Posted in Category Fiction, Family, Fiction, One Shot, PG-15, Romance, School Life

Faster Than A Kiss

ftk

Genre :: Comedy-Romance, School Life, Family, err…Marriage Life?

Rated :: PG-15!!

Length :: One Shot

||Kim Ki Bum & Park Soo Rin||
and others

Attention!!
Cerita ini ngga murni ide saya loh. Aku adopsi dari manga yang merupakan manga favorite (pribadi) dengan judul yang sama: Faster Than A Kiss ^^ Hanya saja, ada beberapa bagian yang merupakan improvisasi saya sendiri dan tentunya ngga semua bagian dari manga itu saya ambil. Saya juga mencoba untuk meringkas (1 comic menjadi oneshot._.) dan dikemas dengan cara saya sendiri #halah-_-

and, Beware!! It’s a loooong shot! (8k+) ><

lihat rating, itu dibold._. hati-hati/?

Oke! Happy Reading!! ^^

ㅡㅡ

.

.

DUAGH!!

“Beraninya kau mengganggu perempuan!”

Tampak seorang gadis baru saja menendang seorang lelaki hingga tumbang. Menyelamatkan seorang gadis lain—berambut lurus dan hitam legam, berwajah begitu manis—yang baru saja diganggu oleh dua orang lelaki yang salah satunya baru saja diserang oleh gadis berambut panjang kecokelatan itu. Membuat lelaki yang ternyata mendapatkan hadiah berupa warna lebam pada hidungnya itu berlonjak marah dan segera bangkit lalu mencengkeram kemeja gadis itu dengan kasar.

YA! Memangnya kau siapa, hah!!” teriak lelaki itu tepat di depan wajah sang gadis. Namun ternyata teriakannya itu tidak menimbulkan reaksi yang berarti pada sang gadis. Hanya wajah datar namun menantang yang ia dapat.

“Ada keributan apa ini?!”

Seketika mereka menoleh dan mendapatkan sesosok pria berbadan kekar dan sangat tinggi berjalan menghampiri mereka. Dengan wajah seramnya yang memang sudah tampak dengan murninya, pria itu menunjukkan kepalan tangannya seolah-olah dirinya siap menghantam apa saja.

“Ada Tao Saem! Lari!!” teriak salah satu lelaki itu dan sontak saja mereka berdua segera melarikan diri dari pria yang dikenal sebagai guru pembimbing di sekolah ini.

“Hei, berhenti kalian!!” seru pria yang dipanggil Tao Saem seraya mengejar dua lelaki itu. Tidak berniat menegur gadis berambut kecokelatan itu. Karena sudah jelas bahwa pembuat masalah adalah dua lelaki yang baru saja melarikan diri. Itu sudah sering terjadi.

“Terima kasih, Soo Rin-sshi,” ucap gadis berambut legam itu. Terdengar begitu tulus dibarengi kedua mata yang berkaca-kaca karena haru. Yah, lagi-lagi dirinya diselamatkan oleh gadis itu.

“Tidak apa-apa. Pergilah,” balas gadis bernama Soo Rin itu dengan seulas senyum tipis.

Begitu gadis berambut legam itu pergi, Soo Rin mendengus kasar dan mendumal. “Dasar! Kau itu seorang guru, tapi kau justru bergantung dengan guru lain? Menyedihkan!”

Tiba-tiba saja jendela gedung sekolah yang berada di hadapan Soo Rin terbuka lalu menampakkan seorang pria tampan berkacamata yang memasang wajah serius. “Jika terkena pukulan, itu akan terasa sakit. Kau tahu itu,” ucapnya tanpa merasa bersalah.

“Itu sangat tidak keren!!” teriak Soo Rin pada pria itu.

Woah, Soo Rin-sshi terlihat sangat keren!” balas pria itu dengan wajah innocent-nya.

“Diam, Ki Bum Saem!!”

Park Soo Rin, murid Neul Paran High School Kelas 2-3. Dia adalah gadis yang tampak tidak takut pada apapun dan sering menjadi pembela para siswi yang selalu diganggu oleh para siswa bar-bar. Dia juga dikenal dengan siswi yang dingin karena hampir tidak pernah memamerkan senyum manis pada siapapun. Namun bagaimanapun, dia disebut sebagai pahlawan bagi para kaum hawa seangkatannya, atau bahkan mungkin bagi para siswi juniornya.

Sedangkan pria berkacamata itu, merupakan Wali Kelas 2-3 sekaligus Guru Bahasa Inggris. Mungkin bisa dikatakan bahwa dia adalah guru yang tidak mau ikut campur dengan masalah murid-muridnya dan memilih untuk melihat dari jauh. Pria itu bernama Kim Ki Bum Seonsaengnim.

Well, jika dilihat seperti sekarang ini, mereka hanyalah guru dan murid yang tidak memiliki kecocokan sebagaimana hubungan guru dan murid seperti biasanya. Mengingat Kim Ki Bum merupakan wali kelas Park Soo Rin, sudah dipastikan bahwa pria itu mengetahui tabiat murid kelasnya.

Tapi, itu hanyalah yang terlihat di luar saja…

.

.

“Aku pulang!” seru pria itu begitu membuka pintu apartemennya. Kemudian, senyumnya mengembang begitu mendapati dua orang itu sudah berdiri di hadapannya, menyambutnya.

“Selamat datang kembali, Yeobo!”

Pria itu bertepuk tangan dengan senangnya setelah mendapat sambutan dari seorang gadis dan anak kecil berusia kisaran 4 tahun. Well, bahkan anak kecil itu juga menyebut pria itu dengan sebutan Yeobo. Dan tidak dilupakan bahwa keduanya tampak begitu rapi; mengenakan celemek bermotif bunga-bunga sekaligius berenda rapat di bagian pundak hingga lengan, bahkan sang gadis tampak begitu rapi dengan rambut panjang kecokelatannya tersisir, juga anak kecil—yang sebenarnya seorang anak lelaki itu—mengenakan jepit rambut berbentuk pita!

Bravo! Rasanya kepenatanku hari ini menghilang sepenuhnya, Wifey!” ucap pria itu dengan antusias.

Ugh… dasar bodoh!” gerutu gadis itu seraya menunduk malu. Hei, perlu diketahui bahwa penampilannya saat ini bukanlah gayanya! Ini merupakan peraturan sang pria bahwa dirinya harus menyambut kepulangan pria itu dengan mengenakan pakaian manis dan menggemaskan supaya mendapatkan imbalan berupa makan malam. Terdengar aneh, bukan? Sangat aneh!

Tapi pria itu seolah tidak menghiraukan gerutuan sang gadis karena dirinya segera beralih pada anak kecil di depannya. “Dan kau begitu manis dengan pita itu, Jeno-ya. Aigoo! Padahal kau seorang lelaki tapi kau begitu menggemaskan!” serunya yang terselip rasa gemas. “Cah, sekarang aku memiliki semangat baru untuk membuat makan malam. Dan malam ini, kita akan memakan Kare!” serunya kemudian.

Yeah, Park Soo Rin dan Kim Ki Bum… sebenarnya sudah menikah.

&&&

Kehidupan aneh itu dimulai kala Soo Rin dan adik kandungnya—Jeno—kehilangan kedua orang tuanya. Orang tua mereka meninggal karena kecelakaan pesawat ketika hendak pergi ke negeri seberang, pesawat yang ditumpangi keduanya sempat hilang kontak dan baru ditemukan beberapa hari kemudian namun dalam keadaan mengenaskan. Pesawat itu tenggelam di perairan Laut Jepang hingga dipastikan tidak ada penumpang yang selamat. Bahkan jasad keduanya ikut ditemukan di hari itu juga, terjebak di dalam badan pesawat. Soo Rin yang masih sekolah tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi dia memiliki seorang adik yang belum mengerti situasi apapun seperti Jeno. Di masa-masa dirinya yang tengah berkabung, Soo Rin harus menghadapi cobaan yang cukup mengguncangnya. Rumah sederhananya harus disita karena ayahnya ternyata meninggalkan hutang yang cukup besar, yang jelas saja dirinya bersama adiknya itu segera didepak dari sana.

Belum selesai sampai di situ, Soo Rin harus dihadapi cobaan lain. Seorang pria hidung belang menghampirinya yang tengah beristirahat di salah satu bangku taman—tak tahu harus mencari tempat tinggal di mana—dan menawarkannya untuk tinggal bersama si hidung belang itu. Dengan iming-iming bahwa dirinya akan diberi uang saku tiap harinya sebesar 500.000 Won. Sudah jelas bahwa orang itu mengharapkan pamrih pada Soo Rin.

Namun, ternyata Tuhan masih berbaik hati padanya, dengan mengirimkan seorang penolong untuknya. Ki Bum yang kala itu baru saja selesai dengan pekerjaannya sebagai guru dan hendak pulang menuju rumah, melihat Soo Rin bersama adiknya kala itu. Pria itu segera menghampiri sekaligus mengusir si hidung belang itu. Mengetahui keadaan muridnya, Ki Bum menawarkan diri untuk memberikan tumpangan berupa tinggal di apartemennya. Tapi, Soo Rin justru menolak.

“Aku butuh uang dan aku harus menghidupi adikku. Dan aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Soo Rin acuh.

“Apa kau bisa mendapatkan uang sekaligus tempat tinggal dengan segera? Malam ini juga?” balas Ki Bum, terdengar meremehkan. “Sudahlah, ikut aku. Aku tidak keberatan untuk berbagi rumah denganmu.”

“Jangan bersimpati padaku!”

“Aku tidak bersimpati!”

“Lalu apa? Oh, apakah kau menertawakanku karena muridmu yang bar-bar ini sudah tidak memiliki tempat tinggal bahkan kehilangan semuanya?!”

“Aku tidak pernah memiliki pikiran seperti itu, Park Soo Rin-sshi!”

“Oh ya?! Jika kau tidak pernah berpikiran seperti itu dan tidak pernah bersimpati padaku, bisakah kau menikahiku dan menghidupi kami?!”

“Akan aku lakukan!!”

“A-apa?” Soo Rin melongo bodoh saat itu juga. Tidak menyangka bahwa pertanyaan konyolnya itu akan dijawab seperti itu. Hei, dia tidak serius dan tidak berharap untuk dinikahkan oleh wali kelasnya ini! Apalagi, dalam kondisi seperti ini! Sungguh, dia hanya kelepasan bicara karena nasibnya yang sudah merosot menjadi suram saat ini hingga mempengaruhi otaknya menjadi tidak bekerja dengan baik. Lagipula, dia ‘kan masih berstatus sebagai Murid Menengah Atas!

Tapi, Ki Bum tidak menghiraukan reaksi itu dan memilih untuk membawa koper satu-satunya yang dibawa oleh Soo Rin sekaligus menyeret gadis itu dan mengajak Jeno untuk ikut dengannya. Membawa kakak-beradik itu ke apartemennya, membuatkan banyak makanan untuk mereka di malam itu, mempersiapkan kamar untuk mereka, bahkan pria itu rela berbagi kamar mandi yang memang hanya ada satu di tempat tinggalnya itu. Ditambah, pria itu bahkan tampak mengakrabkan diri pada adik lelaki Soo Rin.

“Jeno-ya, kau sudah menjaga kakakmu malam ini. Karena itu, aku berikan hadiah untukmu,” ucap Ki Bum dengan halus seraya memberikan sebutir permen pada anak lelaki itu.

Sontak kebaikannya itu disambut dengan hangat oleh Jeno. Anak kecil itu tersenyum begitu cerahnya yang membuat Soo Rin tertegun. Bahkan Jeno terlihat sangat menghargai pemberian kecil tersebut dan mengucapkan terima kasih begitu tulus dan polos untuk pria itu. Karena, Soo Rin merasa bahwa senyum menawan milik adiknya itu hampir tidak pernah ia dapat. Dalam artian, dia hampir tidak pernah mendapatkan senyum secerah matahari seperti itu dari Jeno. Bahkan dia sendiri sudah lupa kapan dirinya pernah membuat adiknya tersenyum seperti itu karena dia menyerahkan seluruh kebutuhan adiknya pada kedua orang tuanya—dulu.

Tidak sampai di situ, Ki Bum ternyata benar-benar serius dengan kata-katanya. Esoknya dia datang ke Kantor Catatan Sipil di Gucheong demi mengambil formulir pendaftaran untuk menikah. Jelas saja ini membuat Soo Rin tercengang kala Ki Bum meminta tanda tangan dirinya untuk melengkapi formulir tersebut.

“Kau—kau serius? H-hei, kau masih ingat bahwa kau adalah guruku, bukan?”

“Tentu saja.”

“Ta-tapi, aku akan merasa cukup jika kau mau menjaga Jeno—”

“Itu artinya tidak masalah, bukan?”

“Tapi… tapi…”

“Menjaga Jeno berarti menjagamu juga. Tapi karena kau tidak mau kita tinggal satu atap tanpa sebuah status, aku rasa ini adalah yang terbaik. Lagipula, ini hanya resmi secara hukum tertulis. Juga, kau yang meminta ini, bukan?”

Tapi aku tidak serius malam itu! seru Soo Rin dalam hati. Ia merutuki mulutnya yang asal bicara kala itu. Dan parahnya lagi, pria itu ternyata menganggap serius ucapannya.

Dan sepertinya, untuk ke depannya, hidup Soo Rin tidak akan semulus yang dia harapkan.

****

Woah! Istri muda? Tujuh belas tahun? Dan dia adalah muridmu?? Kau benar-benar cabul, Kim Ki—”

Duagh!

Ugh…”

Ki Bum memukul telak wajah pria itu hingga berhenti berbicara. Bahkan tanpa merasa bersalah, Ki Bum tidak menghiraukan rintihan dari pria itu dan memilih untuk menghadapi Soo Rin. Ini adalah hari pertama mereka akan pergi ke sekolah dengan status baru yang sudah mereka sandang.

“Namanya Lee Hyuk Jae. Dia tinggal tepat di sebelah apartemen kita. Dia bekerja sebagai guru di Taman Kanak-Kanak tempat Jeno berada sejak satu tahun lalu. Jadi, dia bisa membantu kita untuk menjaga Jeno.”

“Dia temanmu?” tanya Soo Rin hati-hati. Well, setelah melihat bagaimana Ki Bum memukul pria itu dengan tidak berperasaan tadi, Soo Rin menjadi sedikit was-was.

“Sesuai dugaan,” jawab Ki Bum seadanya.

Well, halo, Gadis Manis!” pria yang dipanggil Hyuk Jae itu menyapa Soo Rin seraya mendekati gadis itu. Dengan senyum manisnya yang penuh tanda tanya di mata Soo Rin, pria itu meraih sebelah tangan Soo Rin lalu mengangkatnya seolah-olah ingin mencium tangan gadis itu. “Apa kau sudah melakukannya bersama Ki Bum semalam?”

“Apa?”

“Belum, ya? Bagaimana jika kau melakukannya denganku?” Hyuk Jae memberikan tatapan seduktif untuk Soo Rin, tak lupa dengan sebuah kedipan mata yang terkesan menggoda, membuat gadis itu bergidik ngeri.

YA! LEE HYUK JAE!!” Ki Bum segera menarik pria berparas tampan sekaligus jenaka itu untuk menjauh dari Soo Rin dan hendak memberikan bogem mentah untuk pria itu. Namun dengan gesit Hyuk Jae membebaskan diri dan segera menarik Jeno pergi dari situ.

Kaja, Jeno-ya! Kita akan bersenang-senang di sekolah!”

Yaaayy!” Jeno tampak begitu girang di dalam tuntunan seorang Lee Hyuk Jae. Membuat Ki Bum menggeleng heran dengan sifat pria itu yang bisa dikatakan mudah berubah-ubah.

&&&

Kehidupan baru mereka tidak terlihat sebagaimana semestinya. Di sekolah, mereka tampak sebagaimana guru dan murid seperti biasanya. Sedangkan di rumah, mereka menjalani kegiatan yang sangat biasa. Ki Bum bahkan terlihat lebih akrab dengan Jeno dan dia sering memberikan permen untuk Jeno, dalam sehari dia bisa memberikan sebanyak 5 butir untuk Jeno. Saat makan bersama pun Ki Bum memilih untuk duduk di dekat Jeno dan mengobrol lebih banyak pada anak kecil itu.

Mereka bahkan tetap tidur di kamar yang terpisah. Ki Bum membiarkan kamarnya untuk ditempati oleh Soo Rin dan Jeno, sedangkan dirinya memilih untuk mengungsi ke ruang kerjanya. Dan karena Soo Rin yang belum bisa memasak, Ki Bum yang selalu sibuk di dapur demi membuatkan sarapan dan makan malam untuk mereka. Yah, mereka baru berkumpul kembali di sore hari karena kegiatan mereka masing-masing. Sedangkan Jeno selalu dititipkan terlebih dahulu di rumah Hyuk Jae yang otomatis anak itu mendapatkan jatah makan siang di rumah Hyuk Jae. Barulah Soo Rin mengambil adiknya kembali di sore hari setelah pulang sekolah.

Juga, tidak ada yang mengetahui status mereka ini tentunya. Mereka menyembunyikan perihal ini dari pihak sekolah dan hanya Hyuk Jae—tetangga sekaligus teman dekat Ki Bum—yang tahu.

****

Soo Rin tengah membereskan piring-piring kotor dari meja makan setelah makan malam mereka, ketika melihat Jeno yang mengeluarkan sebuah toples dari kamar mereka dan membukanya lalu memasukkan sebutir permen ke dalamnya.

Eo? Dari mana kau mendapatkan toples itu, Jeno-ya?”

“Dari Ki Hyung!” Jeno menjawab dengan begitu riangnya. Well, setelah keduanya kenal sangat dekat, kini Jeno memanggil Ki Bum dengan panggilan kesayangan buatannya itu, Ki Hyung. Terdengar sederhana namun cukup menggemaskan jika Jeno yang mengucapkannya.

“Jeno banyak membantu selama ini. Karena itu aku berikan toples mengingat dia lebih memilih untuk menyimpannya dibanding memakannya,” jelas Ki Bum. Kemudian mata di balik kacamatanya itu melirik jahil Soo Rin. “Yah, sepertinya Jeno berbuat banyak di rumah ini dibandingkan dirimu.”

“Apa kau bilang?! Ya! Aku juga bisa berbuat banyak di rumah ini!!” sewot Soo Rin tidak terima. Membuat Ki Bum tertawa melihat wajah gadis itu memberengut kesal dengan tatapan tajam yang… justru terlihat menggemaskan di matanya.

“Ah, Noona! Lihat apa yang Jeno buat di sekolah tadi!”

Kedua makhluk itu segera menoleh pada Jeno yang baru saja masuk kembali ke dalam kamar, mengambil sebuah kotak yang terbuat dari kertas origami lalu membukanya seraya memamerkan isinya pada keduanya. “Taraaa!”

Soo Rin tampak terkejut dengan apa yang dibuat Jeno. Sepasang cincin yang terbuat dari kertas origami? “Bagaimana bisa kau membuatnya, Jeno-ya?”

“Eun Hyuk Seonsaengnim yang mengajarkanku. ” Jeno tersenyum sumringah. Membuat Soo Rin mengerutkan kening.

“Eun Hyuk?”

“Itu nama lain dari Hyuk Jae. Dia bilang namanya tidak keren untuk dijadikan sebagai nama guru,” jelas Ki Bum seolah mengerti maksud dari kebingungan Soo Rin. Seketika ingatannya kembali berputar di kala pria bermata sipit itu mengucapkan alasan mengapa dia lebih menyukai nama panggilan itu dibandingkan nama aslinya.

“Aku ingin murid-muridku nanti mengingatku dengan baik. Setidaknya, nama yang bagus akan membantu bahwa aku begitu berkesan bagi mereka. Lagipula, Eun Hyuk terdengar sangat keren, bukan?” Hyuk Jae menjelaskannya dengan kedua alis yang bergerak naik-turun kala itu. Terlihat menggelikan.

Noona, cobalah!” Jeno menyadarkan keduanya, memberikan satu cincin yang berbentuk lebih kecil pada Soo Rin. “Ki Hyung juga coba!” dan Jeno memberikan cincin yang lebih besar pada Ki Bum.

Entah bagaimana Jeno membuatnya, kedua cincin itu begitu pas di jari manis mereka. Soo Rin bahkan memandang begitu takjub cincin yang sudah tersemat begitu sempurnanya di jari manisnya. Dan Jeno yang melihat reaksi yang tak terbendung dari kakaknya itu semakin melebarkan senyum polosnya.

Noona menyukainya?”

Soo Rin mengangguk cepat. “Ini sangat indah. Kau bahkan membuatnya dengan kertas origami berwarna emas. Terlihat seperti cincin sungguhan.” Soo Rin memeluk adiknya itu dengan gemas. “Terima kasih, Jeno-ya!”

Ki Bum menatap pemandangan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan ia melirik cincin yang juga tampak pas di jari manisnya, sangat mirip seperti cincin sungguhan mengingat terbuat dari kertas origami berwarna emas. Ditambah, melihat reaksi Soo Rin yang begitu menghargai hasil karya adiknya itu, mampu menggerakkan hatinya.

Rasanya dia juga ingin melakukan hal yang sama seperti Jeno.

.

.

Tampak gadis itu tengah mencuci piring-piring kotor bekas makan malam mereka. Kemudian muncul seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri lalu menghampiri sang gadis. Hanya saja sepertinya gadis itu tidak tampak terusik dengan kehadirannya, sampai dirinya berada di belakang gadis itu pun sang empu tidak merasakan kehadirannya.

“Butuh bantuan?”

Omo!!”

Tak disangka bahwa Soo Rin akan terkejut dan hampir menjatuhkan mangkuk yang tengah dipegangnya jika gerak reflek Ki Bum tidak bekerja dengan sangat baik. Sebelah tangan besarnya segera meraih mangkuk itu, yang ternyata juga meraih tangan yang dibaluti sarung tangan karet itu.

“Aah, maaf mengejutkanmu,” ucap Ki Bum seraya terkekeh hambar.

Entah pria itu menyadari perbuatannya atau tidak, namun jelas sekali bahwa Soo Rin berubah menjadi kaku. Bukan karena pria itu sudah mengejutkannya dengan mengajukan pertanyaan bantuan, tapi, cara pria itu berbicara… tepat di depan telinga Soo Rin, mampu membuat bulu romanya meremang. Ada sesuatu yang begitu asing terasa bergetar di sekujur tubuh Soo Rin hingga tanpa sadar gadis itu menelan saliva dengan susah payah.

“Soo Rin-ah?”

N-ne?”

Dan, Soo Rin harus merutuki gerakannya yang dengan sigap menoleh pada pria itu. Dengan jarak yang terlampau dekat, Soo Rin merasa jantungnya seperti dihantam hingga berdetak dengan begitu kuat di dalam dada. Melihat wajah tegas itu benar-benar berada di depannya, bahkan mata tajam itu tengah terbebas dari bingkai kacamata yang sering menghiasinya selama ini. Rambut hitamnya yang berantakan dengan bagian depan tampak basah karena baru saja membasuh wajah, sesekali meneteskan air yang masih bersarang di sana, entah mengapa itu memberikan poin tambah. Dan, oh, jangan lupakan bahwa wajah tegas itu terlihat begitu fresh karena baru saja dibasuh dengan air!

Ki Bum sendiri juga harus terkejut melihat gerak reflek gadis itu. Dalam sekejap matanya mampu menatap wajah cantik itu dengan begitu leluasa. Sepasang mata oval dengan iris kecokelatan yang hampir sama dengan warna rambut panjangnya, kini Ki Bum mampu melihat dengan jelas iris yang begitu jernih itu. Hidung bangirnya yang tampak kecil namun terlihat begitu seimbang dengan wajahnya. Pipinya yang ternyata jika dilihat dari dekat seperti ini, tampak merona alami. Dan, bibir kecilnya yang tampak begitu manis… membuat Ki Bum secara naluriah menggerakkan wajahnya demi lebih dekat lagi. Ingin menjangkau benda yang terlihat begitu lembut itu.

Dan, jantung mereka mulai menggila.

Soo Rin bahkan mulai menahan napas dan tanpa sadar menggigit bibir bagian dalam. Tubuhnya semakin kaku kala wajah tegas itu semakin memangkas jarak di antara mereka. Mata hitam itu tampak tidak beralih sejak mendapati bibirnya. Dan dia marasa bahwa sebentar lagi tubuhnya akan melemas jika pria ini berhasil menjangkaunya.

“Ki Bum-ah! Bolehkah aku menumpang makan malam di sini??”

What a good timing…

Keduanya terlonjak bukan main, dengan kompak mereka menoleh dan mendapati bahwa… tetangganya itu bahkan sudah masuk ke dalam apartemennya dan mematung di depan dapur mereka. Melongo bodoh menatap mereka…

Oops!” Hyuk Jae mendesis pelan, ia segera berbalik badan hendak keluar dari apartemen Ki Bum. Untuk pertama kalinya dia menyesal karena sudah menerobos masuk ke dalam apartemen teman dekatnya ini.

“A—a-aku belum membereskan buku-buku sekolahku untuk besok!” Soo Rin tampak tergagap dan dengan panik melepas diri dari pria itu seraya melepas sarung tangan karetnya. Kemudian terbirit masuk ke dalam kamar.

Dan, tubuh Soo Rin merosot begitu saja setelah berhasil menutup rapat pintu kamar. Sebelah tangannya bergerak meremas dada bagian kirinya, masih dirasakan bahwa jantungnya berdetak liar bahkan napasnya tampak terengah. Oh, astaga, apa yang telah terjadi dan apa yang akan mereka lakukan tadi? Sungguh, dia tidak mampu berpikir.

Dan lagi, perasaan asing ini mulai menyiksanya. Membuat wajahnya semakin terasa panas hingga memerahkan kedua pipinya. Astaga, ada dengannya?!

Ki Bum menghela napas panjang begitu gadis itu menghilang dari balik pintu kamar. Sebelah tangannya bertumpu pada pinggiran bak pencuci piring, menunduk seraya membuang napas kasar. Astaga, dia hampir melakukannya. Dia akui bahwa dirinya tidak dapat berpikir jernih dan hanya mengikuti naluri kelelakiannya—tadi. Jika Hyuk Jae tidak segera datang, bisa dipastikan bahwa dia sudah meraup habis benda manis itu.

Sial. Memikirkannya saja sudah membuat jantungnya yang baru saja mereda kembali berulah! Ada apa dengannya?!

Hyuk Jae yang memang belum keluar dari apartemen ini kembali menghadap pria yang belum beranjak dari tempatnya—setelah mendengar pamitan tidak langsung dari Soo Rin juga mendengar suara pintu kamar yang tertutup. Dengan hati-hati dirinya menghampiri pria itu, demi melihat kondisinya yang tampak tak biasa. Hyuk Jae bahkan harus sedikit membungkuk demi melihat wajah pria itu.

“Apa… aku mengganggu kalian?”

Dan pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Hyuk Jae itu mampu menyadarkan Ki Bum sekaligus memancing emosinya. Tanpa segan-segan Ki Bum melemparkan tatapan marah untuk teman dekatnya itu sekaligus berucap.

“Sangat!!”

****

Soo Rin mencoba untuk melakukan sesuatu.  Keesokan hari, ia bangun lebih pagi dibandingkan biasanya lalu bergelut di dapur, mencoba untuk membuatkan sarapan untuk mereka. Selama ini, selalu pria itu yang membuatkan. Bukankah seharusnya dia yang memiliki status sebagai ibu rumah tangga yang memasak? Hanya saja, hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Mengingat dirinya yang tidak bisa memasak.

Pagi ini Soo Rin telah membuang stok makanan dengan sangat percuma. Saking gagalnya, Ki Bum harus terkejut melihat hasil makanan buatannya itu begitu keluar dari kamar. Hitam semua. Sangat jelas tak layak untuk dimakan.

Dengan kepala tertunduk karena malu, Soo Rin berjalan mendekati Ki Bum lalu mencicit, “Bisakah—bisakah kau mengajarkanku cara memasak?”

Awalnya Ki Bum sedikit terkejut mendengar permintaan itu. Namun kemudian senyum simpulnya mengembang beserta ekspresi yang sulit ditebak, ia menjawab, “Well, dengan satu syarat.”

“A-apa?”

“Aku akan mengajarkanmu memasak jika kau memakai kostum pilihanku!”

Huh?!”

Soo Rin hampir melupakan fakta bahwa pria di depannya ini begitu maniak dengan yang namanya cosplay. Benar-benar guru yang aneh. -_-

“Tidak. Terima kasih,” akhirnya Soo Rin memilih untuk menyerah. Sudah cukup dirinya memakai kostum celemek bermotif aneh hanya demi menyambut kepulangan pria itu. Dia tidak mau memakai kostum aneh lainnya hanya demi belajar memasak!

Sedangkan Ki Bum harus tertawa dalam hati melihat gadis itu segera berlari ke dalam kamar. Tingkahnya yang begitu serampangan dan malu-malu itu cukup menarik perhatian Ki Bum. Oh, dia menyukai tingkah gadis itu.

Ya, menyukainya.

 .

 .

“Selamat pagi! Kalian sungguh mempesona hari ini! Bagaimana tadi malam? Apakah kalian melakukannya dengan penuh gairah?”

“BERHENTI BICARA YANG TIDAK SENONOH, LEE HYUK JAE!!

Ki Bum hampir berhasil memukul kepala itu dengan tas kerjanya jika pria bermata sipit itu tidak segera menarik Jeno dan membawanya pergi menjauh.

“Ayo, Jeno-ya. Waktunya bersenang-senang!” seru Hyuk Jae seraya menggiring anak kecil itu menuju sekolah. Tidak peduli dengan teriakan Ki Bum. Bahkan dengan kurang ajarnya Hyuk Jae menoleh ke belakang, melambaikan tangan sekaligus berseru untuk mereka. “Hati-hati dengan guru mesummu, Soo Rin-sshi!!”

YA!!!”

“Guru mesum…” gumam Soo Rin seraya melirik pria yang masih mengumpat pada orang yang bahkan sudah sangat jauh dari jarak pandang. Lalu harus dibuat terkejut begitu orang yang dilirik kini memutar tubuh seraya menatap tajam dirinya.

“Ayo berangkat!” Ki Bum segera menarik pergelangan tangan Soo Rin, mengajak gadis itu membuka langkah.

Seketika Soo Rin merasa seperti tersengat listrik bertegangan rendah. Sentuhan kecil itu cukup mampu membuat kinerja tubuhnya bereaksi lebih. Dia merasakan perutnya seperti tergelitik hingga merambat ke kakinya dan hampir membuatnya lemas. Jantungnya pun harus berdetak cepat bagaikan tengah melakukan olahraga pagi.

Perasaan yang sama seperti semalam.

Tunggu, sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa rasanya begitu asing… namun begitu menyenangkan sekaligus menjadi seperti candu?

.

.

Soo Rin tampak tengah berdiri di atap gedung sekolahnya. Menikmati semilir angin musim semi yang berhembus menerpa kulit dan memainkan rambut panjang kecokelatannya. Waktu istirahat tengah berjalan, dan Soo Rin memilih untuk menenangkan diri setelah menghadapi waktu belajar-mengajar yang mengakibatkan otaknya menjadi sangat penat. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu atap tersebut terbuka lalu tertutup. Mendapati pria itu melangkah mendekatinya dengan seulas senyum hangat.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Soo Rin menyapa lebih dulu. Membuat pria itu mengedikkan bahu.

“Menghabiskan waktu denganmu, mungkin,” jawab Ki Bum seadanya. Membuat gadis itu mendengus.

“Bukankah ini terlihat aneh? Berdiri bersama di atas atap hanya berdua. Bagaimana jika ada murid yang masuk kemari?”

“Tidak akan terjadi.” Ki Bum memamerkan sebuah kunci di tangan, seraya tersenyum simpul. “Aku sudah menguncinya.”

Mwo?!” Soo Rin melangkah mundur. “Kau—kau ingin melakukan sesuatu padaku, huh?”

Ya! Kau pikir aku ini guru cabul?!”

“Bi-bisa saja, bukan? Lagipula temanmu yang bernama Lee Hyuk Jae pernah mengatakan itu!”

Aishi…”

“Benar, ‘kan?!”

Ki Bum membuang wajah seraya menghela napas kasar. Aih, sepertinya gadis di hadapannya ini mudah terpengaruh dengan ucapan seseorang. Apalagi Lee Hyuk Jae yang sering asal bicara dan blak-blakan. Orang seperti Soo Rin jelas saja mudah termakan oleh pria itu.

“Mungkin kau sudah tidak ingat. Tapi, sebenarnya kau sudah pernah memberikan sesuatu padaku.”

Soo Rin mengerjap tak paham. Sekaligus kebingungannya itu melunturkan pertahanan anehnya itu. Apa yang sedang guru ini mulai bicarakan?

“Sekitar satu tahun yang lalu, ketika mereka menyuruhku untuk memberikan pidato sebagai guru baru di sekolah ini, di depan para murid, aku begitu gugup kala itu. Kau tahu? Aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya karena, yah, ini merupakan pengalaman pertamaku sebagai seorang guru.” Ki Bum menggaruk pipinya yang tidak gatal. Mata di balik kacamatanya itu tampak menerawang, memutar ingatannya ke masa yang ia maksud.

“Aku yang saat itu begitu mengenaskan, tiba-tiba saja disapa oleh seorang murid yang ternyata merasa bosan dengan acara penerimaan murid baru. Padahal dia itu murid baru di sekolah ini, tapi dia sudah berani membolos dengan berkeliaran di sekolah ini.”

Soo Rin melihat pria itu terkekeh. Meski begitu pelan dan hampir tidak tampak, entah mengapa Soo Rin dapat merasakan bahwa pria itu begitu mengenang masa lalunya itu…

“Dia melemparkan sesuatu padaku tanpa kuprediksi sebelumnya. Kau tahu dia melempar apa? Dia melemparkan sebuah permen untukku. Dia bilang, itu adalah jimat keberuntungan. Makanlah sebelum kau melakukan pidato, aku jamin itu akan bekerja dan kau akan merasa tenang menjalani pidatomu.

Meski caranya yang terbilang kurang sopan, aku memaklumi karena aku yakin dia belum mengenalku. Secara, kita sama-sama orang baru di sekolah ini. Dan aku memilih untuk mengikuti kata-katanya yang ternyata berhasil.” Ki Bum tersenyum hangat kala melihat gadis di hadapannya merubah ekspresi. Ia melanjutkan, “Tapi aku rasa, semua itu bukan karena permen yang dia berikan untukku. Melainkan, senyumnya yang dia berikan padaku setelah merapalkan kata-kata itu… terlihat begitu natural dan begitu tulus. Aku belum pernah mendapatkan senyum manis yang begitu mempengaruhiku sebelumnya, juga setelahnya.”

Ki Bum melangkah maju, mendekati gadis yang sudah berdiri kaku dengan raut tercenungnya. Bahasa tubuhnya yang tampak begitu hati-hati disertai senyum yang masih menghiasi wajah tegasnya itu, mampu membuat sang gadis tidak bergerak menghindar, justru tampak menunggu hingga Ki Bum berdiri tepat di hadapannya. Membungkukkan badan, mengulurkan sebelah tangan besarnya, menyentuh wajah cantik itu, merengkuhnya dangan hati-hati.

“Kau memiliki sisi yang hangat, hanya saja kau merasa sulit untuk meraih sisi itu karena sifatmu saat ini. Aku ingin membantumu untuk merasakan sisi itu.” Ki Bum tidak pernah beralih dari wajah yang mulai menampakkan rona kemerahan di kedua pipinya. Ibu jarinya yang bertengger di wajah cantik itu bergerak pelan menepuk pipi merona itu. Ya, dia hanya berani sampai di situ. “Dan, perlu kau ketahui bahwa sesuatu yang telah kau berikan padaku adalah senyummu, Soo Rin-ah.”

Soo Rin merasakan dadanya berdesir. Lagi-lagi dia merasakan itu. Entah sudah berapa kali ia mendapatkan reaksi seperti ini di sekujur tubuhnya. Dia tidak mengerti bagaimana harus menjelaskan perasaan yang menurutnya begitu baru. Dia tidak mengerti perasaan apa yang tengah bersarang di dalam dirinya. Melihat wajah tegas itu tersenyum begitu hangat dan tulus untuknya yang—menurutnya—bukan siapa-siapa, mengapa dia begitu menyukai ekspresi yang tampak begitu menerimanya?

Menerimanya…

Tiba-tiba saja Soo Rin merasa tidak enak hati. Begitu menyadari bahwa pria di hadapannya ini begitu menerima dirinya. Membuatnya berpikir bahwa, pria ini terlalu baik untuk dirinya yang bagaikan tidak memiliki masa depan. Dan, Soo Rin merasa sudah cukup merepotkan pria ini.

****

Seonsaengnim.”

Hyuk Jae segera menatap gadis yang berdiri di dekatnya itu. “Ya?”

Soo Rin baru saja pulang dari sekolah lalu segera menjemput Jeno di apartemen Hyuk Jae. Seperti biasa Hyuk Jae pasti akan mengajaknya mengobrol terlebih dahulu atau bahkan menyuguhkan camilan sebelum kakak-beradik itu masuk ke apartemen di sebelahnya. Yah, tapi setidaknya Hyuk Jae tidak akan mengajak gadis itu masuk ke dalam jika tidak ingin kehilangan nyawa di tangan Kim Ki Bum._.

“Sebenarnya, gadis seperti apa yang disukai oleh Ki Bum Seonsaengnim?”

Hyuk Jae harus melongo mendengar pertanyaan itu dari mulut Soo Rin. “Eoh? Kenapa—kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Yaa, kalian ‘kan sudah meni—”

“Aku tahu.”

“Eh? Lalu?”

“Ini tidak seperti yang Seonsaengnim bayangkan.” Soo Rin menunduk. “Kami tidak pernah melakukan hubungan sebagaimana pasangan menikah lakukan…”

Mwo?” Hyuk Jae melotot kaget. “Tapi—tapi semalam…”

Soo Rin terhenyak dan tanpa komando wajahnya memanas mengingat kejadian di dapur semalam. Ugh, kenapa pria ini harus mengingatkannya akan kejadian semalam?!

“Ti-tidak… kami tidak pernah melakukannya. Itu, hanya kecelakaan dan hampir terjadi,” jawab Soo Rin gugup.

Mwo?!” tiba-tiba saja Hyuk Jae mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Menarik napas panjang sebelum kemudian berseru, “Aishi! Kim Ki Bum, kau benar-benar bodoh!! Apa kau berlagak menjadi pria keren, huh?! Haishi!! Dia pasti bertingkah seolah bisa menahan semuanya!! AAAAAAAAAAKH!! KIM KI BUM BABOYA!!!”

Se-seonsaengnim, tenanglah!” Soo Rin kelabakan menghadapi pria itu tiba-tiba saja mengamuk. Dia takut amukan anehnya itu akan mengganggu tetangga apartemen yang lainnya.

“GYAAAAAAAA!! KASIHAN SEKALI DIRIMU, PARK SOO RIIIIIIINN!!!”

SEONSAENGNIM!!”

.

.

Di sisi lain, tiba-tiba Ki Bum merasakan sebelah telinganya panas tanpa sebab. Membuat sebelah tangannya reflek mengusap telinganya itu.

Aih, pasti ada yang sedang membicarakanku,” gumamnya menggerutu.

“Ini pesanan anda, Tuan.”

Ki Bum segera mendengak menatap seorang wanita yang baru saja menyodorkan bungkusan mungil padanya. Langsung saja ia terima seraya mengucapkan terima kasih sebelum berbalik keluar dari toko itu.

Memperhatikan bungkusan yang sudah ada di tangan, Ki Bum menghela napas pelan. Semoga saja gadis itu menyukainya, seperti semalam, pikirnya.

****

Suasana apartemen itu masih sepi mengingat hanya ada Soo Rin dan Jeno. Hanya saja, ada yang berbeda. Gadis itu tampak menggeret kopernya menuju pintu apartemen. Kemudian ia berbalik badan sebelum hendak membuka pintu apartemen ini. Menatap adiknya yang berdiri tak jauh di dekatnya.

“Jeno-ya, kau bisa tetap tinggal di sini. Seonsaengnim tidak akan merasa keberatan jika hanya kau yang tetap tinggal.”

Noona ingin pergi? Pergi ke mana?” Jeno tampak memasang wajah memelas. Meski dirinya tidak mengerti mengapa noona-nya bertindak seperti ini, tapi dia tahu pasti bahwa noona-nya akan pergi jauh melihat tas besar itu juga ikut dibawa.

Soo Rin berjongkok demi mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Jeno, mengusap sayang kepala adiknya itu seraya tersenyum. “Noona akan mencari tempat tinggal. Kau tahu? Di sini sangat sempit jika ada Noona dan pasti sangat merepotkan Seonsaengnim.”

“Apa Ki Hyung tahu bahwa Noona ingin pergi?”

Soo Rin tercenung sesaat. Sudah jelas bahwa jawabannya adalah tidak. Dia melakukan ini dengan tiba-tiba. Setelah apa yang dijelaskan oleh pria itu di atap sekolah tadi, Soo Rin merasa bahwa dirinya tidak layak untuk tetap tinggal di sini. Begitu pulang setelah menjemput Jeno dari apartemen Hyuk Jae, Soo Rin segera membereskan barang-barangnya yang hanya berupa pakaian dan perlengkapan sekolah ke dalam koper dan tas sekolahnya.

Noona sudah memberi pesan untuk Seonsaengnim,” jawab Soo Rin jujur.

Ya, setidaknya ia masih meninggalkan selembar salam perpisahan untuk gurunya itu.

“Jeno ikut!”

Soo Rin tertegun. “Ikut dengan Noona?” tanyanya yang segera mendapat anggukan mantap dari Jeno.

“Jeno ingin melindungi Noona. Jika Noona pergi sendiri, tidak ada yang melindungi Noona nanti.” Jeno berlari ke dalam, tak lama dirinya kembali dengan membawa sebuah toples berisi permen yang dia dapat, bahkan permen-permen itu sudah memenuhi ruang di dalam tabung plastic tersebut. Membuat Soo Rin tersenyum.

“Kau mendapatkan hadiah yang sangat banyak, Jeno­-ya…” gumam Soo Rin seraya mengusap puncak kepala adiknya.

Mereka keluar dari lingkungan apartemen. Gadis itu menggeret koper besarnya tanpa berusaha untuk menoleh ke belakang. Sedangkan adik kecilnya itu sempat tidak mengikuti dan memilih untuk berdiri sejenak seraya menatap nanar gedung apartemen itu.

Sebelum membuka langkah demi menyusul kakaknya, Jeno menatap lekat toples di pelukannya, sebelum kemudian membukanya perlahan.

.

Meski hanya berlangsung sesaat, namun memori yang terkumpul sudah cukup banyak. Di dalam ruangan yang tidak seberapa dibandingkan sebuah mansion, ruangan itu begitu hangat dan penuh dengan cerita. Entah itu cerita yang menyenangkan, menyebalkan, hingga cerita yang hambar. Namun, dia begitu menikmatinya. Dan dia merasa cukup bahagia dengan segala perhatian juga kebaikan yang didapat. Setelah ini, dia tidak ingin mengusik lebih banyak dan membahayakan kebahagian orang itu. Dia sudah merasa cukup, dan dia tidak ingin mendapatkan lebih.

****

Ki Bum keluar dari apartemen dengan serampangan. Langkah lebarnya membawa ke lantai bawah dan berlari keluar dari lingkungan apartemen. Wajahnya tampak begitu kalut dan tampak kalang kabut ketika kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa henti. Dia tidak tahu harus berlari ke arah mana. Dia takut salah mengambil jalan karena dia sangat tahu bahwa kesempatannya hanya satu kali.

Dia tampak mengacak kasar rambut hitamnya karena otaknya berhenti bekerja, buntu. Dadanya bergemuruh karena kekalutannya. Setelah membaca surat yang ia dapat di apartemennya tadi, rasa panik mulai bermunculan di benaknya dan tanpa berpikir panjang sekaligus tidak mempedulikan rasa penatnya setelah bekerja, ia kembali keluar demi mengejar.

Mengejar gadis itu.

 

Seonsaengnim

Aku sangat berterima kasih atas segala kebaikanmu selama ini. Aku sangat menghargainya.

Aku sadar bahwa aku telah menyita waktu tenangmu dan mengusik pekerjaanmu. Maafkan aku.

Aku akan mencoba untuk hidup mandiri tanpa harus merepotkan orang lain.

Terima kasih, Seonsaengnim. Aku pergi.

 

Di kala otaknya sudah benar-benar tak mampu berpikir, Ki Bum tidak sengaja menginjak sesuatu hingga menimbulkan bunyi ‘krak’ kecil. Langsung saja dirinya menunduk demi melihat apa yang baru saja diinjaknya. Dan, Ki Bum tertegun.

Permen?

Ki Bum baru menyadari bahwa tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat sebutir permen lainnya. Ternyata, dia menemukan sebutir permen lagi dalam jarak yang tidak begitu jauh dari permen kedua. Dan ternyata, dalam jarak yang masih tertangkap oleh mata tajamnya, ada sebutir permen lagi di sana.

Bagaikan mendapat pencerahan, Ki Bum segera mengambil jalan di mana dirinya ternyata menemukan butiran-butiran permen yang lain. Yang dia yakini… itu adalah milik Jeno.

****

Soo Rin tampak duduk termenung di bangku stasiun. Suasana stasiun tampak begitu sepi, hanya beberapa orang yang memenuhi, bahkan dengan jarak yang saling berjauhan. Sedangkan adiknya itu memilih untuk tetap berdiri membelakangi, menghadap pada pintu stasiun yang masih tertangkap dalam jarak pandang kecilnya. Memeluk erat toplesnya yang hampir tidak berisi, permen yang ada di dalam sana bisa dikatakan hanya mampu dihitung dengan jari.

Apa yang harus dia lakukan sekarang? Soo Rin bahkan tidak tahu ingin membawa adiknya ke mana. Dia tidak memiliki kerabat di dekat sini. Dia sendiri tidak tahu siapa kerabat dekat yang dia punya, ataukah dia sudah tidak memiliki kerabat? Orang tuanya tidak pernah mengajaknya bepergian menemui kerabat dulu. Dia sendiri juga sibuk bersekolah serta sibuk membuat keributan dengan para siswa di sekolah. Yah, sebenarnya itu terjadi karena niatnya yang ingin menolong teman. Hanya saja caranya cukup kasar untuk level seorang perempuan.

Soo Rin masih bergelut dengan pikirannya kala kereta masuk ke dalam rel tujuannya. Ia baru tersadar ketika mendengar sebuah pengumuman dari pengeras suara yang memberi tahu bahwa kereta tujuannya sudah datang, ia sendiri sedikit terkejut mendapati ternyata kereta sudah berhenti di depannya. Soo Rin segera berdiri dan meraih kopernya, lalu menoleh pada adiknya yang masih betah berdiri membelakanginya.

“Jeno-ya, keretanya sudah datang. Ayo!” ajak Soo Rin. Namun, Jeno tidak membalas, tak bergeming. “Jeno-ya?” Soo Rin memberengut karena tetap tak mendapatkan balasan. “Jeno-ya!”

Soo Rin pun memilih untuk menghampiri adiknya itu, meraih lengan kecil itu dan menariknya. “Keretanya sudah datang. Ayo cepat naik!”

“Tidak mau!”

Soo Rin terkejut mendapatkan penolakan dari adiknya itu. “Bukankah tadi kau ingin ikut dengan Noona? Kalau begitu ayo naik! Keretanya sebentar lagi berangkat, Jeno-ya!”

“Jeno tidak mau!” Jeno berusaha menarik diri. Mendapat paksaan dari kakaknya itu membuat Jeno mulai menangis. “Kenapa harus pergi, Noona? Noona menyukai Ki Hyung, ‘kan?!”

Soo Rin seperti baru saja disiram dengan air es. Entah kenapa kata-kata—yang sebenarnya tak berbobot—yang keluar dari mulut Jeno mampu menghantam telak benaknya. Benarkah bahwa dirinya menyukai guru itu? Dia hanya merasa berterima kasih atas segala kebaikan yang telah guru itu berikan padanya. Hanya itu, bukan?

Tapi, mengingat bagaimana cara pria itu tersenyum padanya, menyentuh sekaligus merengkuh wajahnya kala itu, menatap lekat dirinya dalam jarak yang begitu dekat, juga cara pria itu mengenang pertemuan pertama mereka. Entah mengapa semua itu mampu membangkitkan sekaligus menggerakkan sebuah rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Desiran aneh yang mampu menggetarkan benaknya kala itu, hingga tanpa ia sadari bahwa wajahnya begitu merona… di hadapan pria itu.

Apakah itu yang dinamakan rasa suka?

Noona menyukai Ki Hyung! Karena itu, ayo kembali. Kita kembali saja, Noona!” Jeno kembali berseru seraya menangis. Giliran dirinya yang menarik kakaknya itu untuk menjauh dari kereta.

Namun, sekeras apapun mencoba untuk mengelak, Soo Rin tetap tidak bisa menghindari bahwa dirinya… menyukai pria itu sekarang.

Soo Rin menyukai Ki Bum Seonsaengnim.

“PARK SOO RIN!!”

Sontak keduanya menoleh pada sumber teriakan itu. Dan, Soo Rin harus terkejut bukan main kala mendapati pria itu sudah berdiri di kejauhan. Dengan kedua bahu yang tampak naik turun—terengah, mata yang menatap lurus dirinya begitu tajam, serta penampilannya yang tampak kacau. Kacau dalam artian, pria itu tampak begitu frustasi. Apakah pria itu mencarinya?

Dengan langkah lebar, Ki Bum menghampiri gadis yang sudah berdiri mematung di sana. Dia menyadari bahwa kedua pegangan gadis itu melemah karena koper yang digenggamnya segera jatuh tergeletak, dia juga melihat bahwa Jeno segera melepaskan diri dari tarikan gadis itu.

Dan, tepat saat pintu gerbong kereta tertutup serta bersiap untuk diberangkatkan kembali, saat itu juga Ki Bum sampai di hadapan Soo Rin, meraih tubuh ramping itu, lalu dengan segera menenggelamkannya ke dalam pelukan erat. Mengurung tubuh gadis itu dengan begitu posesif seolah takut dirinya akan kehilangan lagi.

“Apa kau bodoh? Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi? Bahkan sebelum kita memulai apapun?” napas Ki Bum tampak begitu berat dan memburu. Pelukannya semakin mengetat kala merasakan bahwa tubuh ramping itu mulai bergetar. “Apa kau tidak ingat dengan statusmu saat ini? Kau sudah terikat denganku dan kau sudah menjadi tanggung jawabku! Jadi kau tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan rumah tanpa seizinku!”

Soo Rin merasakan matanya memanas mendengar tutur kata pria ini. Bagaimana bisa dirinya tidak menghiraukan hal itu? Bukankah kelakuannya ini sudah merupakan sikap istri yang membangkang pada suami? Oh, astaga, rasanya wajah Soo Rin memanas mengingat dua sebutan itu. Ke mana saja dirimu, Park Soo Rin? Kau ini sudah menikah!

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Park Soo Rin. Kau dengar? Aku tidak akan melepaskanmu!”

Soo Rin menangis seketika. Dia merasakan bahwa detak jantung pria itu begitu cepat, sangat cepat. Apakah karena dirinya berlari? Berlari mencarinya? Mengejarnya? Sungguh, Soo Rin juga merasakan benaknya semakin bergolak kala merasakan kehangatan dari pelukan pria ini. Begitu erat namun penuh perasaan. Ditambah, kalimat pria ini barusan… apakah itu artinya bahwa pria ini memiliki rasa yang sama?

Ki Bum melepas pelukannya, merengkuh wajah yang sudah berlinangan air mata itu, mengusapnya dengan penuh rasa. Rasanya air mata ini menjadi begitu berarti untuknya, membuatnya menjadi tidak tega jika buliran kristal ini mengaliri wajah cantik tersebut. Kemudian ia segera beralih, menatap Jeno yang masih menangis menatap mereka. Langsung saja Ki Bum berjongkok dan mengusap lembut puncak kepala anak itu.

“Aku juga tidak akan melepaskanmu, Jeno-ya,” gumamnya dengan sangat halus. Langsung saja Jeno menghambur ke dalam pelukan Ki Bum dan tersedu-sedu di sana.

Melihat pemandangan itu, Soo Rin berjongkok lemas dan kembali menangis, kini rasa haru yang menyelimuti karena melihat pria itu begitu menyayangi adiknya bagaikan adik sendiri. Seharusnya dia bersyukur karena masih ada orang yang peduli padanya sekaligus adiknya. Kenapa dia menyia-siakan hal yang jelas merupakan pemberian dari Tuhan ini?

 .

.

Begitu sampai di apartemen, Jeno segera berhambur masuk ke dalam meninggalkan keduanya. Sedangkan Ki Bum harus mengerutkan kening karena gadis itu justru mematung di dekat pintu masuk.

“Hei, ayo masuk!” ajak Ki Bum dengan halus. Namun gadis itu justru semakin menundukkan kepala, membuat Ki Bum berinisiatif mendekat dan hendak mengambil tas sekolah gadis itu dari genggamannya sebelum kemudian dihentikan oleh lirihan gadis itu.

Seonsaengnim, kau hanya bersimpati padaku, ‘kan?”

Ki Bum terpaksa melakukan mode pause begitu mendengar itu. Jarak mereka yang sudah dekat membuat Ki Bum mampu melihat bahwa kedua bahu kecil itu melemas. Kenapa gadis ini membahas itu—lagi?

“Mengingat aku yang jelas bukanlah gadis idamanmu, dan kau yang menikahiku begitu mendadak hanya karena aku yang tidak mau tinggal seatap denganmu tanpa sebuah status yang jelas…” Soo Rin meneguk saliva tanpa sadar kala melakukan jeda. “Kau… bahkan terlihat tidak ingin menyentuhku—sepertinya…” ugh, untuk yang ini, Soo Rin mengucapkannya karena terpengaruh dengan Hyuk Jae tadi siang.

Tiba-tiba Soo Rin merasakan tubuhnya ditarik dan kembali diperangkap. Otaknya segera mencerna begitu wajahnya membentur dada bidang pria itu, merasakan tubuhnya kembali ditenggelamkan ke dalam sebuah pelukan hangat yang tanpa sadar membuat kinerja syarafnya tersendat hingga melepaskan tasnya dari genggaman dan tergeletak begitu saja di lantai.

“Perlu kau ketahui bahwa aku ingin mengikatmu, dengan memposisikan diriku sebagai seorang pria.”

Soo Rin tertegun mendengar suara halus itu menyerang sebelah telinganya. Jantungnya mulai berpacu di atas normal hingga tanpa sadar kedua tangannya mengepal, mencoba menahan gejolak aneh itu menguasai tubuhnya.

“Tapi, sebagai pria dewasa, aku memikirkanmu sebagai gadis berusia tujuh belas tahun juga. Usia di mana kau ingin merasakan jatuh cinta sebagaimana gadis seusiamu yang lainnya. Dan aku menyadari bahwa hubungan kita ini tidaklah mudah. Kau juga tahu, bukan?”

“Apa yang kau bicarakan?” Soo Rin membuka suara. “Apa kau berpikir bahwa aku justru merasa tertekan dengan ini? Apa kau bodoh? Kau sudah banyak berbuat baik padaku dan Jeno. Bagaimana bisa aku tidak senang?” Soo Rin merasakan matanya memanas, bibirnya yang ia gigit terasa bergetar. Ugh, kenapa hari ini dia menjadi gadis cengeng? “Dan lagi, kau sudah mengikatku. Seharusnya kau lebih memperhatikan aku… dan Jeno!”

Ki Bum tersenyum mendengar tutur kata gadis ini. Pelukannya semakin mengerat seolah dirinya tidak ingin melepaskannya lagi. Aah, seharusnya dia menyadari akan hal ini. Kenapa dirinya begitu payah soal ini?

“Ki Hyung!”

Sontak Soo Rin melepaskan diri dari pelukan hangat itu, menghapus air matanya dan melirik ke arah pintu masuk. Heol, dia tidak ingin terlihat cengeng di depan adiknya itu. Apalagi melihat dirinya berpelukan dengan pria ini!

“Ki Hyung, Jeno menemukan ini di meja. Apa ini?” Jeno yang baru tampak kini menunjukkan sesuatu di genggamannya. Bukankah itu bungkusan yang Ki Bum bawa tadi siang?

Ki Bum membungkuk demi mengambil bungkusan di tangan Jeno. Ia menjawab, “Ini untuk noona-mu.”

“A-apa?” Soo Rin mengerjap kaget sekaligus bingung. Sedangkan pria itu hanya menatapnya dengan seulas senyum simpul. Cukup mencurigakan.

“Akan aku tunjukkan di dalam. Ayo masuk!”

 .

Soo Rin membuka bungkusan itu lalu mengambil isinya. Mata ovalnya melebar begitu mendapati bahwa isi bungkusan itu merupakan kotak beludru berwarna biru safir, dan terkejut begitu membuka kotak tersebut serta melihat isinya.

Sepasang cincin berwarna perak mengilap dengan motif yang sederhana, batu-batu berlian mungil yang berkumpul membentuk suatu lengkungan di atas kedua cincin. Bila keduanya didekatkan, maka lengkungan itu akan membentuk suatu simbol yang begitu bermakna bagi tiap pasangan yang saling menyayangi.

A love signsilver couple ring

“Itu bukanlah sesuatu yang mahal. Tapi, aku ingin memberikan sebuah simbol untukmu,” ucap Ki Bum kemudian dengan seulas senyum hangatnya yang begitu manis. Membuat gadis itu merona tiba-tiba.

“Ta-tapi, ini—ini sungguhan?”

Ki Bum terkekeh geli melihat gadis itu tampak gugup hingga tangan yang memegang kotak itu bergetar. Astaga, kenapa gadis di hadapannya ini begitu menggemaskan?

Mengambil alih kotak itu, Ki Bum mengambil cincin yang berukuran lebih kecil, kemudian meraih tangan kanan gadis itu setelah meletakkan kotak beludru tersebut, menyematkannya pada jari manis yang tampak lebih kecil dari miliknya.

Hei, bagaimana bisa dia membelikan ukuran yang sangat pas untuk gadis ini?

S-seonsaengnim juga pakai…”

Hm?” Ki Bum sempat tak mengerti namun hanya sepersekian detik dirinya paham. “Pakaikan untukku?” pinta Ki Bum kemudian.

Dengan wajah merona, Soo Rin menyematkan cincin yang lebih besar itu ke jari manis Ki Bum yang tentunya tampak lebih besar dari miliknya. Dan, itu juga sangat pas untuk pria itu.

“Itu sangat cocok!”

Keduanya menoleh pada Jeno yang tampak sumringah melihat keduanya. Bahkan anak kecil itu mengacungkan dua ibu jarinya dengan antusias. Membuat keduanya tertawa kecil melihat keluguan Jeno.

Ya, dan ini sangat indah, batin Soo Rin.“Terima kasih, Seonsaengnim,” ucapnya kemudian.

Dan, Soo Rin merasakan tangan besar itu mengusap puncak kepalanya dengan lembut, penuh kasih sayang.

****

Tampak Soo Rin tengah menekuri sesuatu di meja ruang tengah. Baru saja dirinya selesai menemani Jeno hingga adiknya itu terlelap. Sedangkan Ki Bum yang baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri kini menghampiri gadis itu lalu berjongkok di dekatnya.

“Apa yang kau lakukan dengan cincin itu?”

Eoh? Ah, ini? Aku mengubah fungsinya menjadi kalung.” Soo Rin memamerkan cengirannya seraya memamerkan hasil kerjanya. Cincin pemberian Ki Bum kini tampak menggantung setelah diberikan sebuah tali rantai kecil. “Supaya tidak terlalu mencolok di sekolah nantinya,” lanjutnya kemudian.

“Begitu…” Ki Bum mengangguk paham. “Aku pakaikan?” tawar Ki Bum yang segera mendapatkan respon berupa anggukan pelan. Membuat batinnya terkekeh, eii, gadis ini masih saja gugup.

Soo Rin mengangkat rambut panjangnya sekaligus mengikatnya dengan satu tangan begitu pria itu hendak memasangkan kalung cincin tersebut. Kemudian, dia menyesali keputusannya yang meminta bantuan pria itu untuk memakaikannya. Bulu romanya meremang begitu kulit hangat itu menyentuh sekitar leher hingga tengkuknya. Memicu gejolak itu muncul kembali di benaknya hingga mendorong jantungnya untuk berdetak di atas normal lagi. Oh, astaga, tidak lagi…

Ki Bum sendiri tidak terlihat sebagaimana ekspresinya yang tampak begitu tenang. Jauh di dalam benaknya, muncul gejolak yang begitu memberontak kala melihat kulit putih itu, ia juga merasakan desiran di benaknya menggila begitu kulit tangannya berhasil menyentuhnya. Hingga tanpa disadari, ia tidak segera beranjak begitu tugasnya selesai.

“Apakah sudah terpasang?” Soo Rin bahkan bertanya dengan suara yang sudah masuk ke dalam taraf cicitan. Dan, keningnya harus mengerut karena tidak langsung mendapatkan jawaban. Apakah pertanyaannya tidak terdengar? Sepertinya begitu. “Seon—”

Soo Rin terpaksa menelan suaranya bulat-bulat begitu sebelah tangan besar itu menelusup dari sisi kiri wajahnya, melingkari dagunya demi merengkuh sisi kanan wajahnya. Dan, bagaikan dihantam, jantung Soo Rin berjengit hebat begitu merasakan sesuatu yang begitu asing menyentuh kulit lehernya. Semakin menjadi kala merasakan benda itu mulai bergerak di sana. Tubuhnya menegang seketika dan semakin tegang begitu merasakan tangan lain melingkari perutnya, merapatkan punggungnya pada dada bidang yang berada di belakangnya!

Sisi liar pria itu keluar dari pertahanannya, menguasai akal sehatnya hingga menghentikan sistem kerja otaknya yang selama ini berjalan dengan baik. Kini hanya naluri yang dia andalkan, memeluk gadis itu dengan begitu posesif, menciumi leher yang terus menggodanya dengan penuh rasa. Hanya saja, dia masih mengerti bahwa gadis ini pasti merasa asing dengan perbuatannya, karena itu dia melakukannya dengan penuh kehati-hatian. Di samping itu, dia juga ingin menyalurkan perasaannya melalui ini. Karena dia tahu pasti, bila dengan cara yang biasa pasangan lain lakukan, sudah dipastikan dia tidak akan bisa berhenti.

Ki Bum segera menghentikannya ketika menyadari gadis ini bagaikan patung, dan beralih menjatuhkan pundaknya tepat di bahu gadis ini, yang sebenarnya tak dapat dipungkiri bahwa gadis di pelukannya ini masih tak berkutik. Ki Bum bahkan dengan kurang ajarnya menghirup aroma gadis ini dalam-dalam dan menghembuskannya tepat di permukaan kulit leher gadis ini. Jelas saja membuat tubuh ramping itu bergetar. Dan Ki Bum semakin mengeratkan pelukannya, yang justru semakin meningkatkan intensitas keintiman yang menguar di diri mereka.

S-saem…”

Hm?”

“Kau…” dengan sekali coba dan sekali hentak, Soo Rin berhasil membebaskan diri dan segera menghadap pria itu. “KAU BENAR-BENAR GURU MESUUUUUUMM!!!”

Awalnya Ki Bum merintih karena gadis ini mulai menyerangnya dengan pukulan-pukulan keras. Namun lama kelamaan, seiring dirinya mulai mampu menangkis segala serangan gadis ini, Ki Bum terbahak. Apalagi melihat wajah cantik itu sudah terlihat seperti kepiting rebus yang baru saja matang.

“TIDAK ADA YANG LUCU, SEONSAENGNIM!!”

“Wajahmu terlihat sangat lucu, Soo Rin-ah.”

“AKU BUKAN BADUT!!”

“Aku tidak pernah berpikir seperti itu.”

“MENYEBAL—”

Seluruh gerakan brutal Soo Rin terhenti begitu pria itu berhasil menangkap kedua tangannya, membawanya ke belakang tubuh Soo Rin yang otomatis membuat pria itu kembali memeluknya. Wajah tegas itu menempatkan diri tepat di depan telinga Soo Rin.

“Itu adalah hal yang wajar, Park Soo Rin. Karena kau sudah menjadi gadisku,” bisik Ki Bum, menekankan kalimat terakhirnya, lalu dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, Ki Bum mengecup telinga gadisnya itu. Yang jelas saja membuat sang empu terkesiap sebelum kembali naik pitam.

“KYAAAAAAA! KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAAAAAANN!!”

PLAK!

“Aww!”

 

Epilog

“Minggir kau, Gemuk! Kau menghalangi jalanku!”

Siswa itu berteriak seraya menyenggol seorang siswi hingga sang siswi memekik karena hampir terjatuh. Dan perlakuan siswa itu mampu mengundang perhatian para murid yang berada di koridor tersebut.

Namun tiba-tiba saja siswa itu didorong oleh seseorang hingga tubuh tegapnya itu membentur tembok kelas, naasnya kepalanya juga ikut terbentur karena dorongan kuat yang dia dapat.

“Seharusnya kau yang minggir karena jelas-jelas kau yang menghalangi jalannya, Dasar Bodoh!” umpat seorang siswi yang baru saja mendorong siswa itu. Dia—Soo Rin—menatap datar siswa yang kini sudah menatap tajam dirinya dan hendak membalas. “Dan jangan sesekali mengejek gadis gemuk. Apa kau buta? Di sini tidak ada gadis gemuk!”

Aishi!” siswa itu mengumpat karena lagi-lagi dirinya dipojokkan. Memilih untuk mengalah, dia melanjutkan perjalanannya. Tak disangka bahwa ketika dirinya berbalik, kini dia benar-benar bertubrukkan dengan seseorang hingga tanpa sadar dirinya mengomel. “Minggir kau, Dasar Kacamata!!”

“Soo Rin-sshi! Kau dengar itu? Dia mengataiku Kacamata! Tolong marahi dia!!”

“ANDA MEMANG BERKACAMATA, KI BUM SAEM!!” tanpa sadar emosi Soo Rin muncul melihat kelakuan pria yang tak lain adalah gurunya itu begitu kekanakan dengan mengadu padanya. Diulang, mengadu padanya! Tidakkah itu terdengar sangat aneh? Memang sangat aneh!

Sedangkan siswa itu harus melongo bodoh seraya mencoba membuat pertahanan diri demi menghadapi amarah dari gadis yang terkenal bar-bar itu. Apalagi dia sudah mengumpat pada seorang guru. Sungguh, untuk yang itu, dia memang tidak sengaja!

Soo Rin segera menoleh siswa itu dengan tatapan tidak enak. “Tidak apa-apa. Pergilah!” usirnya lalu kembali menatap tajam Ki Bum. “Dan lagi, mana ada seorang guru mengadu pada muridnya karena diejek?!”

“Kau terlihat keren jika sedang seperti itu, Soo Rin-sshi,” balas Ki Bum dengan kalemnya.

“Hentikan, Seonsaengnim!!”

Lagi-lagi mereka berdebat aneh seperti biasa. Layaknya hubungan guru dan murid yang tidak harmonis di mata murid-murid lainnya, serta, mereka sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Karena, melihat sikap Soo Rin yang tidak terlihat takut dengan apapun juga Ki Bum yang selalu meladeni jika gadis itu marah-marah karena kejahilannya.

Yeah, seperti biasa.

Begitu juga di rumah.

“Aku pulang!”

“Selamat datang kembali, Yeobo!”

Seperti biasa Soo Rin akan menyambut kepulangan Ki Bum dengan kostum menggemaskan yang selalu berbeda-beda. Kini dia mengenakan celemek seperti maid karena bentuknya yang begitu mencolok; berbentuk hati. Entah dari mana Ki Bum mendapatkan celemek-celemek itu. Mungkin karena hobi memasaknya jadi pria itu membutuhkan berbagai macam suasana dalam berpenampilan selama di dapur. Tidak, tidak, bahkan dia hanya memakai celemek sederhananya itu setiap memasak. Jadi sudah dipastikan bahwa celemek-celemek itu memang dikhususkan untuk Soo Rin. -_-

“Jeno-yaa! Kau tampak begitu menggemaskan hari ini!!” seru Ki Bum seraya memeluk anak kecil itu dengan gemasnya. Memberikan kesenangan pada yang dipeluk. Lihat saja, Jeno tampak begitu bahagia di pelukan Ki Bum.

Oh ya, perlu ditegaskan bahwa Jeno juga selalu ikut menyambut kepulangan Ki Bum.

“Bisakah aku menyambut dengan penampilan biasa saja? Ini terlihat berlebihan, Seonsaengnim.”

No, no!” Ki Bum menggoyangkan jari telunjuknya. “Bukankah sudah kukatakan berkali-kali? Tidak memakai kostum, tidak ada jatah makanan untukmu!”

Yaa! Mana bisa begitu?!”

Cah, Jeno-ya, kau ingin makan apa malam ini?”

Jjampong!”

“Diterima!”

Seonsaengnim!!”

Yah, setidaknya kehidupan aneh mereka masih berjalan sebagaimana semestinya.

.

.

faster tha a kiss
cr (click) here ^^


hyaaaaaaaaaahh!! Aku gatau ini berhasil atau gagal huweeeeeeehh ><
well, ini merupakan kisukisu new version ^^ Dan aku ambil dari manga favoritku heheheh

Sebenernya itu manga ada 12 comic loh!! Dan aku cuma ambil di comic pertama, itupun aku ringkas. Rencananya, kalo ada yg minta lanjutannya yah. aku bakal ngeringkas comic yg ke-2 bahahahah //nggadeh-__-//

Jadi, ga semua bagian aku ambil. Bahkan aku melakukan improvisasi biar ceritanya tetep keliatan nyambung >< tapi kalo ngga plus alurnya kecepetan, aku mohon maaf ya ;__;

Oke! Ada salam dari yang lain~

 

Jeno
Jeno
super-junior-eunhyuk
Hyuk Jae Seonsaengnim
Tao Seonsaengnim xD
Tao Seonsaengnim xD

Oh ya! Origami cincin emang ada loh~ ^^

carigold
cr.carigold

TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR!! ^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

17 thoughts on “Faster Than A Kiss

  1. Gak tau pengen komen apaan jadinya curhat aja yah, ceritanya abis baca ini langsung pengen praktek bikin cincin origami dan hasilnya gagal total dan awut-awutan.. -_-

      1. Berasa pabo banget kalah ama anak TK sebelah rumah, pulang2 bawa origami bentuk burung.. Sedangkan saat saga mencoba membuatnya sendiri malah binging sendiri -_- *guekalahpamorsamaanakkecil*

      2. ugh….tak apa, di samping itu, masih banyak orang yg lebih payah (read: saya) T^T
        aku paling payah soal lipat-melipat & gambar menggambar.. sungguh 2 tangan saya gabisa apa-apa kalo soal itu hahahah #curcol-.-

      3. kadang suka malu sama umur (ketauan tuwir) wkwkwk.. tapi untung kedua tangan kita masih bisa bikin cerita yang menarik kekekeke ^^

  2. Beda sifat sama soo rin yang biasanya, tapi sukaaa bangeettt sama jenonya ngegemesiinn…
    pinter buat jejak dari permennya, ditunggu cerita selanjunya kak 🙂

  3. keren!!!
    kalo bisa lanjut ampe bener2 jdi happy family..
    kayanya jeno sengaja deh ngejatohin permen2 nya biar kibum bisa nyari mereka tanpa pusing.
    hahhaa keren!!
    squel yaaa~ii hahhaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s