Posted in Fiction, PG-17, Romance, Vignette

Bubble Gum

bubble

Rated : PG-17 (uhuk!) 

Length : Vignette

|| Kim Ki Bum & Park Soo Rin ||

Efek dari mood yang lagi down hari ini, otakku dengan kurang ajarnya menciptakan cerita nista/? ini demi menghilangkan rasa penat -__-
Mohon maaf untuk para pembaca yang—sudah dipastikan—bakal muntah-muntah setelah baca cerita ini. Jangan lupa siapin gayung (?) hahahah
Let’s have a good time, together! 

.

.

:: Inha University –  253 Yonghyeon-dong, Nam-gu, Incheon

||at the garden||

TAMPAK dua sejoli itu tengah duduk santai di salah satu kursi yang tersedia di taman utama kampus. Belum lama mereka berada di posisi seperti sekarang, dan sepertinya mereka tengah menikmati kegiatan mereka masing-masing—sang pria tengah membaca buku di pangkuannya, sedangkan sang gadis hanya duduk manis di samping sang pria—setelah menghabiskan waktu hampir seharian ini menguras otak untuk kuliah mereka. Hari telah berada dalam tahap senja dan ingin menuju pada tahap petang. Namun mereka memilih untuk tidak kembali ke rumah terlebih dahulu. Itulah mengapa, taman utama kampus yang sudah tidak ramai di waktu seperti ini menjadi pilihan mereka.

Ki Bum—pria yang tengah membaca buku itu kini beralih menatap gadis di sebelahnya, mengernyit samar. Sejak awal mereka bertemu di sini, gadis itu sudah tidak bisa mendiamkan mulutnya itu, dia tampak asyik mengunyah sesuatu dan sesekali menghasilkan sebuah gelembung yang cukup besar sebelum kemudian dipecahkan hingga menimbulkan bunyi ‘ppok‘. Dan Ki Bum sedikit heran dengan kegiatan gadis itu.

“Kau memakan permen karet?” akhirnya Ki Bum memilih untuk bertanya langsung.

Soo Rin—gadis itu menghentikan kegiatannya demi menoleh. Kemudian ia mengangguk seraya memamerkan seulas senyum lebar yang justru memperlihatkan kecantikan bercampur keluguannya itu. Oh, sudah dipastikan bahwa Ki Bum terpesona dengan kecantikan yang memancar berkali-kali lipat di wajah Soo Rin akibat senyuman itu. Tapi Ki Bum sudah sangat ahli menyembunyikan fakta tersebut dengan wajah datar—yang entah mengapa justru masih selalu terlihat mempesona—itu dan memilih untuk bereaksi dengan mengangkat sebelah alis.

Meski hal sepele, Ki Bum hampir tidak pernah melihat gadisnya itu begitu asyik mengunyah permen karet. Mungkin jika diingat-ingat kembali, rasanya ini adalah kali pertama Ki Bum melihat gadisnya seperti sekarang. Apalagi kini ia melihat gadis itu mengeluarkan permen karet dari mulutnya itu setelah mengeluarkan selembar tissue demi membungkus permen tersebut sebelum kemudian dibuangnya ke tempat sampah yang tak jauh di sebelahnya. Itu artinya dia sudah lama mengunyah permen karet tersebut sampai—sudah dipastikan—tidak ada rasanya lagi.

“Sudah berapa lama kau mengunyah itu?”

“Sejak kau belum datang.”

Ki Bum memperjelas kerutan di dahinya. Mungkinkah Soo Rin sudah mengunyah permen karet sejak keluar dari kelas kuliahnya hari ini? Mengingat waktu kuliah gadis itu lebih cepat sekitar 70 menit dari kuliahnya hari ini. Apakah gadis itu tidak lelah mengunyah terus? Ki Bum lebih memilih untuk mengulum berbutir-butir permen mint dibandingkan harus mengunyah permen karet sampai terasa hambar di lidah.

“Kau mau?”

Baru saja Ki Bum berpikir untuk lebih memilih permen mint ketika tiba-tiba Soo Rin memberikan tawaran. “Permen karet?”

Um.”

“Kau masih memilikinya?”

Um! Aku membeli beberapa ketika mampir ke kantin fakultasku tadi. Tunggu sebentar!” Soo Rin segera merogoh tas di pangkuannya, mengambil 2 butir permen karet yang terbungkus masing-masing, memberikan satu butirnya untuk Ki Bum sedangkan satunya lagi untuk ia makan sendiri. Membuka bungkusnya lalu melahapnya, mengunyahnya beberapa saat sebelum membuat gelembung baru. Cukup besar sebelum kemudian ‘ppok!’ gelembung itu pecah hingga menyelimuti seluruh permukaan bibirnya. Dengan cepat ia bersihkan lalu melanjutkan kegiatan mengunyahnya lagi.

Tanpa gadis itu sadari, Ki Bum terus memperhatikan tiap gerak-geriknya. Sampai tiba-tiba bibir pria itu sedikit tertarik menciptakan lengkungan miring yang samar—tersenyum penuh arti. Well, sepertinya otak jeniusnya itu tiba-tiba mendapatkan ide yang… bisa dikatakan cemerlang—terlalu cemerlang.

“Aku tidak mau yang ini.”

Hng?” Soo Rin menoleh dengan gelembung baru buatannya yang mulai membesar. Hingga kemudian dirinya harus dikejutkan dengan sebuah tangan yang tiba-tiba meraih wajahnya…

Ki Bum membuka mulut dan dengan cepat meraup gelembung buatan Soo Rin, menekannya hingga gelembung itu melebar lalu ‘ppok’ gelembung itu pecah, yang segera membuat 2 benda lembut itu saling bertemu dengan permen karet yang merekatkan keduanya. Tanpa basa-basi Ki Bum melumat bibir gadisnya yang diselimuti permen karet itu, bahkan dengan tanpa permisi, lidahnya ikut andil yang secara blak-blakan mencecapi rasa bibir manis milik gadisnya itu.

Yah, rasa permen karet.

Soo Rin yang terkejut bukan main akibat serangan dadakan ini, tanpa sadar membiarkan pelaku yang tak lain adalah prianya itu untuk menjamah bibirnya lebih jauh lagi. Mata beriris kecokelatannya itu membelalak lebar. Jantungnya serasa sudah lepas dari tempatnya, entah sudah terjun ke mana. Otaknya tiba-tiba macet total dan terasa kosong, hingga merambat ke sistem kerja syarafnya, membeku hingga tak mampu bergerak. Dan, tubuhnya baru kembali bereaksi beberapa detik kemudian kala Ki Bum… dengan mulus melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulutnya! Tubuhnya bergemuruh hebat yang memicu rasa panas dan langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, terutama wajah cantiknya. Sekaligus merasakan jantungnya yang sempat tak terdeteksi kini kembali berdetak, sangat-sangat cepat!

Astaga, apa yang sedang pria ini lakukan?!

Ki Bum meraih buku bacaan yang masih di pangkuannya dengan sebelah tangan yang bebas, mengangkatnya hingga menutup wajah mereka. Dia masih sadar bahwa mereka masih berada di kursi panjang, dan dia tetap tidak mau berhenti. Di waktu bersamaan Ki Bum mengambil permen karet di mulut Soo Rin dengan begitu lihainya. Tapi bukannya berhenti, dia justru mulai menggoda dengan mulai menciumi bibir yang masih terasa permen karet itu—mencium yang sebenarnya. Melumatnya dengan begitu mesra, bahkan tangan kekarnya yang semula hanya menangkup wajah cantik itu kini beralih ke tengkuk, menekannya demi memperdalam ciumannya.

Barulah Ki Bum berhenti begitu merasakan tangan ramping itu memukul pelan dada bidangnya sebelum kemudian meremas kerah bajunya. Oh, saking candunya dia telah membuat gadisnya hampir kehabisan pasokan udara. Padahal awalnya dia hanya ingin mengambil permen karet yang ada di mulut manis itu. Dan Ki Bum harus menggeram tertahan begitu melepas kontak mereka, melihat Soo Rin yang sudah terengah dengan wajah merona padam. Terpaksa batinnya mengumpat.

Sial! Hal seperti ini yang selalu membuat gejolaknya justru semakin menjadi!

“Aku ingin permen karet yang ini,” ucap Ki Bum setelah berhasil mengontrol gejolak benaknya yang ingin merasakan kemanisan itu lagi. Suaranya terdengar berat dan parau, dan dengan kurang ajarnya dia mengucapkan itu tepat di depan bibir Soo Rin. Membuat gadis itu mati-matian menahan napas dan membiarkan dadanya sesak sekaligus meronta.

Tapi tidak berlangsung lama karena Ki Bum segera menjauh, menatap gadis itu penuh arti sekaligus memamerkan senyum membunuhnya itu. Dan, mulai mengunyah permen karet hasil rebutannya. “Terima kasih!” ucapnya terdengar kalem, tenang. Barulah ia kembali berkutat pada buku bacaannya—yang sempat digunakan untuk menyembunyikan aksinya itu.

Sedangkan Soo Rin—dengan wajah cantiknya yang sudah semerah tomat kini menatap jengkel pria di sampingnya ini. Bagaimana bisa pria ini melakukan hal yang tidak senonoh di sini?! Memalukan!

“Kenapa kau melakukan itu?!”

“Tidak ada salahnya aku berbuat seperti itu padamu, Soo Rin-ah.”

“Tapi ini masih di arena kampus!!”

“Kupastikan tidak ada yang melihat. Kau lihat sendiri bahwa tempat ini selalu sepi di sore hari.”

YA!!”

“Dan tidak ada yang melarangku untuk melakukan hal itu padamu, Kim Soo Rin.”

YA!! Byuntae!!!

.

.

.

FIN


HAHAHAHAHAHAH gatau mau gimana lagi T_____T
sebenernya ini ide dapet dari salah satu ff yang aku temuin beberapa minggu lalu, dan entah kenapa pas suasana hati lagi keruh banget hari ini malah kebayang sama itu ff bahahahah

Jujur aku ga edit-edit lagi loh ini, langsung kuketik saat ini juga dan langsung kuposting. Jadi mohon maaf jika ceritanya aneh banget banget bangeeeeett plus banyak typo T____T karna ini cuma untuk pelampiasan/? dari rasa penatku hari ini. Ga usah diceritain lah ya penat kenapa. Baca cerita ini aja udah ngeselinnya minta ampun bahahah

yosh! Sampai jumpa lagi~ terima kasih sudah mau mampir~^^ //kabur//?

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

26 thoughts on “Bubble Gum

      1. kamu bikinnya dia kelewat polos sih say duh! huhuhu.. kasian kibum *loh*.. but anyway aku selalu nungguin cerita kelanjutan tuh couple absurd kekekeke.. fighthing!

  1. Tuh kan thor kau sukses buat aku senyum2 gaje lg baca ff mu, ngebayanginnya jd malu sendiri tp ini couple KiSoo benar2 sweet bgt jd iri deh sama Soo rin yg punya pacar kayak Kibum oppa kkkkk….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s