Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, Friendship, KiSoo FF "With You", PG, Romance, School Life

With You – Part 5

Pt.5 – Time broken_glasses

Genre :: Romance, School Life, Complicated, Family, Friendship, Angst

Rated :: PG

Length :: Chaptered

||KiSoo’Story||

Recomended Songs :: B2ST – 12시30분, Super Junior – 백일몽 (Evanesce), Super Junior – Storm, Tae Yeon – I Love You (Athena OST), Kim Sung Gyu – 60초, Toheart – Tell Me Why, D&E – Breaking Up, D&E – 너는 나만큼 (Growing Pains)

Casts :: casts1

Sorry for typos!

Happy reading!! ^^

ㅡㅡ

One, two, three, four, five… I put it all down today
Five, four, three, two, one… I think time is up
(너는 나만큼)

.

“Sekarang, kita seperti jam tangan yang menunjukkan 12:30…”

ㅡㅡ

:: Sunday morning – 07:04 KST

AWAL pagi di Hari Minggu, lelaki itu sudah keluar dari kamar dengan penampilan rapi lalu beranjak turun ke lantai bawah. Sebenarnya, sudah menjadi kebiasaan bahwa dirinya sudah membersihkan diri di pukul tujuh pagi lalu bersantai sejenak sebelum beranjak keluar rumah. Hanya saja, kini ia bersiap-siap karena hendak menghadap pada sang ayah yang tengah duduk santai di ruang tengah—menonton berita pagi seraya menyesap kopi panas.

Appa, aku ingin bicara.”

“Setidaknya ucapkan selamat pagi sebagai salam sopanmu, Kim Ki Bum,” balas beliau begitu selesai menyesap sarapan paginya lalu meletakkannya kembali ke atas meja di hadapan. Kim Jin Young, pria paruh baya itu tidak mengalihkan pandangan kepada putranya dan memilih untuk kembali menyaksikan televisi besar di depan.

Ki Bum—lelaki itu menarik napas sejenak. Dia mengaku sedikit kurang sopan terhadap ayahnya sendiri. Dan beliau tidak akan meladeninya sebelum memperbaiki kesalahannya itu. Itulah mengapa Ki Bum memilih untuk menunduk sesaat sebelum mengucap, “Selamat pagi, Appa.”

Barulah Jin Young mengangguk sebelum memberikan tatapan tajamnya yang masih terasa menghunus di usianya yang sudah sangat matang, kepada Ki Bum. Bersedekap, lalu tanpa berkedip beliau membalas, “Apa yang ingin kau bicarakan?”

Ki Bum harus menahan rasa—sedikit—kesalnya karena ucapan salamnya bagaikan tidak dihargai. Tapi, dia memilih untuk kembali ke tujuan awal. Jelas bukan masalah salam yang ingin dia bahas. Ki Bum meletakkan sebuah berkas yang memang sejak tadi ia pegang dari kamar, ke atas meja, tapat di hadapan Jin Young. Membuat sang ayah melirik demi melihat berkas apa itu. Meski tidak mengeluarkan satu patah kata, Ki Bum mengerti betul bahwa ayahnya mulai merasa tak nyaman.

“Aku menolak untuk masuk ke dalam bidang yang sudah Appa tentukan.”

Saat itu juga Jin Young kembali melemparkan tatapan tajamnya untuk Ki Bum. Dan Ki Bum dapat melihat ada nyala di kedua iris hitam sang ayah. Namun itu tak membuat Ki Bum untuk mundur.

“Aku akan tetap mendaftar ke Universitas Inha, tapi biarkan aku yang memilih bidang studi yang akan aku tekuni.”

“Justru aku mendaftarkanmu ke sana karena bidang itulah yang terbaik. Sekaligus aku menginginkan dirimu untuk menekuni bidang itu, bukan yang lain.” Jin Young berucap dengan begitu tegasnya. Mata tajamnya seolah ingin menusuk kedua mata Ki Bum yang saat ini terbebas dari bingkai kacamata.

“Aku tidak menginginkan bidang itu, Appa.”

“Mau tidak mau, kau harus masuk!” Jin Young meninggikan suara. “Kau pikir aku menginkanmu untuk menekuni bidang itu tanpa alasan? Kau sudah tahu siapa dan apa profesi ayahmu ini, dan ayahmu ini menginkan seseorang yang akan menggantikan posisinya untuk meneruskan usahanya!”

“Aku tidak mau.”

Mwo?!” Jin Young sontak bangkit dari duduk. “Apa kau sadar di mana posisimu saat ini? Kau adalah putra sulung keluarga Kim, putra dari pemegang grup Shin Han! Dan sudah seharusnya kau menggantikanku suatu saat nanti!”

Grup Shin Han, atau dikenal dengan Shin Han Financial Group. Adalah firma perbankan terbesar di Korea Selatan yang berpusat di ibukota, Seoul. Shin Han merupakan perusahaan holding 11 anak perusahaan seperti Shin Han Bank yang dikenal sebagai bank pertama yang berdiri di Korea Selatan. Shin Han Bank sendiri sudah memiliki lebih dari 1000 cabang yang tersebar hampir di seluruh negara.

Bisa dibayangkan sebesar apa peran dari Kim Jin Young yang memegang salah satu anak perusahaan dari Grup Shin Han.

“Aku tidak tertarik, Appa.” Ki Bum berusaha untuk tetap tenang. Meski kedua tangannya sudah mengepal dan dada yang serasa ingin meledak, Ki Bum berusaha untuk bersikap sopan di hadapan sang ayah. “Aku tidak ada minat untuk terjun ke dalam firma perbankan yang ayah pegang. Karena aku memiliki minat lain.”

“Apa? Memangnya apa yang kau inginkan hingga kau tidak tertarik pada pilihanku?” sambar Jin Young tajam, namun tersirat nada sarkastis di sana.

Dan itu membuat Ki Bum tertegun dalam diam. Itulah yang tengah berputar-putar di kepalanya saat ini. Dia harus merutuki mulutnya yang telah kelepasan meluncurkan kalimat terakhir itu. Dia belum memutuskan tujuannya secara pasti. Dan Ki Bum harus mengakui bahwa dirinya begitu bodoh saat ini.

Tidak mendapat jawaban dengan segera, Jin Young mendengus meremehkan. “Kau bahkan belum memiliki keputusan sendiri. Tapi sudah berani menolak pilihanku.”

Ki Bum mengulas senyum tipis seketika. Mata tajamnya tampak menguarkan ketenangan yang menandakan bahwa dirinya kembali percaya diri. Dan Jin Young mampu menangkap Bahasa nonverbal itu.

“Aku bahkan sangat lamban dalam mengambil keputusan, tapi mengapa Appa justru menginginkanku untuk terjun ke dunia yang serba cekatan seperti Shin Han Group? Bukankah aku akan membuat grup itu tertinggal dan kalang kabut karena diriku yang tidak mampu memutuskan segala sesuatu dengan segera?”

Ki Bum dapat melihat iris hitam itu semakin menyala, dan reaksi samar itu justru membuat dirinya semakin tenang dalam menghadapi ayahnya tersebut. Dia mampu membalikkan keadaan, sekarang.

“Jika Appa terlalu mengandalkanku, aku tidak yakin bahwa suatu hari Shin Han Group masih berdiri tegak sebagaimana di saat Appa masih memegangnya. Karena aku tidak bisa berbuat cepat seperti Appa.”

Dari sudut mata, Ki Bum dapat melihat kedua tangan itu mengepal di sisi tubuh Jin Young. Apakah itu berarti Ki Bum mampu membuat ayahnya tak dapat membalas lagi? Ki Bum mengerjap pelan, mencoba menetralkan perasaannya sebelum kembali berucap.

“Tolong beri aku waktu untuk memutuskan bidang studi hingga nanti malam. Aku berjanji akan mengatakannya pada Appa. Dan aku memohon pada Appa untuk menyetujui keputusanku nanti.” Ki Bum membungkuk sopan untuk Jin Young. “Aku pergi dulu,” lanjutnya berpamitan sebelum melangkah meninggalkan ruang tengah yang megah itu, sekaligus meninggalkan Jin Young yang masih berdiri kaku di tempat.

“Jadi kau lebih memilih gadis itu dibandingkan keputusanku?”

Langkah Ki Bum terhenti seketika, sepasang matanya melebar, ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam jantungnya hingga berdetak sangat cepat kala mendengar sederet kalimat bernada halus itu. Tapi Ki Bum dapat menangkap nada peringatan di sana yang langsung saja pikirannya tertuju pada orang yang dimaksud. Ia segera berbalik, detik kemudian ia melihat wajah tegas Jin Young mengumbar ketenangan seperti yang sempat ia lakukan.

Oh, tidak, keadaan kembali berbalik. Dan Ki Bum segera menangkap arti dari kalimat itu. Kedua tangannya mengepal, bersamaan dengan wajahnya yang mengeras.

“Dia tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini.”

“Itu bisa terjadi. Kau menjadi seperti ini karena kau menunggu gadis itu,” Jin Young menatap putranya yang sudah berdiri kaku di sana.

“Aku belum memutuskan karena memang aku belum memikirkannya. Bukan karena dirinya!”

Geurae?” Jin Young tersenyum miring. Dan reaksi itu membuat Ki Bum semakin tak tenang.

Appa, jangan menyentuhnya. Dia tidak tahu apa-apa,” ucap Ki Bum, lebih terdengar seperti menggertak. Dan itu membuat Jin Young semakin tenang.

Jin Young memilih untuk diam, beliau kembali mendudukkan diri di sofa dan menikmati sarapan paginya. Tidak menghiraukan Ki Bum yang masih berdiri kaku di belakang. Dan balasan itu justru membuat Ki Bum serasa ingin meledak. Lelaki itu segera berbalik dan melangkah keluar dari rumah besarnya, membanting pintu utama yang jelas saja mengagetkan penghuni rumah—kecuali Jin Young.

Jung Ji Woo, yang tengah berkutat di dapur bersama pelayan lainnya harus tergopoh menuju ruang tengah yang memang terhubung tak jauh dengan pintu utama. Dan sedikit bingung melihat suaminya terlihat sangat tenang seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Padahal beliau yakin bahwa suara bantingan itu cukup memekakkan dan bisa saja merusak pintu.

Begitu juga Sae Hee, gadis itu harus terlonjak di tempat dan semakin memicu rasa khawatirnya. Setelah apa yang ia dengar dari dekat tangga mengenai pembicaraan dingin itu, Sae Hee tak mampu lagi merasakan ketenangan di sekujur tubuhnya. Dan pikirannya hanya tertuju pada sang kakak, juga sang kekasih dari kakaknya.

Sae Hee tidak bisa menyangkal bahwa masalah itu benar-benar akan terjadi.

Atau memang sudah terjadi?

.

.

Ki Bum masuk ke dalam mobilnya dengan serampangan. Ia tak langsung menyalakan mesin benda beroda empat itu dan memilih untuk membenturkan keningnya pada setir di hadapan. Baru ia rasakan bahwa napasnya memburu, dadanya terasa panas sekaligus sesak. Pikirannya berkecamuk. Seolah otak jeniusnya itu hanyalah sebuah khayalan, dia tidak mampu berpikir dengan benar. Dan ia terus dibayangi dengan wajah gadis itu, setelah apa yang ia dengar dari mulut sang ayah.

Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Gadis itu tidak tahu apa-apa. Ayahnya tidak memiliki hak untuk mengusik gadis itu. Dan gadis itu berbeda.

Ya, Ki Bum percaya bahwa gadisnya tidak seperti yang dulu.

Tapi tetap saja sugestinya tak mampu membuat dirinya berangsur membaik. Dengan kalut Ki Bum menegakkan kembali tubuhnya, tak mempedulikan dirinya yang hanya memakai setelan jeans dan kaus berkerah mengingat saat ini adalah musim gugur, menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya keluar dari pekarangan rumah—dengan kecepatan yang hampir jauh di atas batas.

****

(13:15 KST)

Sae Hee baru keluar dari ruang makan—setelah melepas dahaga—kala melihat seorang pria melangkah menuju tangga setelah dipersilahkan masuk oleh Ji Woo, dan Ji Woo segera melempar senyum lembutnya begitu melihat Sae Hee tengah menatap bingung dirinya, mungkin bertanya-tanya, ada apa pria itu kemari? Dan memang itu yang tengah Sae Hee pikirkan.

Ia mengikuti langkah pria itu ke atas. Awalnya ia bertingkah layaknya ingin segera kembali ke kamarnya di hadapan Ji Woo, namun langkahnya berbelok ke arah lain setelah berhasil menginjak lantai dua, menuju sebuah pintu ruangan yang sempat ia lihat baru saja dilewati oleh pria itu. Mengendap-endap, Sae Hee mencoba untuk menempelkan sebelah telinganya ke daun pintu, namun tak disangka sentuhan kecil yang ia buat menggerakkan daun pintu tersebut. Ternyata pintu tersebut tidak tertutup rapat. Sae Hee sempat terkejut dan berpikir sudah tertangkap basah, namun segera beralih kala suara berat itu terdengar.

“Tuan Muda Ki Bum mengantar ke rumah sakit tempat ayah Park Soo Rin bekerja, Rumah Sakit Jaseng. Mereka berada di sana sekitar satu jam lamanya sebelum keluar kemudian pergi menuju Taman Ichon. Setelah itu mereka kembali lagi ke rumah sang gadis.”

Sae Hee terhenyak. Tunggu, apakah itu berarti Shin Dong Ahjusshi mengenal Soo Rin Eonni? Bagaimana… Sae Hee tidak melanjutkan spekulasinya begitu menyadari apa yang tengah dilakukan oleh pria itu saat ini. Matanya menajam kala mengintip ke dalam, melihat sosok ayahnya yang tengah terduduk di kursi kebesaran dengan wajah yang mengeras, membuat Sae Hee segera menangkap maksud dari reaksi itu.

“Beri dia dengan nominal yang lebih banyak. Sepertinya uang yang sudah kuberikan tidaklah cukup baginya.”

Dan Sae Hee terperanjat kala mendengar balasan ayahnya itu. Dengan sangat cepat ingatannya berputar pada memori di mana dirinya melihat kejadian yang sama beberapa tahun lalu. Bagaikan sebuah déjà vu, tubuh Sae Hee menegang. Sontak dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia mendorong pintu ruangan itu hingga menjeblak terbuka, yang dalam waktu bersamaan kedua orang itu menoleh padanya dan Sae Hee melihat kilat terkejut di kedua mata ayahnya meski hanya sepersekian detik.

Ige mwoya?” gumam Sae Hee, tajam dan tidak ada kesan sopan santun di dalamnya. Langkahnya terbuka lebar hingga segera membawa dirinya tepat di depan meja kebesaran Jin Young, berdiri di samping Shin Dong yang masih berdiri tegap meski mulai tampak kaku.

Sae Hee harus dibuat terperangah begitu melihat apa yang tergeletak di atas meja. Sebuah tablet phone yang tengah menerterakan sebuah foto. Tanpa permisi Sae Hee menyambar benda berlayar 10 inch tersebut, kemudian melebarkan mata begitu mengetahui ternyata tidak hanya satu, namun beberapa bidikan yang memperlihatkan dua sosok yang sangat ia kenali tengah bersama di sebuah taman yang mungkin merupakan Taman Ichon, tempat yang sempat disebut oleh Shin Dong barusan.

Appa memata-matai mereka?” Sae Hee memicing pada Jin Young. “Dan apa yang aku dengar tadi? Appa bermaksud ingin menyogok Soo Rin Eonni?!”

“Sepertinya kau cukup mengenal gadis itu,” balas Jin Young tenang. Mata tajamnya melirik pada Shin Dong dan memberikan isyarat untuk segera pergi, yang dengan sigap ditangkap oleh pria gagah itu dengan membungkuk sopan pada mereka sebelum beranjak meninggalkan ruangan.

“Shin Dong Ahjusshi, kuperingatkan untuk tidak menuruti perintah terakhir dari Appa!” seru Sae Hee tanpa mengalihkan pandangan tajamnya yang menghunus sang ayah. Sungguh, dia sudah mengesampingkan tata karma yang ia punya dan memilih untuk menantang terang-terangan ayahnya itu sekarang.

“Pergilah!” perintah tegas Jin Young begitu mendapati Shin Dong yang justru menghentikan langkah karena seruan putrinya.

Ye!” Shin Dong membungkuk kembali sebelum melanjutkan langkah dan benar-benar menghilang begitu menutup pintu ruangan tersebut.

Sae Hee meletakkan benda tipis itu kembali, ia hampir melemparnya jika dirinya sudah tidak bisa menahan emosinya. “Apa tujuan Appa dengan melakukan ini? Appa ingin mengulang hal yang pernah Appa lakukan dan membuat Oppa terpuruk lagi?”

“Apa yang kau tahu mengenai tindakanku ini? Kau pikir aku melakukan ini tanpa sebuah tujuan?”

“Kenapa harus dengan uang?! Appa ingin menginjak-injak harga diri Soo Rin Eonni? Appa pikir bahwa Soo Rin Eonni adalah gadis yang sama seperti gadis yang dekat dengan Oppa dulu?! Appa, aku mengenal dekat Soo Rin Eonni dan dia tidaklah sama seperti gadis itu! Bahkan Soo Rin Eonni memiliki keluarga yang berkecukupan meski tidak seperti kita! Lalu untuk apa semua tindakan Appa yang jelas sekali mengulang kesalahan yang sama?!”

“Kesalahan yang sama? Apa kau tidak pernah mendengar bahwa semua perempuan selalu memandang lelaki dari sisi material meski dia berasal dari kalangan yang berkecukupan?”

Sae Hee mendengus tak percaya mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jin Young. Kedua matanya memanas sehingga ia harus menahan diri untuk tidak menumpahkannya di hadapan beliau. Apakah ayahnya ini menyadari akan apa yang sudah diucapkannya itu?

Appa, apakah Appa sadar bahwa Appa sudah menyakiti perasaanku? Juga menyakiti perasaan Eomma?” desisnya tajam. Tanpa sadar ia menggelengkan kepala saking tidak menyangka dengan apa yang sudah didengarnya. “Apakah seperti itu yang Appa lihat soal perempuan? Apakah seperti itu Appa memandang Eomma selama ini?!” Sae Hee berteriak. Emosinya pecah dan mulai tak terkontrol.

Jin Young sendiri tampak tak bergeming dari tempatnya. Entah apa yang berada di pikirannya sekarang, namun wajah tegas nan dingin itu tidak memberikan tanda-tanda akan mencair, justru semakin mengeras karena terikan putrinya itu. Tepat di hadapannya.

Appa…” Sae Hee menyebut nama itu dengan nada bergetar. Matanya semakin memerah karena berusaha menahan tangis. “Aku kecewa pada Appa…” lanjutnya, sangat jelas menunjukkan bahwa dirinya memang kecewa, kesal, marah. Ia segera melangkah keluar dari ruangan yang seketika begitu pengap baginya. Meninggalkan ayahnya yang mematung di tempat duduknya.

Dan Sae Hee harus terkejut begitu keluar dari ruangan, ia menemukan Ji Woo—ibunya—sudah berdiri di sebelah pintu dan memandang penuh kelembutan padanya. Yang justru membuat pertahannya runtuh seketika. Ia segera berlari menuju kamarnya, membanting pintunya, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur empuknya. Sae Hee menangis deras.

&&&

:: Park Family’s House – 12:45 KST

Mereka keluar dari mobil, Ki Bum segera menghampiri Soo Rin lalu menggandengnya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah. Hanya saja mereka harus menunggu sejenak sampai gerbang rumah itu dibukakan setelah memanggil Ny. Park.

Kondisi mereka tidaklah baik. Wajah mereka sudah meredup. Tidak ada binar keceriaan maupun seulas senyum bahagia. Melihat tanda-tandanya pun tidak. Keadaan mereka sudah berubah hampir 180 derajat. Sudah tidak seperti di kala mereka bertemu pagi tadi.

“Masuklah,” titah Ki Bum begitu pintu gerbang sudah dibukakan. Membuat gadis itu sedikit terhenyak.

“Kau tidak masuk?”

Ki Bum menggeleng sebagai jawabannya. Dan Soo Rin harus memasang ekspresi tak rela.

“Bukankah kita akan belajar bersama?”

Ki Bum menggeleng lagi, kini dengan seulas senyum hangat. “Kau terlihat lelah. Lebih baik kita tunda telebih dahulu waktu belajar—”

“Tidak,” Soo Rin segera memotong, ia menggeleng beberapa kali. “Aku tidak lelah. Aku hanya—” Soo Rin tampak berpikir sejenak sebelum kembali melanjutkan. “Aku hanya belum mengisi perut! Kau tahu, aku langsung pergi mengantarkan bekal untuk Appa tadi pagi. Lalu—lalu kita pergi ke Ichon dan kita tidak memakan apapun di sana!”

Ki Bum segera merengkuh wajah Soo Rin dengan sebelah tangan, mencoba menenangkan gadis itu, senyumnya sedikit mengembang. “Aku mendengar dari Tae Yong bahwa dia hampir tidak pernah melihatmu benar-benar beristirahat di waktu istirahat. Aku tahu bahwa waktu kita semakin dekat dengan Ujian Negara, tapi seharusnya kau bisa menggunakan waktu istirahatmu untuk meregangkan otot-ototmu sekaligus menyegarkan otakmu, mengerti?”

Soo Rin memberengut. “Kau sendiri juga memilih untuk pergi ke perpustakaan di waktu istirahat…”

Kali ini Ki Bum mengaku salah. Dalam hati membenarkan bahwa belakangan ini dia lebih sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Selain untuk mencari referensi belajar, ia juga berpikir bagaimana cara menolak permintaan sang ayah dan memutuskan pilihan bidang studi. Sungguh, entah mengapa dia menjadi begitu bodoh hanya karena tidak tahu ingin melanjutkan studi ke mana. Sampai-sampai dia tidak memperhatikan gadis ini dan justru mengetahui hal ini dari orang lain.

“Setidaknya, untuk hari ini kita sama-sama beristirahat, hm?” Ki Bum membalas dengan suara lembutnya.

Soo Rin menatap lekat lelaki di hadapannya. Dia tidak setuju, tidak setuju jika harus menyelesaikan pertemuan mereka secepat ini. Setelah apa yang sudah mereka lewati tadi, Soo Rin menjadi tidak tenang. Dan ia harus menggelengkan kepala beberapa kali—lagi. Juga, kedua matanya kembali memanas.

“Bukankah—bukankah sudah kukatakan bahwa… kita…”

“Hei, kenapa kau menangis lagi?” Ki Bum segera mengusap kedua pipi Soo Rin yang kembali basah. Sungguh, dia tidak mengerti kenapa gadisnya ini banyak menangis hari ini. Apakah terjadi sesuatu padanya?

Soo Rin sendiri kembali kalut. Ia menggigit bibir dengan kuat seraya menunduk. Batinnya berkecamuk antara mengungkapkannya atau tutup mulut lebih baik. Dia takut jika mengungkapkan, akan terjadi sesuatu yang justru membuatnya semakin jauh dari lelaki ini. Tapi, dia juga merasa tersiksa jika terus memendamnya sendiri. Ditambah ini menyangkut dirinya, juga Kim Ki Bum.

Merasa tidak akan mendapat jawaban apapun, Ki Bum memilih untuk membawa tubuh ramping Soo Rin ke dalam pelukannya. Mengusap punggung yang bergetar itu dengan lembut. Terpaksa dia mengajak otaknya untuk berpikir mengenai penyebab gadis ini menjadi seperti ini. Namun belum sempat dirinya mendapatkan jawaban, pintu gerbang rumah Keluarga Park terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya dan wanita itu tampak tertegun mendapati mereka.

Omo! Ada apa ini?”

Ki Bum hendak melepas pelukannya kala merasakan kedua tangan ramping itu justru semakin erat memeluknya. Dan Ki Bum harus sedikit kelabakan, apalagi Nyonya Park memandang aneh mereka. Ki Bum berbisik, “Soo Rin-ah, ibumu datang.”

“Ada apa dengan Soo Rin?” Nyonya Park sepertinya mulai membaca situasi. Beliau melangkah mendekat demi memeriksa. “Aku sempat bingung karena kalian tidak langsung masuk.”

Soo Rin memilih untuk melepas diri, ia menunduk dalam kala menyadari sang ibu sudah berada di dekatnya. Namun ia tidak mau bergerak. Sungguh, dia tidak ingin jauh-jauh dari lelaki ini. Untuk saat ini.

“Kau terlihat tidak baik, Soo Rin-ah. Ayo masuk ke dalam,” titah Nyonya Park mulai khawatir. Namun gadis itu justru menggeleng. Sudut mata beliau menangkap sebelah tangan putrinya itu menggenggam erat ujung kaus Ki Bum, membuatnya bertanya-tanya. Apakah sedang terjadi sesuatu dengan mereka? Namun ia mencoba untuk mengerti dan memilih berkata, “Ki Bum-ah, antar dia ke dalam, eo?”

Mengalah, Ki Bum segera merangkul pundak kecil gadis itu. “Aku akan masuk bersamamu,” bisiknya halus. Dan Soo Rin mengikuti langkahnya.

.

(15:15)

Ki Bum baru keluar dari kediaman Keluarga Park setelah membujuk Soo Rin untuk beristirahat. Cukup lama mengingat gadis itu tidak mau melepaskannya. Dan itu sangatlah aneh baginya mengingat selama ini gadis itu tidak pernah bersikap seperti baru saja. Ki Bum bahkan tidak segera menyalakan mesin mobil dan memilih untuk merenung seraya memandang tampak depan rumah gadisnya itu.

Setelah mengingat kembali mengenai apa saja yang sudah ia lewati hari ini, dia menyadari bahwa Soo Rin tampak begitu tertekan hari ini. Dan, mengingat bahwa gadis itu juga bertingkah sedikit mengherankan tidak hanya hari ini, melainkan beberapa hari ini… Soo Rin yang lebih sering menatapnya, melemparkan senyum lebar, berbicara banyak padanya, juga… perubahan ekspresi yang tak tepat. Ki Bum masih mengingat bagaimana gadis itu ingin mengatakan sesuatu tetapi selalu tidak jadi. Rasanya itu bukanlah suatu perubahan yang baik. Dan Ki Bum merasa sedikit frustasi, kata-kata gadis itu berputar di kepalanya.

Aku merasa bahwa… kita belum memanfaatkan waktu bersama dengan baik.”

“Apa kau bisa memprediksi apa yang akan terjadi sepuluh detik setelah ini?”

“…kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Kau tahu?”

Uri… hamkke deo shiganeul bonael haja!”

“Jadi kau lebih memilih gadis itu dibandingkan keputusanku?”

Ki Bum terperanjat kala suara lain berputar di ingatannya. Hanya dalam waktu sedetik otaknya berhasil mencerna situasi aneh ini. Sontak kedua tangannya mengepal di pangkuan, wajahnya mengeras hingga menampakkan urat nadinya yang menegang di lehernya, sekaligus mengutuk diri sendiri karena baru menyadari apa yang tengah terjadi. Bodohnya Kim Ki Bum, kenapa kau begitu lambat untuk membaca situasi ini?!

Dengan kalap Ki Bum menyalakan mesin mobil lalu segera menancap pedal gas hingga hanya dalam sekejap melaju dengan kecepatan tinggi. Dia harus segera pulang. Harus!

****

:: Kim Family’s House

Ki Bum menjeblak pintu utama rumah dengan kasar. Mata tajamnya segera menangkap sosok yang ia cari ternyata tengah terduduk santai di ruang tengah seperti yang ia lihat tadi pagi. Langsung saja ia melangkah menghampiri sosok yang tak lain merupakan ayahnya itu, dengan tergesa, dan kedua tangan yang mengepal di kedua sisi tubuhnya.

“Apa yang sudah kau lakukan padanya?” sungguh, Ki Bum bahkan sudah lupa untuk berkata sopan pada ayahnya, apalagi memberi salam terlebih dahulu. Semua itu sudah tidak dia ingat lagi.

Dan sapaan tak hangat itu jelas membuat emosi Jin Young sedikit terpancing mengingat dirinya tengah menikmati waktu bersantainya dengan menonton televisi. “Di mana sopan santunmu itu?”

“Kau masih memikirkan itu di saat kau sendiri sedang merusak harga diri orang lain?!”

“Siapa yang mengajarimu berteriak di hadapan orang tuamu, huh?!”

ABEOJI!!”

Jin Young terkejut diam-diam kala mendengar putranya benar-benar berteriak untuknya. Seperti tengah mengalami déjà vu, Jin Young kembali mengingat di mana putranya memanggil dirinya dengan sebutan Abeoji di saat sedang marah. Dan itu terjadi beberapa tahun lalu, saat dirinya melakukan hal sama. Meski panggilan itu merupakan panggilan yang lebih hormat, tapi tak mampu membuat Jin Young bangga karena sebutan itu hanya didengar melalui mulut putranya yang tengah mengandung amarah. Bahkan Jin Young tidak menyangka bahwa Ki Bum benar-benar membentaknya seperti ini. Ini adalah kali pertama.

“Sejak kapan Abeoji mengenalnya?” kini Ki Bum bertanya sedikit lebih halus, namun sarat akan penekanan. “Kapan Abeoji mulai menemuinya? Jawab, Abeoji!!”

“Minggu lalu. Kenapa? Seharusnya kau bergerak lebih cepat dibandingkan aku,” jawab Jin Young tak kalah tajam.

Mwo?” Ki Bum mendengus tak percaya. “Bergerak lebih cepat, Abeoji bilang? Seharusnya Abeoji sadar untuk apa Abeoji mencampuri urusanku! Kenapa sejak dulu kau senang sekali ikut campur sekaligus menghancurkan kehidupan anakmu sendiri?!”

Merasa tidak terima dengan tuduhan itu, Jin Young berdiri tegang, menatap putranya dengan wajah mengeras sekaligus sepasang mata yang seolah siap menusuk dengan sorot tajamnya yang mengerikan.

Wae? Apa aku tidak salah bicara?” tantang Ki Bum. Mata tajamnya tidak pantang untuk beralih, justru semakin tak gentar menyorot sepasang mata yang tak kalah tajam menyorotnya. “Geurae. Kau memang tidak berubah. Menginjak orang-orang yang berada di kelas terbawahmu dengan kekuasanmu, apa kau pikir itu merupakan tindakan yang baik? Bahkan kau tega menginjak-injak perasaan anakmu sendiri dengan kekuasaanmu. Tidak sadarkah bahwa kau juga ingin menginjak-injak perasaan anakmu untuk yang kedua kali dengan kekuasaanmu itu?! Apa kau bangga jika mendapatkan predikat ayah yang berhasil menghancurkan kehidupan anaknya sendiri?!”

PLAK!

Semua terjadi dengan cepat. Jin Young yang sudah tak mampu mengontrol emosi, melayangkan sebelah tangannya yang sedari tadi mengepal di sisi tubuhnya, dengan sangat cepat membuka telapaknya demi mendarat sempurna di wajah sang putra, hanya demi menghentikan cercaan pedas yang terus menghujaninya. Namun sesaat kemudian Jin Young menyadari perbuatannya dan sedikit menyesal begitu melihat sudut bibir itu mengeluarkan sedikit cairan merah pekat. Sekeras itukah tamparannya hingga mampu menorehkan luka di sana?

Ki Bum bahkan tidak bergerak sama sekali. Menyentuh pipinya yang memerah juga bibirnya yang terluka pun tidak ia lakukan. Dia terkejut, benar-benar terkejut. Sekaligus merasa terguncang karena harga dirinya sudah dipermainkan, dengan ayahnya sendiri.

Yeobo!” Jung Ji Woo tampak berlari menghampiri keduanya, beliau memilih untuk melihat kondisi putranya. Sungguh, dapat dilihat betapa terkejutnya sang ibu melihat putranya terluka, dan itu diakibatkan oleh sang ayah. “Oh, astaga, bagaimana bisa menjadi seperti ini?” Ji Woo bahkan ikut meringis kala berusaha menyentuh wajah putranya, sang empu harus meringis merasakan sentuhannya. Membuat Ji Woo takut-takut untuk merengkuhnya.

Ki Bum sendiri memilih untuk menyingkirkan kedua tangan ibunya dengan halus, memberikan isyarat bahwa dirinya tidak apa-apa. Kemudian ia kembali menatap tajam ayahnya yang masih berdiri mematung di tempat. Ki Bum melemparkan senyum yang jatuh menjadi terkesan miris untuk sang ayah.

“Setidaknya ini masih lebih baik dibandingkan mengoyak sebuah perasaan,” gumamnya, terdengar sinis. “Abeoji memang berhasil melakukannya dulu, tapi tidak untuk sekarang. Aku akan mempertahankan apa yang sudah aku tetapkan. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya,” menekankan setiap kata di akhir kalimatnya, Ki Bum kemudian berbalik dan melangkah cepat menaiki tangga.

Hingga kemudian mereka kembali mendengar suara pintu dibanting cukup keras.

Ji Woo segera melemparkan tatapan tajam untuk Jin Young yang belum bergerak sejak kejadian tamparan tadi. Binar kecewa dan marah terlihat begitu jelas di balik sorotan itu, bahkan tak dapat menampik bahwa beliau ingin menangis melihat apa yang sudah suaminya lakukan hingga menorehkan luka membekas pada anak sendiri.

“Aku bahkan tidak pernah melakukan kekerasan jika marah pada anakku sendiri. Karena aku masih sangat menyadari bahwa dia adalah anakku. Apa kau sudah melupakan kenyataan itu jika amarah sudah menguasai dirimu, Jin Young-ah?”

Jin Young tertegun mendengar panggilan itu. Dia tahu pasti, perbuatannya benar-benar sulit untuk ditoleransi jika istrinya sudah memanggilnya seperti itu. Dia bahkan tidak kuasa untuk membalas tatapan tajam bercampur nanar dari Ji Woo untuknya, dan memilih untuk membuang muka.

“Tolong, pikirkan lagi apa yang sudah kau perbuat. Kau boleh menemuiku jika kau sudah mengakui kesalahanmu,” ucap Ji Woo sebelum meninggalkan Jin Young, melangkah menuju lantai atas.

.

.

Ji Woo memasuki ruangan putranya seraya membawa sebuah kotak obat. Terlihat bahwa putranya tengah terduduk di pinggir tempat tidur seraya memegang kepalanya dengan kedua tangan, tampak begitu frustasi. Ji Woo segera mendudukkan diri di sebelah putranya, membuat sang putra mendengak kepadanya.

“Kemari, Eomma akan mengobatimu,” titah Ji Woo dengan lembut, meraih kedua bahu lebar putranya demi menghadap kepadanya. Lalu Ji Woo mulai mengolesi lebam yang memerah di pipi itu dengan Thrombophop Gel—seperti salep, berfungsi menghilangkan memar juga rasa nyerikemudian mengolesi luka di sudut bibir itu dengan obat merah. Dan semua itu beliau lakukan dengan penuh kehati-hatian, mengingat putranya selalu meringis karena reaksi dari obat yang ia olesi di sana.

“Maafkan ayahmu, eo? Dia tidak sepenuhnya ingin berbuat begitu padamu,” ucap Ji Woo dengan sedih. Kedua matanya menatap nanar putranya yang tampak begitu kacau hari ini. Sepertinya tidak hanya karena sang ayah, tapi juga karena hal lain.

Ki Bum menggeleng lemah, mencoba untuk mengulas senyum. “Aku hanya tidak suka dengan sikap Appa yang ternyata tidak berubah. Dan aku masih tidak mengerti kenapa Appa harus melakukan itu padaku.”

Ji Woo menepuk kedua bahu itu dengan lembut. “Appa pasti memiliki alasan mengapa berbuat seperti itu. Meski dengan cara yang salah, tapi Eomma berharap kau tidak membenci ayahmu sendiri, eo?”

Aniyo. Aku tidak membenci Appa. Aku hanya…” Ki Bum menghela napas panjang. Merasa berat untuk mengucapkannya. “Aku hanya merasa kecewa.”

Karena Ki Bum merasa kata kecewa tidaklah cukup untuk menggambarkan perasaannya terhadap sang ayah, namun ia juga menyadari bahwa perasaannya tidak sampai masuk ke dalam tahap benci.

Ji Woo mengangguk paham, kemudian beliau menuntun tubuh putranya ke dalam rengkuhan, menyandarkan kepala sang putra ke pundaknya, mengusapnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus menepuk-tepuk pundak yang terasa lemas itu. Ji Woo menghela napas berat dan sedih… menyadari bahwa putranya begitu lelah karena hari ini.

****

Ki Bum memasuki kamar yang bernuansa cerah dibanding kamar miliknya. Ia melihat adiknya tengah meringkuk di atas tempat tidur. Sebelumnya Ji Woo memberi tahu bahwa adiknya belum mendapatkan asupan apapun hari ini. Pagi hanya makan sereal, siangnya dia tidak sudi turun ke ruang makan. Ji Woo mengatakan bahwa adiknya juga sempat berdebat dengan Jin Young—sang ayah. Dan itu mengenai dirinya.

Ki Bum berusaha duduk di pinggir ranjang sang adik. Ternyata pergerakannya disadari oleh sang empu hingga ia mendengakkan kepala demi melihat. Segera saja Ki Bum menyambutnya dengan tatapan sekaligus senyum hangat. “What’s up, Girl?” sapanya halus.

Oppa…” Sae Hee segera mendudukkan diri sebelum kemudian berhambur ke dalam pelukan Ki Bum. Bersandar di sana. Dan ia merasa nyaman begitu Ki Bum membalas pelukannya seraya mengusap lembut kepalanya.

“Kenapa kau tidak mau makan?”

Sae Hee menggeleng pelan.

“Kau bisa sakit, Sae Hee-ya. Ingat penyakit maag-mu, hm?”

Sae Hee menghela napas panjang. “Oppa, maafkan aku…”

“Untuk apa?”

“Aku tidak bisa mencegah Appa…” Sae Hee melepas pelukannya. Ia hendak mengutarakan seraya menatap wajah kakaknya ketika menyadari sesuatu. “Op-Oppa… ini…”

Ki Bum mencoba menyingkirkan tangan Sae Hee yang menyentuh wajahnya, dengan halus. “Ini bukan apa-apa, Sae Hee-ya.”

“Bukan apa-apa bagaimana?? Oppa, apakah ini karena Oppa berteriak tadi?”

Eo. Oppa terlalu keras berteriak sampai-sampai merobek sudut bibir Oppa sendiri.”

Oppa, jangan bercanda!” Sae Hee mulai frustasi. “Apakah ini perbuatan Appa?”

Ki Bum memilih untuk tersenyum. Well, dia tidak mungkin mengelak karena adiknya ini pasti tahu.

Maj-ji… (Benar, ‘kan)” gumam Sae Hee. Tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca, ia menunduk, sebelah tangannya meremas kaus Ki Bum demi melampiaskan kekesalannya. “Kenapa Appa begitu tega…” lirihnya yang lebih terdengar seperti menuduh.

Ki Bum yang melihat adiknya ingin menangis segera mengusap punggung kecil yang masih berada di rengkuhannya itu. “Oppa tidak apa-apa. Seharusnya kau memikirkan dirimu sendiri, kau belum makan, Sae Hee-ya.”

Sae Hee kembali menatap wajah kakaknya. Wajah cantiknya itu semakin meredup. “Oppa… sepertinya Appa sudah pernah bertemu dengan Soo Rin Eonni. Aku—aku tidak sengaja mendengar Appa menyuruh Shin Dong Ahjusshi untuk memberi uang lebih banyak lagi pada Soo Rin Eonni…” Sae Hee harus menelan ludah kala melihat reaksi dari wajah tegas itu. Dan itu justru membuatnya merasa bersalah. “Oppa, maafkan aku. Aku tidak bisa mencegah Appa untuk tidak melakukannya. Aku—aku khawatir Soo Rin Eonni akan—”

Aniya…” Ki Bum menyambar. “Itu tidak akan terjadi.”

Oppa…” Sae Hee menatap nanar wajah tegas yang semakin meredup itu. Seolah ikatan batin mereka sedang terhubung saat ini, Sae Hee dapat merasakan apa yang tengah kakaknya rasakan. Dan dia juga ikut merasakan itu.

Rasa takut itu…

****

Sae Hee bergegas menuju lantai atas tempat di mana kelas senior berasal, kelas 3. Waktu istirahat baru saja berjalan dan ia tidak berniat untuk membawa diri ke kantin sebagaimana murid-murid lainnya yang segera memburu tempat perkumpulan makanan itu. Destinasi Sae Hee adalah Kelas 3-2, di mana sang kakak menetap di sana. Tapi bukan orang itu yang ingin ia temui. Beruntung bahwa kakaknya sedang tidak ada di sana, mungkin sedang mampir ke perpustakaan seperti biasanya, pikirnya.

Eonni, bisa kita bicara sebentar?” Sae Hee segera menyapa gadis itu begitu berhasil mendekatinya. Perlu diingat bahwa dia tidak memiliki rasa takut untuk masuk ke dalam area berkumpulnya para senior sekalipun. Toh dia tidak ada niatan untuk mencari masalah. Dia hanya ingin menemui kekasih dari kakaknya ini.

Dan Sae Hee harus sedikit tertegun melihat kondisi Soo Rin cukup berbeda dibanding biasanya. Gadis itu tampak lesu dan pucat. Dan anehnya di mata Sae Hee, Soo Rin masih saja berkencan dengan buku-buku pelajarannya. Apakah gadis itu tidak sadar seperti apa kondisinya saat ini?

“Kau ingin bicara apa?”

Sae Hee mengerjap kaget. Saking seriusnya memandang wajah Soo Rin dia sampai melamun. Namun lagi-lagi batinnya bertanya-tanya karena mendengar suara halus itu sedikit lemah. Oh, gadis ini baik-baik saja, bukan?

“Ta-tapi tidak di sini. Kita—kita bicara di tempat lain, eo?” Sae Hee mulai ragu. Namun ia memaksa untuk menampiknya kala Soo Rin mengangguk, menyetujui ajakannya.

 .

.

“Kau ingin bicara apa?”

Sae Hee tampak memainkan jemarinya seraya membelakangi Soo Rin. Ia memilih untuk mengajak Soo Rin ke atap gedung sekolah yang menurutnya aman untuk membicarakan masalah privasi. Namun kini ia kembali ragu untuk membicarakannya. Dan mereka harus terdiam selama hampir satu menit lamanya.

“Sae Hee-sshi?”

Sae Hee menarik napas dalam sebelum berbalik, memberanikan diri untuk menghadap Soo Rin. Dapat ia lihat wajah cantik itu sedikit mengumbar kebingungannya.

Eonni… apa Eonni menerima sesuatu dari ayahku?”

Soo Rin tertegun hingga mulutnya hampir ternganga. Tiba-tiba saja tubuhnya menegang dan jantungnya berdetak kencang. Apakah gadis di hadapannya itu tahu? Soo Rin mulai merasa gelisah.

Melihat reaksi itu, Sae Hee menemukan keyakinan bahwa Soo Rin memang menerima sesuatu. Dan itu membuatnya segera melangkah mendekat. “Eonni, apa Eonni benar-benar menerimanya?”

Soo Rin menunduk, tak berani membalas tatapan Sae Hee. Soo Rin bahkan harus menelan saliva demi membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba saja mengering, sebelum menjawab, “Aku—aku tidak bisa menolak…”

Sae Hee terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut Soo Rin. Sae Hee berharap bahwa dia salah mendengar.

Soo Rin sendiri tampak mengepalkan tangan, mencoba untuk menahan berat tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa bertambah hingga hampir membuatnya tak mampu untuk berdiri tegak. “Aku ingin menolaknya, tapi… aku tidak diberi kesempatan…” lanjutnya begitu lirih. Wajahnya semakin dalam tertunduk. “Maafkan aku…”

Sae Hee mencelos mendengar klarifikasi itu. Sempat ia mengira bahwa gadis di hadapannya telah melakukan kesalahan, tapi ternyata… gadis itu memang tidak bisa—atau lebih tepatnya tidak kuasa untuk melakukan perlawanan. Dan itu membuat Sae Hee semakin geram dengan ayahnya sendiri.

Eonni—” Sae Hee cukup terkejut melihat tubuh Soo Rin meluruh hingga terduduk bersimpuh di hadapannya. Seketika dirinya panik dan segera berjongkok. “Eonni!”

Soo Rin memberanikan diri untuk mengangkat wajah, menatap Sae Hee dengan mata yang sudah berair. “Sungguh, aku tidak ingin menerimanya. Maafkan aku, Sae Hee-sshi…”

Sae Hee menggeleng cepat. “Tidak. Eonni tidak perlu meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf. Maafkan ayahku, Eonni. Ini—ini semua karena Appa terlalu mengatur Oppa. Appa… bahkan pernah melakukan hal yang sama pada Oppa dulu.”

Soo Rin mengerjap bingung. Seketika binar keingintahuannya muncul di sorot matanya yang sayu. “Dulu?”

Sae Hee mengangguk pelan. Ia ikut duduk bersimpuh di hadapan Soo Rin. Gerakan reflek, Sae Hee menggenggam sebelah tangan Soo Rin sebelum ia menarik napas dalam lalu berbicara. “Dulu, Oppa bertemu dengan seorang gadis di California. Dia gadis Korea yang juga menempuh pendidikan di sana. Hanya saja, apa Eonni tahu? Gadis itu jauh lebih dewasa dibandingkan Oppa. Bisa Eonni bayangkan, Oppa yang masih duduk di bangku kelas dua Menengah Pertama, menyukai seorang gadis yang sudah berkuliah di dua semester akhir.”

Soo Rin melebarkan mata, terkejut dalam diam. Seorang Kim Ki Bum pernah menyukai gadis yang… 7 tahun lebih tua darinya?!

Oppa terus mengejar gadis itu setiap kali mereka bertemu. Gadis itu juga terlihat begitu menyukai Oppa…” Sae Hee tersenyum hambar. “Dan itu adalah kali pertama aku melihat Oppa begitu gencar mendekati seorang gadis. Aku rasa, bisa dikatakan bahwa gadis itu merupakan cinta pertama Oppa.

Hingga suatu saat, Appa mendengar kabar mengenai hal ini. Sepertinya Appa tidak suka dengan gadis itu, lalu melakukan segala cara. Aku pernah tidak sengaja mendengar Appa menyuruh Shin Dong Ahjusshi untuk mengantarkan banyak uang kepada gadis itu. Dan keesokan harinya, Oppa mengeluh bahwa gadis itu tanpa sebab menjauhinya.”

Soo Rin merasakan tangan Sae Hee mulai meremas tangannya. Jika dilihat, raut wajah gadis itu sungguh kacau kala bercerita. Apakah masa lalu Kim Ki Bum juga berdampak pada adiknya ini?

Oppa tidak berhenti begitu saja. Oppa terus berusaha mendekati gadis itu, lagi dan lagi. Oppa bahkan sempat tidak mau pulang karena terus menunggu gadis itu. Sampai-sampai gadis itu sendiri yang mengantarnya pulang hingga harus berhadapan dengan Appa. Dan di saat itu pula, Appa menjatuhkan tawaran kepada gadis itu. Appa memberikan sebuah golden ticket.” Sae Hee tertawa hambar menyebut istilah itu. Merasa geli. “Appa memberikan sebuah kesempatan untuk berkuliah sekaligus magang di universitas di Korea, yang aku sendiri tidak mengerti bagaimana cara Appa mendapatkan semua itu. Appa bahkan memberikan bonus berupa uang tambahan sebagai biaya hidup. Dan Eonni bisa menebak bagaimana kelanjutannya…”

Soo Rin menunduk termenung. Dia baru mengetahui soal ini. Masa lalu Kim Ki Bum. Selain merasa terkejut dengan kisah lelaki itu, dia juga terkejut bahwa ayah dari dua bersaudara ini memang seperti itu sejak dulu. Membuatnya kini mengerti semengerikan apa kekuasaan uang. Sampai-sampai membuat orang-orang seperti itu menghamburkannya hanya demi menunjukkan betapa berkuasanya dia, yang justru berdampak pada kondisi orang-orang terdekatnya. Soo Rin sendiri, yang memiliki keluarga serba berkecukupan—meski tidak seperti keluarga Kim Ki Bum—tidak pernah diajarkan apalagi melihat orang tuanya menghamburkan uang. Itulah mengapa dirinya menjadi gadis yang sederhana.

“Sejak itu, Oppa berubah drastis. Oppa yang selalu aktif dan terbuka, menjadi Oppa yang dingin dan menutup diri. Oppa bahkan sempat tidak mau bicara pada Eomma, Appa, juga denganku. Aku seperti tidak mengenal Oppa-ku sendiri…” Sae Hee mengerjap demi menghalau air matanya yang ingin tumpah, namun usahanya sia-sia. Ia justru mulai menangis. “Oppa yang selalu perhatian padaku, Oppa yang selalu membuatku tertawa, Oppa yang selalu melindungiku… semuanya lenyap hanya dalam waktu satu malam. Eomma bahkan sering menangis melihat Oppa yang seperti mayat hidup. Oppa juga berubah menjadi orang yang gila belajar. Oppa lebih memilih mengurung diri di kamar hanya untuk belajar dibandingkan berkumpul bersama teman. Aku bahkan harus membawakan jatah makanannya ke kamar, karena Oppa benar-benar tidak mau beranjak dari meja belajarnya. Dan itu semua karena gadis itu, juga karena Appa.”

Soo Rin merangkul pundak Sae Hee yang sudah bergetar. Melihat gadis belia ini menangis kala mengingat masa lalu, membuat Soo Rin tak kuasa untuk tidak ikut menangis. Separah itukah efek dari perbuatan sang ayah untuk Kim Ki Bum? Bahkan Sae Hee yang dulu masih belum mengerti apa-apa juga harus merasakan dampaknya karena sang kakak yang menderita hingga mengacuhkannya.

Eonni… karena itu, aku mohon padamu… aku percaya bahwa Eonni tidak seperti gadis itu. Aku percaya bahwa Eonni sangat tulus. Aku mohon untuk tidak meninggalkan Oppa hanya karena Appa.”

Soo Rin begitu gamam. Ini merupakan kali kedua Sae Hee memohon padanya, dan ini merupakan permohonan yang sangat serius. Apalagi melihat adik dari Kim Ki Bum yang selalu atraktif dan sepenuh hati, kini tampak memohon padanya sekaligus dengan sepenuh hati. Dan itu semua untuk sang kakak.

.

The flower petals fell and became dirt. The burning passion became ash. Why does everything good always become like this? The sun has set and grew black. The waves will crash some day. Why does everything good always become like this? Even if the sun will rise again after the night is over, I already long for this moment that I can’t hold onto…
(Super Junior – Evanesce)

 ****

Lima hari berlalu. Entah mengapa keduanya justru mengalami suatu kemunduran. Soo Rin belajar seperti orang kesetanan, hampir tidak terlihat kapan dirinya melakukan jeda. Waktu istirahat selalu dia pakai untuk membaca dan berlatih soal, baik di kantin maupun hanya berdiam diri di kelas. Atau, dia akan pergi ke perpustakaan demi mencari referensi lain sekaligus mencari ketenangan dalam belajar. Di rumah pun ia memilih untuk segera mengurung diri di kamar begitu pulang dari sekolah, melanjutkan kegiatannya itu hingga lewat tengah malam.

Ah Reum, Tae Yong, dan Tae Min bahkan berkali-kali menegurnya untuk tidak terlalu memforsir diri sendiri mengingat dirinya memiliki anemia. Tapi Soo Rin seperti tuli, dia tidak mempedulikan. Masuk melalui telinga kanan, keluar melalui telinga kiri. Seperti itu.

Begitu juga dengan Ki Bum. Bisa dikatakan bahwa dia selalu keluar-masuk perpustakaan. Atau, dia akan mondar-mandir masuk ruang guru untuk berdiskusi dengan guru, sampai-sampai dia menjadi artis lokal bagi para guru. Jika dia masuk ke ruangan mereka, mereka akan mempersiapkan diri untuk dipilih menjadi teman diskusi lelaki itu. Justru murid yang seperti ini yang mereka senangi.

Namun bukan berarti dia lupa dengan sekelilingnya, tidak seperti Soo Rin. Lelaki itu selalu memperhatikan gerak-gerik Soo Rin yang sudah mampu dia ketahui sebab-akibatnya. Kerap kali menemukan gadis itu juga keluar-masuk perpustakaan, namun ia berusaha untuk tidak menegurnya. Awalnya dia berpikir itu hanya terjadi dalam satu hari. Tapi, berikutnya Ki Bum memilih meminta tolong pada Tae Yong untuk mengawasi Soo Rin dan menahannya untuk tidak terlalu sering berhadapan dengan buku-buku pelajaran. Yah, dia tahu bahwa itu percuma. Meski tidak menampik bahwa dia juga membantu gadis itu jika bertanya soal materi yang tidak diketahui padanya, di samping itu dia juga berusaha untuk memperingati Soo Rin.

Tapi, seperti yang dikatakan sebelumnya, gadis itu seperti tuli. Masuk melalui telinga kanan, lalu keluar melalui telinga kiri.

Dan puncaknya adalah hari ini. Soo Rin tampak begitu kacau. Lingkaran hitam yang menghiasi kantung mata meski samar, namun ditambah dengan wajah yang semakin pucat pasi. Membuat kedua orang tuanya khawatir melihat kondisinya pagi ini.

“Beristirahatlah, Sayang. Kau terlihat tidak memungkinkan untuk bersekolah hingga malam untuk hari ini,” tegur Ny. Park dengan nada khawatirnya.

Namun lagi-lagi Soo Rin membantah seperti biasa. “Aku baik-baik saja, Eomma. Aku tidak ingin tertinggal hanya karena tidak masuk hari ini.”

“Kau hanya perlu beristirahat satu hari. Yah, anggaplah hari Minggu besok sebagai bonus. Kau tidak akan tertinggal jauh hanya karena absen sebanyak satu kali,” timpal Jung Soo tak kalah khawatir. Bagaimana dia tidak khawatir melihat anak semata wayangnya terlihat seperti zombie hari ini?

Soo Rin menggeleng untuk kesekian kali. “Setidaknya aku bisa beristirahat besok. Itu sudah cukup.” Soo Rin kemudian melangkah menuju dekat pintu, mengganti sandal rumahnya dengan sepatu sekolah. Bahkan dia hampir terjatuh karena tidak memperhatikan lantai dekat pintu sudah menurun, jika Jung Soo tidak bergerak cepat meraih lengannya.

“Baiklah. Biar Appa mengantarmu ke sekolah, eo? Untuk yang ini jangan menolak!”

Soo Rin memilih untuk patuh kali ini.

.

Tak dapat menyangkal bahwa Soo Rin harus keluar-masuk kamar mandi demi merapikan diri agar tidak terlihat kacau. Dia bahkan rela membawa bedak—yang hampir tidak pernah ia pakai—demi membubuhi wajah pucatnya yang tampak mengerikan. Dan ia berencana untuk sedikit membuat toleransi pada tubuhnya dengan beristirahat—benar-benar beristirahat, cukup di waktu makan siang. Hanya sebatas itu!

Sayangnya, dia tidak bisa menyembunyikan kondisinya dari Ki Bum. Lelaki itu tahu pasti bahwa kondisi gadis itu sangat tidak baik hari ini. Karenanya di waktu istirahat pertama, tanpa basa-basi Ki Bum mengajak gadis itu pergi ke kantin.

“Kau harus makan,” tandasnya seraya menuntun gadis itu keluar dari kelas.

“Aku tidak lapar!” Soo Rin berusaha melepaskan diri, namun tenaganya yang memang sudah menghilang hampir seluruhnya tidak mampu melawan lelaki ini.

“Jika kau tidak lapar, setidaknya kau beristirahat di rumah!” Ki Bum menghentikan langkah demi menatap gadisnya itu. “Kenapa kau memaksakan diri untuk tetap datang di saat keadaanmu sedang seperti ini?”

“Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja!” Soo Rin mulai gelagapan. Dia sangat yakin bahwa bedaknya sudah menutupi wajah pucatnya. Tapi kenapa lelaki ini tahu?

“Kau tidak bisa membohongiku, ara? Aku bahkan dapat merasakan dinginnya tanganmu ini.” Ki Bum mengacungkan sebelah tangan Soo Rin yang tengah digenggamnya.

“Aku tidak sakit!!” Soo Rin memekik, yang jelas mampu menarik perhatian murid-murid yang tengah berkeliaran di koridor lantai dasar. Lalu dapat dilihat bahwa kedua bahunya semakin naik-turun dengan napas yang semakin memburu. Dan, Soo Rin harus tertegun kala melihat Ki Bum kini sudah memandang sendu dirinya.

Neo wae geurae (Ada apa denganmu)? Kenapa kau bersikeras seperti ini?” tanya Ki Bum dengan suara melembut, namun sarat akan kesedihan. “Kenapa kau lebih memilih untuk melakukan hal ini dan hampir sepenuhnya tidak mempedulikanku? Kau juga tidak mempedulikan teman-temanmu yang selalu menasehatimu… Neo wae geurae?”

I knew that you were being shaken, that’s why I grabbed onto you tigher. I held you in my arms and locked you in, and my love became more poisonus…

Soo Rin tidak berani membalas tatapan itu. Dia takut… takut jika terlalu lama melihat tatapan yang begitu menyiratkan kesedihan itu akan membuatnya menangis dan justru membongkar semuanya. Dia melakukan ini semua karena ada alasannya. Tapi dia tidak berani mengungkapkannya.

“Bukankah kau pernah mengatakan untuk menghabiskan waktu bersama lebih banyak lagi? Lalu kenapa kau justru menjauh? Kenapa kau melakukan ini?” Ki Bum semakin erat menggenggam tangan yang terasa bergetar dan semakin dingin itu.

Namun gerakan kecil itu menyadarkan Soo Rin hingga dengan sisa kekuatannya, ia menghentak tangannya hingga lepas dari genggaman Ki Bum. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Soo Rin segera berlari meninggalkan Ki Bum begitu saja.

Ki Bum tidak mengejar, dia hanya mengantar kepergian gadis itu dengan pandangan menyedihkan. Hingga seperti orang kesetanan, Ki Bum melepas kasar kacamatanya lalu membantingnya hingga benda berbingkai itu terbelah menjadi dua—bahkan terlihat salah satu lensanya keluar dari tempatnya. Barulah Ki Bum mengusap wajahnya dengan kasar seraya menyandarkan diri pada tembok koridor. Dia hampir memerosotkan tubuhnya jika tidak ingat di mana dirinya saat ini. Tapi toh Ki Bum sudah tidak peduli dengan sorot mata terkejut dari murid-murid lain yang masih betah mempehatikannya sejak tadi.

Seorang Jenius Peringkat Satu terlihat begitu kalap dan frustasi hanya karena seorang gadis, mungkin seperti itu yang ada di pikiran mereka yang baru saja melihat kejadian itu.

Tapi, mereka tidak tahu masalah apa yang tengah dihadapi Ki Bum. Juga Soo Rin. Tidak ada yang tahu, masalah apa yang tengah mereka hadapi hingga membuat mereka terlihat begitu kacau. Tidak ada yang tahu apa yang tengah dirasakan lelaki itu. Yang tengah mengumpat di dalam hati mengutuk perasaan yang tengah melandanya saat ini. Rasa takut dari sebuah—bisa dikatakan—trauma.

Ki Bum benar-benar takut sekarang.

.

I know, that it’s all my fault, but these feelings left behind can’t let go of hope. Right now, we are like the clock hands at 12:30, we have our backs to each other, looking at different places and trying to let go of everything. We are like the clock hands at 12:30, walking towards the place where we won’t be able to return to. Even though I’m letting go right now, I’m letting go of you. Even though everything has stopped, I believe that the broken clock will move again…
(B2ST – 12시30분)

B_

To Be Continued


gyaaaaaaaaaaaaaahh ini apa?! ㅠㅠ

aduuuuh, ngga lagi deh bikin yang sedih begini /ga
aku usahakan di part selanjutnya udah ga ada sedih-sedihnya lagi ya hahahah #dessh

btw, udah nonton MVnya D&E – Growing Pains? GEEEEZZ, abis nonton MVnya trus aku dengerin lagunya sambil nuntasin part ini tuh rasanya nyeeeeess banget~ yah meski artinya agak melenceng/? dari cerita ini, tapi ngena gimana gitu huweeeeeeeeh ㅠㅠㅠㅠ makanya lagunya aku pasang di blog sini.. lumayan buat nambah suasana sambil baca ini yekan #duagh XD

Masalah usaha bapaknya Kibum itu, aku cuma minjem nama perusahaannya kok heheheh Jangan terlalu dipikirkan ya (?)

udah ah segitu aja. Terima kasih sudah mau mampir~^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “With You – Part 5

  1. Kibum appa kejam euy gak sayang anak sendiri kan kasian juga hubungan Kibum sama Soorin jd renggang & gak baik gitu… ih greget deh bacanya >_<

  2. Huahhhh… sedihnya T_T
    Ditunggu next chapternya yah thor. Gak tahan baca ini, aku sampai netesin air mata, nyesek 😥

      1. Tapi ini bagus kok. Jadi ngebayangin gmana lika liku prjalanan cinta KiSoo couple yg menyesakkan dada #jiahhh #plakk

  3. Kalau di part sebelumnya mataku ber kaca2, sekarang udah tumpah beneran huhuhu tolong sadarkan appanya kibum!

  4. D chap 5 sedih bgt,kibum bnar2 kakak yg pengertian dia gk mau membuat sae hee khawatir dan soo rin sperti ksetanan belajarnya,mkin rumit tpu mkin seruuuuuuuu

  5. wahh ayah kibum serem ya.. masa ngomong sama anak kaia gitu.. udah pake bentak2 ngotot lagi maksa pula.. yg sabar y kibum semua pasti berlalu..
    ternyata kibum punya trauma toh.. janga sampai soorin melakukan hal yg sama dg cewe masa lalu ya kibum ya.. kan kasian kalo kibumnya depresi lagi..
    komen nya segini dlu udah ga sbar pengen baca part 6 nih.. hehe

  6. Ayah ki bum jika di pandang dari anak nya pasti di bilang dia sosok yg mengekang dan tegas..

    Hmm semoga mereka ga berpisah dan melewati masa2 bahagia mereka..

  7. Jin Young kejem banget gak kasian apa sama Ki Bum T.T , Soo Rin kenapa lagi pasti dia belajar terus supaya dia buktiin kalo dia pantes buat Ki Bum , tenang Ki Bum Soo Rin gak bakalan nerima uang dari Jin Young appa jadi harus Positif oke 😀 , Cinta pertama Ki Bum siapa ya ? Aku , tapi aku gak merasa nerima uang dari Jin Young Appa :v

  8. Ternyata sosok Kim Jin Young lebih menakutkan dari yang dibayangkan. Pantas saja keluarga Kim menjadi kaku, kibum dan saehee juga sepertinya jarang bergaul dengan teman-teman yang lain ketika di sekolah. Saehee kelihatannya hanya akrab dengan jongdae, sedangkan kibum hanya dekat dengan soorin, ahreum, taeyoung dan taemin saja ketika di sekolah. Kenapa semakin lama, masalahnya semakin rumit?

  9. Aku ga tahu apa di part sebelumnya udah meninggalkan komentar. Cerita ini benar-benar menguras emosi dan persaan. Ahhh pokoknya the best dah. Keren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s