Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, G, Vignette

Gentle Man

gmcover

Genre :: Fluff

Rated :: G

Length :: Vignette

||Kim Ki Bum||

Tolong jangan bashing saya, bashing aja otak kanan saya yang entah dapet ide ini dari mana. Mungkin ini efek dari PMS (?)
bahahahah

Happy Reading!

.

.

ㅡㅡ

KI Bum memasuki sebuah minimarket setelah memarkir mobilnya di pelataran. Begitu masuk, ia segera mengambil trolley mini yang tersedia di sana sebelum mulai melangkah masuk lebih dalam lagi. Dan, destinasi pertama yang ia tuju adalah bagian kebutuhan wanita…

Perlu diketahui begitu sosok tegapnya memasuki area tersebut, beberapa wanita yang tengah berdiri di sana tampak memandang heran menjurus aneh dirinya. Apalagi Ki Bum segera menempatkan diri di depan rak yang berisi… kau-tahu-apa-itu.

Sebenarnya Ki Bum sendiri merasa canggung karena tatapan-tatapan itu mulai menghujaninya dengan sangat jelas. Tapi, dia berusaha untuk tetap tenang dan berpikir positif. Memilih untuk memutar kembali ingatannya pada kejadian sebelumnya di mana gadis itu memelas karena kecerobohannya sendiri. Ki Bum tidak mengerti mengapa gadis itu tidak tahu jadwal kedatangan tamunya itu. Alasannya, gadis itu memiliki jadwal yang tidak teratur sehingga dia sendiri kesulitan untuk mempersiapkan diri.

Sebenarnya juga, gadis itu tidaklah menyuruh Ki Bum untuk membelinya. Dia hanya meminta tolong Ki Bum untuk menemaninya pergi ke minimarket. Namun, melihat wajah cantik itu tampak pucat menahan rasa sakit yang biasa melandanya tiap di hari pertama kedatangan, juga tubuhnya yang harus terbaring, Ki Bum tidak tega jika harus melihat gadis itu berjalan terseok ke minimarket. Ia pun mengajukan diri untuk pergi ke tempat ini.

Dan sekarang, di sinilah Ki Bum, di depan tumpukan barang milik wanita.

Ki Bum mencoba untuk tidak peduli dengan sekitarnya dan memilih untuk mengambil ponsel pintarnya dari dalam saku celana. Dia lupa menanyakan sesuatu pada gadis itu dan kini dia berniat untuk menghubunginya. Semoga saja panggilannya dijawab.

Yeoboseyo…

Heol, bahkan Ki Bum mendengar suara merdu itu terdengar tidak bersemangat. Membuatnya harus sedikit menyesal karena sudah mengganggu waktu istirahat gadis itu.

Merk apa yang sering kau pakai?”

Ne? A-aah, itu… aku sering memakai produk Yejimiin… aku biasa memakai yang berwarna kuning.”

Ki Bum segera menemukan barang yang dimaksud. Tanpa ragu pria itu mengambil 1 box dan membaca keterangan produk itu sebelum kemudian mengambil 5 box yang masing-masing bertuliskan isi 5 pad itu, lalu ia masukkan ke dalam trolley mininya. Karena dari yang dia baca, setiapnya harus dipakai selama tidak lebih dari 6 jam. Sekali lagi, tingkahnya itu semakin menarik perhatian pengunjung wanita di sekitarnya. Tapi toh, Ki Bum tidak peduli dan ia segera pergi dari sana, menuju ke destinasi berikutnya.

“Kim Ki Bum, kau… hanya membeli itu?”

Ani. Kurasa kau juga membutuhkan hal lain.”

“Maksudmu?”

“Kudengar teh beraroma mint sangat bagus untuk meredakan rasa nyeri, juga mampu menenangkanmu.” Ki Bum sudah berada di kumpulan produk teh ketika menjelaskan itu. Mata tajamnya menelisik jenis-jenis produk yang tersuguh di hadapan.

“Aku rasa minuman coklat sudah cukup. Kim Ki Bum, bisakah kau belikan satu paket minuman coklat? Stok di rumah hampir—

“Tidak ada coklat untuk beberapa hari ke depan.”

“Apa? Ke-kenapa??”

“Coklat mengandung kafein, Soo Rin-ah.  Dan kafein tidaklah bagus untukmu yang sedang datang bulan.”

“Tapi—tapi coklat panas yang biasa kuminum itu manis. Bukankah kafein hanya ada pada minuman pahit seperti kopi?”

“Biji kakao mengandung kafein, perlu kau tahu itu. Ditambah hot chocolate itu manis. Kau tidak boleh terlalu banyak mengonsumsi makanan maupun minuman manis karena itu dapat meningkatkan kadar gula dalam darahmu secara drastis dan itu bisa membuatmu mudah lesu, ara?”

Entah Ki Bum menyadarinya atau tidak, penjelasannya itu telah berhasil membuat salah satu pengunjung wanita yang ada didekatnya itu termenung menatap minuman kaleng rasa coklat di tangannya, sebelum kemudian meletakkannya lagi ke tempat semula.

Ugh, araa… bagaimana dengan Seupeuraiteu?”

Ki Bum harus mendengus kasar mendengar gadis itu menyebut nama minuman itu. Maklumi saja karena gadis itu tidaklah bagus dalam berbahasa Inggris sehingga pengucapannya benar-benar mengikuti hangul yang biasa ditulis di produk tersebut. Tapi bukan itu yang Ki Bum kesali.

“Apa kau tidak pernah membaca informasi bahwa gadis yang sedang datang bulan itu dilarang untuk mengonsumsi minuman soda seperti Sprite,” terselip nada gemas di setiap kata yang terlontar dari mulut Ki Bum. Pria itu segera mengambil 2 box produk teh mint setelah melihat komposisi yang tertera di belakangnya.

Dan penjelasan Ki Bum yang satu itu kembali mempengaruhi wanita yang berada di dekatnya itu hingga dia kembali meletakkan minuman soda berkaleng yang baru saja ia ambil. Apakah wanita itu juga sedang datang bulan?

Ki Bum semakin menjadi kala mendengar balasan dari seberang sana…

“Ehehehe… jadi soju juga tidak boleh?”

“Aku sudah mencoret minuman itu dari daftar menumu, kau lupa?” Ki Bum hampir mendelik selama menjelaskan. Gadis itu sangatlah tidak cocok meminum minuman yang memabukkan seperti soju. Yah, bisa dikatakan alergi. Dan jika si pemilik suara merdu itu berada di dekatnya, sudah dipastikan Ki Bum akan mencubit gemas kedua pipi yang merona alami itu karena berani membuat Ki Bum seperti sekarang ini.

“Aku juga tidak boleh makan mie cup?”

“Tidak.”

Topokki?”

“Tidak.”

Ramyeon?”

“Tidak ada makanan instan, Soo Rin-ah. Kandungan sodium di dalamnya bisa mempengaruhi tubuhmu yang sedang seperti sekarang dan itu bisa berdampak pada masa datang bulanmu, mengerti?” Ki Bum menghela napas seraya melangkah menuju rak bagian camilan. Heol, bagaimana bisa Kim Ki Bum lebih tahu masalah ini-itu seputar kewanitaan dibanding gadis itu sendiri? Apa karena profesinya yang merupakan seorang Dokter?

Kemudian, Ki Bum mendengar gadis itu mengeluh sekaligus memelas.

“Lalu aku boleh makan apa? Aku tidak boleh memakan makanan manis… aku juga tidak boleh memakan makanan kesukaanku. Aku juga tidak boleh makan Pepero?”

Mata Ki Bum langsung tertuju pada kumpulan kotak bergambar stik berlapis coklat maupun lapisan manis lainnya, kala gadis itu menyebut kata Pepero. Mungkin satu jenis camilan kesukaan gadis itu bisa diloloskan olehnya kali ini. Dia sendiri juga tidak tega mendengar gadisnya itu mengeluh karena larangannya.

Ki Bum akhirnya menghela napas singkat sebelum membalas, “Baiklah. Aku rasa Pepero tidak buruk.”

“Benarkah?!”

Eum.”

“Kalau begitu, bisakah kau membelikan satu kotak Pepero? Hanya satu. Boleh, ‘kan?”

Ki Bum mengulas senyum, oh, perlu diketahui bahwa itu terulas secara otomatis. Mungkin karena mendengar suara merdu kesukaannya itu berubah antusias meski tersirat kehati-hatian. Hingga kemudian sebelah tangannya bergerak mengambil kotak Pepero di depannya itu. Dan perlu diketahui bahwa Ki Bum tidak mengambil satu, melainkan tiga, seraya menjawab permintaan gadisnya itu, “Dikabulkan.”

Ia hendak melangkah menuju kasir kala mengingat sesuatu, “Kau membutuhkan sesuatu yang lainnya?”

Aniyo. Aku ‘kan hanya butuh—err… pembalut itu,” terdengar suara itu melirih kala mengucapkan kata terakhirnya. Mungkin karena merasa tidak enak mengucapkannya untuk Ki Bum. Ugh, memangnya nyaman membicarakan hal pribadi seorang wanita pada lawan jenis?

Ki Bum hanya tersenyum geli mendengar suara mencicit di seberang sana. Ia pun segera mengeluarkan barang-barang yang sudah diambilnya ke atas meja kasir. Dan Ki Bum harus memicing samar kala melihat petugas kasir itu tampak merubah ekspresi. Mungkin karena melihat 5 box berwarna kuning itu… akan dibeli olehnya. Dan Ki Bum segera menurunkan pandangan kala petugasyang merupakan seorang wanitaitu mulai meliriknya.

“Kim Ki Bum…”

Hm?” entah kenapa Ki Bum merasa beruntung karena ia belum memutus sambungan teleponnya. Setidaknya dia bisa mengalihkan kegiatan menunggunya itu dengan berbicara dengan gadisnya.

“Apa kau merasa baik-baik saja? Eung… maksudku, kau membeli… itu…”

Ki Bum mengerti arah pembicaraan itu. “Memangnya kenapa? Apakah membeli keperluanmu itu salah?”

Ugh… hanya saja, aku khawatir kau akan dipandang tidak baik…”

“Karena aku membeli barang khusus wanita?” Ki Bum mengangkat sebelah alisnya. “Apa aku tidak boleh melakukan hal ini dan membiarkan gadisku datang terseok kemari hanya untuk membeli itu?”

Entah Ki Bum menyadarinya atau tidak, petugas kasir itu tampak merona malu mendengar kata-kata sederhana yang keluar dari mulutnya barusan. Apakah itu karena dirinya baru saja berpikiran yang tidak-tidak mengenai Ki Bum? Sepertinya begitu.

Y-yaa, bicaralah pelan-pelan, Kim Ki Bum!”

Ki Bum dapat menangkap nada malu yang tersirat di kalimat itu, membuatnya secara otomatis melirik petugas yang ada di hadapannya itu. Sejenak pria itu membatin, apakah petugas itu sedang demam? Kenapa wajahnya menjadi padam dibandingkan sebelumnya? Tapi Ki Bum kemudian tersadar arti dari ekspresi itu, dan itu membuat sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum miring yang… jika petugas itu melihatnya, habislah sudah keselamatan jantungnya itu.

“Aku harus memutus teleponnya, beristirahatlah dan tunggu aku sebentar lagi.”

E-eung…”

Kkeutneo.” Ki Bum segera menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mengucap kata tersebut, lalu memutus sambungan teleponnya sebelum menyimpannya kembali ke dalam saku. Di saat itu juga, sang petugas kasir mendengak menatapnya.

“Semuanya 16.700 Won.”

Ki Bum mengambil dompet dari sakunya yang lain, mengambil kartu debit dari dalam sana lalu memberikannya pada petugas itu.

Begitu petugas itu menyelesaikan transaksi dari kartu debit itu lalu mengembalikannya pada Ki Bum, ia berucap, “Anda baik sekali membelikan itu untuk pacar anda.”

Dan Ki Bum mengulas senyum seraya menyimpan kembali kartu debitnya ke dalam dompet sebelum disimpan kembali ke dalam saku. “Yeojachingu ani-eyo.”

Ye?”

Ki Bum menatap petugas itu seraya mengambil kantung plastik yang berisi belanjaannya tersebut. “Je anae-yo,” dan Ki Bum membungkuk sejenak sebelum mengucapkan terima kasih lalu keluar dari minimarket.

Sedangkan petugas kasir itu harus mengantar kepergian pria itu dengan mimik terperangahnya. “Gadis itu beruntung sekali…” gumamnya, terselip nada iri.

 .

.

FIN


HAH? INI APA SIH?!

yaampun, ini gara-gara akunya yang lagi PMS jadi muncul ide aneh dan kudu nunjuk Kim Ki Bum sebagai korbannya HAHAHAH
maafkan daku ㅠㅠ

Sudahlah, mumpung malam minggu, diposting aja lah ya hahahah Happy Malming, Mblo! #eh XD
/gasadardiri._./

Yosh! Terima kasih sudah mau mampir~^o^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

7 thoughts on “Gentle Man

  1. lucuu pas salah satu pengunjung dengar percakapan telepon kibum sm soorin. 😀
    apalagi waktu dikasir kibumm so switt XD

    *suka bgt sm tips pencerahan(?) ala dokter kibum wkwkwkwk 😀 :p

  2. Aku setuju sama petugas kasirnya, aku jg iri sama Soo rin…
    Arghhhhh Kibum oppa jeongmal saranghae…
    Soo rin benar2 beruntung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s