Posted in Chaptered, Family, Friendship, KiSoo FF "With You", PG, Romance, School Life

With You – Part 2

Pt.2 – A Warning

wyCover

Genre :: Romance, School Life, Complicated, Family, Friendship, Angst 

Rated :: PG

Length :: Chaptered

||KiSoo’Story||

Lanjutan dari cerita absurd ini telah menetas (?) ~~b Mohon maaf jika alur cerita ini begitu membosankan dan ga jelas alias ngambang v(_ _)v Just, let’s have a good time, together! Pls enjoy~~><

ㅡㅡ

.

:: 06:03 PM at Kim Family’s House

Hari telah menunjukkan waktu menjelang petang. Ki Bum baru saja sampai dan menginjakkan kaki di halaman rumahnya. Melangkah menuju pintu utama rumah dan memasukinya. Langsung saja dirinya disambut oleh seorang gadis yang tak lain merupakan adik satu-satunya itu. Menatap Ki Bum dengan cemas, membuat dirinya harus mengernyit melihat ekspresi sang adik.

Appa menyuruhku untuk memberi tahu jika Oppa sudah pulang…” Sae Hee melakukan jeda sejenak. “Appa menunggu Oppa di ruang kerja.”

Ki Bum segera melempar pandangannya ke atas, lantai 2 rumahnya, tempat di mana ruang kerja ayahnya berada. Kemudian ia menghela napas panjang diam-diam supaya adiknya itu tidak semakin mencemaskannya. Karena dia mulai merasakan hal yang sama. Ayahnya tidak akan pernah menyuruhnya untuk menemuinya apalagi di ruang kerjanya jika bukan suatu hal yang penting. Dan Ki Bum sudah bisa menebak apa yang ingin ayahnya bicarakan.

Menatap kembali Sae Hee, Ki Bum berusaha mengulas senyum, mencoba menenangkan adiknya yang terlihat jelas mencemaskannya. Sebelah tangannya terulur mengusap puncak kepala Sae Hee dengan perlahan dan penuh kehangatan.

“Terima kasih. Kembalilah ke kamarmu,” ucap Ki Bum terdengar halus. Sengaja untuk tidak menunggu jawaban dari Sae Hee, Ki Bum segera melangkah menaiki anak-anak tangga yang membawanya menuju ke lantai dua.

Begitu sampai tepat di depan pintu ruang kerja ayahnya, Ki Bum tidak segera membuka apalagi menyentuh pintu itu. Hanya berdiri mematung. Terlihat bahwa dirinya tampak berpikir sebelum akhirnya sebelah tangannya mulai bergerak menyentuh gagang pintu itu, dan membukanya perlahan.

Tampak pria paruh baya terduduk dengan nyamannya di atas kursi singgasana. Wajah tegasnya yang mulai menampakkan keriput di bagian pelipisnya itu terlihat sedikit menunduk, mata sipitnya yang masih terlihat tajam itu menyorot pada tumpukan lembar kertas yang tengah dipegangnya. Meski mengenakan pakaian santai mengingat tengah berada di rumah, penampilannya masih memancarkan kewibawaannya—kewibawaan seorang pemimpin.

Begitu memasuki ruang kerja yang cukup megah itu, Ki Bum menutup pintu ruangan secara perlahan. Yang masih terdengar hingga ayahnya mengangkat kepala dan segera menatap lurus dirinya. Menyambut putra sulungnya dengan tatapan tajamnya.

Ki Bum melangkah mendekat, dan baru berhenti tepat di depan meja kerja ayahnya yang cukup besar itu. Membalas tatapan beliau dengan datar, tanpa berniat melakukan perlawanan melalui adu mata.

Tanpa sepatah kata sambutan, tanpa memberi kesempatan Ki Bum untuk memberi salam, Kim Jin Young segera menyerahkan tumpukan lembar kertas—yang merupakan serangkap artikel—yang tengah dipegangnya tepat ke hadapan Ki Bum. Yang segera disambut oleh lelaki itu dengan menundukkan kepala melihat isi dari artikel tersebut, mengambilnya dengan perlahan, dan Ki Bum harus tertegun akan apa yang ternyata ayahnya berikan.

“Pelajari itu. Setelah itu fokuskan belajarmu untuk dapat masuk ke sana,” ucap Kim Jin Young—Tuan Kim—dengan suara beratnya.

Appa ingin aku masuk ke sana?” Ki Bum menatap Jin Young, sedikit terkejut.

“Kenapa? Kau tidak suka?” Jin Young membalas tatapan putranya. “Suka tidak suka kau harus melakukannya. Bukankah sudah kukatakan bahwa kau harus mengikuti pilihanku?”

“Ini sangat mendadak, Appa…”

“Tidak. Ini tidaklah mendadak. Ini merupakan keputusan yang diambil dengan segera, bukan mendadak. Sudah kujelaskan padamu bahwa kau tidak boleh menunda dalam mengambil suatu keputusan. Dan inilah yang dinamakan mengambil keputusan dengan tidak mengulur-ulur waktu.”

Ki Bum mengatup mulutnya rapat-rapat. Rahangnya mulai mengeras bersamaan tangan yang memegang serangkap artikel itu terkulai, mengepal. Kedua matanya mulai memancarkan ketidaksetujuan, tapi Jin Young tidak menanggapi jawaban tidak langsung itu. Beliau menyandarkan tubuh tegapnya, menatap putranya datar.

“Kau boleh kembali ke kamarmu sekarang,” ucap beliau mempersilahkan. Yang segera direspon oleh Ki Bum dengan segera berbalik dan melangkah keluar ruangan.

Ki Bum mendorong pintu kamarnya begitu saja hingga menutup sedikit keras. Melempar berkas itu begitu saja ke atas meja belajarnya, lalu membuang napas dengan begitu kerasnya. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar, menatap nyalang. Dia harus merasakan kepalanya begitu berat begitu keluar dari ruangan ayahnya.

Satu ultimatum telah dikeluarkan oleh ayahnya. Menyuruhnya untuk masuk ke dalam pilihan ayahnya yang menurutnya sangat mendadak. Ya, ini bukanlah keputusan yang diambil dengan segera hanya agar masalah tidak bertumpuk dan mengakibatkan keterkejaran waktu, justru inilah yang membuat masalah itu menjadi suatu beban berat karena tidak ada persiapan terlebih dahulu.

Ditambah pilihan ayahnya yang didorong karena begitu menginginkan dirinya untuk menjadi penerus. Ada sesuatu yang salah di sini.

Rasanya ini tidak sejalan dengan keinginannya. Rasanya ini tidak sesuai dengannya. Rasanya… ini bukanlah kemampuannya meski dia memiliki otak cerdas berlevel tinggi.

Ki Bum mengakui kesalahannya yang hingga saat ini belum mengambil suatu keputusan mengingat dia sudah setengah jalan menyandang status sebagai murid tingkat akhir. Tapi, haruskah ayahnya ikut campur mengenai masa depannya ini?

Haruskah Ki Bum mengikuti jalan yang dipilih ayahnya ini?

Ki Bum kembali menatap artikel yang tergeletak di atas meja belajarnya. Memandang tanpa minat susunan tulisan yang begitu rapih pada lembar pertama yang merupakan halaman awal dari artikel itu. Melihat judulnya saja sudah membuat Ki Bum tidak berselera untuk meliriknya. Dan, Ki Bum harus menghela napas dengan keras lagi. Rasanya kini semakin berat saja.

About Business Management in Inha University.

Begitulah bunyi dari judul artikel tersebut.

****

:: Neul Paran High School

Waktu istirahat pertama baru saja berjalan. Hampir seluruh murid segera berbondong keluar kelas dan beralih memenuhi tempat peristirahatan yang telah tersedia, mana lagi jika bukan kantin.

Soo Rin yang baru saja membereskan buku-buku pelajarannya kini bangkit dari duduk. Berniat mengikuti jejak teman-temannya. Namun harus segera ia urungkan begitu dirinya berbalik, mendapati Ki Bum masih betah di tempatnya. Mungkin terdengar wajar-wajar saja lelaki itu masih terduduk manis di tempat duduknya meski sudah saatnya beristirahat, tapi yang membuat Soo Rin merasa terheran adalah lelaki itu seolah sudah tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama. Buku-buku yang masih berserakan memenuhi meja beserta sebelah tangannya yang masih memegang pena, wajah tegasnya masih sedikit tertunduk dengan mata yang masih menyorot pada buku catatan di hadapannya.

Kim Ki Bum melamun? Soo Rin membatin tak percaya. Ini adalah kali pertama dirinya melihat lelaki itu melamun.

“Soo Rin-ah, kau tidak ingin ke kantin?” Tae Yong—lelaki yang hendak keluar kelas menyapa gadis itu. Seperti biasa Tae Yong mengajak gadis itu untuk berkumpul bersama yang lainnya—Ah Reum dan Tae Min—di kantin.

Soo Rin menoleh sejenak lalu kembali menatap lelaki yang masih betah pada posisinya itu. Ada yang aneh. Padahal selama ini lelaki itu yang selalu menegurnya untuk tidak melamun. Dan melihat lelaki itu melakukan hal seperti sekarang ini, cukup membuatnya terpana. Tidak pernah Soo Rin melihat Ki Bum melamun hingga tidak menyadari dirinya berdiri di samping mejanya seperti ini.

“Aku menyusul saja.” Soo Rin akhirnya menjawab ajakan Tae Yong. Lelaki itu mengangguk mengerti lalu pamit seraya melangkah keluar.

Tapi ternyata suara gadis itu mampu membuat Ki Bum mengerjap dan tersadar. Langsung saja ia menelengkan kepala demi menatap Soo Rin. Sedangkan Soo Rin yang sudah kembali menatap Ki Bum harus sedikit tertegun mendapati lelaki itu sudah mendengak dan ikut menatapnya.

“Kau kenapa?” Soo Rin mencoba untuk bertanya. Dia memilih untuk kembali duduk di tempatnya dan menghadap lelaki itu.

Ki Bum menghela napas sejenak sebelum mencoba mengulas senyum dan menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan Soo Rin.

“Kau tadi melamun. Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu.” Soo Rin sedikit memiringkan kepala, menatap Ki Bum penuh tanya. “Apa ada sesuatu yang sedang mengganggumu?” lanjutnya pelan.

“Tidak ada.” Ki Bum mengembangkan senyumnya. Melihat tatapan yang begitu serius bercampur lugu itu membuat benak dan pikirannya yang terasa keruh cukup terobati. Gadisnya ini sedang memperhatikannya, dan Ki Bum mensyukuri akan hal itu.

Jinjja (Benarkah)?” Soo Rin merasa tidak yakin dengan jawaban lelaki itu.

Ki Bum menegakkan tubuhnya dan bergerak maju, membantu tangannya yang ingin menjangkau gadis itu. Diusapnya puncak kepala gadisnya itu dengan lembut.

Eo. Jinjja.” Ki Bum menjawab lagi dengan halus. Kemudian ia beralih membereskan buku-bukunya, menumpuknya dengan rapih, barulah bangkit dari tempat duduknya. Dan ia menyadari bahwa segala pergerakannya itu diperhatikan oleh Soo Rin.

Ki Bum meraih sebelah tangan gadis itu, menyuruhnya untuk berdiri. Dan Soo Rin segera menuruti tuntunannya. Entah mengapa, ini adalah kali pertama Soo Rin tidak kunjung mengalihkan pandangan dari wajah tegasnya—sejak awal. Hal itu sukses membuat Ki Bum cukup untuk terpana melihat gadisnya menatap dirinya begitu lekat. Tidak biasanya. Memangnya kapan gadisnya ini mau menatapnya seperti sekarang ini?

Dan karena hal itu, Ki Bum dapat melihat mata jernih itu mulai memancarkan… kekhawatiran, untuk dirinya. Menunjukkannya secara tidak langsung kepadanya. Dan dia harus meyakinkan gadis ini bahwa tidak ada yang sedang dia pikirkan.

Untuk saat ini.

“Kau ingin aku menciummu?”

Soo Rin mengerjap kaget mendengar tutur kata itu. Langsung saja dirinya menundukkan wajah, memutus kontak pandangnya dari Ki Bum. Dia mulai gugup.

Sedangkan Ki Bum harus tersenyum geli melihat reaksi itu. Setidaknya dia berhasil menyadarkan gadisnya ini untuk berhenti menatapnya seperti tadi.

“Ayo ke kantin!” ajaknya kemudian seraya menarik tangan Soo Rin yang sudah ada di genggaman. Dan gadis itu segera mengikuti langkahnya.

Sebenarnya, Ki Bum ingin menyadarkan Soo Rin untuk berhenti, karena dia juga mulai menyadari bahwa benaknya tiba-tiba merasakan sensasi baru melihat mata jernih itu begitu lekat berusaha mengunci tatapannya. Dan dia tidak mau sensasi itu berkembang di waktu yang tidak tepat seperti sekarang, lalu berakhir dengan dirinya yang harus mengubah ketidakseriusan tutur katanya itu… menjadi sebuah keseriusan.

****

Soo Rin telah berdiri di halte bersama 2 teman dekatnya, Ah Reum dan Tae Yong. Waktu telah menunjukkan hampir pukul 9 malam dan mereka baru saja menyelesaikan pelajaran tambahan sekolah mereka. Lelah? Sudah dipastikan bahwa mereka merasakan hal itu.

“Aah, aku ingin segera sampai rumah,” desah Ah Reum. Kedua bahunya melemas hingga punggungnya sedikit membungkuk. Kentara sekali wajahnya begitu lelah dengan mata yang meredup. Kelelahan. “Aku ingin segera merasakan tempat tidurku…” lanjutnya menerawang.

Ya, kalian sudah mengerjakan tugas dari Jung Seonsaengnim untuk besok?” Tae Yong membuka sebuah topik. Dia melihat Soo Rin mengangguk pelan, sedangkan Ah Reum tampak tersentak kaget.

“Astaga! Aku baru mengerjakan setengahnya!” Ah Reum hampir memekik. Kedua tangannya terangkat memegang kepalanya seperti orang sakit kepala. “Hwaaaaa bagaimana ini?! Ini sama saja aku harus lembur!” racaunya tak karuan.

“Aku bahkan belum mengerjakannya sama sekali.” Tae Yong terkekeh. “Sepertinya aku juga akan lembur, bahkan tidak tidur sama sekali.”

“Kenapa begitu?” Soo Rin tampak mengerutkan kening.

“Kau lupa? Aku harus menjalani masa training malam ini hingga dini nanti. Dan mungkin aku baru sanggup mengerjakan tugas itu di waktu subuh nanti,” jelas Tae Yong seraya menggelengkan kepala. Meratapi nasibnya.

Soo Rin dan Ah Reum termenung. Mereka hampir lupa bahwa Tae Yong sudah hampir satu tahun menjadi trainee di bawah naungan agensi besar yang juga menampung penyanyi solo yang mereka kenal cukup dekat, Ye Sung. Lelaki ini pasti menjalani kehidupannya dengan sangat sulit. Sudah menjadi murid yang dituntut untuk belajar terus-menerus demi bekalnya masuk universitas nanti, dia juga dituntut untuk terus berlatih demi bekalnya di atas panggung suatu hari nanti.

“Kau pasti sangat lelah dibanding kami,” gumam Soo Rin pelan. Yang masih didengar oleh kedua temannya itu.

“Tapi itu semua akan sepadan jika aku berhasil menyusul Ye Sung Hyung nanti.” Tae Yong menampakkan cengirannya.

“Tentu saja! Kau harus menyusul Ye Sung Oppa dan menraktir kami setelahnya!” sahut Ah Reum. “Tapi kau harus berjanji pada kami untuk tidak berubah, Tae Yong-ah. Kau tidak boleh berbuat sombong pada kami jika kau sudah berhasil nanti,” ancam Ah Reum dengan telunjuk menuding tepat di depan hidung Tae Yong. Membuat lelaki itu terkekeh.

“Aku pastikan bahwa kalian tidak akan merasakannya,” balas Tae Yong meyakinkan. Menatap kedua gadis di hadapannya secara bergantian. Lalu memaku tatapannya pada Soo Rin yang tersenyum untuknya. “Justru kalian akan jatuh hati kepadaku nantinya,” lanjutnya terdengar sedikit menggelikan. Kemudian dengan kurang ajarnya mengedipkan sebelah mata.

Dan Soo Rin yang mendapatkan kedipan itu terpaksa melotot. Eii, lelaki ini menggodanya lagi.

Ya, ya, ya!! Beraninya kau menggoda gadis yang sudah menjadi milik orang lain!” sungut Ah Reum dengan menjitak kepala Tae Yong tanpa ampun. Sedangkan lelaki itu hanya meringis bercampur tawa mendapatkan serangan dari gadis ini.

Wae? Kau cemburu? Kau juga ingin kugoda seperti Soo Rin?”

Mwo?! Percaya diri sekali bocah ini!”

“Mengaku saja. Aku akan melakukan hal yang sama padamu jika kau mau.”

Yaa! Kau ini benar-benar! Ini pasti hasil dari bergaul dengan Tae Min, ‘kan? Kalian ini tidak ada bedanya, dasar lelaki penggoda!!”

Dan Soo Rin harus tertawa melihat dua makhluk itu kembali beradu mulut seperti biasanya. Teman-temannya ini memang pantas menjadi bahan hiburan di tengah-tengah penatnya otak. Pasti ada saja topik yang mereka akhiri dengan gurauan meski dengan cara seperti ini.

Drrt drrt…

Soo Rin merasakan sesuatu bergetar singkat di saku seragamnya, sudah dipastikan bahwa ponselnya baru saja mendapatkan sebuah pesan masuk. Begitu berhasil mengambil benda putih persegi panjang itu dan menyalakan layarnya, tanpa aba-aba Soo Rin mengulas senyum tipis di bibirnya.

From: Ki

Segeralah pulang dan tidak mampir ke manapun. Sekalipun bersama Tae Yong atau Ah Reum, mengerti?

Aigoo, seperti biasa lelakimu menyempatkan diri memberi perhatiannya untukmu,” celetuk Ah Reum tiba-tiba.

“Bahkan dengan beraninya dia menyebut nama kami tanpa sepengetahuan kami. Ckckck…” Tae Yong menggelengkan kepala dengan heran.

Yaa!” Soo Rin memberengut. Sejak kapan kedua temannya ini sudah berdiri di belakangnya dan mengintip isi pesan dari si Ki—yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Ki Bum—itu? Padahal sebelumnya mereka masih bergelut dengan kegiatan adu mulut. Astaga, dia merasa malu mendapati kedua temannya ini memergokinya.

“Aku jadi ingin merasakan hal seperti itu,” gerutu Ah Reum dengan bibir mengerucut.

“Kau ingin merasakannya juga? Bagaimana jika kita berkencan, hm?” Tae Yong menggoda Ah Reum lagi. “Aku akan selalu mengirim pesan sebanyak enam kali dalam satu jam. Bagaimana?” lanjutnya. Kedua alisnya bergerak naik-turun membuat Ah Reum jengah juga merasa geli.

Heol… lebih baik aku melajang daripada harus menerima pesan darimu setiap sepuluh menit sekali. Itu sama saja kau sedang menerorku. Tidak, terima kasih!”

“Bukankah seorang gadis akan merasa senang jika lelakinya terus mengirim pesan? Ayolah. Selama aku masih menjadi trainee aku masih bebas untuk berkencan.”

“Lalu kau akan mencampakkanku begitu kau sudah debut menjadi idol? Kau benar-benar keterlaluan, Lee Tae Yong!”

Tae Yong terbahak melihat raut wajah Ah Reum yang terlihat sangat kesal terhadap dirinya. Senang sekali rasanya melihat temannya itu terjebak dalam pesona jahilnya itu.

Juga lagi-lagi Soo Rin harus dibuat tertawa melihat kelakuan mereka. Sepertinya mereka sudah melupakan aksi pemergokan itu dan melanjutkan kegiatan adu mulut mereka. Soo Rin kembali menatap layar ponselnya, dia belum sempat membalas pesan dari Ki Bum. Mengingat arah jalan pulang mereka yang berbeda, lelaki itu pasti akan mengirim pesan untuknya setelah berpisah. Entah itu sekedar mengucapkan hati-hati atau memberinya semacam nasihat seperti pesan yang sekarang ini.

Seseorang datang kala mereka masih bersenda gurau. Orang itu berdiri tepat di samping Soo Rin yang tengah mengetik sebuah pesan. Diliriknya ponsel di pegangan gadis itu sebelum kembali menatap lurus ke depan.

“Kau memiliki kekasih?”

Soo Rin harus tersentak kaget menangkap suara asing tepat di sebelahnya. Ia segera menoleh dan secara spontan menggeser sedikit tubuhnya demi membuat jarak dengan orang itu. Apakah orang itu berbicara padanya?

Orang itu menoleh, menatapnya dengan raut datar. “Ya. Kau,” ucapnya lagi. Seolah dirinya membaca pikiran Soo Rin.

W-waeyo?” Soo Rin memilih untuk tidak menjawab secara langsung. Ia mulai menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku seragamnya.

“Berhati-hatilah.”

Soo Rin menoleh pada orang itu, yang sudah kembali menatap lurus ke depan. Kening di balik poninya mulai membentuk beberapa lipatan halus. Berhati-hati? Berhati-hati untuk apa? Pikirnya mulai bingung.

“Meski itu bukanlah masalah yang datang darimu melainkan darinya, tetap kau akan terseret ke dalamnya,” jelas orang itu. Kemudian ia menoleh lagi. “Karena itu juga menyangkut akan nasib dirimu bersamanya.”

Entah mengapa mendengar tutur kata orang itu berhasil membuat Soo Rin tercenung. Pikirannya segera melayang pada sosok Kim Ki Bum, mengingatkannya akan adanya sedikit perubahan dari lelaki itu sejak pagi tadi.

Apa benar bahwa lelaki itu sedang ada masalah mengingat orang di sebelahnya ini mengatakan hal tersebut? Tapi, memangnya masalah apa yang tengah dihadapi lelaki itu hingga berdampak pada dirinya?

Tunggu dulu.

Orang ini—orang di sebelahnya ini… kenapa tiba-tiba berkata seperti itu padanya? Kenapa orang ini tiba-tiba membuat topik pembicaraan yang sudah merupakan topik privasi? Dan kenapa orang ini berkata seolah tahu soal dirinya dan Kim Ki Bum?

Orang ini… siapa?

Tiba-tiba Soo Rin merasakan sebelah lengannya ditarik. Menjauhkan dirinya dari orang itu, dan berganti dengan dirinya yang sudah berdiri di belakang Tae Yong. Lelaki itu menyembunyikan dirinya di balik punggung tegapnya, menghalanginya dari orang asing tersebut. Dan kini, Tae Yong telah berhadapan dengan orang itu.

“Jangan ganggu temanku. Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja padaku.” Tae Yong menatap dingin orang itu. Seorang pria bertubuh jangkung dengan tubuh dibaluti celana jeans biru gelap dengan atasan berupa hoodie hitam, dan tudung itu menutupi kepalanya. Terlihat aneh meski sebenarnya udara malam ini cukup dingin mengingat saat ini merupakan pertengahan musim gugur.

“Kalau begitu, tolong sampaikan ini pada temanmu.” Pria asing itu melirik Soo Rin yang tengah menatapnya kebingungan. “Jika kau ingin mempertahankannya, maka kau harus menguras fisik dan batinmu demi mampu mengejarnya. Karena dari yang kulihat, kau tidak cukup memilikinya.”

Hening. Begitulah keadaan di antara mereka setelahnya. Aura tidak bersahabat telah menyelimuti mereka. Ditambah, pembawaan pria itu cukup tidak mengenakkan. Seolah dirinya diselubungi aura gelap yang bisa dirasakan hingga radius beberapa meter. Seperti yang mereka rasakan saat ini. Dan lagi, cara berbicara orang ini terdengar aneh, logat yang digunakan sangat aneh. Awalnya terdengar seperti mengenakan dialeg daerah tertentu, tapi semakin lama didengar ternyata pria ini berbicara dengan dialeg yang juga terdengar asing.

“Busnya sudah datang. Lebih baik kita pergi.” Ah Reum yang sedari tadi terdiam akhirnya memecah keheningan di antara mereka. Menarik Soo Rin dan juga Tae Yong menjauh dari pria itu, menyeret mereka untuk ikut masuk ke dalam bus yang sudah datang.

Soo Rin menatap pria yang masih berdiri di tempatnya dari dalam bus. Begitu bus yang ditumpanginya berjalan, pria itu memutar tubuhnya dan menatap lurus kepadanya. Mengantar kepergiannya dengan tatapan datar namun tajam. Seolah tengah menyampaikan secara tidak langsung bahwa pria itu tidak bergurau akan ucapannya. Barulah tatapan mereka terputus begitu sosok pria itu sudah sangat jauh dan tak terlihat.

“Soo Rin-ah, duduklah.” Tae Yong menyadarkan dengan menuntun gadis itu untuk duduk di sebelah Ah Reum. Sebelum kemudian ia memilih duduk di bangku seberang. Dan Tae Yong harus mendesah melihat gadis itu mulai melamun. “Jangan terpengaruh dengan kata-kata orang itu. Dia pasti orang tidak waras yang kebetulan lewat dan hanya berniat menakut-takuti,” tegurnya.

Soo Rin menghela napas panjang. Sebenarnya dia sendiri tidak ingin menghiraukan perkataan pria asing itu. Tapi seolah segala tutur kata itu sudah dimantrai, perkataan pria itu terus berputar di otaknya hingga detik ini. Ditambah semua itu seolah bagaikan suatu pemicu yang membuatnya harus kembali membayangkan sosok Kim Ki Bum.

Dan entah mengapa, kata hatinya berkata bahwa pria asing itu memang tidak bergurau…

Soo Rin menghela napas lagi. Dia mulai merasa tidak enak.

Memangnya apa yang akan terjadi padanya nanti? Dan juga Kim Ki Bum?

****

(09:50 PM)

Tampak Ki Bum tengah merebahkan diri di atas kasur empuknya. Sebelah tangannya terlipat menutup kedua matanya. Begitu sampai rumah, ia segera masuk kamar dan menumbangkan diri. Tidak memberi kesempatan untuk dirinya sendiri berganti pakaian atau hanya sekedar melepas jas sekolahnya. Hanya meletakkan tasnya di kursi belajar seraya melepas kacamatanya begitu saja.

Rasanya dia begitu lelah. Lebih tepatnya lelah pikiran. Sejak Hari Minggu lalu dirinya mulai dirundung pikiran yang memperkeruh otaknya. Karena jelas, ultimatum ayahnya tidak bisa dianggap enteng seperti angin lewat begitu saja.

Dan perkataan ayahnya kemarin telah menyiratkan bahwa dia tidak ada kesempatan untuk mencari lagi.

Aah, kenapa ayahnya bertindak begitu gegabah di matanya?

Ki Bum tidak suka dengan tindakan ayahnya ini.

Drrrrrtt… Drrrrrrtt…

Ki Bum merasakan ponselnya yang masih tersimpan di saku seragamnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Merogohnya, Ki Bum segera mendapati layar ponselnya menyala dan menerterakan nama kontak yang memanggilnya. Detik kemudian—bagaikan disiram air pegunungan yang begitu menyejukkan—seulas senyum merekah di bibir penuhnya. Rasanya beban di pikirannya menguap begitu saja begitu melihat nama si pemanggil itu.

Kenapa waktunya tepat sekali?

Langsung saja Ki Bum menyentuh layar ponselnya dan menggeser tanda berwarna hijau itu. Menjawab panggilan dari ‘Adorable Girl’ itu.

Hm?” untuk kali ini Ki Bum menjawab hanya dengan gumaman halus seraya memejamkan mata. Ingin segera mendengar suara merdu di seberang sana.

“Kau sudah sampai?”

Eum. Belum lama. Bagaimana denganmu?”

“Aku baru saja sampai.”

“Syukurlah kalau begitu. Segeralah berganti pakaian dan beristirahat, mengerti?”

“Kim Ki Bum…”

Hm?”

Ki Bum tidak segera mendapatkan respon kembali. Keadaan menjadi hening di seberang sana. Membuatnya mulai mengernyit.

Wae?” Ki Bum membuka suara lagi. Dan dia tidak segera mendapat respon lagi. Tanpa sadar Ki Bum bangkit dari tidurnya hingga kini terduduk di pinggir tempat tidurnya. “Soo Rin-ah?” panggil Ki Bum dengan halus.

“Kau—kau baik-baik saja, ‘kan?”

Meski merasa lega gadis itu kembali membuka suara, tapi Ki Bum harus tertegun mendengar gadis itu justru mengajukan pertanyaan yang terdengar mendadak.

“Kenapa kau bertanya begitu?” Ki Bum mencoba berbicara normal seperti sebelumnya. Berusaha untuk tidak menunjukkan keterkejutannya.

“Aku… aku hanya… ingin memastikan.”

“Memastikan apa? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku sudah sampai rumah?”

“Bukan itu.”

“Lalu?”

Lagi, Soo Rin tidak langsung menjawab di seberang sana.

“Soo Rin-ah, ada apa?” Ki Bum semakin dibuat bingung dengan kediaman gadis itu.

Aniya… (Tidak)” terdengar jawaban Soo Rin yang begitu pelan.

“Katakan saja padaku.”

Aniya…

Dan jawaban yang terdengar semakin pelan itu justru membuat Ki Bum berpikir bahwa gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang—mungkin—sebenarnya ingin diutarakan tetapi segera diurungkan karena mungkin belum saatnya untuk diutarakan. Atau, mungkin tidak boleh diutarakan.

“Soo Rin-ah—

“Kim Ki Bum…”

Ki Bum segera mengatup mulutnya mendengar gadis itu juga memanggilnya. Dia memilih untuk memberi kesempatan gadis itu untuk kembali berbicara. Meski harus menunggu jeda yang gadis itu buat—lagi.

“Selamat malam.”

Entah mengapa Ki Bum merasa tidak puas dengan ucapan Soo Rin. Ditambah dia harus merasa aneh begitu gadis itu segera memutus panggilannya, tanpa menunggu jawaban darinya. Meski dia tahu pasti bahwa Soo Rin masih begitu kikuk terhadap dirinya, tapi rasanya untuk kali ini gadis itu sedikit berbeda. Seperti ragu-ragu ingin melakukan sesuatu hingga akhirnya memilih untuk tidak melakukannya.

Ditambah, Ki Bum harus dibuat bingung dengan Soo Rin yang tiba-tiba menanyakan keadaannya. Padahal sebelumnya mereka berpisah di depan sekolah seperti biasanya. Tidak ada yang mengganjal.

Apakah Soo Rin memang sedang menyembunyikan sesuatu?

Tapi apa?

.

.

Soo Rin menatap lekat layar ponselnya yang masih menerterakan nomor kontak Ki Bum. Ia menghela napas panjang dan dalam. Setelah mendengar suara lelaki itu, entah mengapa justru membuat benaknya semakin gelisah. Sisi sensitifnya muncul begitu saja ketika mendengar suara lelaki itu. Mencoba menerka melalui nada dan cara bicara lelaki itu tadi. Memang tidak ada perubahan, tapi ada satu hal yang mulai mengganggunya.

Oh, mungkin itu merupakan hal yang sepele dan tidak seharusnya dipermasalahkan. Tapi mendapati lelaki itu tidak segera menjawab pertanyaannya tadi justru membuat Soo Rin mulai dirundung gelisah setelahnya, meski lelaki itu hanya melakukan jeda sekitar 2 detik lamanya. Entah karena lelaki itu merasa terheran atau justru karena lelaki itu terkejut dengan pertanyaan mendadaknya.

Ditambah pikirannya masih dibayang-bayangi dengan pria asing yang ditemuinya tadi. Masih sangat jelas perkataan pria asing itu mengenai dirinya… juga Ki Bum. Meski pria itu tidak menyebut nama Ki Bum, juga tidak menyebut namanya. Padahal Tae Yong dan Ah Reum sudah mengingatkannya untuk tidak menganggap serius perkataan dari pria asing itu.

Soo Rin ingin sekali menganggap pria asing itu hanya orang kurang waras yang tak sengaja sedang bertemu dengannya dan berbicara melantur padanya. Tapi anggapan itu segera sirna karena tatapan tajam yang masih sangat diingatnya itu. Juga cara berbicara yang terdengar tidak dibuat-buat meski dengan dialeg yang begitu aneh.

Menghela napas lagi, Soo Rin meletakkan ponselnya di meja belajar, menyandarkan tubuhnya pada kursi belajarnya. Rasanya dia tidak ada niatan untuk berganti pakaian dengan segera. Selain karena lelah, dia juga masih memikirkan banyak hal.

Sebenarnya siapa pria asing itu?

Kenapa tiba-tiba pria itu berkata demikian padanya?

Apakah pria itu hanya sedang berlakon?

Atau sebenarnya pria itu adalah seorang peramal…

Soo Rin tertegun.

Otaknya kembali berputar mengingat wujud pria asing itu. Bertubuh jangkung dengan kepala tertutup oleh tudung hoodie berwarna hitam polos, mengenakan celana jeans berwarna biru gelap serta sepatu sneakers berwarna hitam dan putih. Sedangkan wajahnya… putih pucat, dengan mata tajam yang terhias garis hitam semacam eye liner di sekitarnya.

Peramal… Pria itu seorang peramal?

Jika kau ingin mempertahankannya, maka kau harus menguras fisik dan batinmu demi mampu mengejarnya. Karena dari yang kulihat, kau tidak cukup memilikinya.

Meski itu bukanlah masalah yang datang darimu melainkan darinya, tetap kau akan terseret ke dalamnya.

Berhati-hatilah.

Maldo andwae… (Tidak mungkin)” desis Soo Rin pelan. Benaknya mulai bergemuruh tak karuan.

.

.

To Be Continued


maksa banget ceritanya hahahahah T.T
sebenernya mau masukin karakter baru, tapi aku malah kepikiran make jalan cerita ini.

Aneh ya…… i know -___,-

Mohon maaf jika pembaca merasa makin ngambang dengan cerita absurd ini
(_ _)

Yosh! Sampai jumpa di part selanjutnya~ dan cerita lainnya (?) hahah Terima kasih sudah mampir~^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “With You – Part 2

  1. Aku jga dah nebak pria itu peramal,apa akan terjadi sesuatu yg buruk mngenai hubungan kibum dan soo rin mungkin kah ada hubungan dgnya dg ayah kibum,kasihan kibum apa dia mau mengikuti perintah ayahnya msuk k inha university, sbelumnya maaf ya tdi aku sedikit mnemukan typo harusnya kan dialog bkan dialeg atau memang ada kta dialeg cuma itu aja yg lainnya gk mkin seru aja,smangat ya

  2. oo.. masalah yang tiada tara~~
    kisoo sama2 ragu buat ungkapin kegelisahannya, dan disitu saya merasa gemes ama mereka berdua.. hahahaa~~
    bacanya dipotong2 nih aku.. kkPLAK!

  3. Bukan aneh tapi keren , Ayah Ki Bum teges banget bikin takut , Penasaran banget siapa sih tuh cowok aku fikir itu Cho Kyuhyun :v *ngarep* , Ki Bum harus cepat bertindak kalo gak mau jadi penerus Ayahnya

  4. Aku pikir, konflik yang ada hanya berupa siswa akhir yang galau untuk menentukan masa depan, tapi sepertinya ini jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.
    Penasaran dengan laki-laki yang berdiri di halte, bayangan wajahnya masih absurd, walau di paragraf akhir, soorin sudah mendefinisikan laki-laki itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s