Posted in Category Fiction, One Shot, PG-17, Romance

Get Better Soon…

gbscover

Genre :: Absurd (again), Romance

Rated :: PG…17

Length :: One Shot

||Kim Ki Bum ♥ Park Soo Rin||

a sequel of Get Well Soon

Yeah, ini sequel dari cerita sebelumnya itu. Yelah bener kan, pake diadain sequel segala -_- makin ngambang aja bahahah Ga suka ya ga usah baca ya._.

Happy reading!

awas typos! ㅡㅡ

.

.

“TETAPLAH berbaring sampai aku pulang. Aku akan pulang cepat hari ini.”

Soo Rin memaksakan kedua matanya yang terasa berat dan panas untuk terbuka. Langsung saja indera penglihatannya itu mendapati sosok pria yang terduduk di sebelahnya tengah mengusap kepalanya, menatapnya penuh kehangatan sebelum bergerak mendekatinya dan mengecup puncak kepalanya. Belum sempat dirinya mengucapkan sepatah kata, pria itu sudah segera bangkit dan meninggalkannya sendirian di dalam kamar.

Hening segera menyelimuti setelah terdengar suara pintu apartemen ini tertutup lalu terkunci secara otomatis. Soo Rin menatap langit-langit kamar dengan pandangan sayu. Sudah hampir dua hari dirinya terserang demam tinggi dan tak terlihat tanda-tanda kesembuhan. Sepertinya dia tidak seberuntung Kim Ki Bum yang hanya terserang demam dalam semalam saja. Setelah kemarin pria itu beristirahat hingga sembuh total, justru Soo Rin yang menggantikan posisinya sekarang. Yah, sepertinya dia memang tertular Ki Bum dan ini merupakan pembalasan karena sudah bersikap diktator pada pria itu.

Sebenarnya kemarin Ki Bum sudah melarangnya untuk berangkat kuliah dan menyuruhnya beristirahat, tapi Soo Rin memilih untuk membantah dengan alasan kuis mata kuliahnya yang sangat penting karena akan dijadikan nilai tambahan di semester akhir tahun ini nanti. Ternyata dia juga harus melaksanakan tugas kelompok yang memakan waktu hingga menjelang malam dan baru kembali ke apartemen pada pukul 7, yang di saat itulah dirinya hampir jatuh pingsan karena suhu tubuhnya yang mencapai 38,1 derajat celcius. Lebih tinggi dibandingkan pria itu sebelumnya.

Dan sepertinya hari ini Soo Rin akan kembali membantah perintah pria itu. Lihat saja, dia mulai turun dari tempat tidurnya dan melangkah tertatih menuju kamar mandi, bahkan dia membasuh diri meski dengan menggunakan air hangat, berganti pakaian, menata diri, lalu membereskan buku-bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas.

Dia memilih untuk tetap berkuliah hari ini.

****

:: Inha University – 253 Yonghyeon-dong, Nam-gu, Incheon

||at Humanities Faculty’s cafeteria||

“Astaga, Park Soo Rin, tidak seharusnya kau berada di sini! Lihatlah dirimu, kau seperti zombie. Benar-benar mengerikan!”

Soo Rin hanya mendengus halus mendengar celoteh temannya itu. Lebih tepatnya, seniornya itu. Seorang pria berwajah sangat manis dan juga… cantik, bahkan mampu mengalahkan kecantikan semua perempuan di kampus ini. Sejak dirinya mendudukkan diri di salah satu meja kantin bersama teman kelompoknya, seniornya yang kebetulan mendapatkan kelas mata kuliah yang sama dengannya hari ini terus mengekorinya hingga ke tempat ini, dan terus menceramahinya karena melihat kondisinya yang… begitu mengerikan untuk level orang normal. Wajah yang begitu pucat dengan lingkaran hitam yang menghiasi di sisi mata. Sangat mendukung untuk disebut sebagai zombie, bukan mahasiswi fakultas Humaniora.

“Kau bahkan tidak terlihat fokus selama di dalam kelas tadi. Sudah berapa kali kau ditegur oleh Dosen Cho tadi. Dan, coba rasakan ini… Ya! Apa kau tidak bisa merasakan suhu tubuhmu sendiri? Kau sudah seperti kompor!” cecar seniornya itu lagi—Kim Hee Chul.

Sunbae, jika Sunbae terus seperti ini, aku tidak yakin bahwa Sunbae adalah seorang laki-laki,” gumam Soo Rin acuh. Tak peduli bahwa pria itu menatap tajam dirinya.

Yaishi! Gadis ini benar-benar!” Hee Chul menjitak pelan namun gemas kepala Soo Rin. Tapi ternyata efeknya mampu membuat Soo Rin mengerang karena kepalanya yang berat itu menjadi berdenyut tak karuan. Membuat pria itu mulai kelabakan dan merasa bersalah. “Lihat, lihat! Kau terlihat menyedihkan, Park Soo Rin!” tapi Hee Chul memilih untuk memojokkan gadis itu lagi. -_-

Sunbae!” keluh Soo Rin tak terima.

“Sudahlah, hentikan!” salah satu teman kelompok Soo Rin mencoba menengahi. Seorang pria tampan yang duduk tepat di hadapan Soo Rin—Kim Myung Soo. Dia sudah merasa gerah meski sudah berkali-kali melihat dua makhluk itu selalu berdebat di manapun dan kapanpun mereka dipertemukan. Sebenarnya dia berpihak pada seniornya kali ini. Melihat kondisi gadis itu yang tampak menyedihkan dan memprihatinkan hari ini, sudah seharusnya dia mengambil tindakan mengingat dirinya merupakan ketua kelompok ini. “Soo Rin-ah, lebih baik kau pulang. Tugas kita masih memiliki waktu hingga minggu depan. Kau masih bisa bergabung dan kami akan menunggumu pulih.”

“Bagaimana jika aku tidak pulih sampai minggu depan?!” protes Soo Rin yang jelas saja membuat teman-teman sekelompoknya merasa geli.

“Karena itu istirahatlah supaya kau cepat sembuh, bodoh!” timpal seorang teman yang lain—Park Cho Rong. Seorang gadis cantik yang duduk tepat di sebelah Soo Rin. Sempat dirinya menyikut pelan lengan Soo Rin karena rasa gemasnya terhadap gadis yang… bisa dikatakan keras kepala ini.

Dan Soo Rin harus memberengut mendengar masukan dari teman-temanya yang lebih berpihak pada Kim Hee Chul. Membuat pria cantik itu tersenyum penuh kemenangan sekaligus membuatnya semakin gencar memojokkan Soo Rin. “Kau lihat sendiri? Cepatlah pulang dan mintalah pada priamu itu untuk mengobatimu. Eii, lagipula bagaimana bisa pria itu tidak menyadari bahwa gadisnya sedang jatuh sakit seperti ini. Benar-benar.”

Mwo? Sunbae menyalahkan Kim Ki Bum?” Soo Rin menatap tak suka pada Hee Chul. Tiba-tiba saja dirinya merasa tersinggung dengan perkataan pria di hadapannya sekarang ini.

Wae? Apa aku salah? Bukankah sudah terlihat bahwa pria itu tidak peduli dengan kondisimu? Kau bahkan dibiarkan lepas begitu saja dan berakhir di sini dengan kondisimu yang semakin terlihat menyedihkan. Lihat saja, pria itu bahkan lebih mementingkan tugas magangnya dibandingkan dirimu yang jatuh sakit.”

“Kim Ki Bum tidak seperti itu!!”

Seketika suasana meja itu berubah menjadi hening. Sekaligus mengundang perhatian orang-orang di sekeliling mereka. Melihat gadis itu tiba-tiba berdiri sekaligus menatap tajam pada senior mereka itu. Bahkan yang ditatap tajam olehnya pun terlihat tercengang. Batinnya menggumam, apakah dia salah bicara? Ya, tentu saja kau salah bicara, Kim Hee Chul.

“Aku yang memaksakan diri untuk tetap pergi ke kampus demi memenuhi tugas kelompok ini! Aku bahkan lebih memilih untuk membantah Kim Ki Bum yang sudah menyuruhku untuk tetap berbaring di tempat tidur hanya demi tugas kelompok ini!”

Hee Chul mengerjap bingung. Tidak biasanya dia akan mendapatkan semprotan seperti ini dari Soo Rin. Padahal biasanya jika dia mengatakan berbagai hal yang jelas memojokkan, Soo Rin tidak pernah bereaksi seperti ini. Apakah karena penyakit demamnya itu Soo Rin menjadi tampak… sensitif?

Cho Rong  ikut berdiri, berniat untuk menenangkan Soo Rin dan menuntun gadis itu untuk kembali duduk. Dia juga mulai merasa salah tingkah karena menyadari mulai banyak pasang mata yang menghujani mereka karena penasaran dengan apa yang tengah terjadi di meja mereka ini. Tapi sepertinya niat baiknya itu tidak digubris oleh sang empu karena gadis itu harus mendesah kala Soo Rin kembali berseru.

“Kim Ki Bum bahkan sempat berpikir untuk absen hari ini hanya karena aku sakit. Bahkan jika Kim Ki Bum tahu aku tetap masuk kuliah, dia pasti akan memarahiku! Seharusnya kau berpikir terlebih dahulu sebelum menghinanya! Kim Ki Bum tidak pernah tidak peduli padaku, Kim Hee Chul!!”

Oke, Hee Chul akui bahwa dia sudah kelewatan mengingat gadis itu sedang dalam kondisi memprihatinkan dan tidak seharusnya dia membawa-bawa Kim Ki Bum di keadaan seperti ini. Apalagi melihat wajah pucat itu mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa sang pemilik wajah ingin menangis. Oh, astaga, Hee Chul benar-benar merasa bersalah sekarang.

Soo Rin sendiri tidak mengerti kenapa dirinya begitu emosi menghadapi komentar dari seniornya yang selalu terdengar pedas di telinga, hari ini. Selama ini dirinya sudah merasa kebal dengan segala macam komentar tak berbelas kasih dari mulut seorang Kim Hee Chul, dan entah mengapa hari ini batinnya terasa ditonjok berkali-kali dengan segala sindiran pria itu. Apa karena dirinya sedang sakit? Atau karena pria di hadapannya itu membawa-bawa nama Ki Bum?

Soo Rin bahkan merasakan dadanya naik-turun hingga sekarang. Kepalanya semakin terasa berat dan pandangannya mulai berputar-putar. Bahkan dia merasakan keringat dingin semakin deras membanjiri sisi wajahnya. Sepertinya amarahnya barusan telah sukses membuat tubuhnya semakin mencapai titik lemah dan melemaskan seluruh sistem kerja syarafnya. Dia hampir jatuh pingsan jika tubuhnya tidak segera ditangkap oleh seseorang.

Semua orang di meja itu harus terkejut melihat gadis itu sudah jatuh ke dalam pelukan Ki Bum. Entah bagaimana caranya pria itu sudah berada di sekitar mereka, yang jelas sekali berada di dalam kantin fakultas yang sangat jauh dari fakultas pria itu berada. Apakah pria itu memiliki semacam pintu ke mana saja seperti milik Doraemon? Tanda-tanda bahwa pria itu akan datang pun tidak ada yang menyadari. Jangankan mereka, orang-orang yang berada di sekitar mereka pun tampak terpana dengan kedatangan pria itu.

Bahkan Soo Rin sendiri juga terkejut begitu melihat wajah tegas itu tengah menatap datar dirinya di dalam pelukannya. Bukankah seharusnya pria ini ada di rumah sakit? Kenapa tiba-tiba dia ada di kampus? Bahkan berada di kantin fakultasnya? Oh, tidak, jangan katakan bahwa hari ini merupakan jadwal pria ini berkonsultasi sehingga jadwal magangnya di rumah sakit ditiadakan.

Mati kau, Park Soo Rin, kau sudah tertangkap basah!

“Maaf, bisakah jadwal tugas kelompok kalian hari ini ditunda? Soo Rin harus segera pulang untuk beristirahat.”

Langsung saja ketiga makhluk itu mengangguk menyetujui. Hei, bahkan seorang Kim Hee Chul yang jelas-jelas lebih tua pun dengan mudahnya memenuhi permintaan Ki Bum! Padahal, anggota kelompok pun bukan. Dia hanyalah seorang senior yang sedang tidak memiliki teman sehingga merecoki Soo Rin dan teman-teman kelompoknya hari ini.

“Terima kasih,” ucap Ki Bum sesopan mungkin sebelum kemudian menuntun gadisnya untuk pergi dari tempat itu.

Sedangkan Soo Rin—gadis itu memilih untuk tidak membantah lagi. Pasrah.

****

“Sudah, berhenti menangis.”

Tampak gadis itu tengah sesenggukan dengan tubuh setengah terbaring di atas tempat tidur. Mata ovalnya terlihat sembab karena terus menangis sejak menginjakkan kaki di apartemen mereka ini. Membuat Ki Bum sedikit kewalahan menghadapi gadisnya yang tanpa ia prediksi akan mengucurkan air mata seperti sekarang ini.

“Hee Chul Sunbae… tidak seharusnya menjelek-jelekkan dirimu… seperti itu,” ucap Soo Rin terbata-bata karena tangisnya. “Kau… tidak pernah bersikap… tidak peduli padaku… hiks… Seharusnya dia tidak… berkata seperti itu… hiks…”

Ki Bum hanya tersenyum menanggapi kata-kata Soo Rin. Yah, dia cukup mendengar teriakan gadisnya tadi yang berisi sebuah pembelaan untuk dirinya. Memang benar bahwa dia tidak memiliki jadwal magang di rumah sakit dan berganti dengan jadwal konsultasinya dengan Dosen Kang mengenai tugas magangnya itu, hari ini. Dia juga mengetahui bahwa Soo Rin melanggar perintahnya untuk tetap berdiam diri di apartemen mereka karena niatnya yang ingin menyampaikan izin kepada salah satu teman Soo Rin tadi, dia mengunjungi gedung fakultas gadis ini dan tidak sengaja melihat bahwa ternyata gadisnya ini datang dan tampak baru keluar dari kelas kuliahnya. Tentu saja Ki Bum sempat merasa marah, tapi niatnya yang ingin menegur gadisnya ini justru sirna setelah melihat kejadian di kantin tadi. Apalagi gadisnya langsung menangis begitu sampai di apartemen.

Soo Rin masih menangis kala Ki Bum menyeka wajah berkeringatnya dengan handuk kecil yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat. Wajah pucatnya bercampur dengan rona kemerahan yang terpancar akibat tangisnya. Berkali-kali mulutnya berceloteh mengenai kekesalannya terhadap Kim Hee Chul yang belum juga hilang. Entah mengapa sindiran dari pria cantik itu masih saja berputar-putar di ingatannya yang justru semakin membuatnya kesal. Dan tingkahnya saat ini juga membuat Ki Bum heran sekaligus gemas karena gadis ini sangat jelas tidak memikirkan diri sendiri, melainkan dirinya.

“Kim Ki Bum… maafkan aku. Aku… sudah melanggar perintahmu, dan… karena aku, kau diolok-olok oleh Hee Chul Sunbae…” Soo Rin semakin deras menangis. Membuat pria itu harus berkali-kali mengusap air matanya yang terus mengalir itu.

“Bukankah Kim Hee Chul memang seperti itu? Kau tidak perlu menganggap ucapannya terlalu serius, Soo Rin-ah.”

“Tapi… tapi dia sudah berkata kasar soal dirimu… di depanku!”

“Aku yakin dia tidak mengucapkannya dengan sepenuh hati.”

“Dia mengatakan bahwa… bahwa kau tidak pernah peduli padaku. Kau… lebih memilih untuk sibuk dengan tugas magangmu dibandingkan aku… yang sedang sakit. Padahal… padahal kau sudah berkali-kali memperingatkanku… dan aku justru melanggarnya… hiks… Seharusnya dia menyalahkanku, bukan kau…” Soo Rin tergugu, membuat Ki Bum menggeleng heran. Sepertinya penyakit demam tingginya ini membuat gadisnya begitu sensitif hingga berujung menjadi gadis cengeng. Padahal dirinya sendiri yang menjadi korban mulut pedas Kim Hee Chul tidak mengambil pusing segala komentar yang tertuju untuknya itu. Gadisnya ini justru memikirkannya dibandingkan diri sendiri. Benar-benar.

Ki Bum semakin tidak tega melihat Soo Rin yang tidak berhenti menangis. Kondisi tubuhnya yang semakin melemah justru akan membuatnya sulit untuk bernapas jika terus sesenggukan seperti sekarang ini. Bagaimana caranya supaya gadisnya ini berhenti menangis?

Dengan sekali berpikir, Ki Bum segera menemukan caranya. Langsung saja ia praktekkan, merengkuh wajah pucat gadisnya, Ki Bum mengecup bibir pucat itu dengan lembut. Dan ternyata, sukses besar. Soo Rin segera berhenti menangis. Matanya mengerjap berkali-kali, tampak lucu di mata Ki Bum.

“Aku tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan. Seharusnya kau memikirkan kondisimu dan beristirahat. Jika kau terus seperti ini, kau justru membuatku semakin khawatir dan kebingungan bagaimana menyembuhkanmu.”

Soo Rin masih tampak sesenggukan sesekali meski sudah tidak menangis. Matanya yang sayu dan masih berair itu menatap penuh sesal pada Ki Bum. “Mianhae…

Ki Bum menggeleng seraya tersenyum hangat. “Gwaenchanha. Sekarang, kau hanya perlu berpikir bagaimana supaya kau cepat sembuh agar kembali berkuliah seperti biasanya. Yaitu kau harus beristirahat dan mendengarkanku, mengerti?”

Soo Rin mengangguk patuh. Wajah pucatnya tampak lucu dan menggemaskan membuat Ki Bum tak tahan untuk mengusap lembut pipi yang tampak sedikit memerah di balik rona pucatnya.

Cah, sekarang berbaringlah. Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu. Lihat, kau berkeringat banyak.”

Soo Rin menunduk. Memang benar bahwa tubuhnya terasa basah karena keringat dingin yang terus merembas hingga membasahi pakaian yang dikenakannya ini. Dia juga merasa tidak nyaman karena dia seperti baru saja tercebur kolam. Hanya saja, belum sempat Ki Bum menuntunnya untuk berbaring lebih nyaman, Soo Rin keburu memanggil pria itu karena… tiba-tiba saja dia menginginkan itu…

“Kim Ki Bum…”

Hm?”

Dashi…

Ki Bum mengangkat kedua alisnya. “Apa?”

Dashi… ppoppo…

Samar-samar Ki Bum melebarkan mata, namun batinnya sangat jelas berdentum karena terkejut mendengar kata gadisnya. Hei, perlu ditekankan sekali lagi bahwa gadisnya meminta ppoppo! PPOPPO!! Bagaimana cara Ki Bum menjelaskan bahwa dirinya begitu terkejut mendengar permintaan langka dari seorang Park Soo Rin?! Sedangkan Soo Rin hanya menatap penuh harap pada Ki Bum. Entahlah, mungkin karena demam tingginya ini otaknya menjadi sedikit bergeser hingga dengan mudahnya ia meminta hal itu.

Tapi Ki Bum tidak mau berpikir muluk-muluk, takut jika dia terlalu banyak berpikir maka gadisnya akan berubah pikiran. Dengan segera Ki Bum memagut bibir Soo Rin dan memberikan kecupan ringan—berkali-kali. Menciptakan sensasi yang meletup-letup di benak keduanya sekaligus menggelitik perut mereka. Entah keberanian dari mana, dengan perlahan kedua tangan Soo Rin bergerak mengalungi leher Ki Bum yang justru membangkitkan gejolak pria itu hingga kecupannya berubah menjadi lumatan-lumatan yang menggoda. Sebelah tangannya segera beralih merengkuh pinggang gadisnya demi mempermudah tangan ramping itu mengalung di lehernya, sekaligus merapatkan diri. Merasakan panas tubuh gadisnya hingga menyambar ke tubuhnya seperti listrik statis.

Bibirnya mengeksplor lebih jauh bibir manis gadisnya dengan menyesapnya penuh perhatian. Memiringkan kepala demi memberikan akses gadisnya untuk bernapas di sela-sela ciumannya yang bergerak semakin intens. Bahkan, lidahnya ikut andil merasakan kelembutan dari bibir yang terasa panas karena demam. Sampai dirinya dibuat menggeram tertahan karena merasakan balasan dari gadisnya ini. Pergerakan yang terbilang hati-hati itu ternyata sukses membuat benak Ki Bum serasa menggelegak, membuat pria itu semakin menguasai permainan ini.

Hingga beberapa saat kemudian, sebelah tangan besarnya yang masih merengkuh wajah cantik itu bergerak, membelai pipi yang sudah merona itu, turun menelusuri leher jenjang yang berkeringat itu, semakin turun menuju kerah pakaian gadisnya, menyentuh kancingnya, dan… membukanya satu-persatu.

****

Soo Rin tersadar dari lelapnya, menyadari dirinya sudah terbaring meringkuk di dalam selimut tebal, sendirian. Kepalanya bergerak menelusuri tiap sisi ruang yang mampu tertangkap oleh pandangannya, ya, dia memang sendirian di dalam kamar. Perlahan dirinya mencoba mendudukkan diri, lalu sedikit tercengang melihat jam dinding kamar telah menunjukkan pukul 8 malam. Wah, sangat aneh baginya yang bisa terlelap begitu nyenyaknya selama hampir 6 jam lamanya dalam kondisi seperti sekarang.

Aah, benar juga, dia bisa tertidur nyenyak pun karena dipeluk oleh prianya itu. Mengingat terakhir kali dirinya mengeluh tidak bisa memejamkan mata hingga pria itu berinisiatif memeluknya sampai dirinya tenggelam ke alam bawah sadar, cukup membuat pipinya merona. Astaga, Park Soo Rin, sepertinya demam tinggimu mampu membuat dirimu begitu manja terhadap Kim Ki Bum. Menggelikan. -_-

Soo Rin menyingkap selimut tebalnya, berniat untuk turun dari tempat tidur. Namun ia tampak terdiam sejenak begitu kedua kakinya berhasil menyentuh dinginnya lantai lalu menunduk demi mengambil napas. Dan, ia harus dibuat bingung sesaat.

Rasanya tadi bagian lengannya dia lipat hingga melewati siku, tapi kenapa sekarang pakaiannya menutupi seluruh lengannya bahkan menenggelamkan tangannya?

Tunggu, rasanya Soo Rin tidak memakai pakaian ini sebelumnya. Bukankah tadi pagi dia mengenakan blouse berwarna biru muda dan dia belum berganti pakaian sejak pulang? Kenapa sekarang dia mengenakan… kemeja abu-abu yang sudah jelas bukan miliknya karena ini begitu kebesaran? Ah, bukankah ini milik Ki Bum? Soo Rin ingat bahwa Ki Bum mengenakan kemeja ini—tadi…

Apa? Kemeja Ki Bum?

KEMEJA KI BUM?!

Soo Rin memandang horror kemeja yang tengah dikenakannya saat ini. Dia juga sempat memeriksa bahwa dia tidak memakai pakaian lain di baliknya—ralat, hanya pakaian dalam, tidak ditemukan lagi blouse biru mudanya. Otaknya mulai berputar bagaimana caranya dia bisa bertukar pakaian dengan Kim Ki Bum. Bagaimana caranya?!

Oh, tunggu, samar-samar dia mengingat bahwa… pria itu membuka semua kancing blouse-nya kala dirinya sedang… berciuman dengan pria itu. Lalu, dia merasakan bahwa pria itu menanggalkannya, dan… dan… dan Soo Rin tidak mampu mengingatnya lagi. Lebih tepatnya, dia tidak kuasa mengingat kembali kejadian itu karena kepalanya tiba-tiba terasa mendidih hingga menjalar ke wajah pucatnya yang berubah menjadi merah padam semerah tomat! Astaga, apa yang sudah dia lakukan dengan pria itu tadi?!

Kelabakan, Soo Rin berlari keluar kamar dan mendapati pria itu sedang barada di dapur, mengaduk-aduk sesuatu di dalam gelas yang tengah dipegangnya. Dari aroma yang ditangkap, sepertinya pria itu sedang membuatkan cokelat panas, kesukaan Soo Rin. Tapi, perhatian Soo Rin segera teralihkan dengan penampilan pria itu saat ini. Celana panjang hitam yang dia ingat itu dikenakan sejak pagi tadi, hanya saja… kaus putih yang sangat pas di tubuh yang dikenakan pria itu tidak sama dengan yang dikenakannya tadi pagi. Tentu saja karena kemeja abu-abunya sudah dikenakan oleh Soo Rin!

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Sedikit membaik?” Ki Bum menyambut gadisnya itu setelah mendengar derap kaki dari dalam kamar yang ternyata langkah cepat itu adalah milik gadisnya yang tengah kemari. Mata teduhnya menatap gadis itu penuh hangat.

“Apa yang sudah kau lakukan tadi…” lirih Soo Rin. Matanya menatap Ki Bum meminta penjelasan. Kedua tangannya saling menangkup dengan meremas ujung kerah kemejanya. Lebih tepatnya kemeja Ki Bum.

Melihat gelagat Soo Rin yang seperti itu membuat Ki Bum segera menangkap maksud dari pertanyaan gadis itu. Dengan santai Ki Bum menjawab, “Mengganti pakaianmu.”

“Kau… kau melihatnya?” Soo Rin mulai merasa tergagap. Oh, tanpa dijelaskan dengan detil Ki Bum pasti mengerti maksud dari pertanyaannya yang satu ini, bukan?

“Sayangnya aku tidak begitu memperhatikan karena sibuk menciummu,” jawab Ki Bum tanpa merasa bersalah. Yang jelas sekali bahwa jawabannya itu membuat gadisnya bereaksi lebih.

“Kau… kau…” Soo Rin tak mampu membalas jawaban Ki Bum dengan bentuk protes yang sudah berada di ujung lidahnya. Hingga akhirnya, tangisnya kembali pecah seraya meraung, “Kim Ki Bum memperkosaku!!” yang jelas saja membuat Ki Bum terkejut dan segera mendekati Soo Rin. Astaga, lagi-lagi gadis itu menangis dan kali ini karena perbuatannya.

Yaa, mana ada melakukan hal itu dikatakan pemerkosaan?” Ki Bum tentu saja tidak terima dengan tuduhan gadisnya itu. Hei, dia sudah tidak memiliki batasan untuk melakukan hal itu terhadap Soo Rin, bahkan lebih! Dan tentu saja hal itu tidak bisa dikatakan pemerkosaan karena hal itu sudah dihalalkan di dalam ruang lingkup status mereka, bukan? Tapi, dia ‘kan tidak melakukan itu. Dia hanya menggantikan pakaian Soo Rin!

“Kau melakukannya tanpa seizinku! Kau membuka bajuku dan kau… kau… huweeeeeeeeee!!” Soo Rin semakin gencar menangis karena tak kuasa melanjutkan kata-kata. Dia sudah sangat malu dan tidak tahu bagaimana harus bertindak.

“Aku sekedar mengganti pakaianmu dan aku tidak melakukan lebih! Hanya saja…” hanya saja aku menciummu sampai bibirmu hampir membengkak. Sayangnya Ki Bum hanya mampu mengucapkannya dalam hati. Jika dia mengucapkan secara langsung sudah dipastikan Soo Rin akan mengamuk dan tidak mau melihatnya dalam jangka waktu yang cukup lama. Heol, memikirkannya saja sudah membuat Ki Bum ketar-ketir.

Ki Bum mencoba menarik tubuh ramping itu mendekat, beruntungnya karena gadis itu tidak melawan sampai Ki Bum berhasil memeluknya. Membiarkan gadis itu membasahi kausnya karena tangisannya. Sepertinya gadis ini begitu sensitif jika sedang sakit seperti ini, apakah ini merupakan efek samping dari demam tinggi yang dideritanya?

“Baiklah, maafkan aku. Aku akan meminta izin padamu lain kali,” gumam Ki Bum hati-hati seraya menepuk lembut pundak kecil Soo Rin. Dapat dirasakan gadis ini mulai meredakan tangisannya, yang jelas saja membuat Ki Bum sedikit bernapas lega. Ki Bum melepas pelukannya, merengkuh wajah Soo Rin dan menyeka air mata yang membasahi wajah cantik itu. “Aku sudah membuatkan bubur untukmu. Kau harus makan, seharian ini kau belum mendapatkan asupan apapun.”

Dengan sesenggukan Soo Rin mengangguk lucu. Lihat, bahkan gadisnya ini sudah kembali menurut padanya, seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka sebelumnya.

“Kim Ki Bum…”

Hm?”

“Suapi aku.”

Lagi-lagi Ki Bum harus dibuat terkejut dengan permintaan Soo Rin. Baiklah, selain sensitif, sepertinya Soo Rin juga menjadi gadis yang labil karena demam yang dideritanya saat ini. Ah, bukan labil, tapi lebih tepatnya… manja.

.

.

FIN


bhaq

Maafkan daku yang sudah membuat cerita absurd tak bermutu ini. Yeah, aku akui ini emang ga mutu karena isinya cuma imajinasi liarku yang tak kunjung menghilang #dessh -__- Dan, mohon maaf kalo alurnya kecepetan dan terkesan maksa. Aku sendiri merasakan akan hal itu karena….well, aku gapunya ide buat mengisi kekosongan/? untuk cerita ini.__.

Tapi semoga pembaca menikmatinya T/\T //ngga-_-//

oke! Ada salam dari para cameos 🙂

140526-heechul-13
Heenim! XD
Kim Myung Soo a.k.a L >,<
Kim Myung Soo a.k.a L >,<
Park Cho Rong ~~><
Park Cho Rong ~~><

Terima kasih sudah mau mampir!! ^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “Get Better Soon…

  1. Suka-suka. Sukaaa bgt pokoknya. Apalagi sama sfat manja Soorin.
    Yang jd pertnyaan saya, kapan ada moment Soorin ngidam ? Hehe, gak sbr pngen liat Kisu-kisu junior.

  2. udah deg degan juga eh malah ngakak waktu soorin nya nangis wkkwkwkwk
    buat mereka punya anak dong! hihi pen tau gmna kibum sama soorin klo jd ortu..

  3. Long time no see ^^
    This couple so so so so sweet,kyaa harusnya nglakuin ‘itu’ sekalian biar cepet punya anak 😀 *pervert

    언니 대박 (y)
    I’ll wait for KiSoo children ^^

  4. Soorin kalo sakit bener2 lucu dan manja Kibum oppa dibuat terkejut sama sikap gadisnya kkkk…
    Keren…keren…keren…makin keren ceritanya nih thor benar2 pasangan yg manis KiSoo ini ❤ ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s