Posted in Family, One Shot, PG-15, Romance, Special FF "My Favorite Girl"

My Favorite Girl – Finally

Genre: Romance, Family
Rated: PG-15
Length: One Shot 

Who Is He? | Meet Again | First | Date? | Another Secret Admirer? | Finally (Last)mfglast

Ini merupakan MFG seri terakhir~^^ mohon maaf jika cerita ini semakin absurd dan tidak memuaskan >.< Let’s have a good time, together! Enjoy~~

Mohon maaf untuk typos yang masih bertebaran (_ _)v

ㅡㅡ

.

:: Park Family’s House (09:31 PM)

Tampak seorang gadis keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Dengan handuk kecil yang menyelampir di pundaknya demi menghalangi rambut basahnya agar tidak mengenai piyama yang dikenakannya. Langkahnya terhenti begitu indera pendengarannya secara tidak sengaja menangkap sebuah suara dari balik pintu yang kini berada di dekatnya. Kamar inap adik sepupunya.

Yes, Dad, I will go home soon.

Gadis itu tercenung begitu berhasil mencerna apa yang baru saja didengarnya. Memang tidak terlalu jelas karena terhalang oleh pintu, tapi mendengar suaranya yang sepertinya begitu lugas membuat ucapannya itu masih bisa didengar.

Don’t worry. I can go home by myself. Just pick me up at the airport later.

Gadis itu melangkah mendekati pintu kamar adik sepupunya. Meraih gagang pintu itu, bermaksud untuk membukanya.

Okay, Dad. I have to go sleep. It’s already night in here… Yeah, have a nice day for you, Dad. Bye bye!

Barulah ia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu. Yang segera disambut oleh sang penghuni di dalamnya—yang tengah menatap layar ponselnya—dengan beralih menoleh ke arahnya.

Eo, Noona? Sudah selesai mandi?” sambut lelaki itu, Henry. Seulas senyum bocah menghiasi wajah tampan nan imut itu.

Sedangkan gadis itu—Soo Rin tampak melangkah mendekati Henry yang tengah terduduk di kasur empuknya. Soo Rin memilih ikut duduk di sebelah Henry, menatap adik sepupunya itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“Kau akan segera pulang ke Canada?” tanya Soo Rin langsung. Membuat Henry mengerjap, sedikit terkejut.

Noona mendengarnya tadi?” Henry berbalik bertanya.

Soo Rin mengangguk pelan. “Aku tidak sengaja mendengarnya… Jadi, benar kau akan segera pulang?”

Henry mengalihkan pandangannya, menunduk menatap ponselnya yang tengah dimainkan oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian ia mengangguk pelan, membenarkan.

“Kapan?” tanya Soo Rin lagi. Kini terdengar lirih. Tatapannya tak pernah beranjak, terus memandangi adik sepupunya itu.

“Lusa,” jawab Henry. “Aku sudah memesan tiketnya. Aku memesan jadwal penerbangan pada malam hari. Pukul—” Henry terpaksa menghentikan ucapannya begitu dirinya mencoba untuk kembali menatap Soo Rin. Dan tercekat melihat kedua mata milik kakak sepupunya itu mulai berair.

Spontan Soo Rin menundukkan pandangannya. Berusaha menyembunyikan gejolaknya yang mulai bergemuruh dan ingin menyeruak. Ia menggigit bibir bawahnya secara diam-diam.

Noona…” Henry segera meraih sebelah tangan Soo Rin. Menggenggam sekaligus meremasnya perlahan. Pasti seperti ini. Setiap dirinya memberi kabar bahwa dirinya ingin pulang, kakak sepupunya akan bereaksi seperti ini. Karena selama ini dirinya yang sering terbang kemari dibandingkan Soo Rin yang hampir tidak pernah ke sana. Terakhir Soo Rin terbang ke Canada di waktu mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

Henry sudah tahu kebiasaan Soo Rin. Di saat mereka akan berpisah, Soo Rin berusaha keras untuk tidak menangis terang-terangan di hadapannya. Karena dulu pernah terjadi dan berakhir dengan Henry juga ikut menangis. Tapi Henry pernah beberapa kali terakhir memergoki kakak sepupunya ini menangis secara diam-diam di dalam kamar setelah ia memberi kabar bahwa dirinya akan segera pulang ke Negara asal. Dan kini Henry merasa khawatir jika hal itu terjadi lagi setelah ini.

Noona, aku tahu Noona berusaha untuk tidak menangis karena Noona tidak ingin aku ikut menangis. Tapi aku akan merasa lebih bersalah jika Noona menangis sendirian tanpa sepengetahuanku,” ucap Henry hati-hati.

Soo Rin mengerjap beberapa kali. Ia semakin tidak berani menatap adik sepupunya ini. “Aku—aku tidak menangis… tidak pernah,” gumamnya.

Noona pikir selama ini aku tidak tahu? Noona selalu menangis setelah aku mengatakan bahwa aku akan pulang. Noona selalu menangis di dalam kamar Noona sendirian.”

“Aku tidak—”

Noonaa…” Henry menyela, lalu meraih pundak Soo Rin agar menghadap padanya. “Setelah beberapa kali aku mendapati Noona yang menangis sendirian di dalam kamar, itu menyadarkanku bahwa hal itu justru membuatku merasa bersalah karena ternyata selama ini aku telah menyakiti Noona setiap kita harus berpisah. Aku lebih memilih Noona menangis di hadapanku dibandingkan di belakangku. Akan lebih baik jika aku juga ikut menangis bersama Noona karena itu berarti kita memang tidak ingin dipisahkan. Benar, ‘kan?”

Kini Soo Rin mengangkat pandangannya, menatap Henry yang ternyata tengah tersenyum. Senyum yang begitu teduh untuk wajah berparas bocah seperti dirinya. Dan itu berhasil membuat Soo Rin begitu tersentuh oleh adik sepupunya ini. Yang justru mendorong gejolaknya untuk segera ditumpahkan dari dalam dirinya.

“Aku berjanji, di liburan akhir tahun nanti aku akan kembali kemari. Aku akan datang bersama Mom, Dad, Clinton Hyung, dan Whitney. Kita akan meramaikan rumah Noona!” Henry mengangkat jari kelingkingnya.

Soo Rin memandang Henry sejenak, kemudian beralih pada tangan yang mengacungkan jari kelingking itu ke hadapannya. Perlahan Soo Rin meraihnya dengan mengaitkannya dengan jari kelingkingnya. Lalu membuka suara, “Promise?”

Henry mengangguk mantap. “I promise!”

Soo Rin mengangguk-angguk. Tanpa sadar sebulir cairan hangat itu akhirnya tumpah dari pelupuk matanya, mengalir membasahi pipinya yang baru saja dibasuh saat mandi tadi. Henry yang melihat itu dengan segera melepas tautan jari kelingking mereka dan beralih memeluk Soo Rin. Yang langsung saja dibalas oleh Soo Rin dengan ikut memeluk Henry, dengan begitu eratnya. Menyembunyikan sebagian wajahnya pada pundak lebar Henry dan membiarkan tetesan-tetesan air matanya membasahi kaus di bagian pundak adik sepupunya itu.

“Kita akan bertemu lagi,” ucap Henry dengan halus. Detik kemudian ia merasakan gadis di pelukannya mengangguk-angguk. Memejamkan mata, Henry menepuk perlahan pundak kakak sepupunya yang bergetar di pelukannya. Dia memang tidak kuasa jika melihat kakak yang termasuk dalam jajaran kakak kesayangannya ini menangis di hadapannya.

Tapi, ini lebih baik dibandingkan ia harus melihat Soo Rin menangis sendirian.

“Aku menyayangi Noona. Sangat…”

****

:: Neul Paran’s Canteen

Eonni!”

Soo Rin sedikit tersentak begitu mendengar sapaan itu dan menghentikan kegiatan menyeruput minumannya, demi melihat orang yang telah memanggilnya, bahkan telah duduk di hadapannya. Saat ini dirinya tengah duduk menyendiri dan hanya ditemani dengan minuman dingin pesanannya.

“Kenapa Eonni duduk sendirian? Di mana teman-teman Eonni?” Sae Hee yang kini telah mengaduk-aduk makanan pesanannya, menatap Soo Rin sedikit bingung.

“Mereka masih berada di kelas,” jawab Soo Rin seadanya seraya mengaduk-aduk minumannya tanpa minat.

“Lalu di mana Ki Bum Oppa?” tanya Sae Hee lagi.

“Dia sedang memesan makanan,” jawab Soo Rin seadanya—lagi. Kemudian teringat sesuatu hingga dirinya menatap gadis yang berada di hadapannya. “Sae Hee-sshi…”

Ne?”

“Henry akan pulang ke Canada besok.”

Entah Sae Hee menyadarinya atau tidak, sebelah tangannya yang tengah mengaduk-aduk makanannya itu terhenti begitu saja. Ia terpaku untuk beberapa saat. Mencoba mencerna apa yang baru saja di dengarnya. Bocah bakpao itu akan pulang? Besok?

“Sae Hee-sshi?” kini Soo Rin harus mengernyit bingung melihat gadis di hadapannya itu tampak mematung. Dan Soo Rin memilih untuk mengulang, “Sae Hee-sshi.”

Ne?” Sae Hee mengerjap beberapa kali. Dapat dilihat dirinya baru saja tersentak kaget. “Di-dia akan pulang besok? La-lalu untuk apa Eonni memberi tahuku soal itu?” Sae Hee tampak tergagap.

“Kau tidak ingin mengantarnya ke bandara besok?”

“Eh? Haruskah?”

Soo Rin mengulas senyum. “Tidak ada salahnya mengantar teman lama ke bandara, bukan?”

Sae Hee menunduk, mulai berpikir. Memang tidak ada salahnya. Bukankah Henry adalah teman lamanya meski hanya sekedar teman selama 6 bulan dulu? Bahkan tidak yakin disebut sebagai teman karena mereka lebih sering berdebat dibandingkan bergaul. Hanya saja, ada yang mengganjal di benak Sae Hee saat ini. Mendengar kabar bahwa bocah itu akan pulang ke Negara asalnya yang jelas sangat jauh dari sini, entah mengapa dia merasa tidak bisa menyetujui akan hal itu.

Kenapa begitu?

.

.

(05:10 PM)

Sae Hee melangkah menuju ke depan gedung sekolah. Waktu belajar-mengajar sekolah tersebut telah selesai dan kini ia berniat menunggu kakaknya—seperti biasa. Pandangannya menelusuri lapangan utama sekolah di hadapannya, menerawang. Sebenarnya kini ia tengah memikirkan sesuatu dan menimang-nimang.

Apakah dia harus melakukannya? Mengantar kepergian bocah itu besok? Tapi, bukankah akan terlihat aneh jika tiba-tiba dirinya berada di sana sedangkan dia tidak ada hubungan apapun dengan bocah itu? Dia hanya sebatas teman bocah itu. Lebih tepatnya, teman berdebat. Tidak lebih.

Ya. Tidak lebih.

Tidak lebih, ‘kan?

Tapi kenapa rasanya sebutan itu tidak sesuai?

Aih, apa yang sedang kau pikirkan, Kim Sae Hee? Gerutu Sae Hee dalam hati sambil mengetuk kepalanya sendiri beberapa kali.

Don’t hurt yourself like that!

Sae Hee harus terkejut mendengar sapaan yang rasanya begitu dekat dan ditujukan untuknya. Dan kembali terkejut begitu menoleh mendapati sosok itu sudah berdiri di dekatnya. Menatapnya dengan pandangan heran seraya berdecak.

Sejak kapan bocah itu berada di sini?

Eii, kau ini memang bodoh, tapi kau tidak perlu menyakiti diri sendiri seperti itu. Kasihanilah kepala kecilmu itu. Sudah bodoh malah dibuat semakin bodoh,” ejek Henry dengan tampang tanpa berdosanya.

“A-apa kau bilang?!” Sae Hee tersungut. “Sadarlah! Bodoh teriak Bodoh!”

Henry tertawa geli melihat reaksi gadis di hadapannya. Bibir yang mengerucut dengan kedua pipi yang menampakkan semburat kemerahan. Benar-benar menggemaskan.

Ya. Menggemaskan.

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Karena jam sekolah sudah berakhir jadi aku bisa masuk ke dalam area sekolah.”

“Untuk apa? Menjemput noona-mu?”

Eo. Sekaligus berpamitan.”

Dan jawaban itu sukses membuat Sae Hee kembali menatap Henry. Dia tahu pasti maksud dari kata berpamitan itu. “Jadi, kau benar akan pulang besok?” tanya Sae Hee dengan hati-hati.

“Kau sudah tahu?” Henry mengangkat kedua alisnya. Sedikit terpana. “Aah, sepertinya Soo Rin Noona sudah memberi tahumu,” lanjutnya bergumam.

Kemudian hening menyelimuti mereka. Sae Hee yang kembali mengalihkan pandangannya kini tampak berpikir, juga salah tingkah. Bagaimana dia harus bereaksi akan kabar ini di hadapan bocah ini? Dan kenapa dia harus merasa kesulitan untuk sekedar berekspresi atas kabar ini? Kenapa dirinya harus menjadi kikuk seperti sekarang ini? Dia benar-benar tidak mengerti.

Sedangkan Henry… tahukah apa yang tengah Henry lakukan saat ini? Yah, dia memang tengah melakukan hal yang sama seperti Sae Hee. Berpikir harus berbicara apa lagi pada gadis di hadapannya kini. Tapi ada sesuatu yang tidak biasanya terjadi. Henry… tengah menatap lekat gadis di hadapannya ini, Kim Sae Hee.

I hope someday we can meet again…

Sae Hee menoleh dengan cepat. Barusan bocah ini bicara apa? Dia—dia tidak salah dengar ‘kan?

Sedangkan Henry segera mengembangkan senyum lebarnya. Sebelah tangannya bergerak mengusap puncak kepala Sae Hee dengan lembut. Tunggu, apakah Sae Hee tidak salah? Dia merasakan bahwa lelaki ini mengusap puncak kepalanya dengan… penuh perasaan?

Dan begitu tangan itu terlepas dari puncak kepalanya, Sae Hee menyadari sesuatu. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ini. Sesuatu yang sulit dijelaskan alasannya. Sesuatu yang mengalir begitu saja di benaknya.

Begitu juga dengan Henry. Begitu tangannya lepas dari puncak kepala gadis itu, ia merasakan sesuatu yang menyeruak begitu saja di benaknya. Sesuatu yang entah bagaimana bisa bermunculan. Sesuatu yang ia tidak mengerti mengapa dirinya harus merasakannya.

Sesuatu yang sama.

Rasa yang sama.

Rasa kehilangan.

****

:: Next Day – Friday (04:00 PM)

Tampak Henry tengah memasukkan sisa-sisa pakaiannya ke dalam koper berukuran sedang miliknya. Menutup resletingnya, lalu menepuk-tepuknya agar sedikit mengempis. Kemudian beralih membereskan peralatan utamanya seperti yang berserakan di meja dekat kasurnya untuk dimasukkan lagi ke dalam tas ranselnya.

Henry terpaksa menghentikan gerakannya begitu tangannya tanpa sadar hendak menyentuh benda itu. Benda yang sempat ia beli ketika pergi ke mall di Hari Minggu lalu. Setelah melakukan jeda sejenak, Henry akhirnya meraih benda itu demi dipandangi lebih dekat lagi. Kemudian menghela napas panjang. Padahal sebelumnya ia juga tidak mengerti kenapa ia membeli barang itu. Tapi kini ia menyadari, hanya saja, sepertinya sudah terlambat.

“Henry-ah, kau sudah siap berangkat?”

Henry segera memasukkan benda itu ke dalam ranselnya. Menoleh ke arah sumber suara lalu tersenyum mendapati Nyonya Park sudah berada di dalam kamarnya.

“Perjalanan menuju bandara akan memakan waktu cukup lama. Akan lebih baik jika kita berangkat lebih awal.”

Ne, Imo.” Henry segera mengenakan ranselnya sebelum meraih kopernya. Kemudian mendengar helaan napas dari Nyonya Park. Tampak beliau melemparkan pandangannya ke setiap sudut ruangan ini.

“Sepertinya kamar ini harus rela dikosongkan lagi,” gumam Nyonya Park dengan nada sesalnya. Meski ruangan ini dikatakan sebagai kamar tamu, tapi Henry lah yang hampir selalu menempati kamar ini. Karena dia yang sering berkunjung kemari dibandingkan kerabat yang lainnya.

Imo, aku berjanji akan kembali lagi dalam waktu dekat.” Henry merangkul pundak Nyonya Park dengan lembut dan sopan. Mengulas senyum cerahnya begitu beliau memandangnya. Membuat beliau ikut tersenyum.

Geurae… cepatlah kembali supaya noona-mu itu tidak merasa kesepian lagi.”

Henry mengangguk cepat seraya tersenyum lebih lebar.

****

:: Neul Paran High School (05:15 PM)

Sae Hee tampak merenung. Pikirannya kembali melayang saat ia bertemu dengan kekasih kakaknya beberapa menit lalu. Soo Rin, yang segera turun dari lantai atas setelah tak lama bel pulang sekolah berbunyi, meyakinkan dirinya bahwa gadis itu tengah terburu-buru. Dan ia harus kembali dihadapi dengan pertanyaan yang sama dari Soo Rin kala itu.

“Kau tidak ingin ikut ke bandara?”

Tapi lagi-lagi dia hanya bisa menjawab, “Haruskah?”

Sungguh, dia tidak mengerti. Kenapa dia harus mendapatkan pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana untuk dijawab, tetapi ia kesulitan untuk menjawab? Dan seolah Soo Rin tengah mencoba membobol pertahanan anehnya, Sae Hee dibuat tercenung begitu mendapatkan pernyataan terakhir sebelum kekasih kakaknya itu benar-benar pergi.

“Jika setelah ini kau berubah pikiran, menyusul lah sebelum terlambat. Dia akan berangkat pukul tujuh nanti.”

Berubah pikiran? Berubah pikiran mengenai apa?

“Sae Hee-ya.”

Sae Hee tersentak kaget begitu mendapatkan panggilan sekaligus tepukan pelan di bahunya. Menoleh cepat, Sae Hee segera mendapati kakaknya sudah berdiri di sampingnya. Memandangnya dengan heran.

“Kau melamun?” Ki Bum mengerutkan keningnya. Rasanya tidak biasa melihat adiknya ini tengah melamun.

“Ti-tidak. Aku tidak melamun.” Sae Hee membalas dengan sedikit gugup. Membuat Ki Bum semakin merasa tidak biasa melihat sikapnya.

“Ayo pulang,” ajak Ki Bum seraya merangkul pundaknya. Mengajaknya untuk melangkah.

Pulang…

Dia merasa enggan mendengar kata itu saat ini. Sekaligus membuatnya tersadar bahwa ada sesuatu yang harus dilakukannya sebelum pulang.

Ya, Sae Hee tersadar. Dia harus melakukannya.

Sae Hee menghentikan langkahnya secara mendadak, memaksa Ki Bum untuk ikut berhenti melangkah dan beralih memandang adiknya itu. Dan Sae Hee segera mendengak, menatap Ki Bum lamat-lamat.

Oppa…

****

:: Incheon International Airport – Incheon-shi, Jung-gu, Unseo-dong 2850 (06:00 PM)

“Henry-ah, jaga dirimu baik-baik selama berada di pesawat.”

Ne, Samchon!”

“Kami titip salam untuk keluargamu di sana. Maafkan kami yang belum bisa berkunjung kembali ke sana.”

Ne, Imo! Tidak apa-apa. Aku justru berencana mengajak mereka untuk berkunjung kemari di libur panjang nanti.”

Geurae, geurae! Pintu kami sangat terbuka untuk kalian. Datanglah kapanpun kalian mau!”

Henry terkekeh mendengar tuturan dari Tuan Park. Aah, beruntungnya ia karena Keluarga Park mau mengantarnya sampai kemari. Hanya saja, ada satu orang yang sejak tadi belum mengeluarkan sepatah kata begitu datang menyusul kemari.

Kini Henry menatap kakak sepupunya yang masih terdiam, mendekatinya, lalu melemparkan senyum. “Noona tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Soo Rin mengerjap. Ia mencoba untuk tersenyum sebelum tangannya bergerak mengusap puncak kepala Henry secara perlahan. “Hubungi aku jika kau sudah mendarat di sana.”

Henry mengangguk-angguk. Dia kembali menunggu. Tapi Soo Rin justru menghela napas panjang dan hanya kembali tersenyum menatapnya. “Noona tidak ingin memelukku sebelum aku pergi?” akhirnya dia mengajukannya lebih dulu.

Barulah Soo Rin bergerak, mengalunkan kedua tangannya pada leher adik sepupunya itu. Memeluknya dengan begitu erat seraya menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh lelaki ini. Sedangkan Henry dengan senang hati membalas pelukannya, melingkarkan kedua tangannya pada punggung kecil kakak sepupunya ini.

“Aku belum mengatakan padamu bahwa aku juga menyayangimu, Henry-ah…” ujar Soo Rin dengan suara kecilnya.

“Tanpa Noona beri tahu pun aku sudah tahu. Karena perasaanku terhadap Noona selalu terbalaskan dengan sikap Noona terhadapku,” balas Henry percaya diri. Membuat Soo Rin terkekeh pelan.

Yah, itu memang benar. Jika Henry mengatakan ‘sayang’, maka Soo Rin akan membalasnya dengan memperlakukannya dengan kasih sayang. Jika Henry mengatakan ‘tidak suka’, maka Soo Rin akan membalasnya dengan berhenti melakukan hal yang tidak ia sukai itu. Karena Henry tahu pasti, Soo Rin bukanlah tipe orang yang banyak bicara melainkan lebih melakukan sesuatu sebagai bentuk perasaannya. Dan dia mensyukuri akan fakta yang dimiliki oleh kakak sepupunya ini.

“Aku akan merindukan Noona,” gumam Henry.

“Aku juga…” balas Soo Rin dengan lirihnya. Tapi berhasil didengar Henry dan membuat lelaki itu tersenyum.

“Aku ingin Noona tidak menangis sesampai di rumah nanti.” Henry merasakan gadis di pelukannya mengangguk. Ia melanjutkan, “Jika Noona melakukannya, dengan terpaksa aku akan merebut boneka minion pemberianku nanti.”

Yaa, itu sudah menjadi milikku. Tidak boleh diambil lagi!” Soo Rin akhirnya melepas pelukan mereka dan menunjukkan wajah memberenggutnya.

“Ini baru noona-ku!” seru Henry begitu melihat raut wajah kakak sepupunya itu. Dia lebih senang melihat kakak sepupunya merajuk dibandingkan menampakkan wajah muram seperti sebelumnya.

Soo Rin mengalihkan pandangannya, dan tak sengaja matanya terpaku pada sesuatu di belakang Henry. Mengerjap beberapa kali, Soo Rin tampak terpana hingga tanpa sadar menggumam, “Sae Hee-sshi…

Henry yang masih mendengar itu, tercenung sesaat sebelum menoleh cepat ke belakang. Benar saja, ia melihat sosok yang baru saja disebut oleh Soo Rin telah berdiri di kejauhan.

Sae Hee tengah berdiri mematung dengan pundak naik-turun. Terengah. Dapat dipastikan bahwa gadis itu baru saja berlari. Dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, tetapi tas sekolahnya sudah entah ke mana. Dia hanya membawa diri dan sudah tidak mengingat barang bawaannya. Karena, dia takut terlambat.

Sedangkan Henry, samar-samar bibirnya mengembang. Berbalik badan, ia melangkah cepat menuju gadis yang masih mematung di tempat itu. Begitu jarak jangkauannya semakin dekat, tanpa sadar Henry berlari. Dia tidak mengerti alasan logis mengapa dia melakukan itu. Dia hanya merasa khawatir sosok itu akan menghilang sebelum ia berhasil menjangkaunya. Terdengar berlebihan? Tapi, itulah kenyataannya.

Dan begitu merasa mampu menjangkaunya, langsung saja Henry menangkap dan menarik tubuh itu ke dalam kurungannya. Mendekapnya dangan erat. Memeluknya.

Ya, Henry memeluk Sae Hee.

Sedangkan Sae Hee harus melebarkan mata saking terkejutnya. Tubuhnya berubah kaku merasakan kehangatan yang tidak biasanya. Padahal dia sering mendapatkan hal ini dari kakaknya, tapi kenapa ini terasa sangat berbeda? Rasanya, hampir sama seperti saat ia mendapatkan kecupan dari lelaki ini. Jantungnya berdegup kencang!

“Padahal aku sudah berpikir untuk menyerah dan merelakan ini. Karena aku mengira bahwa semuanya sudah terlambat.”

Sae Hee mengerjap gugup. Apakah dia tidak salah dengar bahwa lelaki ini tengah menggumam sesuatu di depan telinganya?

“Ada satu hal yang belum aku beri tahu.” Henry melakukan jeda sejenak sebelum ia mulai menjelaskan. “Tiga minggu aku berada di sini, tapi tidak selama itu aku bertemu denganmu. Mungkin pertemuan kita selama tiga minggu ini masih bisa dihitung dengan jari. Awalnya aku berpikir bahwa aku akan merasa sengsara ketika aku kembali bertemu denganmu sebagaimana selama aku bersekolah di sekolahmu dulu.

Tapi, entah mengapa bahwa pertama kali aku kembali bertemu denganmu kala itu, menjadi pertama kalinya aku berharap dapat bertemu denganmu lagi. Entah mengapa bahwa semakin lama aku semakin berharap dapat bertemu denganmu setelah mengecup hidungmu kala itu. Aku juga tidak mengerti bahwa aku merasa gila setelah menciummu meski itu hanya sepersekian detik di Hari Minggu lalu. Dan aku semakin tidak mengerti bahwa aku merasa tidak rela mengucapkan kata perpisahan padamu kemarin.”

Sae Hee merasakan desiran aneh di sekujur tubuhnya. Mulutnya terkatup rapat, tidak berani berbicara. Dan ia merasakan pelukan lelaki ini semakin mengetat, semakin memberikan intensitas kehangatan yang begitu aneh. Tak lupa, jantungnya berbedar-debar semakin tak karuan.

“Dan aku merasa bodoh karena baru menyadari semua itu semalam,” gumam Henry perlahan. “I just realized that I really like you.

Sae Hee harus merasakan jantungnya berjumpalitan mendengar ungkapan itu. Sangat jelas terdengar karena lelaki ini memposisikan wajahnya tepat di depan telinganya! Jadi, Henry menyukainya? Benarkah?

Henry melepas pelukannya perlahan. Memberi sedikit jarak. Senyum teduhnya mulai mengembang kala melihat wajah cantik itu telah merona. Yang baru ia sadari bahwa gadis di hadapannya ini begitu cantik.

Joha hae… (Aku menyukaimu)” Henry mengucapkannya dengan halus namun lugas. Ia menyadari bahwa benaknya merasa sedikit lega begitu mulutnya berhasil mengungkapkannya. Dan sepertinya itu sudah cukup baginya.

“Maaf…” Sae Hee akhirnya membuka mulut. Memberanikan diri untuk menatap lelaki di hadapannya kini. Tapi belum sempat dirinya ingin kembali berkata, Henry sudah menyelanya.

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau pasti akan menolakku. Aku tahu kau tidak menyukai lelaki yang penuh percaya diri seperti diriku.” Henry terkekeh. Mencoba untuk menekan harapannya, dengan mengusap gemas puncak kepala Sae Hee. Mungkin untuk yang terakhir kali.

Tapi Sae Hee segera menepis tangan berkulit pucat itu. Mulai menatap tak suka pada lelaki yang tengah memasang raut bocahnya itu. “Bukan begitu!”

“Apa?” Henry mengangkat kedua alisnya.

“Aku meminta maaf karena kau sudah menyadarinya semalam,” Sae Hee menundukkan pandangannya. Mulai salah tingkah. “Sedangkan aku baru menyadarinya sekitar satu jam yang lalu…” lanjutnya lirih.

“Apa?” kini Henry memasang wajah melongonya. Membuat Sae Hee mengerucutkan bibir. Astaga, bagaimana bisa bocah ini terlihat begitu polos di saat seperti ini?! Menyebalkan!

“Aku juga menyukaimu, Wajah Bakpao!”

Chup

Sae Hee harus melongo hebat. Dia merasakan jantungnya baru saja terjatuh dari tempatnya. Merasakan sesuatu mendarat selama… 2 detik di bibirnya. Mungkin itu waktu yang singkat, tapi dia merasa bahwa itu adalah waktu yang lama! Dan itu terasa begitu lembut dan hangat.

“Kau masih saja menyebutku seperti itu.” Henry menampakkan senyum miringnya. Melihat reaksi gadis ini benar-benar menghiburnya.

Sedangkan Sae Hee mulai merasakan wajahnya memanas. Apalagi senyum miring yang ditunjukkan Henry telah berhasil mengubah wajah bocahnya menjadi menyimpang begitu jauh. Sial, bagaimana bisa lelaki ini berubah menjadi begitu tampan hanya dalam waktu singkat? Membuat jantungnya berdegup kencang dan lebih kencang lagi.

Astaga, Henry menciumnya lagi!

“Ah, ada satu hal lagi!” Henry segera meraih tas ranselnya, membukanya lalu merogoh isinya. Dan ia kembali tersenyum begitu berhasil mendapatkannya. Benda yang sebelumnya ia niatkan untuk disimpan saja karena mengira semua sudah terlambat.

Sedangkan Sae Hee harus terpana melihat apa yang dikeluarkan oleh lelaki itu. Sejak kapan lelaki itu memiliki bando?

Begitu kembali mengenakan tas ranselnya, Henry bergerak maju mendekati Sae Hee. Memasangkan bando berhiaskan bentuk pita berwarna biru dan putih itu pada kepala Sae Hee. Kemudian tersenyum puas melihat hasilnya.

Gwiyeopda (Manis)!”

Sae Hee merasakan wajahnya kembali menghangat. Oh ayolah, ini adalah kali pertama ia mendengar lelaki itu memujinya. Sudah pasti dia tersipu malu.

“Aku bersyukur karena diberi kesempatan untuk memberikan itu padamu,” gumam Henry halus. “So, we are couple now?”

Sae Hee mengangkat pandangannya. Lelaki itu kembali memasang wajah bocahnya yang menyebalkan baginya—sebelumnya. Tapi sekarang sepertinya dia telah menyukai raut wajah itu.

“Soo Rin Noona mengatakan bahwa dia akan merestui jika aku denganmu.”

“Benarkah?”

Henry mengangguk-angguk. Sedangkan Sae Hee tampak berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk berbalik badan.

Oppa! Soo Rin Eonni mengizinkan aku untuk berkencan dengannya. Oppa harus mengizinkannya juga!”

Henry terpaksa mengerjap kaget. Astaga, kenapa gadis ini dengan lancangnya berteriak di tengah keramaian seperti ini? Mereka masih berada di bandara!

Bahkan orang yang dipanggil Oppa oleh Sae Hee juga mengerjap kaget melihat tingkahnya. Dari jarak yang terjaga—mengawasi adiknya sedari tadi—Ki Bum mendengus sebelum akhirnya mengangkat sebelah tangannya; menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk tanda ok. Barulah Sae Hee berbalik kembali menghadap Henry.

Woah, aku tidak menyangka kau berani berteriak seperti itu di sini.” Henry bergumam takjub.

“Bagaimana denganmu yang berani memeluk bahkan menciumku di sini?” Sae Hee berkacak pinggang. Membuat Henry tertawa membenarkan ucapannya. Dan Sae Hee akhirnya terhanyut, ikut tertawa bersama lelaki ini.

Noona! We are dating now!!” seru Henry seraya merangkul pundak Sae Hee dan melambaikan tangan pada noona-nya itu.

Sedangkan Soo Rin terpaksa menggelengkan kepala dengan heran sekaligus tersenyum. Bahkan Tuan dan Nyonya Park tampak terkekeh geli melihat tingkah 2 pemuda yang baru saja menjadi pasangan itu.

.

Epilog

Tampak kakak-beradik itu tengah duduk berdampingan di dalam taksi. Hari sudah gelap dan mereka yang baru saja ikut mengantar kepergian Henry kini dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Sang adik tengah merunduk menatap layar ponselnya. Dia baru saja mengganti wallpaper pada ponsel itu dengan sebuah foto dirinya bersama lelaki berparas bocah yang baru saja pergi kembali ke Negara asalnya. Foto yang berhasil ia abadikan tadi. Bahkan dia juga berhasil bertukar nomor ponsel dengan lelaki itu tadi, setelah selama ini mereka tidak pernah melakukannya karena status mereka yang hanya sebatas teman berdebat.

Ternyata wajah bocah itu tidak buruk juga… bahkan terlihat tampan meski tertutupi dengan paras kekanakannya itu, pikir Sae Hee. Jelas saja karena selama ini dirinya hanya dikuasai oleh rasa gengsi terhadap lelaki itu hingga tidak sempat memperhatikan lekuk wajah berkulit pucat tersebut.

Aah, tidak kusangka akan berakhir seperti ini, gumamnya dalam hati. Meski harus melakukan hubungan jarak jauh, tapi toh mereka sudah berjanji akan saling menghubungi nantinya. Dan tentunya, berjanji untuk tidak bermain mata. Oh, tidak, sebenarnya itu sebuah tuntutan darinya untuk Henry. Hanya tuntutan sepihak. Padahal Henry sendiri tidak memusingkan akan hal itu. Karena menurutnya, cukup dengan adanya kepercayaan maka hal menyimpang itu tidak akan terjadi.

Oppa!” Sae Hee memanggil kakaknya begitu teringat sesuatu.

Ki Bum—lelaki yang tengah melihat ke luar jendela itu segera menoleh pada adiknya itu. Mengangkat kedua alisnya sebagai bentuk respon ‘apa?’.

“Apa Oppa masih ingat dengan pembicaraan kita saat itu?” tanya Sae Hee antusias.

“Pembicaraan apa?” kini Ki Bum harus mengernyit bingung.

Oppa pernah mengatakan bahwa Oppa tidak akan melakukan hal itu sebelum aku memiliki kekasih. Tapi sekarang, aku sudah memiliki kekasih. Jadi Oppa harus melakukannya.” Sae Hee membenarkan posisi duduknya agar nyaman menghadap Ki Bum. Ditatapnya wajah kakaknya yang mulai berubah ekspresi itu. Kemudian melanjutkan, “Oppa harus mengajak Soo Rin Eonni bertunangan!”

Mwo?!

.

END


pfft… akhirnya MFG telah berakhir~ hehet!

sebenernya maksud dari cerita ini, aku ingin menceritakan 2 pasangan absurd secara bergantian tetapi masih berhubungan. Hanya saja, entah konsep itu berhasil atau tidak di MFG ini hahahah #dessh

Yosh! Terima kasih udah mau mengikuti kisah absurd dari 2 kopel absurd ini~ rencananya kalo sempet aku mau bikin cerita lain dengan cast yg lainnya juga.. tapi kalo ngga yah, mungkin kisukisu-nya yg bakal gentayangan lagi hahah xD

Terima kasih sudah mampir~^-^

Henllishk

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “My Favorite Girl – Finally

  1. Hahaha koplak bener jadian di bandara hahahaha eh thor, next chapter tentang kibum sooring tunangan yah hehehe kepo nih xoxo good job thor 🙂

  2. KARYAMU NE0MU JJANG!!
    KEMAL.,KEP0 MAKSIMAL
    penasaran gimana cra se0rang genius ngajak s00 rin lbh serius dlm hubungan mereka..
    jgn dikerjai kayak pas dia ultah,bikin m0ment y lbh sweet ya?

  3. akhirnya mereka jadian juga~ huh!.. untung masih sempet ketemu dibandara, coba kalau sae hee tidak berubah pikiran, bakal galau tuh mereka berdua..

    ff selanjutnya di tunggu yahh… 🙂

  4. Aaaa…bikin envy >.<
    Akhirnya dating juga tuh couple 😉
    Ciyee yang LDRan, hihi…
    Whoaa 😮 tunangan?

    Selalu suka karyamu Thor 🙂
    Author jjang! 😀

  5. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa selesain juga bc ff ini 🙂

    ah ya.. Aku bisa tanya sesuatu gkx? Kan Soo rin dan Sa hee dah kenal dekat, tapi kenapa masih memakai Ssi~ bukan Ah~ ? Itu aja sih 🙂 next aku tunggu couple ini lg.

    1. akhirnya nongol juga dirimu (?) xD

      itu karna Soorin-nya masih kelewat sopan wahahahah sebenernya di koreanya sendiri jg ada sesama temen deket yg masih manggil pake -sshi, bahkan pasangan yg udah nikah juga ada yg masih begitu.. /efeknontondramakorea/? XD
      tapi kapan-kapan bakal aku ubah deh 🙂 makasih ya buat masukannya ><

  6. Wiihhhh aku bakalan nungguu eonn soorin sama kibum tunangan wkwk
    Akhirnyaa henry sama saehee mengakui perasaannya.. next eonn gak sabar hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s