Posted in Angst, Chaptered, Family, Friendship, KiSoo FF "With You", PG-15, Romance, School Life

With You – Part 3

 Pt.3 – What to Dowycover

Genre :: Romance, School Life, Complicated, Family, Friendship, Angst 

Rated :: PG-15

Length :: Chaptered

||KiSoo’Story||

||Beware||
8k+ words ><

Sorry for typos
Cuuuss!

.

.

ㅡㅡ

TIGA anggota Keluarga Kim itu masih menikmati hidangan masing-masing. Setelah perdebatan kecil yang timbul akibat pertanyaan sang kepala keluarga hingga sang anak sulung keluar dari kediaman, suasana ruang makan yang cukup megah itu telah jauh dari kata ‘nyaman’. Hanya suara dentingan sendok dan sumpit berbahan logam yang meramaikan ruang tersebut.

Kim Jin Young—sang kepala keluarga—telah menyelesaikan santapannya lebih dulu. Setelah meneguk minuman dan membasuh mulutnya dengan napkin yang tersedia, beliau melemparkan tatapan tajamnya pada gadis bungsunya yang masih menunduk menyelesaikan santapannya.

“Ke mana oppa-mu pergi?”

Satu pertanyaan dari sang ayah yang sudah dipastikan tertuju untuknya, segera direspon oleh Sae Hee dengan menegakkan kepala demi menoleh. Meski dirinya menatap langsung wajah ayahnya, namun tidak secara langsung menatap mata tajam beliau. Selain karena merasa segan, Sae Hee juga tengah berpikir bagaimana dia harus menjawab.

Meski Kim Jin Young tidak mendesak secara perkataan, tatapan tajamnya sudah sukses membuat anak gadisnya itu merasa terdesak karena tidak segera menjawab pertanyaannya. Membuatnya mampu melihat bahwa raut wajah anak gadisnya itu tampak kebingungan.

Oppa… Oppa pergi mengunjungi temannya untuk belajar bersama.”

“Teman?”

Ne…”

“Bukan kekasih?”

Sae Hee sedikit tersentak dengan tembakan langsung dari Jin Young. Sepertinya usahanya untuk sedikit menutupi kenyataan tidaklah berhasil. Tentu saja Sae Hee tahu ke mana kakaknya itu pergi. Sebelum rutinitas makan pagi bersama ini berlangsung, dia sempat mampir ke kamar kakaknya demi mengajaknya turun ke ruang makan. Dan mendapati kakaknya sudah dalam keadaan rapih layaknya orang yang ingin bepergian. Ternyata kakaknya itu ingin pergi ke rumah kekasihnya dan belajar bersama di rumah sang kekasih.

Tidak disangka bahwa Jin Young akan menanyakan hal ini padanya. Dan dia mengkhawatirkan sesuatu yang akan terjadi jika sang ayah tahu.

Jin Yong mengangguk paham sebelum Sae Hee menjawab. Beliau sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat raut wajah gadis bungsunya itu. Mendorong mundur kursi yang diduduki, Jin Young segera bangkit lalu melangkah meninggalkan ruang makan. Tanpa meninggalkan sepatah kata apapun lagi.

Sae Hee harus menghela napas panjang sebelum meraih gelas minumannya dan meneguk isinya. Tidak lagi dirinya menatap piring makanannya yang sudah tersisa seperempat isi. Nafsu makannya lenyap begitu saja hanya karena pertanyaan sederhana namun mampu memojokkan dari ayahnya. Pikirannya mulai kalut mengenai apa yang akan terjadi terhadap kakaknya. Kim Jin Young—sang ayah—sudah tahu. Dan sudah dipastikan bahwa hal itu akan terjadi… lagi.

Jung Ji Woo—sang ibu yang sedari tadi terdiam menyimak dialog singkat Jin Young dan Sae Hee, kini bangkit dari duduk demi menghampiri anak gadisnya, duduk di sebelah sang anak dan merengkuh pundak mungilnya. Yang ternyata sentuhan lembutnya itu mampu memecahkan pertahanan Sae Hee begitu saja. Gadis itu segera menoleh dan menatap ibunya penuh cemas.

Eomma, aku harus bagaimana?”

“Tenanglah, Sayang. Appa-mu hanya bertanya.”

“Tapi Appa tidak mungkin diam setelah ini, Eomma! Aku khawatir jika Oppa akan—”

Ssh…” Ji Woo mengusap lembut pundak Sae Hee, mencoba memberi ketenangan. “Oppa-mu akan baik-baik saja. Appa tidak akan melakukan hal yang sama seperti dulu.”

Sae Hee menunduk di dalam rengkuhan Ji Woo. Mungkin ibunya hanya menenangkannya untuk saat ini saja. Perasaannya sudah tak karuan. Dan tentunya penenangan dari sang ibu tidak akan bertahan hingga esok, atau bahkan sekedar sampai nanti.

****

Sae Hee mendengar suara pintu yang tertutup keras. Langsung saja dirinya turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke luar kamar. Kepalanya menoleh pada pintu kamar yang terletak tak jauh di sebelah kamarnya, dia tahu pasti bahwa pintu tersebut yang baru saja menjadi korban bantingan dari seseorang. Siapa lagi jika bukan sang pemilik kamar itu?

Sae Hee beralih menatap pintu yang berukuran lebih besar yang terletak cukup jauh dari tempatnya berdiri. Ruang kerja ayahnya. Sepertinya kakaknya yang baru saja pulang dan mampir ke ruang ayahnya tadi kini sudah kembali ke kamarnya. Sae Hee melangkah mendekati pintu kamar kakaknya, sedikit ragu untuk segera membukanya—seperti yang selalu dia lakukan—atau mengetuknya terlebih dahulu. Hingga akhirnya Sae Hee memilih opsi pertama; membuka pintu tersebut tanpa perlu mengetuknya sebagaimana yang sering dia lakukan. Hanya saja kini dirinya mencoba untuk melakukannya dengan hati-hati. Sampai kemudian matanya berhasil menangkap sosok kakaknya yang sedang mendudukkan diri di tepi tempat tidur, menunduk seraya sebelah tangannya menopang kepala tepat di keningnya. Menunjukkan bahwa dirinya sedang dalam suasana hati yang tidak bagus.

Perlahan pula Sae Hee masuk ke dalam kamar kakaknya ini sebelum kemudian menutup pintunya, yang ternyata suara pintu tertutup dengan rapat itu mampu mendengakkan kepala sang pemilik kamar dan mendapati dirinya sudah berdiri di hadapan.

Ki Bum—sang kakak—segera mengulas senyum demi menyambut adiknya. Mengizinkan secara tersirat pada adiknya itu untuk mendekat, dan segera disetujui oleh Sae Hee. Gadis itu memilih untuk mendudukkan diri pada kursi belajar milik Ki Bum yang tak jauh dari tempat tidur, memosisikannya agar berhadapan langsung dengan Ki Bum.

Oppa… gwaenchanha?” Sae Hee bertanya dengan hati-hati.

“Memangnya Oppa kenapa?” Ki Bum memilih untuk membalik pertanyaan. Sebelah alisnya terangkat seolah menantang adiknya itu.

Oppaa, aku tidak ingin bercanda!” Sae Hee mengerucutkan bibir melihat raut wajah kakaknya itu justru menampakkan raut baik-baik saja. Seolah-olah dirinya tidak perlu ikut campur dengan apa yang tengah terjadi pada kakaknya.

Ki Bum mendengus kecil sebelum terkekeh kecil pula, hanya sesaat. “Oppa akan baik-baik saja jika kau tidak mengkhawatirkan Oppa.”

“Aku mengkhawatirkan Oppa saat ini karena Oppa sedang tidak dalam keadaan baik!”

“Sae Hee-ya.”

Sae Hee mendesah pelan begitu mendengar panggilan halus dari Ki Bum yang sarat akan peringatan. Ia mencoba meredakan emosi yang mulai bermunculan seraya memejamkan mata sejenak. Kemudian ia memilih untuk mengalihkan pandangan, yang saat itu juga sepasang matanya menemukan berkas itu di atas meja belajar Ki Bum. Matanya segera bergerak membaca isi dari artikel tersebut sebelum kemudian sebelah tangannya ikut andil mengambil berkas itu dan membukanya lembar demi lembar.

Oppa akan masuk ke sana?” Sae Hee kembali membuka suara setelah membaca sekilas isi dari berkas itu, sekaligus menunjukkannya demi memperjelas pertanyaannya.

Appa ingin Oppa masuk ke sana.”

“Bagaimana dengan Oppa? Apakah Oppa menginginkannya?”

Oppa akan berusaha untuk bisa masuk ke sana.”

“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku, Oppa. Oppa tidak belajar pun masih bisa diterima univeristas manapun. Bahkan semua murid Neul Paran pun juga tahu bahwa Oppa bisa mendapatkan hampir semua universitas di Korea dengan otak jenius Oppa! Tapi apakah Oppa menginginkan universitas ini?”

“Lambat laun Oppa akan menginginkannya.”

Sae Hee mendengus kesal. “Kenapa Oppa tidak bicara saja pada Appa?”

“Soal apa?”

“Soal keinginan Oppa untuk bisa memilih universitas sesuai selera Oppa sendiri!”

Oppa sudah terlalu banyak membuang waktu, Sae Hee-ya.”

“Tapi ini hak Oppa sendiri!”

Ki Bum tidak langsung menjawab lagi, hanya menatap lekat Sae Hee yang kembali naik-turun. Adiknya itu sepertinya sudah terlalu geram dengannya sampai-sampai secara tidak sadar tubuh rampingnya itu sudah berdiri tegak. Sedangkan Sae Hee yang mendapati tidak ada reaksi lagi dari Ki Bum, kini baru menyadari bahwa dirinya sudah tidak dalam keadaan terduduk manis seperti semula.

Keadaan ruangan ini berubah hening dan senyap, juga suasana yang sudah jauh dari kata hangat dan santai membuat kakak-beradik itu terlihat kaku saat ini. Sae Hee meletakkan berkas itu kembali pada tempat semula, lalu kembali menatap Ki Bum sendu.

“Maaf. Aku terlalu berlebihan dan sudah mengganggu waktu istirahat Oppa. Oppa pasti sangat lelah.” Sae Hee melangkah menuju pintu kamar. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan pribadi Ki Bum ini, Sae Hee menoleh demi menatap kembali kakak satu-satunya itu, mencoba mengulas senyum. “Selamat malam, Oppa.”

&&&

Sudah hampir seminggu semenjak perdebatan kecil itu terjadi. Meski ini bukanlah masalah pribadinya, Sae Hee justru begitu memikirkannya. Segala macam kekhawatiran mulai bermunculan di benaknya dan itu cukup membuatnya sering merasa gelisah. Bagaimana jika hal itu terjadi lagi? Bagaimana jika ayahnya memperlakukan kakaknya seperti dulu lagi? Bagaimana jika kakaknya itu kembali seperti dulu lagi? Merasa sakit seperti dulu lagi?

Sae Hee frustasi sendiri. Masih jelas di ingatannya, bagaimana sakitnya kakaknya dulu karena perbuatan yang terbilang cukup mudah bagi seseorang seperti Kim Jin Young—ayahnya—namun sewenang-wenang. Merusak suatu kepercayaan yang sudah dibangun sedemikian rupa hanya dengan selembar kekuasaan. Memporak-porandakan perasaan kakaknya yang masih begitu polos kala itu. Sedangkan Sae Hee sendiri tak dapat melakukan apapun mengingat kala itu dia masih di bawah umur dan tidak berhak untuk ikut campur. Bahkan dia juga belum paham mengapa kakaknya sempat berubah.

Seharusnya Sae Hee bisa membantu kakaknya kala itu—di Hari Minggu lalu. Mungkin itu tidaklah benar jika dia terpaksa berbohong pada ayahnya, tapi jika hal kecil itu mampu membantu kakaknya saat ini?

Sae Hee menghela napas panjang nan berat. Jika hal itu kembali terjadi, maka sudah dipastikan bahwa dia akan ikut disalahkan. Karena dirinya tidak mampu menampik ayahnya kala itu.

“Sae Hee-sshi?”

Sae Hee harus terlonjak kaget hingga tersedak. Saat ini dirinya tengah menyantap Udon, dan yah, dia memang tengah berada di kantin mengingat saat ini tengah berlangsung waktu istirahat. Segera dirinya meraih minuman dingin pesanannya lalu meneguk hampir setengahnya. Tersedak kuah dari Udon sama seperti tersedak kuah Ramyun. Sama-sama tidak enak.

“Maaf. Apa aku sangat mengejutkanmu?”

Sae Hee segera mendengak dan mendapati seorang gadis yang sangat dikenalnya sudah berdiri di sampingnya. Menatapnya dengan raut cemas sekaligus bersalah. “Eo-eonni… ah, tidak! Ini karena aku tidak berhati-hati,” elaknya seraya terkekeh hambar.

“Kau sendirian?”

Eu-eung…

“Kalau begitu bolehkan aku duduk bersamamu?”

Eo? Oh, ya, tentu saja!”

Soo Rin—gadis itu segera duduk menghadap Sae Hee, meletakkan nampan berisi semangkuk Jjajangmyun dan sekaleng jus jeruk ke atas meja, lalu mulai mengaduk-aduk mie bersaus hitam itu dengan sumpit. Namun itu hanya berlangsung sesaat karena dirinya mulai mengingat sesuatu. Ia kembali menatap Sae Hee. “Sae Hee-sshi, kulihat beberapa hari ini kau sering melamun.”

“Aku?” Sae Hee tampak gugup melihat gadis di depannya itu mengangguk. Sebelah tangannya mengusap tengkuknya yang tidak meremang.

“Apakah ada sesuatu yang mengganggumu akhir-akhir ini?”

A-aniyo.”

Soo Rin masih tidak mengalihkan pandangannya kala Sae Hee kembali menunduk dan—mencoba—kembali menyantap makanannya. Rasanya melihat perilaku Sae Hee yang tidak biasa ini membuatnya mengingat akan sesuatu.

“Kim Ki Bum juga sering melamun beberapa hari ini…”

Sontak tangan Sae Hee yang akan menyuap Udon ke mulutnya terhenti di udara. Perlahan kepalanya kembali terangkat dan sedikit tertegun melihat gadis di hadapannya itu kini tampak termenung. Dalam hati dirinya sedikit tidak menyangka akan pengakuan kekasih dari kakaknya itu. Dia berpikir bahwa kakaknya tidak akan melakukan hal yang sama di sekolah, tapi ternyata kakaknya itu juga melakukannya di luar rumah.

Perlu diketahui bahwa semenjak kejadian itu, Sae Hee hampir sering memergok kakaknya tampak tidak fokus. Terlihat saat dirinya yang selalu masuk ke dalam kamar tanpa permisi, kakaknya hampir tidak pernah merespon kedatangan tak diundangnya itu seperti biasanya dan memilih untuk tenggelam dalam lamunan. Tiap Sae Hee mengajaknya berbicara, Sae Hee harus mengulangnya lebih dari satu kali agar sang kakak mengerti. Bahkan hal itu juga terjadi kala mereka berkumpul untuk makan bersama, kakaknya itu hanya akan mengaduk-aduk santapannya tanpa minat sebelum ditegur olehnya atau sang ibu untuk segera memakannya.

Sungguh, itu bukanlah sifat dari seorang Kim Ki Bum, kakak satu-satunya itu.

“Apakah… tengah terjadi sesuatu?”

Pertanyaan dari Soo Rin itu mampu menyadarkan Sae Hee kembali. Ia kembali meletakkan sumpit di genggaman, rasanya dia sudah tidak ada nafsu untuk menyantap Udon lagi dan berganti menjadi salah tingkah hingga tanpa disadari mendesah beberapa kali, menandakan bahwa dirinya begitu gelisah. Dan itu membuat Soo Rin kebingungan. Gadis beriris kecoklatan itu mulai mengendus bahwa memang ada sesuatu yang tengah terjadi pada kakak-beradik ini.

Eonni…” Sae Hee menggumam kecil. Dan ia melakukan jeda sejenak, terlihat dari dirinya yang kembali menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Ki Bum Oppa akan didaftarkan ke Universitas Inha.”

Satu detik pertama, Soo Rin tidak menampakkan reaksi yang berarti. Satu detik kemudian, mulutnya mulai membuka. Dan detik berikutnya, barulah ia mengerjap kaget. Menandakan bahwa dirinya telah mencerna kalimat Sae Hee sepenuhnya. Namun hanya sebatas itu yang tampak di dirinya. Tidak ada niatan untuk membuka suara demi bertanya; kenapa dan bagaimana.

“Sepertinya Appa sudah tidak mau menunggu lagi, kapan Oppa akan menentukan tempat pendidikannya nanti. Karena itu, Hari Minggu lalu sepertinya Appa sudah memutuskan untuk mendaftarkan Oppa ke sana. Bahkan sepertinya tidak dalam perundingan dengan Oppa terlebih dahulu.”

Soo Rin masih terdiam, kembali mencerna penjelasan dari Sae Hee. Dan entah mengapa ingatannya kembali berputar menuju kejadian di Hari Minggu lalu. Saat dirinya bertemu dengan lelaki itu dan belajar bersama di rumahnya, juga pembahasan mereka mengenai pendidikan yang akan mereka tempuh setelah ini, dan cara lelaki itu merespon…

“Sepertinya Appa ingin Oppa menjadi penerusnya nanti. Karena dari yang aku lihat, Appa ingin Oppa masuk ke dalam jurusan bisnis. Tapi… aku juga melihat bahwa sepertinya Oppa tidak tertarik dengan keputusan dari Appa itu. Mungkin itulah mengapa akhir-akhir ini Oppa terlihat tidak fokus… dan—” Sae Hee memberanikan diri untuk menatap Soo Rin. Ada rasa ragu untuk mengungkapkan apa yang sudah ada di pikirannya. Mengenai apa yang sedang ia khawatirkan, tapi apakah hal ini pantas ia bongkar kepada kekasih dari kakaknya ini?

Soo Rin sendiri mulai tidak fokus setelah Sae Hee menjelaskan soal itu. Pikirannya mulai terbagi, antara menyimak Sae Hee dan juga memutar kembali pertemuannya dengan Ki Bum di Hari Minggu lalu. Lelaki itu selalu merenung terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaannya mengenai masa depan lelaki itu. Dan ia juga merasa sedikit aneh dengan sikap lelaki itu, seperti orang yang sedang banyak pikiran dan belum mendapatkan jalan keluarnya. Ditambah, penjelasan dari Sae Hee sebelumnya itu… kenapa bertolak belakang dengan jawaban Ki Bum kala itu?

“Mungkin di akhir tahun nanti aku baru menentukannya,”

Eonni…”

Soo Rin sedikit tersentak mendengar panggilan halus dari Sae Hee. Ia kembali menatap adik dari Kim Ki Bum itu, gadis jelita itu tampak begitu gelisah dan, seperti tengah dirundung oleh banyak pikiran yang membuat raut wajah cantik itu tampak kalut. Dan Soo Rin harus memiringkan kepala dengan kening yang berlipat karena Sae Hee kembali terdiam. Menunggu.

Sae Hee kembali melakukan jeda. Bibirnya tampak bergetar kala terbuka, seolah dirinya memang tengah berada dalam kekalutan yang serius. Dan, dengan suara yang hampir bergetar, ia melanjutkan, “Maafkan aku. Tapi, jika terjadi sesuatu pada Ki Bum Oppa, aku mohon… aku mohon pada Eonni untuk tidak meninggalkan Oppa.”

Soo Rin harus dibuat bingung dengan tutur kata Sae Hee, yang sangat kentara dengan sebuah permohonan itu.

Apa yang sedang terjadi pada Kim Ki Bum?

****

Sebuah ruangan yang begitu luas itu tampak mewah dan begitu artistik. Nuansa perpaduan antara cokelat kayu dan krem, juga berbagai macam perangkat mewah yang menghiasi hampir tiap sisi dari ruangan itu begitu menunjukkan sekaligus memamerkan betapa elegannya ruangan tersebut. Lantai marmer yang dilapisi dengan karpet berwarna biru laut itu semakin menegaskan ruangan mewah tersebut. Jika pintu masuk terbuka maka akan terlihat meja serta kursi kebesaran yang begitu mencolok terpajang menyampingi. Dan di ujung ruangan tersebut akan terlihat sebuah perapian juga sofa santai terpajang di sana. Bahkan ruangan tersebut juga dihiasi dengan sepasang sofa yang bisa digunakan kala menerima tamu yang terundang, menghadap tepat pada meja kebesaran tersebut.

rk

Seorang pria paruh baya tampak terduduk manis dengan begitu tenang dan penuh wibawa di kursi besarnya itu. Mata tajam di balik bingkai berkaca itu menatap dengan lurusnya pada satu objek yang tengah ia genggam di sebelah tangan. Setelah begitu lama dirinya terdiam bagaikan patung yang mampu bernapas, ia pun bergerak melempar asal objek tersebut ke atas meja di hadapannya. Yang ternyata merupakan kumpulan foto yang mengabadikan sosok seorang gadis cantik, yang sudah dipastikan diambil dalam keadaan gadis itu tidak tahu bahwa dirinya tengah diabadikan menjadi kumpulan foto tersebut.

Kim Jin Young—pria paruh baya yang masih tampak begitu tampan dan begitu berkarisma itu, masih menatap penuh atensi pada lembaran foto yang sudah tersebar di mejanya itu meski sempat ia lempar bagaikan orang tak berminat. Memperhatikan dengan penuh lekat seolah tengah menyimpan ke dalam memori otaknya, bagaimana wujud dari sosok di dalam foto itu, parasnya, postur tubuhnya, dan mungkin hingga cara berpenampilannya. Yang ternyata semua itu mampu menimbulkan seperti apa gadis itu di matanya saat ini.

sr2

sr1

tumblr_lmfnl2nba81qiqbkao1_500

tumblr_luip4iFsxs1qeogk5o1_500

“Park Soo Rin…” Kim Jin Young menggumam dengan sangat pelan, menggumam sebuah nama yang merupakan milik dari sosok di dalam foto-foto itu.

Jangankan nama, bahkan ia mendapatkan berkas semacam biodata dari pemilik nama itu: Tanggal lahir, tempat tinggal, tempat menuntut ilmu, status kekeluargaan, nama ayah dan ibu, bahkan pekerjaan kedua orang tua tersebut hingga ke dalam taraf riwayat hidup mereka. Dan dilengkapi dengan selembar foto yang diyakini diabadikan kala gadis itu masih berusia lebih muda. Semua itu dia dapat dengan begitu mudahnya.

tumblr_lua3egyXfn1qa24zyo1_500

Jin Young meraih ponsel keluaran terbarunya. Mencari nomor kontak yang akan dipanggilnya, menelepon seorang bawahan terpercaya miliknya. Dan begitu tersambung, Jin Young segera meluncurkan order yang sudah menancap pasti di otaknya dan ingin segera diwujudkan.

****

Seminggu telah berlalu, kembali bertemu dengan akhir pekan. Seorang gadis baru saja keluar dari sebuah supermarket yang terletak di pinggir jalan besar di Ibukota, membawa sedikitnya 2 kantung plastik belanjaan. Ibunya memberikan perintah untuk berbelanja beberapa bahan makanan untuk menu spesial di akhir pekan ini.

Gadis itu tampak melanjutkan destinasi berikutnya, ia masuk ke dalam sebuah kafe yang minimalis namun cukup terkenal di Guro-gu; Chocolate BonBon, sebuah kafe yang juga merangkap sebagai toko roti itu hampir setiap hari ramai pengunjung. Apalagi dikarenakan oleh pemilik dari kafe ini yang merupakan seorang penyanyi multitalenta, seorang anggota dari duo grup yang dikenal dengan Eun Hyuk. Grup yang terkenal dengan nama D&E itu diambil dari inisial nama kedua anggota tersebut, Dong Hae & Eun Hyuk. Sebuah Grup yang sangat terkenal di Korea Selatan ini juga telah merambah hingga ke Jepang sekaligus penjuru Asia lainnya. Dan kini mereka tengah mempersiapkan luncuran album baru mereka yang kedua di Negeri Sakura nanti.

Hanya saja sepertinya gadis itu sedang tidak beruntung karena hari ini tidak begitu ramai mengingat sang pemilik kafe ini tidak melakukan kerja sampingan yang biasa dilakukan. Tapi sebenarnya memang bukan itu yang tengah diincarnya. Dia ingin mampir karena ingin membeli beberapa roti sebagai pelengkap menu spesial hari ini, juga mengistirahatkan diri sejenak setelah lebih dari 1 jam lamanya ia berdiri sekaligus berkeliling mencari bahan makanan di supermarket tadi.

Gadis itu memilih untuk duduk di salah satu tempat duduk yang dekat dengan jendela setelah membeli segelas Oreo Smoothie dan menunggu roti pesanannya dibungkus. Sambil menikmati minuman pesanannya, ia meraih ponsel layar sentuhnya, mengingat saat sedang melakukan pembayaran di kasir tadi ponselnya bergetar di dalam tas selempang mungilnya. Ternyata ada sebuah pesan masuk.

 

From: Ki

Aku sedang menuju ke rumahmu.

 

“Ah, aku lupa!” serunya tertahan setelah membaca pesan singkat itu. Dia melupakan bahwa hari ini merupakan waktunya untuk belajar bersama kekasihnya itu. Tanpa membalas pesan tersebut, ia kembali menyimpan benda persegi tipis itu ke dalam tas mungilnya, meneguk minumannya. Ternyata di waktu yang sama roti pesanannya telah diantarkan ke mejanya.

“Park Soo Rin-sshi.”

Gadis itu tersentak kala sebuah suara berat dan asing memanggil namanya. Ia menoleh dan segera mendapati seorang pria berpakaian formal hitam layaknya orang kantoran melangkah mendekatinya. Perawakannya yang begitu kaku dan wajah tembam namun menguarkan raut datar itu membuat ia mengernyit bingung. Siapa orang ini?

Pria bertubuh kekar namun cukup berisi itu sedikit membungkukkan badan untuknya sebagai sebuah salam. Dan Soo Rin harus semakin dibuat bingung dengan perlakuan yang terbilang sopan karena dari yang ia lihat, sudah dipastikan bahwa pria itu lebih tua darinya.

Nuguseyo?” Soo Rin memilih untuk membalas dengan sebuah pertanyaan. Ditambah, bagaimana bisa orang ini tahu namanya? Nama lengkapnya?

Pria itu mengulas senyum tipis, terlihat kaku juga tidak ada kesan hangat di sana. Mungkin dari cara berbicara terdengar begitu halus dan lugas, tapi sama sekali tidak dibarengi dengan kesan hangat dan bersahabat.

“Sebelumnya perkenalkan, Shin Dong Hee imnida. Asisten dari Kim Jin Young Sajangnim, ayah dari Tuan Muda Kim Ki Bum. Bisa kita bicara sebentar?”

****

“Ini bukan ‘was’ tapi ‘were’, Soo Rin-ah.”

Soo Rin tampak melongo bodoh melihat Ki Bum mencorat-coret kertas soal yang baru saja ia garap. Bila diperhatikan, hampir semua nomor dari soal itu mendapatkan bubuhan pena bertinta merah dari tangan Ki Bum. Menandakan bahwa hampir semua nomor mendapatkan koreksi. Tidak hanya dalam bentuk kalimatnya yang salah, bahkan dalam penggunaan kata sambung atau biasa dikenal to be pun tak lewat dari pengoreksian.

“Bukankah kau sudah paham bahwa subjek dalam bentuk jamak itu menggunakan kata ‘were’ bukan ‘was’? Aku rasa materi jenis ini sering diterapkan sejak Menengah Pertama, bukan?” Ki Bum menatap heran gadis di hadapannya itu dengan kening berkerut. Sedangkan yang ditatap kini tengah meringis juga mengusap tengkuk dengan salah tingkah, tak berani membalas tatapannya. “Dan sebelumnya kau tidak melakukan kesalahan sekecil ini,” lanjut Ki Bum.

“Sepertinya aku kurang berhati-hati. Aku akan memperbaikinya.” Soo Rin akhirnya membalas, suaranya terdengar dibarengi dengan ringisan. Membuat Ki Bum berdecak seraya menggeleng heran.

“Hari ini kau banyak melakukan kesalahan, Soo Rin-ah. Sepertinya kau sedang dalam keadaan kekurangan konsentrasi. Kau sudah makan?”

“Eh? Ah, iya, aku sudah makan.”

Geojitmal (Bohong).”

Eoh?”

Eomoni mengatakan padaku bahwa kau langsung pergi berbelanja tanpa sarapan terlebih dahulu. Dan aku tidak melihat kau menyantap makanan apapun begitu kembali, sampai sekarang.”

Soo Rin mengerucutkan bibir. Sepertinya ibunya sudah benar-benar terbuka terhadap Kim Ki Bum sampai-sampai hal sekecil itu pun beliau ceritakan pada lelaki ini. Memang benar bahwa hari ini Soo Rin belum menyantap makanan berat apapun. Pagi tadi, saat ibunya masih dalam keadaan menyiapkan sarapan, ia diperintahkan untuk berbelanja karena hari ini beliau ingin membuat menu makan malam spesial. Sebenarnya beliau sudah menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu, tapi dengan alasan bahwa supermarket sudah buka dan demi menghindari suasana pasar swalayan tersebut yang akan lebih padat di akhir pekan ini, Soo Rin memilih untuk segera berangkat dan mengabaikan jatah sarapannya. Begitu kembali, ia mendapati bahwa Ki Bum sudah terduduk manis menunggunya di ruang tamu. Dan mereka langsung melaksanakan acara belajar bersama saat itu juga, hingga sore hari ini.

“Jika kau sudah tahu, untuk apa kau bertanya?” gerutu Soo Rin yang tentunya didengar oleh Ki Bum. Lelaki itu terkekeh melihat raut wajah cantik itu memberengut. Merasa gemas, tangan kekarnya terulur lalu mengusap puncak kepala Soo Rin.

“Hanya menguji kejujuranmu. Tidak boleh?”

Soo Rin tertegun mendengar jawaban yang—menurutnya—tidak disangka itu. Entah keberanian dari mana, sepasang matanya lekas menyorot manik hitam itu. Entah mengapa justru kini ia tengah mencari-cari sesuatu yang… bahkan dia sendiri tidak yakin apa yang tengah dicarinya.

“Memangnya kau sendiri tidak pernah berbohong padaku?”

Kini giliran Ki Bum yang tertegun mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut gadis di hadapannya ini. Secara terang-terangan dirinya menatap lekat wajah cantik—yang entah mengapa kini terlihat begitu berbeda di matanya—itu. Kenapa tiba-tiba ia merasa bahwa dirinya justru tengah diinterogasi oleh gadisnya saat ini? Padahal dia hanya bermaksud untuk bergurau.

“Kau juga pernah menipuku.” Soo Rin menundukkan pandangannya. Menghindari tatapan lurus lelaki di hadapannya. “Saat ulang tahunku,” lanjutnya seraya kembali mengerucutkan bibir.

Tiba-tiba saja Ki Bum merasakan sebuah kelegaan yang ia sendiri tidak mengerti artinya. Berlanjut dengan dirinya mendengus tak percaya dengan jawaban singkat namun telak dari gadisnya ini. Ia tertawa. “Ya, apakah itu bisa disebut dengan penipuan? Aku rasa itu hanya sebuah candaan untuk memeriahkan hari ulang tahunmu.”

“Apakah membuatku percaya dengan adanya orang lain yang mengagumiku itu bukanlah sebuah tipuan? Kau berhasil membuatku seperti orang bodoh yang asal percaya dengan adanya penyihir di dunia modern seperti sekarang.”

Ki Bum tergelak mendengar jawaban yang terdengar begitu murni keluar dari mulut gadisnya itu. Meski dirinya sudah tahu seperti apa gadis ini, tetap saja dia tidak menyangka bagaimana bisa gadis ini begitu… polos? Polos dalam artian, mudah sekali percaya dengan apa yang dia dapat begitu saja. Sepertinya Ki Bum harus berhati-hati dalam berbicara apalagi bertindak di hadapan gadis ini. Dan, menghalau segala sesuatu yang bisa saja memengaruhi gadis polosnya ini. Seperti: bagaimana jika dia percaya bahwa ada siluman serigala yang bisa berubah wujud seperti Jacob Black? Atau bagaimana jika dia percaya bahwa makhluk luar angkasa berwujud seperti Do Min Joon itu benar-benar ada?

“Baiklah. Maafkan aku untuk soal itu. Mungkin aku akan melakukan candaan lain yang tidak akan menjerumus ke tahap suatu tipuan di ulang tahunmu berikutnya,” ucap Ki Bum. Kalimat terakhirnya itu terdengar begitu renyah karena diselipkan nada bergurau yang membuat gadis itu semakin memberengut.

“Aku tidak akan bertemu denganmu di hari ulang tahunku nanti!” ujar Soo Rin terdengar seperti merajuk.

Yaa, jangan seperti itu.”

“Aku tidak peduli!”

Ya, apa kau sedang mencoba untuk merajuk padaku?”

“Menurutmu?”

“Baiklah. Aku akan menghilangkan diri di hari ulang tahunmu nanti supaya kau tidak merasa terganggu.”

Ya!”

Wae? Bukankah itu maumu?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak!!”

“Aku tidak bicara yang tidak-tidak.”

“Hentikan!!”

Ki Bum harus tertegun, tidak menyangka bahwa gadisnya itu akan bereaksi sejauh ini. Dia hanya berniat untuk bergurau, tidak mungkin dirinya akan melakukan apa yang sudah ia ucapkan tadi. Tapi, sepertinya gadis ini—lagi-lagi—menganggap terlalu serius gurauannya ini. Apakah dia kembali melakukan kesalahan yang seharusnya tidak terulang? Tapi rasanya hari ini gadisnya tampak lebih sensitif dibanding biasanya. Apakah gadisnya sedang PMS?

Tidak mendapatkan respon kembali dari Ki Bum, Soo Rin mengerjap kaget, menyadari apa yang sudah ia lakukan. Entah sejak kapan dirinya sudah terduduk tegang dengan kedua tangan mengepal di atas meja. Sepertinya dia terlalu terpengaruh dengan segala macam perkataan Ki Bum yang sebenarnya hanya sebatas gurauan itu. Dengan perlahan ia menurunkan kedua tangannya yang masih terasa kaku, menyembunyikannya ke bawah meja yang menjadi pembatas dirinya dan lelaki di hadapannya. Soo Rin harus menelan salivanya dengan gugup, ia mulai terlihat salah tingkah.

“Apa kalian baik-baik saja?”

Sebuah suara merdu menginterupsi keadaan canggung tanpa sebab mereka. Dengan kompak keduanya menoleh pada sumber suara itu dan mendapati Nyonya Park sudah masuk ke dalam ruang tamu, menatap dengan tanda tanya di wajah yang sudah cukup berumur namun masih mampu mengumbar paras cantiknya.

“Aku mendengar suara Soo Rin yang cukup nyaring dari dapur. Apakah terjadi sesuatu?” Nyonya Park bertanya lagi. Sedikit berhati-hati karena melihat kedua insan itu mulai tampak salah tingkah, apalagi anak gadisnya itu menunduk makin dalam.

Aniyo. Tidak ada sesuatu yang serius. Sepertinya Soo Rin hanya terlalu gugup karena akan menghadapi ujian akhir. Dan aku sudah membuatnya semakin gugup.” Ki Bum membuka suara seraya mencoba mengulas senyum sesopan mungkin. Mencoba kembali mencairkan suasana. Sejenak matanya melirik gadis yang masih menunduk di hadapannya itu. “Mungkin ini juga karena pengaruh dari dirinya yang belum mengisi perutnya sejak pagi tadi,” ujarnya berkilah, namun, masih masuk akal.

“Ah, benar juga. Dia belum makan seharian ini. Soo Rin-ah, ibu akan menghangatkan makananmu dulu, eoh? Setidaknya itu bisa membantu mengganjal perutmu sebelum makan malam nanti.” Nyonya Park hendak kembali ke dapur dan berniat untuk menghangatkan jatah sarapan Soo Rin yang masih tersimpan di dalam lemari pendingin, kala melihat Ki Bum segera bangkit dari duduknya. Membuat beliau harus menahan niatannya sejenak.

“Kalau begitu, aku pamit pulang, Eomoni.”

Eoh? Kenapa cepat sekali? Tunggulah sampai waktu makan malam tiba dan kita makan bersama.”

“Tidak perlu. Aku akan makan malam di rumah saja.”

“Begitu? Aah, padahal malam ini Eomoni akan memasak banyak makanan.”

“Tinggal lah dulu.”

Kini keduanya menoleh pada Soo Rin. Gadis itu telah mengangkat kepala dan menatap Ki Bum dari duduknya. Sepertinya dia sudah meredakan rasa tegang tak beralasannya itu, terlihat dari kedua bahunya yang mulai merileks. Juga kedua matanya yang sudah kembali menyorot ketenangan pada lelaki itu.

Ki Bum akhirnya mengulas senyum. Apakah tutur kata gadis itu bisa disebut dengan suatu permintaan? Sepertinya memang benar. Itulah mengapa dia memilih untuk menjawab dengan sebuah anggukan sebelum berkata, “Arasseo.”

Dan jawaban itu sukses membuat Nyonya Park mengembangkan senyumnya. “Syukurlah! Aku akan membawakan camilan. Tunggulah di sini!” ujarnya terdengar riang sebelum kembali melesat ke dapur.

Ki Bum kembali mendudukkan diri—duduk bersila, membereskan buku-buku juga lembaran kertas soal buatannya yang bertebaran memenuhi meja tamu. Yang beberapa detik kemudian dibantu oleh Soo Rin hingga benda-benda itu tertumpuk rapih. Kemudian, suasana hening kembali menyergap di antara mereka. Beberapa saat.

Tampak Soo Rin kini memainkan kedua ibu jarinya di bawah meja hingga kepalanya kembali tertunduk. Sedangkan Ki Bum dengan terang-terangan menatap Soo Rin dengan kedua tangan bertautan di atas meja. Rasanya dia tidak pernah bosan menatap sosok yang sudah selama ini mengisi pikiran sekaligus perasaannya, setiap hari. Tak peduli jika sosok itu dalam keadaan tengah menatapnya maupun tengah menyembunyikan paras indahnya seperti sekarang ini. Dia tidak pernah jenuh, bahkan sepertinya justru semakin menjauh dari kata jenuh, dan semakin mendekati candu. Dia ingin melihatnya setiap hari.

“Kim Ki Bum.”

Hm?” Ki Bum masih tersadar sepenuhnya hingga mampu membalas panggilan gadis itu dengan cepat. Detik kemudian dia melihat gadis itu mengangkat kepala hingga kembali tersuguh paras cantiknya yang selalu mempesona di matanya.

“Aku—aku ingin membeli minuman… di kafe. Tadi, aku sempat mampir ke sebuah kafe dan… aku ingin membelinya lagi,” ujar Soo Rin hati-hati. Ada sedikit gelagap di suara halusnya yang menandakan bahwa ia sedikit gugup mengutarakannya. Bahkan wajah cantiknya itu—tanpa disadari dan tanpa komando—mengumbar rona kemerahan yang mempertegas raut menggemaskannya itu.

Ki Bum yang begitu tanggap dengan ucapan gadis itu, mengulas senyum penuh arti. Astaga, gadisnya ini terlalu bertele-tele hingga membuatnya gemas. Dan akhirnya memilih untuk membalas dengan ungkapan yang mampu membuat gadis itu semakin merona.

“Masih ada waktu sebelum makan malam. Ayo kita berkencan!”

****

:: Chocolate BonBon – Seoul-shi, Guro-gu, Guro-dong, Digital-ro 26-gil street, High End Tower primary 5B1, No.105

.

Suasana kafe minimalis itu terlihat begitu padat. Banyak orang bergerombol menyemuti bagian luar kafe hingga sulit untuk melihat keadaan di dalamnya. Sangat jelas bahwa banyak dari mereka yang tengah menggenggam gadget bahkan ada yang memamerkan kamera DLSR bervariasi merk. Kentara sekali bahwa mereka tengah mengabadikan sesuatu di dalam sana sampai-sampai banyak dari mereka yang mengangkat tinggi-tinggi alat potret tersebut demi menjangkau dan mampu menyorot ke dalam sana.

Seolma…” Soo Rin yang baru saja sampai di pelataran kafe itu tampak menerka-terka. Hingga beberapa detik kemudian kedua matanya berbinar dan segera dipamerkan oleh seseorang yang selalu berada di sampingnya. “Kim Ki Bum, ayo kita masuk!”

“Kau yakin ingin masuk?” Ki Bum memandang Soo Rin dengan raut datarnya. Sepertinya dia—sedikit—tidak setuju dengan ajakan gadis di sampingnya ini. Melihat suasana kafe itu tampak… membludak oleh pengunjung.

“Tentu saja! Kaja!!” tanpa sadar Soo Rin menarik genggaman tangan mereka karena begitu bersemangatnya, bahkan tangan lainnya ikut andil menarik tangan Ki Bum untuk segera beranjak mendekati kafe.

Tidak dipungkiri bahwa mereka harus sedikit kesulitan untuk memasuki kafe tersebut karena begitu banyaknya manusia yang hampir memblokir pintu masuk kafe. Dan Soo Rin harus tercengang melihat isi dari kafe yang padahal masih tampak lengang dan tenang kala terakhir kali dia datangi tadi pagi, kini sudah dipenuhi dengan banyak pengunjung yang mengantri hingga ke dekat pintu.

Jinjjada… (Ternyata benar)” gumam Soo Rin begitu mata jernihnya menangkap sosok yang sangat familiar telah berdiri di depan kasir kafe.

Pria itu—ya, dia seorang pria—tampak begitu mempesona berdiri di depan counter kafe. Berpenampilan serba putih yang sukses besar memancarkan aura positif sekaligus ketampanannya yang sulit dielakkan. Kaus putih yang sedikit longgar, dipadukan dengan kemeja putih dengan kancing yang dibiarkan terbuka seluruhnya dan tentunya menampakkan kaus longgarnya itu, serta sebuah topi yang melekat dengan bagian lidah yang sengaja di letakkan pada belakang kepala—berwarna senada. Ditambah wajah tegasnya yang selalu mengumbar keramahan dan hampir tiap detik memamerkan senyum andalan, sungguh, dia terlihat begitu sempurna hari ini!

Pria itu, dialah sang pemilik kafe ini. Yang sepertinya tengah melangsungkan kerja sampingannya hari ini, hingga mengundang banyak kaum yang tak lain merupakan penggemarnya. Anggota duo grup fenomenal D&E, Lee Hyuk Jae—atau dikenal dengan nama panggungnya, Eun Hyuk!

140605-eunhyuk

“Dia ada di sini!” seru Soo Rin tertahan, yang tanpa ia sadari justru semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan milik Ki Bum. “Kim Ki Bum, ayo kita mengantri!” ajaknya bersemangat seraya kembali menarik lelaki itu untuk mengisi tempat tepat di belakang barisan antrian yang cukup panjang itu.

Sedangkan Ki Bum hanya menurut dengan membiarkan dirinya ditarik oleh gadisnya itu, tak lupa bahwa dirinya tengah menggelengkan kepala—terheran dengan perubahan gadisnya yang dengan murninya menunjukkan antusiasme untuk artis itu.

“Aku baru tahu bahwa kau adalah penggemar dari penyanyi itu,” ujar Ki Bum begitu mereka berhasil ikut mengantri.

“Aku menyukai lagu-lagu mereka. Sangat cocok untuk bersenang-senang, juga mampu mengajak para pendengar untuk melompat-lompat atau hanya sekedar menggerakkan kepala,” jelas Soo Rin dengan mata berbinar, tak lupa dirinya mengulas senyum cerahnya. “Apa kau belum pernah mendengar lagu mereka? Aku rasa lagu berjudul Oppa Oppa sering diputar di televisi maupun radio.”

Ki Bum mengedikkan bahu. “Aku tidak begitu memperhatikan.”

Soo Rin terpaksa mengerucutkan bibir sekaligus mencibir mendengar jawaban acuh tak acuh dari lelaki di sampingnya ini. “Yah, itu karena kau lebih sering mendengar lagu berbahasa Inggris dibandingkan lagu dalam negeri,” ujarnya sarkastis.

Dan itu sukses membuat Ki Bum mengayunkan sebelah tangannya untuk mencubit gemas hidung bangir gadisnya itu. “Aku juga pendengar setia lagu dalam negeri, Babo!”

Yaa!” Soo Rin mengusap hidungnya yang baru saja menjadi korban. “Ya, ya, aku memang bodoh dan kau yang paling pintar, Tuan Jenius!”

“Apakah itu panggilan baru untukku? Aku akan merasa sangat tersanjung mendengarnya.”

Ish!” Soo Rin menghentakkan tangan mereka yang masih bertaut hingga terlepas. Oh, sepertinya dia mulai merajuk.

Ki Bum harus merasa tergelitik melihat tingkah gadis ini. Tak lama setelah hal itu terjadi, Ki Bum kembali meraih tangan ramping itu dan menautkan kembali jari-jemari mereka, dan kini Ki Bum menggenggamnya dengan begitu erat juga penuh kehangatan. Membuat Soo Rin terpaksa menoleh demi menatapnya.

“Tapi setidaknya Gadis Bodoh itu sudah berada di genggaman sang Tuan Jenius dan akan selalu dijaga olehnya.”

Soo Rin seperti baru saja merasakan sesuatu meletup-letup di dalam dirinya, jantungnya kembali berulah hingga telak memicu dirinya untuk salah tingkah. Wajahnya yang pada dasarnya sedikit merona, kini semakin menampakkan rona merahnya itu hingga memperjelas raut menggemaskannya. Lagi-lagi Kim Ki Bum berhasil membuatnya tak berkutik dan melupakan istilah Bodoh dan Jenius.

Astaga, wajahnya semakin terasa panas saja!

Aigo, apa kau lihat barusan? Mereka romantis sekali!”

“Seandainya aku memiliki kekasih seperti lelaki itu.”

“Mereka membuatku iri. Aku juga mau ditemani mengantri oleh kekasihku untuk bertemu dengan Eun Hyuk Oppa!”

Dan beragam kasak-kusuk lainnya segera menyerbu indera pendengaran keduanya. Sepertinya sejak awal mereka sudah menjadi pusat perhatian oleh para pengantri yang entah sejak kapan sudah bertambah di belakang keduanya. Bahkan beberapa pengantri di depan mereka pun ada yang mencuri-curi pandang ke belakang hanya untuk melihat mereka. Baru disadari bahwa hanya Kim Ki Bum yang berstatus sebagai lelaki yang tengah mengantri. Dan ternyata fakta itu mampu menyedot perhatian para gadis di dalam jajaran antrian ini. -__-

“Dia terlihat tampan. Kau lihat saat dia menoleh pada gadisnya tadi, bukan?”

Eo! Aku rasa dia akan sama terkenalnya dengan Kyu Hyun Oppa jika menjadi seorang penyanyi.”

“Atau mungkin akan sama terkenalnya dengan Si Won Oppa jika dia menjadi seorang aktor!”

“Lihat saja postur tubuhnya. Aku rasa dia juga cocok untuk menjadi seorang atlet.”

Omoo!”

Ki Bum terpaksa berdeham, mencoba meredam niatnya untuk tertawa mendengar kasak-kusuk yang saling bersahutan di belakangnya. Tentu saja dia masih mendengar segala tutur kata dari gadis-gadis itu dan sangat jelas bahwa semua itu ditujukan kepadanya. Dia memang sudah kebal dengan segala pujian itu, tapi yang membuatnya dia bereaksi seperti sekarang adalah bagaimana gadis-gadis itu secara terang-terangan mengatakan hal itu di belakangnya. Untung saja dirinya bukanlah tipe lelaki yang akan bertindak menyombongkan diri dan bergaya layaknya lelaki paling tampan jika sudah mendengar segala pujian seperti itu.

Tapi memang kenyataannya Kim Ki Bum itu tampan, bukan? Sangat tampan. -_-

“Sepertinya kau mendapatkan penggemar tambahan.” Soo Rin yang sedari tadi menunduk kini membuka suara. Hei, dia juga mendengar segala sanjungan di belakangnya itu. Dan entah mengapa telinganya terasa… sedikit panas mendengarnya. Bahkan tanpa ia sadari, ucapannya itu terselip sebuah gerutuan dan rasa tak suka.

Ki Bum yang mampu menangkap maksud tak tampak dari ucapan Soo Rin kini mengembangkan senyum simpulnya. Ia semakin mengeratkan genggaman tangan mereka seraya mendekatkan wajahnya tepat ke depan telinga gadis ini, berbisik, “Jangan khawatir. Aku hanya memandangmu, Chagi.”

Dan itu sukses menaikkan taraf kemesraan mereka di mata gadis-gadis di belakang mereka itu. Perlu diketahui bahwa beberapa dari mereka mulai memekik tertahan.

“Kau terlihat aneh jika bersikap seperti itu!” protes Soo Rin dengan wajah cantiknya yang semakin mendekati warna tomat. Membuat Ki Bum tertawa melihat reaksi menggemaskan itu. Kim Ki Bum memang tahu bagaimana cara menggoda gadisnya ini.

Tak terasa bahwa antrian terus bergerak maju. Hingga tersisa 2 antrian lagi sebelum giliran Soo Rin dan Ki Bum tiba. Bahkan sosok seorang Eun Hyuk yang masih dengan suka citanya melayani para pelanggan yang mayoritas adalah penggemarnya hari ini pun semakin tampak jelas. Tak dipungkiri bahwa aktivitas pesan-memesan yang biasanya berlangsung singkat kini sedikit tersendat karena selalu terjadi interaksi terlebih dahulu di antara pelanggan dengan pelayan tersebut. Kapan lagi bisa mengobrol bersama idola secara langsung sekaligus bertatap muka dengannya jika tidak di waktu sekarang ini?

Begitu kini gilirannya, Soo Rin tak mampu menyembunyikan rasa antusiasnya lagi. Meski bukan penggemar berat tapi dia begitu mengagumi sosok yang sudah berada di hadapannya saat ini. Bahkan pria yang ternyata berkulit pucat jika dilihat sangat dekat seperti ini, kini tengah melemparkan senyum ramah untuknya! Membuat Soo Rin tak bisa untuk tidak ikut tersenyum.

Namun begitu pandangan pria bernama Eun Hyuk itu beralih pada Ki Bum, hal yang tak terduga terjadi…

“Yo, Ki Bum-ah! Oraenmanida (Lama tak jumpa)!”

Terpaksa Soo Rin menunjukkan raut terkejutnya mendengar sapaan Eun Hyuk yang ditujukan untuk Kim Ki Bum. Gadis itu sontak menoleh pada lelaki di sebelahnya dengan kedua mata yang sudah melebar. Dan harus dibuat tercengang begitu mendengar sekaligus melihat balasan dari Ki Bum.

“Apa kabar, Hyung?”

Tunggu, tunggu! Mereka saling mengenal?!

“Seperti yang kau lihat, aku sedang dalam masa kemakmuranku.” Eun Hyuk tertawa renyah menjawabnya. “Bagaimana denganmu, eo? Kudengar kau sudah berada di tingkat akhir dan akan melaksanakan Suneung tahun ini.”

“Begitulah.” Ki Bum tampak mengedikkan bahu.

Yaa, rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu dan kau masih duduk di bangku kelas satu. Tak kusangka kau akan segera menjadi mahasiswa tahun depan.” Eun Hyuk menggeleng-geleng takjub. Mata sipitnya tampak menerawang seolah tengah memutar kembali awal pertemuan mereka. “Semoga berhasil!” ucapnya menyemangati begitu kembali menatap penuh Ki Bum.

“Terima kasih, Hyung,” kini Ki Bum mengulas senyum tipis di bibirnya.

Eun Hyuk kembali mengalihkan pandangan, dan mulai merasa tergelitik dengan apa yang dilihatnya sekarang. “Sepertinya ada yang terkejut melihat kita saling bersapa, Ki Bum-ah.”

Ki Bum yang mengerti betul maksud Eun Hyuk kini menoleh ke sampingnya dan melihat Soo Rin tengah menatapnya dengan raut tercengang. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa sejak awal dirinya bertegur sapa dengan Eun Hyuk, gadisnya ini sudah memandangnya dan tidak beralih lagi. Membuat tangan Ki Bum merasa gatal untuk menoyor pelan kening berponi itu.

“Jangan melamun!” hanya itu yang diucapkan oleh Ki Bum setelah berhasil menyadarkan Soo Rin. Gadis itu tampak mengerjap beberapa kali.

Yeojachingu (Pacarmu)?” tanya Eun Hyuk seraya melirik Ki Bum penuh arti. Kemudian terpana melihat Ki Bum yang ternyata memamerkan seulas senyum teduh seraya menatap gadis itu dengan… penuh kehangatan.

“Ya,” jawab Ki Bum. Singkat namun penuh kemantapan. Yang entah kenapa membuat Eun Hyuk merasa iri. Heol, kapan dia akan seperti itu? Bisa-bisanya dia didahului oleh lelaki di bawah umur seperti Kim Ki Bum.

Sekaligus jawaban itu menyadarkan Soo Rin sepenuhnya untuk kembali menghadap ke depan. Dengan gugup dirinya membungkuk demi memberi salam untuk pria itu. Sepertinya rasa antusiasnya lenyap begitu saja dan berganti menjadi rasa gugup setelah apa yang sudah ia lihat baru saja. “Annyeonghaseyo, Park Soo Rin imnida.”

Eun Hyuk mengangguk-angguk. Melihat bagaimana kikuknya gadis itu dengan wajah cantiknya yang merona alami membuatnya sedikit tergelitik juga cukup terpesona. Hei, gadis ini benar-benar cantik! Sepertinya Kim Ki Bum benar-benar beruntung. “Annyeong! Kau ingin memesan apa?”

Soo Rin mendengakkan kepala demi melihat papan menu yang terpampang di atas tepat di belakang Eun Hyuk. Tiba-tiba saja dia lupa dengan minuman yang ingin dibelinya. Padahal selama di perjalanan tadi dia ingat betul dengan nama minuman yang ia beli ketika mempir kemari pagi tadi. “Ah, itu, aku pesan Oreo Smoothie.”

“Satu?”

Eoh?” Soo Rin melongo mendengar pertanyaan Eun Hyuk. Kemudian menoleh pada Ki Bum yang ternyata tengah menekuni papan menu di atas sana. “Kau ingin memesan apa?”

“Sama denganmu.”

“Kalau begitu, dua.”

Eun Hyuk mengangguk paham. Kemudian ia tersenyum simpul melihat Ki Bum mengeluarkan dompet dari saku celana serta mengeluarkan selembar 10.000 Won untuknya. Sungguh kekasih yang baik, pikirnya. Begitu menyelesaikan transaksi pembayaran, pria itu berbalik badan menghadap pada jendela dapur di belakangnya lalu berseru, “Dua Oreo Smoothie!” kemudian kembali menghadap dua insan itu. Tersenyum lebar. “Apa kau tidak penasaran bagaimana aku bisa mengenal namjachingu-mu?” tanyanya kemudian.

“Eh?” Soo Rin melongo lagi.

“Apa itu penting?” kini Ki Bum yang menyahut dengan nada datar.

Eii, jangan katakan bahwa kau tidak pernah mengatakannya. Setidaknya gadismu harus tahu bagaimana kau bisa mengenal orang-orang seperti kami.”

Ne?” kini Soo Rin terkejut. Mengerti maksudnya. “Kupikir Kim Ki Bum hanya mengenal Ye Sung Sunbae mengingat mereka adalah saudara sepupu,” ujarnya polos.

Eun Hyuk tergelak seraya mengibaskan sebelah tangan. “Aniya! Perlu kau ketahui, dia sudah pernah bertemu dengan aktor musikal juga solois ternama yang bernama Cho Kyu Hyun, dia juga pernah bertemu dengan aktor Choi Si Won. Ah, dia sudah pernah bertemu hampir semua artis di agensi SM, termasuk kami. Itu terjadi ketika Ye Sung Hyung mengadakan acara open house untuk kafenya yang baru buka kala itu dan mengundang kami semua termasuk Ki Bum.” jelasnya.

Daebak…” Soo Rin menggumam takjub. Padahal rasanya baru saja dirinya mendengar kedua nama fenomenal itu disebut-sebut oleh orang-orang di belakang kala membicarakan soal Ki Bum, tak disangka bahwa kedua nama itu memang berhubungan dengan Ki Bum. Kembali dirinya memandang Ki Bum yang hanya memasang raut jenuhnya. “Kau tidak pernah mengatakan hal itu padaku.”

“Itu bukanlah hal yang penting.”

Soo Rin harus mengerucutkan bibir mendengar balasan datar dari lelakinya itu. Ish, lelaki ini benar-benar tidak dapat diajak berbicara soal seperti ini. Menyebalkan!

Sedangkan Eun Hyuk harus terkekeh geli melihat pasangan di depannya ini. Entah menyadarinya atau tidak, sejak tadi orang-orang di belakang mereka seperti tengah memasang telinga dengan baik demi mendengar percakapan mereka bertiga. Ini merupakan topik yang berbeda karena bukanlah sebuah percakapan antara idola dan penggemar seperti sebelumnya, melainkan percakapan antara kerabat dekat. Dan Eun Hyuk yakin setelah ini, kedua sejoli ini pasti akan ditemukan di dunia maya.

Cah, ini pesanan kalian!” seru Eun Hyuk begitu dua cup minuman sampai di tangannya. Diserahkannya kedua minuman itu kepada Soo Rin dan Ki Bum. “Bagaimana jika nanti kita mengobrol banyak setelah waktu kerjaku berakhir?” tawarnya yang disambut oleh antusiasme Soo Rin. Bahkan para penguping di belakang mereka tampak memekik tertahan begitu mencerna kata-kata Eun Hyuk yang masih terdengar.

“Kami tidak akan berlama-lama di sini, Hyung,” namun Ki Bum menjawab tanpa perasaan. Membuat Soo Rin segera menguarkan raut tidak setuju. Bahkan pria berparas jenaka itu juga ikut memberengut tak terima.

Yaa, memangnya kau tidak merindukanku?”

“Untuk apa?”

Ya! Dasar adik kurang ajar!”

“Sejak kapan aku menjadi adikmu?”

Eishi…” Eun Hyuk mendesis tertahan. Melihat wajah datar Ki Bum benar-benar membuatnya ingin menjitak kepala lelaki itu jika dia tidak mengingat sedang apa dan di mana dia sekarang. “Ara, ara, aku tahu kau tidak ingin aku mengganggu waktu kencan kalian. Bersenang-senanglah!”

Soo Rin hanya meringis salah tingkah, juga merasa heran melihat pemandangan tak disangka ini. Bagaimana tidak jika dia merasa tengah berada dalam ruang lingkup yang begitu akrab layaknya ruang lingkup antar-kerabat, bukan idola dengan penggemar?

****

“Lelah?”

Soo Rin menoleh pada Ki Bum sejenak sebelum menggelengkan kepala. Saat ini mereka tengah berjalan berdampingan, kembali menuju ke rumah Soo Rin. Berjalan kaki. Yah, karena rumah keluarga Park yang jauh dari jangkauan Subway tentunya membuat mereka harus berjalan kaki demi menelusuri jalanan komplek begitu turun di halte terdekat. Suasana komplek yang sudah sepi mengingat hari sudah menunjukkan waktu malam masih bisa dinikmati oleh mereka untuk berjalan santai, dengan tangan yang masih saling bertautan. Ah, perlu diketahui bahwa mereka tidak pernah melepaskannya sejak keluar dari kafe Eun Hyuk tadi. Selain karena tidak ada yang mau melepaskan, Soo Rin juga menggenggamnya dengan begitu erat.

“Kenapa kau tidak ingin kita bepergian dengan mobilku?”

“Berjalan kaki dan naik Subway lebih menyenangkan. Lagipula, aku tidak ingin kau menghabiskan bahan bakar mobilmu hanya untuk pergi ke kafe dan sekedar membeli minuman tanpa berniat untuk menetap lebih lama di sana. Harga tiket Subway lebih terjangku dibandingkan harga bahan bakar mobil.”

Ki Bum terkekeh mendengar jawaban Soo Rin. “Dan memilih untuk menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi?”

Soo Rin menyembunyikan wajahnya sebelum mengangguk. Membuat Ki Bum tak tahan untuk tidak mengusap gemas puncak kepala gadis itu. Rasanya, Soo Rin terlihat berbeda hari ini. Selama di perjalanan, Soo Rin tampak lebih aktif mengajaknya berbicara, dia lebih ekspresif dan banyak tersenyum. Bahkan hanya dengan melihat gelagatnya, Ki Bum dapat menebak bahwa gadis ini tampak enggan untuk melepas kontak tangan mereka sejak awal. Padahal tadi sore gadis ini tampak begitu sensitif, namun sepertinya hal itu sudah mereda dan berganti menjadi seperti sekarang ini. Well, sepertinya gadis ini mulai menunjukkan sifat terbukanya pada Ki Bum. Tentu saja Ki Bum menerimanya dengan senang hati.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Bagaimana jika minggu depan kita datang lagi ke sana?”

“Kenapa?”

“Mungkin saja kita bisa bertemu dengan Eun Hyuk-sshi lagi.”

“Eun Hyuk Hyung hanya berkunjung ke kafenya sebulan sekali. Mungkin kau harus menunggu sebulan lagi untuk bertemu dengannya.”

“Kalau begitu, mungkin saja Lee Dong Hae yang datang dan melakukan kerja sampingan di sana.”

“Lee Dong Hae sudah memiliki toko sendiri, jadi untuk apa dia melakukan kerja sampingan di kafe Eun Hyuk Hyung?”

Soo Rin mengerucutkan bibir. Jawaban Ki Bum memang benar adanya. Lee Dong Hae—anggota D&E yang tak lain merupakan partner Eun Hyuk itu juga menjalani bisnis di dunia kuliner seperti Eun Hyuk. Ia membuka restoran cepat saji bernama Grill 5 Taco di daerah Cheongdam-dong. Cukup jauh dari tempat kafe Eun Hyuk berada, memakan waktu sekitar satu jam lamanya jika menggunakan mobil.

“Ya sudah. Kalau begitu, minggu depan kita pergi ke restoran Lee Dong Hae saja!”

“Aku menolak.”

Waee?”

“Terlalu jauh.”

“Kita bisa naik Subway!”

“Kita pergi ke kafe Ye Sung Hyung saja.”

Ish, bukankah kafe Ye Sung Sunbae justru lebih jauh? Babo!”

“Kau mengataiku Bodoh?”

Eo! Wae?”

“Itu berarti kita Pasangan Bodoh.”

Mwo?!”

Ki Bum tertawa mendengar suara Soo Rin yang meninggi, ditambah wajah cantik itu memberengut kesal. Lagi-lagi dia berhasil menggoda gadisnya ini. “Wae? Bukankah itu berarti kita pasangan serasi?”

“Tapi tidak dengan istilah Bodoh!”

“Lalu apa? HmPinky Couple?”

Yaa!!” Soo Rin merasakan wajahnya memanas tiba-tiba. Dia ingat betul julukan itu tercetus kala mereka mendatangi acara pertunangan Jong Jin dengan Eun Jung, dan sesuai rencana Sae Hee, mereka kompak memakai pakaian berwarna pink. Bukan itu saja yang membuatnya merona, tapi kejadian ketika mereka hanya berdua di lantai dasar Mouse Rabbit itu… dengan kurang ajarnya kejadian itu kembali berputar di otaknya.

Sungguh, itu merupakan kejadian yang sangat mencengangkan dan… memalukan bagi Soo Rin. Tapi sekaligus mendebarkan. Aah, benar-benar. (MFG – First)

“Ingin mengulanginya lagi?”

Eoh? Apa?”

“Ini.”

Tanpa melakukan aba-aba terlebih dulu, Ki Bum melepas tautan tangan mereka dan beralih menghadap Soo Rin, kedua tangan kekarnya dengan cepat memeluk pinggang Soo Rin sekaligus mengangkat tubuh ramping gadis itu. Membuat Soo Rin terpaksa memekik kaget dan segera mencengkeram kedua bahu lebar Ki Bum sebagai pegangan. Oh, bagus. Kim Ki Bum berhasil membuat jantung Soo Rin seperti melompat-lompat meminta untuk dikeluarkan.

M-mwohaneun goya (Apa yang kau lakukan)?!” Soo Rin kelabakan, apalagi menatap wajah tegas yang sudah berada lebih rendah darinya kini mulai membuatnya panik. Bagaimana tidak panik jika lelaki ini semakin memangkas jarak wajah mereka? Membuat Soo Rin secara terpaksa menahan napas dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Kau bisa merasakannya?”

Soo Rin mengerjap, tergagap. “E-eo?”

“Detak jantungku.”

Soo Rin kembali terdiam, hingga tak lama kemudian dia mulai merasakan sesuatu berdebum di dada bagian bawah sebelah kanannya. Yang segera dia tangkap bahwa itu… detak jantung Kim Ki Bum? Soo Rin terperangah, bagaimana bisa dia merasakan detak jantung itu seirama dengan detak jantungnya? Sama-sama berpacu dengan begitu cepatnya?

“Itu selalu bereaksi tiap aku menyentuhmu seperti ini,” seolah mampu membaca pikiran gadisnya, Ki Bum mengutarakannya dengan halus. Seulas senyum teduh yang memancarkan ketampanannya menjadi semakin terlihat, sukses membuat Soo Rin merasakan panas yang menjadi di pipinya.  “Dan aku tahu bahwa kau merasakan hal yang sama,” lanjut Ki Bum begitu berhasil menyisakan jarak di antara mereka yang… bisa dikatakan hanya sebatas jari telunjuk Ki Bum yang mengacung di antara mereka. Sudah sangat dekat. Sekali lagi mereka bergerak, mungkin bibir mereka akan benar-benar bertemu.

Tapi ternyata Ki Bum tidak melakukan hal yang lebih dari itu. Dia kembali menurunkan tubuh ramping Soo Rin dengan perlahan, melepaskan gadis itu dari kurungannya dengan hati-hati. Senyum penuh artinya mengembang kala melihat gadis itu semakin salah tingkah hingga menundukkan wajahnya. Dan Ki Bum memilih untuk kembali menggenggam tangan ramping itu, mengajaknya untuk melanjutkan perjalanannya yang sedikit lagi sampai tujuan.

Kaja! Sepertinya makan malam di rumahmu sudah siap.”

Soo Rin mengangguk seraya mengikuti tarikan lembut Ki Bum. Sungguh, dia masih merasakan sensasi mendebarkan itu hingga sekarang. Bagaimana jika itu tidak kunjung reda hingga mereka sampai rumah?!

.

.

Waktu semakin larut, kedua insan itu tampak melangkah keluar dari kediaman setelah menerima jamuan makan malam dari sang tuan rumah. Soo Rin mengantar Ki Bum menuju mobilnya yang masih terparkir di depan pekarangan kediaman Park sejak pagi tadi. Tak tersentuh sedikitpun.

“Terima kasih untuk jamuannya,” ucap Ki Bum begitu sampai di samping mobilnya. Ia melihat gadis itu mengangguk seraya mengulas senyum manis. Sungguh mempesona, tapi Ki Bum sudah mampu menyembunyikan hal itu di balik wajah tegasnya.

“Terima kasih untuk hari ini.”

Kini giliran Ki Bum yang mengulas senyum manis mendengar ucapan tulus itu. Sebelah tangannya bergerak mengusap lembut rambut panjang Soo Rin, dengan rasa sayang. “Sampai bertemu besok. Kita belajar bersama lagi di kelas, hm?”

Eum!” Soo Rin mengangguk mantap.

Barulah Ki Bum melepas sentuhannya dan berbalik membuka pintu mobil, memasukinya, lalu menyalakan mesin mobil. Deru halus dari mesin benda beroda empat itu mulai terdengar, yang tak lama kemudian benda itu mulai melaju membawa lelaki itu menjauh dari rumah Soo Rin. Sedangkan gadis itu mengantarkan kepergian lelakinya dengan melambaikan tangan. Sampai mobil itu berbelok.

Begitu wujud mobil hitam metalik itu menghilang di balik pertigaan, lambaian tangan Soo Rin melambat, lalu terhenti, dan melunglai begitu saja di sisi tubuhnya. Kepalanya perlahan tertunduk, dan terus menunduk semakin dalam hingga sepasang matanya mampu menatap kedua kakinya. Ia mulai menghela napas yang begitu panjang, berusaha melepas sesuatu yang mengganjal di benaknya sekaligus terasa menekan hampir seharian ini. Sejak pagi tadi.

Dan, wajah cantiknya yang tersembunyi itu meredup seketika.

.

.

To Be Continued


Aaaaaaaaaaaaaaaahh!! Akhirnya part 3 menetas juga dari otak ><
Tapi APA INI?! Ceritanya makin ngga jelas huweeeeeeee ㅠㅠ

Aku sendiri juga gatau ini nyambung apa ngga.. aku mikir karna udah lama ngga dilanjut makanya kubikin panjang, tapi……sepertinya alur jadi ke mana-mana yah ㅠ____ㅠ maaf~

Jujur, aku mulai kesulitan lagi buat ngelanjutin cerita ini. Udah ngga pinter bikin konflik, ditambah aku mulai merasa krisis kata-kata. Beberapa kali aku kudu buka kamus bahasa buat nyari kata yang pas supaya ngga terkesan monoton. Tapi aku ngga tau udah membaik apa belum. Jadi mohon maaf kalo ceritanya membosankan karena cara penulisannya, itu bener-bener murni dariku T/\T

Oke! Setidaknya satu hutang sudah lunas~>< akhirnya bisa bernapas lega sedikit heheheh

Ada bonus dari para cameo kita XD

 

Bvw8DwYCYAAyMN9
Shin Dong Hee!
B3IpkxHCEAENBpe
Ahjusshi! XD

Terima kasih sudah mampir!! ^o^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

24 thoughts on “With You – Part 3

  1. Udah gak sabar nunggu part selanjutnya,kali ini aku baru liat typo darimu thor 😀
    Dari kemarin baca gak nemu 😀
    Pengin rasanya ngantri gitu sama namchin 😀

  2. Jgn blang alur critanya mmbosankan ini ff aku ska bgt,gk mmbosan lagi tmbah greget deh,bnar appa nya kibum turut ikut campur urusan percintaan anaknya,kta sae hee dia gk mau kibum sperti dlu lgi apa kibum jga mengalami hal sma sperti skarang,kira2 apa ya yg d bicarakan shindong k soo rin apa suruh jahuin kibum,trnyata kibum dah knal ama eunhae dekat lgi

  3. Ni ff makin bikin aku gregetan aja apalagi sama sikap Kibum oppa yg bikin Soo rin selalu speechless sama kayak aku yg baca jg gak bisa berkata2 lg saking sukanya….
    ❤ ❤ ❤

  4. Bener kata peramal itu, soo rin harus memiliki fisik dan perasaan yg kuat..

    Aku rasa ada sesuatu yg di bicarakan shindong ke soorin…

    Ahhh ga mau kalo mereka akhirnya berpisahh..

  5. Shindong sama Soo Rin ngomongin ap sih jangan jangan Shindong ngelarang hubungan mereka T.T , terus masa lalu Ki Bum apaan emang bikin penasaran , Kasian Ki Bum jadi memikul beban gara gara ayahnya T.T

  6. Pasangan yang sweet, ditambah dengan latar cerita yang bertema remaja sekolah, menambah kesan manis bagi keduanya. Hidup kibum penuh dengan kejutan yang tak terduga bagi soorin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s