Posted in Fiction, PG, Vignette

No Offense

This is not a sequel or prequel of any KiSoo’s story ._.v

87216

Genre :: Absurd._. (trust me)

Rated :: PG 

Length :: Vignette

||Kim Ki Bum ♥ Park Soo Rin||

sorry for typos ^^

Happy Reading~

.

.

ㅡㅡ

KI Bum mengenakan bluetooth handsfree yang tersambung dengan ponsel layar sentuh miliknya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di sebelahnya dan mencari sebuah kontak untuk diteleponnya, yang secara otomatis akan tersambung pada handsfree di telinganya, kamudian ia kembali meletakkan ponselnya kembali. Well, dia dalam keadaan menyetir sekarang dan dia tidak ingin fokusnya buyar sepenuhnya.

Tanpa menunggu lama, panggilannya pun terjawab dan segera ia sambut, “Hey, Tiff… ah, maaf. Aku akan datang terlambat. Sekitar sepuluh menit lagi aku baru akan sampai. Ada urusan mendadak yang harus segera kutangani—tadi.” Ki Bum melirik seseorang yang terduduk manis di sampingnya. Oh, tidak melirik, tapi dia sudah menoleh demi melihat secara penuh wajah itu. Sesuai dugaannya bahwa wajah itu tampak memberengut dengan bibir yang bergerak tengah mencibir—mencibirnya tentu saja. Dan itu membuatnya tak mampu untuk menyembunyikan senyum miringnya.

“Ya, aku mengerti.” Ki Bum kembali menatap jalanan di hadapan. Saat ini mobil yang ia kendarai tengah menelusuri jalanan besar nan ramai milik kota Seoul. Banyak kendaraan yang ikut memadati sekaligus merayapi jalanan ibukota ini. Dan yah, meski fokusnya tengah terbagi sejak melirik ke sebelahnya, Ki Bum masih bisa mendengar suara yang tengah diteleponnya itu. “Tiff, bisakah kau menolongku? Di seberang kantor ada toko pakaian, bukan? Tolong belikan dress santai yang tertutup dan tidak terlalu pendek. Carikan dress selutut.”

Soo Rin—orang yang duduk di sebelah Ki Bum, sekaligus orang yang baru saja mencibir pria itu—mulai melirik pria di sampingnya itu. Dan dari sudut matanya, dapat dilihat bahwa pria itu sempat menoleh kembali padanya sebelum kembali bersuara.

“Gadisku tidak suka memakai pakaian terbuka. Aku harap kau bisa menangkap untuk kelanjutannya.”

Soo Rin harus terperangah dalam diam. Tunggu, apakah pria di sampingnya ini sedang membeli pakaian baru untuknya? Oh, tentu saja. Setelah dengan sewenang-wenangnya pria ini mengajaknya untuk ikut dengannya tanpa diberi kesempatan untuk berganti pakaian atau bahkan hanya sekedar untuk membasuh wajah bengkaknya, ternyata dia masih berbaik hati untuk membelikan pakaian ganti.

“Ah, dan tolong belikan pakaian dalam untuk wanita.”

APA?!

Soo Rin harus berjengit kaget sampai-sampai batinnya menjerit begitu pria di sampingnya itu meluncurkan kalimat itu. Pa-pakaian… dalam? Untuk apa?! Untuk dirinya? Kenapa harus dibelikan? Bahkan harus meminta tolong pada sekretarisnya itu?! Tidakkah itu terdengar memalukan? Soo Rin sangat yakin bahwa sekretarisnya itu sedang tertawa tanpa sepengetahuan Ki Bum apalagi dirinya. Astaga, sebenarnya apa yang sedang berada di pikiran Kim Ki Bum saat ini?!

“Ukurannya?” kini Ki Bum menoleh sepenuhnya pada Soo Rin. Lampu lalu lintas yang sedang merah dan menghentikan mobilnya sejenak itu telah memudahkan dirinya untuk memastikan sesuatu.

Ki Bum menatap Soo Rin dengan begitu lekatnya. Dan Soo Rin menyadari bahwa yang tengah ditatap Ki Bum bukanlah wajahnya… melainkan bagian lain, membuat Soo Rin serta-merta menyilangkan kedua tangannya demi menutup bagian depan tubuhnya. Bahkan secara spontan dirinya bergerak menggeser tubuhnya menyudut ke pintu mobil layaknya gadis polos yang hendak diterkam oleh pria hidung belang. Tapi hei! Soo Rin memang gadis polos, hanya saja Ki Bum bukanlah pria hidung belang! Percayalah! -_-

Ki Bum harus mengulum senyum geli melihat reaksi berlebihan dari gadisnya itu, berusaha untuk tidak menyemburkan tawa karena dia masih ingat betul bahwa dirinya masih melakukan sebuah komunikasi dengan sekretarisnya. Memilih untuk kembali menghadap ke depan, Ki Bum pun kemudian bersuara lagi, “Samakan saja dengan ukuran patung model di sana.”

MWO?!” kini Soo Rin benar-benar menjerit. Sontak dirinya melompat maju demi menerkam pria itu. Namun justru perbuatannya itu memudahkan Ki Bum untuk membungkam mulutnya yang sudah siap ingin menyemprot protes. Bahkan kedua tangannya yang sudah gatal ingin mencekik pria itu kini meronta menggapai-gapai pria itu. Tidak terpikirkan bahwa seharusnya dia melepas bungkaman dari tangan kekar dan lebih panjang dibanding miliknya terlebih dahulu—dari mulutnya.

Yang benar saja, tubuhnya disamakan dengan patung?! P-A-T-U-N-G!!

“Kabari aku jika kau sudah membelinya.” Ki Bum segera memutus panggilannya dan mencabut bluetooth handsfree dari telinganya. Fokusnya kembali ke depan yang secara bersamaan lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan ia segera kembali melajukan mobilnya.

Dan di saat yang bersamaan pula sebelah tangannya yang sempat membungkam mulut Soo Rin beralih menuju kemudinya hingga  gadis itu kembali melancarkan aksinya.

Ya! Kau samakan aku dengan patung?!”

“Kau ingin aku menyebutkan ukuran tubuhmu yang sebenarnya pada orang lain? Mungkin bagimu itu tidak masalah karena aku memberitahukannya pada wanita. Tapi bagiku itu adalah hal yang sangat privat dan hanya aku yang boleh tahu selain dirimu sendiri.”

Blush…

Soo Rin terpaksa menunda aksi demonstrasinya dan memilih untuk terpengaruh dengan tutur kata Ki Bum. Hei, ini bukan kemauannya! Salahkan pria ini yang dengan mudahnya mampu membuat dirinya terpaksa bungkam dan memacu jantungnya untuk berdegup lebih cepat hingga memicu rasa panas di kedua pipinya. Sial, kenapa pria ini mengungkit-ungkit masalah itu padanya?!

“Ka-kalau begitu kau tidak seharusnya menatapku seperti tadi!” gerutu Soo Rin mengingat bagaimana cara Ki Bum menatap… tubuhnya dengan begitu intens. Membuatnya salah tingkah saja.

Ki Bum mengedikkan bahu. “Aku rasa tidak ada salahnya aku menatapmu seperti tadi. Sudah tidak ada batasan lagi bagiku untuk melakukan hal seperti itu, bahkan lebih. Kau tahu sendiri, kan?”

Blush…

Lagi-lagi Ki Bum membuat Soo Rin merona hanya dengan kata-katanya. Kim Ki Bum benar-benar sialan, membawa-bawa status mereka sebagai bentuk pembelaan diri dan jelas membuat Soo Rin tidak bisa membantah. Karena itu memang benar adanya. Haishi…

“Ke-kenapa kau harus membeli itu, huh?!” Soo Rin mencoba untuk melanjutkan aksi protesnya meski harus melawan rasa gugupnya yang sudah menyarang di dirinya.

“Sudah lebih dari sehari kau tidak berganti pakaian. Jadi tidak mungkin kau akan memakainya lagi jika kau akan mengganti pakaian luarmu.”

“Tapi kenapa harus disamakan dengan patung?!”

“Tubuhmu memang sama dengan patung model yang ada di toko-toko pakaian di luar sana. Bahkan lebih kecil.”

“Aku tidak sekecil itu! Kau pikir tubuhku ini kurus kerontang?!”

“Oh, kau menyadarinya?”

YA, KIM KI BUM!!” Soo Rin menjatuhkan serangan tanpa ampun. Memukul Ki Bum bertubi-tubi hingga pria itu meringis serta mulai membuyarkan konsentrasinya.

“Hei, hentikan!”

“KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!!”

“Akh! Hentikan, Kim Soo Rin!! Aku sedang menyetir—aww!!”

“DASAR BYUNTAE!!”

“KIM SOO RIN, KAU INGIN AKU MENCIUMMU DI TENGAH JALAN SEPERTI INI, HAH?!”

Barulah Soo Rin menghentikan serangan brutalnya itu, dan segera ia kembali menyudutkan diri ke pintu mobil, membuat benteng pertahanan diri serta memilih untuk membuang wajahnya ke luar jendela mobil—yang baru ia sadari bahwa ternyata benda beroda empat yang ditumpanginya ini sudah menepi dan berhenti. Heol, jika dia tidak menganggap serius ucapan Ki Bum barusan sudah dipastikan dirinya tidak akan berakhir seperti sekarang. -_-

Sedangkan Ki Bum harus bernapas lega begitu gadisnya ini kembali tenang. Untung saja dirinya masih mampu mengendalikan mobilnya dan memilih untuk menepi terlebih dahulu sebelum benar-benar kehilangan konsentrasi akibat serangan tanpa ampun dari dua tangan mungil nan ramping namun penuh dengan kesungguhan itu. Barulah ia kembali mengemudikan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan mereka yang baru berjalan setengahnya. Tanpa gadis itu sadari, Ki Bum mengulas senyum gelinya mengingat apa yang baru saja mereka lewati.

Aah, gadisnya ini benar-benar menggemaskan.

.

.

FIN


tolong jangan bash aku karna cerita ini ;__; aku sendiri ga tau ini cerita maksudnya apa bahahahahah
Ini pernah nyarang di otak dan sempet aku tulis di note hp tanpa ada sebab dan akibatnya. Makanya alur ngga jelas banget heuheu~

Anggap aja ini kisukisu dari dimensi lain (?) -__-

tapi tolong jangan mikir yang macem-macem ya._. #apa-.-

Diharapkan untuk tidak meninggalkan jejak karna dipastikan kalian akan menyesal sudah berani meninggalkannya di sini hahahahahah!
Bercanda kok -.-
boleh-boleh aja selama itu bukan bashing wks

Yosh! Terima kasih sudah mau mampir~ ><

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

12 thoughts on “No Offense

  1. hyaaaa..
    pas lg bete tau” ni c0uple muncul..
    serasa muncul pelangi di tengah mendung y langt..
    meski dah ganti status, ternyata si jenius blm berbuat lebih. padahal berharap bisa bca scene si jenius jd evil..hahaha 🙂 #ketawa breng hyuk

    meski pendk tp feel y bikin 0rang yg bc ribuan kali gk b0sen

    bertapa dimana k0k bsa bikin c0uple n st0ry NEOMU JJANG ky begni??

    keep writing ya.. 🙂
    kutunggu next st0ry karya u..

  2. nggak tau harus komen apa, yang kepikiran cuma kata ‘manis’ tiap kali baca cerita KiSoo. Apalagi kalo Kibum nya udah bikin Soorin tdk bisa berkutik karena kelakuannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s