Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, Friendship, KiSoo FF "With You", PG, Romance, School Life

With You – Part 4

Pt.4 – 10 Seconds

wycover

Genre :: Romance, School Life, Complicated, Family, Friendship, Angst 

Rated :: PG

Length :: Chaptered

||KiSoo’Story||

Recommended Songs :: Kim Sung Gyu – Only Tears, Kyu Hyun – One Confession, Tae Yeon – Closer (To The Beautiful You OST), Tae Yeon – Only One (That Winter, The Wind Blows OST)

Castscasts

Happy Reading, yoo! ^^

.

ㅡㅡ

“Let’s spend more time together…”

.

.

SAEHEE meraih ponsel pintarnya setelah menyelesaikan kegiatan membersihkan diri. Bisa dikatakan dia baru saja bangun dari lelap panjangnya dan segera membasuh diri. Hari ini merupakan Hari Minggu, itulah mengapa dia memilih untuk bersantai setelahnya.

Gadis itu tampak mengulum senyum kala melihat sebuah chat Line masuk beberapa menit lalu. Tertera di sana bahwa pengirim chat tersebut bernama Mochi—nama yang ia berikan pada kontak nomor tersebut.

G’morning, Lazy Girl! I know that you just woke up, eh

stickerline

Sae Hee harus terkikik melihat isinya, apalagi si pengirim chat menambahkan sebuah sticker yang memperjelas kesan mengejeknya. Ia segera membalas.

Good evening, Bakpao! Cepatlah tidur dan mimpikan aku~ shoo shoo

185

Kemudian Sae Hee tersadar, sepertinya dia terlalu cepat menyuruh orang itu untuk tidur. Setelah dihitung-hitung, Canada masih pukul 7 malam. Tapi, sudahlah. Setidaknya dia cukup puas membalas ejekan orang sok tampan itu.

Ponselnya kembali berdering singkat menandakan sebuah chat kembali masuk. Ia kembali membuka aplikasi tersebut.

Begitu? Padahal aku berniat untuk mengajakmu mengobrol

Sayang sekali

dtiy2M8

Baiklah, sampai bertemu 8  jam lagi! Bye bye

stickerline-201311151525481

Ya, ya, ya! Mana bisa dia begitu?!” Sae Hee mulai mendumal tak jelas. Langsung saja dia menelepon kontak itu melalui aplikasi tersebut. Well, Line App memiliki fasilitas untuk melakukan free call, perlu diketahui itu.

“Ugh, ada apa? Aku baru saja ingin tidur. Mengganggu saja.”

Sae Hee harus merengut tak senang begitu mendapat sambutan menjurus tak hangat di seberang sana. “Tega sekali kau memperlakukanku seperti ini, Dasar Bakpao!”

“Hei, aku hanya menuruti perintahmu untuk segera tidur dan memimpikanmu. Apanya yang salah?”

“Aku hanya bercanda! Kau ini tidak bisa membedakan antara serius dan bercanda, hah?!”

“Aah, jadi kau tidak ingin aku memimpikanmu?”

“Tidak untuk saat ini!”

“Oh, baiklah. Mungkin lain kali. Jadi, boleh aku matikan teleponnya? Aku harus segera tidur.”

“Henry Lau!!” Sae Hee terpaksa memekik gemas. Membuat lelaki bernama Henry itu tergelak di seberang sana.

Allright, Girl. I’m sorry. Aku juga merindukanmu.”

Ish, aku tidak pernah berkata seperti itu!”

“Setidaknya kau meneleponku merupakan sebuah tanda bahwa kau merindukanku. Jangan mengelak!”

Sae Hee harus mengerucutkan bibir kala mendengar kalimat terakhir itu berhasil menahannya untuk melakukan aksi protes. Baiklah, memang pada kenyataannya dia merindukan lelaki berpipi tembam yang selalu dia panggil Bakpao itu. Setelah pertemuan tak terduga yang berakhir dengan dirinya jatuh ke dalam pelukan lelaki berparas bocah itu, Sae Hee belum pernah bertemu Henry kembali secara tatap wajah karena lelaki itu segera pulang ke negeri asalnya, Canada. Dan, well, hingga saat ini, dia melakukan hubungan jarak jauh dengan Henry. Atau biasa dikenal dengan Long Distance Relationship.

How are you today?

Sae Hee kembali dari angan-angan setelah disadarkan dengan pertanyaan teduh itu. Entah kenapa mendengar cara lelaki itu berbicara membuat dadanya berdesir hingga meronakan kedua pipinya. Rasanya aneh sekali.

“Aku baru saja memulai aktivitas hari ini. Jadi aku masih merasa baik. Well, pagi ini cukup cerah di sini,” Sae Hee melirik sejenak ke arah jendela kamar yang membiaskan cahaya matahari pagi hingga menyorot ke dekat tempat tidurnya. Ia kemudian  melangkah mendekat lalu menempatkan diri di depan jendela tersebut, membiarkan tubuhnya berjemur di bawah pancaran hangat yang menembus ke ruangan. “Bagaimana denganmu? Apakah Hari Sabtumu menyenangkan?” lanjutkan kemudian.

Yah, di Canada masih Hari Sabtu. Perbedaan waktu yang cukup jauh—14 jam—sudah dipastikan dapat mempengaruhi perbedaan hari pula. Korea Selatan termasuk Negara di zona waktu yang lebih maju.

“Aku menghabiskan waktu dengan Dad hari ini. You know, did a collaboration.

I see,” Sae Hee mengangguk paham. Keluarga Henry cukup berbakat dalam bermain musik. Dan menghabiskan waktu menjelang akhir pekan dengan bermain musik bersama merupakan pilihan yang sangat bagus untuk mereka. Di samping melatih kemampuan diri dalam bermusik, kegiatan tersebut juga berguna dalam mengikat lebih erat hubungan kekeluargaan melalui bermusik. Sungguh keluarga yang harmonis, membuat Sae Hee cukup merasa iri.

“Bagaimana kabar kakakmu?”

Sae Hee cukup tertegun mendapat pertanyaan itu. “Tumben sekali kau menanyakan kakakku?”

“Tidak boleh? Setidaknya aku bertanya soal dirinya karena menyangkut hubungannya dengan Noona.”

Sae Hee tampak merenung. Memikirkan hubungan kakaknya membuat Sae Hee harus kembali memutar kejadian di mana dirinya diinterogasi oleh sang ayah. Yang sekaligus membuatnya juga memikirkan kakak sepupu Henry yang tak lain merupakan kekasih dari sang kakak. Dan itu membuatnya kembali tak tenang.

Hey, are you still there?

Sae Hee menghela napas sesaat. “Yeah…

“Ada apa? Kau terdengar… mulai tak bersemangat. Apakah terjadi sesuatu?”

Ya, sesuatu akan terjadi dan aku mengkhawatirkan itu. Sayangnya Sae Hee hanya mampu mengucapkannya di dalam hati. “Nothing. He’s fine… with Eonni too. Hanya saja mereka sedang disibukkan dengan Suneung yang akan dilaksanakan tak lama lagi. Jadi, Oppa sering berkunjung ke rumah Eonni setiap Hari Minggu untuk belajar bersama.”

“Begitu… waah, mereka sepertinya bekerja keras bersama-sama. Apakah mereka akan masuk ke universitas yang sama?”  ucapan Henry yang lebih terdengar seperti tengah mengandai-andai itu justru mampu membuat Sae Hee tak fokus.

Bagaimana itu akan terjadi jika salah satu dari mereka tidak memiliki kesempatan untuk memilih lagi?

I hope so…” ujar Sae Hee, terdengar lirih.

****

“Saya sudah melakukan sesuai yang Anda minta.”

Tampak seorang pria berdiri tegap namun penuh kesopanan menghadap pria paruh baya yang terduduk tenang di kursi kebesaran, menautkan kedua tangan dengan bertumpu di atas meja yang berdiri tepat di depannya.

“Kau sudah memastikan gadis itu menerimanya?” tanya pria paruh baya itu seraya menatap datar sang pria berparas lebih muda di hadapannya, namun juga tajam.

Ye. Saya sudah memastikan gadis itu menerima dengan kedua tangannya.”

Pria paruh baya itu mengangguk sebelum menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesaran. “Pastikan bahwa dia tidak mengambil dua kesempatan yang ada. Kau boleh pergi sekarang,” perintahnya kemudian yang segera dibalas dengan bungkukkan sopan dari pria muda tersebut.

Pria itu segera keluar dari ruang mewah tersebut. Ketika dirinya menutup pintu ruangan dan hendak melangkah menuju lantai bawah, di saat yang bersamaan mata sipit nan tajamnya itu menangkap seorang gadis baru saja keluar dari kamar sebelum kemudian sang gadis mendapati dirinya.

Eo? Shin Dong Ahjusshi! Oraenmani-eyo (lama tidak berjumpa)!”

Pria yang bernama Shin Dong itu segera mengulas senyum seraya membungkuk singkat menyambut Nona Mudanya. “Senang bisa bertemu kembali, Nona Sae Hee. Sepertinya Anda masih senang dengan panggilan itu untuk saya.”

Sae Hee, gadis itu terkekeh seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Selama ini dirinya memanggil Sekretaris kebanggaan ayahnya itu—yang juga pernah merangkap menjadi supir pribadinya kala masih bersekolah dengan kakaknya di California dulu—dengan panggilan buatannya. Karena dirinya merasa bahwa panggilan Dong Hee atau sekedar Shin Ahjusshi  tidaklah nyaman, juga mengingat tubuh pria itu yang sedikit gemuk namun sangatlah kuat membuatnya mendapatkan ide untuk memanggil pria itu Shin Dong.

Well, aku sudah sangat nyaman dengan panggilan itu. Tidak apa-apa, ‘kan?”

“Tidak apa-apa, selama itu tidak mengusik kenyamanan Nona.” Shin Dong kembali mengulas senyum ramahnya.

Sae Hee mengangguk lega. Kemudian ia teringat sesuatu. “Apakah Ahjusshi baru saja bertemu dengan Appa?”

Ne.”

“Untuk apa? Apakah ada hal penting?” Sae Hee mulai merasa ingin tahu.

“Bisa dikatakan seperti itu.”

Sae Hee memicing samar mendapatkan jawaban itu. Setahu dirinya, Shin Dong cukup jarang menemui ayahnya di rumah apalagi di akhir pekan seperti ini. Saat di California dulu pun dia hampir tidak bertemu dengan Shin Dong setelah pria itu berhenti menjadi supir pribadinya dan memilih untuk mengabdi sepenuhnya pada sang ayah di kantor.

“Kalau begitu, saya permisi dulu.” Shin Dong menyadarkan, ia membungkuk sejenak sebelum kembali melangkah menuruni tangga lalu keluar dari rumah.

Sedangkan Sae Hee hanya mengantar kepergian pria itu dengan pandangan menerawang. Barulah ia mengerjap seraya menggelengkan kepala begitu mendengar suara pintu utama rumah tertutup.

“Mungkin hanya masalah pekerjaan,” gumamnya lirih. Kemudian ia melangkah menuruni tangga, menuju lantai bawah.

****

Tampak keempat bersahabat itu duduk mengelilingi salah satu meja kantin. Dua di antaranya—seorang lelaki dan perempuan—menjatuhkan kepala mereka di atas meja, menunjukkan betapa lelahnya mereka setelah menghadapi kegiatan belajar mengajar hari ini. Waktu sudah sore dan mereka masih harus melakukan kegiatan belajar tambahan hingga malam. Bisa dibayangkan sedrastis apa keadaan mereka setelah ini.

“Entah mengapa hari ini tenagaku terkuras hampir seluruhnya,” lirih Ah Reum lemas.

Eo… nado…” Tae Min yang juga melakukan hal sama seperti Ah Reum membenarkan.

Hari ini mereka memiliki jadwal olahraga yang sama dan hari ini materi yang mereka pelajari adalah berlari keliling lapangan sebanyak 5 kali. Bayangkan dengan kondisi lapangan yang hampir seluas lapangan sepak bola, ditambah mereka juga melakukan pengambilan nilai basket. Berlari ke sana kemari men-dribble bola di bawah teriknya matahari—meski di musim gugur seperti ini tetap saja kau akan berkeringat jika melakukan olahraga berat seperti mereka.

Tae Yong sendiri tampak begitu lesu meski hari ini tidak ada jadwal olahraga. Well, selain profesinya sebagai seorang pelajar, dia juga seorang trainer di agensi terbesar di Korea Selatan. Jelas saja dirinya merasa kelelahan karena hanya memiliki waktu istirahat tidak lebih dari tiga jam lamanya.

Lelaki itu mendesah cepat kala matanya mulai bosan melihat temannya yang duduk di hadapan. Padahal mereka semua tampak kelelahan, apakah gadis ini tidak kelelahan?

Ya, Soo Rin-ah,” panggil Tae Yong yang tidak segera mendapat jawaban. Gadis itu masih terpaku dengan kegiatan sendirinya. Membuat Tae Yong dengan gemas menarik buku yang tengah dibaca gadis itu hingga sang empu terperangah sebelum memberengut tak suka.

“Astaga, Lee Tae Yong! Kembalikan bukuku!” Soo Rin hendak merebut kembali bukunya ketika Tae Yong menjauhkan diri dan memelototi buku tersebut.

“Apa kau tidak merasa jenuh terus berhadapan dengan buku-buku seperti ini?” Tae Yong tampak berdecak heran sebelum menatap Soo Rin dengan terheran pula.

Sebenarnya, iya… “Tidak juga,” balas Soo Rin seraya beralih mengaduk-aduk minuman pesanannya lalu menyeruput sedikit.

“Apa kau sedang mengincar sesuatu? Seperti… Universitas Seoul?” tanya Tae Min yang telah mengangkat kepalanya demi menatap Soo Rin.

“Yonsei? Kyunghee? Sogang?” timpal Ah Reum tiba-tiba menyebut beberapa nama universitas terbaik, meski belum merubah posisi namun kedua matanya tampak memicing menatap Soo Rin yang tampak lebih tinggi darinya saat ini.

“Aku tidak mengincar mereka,” balas Soo Rin cepat. “Memangnya jika aku terus membaca buku, merupakan arti bahwa aku sedang mengincar kampus-kampus terkenal itu?”

“Tapi setidaknya kau memiliki satu pilihan sebagai patokan level belajarmu, bukan?” Tae Min mengangkat kedua alis. “Untukku, tidak muluk-muluk. Aku ingin masuk ke Universitas Myongji. Kalian tahu? Lee Dong Hae member D&E merupakan alumni sana,” lanjutnya seraya memamerkan cengiran lebar.

“Aku juga. Maksudku, aku ingin masuk ke Universitas Kyunghee. Kalian tahu? Penyanyi Solo bernama Cho Kyu Hyun itu merupakan alumni sana!” Ah Reum tampak berbinar menjelaskan, hingga tanpa sadar dirinya sudah duduk dengan tegaknya.

“Apa kalian mengincar kampus-kampus itu karena idola kalian pernah menimba ilmu di sana?” cibir Tae Yong yang ternyata dibalas dengan anggukan Tae Min dan Ah Reum. Dua makhluk itu tampak saling berpandangan sekaligus saling melempar cengiran mereka sebelum kemudian tertawa bersama.

“Hei, setidaknya idola bisa menjadikan sebuah inspirasi, kita bisa mengambil prestasi akademiknya itu. Lagipula, kampus yang mereka duduki tidaklah buruk. Bahkan mereka-mereka itu selalu mendapatkan kampus yang cukup terkenal di Korea Selatan,” jelas Tae Min yang dibenarkan oleh Ah Reum dengan anggukan antusias.

Tae Yong mendengus halus. Yah, memang benar apa yang dijelaskan Tae Min. Setidaknya para idola yang ada di Negeri Ginseng ini rata-rata memiliki latar belakang akademik yang cukup membanggakan. Sebenarnya, tidak heran juga jika idola dijadikan sebuah patokan dalam memilih tempat pendidikan. Toh, mereka semua sangat pantas untuk dijadikan inspirasi.

“Jadi, mana yang menjadi incaranmu, Soo Rin-ah?” tanya Ah Reum tiba-tiba.

Soo Rin sedikit terhenyak. “Aku?”

Ah Reum mengangguk antusias.

“Aku… mungkin akan memilih Universitas Inha.”

“Inha?” ketiga temannya kompak bersuara.

“Chang Min TVXQ merupakan alumni sana, bukan?”

Eo! Aktor Choi Si Won juga seorang alumni dari sana!”

Lagi-lagi Tae Min dan Ah Reum membicarakan idola yang sudah menjadi alumni.

Woah, seleramu cukup bagus,” gumam Tae Yong seraya tersenyum simpul menatap Soo Rin.

Sedangkan Soo Rin hanya membalas lelaki itu dengan senyum samar sebelum kembali menunduk memperhatikan minuman pesanannya, mengaduk-aduknya… kini tanpa minat.

****

Lelaki itu terduduk di salah satu bangku di perpustakaan. Menekuri berbagai buku-buku tebal yang menumpuk di hadapan. Waktu sudah cukup larut, juga pelajaran tambahan sudah berakhir. Suasana perpustakaan pun sudah sangat lengang sebagaimana dengan suasana di luar sana, Neul Paran sudah cukup sepi.

Dia menyadari bahwa seseorang datang kemudian duduk di depannya, namun dirinya memilih untuk fokus terhadap buku-buku tebal hasil pilihannya itu. Mengingat hari sudah larut dan dia harus segera memilih 3 buku yang bisa dia bawa pulang untuk dipelajari di rumah.

Tunggu, ini sudah larut, sedangkan orang di hadapannya ini belum pulang?

Mau tidak mau dia mengangkat pandangannya, lalu sedikit tertegun mendapati orang itu tengah menatap lekat dirinya dengan kedua tangan terlipat di atas meja. Dan, menyambutnya dengan seulas senyum yang tidak begitu lebar namun sudah terlihat manis di matanya. Hanya saja rasa terpananya itu segera terganti dengan rasa bingungnya.

“Kenapa kau belum pulang?”

Orang itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Mata ovalnya tidak lepas sedikitpun dari wajah di hadapannya membuat sang empu merasa heran. Tidak biasanya gadis ini mau menatap dirinya seperti ini, bahkan selama ini. Ya, gadis ini.

“Kau akan tertinggal Ah Reum dan Tae Yong, Soo Rin-ah,” ujarnya dengan halus.

Namun lagi-lagi gadis itu menggeleng. “Mereka masih berada di kelas. Aku juga sudah memberitahu Tae Yong bahwa aku ingin mampir lebih dulu kemari,” jelasnya kemudian.

“Untuk apa? Melihatku?”

“Mungkin.”

Lelaki itu mendengus mendengar jawaban yang cukup spontan dari mulut kecil itu. Ia kemudian menyingkirkan buku yang tengah ditekurinya itu dari hadapan, berganti dengan kedua tangannya yang berlipat di sana demi  menyamankan posisinya untuk membalas tatapan Soo Rin.

“Hanya untuk itu?”

Um.”

“Setelah itu?”

“Aku akan pulang.”

Dia kembali mendengus. “Kukira kau akan menungguku.”

Hm… jika setelah itu kita belajar bersama lagi, aku rasa tidak masalah.”

Geurae?”

Um.

“Di sini?”

Eo.”

“Sampai besok?”

Eung… jika kau kuat untuk begadang.”

Lelaki itu terkekeh pelan mendapatkan jawaban yang cukup tak terduga. Bagaimana bisa dikatakan terduga jika yang menjawab itu semua adalah gadisnya sendiri? Oh, apakah gadisnya itu sedang menantangnya?

Wae? Kau pikir aku tidak bisa? Perlu kau ketahui bahwa aku bisa begadang hingga pukul empat pagi jika sedang libur panjang,” jelas Soo Rin dengan polosnya. Sebelum kemudian, “Aak!” dia harus merintih karena tangan besar itu baru saja menyentil dahinya, meski dengan pelan.

“Pantas saja kau memiliki darah rendah, kau sering begadang, ternyata?”

“Hanya saat sedang libur panjang! Ugh, lagipula aku sudah mengidap itu sejak Sekolah Dasar.” Soo Rin tampak mengerucutkan bibir seraya mengusap dahi berponinya itu. “Bagaimana denganmu sendiri? Kau sedang berniat untuk menyantap buku-buku itu semalaman di sini?”

Ani. Aku akan pulang setelah menyeleksi buku-buku ini untuk kubawa pulang,” jelasnya. “Kenapa? Ingin menemaniku?”

Soo Rin mengerjap kala melihat senyum simpul itu. Kemudian ia menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Jika kau mengizinkan…” gumamnya lirih, namun masih mampu didengar oleh lelaki itu mengingat suasana perpustakaan yang sudah sangat lengang.

“Sayang sekali, aku tidak mengizinkan,” jawabnya yang segera mendapatkan tatapan tak rela dari Soo Rin. “Aku tidak akan segera pulang. Jadi lebih baik kau ikut dengan Tae Yong dan Ah Reum. Ditambah ini sudah malam, kau harus beristirahat.”

“Memangnya kau sendiri tidak?”

Mengedikkan bahu, ia menjawab, “Aku masih memiliki cukup stamina malam ini.”

“Aku juga…” Soo Rin mencoba untuk berkilah. Namun jawaban yang terdengar tidak yakin tersebut membuat lelaki itu mengulurkan sebelah tangan demi mengusap gemas puncak kepala Soo Rin.

“Pulanglah. Jangan membuat Tae Yong dan Ah Reum menunggu lama.”

Soo Rin kembali menatap lelaki yang sudah kembali berkutat dengan buku-buku tebalnya. Diam-diam Soo Rin menatap lelaki di hadapannya itu—nanar, diam-diam pula dirinya menggigit bibir bawahnya seolah tengah menahan sesuatu yang ingin menyeruak dari dalam dirinya. Ia menarik napas panjang dan dalam.

“Kim Ki Bum.”

Hm?” Ki Bum—lelaki itu kembali mendengak dan menatap gadisnya. Keningnya harus berkerut samar mendapati sedikit perubahan ekspresi dari wajah cantik itu. Dan mulai dibuat bingung karena dia tidak segera mendapat balasan berupa suara dari gadisnya itu.

Sedangkan Soo Rin, batin dan pikiran mulai berdebat di dalam dirinya. Diam-diam dia merasa gusar, haruskah dia mengutarakannya atau tidak? Sampai-sampai mulutnya yang sempat mengatup harus terbuka—seolah ingin mengucapkan sesuatu, namun tampak tertahan karena benaknya yang terasa gamam.

Waee?” Ki Bum kembali bersuara, melihat gadis di hadapannya terlihat tengah menimbang-nimbang.

Dan beberapa detik kemudian, Soo Rin mengerjapkan mata yang sekaligus merubah ekspresinya kembali seperti semula dengan senyum manis yang kembali mengembang. Ia membalas, “Aniya!” lalu bangkit dari duduk.

Ki Bum harus memperjelas kerutan di keningnya kala melihat perubahan cepat gadisnya itu. Apakah ada sesuatu yang ingin gadisnya katakan padanya? Tapi kenapa tidak jadi?

“Sepertinya Ah Reum dan Tae Yong sudah menungguku. Aku harus menemui mereka dan segera pulang,” ucap Soo Rin seraya berjalan memutar meja tersebut dan mendekati Ki Bum. Mengingat pintu perpustakaan berada di belakang lelaki itu. “Kau… jangan pulang terlalu larut! Sekolah sebentar lagi akan tutup,” lanjutnya, menekankan kata terakhir yang terkandung sebuah isyarat. Dan Ki Bum menyadari maksudnya.

Eo. Berhati-hatilah!”

Soo Rin mengangguk cepat sebelum melangkah menjauhi Ki Bum. Namun beberapa langkah kemudian ia berhenti dan kembali berbalik, mendapati lelaki itu ternyata tengah menatapnya. Mungkin bermaksud untuk mengantar kepergiannya.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Sampai bertemu besok!”

Ki Bum mendengus geli melihat tingkah gadisnya itu, melambaikan tangan padanya seraya melemparkan senyum lebarnya yang semakin menambah kadar kecantikannya itu. Membuat Ki Bum tak tahan untuk ikut melambaikan tangan sebagai balasan gadis itu. Benar-benar menggemaskan.

Dan Soo Rin segera berbalik melanjutkan langkahnya untuk keluar dari perpustakaan. Berniat untuk menyusul Ah Reum dan Tae Yong yang mungkin saja sudah menunggunya di lantai dasar. Soo Rin berlari begitu berhasil menutup pintu perpustakaan, namun ia justru menghentikan larinya begitu sampai di dekat tangga sekolah. Melangkah turun hanya pada satu pijakan, sebelum kemudian menjatuhkan diri hingga terduduk di lantai marmer sekolah yang terasa dingin, memeluk kedua lututnya, lalu menjatuhkan dagunya di sana.

Lagi-lagi wajah cantiknya itu tampak meredup.

After this love, I don’t really know what will happen. Just like child who is always this way. Though someday your name might become strange, my heart will remember all the memories. Even if a painful separation comes between us, let’s not think about that today. Because among the many people in this world, I could only see you
(Tae Yeon – Closer)

****

Ah Reum berlari keluar dari kelasnya, langkahnya yang sangat cepat itu membawa dirinya menuju kelas 3-2 di mana teman dekatnya berada. Tanpa permisi dirinya menduduki bangku kosong yang sudah ditinggalkan penghuninya itu—bangku yang berada tepat di depan bangku temannya itu, dan Ah Reum memutar bangku yang jelas bukan miliknya agar menghadap ke arah temannya sebelum ia duduki.

Ya, Soo Rin-ah, aku tidak tahu bahwa kau sudah terkenal!” cerocos Ah Reum tiba-tiba yang jelas membuat yang diajak bicara mengerjap kaget. Bahkan suaranya yang terdengar cukup nyaring itu mampu menarik perhatian murid-murid yang ada di dekat mereka.

“Apa maksudmu?”

“Ini!” Ah Reum meletakkan ponsel pintarnya yang ternyata terus dipegangnya itu ke atas meja Soo Rin, menyodorkannya pada Soo Rin. Ponselnya tengah menerterakan suatu laman, soal kejadian di Hari Minggu lalu.

Eun Hyuk kedatangan saudara. Aku tidak yakin mereka adalah saudara kandung, mungkin saudara sepupu.

Aku sempat mendengar bahwa Eun Hyuk Oppa memanggilnya “Ki Bum-ah.

Kudengar bahwa mereka sudah lama tidak bertemu. Eun Hyuk Oppa menyapa dengan bicara, “Lama tak berjumpa.” Wow :O

Lelaki bernama Ki Bum itu sangat tampan! Dan dia datang bersama kekasihnya.

Aku melihat Eun Hyuk begitu senang bertemu dengan lelaki bernama Ki Bum itu.

Aku juga melihat Eun Hyuk mengajak bicara kekasih lelaki itu dan aku mendengar bahwa gadis itu bernama… Soo Rin? Ugh, aku tidak ingat nama marganya. Suaranya terdengar sangat halus.

Aku sempat mengambil foto mereka bertiga ><

Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan Eun Hyuk Oppa terlihat sangat terbuka dengan gadis itu.

Dan masih banyak lagi kicauan dari para pengguna jejaring sosial tersebut—twitter—yang tak lain merupakan pengunjung kafe milik penyanyi terkenal bernama Eun Hyuk itu mengenai Hari Minggu lalu. Tak jarang pula berbagai foto yang berhasil diambil baik dari belakang, samping, maupun dari luar kafe, menunjukkan kedekatan Eun Hyuk bersama dua sosok yang tak lain adalah Ki Bum dan Soo Rin di counter saat itu.

“Ini sudah dua hari yang lalu. Untuk apa dibahas lagi?” Ki Bum yang sudah berada di samping Soo Rin, membuka suara. Lelaki itu tampak membungkuk demi melihat lebih jelas layar ponsel Ah Reum. Dan ia mencoba untuk tidak peduli dengan keterkejutan Soo Rin yang sempat menoleh menatapnya.

Yaa, kalian berkencan? Hari Minggu kemarin? Ke Chocolat BonBon?” celetuk Tae Yong yang juga sudah berada di antara kedua gadis itu, setengah berjongkok di samping meja Soo Rin lalu melongokkan kepala di layar ponsel Ah Reum.

“Dan kalian bertemu dengan Eun Hyuk Oppa?” Ah Reum menatap pasangan di depannya itu secara bergantian. “Dan Eun Hyuk Oppa mengenal Kim Ki Bum?” kini Ah Reum memicing pada Ki Bum.

Ki Bum mengedikkan bahu. “Dia hanya teman dekat Jong Woon Hyung,” jawabnya, terdengar ambigu bagi Ah Reum. Dan Ah Reum hendak meminta penjelasan lebih kala Ki Bum melanjutkan, “Tidak ada yang spesial di berita ini.”

Ya, ya, ya! Kudengar Ki Bum dan Soo Rin bertemu Eun Hyuk D&E kemarin!” Tae Min, baru saja datang dan mulai merusuh. Menarik semakin banyak perhatian penghuni di kelas itu dan hampir setengah dari mereka bergerak mendekati keempat—tidak, kelima makhluk itu.

“Astaga, itu berita lama!” desis Soo Rin, mulai tak nyaman dengan perhatian mendadak ini.

Ki Bum merebut ponsel yang masih digenggam Soo Rin lalu mengembalikannya pada sang pemilik, ia kemudian meraih sebelah tangan Soo Rin dan menariknya, menyuruh gadis itu untuk berdiri. “Kita ke kantin saja.”

Dan Ki Bum menyelamatkan Soo Rin dari kerumunan dadakan itu. Membawa gadis itu keluar dari kelas dan meninggalkan ketiga temannya begitu saja. Seperti yang Ki Bum katakan, dastinasi mereka adalah kantin. Menangkap sosok yang sangat dikenal begitu masuk ke area kantin, Ki Bum menggiring Soo Rin menuju meja tempat sosok itu berada lalu mendudukkan Soo Rin di sebelah sosok tersebut, sebelum kemudian mendudukkan diri di hadapan Soo Rin—yang sekaligus menempatkan dirinya di sebelah teman dari sosok itu.

Oppa? Tumben sekali bergabung dengan kami?” sambut Sae Hee—sosok yang merupakan adik kandung Ki Bum.

“Kantin sudah penuh,” jawab Ki Bum seadanya, kemudian dia memicing. “Kau sedang tidak melakukan sesuatu di belakang Henry, bukan?”

Sae Hee sempat mengerjap tak paham sebelum menatap orang di samping Ki Bum yang tak lain orang yang berada di hadapannya, lalu matanya melebar begitu menangkap maksudnya. “Mwoyaa? Jong Dae hanya teman sekelas yang aku kenal, Oppa!”

“Dia memiliki banyak kenalan, hanya saja dia tidak merasa nyaman bersama mereka dibanding denganku,” Jong Dae membuka mulut, yang jelas membuat Sae Hee melotot tak terima. “Dia banyak bercerita padaku, jadi aku tahu bahwa Sae Hee sudah berkencan dengan lelaki Canada itu,” lanjutnya kemudian, memberanikan diri menatap Ki Bum sebelum kemudian melirik Soo Rin, “Aku juga tahu bahwa lelaki Canada itu saudara sepupu Soo Rin Sunbae.”

Woah, sejauh itukah Sae Hee bercerita padamu?” Soo Rin tampak takjub hingga memamerkan wajah melongonya yang menggemaskan itu.

Jong Dae mengedikkan bahu, “Bisa dikatakan aku adalah buku diary-nya.”

Ya!!” Sae Hee menjitak keras kepala Jong Dae. Gadis itu bahkan dengan sangat rela bangkit dari duduk demi menyebrangi—setengah tubuhnya itu pada meja kantin di hadapannya, mempermudahkannya untuk meraih lelaki berbibir tipis itu. Catat, gadis itu selalu melakukannya tanpa setengah-setengah.

Ugh, dia juga sering melakukan kekerasan terhadapku,” rintih Jong Dae seraya mengusap keningnya yang menjadi korban tangan mungil nan keras milik Sae Hee.

Ya, Kim Jong Dae!!” Sae Hee terlihat geram, dia hampir kembali melayangkan tangan mungilnya itu kala kakaknya menginterupsi lebih dulu.

Saeddong, duduk.”

Dan titahan sederhana yang keluar dari mulut Ki Bum itu berhasil meluluhkan Sae Hee untuk kembali bersikap manis di tempat duduknya, meski wajah cantiknya itu masih memberengut dengan bibir mengerucut.

****

Kim Jin Young menatap datar pada tablet phone yang berada di genggaman. Layar sentuh sebesar 10 inch itu tengah menampilkankan sebuah situs jejaring sosial yang sedang populer saat ini, dan topik yang tengah tertera di sana merupakan topik yang cukup hangat tengah diperbincangkan… beberapa hari lalu. Kabar di mana penyanyi duo bernama Eun Hyuk bertemu dengan kenalannya di kafe miliknya.

Jin Young sendiri mengetahui hal itu setelah mendapatkan pesan dari sekretaris andalannya itu kemarin malam, mendapatkan pesan sebuah link dan ini sudah ketiga kali dirinya membuka link tersebut. Membacanya berkali-kali.

Meletakkan tabletnya ke atas meja, Jin Young menghembuskan napas dengan cepat. Sebelah tangannya bertumpu di atas meja seraya menopang dagu tegasnya. Mata tajamnya itu tampak menyala.

Setelah apa yang sudah ia lakukan, ternyata gadis itu masih belum melakukan apa yang ia mau. Apa gadis itu sedang meremehkannya?

Atau…

“Sepertinya pemberianku masih kurang baginya,” gumamnya halus, namun sarat akan rasa tak suka.

****

Soo Rin keluar dari kediaman di waktu yang masih sangat pagi di Hari Minggu ini—pukul 8. Penampilannya tampak simple dan rapi dengan tas selempang mungil menggantung di bahu kanannya, serta sebelah tangan yang menggenggam sebuah kotak makan—atau biasa disebut dengan bekal.

Begitu keluar dari pekarangan rumah, langkahnya harus terhenti kala seseorang keluar dari mobil yang terpakir di dekat pagar rumahnya. Gadis itu tertegun begitu menyadari siapa orang itu, dan harus melongo hingga orang itu berdiri tepat di hadapannya.

“Kau ingin pergi?” sapa orang itu yang sekaligus menyadarkan Soo Rin. Gadis itu mengangguk ragu.

Eo… Kim Ki Bum, kenapa kau datang pagi sekali?” Soo Rin mengutarakan rasa ingin tahunya. Biasanya lelaki ini akan datang ke rumahnya di pukul 10, setidaknya dia masih memiliki waktu untuk melakukan urusan rumah, entah itu berbelanja, membantu ibunya membersihkan rumah, atau mengantarkan bekal untuk ayahnya di rumah sakit—seperti yang akan dilakukannya saat ini.

Ki Bum hanya mengulas senyum tipis. Ada yang aneh dari penampilan lelaki itu di mata Soo Rin, Ki Bum terlihat hanya mengenakan celana jeans biru gelap dengan atasan berupa kaus berkerah berwarna putih. Tidak ada jaket maupun pakaian hangat lain yang melekat di tubuh tegapnya itu. Mengingat ini musim gugur dan keadaan lingkungan yang masih pagi. Bahkan, rambut lelaki itu yang biasa terlihat rapi, kini tampak berantakan. Yah, meski justru menambah kadar ketampanannya itu.

“Ingin mengantar sesuatu?” Ki Bum mengalihkan topik. Mata tajamnya melirik pada bekal yang tengah dibawa oleh Soo Rin sehingga gadis itu ikut melihatnya.

Um. Eomma mengatakan bahwa Appa pergi sangat pagi, jadi Appa tidak sempat sarapan. Karena itu aku akan mengantarkan ini untuk Appa,” jelas Soo Rin seraya tersenyum. Membuat lelaki itu mengangguk paham, dan ikut tersenyum. Lebih lebar dibandingkan sebelumnya.

“Aku antar?”

“Eh?”

“Ke tempat ayahmu.”

Soo Rin tampak ragu. “Tidak apa-apa? Eung… tapi, aku biasa naik subway—” ucapannya tertahan kala lelaki itu meraih sebelah tangannya yang lain dan menariknya menuju mobil.

“Selama ada aku, tidak ada subway,” jelas Ki Bum seraya mengacungkan telunjuknya tepat di depan hidung Soo Rin, membuat sang empu mengerjap beberapa kali. Lalu Ki Bum membukakan pintu penumpang bagian depan sebelum menghela gadis itu ke dalam.

Dan Soo Rin harus menggerutu kala lelaki itu menutup pintu kemudian berlari memutar menuju bangku kemudi. Padahal minggu lalu mereka berkencan dengan subway.

.

.

:: Jaseng Hospital of Oriental Medicine – Apgujeong, Seoul

체형교정치료

Bau yang khas berupa obat-obatan segera menyergap indera penciuman mereka begitu melangkah masuk ke lobby utama rumah sakit ini. Mereka segera mendekati meja resepsionis dan saat itu juga disambut oleh satu penjaga yang mengenakan pakaian layaknya suster yang berkeliaran di sini. Begitu Soo Rin menyebut nama ayahnya, yang dikenal dengan Dokter Park Jung Soo, serta menjelaskan identitas dirinya juga maksud kedatangannya, suster tersebut langsung mengantar mereka menuju ruang kerja Dokter Park. Yang ternyata orang yang dicari tengah duduk meneliti suatu berkas di genggaman.

Appa!”

Mendengar suara yang sangat familiar di telinga, Park Jung Soo mendengak dan tertegun mendapati putrinya sudah berada di dalam ruangan. Namun hanya sesaat karena wajah tegasnya—yang meski sudah termakan usia tapi masih mampu mengumbar ketampanannya—itu segera berubah cerah dan beliau segera bangkit dari kursi kebesarannya.

Aigo, tumben sekali anak Appa datang menjenguk, hm?” sambutnya seraya memeluk anak gadisnya serta meninggalkan kecupan hangat di kening berponi itu. Kemudian mata teduh di balik kacamatanya melirik pada sosok yang masih berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar, membungkuk sopan untuknya. “Ditemani kekasih?” lanjutnya, sedikit menggoda.

Soo Rin tersenyum salah tingkah menghadapi godaan halus dari sang ayah. Langsung saja dirinya menyodorkan bekal yang sedari tadi digenggam, untuk ayahnya. “Aku mengantarkan ini untuk Appa. Eomma mengatakan bahwa Appa tidak sempat sarapan tadi.”

“Aah, benar. Appa mendapatkan tugas operasi mendadak pagi sekali, tadi.” Jung Soo menerima bekal tersebut, lalu tersenyum sekaligus mengusap lembut puncak kepala Soo Rin. “Gomawo! Sampaikan salam terima kasih Appa untuk Eomma juga.”

Ne!”

Jung Soo kemudian mengalihkan pandangannya pada ambang pintu yang sudah lengang. Sepertinya lelaki itu memilih untuk menjaga privasinya bersama Soo Rin setelah menyapanya sejenak. Seulas senyum simpul terpatri di bibirnya.

.

.

Ki Bum duduk menunggu di salah satu bangku yang tersedia di koridor dekat lobby. Ia memilih tempat yang cukup jauh dari ruangan Park Jung Soo. Namun tak disangka bahwa pria paruh baya itu akan duduk di sebelahnya setelah sebelumnya memberi sekaleng kopi untuknya.

“Kuharap kau tidak membenci kopi,” ujar Jung Soo jenaka, dan masih ditangkap oleh Ki Bum sehingga lelaki itu tersenyum lepas.

Gamsahamnida,” ucapnya. Kemudian matanya melirik ke dalam koridor. Kenapa Tuan Park datang seorang diri? Pikirnya.

“Aku menyuruh Soo Rin untuk membeli sedikit makanan ringan di kantin. Aku rasa tidak ada salahnya untuk kalian tinggal sebentar di sini menemaniku.” Jung Soo seolah mampu membaca pikiran Ki Bum. Beliau tersenyum membalas anggukan paham dari Ki Bum.

Ki Bum membuka penutup kaleng kopi di genggamannya setelah Jung Soo melakukan lebih dulu. Keadaan lingkungan yang cukup dingin, apalagi mereka tengah berada di dalam ruangan ber-AC seperti ini, sekaleng kopi hangat adalah pilihan yang terbaik untuk menghangatkan tubuh. Mereka terdiam beberapa saat, menikmati minuman pahit bercampur manis itu membasahi tenggorokan sekaligus menghangatkan.

“Aku sangat senang anakku bertemu denganmu,” Jung Soo kembali membuka percakapan. “Keberadaanmu memberikan nilai positif untuknya. Dulu, dia hanyalah gadis yang kaku dan pendiam mengingat dirinya seorang anak tunggal. Dia juga seorang pribadi yang sulit untuk melakukan sebuah pertemanan dengan orang lain. Sampai-sampai aku tidak pernah melihat dirinya membawa seorang teman ke rumahnya,” Jung Soo terkekeh sejenak. “Aku hanya melihat dirinya yang terbuka di kala Henry datang menemuinya. Sifat aslinya hanya akan terlihat di kala anak itu berada di dekatnya. Aktif berbicara, berekspresi, juga penuh perhatian.”

Ki Bum tersenyum kala menyimak, ingatannya berputar saat dirinya pertama kali melihat dua bersaudara itu bertemu dan berkomunikasi. Soo Rin memang banyak berekspresi tiap berbicara dengan saudara sepupunya yang sangat aktif itu. Mungkin itu juga pengaruh dari Henry yang banyak mengumbar senyum dan selalu terlihat easy going sehingga Soo Rin merasa sangat nyaman bersamanya.

“Aku sempat khawatir bahwa dia hanya akan seperti itu dan tidak ingin terbuka dengan teman yang lain. Tapi, kekhawatiranku mulai sirna di saat aku mengetahui bahwa dirinya melakukan sebuah hubungan denganmu,” Jung Soo memandang Ki Bum dengan sepasang mata teduhnya, senyum hangatnya mengembang. “Aku cukup terkejut ketika teman-temannya datang ke rumah demi menjemputnya untuk berlibur bersama di musim panas tahun lalu, bersamamu juga. Kau tahu? Itu merupakan suatu perubahan yang sangat jelas bagiku untuknya. Dia juga menjadi lebih banyak berbicara ketika di rumah, banyak tersenyum lepas, tertawa dan… sedikit demi sedikit menunjukkan sisi perhatiannya yang begitu hangat. Aku juga semakin senang ketika mengetahui kalian lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan belajar. Seperti yang kalian lakukan setiap minggu belakangan ini.” Jung Soo terkekeh halus setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya. Dengan lihai sebelah tangan besarnya merangkul Ki Bum bersahabat. “Tapi, jangan sungkan jika kalian ingin berkencan, eo? Aku tidak melarang sama sekali.”

Ki Bum ikut terkekeh mendengar candaan itu. “Ne,” ia mengangguk patuh yang membuat Jung Soo beralih tertawa.

Tak lama, rangkulan Jung Soo berubah, beralih menjadi menepuk sebelah pundak Ki Bum dengan pelannya. Bersamaan dengan senyum lebarnya karena tawa itu berubah menjadi seulas senyum hangat. “Aku percaya bahwa perubahan itu merupakan sebuah pengaruh dari keberadaanmu, Kim Ki Bum.”

Kini Ki Bum memberanikan diri menatap manik kecoklatan itu. Manik yang menurun ke anak gadisnya dan menjadi pemandangan favorit Ki Bum tiap menatap anak gadis itu.

“Aku memang tidak tahu pasti apa saja yang sudah kau lakukan, tapi… aku sangat berterima kasih padamu. Dan, aku berharap kau adalah orang yang akan selalu menjaga putriku selama lepas dari bimbinganku dan ibunya.”

Tanpa Jung Soo sadari, benak Ki Bum terhenyak mendengar tutur kalimat itu. Memberikan efek tak terduga di sekujur tubuhnya, juga memicu jantungnya mulai berpacu di atas normal. Kalimat yang mengandung suatu isyarat itu… sangat sukses membuat Ki Bum merasakan bermacam gejolak yang mulai menggerayangi. Kalimat yang lambat laun Ki Bum mengerti maksudnya, dan itu menyadarkan akan apa yang telah terjadi padanya hari ini.

Dia sudah membuka satu pintu milik pihak gadis itu, sedangkan dirinya tidak yakin dengan pintu milik pihaknya sendiri mengenai hal ini.

****

“Apa yang kau bicarakan bersama Appa selama aku pergi tadi?”

Ki Bum menoleh, menatap Soo Rin yang berjalan tepat di sampingnya, sebelum kemudian kembali menatap ke depan. “Tidak ada.”

Soo Rin memicing. “Jinjja?”

“Tidak ada yang perlu kau ketahui,” lanjut Ki Bum menjelaskan. Membuat Soo Rin mengurucutkan bibir.

“Ya, ya, sepertinya sebuah pembicaraan khusus pria,” cibirnya yang membuat Ki Bum terkekeh geli.

Mereka keluar dari gedung rumah sakit setelah menghabiskan waktu bersama ayah Soo Rin selama satu jam lamanya. Kini mereka berlanjut menuju mobil Ki Bum yang terparkir sedikit jauh dari gedung mengingat posisi rumah sakit yang berada tepat di pinggir jalan.

“Aku bosan.”

Soo Rin menoleh. “Eo?”

Dan Ki Bum ikut menoleh. “Bagaimana jika kita jalan-jalan terlebih dahulu?”

Han Gang (Sungai Han)?” celetuk Soo Rin antusias. “Tempatnya tidak jauh dari sini, bukan? Aku sudah lama tidak ke sana.”

Ki Bum mengangguk membenarkan. Memang jarak yang ditempuh untuk pergi ke sana bisa dikatakan sangat dekat jika dari Apgujeong. Hanya memakan waktu sekitar 40 menit. Lelaki itu kemudian mengangguk setuju.

Joha!”

Entah kenapa Ki Bum merasa bersyukur melihat reaksi dari gadis itu, yang dengan semangat meraih tangannya untuk ditarik supaya mempercepat langkah mereka seraya berseru, “Kaja!”

.

.

:: Ichon Han Gang Park – 62, Ichon-ro 72-gil, Yongsan-gu, Seoul

Ichon-hangang-park-

Sungai Han yang membelah kota Seoul merupakan sungai yang terbentang sepanjang sekitar 514 km. Sungai tersebut membentang mengaliri beberapa wilayah, hingga tak heran jika di sepanjang bantaran ditemukan berbagai taman sekaligus fasilitas yang dibangun oleh pemerintah; seperti fasilitas olahraga, kolam renang outdoor, hingga tempat camping pun dapat ditemui. Ditemukan juga berbagai jembatan penghubung antara wilayah di bagian Utara dan Selatan kota Seoul.

Salah satunya wilayah Ichon. Di Ichon terdapat taman yang menyediakan fasilitas berupa Teen Square, X-Game Center untuk bermain skateboard dan sepatu roda. Juga disediakan tempat penyewaan sepeda sehingga pengunjung dapat menikmati sepanjang bantaran sungai di sana dengan bersepeda.

Soo Rin dan Ki Bum memilih untuk berdiri di bantaran yang telah dibatasi oleh pagar. Menikmati atmosfir yang terkuar dari segarnya suasana sungai yang begitu tenang di musim gugur ini. Meski harus menyeberang mengingat lokasi ini berada di kota Seoul bagian utara, tidak dapat mengurangi antusias mereka karena tempat inilah yang dipilih. Dan mereka tidak ada maksud untuk menikmati berbagai fasilitas yang ada, hanya berdiri menikmati keindahan alam yang terbentang di hadapan.

“Senang?” Ki Bum membuka percakapan. Mata tajamnya yang meneduh kini beralih menatap wajah cantik Soo Rin dari samping. Dapat ia lihat gadis itu mengangguk sekaligus tersenyum lebar sebelum ikut menoleh, membalas tatapannya.

“Terima kasih sudah membawaku kemari!” ucap Soo Rin dengan tulus. Membuat seulas senyum manis tercetak di bibir penuh lelaki itu.

“Aku ikut senang jika kau senang.” Ki Bum kembali menghadap ke depan, memandangi luasnya sungai, menerawang jauh, mencoba memperjelas pemandangan kota yang berada di seberang sana. Kota tempat mereka tinggal.

Hening segera menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Soo Rin sendiri sudah larut dalam pikirannya sendiri. Sepasang matanya yang memandang jauh ke depan, mulai kosong, seiring dengan semakin banyaknya pikiran yang memenuhi kepala. Lagi-lagi ingatan itu berputar. Sebuah pertemuan singkat yang mampu mengguncang benaknya secara diam-diam, yang membuatnya tanpa sadar mengepalkan kedua tangan berusaha untuk tidak terjatuh. Benaknya mulai bergemuruh tak karuan, hingga sedikit demi sedikit mempengaruhi emosinya yang sempat terasa tenang.

“Kim Ki Bum…”

Hm?” Ki Bum sontak menoleh menatap gadis itu. Samar-samar dirinya tertegun melihat raut wajah gadis itu… sedikit mengalami perubahan. Bahkan dia harus menunggu karena gadis itu tidak langsung bicara.

Uri… hamkke deo shiganeul bonael haja (Ayo kita habiskan waktu bersama lebih banyak lagi)!”

Hening kembali menyergap mereka. Satu kalimat sederhana yang keluar dari mulut gadis itu, mampu membuat Ki Bum tak mampu untuk membalas dengan segera. Lelaki itu benar-benar tertegun sekarang.

“Aku merasa bahwa… kita belum memanfaatkan waktu bersama dengan baik. Meski setiap hari kita bertemu—baik itu di sekolah maupun di luar sekolah—kita hanya bertemu sebagaimana aku bertemu dengan Ah Reum, Tae Yong, dan Tae Min. Sekalipun kita bertemu lebih lama seperti di Hari Minggu, kita justru lebih memilih menggunakannya untuk belajar bersama.” Soo Rin mengukir senyum tipis di bibir kecilnya. Sedangkan kedua matanya yang sempat berbinar itu kini meredup. Dan ia memilih untuk menunduk.

Ki Bum sendiri merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dia sendiri juga tengah memikirkan apa yang sudah ia lewati pagi ini, ditambah dengan sikap gadisnya saat ini, membuat benak dan pikirannya serasa tak menentu. Ada sesuatu yang mengganjal dan dia tidak mengerti apa itu.

“Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?”

Diam-diam Soo Rin menggigit bibir bawahnya—sejenak, mencoba meredakan sesuatu yang ingin menyeruak. Dia mulai merasa takut. Takut bahwa lelaki di sampingnya akan mengetahui apa yang tengah ia pikirkan, tapi juga takut bahwa dia… tidak bisa seperti sekarang ini. Soo Rin menarik napas panjang, dan ia merasakan bahwa udara yang dihirup terasa begitu berat tanpa sebab. Menegakkan kepala, Soo Rin memberanikan diri untuk membalas tatapan Ki Bum yang tak pernah beralih sejak dirinya berbicara.

“Hanya… kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Kau tahu? Bahkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi sepuluh detik kemudian setelah ini…”

“Aku masih sama di sepuluh detik sebelumnya, Soo Rin-ah,” ujar Ki Bum setelah jeda selama sepuluh detik. “Begitu juga dirimu,” lanjutnya.

“Itu karena kita sudah melewati sepuluh detik itu. Apa kau bisa memprediksi apa yang akan terjadi sepuluh detik setelah ini?” Soo Rin tidak mendapatkan jawaban dengan segera, membuatnya tersenyum samar. “Tidak, bukan?”

“Kenapa tiba-tiba kau membicarakan waktu?” Ki Bum mengajukan pertanyaan lagi. “Apa menurutmu akan terjadi sesuatu pada waktu kita?”

Soo Rin kembali menarik napas dalam. Entah kenapa pertanyaan Ki Bum—ditambah dengan penekanan di dua kata terakhir itu—menjadi sesuatu yang begitu menghantam dirinya saat ini. Soo Rin mencoba untuk menyungging lebih lebar senyumnya, berusaha untuk mencerahkan ekspresinya. Ia menjawab, “Aniya!”

Namun justru perubahan cepat gadisnya membuat Ki Bum merasakan hal itu lebih kuat lagi. Apakah gadisnya ini… tahu?

Ya! Apa kau tidak kedinginan? Oh, astaga, aku baru menyadari bahwa kau benar-benar tidak mengenakan baju hangat.” Soo Rin mencoba mengganti topik. Tanpa berpikir panjang  ia menghadap langsung pada lelaki itu dan meraih kedua tangan kekar itu. Menangkupnya, Soo Rin mengerami kedua tangan Ki Bum dengan sesekali menggosoknya. Yang entah disadari atau tidak, perbuatannya itu justru membuat suasana semakin tak mendukung.

Dan, Ki Bum harus tercekat kala melihat wajah tertunduk itu, mulai dialiri buliran bening yang sangat ia tahu apa itu. Ditambah dia baru menyadari bahwa bibir itu tampak mengerut, yang dia tahu bahwa gadis itu tengah menggigit bibirnya—mungkin dengan kuat.

Neo… ureo (Kau menangis)?”

Sontak Soo Rin mengusap wajahnya dengan panik. Seolah apa yang dilakukannya belum cukup, Soo Rin mencoba untuk tertawa meski jatuhnya terkesan hambar. “Anii! Mataku hanya kemasukan debu.”

Namun Ki Bum sama sekali tidak percaya dengan jawaban itu. Dia hendak menyentuh wajah cantik itu kala kedua tangannya kembali dikurung oleh tangan ramping sang empu. Mencoba untuk menghangatkannya lagi. Dan, mereka harus terdiam lagi—sepuluh detik lamanya. Sebelum Soo Rin kembali membuka mulut.

“Kim Ki Bum…”

Hm?” Ki Bum menatap sendu gadis yang belum menatapnya sejak berhadapan seperti ini. Entahlah, apakah dia mulai merasa takut? Tapi apa yang dia takuti?

Dan, lagi-lagi hening menyelimuti mereka… sepuluh detik lamanya.

Joha hae.”

Ki Bum bereaksi, mengerjap terperangah beserta mulutnya sedikit terbuka setelah mendengar ungkapan itu. Dan kembali tercekat begitu wajah cantik itu mendengak, menatap dirinya, Ki Bum melihat kedua mata yang biasanya tampak jernih itu kini berkaca-kaca dan memerah. Ki Bum sangat yakin itu bukanlah karena kemasukan debu.

Soo Rin sendiri harus susah payah menelan salivanya, dan itu membuat tenggorokannya semakin terasa sakit karena juga menahan diri untuk tidak pecah. Bibirnya tampak bergetar kala terbuka hingga harus kembali menggigit sejenak sebelum kembali terbuka, dan ia merasa seperti tengah berada di ruangan kedap udara—sulit untuk bernapas.

Saranghae…

Manhi joha hae…” hanya itu yang mampu ia ucapkan secara nyata. Meski wajah tegas itu kini memamerkan senyum teduh untuknya, tidak dapat menutupi penyesalannya untuk mengucapkan yang sebenarnya. Perasaan yang lebih dari kata yang baru saja keluar dari mulutnya.

Ara… nado,” Ki Bum membalas. Meski dia merasa takjub dengan pengakuan sederhana itu, namun di sisi lain, dia merasakan hal itu semakin nyata dan begitu menekannya, hingga menjalar pada pikirannya menjadi kalut. Dan itu membuatnya tak mampu membalas lebih.

Nado saranghae…

I don’t have anything I can give you, but I’m missing you. I can’t even give you loving words, but I’m missing you…

Soo Rin segera melepas tangkupannya dari kedua tangan Ki Bum, yang secara tak langsung menurunkannya dari hadapan mereka. Dan, dengan cepat Soo Rin beralih memeluk lelaki di hadapannya itu. Mengalung dengan erat di leher lelaki itu yang membuatnya harus sedikit menjinjit demi menjangkaunya, sekaligus menjatuhkan wajahnya di bahu lebar tersebut, menyembunyikan sebagiannya di sana.

Ki Bum sendiri harus terperangah dengan tingkah mendadak gadisnya. Namun tak berlangsung lama saat merasakan tubuh ramping itu bergetar namun begitu kaku, membuatnya merasakan benaknya yang bergemuruh semakin hebat kala menyadari bahasa tubuh ini. Dan Ki Bum segera membalas pelukan yang cukup erat itu, menarik punggung dan pinggang ramping gadisnya untuk tenggelam ke dalam rengkuhannya, lalu menjatuhkan dagunya ke bahu kecil itu.

Memejamkan mata. Menikmati kehangatan yang saling menyelubungi. Merasakan detakan jantung yang berderu cepat seirama.

Sepuluh detik… mereka saling merasakan satu sama lain.

Sepuluh detik berikutnya… salah satu dari mereka terisak dalam diam.

Membuat pelukan itu semakin tak terelakkan.

Membuat rasa takut itu semakin nyata.

Dan, sepuluh detik kemudian… pelukan mereka membuat masalah itu semakin dekat.

I know that my heart is wherever you are. Close enough our breaths can touch, always in that same place. I’m worried I might just have my tears to hold, so I’m missing you. I can’t tell you to stay with me, but I’m missing you. So it’s too much…
(Kim Sung Gyu – Only Tears)

hug

To Be Continued


huweeeeeeeeehh, entah kenapa aku malah mau nangis nulis bagian akhir itu ㅠ^ㅠ //lebaybanget-__,-//

Dan, ugh….rasanya ini cerita makin ngawur aja ya hwhwhw maaf ㅠ/\ㅠ tapi tapi tapi, kalo ga ada halangan, di part selanjutnya konflik bakal keliatan kok~

Aku mohon maaf banget karna sering ngaret ugh…aku emang payah banget kalo bikin cerita berchapter, gabisa tepat waktu.. tolong maafkan otak kananku yang mau berimajinasi seenaknya dan ga teratur ini ㅠㅠㅠㅠ

Okeh! Salam dari Dokter Leeteuk mueheheheh

Teuki
Teuk Teuk Teuk XD

btw, bapaknya Soorin masih muda yaa~ hahahah anggap saja beliau sudah umur 40+ toh mukanya gabakal berubah #sotoy ;w;

Yosh! Sampai bertemu di part selanjutnyaa~ terima kasih sudah mampir ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

20 thoughts on “With You – Part 4

  1. Aku bener2 nyesek baca part ini. Eeeh gak hanya nyesek tp berlinang air mata. Rasanya jd soo rin thu sakit bgt. Dia baru ngrasain ada orang yg bisa ngerti dirinya selain ortunya tp harus ngerelain untuk pergi gara2 sikap otoriter ortunya kibum. 😥 :'(:'(

  2. Ahh ~
    Kenapa itu TBC pake muncul segala sih thor –”
    Gak sabar pen liat kelanjutannya ^^
    Semangat nulisnya ya thor ^^
    Baru sempet baca lagi 🙂

  3. ternyata with you udh ada bbrp part yg di posting. ketinggalan..

    part ini nyesek ihh.. mataku ampe berkaca-kaca nih..

  4. hai siska.. aku dateng lagi buat menuhin janji.. ini komen pertama aku d ff ini.. aku komen nya dr part ini aja y ka soalnya kalo d ulang dr awal mah jauh bangedh sementara ceritanya udah nyampe sini #bilang aja males pake ngeles lagi# hahaha pissss
    yg aku suka dr ff kamu itu gaya bahasa dan kata2 yg kamu gunakan itu bagus ka dan enak d baca.. jadi reader hanyut dlm cerita dan apa yg d sampaikan penulis it tersampaikan kpd kami sbg reader..#apalah#
    kalo ttg isi cerita nya. kaianya sae hee-henry makin mesra aja nih wlwpun LDR.. moga aja cinta mereka ga lekang oleh waktu ya.. haha
    sepertinya konflik mulai muncul nih.. kasian kisoo nya. pasti gadis yg d maksud oleh ayah kibum it soorin ya.. apa yd rencanain oleh ayah kibum nih.. kalo penasaran lanjut aja ke part berikutnya.. hahahaha see u again siska

    1. alohaa~^^ waah terima kasih banyak atas komentarnya.. duh, kadang aku bingung kalo mau bales komentar yg panjang begini…udah keburu seneng sampe bikin speechless/?
      makasih banyak yaa ><

  5. Hueeeee aku pengen nangis pas baca di akhir part ini….
    Sebenarnya yg dikatakan Sindong oppa apa yah sama Soo rin?????
    aku prnasaran, lanjut ke part selanjutnya aja thor….

  6. So Sad hks hks~ sampe nangis bacanya T.T , apa rintangan yang akan mereka hadapi berat ya ,masih bingung Ji Young ngerestui KiSoo gak sih misterius banget setiap nongol terus Shindong ngasih apa sama Soo Rin , ayo dong Soo Rin – Ki Bum berjuang buat ngelawan Ji Young Appa jangan ngalah Go Go Go semangat ^^ , keren deh Eon ceritanya dari Seneng langsung nyesek T.T

  7. Keluarga Park sepertinya sangat harmonis dan manis, berbeda dengan keluarga Kim yang terlihat kaku. Sepertinya masalah yang akan dihadapi soorim dan kibum jadi semakin rumit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s