Posted in Angst, Fiction, Friendship, One Shot, Slice of Life, Teen

I’m Fine, Thank You

Genre: Friendship, Angst, Life
Rated: Teen
Length: One Shot IFTYcover
Cerita ini…….aku gabisa jamin kalo cuma sekedar fanfic. Meski alurnya aku buat sendiri, tapi ide dan momen di cerita ini hampir 80% aku ambil dari kisah nyata mereka -^^- Mohon maaf jika cerita ini tidak begitu berkenan bagi para pembaca yg tiba-tiba mampir. But, hope you enjoy it~>< 

 mohon maaf typos masih bertebaran..

 ㅡㅡ

“So Jung-ah…”

Sebuah suara yang begitu lembut tengah memanggilnya, segera saja dirinya menoleh dan mendapati sosok yang sangat dikenalnya tengah berdiri menghadapnya. Menatapnya tanpa senyum yang biasa menghiasi wajah cantiknya. Datar, namun kedua mata jernih itu memancarkan kesenduan dan begitu sayu. Murung. Wajah putih mulusnya tidak putih seperti biasanya. Begitu pucat seolah tidak ada darah mengalir di baliknya.

“Eun Bi?” Ia mengerutkan keningnya. Kenapa sosok itu terlihat janggal di matanya? Wajah yang selalu mengumbar kecerian itu… kenapa kini berbalik menjadi begitu redup?

“Maaf, So Jung-ah. Aku harus pergi.” Eun Bi—sosok berwajah pucat itu mengucapkannya dengan begitu halus dan sarat akan kesedihan.

&&&

Pupil di balik kelopak itu bergerak, menandakan bahwa sang pemilik mulai mendapatkan kesadaran setelah tertidur hampir seharian lamanya—sejak kejadian hebat itu. Jemarinya mulai ikut bergerak, seolah tengah melakukan uji coba kerja syaraf. Perlahan, kelopak itu terbuka. Menampakkan iris hitam kecokelatan yang begitu jernih, tapi kembali tertutup karena tak kuat menerima serbuan bias cahaya yang langsung menusuk pandangan kaburnya. Kembali dirinya membuka, perlahan, mencoba membiasakan diri, hingga mata jernihnya berhasil menangkap apa yang tengah berada di depannya.

“So Jung sudah sadar!”

Ia dapat mendengar suara yang masih terasa berdengung di telinganya itu. Irisnya bergerak perlahan mencoba menelusur, mencari siapa yang baru saja berseru. Hingga mendapati sosok yang sangat dikenalnya tengah berjalan menghampirinya—yang membuatnya baru menyadari bahwa dirinya tengah terbaring.

“So Jung-ah, bagaimana kabarmu? Apa yang kau rasakan saat ini?” orang itu segera mengajaknya berbicara.

So Jung—ia mencoba menggerakkan mulutnya yang terasa kaku, sangat kaku. Dan dia mulai merasakan sekujur tubuhnya begitu mati rasa, juga sangat sakit yang begitu menusuk, campur aduk. Dengan sangat susah payah sekaligus menahan rasa sakit yang semakin mendera, ia mencoba mengeluarkan suaranya. “I…bu…”

“Ya. Ini ibu, nak. Ini ibu,” sahut orang itu yang merupakan ibunya. Dapat ia lihat setetes bulir bening terjun bebas dari pelupuk mata yang terlihat mulai keriput itu. Lalu disusul dengan bulir-bulir yang lainnya hingga membasahi kedua pipi tirus itu.

Sungguh, ingin rasanya ia menghapus air mata itu dari wajah ibunya. Tapi apa daya jika mencoba menggeserkan tangan barang sesenti pun ia begitu kesulitan.

Ul…ji…ma… yo… (Jangan menangis)” So Jung kembali bersuara. Sangat tergagap. Seolah satu suku kata membutuhkan begitu banyak tenaga hingga dirinya harus menarik napas tiap ingin mengejanya. Yang justru membuat ibunya semakin gencar menguras air mata. Tangan beliau dengan sangat berhati-hati dan penuh kasih sayang bergerak membelai puncak kepalanya.

“Tolong jangan ajak dia berbicara terlebih dahulu, Ahjumoni. Dokter mengatakan bahwa kondisinya masih belum stabil,” sebuah suara berat menginterupsi. Membuat keduanya beralih pandang. So Jung tampak mengembangkan senyumnya meski sangat tipis, begitu melihat pria yang merupakan Manager-nya itu masuk ke ruangan dan menghampirinya. Dengan sedikit tertatih.

“Syukurlah melihat dirimu akhirnya membuka mata. Kami begitu mengkhawatirkanmu,” ucap pria itu dengan lembut serta dihiasi seulas senyum di bibirnya.

“Ma—maaf…” So Jung mencoba berbicara lagi. Melihat kondisi pria itu yang dihiasi perban di bagian kepala dan juga tangan jelas membuatnya merasa bersalah. Dia masih ingat sebelum dirinya berakhir di sini, dia tengah bersama manager-nya itu. Ditambah dirinya telah membuat orang-orang terdekatnya begitu mengkhawatirkannya.

Tapi pria itu hanya menggelengkan kepala seraya tetap tersenyum sebagai balasannya. Hanya saja, ada yang mengganjal di benak So Jung. Manager-nya itu memang tersenyum penuh lega, tapi juga menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan senyumannya. Kedua matanya terlihat begitu sendu. Membuat So Jung mulai bertanya-tanya.

Dan seketika dia ingat. Di mana temannya, Eun Bi?

&&&

“Selamat untuk tahun pertama debutmu!!”

So Jung terkejut bukan main mendapatkan seruan lantang itu menggema menyambutnya. Baru saja dirinya sampai di belakang panggung setelah melakukan penampilan Solonya di acara musik ternama. Menatap penuh heran pada seorang gadis berambut pendek yang entah sejak kapan dan dari mana datangnya, membawa sebuah kue mungil dengan satu lilin menancap di atasnya.

“Apa ini?” tanya So Jung tanpa sadar. Membuat gadis di hadapannya itu terkikik geli melihat reaksinya.

Eii, kau tidak ingat bahwa sekarang merupakan satu tahun sejak kau debut menjadi artis Solo? Dasar! Bagaimana bisa kau tidak ingat?” cibir gadis berambut pendek itu dengan tampang jahil.

Yaa, aku sedang terkejut bukan tidak ingat!” kilah So Jung dengan cepat. Wajahnya mulai memberenggut.

“Baiklah, baiklah. Aku tidak ingin kita berdebat di hari spesial ini. Sekarang, tiup lilinnya terlebih dahulu!” gadis berambut pendek itu melangkah maju lebih dekat sebelum menyodorkan kue itu di hadapan So Jung.

Fiuh!

Dan So Jung berhasil meniup lilin itu hingga apinya padam. Senyuman lebar segera menghias di bibir gadis berambut pendek itu. “Sekali lagi, selamat, So Jung-ah!” ucapnya.

“Terima kasih, Eun Bi-ya. Kau memang yang terbaik,” balas So Jung dengan haru. Bagaimana dia tidak terharu jika mendapatkan sebuah kejutan kecil tapi manis dari gadis yang sangat dikenalnya ini?

“Tentu saja! Go Eun Bi selalu menjadi sahabat yang terbaik untuk calon Diva negeri ini! Hahahaha!” gadis itu tergelak bangga. Membuat So Jung menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang terlalu percaya diri itu.

Ya, gadis berambut pendek itu adalah sahabat karib So Jung. Go Eun Bi namanya.

****

“Eun Bi-ya.

Hng?”

Yaa, pelan-pelan! Nanti kau tersedak!”

Gadis itu mencoba tersenyum dengan mulut yang penuh dengan makanan itu. Meski hasilnya menjadi samar, tapi So Jung dapat melihat gadis itu sebenarnya tersenyum lebar. Lihat saja mata sipitnya itu menjadi semakin tipis hingga menyamai garis lengkung.

Saat ini mereka tengah melaksanakan makan malam di sebuah restoran, dalam rangka merayakan satu tahun semenjak So Jung debut menjadi penyanyi Solo. So Jung mengajak sahabatnya itu untuk bergabung. Karena tak hanya mereka berdua, dua orang manager So Jung juga ikut bergabung.

“Aku sangat lapar. Seharian penuh aku berusaha membuat kue untukmu itu,” jujur Eun Bi sambil terkekeh—setelah menelan makanan yang dikunyahnya.

“Jadi kue itu merupakan kue buatanmu?” So Jung terpana begitu melihat Eun Bi mengangguk mantap.

“Bagaimana rasanya?” tanya Eun Bi ingin tahu.

“Unik.”

“Unik? Maksudmu, tidak enak ‘kan?” Eun Bi mulai memasang wajah tidak puas.

“Bukan. Rasanya unik. Aku belum pernah memakan kue rasa kimchi.” So Jung terkekeh.

“Itu bukan rasa kimchi!” tampak Eun Bi mengerucutkan bibir. “Aah, aku gagal ya?” lanjutnya meringis seraya menundukkan pandangannya.

“Tidak, tidak. Aku suka. Sangat suka. Terima kasih! Lain kali buatkan untukku lagi.” So Jung mengulas senyum teduhnya. Membuat gadis berambut pendek itu menghela napas lega sebelum tersenyum lebar.

“Aku akan belajar lebih giat lagi!” Eun Bi mengepalkan kedua tangannya penuh tekad. Membuat So Jung tertawa geli melihatnya. Sahabatnya ini memang selalu penuh semangat.

“Ah! So Jung-ah!” panggil Eun Bi tiba-tiba. Menghentikan So Jung yang hendak menyantap makanannya, beralih menatapnya dengan kedua alis terangkat. “Selamat ulang tahun!” ucapnya kemudian.

Eii, tapi ini belum hari ulang tahunku!” gerutu So Jung. Kenapa sahabatnya itu mengucapkannya lebih awal sedangkan hari ulang tahunnya masih dua hari lagi?

“Tidak apa-apa. Aku takut tidak sempat mengucapkannya nanti. Heheheh.” Eun Bi terkekeh hingga menampakkan cengirannya.

“Kau ini bicara apa? Jangan bicara yang tidak-tidak!” So Jung memberenggut. Entah mengapa dirinya merasa aneh dengan ucapan yang sebenarnya begitu sederhana dari mulut Eun Bi itu.

“Aku harap lagu-lagumu selalu berada di puncak teratas di setiap chart musik nantinya. Selalu mendapatkan trophy kemenangan di setiap acara musik nantinya. Dan menjadi Diva di negeri ini.”

“Kau ini. Kau membeberkan harapanmu di waktu yang tidak tepat.”

“Biar saja. Selama aku masih ingat, tidak apa-apa ‘kan?” Eun Bi menampakkan cengiran lagi, kini lebih lebar. “Aku akan selalu menjadi penggemar berat nomor satu untukmu!” lanjutnya mantap.

“Hentikan.” So Jung terkekeh mendengar celoteh Eun Bi. Terdengar berlebihan baginya.

Yaa, aku serius! Setidaknya kau mengucapkan kata amen setelahnya!” kini giliran Eun Bi yang memberenggut.

Aameen! Kau puas?”

Eun Bi mengangguk puas. Kemudian mereka tersenyum bersamaan sebelum kembali menikmati santapan di hadapan mereka.

&&&

“Sebuah mobil van tergelincir di jalan tol kawasan Singal Instrection di daerah Yeongdong dan menabrak pembatas jalur sebelum terguling pada dini hari kemarin. Menurut saksi yang berada di lokasi kejadian mengatakan bahwa mobil yang ternyata ditumpangi seorang penyanyi Rookie bernama Lee So Jung tersebut mengalami pecah ban dan kondisi jalan yang begitu licin menyebabkan mobil tersebut tak terkendali hingga menabrak pembatas jalur lalu terguling sebanyak tiga kali. Dua penumpang mobil tersebut tewas sebelum dilarikan ke rumah sakit. Salah satu dari mereka merupakan supir dari mobil tersebut. Sedangkan Lee So Jung mengalami luka parah hingga sempat tak sadarkan diri hampir 24 jam lamanya.”

&&&

“So Jung harus melakukan operasi pada tulang rahang bagian atas sore ini. Demi menjaga kondisinya yang mulai stabil, mau tidak mau kita merahasiakan hal ini terlebih dahulu,” ucap seorang pria yang ternyata adalah manager So Jung yang dikenal sebagai Manager Kim. Saat ini pria itu tengah berhadapan dengan ibu So Jung.

“Tapi, pemakamannya akan dilaksanakan hari ini. Bagaimana bisa anakku tidak boleh mengetahuinya?” ibu So Jung tampak tak terima dengan keputusan yang merupakan keputusan dari dokter yang menangani So Jung.

“Tidak ada pilihan lain. Kita juga harus memperhatikan So Jung. Dokter memang ada benarnya. Ini demi kelancaran berjalannya operasi nanti, Ahjumoni.” Manager Kim terus menampakkan raut menyesal selama menjelaskan. Beberapa kali pria itu harus menghela napas yang terasa begitu berat. Gusar.

Setelah ada jeda yang cukup lama, ibu So Jung akhirnya mengangguk menyetujui. Kemudian mereka kembali masuk ke dalam ruang perawatan So Jung. Gadis yang masih terbaring lemah itu menyambut kedatangan mereka dengan seulas senyum. Kondisinya memang berangsur membaik semenjak siuman kemarin, bahkan ia sudah mulai berbicara beberapa kalimat dibandingkan sebelumnya meski harus sangat terbata-bata.

“So Jung-ah, bagaimana perasaanmu sekarang, hm?” sapa ibu So Jung dengan lembut. Segera saja tangan beliau mengusap puncak kepala gadis itu dengan sayang.

“Aku merasa sedikit baik,” jawab So Jung lamat-lamat. Bahkan suaranya terdengar begitu lirih. Kemudian, keningnya tampak berkerut memperhatikan dua orang di hadapannya kini.

“Ada apa, sayang?” tanya ibu So Jung yang menyadari ekspresi anaknya sedikit berubah.

“Kenapa… kalian mengenakan pakaian hitam?”

Keduanya tampak terkesiap mendengar pertanyaan So Jung. Ibu So Jung dan Manager Kim segera saling melempar pandang. Mereka seolah tengah dicurigai oleh So Jung.

“Rasanya… semua staff yang menjengukku sejak tadi, mengenakan pakaian hitam seluruhnya…” gumam So Jung tampak kebingungan.

“Itu…” sang ibu kebingungan, bagaimana beliau harus menjelaskan?

“Ah, ibu, di mana Eun Bi? Sejak kemarin aku belum bertemu dengannya…” So Jung teringat. “Eun Bi… dia baik-baik saja ‘kan?” tanyanya dengan pelan.

Ibu So Jung benar-benar kaku. Sampai-sampai menghentikan kegiatannya mengelus puncak kepala So Jung. Mulutnya terasa begitu kelu dan tidak tahu bagaimana harus menjawab. Beliau takut salah bicara yang berujung membuat anak gadisnya semakin curiga.

“Kita doakan yang terbaik untuk Eun Bi.” Manager Kim akhirnya membuka mulut. Mencoba menyelamatkan ibu So Jung. Tapi justru membuat So Jung semakin bingung mendapatkan jawaban yang terdengar ambigu tersebut.

Go Eun Bi, kau baik-baik saja ‘kan?

&&&

“Eun Bi-ya.”

Hm?”

“Kau sudah tahu mengenai impianku, yaitu ingin menjadi penyanyi terkenal. Tapi kau belum memberi tahu padaku mengenai impianmu.”

“Benarkah?” Eun Bi menoleh, menatap So Jung yang duduk tepat di sampingnya. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang setelah melaksanakan acara makan malam bersama. “Kau yakin ingin tahu impianku?” tanya Eun Bi.

“Tentu saja aku ingin tahu. Beri tahu aku!” So Jung menuntut.

“Baiklah, baiklah,” Eun Bi tampak terkekeh sebelum melanjutkan. “Impianku adalah menjadi penggemarmu yang paling beruntung.”

“Ish! Yaa, impian macam apa itu?” sungut So Jung. Apakah Eun Bi pikir dirinya sedang bergurau saat ini?

“Aku serius. Aku ingin menjadi penggemar beratmu yang paling beruntung. Karena kau adalah sahabatku dan aku akan merasa sangat bangga jika suatu saat kau menjadi penyanyi yang paling terkenal di negeri ini. Aku akan menjadi penggemar setiamu dan selalu mendukungmu. Mengoleksi banyak albummu dan akan selalu kudengar lagu-lagumu ke manapun aku pergi.” Eun Bi menjelaskan dengan wajah cerianya.

So Jung terpaku mendengar segala rentetan kalimat Eun Bi. Dia tahu pasti bahwa gadis berambut pendek ini tidak pernah berbohong dengan ucapannya. Ada rasa haru menyeruak di benaknya, tapi ada juga rasa aneh yang sulit dijelaskan. Semacam perasaan yang membuatnya khawatir bahkan menuju ke rasa takut. Padahal, bukankah Eun Bi sedang mengutarakan keinginannya? Bukan mengutarakan ingin mengakhiri persahabatan mereka, bukan?

Sebenarnya perasaan apa itu? So Jung tidak bisa memahaminya.

“Eun Bi-ya…”

Hm?”

“Jangan pernah tinggalkan aku.”

Eun Bi terkekeh mendengar kalimat So Jung. “Ya, memangnya aku akan pergi ke mana? Tenang saja, sekalipun sesuatu terjadi padaku, akan kupastikan untuk tetap menjadi penggemarmu.”

“Tidak akan pernah terjadi sesuatu padamu!” sambar So Jung cepat. Entah mengapa dia semakin merasakan perasaan itu. Membuat gadis berambut pendek yang duduk di sebelahnya itu memicing.

Eii, kau ini kenapa?” Eun Bi mencubit gemas sebelah pipi So Jung. “Aku akan selalu berada di sampingmu. Karena aku akan melihatmu yang menjadi artis besar nantinya. Melihatmu memegang trophy juga melihatmu mendapatkan banyak penghargaan atas prestasimu. Percayalah!”

“Berjanjilah padaku.” So Jung mengulurkan jari kelingkingnya. Langsung saja disambut Eun Bi dengan mengaitkan jari kelingking mereka dengan erat. Dan, mereka saling melemparkan senyum.

Hingga mereka mendengar sebuah dentuman keras di sisi belakang sebelah kiri mobil yang ditumpangi. Membuat mobil itu hilang kendali hingga keluar dari jalur sebelumnya, membentur benda keras hingga membuat mereka terhempas ke depan dengan begitu kasarnya. Melepaskan tautan jari kelingking mereka tanpa ampun. Lalu mempermainkan tubuh mereka dengan menggulingkan mobil tersebut berkali-kali. Menghempaskan tubuh mereka ke sana dan ke mari. Yang jelas saja merenggut kesadaran mereka dengan begitu cepatnya.

Seketika, suasana hangat itu berubah menjadi mengenaskan.

&&&

“Operasi berjalan dengan lancar. Kondisinya yang begitu stabil mempermudahkan kami untuk menyelamatkannya. Kita hanya perlu menunggu Saudari So Jung tersadar.”

Dapat dilihat ibu So Jung menghela napas lega begitu mendengar dokter yang baru saja menangani proses operasi So Jung memberikan kabar gembira. Beliau sampai membungkukkan badan berkali-kali sembari mengucapkan terima kasih untuk sang dokter.

“Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat inap,” lanjut sang Dokter.

“Terima kasih banyak, Dokter.” Manager Kim yang juga berada di sana ikut membungkuk sebelum sang dokter beranjak pergi demi melanjutkan tugasnya.

“Setidaknya kita bisa sedikit bernapas lega,” ucap Manager Kim pada ibu So Jung.

“Ya, kau benar,” ibu So Jung tampak tak kuasa menahan air matanya. Beliau merasa lega, tapi juga khawatir. Masalah ini belum selesai begitu saja.

“Cepat atau lambat, So Jung juga harus mengetahui hal ini,” ujar Manager Kim dengan pelan, seolah tahu perasaan beliau.

“Aku tidak bisa… aku tidak bisa membayangkan reaksinya jika mengetahui hal ini, Manager Kim…” gumam beliau begitu lirih.

“Kita harus berusaha,” balas Manager Kim. Terdengar begitu berat, dan tidak tega.

****

“TIDAK!!!!”

Tampak Manager Kim merengkuh tubuh ramping itu begitu erat. Mencoba meredakan amukan sang empu sekuat tenaga. So Jung—yang tak lain tengah didekap erat oleh manager-nya itu tampak meronta hebat dengan wajah yang mulai dibasahi buliran hangat yang mengalir deras. Gadis itu histeris setelah mendengar kabar dari manager-nya itu.

“Kau berbohong! Eun Bi masih hidup!! Dia tidak mungkin meninggalkanku begitu saja!! Dia sudah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku! Kau pasti berbohong!! EUN BI MASIH HIDUP!!!”

“Aku tidak berbohong, So Jung-ah. Go Eun Bi tidak selamat. Dia sudah dimakamkan kemarin.” Manager Kim tampak kewalahan.

“TIDAK MUNGKIN!! Eun Bi tidak mungkin tidak selamat!! Jangan menipuku!!!”

“Itu benar, So Jung-ah. Eun Bi sudah tiada. Dia tidak selamat dari kecelakaan itu,” ibu So Jung tampak bergetar. Wajahnya sudah berlinangan air mata, tak kuasa melihat putrinya itu mengamuk karena berita menyakitkan ini.

“TIDAK!! TIDAK MUNGKIN!!!!” So Jung semakin histeris. Membuatnya harus menguras tenaga hingga tak lama tubuhnya yang baru saja terbiasa bergerak pasca operasi melemas. Tak sanggup meronta lagi. Dan kini ia hanya mampu menangis keras di pelukan Manager Kim. “Dia sudah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku. Dia akan terus berada di dekatku, melihatku menjadi artis besar dan mendapatkan banyak penghargaan. Dia sudah berjanji padaku. Dia tidak mungkin pergi begitu saja…” raungnya. Terdengar pilu.

Ibu So Jung menggenggam erat tangan So Jung. Sesekali mengusap puncak kepala So Jung penuh kasih sayang. Beliau juga menangis deras. Tak kuasa melihat putrinya itu merasa begitu kehilangan. Sedangkan Manager Kim mengusap punggung So Jung perlahan. Mencoba memberikan kehangatan sekaligus kekuatan. Kedua matanya tampak memerah, berusaha keras untuk tidak ikut menyeruakkannya.

“Eun Bi tidak mungkin tega meninggalkanku. Eun Bi… Eun Bi tidak pernah mengingkari janji…” So Jung tergugu. Tidak bisa menerima kenyataan ini. Ditinggal begitu saja oleh sahabat karibnya, padahal sebelumnya mereka sudah berjanji untuk terus bersama. Kenapa takdir harus memutuskan hubungan mereka dengan cara tragis seperti ini?

Sungguh, ini begitu menyakitkan.

****

:: A year later

“Eun Bi-ya, aku datang.”

So Jung tampak mengulas senyum manisnya sebelum berjongkok di depan sebuah gundukan dengan batu nisan tertancap di atasnya.

Rest In Peace

Go Eun Bi

November 23rd 1992 – September 3rd 2014

“Aku datang dengan kembali membawa trophy. Lihat, aku kembali berada di puncak chart musik. Kali ini aku mendapatkan penghargaan Triple Crown karena laguku terus bertahan di posisi teratas selama tiga minggu berturut-turut. Aku hebat ‘kan?” So Jung tampak membanggakan diri, meskipun dia menyadari bahwa suara khasnya itu terdengar mulai serak dan bergetar. Kedua matanya pun tampak mulai berkaca-kaca.

“Bulan depan aku akan melaksanakan showcase pertamaku. Aku akan berkeliling kota. Aku juga akan melaksanakannya di Jepang. Kau tahu? Aku sudah memiliki banyak penggemar di Negeri Sakura itu. Aku hebat ‘kan?” kini So Jung menggigit bibir. Mencoba menahan gejolak yang terus menjalar hingga membuat kedua matanya semakin memanas. Dia benar-benar berusaha untuk tidak menumpahkannya.

“Ah, apa kau mau mendengarnya lagi? Laguku yang berhasil mengantarkanku mendapatkan penghargaan Triple Crown ini?” So Jung mencoba untuk mengembangkan bibir. Diletakkannya trophy tersebut di hadapan batu nisan itu. “Dengarkan aku, oke?” lanjutnya sambil mencoba mengatur suaranya untuk kembali normal.

Menarik napas perlahan, dan So Jung mulai memamerkan suara indahnya.

ddo nunmuli nae apeul garyeojuneyo
(Tears hide my eyes again)
geudae moseub hokshi boilggabwa
(In case I happen to see you)
beolsseo shigani nado moreuge neujeotneyo
(Without knowing, time’s late already)
oneuldo geudaeman gidaryeotjyo
(I will only wait for you today)

So Jung mengatup bibirnya. Baru 4 bait lirik yang ia nyanyikan, namun suara khasnya kembali bergetar. Menggigit bibir dengan keras, So Jung kembali menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya dengan begitu beratnya. Sebelum ia melanjutkannya lagi.

nan cham babocheoreom geudaeman bulleoyo
(I’m such a fool for calling only to you)
eonjengan geudaedo nal bogetjyo
(Someday you’ll look for me too)
hancham gidarida nunmuli goyeoyo
(Waiting for a long time, tears accumulate)
ireokge ddo haruga jinajyo
(And another passes just like this)

So Jung melakukan jeda lagi. Tak kuasa untuk menahannya lagi, So Jung akhirnya menumpahkan air matanya. Buliran bening nan hangat itu berhasil lolos dan mengaliri pipi putihnya. Tangannya yang sedari tadi saling bertautan tampak mengerat.

oneul haruman I cry
yeongwonhi haengbokhagil good bye
gakkeumeun nae saenggake useodo joha
I’m fine… thank you
Thank you…

So Jung tak mampu lagi untuk melanjutkan. Kepalanya tertunduk begitu dalam dengan kedua bahu yang bergetar hebat. Dia kembali menangis. Menangis deras.

“Andaikan kau masih ada di sini, aku akan mengajakmu untuk berkeliling. Kau akan menjadi tamu VIP-ku. Aku akan selalu melihatmu duduk di kursi paling depan, menatapku penuh kagum sekaligus bangga padaku. Aku akan menunjukkan padamu bahwa kini aku telah dikenal juga digemari banyak orang. Aku akan memberikan album-albumku dengan bonus tanda tangan dariku padamu. Aku akan menjadikanmu sebagai penggemarku yang paling beruntung,” ujarnya sesenggukan. Kemudian ia kembali mendengak, hingga memperjelas raut wajah cantiknya yang sudah basah.

“Eun Bi-ya, bagaimana pun… sampai kapan pun… aku akan tetap menganggapmu sebagai penggemar beratku nomor satu. Sampai kapan pun, aku akan tetap menganggapmu sebagai penggemarku yang paling beruntung. Karena kau adalah sahabatku. Dan aku tidak akan pernah melupakan kenyataan itu,” ujarnya lagi seraya mengelus nisan itu dengan tangan yang gemetar.

“Eun Bi-ya… terima kasih. Berkat dirimu, aku berjuang keras. Berjuang demi mewujudkan impianmu yang ingin melihatku menjadi terkenal. Dan aku akan terus berjuang hingga menjadi Diva di negeri ini, juga menjadi terkenal di banyak Negara. Tunggu saja!” kini So Jung berusaha untuk tersenyum. Sebelah tangannya yang lain bergerak mengusap air mata yang telah membasahi kedua pipinya.

“Terima kasih, karena kau sempat mengucapkan salam perpisahan padaku kala itu. Meski hanya melalui mimpi. Meski aku sempat menganggapnya hanya sekedar mimpi…” lirihnya. Ya, So Jung masih ingat betul mimpi itu. Mimpi di mana sebelum dirinya siuman dari kecelakaan hebat itu. Mimpi di mana Eun Bi berpamitan dengannya.

“So Jung-ah, kita harus segera pergi. Satu jam lagi kau harus rekaman acara variety.” Tampak Manager Kim menghampirinya. Yang segera direspon So Jung dengan sebuah anggukan. Pria itu, dengan wajah teduhnya menatap batu nisan yang masih diusap oleh So Jung. Sebuah senyum tipis terulas di bibirnya.

Tolong bimbing So Jung menjadi penyanyi terkenal dan berbakat. Itu merupakan impian terbesarnya. Jika sesuatu terjadi padaku nanti, tolong gantikan aku untuk tetap berada di dekatnya. Itu permintaanku, Manager Kim.

Rentetan kalimat itu masih terngiang jelas di kepala pria itu. Rentetan kalimat yang ternyata merupakan suatu amanat dari sahabat karib So Jung, saat di restoran pada malam itu, ketika So Jung tengah pergi ke toilet, beberapa jam sebelum maut merenggut nyawanya.

Hingga sekarang, dia masih memegang amanat dari Go Eun Bi.

“Ayo berangkat, Manager Kim.” So Jung menyadarkan lamunannya. Gadis itu telah berdiri dan menghadapnya. Segera saja dirinyaa tersenyum seraya memberi jalan untuk gadis itu.

“Sampai jumpa, Eun Bi-ya,” pamit So Jung dengan senyum. Kemudian tanpa menoleh lagi, ia melangkah menjauhi gundukan itu.

“Sampai jumpa, Go Eun Bi-sshi,” pamit Manager Kim sebelum menyusul So Jung.

.

Pada kenyataannya, takdir setiap orang itu berbeda-beda. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Siapa yang akan pergi terlebih dahulu, dan siapa yang masih tertinggal. Maut tidak pandang bulu, tidak memandang usia, tidak memandang status. Jika takdir seseorang itu memang berhenti sampai di situ, tidak ada yang bisa mengelaknya, termasuk orang itu sendiri.

Just for today, I cry
I wish your happiness forever, good bye
It’s okay to think of me sometimes and smile

I’m fine, thank you
Thank you*

FIN


tisu mana tisu? ㅠ

hwaaaaaaaa, aku yang buat tapi aku sendiri yang nangis.. gimana ceritanya coba? T_____T

readers ga nangis kan? Jangan sampe ya.. kan ceritanya aneh hehet T/\T

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang menimpa grup Ladies’ Code beberapa minggu lalu. Bahkan belum ada sebulan lamanya. Aku sampe kepikiran mau ngangkat cerita mereka itu. Tapi, rasanya terlalu menyakitkan ㅠㅠ akhirnya aku bikin versi lain. Dan aku cuma pinjem 2 member tersebut. Tapi, hampir semua momen di cerita ini aku ambil dari yang memang terjadi pada mereka.

Mohon maaf jika cerita ini agak nyelekit bagi pembaca. Sebenarnya aku udah bikin cerita ini setelah beberapa hari member Rise nyusul EunB ㅠ tapi aku belum kuat buat posting secepatnya. Dan, sebenarnya cerita ini mau aku kasih ke adik aku x’D tapi malah dia gajadi ngambil.. akhirnya, aku posting deh di sini. heheh ;__;

Maaf kalo cerita ini bikin galau ㅠㅠ but, this story, I dedicated for Ladies’ Code. Especially EunB and Rise. #RIPEunB #RIPRise

Untuk pembaca yang udah nyasar kemari, terima kasih banyak atas waktunya -^^-

*) Ladies’ Code – I’m Fine Thank You

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

8 thoughts on “I’m Fine, Thank You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s