Posted in Category Fiction, Fiction, One Shot, PG-15, Romance

Out of Control

1ZxJ1pl

Genre :: Romance (again-,-)

Rated :: PG-15

Length :: One Shot

||Kim Ki Bum & Park Soo Rin||
and Cameos ^^

기대해도 좋아 let’s go!!

.

.

ㅡㅡ

:: Inha University – 253 Yonghyeon-dong, Nam-gu, Incheon

||medical faculty’s garden||

.

GADIS itu tampak berdiri di sebuah taman dekat gedung Fakultas Kedokteran, di mana para mahasiswa/i dari jurusan itu akan selalu menghabiskan waktu luangnya di sana. Jam kuliahnya hari ini sudah selesai dan kini ia tengah menunggu orang itu—yang berkuliah di fakultas tersebut—yang sebentar lagi akan menyelesaikan jadwal kuliahnya.

Soo Rin—gadis itu memilih untuk duduk di salah satu bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Mata ovalnya tampak mengedar ke setiap penjuru taman, memperhatikan beberapa mahasiswa yang membuat berbagai kelompok seraya duduk nyaman di atas rerumputan yang hijau, entah itu kelompok berdiskusi maupun kelompok bersenda gurau. Ada juga beberapa mahasiswa yang memenuhi bangku taman dan memilih untuk memainkan ponselnya. Kemudian mata Soo Rin berhenti pada sesosok gadis cantik yang duduk di salah satu bangku yang berjarak sekitar 5 meter dari bangku yang ia duduki.

Sebenarnya, banyak sekali gadis cantik yang tersebar di sekitarnya. Hanya saja penampilan gadis itu cukup berbeda dibandingkan gadis-gadis di sekitarnya, atau mungkin bahkan di kampus ini. Gadis itu mengenakan atasan berbahan tipis berwarna putih gading dengan hot pants berwarna oranye pucat, menampilkan kaki putihnya yang tampak begitu mulus juga jenjang, dilengkapi dengan sepatu hak yang berhias tali-temali di bagian pergelangan kakinya. Rambutnya yang sepertinya panjang itu digulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya. Ia duduk dengan sebelah kaki disilangkan ke atas kaki lainnya—dengan tas kecil yang berwarna krem itu berada di pangkuan. Sebelah tangannya tampak memegang ponsel keluaran terbaru. Dan, matanya yang tampak sipit namun begitu menarik itu tengah menatap ke arah gedung Fakultas Kedokteran.

Gadis itu cantik sekali, gumam Soo Rin dalam hati. Rasanya dia belum pernah melihat gadis yang sangat cantik dengan penampilan yang cukup berani untuk level seorang mahasiswi di kampus ini. Hei, perlu diketahui bahwa mayoritas mahasiswi di kampus ini berpenampilan sangat casual dengan celana jeans sebagai bawahan. Meski ingin menampilkan kaki putih mereka, mereka memilih untuk mengenakan dress bermodel megar di bagian pinggang hingga ke bawah. Dan, sepertinya ini adalah kali pertama bagi Soo Rin melihat seorang gadis berpenampilan berbeda.

Meski raut wajahnya yang secara dominan menguarkan aura arogansi, tak dapat dipungkiri bahwa gadis itu sangat-sangat-sangatlah cantik! Soo Rin yang sebagai sesama kaum hawa saja dengan rela mengakui kecantikan yang dimiliki gadis itu, bagaimana dengan para kaum adam yang melihatnya? Oh, bahkan Soo Rin baru menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang terkesima, orang-orang di sekitarnya juga sepertinya mengalami hal yang sama kala melihat gadis cantik itu. Baik yang perempuan maupun lelaki.

Namun perhatian penuh Soo Rin harus tersita kala merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah pesan masuk tertera di layar sentuhnya setelah ia ambil, dari seseorang yang memang sedang ia tunggu.

From: Ki

Just finished my class, I’m on my way to you now.

 

Soo Rin memajukan bibir bawahnya. Entah kenapa sederet kalimat itu sudah berhasil membuat dadanya berdesir. Ish, ini hanya sebuah pesan singkat! Bagaimana bisa efeknya bisa merambat ke sekujur tubuhnya seperti sekarang? Apakah karena si pengirim pesan ini menggunakan Bahasa Inggris? Ugh, kalau begitu kau terlalu berlebihan, Park Soo Rin.

Soo Rin memilih untuk tidak membalasnya dan kembali menyimpan benda persegi tipis itu ke dalam tasnya. Matanya memilih untuk menancap pada gedung fakultas itu hingga tak lama iris kecoklatannya menangkap sosok berbadan tegap berbalut kemeja putih dengan bagian lengan dilipat ¾, dipadu dengan celana berbahan kain berwarna biru laut, juga sepatu kets berwarna cokelat sebagai alas kakinya. Oh, jangan lupakan dengan tas punggungnya yang hanya diselampirkan di sebelah bahu lebarnya itu. Soo Rin segera bangkit dari duduk dan hendak melangkah mendekati pria itu. Yang tanpa ia sadari bahwa orang lain juga berdiri dari duduknya dan segera berlari mendahului.

“Kim Ki Bum?!”

Soo Rin mengurungkan niatnya untuk menghampiri, kala seseorang lebih dulu menghampiri pria itu. Perlu diketahui bahwa bukan dirinya yang berteriak memanggil nama pria itu. Dia bahkan baru ingin meneriakkan nama itu kala suara lain sudah lebih cepat sepersekian detik darinya untuk memanggil. Dan, Soo Rin harus dibuat menganga begitu melihat ternyata gadis cantik—yang baru saja ia lihat duduk tak jauh darinya yang berpenampilan berbeda—itu yang menghampiri Kim Ki Bum. Bahkan tak tanggung-tanggung gadis itu… berhambur memeluk Kim Ki Bum lalu memberikan semacam air kiss atau biasa dikenal dengan cipika-cipiki? Membuat Soo Rin membelalakkan mata.

Heol, siapa gadis itu? Kenapa berani sekali menyentuh Kim Ki Bum di tempat umum seperti ini, bahkan di depannya?! Oh, tunggu, bahkan setelah kejadian singkat—namun mampu membuat Soo Rin berjengit kaget—tadi, dengan sangat jelas Soo Rin melihat bahwa pria itu mengembangkan senyum lebarnya dan tampak berbicara pada gadis cantik itu. Bahkan mata di balik kacamatanya itu tampak berbinar menatap si gadis cantik itu.

Soo Rin tidak begitu jelas melihat raut wajah sang gadis karena hampir sepenuhnya membelakanginya. Sepertinya mereka mulai larut ke dalam sebuah pembicaraan asyik. Bahkan Ki Bum seolah sudah tidak ingat lagi dengan niat awalnya. Niat untuk menemui Soo Rin! Sepertinya pria itu juga tidak menyadari dengan adanya Soo Rin yang berdiri sekitar 10 meter dari mereka berdiri! Apakah kehadiran gadis cantik itu sudah menyita perhatian pria itu sepenuhnya? Ataukah jangan-jangan Ki Bum juga terpesona dengan kecantikan gadis itu?

Astaga… terpesona?!

Tampak bibir Soo Rin mengerut, kedua tangannya terkepal tanpa sadar, mata ovalnya mulai menajam dengan iris kecoklatannya yang tampak mengecil karena emosi yang mulai melanda di benaknya. Ugh, dia tidak suka cara pria itu menatap si gadis cantik seperti itu. Apalagi berbicara dengan begitu lancarnya dengan si gadis cantik itu. Tanpa Soo Rin ketahui apa yang tengah mereka bicarakan mengingat jarak yang masih terpaut jauh.

Dan, Soo Rin harus dibuat menahan napas melihat gadis cantik itu kembali menyentuh Kim Ki Bum. Dengan beraninya, gadis itu menangkup wajah tegas Ki Bum dengan kedua tangannya yang tampak mulus dengan dihiasi berbagai gelang di pergelangan tangan kirinya. Bahkan, tubuh idealnya itu tampak berjinjit seolah ingin melakukan sesuatu… yang segera Soo Rin tangkap apa itu. Langsung saja emosinya meledak dan tanpa berpikir lagi dirinya berlari mendekati mereka.

Bahkan, semakin dirinya mendekat, semakin terdengar bahwa suara gadis itu yang jelas tengah memuja Ki Bum!

You’re good looking! And I think your handsome face has been successfully invited many women, am I right?

Sungguh, meski Soo Rin tidak menangkap secara penuh mengenai apa yang tengah gadis itu bicarakan, tapi Soo Rin tahu betul bahwa good looking merupakan kata lain dari handsome yang berarti tampan! Dan itu membuat emosinya semakin menjadi hingga begitu sampai di dekat mereka, Soo Rin segera meraih lengan pria itu, lalu menariknya untuk menjauhi si gadis cantik itu.

Tentu saja perbuatan nekat Soo Rin itu mengejutkan keduanya. Bahkan harus dibuat tercengang kala Soo Rin menatap tajam si gadis cantik dengan napas tersengal, lalu berteriak—sesuatu yang membuat Ki Bum terkejut bukan main.

&&&

“Kim Ki Bum?!”

Merasa namanya terpanggil, Ki Bum yang tengah mengedarkan pandangannya demi mencari sosok yang belum lama ini ia kirimi pesan singkat kini harus menoleh ke sumber panggilan tersebut. Sebelumnya gadis itu memberi tahu bahwa ia menunggu Ki Bum di taman dekat fakultasnya. Itulah mengapa langkahnya langsung membawanya ke sana. Hanya saja, niatnya itu harus sedikit tertunda kala melihat sesosok gadis—yang cukup familiar baginya—berlari menghampirinya.

Is that really you, Kim Ki Bum?” gadis itu tampak menyipitkan mata demi menajamkan penglihatannya. Lalu tak lama, matanya berbinar kala mendengar balasan dari Ki Bum.

“Tiffany?”

Yeah, it’s me! Oh My God, it’s really you!” Tiffany—gadis cantik itu segera berhambur memeluk Ki Bum karena saking senangnya kembali bertemu. Bahkan tak tanggung-tanggung gadis itu memberikan sebuah air kiss untuk pria di hadapannya ini. Meski itu terlihat seperti dirinya tengah melakukan itu pada sebuah patung, karena Ki Bum tidak membalas segala perlakuannya itu.

Hanya saja, Ki Bum memaklumi kelakuan gadis ini. Karena jelas, gadis ini bukanlah penduduk Negara ini, melainkan penduduk California. Dan perbuatannya itu—sebuah pelukan dan air kiss—merupakan hal yang lumrah di sana. Sudah pasti gadis ini tidak bisa melepas begitu saja tabiat tersebut. Dan sangat diyakini bahwa itu terjadi secara reflek.

What are you doing here?” Ki Bum mencoba untuk membuka percakapan dengan Bahasa Inggrisnya yang fasih. Seulas senyum lebar menghiasi wajah tampannya mengingat dirinya kembali bertemu dengan teman lama.

Vacation! Also I wanna see my boyfriend. You know, he’s an exchange student here,” jawab Tiffany dengan aksen Inggrisnya yang begitu kental, tersenyum sumringah. Mata sipitnya semakin menyipit hingga membentuk semacam eye smile yang menambah kadar kecantikan murninya itu.

Really?” Ki Bum melebarkan mata, sedikit terkejut. “Who is he? Hey, I never knew that you already have a boyfriend.

Gadis itu terkekeh. “Well, we just dating a few months ago,  before he moved here. His name is Nichkhun.

He is? Hey, I know him! We have met some times in the same class.” Ki Bum berdecak sebelum melanjutkan. “You have a very good taste, huh?Even you willing to fly from California just for the sake of meeting that Thailand Boy.

Gadis itu kini tertawa geli. Wajah cantiknya tampak bersemu karena mendengar ucapan Ki Bum yang jelas tengah menggoda statusnya dengan cara halus. Memang benar bahwa dirinya berpacaran dengan pria berdarah Thailand—lebih tepatnya campuran Thailand-China. Perlu diketahui bahwa wajah pria itu sangatlah oriental dan bermata sipit—mungkin karena turunan darah Chinanya itu—dan jika tersenyum akan terbentuk sepasang eye smile seperti dirinya. Hanya saja pria itu lahir dan besar di California. Itulah mengapa mereka bisa bertemu hingga berkencan. Dan, bisa dibayangkan betapa serasinya pasangan ini.

Tak lama kemudian raut wajah Tiffany berubah kala mengingat sesuatu. “What about you? Do you have a girlfriend already? Oh, let me see!” Tiffany kemudian menangkup wajah tegas Ki Bum seraya berjinjit demi melihat lebih dekat wajah pria itu. Entah menyadarinya atau tidak, perbuatannya ini cukup membuat Ki Bum mengerjap kaget. Sungguh, budaya barat tidaklah cocok di Korea Selatan. “You’re good looking! And I think your handsome face has been successfully invited many women, am I right?” Tiffany tetap berceloteh tanpa menyadari raut wajah yang ia sentuh itu sudah berubah. Hingga kemudian pria itu ditarik menjauh oleh sesorang yang datang tiba-tiba di antara mereka.

Tiffany harus terkejut begitu melihat siapa yang telah menarik temannya itu. Seorang gadis manis berpakaian berupa dress sedikit di atas lutut, wajahnya tampak memberengut tak suka dengan mata ovalnya yang menatap tajam dirinya. Terlihat bahwa tangan ramping itu memeluk erat lengan kekar Ki Bum, sebelum kemudian terdengar sebuah seruan yang keluar dari mulut gadis itu…

DON’T TOUCH MY BOY!!”

.

Keadaan menjadi hening seketika setelah seruan itu terdengar. Tiffany yang melongo kaget, Ki Bum yang terperangah, juga Soo Rin yang lambat laun tersadar dari perbuatannya. Sungguh, itu terjadi akibat dorongan emosi yang bergelut di dalam benaknya yang terasa mendidih karena melihat pemandangan tadi. Dan kini, rasa itu memudar berganti dengan rasa tak percaya—tak percaya dengan apa yang baru saja ia lewati.

Apa yang sudah aku lakukan?! batin Soo Rin berteriak kalut. Dia baru menyadari perbuatannya yang gegabah karena melihat raut terkejut gadis cantik di hadapannya. Tapi, bukankah itu hal yang wajar? Melihat prianya disentuh sewenang-wenang oleh gadis lain, bagaimana dirinya tidak cemburu?

Ya, Soo Rin cemburu…

Ugh, astaga, aku cemburu dan aku melakukan hal yang memalukan! tapi batin Soo Rin justru merutuki perbuatannya barusan. Oh, astaga, dia tidak pernah hilang kendali seperti ini!

Dengan kaku Soo Rin melepas cekalannya dari lengan Ki Bum. Dan tanpa permisi Soo Rin berlari meninggalkan mereka begitu saja. Sungguh, saat ini dirinya hanya ingin menyelamatkan diri sebelum rasa malu itu menggerogoti seluruh tubuhnya dan berakhir dirinya tidak bisa berkutik lagi. Dia juga tidak mau memamerkan wajahnya yang sudah merona malu itu di depan gadis cantik itu, apalagi di depan Ki Bum! Ugh, pasti wajahnya terlihat sangat menarik saat ini. Menarik untuk ditertawakan!

Tanpa sadar Soo Rin berlari menuju lapangan parkir, bahkan tanpa ia sadari sebelumnya bahwa ia berlari menuju pada seseorang yang juga tidak menyadari kehadirannya karena sibuk menunduk memandangi buku bacaan tebalnya. Tanpa bisa dicegah, Soo Rin menabrak tubuh orang itu hingga dirinya terjungkal sebelum jatuh berdebam mencium tanah aspal.

“Akh!” Soo Rin merintih ketika sebelah siku kanannya bergesekan dengan kerasnya aspal.

“Astaga! Ya, Park Soo Rin, neo gwaenchanha?” Myung Soo—orang yang ternyata teman kuliah Soo Rin sekaligus yang baru saja ditabrak Soo Rin itu masih berdiri tegap, hanya bukunya yang terlepas dari genggaman dan terjatuh akibat tabrakan tadi—yah, sebenarnya dia cukup terguncang juga. Pria itu tidak segera memungut bukunya dan memilih untuk melihat keadaan gadis itu.

“A-ah, ya… aku tidak apa-apa,” bohongnya. Ia segera berdiri begitu mendapat uluran bantuan dari Myung Soo setelah pria itu akhirnya memungut bukunya.

“Kenapa kau berlari? Apa kau terburu-buru?” tanya Myung Soo seraya membantu gadis itu membersihkan kotoran yang menempel akibat jatuhnya barusan.

“Bagitulah—akh!” Soo Rin memekik kesakitan begitu Myung Soo tak sengaja menepuk sikunya yang terlihat kotor. Membuat pria itu sedikit terkejut dan reflek memeriksa. Ada luka di sana hingga menimbulkan darah. Sepertinya gesekan dengan aspal tadi cukup merobek kulitnya.

“Astaga, kau terluka! Ini harus segera diobati, Park Soo Rin!”

“Sepertinya begi—kyaaa!” Soo Rin terpaksa beralih memekik ketika merasakan tubuhnya tiba-tiba terangkat dan reflek kedua tangannya bergerak memeluk sesuatu—sesuatu yang ternyata merupakan leher seseorang yang baru saja mengangkat tubuhnya. Dan Soo Rin harus terkejut begitu menyadari siapa yang berani melakukan hal ini padanya.

Oh, astaga, sejak kapan Kim Ki Bum sudah berada di dekatnya?!

“Aku yang akan mengobatinya,” ucap Ki Bum kalem, namun terdengar tak terbantahkan. Bahkan Myung Soo segera mengangguk seolah mengizinkan—tidak juga, memang sudah seharusnya pria itu yang bertanggung jawab bukan dirinya. Dan Ki Bum segera melangkah setelah berpamitan dengan pria tampan itu. Dengan Soo Rin yang ada dalam gendongannya, ia melangkah masuk lebih dalam ke area parkir.

Y-ya! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!”

“Akan aku turunkan setelah sampai di dekat mobil.”

“Tapi—tapi, di sini banyak orang, Bodoh! Kau tidak lihat mereka—”

“Peluk saja aku dan tutup matamu.”

Soo Rin memberengut. Sungguh dia justru semakin malu karena kelakuan pria ini. Dia sangat sadar bahwa orang-orang yang berada di lapangan parkir ini memperhatikannya, memperhatikan mereka. Dan mungkin saja orang-orang yang berada di luar lapangan yang tak sengaja melihat juga sedang melakukan hal sama. Siapa yang tidak tertarik melihat seorang pria menggendong seorang gadis ala bridal seperti yang Ki Bum lakukan saat ini?

Tapi, mengingat lagi bahwa pria ini sangat sulit untuk dibantah, Soo Rin memilih untuk memeluk lebih erat leher pria ini serta menyembunyikan wajahnya di bahu lebar tersebut. Menuruti kata-kata pria ini.

****

“Kenapa kau begitu ceroboh?”

“Aku hanya tidak begitu memperhatikan jalan.”

“Itu sama saja.”

“Aak! Kim Ki Bum, pelan-pelan!”

“Maaf, ini karena efek alcohol. Bertahanlah sedikit.”

Ki Bum tampak meniup-tiupkan udara pada luka di siku Soo Rin, sedangkan Soo Rin tampak meringis menahan rasa perih akibat reaksi alcohol yang Ki Bum bubuhi di atas lukanya itu. Keningnya tampak berlipat karena begitu perihnya obat tersebut.

Beruntungnya Ki Bum yang selalu menyimpan kotak obat di dalam laci dashboard mobilnya. Sehingga dirinya tidak kesulitan untuk mengobati Soo Rin sebelum membawa gadis ini pulang. Dan Ki Bum memilih untuk menyalakan mesin mobil agar udara di dalam tidak terasa pengap bagi mereka.

Soo Rin sendiri memilih untuk tidak banyak bicara dan hanya bersuara kala Ki Bum berceloteh memojokkannya yang baru saja terjatuh karena tidak memperhatikan jalan. Karena dirinya sedang merasa kalut kala itu.

“Kau berhutang penjelasan padaku.” Ki Bum kembali membuka mulut setelah membalut luka Soo Rin dengan sedikit perban, sekaligus membereskan kembali peralatan obatnya untuk disimpan kembali ke dalam laci dashboard.

“Penjelasan apa?” Soo Rin terdengar seperti menggerutu, yang ternyata masih didengar Ki Bum hingga pria itu menghadap serta menatap penuh dirinya setelah menutup kembali laci dashboard.

“Mengenai apa yang sudah kau lakukan tadi.”

“Aku melakukan apa?” Soo Rin memilih untuk mengalih pandangan dengan membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan. Menghindari tatapan lekat dari pria itu.

Dan Ki Bum tahu betul sikap menghindar gadis ini. Ia memilih untuk mendekati Soo Rin hingga jarak wajah mereka begitu dekat, yang dipastikan bahwa gadisnya ini akan kelabakan jika bertatapan langsung dengannya. Apakah gadisnya ini berpikir bahwa dia akan diam saja?

“Melakukan hal yang sangat mengejutkanku karena kau berkata—” Ki Bum mendekatkan wajahnya tepat ke depan telinga Soo Rin, berbisik, “That I’m your boy.”

Soo Rin menelan ludah tanpa sadar. Tanpa sadar pula wajah cantiknya itu mulai menampakkan rona merah tomatnya. Bolehkah dia menyesal karena sudah berbuat di luar kendalinya? Kenapa dia bisa lepas seperti tadi? Dan lagi, bagaimana bisa dirinya berteriak dengan aksen Inggris-nya yang begitu kaku seperti tadi? Memalukan.

“Ba-bagaimana dengan kau sendiri?” Soo Rin memilih untuk melempar balik pertanyaan. Yang di saat itu juga emosinya kembali bermunculan karena ingatannya otomatis kembali memutar kejadian tadi. “Kenapa kau diam saja saat gadis cantik itu memelukmu? Kau juga diam saja saat gadis cantik itu melayangkan ciuman untukmu. Kau terlihat begitu bahagia melihat gadis cantik itu. Kau juga tersenyum sangat lebar kala menatap gadis cantik itu. Dan kau diam saja ketika gadis cantik itu menyentuhmu serta ingin menciummu!!”

Ki Bum tidak gentar, bahkan mundur sedikitpun juga tidak, kala Soo Rin menyelesaikan kalimat terakhir, saat itu juga gadisnya ini menoleh serta melemparkan tatapan tajamnya untuk Ki Bum. Dia sangat yakin bahwa gadisnya ini kembali lepas kendali, wajah cantiknya tampak memerah dan napasnya menjadi putus-putus. Entah kenapa justru terlihat menggemaskan di mata Ki Bum karena…

“Kau cemburu?”

Dan Soo Rin kembali merutuki perbuatannya. Dia lepas kendali lagi tanpa sadar. Dan dia melihat kilat geli di balik bingkai kacamata itu. Sial! Kim Ki Bum menertawakannya.

Mendapati kebisuan sebagai jawabannya, Ki Bum menyimpulkan bahwa gadisnya ini memang cemburu. Toh, tanpa bertanya pun sebenarnya Ki Bum sudah tahu dari sikap gegabah gadis ini saat menariknya dan meneriaki Tiffany tadi. Hanya saja, akan terlihat sangat jelas jika dia kembali mengungkit masalah itu. Dan ternyata, prediksinya benar adanya. Gadis ini kembali kelepasan. Ditambah, Soo Rin berkali-kali menyebut Tiffany sebagai gadis cantik. Apakah dia tidak menyadari bahwa dirinya itu lebih cantik—di mata Ki Bum?

Soo Rin sendiri hanya berani mengerutkan bibir sebagai balasan pertanyaan Ki Bum. Mana berani dirinya menyatakan secara gamblang, di depan pria ini, bahwa dirinya cemburu? Jika itu terjadi, Soo Rin akan keluar dari mobil dan berlari menuju ke Sungai Han lalu menceburkan diri ke sana. Terdengar berlebihan memang. Tapi, percayalah, itu hanya angan-angan Soo Rin belaka. Tidak akan terjadi sekalipun ia berani mengucapkannya. Mungkin dia hanya keluar dari mobil dan memilih untuk menyembunyikan diri dari jarak pandang Kim Ki Bum.

Ki Bum meraih kedua tangan Soo Rin lalu menuntunnya untuk merengkuh wajah tegasnya. Jelas saja perlakuannya ini membuat si empu kelabakan hingga memacu jantungnya untuk berpacu di atas normal. Sedangkan pria itu hanya tersenyum dalam hati melihat wajah cantik itu kembali merona.

“Jika dia melakukan ini, kau bisa melakukan lebih. Dia memelukku hanya sekali, tapi kau bisa memelukku berkali-kali. Dia menyentuhku sekali, tapi kau bisa menyentuhku berkali-kali. Dan, jika dia menciumku, kau bisa menghapus jejaknya dengan jejakmu.” Ki Bum mengembangkan senyum manisnya kala melihat wajah cantik itu semakin merona. “Ah, perlu kau ketahui bahwa yang dia lakukan itu adalah air kiss. Itu jenis salam yang berlaku di Amerika, dan itu adalah salam yang wajar di sana.”

“Tapi tidak di sini,” gerutu Soo Rin lirih, namun masih didengar oleh Ki Bum.

“Dan dia melakukannya secara reflek, Soo Rin-ah. Aku yakin kau melihat bahwa aku tidak membalasnya.”

Benar juga, batin Soo Rin. Dia melihat bahwa Ki Bum hanya terdiam kala gadis cantik itu memeluknya bahkan memberikan ciuman salam itu. Tidak melakukan balasan yang berarti seperti melakukan hal yang sama seperti gadis cantik itu.

Tunggu, apakah itu berarti bahwa Ki Bum sudah melihat dirinya saat itu?

Dan, apakah gadis cantik itu bukan penduduk asli sini?

“Dia siapa?” Soo Rin akhirnya memilih untuk berani bertanya.

“Teman lamaku di masa Sekolah Menengah Pertama, Hwang Tiffany.”

“Hwang?”

Eum. Dia orang Korea, hanya saja lahir dan besar di California.”

Soo Rin tampak termenung. Jadi begitu… pantas saja gaya penampilannya begitu berbeda dan cukup berani. Soo Rin juga sempat mendengar gadis itu berbicara menggunakan Bahasa Inggris yang sangat fasih. Kini Soo Rin mengerti siapa gadis itu. Hanya saja, dia masih tidak terima bahwa gadis itu berani menyentuh Kim Ki Bum seperti tadi. Jangan-jangan ketika masa Menengah Pertama dulu, Ki Bum sering diperlakukan seperti itu padanya!

Ugh, Park Soo Rin, pikiranmu mulai menjalar ke mana-mana. Tapi, itu hal yang wajar jika dia mengkhawatirkan masa lalu pria ini, bukan? Bagaimana jika gadis itu pernah melakukan hal lebih dari yang dia lihat tadi—dulu?

“Jangan berpikir macam-macam, Soo Rin-ah,” titahan halus Ki Bum ternyata mampu membuat Soo Rin mengerjap kaget. Apakah terlihat dengan jelas bahwa dia sedang berpikir macam-macam? Baiklah, dia akan berhenti berpikiran yang tidak-tidak. Masa lalu hanyalah masa lalu. Lagipula, Ki Bum sudah menjelaskan bahwa gadis itu hanyalah teman lama, bukan?

“Lagipula, dia datang kemari untuk menemui kekasihnya. Bukan untuk bertemu denganku.”

Kini Soo Rin melongo layaknya orang bodoh. Sebelum kemudian wajahnya memberengut malu karena… sial! Dia sudah cemburu dengan gadis yang sudah memiliki kekasih! Astaga, ada apa dengan Soo Rin hari ini?!

Ki Bum terlihat menahan senyum melihat reaksi gadis ini. Dia tahu pasti bahwa gadis ini sedang menggerutu di dalam hati. Dan Ki Bum semakin mengeratkan genggeman tangan yang masih merengkuh wajahnya karena mulai merasakan bahwa gadis ini hendak menariknya. Biarkan dirinya melihat wajah merona itu lebih leluasa.

Merasa bahwa pria ini tidak akan melepaskannya begitu saja, membuat Soo Rin kesal. Dan tanpa berpikir lagi, Soo Rin melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya: dengan memanfaatkan kondisinya yang masih merengkuh wajah tegas nan tampan itu, Soo Rin menariknya dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir penuh tersebut—yah, meski harus sedikit terantuk dengan kacamata pria itu.

Dan sontak saja membuat Ki Bum terkejut bukan main. Mendapatkan serangan mendadak seperti itu telah berhasil membuat pegangannya lepas hingga tanpa sadar membebaskan Soo Rin untuk segera menarik diri. Bolehkah dia mengulang lagi? Soo Rin menciumnya lebih dulu! Oh, meneriakkan kalimat itu di benaknya ternyata mampu membuat jantungnya semakin serasa meluncur terjun bebas, membuatnya tak mampu bernapas untuk beberapa saat sebelum ia merasakan kembali jantungnya berdetak liar!

Kemudian, giliran Soo Rin yang terkejut bukan main…

Lagi-lagi dia lepas kendali.

Astaga, sungguh, apa yang sedang terjadi dengannya hari ini?!

Sepertinya kini Soo Rin benar-benar akan keluar dari mobil dan berlari menuju Sungai Han lalu menceburkan diri ke sana.

Dan Soo Rin ingin segera mewujudkan angan-angannya itu, dengan membuka pintu mobil dan berencana untuk segera melarikan diri. Namun naas, dia baru berhasil membuka kunci pintunya kala tangan besar itu meraih lengan atasnya lalu memutar tubuhnya dengan sekali hentak. Soo Rin melihat pria itu melepas kacamatanya lalu melempar lensa berbingkai itu hingga tergeletak di atas dashboard mobil, sebelum kemudian merengkuh wajahnya seraya menggumam halus…

Now it’s my turn,” tepat di depan bibir kecil itu, sebelum Ki Bum kemudian meraup candunya itu dalam sekali coba.  Memberikan ciuman yang menggetarkan benak keduanya, mengajak gadisnya untuk tenggelam dalam euphoria yang ia ciptakan, mengantarkan ke dunia manis yang hanya bisa dipijak oleh mereka.

Sedangkan Soo Rin baru menyadari bahwa perbuatannya itu telah berhasil membangunkan singa yang tertidur di dalam diri pria ini.

.

.

Epilog

Who is she?” Tiffany tampak mendengus tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. “What’s wrong with her?”

Nothing’s wrong with her.” Ki Bum mengulas senyum kala Tiffany kembali menatapnya. “She did the right thing. And she said the truth… I’m her boy.”

What? You mean… she’s your girlfriend.” Tiffany tampak mengangkat sebelah alisnya. Begitulah gaya dirinya jika sedang kebingungan.

No.” Ki Bum menggeleng sebelum kemudian mengangkat sebelah tangannya, menunjukkan sesuatu yang tersemat di jari manisnya seraya berkata. “She’s my fiancée.

Really?!” Tiffany membelalakkan mata, sebelah tangannya secara reflek terangkat menutup mulutnya yang menganga. “You didn’t tell me…

Like you did.” Ki Bum tersenyum simpul melihat gadis di hadapannya sedikit tertegun. Sepertinya dia mengerti maksud perkataannya. “I have to go. Nice to meet you again, Tiff!”

Yeah, you have to hurry!” gadis cantik itu tampak tersenyum penuh arti. Ia melambaikan tangan mengantar kepergian Ki Bum seraya berseru lagi, “Don’t lose her!”

I won’t!”

Tiffany terkekeh mendengar balasan pria itu. Kemudian menggumam, “Well, you got a gorgeous girl, Kim Ki Bum.

.

FIN


Aaaaaaaaaaaaakh!! Apa yang aku tulis hari ini?! ㅠㅠ

Mohon maaf, sebenarnya aku pengen lanjutin part 4 With You-nya tapi mager terus huweeeeeehh. Aku sadar kalo aku bukanlah author yang baik ㅠ/\ㅠ

dan aku ga yakin kalo di Inha Univ ada taman buat masing-masing fakultas, ugh….srsly, itu ngarang banget -__,-v

Em….ada Hwang Tiffany nongol jadi cameo heheheh tapi sayang, kabarnya hubungan dia sama Nichkhun udah ga begitu lagi ya? Huhuhu ;__; padahal mereka cocok loh, sama-sama punya eye smile…. fyi, aku ngebiasin Nichkhun di 2PM >< hwhw

yaudah deh, terima salam dulu ya x)

Hwang Tiffany ^-^
Hwang Tiffany ^-^
Myung Soo a.k.a L ><
Myung Soo a.k.a L ><

oh ya!

Selamat Tahun Baru China bagi kalian yang merayakan!! ^-^

Gong Xi Fa Chai

새해 복 많이 받으세요

and

Thank you for reading~~^__^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “Out of Control

  1. emppfftttt—-KYAAAAAA!!!!
    Siskachiii daritadi aku bacanya sampe gigitin bibir sendiri/? soalnya ini uda malem dan pls mama aku bakalan ngomel kalo sampe ngedenger anak perawannya(?) teriak2 di tengah malemmm T///T
    Kisukisu unyu as always, aku bingung mau ngomong apa. manis siih, soorin juga wkwkwk ‘don’t touch my boy’ nya pasti unyu xD tapi btw, aku juga ngedukung khunfanny (≧▽≦)/~┴┴
    dan sebenernya aku mau bales review annya siskachii di wp aku, tapi gatau caranya kalo lewat hape /ukh/ aku juga jarang on pc, /takut ketahuan ortu, kalo hape kan kecil(?) jadi ga terlalu keliatan huhu/ /efek unas mendekat/
    dan bentar deh, apa itu ff with youuuu???? aku juga mau bacaaa ;_; kenapa ga bilang2 kalo bikin ff berchapter TuT
    dan bentar yah, ff henli nya otw nih hihi ><
    udah ah, btw, sumpah ini review apa makalah ilmiah/? panjang sangat xD maaf yah.kalo komentar ini ngotorin ff kisukisu :'33 /ambil kemoceng/?

    1. yaampun Pokuuuuuuuu!! reviewmu panjang sekali nak/? T^T hahahah
      yawlaa maafkan daku yg udah bikin anak orang serba salah (?) abisan siapa suruh baca malem-malem? #ditendang XD
      kalo smartphone, itu ada aplikasinya jadi gampang Poku.. udah ada kolom balasannya 🙂 tapi gapapa kalo blm bisa bales yg penting udah dibaca~
      aku bikin ff lanjutan kisukisu yg masih sekolah itu kok Poku, tapi ya gitu….akunya mager terus jadi kalo bikin lompat2 ke cerita mereka yg udah ga sekolah hahahah padahal di cerita itu ada sesuatu yg penting……. #abaikan
      ditunggu Henllinyaa XD hahahah gapapa kok~ daku seneng kok ada review panjang macam punya Poku :3 makasih banyaaaak ({}) ><

      1. eheyyy salah siskachii yg nge post nya malem2 >< hihi becanda~
        Ooh with you itu cast kisukisu juga kah? di post disini? 😮
        oya, aku uda kirim ff lanjutan aku di sjff hehe :3 tapi pendek sih, maaf ya :') semoga cukup/? hehe /cukup apaan
        ^^

      2. hwaaaaa iya XD maafkan daku (_ _)
        iyap~ boleh kok diubek-ubek kalo mau baca heheheh
        eh? ff Dongek juga kah?? ah, nanti aku cek ke sjff-nya~ tenang aja aku bakal ninggalin jejak ky waktu itu lagi x3 hahahah

  2. Arghhhhh author gimana nih aku dah gak bisa komen apa2 nih satu kata aja buatmu D.A.E.B.A.K aku dibuat senyum2 and gigit bibir sama kelakyan nih couple 좋아

  3. Mwooooo Soo rin bnar2 keren bgt jangan sentuh pria ku awww ska kta2 Soo rin dan alamak Soo rin bnar2 hilang kontrol main langsung nerjang Kibum aja,walau kibum awalnya kaget tpi menerima dgn senang hati tu Kibum untung kmu Kibum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s