Posted in One Shot, Romance, Special FF "My Favorite Girl"

My Favorite Girl – Date? {HenHee}

Rated: PG-15
Length: One Shot

Who Is He? | Meet Again | First | Date? mfg2

MFG kembali dengan spesial Henry-Saehee~^^ Seperti biasa cerita ini berasal dari imajinasi absurd saya.. jadi mohon maaf jika cerita hambar plus ngambang #dessh But please enjoy! ^^

Mohon maaf untuk typos yang masih ditemukan (_ _)

ㅡㅡ

:: Sunday Morning at Park Family’s House (08:09 KST)

.

Tampak seorang lelaki muda keluar dari kamar yang telah ia tempati lebih dari seminggu semenjak datang berlibur ke Negara ini. Wajahnya tampak membengkak mengingat baru saja dirinya bangun dari tidur lelapnya. Kedua matanya yang begitu sipit hampir terlihat rapat seolah ia tengah melakukan sleep walking, meski sebenarnya ia memang tengah berjalan dengan kedua matanya yang belum siap melihat keindahan pagi hari di pertengahan musim semi ini. Lihat saja kedua tangannya yang terjulur ke depan, meraba-raba jalan. Untung saja dirinya sudah hapal tata letak rumah ini. Dan yah, dia memang tengah melangkah menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamar inapnya.

Dan begitu keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian, wajah bengkaknya telah berganti dengan wajah tampan dengan kedua pipi bakpaonya. Mata sipitnya telah terbuka. Dan ia melangkah menuju pintu kamar yang terletak di sebelah kamar inapnya. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, tanpa permisi, dia membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci. Rutinitasnya selama menetap di rumah itu; menyapa saudara sepupunya sebelum turun ke lantai dasar. Padahal sudah beberapa kali dirinya mendapat teguran karena selalu membuka pintu kamar itu hanya untuk sekedar mengucapkan, “Morning, Noona!” lalu melesat kabur sebelum diteriaki.

Ya! Ketuk pintu dulu, Henry Lau!!” selalu itu yang diserukan oleh sang empu. Membuat lelaki itu terkikik geli mendengar kakak sepupunya yang terkenal pendiam itu harus berteriak karena ulahnya.

Tapi belum selesai dirinya mengucap kata morning, ia harus melongo mendapati tidak ada siapapun di dalam kamar bernuansa pink tersebut. Sejenak dirinya berpikir, mungkin kakak sepupunya itu sudah berada di bawah. Ini ‘kan sudah waktunya sarapan. Menutup kembali kamar itu, lalu ia mulai beranjak ke lantai bawah.

Morning, Imo!” sapanya begitu mendapati ibu pemilik rumah yang tak lain adalah Nyoya Park—yang tengah mempersiapkan sarapan di atas meja makan.

Morning, Henry!” balas Nyonya Park dengan senyum hangatnya. Sejak lelaki itu—Henry—menetap di sini, Nyonya Park menjadi terbiasa dengan sapaan berbahasa Inggris tersebut. Jelas saja karena Henry selalu mengucapkannya pada semua anggota keluarga Park tiap dirinya turun ke lantai bawah demi memulai aktivitas. “Kau datang di waktu yang tepat. Imo baru saja menghangatkan makanan untuk sarapanmu. Duduklah!” lanjut Nyonya Park seraya mendudukkan diri di salah satu kursi.

Woah! Pasti sangat enak seperti biasa,” gumam Henry dengan senyum lebarnya. Mendudukkan diri di hadapan Nyonya Park yang tengah mengambilkan semangkuk nasi untuknya. Membuat beliau ikut tersenyum lebar mendengarnya. “Ah, di mana Samchon dan Soo Rin Noona?” tanyanya begitu menyadari hanya ada dirinya dan Nyonya Park di meja makan.

Samchon-mu ada jadwal operasi di Rumah Sakit hari ini. Sedangkan Noona-mu tadi pagi berangkat ke sekolah,” jelas Nyonya Park sambil mengambilkan beberapa lauk untuk Henry. Meski tidak mewah, tapi sup rumput laut bersama kimchi, telur gulung dan beberapa pelengkap yang seperti salad itu sudah cukup menggiurkan untuk Henry.

Noona pergi ke sekolah? Kenapa di hari Minggu?” Henry mengernyit.

“Ada tugas kelompok dan dia akan mengerjakan bersama teman kelompoknya di sekolah. Tapi katanya setelah itu dia tidak akan langsung pulang.” Nyonya Park memberikan sajiannya pada Henry.

Henry yang sebelumnya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Nyonya Park, kini kembali mengerutkan kening. “Noona akan pergi lagi setelahnya?”

Nyonya Park mengangguk seraya tersenyum simpul. “Dia akan pergi berkencan.”

What?! Dating? Kencan??” Henry tersentak kaget. Melihat Nyonya Park mengangguk, Henry melanjutkan, “Noona bilang begitu?”

“Tidak. Dia hanya bilang ingin pergi bersama Kim Ki Bum. Tapi itu sudah jelas bahwa dia akan berkencan dengan Ki Bum, bukan?” Nyonya Park tersenyum cerah. “Lagipula selama ini Soo Rin tidak pernah pergi keluar bersama lelaki selain dirimu. Yah, meski dulu mereka pernah berlibur musim panas bersama teman-teman yang lain, tapi Imo rasa ini akan menjadi kencan pertama mereka,” lanjut beliau.

“Benarkah?” Henry kembali terkejut. “Jadi selama ini baru aku saja yang mengajak Soo Rin Noona jalan-jalan?”

Nyonya Park mengangguk lagi. “Eo. Kau adalah lelaki pertama yang mengajak Noona-mu jalan-jalan. Berdua.” Nyonya Park mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu menggoyangkannya.

Daebak!” Henry tercenung. Jadi ajakannya minggu lalu pada Soo Rin merupakan ajakan pertama bagi kakak sepupunya itu? Woah, meski hanya saudara sepupu, Henry merasa tersanjung karena menjadi lelaki pertama yang mengajak Noona-nya itu jalan-jalan. Tanpa sadar Henry mengembangkan senyum lebarnya—yang justru membuat wajah tampannya berubah menjadi wajah bocah—seraya mulai menyantap makanannya. “Selamat makan!”

“Makanlah yang banyak,” balas Nyonya Park.

Ne!!”

****

:: M Plaza – Myeong-dong (12:12 KST)

.

Tampak Henry melangkah seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat ini dirinya tengah menghabiskan waktu hari Minggunya dengan berkunjung ke sebuah mall yang cukup terkenal di ibukota. M Plaza, salah satu shopping centre yang berada di distrik pusat perbelanjaan di Myeong-dong. Banyak kalangan muda yang memadati mall tersebut di akhir pekan ini karena tak hanya barang bermerk, tapi berbagai aksesoris anak muda juga tersedia. Sebenarnya ini bukanlah tipe liburannya, tapi karena ia ingin mencari sesuatu maka tempat inilah yang terpilih. Mengingat mall ini—menurut informasi yang dia dapat—menyediakan hampir semua macam item produk. Dengan ditemani segelas Bubble Tea, Henry menikmati waktu kesendiriannya.

Henry memasuki lift yang akan membawanya menuju ke lantai atas. Kondisi lift yang hampir penuh oleh pengunjung membuat ia harus berdiri menghadap pintunya. Henry tengah melirik deretan tombol di sebelah pintu lift ketika ada satu orang lagi yang menyempil masuk dan berdiri di sebelahnya. Merasa terusik karena bersenggolan dengan orang itu—mengingat kondisi lift yang penuh, Henry terpaksa menoleh seraya sedikit bergeser.

“Maaf,” ucap orang itu seraya menoleh juga.

Dan pandangan mereka pun bertubrukan. Ada jeda beberapa detik sebelum mereka melebarkan mata dan saling menunjuk begitu menyadari siapa yang tengah mereka lihat.

YOU?!”

Seruan mereka yang kompak sudah cukup mengundang perhatian para penghuni lift di belakang mereka. Membuat suasana yang sebelumnya tidak begitu senyap berubah menjadi senyap. Dengan wajah terheran, mereka menatap dua orang yang masih saling menunjuk satu sama lain itu.

What are you doing in here?!” kini Henry berseru terlebih dahulu. Membuat orang di hadapannya itu kini mengerjap sadar.

“Kau bertanya apa yang aku lakukan di sini? Memangnya aku tidak boleh datang kemari, huh?!” sungut orang itu yang merupakan seorang gadis. Orang yang memang Henry kenal, bahkan sangat dikenalnya. Kim Sae Hee.

“Bagaimana jika memang tidak boleh?” tantang Henry dengan raut wajah layaknya anak kecil sedang menantang sesamanya.

Sae Hee mendengus. “Kau pikir mall ini milikmu?” Dasar Wajah Bakpao. Sae Hee melanjutkan gerutuannya di dalam hati. Dia masih ingat betul ancaman yang Henry berikan jika dirinya masih berani menyebut kata ejekan itu.

Ting

Dentingan lift yang menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai berikutnya, telah menyadarkan mereka. Begitu pintu lift terbuka, mereka segera keluar dari ruangan sempit itu. Secara bersamaan.

Ya, kau mau membuntutiku, ‘kan?” tuding Henry cepat begitu menyadari gadis itu juga keluar dari lift.

Ish, percaya diri sekali bocah ini,” gerutu Sae Hee. “Mana mungkin aku mau menghabiskan waktu luangku dengan membuntuti bocah sepertimu? In your dream!” Sae Hee segera melangkah menjauhi lelaki bermata sipit itu dengan sedikit menghentak-hentakkan langkahnya.

Henry tampak mencibir mengantarkan kepergian gadis itu. Sebenarnya dia merasa tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan gadis itu di tempat seperti ini. Rasanya ajaib sekali. Setelah semalam dirinya melihat perubahan drastis dari gadis itu bagaikan seorang bidadari, kini dirinya harus kembali melihat wujud asli yang biasanya ia lihat.

“Sepertinya semalam dia memang sedang kerasukan makhluk astral hingga mau berpenampilan anggun,” cibirnya sebelum melangkah lawan arah. Melanjutkan perjalanannya.

Sae Hee menghentikan langkah cepatnya dan berbalik. Melihat bocah itu berjalan menjauh. Dia kembali mendengus. “Dasar Wajah Bakpao. Bagaimana bisa aku bertemu lagi dengan bocah itu di sini?” gerutunya.

Kemudian Sae Hee harus mengernyit melihat sosok itu berhenti di depan sebuah store, mengamatinya beberapa saat, lalu melangkah masuk. Membuat Sae Hee harus memicing, untuk apa bocah itu masuk ke dalam sana?

“Jangan-jangan…” gumamnya tersendat. Wajah cantiknya mulai menampakkan raut tidak percaya. Tidak percaya dengan tebakannya.

.

Henry memasuki sebuah toko. Ruangan dengan nuansa yang begitu feminim sudah menunjukkan dengan jelas bahwa toko ini merupakan toko yang menyediakan segala macam pernak-pernik perempuan. Berbagai macam aksesoris kepala, tangan, bahkan berbagai macam boneka juga tersedia di sini.

Henry berhenti di bagian bermacam-macam jepit rambut berkumpul. Beberapa di antaranya ia ambil demi diamati lebih dekat lagi. Sesekali keningnya tampak berkerut menandakan dirinya tengah berpikir, lebih tepatnya tengah membayangkan sesuatu. Tak lama, ia merasa sepertinya jepit rambut bukanlah pilihan yang tepat.

Mungkin bando.

Henry berpindah ke bagian kumpulan bando. Kembali melakukan hal yang sama, Henry kembali mengamati bando pilihannya seraya membayangkan sesuatu. Tapi beberapa bando yang menurutnya cukup menarik di matanya sepertinya kurang cocok dengan bayangannya.

Aah, mungkin bukan bando, pikirnya.

Dan Henry kembali beranjak dari bagian itu. Namun dia harus berjengit kaget begitu berhasil memutar tubuh tegapnya hendak beranjak. Seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya kini, benar-benar mengejutkannya.

Ah kkamjjagiya!” seru Henry spontan. Lalu mulai tersungut begitu menyadari siapa yang sudah ada di hadapannya. “Ya! Kau ingin membuat orang terkena serangan jantung, hah?!”

Bukannya menjawab, Sae Hee justru menyipitkan kedua matanya. Memicing. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Membuat lelaki berkulit pucat itu mendengus jengah. Sejak kapan gadis di hadapannya ini mau memandang intens dirinya seperti sekarang?

“Sudah kuduga. Kau membuntutiku, ‘kan? Mengaku saja!” tuntut Henry percaya diri.

Sae Hee berdecak. “Aku hanya penasaran. Untuk apa kau datang ke toko semacam ini dan menyentuh perhiasan-perhiasan itu?” gumamnya kemudian. Sepasang matanya semakin memicing, sekaligus jari telunjuknya bergerak menuding. “Jangan-jangan… kau—”

Henry segera melebarkan mata, melotot. “Ya! Kau pikir aku memiliki kepribadian ganda? Begitu?!” sungutnya tiba-tiba.

“Sepertinya aku belum mengatakan apapun,” balas Sae Hee kalem. “Heol. Jadi kau memang memiliki kepribadian ganda?”

“Aku tidak seperti itu! Kau pikir aku memiliki jiwa perempuan, huh?!”

“Lalu untuk apa kau mendatangi toko ini?”

“Aku sedang mencari hadiah untuk noona-ku!!” Henry berdecak kesal. “Haishi. Dasar gadis menyebalkan!” serunya seraya melangkah keluar dari toko. Meninggalkan Sae Hee begitu saja. Sedangkan gadis itu harus mengerucutkan bibir. Rasanya baru kali ini bocah itu mengatainya gadis menyebalkan.

Tapi, tunggu. Barusan bocah itu berkata apa? Mencari hadiah untuk noona-nya?

Sae Hee segera melesat keluar dari toko.

Haishi! Gadis itu seenaknya saja. Bagaimana bisa dia berpikir bahwa aku memiliki kepribadian ganda? Benar-benar!” sungut Henry seraya melangkah lebar. Menyeruput Bubble Tea­-nya hingga habis dalam sekejap lalu membuangnya ke tempat sampah yang berjarak beberapa meter saja.

Begitu membuangnya, dia harus merasakan bajunya ditarik hingga memaksakan dirinya untuk mundur dan segera berbalik. Henry harus melotot sebal begitu mengetahui pelaku yang sudah dengan berani menarik bajunya.

Ya! Kau benar-benar membuntutiku, ‘kan?! Dasar panguntit!” semprot Henry yang langsung membuat Sae Hee cemberut.

Ish, ternyata bocah ini begitu sensitif,” gerutu Sae Hee.

“Apa?” tantang Henry. Dia masih bisa mendengar gerutuan gadis itu. Dengan kesal dirinya melepas tangan itu dari kemeja kotak birunya. “Astaga, lihat ini! Kau bisa merobek bajuku!” protesnya begitu melihat bagian yang sempat ditarik gadis itu menjadi kusut.

“Aku akan menggantinya jika itu terjadi! Eii, bocah ini cerewet sekali ternyata,” balas Sae Hee yang segera mendapat pelototan gratis dari lelaki itu.

Henry kembali membuka langkah, kini lebih lebar. Ia ingin segera menjauh dari gadis menyebalkan itu. Tapi belum ada 3 langkah dia harus dihadang—lagi. Henry berdecak kesal. Gadis ini memang benar-benar membuntutinya, pikirnya.

“Jangan berpikir bahwa aku tengah membuntutimu!” cerca Sae Hee seolah dirinya baru saja membaca pikiran Henry. “Aku ingin bertanya, kau mengatakan bahwa kau sedang mencari hadiah untuk noona-mu. Apa yang kau maksud itu… untuk Soo Rin Eonni?”

“Kenapa? Kau ingin aku memberikanmu hadiah juga, seperti Noona?” balas Henry asal. Dapat dia lihat gadis itu kembali cemberut, yang entah mengapa justru membuat Henry menyadari bahwa… gadis itu terlihat lucu.

Aishi, what am I thinking about?!

Henry menggeleng samar dan cepat sebelum kembali melangkah, mencoba melewati hadangan Sae Hee dengan mengambil jalur lain. Ingat, mereka masih berada di dalam mall dan sudah pasti jalanan tidak hanya di tempat yang mereka pijak saja. Tapi entah mengapa gadis itu menjadi bebal dan kembali menghadang langkah Henry. Membuat lelaki itu mulai naik darah.

YA! Kau ini mau apa, hah?! Mall ini masih sangat luas jadi berhenti mengangguku! Haishi, jinjja!!”

“Aku juga memiliki tujuan yang sama denganmu.”

Mwo?”

“Aku juga sedang mencari hadiah untuk Soo Rin Eonni.”

Kini Henry mengangkat sebelah alisnya. Apakah gadis ini juga mengetahuinya? Pikirnya. “Lalu apa urusannya denganku? Kalau memang ingin mencari, cari saja sendiri!”

Sae Hee segera meraih sebelah tangan Henry lalu menariknya untuk melangkah bersama. Langsung saja menuai protes dari sang empunya. “Ya, ya, ya! Kau mau apa, huh? Aku tidak mau pergi denganmu!”

“Beri tahu aku.”

“Beri tahu apa?!”

“Barang kesukaan Soo Rin Eonni.”

Mwo? Sudah kubilang cari sendiri! Ya! Jangan menarikku seperti ini!!”

“Kau ini cerewet sekali!”

Haishi! Gadis ini benar-benar!”

****

Kini mereka tengah duduk berhadapan di sebuah restoran. Setelah puas berkeliling mall sekitar 3 jam lamanya hingga akhirnya mendapatkan apa yang dicari, mereka ingin segera mengisi perut mereka yang sudah berteriak meminta asupan. Dan entah bagaimana caranya, mereka masih berada di tempat yang sama. Bahkan duduk di meja yang sama.

“Kau ingin pesan apa?” tanya Henry seraya menelaah buku menu yang sudah disediakan.

Sedangkan Sae Hee tampak menimang-nimang. Beberapa kali dirinya membuka lembar demi lembar buku menu tersebut lalu kembali ke halaman sebelumnya. Menu yang tersedia di restoran ini sepertinya begitu menggiurkan. Membuatnya bingung ingin memesan apa.

“Bagaimana jika Gogigui? Aku ingin mencoba menu ini,” gumam Henry kemudian.

Gogigui—dikenal sebagai barbecue khas Korea Selatan. Makanan yang mengenyangkan karena tidak hanya daging tetapi juga dikombinasi dengan sayuran yang telah disediakan seperti: selada, bawang putih, dan kol. Makanan ini memang cocok disantap pada sore hari dan secara beramai-ramai. Karena porsinya yang memang dibuat untuk dimakan tidak sendirian. Dan sama seperti barbecue kebanyakan, Gogigui memang harus dipanggang sendiri. Karena itu di berbagai restoran yang menyediakan menu tersebut sudah pasti menyediakan alat pemanggang mini di setiap meja.

“Pesan daging kambing,” balas Sae Hee tiba-tiba.

Eii, kenapa tidak daging sapi saja?”

“Daging sapi sudah biasa. Aku ingin mencoba daging kambing.”

Aih, baiklah. Begini saja, pesan semangkuk daging sapi dan semangkuk daging kambing.”

Joha (Bagus)!” Sae Hee tampak bersemangat kali ini. Lalu ia kembali menekuri buku menunya. “Ah, aku ingin mencoba Kimchi Jjigae (Sup Kimchi).”

Henry tampak mengangguk-angguk. “Boleh juga. Dua porsi Kimchi Jjigae.”

Pelayan restoran yang berdiri di sebelah meja mereka segera mencatat. Begitu keduanya menutup buku menu dan menyerahkan padanya, ia segera pergi menuju counter. Meninggalkan keduanya.

“Hei, apakah Soo Rin Eonni akan menyukai hadiahku?” Sae Hee membuka percakapan. Raut wajahnya sedikit memancarkan rasa tidak percaya diri begitu melirik bingkisan yang tergeletak di sebelahnya.

“Dia menyukai warna pink. Jadi tenang saja.” Henry menjawab seadanya sambil mengedikkan bahu.

“Aku juga tahu itu, tapi apakah dia akan menyukai benda pilihanku ini?”

“Kau tidak percaya padaku?”

Sae Hee cemberut mendapatkan balasan itu. Ditambah lelaki itu mengangkat kedua alisnya seolah tengah menuntut. “Aku hanya khawatir, Bodoh.”

Kini giliran Henry yang cemberut. Seenaknya saja gadis di hadapannya ini mengatainya bodoh. “Tenang saja. Bukankah aku sudah memberi tahumu barang kesukaan Noona? Atau jangan-jangan kau berpikir bahwa aku sudah berbohong.”

“Sempat aku berpikir seperti itu.”

Yaa, lalu untuk apa aku rela menemanimu jika pada akhirnya aku berbohong? Itu sama saja aku sudah membuang waktu berhargaku!”

Ara, ara.” Sae Hee memilih untuk mengalah. Batinnya merasa geli melihat lelaki di hadapannya terlihat seperti tengah merajuk. Lihat saja, kedua tangan yang bersedekap dengan wajah bocahnya yang terlihat kusut. Lucu sekali.

Apa? Lucu? Aih, apa yang sedang aku pikirkan?!

Sae Hee berdeham. Dia mulai terlihat salah tingkah. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu mengenai bocah di hadapannya. Sudah jelas bahwa bocah itu menyebalkan. Tapi, mengingat bocah itu sudah menemaninya tadi membuat dia mulai berubah pikiran. Setidaknya bocah itu tidak semenyebalkan yang dia kira selama ini.

Membenarkan posisi duduknya, Sae Hee kembali mengucap, “Terima kasih,” dengan hati-hati. Bahkan dia terlihat mengalihkan pandangan ke arah lain.

Henry yang mendengar itu segera menatap Sae Hee. Dia tidak salah dengar, bukan? Henry memasang raut tidak percaya. “Apa?”

“Terima kasih… untuk hari ini,” ulang Sae Hee. Kini lebih pelan.

Sedangkan Henry harus mengerjap beberapa kali, mulai merasa takjub. Gadis di hadapannya mengucapkan itu padanya? “Wow, rasanya baru kali ini aku mendengar kata itu keluar langsung dari mulutmu.”

Sae Hee mengerucutkan bibir. “Setidaknya kau menghargai ucapanku! Dasar wajah—” Sae Hee segera menggantung kalimatnya. Membekap mulutnya dan segera merutuki kesalahan yang hampir dia lakukan.

“Apa? Wajah apa?” Henry mulai mengerling nakal. Menunjukkan senyum miringnya sekaligus mencondongkan tubuhnya. “Ayo lanjutkan! Aku ini wajah apa?” tantangnya jahil.

Sedangkan Sae Hee harus memberenggut kesal. Bocah di hadapannya ini kembali ke sifat awalnya. Bocah menyebalkan!

“Dasar wajah bakpao!” sungutnya dengan suara kecil. Sangat kecil. Berharap bocah itu tidak mendengarnya.

Dan yah, sepertinya Henry memang tidak mendengar karena di waktu yang bersamaan dia segera mengalihkan pandangan. Ternyata menyambut kedatangan pelayan yang membawakan senampan besar makanan pelengkap untuk menu utama pesanan mereka dan segera menyajikannya di atas meja mereka. Berbagai mangkuk berisikan sayuran dan bermacam saus. Tak lupa dengan semangkuk besar daging kambing dan semangkuk besar daging sapi. Langsung saja meja mereka penuh dengan mangkuk-mangkuk itu.

“Silahkan menikmati hidangan kami. Untuk Kimchi Jjigae pesanan anda berdua, masih dalam proses pembuatan dan akan kami sajikan beberapa menit lagi,” ujar pelayan itu yang segera direspon berupa anggukan dari keduanya. “Aah, rasanya menyenangkan bisa melihat pasangan yang berkencan di restoran kami,” gumam pelayan itu terdengar riang.

Sedangkan mereka yang mendengar itu segera menyambar dengan kompak.

“Kami tidak berkencan!!”

****

Mereka terlihat keluar dari mall beriringan. Waktu sudah hampir petang dan mereka memilih untuk segera pulang setelah menyelesaikan makan bersama. Dua sejoli itu tampak menenteng bingkisan masing-masing. Yah, mereka telah mendapatkan apa yang mereka cari.

“Kau akan pulang sendiri?” Henry membuka percakapan. Saat melirik, ia melihat gadis itu mengangguk. Membuat ia harus mengerutkan kening. “Kau yakin?”

“Jika aku bisa berangkat sendiri, kenapa tidak bisa pulang sendiri?” balas Sae Hee kemudian.

Henry mengangguk-angguk paham. Gadis di sebelahnya ini ada benarnya. Meski sebenarnya dia sempat berpikir untuk menemaninya pulang. Mungkin jika dia sudah mendapat izin menyetir dari Negara ini, dia akan membawa mobil milik Samchon-nya yang dibiarkan di garasi rumah dan mengantar gadis itu pulang.

Hei, bukankah lelaki seharusnya seperti itu? Tega sekali jika membiarkan seorang gadis pulang sendirian sedangkan dirinya membawa mobil, benar ‘kan? Dia tidak ada maksud yang lainnya! Benar, hanya karena itu.

Mereka tengah menunggu di halte terdekat. Berdiri berdampingan. Tapi ada yang segera mengganggu pikiran Sae Hee. Menatap lelaki itu, lalu mengernyit bingung. “Bukankah arah pulangmu ke sana? Kenapa menunggu bus di sini? Seharusnya kau menunggu di halte seberang sana.”

Henry menoleh, menatap Sae Hee datar. “Memangnya aku tega membiarkanmu menunggu bus di sini sendirian?” balasnya enteng.

Tapi justru pertanyaan itu membuat Sae Hee segera merasa aneh. Ada sesuatu yang tengah menggelitik benaknya dan itu membuat dirinya mulai terlihat salah tingkah. Sesuatu yang juga segera merambat ke perutnya, juga memompa jantungnya untuk berdetak lebih cepat lagi. Apakah ini yang namanya desiran? Rasanya begitu aneh. Ditambah, dia merasa… sedikit diperhatikan oleh bocah berkulit pucat ini.

“A-aku sudah biasa menunggu bus sendirian!” Sae Hee berkilah. Sedikit tergagap. “Pergilah. Kau juga harus segera pulang.”

“Kau yakin?” Henry mengangkat sebelah alisnya. Melihat gadis di sebelahnya itu mengangguk cepat membuat ia juga mengangguk-angguk. “Baiklah. Aku akan segera pergi. Lagipula sepertinya bus tumpanganmu sudah datang.”

Sae Hee segera memeriksa kebenaran bocah itu. Memang, bus yang ia tunggu mulai tampak di kejauhan. “Geurae! Geunyang ka (Pergilah)!” balas Sae Hee cepat seraya mengibaskan sebelah tangannya, seolah mengusir.

Sedangkan Henry harus mencibir tanpa Sae Hee ketahui. Gadis ini memang tidak ada manis-manisnya. Seenaknya saja mengusirnya untuk segera pergi, pikirnya.

Tapi dia menarik.

“Ah, ada satu hal yang hampir aku lupakan.”

Sae Hee segera menoleh dan memasang raut bertanya. “Apa?”

Tanpa diduga, Henry bergerak maju. Rasanya tidak ada hitungan detik Sae Hee harus merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Sesuatu yang begitu lembut dan hangat. Hanya sekilas dan sangat cepat, tapi sukses membuat gadis itu mematung.

Barusan, apa yang Henry lakukan padanya?

“Itu hadiah karena sudah mengataiku wajah bakpao lagi,” gumam Henry seraya mengembangkan senyum kepuasan. “Sengaja aku tidak melakukan pembalasan langsung karena kita masih berada di restoran. Ditambah, aku sedang tidak berada di sampingmu tadi,” lanjutnya. Senyumnya semakin melebar melihat gadis di hadapannya sudah tidak berkutik.

Sedangkan Sae Hee harus melongo hebat. Menyadari maksud ucapan lelaki di hadapannya kini. Jadi, Henry mendengar umpatannya saat di restoran tadi?

“Ternyata kau memang menginginkan hadiah dariku, ya? Kenapa tidak meminta langsung saja padaku? Tapi, bersyukurlah karena akhirnya aku memberikannya padamu,” ujar Henry penuh percaya diri. Dengan berani sebelah tangannya terangkat mengusap gemas puncak kepala Sae Hee sekaligus menyeringai puas. Lihat, bahkan seringaiannya itu sudah melenyapkan paras bocahnya dan berganti menjadi lelaki yang begitu tampan.

Sial, itu berhasil membuat Sae Hee tak mampu berkedip lagi.

“Ah, busnya sudah datang. Cepatlah naik!” Henry segera membimbing Sae Hee untuk segera menaiki bus yang sudah berhenti tepat di depan halte. Lalu melambaikan tangan begitu pintu bus kembali tertutup dan melaju pergi, dengan senyum kepuasan.

Sedangkan Sae Hee yang masih berdiri di depan pintu bus, sepertinya belum menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam bus dan bahkan meninggalkan lelaki itu. Hingga akhirnya sang supir menyadarkannya untuk segera duduk. Barulah Sae Hee merasakan jantungnya sudah berdetak dengan begitu cepatnya. Sebelah tangannya bergerak naik dan berhenti tepat di bibirnya. Dia masih merasakan jejaknya. Meski itu hanya secepat kilat tapi…

Blush

Wajah Sae Hee mulai berubah menjadi merah padam. Semerah tomat. Dia baru mencernanya sekarang.

Henry telah menciumnya!

.

Henry segera menurunkan tangannya yang melambai-lambai mengantarkan kepergian bus itu. Tapi segera beralih menuju ke bagian dadanya, merabanya, lalu sedikit meremas. Ada yang aneh di sana. Dia merasa dadanya bergemuruh, bahkan jantungnya berdetak cepat. Sangat cepat. Dia sadar betul bahwa efek ini mulai terjadi setelah dirinya dengan berani mencium gadis itu. Meski hanya sekilas dan secepat kilat, dia dapat merasakan bahwa bibir tipis milik gadis itu… begitu manis.

Aishi, apa yang telah aku lakukan?” gumam Henry tak karuan.

Dia pasti sudah gila sekarang.

.

.

END


Akhirnya MFGnya berhasil aku lanjutkaaann~ /tumpengan/? hahahah Henry-Saehee kembali lagiii~~>< full buat mereka doang~ hehet

Mohon maaf kalo ceritanya semakin ngambang yak.. udah dilanjutinnya lama, makin hambar pula.. dooh minta ditendang saya -__,-

Oh iya! Tadi Kim Ki Bum update twit lagi loooh~ /curhat/? meski isinya berupa ucapan bela sungkawa (mungkin untuk istrinya Sooman Abeoji yg baru saja kembali ke Sang Pencipta) tapi aku juga merasa lega karna liat dia nongol lagi setelah habis ditelan bumi lagi T____T hiks…..

Dan, aku juga merasa seneng banget liat blogku ini tiba-tiba banjir komentar… jujur aku kaget banget tiap ada notif dari ponselku di sepanjang hari Minggu kemarin dan wow….aku merasa tersanjung TT terima kasih banyak untuk para pembaca yang udah bersedia nyasar kemari dan mau memberikan masukan mengenai tulisan-tulisan absurdku ini T/\T /bow/ tapi mohon maaf baru bisa aku balas tadi… aku biasa balas komentar pembaca di waktu aku buka lewat kompi huhu

Sekali lagi terima kasih banyak! Terima kasih atas segala masukan dan dukungannya. Terima kasih juga udah mau mampir lagi~^^ Sampai bertemu di cerita absurd yang lainnya yaa xD hehet

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

16 thoughts on “My Favorite Girl – Date? {HenHee}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s