Sae Hee. Tak disangka bahwa adiknya itu menerima dengan senang hati. Membuat Ki Bum merasa curiga. “Jangan mengajaknya begadang!”

Sae Hee cemberut seketika. “Kami hanya akan mengobrol sebentar! Tidak apa-apa ‘kan, Eonni?” Sae Hee menatap penuh harap.

Um.” Soo Rin mengangguk.

****

(02:07AM)

Kedua gadis itu berbaring saling berhadapan. Belum ada yang menutup mata karena tampak asyik bercengkerama. Soo Rin—gadis yang memilih untuk tidur bersama Sae Hee dan sudah mengenakan piyama yang dipinjamkan Sae Hee itu—kini mengumbar senyum manis kala mendengar gadis belia itu bercerita. Kebanyakan bercerita soal lelaki berwajah bakpao alias kekasih gadis itu yang tak lain merupakan adik sepupu Soo Rin. Bagaimana perkembangan hubungan mereka yang ternyata berjalan cukup lancar mengingat hubungan yang mereka jalani saat ini.

“Bocah itu selalu saja membuat darah tinggiku kambuh. Sepertinya dia memang menginginkanku untuk terkena penyakit darah tinggi,” tutup Sae Hee yang membuat Soo Rin terkekeh geli.

“Tapi bagaimanapun kau tidak bisa berbalik membencinya, bukan?” tebak Soo Rin yang seketika membuat Sae Hee tersipu malu.

“Pada kenyataannya sepupu Eonni itu selalu bisa membuatku memaafkannya hanya dalam waktu singkat,” ujarnya lirih. Namun masih bisa didengar Soo Rin.

“Terima kasih. Kau sudah membuat Henry mengerti cara menyukai perempuan dengan benar.”

Mwoyaa! Dia selalu membuatku kesal, Eonni.”

“Tapi setidaknya itu hanyalah bumbu penyedap hubungan kalian, Sae Hee-sshi.”

Sae Hee memberengut. “Eonni, bisakah Eonni berhenti memanggilku seperti itu? Aku ini lebih muda dari Eonni!”

Soo Rin meringis, batinnya membenarkan bahwa selama ini dia selalu memanggil gadis ini dengan formal. Padahal mereka sudah bisa dikatakan teman dekat. “Aku hanya belum terbiasa memanggilmu seperti Kim Ki Bum.”

“Karena itu mulailah membiasakan diri!” pinta Sae Hee seraya menangkup kedua tangan Soo Rin. Cukup membuat Soo Rin terpana. “Bagaimanapun Eonni adalah kekasih Oppa dan tidak ada salahnya memanggil adiknya dengan akrab.” Sae Hee tersenyum manis.

“Baiklah.” Soo Rin membalas seraya ikut tersenyum. Lalu ia tidak menyangka bahwa gadis di hadapannya akan menghela napas lega. Apakah perbuatannya selama ini begitu mempengaruhinya?

Eonni, terima kasih sudah bertahan dengan Oppa. Sejak awal aku memang percaya bahwa Eonni memang gadis yang berbeda.” Sae Hee menatap Soo Rin dengan penuh rasa terima kasih. “Ah, apa Eonni tahu? Dulu… setelah Oppa berubah, aku mengira bahwa Oppa akan terus seperti itu sampai waktu yang tidak aku ketahui kapan. Dan itu pasti sangat lama. Tapi, aku tidak menyangka bahwa Oppa akan sembuh dalam waktu yang cukup dekat.”

Soo Rin mengerutkan kening. Bingung. “Maksudmu?”

Sae Hee tersenyum penuh arti sebelum kembali bersuara. “Oppa berlibur kemari dan menginap di rumah Eun Ji Eonni. Saat itu Eun Ji Eonni sudah lulus dari sekolahnya. Dan, tiba-tiba saja Oppa ingin melanjutkan sekolahnya kemari. Awalnya aku berpikir bahwa itu karena Eun Ji Eonni, tapi… setelah mendengar cerita dari Eun Ji Eonni, membuatku tersadar bahwa Oppa sedang membuka hatinya kembali.” Sae Hee tersenyum semakin lebar. “Oppa melihat foto Eonni.”

Sebenarnya, Soo Rin sudah pernah mendengar cerita ini dari Eun Ji langsung. Di mana Kim Ki Bum melihat foto dirinya sampai-sampai dia menjadi pengagum rahasianya kala itu. Tapi, Soo Rin tidak menyangka bahwa… semua berasal dari sana…

“Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, Oppa berbicara pada Appa dan meminta untuk dipindahkan ke Korea. Aku berpikir, mungkin… karena Appa ingin menebus kesalahan, Appa akhirnya meloloskan permintaan Oppa untuk bersekolah di Neul Paran. Sebenarnya, aku sedikit terkejut mengingat Oppa sudah berubah menjadi lelaki yang memiliki otak yang sangat cerdas, memilih untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah yang bukan sekelas SOPA.

Tapi aku menyadari bahwa ternyata Eonni bersekolah di sana. Dan aku langsung menarik kesimpulan bahwa sepertinya Oppa ingin mengejar seorang gadis lagi. Yaitu… Eonni.” Sae Hee hampir terkekeh karena merasa geli melihat reaksi gadis di hadapannya. Ugh, kekasih kakaknya ini benar-benar menggemaskan jika sedang tersipu malu.

“Sejak itu, Oppa seperti tengah memperbaiki diri. Oppa menjadi sering menghubungiku dan memberi perhatian padaku seperti dulu. Bahkan lebih dari yang dulu. Oppa seperti kembali menjadi seperti semula. Oppa yang penuh perhatian, Oppa yang penyayang, dan Oppa yang selalu tersenyum. Meski aku tidak melihat secara langsung, aku sadar bahwa Oppa selalu tersenyum tiap meneleponku.” Sae Hee meringis ketika melanjutkan, “Tapi aku tidak menyangka bahwa Oppa justru dikenal sebagai siswa yang dingin di sekolah. Padahal dia selalu berperilaku hangat padaku, juga pada Eomma.”

Soo Rin tersenyum penuh arti. Kim Ki Bum merupakan tipe lelaki yang hanya akan terbuka dengan orang yang menurutnya sangat dekat dengannya. Dan Soo Rin mengakui bahwa dia tidak pernah melihat Kim Ki Bum menebar senyum pada teman-teman sekelas. Bahkan pada Tae Yong, Tae Min, maupun Ah Reum, pun tidak pernah. Hanya pada adiknya.

Juga dirinya…

Ugh, astaga, kenapa tiba-tiba wajahnya memanas seperti ini hanya karena membayangi lelaki itu tersenyum padanya?!

Sae Hee yang melihat perubahan aneh itu, mengulum senyum jahil begitu mampu menebak apa yang ada di pikiran gadis yang 2 tahun lebih tua darinya ini. “Oh, aku baru ingat bahwa Oppa hanya tersenyum pada Eonni jika di sekolah,” godanya.

“Hentikan…” gerutu Soo Rin seraya menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangan. Oh, dia sudah sangat malu sekarang. Dan dia harus menggerutu dalam hati kala mendengar Sae Hee tertawa geli. Untuknya.

“Tapi, asal Eonni tahu. Secara tidak langsung Eonni sudah membujuk Oppa untuk berubah. Eonni sudah menggerakkan hati Oppa kembali. Bahkan Eonni sudah memiliki hati Oppa sebelum Eonni sendiri mengetahuinya. Segala perhatian Oppa yang dulu hanya melihat Eonni dari jauh, sudah membuatku iri. Dan aku tidak menyangka bahwa Oppa akan menyukai seorang gadis sampai seperti ini. Sungguh, Eonni berbeda dari gadis yang Oppa sukai dulu.” Sae Hee mengulas senyum kala melihat raut terpana yang sudah tidak terhalang telapak tangan itu. Ia melanjutkan…

Eonni bukan hanya seorang gadis yang Oppa sukai. Tapi Eonni adalah gadis yang sangat… sangat Oppa cintai… sebagaimana Oppa mencintai Eomma dan aku. Bahkan mungkin lebih. Dan aku merelakannya jika itu adalah Eonni.” Sae Hee kembali meraih kedua tangan Soo Rin. Mengangkupnya, meremasnya dengan penuh rasa. “Eonni, terima kasih!”

I can see your eyes gazing at the horizon. An empty street corner, a silent embrace, love is quietly ablaze. I can hear your voice. I can hear you in my mind

Soo Rin merasa dadanya berdebar dengan begitu kerasnya. Mendengar cerita panjang dari Sae Hee mengenai Kim Ki Bum, seolah membuka matanya lebar-lebar. Betapa berartinya dirinya untuk Kim Ki Bum. Dan Soo Rin tidak menyangka bahwa seorang Kim Ki Bum mencintainya hingga seperti itu. Boleh dikatakan, Soo Rin belum sepenuhnya percaya. Dia mengira ini semua adalah mimpi. Tapi menyadari remasan tangan dari Sae Hee yang begitu hangat dan penuh ketulusan, Soo Rin sadar bahwa semua yang dia dengar… adalah nyata.

Dan Soo Rin ingin lebih menghargai perasaan lelaki itu untuk ke depannya.

I think back to my first sight of you, think back to those mottled times. With you by my side, I finally stopped wandering aimlessly. I think back to those familiar streets, think back to the beautiful days that flew away. There is a place… Only you and I know. My heartbeat, your smile, it quietly gives me support…
(Wu Yi Fan – There Is A Place)

 ****

:: Monday Morning

Soo Rin tidak menyangka akan bersekolah dengan perasaan ringan seperti sekarang ini. Setelah apa yang ia lewati kemarin. Menginap di rumah Kim Ki Bum, bertemu sapa dengan Kim Jin Young yang masih tampak dingin di pagi harinya, namun secara tak langsung beliau mulai menaruh perhatian untuknya. Mengajaknya sarapan di satu meja, menyuguhkan makanan yang sama seperti yang beliau santap. Meski suasana tampak canggung, itu hanyalah terasa di antara dirinya dengan Kim Jin Young—mungkin. Karena Ki Bum, Sae Hee, juga Ji Woo bersifat seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Mereka bersikap layaknya menyambut kerabat jauh. Tak ayal Sae Hee selalu mencairkan suasana dengan sifat tidak setengah-setengahnya itu.

Bahkan Kim Jin Young menyuruhnya untuk tidak terburu-buru pulang. Meski pada akhirnya beliau memerintahkan Ki Bum untuk mengantarnya pulang hingga selamat sampai rumah. Ya, selamat sampai rumah. Kim Jin Young mengatakan itu pada Ki Bum, di depan Soo Rin!

Soo Rin masih tidak mengerti. Semudah itukah Kim Jin Young berubah sikap padanya? Meski tidak ada ucapan maaf secara langsung, Soo Rin dapat merasakan sikap hangat Jin Young meski beliau tampak berusaha menutupinya dengan sikap dinginnya. Dan Soo Rin masih tidak mengerti mengapa Jin Young sempat berbuat—kau tahu apa—itu sebelumnya.

Tapi, Soo Rin mencoba berpikir positif. Bukankah itu berarti Kim Jin Young sudah menerimanya? Beliau memang tidak menunjukkannya secara langsung. Bahkan setelah kejadian di mana Soo Rin berbicara—yang ia sendiri tidak menyangka bisa berbicara seperti itu—di hadapan Jin Young, ayah Kim Ki Bum itu hanya sekedar menyuruhnya keluar dan tidak melanjutkan tawarannya. Bahkan di pagi harinya beliau tidak membahas itu lagi. Seolah tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.

Soo Rin tersadar dari lamunannya kala mendengar suara sang ketua kelas berseru memimpin untuk memberi salam pada Cho Seonsaengnim yang ternyata sudah berdiri di depan kelas. Ia mulai fokus pada buku Matematika yang sudah ia keluarkan sejak sampai kelas, begitu Cho Seonsaengnim membuka waktu belajar-mengajar pagi ini.

Namun, guru muda itu tampak mengerutkan kening kala melihat ada satu bangku kosong. Dan semakin mengernyit kala menyadari bangku siapa itu.

“Di mana Kim Ki Bum?”

Seketika semua kepala menoleh pada bangku milik Ki Bum yang kosong. Tak terkecuali Soo Rin. Gadis itu hampir meloncat kaget mendapati bangku di belakangnya itu kosong. Dan dia baru tersadar bahwa dirinya belum melihat sosok itu sejak masuk ke dalam kelas tadi.

Ke mana lelaki itu? Tidak biasanya dia absen, pikir Soo Rin. Well, mungkin semua penghuni di kelas ini juga berpikir seperti itu.

 .

.

Ketika istirahat berlangsung, Soo Rin melangkah menuju lantai satu di mana kelas 1 berada. Dapat ditebak bahwa Soo Rin hendak menemui Kim Sae Hee. Beruntung karena gadis itu ternyata masih berada di dalam kelasnya mengingat waktu istirahat hampir berjalan 5 menit lamanya. Sae Hee bahkan tampak sedikit terperangah mendapati dirinya berada di depan kelas, lalu segera berlari menghampirinya.

“Sae Hee-ya… apa Kim Ki Bum tidak masuk hari ini?”

Sejenak Sae Hee merasa senang gadis itu mulai memanggilnya dengan panggilan informal meski terdengar canggung. Tapi segera beralih mengerutkan kening begitu mendengar rentetan kata selanjutnya. “Oppa tidak masuk?”

Soo Rin mengangguk bingung. “Dia tidak ada di kelas selama jam pelajaran Cho Seonsaengnim.”

“Tapi, Oppa datang ke sekolah tadi. Bersamaku.”

Soo Rin semakin bingung. “Benarkah?”

Eo!” Sae Hee mengangguk yakin meski dengan kening berkerut. Ia tampak berpikir. “Ah, mungkin Oppa berada di Ruang Kesehatan?” gumamnya tak yakin. Tapi, jika diingat-ingat, tadi pagi kakaknya itu terlihat sedikit lesu. Mungkinkah kakaknya jatuh sakit?

“Aku akan memeriksanya. Terima kasih!” Soo Rin menepuk pelan bahu Sae Hee sebelum beranjak pergi. Membuat Sae Hee hanya mampu mengantar kepergiannya tanpa mengucapkan apapun.

Jika memang benar bahwa kakaknya berada di sana, haruskah dia menjenguknya? Eii, tentu saja harus! Tapi… Soo Rin ada di sana…

Ya, jadi ke kantin tidak?” Jong Dae yang baru saja beranjak dari tempat duduknya, menyadarkan Sae Hee, sampai-sampai gadis itu terlonjak kaget.

E-eo.” Sae Hee menatap koridor di mana Soo Rin melewatinya tadi. Batinnya kemudian menggumam, mungkin nanti… setidaknya biarkan Eonni bertemu dengan Oppa.

****

:: Infirmary Room

Ternyata dugaan Sae Hee benar. Lelaki itu berada di Ruang Kesehatan, berbaring di salah satu tempat tidur yang sudah ia tutup dengan tirai hingga menyerupai bilik. Wajahnya ia tutup dengan sebelah lengannya, lebih tepatnya menutup kedua matanya.

Soo Rin harus mengernyit kala memasuki bilik di mana Ki Bum berada. Melihat lelaki itu terbaring di sana, apakah lelaki itu sedang sakit? Sampai-sampai tidak masuk ke kelas Cho Seonsaengnim sampai jam istirahat seperti sekarang.

Sedikit mengendap, Soo Rin mendekati lelaki yang tengah terbaring itu. Sejenak sudut matanya mendapati kacamata lelaki itu tergeletak di atas nakas di sebelah tempat tidur. Sepertinya lelaki itu sudah memiliki kacamata yang baru, pikirnya. Begitu sampai di samping tempat tidur, barulah ia melihat napas lelaki itu tampak teratur. Sepertinya lelaki ini tertidur.

“Kim Ki Bum, kau baik-baik saja?” tapi Soo Rin lepas bicara meski dengan suara kecil. Bahkan tanpa berpikir panjang sebelah tangannya bergerak menyentuh tangan Ki Bum yang bersanding di atas perut.

Sedikit hangat… mungkinkah lelaki ini terserang demam?

Semua terjadi begitu cepat untuk Soo Rin sadari setelahnya. Tangan yang ia sentuh tiba-tiba menangkap tangannya dan menariknya hingga Soo Rin tak mampu menjaga keseimbangan tubuh dan terjatuh menimpa tubuh terbaring itu. Untungnya gerak reflek Soo Rin yang segera menumpu berat tubuhnya dengan satu tangan tidak membuat lelaki ini mengaduh, pikirnya. Tapi, hei! Bukankah lelaki ini yang sengaja menariknya hingga terjatuh dan berakhir dengan posisi seperti ini?!

Tunggu, bukankah itu berarti bahwa Ki Bum tidak tertidur?

Soo Rin melihat lengan yang menutup sebagian wajah Ki Bum bergerak, menampakkan kedua mata yang masih menutup itu. Hingga kemudian Soo Rin harus merasakan tubuhnya berdesir kala merasakan tangan itu sudah beralih menuju pinggangnya. Semakin menjadi kala melihat kedua mata tajam nan teduh itu muncul dari balik kelopak yang bergerak terbuka. Menatapnya.

Rasanya jantung Soo Rin mulai berulah lagi.

“Kukira kau tertidur…” gumam Soo Rin, mulai gugup. Dan habislah sudah keselamatan jantungnya kala melihat seulas senyum terukir di bibir penuh itu.

Oh, tidak, Kim Ki Bum tersenyum padanya…

“Aku terbangun karena mendengar pintu ruangan dibuka,” entah pendengaran Soo Rin sedang bermasalah atau bagaimana, suara Ki Bum terdengar berat dan serak. Tapi itu justru membuat jantungnya semakin menjadi.

“M-maaf… aku… sudah mengganggu waktu istirahatmu…” ucap Soo Rin penuh sesal meski dibumbui dengan nada gugup. “Bisakah kau melepaskanku? Aku… tubuhku berat, kau tahu?”

Ki Bum menggeleng. Bahkan tangan yang baru saja digunakan untuk menarik gadis ini bergerak ikut melingkari pinggang ramping di atasnya. Menguncinya. Sebelum kemudian ia menjawab, “Aku tidak tahu. Karena dari yang aku rasakan, kau begitu ringan. Ini pasti karena kau tidak makan teratur.”

Soo Rin menelan saliva dengan susah payah. Yah, memang benar yang dikatakan Ki Bum. Apalagi belakangan ini dia menjadi gila belajar yang sudah pasti dia melupakan pola makannya itu. Oh, entah sudah berapa kilogram yang dia bakar hingga tubuhnya menjadi seringan ini.

“Boleh aku bertanya?”

Eo?” Soo Rin mengerjap kaget sampai sontak kembali menatap Ki Bum. “Bertanya apa?”

“Sampai mana Sae Hee bercerita padamu?”

Ne?” Soo Rin mengerjap tak paham. Tapi detik kemudian dia menangkap maksud pertanyaan lelaki ini. Membuat secara spontan senyumnya terukir di bibirnya sebelum menjawab. “Semuanya.”

Ki Bum mengerutkan kening. “Semua?” Barulah Ki Bum menghela napas setelah melihat Soo Rin mengangguk. Jika kata semua itu memang benar-benar semua, itu artinya Sae Hee juga menceritakan soal masa lalunya.

“Aku terlihat aneh, bukan?”

Tak disangka Soo Rin akan menggeleng seraya menyungging senyum. “Kau justru terlihat lucu. Seandainya aku bertemu denganmu sejak dulu, aku pasti bisa melihat seperti apa dirimu saat pertama kali menyukai sesorang.”

Babo,” Ki Bum mendengus geli. “Jika kau bertemu denganku sejak dulu, aku tidak akan menyukai siapapun selain dirimu.”

“Maksudmu?”

“Jika kita bertemu sebelum aku bertemu dengan gadis itu, sudah dipastikan aku akan langsung menjadikanmu milikku.”

“Ke-kenapa begitu?”

“Karena aku langsung jatuh cinta padamu hanya dengan melihat foto dirimu. Bagaimana jika aku langsung bertemu denganmu untuk pertama kali, hm?”

Soo Rin hanya mengerjap tanpa membalas. Perlu diketahui bahwa wajah cantiknya itu mulai merona. Dan batinnya harus menggerutu kala melihat lelaki di—bawahnya sebenarnya—hadapannya ini mulai menyeringai yang jelas membuat jantung Soo Rin makin bertalu-talu. Oh, astaga, bisakah lelaki ini tidak membuatnya kelabakan di posisinya yang tidak menguntungkan ini?

Tapi toh Ki Bum tidak mengharapkan sebuah balasan. Karena dia langsung mengubah topik. Lupakan soal masa lalu, karena Ki Bum hanya ingin menjalankan kehidupannya bersama gadis ini. Bukan gadis yang lain apalagi gadis yang dulu.

“Soo Rin-ah.”

E-eung?”

Uri yakhon haja (ayo kita bertunangan)!”

Butuh waktu setidaknya 3 detik bagi Soo Rin untuk mencerna, barulah Ki Bum dapat melihat mata oval itu membeliak. “M-mwo?” sudah dipastikan bahwa Soo Rin terkejut bukan main.

Yakhon. Setelah Ujian Negara nanti,” ucap Ki Bum dengan lugasnya. Yang jelas membuat gadis ini serasa tengah berjungkir balik.

“T-tapi… kenapa tiba-tiba…” Soo Rin tidak tahu harus bicara apa lagi. Pada kenyataannya dia tidak pernah memprediksi akan adanya ini. Bahkan dia tidak pernah memikirkannya akan secepat ini!

Ki Bum menyadari akan keterkejutan gadis ini. Perlu diketahui bahwa jantungnya tidak kalah bernasibnya seperti milik Soo Rin. Mungkin ucapannya terdengar penuh percaya diri, tapi percayalah bahwa sebenarnya dia juga gugup. Karena jelas ini merupakan kali pertama dia… berani mengucapkannya untuk seorang gadis. Oh, jangan membayangkan bahwa Ki Bum berlatih terlebih dulu di rumah. Dia bahkan tidak ada pemikiran untuk itu dan memilih untuk berkata langsung!

“Mungkin, jika kau berpikir bahwa aku mengikuti budaya keluargaku yang ingin menikah cepat, ketahuilah bahwa aku melakukannya bukan berdasarkan itu.”

Soo Rin mengingat di mana saat dirinya pertama kali bertemu dengan Ji Woo—ibu Ki Bum—dulu. Beliau mengatakan bahwa jika anak mereka sudah melakukan suatu hubungan dalam waktu yang cukup, maka mereka harus ditunangkan begitu lulus Sekolah Menengah Atas dan dinikahkan begitu lulus kuliah. Tapi, haruskah Soo Rin percaya bahwa Ki Bum sedang tidak menganut budaya turun-menurun keluarganya mengingat sebentar lagi mereka akan lulus dari Neul Paran? Lalu, karena apa?

“Aku hanya… berpikir bahwa… tidakkah ini terlalu cepat?”

“Aku baru mengajakmu bertunangan, bukan… kau tahu itu.” Ki Bum menelan saliva dengan gugup. Jika mereka tidak sedang dalam keadaan serius seperti sekarang ini, sudah dipastikan Soo Rin akan tertawa melihat wajah tegas itu mulai memerah. Oh, bolehkah Soo Rin menyimpulkan bahwa Kim Ki Bum juga merasa malu sekarang? Karena pada kenyataannya Soo Rin juga merasa malu begitu menangkap maksud perkataan lelaki ini.

“Aku juga berpikir bahwa kita masih berstatus sebagai murid sekolah. Meski pada akhirnya kita akan melakukannya setelah lulus dan menjadi mahasiswa, itu masih terlalu cepat dan terkesan gegabah jika aku mengajakmu menikah. Karena aku sendiri belum menjadi lelaki yang bisa menghasilkan uang tetap untuk menanggung hidupmu nanti,” pada akhirnya Ki Bum mampu menyebut kata sakral itu di depan Soo Rin.

Dan tidak menyangka bahwa efeknya bisa seperti ini: canggung sekaligus membuat wajah mereka memanas secara serempak.

“Karena itu, aku rasa mengikatmu dalam tahap ini lebih baik. Setidaknya aku tidak perlu khawatir karena kau sudah bersamaku dengan status yang lebih dari sekedar berpacaran.” Ki Bum kini mampu mengontrol diri. Ia mengulas senyum yang terkesan santai namun mampu membuat Soo Rin semakin dan semakin gugup.

“Ta-tapi…”

Tapi kini Ki Bum harus memudarkan senyumannya kala mendapati ekspresi ragu di wajah Soo Rin. Apa gadis ini tidak siap? Oh, dan itu membuat Ki Bum kembali gugup.

“Tapi… kau belum meminta izin pada orang tuaku. Bagaimana jika mereka tidak mengizinkan sedangkan aku mau?” tanya Soo Rin dengan memasang tampang polos. Ketahuilah bahwa ekspresi itu keluar tanpa kemauannya. Dan Ki Bum harus mendengus tertahan demi tidak menyemburkan tawa. Yang jutru membuatnya merasa lega. Ternyata gadis ini tengah mengkhawatirkan hal itu.

“Aku akan meminta izin setelah kau menjawabnya.”

“Bagaimana dengan orang tuamu?”

“Kau tahu sendiri bahwa mereka justru menginginkan hal ini.” Ki Bum melihat gadis ini mengangguk-angguk mengerti. “Jadi, kau menerimaku?”

Soo Rin mengerjap polos. “Kim Ki Bum, kau sedang melamarku?”

Hancur sudah pertahanan Ki Bum untuk tidak tertawa. Bahkan ada rasa gemas yang terselip di tiap tawanya itu. Jadi selama ini gadisnya menganggap dia sedang melakukan apa, sih?

Yaa!” Soo Rin terpaksa merengut tak suka. Salahkah dia bertanya seperti itu? Dia hanya sedang memastikan! Tapi, jika dipikir-pikir, sejak awal Ki Bum sudah melamarnya, bukan? Bahkan lelaki ini sudah mengajaknya sebelum menjelaskan ini-itu. Aih, Park Soo Rin, jelas saja Kim Ki Bum menertawakanmu karena cara berpikirmu yang begitu lamban!

“Astaga, kau membuatku ingin memakanmu sekarang juga!” geram Ki Bum sebelum meraih benda yang baru saja mengeluarkan kata-kata polos itu dengan bibirnya sendiri. Hanya bergerak meraupnya dan tidak berniat untuk melakukan lebih. Namun mampu membuat Soo Rin terperanjat karena perlakuannya yang tiba-tiba itu.

Rasanya jantung Soo Rin sudah terjatuh dari tempatnya.

Ki Bum melepas pagutannya demi melihat wajah yang terkejut itu. Seulas senyum manis terukir di bibir penuhnya melihat wajah cantik itu… sudah sangat merona. Dan itu jelas membuat gejolaknya mulai naik. Setelah apa yang dia lakukan. Tapi dia tidak ingin cepat bertindak. Sebelum memastikan.

Yes or No?”

Ada jeda yang cukup lama setelah Ki Bum mengutarakan pertanyaan singkat itu. Hanya tiga kata, tapi mengandung dua pilihan yang sangat berarti. Sebenarnya Soo Rin sudah mendapatkan jawabannya tapi… ough, bagaimana dia bisa mengucapkannya semudah Kim Ki Bum mengajukan permintaan padanya ketika dirinya tengah ditatap dengan begitu lekat oleh sepasang mata teduh namun sungguh menawan hati dan pikirannya itu?!

Bisakah Kim Ki Bum memejamkan mata saja kala dirinya menjawab? Tapi itu tidak mungkin terjadi, apalagi memintanya? Lucu sekali.

Um…”

Ki Bum mengangkat kedua alisnya. “Apa?”

Soo Rin menarik napas sebelum mencoba mengulas senyum, yang… percayalah bahwa Ki Bum terpesona setengah mati melihatnya. Lalu menjawab, “Yes.”

Bagaimana cara menggambarkan perasaan Ki Bum saat ini? Kembang api yang meledak-ledak di sekitarnya? Atau bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya? Atau gelembung-gelembung yang bertebaran di sekelilingnya? Percayalah bahwa semua itu tidaklah cukup untuk menggambarkan perasaan Ki Bum saat ini. Sebahagia apa dirinya saat ini.

“Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?” Ki Bum bertanya lagi. Mungkin terdengar ambigu karena jika orang lain mendengarnya, tidak akan ada yang tahu maksud dari pertanyaannya.

Tapi seolah batin mereka sudah saling terhubung, Soo Rin mengerti maksud dari pertanyaan ambigu itu. Membuat senyumnya mengembang semakin cerah hingga kedua pipinya merona lucu, dan itu jusrtu membuat lelaki ini semakin menjadi.

Saranghae…” ucap Soo Rin dengan halus. Namun sukses menusuk gendang telinga Ki Bum hingga menerjang jantungnya untuk bertalu lebih hebat lagi. Soo Rin bahkan mengulang, kini lebih lugas, “Manhi saranghae.”

Habislah sudah pertahanan Ki Bum untuk menahan gejolak yang semakin membumbung di benaknya. Rasa itu membuncah dengan gencar menyebar ke seluruh kinerja tubuhnya hingga dia tak mampu untuk mengontrolnya. Jika boleh Ki Bum menyimpulkan, ucapan itu terasa begitu hebat menghantamnya mengingat gadis ini hampir tidak pernah mengucapkannya. Kapan gadis ini pernah mengucapkannya secara langsung di depannya? Oh, saat dia mengucapkan perasaannya di Mouse Rabbit Café dulu. Setelah itu, dia belum mendengarnya lagi.

Nado…” Ki Bum mengucapkannya hampir berbisik. Entah sejak kapan suaranya menjadi terdengar begitu berat di telinga Soo Rin. Ki Bum bahkan menggerakkan sebelah tangannya untuk naik menuju punggung Soo Rin, memeluknya dengan penuh rasa, sebelum ia kembali mengangkat kepala demi mendekat pada wajah cantik itu. Dekat dan dekat, sampai sedikit lagi dia mampu meraih kembali benda manis yang sudah menjadi candu untuknya.

Nado… manhi saranghae,” lanjutnya… tepat di depan bibir Soo Rin. Barulah Ki Bum kembali memagut candunya itu. Mengulumnya dengan penuh rasa, mencecapinya dengan hati-hati, memicu sensasi yang membuncah di benak masing-masing.

Showing true feelings, this isn’t a game. The love that I want can’t happen without you. Cause I want you, Girl. And I need your love. Listen to me tell you…

Dengan mata terpejam, Soo Rin merasakan tubuhnya bergetar kala merasakan tangan besar yang sebelumnya memeluk punggungnya kini merambat menuju tengkuknya. Menekannya dengan penuh kelembutan sampai-sampai gelenyar aneh itu ikut merambat ke sekujur tubuhnya. Sungguh, dia tidak bisa bergerak mengingat posisinya saat ini. Dia takut untuk bergerak dan itu justru akan membuatnya semakin tenggelam. Namun pada kenyataannya, perlakuan lelaki ini yang begitu mendominasi justru sudah mampu membuatnya semakin tenggelam ke dalam euphoria yang mereka ciptakan sendiri.

Ki Bum bahkan menekan tengkuk gadisnya demi memperdalam, sekaligus menuntunnya untuk kembali membaringkan kepalanya hingga mempermudahkannya untuk mencium gadisnya lebih leluasa. Tanpa sadar tangan Ki Bum meremas rambut Soo Rin kala pergerakannya mulai berubah tempo. Dan menggeram tertahan kala merasakan balasan dari gadisnya meski terbilang hati-hati. Membuat gejolaknya semakin menjadi hingga bibir penuhnya menyapu setiap sisi maupun sudut bibir gadisnya dengan penuh intensitas. Dan, lupakan soal di mana dan seperti apa posisi mereka saat ini. Ki Bum sudah menepis itu semua dan hanya mengikuti nalurinya untuk melahap candunya sampai dirinya merasa puas.

Oh, tentu saja dia tidak akan pernah puas!

Namun sebelum bergerak lebih jauh lagi, Ki Bum kembali mengangkat kepala sekaligus menghentikan pergerakannya yang memabukkan itu. Membiarkan keduanya hanya sekedar menempel demi meredakan gejolaknya di benak masing-masing. Bahkan Ki Bum mati-matian menekan hasratnya yang ingin kembali bergerak di permukaan bibir yang manisnya tiada tara itu. Barulah ia melepasnya hingga dirinya kembali berbaring. Dan, Ki Bum harus sedikit menyesal melihat wajah cantik yang sudah sangat-sangat padam dengan napas yang terengah di depannya. Astaga, Ki Bum berharap pertahanannya yang sudah kembali ia bangun sedemikian rupa tidak runtuh lagi dan menyerang gadisnya lagi. Jika tidak, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan berhenti—benar-benar tidak akan berhenti.

“Kau tahu? Kita sedang berada di tempat yang berbahaya…” gumam Ki Bum dengan suara seraknya. Dia sedang mempertahankan diri untuk tidak kembali meraup candunya itu. Dan, dia tidak memiliki ide untuk apa dia bicara seperti itu. Oh, otak jeniusnya sudah mengalami disfungsional sepertinya.

Dengan wajah yang merah padam, juga napas yang benar-benar jauh dari kata teratur, sekaligus dengan jantung yang melompat-lompat liar, Soo Rin mencoba untuk mengulas senyum lalu menggeleng pelan.

“Aku percaya padamu.”

Sungguh, ucapan yang terdengar sangat halus namun sarat akan keyakinan itu, berhasil menurunkan ego yang membumbung di benak Ki Bum. Sekaligus membuatnya terpana. Ya Tuhan, gadisnya menaruh kepercayaan kepadanya. Bagaimana dirinya tidak merasa cukup bersalah—setelah apa yang tengah dia inginkan saat ini—tapi juga tersanjung?

Maybe one day you’ll say that you’ll be by my side forever. Girl, I still don’t understand. In my heart there’s only one line. I love you, My Baby. How I want to be together…

Soo Rin harus memekik tertahan kala Ki Bum memutar posisinya hingga terbaring di samping lelaki ini. Sangat cepat sampai-sampai dia baru menggeliat ketika merasakan lelaki ini memeluk erat dirinya. Oh, tidak, jantungnya harus diselamatkan. Benar-benar butuh diselamatkan!

“Sebentar saja. Aku tidak akan melakukan lebih dari ini…”

Apakah Soo Rin tidak salah dengar? Kim Ki Bum memohon padanya. Dan dia dapat merasakan jantung lelaki ini berdetak dengan begitu cepatnya, bersamaan dengan napas yang tidak teratur berhembus di puncak kepalanya. Tapi, bukan itu yang dia khawatirkan…

“Aku pastikan tidak akan ada yang masuk kemari dalam waktu lima menit ke depan.”

Ugh, apakah lelaki ini bisa membaca pikirannya? Baiklah, jika Kim Ki Bum bisa memastikannya, maka Soo Rin tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Dan, ia pun memilih untuk mengulurkan sebelah tangannya menuju punggung lebar lelaki ini. Ikut memeluknya.

Ki Bum sendiri tampak menarik napas panjang. Menghirup aroma rambut gadis ini, juga aroma tubuh gadis ini yang menguar menyerang indera penciumannya. Yang tanpa sadar membuat tubuhnya bereaksi dengan mengetatkan pelukannya hingga menenggelamkan tubuh ramping gadis ini. Ki Bum akan mengingat ini. Seluruh yang ada pada gadis ini. Ki Bum akan mengingatnya.

Juga merindukannya…

Lima menit… menjadi waktu yang begitu berharga bagi mereka.

It doesn’t matter, it doesn’t matter. Whatever you want, Baby, I’ll give it. I’ll wipe away your tears, it’ll never be dark. I’ll be by your side everyday. It doesn’t matter, it doesn’t matter. Other than you who can I love? Just hoping for the day when you’ll see my love for you… My love that I can’t take back…
(Super Junior-M – My Love For You)

****

Waktu berjalan begitu cepat. Seperti yang orang-orang katakan dalam menjalani hidup. Tak disangka bahwa mereka sudah menghadapi Ujian Seleksi di akhir musim gugur yang jatuh pada akhir November. Ujian Seleksi masuk ke Universitas yang biasa disebut dengan Suneung. Dan mereka hanya tinggal menunggu pengumuman di awal tahun berikutnya nanti. Sesuai dengan rencana, Soo Rin tetap mendaftarkan diri ke Universitas Inha karena Ki Bum juga tetap akan mendaftar ke sana.

Sesuai dengan rencana pula, setelah menuntaskan Suneung, Ki Bum bersama Kim Jin Young dan Jung Ji Woo mendatangi rumah Soo Rin untuk membicarakan soal pertunangan mereka bersama Park Jung Soo dan Kang Hye Rin—orang tua Soo Rin. Awalnya, kedua orang tua Soo Rin terkejut dan mengira bahwa keputusan mereka terlalu cepat. Namun setelah penjelasan yang cukup panjang dan penuh dengan kehati-hatian dari Jin Young maupun Ji Woo, orang tua Soo Rin menyetujui. Toh, sebentar lagi mereka bukanlah murid Sekolah Menengah Atas, tapi sudah naik tingkat menjadi mahasiswa. Dan ini baru berada pada tahap sebuah pertunangan.

Dan mereka melaksanakannya tepat di awal tahun. Mereka memilih untuk melaksanakannya di pekarangan rumah Ki Bum yang jelas sangat luas. Dan hanya mengundang kerabat dekat. Henry yang tinggal di Canada bahkan datang karena diundang. Dan, well, seperti dugaan bahwa lelaki itu akan menghabiskan waktu kedatangannya dengan berdebat dengan Sae Hee. Perlu diketahui bahwa itu merupakan cara mereka menumpahkan rasa rindu. Jangan berharap bahwa mereka akan bertingkah layaknya pasangan baru yang sedang kasmaran.

Cincin yang mereka pilih pun tidaklah terkesan mewah. Karena memang itu yang diinginkan. Sederhana, polos, namun elegan dan penuh makna. Itulah mengapa mereka memilih cincin rose gold. Indah, mengilap, namun tidak mencolok.

rose-gold-rings

“Soo Rin-sshi, akhirnya kau menyusulku juga, eo?!” Eun Jung yang juga diundang tampak begitu bahagia dan terharu. Melihat temannya juga sudah menyandang status yang sama seperti dirinya.

Chukha hae!” ucap Jong Jin yang juga datang. Bersama Eun Jung. “Sekarang kita hanya perlu menunggu, siapa yang akan naik lebih dulu, eh?” godanya kemudian.

Jelas saja pria itu langsung mendapat tatapan jengah dari Ki Bum. Lelaki itu hanya berdecak sebagai balasan ocehan Jong Jin. Berbeda dengan Soo Rin yang mulai tersipu hingga terpaksa menyembunyikannya dengan menunduk dalam.

Aigo, adik kecil kita sudah berani mendahuli yang lebih tua, eo?”

Sontak saja mereka menoleh pada sumber seruan itu. Tidak hanya mereka berempat, beberapa yang ada di sekitarnya juga ikut menoleh hingga akhirnya terdengar pekikan tertahan dari salah satunya.

“Itu—itu Lee Dong Hae!!” seru Ah Reum dengan raut tercengangnya.

“Dia datang? Bersama Eun Hyuk?!” Tae Min hampir tersedak kala melihat dua sosok itu melangkah mendekat.

Siapa yang menyangka bahwa duo grup yang sedang naik daun di Korea Selatan itu akan datang ke acara ini? Dong Hae dan Eun Hyuk, duo grup D&E, mendatangi acara pertunangan ini!

Chukha hae, dongsaeng-i!” seru pria berparas tampan bercampur menawan itu, Dong Hae. Sepasang matanya yang teduh nan memikat itu memancarkan kebahagiaan, menandakan bahwa dirinya juga ikut berbahagia. Kemudian ia beralih menatap gadis yang berdiri di samping Ki Bum, memberikan senyum manis yang… percayalah bahwa setiap kaum hawa akan terpesona melihat senyum itu. “Jadi, kau adalah gadis pilihan adikku?”

N-ne…” seperti dugaan, Soo Rin tampak terpesona dengan pria di hadapannya saat ini. Batinnya terkagum-kagum karena dapat melihat seorang idola negaranya secara langsung seperti ini.

Tapi tak disangka, pria bernama Dong Hae itu berbalik sejenak demi menarik pria yang datang bersamanya tadi, Eun Hyuk. Kemudian…

“Hyuk-ah! Dia gadis yang kau maksud? Yaa, dia terlihat sangat cantik!” serunya dengan tampang yang… sudah jauh dari kata menawan. “Hyuk-ah, aku ingin mencubit kedua pipinya yang merona alami itu!”

Seketika segala pujian yang sempat terlontar, musnah sudah begitu melihat pria itu berubah menjadi… kekanakan? Menggoyang lengan Eun Hyuk penuh semangat seraya memasang wajah yang jelas melenceng dari kata tampan!

Dan, mereka harus menganga melihat perubahan dari pria itu.

Sedangkan pria bernama Eun Hyuk itu hanya memutar bola matanya dengan jengah. Oh, dia sudah terbiasa dengan sifat pria ini. Begitu juga dengan Ki Bum yang tampak tidak terpengaruh dengan celotehan Dong Hae.

“Dia memang seperti itu. Seharusnya aku tidak mengajaknya kemari,” ucap Eun Hyuk sebagai tanda maaf.

“Sejak awal kalian memang tidak diundang,” tukas Ki Bum tanpa perasaan. Membuat dua pria itu melotot.

“Siapa bilang? Jong Woon Hyung mengatakan bahwa kita diundang. Itulah mengapa kita datang kemari!” Dong Hae protes, yang semakin menunjukkan sifat bocahnya itu.

Bukannya merasa jengah, Soo Rin justru terkikik geli melihat tingkah pria itu. Sampai-sampai dia harus membekap mulutnya agar tidak tertawa lepas. Entah mengapa kedatangan dua pria ini telah berhasil menghiburnya. Sebaliknya, reaksinya itu membuat keduanya tampak terpana melihat pesona yang memancar akibat tawanya. Wajah itu semakin menunjukkan rona alaminya. Dan itu membuat Dong Hae kembali menggoyang-goyangkan lengan Eun Hyuk.

“Hyuk-ah, dia menggemaskan. Ki Bum-ah, bolehkah dia menjadi adikku?”

“Tidak.” seketika Ki Bum menjawab. Datar namun tegas.

“Aku turut menyesal,” gumam Eun Hyuk. Jelas sekali ditujukan untuk Dong Hae yang sudah cemberut.

.

.

Hari-hari berlalu setelah acara penyatuan itu. Kini mereka kembali dihadapi dengan rasa tegang yang melanda karena menunggu pengumuman hasil dari Suneung. Di hari pengumuman, sekolah masih dalam masa libur awal tahun dan kebanyakan dari mereka sudah stay di depan komputer ataupun gadget di mana mereka bisa membuka situs pengumuman itu.

EOMMA!!”

Soo Rin berlari menuruni tangga dengan serampangan. Sebelah tangannya menggenggam erat ponselnya. Terlihat dengan jelas raut wajahnya yang mengumbar rasa kebahagiaan yang tidak bisa ditahan lagi.

Omo! Kau mengejutkan Eomma!” Hye Rin yang tak lain adalah Nyonya Park—ibu Soo Rin itu tersentak kala mendapati putrinya melompat memeluknya.

“Aku diterima di Universitas Inha!” Soo Rin hampir memekik. Ia segera memberikan ponselnya pada sang ibu.

Barulah beliau terperangah begitu melihat layar ponsel putrinya yang menerterakan sebuah situs dengan sederet kalimat, mengatakan bahwa Park Soo Rin lulus dan diterima di salah satu Universitas pilihannya. Universitas Inha.

Omoo! Selamat, anakku!” Nyonya Park segera memeluk Soo Rin. Membuat anak gadisnya itu kembali memeluknya. “Aigo, ternyata perjuanganmu berbuah hasil, eo? Meski selalu membuat Eomma khawatir, tapi akhirnya semua terbayar. Chukha hae!” ucap Ny. Park dengan tulus dan penuh kelegaan.

“Terima kasih, Eomma.”

Mwoya? Noona diterima?”

Mereka segera menoleh dan mendapati Henry baru saja turun dari lantai atas. Oh, ternyata lelaki berparas bocah itu masih menetap di sini mengingat sekolahnya masih melaksanakan libur panjang tahun baru. Henry segera menerima ponsel kakak sepupunya itu kala sang pemilik menyerahkannya.

Gyaaaaaaaa! Noona, congratulations!!!” Henry segera memeluk gadis itu. Bahkan karena begitu semangat lelaki itu mengangkat tubuh kakak sepupunya yang terbilang ringan dan memutarnya.

Ya! Turunkan aku, Henry Lau!!” pekik Soo Rin. Dia merasa pusing seketika.

Aigo, aku tidak menyangka bahwa noona-ku akan menjadi mahasiswa. Hahahaha!” Henry terbahak-bahak setelah menurunkan Soo Rin. Percayalah bahwa tawa lepasnya itu justru terdengar menyebalkan di telinga Soo Rin karena tidak seperti sedang memuji. Sampai-sampai gadis itu memukul keras lengan yang hanya berisi sedikit itu.

Drrt… drrrrtt…

Tiba-tiba ponsel yang masih di tangan Henry bergetar. Lelaki itu mengerut samar keningnya kala melihat layar sentuh itu menerterakan nama yang melakukan panggilan masuk. “Ki? Is that him?” tanya Henry spontan menggunakan Bahasa Inggris.

Buru-buru Soo Rin merebut ponselnya. Senyum manis merekah di bibir sekaligus matanya kala melihat layar ponsel tersebut. Segera saja ia menjawab panggilan tersebut.

Yeoboseyo?”

“Kau sudah melihat hasilnya?”

Soo Rin mengangguk tanpa sadar. “Um! Aku diterima di sana.”

“Begitu… syukurlah. Chukha hae…”

“Bagaimana denganmu?” Soo Rin mulai menurunkan kadar antusiasnya kala mendengar balasan yang… tidak ada nada bahagia di seberang sana. “Kau… juga diterima, bukan?”

Hening. Tidak ada jawaban langsung dari seberang sana. Membuat Soo Rin kini benar-benar melenyapkan rasa antusiasnya. Kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak seperti ini?

“Kim Ki Bum—”

“Soo Rin-ah…”

W-wae?” Soo Rin merasa gugup seketika. Jantungnya berdebar kencang tanpa komando. Memicu rasa tidak nyaman itu semakin menjadi. Ada apa dengan lelaki itu?

“Aku tidak mendaftar ke sana…”

Bagaikan mendengar petir di hari yang cerah, Soo Rin mencelos hingga tubuhnya lemas seketika. Dia berharap indera pendengarannya sedang bermasalah hingga dirinya salah mendengar perkataan Kim Ki Bum.

Tidak mendaftar?

“Apa maksudmu…” Soo Rin seperti tidak bertenaga lagi. Dan ia semakin lemas kala mendengar helaan napas panjang sebelum suara berat itu kembali mengalun.

“Aku akan pergi ke California.”

Kini, Soo Rin bagaikan disambar petir, bukan mendengar lagi. Sungguh, sekarang Soo Rin benar-benar berharap bahwa telinganya sedang tuli dan apa yang baru saja didengarnya itu hanya sebuah angan-angan. Tapi, mendengar suara lain di seberang sana—samar-samar—jelas membuat jantungnya serasa tidak berada di tempatnya lagi.

“Selamat siang. Ini adalah pengumuman bagi para penumpang penerbangan KE703 menuju Los Angeles. Penerbangan akan dimulai sekitar sepuluh menit lagi. Mohon untuk para penumpang harap

Soo Rin sudah tidak mendengarnya lagi. Dia menjatuhkan ponselnya begitu saja hingga menarik perhatian Henry juga Nyonya Park. Belum sempat keduanya bertanya, Soo Rin sudah melesat pergi keluar rumah.

“Soo Rin-ah!!”

Noona!!”

Henry segera mengejar gadis itu.

Sedangkan Nyonya Park memilih untuk memungut ponsel putrinya yang ternyata masih tersambung pada panggilan dari Ki Bum. Samar-samar beliau mendengar suara dari seberang sana.

Yeoboseyo?”

.

.

Soo Rin berlari menelusuri komplek perumahan. Dia tidak ada waktu untuk berpikir ini-itu. Sandal yang dia pakai asal—mengambil yang ada di dekat pintu, pakaian yang masih terbilang pakaian santai, juga wajah yang sudah tampak tegang. Bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca. Dia bahkan tidak mempedulikan teriakan Henry yang memanggil dirinya berulang kali di belakang. Mengejarnya.

Hingga dirinya berhasil keluar dari komplek perumahan, Soo Rin terlihat kalang kabut. Menoleh ke sana kemari. Sampai Henry hampir menjangkaunya, barulah Soo Rin melambaikan tangan pada taksi yang muncul dari arah kirinya.

Noona! Where are you going?!” teriak Henry mulai panik kala melihat Soo Rin hendak memasuki taksi yang diberhentikannya. Langsung saja dirinya mempercepat larinya hingga berhasil menyusul dan duduk di dalam taksi, di sebelah kakak sepupunya yang terlihat ingin menangis. “Noona, ada apa?!”

“Antarkan aku…” Soo Rin hampir seperti orang gagap. Sungguh, dia terlihat kacau dan panik setengah mati. “Antarkan aku ke Bandara Incheon… antarkan aku ke sana!!!”

Henry kelimpungan melihat kakak sepupunya hampir seperti orang gila karena histeris. Namun ia memilih untuk menepuk bahu sang supir taksi untuk segera melajukan mobilnya ke tujuan yang sudah disebutkan oleh gadis itu.

.

:: Incheon International Airport – Incheon-shi, Jung-gu, Unseo-dong 2850

Begitu taksi itu berhenti, Soo Rin keluar dari sana lalu berlari ke dalam bandara. Meninggalkan Henry yang dengan rela membayar biaya taksi tersebut. Untungnya lelaki itu selalu menyelipkan beberapa uang di kantung celana yang dipakainya. Barulah Hanry ikut berlari mengejar kakak sepupunya. Sialnya, dia sudah kehilangan jejak Soo Rin!

Seperti orang kesetanan, Soo Rin berlari tak tentu arah. Kepalanya bergerak liar mencari sosok di bayangannya. Atau siapapun yang dia kenal untuk ditanyakan keberadaan Kim Ki Bum!

Sampai kemudian, setelah berlari dari pintu satu hingga ke pintu lain di sepanjang terminal Internasional, mata ovalnya menangkap sosok yang dia kenal. Sosok yang tak lain merupakan adik dari Kim Ki Bum tengah duduk termangu di salah satu tempat duduk. Langsung saja langkah cepatnya itu membawa dirinya mendekati gadis itu.

Eonni!” Sae Hee yang tak sengaja tengah menengadah, menangkap sosok Soo Rin yang berlari ke arahnya. Dengan penampilan yang jauh dari kata rapi.

“Kim Ki Bum… Kim Ki Bum eodi?” Soo Rin hampir kehabisan napas dan dia terpaksa mencengkeram kedua lengan Sae Hee. Dan dia harus merasa takut kala gadis di hadapannya tidak langsung menjawab.

Sae Hee yang sebenarnya sudah tampak tak bersemangat, semakin terlihat sedih. Ia menatap Soo Rin dengan tatapan meminta maaf. “Oppa… sudah take off setengah jam yang lalu…”

Soo Rin mencelos mendengar jawaban lirih itu. Dia masih tidak mengerti, kenapa lelaki itu pergi dengan tiba-tiba seperti ini? Ke mana? Dan untuk apa?

Oppa… akan berkuliah di California. Sengaja Oppa tidak langsung memberitahu Eonni karena Oppa tidak ingin Eonni merasa kecewa…” Sae Hee memandang sedih gadis yang sudah menatap kosong dirinya. “Eonni, maaf…”

Hancur sudah harapan Soo Rin untuk bertemu dengan lelaki itu hari ini. Dan, dia tidak tahu kapan akan melihat lelaki itu lagi. Berkuliah? Yang benar saja. Setelah dia berjuang keras belajar hanya demi diterima di kampus tempat Ki Bum didaftarkan di sana, semua ini sia-sia? Bukankah Ki Bum pernah mengatakan bahwa dia tetap akan mendaftarkan diri ke sana? Tapi, kenapa lelaki itu berbohong padanya?

Tidak kecewa? Bukankah ini justru membuat Soo Rin merasakannya? Kenapa lelaki itu tidak berkata padanya sejak awal? Padahal, mereka baru saja bertunangan beberapa hari lalu. Dan Ki Bum meninggalkannya begitu saja? Berkuliah? Berapa lama yang akan Soo Rin lewati di saat lelaki itu akan berkuliah di sana? Empat tahun? Lima tahun?

Kehilangan tenaga, tubuh Soo Rin meluruh hingga jatuh terduduk di atas dinginnya lantai bandara. Kosong… pandangannya benar-benar kosong. Hatinya kebas hanya dalam waktu singkat. Telinganya bagaikan berdengung hingga tidak fokus mendengar panggilan panik dari Sae Hee. Tidak ia pedulikan guncangan dari tangan Sae Hee yang memintanya untuk tersadar. Karena pada kenyataannya, sebagian nyawa Soo Rin sudah pergi entah ke mana.

Mungkin dibawa pergi oleh Kim Ki Bum dengan paksa.

No fear of pain, no fear of hurt. Only with you here will I be able to live. Without you I am just as if I have lost a life, unable to move forward, unable to move backward. What do I do, what do I do? Since the day you left me, I have died a little. Once again, One more time. How can it end like this? I can’t believe those countless promises. What to do… what to do?
(Super Junior – Daydream)

.

.

To Be Continued


LOH KOK BEGINI?!

hwhw sengaja kok. Rasanya ga greget aja kalo langsung selesai setelah mereka….yang akhirnyaaaaaaa! tunangan wks XD

tapi, ini ga bakal kayak sinetron kok hahahahahah palingan 2-3 part lagi bakal selesai~ dan mungkin di part selanjutnya bakal flashback dulu biar jelas.. jadi ditunggu aja yaa ><

oke! ada salam dari cameos kita/?

Eun Hyuk (Ahjusshi)
Eun Hyuk (Ahjusshi)
leedongek
Dong Hai!

 

EunHae~^^
EunHae~^^

yosh! Terima kasih sudah mampir~♥♥

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

32 thoughts on “With You – Part 7

  1. ah aku udah seneng banget pas Soorin & Kibum tunangan tapi kenapa Kibum harus boongin & ninggalin Soorin?nyesek loh saya kalo jadi Soorin :’) *nangis dipelukan duo EunHae*

  2. Soo rin bikit tegang aja. Kira in mau nerima uang itu tp ternya dia mau ngembalikun nya. Ki bum kenapa dia malah kuliah di california sih? Bukannya di inha. Trus kenapa baru ngomong sama soo rin pas mau brkt? Bahkan mereka blm sempat bertemu lg. Ditunggu kelanjutannya.

  3. Ska dg kta2 soo rin ayah kibum lnsung terdiam d buatnya,aku agak ragu ama ayah kibum msak smudah itu dia mnerima soo rin,akhirnya kibum soo rin bertunangan tpi knapa kibum mlah prgi kuliah kluar negri bkannya dia wktu itu kuliah d inha aku curiga kibum buat perjanjian dg ayahnya,kibum bleh tunangan ama soo rin tpi kibum harus kuliah k luar negri

  4. Sekarang udh faham dengan tujian appa kibum berbuat serperti itu *maybe
    tapi kenapa kibum tiba2 pergi?
    Semangat buat author!!

  5. Ya ikan Mokpo, gue juga mau jadi adek lu!!!! Thor, itu kenapa kibum pake acara ke California lagi dah?? Suruh balik aja, batalin penerbangannya gitu.. Kasian soorin 😦

      1. iya suruh balik lagi aja, bikin ceritanya tiba-tiba pesawatnya ada kerusakan mesin terus harus balik lagi ke incheon buat perbaikan.. dan jadwal keberangkatan di delay hingga waktu yang belum ditentukan wakakaka… (sok ngatur-ngatur)… itu lagian ngapain sih kibum pake acara balik lagi kesana, kasian soorinnya kan 😦

  6. Huaaaa… awal2nya bkin melayang. Nah pas bagian trakhir tiba2 jatuh >.<
    Kim Kibummmmmm! Prg gak bilang2, nappeun noe!

  7. bnran pergi tu kibum eon omg bum knpa pergi gx ngmg2 ma gue eh mksdnya seorin pdhal lho disana gx ckp cman 1th awas lho nti ada yg nyuri seorin dri lho

  8. Itu kan soo rin ga bakalan nerima uang dari appanya ki bum. Dia kan gadis baik2 yg tulus mencintai kubum *tsah~
    mereka bikin gemes waktu di ruang ksehatan itu. Aduh manis banget. Disitu memang rada curiga sih soalnya ada kalimat yg ada unsur2 perpisahannya gitu tapi pikiran itu hilang soalnya mereka tunangan stlhnya. Barulah diakhir kecurigaanku terbukti. Ternyata kibum pergi jauh. Apa krn kibum nya mau prg jauh makanya dia cpt2 tunangan spy soorin gada yg ngambil? Iya, pasti itu. Ahh jadi ikutan lemas kaya soorin 😦 oh, ataukah itu syarat dr appanya kibum spy dia bisa tunanga sm soorin? Kibum hrs kuliah sesuai arahan appanya? Aduh sprtnya pikiranku udh menjurus kemana2 ini hehehe dtunnggu aja dh lanjutannya. Jan lama2 yaa.. Hihi

    1. wogh~ sebenernya emang sengaja aku kasih clue samar di sana.. ciee dirimu menyadarinya/? hwhw x’D
      semoga kejawab ya di pt selanjutnya^^
      makasih banyak loh ><

  9. Aaaaaa kog jadi kaya gini lanjutanya :'(, cepet next author yg maniss banyak yg nunggu lanjutanyaaa ^^ keep write fighting!!!

  10. Aduh gemes deh sama couple nih, apalagi pas part Kibum oppa ngelamar Soo rin ikut berdebar2 saling sweetnya…
    Kenapa oppa gak bilang mau pergi?
    Soo rin shock ditinggal tiba2 sama kamu oppa…
    Lanjutkan thor ke part selanjutnya…

  11. Ga relaa kalo TBC..
    Huaa harus nunggu part 8..

    Ahh syukurlaah jika ayah ki bum menyetujui hubungan mereka dan lagi mereka sampai bertunangan…

    Tapi..
    Tapi kenapa ki bum harus pergi ke luar negeri..

    Soorin pasti kaget bgt dan apalagi dia merasa kecewa… Huftt

    Eonnie bikin galau…

    1. wihihihihi aku sebagai yg bikin juga galau sendiri hahahah syukurlah kalo bisa ngena ceritanya x’D
      ugh, makasih banyak loh udah baca plus masukannya~~><

  12. Udah senengnya Jin Young Appa ngerestuin bahkan KiSoo sampe tunangan kenapa Ki Bum buat Soo Rin kecewa T.T , Soo Rin kaya orang bodoh gara gara Ki Bum >.< ,udah ada Feeling pasti ada apa-pa ternyata Ki Bum ke California T.T kasian Soo Rin baru tunangan langsung ditinggalin kaya digantung kalo gini mah 😥 , berapa lama Soo Rin harus nunggu T.T yaampun Ki Bum bener bener nyebelin bikin kesel sama kecewa (T^T)

  13. Sempat senang, akhrinya mereka bias bersama, bahkan hingga bertunangan, perjuangan mereka menghadapi ujian pun sudah berakhir. Tapi, kenapa harus ada masalah lagi? Kenapa pula kibum tidak pernah cerita pada soorin? Sepertinya kesabaran soorin benar-benar diuji.

  14. Sepertinya ini cerita dari part 7, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Sepertinya hubungan soorin dengan keluarga kim semakin akrab, bahkan soorin sampai menginap dan menempati kamar kibum ketika akhir pekan. Lalu kapan kibum akan kembali ke korea?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s