Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, Friendship, KiSoo FF "With You", PG-15, Romance, School Life

With You – Part 6

Pt.6 – Kiss & CrywyCvr

Genre :: Romance, School Life, Complicated, Family, Friendship, Angst

Rated :: PG-15

Length :: Chaptered

Recomended Songs :: Park Jang Hyun – 두사람 (Two Person) (The Heirs OST), Sung Shi Kyung – 너의 모든 순간 (Every Moment Of You) (Man From The Stars OST), Ye Sung – 먹지 (Gray Paper), Tae Yang – 이게 아닌데 (This Ain’t It), Super Junior – Don’t Leave Me

Casts ::casts_

Sorry for typos >_<

Happy reading!! ^^

ㅡㅡ

“Don’t leave me…”

ㅡㅡ

PRIA itu menyerahkan selembar cek yang telah dibubuhi nominal di atasnya—untuk seorang gadis yang telah duduk di hadapannya. Dapat ia lihat reaksi yang menguar di wajah manis itu kala melihat isi dari selebaran itu, mungkin terkejut kala melihat nominal sebanyak 8 digit di sana.

“Kami tidak akan menuntut apapun untuk menggantikan uang yang sudah Jin Young Sajangnim berikan untuk anda. Kami rasa, itu sangatlah cukup untuk memenuhi biaya kuliah anda nanti. Dan akan kami pastikan bahwa anda bisa memasuki universitas manapun yang anda inginkan.”

Terlihat gadis itu hampir saja melotot jika tidak menyadari dengan siapa dirinya tengah berhadapan. Wajah cantiknya berubah kaku bersamaan dengan gerak tubuhnya yang tiba-tiba saja serasa lumpuh. Pikirannya mulai berdebat, untuk apa… untuk apa pria ini memberikan uang sebanyak ini pada dirinya?

Seolah mampu membaca kebingungan gadis itu, sang pria kembali membuka mulut.

“Anda hanya perlu memenuhi satu syarat, Nona Soo Rin.”

Gadis bernama Soo Rin itu sedikit tersentak dengan panggilan yang terucap dari mulut pria yang memperkenalkan diri sebagai Shin Dong Hee itu. Dia tidak mampu membalas ucapan hanya untuk sekedar bertanya ‘apa’, namun sorot matanya mampu mengatakannya. Dan pria itu melanjutkan.

“Cukup jauhi Tuan Muda Ki Bum, maka kami akan membantu mengurusi pendidikan anda sekaligus memberikan uang itu dengan senang hati.”

Soo Rin terpaksa terhenyak hebat di tempat duduknya. Jantungnya berjengit keras hingga terasa ingin keluar dari tempatnya saat itu juga. Jika dia tidak ingat sedang di mana dan berhadapan dengan siapa, Soo Rin pasti sudah mencubit beberapa bagian tubuhnya dengan keras untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi. Belum sampai di situ, dia segera ditinggalkan dengan pria bernama Shin Dong Hee itu setelah berpamitan dengannya. Tidak ada semacam basa-basi berupa mempertanyakan persetujuan dirinya.

Butuh beberapa menit lamanya untuk mencerna kejadian yang baru saja dilewatinya, hingga kemudian sepasang iris kecoklatannya itu bergerak menyorot selembar cek yang dengan setia terpampang di atas meja tepat di hadapannya. Seolah memamerkan sebuah mimpi buruk yang sudah menunggu di hadapan, menyeringai mengerikan.

Seketika tubuh rampingnya melemas bersamaan dirinya menghembuskan napas. Seolah sebelumnya dia tidak sanggup untuk bernapas. Ya, dia memang merasa tidak bernapas sebelumnya. Dan saat itu juga batinnya terguncang.

Dia memang sudah memasuki area mimpi buruknya.

****

Sulit baginya untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Pada kenyataannya, dia memang tidak bisa menjauh. Lupakan soal cek itu, Soo Rin memang tidak bisa memenuhi permintaan Kim Jin Young dan memilih untuk tidak menghiraukan uang itu. Tetapi, sejak pertemuan di Hari Minggu itu, dia merasa seperti tengah diawasi. Seolah segala gerak-geriknya begitu mencurigakan hingga perlu diamati. Soo Rin mencoba untuk menganggap tidak pernah berurusan dengan apapun selain melakukan aktivitas rutinnya. Namun, sugestinya terasa sia-sia.

Selama seminggu sejak pertemuan itu, Soo Rin harus merasakan yang namanya tertekan.

Dia memang tidak diteror seperti ditelepon berkali-kali ataupun mendapatkan yang namanya surat berdarah ataupun paket misterius. Tapi, dia merasa Kim Jin Young selalu mengawasinya. Meski dia tidak tahu seperti apa sosok Kim Jin Young, dia merasa bahwa mata tajam yang—sudah dipastikan—mirip dengan mata tajam Ki Bum, selalu menghantuinya. Sekeras apapun mencoba untuk tidak menghiraukan, tetap saja mata itu terasa berada di belakangnya. Tidak. Tapi di mana-mana!

Saking berusahanya untuk tidak peduli, Soo Rin mengesampingkan sifat kikuknya dan berusaha untuk lebih dekat dengan Ki Bum. Berusaha berpikir bahwa dia baik-baik saja bersama lelaki itu. Meski dia tahu bahwa perubahannya sedikit membuat Ki Bum bingung, Soo Rin berusaha untuk menampik semua tatapan aneh yang Ki bum berikan untuknya, berganti dengan memberikan kepercayaan pada lelaki itu bahwa perubahannya merupakan suatu hal yang baik.

Tapi di samping itu, tetap saja Soo Rin tidak bisa menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Tiap malam dia hampir tidak bisa tidur karena cek dan Kim Jin Young berputar-putar di ruang gelapnya kala menutup mata. Seolah jika dia memaksakan diri untuk terlelap, dua subjek itu akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya lalu menyuguhinya berupa mimpi buruk.

Hingga di Hari Minggu berikutnya, setelah Ki Bum pulang dari rumahnya, di mana Soo Rin tidak mampu menahannya lagi… dia memilih untuk menjauh. Bukan menjauh demi mendapatkan uang itu, tapi menjauh demi kepentingan akademisnya. Soo Rin sudah memutuskan untuk mendaftarkan diri di Universitas Inha. Tempat di mana Kim Ki Bum akan dimasukkan ke sana. Dia tidak membutuhkan uang itu, dia hanya membutuhkan kecerdasan otaknya untuk mendapatkan kampus tersebut.

Itulah mengapa Soo Rin menjadi seperti orang kesetanan, aktivitasnya berubah menjadi hanya belajar dan belajar. Dia menjadi gadis tuli yang tidak peduli dengan teguran maupun nasehat dari teman-temannya termasuk Kim Ki Bum, yang memperingatinya untuk mengurangi intensitas belajarnya yang tampak keterlaluan.

Namun bodohnya Soo Rin, dia tidak memprediksi bahwa perilakunya ini membuat Kim Ki Bum salah paham. Karena terlalu seriusnya mengincar kampus tersebut. Dan sampai saat ini pun dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya, maksud dan tujuannya melakukan ini semua. Sampai dia jatuh sakit, dan membuat Ki Bum terlihat kecewa, bahkan sampai membuat lelaki itu menghancurkan kacamatanya, Soo Rin masih tidak berani untuk mengatakannya.

&&&

Waktu belajar-mengajar siang telah berakhir. Seperti biasa para murid kelas 3 tetap berada di kelas untuk melanjutkan ke tahap kelas malam. Seperti biasa pula banyak dari mereka yang mengeluh karena lelah.

Soo Rin memilih untuk mengeluarkan buku paket Matematikanya. Lagi dan lagi, dia berkencan dengan buku-buku tebal itu hingga tenggelam ke dunianya sendiri dan melupakan sekitarnya. Bahkan melupakan kondisi tubuhnya yang semakin mendekati ambang batas. Hingga kemudian, konsentrasinya buyar kala tubuhnya sudah memberontak memohon untuk berhenti.

Setetes cairan merah jatuh menodai buku Matematikanya, membuatnya spontan menghentikan kegiatan mencorat-coret mencari rumus dan matanya harus beralih ke noda tersebut. Otaknya tiba-tiba berhenti bekerja hingga dirinya hanya memandang dengan tatapan kosong. Sebelum akhirnya disusul dengan tetesan lain yang memperluas jejak noda tersebut di bukunya, barulah Soo Rin bereaksi; membelalakkan mata.

Langsung saja sebelah tangannya yang bebas bergerak menyentuh hidungnya, tempat yang dipastikan menjadi sumber noda itu. Dan Soo Rin harus terperangah mendapati jari telunjuknya juga ternodai oleh cairan itu. Cairan merah pekat. Darah.

Oh, tidak. Soo Rin mulai kambuh.

Omo! Park Soo Rin, kau berdarah!!”

Seruan dari siswi yang duduk di seberangnya itu mengejutkannya, sekaligus mengejutkan hampir seisi kelas hingga sontak mereka menolehkan kepala pada Soo Rin. Juga, mengejutkan Ki Bum yang duduk tepat di belakangnya. Lelaki itu segera bangkit dari duduk dan hendak memeriksa, namun di saat yang bersamaan Soo Rin juga bangkit dari duduknya lalu berlari keluar kelas melalui pintu bagian depan seraya membekap hidung dan mulutnya.

Sedetik—atau mungkin tidak ada sedetik, Ki Bum sempat melirik pada objek yang begitu menarik perhatiannya. Buku yang terbuka di atas meja Soo Rin telah ternodai oleh darah, yang jelas saja membuatnya semakin kalut dan tanpa berpikir mengejar gadis itu.

Soo Rin sudah berada di ambang batasnya.

Gadis itu berlari menuju toilet terdekat. Langsung saja dirinya menjorokkan sebagian tubuhnya ke atas wastafel toilet seraya memutar keran air. Kepalanya serasa berputar kala melihat darah itu jatuh mengalir bersama air yang keluar deras dari keran, apalagi melihat sebelah tangannya juga ikut ternodai karena membekap mulutnya tadi. Soo Rin meringis melihat darah begitu banyak keluar dari hidungnya. Segera saja ia membilas kedua tangannya sebelum beralih mencubit batang hidungnya demi menuntaskan lajur darahnya.

Begitu selesai, Soo Rin tidak segera menegakkan kembali tubuhnya. Lebih tepatnya, tidak bisa. Seolah tenaganya sudah terkuras akibat mimisannya itu. Membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia akan pingsan dengan posisi seperti ini?

Tiba-tiba dia merasakan dua tangan menangkap tubuhnya lalu membimbingnya untuk kembali tegak, memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan sang pemilik tangan itu. Barulah Soo Rin terkesiap mendapati… lelaki itu sudah berada di hadapannya.

Dan kini giliran Ki Bum yang harus terkesiap melihat wajah cantik itu semakin pucat pasi. Ada jejak merah di bagian philtrum-nya, keringat yang membanjiri sisi wajah itu, bahkan deru napasnya yang sudah tidak teratur. Oh, lupakan soal dirinya yang berani menerobos masuk ke dalam toilet perempuan. Karena sungguh Ki Bum sudah tidak memikirkan batasan itu dan hanya mempedulikan kondisi Soo Rin.

“Soo Rin-ah, kita ke Ruang Kesehatan. Sekarang!” tandas Ki Bum seraya menuntun gadis itu keluar dari toilet. Namun begitu berhasil keluar, Soo Rin justru melepaskan diri. Menolak secara bahasa tubuh. Membuat Ki Bum harus menoleh sekaligus melemparkan tatapan tajam untuk Soo Rin. “Kau sakit, Park Soo Rin! Kau harus diobati!”

“Aku tidak sakit! Aku—aku hanya kelelahan…” elak Soo Rin dengan napas tersengalnya. “Aku tidak mau pergi ke sana. Aku tidak mau menunda waktu belajarku.”

“Semua itu akan percuma jika kau memaksakan diri seperti ini. Kau butuh istirahat!” Ki Bum mendesis tajam. Dia kembali menuntun gadis itu untuk beranjak lagi.

“Aku tidak mau!!” Soo Rin memekik. Dan ia kembali melepaskan diri. Namun lengannya berhasil ditahan oleh lelaki itu hingga ia tidak menjauh.

“Kenapa kau bersikeras seperti ini, Park Soo Rin?!” Ki Bum mulai hilang kesabaran. Bahkan tanpa sadar dirinya sudah dua kali menyebut nama gadis itu dengan lengkap, sebuah tanda bahwa dirinya sudah emosi. “Kenapa kau menjadi keras kepala seperti ini?!”

“Aku tidak ingin menjadi jauh…”

Ki Bum tercenung mendengar jawaban lirih itu. Terdengar ambigu baginya, tapi Ki Bum segera menangkap maksudnya. Apakah lagi-lagi gadis ini bersikeras untuk menjadi seimbang dengannya?

“Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku tidak peduli? Aku tidak peduli sepintar apa dirimu—”

“Bukan itu!”

Ki Bum berhenti bersuara. Dapat ia lihat Soo Rin mulai menggigit bibir dengan kedua tangan yang mengepal. Lagi-lagi gadis itu tidak mau mengungkapkannya, membuat Ki Bum semakin gamang. Ia memilih untuk kembali menuntun gadis itu, tidak mau mengulur waktu. Soo Rin harus segera diobati!

Tapi Soo Rin kembali menahan diri. Membuat Ki Bum semakin geram hingga mendesah frustasi. “Soo Rin—”

“Aku melakukannya… karena aku ingin tetap berada di dekatmu…”

Kini Ki Bum harus tertegun. Kedua matanya yang sudah tidak dihiasi oleh bingkai kacamata itu tampak melebar. Dia tidak salah dengar, bukan? Soo Rin menjawab apa?

“Aku—aku melakukannya karena aku ingin berada di tempat yang sama denganmu. Aku… sudah tahu bahwa kau akan didaftarkan ke Universitas Inha… Itulah mengapa aku belajar seperti sekarang ini, karena aku ingin diterima di sana. Aku… ingin tetap bisa melihatmu…” Soo Rin menunduk begitu menyadari sepasang matanya mulai mengembun. Batinnya berteriak untuk tidak menyeruakkannya. Namun justru itu membuat napasnya semakin tak teratur karena harus menahan napas. Ia melanjutkan, “Aku—aku tahu bahwa tujuan kita berbeda nantinya. Dan aku merasa bahwa itu tidak perlu dipermasalahkan karena hanya sekedar berbeda jurusan…”

Soo Rin menelan saliva dengan susah payah. Suara halusnya sudah bergetar, dan ia merasakan sakit pada tenggorokannya karena berusaha keras menahan tangis. “Tapi… aku tidak bisa jika harus berbeda kampus nantinya…” dan hancur sudah pertahanannya. Begitu memilih untuk menghembuskan napas, buliran bening itu membobolnya dan mengalir bebas di kedua pipinya. “Aku… ingin tetap bersamamu…”

Tak bisa lagi menahan, Soo Rin terisak hebat. Berkata dengan sangat jujur, sesuai dengan kata hatinya, ternyata begitu menguras emosinya. Soo Rin memilih untuk memberanikan diri mengungkapkannya. Dia tidak ingin lelaki ini semakin salah paham. Sudah cukup dirinya membuat lelaki itu menghancurkan kacamatanya sendiri karena rasa kecewa terhadap dirinya. Dan kini dia ingin menunjukkannya. Bahwa dia bersungguh-sungguh.

Ki Bum sendiri harus mencelos mendengar tutur kata yang sangat jujur dari mulut gadis itu. Batinnya serasa ditohok dengan begitu kerasnya oleh kata-demi-kata yang keluar dari mulut itu. Bolehkah dia mengutuk dirinya sendiri karena sudah salah paham terhadap gadisnya tadi? Bahkan merasa kecewa karena gadis ini bersikap menjauh yang ia kira karena ancaman sang ayah?

“Maafkan aku… sungguh, maafkan aku, Kim Ki Bum…” Soo Rin menunduk semakin dalam. Napasnya yang sudah tersengal membuat isakannya semakin hebat. Dia menangis deras. Di depan lelakinya sendiri.

Ki Bum terasa tengah ditampar keras. Rasanya ini lebih sakit dibandingkan tamparan ayahnya Minggu lalu. Melihat gadisnya menangis seperti ini, di depannya, menangisinya. Karena tidak ingin menjauh darinya… sungguh, Ki Bum merasa sulit bernapas sekarang. Dan ia mulai merasakan pandangannya mengabur. Langsung saja dirinya meraih tubuh gadisnya, menariknya ke dalam pelukannya, dengan begitu erat, dengan penuh rasa. Membiarkan gadisnya menumpahkan semuanya di dadanya.

sad hug

Kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Kenapa ayahnya begitu tega? Kenapa dia tidak boleh mencintai gadis ini? Kenapa gadis ini tidak boleh mencintainya? Kenapa ayahnya tidak sudi mereka bersama?

Ya Tuhan, Ki Bum benar-benar tidak tahan lagi.

Dia melepas pelukannya lalu beralih menangkup wajah Soo Rin yang sudah banjir air mata. Sungguh, wajah cantik itu sudah kacau dan kenyataan itu semakin menohoknya. Ki Bum benar-benar menyadari bahwa pandangannya semakin mengabur, bahkan dia seolah kehilangan kemampuan untuk mangambil napas. Dia menjadi layaknya orang bodoh seketika.

Mengangkat sedikit wajah cantik itu, Ki Bum mencondongkan wajahnya mendekat, memagut bibir yang sudah mengeluarkan isakan yang terdengar menyakitkan baginya. Dan di saat itu juga, pertahanan Ki Bum runtuh seketika. Bulir bening itu menerobos jatuh dari pelupuk matanya, membasahi pipinya… juga pipi gadisnya yang menempel padanya.

Tidak ada pergerakan. Hanya sebuah ciuman yang menyalurkan seluruh emosi mereka. Dengan mata yang terpejam, juga air mata yang mengalir seolah saling berbagi, bersama mereka merasakan sakit yang sama…

.

After a tiring day passes, two people become one shadow. A vague happiness that seems reachable is still over there. Even if my scarred heart casts a shadow on your dreams, please remember that a person who loves you till it hurts… is next to you. Although this path seems far sometimes, even if you shed tears out of sadness. Until everything becomes a memory, let’s become each other’s resting place. Even if the cruel wind blows again, we will overcome the rough times together…
(Park Jang Hyun – Two Person)

****

:: Infirmary Room

Dua insan itu tengah duduk bersama di salah satu tempat tidur di Ruang Kesehatan ini. Sang lelaki yang duduk di pinggir bersandar dengan kepala ranjang, dan sang gadis yang hampir setengah terbaring di tengah ranjang. Bersandar dengan bahu lebar lelaki itu.

Mereka tidak berdiam diri. Melainkan tampak tengah berdiskusi. Buku-buku berserakan di pangkuan mereka. Sang lelaki tampak mencorat-coret salah satu buku yang dipegangnya, sedangkan sang gadis memperhatikan. Sesekali mengangguk menandakan bahwa dirinya mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh lelaki itu. Lalu lelaki itu akan memberikan buku itu kepada sang gadis untuk dibaca. Begitu juga dengan buku yang lain.

Ya. Ki Bum dan Soo Rin, menghabiskan waktu belajar malam mereka di Ruang Kesehatan. Mungkin jika dilihat dari sisi teman-teman sekelas juga para guru yang tidak mengetahui keberadaan mereka, bisa dikatakan Ki Bum dan Soo Rin membolos dari kelas malam. Tapi pada kenyataannya, mereka tetap belajar meski berada di lokasi berbeda, di Ruang Kesehatan. Mengingat Soo Rin yang dalam kondisi lemah saat ini karena penyakit darah rendahnya yang kambuh.

Awalnya Ki Bum menyuruh Soo Rin untuk berbaring di sini, melupakan sejenak ambisi belajarnya itu. Namun dia menyadari bahwa nasihatnya justru membuat sifat keras kepala Soo Rin menjadi. Daripada melihat gadis itu berlari untuk kembali ke kelas, Ki Bum memilih mengalah. Menemani gadis itu belajar, membimbing sekaligus mengajar gadis itu—gadisnya sendiri.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan mereka masih betah berada dalam posisi yang sama. Tidak ada keluhan seperti; kesulitan untuk menulis, merasa pegal, ataupun merasa bosan. Mereka melakukannya dengan senang hati. Tak ayal jika terkadang mereka tertawa karena kesalahan dalam menjawab soal atau kesalahan dalam menarik kesimpulan suatu teori. Dan tak ayal pula jika sesekali mereka berargumen hingga berdebat demi mempertahankan pendapat dalam menjawab soal, seperti soal berbasis sosial.

“Kota Metropolitan di Korea Selatan ada enam, Soo Rin-ah. Bukan sembilan.”

Ne?” Soo Rin memeriksa lagi jawaban dari soal Pengetahuan Umum. “Ugh… padahal otakku mencetuskan angka enam tapi kenapa aku justru menulis angka sembilan?” gerutunya kemudian seraya meraih penghapus di pangkuan lalu menghapus jawabannya. Untung saja sejak tadi dia menggunakan pensil, bukan pena.

Ki Bum yang mendengar gerutuan gadisnya itu tersenyum geli. “Kau mulai tidak fokus, sepertinya,” tanggapnya kemudian. Sesuai dugaan bahwa gadis itu menggeleng pelan seraya meletakkan bukunya ke pangkuan, lalu beralih menepuk kedua pipinya, mencoba mengumpulkan konsentrasinya kembali. Dan kesempatan itu Ki Bum gunakan untuk menyambar buku tersebut, menutupnya sekaligus menyingkirkannya.

Yaa, kenapa—” Soo Rin hendak protes kala dengan cepat Ki Bum merangkul pundaknya sekaligus menarik tubuhnya yang sudah setengah bangkit untuk kembali merapat. Menuntun kepalanya untuk kembali bersandar di bahunya. Yang seketika mengejutkan Soo Rin hingga memicu jantungnya untuk berpacu lebih cepat. Entah kenapa perlakuan Ki Bum terasa… penuh dengan perhatian.

“Istirahatlah. Waktu belajar tambahan baru akan berakhir satu jam lagi. Khusus untukmu, dipercepat,” jelas Ki Bum. Dia tahu pasti bahwa Soo Rin tidak mau pulang lebih dulu sebelum waktunya. Setidaknya menyuruh gadis ini beristirahat cukuplah masuk akal. Toh pada kenyataannya gadis ini memang sudah semestinya beristirahat.

Soo Rin memilih untuk patuh. Ia pun mulai menyamankan diri di pelukan Ki Bum begitu lelaki ini membenarkan selimut agar menyelimutinya hingga batas perut, meski tak dapat dipungkiri bahwa dirinya mulai gugup. Bagaimana dia tidak gugup menyadari dirinya berada di dalam pelukan lelakinya… di atas tempat tidur… dan ini masih di area sekolah tentunya. Tapi sudahlah, tidak mungkin pula akan ada murid lain masuk kemari, bukan? Dan, Kim Ki Bum tidak mungkin macam-macam.

Lagipula, setelah apa yang mereka lewati hari ini, Soo Rin menyadari bahwa keberadaan Ki Bum benar-benar mempengaruhinya dan itu seperti sebuah borgol yang membuatnya tidak bisa menjauh. Lebih tepatnya, tidak ingin menjauh.

“Kim Ki Bum…”

Hm?”

“Terima kasih.”

Ki Bum tersenyum. “Untuk menemanimu belajar? Sama-sama kalau begitu,” balasnya.

Soo Rin menggeleng pelan. “Bukan hanya itu.”

“Lalu?”

“Terima kasih karena sudah memahamiku. Aku—aku merasa senang karena ada orang lain yang mampu memahamiku sepenuhnya selain kedua orang tuaku… dan itu adalah kau.” Soo Rin tampak tersipu, sampai-sampai ia harus menundukkan wajahnya. Atau lebih tepatnya menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan lelaki ini.

Melihat tingkah gadisnya yang seperti itu, membuat Ki Bum merasa gemas hingga mengetatkan pelukannya. Seulas senyum manis terkuar di bibir penuhnya hingga mampu menambah kadar ketampanannya itu. “Sama-sama,” ucapnya dengan suara melembut. Dan itu memberikan dampak pada gadisnya itu.

Soo Rin merasa dadanya berdesir hebat.

“Dan… maafkan aku. Karena aku, kau mematahkan kacamatamu…” ucapnya dengan lirih. “Maaf, aku sudah membuatmu kecewa—”

Aniya…” sambar Ki Bum. “Aku hanya sedang kalap saat itu. Maafkan aku. Aku… sempat mengira dirimu yang tidak-tidak.”

Soo Rin menggeleng cepat. Langsung saja ia bergerak memeluk tubuh Ki Bum, dan seketika ia merasa tidak ingin melepasnya lagi. Soo Rin bergerak merapatkan diri, dan ia merasa tubuhnya bergetar begitu merasakan balasan dari pergerakannya. Ki Bum membimbingnya untuk semakin rapat padanya. Juga, dapat dirasakan bahwa bibir lelaki ini menempel di puncak kepalanya.

“Kim Ki Bum…”

Hm?”

Tteonajima… (Jangan tinggalkan aku)”

Ki Bum tersenyum di balik rambut gadisnya. “Bodoh. Seharusnya aku yang mengucapkan itu.”

“Hehe,” Soo Rin terkekeh hambar. Tanpa sadar kedua matanya memanas lagi. Langsung saja ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Aah, entah kenapa hari ini dirinya menjadi begitu emosional.

“Tidurlah. Aku akan tetap memelukmu sampai kau terbangun lagi.”

Soo Rin mengangguk sebelum kemudian menutup kedua matanya. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Setidaknya Kim Ki Bum berada di sini. Memeluknya. Sampai dia kembali membuka mata.

.

Because you stayed there, because it’s you. Because you sometimes quietly lean on my shoulder. I’m really completely happy. I follow you as time flows and stops. Sometimes, I gaze at you. Because I can’t do anything else, but that every moment of you, I hope it’ll be me. Just thinking of it overwhelms me, filling me with you…
(Sung Shi Kyung – Every Moment of You)

****

Ah Reum tampak berlarian menelusuri koridor sekolah lantai satu. Sesekali dirinya menoleh ke belakang seraya berseru menyuruh dua temannya itu untuk bergerak cepat. Siapa lagi jika bukan Tae Yong dan Tae Min?

Ketiganya segera turun dari lantai atas begitu waktu pelajaran tambahan berakhir, setelah Tae Yong memberi kabar pada dua temannya itu. Tae Yong bahkan tampak menenteng dua tas yang salah satunya memang bukan milik sendiri. Dan ia hendak mengantarkannya kepada sang pemilik, yang tidak sempat beberes apalagi membawa serta barang-barangnya tersebut.

Ah Reum sampai lebih dulu di depan pintu sebuah ruangan. Ruang Kesehatan. Langsung saja ia membuka pintu tersebut tanpa mengetuk maupun permisi sebelumnya. Karena ini sudah malam dan sudah pasti hanya ada mereka di dalam, pikirnya.

“Soo Rin—” Ah Reum terpaksa menelan seruannya begitu kedua matanya menangkap lelaki itu segera menatapnya dengan mengangkat telunjuk ke depan bibir, mengisyaratkan untuk tidak bersuara. Atau lebih tepatnya berisik. Begitu melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi di dalam, Ah Reum mulai menepuk pelan bibirnya yang sempat tak terkontrol itu.

Wae? Cepat masuk—” kini giliran Tae Min yang mendapat teguran. Dari Ah Reum. Gadis itu melakukan hal yang sama seperti lelaki itu, ditambah dengan berdesis pelan. Dan Tae Min segera melongok ke dalam setelah Ah Reum masuk lebih dulu, barulah Tae Min mengerti. Ia pun melakukan hal yang sama seperti Ah Reum untuk Tae Yong yang hendak masuk terakhir.

Begitu mereka berhasil masuk serta menutup pintu kembali, Ki Bum dapat melihat tatapan ketiganya itu memancarkan penuh selidik, dan ada binar geli di sana. Membuat Ki Bum memilih untuk tidak membalas tatapan meminta penjelasan itu dan beralih turun memeriksa gadis yang… masih terlelap di pelukannya itu. Samar-samar senyumnya mengembang melihat wajah cantik itu tampak begitu tenang dalam lelapnya.

“Bagaimana keadaannya?” Tae Yong membuka suara, dengan volume kecil.

“Membaik. Dia tidur sejak pukul sembilan tadi,” jawab Ki Bum dengan suara yang tak kalah kecil.

“Syukurlah…” desah Ah Reum pelan. Merasa lega. Apalagi melihat wajah terlelap itu juga sudah tidak sepucat yang terakhir dia lihat. “Aigo… gadis ini jika sudah sakit justru sifat keras kepalanya menjadi-jadi. Sudah kukatakan berkali-kali bahwa dia harus beristirahat!” gerutunya kemudian dengan bumbu kesalnya.

Tae Min segera menyikut temannya itu agar berhenti mengoceh. “Kau bisa membangunkannya!” gumamnya memperingati. Sedangkan yang diperingati hanya mengerucutkan bibir.

“Ini. Pesananmu,” ucap Tae Yong seraya menunjukkan barang yang dibawa.

“Terima kasih. Letakkan saja di sana,” balas Ki Bum seraya menunjuk kursi yang berada di dekatnya, yang juga terdapat tas milik Soo Rin. Perlu diketahui bahwa Ki Bum sempat mengirim pesan pada Tae Yong, meminta tolong untuk membawakan tasnya kemari. Mengingat dirinya yang segera mengantar Soo Rin kemari lalu kembali ke dalam kelas hanya untuk mengambil barang-barang gadis itu, tidak terbesit di pikirannya untuk membereskan barang-barang miliknya tadi.

“Kau tahu? Jang Seonsaengnim terlihat begitu kaget begitu mendapati kursimu kosong. Seharusnya kau melihat bagaimana keningnya berkerut dengan sangat jelas saat mendengar jawaban dari San Deul bahwa kau membolos,” jelas Tae Yong seraya terkekeh geli, apalagi mengingat kembali waktu di mana San Deul—teman sekelasnya—mengatakan dengan suara cemprengnya bahwa Kim Ki Bum membolos sebelum dirinya beralih mengklarifikasi.

Ki Bum mendengus hingga senyum miringnya tercetak. “Kau tahu sendiri bahwa aku tidak pernah melakukan tindakan yang bernama membolos itu,” jelasnya penuh percaya diri.

Eishi, araa. Itulah mengapa sebutan Jenius Peringkat Satu sangatlah cocok untukmu. Selain otakmu yang cemerlang, kau juga tidak pernah memiliki sejarah hitam selama menjadi murid Neul Paran. Tapi aku tidak yakin setelah ini julukan itu masih bertahan atau tidak,” cerocos Ah Reum yang membuat ketiga lelaki itu tersenyum geli.

Eii, tentu saja masih. Dia hanya membolos satu kali dalam hidupnya di Neul Paran,” celetuk Tae Min yang mengundang tawa yang lain. Sampai-sampai Ah Reum membekap mulutnya agar tidak tertawa lepas mengingat di mana dan seperti apa kondisi yang berada di depannya.

“Tapi, Kim Ki Bum, apa kalian sedang ada masalah? Soo Rin tidak hanya menjadi gila belajar. Aku melihat dia terlihat begitu tertekan belakangan ini. Ditambah melihat kejadian kalian di waktu istirahat pertama tadi… ough, aku melihat Soo Rin hampir menangis setelah bertemu denganmu,” jelas Ah Reum setelah berhasil meredakan tawa, dan kini berganti dirinya tampak khawatir.

“Kau juga tidak jauh berbeda dari keadaan Soo Rin, menurutku,” celetuk Tae Min lagi. Namun disambut anggukan Ah Reum.

“Soo Rin tidak mau bercerita jika aku meminta. Dia terlihat gelisah dan semakin tertekan jika aku menanyakan apa yang tengah terjadi padanya. Karena dari yang kulihat, sikapnya belakangan ini bukan hanya karena mengincar Universitas Inha itu,” jelas Tae Yong.

Ki Bum menatap Tae Yong penuh tanya. “Kapan dia mengatakan soal universitas itu?”

Tae Yong tampak berpikir sejenak. “Seminggu yang lalu? Ah, aku rasa lebih dari seminggu yang lalu,” gumamnya pelan.

“Ah, soal itu? Itu saat kita sedang membicarakan soal para idol yang menjadi alumni di beberapa kampus, bukan?” Tae Min tampak mengingat-ingat. “Aku mengira bahwa Soo Rin mengincar kampus itu karena Aktor Choi Si Won merupakan alumni dari sana.”

Kemudian Ah Reum menjentikkan jari. “Mungkinkah… itu karena kau yang akan masuk ke sana?” tebaknya seraya menunjuk Ki Bum. Membuat Tae Yong dan Tae Min mengerjap kaget, membenarkan dalam hati.

Sedangkan Ki Bum terpaksa menghela napas berat sebelum mengangguk membenarkan. Membuat mereka berdecak tak percaya seraya melemparkan tatapan memojokkan untuknya.

Eii, jadi Soo Rin menjadi seperti ini karenamu?” Tae Yong memicing lelaki itu seraya bersedekap.

“Maaf. Tapi bukan itu masalah utamanya,” ucap Ki Bum pelan.

“Lalu?” Ah Reum bersuara.

Ki Bum menghela napas lagi sebelum mencoba untuk tersenyum pada mereka. “Kalian tidak perlu tahu. Aku akan segera menyelesaikannya.”

Meski ada rasa tidak setuju, mereka memilih untuk mengangguk mengiyakan jawaban Ki Bum. Mungkin masalah ini memang bukanlah masalah yang bisa diumbarkan pada mereka sekalipun mereka merupakan teman dekat. Ya, ini memang masalah pribadi.

“Jadi, kau yang akan mengantar Soo Rin pulang?” Tae Yong mengganti topik, yang segera mendapat balasan berupa anggukan dari Ki Bum. Dan itu membuatnya ikut mengangguk.

“Antarkan dia sampai depan rumah, eo? Kalau perlu sampai ke dalam rumah,” peringat Ah Reum yang disambut senyum samar dari Ki Bum sebelum lelaki itu mengangguk lagi.

Mereka pun berpamitan sebelum beranjak keluar ruangan, mengingat waktu semakin larut. Hanya saja, Tae Yong yang beranjak terakhir memilih untuk kembali mendekati mereka begitu yang lainnya berhasil keluar.

“Ki Bum-ah, kau tahu? Soo Rin pernah bertemu orang asing di halte dulu. Orang itu mengatakan bahwa dia akan mendapatkan masalah yang berujung akan nasibnya bersamamu.”

Mwo?” Ki Bum mengerutkan kening, jelas sekali. Omong kosong apa ini? Pikirnya.

“Aku tidak mengingatnya dengan jelas. Awalnya orang asing itu bertanya apakah Soo Rin memiliki kekasih, barulah mengatakan bahwa dia akan mendapatkan masalah. Karenamu.” Tae Yong dapat melihat gurat kebingungan yang bercampur dengan mimik terkejut di wajah Ki Bum. Membuatnya memicing dan mulai menebat-tebak. “Mungkinkah, itu yang memang sedang kalian hadapi sekarang?”

Ki Bum mendengus sedikit kasar sebelum menatap jengah Tae Yong. “Jangan terlalu percaya. Tidak semua ramalan itu benar.”

Eo? Bagaimana kau tahu bahwa orang itu adalah peramal?”

“Lalu apa? Pengemis jalanan?”

Tae Yong mendecih lucu. Mana ada pengemis jalanan di Korea Selatan? Yang ada mereka-mereka itu sudah diamankan oleh petugas sebelum memenuhi sepanjang jalan negeri ini lalu ditampung di tempat yang sudah disediakan.

Dwaesseo (Sudahlah). Aku hanya ingin menyampaikan itu. Karena setelah aku sadari, aku merasa bahwa itu ada hubungannya dengan ini meski aku tidak tahu pasti masalah apa itu.” Tae Yong berucap lebih pelan lagi, bahkan berbisik. Setelah melihat gadis di pelukan Ki Bum menggeliat kecil dengan kening sedikit berkerut menandakan bahwa sang empu merasa sedikit tidak nyaman.

Dengan sigap Ki Bum merapatkan jarak mereka yang ternyata sedikit melonggar, menurunkan sedikit bahunya yang digunakan sebagai bantalan kepala Soo Rin. Membuat gadis itu kembali tenang dalam lelapnya. Sekaligus membuat Tae Yong yang melihat tingkah lelaki itu, melongo terperangah.

Ya, aku baru menyadari bahwa kau adalah lelaki yang sangat perhatian…” gumam Tae Yong takjub, namun dengan memasang tampang bodoh.

“Hanya untuknya,” timpal Ki Bum datar, namun sarat akan penekanan.

Tae Yong mengangguk mengerti seraya mengulum senyum. “Omong-omong, Soo Rin terlihat seperti putri tidur, eh?”

Membuat Ki Bum berdecak seraya memelototi lelaki berparas menawan itu sebelum membuka mulut, “Ka!” usirnya dengan suara beratnya itu.

Tae Yong segera mengangkat kedua tangan, memilih untuk gencatan senjata. Barulah ia beranjak keluar dari ruangan.

Ki Bum mendengus halus. Menurunkan pandangan, menatap wajah terlelap gadisnya itu. Sebenarnya, dia terpengaruh dengan ucapan Tae Yong. Jika benar bahwa gadis ini bertemu dengan orang yang diceritakan Tae Yong, apakah itu berarti bahwa gadis ini sudah menyadari tanda-tandanya sejak awal?

****

(23:10 KST)

Keduanya melangkah keluar dari gedung sekolah berdampingan. Suasana sekolah sudah sangat sepi. Para murid tingkat akhir sudah mengosongkan gedung sejak pukul sepuluh, disusul dengan para guru. Mungkin hanya tersisa penjaga sekolah yang baru akan mengunci sekolah pada pukul dua belas nanti. Sempat keduanya bertemu dengan salah satu penjaga yang tengah berkeliaran memeriksa tiap ruangan dan dituduh tengah melakukan macam-macam sampai baru akan pulang di waktu selarut ini. Apalagi melihat sang gadis yang tampak lesu dengan wajah yang masih tampak pucat. Tapi penjaga sekolah itu tersadar bahwa tuduhannya salah, karena mendengar lelaki itu berkata dengan tenang dan tidak ada nada kebohongan.

“Kenapa kau tidak membangunkanku di pukul sepuluh? Dengan begitu ‘kan aku bisa pulang bersama Ah Reum dan Tae Yong,” gerutu Soo Rin.

“Kau terlihat sangat lelah. Mana mungkin aku tega membangunkanmu? Lagipula mereka justru menyuruhku untuk membiarkanmu dan memilih aku sebagai pengantarmu,” jawab Ki Bum kalem.

Ugh… aku bahkan lupa menghubungi Appa.”

“Aku sudah menghubungi beliau. Aku juga sudah menjelaskan kondisimu sekaligus meminta izin untuk membiarkanku mengantarmu pulang.”

“Kau… menelepon ayahku?”

Eum.”

“Menggunakan ponselku?”

“Ponselku.”

Eo?”

“Aku sudah bertukar nomor ponsel dengan ayahmu, jika kau belum tahu.”

Soo Rin memasang raut tercengang. “Se-sejak kapan?”

“Minggu lalu.” Ki Bum menatap Soo Rin seraya mengulum senyum. “Saat kita pergi menjenguk beliau ke rumah sakit.”

“Kau benar-benar…” Soo Rin hendak mengomel namun tidak tahu kata apa yang ingin ia cetuskan.

“Menantu yang baik.”

MWO?!”

Ki Bum tergelak mendengar seruan kaget dari gadisnya itu. Kemudian ia mendapatkan cubitan gemas di lengannya yang justru membuat tawanya menjadi. “Aih, wae? Kau tidak suka?”

“Hentikan!” Soo Rin memilih untuk menunduk dalam. Berharap lelaki di sebelahnya itu tidak melihat bahwa wajahnya itu sudah merona padam. Hanya karena kata-kata itu. Ugh, kenapa pula lelaki itu tiba-tiba mengucapkannya? Tidak tahukan bahwa dia berhasil membuat jantung Soo Rin melompat-lompat?

Ara.” Ki Bum berucap penuh pengertian. Ia mengetatkan tautan tangan mereka lalu menuntun gadisnya untuk melangkah lebih cepat. Mengingat waktu semakin larut dan… karena subway di daerah tersebut sudah selesai beroperasi sejak pukul sepuluh tadi, terpaksa harus mencari taksi.

Namun, begitu mereka berhasil melewati gerbang sekolah, seseorang bergerak mendekati mereka sekaligus menghadang. Yang seketika membuat mereka terkejut dan terpaksa menghentikan langkah. Orang itu kemudian membungkuk hormat.

“Tuan Muda Ki Bum, saya datang untuk menjemput anda.” Shin Dong Hee, orang yang menghadang mereka itu memberi salam. Kemudian mata sipit nan tajamnya itu melirik gadis yang berdiri di sebelah tuan mudanya itu.

Menyadari lirikan itu, Ki Bum sedikit menarik Soo Rin untuk berdiri di belakangnya. Menyembunyikan gadisnya. Barulah Ki Bum membalas tatapan Shin Dong dengan… sebuah tatapan yang bisa dibilang tidaklah hangat.

“Apakah Ahjusshi tidak pernah tahu bahwa aku biasa pulang sendiri?”

“Jin Young Sajangnim mengkhawatirkan anda yang tidak kunjung pulang. Itulah mengapa saya diperintahkan untuk menjemput anda.”

Ki Bum berdecih setelah mendengar jawaban mulus dari Shin Dong. Mengkhawatirkannya? Sejak kapan ayahnya itu memiliki waktu untuk mengkhawatirkannya yang—belum ada satu jam—terlambat pulang? Rasanya ingin sekali Ki Bum tertawa.

“Aku akan pulang setelah mengantar Soo Rin pulang,” tegas Ki Bum. Melanjutkan langkah, Ki Bum menarik Soo Rin untuk mengikutinya hingga melewati Shin Dong begitu saja.

“Kim Ki Bum…” Soo Rin segera menahan tarikan Ki Bum. “Aku—aku bisa pulang sendiri. Lebih baik kau—”

“Kau gila? Ini sudah malam dan subway sudah tidak ada. Ditambah kau sedang dalam kondisi tidak baik! Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?!” sambar Ki Bum cepat. Mata tajamnya menghunus iris kecoklatan Soo Rin, membuat sang empu hanya mampu menurunkan pandangan.

“Anda bisa membawa Nona Soo Rin, Tuan Muda.”

Seketika mereka menoleh pada Shin Dong serta memasang wajah tak mengerti. Shin Dong melanjutkan.

“Jin Young Sajangnim ingin bertemu dengan Nona Soo Rin hari ini.”

Terpaksa mereka memasang wajah terkejut sebelum saling melempar pandang. Apa mereka tidak salah dengar? Kim Jin Young ingin bertemu dengan Soo Rin? Apa lagi yang ingin pria paruh baya itu lakukan?

“Kim Ki Bum, aku—”

Kaja.”

Soo Rin melebarkan mata begitu Ki Bum menariknya untuk mengikuti langkah Shin Dong menuju mobil yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Apakah lelaki ini akan mengantarnya untuk bertemu dengan ayahnya? Oh, tidak. Soo Rin tidak siap. Soo Rin tidak siap untuk bertemu dengan ayah Kim Ki Bum!

“Kim Ki Bum, aku tidak bisa bertemu dengan ayahmu!” seru Soo Rin tertahan. Namun percuma, tarikannya untuk menahan tarikan lelaki itu pun juga percuma.

Tapi sebelum sampai di dekat mobil di mana Shin Dong sudah membukakan pintu penumpang untuk mereka, Ki Bum berhenti sejenak. Menatap lekat gadis yang sudah kembali pucat karena panik, dan Ki Bum meremas tangan yang masih digenggamnya itu, memberikan ketenangan. Sekaligus mengucapkan sesuatu yang membuat Soo Rin tertegun.

“Kita akan menghadapi Appa. Bersama-sama.”

.

.

 

 

:: Kim Family’s House – 23:52 KST

Seperti seorang karyawan yang telah melakukan kesalahan besar karena keteledorannya lalu dipanggil oleh atasan untuk diminta pertanggung-jawaban atau bahkan suatu gugatan tegas yang biasa disebut dengan pemecatan. Mungkin begitu gambaran dari perasaan Soo Rin saat ini. Dia sudah melangkah masuk ke dalam bangunan yang hampir dikatakan seperti mansion bertembok putih gading. Soo Rin tidak pernah mengira bahwa seorang Kim Ki Bum ternyata tinggal di rumah sebesar, semegah, dan semewah ini. Dan itu justru membuat Soo Rin semakin takut.

Ki Bum menyadari ketakutan itu. Dapat ia rasakan genggaman tangan mereka semakin kuat karena remasan dari Soo Rin, bahkan ia merasakan tangan gadis ini mulai dingin. Membuat Ki Bum harus menenangkan gadis ini dengan semakin merapatkan diri sekaligus membalas remasan tangan gadis ini dengan lembut.

Bahkan kedatangan mereka ternyata diketahui oleh penghuni rumah ini. Ji Woo dan Sae Hee tampak terkejut melihat Ki Bum datang bersama Soo Rin. Seketika mereka mampu membaca situasi bahwa Ki Bum tidak mungkin membawa gadis itu kemari, malam-malam begini, jika bukan karena sesuatu. Dan itu pasti karena Kim Jin Young.

Shin Dong yang melangkah di depan, mengantar mereka untuk masuk lebih dalam. Menuju ke lantai dua. Tempat di mana Kim Jin Young berada. Seperti biasa. Ruang kerja beliau. Tanpa ragu Shin Dong meraih gagang pintu ruangan tersebut dan membukanya, lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk.

Soo Rin tidak bisa mundur lagi. Entah sudah berapa kali dia berusaha menelan saliva dan hanya berhasil sesekali. Dia gugup, gelisah, takut. Dia bahkan seolah sudah lupa bagaimana cara bernapas dengan normal. Dadanya terasa naik turun. Bahkan efeknya mampu menjalar hingga ke perutnya, merasa seperti diaduk-aduk di dalam sana. Dan itu semakin membuat keringat dinginnya gencar mengaliri sisi wajahnya.

“Aku bersamamu,” bisik Ki Bum menyadarkan Soo Rin. Mereka berhenti sejenak sebelum memasuki ruangan itu.

Ruang Persidangan… bisa dikatakan seperti itu.

Menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan perasaan yang begitu berat, Soo Rin akhirnya mengangguk. Detik kemudian, tautan mereka semakin tak terelakkan untuk lepas. Mereka melangkah masuk, menemui ayah dari Kim Ki Bum. Menghadapi beliau.

 .

Jin Young menyambut kedatangan dua insan itu dengan tatapan datar namun tajam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Sampai keduanya berdiri tepat di depan meja kebesarannya, Jin Young memilih untuk tetap menutup mulut. Kemudian beliau melirik ke bawah, mendapati sepasang tangan itu bertautan dengan begitu eratnya seolah tidak mau dilepaskan. Meski sudah beberapa kali melihat kebersamaan mereka melalui bidikan-bidikan kamera Shin Dong, ini adalah kali pertama beliau melihat langsung kebersamaan mereka. Dan itu membuat beliau merasa tak nyaman.

holdinghands

“Anda bisa mulai berbicara, Abeoji.” Ki Bum membuka suara lebih dulu. Tanpa ia ketahui, Soo Rin sedikit tertegun mendengar panggilan yang keluar dari mulut Ki Bum. Bukankah sebelumnya Ki Bum menyebut ayahnya ini dengan sebutan Appa? Atau, dia salah mendengar? Tapi, bahkan lelaki ini berbicara dengan begitu sopannya pada sang ayah. Apakah sebegitu tinggikah tata karma di keluarga ini? pikirnya.

Jin Young yang sedari tadi menopang dagu dengan kedua tangan yang bertaut di atas meja, kini menegakkan tubuh di tempat duduknya. Menatap penuh mengintimidasi pada gadis yang terus menunduk, tak berani menatap dirinya. Sebegitu takutkah gadis itu terhadap dirinya? Jin Young bahkan belum melakukan apapun. Oh, ralat. Dia sudah melakukan sesuatu sebelumnya. Jin Young bahkan belum mengucapkan apapun.

Dan lagi-lagi Ki Bum menyebutnya dengan sebutan Abeoji. Yang sekarang sebutan itu tidak disukai oleh Jin Young.

“Namamu Park Soo Rin, benar?”

Soo Rin tersentak hingga reflek mengangkat pandangan. Seketika dia merasakan sekujur tubuhnya bergetar akibat bertubrukan dengan tatapan yang menghunus dari Jin Young. Soo Rin menjawab, “N-ne…” dengan suara yang sangat kecil.

Jin Young masih mampu mendengar jawaban lirih itu. Tanpa berniat untuk membalas tatapan putranya yang sedari tadi menusuknya, Jin Young memulai pembicaraan. “Aku dengar bahwa ayahmu—Park Jung Soo—ingin membangun sebuah klinik.”

Soo Rin merasa jantungnya baru saja dikejutkan dengan defibrillator begitu mendengar nama ayahnya disebut. Apalagi dibuntuti dengan ungkapan yang… memang benar mengenai sang ayah yang berkeinginan untuk membangun klinik. Bagaimana bisa Kim Jin Young tahu?!

Jin Young yang menyadari keterkejutan itu, mengulas senyum meremehkan. “Kau tidak perlu tahu dari mana aku bisa mengetahui hal itu.”

Abeoji…” desis Ki Bum dengan nada tak suka. Oh, tidak, ayahnya mulai lagi.

“Aku bisa membantu ayahmu melakukan pembangunan itu dengan segera. Akan aku kirimkan dana sebanyak yang kau mau demi berlangsungnya pembangunan klinik ayahmu. Asalkan, kau meninggalkan putraku setelah ini,” gumam Jin Young dengan penuh percaya diri.

Abeoji, hentikan!” Ki Bum mulai tak tahan. Dia merasakan tangan yang digenggamnya itu tak bertenaga. Dia yakin bahwa gadis ini sangat terkejut.

“Kau tidak perlu khawatir. Uang yang aku berikan sebelumnya, tidak akan aku tarik kembali. Kau masih bisa menggunakannya untuk biaya kuliahmu nanti.” Jin Young mengangkat sebelah alis, menanti sebuah respon. “Bagaimana? Tidakkah tawaranku sangat menguntungkan? Kau hanya perlu meninggalkan putraku maka kau bisa mendapatkan semuanya.”

Geumanhae, Abeoji!!” Ki Bum berteriak dengan suara beratnya. Emosinya semakin menjadi melihat ayahnya bahkan tidak meliriknya. Seolah di ruangan ini hanya ada beliau dan Soo Rin.

Hingga tiba-tiba, Ki Bum merasakan pemberontakan di tangannya. Tangan yang berada di genggamannya, yang terasa semakin dan semakin dingin itu, bergerak meminta untuk dibebaskan. Lalu dengan paksa, tangan itu lepas dari genggaman Ki Bum. Yang seketika membuat Ki Bum tercengang.

Soo Rin… melepas tautan tangan mereka. Lalu melangkah maju. Lebih dekat dengan meja Jin Young. Meninggalkan Ki Bum yang mematung di belakang.

“Soo Rin-ah…”

Ki Bum merasa ditampar untuk yang kesekian kalinya.

.

Your eyes, warm breath, pretty face, it’s disappearing into the darkness. I wish this was a dream, if this is a dream, stop right there. Don’t leave me, don’t leave me. I call out to you even in my sleep, I’m still hurting. Don’t leave me, don’t leave me. You don’t have to do what I want. My head is filled with you, Baby. I get strength from you, don’t let go of my hands…
(Super Junior – Don’t Leave Me)

.

.

To Be Continued


mumpung imajinasi lagi lancar.. ngga nyangka aja kalo part ini bisa selesai cepat. Mungkin ini berkat aku yang udah ngeluarin unek-unek aneh itu hahahahah xD

TAPI APA INI?!

Maaf ya ceritanya makin nyeleneh/? huhuhuh ㅠㅠ tolong jangan bully Soorin, bully diriku saja (?)

udah ah, mau lanjut ke part 7 hwhw minggu depan ya! hehet

Terima kasih sudah mampir~~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

33 thoughts on “With You – Part 6

  1. Aduh apa ya yg mau dilakukan soo rin? Apa dia akan mengambil tawaran ki bum appa atau mau ngembali in uang yg pernah diterimanya? Eonni km membuat ku penasaran tingkat dewa.

  2. Kyaaa~ apa yg bakal dilakukan Soorin sama Kibum appa? ayo Soorin perjuangkan cintamu bersama Kibum jangan takut sama gertakan Kibum appa hehe…

  3. Baca ff ini bikin dag dig dug, perjuangan cinta kisu kisu ada di ff ini. Kak, part 7 nya kalo bsa cepet yak. Hehe

  4. Min kerennn buangett min. Part ini buat sedih, sweet, dan tegang jadi satuu wowwwwww . Min buat part besok dibikin bagian yang agak surprise dong hehe. Biar tambah seru 😀

  5. Kiss and cry. Demi apa! Feelnya ngenaaaa bgt!! Saya sampe ngegigit bibir saking itunya *apanya? Akhh pokoknya keren.. Trus abis itu mereka udh so sweet so sweetan lagi^^ auu~ tapi tapi di bagian terakhir bikin greget dan penasaran masa. Soorin bakalan nolak kan ya? Ohya, Lanjutannya jgn minggu dpn dong ya ya ya *kedip2 XD

  6. Ya ampun appa kibum bnar2 keterlaluan,apa yg soo rin lakukan ya apa dia tolak atau dia trima,biarkan lah mreka brsatu,masa lalu kibum mnyedihkan jga jg smpai trulang lgi aaaaa gk sbar nunggu klanjutannya

  7. Jinjaaa itu tbc sangat mengganggu, aa seneng bngt ff cast ini. Part ini kayaknya hampir klimaks ya, gilaa tegang banget eh tau* malah tbc :v keep write author yg cantik ^^ ditunggu lanjutanya

  8. ayo seorin lawan appanya kibum jgn takut tgl tendang aja klo berani macam2 udah tua tar lgi juga masuk kuburan #plak

  9. keren keren keren.. konflik sudah keluar dan semakin memuncak.. sebenernya aku udah ngantuk dan ga fokus lagi bacanya.. ini aja lupa mw komen apa td.. hehe..
    ayah kibum seperti tidak punya perasaan y d sini wlwpun maksud nya baik utk anaknya tp tetap aja ga suka dg caranya.. masa iya dia mw mengulang kisah dlu lagi.. udah kedua anak yg nentang tetap aj kekeuh ama pendiriannya..
    soorin sweet bangedh ampe mati2an belajar biar bareng kibum teruz.. bahkan mpe sakit segala.. dan hikmahnya mereka jd belajar bareng deh d ruang kesehatan.. semangat y soorin..
    yg terakhir apaan tuh.. jangan blg soorin setuju.. tp menurut aku ga deh.. kan soorin sndiri yg bilang dia bakalan bisa dg hasil kerjanya sendiri.. lanjut lagi k part berikutnya..

  10. Aishh author benar2 sudah bikin aku deg2an, gregetan, ditambah nangis bebek hueeeee T_T
    Ih Kibum oppa aku cinta deh
    ❤❤❤❤❤

  11. Ya ampunn ga nyangka jika percintaan mereka akan ada konflik seserius ini..

    Uh, apa maksud soo rin menghadap ayah ki bum? Huaaa jgn sampai di setuju dgn permintaan gila ayah ki bum…

  12. Tadinya mau minta maaf sama Jin Young Appa karena udah dicaci maki sama aku terus udah teriak heboh “Ooooo Akhirnya direstui” tapi ternyata gila Jin Young Appa bener bener niat nginjek harga diri Soo Rin ih keselnya Maximal :@ , Syedih liat cinta KiSoo bener bener kuat banget T.T ayo semangat buat nentang Jin Young Appa 🙂 , Eonni ceritanya bener bener keren hebat banget bikin KiSoo’s Storynya berasa masuk kedalam cerita 🙂

  13. Part ini mengambarkan betapa beratnya menjadi seorang pelajar di korea. Kalau di sini, belajar dari pagi sampai sore, lalu malam hari ketika disuruh belajar atau les saja sudah mengeluh. Nggak kebayang jika harus mengalami hal seperti itu. Semakin lama, ucapan dan tindakan ayah kibum semakin keterlaluan. Apakah hubungan mereka akan berakhir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s