Posted in One Shot, PG, Romance, Special Fanfics

[Special Henry’s Birthday] Miss U, Mochi!

Genre: Romance (?)
Rated: PG
Length: One Shot 

Henry Lau || Kim Sae Hee

Kim Jong Dae (Support) mumcover

This story is dedicated to our most talented and cute boy, Henlli! Happy Birthday, Mochi!! >.< Seperti biasa, cerita ini berasal dari imajinasi absurd saya~ Just let’s have a good time together!! Please enjoy~^^

Mohon maaf bila typos masih bertebaran ><

ㅡㅡ

:: October 11th

Seorang gadis cantik tengah terduduk di salah satu meja kantin sekolah, kedua mata jernihnya sesekali melirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya. Ia terlihat sedikit gusar. Rasanya menunggu jarum panjang berhenti di angka dua belas membutuhkan waktu bermenit-menit lamanya. Yah, memang, jarum panjang itu masih berada di angka sepuluh. Itu artinya, dia harus menunggu sepuluh menit lagi lamanya.

Sae Hee—gadis itu sesekali berdecak tanpa sadar. Tangan kanannya sedari tadi sudah memegang ponsel pintar berwarna putihnya. Kenapa menunggu pukul dua siang tepat lama sekali baginya? Sampai-sampai dirinya melewati waktu makan siang serta tidak mempedulikan sekitar, bahkan tidak mempedulikan orang yang sudah datang dan duduk tepat di hadapannya.

Melihat semangkuk Udon itu kentara belum disentuh oleh pemiliknya dan dibiarkan mendingin begitu saja, orang itu menggelengkan kepala sebelum menjentikkan jari tepat di depan wajah Sae Hee. Membuat gadis itu tersentak kaget dan segera memandangnya.

Yaa, mengagetkanku saja!” semprot Sae Hee sambil memberenggut.

“Jangan sia-siakan makananmu. Lihat itu, mienya mengembang.” Jong Dae—orang itu mengedikkan dagu demi menunjuk Udon milik Sae Hee.

Jangan bertanya sejak kapan mereka suka berbagi meja. Sejak kejadian di mana Jong Dae membantu Sae Hee yang belum pulih akibat terkilir hasil bully-an 3 senior kala itu untuk kembali ke kelas sesuai perintah dari kakak gadis itu—Kim Ki Bum, seharian itu pula Sae Hee menjadi ketergantungan pada Jong Dae. Mengingat saat itu dia belum memiliki teman. Bahkan Jong Dae sendiri juga rela menjadi bala bantuan gadis itu. Dan ternyata kedekatan mereka berlanjut menjadi teman berbagi hingga sekarang.

“Aku tidak bisa makan dengan tenang sebelum menelepon bocah itu,” balas Sae Hee menggerutu. Meraih segelas minuman dingin pesanannya, lalu menyeruputnya hingga habis seperempatnya.

“Ya sudah, telepon saja. Tunggu apa lagi?” Jong Dae melirik ponsel gadis itu. Padahal benda persegi nan tipis itu sudah ada di genggaman, lalu apa lagi yang gadis itu mau?

Tambahan, saking dekatnya, bahkan Jong Dae mau menjadi teman keluh kesah Sae Hee. Entah sudah beraba banyak peran Jong Dae untuk Sae Hee hingga lelaki itu juga tahu-menahu soal bocah yang gadis itu maksud.

“Aku menunggu pukul dua tepat.”

Kini Jong Dae harus mengerutkan dahi. Langsung saja dirinya bergerak memeriksa arloji di tangan kanannya. Masih ada waktu sekitar 4 menit lagi untuk menuju ke pukul dua tepat. Tapi untuk apa gadis itu menunggu sampai di waktu itu?

“Untuk apa?” akhirnya Jong Dae bertanya langsung.

Sae Hee segera mengembangkan senyum simpulnya. “Nanti saja kuberi tahu,” jawabnya yang segera mandapat cibiran dari Jong Dae.

“Tidak perlu. Aku tidak terlalu ingin tahu,” kilah Jong Dae seraya mulai menyantap makanan pesanannya. Semangkuk Jjajangmyun. Sebelum dirinya fokus pada makanannya, Jong Dae harus melihat gadis itu menjulurkan lidah untuknya. Membuat dirinya mendengus jengah. Begitulah cara Sae Hee membalas ketika dirinya tidak berhasil mendapatkan jawaban dari gadis itu.

Tiba-tiba ponsel Sae Hee bergetar yang langsung saja diperiksa. Ternyata sebuah pemberitahuan event yang sudah diatur olehnya.

02:00 PM

It’s his Birthday

Call him now!

Seulas senyum kembali mengembang di bibir tipis Sae Hee. Langsung saja dirinya mengutak-atik ponselnya, menuju fitur panggilan dan menekan tombol nomor 2 pada layar sentuhnya. Nomor speed dial untuk kontak yang ia tuju. Calling ‘Mochi’. Segera saja dirinya menempelkan ponselnya ke telinga. Mulai menunggu panggilannya tersambung.

“Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan atau tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.”

Sae Hee segera memandangi layar ponselnya dengan raut tercengang. “What the… tidak aktif? Bagaimana bisa tidak aktif?!” serunya tidak percaya. Ia mencoba untuk menghubungi lagi, tapi ia mendapatkan respon yang sama. Membuat dirinya kembali mengumpat. Hingga percobaannya yang keempat, dia tetap mendapatkan respon yang sama. Membuat wajah cantiknya kini berubah drastis menjadi kusut.

Heol! Berani sekali dia mempermainkanku? Aku sudah rela meninggalkan makananku hanya demi dirinya tetapi dia justru tidak mengaktifkan ponselnya?! Dasar wajah bakpao kurang ajaaaaaaarr!!”

Ya, ya, ya, tenanglah! Kau ini masih berada di kantin!” desis Jong Dae memperingati. Meringis kecil melihat kelakuan gadis di depannya itu telah berhasil menarik perhatian sekitar. Sedikit memalukan menurutnya. Bagaimana bisa gadis itu selalu dengan lancang dan tanpa pedulinya berteriak seperti itu di tempat umum? Oh, tentu saja ini bukan yang kali pertama. Jong Dae seolah sudah memiliki muka tebal karena memiliki teman seperti Sae Hee.

Sedangkan Sae Hee tidak peduli dengan teguran Jong Dae. Dia hanya peduli dengan emosinya saat ini. Matanya menatap sengit pada layar ponselnya yang saat ini tengah menampilkan wajah seorang lelaki berwajah bakpaonya dan tengah tersenyum, yang telah ia jadikan sebagai wallpaper ponselnya.

“Dasar bocah menyebalkan!!!”

****

(17:00)

Waktu belajar mengajar telah usai. Tampak Sae Hee melangkah menuju gerbang sekolah seorang diri. Bermaksud menunggu jemputannya di depan pintu masuk sekolahnya itu. Belakangan ini dirinya telah rutin pulang sekolah tanpa Kim Ki Bum. Mengingat, kakaknya itu sudah duduk di tahun akhir membuat lelaki itu mulai menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah dengan pelajaran tambahannya. Dan beralih menjadi Song Ahjusshi—supir pribadi keluarga Kim—yang menjadi jemputannya.

Sae Hee merogoh saku seragamnya demi mengambil ponselnya. Dia baru menyentuh benda itu kembali setelah kejadian ketika istirahat siang tadi. Hampir saja dirinya lupa untuk menghubungi Song Ahjusshi dan meminta beliau untuk segera menjemputnya. Beberapa waktu sebelumnya dia telah meminta Song Ahjusshi untuk tidak menjemput sebelum dirinya yang menghubungi terlebih dahulu. Karena sudah beberapa kali terjadi di saat supir pribadinya itu telah menunggu di depan sekolah, dia justru belum menyelesaikan urusan sekolahnya. Rasanya tidak nyaman membuat supir pribadinya itu harus menunggu lama.

Meski sifatnya yang seolah tidak peduli dengan sekitar dan blak-blakan, Sae Hee justru bisa menjadi orang yang perhatian jika sudah mengenal dekat seseorang. Tidak terkecuali dengan supir pribadinya. Bahkan dirinya rela untuk menunggu dibanding ditunggu.

Tapi begitu layar ponselnya menyala, Sae Hee harus tertegun melihat sebuah pesan masuk tertera. Dari kontak yang telah membuatnya geram siang tadi. Langsung saja ia buka isi pesan itu.

From: Mochi

Ada apa meneleponku tadi?

“Dia bertanya ada apa?” desisnya mulai tersungut. Tapi seketika dia mulai merasa aneh. Pesan itu masuk sekitar satu setengah jam yang lalu. Mengingat waktu tempat di mana si pengirim pesan itu berada, apakah itu berarti orang itu masih terjaga?

Demi menjawab rasa ingin tahunya, Sae Hee mencoba untuk menghubungi kontak itu. Dan beruntung kali ini bukan operator lagi yang menjawab. Panggilannya tersambung!

Hello?

Sae Hee harus merasakan benaknya berjengit senang begitu telinganya berhasil menangkap suara yang sangat ingin didengarnya itu. Akhirnya, dia kembali mendengar suara bocah itu setelah lebih dari sehari dirinya tidak mendengar.

“Kau bertanya ada apa aku meneleponmu tadi? Kau tidak ingat dengan perjanjian kita kemarin?!” tapi justru Sae Hee segera menyambut dengan semprotannya itu. Dan dia harus merasa jengkel mendengar orang di seberang teleponnya tengah tertawa.

“Wowowow, kau selalu saja menyambutku dengan sebuah teriakan terlebih dahulu. Kau tidak merasa kasihan dengan telingaku yang indah ini?”

Sae Hee segera mendengus geli. Bocah itu masih saja memiliki rasa percaya diri yang tinggi. “Aku tidak berteriak!” serunya kesal.

“Baru saja kau berteriak.”

Yaa!!”

“Nah, kau berteriak lagi.”

Sae Hee akhirnya memilih diam. Berganti dengan batinnya yang berteriak mengumpat. Bocah itu masih saja menyebalkan. Tak lama dia mendengar suara tawa lagi di seberang teleponnya. Lihat? Benar-benar menyebalkan!

“Jadi, ada apa kau meneleponku? Tunggu, biar kutebak. Hm… kau pasti merindukanku.”

Kini Sae Hee harus berdecih. “Itu sudah tidak berlaku lagi!”

“Itu artinya kau sempat merindukanku tadi.”

“Tidak pernah!”

“Lalu untuk apa kau meneleponku di waktu sekolahmu tadi, hm? Eii, gengsimu terlalu tinggi, Nona,” ejek di seberang sana yang segera membuat Sae Hee gemas. Bocah ini benar-benar…

Kkeutneo!!” serunya sebelum memutuskan panggilan secara sepihak. Sebelah tangannya yang lain mulai bergerak mengelus dada demi meredakan emosinya yang hampir memasuki tahap meledak-ledak. Hanya karena bocah itu.

Apakah bocah itu tidak mengerti perasaannya setelah dengan antusiasnya menunggu hari ini? Dia sudah rela mengabaikan waktu makan siangnya dan lebih memilih menunggu pukul dua siang yang itu berarti telah menunjukkan pukul dua belas malam—tepat—di tempat bocah itu tinggal. Bahkan dia sudah mewanti-wanti bocah itu di hari sebelumnya untuk tidak tidur cepat, dengan alasan weekend night—di sana—dan ingin mengisi waktu luang istirahatnya dengan berbicara dengan bocah itu. Karena yang dia tahu, sekolah di sana hanya beroperasi sampai Hari Jumat.

Tapi dengan kurang ajarnya bocah itu tidak mengaktifkan ponselnya di waktu yang sudah ia tunggu-tunggu ini. Dan baru bisa dihubungi sekarang!

“Astaga, bagaimana bisa aku berakhir bersama bocah bakpao ini dulu?” gerutu Sae Hee dengan jengkelnya.

Jangan bertanya bagaimana, Kim Sae Hee. Pada kenyataannya dulu kau sudah tidak bisa berpaling dari bocah menyebalkan itu. -_-

Detik kemudian ponselnya bergetar menandakan sebuah panggilan masuk. Tertera di layar bahwa kontak bernama Mochi itu yang melakukan panggilan. Sempat Sae Hee berpikir untuk tidak ingin mengangkatnya, tapi pikirannya segera berubah mengingat dia sudah menunggu saat-saat seperti ini. Biarkan saja dirinya marah-marah terlebih dahulu. Hitung-hitung sebagai pemanasan sebelum masuk ke bagian inti.

Sae Hee menggeser tanda answer pada layar sentuhnya lalu kembali menempelkan benda itu ke telinga. “Apa?” sambutnya yang terdengar ketus.

Ish, gadis ini galak sekali. Apa dia tidak khawatir wajah cantiknya itu akan luntur, hm?

Mau tidak mau Sae Hee harus mengulas senyum simpul begitu mendengar suara di seberang sana tengah memujinya. Meski harus diimbuh dengan kata-kata ejekan.

“Ah, atau jangan-jangan memang sudah luntur?”

YA!!” kini Sae Hee harus menelan bulat-bulat rasa tersanjungnya itu. Bocah itu memang pintar membuat suasana hatinya naik-turun. Benar-benar. Membuat Sae Hee segera menjauhkan ponselnya dari telinga. Tapi sebelum niatnya berhasil dilakukan, dia harus mendengar seruan di seberang teleponnya itu.

“Jangan mencoba untuk memutus teleponnya!”

Sae Hee harus mengernyit. Bagaimana bisa bocah itu tahu dirinya ingin melakukan itu? Ah, benar juga, bocah itu ‘kan sudah tahu sifat jeleknya yang selalu memutuskan telepon secara sepihak jika sedang marah.

“Apa kau tidak tahu jika menelepon ke luar negeri itu sangat mahal, huh? Jangan seenaknya saja memutus sambungan telepon!” gerutu bocah itu yang segera membuat Sae Hee mengerucutkan bibir.

“Kau pikir aku tidak? Aku juga merasakan dampak itu! Memangnya selama ini hanya kau saja yang melakukan panggilan ke luar negeri? Dasar wajah bakpao!” sungut Sae Hee.

“Kau ingin kuterkam sekarang juga, ternyata.”

Sae Hee mendengus. “Kau sedang mengancamku? Do it! Kuberi waktu dua menit untuk terbang kemari,” tantangnya seraya tersenyum puas. Heh, memangnya dia bisa ditakut-takuti dengan ancaman itu? Lagipula, mana mungkin bocah itu bisa langsung berada di hadapannya hanya dalam waktu 2 menit saja? Sangat mustahil.

“I can even to pounce you in less than two minutes, Babe.”

Kini Sae Hee harus tercenung mendengar balasan dari bocah itu. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang mendengar kalimat itu. Jantungnya segera berdebar kencang begitu kata panggilan itu menusuk gendang telinganya. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik di bagian perutnya. Tiba-tiba saja dia mulai sulit untuk berpikir. Berpikir bagaimana cara membalas kalimat itu.

Astaga, kenapa tiba-tiba otaknya menjadi macet hanya karena kata panggilan itu?!

“Kau tidak percaya?”

Sae Hee masih bungkam. Dia tengah berusaha untuk berpikir—berpikir jernih! Tunggu dulu, kenapa bocah itu terdengar begitu percaya diri dalam melontarkan kalimat-kalimat itu? Dia pasti hanya sedang membuat Sae Hee takut, ‘kan? Bukan karena alasan lain?

Tapi di saat otaknya mulai dapat berpikir kembali, Sae Hee harus dikejutkan dengan sesuatu yang segera membuat kinerja syarafnya tak berfungsi mendadak.

Then, I’ll show you.”

Bisikan halus—bisikan halus itu segera menusuk telinganya yang lain. Sesuatu yang begitu hangat menerpa telinganya, sesuatu yang sangat ia yakini merupakan hembusan napas dan itu sukses membuat Sae Hee tak berkutik lagi. Meski itu merupakan sebuah bisikan, tapi rasanya dia tahu betul siapa yang dengan beraninya telah mengejutkannya seperti ini.

Dia tahu pasti!

“Kau masih tidak percaya?” bisikan itu terdengar lagi. Begitu halus dan dengan seenaknya kembali menusuk telinga Sae Hee.

Bahkan Sae Hee mulai melihat dari sudut matanya, juntaian surai kecokelatan itu tampak melambai-lambai di sebelah wajahnya. Dia juga dapat merasakan sesuatu menyentuh dan menggelitik bagian belakang leher hingga belakang telinganya. Memperingatinya.

Tahukah bahwa Sae Hee mulai sulit bernapas sejak bisikan pertama itu terdengar? Dan sungguh, Sae Hee benar-benar tidak bisa berkutik sekarang. Sekedar menoleh barang sedikitpun dia sudah tidak mampu!

Then, I’ll show you more.

Sae Hee harus merasakan jantungnya jumpalitan begitu mendengar suara itu mulai tampak. Begitu kecil hampir menyamai bisikan, tapi begitu halus dan juga berat. Seolah meyakinkan bahwa tebakannya adalah benar. Sudah jelas ‘kan siapa orang yang sudah berada di belakangnya ini?

Tapi bagaimana bisa?

Orang itu mulai bergerak mundur demi membuat jarak sebelum melangkah ke depan. Menuju ke hadapan gadis yang masih berdiri mematung itu. Berdiri tepat di depan dan hanya menyisakan jarak sebesar satu langkah di antara mereka. Kedua tangannya segera melipat, bersedekap. Dan, mulai menatap tajam gadis itu.

Karena perbedaan tinggi yang cukup jauh, membuat Sae Hee harus menggerakkan pandangannya ke atas demi melihat wajah itu. Tapi seolah ingin melihat hal yang begitu menakutkan, Sae Hee harus menggerakkan pandangannya dengan sangat ragu dan sangat pelan. Hingga akhirnya dia harus menahan napas lagi begitu pandangannya berhasil menangkap wajah orang yang sudah berdiri di hadapannya itu. Wajah cantiknya mulai memancarkan raut tercengangnya.

Dia benar-benar ada di hadapan sekarang!

Tangan yang bersedekap itu mulai bergerak terulur. Meraih ponsel Sae Hee yang masih menempel di telinganya yang otomatis membuat tangan gadis itu terkulai. Bahkan saking terkejutnya gadis itu tidak sempat memutus panggilannya, sekedar melepasnya dari daun telinga pun tidak. Dengan inisiatif ia memutus panggilannya dari ponsel gadis itu sebelum menyelipkannya ke dalam saku seragam sang empu. Kemudian mendengus geli melihat wajah cantik itu melongo hebat.

“Aku tahu bahwa aku ini tampan. Tapi kau tidak perlu melihatku yang justru seperti baru saja melihatku untuk yang pertama kali!” ucap orang itu memecah keheningan seraya menoyor pelan kening gadis itu.

Sae Hee segera mengerjap sadar. Dia terpana setengah mati. Bagaimana bisa dia tidak terkejut melihat orang yang seharusnya berada di Negara lain kini sudah berada di hadapannya? Ajaib sekali. Apakah orang ini memiliki pintu ke mana saja seperti yang dimiliki oleh Doraemon sehingga hanya dalam sekejap mampu membuat orang ini berpindah Negara?

“Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Sae Hee pelan, sangat pelan.

“Sejak kau menantangku untuk terbang kemari hanya dalam waktu dua menit,” jawab orang itu seraya tersenyum miring. Oh, ralat, sebenarnya sejak awal dia sudah tersenyum seperti itu.

“Kau… langsung terbang kemari?” tanya Sae Hee, sedikit tercekat. Terdengar konyol memang, tapi memang seperti itu yang ada di pikirannya. Mau bagaimana lagi?

Dan dengan entengnya orang itu mengangguk. Sepertinya dia sedang membodohi gadis ini, dengan membenarkan pertanyaan gadis yang masih belum sadar sepenuhnya ini.

Tapi justru dengan jawaban itu, Sae Hee segera tersadar. Wajahnya mulai memberenggut. Langsung saja ia bergerak menyerang orang di hadapannya itu, menginjak kaki orang itu dengan sekali hentakan kuat yang segera membuat sang empu memekik kesakitan.

Yaa! Kenapa kau selalu menyambutku dengan cara yang sama sekali tidak aku harapkan, huh?!” seru orang itu seraya melompat-lompat kecil. Dapat dibayangkan seperti apa sakitnya. Wajah tampan nan imutnya itu memancarkan bahwa ia begitu kesakitan. Sae Hee memang selalu bertindak dengan sepenuh hati. Tidak setengah-setengah.

“Jangan membodohiku, Henry Lau!!” balas Sae Hee ikut berseru. “Berani-beraninya kau mempermainkanku! Aku sudah melewatkan waktu makan siangku hanya untuk meneleponmu pukul dua tadi tapi kau dengan seenak jidatnya tidak mengaktifkan ponselmu! Kau benar-benar keterlaluan!!” Sae Hee akhirnya meluapkan kekesalannya. Di waktu yang tepat, di saat orang itu sudah berada di hadapannya.

Henry—lelaki itu segera menghentikan kegiatan melompat-lompatnya begitu mendapatkan serangan mendadak dari gadis itu lagi. Bibirnya mengerucut. “Aku tidak mempermainkanmu. Aku masih berada di atas awan jadi otomatis ponselku tidak aktif tadi,” kini ia menjawab dengan jujur. Yah, dia memang masih berada di atas awan kala itu… dalam artian, ia masih berada di dalam pesawat dan tengah terbang kemari. Aih, kenapa dia harus menjawab dengan kata-kata yang aneh seperti itu?

“Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau akan kemari?!” balas Sae Hee dengan geram.

“Jika aku memberitahumu, bukan kejutan lagi namanya.” Henry memasang wajah polos. Di saat seperti ini, dia masih bisa memasang wajah kekanakannya itu. Membuat Sae Hee semakin geram dibuatnya.

Bagaimana bisa dirinya jatuh ke dalam pesona lelaki berparas bocah ini?

“Untuk apa kau memberi kejutan padaku? Untuk apa kau memberi kejutan di hari seperti ini? Seharusnya bukan kau yang memberi kejutan, tetapi aku! Seharusnya aku yang memberimu kejutan! Tapi kau justru merusak rencanaku begitu saja! Aku tahu bahwa rencanaku memang tidak seberapa tapi setidaknya hargailah aku! Dasar wajah bakpao menyebalkan!!!” Sae Hee tampak menggebu. Kedua matanya mulai tampak berair. Tak peduli dirinya masih berada di mana. Entahlah, perasaannya sedang campur aduk sekarang. Di samping dirinya merasa senang dapat melihat sosok lelaki itu, dia juga merasa jengkel karena lelaki itu merusak rencana kecilnya.

Henry tercenung melihat kedua iris hitam pekat itu mulai berkaca-kaca. Tubuh tegapnya segera bergerak maju demi lebih mendekat. Tatapannya mulai berubah hingga sekaligus mengubah paras wajahnya. Perlahan kedua tangannya meraih tubuh mungil itu lalu segera mendekapnya dengan erat serta penuh kehangatan. Berusaha memberikan ketenangan pada gadis yang tengah dilanda emosi ini.

“Maaf. Aku tidak bermaksud untuk merusak rencanamu. Aku tidak tahu bahwa kau juga memiliki rencana untukku. Yang ada di pikiranku hanyalah, aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Karena itu aku segera terbang kemari. Dan karena perjalanan yang memakan waktu sangat lama, aku tidak masuk sekolah kemarin demi mengambil jadwal penerbangan pada pukul delapan pagi. Kau tahu sendiri ‘kan, penerbangan dari Canada menuju kemari memakan waktu hampir dua puluh jam lamanya.”

Sae Hee terhenyak begitu mendengar penjelasan yang begitu panjang dari Henry. Apakah dirinya tidak salah dengar bahwa lelaki yang tengah memeluknya ini ingin menghabiskan waktu bersamanya sehingga dengan nekatnya terbang dari Canada kemari? Apakah itu tidak terdengar berlebihan?

“Aku hanya ingin menghabiskan hari ulang tahunku bersamamu. Ini ‘kan merupakan ulang tahunku yang pertama di saat aku sudah mendapatkanmu. Tapi, maafkan aku yang sudah membuatmu kesal karena perbuatanku ini,” lanjut Henry seraya menjatuhkan dagunya tepat di bahu Sae Hee. Memeluk tubuh gadis itu lebih erat lagi. “I’m sorry…” ucapnya dengan sangat halus.

Sae Hee merasa tubuhnya bergetar. Bukan karena dirinya ingin menangis, tetapi karena dirinya merasakan benaknya bergolak karena desiran yang begitu menghantam. Sejak kapan lelaki ini berkata begitu manis? Tidak, bukan manis karena kata-kata, bisa dilihat bahwa tidak ada kata kiasan maupun metafora. Tapi, lelaki ini begitu pintar dalam mengolah kata-kata yang sederhana menjadi terdengar begitu berkesan di telinga Sae Hee.

Baiklah, dia telah merasakan kehangatan dari bocah ini sekarang.

“Apa kau ingin aku kembali saja ke Canada?” gumam Henry yang segera direspon. Gadis itu membalas pelukannya, memeluk punggung lebarnya dengan begitu erat. Membuat dirinya mengulas senyum simpul. Gadis ini memang merindukannya, bukan? Sama seperti dirinya.

I miss you. You know that?” bisik Henry. Dapat ia rasakan tubuh gadis ini sedikit kaku begitu mendapatkan perlakuannya ini. Tapi dia menyukai reaksi gadis ini. Aah, dia memang menyukai apa saja yang ada pada gadis ini. Sekali pun itu begitu menyebalkan baginya.

Me too…” jawab Sae Hee dengan suara kecil. Tapi masih bisa didengar oleh Henry. Lihat saja wajah tampannya itu segera memancarkan raut bahagianya. Benar-benar manis.

“Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?” tanyanya lagi.

“Selamat datang kembali,” ucap Sae Hee dengan halus. Membuat Henry terkekeh pelan.

“Terima kasih. Tapi bukan itu yang ingin aku dengar,” balasnya seraya melepas pelukannya demi melihat wajah gadis itu. Dan Henry harus merasa gemas begitu melihat wajah cantik itu sudah merona.

Sae Hee mengerucutkan bibir sesaat sebelum mulai mengulas senyum. “Happy Birthday, Mochi!

Mochi? Yaa, sebenarnya ada berapa banyak nama panggilan yang kau buat untukku, huh?” keluh Henry tak terima.

“Tidak banyak. Hanya Mochi dan Bakpao.” Sae Hee mengedikkan bahu dengan ringannya. Melihat lelaki di hadapannya mulai cemberut, ia melanjutkan, “Siapa suruh kau memiliki pipi tembam dan bulat seperti itu?”

“Aku tidak setembam yang kau kira! Ish, wajah tampan seperti ini disamakan dengan makanan bulat seperti itu. Benar-benar.”

“Tampan? Wajahmu itu tidak ada paras tampannya sama sekali, Henry Lau.”

“Kau meremehkanku? Tidak tahukah bahwa aku selalu menjadi incaran para bule di luar sana karena wajah tampanku ini, huh?”

Ya, kau suka tebar pesona di sana ternyata?!”

“Ooh, are you jealous?”

Sae Hee mengerjap salah tingkah dan segera membuang muka. Melihat reaksi itu, Henry tersenyum penuh kemenangan. Jika gadis itu tidak menjawab, itu artinya dia memang cemburu. Dengan gemas Henry mengacak rambut panjang milik gadis itu.

“Sayangnya aku tidak tertarik dengan mereka. Bagaimana bisa aku tertarik pada mereka jika pikiranku selalu dipenuhi oleh gadis menyebalkan ini?”

Blush

Sae Hee harus merasakan wajahnya menghangat. Kedua pipinya kembali merona akibat perkataan lelaki di depannya ini. Dia juga harus merasa berdesir lagi. Astaga, bocah menyebalkan ini ternyata mampu membuat dirinya serasa berjungkir balik.

Cah!” Henry menengadahkan sebelah tangannya. “Aku dengar dari Soo Rin Noona bahwa kau membeli sesuatu untukku minggu lalu. Itu hadiah untukku ‘kan? Aku ingin hadiahku itu,” lanjutnya bersemangat.

Sae Hee harus menunduk menyembunyikan wajah meronanya. Aih, kenapa kekasih kakaknya— yang juga merupakan saudara sepepu Henry—itu memberi tahu soal ini pada Henry? Dia tidak ada persiapan untuk bagaimana dirinya harus memberikan hadiah itu pada bocah di hadapannya ini.

“Bukan apa-apa. Itu—itu hanya benda tak bernilai besar,” kilah Sae Hee dengan gugup.

“Aku tidak peduli. Itu ‘kan hadiah untukku,” balas Henry kalem. “Kau tahu? Begitu aku mendarat di Bandara Incheon, aku tidak segera pulang. Justru aku segera datang kemari demi menagih jatahku itu,” lanjutnya yang langsung membuat gadis itu mengerucutkan bibir. Kelakuan lelaki ini seperti bocah yang tengah meminta imbalan permen.

Sae Hee merogoh tas sekolahnya. Memang sejak barang itu dibeli, Sae Hee selalu membawanya ke manapun. Entahlah, dia hanya takut jika barang itu ditinggalkan di rumah justru akan menghilangkan kesempatan yang mungkin akan datang. Dan benar saja, kesempatan itu memang datang. Hari ini.

“Ini!” Sae Hee menyerahkan barang itu ke hadapan Henry.

Dan Henry harus melongo begitu menerima hadiah pemberian Sae Hee. Memang tidak bernilai besar, tapi justru menggemaskan. Sebuah gantungan ponsel yang lucu. Hanya saja…

Yaa, kenapa berbandul bakpao?!” protes Henry dengan wajah memberenggut.

“Kenapa? Itu ‘kan cocok untukmu,” jawab Sae Hee polos.

“Tidak bisakah kau memberikan sesuatu padaku selain bakpao?”

“Kau ingin yang berbandul mochi?”

“Selain kedua makanan bulat itu! Haishi, kau ini tidak ada manis-manisnya!”

“Ya sudah kalau tidak suka, kembalikan saja!” Sae Hee hendak merebut kembali hadiahnya dari tangan Henry. Tapi Henry segera menyembunyikan benda pemberian gadis itu dengan menggengamnya serta menggerakkan tangannya menjauh dari jangkauan gadis itu.

“Ini sudah menjadi milikku. Tidak boleh ditarik kembali!” ucapnya dengan raut wajah yang kembali melenceng menjadi kekanakan. Tanpa mempedulikan wajah cemberut Sae Hee, Henry kembali memeriksa benda pemberian gadis itu.

Henry mulai tersenyum penuh arti. Yah, setidaknya Bakpao bisa membuat dirinya teringat dengan gadis bernama Kim Sae Hee ini, pikirnya. Lagipula gantungan ponsel ini begitu menggemaskan meski berwarna cukup… kekanakan.

“Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?”

Henry kembali menatap Sae Hee. Gadis itu masih memasang wajah cemberutnya, sedangkan kedua matanya mulai tampak berbinar mengharapkan sesuatu. Ditambah, gadis itu mengucapkan kalimat yang sebelumnya Henry ucapkan, bahkan cara mengucapkannya sama. Henry melebarkan senyumannya.

“Terima kasih!” ucapnya kemudian.

“Hanya itu?” Sae Hee semakin memberenggut.

Henry harus terkekeh geli. Selain menyebalkan dan selalu menggebu-gebu, gadis ini benar-benar manja, pikirnya gemas. Dengan gerakan pasti, Henry mencondongkan tubuhnya lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat di pipi kiri Sae Hee. Membuat sang empu mengerjap kaget sebelum wajahnya bereaksi—semburat kemerahan yang menjalar di kedua pipinya.

Gomawo, Saeddong-ah!

Sae Hee harus mengerjap lagi begitu mendengar ucapan itu. Sebelum akhirnya ia menyemprot protes dengan wajah yang sudah merona.

Ya! Itu panggilan dari Ki Bum Oppa!! Jangan dipakai!!”

“Hahahaha! Okay then, Babe!” Henry menyeringai seraya mengedipkan sebelah matanya.

Seketika Sae Hee merasakan jantungnya berjumpalitan lagi dan wajahnya semakin memanas. Sial, bocah ini memang memiliki pesona yang membuatnya telak tak bisa berkutik. -__-

FIN


aneh ya? Seperti biasa -__,-

Bagi yang udah pernah baca MFG, mungkin readers bakal tau maksud atau asal muasal munculnya couple absurd ini. Tapi, karna di sana ceritanya belum selesai, jadi ini merupakan…..err……masa depan mereka mungkin? bahahahah #plak

Oh iya, Happy Birthday buat Henlliiiii~~>< Ini orang makin tua malah ngga keliatan kalo udah tua ya hahahah nasib punya muka bocah yah begitu #ngek Semoga kegiatan solonya sukses~^^ Juga terus menjadi Mochi untuk String, ELF, dan Super Junior!! ><

Aminin yak~ kkk

Dan, semoga readers menikmati cerita aneh bin absurd ini yaa hahahah terima kasih banyak udah mau mampir~^-^ hehet!

ini gantungan ponsel bakpaonya~ hahahah!
ini gantungan ponsel bakpaonya~ hahahah!
Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

20 thoughts on “[Special Henry’s Birthday] Miss U, Mochi!

  1. Jadi ceritanya mereka sudah pacaran disini? Begini ya ketika mereka so swet so sweetan. Beda bgt kalo mereka lagi berantem hehehe gemes sama henlly saya. Jadi pen cubit pipi bakpaunya itu >< ohya gantungan kuncinya lucu kkk

  2. Aku baca 2x >< … Lucu bngt mereka ber2 ini. Saling melengkapi cocok, beda karakternya ama kibum soo rin.. Req special henry udah, req lg boleh gkx? Hehehehe…. Mimi gege…

  3. Kyaa~ sejak kapan si mochi itu jadi romantis kek Kibum ?
    Dia tidak begitu saat bersamaku 😀 #plakk
    Keren itu ceritanya,ditunggu cerita lainnya yang bikin greget (y) ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s