Posted in Category Fiction, One Shot, PG-15, Romance

Get Well Soon…

gws

 

Genre :: Absurd!

Rated :: PG-15

Length :: One Shot

||Ki&Soo||

Sorry for typos~

Happy reading!

><

.

.

ㅡㅡ

“HATCHI!!”

Sebuah suara hentakan yang cukup keras itu terdengar menggema di ruang tengah sebuah apartemen. Tampak seorang pria berkacamata tengah terduduk di salah satu sofa santai di sana, meraih selembar tissue yang tersedia di atas meja di hadapannya, lalu menggunakannya untuk mengusap hidungnya, sebelum akhirnya ia lempar ke dalam tempat sampah yang berjarak tak jauh dari posisinya saat ini. Dapat dipastikan bahwa dia telah melakukan hal yang sama sebelumnya berkali-kali, melihat isi dari tempat sampah itu hanyalah gumpalan-gumpalan tissue yang sudah ia pakai. Bahkan terlihat dengan jelas bahwa hidung mancung itu memerah padam, ditambah dirinya yang terus menggosok indera penciumannya itu karena merasa gatal.

Ki Bum—pria itu memilih untuk menyerah setelah beberapa kali menahan diri. Ia meletakkan buku bacaanya ke atas meja, melepas kacamatanya dan meletakkannya pula di sana, kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa empuknya, juga menjatuhkan kepalanya yang terasa berat sekaligus pening ke sana, memejamkan mata. Sebelah tangannya terangkat memijat kening hingga batang hidungnya, menghela napas panjang.

Bahkan ia merasakan udara yang keluar dari mulutnya terasa begitu panas begitu membentur tangannya itu. Sangat bertolak belakang dengan keadaan cuaca yang cukup dingin di luar sana. Dia juga merasakan sekujur tubuhnya terasa panas dan tentunya sangat tidak nyaman.

Well, dia memang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pagi hari tadi dia sudah merasakan tanda-tandanya. Untungnya saja ini merupakan hari liburnya dan dia bisa beristirahat dengan tenang. Namun, dia justru memaksakan diri untuk membaca beberapa buku bacaan yang sempat dipinjamnya melalui perpustakaan kampus demi mencari referensi untuk tugas akhirnya itu.

“Aku pulang!”

Sebuah suara merdu terdengar memenuhi ruangan setelah sebelumnya terdengar pula kunci otomatis pintu apartemen ini terbuka. Tak lama sosoknya terlihat yang ternyata tengah menghampiri Ki Bum. Sosok yang merupakan seorang gadis itu kini berdiri di hadapan Ki Bum. Dilihat dari penampilannya, sepertinya gadis itu baru saja pulang dari kuliahnya.

Ada yang aneh di mata gadis itu. Biasanya jika Ki Bum sedang berada di rumah seperti ini, dirinya akan mendapatkan sambutan hangat dari pria itu. Ki Bum akan menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu di sampingnya, merangkulnya sekaligus memberikan kecupan hangat di keningnya, lalu merelakan lengan kekar itu sebagai sandaran kepalanya untuk beristirahat barang sejenak. Tapi sekarang, menyambut pun tidak. Pria itu lebih memilih untuk tenggelam dengan kegiatannya sendiri; memijat keningnya berkali-kali.

“Kim Ki Bum, neo gwaenchanha?” Soo Rin—gadis itu memilih untuk menyapa lebih dulu. Ia bahkan membungkukkan tubuhnya demi memandang lebih dekat pria itu dan memastikan sesuatu.

Dengan gerakan perlahan, Ki Bum menyingkirkan tangan yang sempat memijat keningnya sekaligus menutupi sebagian wajah tegasnya itu seraya membuka mata. Langsung saja indera penglihatannya menangkap wajah cantik gadisnya itu. Seulas senyum tipis—namun masih terasa kesan hangatnya itu—tercetak di bibir penuhnya, mencoba menyambut.

“Sudah pulang? Bagaimana kuliahmu?” Ki Bum mengajukan pertanyaan rutinnya. Sebelah tangannya terulur meraih wajah cantik di hadapannya.

Eum. Kuliahku berjalan dengan lanc—” Soo Rin menghentikan kalimatnya tiba-tiba, tepat saat kulit wajahnya merasakan sentuhan tangan Ki Bum. Ia segera menggenggam tangan besar itu. “Tanganmu… terasa panas,” gumamnya kemudian. Soo Rin segera mendudukkan diri di sebelah Ki Bum setelah melepas tas kuliahnya, lalu meletakkan sebelah tangan yang lain pada kening pria itu. Soo Rin terhenyak. “Kim Ki Bum, kau panas.”

Hm…” Ki Bum tidak membenarkan ataupun mengelak. Gumamannya pun terdengar begitu lemah—di telinga Soo Rin—untuk seorang Kim Ki Bum. Namun tanpa jawaban pasti, Soo Rin sudah menebak bahwa pria ini sedang tidak sehat. Kentara sekali dari suhu tubuhnya.

“Kau demam. Lebih baik kau beristirahat di kamar. Kaja, aku bantu!” Soo Rin menarik tangan Ki Bum dengan pelan, menuntunnya untuk bangkit, kemudian menuntun tangan pria itu untuk merangkul pundaknya. Dengan senang hati Ki Bum merangkul pundak kecil gadisnya itu dan membiarkan dirinya untuk ditarik menuju ke kamar.

****

“Ini adalah akibat dari perlakuanmu yang dengan sewenang-wenangnya memaksa tubuhmu untuk terus bekerja. Sudah tahu bahwa kau akan menghadapi sidang skripsi, di samping itu kau juga harus magang di rumah sakit. Tapi kau terus saja lembur hingga pagi buta dengan alasan menyelesaikan skripsi. Kau juga sering mengabaikan waktu makan malammu dan memilih untuk mengurung diri di ruang kerjamu itu. Atau jangan-jangan kau juga begitu di kampus atau di rumah sakit selama ini? Tubuhmu itu juga membutuhkan energy, Kim Ki Bum!”

Ki Bum hanya terbaring pasrah mendengar segala bentuk ceramah yang jelas ditujukan untuknya, langsung dari mulut Soo Rin. Ia juga tak mampu membalas karena mulutnya yang disumpal dengan thermometer digital dan hanya mampu melongo seperti orang bodoh menatap gadis yang tengah berkacak pinggang di sebelah ranjangnya—lebih tepatnya, ranjang mereka._.

Yah, saat ini Ki Bum sedang tidak percaya melihat gadisnya itu tengah memarahinya. Karena dirinya jatuh sakit seperti ini. Hei, perlu diketahui bahwa ini merupakan kali pertama Ki Bum dibentak panjang-lebar oleh Soo Rin.

Gadis itu mendengus singkat demi meredakan emosinya, mendudukkan diri di pinggir ranjang, ia menarik thermometer digital itu dari mulut Ki Bum serta memeriksanya. Dan, mata ovalnya itu membulat seketika.

Mwoya, tiga puluh delapan derajat?!” Soo Rin melemparkan tatapan tajamnya—yang bukannya terlihat menyeramkan justru berbalik sangat menggemaskan di mata Ki Bum—itu untuk Ki Bum. “Ya, Kim Ki Bum! Kau tidak boleh melakukan apapun hari ini, mengerti?!”

W-wae?”

“Kau tanya kenapa? Lihat ini! Kau demam tinggi, Dokter Kim!!” Soo Rin menunjuk angka yang tertera pada benda pengukur suhu tubuh itu beberapa kali. Sedangkan Ki Bum harus mengerjap berkali-kali seperti anak kecil yang belum paham apapun…

Tanpa mengharapkan sebuah balasan, Soo Rin segera beranjak menuju pintu kamar. Membuat Ki Bum kebingungan.

Eodi ka?”

Soo Rin segera berbalik. “Mengambil kompres. Dan jangan beranjak dari tempat tidur! Mengerti?”

Ki Bum mengangguk patuh.

Begitu sosok gadis itu menghilang di balik pintu kamar, Ki Bum termenung. Heol, kenapa rasanya dia berubah menjadi pria penurut? Tidak membantah segala macam ocehan bahkan perintah dari gadisnya itu tadi. Oh, bahkan gadis itu terlihat begitu melawannya. Apakah ini merupakan efek dari penyakit yang tengah menderanya saat ini?

Belum selesai ia merenung, gadis itu sudah kembali dengan membawa sebuah baskom kecil yang dipastikan sudah berisi air hangat, juga selembar handuk kecil. Meletakkannya di nakas, Soo Rin mendudukkan diri di pinggir ranjang sebelum mencelupkan handuk kecil tersebut ke dalamnya, memerasnya, kemudian melipatnya sebelum digunakan untuk menyeka kening Ki Bum yang menampakkan tetesan-tetesan keringat dingin. Soo Rin juga menyeka bagian wajah lainnya dengan telaten.

Entah gadis itu menyadarinya atau tidak, Ki Bum tidak pernah mengalihkan pandangan sayunya dari wajah cantik itu. Ada rasa senang yang membuncah di benaknya melihat perlakuan gadis ini terhadap dirinya. Dia juga menemukan sisi di mana kala gadis itu begitu mengkhawatirkannya hingga dengan berani menegurnya melalui celotehan panjangnya, sisi yang begitu manis dan penuh perhatian.

Soo Rin meletakkan handuk yang sudah beberapa kali ia celupkan demi membasuh wajah Ki Bum, ke kening pria itu. Barulah iris kecoklatannya itu menatap mata hitam yang sayu di hadapannya. Ada sedikit jeda kala pandangan mereka bertemu. Ki Bum yang menatap penuh lekat, sedangkan Soo Rin yang mulai salah tingkah mendapati tatapan itu.

“Aku—aku akan membuatkanmu bubur. Kau belum memakan apapun hari ini, bukan?” Soo Rin kembali bangkit lalu beranjak hendak keluar kamar.

Drrt drrrtt

Sesuatu bergetar menginterupsi keduanya. Soo Rin segera berbalik begitu mengetahui apa itu. Dan mendapati bahwa Ki Bum tengah bergerak hendak meraih benda persegi yang tak lain adalah ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas lainnya. Langsung saja gadis itu melesat hingga mendahuli gerakan pria itu lalu merampas ponsel tersebut.

Ya, ponselku!”

“Tidak ada ponsel hari ini. Kau tidak diizinkan untuk menerima pesan ataupun panggilan dari siapapun hari ini. Dan aku akan menyita ponselmu!”

Mwo? Ya! Mana boleh begitu?!”

Ya, Kim Ki Bum! Sudah kubilang kau tidak boleh beranjak dari tempat tidurmu!!”

Ki Bum harus melakukan mode pause kala menyadari bahwa dirinya hampir menyingkap sepenuhnya selimut tebal yang  membungkus tubuhnya serta berniat ingin merebut ponselnya dari tangan Soo Rin. Ah, dia sudah menuruti perintah gadisnya itu untuk tidak turun dari tempat tidur sebelumnya. Bolehkah kini Ki Bum menyesal karena telah berjanji akan hal kecil ini?

Hei, kau bahkan sudah diperingatkan untuk tidak melakukan apapun hari ini, Kim Ki Bum. Dan itu dipastikan sudah menyangkup dengan boleh-tidaknya kau berurusan dengan ponsel! -_-

Soo Rin memeriksa isi ponsel Ki Bum yang baru saja bergetar menandakan adanya pesan masuk. Tertera di sana bahwa pesan itu berasal dari Ye Sung. Aah, sudah dipastikan bahwa pesan itu tidaklah penting mengingat penyanyi solo itu sering mengirim pesan ataupun menelepon Ki Bum hanya untuk menghabiskan waktunya yang kosong dari jadwal manggung. Tanpa membaca isi pesan itu terlebih dahulu, Soo Rin memilih untuk menonaktifkan ponsel Ki Bum lalu mengantonginya. Membawanya keluar kamar.

Ki Bum yang memperhatikan itu hanya bisa mendengus tak percaya. Astaga, sepertinya gadis itu bukan hanya sekedar menyuruhnya ini-itu, tapi gadis itu memang sedang mengumbar sifat kediktatorannya! Oh, tidak. Setelah dipikir-pikir lagi, gadis itu sepertinya tengah melakukan aksi pembalasan mengingat selama ini dirinya lebih mendominasi sifat tak terbantahkannya.

Sudahlah, Kim Ki Bum, nikmati saja. Setidaknya kau bisa melihat ekspresi menggemaskan milik gadismu yang lainnya itu.

Ki Bum kembali merebahkan tubuhnya dengan nyaman, membenarkan posisi handuk kecil yang sempat terlepas dari keningnya, menepuknya beberapa kali. Dan Ki Bum memilih untuk memejamkan mata seraya mendengus geli.

****

Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Gadis itu masih terjaga di pinggir ranjang. Sesekali dirinya mengambil handuk kecil dari kening Ki Bum untuk kembali dicelupkan ke dalam air hangat lalu mengompresinya lagi. Bahkan sudah lebih dari 3 kali dirinya mondar-mandir mengganti air kompres yang sudah dingin. Dan ini merupakan kali ketiga dirinya menyentuh wajah pria itu demi memeriksa suhu tubuhnya.

“Sudah menurun…” lirihnya. Dia juga mengambil thermometer digital yang baru—yang ia selipkan pada bagian ketiak pria itu—begitu terdengar bunyi pip lalu memeriksanya. 37,7 derajat celcius. Setidaknya usahanya yang terus mengompresi pria ini tidaklah sia-sia. Well, mungkin ini juga terbantu karena pria ini sempat meminum obat penurun panas sebelum terlelap sekitar 3 jam yang lalu. Sepertinya obat itu sudah bekerja di dalam tubuhnya.

Soo Rin menghela napas panjang yang sarat akan kelegaan. Mata coklatnya yang kini tampak meredup karena mulai dirundung rasa kantuk kini menatap lekat wajah tegas yang terlelap dalam damai. Dengan hati-hati tangan rampingnya menelusuri lekuk wajah Ki Bum, takut bahwa sentuhannya dapat mengganggu waktu istirahat pria ini.

“Aku harap esok hari kau sudah kembali seperti semula,” gumam Soo Rin. Tanpa sadar senyumnya mengembang meski sangat tipis. “Kau membuatku khawatir. Kau tidak seperti Kim Ki Bum yang selalu membuatku tak mampu melawanmu barang sedikitpun. Kau bahkan terlihat begitu lemah. Apakah tugas skripsimu begitu membebanimu? Apakah tugasmu di rumah sakit juga sangat melelahkan? Sampai-sampai kau harus jatuh sakit seperti ini.

Bagaimana jika kau masih tinggal sendirian? Bagaimana jika aku tidak ada di dekatmu? Siapa yang akan merawatmu nanti? Kau tidak mungkin menyuruh Eomoni atau Sae Hee datang jauh-jauh ke apartemenmu untuk merawatmu, bukan? Sudah cukup kau membuat mereka khawatir seperti di saat aku menghubungi mereka tadi, jangan ditambah lagi dengan mereka mendatangimu lalu memarahimu karena dirimu yang tidak menjaga kesehatan dengan baik.”

Soo Rin mengerjap beberapa kali. Ia sedikit tertegun menyadari bahwa matanya sudah berair dan hendak menumpahkan isinya. Bahkan karena itu, dia juga harus merasakan perih akibat menahan rasa kantuk. Menghela napas panjang, Soo Rin kemudian menepuk-tepuk selimut yang membungkus tubuh Ki Bum dengan pelan. Dan, sebelum dirinya kembali bungkam, Soo Rin mengucapkan satu kalimat penutup dengan sangat lirih.

“Cepatlah sembuh, Oppa…”

 .

 .

Ki Bum membuka mata dengan perlahan. Langsung saja dirinya mendapati Soo Rin yang masih betah terduduk di sampingnya seraya menunduk. Menyembulkan sebelah tangannya dari balik selimut, Ki Bum mencoba menggenggam tangan gadis itu. Namun keningnya harus terlipat karena tidak mendapatkan reaksi apapun.

Gadis itu… tertidur?

Ki Bum mencoba untuk mendudukkan diri. Tak dipedulikan bahwa handuk kecilnya terjun begitu saja dari kepalanya. Ki Bum baru bereaksi tepat ketika dirinya berhasil menegakkan tubuh, gadis itu langsung jatuh ke dalam pelukannya. Sontak saja kedua tangannya bergerak melingkari tubuh ramping itu agar tidak lari hanya karena refleknya yang tidak bagus. Barulah Ki Bum mendengus halus begitu menyadari bahwa gadisnya ini benar-benar terlelap.

Menggeser tubuhnya perlahan, Ki Bum memilih untuk membaringkan tubuh Soo Rin di sebelahnya, mengangkat kedua kaki gadis itu yang masih menggantung di pinggir ranjang agar terbaring lebih nyaman. Hingga kemudian gadis itu bergerak mencari posisi yang aman, membelakangi pria itu. Segera saja Ki Bum menyelimuti tubuh Soo Rin lalu merebahkan diri. Kini dengan posisi menghadapi punggung kecil gadis itu.

Seulas senyum manis terukis di bibir penuhnya yang sedikit pucat. Memorinya kembali berputar kala gadis ini begitu memperhatikannya hampir seharian ini, memarahinya, menjaganya hingga lewat tengah malam seperti ini, bahkan masih memarahinya kala dirinya terlelap. Oh, sebenarnya dia hampir tidak bisa tidur nyenyak karena beberapa kali ia pasti kembali dari alam bawah sadar. Memangnya orang demam bisa tertidur nyenyak? Dia juga sebenarnya terjaga karena keluh kesah gadisnya ini.

Mianhae…” Ki Bum menggeser tubuhnya untuk lebih mendekat, merapat dengan punggung gadisnya. Tangan kekarnya bergerak melingkari tubuh ramping itu. “Aku akan lebih berhati-hati. Terima kasih sudah merawatku,” lanjutnya dengan pelan.

Mengecup pipi gadisnya dengan sayang, Ki Bum kemudian menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher jenjang itu. Dan ikut terlelap—lagi.

 ****

Soo Rin merasakan dirinya sulit bergerak. Ia mulai membuka mata dan mendapati dirinya sudah dalam keadaan terbaring. Langsung saja kesadarannya terpenuhi lalu terkejut merasakan sesuatu tengah menahannya di bagian pinggang. Oh, dia langsung menyadari apa itu.

Namun di waktu bersamaan Soo Rin harus merasakan tubuhnya semakin merapat kala tangan itu semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya. Perlahan dirinya menoleh ke belakang. Barulah ia merutuki kelakuannya karena ia segera mendapati wajah tampan itu benar-benar berada di dekatnya. Membuat sistem kerja syarafnya yang masih dalam keadaan tenang kini harus berolahraga pagi hingga menjalar ke jantungnya yang mulai melakukan pemanasan.

Mengingat kata pagi, pukul berapa sekarang?

Sontak Soo Rin menegakkan tubuhnya setelah berhasil melepaskan diri. Dapat didengarnya bahwa pria itu melenguh akibat gerakan cepatnya yang dikarenakan melihat jam dinding pada kamar sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Soo Rin tiba-tiba merasakan limbung sesaat. Pasti dikarenakan gerakan cepatnya yang memaksa tubuhnya untuk bergerak besar, pikirnya.

Aigo, di mana handuknya?” Soo Rin menggumam serak begitu melihat handuk kecil yang seharusnya mengompresi kening Ki Bum sudah menghilang. Namun tidak terlalu dipikirkan karena Soo Rin kembali mengingat sesuatu, ia segera menyentuh kening pria yang masih memejamkan mata itu untuk diperksa. Kemudian sebuah senyum lega terpatri di bibir manisnya.

Sudah membaik. Hampir sembuh.

Sepertinya Ki Bum tidak terjangkit demam yang parah. Pasti itu dikarenakan dirinya yang kurang beristirahat mengingat kegiatan padatnya menjadi mahasiswa tingkat akhir sekaligus bekerja magang di rumah sakit demi menyelesaikan tugas akhirnya itu. Buktinya hanya dalam waktu semalam kondisinya hampir kembali membaik.

Gomawo.”

Soo Rin harus terkejut mendengar suara berat nan parau itu, ditambah sebelah tangannya yang belum beranjak kini digenggam oleh sang pemilik suara tersebut.

Eoh?” Soo Rin mengangkat alisnya begitu melihat Ki Bum membuka mata, menatapnya.

“Untuk semalam.” Ki Bum membalas dengan suara lembutnya seraya tersenyum hangat.

“Ah, itu… tidak masalah. Sudah seharusnya aku melakukan hal itu untukmu.” Soo Rin tersenyum manis. Sebuah senyuman pertama di hari ini untuk Ki Bum. Kemudian ia melanjutkan, “Hari ini kau tidak perlu hadir ke rumah sakit. Kau belum sembuh total, jadi beristirahatlah di rumah.”

Ki Bum mengangguk. “Arasseo,” balasnya yang membuat Soo Rin mengangkat alis karena terpana.

“Kau bisa melakukannya?” Soo Rin sedikit bingung, mengingat Ki Bum yang sebelumnya tidak pernah meninggalkan jadwal magangnya karena itu merupakan tugas penting untuk penentuan kelulusannya.

Eum. Hari ini aku tidak memiliki jadwal penting, jadi aku bisa absen.”

Soo Rin menghela napas lega. “Syukurlah kalau begitu… ah, kau ingin mandi? Aku akan segera menyiapkan air hangat jika kau ingin mandi sekarang.”

Ki Bum mengangguk setuju. Langsung saja Soo Rin menyingkap selimut yang masih menghangatkan tubuhnya itu lalu segera beranjak turun. Namun ketika satu kakinya berhasil menyentuh lantai…

HATCHI!”

Ki Bum terpaksa mendudukkan tubuhnya kala melihat gadis itu segera tidak bergerak lagi, justru tengah menggosok-gosok bawah hidungnya.

“Kau kenapa?”

Soo Rin segera menoleh. “Eoh? Ah, tidak. Aku hanya—ugh… HATCHII!”

Ki Bum mulai menangkap situasi kala melihat hidung bangir itu mulai memerah. Langsung saja ia menarik lengan gadis itu demi menjauh dari pinggiran ranjang. “Sepertinya kau tertular,” gumamnya kemudian. Cukup membuat gadis itu tertegun.

Eoh? Maksudmu?”

“Kau tertular penyakitku.”

“Apa? Tertular bagaimana? Tidak, tidak. Aku hanya bersin biasa, bukan demam.”

Tapi Ki Bum memilih untuk tidak menghiraukan bantahan Soo Rin. Pria itu menyingkap poni Soo Rin lalu tanpa izin menyatukan kening mereka. Membuat Soo Rin harus terkesiap hingga serta merta mengatup bibir sekaligus menahan napas begitu hidung mereka bersentuhan. Astaga, Kim Ki Bum sukses membuat jantungnya mulai bermarathon!

“Perlu kau ketahui bahwa suhu tubuhmu sama seperti milikku,” gumam Ki Bum berspekulasi. Membuat jarak, Ki Bum melanjutkan, “Kau mulai demam, Soo Rin-ah.”

Mwo? Aniya! Aku tidak—kyaaaa!” Soo Rin harus terkejut lagi kala dengan kurang ajarnya Ki Bum mendorong tubuhnya untuk kembali berbaring. Ditambah, pria ini juga ikut terjatuh hingga berakhir dengan dirinya kini menindih tubuh Soo Rin.

Well, sebenarnya bukan terjatuh, tapi pria itu memang sengaja menjatuhkan diri tepat di atas tubuh gadisnya. Jelas saja perlakuannya itu membuat jantung Soo Rin berjumpalitan dan semakin gencar bermarathon!

“Sepertinya sekarang adalah girliranku untuk merawatmu,” ujar Ki Bum terdengar kalem, bahkan ia menghiasi bibir penuhnya dengan seulas senyum penuh arti. Membuat Soo Rin mulai mengendus hal-hal aneh.

Mwo? Y-ya! Sudah kubilang aku tidak demam! Aku tidak sakit!”

“Dan sepertinya hari ini kau tidak diizinkan untuk keluar dari rumah barang sejengkalpun.”

“Apa?! Maksudmu aku tidak boleh kuliah?! Aku tidak setuju! Kim Ki Bum, lepaskan aku!”

“Panggil aku Oppa, Soo Rin-ah.”

“Tidak mau!”

“Bukankah kau bisa mengucapkannya semalam?”

“A-apa?” Soo Rin kelabakan. Otaknya berpikir bahwa… astaga, pria ini mendengarnya semalam! Sungguh, Soo Rin malu sekarang. Lihat saja bahwa pipinya sudah merona kini menjadi padam.

Sedangkan Ki Bum harus menahan rasa gemasnya melihat reaksi menggemaskan itu, juga menekan dalam-dalam keinginannya yang ingin… memberikan sebuah morning kiss untuk gadisnya ini. Catat, itu hanya sebuah modus Kim Ki Bum.

“Kau harus beristirahat, Soo Rin-ah.”

“S-sudah kubilang a-aku tidak sa—ugh… HATCHI!”

Ki Bum harus tergelak karena gerak refleknya yang langsung memeluk tubuh gadisnya dan membiarkan dada bidangnya sebagai tempat strategis gadis itu untuk bersin. Bahkan dia mendengar gadisnya menggerutu tidak jelas, mungkin tengah melakukan aksi protes pada sistem kerja tubuhnya yang tidak sejalan dengan kemauannya.

“Masih ingin mengelak?”

“Ugh… aku hanya bersin…”

“Tubuhmu terasa lebih hangat, Soo Rin-ah. Dan aku tidak berbohong karena kau pasti juga merasakannya karena kau lebih tahu.”

“Karena aku lebih tahu, aku memilih untuk baik-baik saja!”

Ki Bum kini menatap penuh wajah Soo Rin. Mata hitamnya menghunus tepat ke dalam retina gadis itu hingga sukses membuat sang empu menelan saliva.

“Turuti aku atau aku akan menularmu lebih banyak lagi.”

“Apa? Ya! Kim Ki Bum! Sudah kubilang bahwa aku tidak sa—mmmpptt!”

Yah, begitulah pagi hari mereka di hari ini. Lebih baik kita tinggalkan saja agar mereka menyelesaikan masalah kecil itu dengan cara mereka sendiri… lebih tepatnya adalah, cara seorang Kim Ki Bum.

.

.

FIN


apalah ini -__- //ditendangreaders//

Gatau mau ngoceh apa, pokoknya sih aku minta maaf karna ceritanya…….ABSURD MAKS T_____T bahahah

Terima kasih buat para readers yang sudah bersedia meninggalkan jejak~ maaf ya, karna buru-buru akunya belum sempat bales semua komentarnya T/\T

oke! Sampai jumpa lagi ^-^ Terima kasih sudah mau mampir ><

pai pai ~~

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “Get Well Soon…

  1. Eonnii…udah lama engga baca ff nihhh pas mau baca ternyata ada ffnya eonni hehe… mereka tambah soswit bangett bikin envy ‘3’ hehe

  2. aku kira dulu pas bc THANKS F0R WAITING ki bum dah jd d0kter spesialis.ternyata mash magang t0h..

    makin sweet ja nich c0uple.
    karyamu emang selalu yg terbaik.dibc berulang ulangpun gak bkal b0sen

  3. Pokoknya nih couple KiSoo bikin iri aja…dan ceritanya makin keren aja nih thor…
    Ada part pas couple KiSoo nih nikah gak thor?
    Sukses dan semangat terus nulis ff nya thor…

    1. nikahnya? belum ada kok #bangga xD aku malah bingung kalo bikin bagian itu…takut jadi aneh, secara diriku belum pengalaman #duagh XD
      nanti kucoba deh ya >,< terima kasih banyaaaaak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s