Posted in Category Fiction, Fiction, PG-15, Romance, Vignette

Because of Philosophy

wpid-236385_original-picsay.jpg

Genre : Romance

Rated : PG-15 

Length : Vignette

|| Kim Ki Bum & Park Soo Rin ||

Efek dari baca buku ilmu Filsafat, muncullah ide absurd plus ngambang ini hahahah Tolong perhatikan ratingnya, karna menurutku ini belum masuk pg-17 jadi aku bold merah aja XD Let’s have a good time, together! Enjoy~^-^ 

.

.

.

Dan untuk kali pertama, Ki Bum berusaha menjaga jarak dari Soo Rin.

.

.

Entah sudah berapa kali Kim Ki Bum menghela napas panjang hari ini. Di hari liburnya—yang seharusnya santai—ini, sepertinya dia tidak bisa sekedar membaca majalah kesehatannya dengan tenang. Gadis itu, terus saja mengusiknya dengan menghujani segala macam pertanyaan.

Awalnya dia mampu menjawab berbagai pertanyaan gadis itu dengan mudah dan tidak merasa curiga dengan segala pertanyaan yang dikeluarkan. Tapi semakin lama gadis itu mengajukan banyak pertanyaan yang—menurutnya—tidak seharusnya dia jawab dengan mendetil. Bahkan tidak penting untuk dijawab. Sangat tidak penting.

“Kim Ki Bum, kenapa makanan ini disebut dengan ramyun?”

“Kim Ki Bum, kenapa benda yang selalu kau bawa itu disebut dengan stetoskop?”

“Kim Ki Bum, bagaimana kau tahu bahwa ini adalah spaghetti?”

“Kim Ki Bum, apa itu teh hijau?”

“Kim Ki Bum, kenapa kita makan menggunakan sumpit?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis yang tak lain dan tak bukan adalah gadisnya itu. Segala macam pertanyaan yang terdengar begitu konyol dan hampir tidak berarti untuk dijawab itu telah membuatnya merasa tidak menyangka dengan siapa yang tengah ia hadapi.

Bahkan Ki Bum harus dibuat tercengang dengan satu pertanyaan, “Kim Ki Bum, kenapa namamu adalah Kim Ki Bum?”

Astaga! Tidak kah itu merupakan pertanyaan yang sangat-sangat-dan-sangat konyol?

Apakah gadisnya itu terbentur sesuatu hingga bertingkah seperti anak kecil yang tidak tahu-menahu soal segala sesuatu yang ada di sekelilingnya?

Tidak. Gadis itu—Park Soo Rin—masih normal dan sehat. Hanya saja dia tengah terserang sindrom dari buku bacaan milik Ki Bum yang didapatinya semalam. Buku yang berjudul ‘Filsafat’.

Sekilas mengenai apa itu Filsafat; dalam pengertian sederhana, Filsafat adalah semua hal yang berhubungan dengan pertanyaan dan rasa ingin tahu. Bertanya merupakan bagian dasar dalam kehidupan manusia. Rasa ingin tahulah yang mengendalikan sebagian besar pikiran manusia sehari-hari. Pertanyaan ternyata memiliki 2 jenis, yaitu pertanyaan teknis dan pertanyaan filosofis.

Pertanyaan Teknis merupakan pertanyaan yang membutuhkan pencarian informasi untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sedangkan Pertanyaan Filosofis merupakan pertanyaan sehari-hari yang paling mendasar. Pertanyaan Filosofis bukanlah pertanyaan teknis sehingga tidak bisa dijawab dengan cara yang sama. — Bengkel Ilmu Filsafat by Neil Turnbull

Pertanyaan Filosofis bisa sangat aneh dan membingungkan. Sehingga dapat dikatakan sebagai pertanyaan yang konyol, bahkan bodoh. Sebagaimana dengan yang tengah dilakukan Soo Rin hari ini.

Dan untuk kali pertama, Ki Bum berusaha menjaga jarak dari Soo Rin. Dia ingin menjalankan waktu liburnya ini dengan tenang tanpa harus berpikir hingga butuh menguras otak seperti seharian ini. Menguras otak untuk menjawab segala pertanyaan aneh menjurus konyol dari Soo Rin. Bukankah hari libur seharusnya dimanfaatkan untuk bersantai?

Lagipula, bagaimana bisa seorang Kim Ki Bum yang berprofesi sebagai Dokter menyimpan buku bacaan yang melenceng jauh itu? Perlu diketahui bahwa pria itu menyimpan buku bacaan hampir semua bidang di ruang bacaan kecilnya tersebut. Bahkan dia mengoleksi buku berbau Mitologi Yunani dan Ilmu Politik. Salahkan pribadinya yang gemar membaca buku sejak dulu.

Namun, Ki Bum harus menghela napas panjang nan beratnya—lagi, begitu waktu tenangnya yang baru berjalan kurang dari 45 menit lamanya itu harus segera berakhir. Indera pendengarannya menangkap suara kunci otomatis pintu utama apartemen ini terbuka, dan dari sudut matanya menangkap siluet gadis itu tengah menghampirinya.

Gadis itu baru saja kembali dari supermarket. Sengaja Ki Bum menyuruhnya untuk pergi ke sana dengan alasan stok camilan hampir habis, yang dengan begitu Ki Bum dapat bernapas lega—meski sejenak—sekaligus membaca majalah kesehatannya dengan tenang. Tapi, yah, bisa dilihat bahwa waktu tenangnya itu sudah berakhir.

Bahkan sebelum pergi, gadis itu masih sempat-sempatnya mengajukan pertanyaan yang jelas membuat Ki Bum geram…

“Kim Ki Bum, apa itu supermarket?”

Rasanya Ki Bum sudah masuk ke dalam tahap frustasi.

“Kim Ki Bum, kenapa benda-benda ini disebut dengan camilan?”

Mulai lagi, desah Ki Bum dalam hati. Dan Ki Bum serasa ingin menerkam gadis itu karena selalu mengumbar wajah tanpa dosa setiap mengajukan segala pertanyaan konyolnya itu. Layaknya seorang anak kecil yang ingin banyak tahu. Benar-benar membuat Ki Bum kelewat geram… dan gemas.

“Karena benda-benda itu hanya makanan kecil yang tidak langsung mengenyangkan perutmu dan hanya untuk sekedar selingan. Itulah mengapa benda-benda itu disebut dengan camilan.” Yah, tapi Kim Ki Bum masih dan selalu rela memberi jawaban meski dia yakin bahwa sebenarnya gadis itu tahu.

Memangnya seorang Kim Ki Bum tega mengacuhkan gadisnya itu meski sempat berniat untuk menjaga jarak?

Soo Rin—gadis yang sudah membuat Ki Bum frustasi seharian ini hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi lugunya itu. Kemudian duduk di samping Ki Bum, meletakkan 2 kantung plastik berukuran cukup besar di atas meja di hadapan mereka. Detik kemudian, Ki Bum bergerak merogoh sekantung camilan itu dan menemukan sebungkus permen mint.

Sejenak batin Ki Bum merasa lega karena Soo Rin masih mengingat kebutuhan kecilnya ini—mengonsumsi permen mint hampir setiap hari. Ia mengira bahwa gadis di sebelahnya ini sudah menjurus ke dalam taraf lupa ingatan. Karena buku Filsafat itu.

Oh, jangan sampai hal itu terjadi.

Soo Rin memperhatikan gerak-gerik Ki Bum yang membuka bungkusan permen mint itu lalu menyantap satu butirnya. Sejak membaca buku yang dia dapat dari lemari buku Ki Bum, pikirannya telah menjelajah ke mana-mana, bagaikan mendapatkan suatu pencerahan, segala sesuatu hal yang selama ini ia hiraukan kini menyeruak begitu saja hingga memenuhi otaknya. Serta memunculkan suatu keberanian untuk menyerang pria di sebelahnya ini dengan menghujani berbagai pertanyaan yang muncul begitu saja di otaknya. Meski dia tahu sendiri bahwa prianya ini sudah hampir tidak kuasa menghadapinya—hari ini.

Biarkan untuk hari ini. Dia cukup berterima kasih kepada buku itu karena telah menginspirasikannya untuk berbuat jahil. Kapan lagi dia bisa menjahili sekaligus menang dari seorang Kim Ki Bum? Melihat pria itu begitu kusut hari ini sudah berhasil memenangkan hatinya.

“Kim Ki Bum.”

Ki Bum harus menahan diri untuk mendesah keras. Rasanya hari ini dia menjadi sensitif terhadap panggilan khas dari Soo Rin tersebut. Karena sekali namanya dipanggil, maka sudah menjadi peringatan baginya agar mempersiapkan diri untuk memutar otaknya demi menjawab segala pertanyaan konyol lainnya dari gadisnya itu. Dan Ki Bum menoleh, mencoba menatap Soo Rin dengan ekspresi datar andalannya.

“Kenapa rasa manis permen dan cokelat itu berbeda? Bukankah keduanya itu menyandang kata manis?”

“Cokelat pada dasarnya tidak manis, Soo Rin-ah. Baru bisa dikatakan manis setelah diproses dalam campuran gula. Sedangkan permen memang berbahan dasar gula. Itulah mengapa permen selalu manis.”

“Tapi kenapa keduanya memiliki rasa manis yang berbeda? Bukankah keduanya sama-sama mengandung gula? Jadi, sebenarnya manis itu apa?”

Ki Bum menarik napas sedalam-dalamnya. Oh, dia sudah kehilangan kesabarannya sekarang. Park Soo Rin telah berhasil membobol benteng pertahanannya. Hingga dengan geraman tertahan, Ki Bum meraih tengkuk Soo Rin dan meraup bibir manis itu dalam sekejap, melumatnya beberapa kali lalu menggigit gemas bibir bagian bawah gadisnya itu sebelum dilepas. Sekedar untuk melampiaskan rasa geram sekaligus gemasnya terhadap gadis ini. Juga menunjukkan sesuatu…

“Sebagaimana dengan yang baru saja aku lakukan padamu, itu disebut dengan manis meski tidak mengandung gula. Intinya, definisi dari kata manis itu berbeda-beda.” Ki Bum tampak menjelaskannya dengan penekanan, tepat di depan wajah Soo Rin.

Sedangkan Soo Rin harus mengerjap berkali-kali. Sungguh, gerakan Ki Bum yang begitu cepat itu berhasil membuat jantungnya serasa terjun bebas. Dan wajah cantiknya harus menampakkan semburat kemerahan begitu menangkap rasa mint yang tertinggal di bibirnya, mengingatkan bahwa pria itu tengah mengonsumsi permen mint—yang baru saja dibelinya—di dalam mulutnya.

Ciuman rasa mint… entah kenapa Soo Rin merasakan sensasi lain dari jenis ciuman yang dilakukan Ki Bum. Manis yang berbeda. Meski hanya rasa mint yang tertinggal, tapi yang namanya ciuman itu memang manis tanpa harus melakukan proses percampuran gula. Dan entah menyadarinya atau tidak, rasanya Soo Rin ingin merasakannya lagi…

“Kim Ki Bum…”

Ki Bum harus mengeluh dalam hati, Ya Tuhan, kapan gadisnya ini akan berhenti?!

“Apa lagi, Kim Soo Rin?”

Soo Rin harus merasakan wajahnya semakin memanas mendengar sebutan yang keluar dari mulut Ki Bum untuknya. Semenjak status hubungan mereka berubah, Ki Bum hampir selalu menyebut namanya seperti itu dan itu selalu berhasil membuat jantungnya serasa melompat-lompat.

Tidak, tidak. Dia tidak boleh mengalah hanya karena sebutan itu. Akan berakhir dengan sia-sia setelah apa yang sudah dilakukannya seharian ini. Jadi, Soo Rin mengeluarkan senjata terakhirnya. Meski harus menahan rasa malu.

“Kenapa kau terlihat begitu tampan?”

Dan ternyata pertanyaan-konyol-dari-Soo-Rin itu mampu menghantam telak seorang Kim Ki Bum. Pria itu harus mati-matian untuk tidak menunjukkan raut terkejut yang bisa berujung dengan mulut ternganga. Meski pada kenyataannya kini giliran jantungnya yang serasa terjun bebas akibat pengakuan langka dari gadisnya itu. Bahkan rasanya dia belum pernah mendengar pengakuan secara langsung—dari mulut seorang Park Soo Rin!

Meski harus menekan dalam-dalam rasa malunya karena dengan beraninya mengutarakan kalimat itu, namun sebagian dari benak Soo Rin harus bersorak kala melihat reaksi Ki Bum. Ekspresi yang menjerumus kaku dengan dihiasi semburat kemerahan di wajah tegas itu benar-benar membuat Soo Rin merasakan kemenangan. Gadis itu sukses besar membuat prianya tak berkutik.

Sedangkan Ki Bum yang mengerti jalan pikiran gadis di hadapannya ini—sejak awal—memilih untuk membiarkan dirinya kalah. Untuk kali ini, dia mengaku menyerah, setelah apa yang sudah dia dapat dari gadisnya selama seharian ini—memilih untuk mengikuti alur permainan yang tercipta ini—dan tidak menyangka akan diserang habis-habisan seperti ini. -_-

Tapi, tunggu. Ki Bum juga masih memiliki senjata terakhir, bukan? Meski dia sudah mengaku kalah, tidak mungkin dirinya berhenti begitu saja.

Dengan hentakan, Ki Bum menutup majalah yang selalu berada di pangkuannya, melemparnya ke atas meja di hadapannya begitu saja, seraya menggumam dengan geraman halusnya… yang sukses membuat gadis di sebelahnya itu bergidik.

“Kau menang, Soo Rin-ah. Tapi kau harus kuhukum karena baru menyadari aku tampan!” Dengan sekali coba, Ki Bum berhasil memerangkap tubuh ramping Soo Rin sekaligus menyerangnya… dengan ciuman rasa mint yang masih menyelubungi rongga mulutnya itu.

Yah, memang definisi dari kata manis itu tidak seharusnya disangkut-pautkan dengan gula. Karena rasa itu juga bisa didapat melalui hal lain selain dengan makanan, contohnya: apa yang tengah Ki Bum lakukan untuk gadisnya saat ini.

Dan sepertinya setelah ini Ki Bum harus menyembunyikan buku ilmu Filsafat-nya yang dicuri oleh gadisnya ini agar tidak dibaca hingga menimbulkan efek menyebalkan seperti hari ini.

 .

.

.

FIN


I know this is weird, yeah, so weird hahahahah T___T

Salahkan aku aja yang bisa-bisanya punya ide cerita absurd ini… bukannya ngambil manfaat dari buku Filsafat yang kubaca, malah dengan kurang ajarnya imajinasiku nemu ide macam ini (_ _)

Aah, sudahlah, semoga cerita ini //ngga// memuaskan (?) hahahahah Terima kasih sudah mau mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “Because of Philosophy

  1. “Kim Ki Bum, kenapa namamu adalah Kim Ki Bum?” ahahaha ini lucu sumpah. ngebayangin muka polosnya soo rin yg bertanya plus muka frustasinya ki bum pas dengar pertanyaan itu lucu bgt XD

  2. Awalnya menyebalkan tp berakhir dgn manis dan menyenangkan kkk…

    Soo rin kau memang jahil, tp sekali2 Kibum oppa emang perlu dijahilin #evillaugh kkkkk…

  3. Kim Kibum, kenapa kamu gak jadi pacar ku aja? /gakgak/ 😂😂😂
    ya ampun ini so swiiiiiitttttttt haaaaaaaaaahhh >//////<
    udah itu ajah bingung mau ngomong apalagiii T////T

  4. annyeong~ nae pengunjung baru 🙂 sbenarnya tk sngaja terdampar ke sini 😀 dan udah bca bbrapa ffnya tp mianhae krn bru komen hehe.. jeongmal mianhae ;)jujur kisso itu…… Manis ^_^ apa itu manis-? haha~ aigoo ff di WP ini bnr2 manis bgt haha bikin nae senyum2 sndiri :v good FF^^ ijin bca smua ff xa ya 🙂 paypay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s