Posted in Category Fiction, One Shot, Romance

Thanks For Waiting

Another KiSoo’s story again ㅠㅠ

Rated: PG-15
Length: One Shot tfwcover

Cerita ini…….entahlah.. makin absurd -__- Mungkin cerita ini akan membuat pembaca bertanya-tanya hehet! Selamat membaca bagi yang ingin membaca saja~ Please enjoy ^^ 

Ada sedikit perbaikan. Karena sebelumnya aku posted tanpa epilog, sekarang udah aku sisipkan. Hehet

maaf typos masih bertebaran~~

ㅡㅡ

:: Seoul Sky Hospital – Garak-dong, Songpa-gu, Seoul-shi (16:57 KST)

Ki Bum melangkah keluar dari lift. Dia telah mengenakan mantel tebalnya demi menghalau udara menusuk di musim dingin ini. Hari telah berada dalam tahap senja, langit jingga ibukota mulai menggelap sebagaimana waktu yang terus berjalan menuju ke malam. Dan pria itu harus segera keluar dari tempatnya bekerja—hampir 3 tahun lamanya—saat ini. Memang karena waktu jam kerjanya sudah habis, tapi dia juga memiliki alasan lain melihat langkahnya yang begitu cepat ingin segera keluar dan bergegas menuju mobil pribadinya.

Baru saja dirinya merogoh saku mantel demi meraih kunci mobilnya, ketika seorang wanita berseragam serba putih tergopoh-gopoh mendekatinya.

“Dokter Kim, ada korban tabrak lari yang terluka parah di bagian rahang dan harus segera dioperasi! Kami benar-benar membutuhkan bantuan anda sekarang!”

Ki Bum harus tercenung sejenak. Dia mendapatkan pasien lagi? Ini, mendadak sekali. Dengan segera dirinya melangkah ke tujuan lain. Tujuan yang berlawanan dari tujuan awalnya. Menuju ke Ruang Gawat Darurat. Dan wanita yang merupakan salah satu suster rumah sakit tersebut segera mengekorinya.

“Di mana Dokter Park? Bukankah ini sudah waktu jam kerjanya?” balas Ki Bum cepat.

“Dokter Park akan datang terlambat. Pasien sedang dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan karena hampir kehabisan banyak darah.”

“Apakah pasien sudah mendapatkan izin dari perwakilannya?”

“Sudah. Baru saja wakilnya yang mengaku sebagai adiknya datang dan meminta agar pasien segera dioperasi. Mohon maaf sebelumnya, Dokter Kim, ini sangat mendesak dan kami terpaksa meminta bantuan anda.”

“Tidak apa…” gumamnya. Dengan sangat menyesal Ki Bum kembali menyimpan kunci mobilnya ke dalam saku. “Siapkan ruang operasi dan bawa segera pasien ke sana!” tegasnya kemudian.

“Baik!” Suster itu segera melesat mendahului Ki Bum.

Sedangkan Ki Bum harus menghela napas beratnya sebelum terpaksa melepas mantelnya seraya bergegas ke ruang ganti. Meski hati dan pikirannya melayang ke tempat lain, dia tetap tidak dapat menghindari hal ini. Dirinya yang sudah berpengalaman menangani banyak pasien selama hampir 3 tahun sudah tahu pasti perannya yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Dokter. Nyawa pasien seolah ditentukan oleh tangannya sendiri. Jelas prioritas utama menjadi seorang Dokter adalah, menyelamatkan nyawa pasiennya, bukan? Meski sebenarnya waktu perannya sudah seharusnya habis hari ini.

****

:: Olympic Gymnastics Arena – 88-2 Bangi-dong, Songpa-gu, Seoul-shi (17:01 KST)

Soo Rin baru saja sampai. Suasana arena olahraga yang telah disulap menjadi arena konser ini tampak begitu ramai. Ribuan pengunjung yang sudah pasti merupakan calon penonton untuk konser ini telah memadati halaman arena yang begitu luasnya ini. Dengan berbagai atribut yang menghiasi tubuh mereka, juga lighstick yang memang tidak boleh terlewatkan. Sangat wajib dibawa.

Yap! Soo Rin akan menonton konser malam ini. Konser dari boyband papan atas yang jelas merupakan idolanya. Konser Infinite.

Tapi Soo Rin tidak langsung mengantri seperti kebanyakan pengunjung—yang jelas merupakan penggemar dari boyband Infinite—melainkan memilih mendudukkan diri di salah satu bangku yang masih kosong. Tanpa mengantri pun dia tidak akan kehilangan jatah tempat strategisnya, toh dia memiliki tiket untuk bagian VIP. Maka dari itu dia merasa tidak perlu khawatir jika harus datang di waktu mepet seperti ini pula. Woah, tiket VIP memang istimewa._.

Soo Rin segera mengeluarkan ponselnya, lalu mulai mengetik sebuah pesan. Untuk seseorang.

Aku sudah sampai.

Hanya 3 kata itu dan ia segera mengirimnya. Lalu menjatuhkan tangan yang menggenggam ponselnya ke pangkuan, membuatnya menyadari sesuatu begitu melihat sebelah tangannya itu, kemudian memperlihatkan sebelah tangannya yang lain.

“Aah, aku lupa memakai sarung tangan,” gumamnya menggerutu. Dia lupa bahwa dirinya masih harus menunggu di ruang terbuka yang dingin ini. Bagaimana bisa dirinya lupa? Apakah karena dirinya begitu bersemangat mengenai malam ini?

Menit demi menit berlalu. Beberapa kali dirinya memeriksa layar ponselnya, tapi benda itu tidak memberikan tanda-tanda apapun. Tanda bahwa pesannya dibalas, entah itu berupa pesan atau justru berupa panggilan. Orang yang ia kirimi pesan belum juga membalas. Tapi Soo Rin masih bisa berpikir positif. Mungkin orang itu sedang berada dalam perjalanan jadi tidak bisa membalas pesannya.

Tiga puluh menit berlalu. Wajah cantiknya yang sedari tadi tampak cerah dengan senyum yang hampir selalu menghias, mulai memudar. Sebenarnya selama itu pula batinnya bertanya-tanya, kenapa orang itu belum juga membalas pesannya? Apakah di perjalanan tidak ada lampu merah yang bisa memberikan kesempatan untuk membalas pesannya meski hanya sepatah kata?

Apalagi, pintu arena sudah dibuka dan para penggemar mulai berbondong-bondong masuk ke dalam. Karena 30 menit lagi konser akan dimulai. Soo Rin mulai gelisah.

Akhirnya ia berinisiatif mengirim pesan lagi.

Kau di mana?

&&&

“Kim Ki Bum, aku ingin menontonnya.”

Pria itu menatap datar gadis yang tengah merengek di hadapannya. Kedua tangan ramping itu mengayunkan sebelah tangan kekarnya, layaknya anak kecil yang ingin meminta sesuatu. Wajah cantiknya tampak memelas beserta bibir bawahnya yang dimajukan. Benar-benar seperti anak kecil.

“Tidak,” jawabnya dengan datar pula. Dengan terpaksa dirinya melepas diri dari kedua tangan itu dan melangkah menuju dapur. Ingin melepas dahaga.

Waaeee??” Soo Rin—gadis itu mengekori. Tidak rela melepasnya begitu saja.

“Kau bisa melihatnya lewat media sosial, bukan?” Ki Bum—pria itu tampak menuangkan minuman dari dalam botol ke dalam gelasnya. Tanpa menoleh ke arah gadis yang sudah berdiri di sampingnya.

“Tapi aku ingin melihatnya secara langsung. Aku belum pernah melihat mereka secara langsung.” Soo Rin kembali mengayunkan sebelah tangan kekar itu ketika sang pemilik tengah menenggak minumannya. “Boleh, ya? Ya?”

Ki Bum meletakkan gelasnya dengan sedikit hentakan. Kembali menatap gadis di sampingnya ini dengan datar namun tampak tak terbantahkan. “Tidak.”

“Kim Ki Buuuuuuuumm!” tapi Soo Rin semakin gencar mengayunkan tangan pria itu. Wajahnya semakin memelas bahkan kedua matanya mulai memanas. “Sekali ini saja. Setelah itu aku tidak akan meminta hal ini lagi. Ya? Jebaaaaaaall… (Kumohon)”

Ki Bum menghela napas panjang. Melihat gadis itu ingin menangis membuat dirinya merasa tidak tega. Pria macam apa dirinya? Tidak mengizinkan gadisnya untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan padahal sangat ingin dilakukannya.

“Hari keberapa kau ingin menonton?”

Soo Rin akhirnya menghentikan aksi gencarnya. Langsung saja sebelah tangannya mengacungkan jari telunjuknya. “Hari pertama! Hari pertama saja!”

“Ingin menonton di bagian mana?”

“Mana saja! Yang penting aku bisa menonton mereka secara langsung.”

Ki Bum berdecak. Gadis ini terlewat lugu hingga rela ingin ditempatkan di mana saja. “Kau pikir kau bisa melihat mereka dengan jelas jika berada di bagian tribun, huh?”

“Setidaknya aku bisa merasakan suasana konser yang sebenarnya. Bukan sekedar dari media.” Soo Rin meringis. “Tidak masalah jika kau ingin menempatkanku di bagian tribun,” lanjutnya hati-hati.

“Pesan bagian VIP,” balas Ki Bum sambil berlalu. Meninggalkan gadisnya yang mulai melongo.

“Benarkah?” seru Soo Rin sambil kembali mengekor pria itu dan segera menahan langkahnya dengan meraih lengan pria itu lagi. “Tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

“Pesan dua tiket.”

“Dua? Kenapa dua?”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi menonton sendirian?”

“Eh? Jadi kau ingin ikut?” Soo Rin kembali bertanya dengan hati-hati.

Sedangkan Ki Bum mulai melotot gemas. “Cepat pesan sebelum aku berubah pikiran!” tandasnya.

&&&

Satu jam berlalu. Tampak Soo Rin mulai gelisah melihat sekitar arena sudah sepi karena semua penggemar telah masuk. Dan lagi, pembukaan konser mulai berputar. Tapi kenapa orang yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya?

Gadis itu beberapa kali menggosok kedua telapak tangannya sembari meniupkan udara hangat dari mulutnya. Beberapa kali pula dirinya mengeram kedua tangannya di dalam saku mantelnya, tapi rasa gelisah selalu membuatnya tidak betah untuk mengeram diri. Aih, bagaimana bisa dirinya lupa mengenakan sarung tangan? Saking bersemangatnya hari ini dia harus melupakan keselamatan kedua tangannya?

Soo Rin tampak merogoh saku mantelnya. Mengambil dua lembar tiket yang jelas merupakan tiket masuk konser yang ditunggu-tunggunya ini. Tiket VIP-nya. Wajahnya memberenggut. Bisa saja dirinya masuk karena jelas dirinyalah yang memegang tiketnya. Tapi dia terpaksa tidak melakukannya karena pria itu sudah memperingatinya.

 “Jadwal praktekku hari ini tidak lama. Aku akan menyusul sebelum konser dimulai. Jadi jangan masuk ke arena sebelum aku datang, mengerti?”

Diraihnya kembali ponsel dari sakunya. Soo Rin semakin memberenggut. Menyebalkan, tidak ada balasan apapun!

Ya, Kim Ki Bum!

Hanya itu pesan yang ia kirim.

****

(19:52 KST)

“Meski operasi berjalan lancar, tapi kondisinya yang belum stabil memungkinkan pasien tidak akan tersadar dalam waktu dekat. Pastikan pasien selalu diperiksa satu kali dalam satu jam.”

“Baik.”

“Pindahkan pasien ke Ruang ICU. Dan, bisakah kau serahkan selanjutnya pada Dokter Park? Aku harus segera pergi.”

Ye. Terima kasih atas bantuan anda, Dokter Kim!”

Pria itu hanya mengangguk sebelum beranjak meninggalkan rekan-rekannya, kemudian pamit kepada kerabat pasien yang tengah membungkuk berterima kasih padanya. Ia segera menuju ke ruang ganti. Dan Langsung saja dirinya merogoh saku mantelnya demi meraih ponselnya.

Ki Bum—pria itu harus tertegun melihat layar ponselnya yang dipenuhi banyak pesan masuk juga panggilan tak terjawab. Dan semua itu, berasal hanya dari satu kontak. Melihat jam pada layar ponsel, dia harus mendesis kesal. Tanpa membuka terlebih dahulu pesan-pesan yang menumpuk di layar ponselnya, Ki Bum menyambar mantel tebalnya lalu melesat keluar dari gedung rumah sakit dengan tergesa-gesa.

Sambil berlari menuju lapangan parkir, Ki Bum mencoba menghubungi kontak yang telah mengirim banyak pesan sekaligus banyak panggilan. Tanpa perlu menunggu lama panggilannya terjawab dan segera saja ia sambar.

“Soo Rin-ah, kau masih di situ?” Ki Bum segera memasuki mobilnya dan langsung menghidupkan mesinnya. Pria itu harus mengernyit mendapati tidak ada suara di sana. Bukankah gadis itu sedang menonton konser sekarang? Kenapa begitu senyap? Dan lagi, gadis itu tidak menjawab sapaannya.

“Soo Rin-ah, kau bisa mendengarku?”

“………..”

Dan Ki Bum harus menepuk keras keningnya. Menyadari sesuatu. Bukankah sebelumnya dia telah memperingati gadis itu untuk tidak menonton tanpa dirinya? Astaga, itu berarti gadisnya tidak berada di dalam arena konser sampai sekarang?!

“Soo Rin-ah, maafkan aku. Aku harus melakukan operasi mendadak tadi,” sesalnya kemudian sambil memutar setir kemudi dan segera menancap gas melesatkan mobilnya keluar area gedung. Entah ia menyadarinya atau tidak, tancapan dalamnya pada pedal gas telah membuat decitan keras pada ban mobil yang menggesek aspal jalanan. Tapi toh dia tidak peduli. Dia hanya peduli dengan gadis yang tengah diteleponnya sekarang.

“Kau masih berada di luar arena?”

“…………”

Ki Bum menghela napas panjang. Sejak tadi dia tidak mendengar sepatah katapun di seberang sana. Hanya kesunyian yang didapat. Ada 2 alasan jika gadis di seberang sana tidak langsung menjawab: dia sedang sakit, atau dia sedang kesal bahkan marah. Dan Ki Bum rasa pilihan kedua adalah jawabannya.

“Aku sedang dalam perjalanan ke sana sekarang.”

Trek

Dan Ki Bum harus menutup mulut begitu mendengar sambungan diputus secara sepihak. Membuatnya mendesah frustasi hingga tanpa sadar ia melempar ponselnya ke kursi penumpang di sebelahnya. Lalu menancap pedal gas semakin dalam hingga menaikkan speedometer menuju pada kecepatan 90km/jam!

Bagus, Kim Ki Bum, kau telah membuat Park Soo Rin marah.

Ki Bum benar-benar kelimpungan sekarang.

Kemudian berubah menjadi kalang kabut begitu harus dihadapi lampu merah. Satu detik terasa seperti bermenit-menit lamanya. Apalagi dia juga menyempatkan diri untuk membaca pesan-pesan dari gadisnya itu.

Kim Ki Bum, aku kedinginan… cepatlah datang ㅜㅜ

 Itu adalah pesan terakhir yang terkirim padanya. Sekitar… satu jam yang lalu.

Astaga Kim Ki Bum, tega sekali kau membiarkan gadismu menunggu di sana hampir 3 jam lamanya?!

****

:: Olympic Gymnastics Arena

Ki Bum bergegas memasuki halaman arena begitu berhasil memarkirkan mobilnya. Kedua mata tajamnya yang telah terbebas dari kacamata sejak keluar dari rumah sakit, bergerak liar mencari. Siapa tahu saja gadis itu sudah mulai berkeliaran, atau mungkin sudah masuk ke arena? Atau mungkin sudah pulang…

Dia tahu pasti bahwa konser masih berlangsung mengingat kondisi luar arena yang masih tampak sepi. Hanya suara dengungan yang berasal dari dalam arena. Suara kemeriahan konser yang masih tertangkap hingga keluar.

Ki Bum segera menghentikan larinya begitu mata tajamnya berhasil mendapati objek yang tengah dicarinya. Napasnya tampak tersengal hingga uap mengepul semakin tebal dari mulut dan hidungnya. Sungguh, Ki Bum juga baru menyadari bahwa ia telah berlari. Demi gadis yang telah menunggunya selama tiga jam.

Dan Ki Bum harus tercekat melihat gadis itu—masih—terduduk manis di sebuah bangku yang tersedia di pinggir halaman arena. Menunduk sembari menggosok-gosok kedua tangannya serta sesekali meniupnya demi merasakan kehangatan. Meski tidak terpampang jelas, tapi Ki Bum sudah bisa menebak hanya dengan melihat sisi wajah cantik itu. Gadis itu tampak muram.

Ki Bum melangkah mendekat. Tatapannya benar-benar tidak bisa lepas dari sosok yang masih belum menyadari kedatangannya itu. Sosok yang telah ia dapatkan sejak masih duduk di bangku Menengah Atas. Hingga kini, dia tidak bisa berpaling dari sosok yang sangat cantik dengan ekspresi apapun di matanya itu. Sejak awal mengenal pun dia sudah memantapkan hatinya hanya untuk gadis itu. Namun dirinya juga masih belum percaya, hingga kini, dia masih mencintai gadis yang masih terduduk manis itu. Bahkan semakin banyak.

Sepertinya firasat baiknya mengenai gadis itu memang benar.

“Soo Rin-ah.”

Merasa terpanggil, gadis itu segera menoleh. Mata jernihnya segera melebar begitu mendapati sosok tegap itu telah berdiri tidak jauh dari ia duduk. Lalu segera bangkit begitu sosok tegap itu kembali melangkah demi semakin mendekat. Langsung saja wajah cantiknya berubah demi menyambut kedatangan orang yang telah ditunggunya itu.

Wasseo… (Sudah datang)”

Ki Bum tertegun. Bukan karena kata sambutan itu. Bukan. Tapi kenapa wajah cantik itu tengah mencoba untuk mengumbar kecerahannya? Mencoba menampakkan senyumnya? Kenapa?

“Bagaimana dengan operasinya tadi? Apakah berjalan dengan lancar?”

Ki Bum harus tertegun lagi mendapatkan pertanyaan itu. Kenapa gadis itu justru menanyakan keadaannya? Bukankah seharusnya gadis itu marah? Bukankah seharusnya gadis itu merasa jengkel karena telah dibuat menunggu 3 jam lamanya, bahkan sampai melewatkan konser yang sangat ditunggu-tunggunya ini?

“Kau berhasil menyelamatkan pasienmu, ‘kan?” gadis itu mencoba untuk tetap tersenyum. Meski sebenarnya dia mulai merasa aneh dengan tatapan pria di hadapannya kini yang begitu dalam.

“Soo Rin-ah.”

Hm?” Soo Rin membalas dengan gumaman. Dan melihat pria di depannya ini kembali bergerak maju demi semakin dekat dengannya.

Sedangkan Ki Bum harus mencelos begitu berhasil melihat dengan jelas bahwa wajah gadis di depannya ini tampak pucat. Bagaimana tidak pucat jika ia harus menunggu di tempat terbuka seperti ini dengan ditemani hembusan angin musim dingin yang begitu menusuk?

“Kenapa kau masih di sini?”

Ne?” kini Soo Rin harus mengerjap tak paham. “Bukankah—bukankah kita akan bertemu di sini?”

“Dan kau masih menunggu di sini?”

Soo Rin mengangguk dengan sangat pelan.

“Bagaimana jika aku datang lebih lama dari ini? Kau akan tetap berada di sini?”

Kini Soo Rin tidak melakukan gerakan apapun sebagai jawaban. Dia terdiam.

“Bagaimana jika aku datang di saat malam ini sudah berakhir? Kau masih tetap berada di sini?”

“Aku—aku hanya berusaha menuruti perintahmu…” Soo Rin akhirnya menjawab, lamat-lamat. “Kau—kau marah padaku?” lanjutnya melirih. Dapat ia rasakan kedua matanya mulai memanas. Kenapa Ki Bum justru terlihat seperti sedang menegurnya? Apakah tindakannya salah? Dia hanya mencoba untuk menjadi gadis yang baik meski dirinya harus menelan rasa kecewa karena melewatkan momen yang begitu ditunggu-tunggu ini, karena pekerjaan pria di depannya kini.

Ki Bum mengerjap. Seolah baru saja tertidur, dia segera sadar begitu mendengar pertanyaan terakhir gadisnya itu. Marah? Bodohnya Kim Ki Bum, kenapa kau harus marah? Sudah jelas yang salah di sini adalah dirimu. Dan seharusnya Soo Rin yang marah. Bukan kau!

Ki Bum meraih kedua tangan yang tak terbalut apapun itu. Sedari tadi dirinya harus menahan rasa gemas melihat gadisnya itu sesekali menggigil. Dan harus kembali mencelos begitu berhasil menyentuh sekaligus menggenggam tangan itu. Dingin sekali! Bagaimana bisa dirinya membiarkan gadis ini bergumul ria dengan angin musim dingin?

Pria itu menggenggam semakin erat kedua tangan ramping tersebut, meremasnya dengan lembut mencoba memberikan kehangatan dari tangan besarnya yang masih hangat. Sebelum kemudian menuntunnya masuk ke dalam mantel yang dikenakannya. Membuat Soo Rin harus tersentak kaget dan mulai gugup begitu pria ini merapatkan tubuh mereka. Menuntunnya untuk memeluk tubuh tegap itu, di balik mantel tebalnya. Sebelum akhirnya kedua tangan kekar itu beralih merengkuh tubuh rampingnya. Ikut memeluknya.

“Maaf.” Ki Bum akhirnya berucap. Membuat Soo Rin mendengak demi menatap wajahnya, tapi justru juga membuat tatapan gadis itu terkunci dengan tatapan teduhnya. Dan dimanfaatkan olehnya dengan bergerak menyatukan kening mereka. Seketika gadis itu memejamkan mata, menahan napas.

“Maafkan aku,” ulang Ki Bum dengan halus. Dapat ia lihat gadisnya menggeleng pelan. Apalagi wajah cantik itu mulai menghangat… sepertinya. Lihat saja pipi yang sebelumnya tampak pucat itu mulai menampakkan rona aslinya.

“Kenapa kau masih menungguku di sini, hm?”

“Kau sudah mengatakan padaku untuk tidak masuk sebelum kau datang…” jawab Soo Rin hati-hati. Takut salah bicara. Tapi tanpa dia ketahui, Ki Bum menatapnya dengan penuh penyesalan.

Gadisnya terlalu menuruti segala perintahnya. Memang sudah seharusnya begitu, tapi jika pada akhirnya seperti ini justru keadaan menjadi berbalik. Dia yang bersalah terhadap gadisnya ini.

“Kau pasti marah padaku.”

“Awalnya… tapi, aku sadar bahwa kau harus menyelamatkan orang. Aku hampir tidak menyadari profesimu itu.”

Ki Bum harus mengulas senyum mendengar jawaban itu. Tanpa ia sadari—karena begitu gemasnya, sebelah tangannya bergerak mengusap bagian belakang kepala Soo Rin dan berhenti di bagian tengkuknya. Memberikan sensasi berupa desiran halus bagi sang empunya.

“Kau tidak mengucapkan apapun saat aku telepon tadi,” gumam Ki Bum mengeluh.

“Aah, soal itu? Aku hanya tidak tahu harus berkata apa. Kau baru menghubungiku setelah waktu yang begitu lama dan aku tidak tahu bagaimana harus protes padamu. Hehe…” Soo Rin meringis. “Tapi mendengar penjelasanmu setelahnya, aku rasa tidak sepantasnya aku marah. Dan lagi, kau ini sedang menyetir. Bukankah sudah kubilang jangan menelepon saat kau sedang menyetir? Itu bisa mengganggu konsentrasi menyetirmu. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?”

Soo Rin mulai membuka mata. Memberanikan diri untuk membalas tatapan yang tidak pernah beralih darinya itu. “Kau ingin membuatku menunggu di sini lebih lama lagi?” lanjutnya dengan suara mengecil.

Hening. Soo Rin tidak segera mendapatkan balasan dari pria ini. Dan Soo Rin harus menurunkan pandangannya ketika menyadari iris hitam pekat itu menghunusnya semakin dalam. Tahukah bahwa jantungnya sudah melompat-lompat sejak pria ini memeluk sekaligus menyatukan kening mereka seperti sekarang ini? Meski dia sudah merasa hangat akibat kedua tangannya yang bersembunyi di balik mantel pria ini, tapi kedekatan ini, selalu membuatnya berdesir.

“Kau membuatku khawatir,” lanjut Soo Rin setelah jeda yang cukup lama. “Jangan diulangi lagi, mengerti?” lanjutnya memperingati. Meski sebenarnya suaranya sudah seperti sebuah cicitan.

Ki Bum harus merasakan benaknya bergemuruh. Perasaannya campur aduk. Dia merasa semakin gemas dibuatnya. Padahal dirinya sudah berharap-harap cemas hingga harus kalang kabut selama di perjalanan karena gadis ini, tapi gadis ini justru berbalik mengkhawatirkannya. Gadisnya ini benar-benar lugu.

“Tidak akan kuulangi lagi,” balasnya sebelum sebelah tangannya yang sempat bertengger di tengkuk gadis ini beralih merengkuh wajah yang telah menghangat itu. Sejak tadi dirinya sudah sangat ingin melakukan hal ini tapi karena takut membuat gadis—yang menurutnya tengah marah akibat keterlambatan parahnya—ini merasa tak suka maka dia harus menahannya.

Dengan lembut Ki Bum mengecup hidung Soo Rin. Hanya sesaat, tapi sukses membuat gadis ini terkejut hingga mematung. Melihat reaksi itu, Ki Bum harus mengulas senyum gelinya. Dasar, gadisnya ini masih saja terlihat kaku jika dia mulai melakukan aksi tersebut.

Sebelah tangannya yang masih merengkuh tubuh Soo Rin bergerak ikut merengkuh wajah cantik yang telah menunjukkan rona kemerahannya. Menangkupnya dengan lembut semabari kembali menyatukan kening mereka. Memberikan sensasi yang begitu hangat sekaligus mendebarkan bagi keduanya. Bahkan Soo Rin harus mengeratkan pelukannya di balik mantel tebal prianya ini.

Memang suasana masih begitu sepi, tapi tetap saja mereka masih berada di ruang terbuka. Apakah mereka tidak sadar? -_-

“Maafkan aku.” Ki Bum mengucapkannya lagi.

“U-untuk apa lagi?”

“Telah membuatmu kehilangan kesempatan malam ini.” Ki Bum kembali menatap penuh sesal. “Sebentar lagi konsernya akan berakhir,” lanjutnya.

Soo Rin menggeleng pelan. Mengulas senyum manisnya, menghiasi wajahnya yang telah merona. “Sepertinya ini memang bukan kesempatanku. Mungkin aku memang tidak diperbolehkan untuk menontonnya,” jawabnya sambil meringis pelan.

“Kau terlalu berpikir positif,” elak Ki Bum yang sukses membuat Soo Rin memamerkan cengirannya.

“Terima kasih.”

Kini Ki Bum harus mengernyit bingung. “Untuk?”

“Untuk datang meski terlambat. Kau sudah bekerja keras hari ini, Dokter Kim.” Soo Rin melebarkan senyumnya. Sedangkan Ki Bum harus mendengus geli mendengar tutur kata gadisnya ini. Rasanya begitu aneh jika panggilan itu terucap dari mulut gadisnya sendiri. Juga terdengar menggemaskan.

“Aku juga berterima kasih.”

“Untuk?”

Ki Bum tidak langsung menjawab, justru tampak mengulum senyumnya. Dengan kedua tangan yang masih menangkup wajah cantik itu, ia kembali beraksi, mengecup sudut bibir gadis itu sekilas hingga kembali sukses membuat sang empu terkejut serta mengerjap kaget.

“Untuk menungguku,” jawabnya kemudian dengan seringaian yang mulai tampak.

Yaa!” Soo Rin memberenggut kesal. Meski itu hanya di sudut tapi tetap saja pria ini kembali mencuri ciumannya. Menyebalkan. Soo Rin terpaksa melepas diri dari kurungan pria ini. Membuat jarak yang otomatis melepaskan pelukannya dari balik mantel yang begitu hangat itu.

“Lebih baik kita pulang saja, sebelum mereka keluar dari dalam arena. Konsernya sebentar lagi selesai.” Soo Rin tampak menghela napas sesaat. Yah, ada rasa menyesal karena telah menghanguskan tiket VIP-nya dengan percuma. Meski itu bukan berasal dari uangnya melainkan uang Ki Bum, tapi dia menyesal karena telah melewatkan konser grup idolanya.

Mungkin lain kali.

Ki Bum yang sadar betul ekspresi gadis itu, meraih sebelah tangan ramping itu serta menautkan jemari mereka. Menggenggamnya. “Kaja. Kita akan kembali kemari besok,” ajaknya sambil menuntun Soo Rin untuk beranjak.

“Apa? Besok?” Soo Rin mengernyit bingung. “Kim Ki Bum, tiketnya hanya berlaku untuk hari ini. Bukan besok. Jadi untuk apa kita datang lagi besok?”

“Aku tahu.” Ki Bum mengulas senyum penuh arti. Sebelah tangannya yang lain merogoh saku di balik mantel dan mengeluarkan isinya. Menunjukkannya pada Soo Rin. “Seharusnya kita menonton dua kali.”

Soo Rin harus tercengang. Astaga, Kim Ki Bum menunjukkan dua kartu VIP yang lain!

“Itu… dari mana kau dapatkan itu?” tanya Soo Rin tercekat.

“Aku memesannya setelah kau memesan tiket untuk hari pertama. Aku pikir kau tidak akan puas jika menonton di hari pertama. Karena dari yang kutahu, konser hari berikutnya akan terasa lebih memuaskan.” Ki Bum mengembangkan senyumnya. “Lagipula besok adalah hari liburku,” lanjutnya.

Soo Rin merasakan kedua matanya memanas. Bukan karena ia bersedih, tapi kali ini karena dirinya begitu terharu. Astaga, Kim Ki Bum berhasil memberikan kejutan padanya. Langsung saja dirinya berjingkrak penuh kesenangan. “Hwaaaaaaaaa aku masih bisa menonton Infinite!!!”

Ki Bum terkekeh geli melihat tingkah gadisnya yang berubah drastis. Melihatnya seperti itu telah sukses membuat Ki Bum merasa lega, meski sebenarnya dia ingin memberikan kejutan ini ketika selesai menonton konser yang seharusnya mereka tonton malam ini. Tapi setidaknya, akhirnya dia bisa mengobati rasa kecewa gadisnya.

Kaja. Aku sudah lapar. Kau tidak lapar setelah menunggu lama di sini?”

Soo Rin mengangguk seperti anak kecil. Tangannya yang masih digenggam Ki Bum tampak mengetat akibat antusiasmenya. Dan mereka kembali membuka langkah keluar dari area itu.

“Kim Ki Bum, kau ingin makan apa?”

Geulsae… (Entahlah) Bagaimana jika kita mencari?”

“Mencari? Maksudmu kita makan di luar saja?”

Eum.”

“Aku ingin makan Bibimbab!”

Bibimbab? Baiklah, kita cari Bibimbab.”

Jjajangmyun juga! Ah, Toppoki juga!”

“Kau ingin menjadi gemuk, huh?”

“Aku sangat lapar…”

Epilog

Jjajaaaaaaaaaaaann!!”

Ki Bum menatap datar benda yang tengah disodorkan oleh Soo Rin padanya. Dua lembar tiket VIP untuk konser Infinite hari pertama.

“Aku sudah mengambil tiketnya.” Soo Rin memamerkan cengirannya sambil terkekeh lugu. “Terima kasih!”

Eum.” Ki Bum hanya meggumam sembari kembali menekuri kegiatannya. Membaca majalah kesehatan. Mengingat hari ini adalah hari liburnya.

“Untuk lightstick-nya, aku akan membelinya sendiri. Tenang saja, kau akan aku belikan juga!” ujar Soo Rin. Wajahnya tampak begitu cerah saat ini.

Eum.” Ki Bum hanya mengangguk-angguk.

“Terima kasih, Dokter Kim!” seru Soo Rin sumringah sebelum beranjak menuju ke kamar.

Sedangkan Ki Bum kembali beralih, mengantarkan kepergian gadis itu. Mendengus pelan. Rasanya gadis itu lebih banyak memanggilnya dengan sebutan Dokter Kim dibanding Oppa sekarang. Ki Bum berdecak pelan seraya menggeleng heran sebelum kembali menekuri majalahnya.

Tapi, tiba-tiba saja sebuah hal melintas di pikirannya. Setelah merenunginya beberapa saat, ia mulai bergerak meraih ponselnya yang tergeletak di sebelahnya. Membuka browser aplikasi dan membuka suatu forum. Batinnya menggumam, gadis itu memesan tiket melalui forum ini kemarin. Kemudian Ki Bum tampak mengangkat alisnya begitu mendapati sesuatu. Nomor kontak forum tersebut.

Memang sebenarnya itu yang tengah dicarinya.

Ki Bum segera melakukan panggilan pada nomor tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama, panggilannya segera tersambung serta disambut oleh seseorang di seberang sana.

Ne. Aku ingin memesan tiket konser Infinite untuk hari kedua. Apakah masih tersedia?”

“Mohon maaf sebelumnya, untuk konser hari kedua hanya tersisa bagian Festival Dalam dan Festival VIP…”

“Ya, aku memang mencari bagian VIP. Aku pesan dua tiket.”

“Baik. Atas nama siapa tiket ini dipesan?”

“Kim Ki Bum.”

FIN


gaaaaaaaaaaaahh!! Ini apa lagiiiiiii?! ㅠ

Hai, couple absurd ini kembali dengan cerita absurd mereka~ bahahahah! Ini merupakan kisukisu versi dewasa.. maksudnya mereka udah dewasa._. entah status mereka kayak gimana, tapi pasti udah kebaca kok status mereka di sini gimana xD gahahahah #plak

Maaf ya, bukannya ngelanjutin MFGnya aku malah bikin another absurd story ini ㅡㅡ jujur, aku belum dapet inspirasi buat kelanjutan cerita itu ㅜ/\ㅜ

Yosh! Meski cerita ini ngambang, semoga pembaca merasa terhibur/? hehet! Terima kasih sudah mau mampir~><

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

24 thoughts on “Thanks For Waiting

  1. baru bisa baca di jam segini soalnya tugasku belum kelar tadi hhe..

    Dsini ceritanya meraka udah dewasa ya? Dan kim ki bum jadi dokter gitu? Uwah ngebayangin dia pake jubah dokter keren bgt pasti uu~

    soo rin jadi cewek baek banget. Pengertian. Makanya ki bum makin cinta sama dia.. Dia juga lugu bgt. Suka sama karakternya yg sprt itu kkk..
    Dtunggu ff selanjutnya 🙂

    1. waduh, jangan dipaksain atuh hehet
      iyah….begitulah~ hahahah aku jg klepek2 malah ngebayanginnya #duar xD
      gyaaaaa makasih udah suka sama Soorin~ hehehet dan makasih udah nyempetin baca+komen~~><

  2. sweeettt bgt ni c0uple..
    b0leh gak kibum y kubawa pulang?
    q lg skit nich..pgn dech disembuhin d0kter kim ky di G0NNA HEAL Y0U
    hahaha..
    p0k0k y cerita mereka hrus dilanjt mpe pnya anak
    #maksa

  3. Malam 🙂 aku suka.. Selalu, semuanya jelas tpi ada satu pertanyaan. Di epilog, Soorin masuk ke dlm kamar? Dan Ki bum duduk di sofa. Apa mereka tinggal se rumah? #gubrak xD

  4. Mereka udah nikah kah thor?

    Pengen deh punya suami kayak Kibum oppa yg sweet romantis…

    Aku lanjut baca ke judul lain thor….

  5. Ini masih lanjutannyaa kannnn?? Mereka udh gedee udh nikahhh? Kibum jadi dokter omgg keren bgt gituuu,, soorin jadi fangirl infinite wakaka~~ enak kali ya nonton di vip u.u soorin positif thinking bgtt 😄 coba aku disana udh ngamuk2 kali 😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s