Posted in Category Fiction, Chaptered, Family, Friendship, KiSoo FF "With You", PG, Romance, School Life

With You – Part 1

Pt.1 – A Choice wyCover

Genre :: Romance, School Life, Complicated, Family, Friendship, Angst 

Rated :: PG 

Length :: Chaptered 

||KiSoo’Story||

kisukisu kembali hadir dalam bentuk series~^^ mohon maaf jika alur dari cerita ini membosankan dan bikin ngambang hehet! Let’s have a good time, together! Enjoy~~>< 

mohon maaf jika masih ditemukan typos

ㅡㅡ

.

“BULAN November semakin dekat dan kalian tahu waktu apa itu. Jadi mulai hari ini, kalian harus mengikuti pelajaran tambahan setiap pulang sekolah.”

Seketika penghuni Kelas 3-2 berseru kompak menandakan ketidaksetujuan atas ultimatum Guru Jang yang merupakan wali kelas tersebut. Karena jelas pelajaran tambahan di waktu setelah pulang sekolah pasti akan berlangsung hingga malam hari. Tapi hal itu memang sudah menjadi tradisi semua sekolah di Korea Selatan, dan berlaku bagi para murid yang sudah menyandang status menjadi murid tingkat akhir.

Ujian yang dimaksud tidak hanya ujian akhir yang dilaksanakan oleh para murid tiap tingkatan, tetapi juga ujian masuk universitas untuk para murid tingkat akhir atau biasa dikenal dengan Suneung—Ujian Kemampuan Skolastik ke Perguruan Tinggi—yang diadakan pada satu tanggal di bulan November. Dan ujian masuk universitas merupakan ujian yang terberat dibanding ujian akhir lainnya. Mereka harus berkompetisi dengan murid sekolah lain demi menarik perhatian berbagai universitas ternama di sana—universitas incaran mereka. Itulah mengapa para guru lebih menekankan murid-muridnya pada ujian ini dibandingan Ujian Akhir Sekolah.

Dan sepertinya, hari ini—di awal musim gugur ini—adalah waktu di mana mereka memulai persiapan untuk berperang nanti. Belajar mati-matian hingga larut malam, bahkan mungkin hingga lewat tengah malam. Bersekolah dari pagi hingga malam hari, sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai.

Dok dok dok dok

Guru Jang mengetuk papan tulis kelas yang berada di belakangnya. Menginterupsi aksi keluh-mengeluh sebagai tanda protes para murid Kelas 3-2 dan berhasil, mereka segera mengatup mulut kembali. Menenangkan suasana kelas kembali.

“Tidak ada gunanya kalian mengeluh. Manfaatkan waktu sebaik mungkin jika kalian tidak ingin terus menetap di sekolah ini untuk mengulang satu tahun lagi dan merusak masa depan kalian sendiri. Mengerti?”

Ne…

Guru Jang berdecak. Tidak puas dengan jawaban mereka. Terdengar sangat lemah padahal jumlah mereka berkali-kali lipat dibanding dirinya seorang diri. “Mengerti?” beliau mengulang lebih tegas lagi.

Neeee!

“Bagus.” Guru Jang turun dari depan kelas. “Kalian diberi waktu istirahat sejenak selama lima belas menit. Dan jangan ada yang berani bebenah. Siapkan buku kalian untuk pelajaran kita nanti,” ujarnya sebelum keluar dari kelas.

Dan suasana kelas tersebut kembali gemuruh begitu ditinggalkan oleh Guru Jang. Memuntahkan keluhan-keluhan yang sempat tertunda. Banyak dari mereka—yang telah memasukkan buku-bukunya dan bersiap ingin pulang—kini kembali merogoh isi tas mereka dengan malas, mengambil buku pelajaran yang akan diajarkan oleh Guru Jang. Namun ada juga yang memilih untuk melemaskan tubuh mereka sejenak, entah dengan menyandarkan tubuhnya hingga sedikit merosot, menjatuhkan kepala mereka ke atas meja, atau hanya sekedar bertopang dagu.

“Aah, rasanya kepalaku sudah sangat panas sekarang.”

“Bukan panas lagi, tetapi sudah mau pecah.”

“Padahal baru saja bertemu dengan Sastra, dan sekarang harus bertemu dengan Bahasa Inggris.”

Ough, seharusnya saat ini aku bermain PS sampai malam!”

“Aku benar-benar tidak ada minat belajar Bahasa Inggris saat ini. Aku lapar.”

Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan yang terlontar dari mulut-mulut mereka. Memang benar bahwa mengeluh itu percuma, karena Guru Jang tidak mungkin mendengar apalagi membatalkan kegiatan ini. Tapi setidaknya mengeluh bisa sedikit menguarkan beban penat mereka sebelum kembali bertemu dengan buku-buku pelajaran itu. Meski hanya sedikit.

Seorang gadis yang telah mengeluarkan buku tebal berbahasa Inggris itu mulai menekuni isinya, meski sebenarnya dia sama seperti teman-temannya. Otaknya sudah gerah dan ingin rasanya mendinginkan kepala panasnya. Tapi, waktu 15 menit yang kini telah berkurang sepertinya tidak akan cukup untuk melakukannya.

Soo Rin—gadis itu dengan sedikit malas membuka lembar demi lembar hingga menemukan halaman yang sempat ia buka semalam. Kumpulan soal latihan yang sempat ia kerjakan setengahnya saat belajar semalam. Sebenarnya dia tidak begitu yakin dengan jawaban yang ia tulis mengingat dirinya tidak begitu pandai dalam Bahasa Inggris. Dia kembali menelaah soal-soal yang sudah dia jawab, ada beberapa jawaban yang meragukan baginya. Tapi karena sedang tidak ingin terlalu memusingkannya—supaya saat bertemu dengan Guru Jang dia tidak semakin penat—Soo Rin memilih untuk melirik soal-soal yang belum dia tangani.

Dan sebenarnya dia tidak begitu memahami soal-soal yang tengah dibacanya karena dia tidak begitu fokus saat ini. Aah, sepertinya otaknya memang butuh didinginkan.

When I came home last night…

Soo Rin sedikit tersentak mendengar suara berat itu tiba-tiba menusuk gendang telinganya. Suara itu jelas sekali datang dari sisi kanannya. Langsung saja dirinya menoleh dan mendapati lelaki itu sudah membungkuk di sampingnya. Mata di balik kacamata itu menyorot ke mejanya.

My brother ‘was playing’ a PC game,” lelaki itu menekankan dua kata yang merupakan kata kerja dalam Bahasa Inggris itu, sebelum kemudian beralih menatap Soo Rin. “Not ‘played’,” lanjutnya.

Soo Rin mengerjap sadar. Ternyata lelaki itu baru saja membaca soal pada buku miliknya. Soo Rin segera kembali menekuri buku tebalnya tersebut. Dan menemukan bahwa lelaki itu baru saja membaca soal nomor 21. Sepertinya lelaki itu baru saja mengoreksi jawabannya.

Dia salah menjawab soal nomor 21.

“Eh? Tapi, bukankah ini merupakan kegiatan yang terjadi pada masa lampau?” Soo Rin menggumam pelan. Tidak setuju dengan koreksi lelaki itu.

“Itu memang kegiatan yang terjadi pada masa lampau, tetapi itu merupakan bentuk kegiatan yang sedang terjadi pada masa lampau ketika sesuatu yang lain juga sedang terjadi.”

Lelaki itu kembali menatap Soo Rin. Terlihat gadis itu tengah mengerutkan keningnya. Tanda bahwa gadis itu belum paham.

Past Tense tidak hanya ada satu jenis, Soo Rin-ah. Masih ada Past Continuous, Past Perfect, Past Future, dan sebagainya. Dan soal ini merupakan kalimat dalam bentuk Past Continuous. Kau lupa?”

Soo Rin membenarkan dalam hati. Dia lupa dengan rumus tensis itu. Lagipula bagaimana bisa dia harus menghapal rumus bentuk kalimat yang merupakan tata bahasa dalam Bahasa Inggris yang jumlahnya mencapai 16 macam itu? Sedangkan menghapal tata bahasa milik Negara sendiri belum benar.

Past Continuous Tense—bentuk kalimat yang menjelaskan suatu kegiatan yang tengah terjadi pada waktu tertentu di masa lampau. Pola kalimat ini juga dapat menunjukkan bahwa ada interupsi dari kegiatan yang berdurasi pendek (simple past tense) yang terjadi di saat itu juga. Sebagaimana dengan soal yang tengah dibahas oleh mereka.

“Sepertinya kau harus lebih giat lagi berlatih soal mengenai materi ini, Chagi,” gumam lelaki itu. Terdengar serius tetapi juga menggoda. Menggoda karena sebutan itu.

Soo Rin mengerucutkan bibirnya. Padahal sudah berkali-kali dia mengatakan pada lelaki itu untuk tidak memanggilnya begitu. Karena menurutnya, sebutan tersebut terdengar aneh jika lelaki itu yang mengucapkannya. Meski dia tahu pasti bahwa itu merupakan hal yang wajar karena jelas yang memanggilnya dengan sebutan tersebut adalah kekasihnya sendiri.

Tapi melihat reaksi dari Soo Rin—bibir yang mengerucut serta pipi yang merona itu—benar-benar membuat seorang Kim Ki Bum tergelitik juga ketagihan. Tanpa gadis itu ketahui, Ki Bum menarik sudut-sudut bibirnya hingga melengkung membentuk seulas senyum.

Ki Bum meraih pensil yang tergeletak di dekat buku Soo Rin. Menggoreskan ujung pensil yang telah diraut itu ke atas buku tebal tersebut, membuat lingkaran pada nomor 21. Mencoret jawaban Soo Rin pada nomor tersebut lalu menuliskan jawaban yang benar tepat di sebelah kata terakhir dari soal itu—ruang yang masih kosong, sekaligus menuliskan jenis rumus pola kalimat yang digunakan untuk soal itu.

“Kemudian yang ini,” Ki Bum mengarahkan ujung pensil yang masih dipegangnya pada soal yang lain. Menunjuk soal nomor 25. “Ini juga masuk dalam bentuk Past Continuous, tetapi kau harus perhatikan kata hubung dari kalimat ini. Karena perlu kau ingat, Past Continuous Tense terbagi lagi menjadi 3 macam, yaitu dilihat dari kata hubungnya. Kata hubung when dan while, juga kalimat yang menjelaskan hanya satu kegiatan yang terjadi pada waktu yang spesifik di masa lampau.”

Soo Rin terpaksa mengerjap beberapa kali. Rasanya baru kali ini dia mendengar akan materi yang satu ini. Terbagi menjadi 3 macam, lagi? Astaga, sebenarnya ada berapa banyak rumus tensis dalam Bahasa Inggris?!

Melihat ekspresi gadis itu yang hampir menjerumus ke dalam taraf melamun, Ki Bum terpaksa menahan rasa gelinya yang ingin dikeluarkan dalam bentuk tawa. Tangan yang memegang pensil milik Soo Rin itu kembali bergerak. Menuliskan rumus pola kalimat di sebelah soal nomor 25.

“Jadi, Hyuk Jae ‘was sleeping’—” Ki Bum menulis jawaban yang ia tekankan saat mengucapkannya, dengan menimpal jawaban milik Soo Rin. “While Dong Hae ‘was watching’ a movie last night,” lanjutnya seraya melakukan hal yang sama. Kemudian membuat lingkaran lagi pada nomor 25, nomor soal yang baru saja mereka bahas.

Soo Rin mengangguk-angguk, mencoba memahami pelan-pelan. Batinnya sempat mengatakan bahwa dirinya baru menyadari lelaki ini memang ahlinya dalam berbahasa Inggris karena jelas lelaki ini pernah tinggal di California. Dan sepertinya rumus-rumus tata bahasa ini memang sudah berada di luar kepalanya sebagaimana ia yang sudah mahir menggunakan bahasa ini seperti bahasa sehari-hari.

Ki Bum kembali memperhatikan ekspresi Soo Rin. Dia harus mendengus halus melihat gadis ini seperti berusaha keras untuk mengerti. Meski tertutup oleh poni, Ki Bum yakin bahwa kening di baliknya itu telah membentuk beberapa lipatan.

“Akan kubuatkan catatan rumusnya nanti supaya kau bisa mempelajarinya di rumah.” Ki Bum meletakkan pensil itu ke tempat asal. “Atau, bagaimana jika kita belajar bersama?”

Soo Rin spontan menoleh, membalas tatapan Ki Bum. Perlu diakui bahwa dia sedikit terkejut menyadari bahwa jarak mereka terlalu dekat. Dan Soo Rin harus segera beralih menunduk. Menetralkan pikirannya dengan menimbang tawaran lelaki ini. Belajar bersama? Kedengarannya bagus. Justru sangat bagus. Hanya saja, dengan si Jenius Peringkat Satu ini? Kekasihnya sendiri?

Memangnya kenapa jika dengan kekasih sendiri?

Tidak ada yang salah, ‘kan?

“Sepulang sekolah?” Soo Rin akhirnya bertanya.

“Tiap akhir pekan,” jawab Ki Bum yang segera membuat gadis itu mengerjap beberapa kali.

“Di sekolah?”

“Tentu saja di rumahmu.”

“Apa??” Soo Rin harus melebarkan mata. “Kenapa di rumahku?”

“Kau ingin kita belajar di rumahku?” Ki Bum mengangkat sebelah alisnya, memasang tampang tanpa bersalahnya. “Aku tidak keberatan,” lanjutnya kalem.

“Kenapa harus di rumah?”

“Memangnya kenapa?”

“Kenapa tidak di sekolah saja? Bukankah sekolah tetap dibuka meski di akhir pekan? Atau, mungkin di tempat lain?”

“Aah, kau ingin kita sekaligus berkencan, hm?”

Mwo?! Bukan begitu!!”

Ki Bum akhirnya tertawa kecil melihat reaksi gadis ini. Begitu terkejut bersamaan wajah cantiknya segera menampakkan semburat merah merona. Dan karena tidak tahan lagi, tangan kekarnya itu akhirnya bergerak mengusap gemas puncak kepala gadis ini.

Apakah mereka lupa jika mereka masih berada di kelas? Beberapa pasang mata telah memperhatikan dua makhluk itu sejak Ki Bum bangkit dari duduk dan mendekati Soo Rin. Dan mereka harus terpana melihat wajah tegas dan datar itu berubah menghangat sejak berada di dekat gadis itu, lalu menjadi ketika melihat lelaki itu menyemburkan tawa. Meski hanya sebuah tawa kecil yang sebenarnya masih bisa dikatakan sebagai kekehan.

Kim Ki Bum memang hanya seperti itu jika sedang berada di dekat Park Soo Rin, gadisnya.

****

:: Sunday Morning at Kim Family’s House

Tampak keluarga Kim tengah berkumpul di ruang makan melaksanakan sarapan bersama di akhir pekan ini. Sang kepala keluarga yang duduk di tengah tiba-tiba menghentikan kegiatan menyantap jamuannya. Menatap anak lelakinya yang di sisi kanannya, yang masih sibuk menyantap sarapan paginya.

“Ki Bum-ah.”

Ne?” Ki Bum—lelaki itu segera menghentikan kegiatan menyantapnya dan mendengak demi menoleh, menjawab panggilan ayahnya.

“Kau sudah menentukan pilihanmu?”

Ki Bum tidak segera menjawab. Dia memilih untuk menundukkan pandangannya, berpikir. Sedangkan sang ibu beserta adiknya—Kim Sae Hee—juga menghentikan kegiatan sarapan mereka dan menatap ketermenungan Ki Bum.

“Kau belum menentukannya?” tebak Tuan Kim—Kim Jin Young—sang ayah. Kedua mata tajamnya menyipit.

“Belum, Appa.” Ki Bum akhirnya memberikan jawaban. Dan segera ditimpal dengan desahan napas Jin Young yang terdengar keras.

“Kau akan menghadapi ujian masuk sebentar lagi tetapi bagaimana bisa kau belum menentukan pilihanmu?” ujar Jin Young sedikit menegas. “Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”

Ki Bum tidak segera memberi jawaban lagi. Kedua matanya hanya menatap nyalang makanan di hadapannya. Dia memang merasakan ada sesuatu yang mengganggunya. Segala permintaan yang lebih pantas disebut tuntutan, juga ada hal yang membuat permintaan itu terasa begitu sulit. Hanya saja, Ki Bum belum menemukan hal itu dengan sangat jelas.

“Kalau begitu, kau harus mengikuti pilihan Appa,” tandas Jin Young akhirnya. Membuat Ki Bum mengerjap kaget dalam ketundukannya.

Yeobo, kau bisa memberi kesempatan padanya untuk berpikir lagi. Jangan terburu-buru seperti ini. Musim ujian masih jauh, bahkan kita baru saja melewati musim panas.” Nyonya Kim—Jung Ji Woo akhirnya membuka suara. Mencoba membela Ki Bum.

“Ujian dilaksanakan di akhir musim gugur. Itu berarti sebentar lagi,” sahut Jin Young. “Dia akan menjadi penerusku. Sudah seharusnya dia bisa berpikir cepat bahkan mengambil keputusan dengan segera. Tidak menunda-nunda seperti ini. Bagaimana dia bisa menghadapi berbagai macam masalah dan tuntutan ketika sudah terjun ke lapanganku nanti jika dia masih seperti ini?”

Sae Hee, gadis yang duduk tepat di sebelah Ki Bum mulai melirik kakaknya itu. Matanya dengan cepat mendapati tangan yang masih menggenggam sendok itu tampak mengepal. Bahkan Sae Hee juga melihat wajah tegas kakaknya itu… tampak kaku.

Appa, Oppa terlalu sibuk belajar karena sudah menjadi murid tingkat akhir. Karena itu setidaknya Appa beri kesempatan lagi untuk Oppa agar menentukan pilihannya dengan sungguh-sungguh.” Sae Hee ikut membuka mulut, ikut membela kakaknya.

“Aku bahkan sudah memberinya kesempatan sejak lama tapi aku tak kunjung mendapatkan jawabannya.” Jin Young beralih menatap tajam Ki Bum. “Aku sudah memberimu kebebasan sebelumnya, dan sebenarnya aku masih ingin memberimu kebebasan memilih tempat untuk meneruskan pendidikanmu. Tapi jika kau masih seperti ini, tidak ada pilihan lain selain mengikuti pilihanku,” tegas beliau.

Keadaan menjadi hening. Tak ada yang berani mengelak lagi, bahkan Jung Ji Woo sekalipun. Beliau justru kini memandang lekat anak lelakinya yang sudah tidak bersuara sejak tadi. Sedangkan Sae Hee memilih menunduk, menatap nanar makanan di hadapannya. Suasana sarapan pagi mereka berubah menjadi kecut.

Kemudian terdengar bunyi dentingan sendok yang terlepas dari genggaman dan berbenturan dengan piringnya. Seketika membuat mereka kembali menatapnya. Melihatnya bangkit dari duduk, tanpa menghabiskan santapannya terlebih dahulu.

“Aku sudah selesai makan. Terima kasih atas makanannya,” ucap Ki Bum dengan datarnya. Dan dia lebih memilih untuk menatap ibunya yang duduk tepat di seberangnya, yang tengah menatapnya juga. “Aku pergi dulu,” pamitnya kemudian. Ki Bum memilih untuk segera membungkuk badan untuk ayahnya, lalu pergi meninggalkan ruang makan.

Oppa, Oppa belum mencoba makanan penutupnya!” seru Sae Hee mencoba mencegah lelaki itu pergi. Tapi, tidak berhasil. Lelaki itu sudah menghilang dan hanya menunjukkan pada mereka bahwa dirinya sudah keluar dari rumah—membuat suara pintu utama rumah terbuka lalu tertutup.

Jung Ji Woo menghela napas panjang. Menatap Kim Jin Young tak suka, tak suka dengan sifat tegas yang menjerumus ke paksaan sekaligus menuntut milik suaminya itu.

Sedangkan Kim Jin Young, seolah tidak merasakan beban apapun, beliau melanjutkan kegiatan sarapan paginya yang tertunda. Tidak peduli dengan apa yang sudah diperbuatnya hingga mengubah atmosfir ruang makan mereka.

****

:: at Park Family’s House

“Soo Rin-ah!”

Ne, Eomma?”

Soo Rin tidak segera mendapat jawaban dari ibunya. Sedangkan dirinya tidak bisa meninggalkan kegiatannya saat ini, mencuci piring. Baru saja keluarga Park menyelesaikan kegiatan sarapan pagi bersama.

Namun tak lama ibunya masuk ke area dapur, menghampiri Soo Rin. Beliau baru saja beranjak ke depan rumah karena mendengar bel rumahnya berbunyi menandakan seorang tamu datang berkunjung.

“Kau ada janji dengan Kim Ki Bum?” Tanya Nyonya Park—Kang Hye Rin—tiba-tiba.

Ne? Janji?” Soo Rin sedikit tersentak mendapat pertanyaan dari ibunya itu.

Nyonya Park mengangguk. “Dia menunggumu di ruang tamu.”

Ne?! Kim Ki Bum datang kemari??” kini Soo Rin benar terkejut.

Eo.” Nyonya Park harus mengerutkan kening mendapatkan reaksi tersebut dari anak gadisnya. “Kalian tidak ada janji hari ini?”

Soo Rin segera melepas sarung tangan karetnya lalu memberikannya pada Nyonya Park. “Eomma, maafkan aku tapi aku akan melanjutkannya nanti,” ujar Soo Rin cepat dan segera melesat menuju ruang tamu. Meninggalkan Nyonya Park yang tengah menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya yang kelimpungan itu.

Benar saja, Soo Rin mendapati lelaki itu sudah duduk dengan nyamannya di sofa ruang tamu rumahnya. Menunduk seraya menautkan kedua tangannya. Tapi itu hanya berlangsung sejenak karena lelaki itu segera mengangkat kepala begitu menyadari dari sudut matanya bahwa Soo Rin sudah datang.

“Kau belum bersiap-siap?” Ki Bum menyambut terlebih dahulu seraya mengangkat kedua alisnya.

“Eh? Bersiap untuk apa?” Soo Rin mengerjap tak paham. Membuat lelaki itu mendengus geli melihat tampang polosnya itu.

“Bukankah kita akan belajar bersama? Kau tidak ingat?” Ki Bum berdecak. “Bagaimana bisa kau tidak ingat? Dasar!”

Soo Rin harus meringis. Dia mulai salah tingkah menyadari keterlupaannya. Aih, bodohnya Park Soo Rin melupakan janji menguntungkan itu. Belajar bersama si Jenius Peringkat Satu.

“A-aku bersiap-siap dulu.” Soo Rin segera berbalik, hendak masuk ke dalam menuju kamar. Tapi lelaki itu segera menginterupsi.

“Dandanlah yang cantik. Kita akan berkencan sekaligus.”

Yaa!!” Soo Rin segera menatap tajam Ki Bum. Dia tahu benar bahwa lelaki itu sedang menggodanya.

Sedangkan Ki Bum harus terkekeh geli melihat reaksi gadis itu. Aih, tatapan tajam seorang Park Soo Rin tidak akan mempan untuknya. Justru tatapan itu terlihat sangat menggemaskan di matanya, karena dibumbui dengan wajah cantik itu sudah merona.

.

.

“Ini bukan haven’t tetapi hadn’t.”

“Bukankah bentuk negaitf dari kata sudah itu haven’t?”

“Perhatikan dialog sebelumnya, Soo Rin-ah. Dia menanyakan temannya itu mengenai kejadian kemarin, bukan sekarang.”

“Aah, begitu.”

Ki Bum tampak mencorat-coret sesuatu di atas kertas soal Soo Rin. Soal buatannya sendiri. Dan kini dia tengah mengoreksi jawaban dari gadis itu.

Tahukah mereka sedang berada di mana saat ini?

Sebenarnya mereka tidak pergi ke mana-mana setelah pertemuan singkat tadi. Dan Soo Rin kembali ke kamarnya pun bukan untuk berganti pakaian melainkan hanya mengambil buku-buku yang diperlukan untuk belajar bersama Ki Bum.

Mereka belajar bersama di ruang tamu, masih di rumah keluarga Park, rumah Soo Rin.

“Kau harus lebih teliti lagi membaca soal, Soo Rin-ah. Salah menentukan bentuk kalimat itu sudah membuatmu salah dalam menjawab,” tegur Ki Bum setelahnya.

Arasseo.” Soo Rin mengangguk-angguk. “Buatkan aku soal lagi.”

Ki Bum melirik gadis itu seraya mengangkat sebelah alis. “Aku belum selesai mengoreksi ini.”

“Sudahlah, aku tahu di sana masih banyak melakukan kesalahan jadi buatkan saja soal yang baru.”

“Tidak juga. Kau sudah menjawab dengan benar sebanyak delapan puluh persen. Kau hanya perlu ketelitian dalam membaca soal.”

“Karena itu buatkan aku soal lagi!”

Ki Bum terkekeh geli melihat gadis itu mulai keras kepala. Bibirnya tampak mengerut hingga hampir sejajar dengan dagunya, sebelah tangannya terulur bergerak-gerak meminta. Eii, sejak kapan gadisnya ini mulai berani menuntutnya seperti sekarang? Benar-benar.

Ara, ara. Baca lagi catatanku selagi aku membuatkan soal untukmu.” Ki Bum menunjuk catatan yang dia buatkan untuk Soo Rin itu dengan dagunya. Kemudian memberikan soal yang baru saja dikoreksinya pada Soo Rin. “Aku akan membuat soal tidak jauh dari sebelumnya. Jadi pelajari lagi soal-soalku sebelumnya.”

Soo Rin mengangguk-angguk seraya menerima kertas soal itu. Tak lama gadis itu mulai kembali larut dengan tulisan-tulisan tangan dari Ki Bum.

Diam-diam Ki Bum memperhatikan wajah serius gadisnya itu. Rasanya baru kali ini dirinya benar-benar melihat antusias terpancar di wajah cantik itu. Kedua mata jernih itu selalu berbinar tiap menghadapi tulisan-tulisannya. Oh, dia sangat yakin gadis itu antusias bukan karena tulisannya, melainkan karena hal lain.

“Kau senang belajar bersamaku?”

Um.”

Ki Bum tersenyum melihat gadis itu mengangguk-angguk sebagai jawabannya. Sepertinya secara tidak sadar gadis itu sudah menjawab dengan sangat jujur. Dan Ki Bum sangat menyukai hal itu. Gadis itu terlihat jauh menggemaskan jika menjawab pertanyaannya dengan sejujur-jujurnya seperti itu.

“Kau ingin belajar bersamaku lagi?”

Um.

“Minggu depan?”

Um.”

“Sekaligus berkencan?”

Kini Soo Rin mengangkat pandangannya, menatap kesal pada Ki Bum dengan bibir yang mengerucut. Dan, lagi-lagi wajah itu menunjukkan semburat kemerahannya. Membuat Ki Bum gemas.

Sepertinya selain kata ‘Oppa’ dan ‘Chagi’, kata ‘kencan’ sangat berpengaruh bagi Soo Rin. Gadis itu akan bereaksi seperti itu tiap Ki Bum menyebut kata-kata itu. Lagi-lagi Ki Bum mensyukuri akan fakta yang dia temukan di diri gadisnya itu.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

Soo Rin tidak segera menyahut lagi. Dia kembali mendengak dan menatap Ki Bum yang masih sibuk membuatkan soal untuknya. Mengingat saat ini mereka sedang melakukan kegiatan belajar bersama untuk ujian di tahun depan nanti, membuat dia mengingat akan sesuatu.

“Apa kau… sudah menentukan ingin berkuliah di universitas mana?”

Seketika pertanyaan dari Soo Rin itu menghentikan laju tulis Ki Bum. Lelaki itu terhenyak dalam diam dan berakhir dengan termenung. Matanya tiba-tiba menatap kosong kertas soal yang masih ia garap, bahkan otaknya yang baru saja mengeluarkan ide soal-soal dengan begitu lancarnya mendadak menjadi macet, seolah berhenti bekerja dengan tiba-tiba.

Soo Rin menyadari akan respon itu. Tiba-tiba perasaannya diselimuti rasa tidak enak terhadap lelaki di hadapannya ini. Sepertinya dia sudah mengutarakan pertanyaan yang belum seharusnya diutarakan untuk saat ini. Melihat lelaki itu tiba-tiba mengubah ekspresi begitu mendengar pertanyaannya barusan.

“Sepertinya aku salah mengajukan pertanyaan. Tidak perlu kau jawab.” Soo Rin kembali mengangkat catatan Ki Bum yang tanpa sadar sudah ia letakkan begitu saja di atas meja. Mencoba untuk menghilangkan aura canggung yang tiba-tiba menyelimuti mereka, dengan kembali menekuri catatan bertulis tangan tersebut.

“Aku belum menentukannya.”

Soo Rin segera mendengak lagi. Melihat lelaki itu sudah menatapnya. Wajah tegas itu sudah kembali seperti semula, mengulas senyum teduh untuknya.

“Mungkin menjelang Suneung nanti aku baru menentukannya,” lanjut Ki Bum terdengar halus. “Bagaimana denganmu?”

Soo Rin tampak mulai berpikir. Jujur saja, dia juga belum menentukan ingin berkuliah di mana. Memang banyak universitas yang menurutnya akan sangat cocok sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikannya. Tetapi, rasanya ada hal yang mengganjal di benaknya. Hal yang sepertinya harus dia cari tahu terlebih dahulu sebelum dirinya benar-benar ingin memilih sebuah universitas dan memfokuskan diri untuk bisa mendapatkannya.

“Aku juga belum menentukannya,” jawab Soo Rin akhirnya.

“Benarkah? Kenapa?” Ki Bum mengangkat kedua alisnya.

Soo Rin menggeleng pelan. “Aku masih bingung. Terlalu banyak pilihan yang menurutku sangat bagus. Sedangkan aku belum mempersiapkan diri dengan maksimal.” Soo Rin meringis pelan. “Sepertinya aku harus memfokuskan diri untuk belajar terlebih dahulu. Mungkin aku juga akan menentukannya menjelang Suneung nanti.”

Ki Bum tersenyum melihat gadis itu menunduk salah tingkah. Sebelah tangannya bergerak meraih gadis itu, demi mengusap puncak kepala gadis itu dengan pelan.

“Kalau begitu kita harus belajar lebih giat lagi untuk menentukan pilihan nanti.”

Soo Rin mengangguk seraya mencoba mengulas senyum. Kemudian ia kembali ingin bertanya sesuatu pada lelaki di hadapannya. Ada satu pertanyaan lagi yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

“Kim Ki Bum, bagaimana dengan jurusan pilihanmu?”

Ki Bum harus terhenyak lagi. Untuk pertanyaan yang ini dia harus merasakan seperti baru saja ditimpa benda berat tepat di bagian kepalanya. Membuat otaknya benar-benar berhenti bekerja hingga dirinya tak mampu berpikir. Dia justru kembali diingatkan dengan teguran ayahnya tadi pagi sebelum dirinya datang kemari. Dan tanpa sadar, Ki Bum harus menelan salivanya dengan susuah payah.

“Aku tidak tahu.”

Soo Rin mengerjap. “Maksudmu, kau juga belum menentukannya?”

Ki Bum tersenyum samar. Gadis itu pasti merasa aneh akan dirinya. Bagaimana bisa dirinya belum menentukan ke arah mana ingin melanjutkan menuntut ilmu sedangkan dirinya sudah menjadi siswa tingkat akhir dan akan segera menghadapi ujian masuk universitas?

Eum. Aku juga belum menentukan ingin mengambil jurusan kuliah apa nantinya.” Ki Bum menjawab sesantai mungkin. “Bagaimana denganmu?”

Soo Rin tampak berpikir sejenak. “Aku… ingin mengambil sastra dan budaya,” jawabnya menggumam.

“Benarkah?” Ki Bum kembali menampakkan senyumnya. “Kau ingin menjadi sastrawan rupanya?” tebaknya kemudian.

“Tidak juga. Sebenarnya aku ingin menjadi penulis… jika bisa,” balas Soo Rin, terdengar ragu.

“Kenapa kau terlihat tidak yakin?” Ki Bum menyadari akan ekspresi gadis itu. “Jika kau merasa bisa melakukannya, kau tidak perlu merasa ragu seperti itu,” lanjutnya menasihati.

“Kau benar.” Soo Rin termenung sejenak. “Mungkin karena aku belum merasa maksimal dalam belajar, aku menjadi ragu. Padahal aku menginginkannya.”

“Kalau begitu kau harus lebih giat mempelajari sastra dan juga bahasa.” Ki Bum melempar senyum teduhnya ketika gadis itu menatapnya. “Sekarang, kau harus mengerjakan ini.” Ki Bum menyerahkan kertas soal yang telah ia buat.

Soo Rin segera menerima soal baru buatan dari Ki Bum. Matanya kembali berbinar hingga mengumbarkan antusiasmenya, dan Ki Bum dapat melihat sekaligus merasakan hal itu. Sepertinya gadis itu memang bersemangat untuk belajar hari ini.

Ki Bum menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Memandang gadisnya yang mulai larut pada soal-soal buatannya. Pikirannya mulai melayang tak tentu arah. Memikirkan gadis ini, memikirkan dirinya, juga memikirkan kata-kata ayahnya. Entah mengapa semua itu justru menjadi berhubungan dan membentuk sebuah beban pikiran baru. Segala pengandaian dan perumpamaan yang muncul dengan sendirinya membuat dia harus berpikir keras demi mencari jalan keluarnya.

Bagaimana dia harus menghadapi tuntutan ayahnya?

Bagaimana dia harus mencari apa yang sebenarnya dia butuhkan?

Bagaimana dia harus menghadapi pilihan ayahnya nanti?

Sebenarnya apa yang tengah dia cari untuk nanti?

Sebenarnya apa yang dia inginkan nanti?

Sungguh, Ki Bum belum menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang melayang di kepalanya. Tujuan ke depannya, dia belum menemukannya sama sekali.

“Kim Ki Bum.”

Ki Bum sedikit tersentak mendengar panggilan halus itu. Apa dia tertangkap basah karena sedari tadi dirinya melamun dengan kedua mata yang terus tertuju pada gadis itu?

Soo Rin yang memang baru memandang Ki Bum di saat dirinya memanggil nama lelaki itu, hanya tersenyum melihat respon lelaki itu yang mengangkat kedua alisnya. Sepertinya dia tidak menyadari bahwa sedari tadi Ki Bum memperhatikannya.

“Terima kasih.”

Satu ucapan… satu ucapan yang terlontar dari mulut gadis itu. Satu ucapan yang sangat sederhana, tetapi mampu menghantam kuat benak Ki Bum. Lelaki itu harus tercenung hebat setelahnya. Menyadari akan segala pikirannya yang menghubungkan akan tiga objek dalam imajinasinya.

Satu ucapan sekaligus seulas senyum tulus dan manis dari gadis itu, telah berhasil mengguncang pikirannya.

Bagaimana dia harus menghadapi tuntutan ayahnya?

Bagaimana dia harus menghadapi pilihan ayahnya nanti?

Bagaimana nasib dirinya nanti jika dia belum menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu?

Dan…

Bagaimana nasib dirinya bersama gadis ini nanti?

.

To Be Continued


kisukisu kembali bergentayangaaan~~>< dengan cerita baru yang masih juga absurd heheheh

Rasanya udah lama banget ga bikin cerita soal mereka huhuhuhu aku kangen couple absurd buatanku ini~ ;w;)/

Tapi, tapi, mohon maaf ya jika ceritanya aneh hahahah dan kependekan huwaaaaaa rasanya aku mulai kehilangan modal kata-kata buat bikin cerita.. sepertinya aku kudu buka kamus bahasa buat ngedapetin kata-kata baru -.-

Dan untuk mengenai materi soal Bahasa Inggris di atas, mohon maaf ya kalo ada kekeliruan.. sebenernya aku masih belajar, ga kayak Kibum hahahah xD

yosh! sekian dulu yaa~ semoga aku bisa ngelanjutin certa ini xD terima kasih sudah mampir~^-^

IMG_20141109_122301-1
ini yg kumaksud dari pembahasan kisukisu di atas.. materi yg aku dapet waktu masih SMA.. mau sharing aja~ maaf tulisannya macam ceker ayam xD
Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

26 thoughts on “With You – Part 1

  1. q sm ky Soorin lemah di grammar bahasa inggris.. 😀

    jdi flashback dlu q jg masi bingung mw kul dmn? trus jur yg mw diinginkn jg gtw? tpi y alhamdulillah nyoba2 keterima. smpe akhirnya dijlanin aj hingga lulus. *yahh malah curhat* wkwkwk

    ayoo Thor epep KiSoo couple hrus ngalahin TBNH ^^v

    1. sebenernya aku jg lemah dlm bhs inggris hahahah XD
      sama samaaa… sebenernya ini cerita juga sedikit ngambil dari pengalaman pribadi hahahah
      makasih udah mau curhat xD
      omong2 teh TBNH apa? ;__;)a hwhw

  2. Kenapa tbcnya kek gitu thooorrrr???? Gantung sangatttttzzzzz… Part 2, sequelnya when full moon comes cepetan ya thor .. Jjang (y)

  3. Uwoooo.., ditunggu lanjutannya !! & series2 yang laennya.hhahaa…
    akku suka pasangan iniih, maniss sekali.wkwkkk…
    Fighting !! 😉

  4. Aku ska ff ini selain kisah cinta kisoo ada pelajaran d ff ini cara nulisnya jga bgus mudah s mengerti ,enak bgt jdi soo rin mendapat pacar ganteng jenius lgi,ayah kibum klihatan keras bgt ama anaknya seru nih bkal ada konflik

  5. hai siskachii ;3
    akhirnya bisa luangin waktu buat ff ini :’3 maaf yah baru bisa baca dan ngeripiu >w< /gananya /ok
    Udah ah, maaf ripiu an ku selalu panjang padahal juga isinya gapenting x'D

  6. Sepertinya konflik yg terjadi di permasalahkan masa depan ki bum…

    Hmm memang terkadang org jenius belum tentu cepat untuk mengambill keputusan…

    Couple nya romantis bgt, so sweet

  7. Sebelumnya, aku mau minta maaf, karena kemarin aku baca ceritanya dulu, baru bisa kasih komentar, karena begitu selesai baca, ternyata paketanku habis, jadi baru bias komentar pagi ini. Ide cerita simple, part pertama sudah menggambarkan konflik, konflik yang ada juga merupakan konflik umum yang dirasakan oleh siswa tingkat akhir yang galau menentukan pilihan untuk masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s