Posted in One Shot, PG-15, Romance, School Life, Special FF "My Favorite Girl"

My Favorite Girl – Another Secret Admirer?

Rated: PG-15
Length: One Shot 

Who Is He? | Meet Again | First | Date? | Another Secret Admirer?mfg3

Kini MFG kembali bersama couple andalan saya~ hehet! Seperti biasa cerita absurd ini berasal dari otak dan imajinasi absurd saya >_< Just let’s have a good time, together! Enjoy! ^^ 

Mohon maaf untuk typos yang masih ditemukan (_ _)

ㅡㅡ

:: Monday, April 20th

at Park Family’s House

.

Awal minggu di pertengahan musim semi. Waktu telah menunjukkan pukul enam pagi di mana aktivitas harian mulai berjalan. Seorang lelaki keluar dari kamar inapnya dan segera melesat ke kamar mandi demi membasuh wajah bengkaknya yang baru menyapa pagi ini setelah tidur panjangnya semalam. Kemudian keluar dari ruangan itu beberapa saat kemudian dan kembali melesat ke dalam kamar inapnya. Memberikan kegaduhan di pagi hari karena langkahnya yang begitu cepat serta menghentak-hentak lantai keramik hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup bisa didengar oleh penghuni di lantai itu.

Seorang gadis yang tengah mengenakan dasi seragam di dalam kamar yang terletak di sebelah kamar lelaki itu tampak menggelengkan kepala mendengar kegaduhan yang diciptakan oleh lelaki itu. Dan dia sudah bersiap-siap untuk kembali berteriak jika lelaki itu mulai melakukan aktifitas rutinnya; membuka pintu kamarnya tanpa permisi dan mengucapkan kata selamat pagi untuknya.

Dan benar saja, tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa permisi hingga membuat gadis itu segera menoleh demi memberi semprotan paginya. Tapi segera ia urungkan begitu apa yang ia dapat bukanlah sosok lelaki dengan tampang bocahnya itu. Melainkan sebuah boneka yang tengah menyembul dari balik pintu kamar.

Boneka Minion. minion

Morning, Noona!

Barulah disusul dengan seruan yang… terdengar dibuat agar mirip dengan suara asli dari boneka karakter dari film Despicable Me itu. Membuat gadis itu mengernyit bingung. Sejak kapan dirinya memiliki boneka menggemaskan itu?

Lelaki itu segera ikut menyembulkan kepala demi melihat reaksi sang gadis. Kemudian tersenyum lebar sebelum menampakkan seluruh wujudnya dengan melebarkan pintu kamar bernuansa pink itu lalu melangkah masuk seraya membawa boneka bertubuh seperti kapsul dan berwarna kuning tersebut. Menyodorkannya pada sang gadis seraya berseru, “Happy Birthday, Soo Rin Noona!”

Barulah gadis itu menampakkan wajah terpananya. Kedua alisnya yang terangkat serta mulutnya yang sedikit terbuka. Membuat lelaki berparas bocah itu kini menampakkan cengirannya. Well, dia berhasil memberikan kejutan untuk kakak sepupunya hari ini.

“Aku bahkan tidak ingat bahwa ini hari ulang tahunku,” gumam Soo Rin tanpa sadar. Membuat lelaki itu terkekeh geli.

“Tidak masalah, Noona. Karena ini masih pagi dan baru akan memulai aktivitas hari ini, wajar saja jika Noona tidak… ah, bukan, maksudku belum mengingat hari ulang tahun sendiri,” ujarnya sarat akan memaklumi. “Cah! This is for Noona. I know you liked this character cause you always watching this animation movie, right?

“Dari mana kau tahu?” tanya Soo Rin setelah berhasil mencerna kalimat dari bocah itu.

Noona pernah memberitahu hal ini saat meneleponku dulu. Noona lupa?” balasnya disertai senyum bocahnya. Kemudian kembali menyodorkan boneka itu pada Soo Rin. “Beruntunglah karena adik sepupu kesayangan Noona ini mengingatnya!” pungkasnya kemudian dengan percaya diri.

“Terima kasih, Henry-ah. Kau memang adik sepupu kesayangan Noona,” ucap Soo Rin sumringah sambil menerima pemberian Henry. Senyum merekah yang pertama kali ia tunjukkan di hari ini. Sebelah tangannya bergerak mengacak-acak rambut kecokelatan Henry dengan gemas dan sayang. Kebiasaanya terhadap lelaki itu dari dulu.

Eii, Noonaa, aku bukan anak kecil lagi,” gerutu Henry seraya mengerucutkan bibir. Lucu sekali.

“Benarkah? Kau ingin Noona berhenti saja? Jadi kau sudah tidak mau dimanja lagi oleh noona-mu?”

Aniya! Bukan begitu. Aku hanya sedikit terkejut. Jangan berhenti! Selama ini aku hanya mendapatkan hal ini dari Noona. Aku tidak mungkin meminta hal seperti ini pada Clinton Hyung apalagi pada Whitney. Jangan pernah berhenti memanjakanku!”

Soo Rin harus terkekeh geli mendengar jawaban kekanakan dari lelaki di depannya ini. Memang sejak dulu dirinya sudah sangat perhatian pada adik sepupunya ini. Henry hanya memiliki kakak kandung laki-laki—Clinton Lau—yang tidak mungkin dia minta untuk memanjakannya, apalagi meminta hal kekanakan seperti ini pada adik perempuannya—Whitney Lau—itu? Karena itu sejak dulu Soo Rin begitu menaruh perhatian pada lelaki menggemaskan ini. Selain karena dirinya tidak memiliki saudara kandung, dia juga begitu nyaman bersama lelaki ini.

Arasseo (Aku mengerti)! Tapi aku yakin suatu saat kau akan berubah pikiran begitu kau sudah mendapatkan seorang gadis.” Soo Rin menoyor pelan kening berponi Henry. “Kau tidak mungkin kuperlakukan seperti ini lagi karena dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak.”

“Biarkan saja. Lagipula memangnya dia tahu jika aku selalu diperlakukan seperti ini pada Noona?”

“Aku akan mengatakan hal ini padanya nanti.”

Yaa, Noona! Itu sama saja Noona menjatuhkan martabatku di depannya nanti!”

“Jika dia memandang rendah dirimu akan hal ini, itu berarti dia tidak bisa menerimamu apa adanya. Jadi lebih baik kau putuskan saja dia nanti.”

Woah, sejak kapan Noona menjadi penasehat asmara seperti ini? Jangan katakan bahwa Noona sudah tertular oleh virus gadis menyebalkan itu.”

Ya! Kim Sae Hee bukan gadis menyebalkan, Henry-ah!” tiba-tiba Soo Rin sedikit tersentak menandakan ia mengingat sesuatu. “Ah, aku dengar dari Kim Ki Bum bahwa kau pergi bersama Sae Hee kemarin.”

Henry mengerjap kaget. Tiba-tiba saja ingatannya berputar di kala dirinya menghabiskan waktu bersama Sae Hee kemarin. Berkeliling mall juga makan bersama. Sekaligus mengingat kembali kejadian di mana dirinya… berhasil mengambil ciuman dari gadis itu.

“Aku—aku dengannya hanya pergi mencari hadiah untuk Noona. Kami juga bertemu secara tidak sengaja.” Henry mulai terlihat salah tingkah.

“Benarkah?” Soo Rin menyipitkan kedua matanya, memicing. “Jadi kalian juga berkencan kemarin?”

ANIYA! Kami tidak berkencan! Aku ‘kan sudah mengatakan bahwa kami bertemu secara tidak sengaja!” Henry mengelak dengan begitu cepatnya. Mengibas-kibaskan kedua tangannya dengan cepat pula.

Sedangkan Soo Rin mulai mengulum senyum simpulnya. Sebelah tangannya kembali bergerak mengacak-acak rambut Henry dengan gemasnya. Melihat reaksi adik sepupunya ini ternyata begitu menggelitiknya.

“Tidak apa-apa, Henry-ah. Noona akan merestui kalian jika itu memang terjadi. Sae Hee adalah gadis yang baik,” ucap Soo Rin kalem.

Noonaaaa!!

****

:: Neul Paran High School

.

Awal minggu di pertengahan musim semi. Seperti biasa kegiatan di Neul Paran berjalan layaknya sekolah-sekolah kebanyakan. Murid-murid mulai berdatangan di pagi hari dan mulai kembali memberikan kehidupan pada gedung megah itu setelah ditinggal seharian lamanya—di Hari Minggu. Dan memulai kembali aktivitas belajar-mengajar seperti minggu-minggu sebelumnya.

Soo Rin baru saja datang dan segera melangkah menuju lokernya di dekat pintu masuk bermaksud ingin mengambil beberapa buku pelajaran untuk hari ini. Tapi dia harus sedikit dikejutkan dengan sesuatu yang… entah sejak kapan sudah tersimpan di dalam lokernya. Selembar post it tertempel di dinding lokernya. Menerterakan sebuah kalimat singkat.

Selamat ulang tahun

ur B

Soo Rin mengernyit bingung. Diraihnya post it tersebut dan kembali dibaca. Bukan membaca ucapan itu, tapi kedua matanya tertuju pada satu huruf yang ditulis sebagai pengirim ucapan itu. B? Tunggu, bukan hanya huruf itu, tetapi dua huruf sebelum huruf B itu juga. ‘ur B’? Apakah itu inisial dari nama si pengirim kartu ucapan yang tengah dipegangnya ini?

.

:: Class 3-2

Soo Rin harus kembali merasa bingung begitu melihat di atas mejanya tergeletak sebungkus cokelat berukuran sedang. Membuatnya bertanya-tanya, apakah seseorang telah meninggalkan makanan ringan tersebut secara tidak sengaja di atas mejanya?

Tapi dia harus tersadar bahwa sepertinya cokelat itu bukan ditinggalkan oleh sang pemilik, melainkan ditujukan untuknya. Karena Soo Rin mulai menyadari ada selembar kertas menyelip di bawah cokelat itu. Sebuah post it—lagi.

Sebagaimana dengan cokelat ini, semoga hari kelahiranmu ini menjadi hari yang manis bagimu.

ur B

Soo Rin harus melongo bingung. Dia kembali tertuju pada satu huruf yang sudah jelas merupakan inisial dari nama pengirimnya—menurutnya. Hanya saja, Soo Rin tidak menemukan ide siapa kira-kira yang sudah melakukan hal ini padanya. Ditambah kata ‘ur’ itu juga mengganggunya.

B?

ur B?

Sebenarnya itu apa?

Woah, ini masih pagi tetapi sepertinya kau sudah mendapatkan sebuah kejutan.”

Soo Rin terpaksa menoleh begitu sebuah suara tengah menyapanya. Karena dari sudut matanya, dia menyadari bahwa sang pemilik suara itu sudah berdiri di dekatnya.

Eo— Tae Yong-ah…” sapa Soo Rin perlahan.

Tae Yong—lelaki muda berparas tampan yang baru memasuki kelas itu mengangkat sebelah alisnya begitu pandangannya mendapati post it tersebut di tangan Soo Rin. Meraihnya tanpa mengambil dari tangan gadis itu, demi melihat dengan jelas tulisan yang tertera di atasnya. Sejurus kemudian, sebuah senyum simpul menghiasi bibirnya yang berlekuk indah itu.

Wow, kau memiliki penggemar rahasia lagi?” ujarnya dengan nada terkejut yang dibuat-buat. Bermaksud menggoda gadis itu.

“A-aku tidak tahu. Apa menurutmu begitu?” balas Soo Rin bingung.

“Jika bukan penggemar rahasia memangnya siapa lagi?” Tae Yong mengangkat kedua alisnya. “Yaa, aku tidak menyangka kau bisa membuat seseorang menjadi penggemar rahasiamu. Bahkan dia sudah mencuri start dari Kim Ki Bum,” lanjutnya tersirat mengejek. Membuat Soo Rin harus mengerucutkan bibir.

“Mencuri start apa?”

Sontak keduanya menoleh, lalu mendapati orang yang baru saja disebut namanya oleh Tae Yong sudah berdiri di dekat mereka. Membuat Soo Rin cukup terkejut dan spontan tangan yang memegang cokelat dan post it itu bergerak ke belakang tubuhnya. Bersembunyi.

“Sepertinya kau memiliki saingan baru, Kim Ki Bum. Gadismu baru saja mendapatkan hadiah dari penggemar rahasia barunya,” tutur Tae Yong dengan begitu lancarnya. Sedangkan Soo Rin harus melotot mendengar lelaki di sebelahnya ini telah membongkarnya.

Ki Bum—lelaki yang baru saja masuk ke dalam kelas itu menatap datar Soo Rin. Kedua kaki panjangnya kembali melangkah mendekati gadis itu. Tanpa mempedulikan Tae Yong yang masih berdiri di dekat mereka, tanpa mempedulikan kondisi kelas yang mulai dipenuhi penghuninya, tanpa mempedulikan Soo Rin yang mulai tampak gugup, Ki Bum mengulurkan sebelah tangannya ke belakang tubuh gadis itu—yang otomatis hampir merapatkan tubuh mereka yang sudah berhadapan hingga gerakannya itu terlihat ingin memeluk tubuh ramping Soo Rin—lalu mengambil benda yang disembunyikan Soo Rin. Tanpa perlawanan.

Tapi Ki Bum tidak menampakkan reaksi yang berarti. Wajah tegasnya yang dihiasi sepasang bingkai kacamata itu masih tetap mengumbarkan raut tanpa ekspresinya begitu dirinya berhasil mengambil kertas ucapan itu dan membacanya, oh, tidak lupa bahwa dirinya juga berhasil mengambil cokelat batang tersebut. Kembali menatap datar gadis di depannya, lalu meletakkan dua benda itu di atas meja sang gadis.

“Simpan saja. Setidaknya kau mendapatkan camilan gratis,” ucap Ki Bum kemudian. Terdengar datar. Lalu berbalik melangkah menuju mejanya.

Sedangkan Soo Rin mulai memasang wajah bingungnya. Awalnya ia berpikir bahwa lelaki itu akan marah padanya karena jelas ada orang lain yang telah memberikan sesuatu untuknya. Tapi sepertinya Kim Ki Bum tidak mengambil pusing soal hadiah dari orang yang bahkan tidak diketahui asal muasalnya tersebut.

“Selamat ulang tahun, Soo Rin-ah. Hadiahnya menyusul,” ucap Tae Yong sambil mengulas senyum serta menepuk pelan pundak Soo Rin. Kemudian berlalu menuju mejanya.

Tapi, tunggu. Soo Rin baru menyadari ada sesuatu yang mengganjal.

Kim Ki Bum—lelaki itu… belum mengucapkan sesuatu padanya.

****

Bi?”

Ah Reum dan Tae Min tampak mengerutkan kening begitu menyebut suku kata itu bersamaan. Sedangkan Soo Rin mengangguk membenarkan. Saat ini mereka tengah berkumpul di kantin karena waktu istirahat tengah berjalan. Hanya mereka bertiga. Sedangkan Tae Yong, lelaki itu tengah bersama Ki Bum di perpustakaan.

Bi—maksudmu alphabet B (bi), bukan?” tanya Tae Min memastikan.

Soo Rin kembali mengangguk. “Apakah menurut kalian itu merupakan huruf inisial dari nama orang itu?”

“Bisa saja. Tapi, siapa murid yang memiliki inisial nama berhuruf B?” Ah Reum tampak berpikir.

“Baek Hyun?”

Sontak kedua gadis itu menatap Tae Min. Lelaki itu tanpa sadar baru saja menyebut sebuah nama, tapi kemudian raut wajahnya menampakkan dirinya baru tersadar hingga menjentikkan jari.

“Baek Hyun. Byun Baek Hyun. Siswa dari kelas 3-6. Kalian mengenalnya?” lanjut Tae Min.

“Aah, siswa dari klub Paduan Suara itu?” Ah Reum mulai mengingat sesuatu.

Eo!” Tae Min mengangguk cepat. “Dia salah satu murid dengan nama berinisial B. Mungkin saja dia.”

“Tapi dia ‘kan sudah punya kekasih.”

“Eh? Benarkah?”

“Aku dengar dia berkencan dengan siswi satu klubnya itu. Tapi siswi itu sudah lulus tahun lalu. Kalau tidak salah namanya… Kim Tae Yeon?”

Mwoya? Dia berkencan dengan gadis senior?!” Tae Min mulai tampak tertarik. “Daebak! Dia bisa menaklukkan hati seorang gadis senior, ternyata.”

“Tapi pada dasarnya Byun Baek Hyun memang siswa yang sangat menarik. Selain lebih tampan, dia memiliki kualitas suara yang lebih menonjol di klubnya itu. Kudengar dia selalu dielu-elukan oleh siswi-siswi di klub itu.”

“Ah, dia juga merupakan siswa yang terkenal di kelasnya. Key Hyung yang sempat sekelas dengannya dulu pernah mengatakan hal itu padaku.”

“Apa kalian sekarang sedang membicarakan seseorang?” Soo Rin akhirnya membuka suara. Setelah dirinya memilih diam sejak Tae Min menyebut nama Baek Hyun.

“Astaga, Lee Tae Min! Ternyata kau suka dengan yang namanya gosip sampai-sampai aku ikut terhanyut,” ujar Ah Reum begitu sadar seraya menepuk keningnya. Sedangkan Tae Min mulai tergelak begitu melihat reaksi Ah Reum yang seolah baru saja dilemparkan ke dalam kolam ikan.

“Aku tidak menyukai gosip, tapi aku memang sangat pintar membuat seseorang terhanyut padaku,” balas Tae Min penuh percaya diri seraya mengedipkan sebelah matanya. Membuat Ah Reum seketika bergidik ngeri sebelum akhirnya mencibir.

“Aku rasa kau bisa mendapatkan Ah Reum dengan mudah jika memiliki kemampuan itu, Tae Min-ah,” ujar Soo Rin sekenanya yang justru segera mendapatkan pelototan gratis dari Ah Reum.

Yaa, Soo Rin-ah!”

“Itu memang hal yang mudah. Sangat mudah.” Tae Min tampak mengerling nakal. Menggoda Ah Reum.

“Hentikan, Lee Tae Min! Kau tampak menggelikan jika seperti itu!” protes Ah Reum yang segera mengundang tawa keduanya.

.

.

Soo Rin kembali mendapatkan selembar post it. Terselip di bawah bukunya yang tertumpuk rapih di atas meja. Dapat ia tebak benda itu disisipkan oleh sang pelaku ketika dirinya tengah beristirahat di kantin. Hanya saja ia harus tercenung begitu mendapati ternyata ada sesuatu di balik kertas kecil itu.

Sebuah jepit rambut?

Datanglah ke atap gedung sepulang sekolah nanti.

ur B

“Astaga, siapa orang ini?” desis Soo Rin kebingungan begitu selesai membaca pesan dari kertas kecil tersebut.

****

Waktu belajar mengajar telah berakhir. Para murid Neul Paran mulai berbondong-bondong menyerbu gerbang sekolah demi kembali ke rumah masing-masing. Seperti biasa sekolah berakhir di waktu menjelang sore hingga langit mulai menjingga.

Soo Rin tampak melangkah dengan tampang tengah merenungi sesuatu. Dia menyadari ada yang aneh sepanjang hari ini. Kim Ki Bum—lelakinya itu tampak tidak banyak bicara padanya hari ini. Ditambah lelaki itu masih belum mengucapkan sesuatu untuknya. Apakah lelaki itu tidak ingat? Padahal tadi pagi Tae Yong sempat mengucapkannya tepat di dekatnya.

Atau, karena hadiah misterius yang sempat terlihat oleh Ki Bum di pagi hari tadi? Apakah selama ini Soo Rin sudah salah mengambil kesimpulan bahwa lelaki itu tampak tidak mengambil pusing soal hadiah dari orang yang bahkan tidak diketahui siapa dan dari mana? Apa karena hadiah itu dia menjadi diam terhadap Soo Rin?

“Sepertinya aku harus bicara dengannya setelah ini,” gumam Soo Rin kemudian. Mengingat lelaki itu kembali beranjak ke perpustakaan bersama Tae Yong selepas bel pertanda sekolah usai berbunyi tadi.

Soo Rin bergegas menuju lokernya demi menyimpan kembali buku-buku tebalnya yang ia bawa saat ini. Tapi ia harus kembali dikejutkan dengan sesuatu yang menempel di dinding lokernya. Lagi-lagi selembar post it.

Aku menunggumu.

Hanya dua kata itu yang tertera di atas lembar post it tersebut. Sudah tidak ada lagi nama pengirim dari post it tersebut. Tapi Soo Rin tahu pasti, pengirimnya adalah si inisial B itu. Memangnya siapa lagi?

Meletakkan buku-bukunya ke dalam loker, lalu mengambil post it tersebut sebelum menutup kembali lokernya. Kemudian melangkah menaiki tangga gedung sekolah kembali, kini menuju atap gedung.

Sepertinya dia harus menunda sejenak rencananya untuk menemui Kim Ki Bum. Dia harus menyelesaikan urusan ini terlebih dahulu.

.

Soo Rin telah sampai di atap gedung sekolah. Hembusan angin musim semi segera menyambutnya dengan menerpa lembut dirinya seraya menari-narikan sedikit helaian rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.

Dia harus menengok ke sana – kemari. Dia tidak menemukan siapapun di sana. Kosong. Hanya ada dirinya yang berstatus sebagai manusia di atap gedung ini. Membuatnya mulai menggerutu, “Bukankah dia mengatakan tengah menunggu di sini? Apakah orang itu sedang menipuku?”

Jujur saja, Soo Rin begitu penasaran dengan orang itu. Juga merasa heran, bagaimana bisa orang itu mau melakukan hal itu untuknya sejak tadi pagi? Apakah yang dikatakan Tae Yong itu benar, bahwa orang itu merupakan penggemar rahasianya?

Jadi, kira-kira siapa orang yang dengan relanya mau menjadi penggemar rahasianya dan tanpa sengaja telah menyaingi Kim Ki Bum?

Cklek

Soo Rin mendengar pintu atap gedung yang terletak di belakangnya tengah dibuka. Mungkinkah dia? Pikir Soo Rin sebelum berbalik. Namun, Soo Rin terpaksa mematung begitu dirinya berhasil melihat sosok yang telah membuka pintu tersebut.

Dengan kedua tangan yang disimpan ke dalam saku celana, orang itu melangkah pasti mendekati Soo Rin. Wajah tegas yang dihiasi dengan sepasang bingkai kacamata itu hanya menguarkan raut datar seperti biasanya. Kedua iris hitam pekat di balik kacamata itu menatap lurus pada sosok di hadapannya. Dan Soo Rin, harus merasa tak berkutik mendapati tatapan tajam itu telah sukses mengunci pandangannya—sejak awal.

Ia berhenti tepat di hadapan Soo Rin. Menyisakan hanya selangkah di antara mereka. Dan, keadaan menjadi hening seketika. Untuk beberapa saat.

“Maaf, aku terlambat. Padahal aku sudah mengatakan padamu bahwa aku menunggumu—” ucapnya terdengar menggantung. Membungkukkan tubuh tegapnya hingga wajah tegasnya sejajar dengan wajah Soo Rin, lalu melanjutkan, “Di sini.”

Soo Rin merasa baru saja jantungnya melompat sebelum mulai berpacu di atas normal. Mulutnya yang sempat terkatup kini sedikit terbuka hendak mengucapkan sesuatu. Tapi entah mengapa pikiran dan batinnya sudah tidak sejalan. Entah sejak kapan. Mungkin sejak orang di hadapannya ini menampakkan diri. Apalagi orang ini mulai menampakan sebuah seringaian di bibir penuhnya itu.

Astaga, Park Soo Rin, ternyata kau sudah dibodohi oleh lelakimu sendiri!

“Kau menyukai hadiah dariku?” Ki Bum—lelaki yang masih membungkuk di hadapan Soo Rin itu tampak mengulum senyum simpulnya. Yang sekaligus melunturkan raut datar yang terkesan dingin itu.

Dan pertanyaan itu juga berhasil membuat Soo Rin benar-benar tersadar. Wajah cantiknya mulai memberenggut kesal dan sebelah tangannya terangkat demi memukul pundak lelaki itu. “Puas membodohiku, huh?! Dasar menyebalkan!!”

Ki Bum tergelak melihat reaksi gadis di hadapannya. Sebelah tangannya segera menangkap tangan yang sudah memukul pundaknya dengan gemas itu. Dia tahu pasti gadis di hadapannya ini tengah menahan malu karena dirinya berhasil membodohi gadis ini. Lihat saja wajah cantiknya yang mulai menampakkan semburat kemerahan itu.

“Kenapa? Apa kau berpikir bahwa pengirim hadiah itu adalah orang lain, hm?” tanya Ki Bum tersirat mengejek.

Geurae! Aku berpikir bahwa ada orang lain yang dengan beraninya menjadi penggemar rahasiaku dan dengan beraninya menjadi sainganmu. Kenapa? Kau ingin mengatakan bahwa aku terlalu percaya diri?” balas Soo Rin ketus. Biarkan saja dirinya dibuat malu sekalian. Biarkan saja lelaki itu menertawakannya sampai puas. Biarkan saja dia menjadi gadis bodoh di hari ulang tahunnya sendiri.

“Jadi kau menginginkan adanya saingan untukku?” Ki Bum mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum miring. “Asal kau tahu, Soo Rin-ah, aku bisa memastikan bahwa tidak ada yang bisa melakukan hal yang seperti aku lakukan hari ini. Lebih tepatnya, tidak ada yang bisa menjadi penggemar rahasiamu selain diriku.”

“K-kenapa begitu?” Soo Rin mulai merasa gugup. Tahukah apa yang membuatnya merasa gugup? Sorot mata hitam itu, juga kalimat terakhir lelaki itu begitu menyiksanya. Membuat jantungnya berjumpalitan mendengar kata-kata lelaki di hadapannya kini.

“Karena kau sudah bersamaku.”

Singkat dan jelas. Dan itu berhasil membuat Soo Rin merasakan wajahnya menghangat karena desiran yang berhasil timbul dari benaknya dan menjalar hampir ke seluruh bagian tubuhnya.

“Sekalipun kau tidak bersamaku, akan aku pastikan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melakukan hal yang sama sepertiku.” Ki Bum kembali mensejajarkan wajah mereka. “Yaitu menjadi penggemar rahasiamu.”

Lagi dan lagi, Soo Rin harus merasakan jantungnya melompat-lompat mendengar tutur kata lelaki di hadapannya yang begitu lugas dan penuh percaya diri. Kenapa lelaki ini dengan mudahnya mengatakan hal itu padanya? Seolah menyiratkan bahwa… tidak akan ada orang yang bisa mendapatkannya… dengan cara seorang Kim Ki Bum? Atau, tidak akan ada orang yang bisa mendapatkannya selain… seorang Kim Ki Bum?

Soo Rin harus merasakan wajahnya memanas. Astaga, Park Soo Rin, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?

Ki Bum kini mengulas senyum teduhnya. Sebelah tangannya yang sempat menangkap tangan Soo Rin kini bergerak mengusap puncak kepala Soo Rin dengan sayang. Entah mengapa di matanya saat ini, gadis di hadapannya kini terlihat begitu menggemaskan dan cantik tidak seperti biasanya. Apakah karena hari ini adalah hari ulang tahunnya?

“Ada satu lagi yang belum aku berikan padamu.”

Soo Rin mengernyit bingung begitu melihat Ki Bum tengah merogoh kantung seragamnya. Begitu mendapatkannya, lelaki itu bergerak maju dengan kedua tangan tengah membuka sesuatu. Sekilas Soo Rin melihat sesuatu menjuntai di balik kedua tangan kekar itu. Seperti sebuah… kalung? Apakah dia tidak salah melihat?

Ki Bum menatap sekilas wajah cantik itu sebelum bergerak merapat. Kedua tangannya segera menelusup ke balik rambut panjang Soo Rin, mengalungi leher jenjang itu dengan perlahan dan mempertemukan kedua tangannya tepat di tengkuk demi mengaitkannya. Memberikan sensasi yang begitu menyengat bagi Soo Rin karena kulit hangat itu berhasil menyentuh sekaligus menggesek bagian leher hingga tengkuknya. Tubuhnya meremang dan begitu kaku. Ditambah, Soo Rin harus merasakan bibir lelaki ini menyentuh bagian depan kepalanya. Juga tubuh tegap lelaki ini kembali menguasainya—bertingkah hampir menenggelamkan tubuh rampingnya yang terlihat kecil ke dada bidangnya itu.

Begitu berhasil mengaitkannya, Ki Bum tidak segera melepas kedua tangannya dari gadis ini. Justru ia menundukkan kepala hingga berhadapan dengan sebelah telinga gadis ini. Meski tidak secara langsung karena terhalangi dengan rambut panjangnya, tapi bibir penuhnya berhasil menempel di bagian itu—dengan kurang ajarnya—hingga sukses membuat gadis di pelukannya ini semakin kaku.

Saengil chukhahae, Chagi-ya,” ucap Ki Bum dengan begitu halusnya. Hampir menyamai sebuah bisikan hingga membuat Soo Rin semakin sulit untuk bernapas!

Yah, sejak awal lelaki ini beraksi Soo Rin memang sudah kesulitan untuk bernapas dengan normal.

Barulah Ki Bum melepas kedua tangannya dari balik rambut Soo Rin setelah merapikannya sejenak, kemudian kembali memberi jarak di antara mereka. Seulas senyum terpatri begitu melihat benda itu telah terpasang dengan sempurna di leher Soo Rin. Juga tersenyum melihat reaksi gadis itu begitu menunduk demi melihat benda yang telah ia pasangkan di sana.

Soo Rin menyentuh benda itu dengan hati-hati. Sebuah kalung berwarna silver dengan bandul sebuah huruf yang membuatnya mengernyit bingung.

K?” Soo Rin mendengak, menatap Ki Bum bingung.

Eum. K untuk Ki Bum,” jawab Ki Bum yang langsung membuat gadis itu mengerjap kaget.

“K-kenapa harus K?”

“Karena aku ingin, di mana pun kau berada dan apapun yang sedang kau lakukan, kau tetap membawaku dan terus mengingatku. Di saat kau tengah menundukkan kepala baik ketika kau merasa sedih ataupun tidak, kau akan melihatku dan mengingatku. Karena aku akan selalu menggantung di sana dan akan selalu berada di dekatmu.” Ki Bum mengulas senyum manisnya begitu melihat wajah cantik itu kembali merona. “Dan aku ingin K bisa mewakilkan diriku agar kau selalu mengingatku.”

Soo Rin dapat merasakan detakan jantungnya semakin tak karuan. Bahkan ia seolah dapat mendengar detak jantungnya sendiri karena saking kencangnya hingga seperti menghantam sampai ke gendang telinga. Astaga, kenapa efeknya bisa begitu gila seperti ini? Dadanya begitu bergemuruh hingga menghantarkan panas yang merambat ke seluruh wajahnya dan berpusat pada kedua pipinya. Dan saking gugupnya, Soo Rin sudah tidak berani menatap wajah yang begitu mempesona di matanya sejak awal mereka bertemu.

Kim Ki Bum benar-benar membuat Park Soo Rin kewalahan hanya karena tutur kalimatnya!

“Lalu, kenapa kau memakai huruf B sebagai namamu di pesan-pesan itu?” tanya Soo Rin begitu mengingatnya. Kemudian ia menyadari sesuatu. “Apakah, B itu… Bum? Kim Ki… Bum?” lanjutnya hati-hati.

Ki Bum mengulas senyum penuh arti sebelum kemudian menggeleng. “Bukan.”

“Lalu apa?”

Boyfriend.

Soo Rin mengerjap beberapa kali. “B-boy—friend?”

Ki Bum mengangguk. “ur B… Your Boyfriend.

Dan lagi-lagi Ki Bum membuat Soo Rin gugup. Kedua matanya kembali bergerak tak teratur hanya demi menghindari tatapan teduh namun menghunus milik lelaki itu. Bisa-bisanya Ki Bum menjadikan statusnya sebagai nama untuk membodohi Soo Rin.

“Kau memang jenius yang pandai berlakon,” gerutu Soo Rin. Mengingat tadi pagi Ki Bum terlihat tidak begitu peduli dengan pesan misterius—yang ternyata merupakan hasil dari perbuatannya—itu dan memilih untuk diam selama sekolah berlangsung. Dan, entah bagaimana caranya lelaki itu menyusupkan pesan itu di dalam lokernya sedangkan ia baru datang setelah Soo Rin datang.

Memang, hanya Kim Ki Bum yang dapat melakukannya.

“Tidak ada salahnya mengerjai orang yang sedang berulang tahun.”

“Kau pantas menjadi seorang aktor.”

“Terima kasih.”

Soo Rin harus memberenggut melihat lelaki itu tersenyum puas. Sebenarnya kapan dia akan menang dari lelaki ini jika melakukan perdebatan sederhana pun dia tidak bisa? -_-

“Kau menyukai jepit rambutnya?” tanya Ki Bum kemudian yang segera membuat Soo Rin sedikit tersentak. Dan Ki Bum harus merasa geli melihat gadisnya itu terlihat semakin salah tingkah. Benar-benar menggemaskan. “Kemarikan jepit rambutnya,” titahnya kemudian.

Tanpa membantah, Soo Rin merogoh saku seragamnya dan mengambil jepit rambut yang ia temukan di atas meja tadi. Jepit rambut sederhana dengan hiasan berbentuk pita yang diselimuti dengan butiran-butiran seperti mutiara hingga menambah kesan begitu cantik karena juga dilapisi warna kuning keemasan. ks

Ki Bum meraih jepit rambut yang masih terbungkus itu dari tangan Soo Rin, mengeluarkannya dari bungkusan transparannya. Ia kembali menatap sekilas Soo Rin sebelum bergerak maju, kembali mempersempit jarak di antara mereka, lalu memasangkan jepit rambut tersebut di sisi kiri kepala gadis itu—dengan hati-hati.

Yeppeune… (Cantik)” gumam Ki Bum seraya menatap lekat wajah cantik gadisnya itu. Rambut panjangnya yang telah terhiasi dengan benda kecil pemberiannya itu cukup menambah kadar kecantikan gadis di hadapannya ini.

Sedangkan Soo Rin—dia tidak berani membalas tatapan teduh dari iris hitam pekat itu. Sejak lelaki di hadapannya ini kembali mendekat, dia hanya mampu menundukkan pandangannya dan bersusah payah menyembunyikan degup jantungnya yang berpacu semakin menggila. Dan semakin menggila lagi begitu lelaki ini menatapnya dalam jarak yang sangat dekat seperti sekarang ini.

Bisakah Kim Ki Bum memberikannya waktu sejenak untuk bernapas?

“Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu?” tanya Ki Bum dengan halus. Dia sadar betul bahwa gadis ini tidak akan membuka mulut jika dirinya tidak mengajukan terlebih dahulu. Karena jelas, gadisnya ini sudah tidak bisa berbicara jika dia sudah melakukan hal seperti ini. Dan dia mensyukuri akan fakta ini.

Go—gomawo…” ucap Soo Rin tergagap. Masih belum berani mengangkat pandangannya. “Aku—aku akan mengenakan hadiahmu dengan baik… dan, aku akan memakan cokelat pemberianmu dengan baik,” ujarnya kemudian.

Sedangkan Ki Bum harus terkekeh mendengar kalimat terakhir dari Soo Rin. Memakan cokelat pemberiannya dengan baik? Entah mengapa itu terdengar lucu di telinganya.

“Dan… aku akan mengenakan kalung ini setiap hari. Aku… akan menjaganya dengan baik,” cicit Soo Rin dengan kepala semakin tertunduk. Rasanya mengucapkan hal itu begitu sulit baginya dan sepertinya terdengar memalukan.

Tapi Ki Bum justru melebarkan senyumnya begitu mendengar kalimat gadis itu. Sebelah tangannya bergerak menyentuh dagu Soo Rin lalu mengangkatnya hingga wajah cantik itu kembali tertangkap oleh matanya. Juga menangkap kedua manik kecokelatan itu serta menguncinya. Kembali bergerak, kini beralih merengkuh wajah Soo Rin, mengusap lembut pipi yang telah merona itu dengan ibu jarinya. Memberikan sensasi yang begitu hangat sekaligus mendebarkan.

Saranghae…

Satu kata penuh makna itu kembali terucap. Satu kata yang merupakan sebuah perwakilan perasaan yang begitu besar dan menggebu bagi siapa saja yang mengucapkannya. Satu kata yang… begitu sederhana tetapi akan terasa luar biasa bila diucapkan dengan ketulusan. Dan keduanya berhasil merasakan euphoria itu. Getaran yang luar biasa menggemuruh di benak masing-masing terasa bagaikan diserang sebuah magis yang menyembur dari satu kata tersebut. Kedua tatapan yang saling bertemu dan tak teralihkan itu, terasa semakin dalam menembus akal sehat.

Tapi sebelum semua itu terlambat, Ki Bum terlebih dahulu memutus kontak tatapan mereka, dengan merangkak naik dari wajah cantik itu. Sebelah tangannya yang lain dengan cepat namun lembut ikut merengkuh lalu beralih kedua tangannya menangkup wajah cantik itu. Dan, mendaratkan bibir penuhnya tepat di kening berponi gadisnya ini. Menciumnya dalam waktu yang lama, serta memejamkan mata demi menikmati sensasi yang menguar dari perlakuannya tersebut.

Sedangkan Soo Rin hanya berdiri mematung dengan mata yang telah terpejam sejak tangan kekar itu menangkupnya. Ikut merasakan sensasi yang begitu hangat sekaligus menggetarkan benak dan sekujur tubuhnya. Merasakan sesuatu menggelitik hebat di bagian perutnya, menjalar hingga ke bagian kakinya dan hampir membuat bagian tubuh yang menumpu beban tubuhnya itu melemas.

Tapi, dia menikmatinya.

Mereka menikmatinya.

Dan sebagaimana dengan cokelat pemberian Ki Bum untuknya, hari kelahirannya ini merupakan hari yang begitu manis baginya.

Epilog

:: Mouse Rabbit Café (06:21 PM)

.

Saengil chukhahae, Park Soo Rin!”

Terdengar tepukan tangan dari sekelompok orang berseragam sekolah di salah satu meja yang terletak di lantai dua kafe itu. Ada sekitar 7 orang tengah terduduk mengelilingi dua meja yang berdempet menjadi satu itu. Merayakan hari ulang tahun gadis yang duduk di tengah-tengah mereka.

Begitu Soo Rin turun ke lantai dasar sekolah bersama Ki Bum tadi, keempat temannya—Ah Reum, Eun Jung, Tae Yong, dan Tae Min—juga adik Ki Bum, Sae Hee, mengajak keduanya untuk melakukan perayaan kecil. Dan di sinilah mereka sekarang. Kafe milik orang terdekat mereka menjadi pilihannya.

“Selamat ulang tahun, Eonni! Ini untuk Eonni.” Sae Hee menyerahkan sebuah bingkisan berbentuk paper bag bercorak cerah seperti kertas kado untuk Soo Rin. “Aku berharap Eonni menyukainya. Tapi tolong jangan dibuka sekarang. Aku ingin hanya Eonni yang melihatnya,” lanjutnya seraya tersenyum manis. Yang justru membuat lainnya berdecak tidak setuju. Padahal mereka penasaran isi dari bingkisan itu.

“Terima kasih. Aku akan membukanya di rumah.” Soo Rin mengulas senyum lebarnya. “Aku dengar bahwa kau mencari hadiah untukku bersama Henry kemarin. Benarkah?”

“Eh? A-ah, ka-kami tidak sengaja bertemu kemarin.” Sae Hee mulai terlihat salah tingkah. Membuat Soo Rin kini tersenyum simpul.

“Dia tidak mau mengaku bahwa dia berkencan dengan adik sepupumu itu,” timpal Ki Bum dengan entengnya.

Oppa! Kami tidak berkencan, sungguh!!”

Geojitmal (Bohong),” ujar yang lainnya bersamaan. Membuat Sae Hee memberenggut karena merasa terpojok oleh para seniornya ini.

Omong-omong, sejak kapan mereka menjadi akrab dengan Sae Hee seperti sekarang ini? -__-

“Aku dengar hari ini ada yang berulang tahun. Siapa?” Jong Woon atau dikenal dengan nama panggungnya, Ye Sung, baru saja datang dari lantai bawah dan segera menghampiri mereka untuk bergabung. Penyanyi solo yang tengah menjalani masa vakum karena wajib militernya itu masih sempat-sempatnya mendatangi kafenya ini.

“Kekasih dari Kim Ki Bum,” jawab Eun Jung seraya melirik Soo Rin.

“Benarkah?” Ye Sung melebarkan mata sipitnya. “Ternyata kau lebih tua beberapa bulan dari Ki Bum?” lanjutnya. Terdengar tidak penting sebenarnya.

Eo? Benar juga…” gumam Soo Rin seraya melirik Ki Bum penuh arti. Ternyata ucapan Ye Sung cukup mempengaruhinya.

Aniya. Ki Bum Oppa masih lebih tua dari Soo Rin Eonni. Oppa lahir di tahun yang lebih cepat dari Soo Rin Eonni. Apakah Eonni tidak ingat bahwa Oppa sudah membawa mobil Sabtu malam kemarin?” Sae Hee membenarkan.

“Apa?” kini Soo Rin melongo. Dilihatnya Ki Bum yang duduk di sebelahnya. “Jadi ternyata kau sudah tua?”

Tuk

“Aku hanya lebih cepat beberapa bulan darimu. Bukan berarti sudah tua,” balas Ki Bum tidak suka begitu berhasil mengetuk kepala gadis itu. Mengundang tawa sekelilingnya. Sedangkan Soo Rin tampak memberenggut seraya mengusap kepalanya yang baru dijadikan sasaran tangan lelaki itu.

Omo, ternyata dia merupakan senior kita. Ayo beri hormat! Sunbae-nim!” seru Tae Min sambil membungkuk di tempat duduknya. Mengejek Ki Bum.

Annyeonghaseyo, Ki Bum Sunbae-nim!” seru yang lainnya bersamaan kemudian disusul dengan tawa.

Ya, kalian sedang mencari masalah denganku?”

Omo, Ki Bum Sunbae-nim marah!” seru Tae Yong kembali mengundang tawa mereka.

Ki Bum mendengus melihat kelakuan teman-temannya itu. Rasanya baru kali ini mereka dengan berani memojokkannya hanya karena perbedaan tahun kelahiran. Bahkan gadis di sebelahnya ini juga ikut menertawakannya. Mengambil Choco Frappuccino di hadapannya, lalu menyeruputnya hingga hampir hanya menyisakan gumpalan krim di atasnya.

Yaa, itu minumanku!” seru Soo Rin tiba-tiba.

Ki Bum meletakkan minuman itu dengan sedikit hentakkan. Lalu menatap datar Soo Rin sebelum mengulas sebuah seringaian di bibir penuhnya. Sebelum gadis itu sadar, dengan gerakan cepat Ki Bum mendekatkan wajah mereka dan mengecup hidung gadisnya itu… di hadapan teman-temannya.

Langsung saja keadaan berubah hening seketika.

“Maaf, sudah menghabiskan minumanmu…” gumam Ki Bum seraya menatap lekat wajah cantik yang mulai tampak kaku dan mulai menampakkan semburat kemerahannya. “Chagi,” lanjutnya dengan begitu halus. Dan dengan kurang ajarnya Ki Bum mengedipkan sebelah mata yang hanya bisa dilihat oleh gadisnya ini.

Jangan bertanya bagaimana reaksi Soo Rin. Sudah jelas bahwa gadis itu sudah tidak dapat berkutik lagi sekarang.

Aigo, manis sekali pasangan ini!” seru Ah Reum memecah keheningan.

“Kalian membuatku iri,” gerutu Eun Jung.

Yaa, jangan mengumbar kemesraan kalian di hadapanku apalagi di kafeku!” seru Ye Sung akhirnya.

“Cepatlah mencari pasangan kalau begitu, Hyung,” ejek Tae Yong.

Haishi! Aku masih harus menjalani wajib militerku!”

Dan mereka kembali tertawa melihat orang tertua di antara mereka itu tengah memberenggut.

FIN


kisukisu kembali bergentanyangaaaaaann~~ seperti biasa, mohon maaf kalo cerita ini semakin ngambang hehet!

aku berterima kasih untuk pembaca yang udah menanyakan kelanjutan dari kisah couple aneh bin absurd ini. Karna yah, aku juga merasa udah lama ga berimajinasi ria mengenai couple ini (_ _) //padahal cuma 2 minggu-__-// dan terima kasih bagi pembaca yang udah mau memberi masukan untuk cerita-cerita ngambang ini heheheh ><

cah! Sampai bertemu lagi yaa~ terima kasih banyak udah mampir~~^-^

ini cuma bonus kok xD
ini cuma bonus kok xD
Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

16 thoughts on “My Favorite Girl – Another Secret Admirer?

  1. Kibum selalu penuh kejutan, aq bener bener bisa ngerasain posisi Soo rin 😀
    kakak author daebak bisa menghidupkan karakter seperti mereka.

  2. Bener tebakanku pas baca preview singkatnya, ini tentang ulth soo rin. Dan pas baca inisial “ur B” aku langsung bisa nebak siapa kkk xD
    ur B itu kata yg simple, tapi di kemas jd menarik. Ahh ya thor coba dah bikin cerita mereka berdua ini, tp di kasi sedikit konflik. Emmm… Jangan berat berat si, yg seperti kehidupan sehari hari di sekitar kita ajah. 🙂 oke segitu ajah g0mawo 🙂

    1. ah kalo udah bisa nebak berarti ngga terkejut dong hahahah
      masalah konflik aku udah nyiapin ide kok, tinggal dituang/? xD ditunggu aja yaah
      makasih banyak loh buat masukannya ><

  3. Eeeecieeeee~ seneng deh sama pasangan Ini … Gemes banget sama malu2nya si soorin . Keep writing, author! Ditunggu banget cerita2 selanjutnya tentang couple Ini. Semangat! 😚

  4. Ki Bum penuh kejutan pasti Soo Rin kenyang sama kejutan Ki Bum 😀 , Manis banget perlakuan Ki Bum buat Soo Rin bener bener pengen ada diposisi Soo Rin T.T , Keren banget KiSoo Storynya bikin senyum gaje dan berbunga bunga Eon ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s