Posted in Category Fiction, Fiction, Romance, School Life, Vignette

Gonna Heal You

Another KiSoo’s story /-\

Rated: PG-17 (sebenarnya gatau ini rating berapa)
Length: Vignette ghycover

Cerita ini…….sumpah absurd banget -__- lebih banyak monolog dibandingkan dialog //lah kan biasanya begitu-.-// karena ada beberapa pembaca yg minta dipost, jadilah aku posting~ hati-hati aja, karena ini begitu membosankan dan pasti bikin mual seperti biasanya, bahkan labih mencengangkan ㅎㅎ just please enjoy~~><

maaf typos masih bertebaran~~

ㅡㅡ

Tampak lelaki berkacamata itu melangkah memasuki kelasnya. Di waktu yang masih cukup panjang sebelum bel masuk berbunyi dirinya sudah menginjakkan kaki di gedung sekolah. Mata dinginnya segera mencair begitu menangkap sosok yang begitu ia rindukan telah duduk manis di tempatnya. Hanya saja, posisi duduk itu membuat keningnya terpaksa merengut.

Ki Bum—lelaki berkacamata itu segera mendekati sosok yang tak lain adalah gadisnya itu. Gadis itu tampak menelungkup di atas meja. Menyembunyikan wajahnya dengan menjatuhkan kepala di atas lipatan kedua tangannya. Apakah gadis itu tertidur? Hei, ini masih pagi. Atau jangan-jangan gadis itu kurang tidur tidur lagi semalam?

Begitu Ki Bum berdiri di samping gadis itu, tangan kekarnya bergerak menyentuh puncak kepala itu. Tidak ada maksud untuk mengejutkannya, hanya saja tubuh itu sedikit tersentak seolah baru saja tersadar dari lelapnya. Jadi benar gadis itu tertidur?

Soo Rin—gadis itu segera mengangkat kepalanya demi melihat siapa yang baru saja menyentuhnya. Tanpa sadar sebelah tangannya memegang kepalanya yang terasa begitu berat dan berdenyut. Tapi ia segera menurunkan tangannya begitu mengetahui lelaki itu sudah berdiri di sampingnya.

“Kau kenapa?” tanya Ki Bum sedikit tertegun melihat gadisnya itu. Sekilas dirinya sempat melihat raut wajah cantik itu tampak tengah meringis mencoba menahan rasa sakit. Ditambah, kenapa gadis itu memakai masker kesehatan?

“Sepertinya aku terkena gejala flu…” jawab Soo Rin dengan suara kecilnya. Sembari memijit sebelah kepalanya, rasanya seluruh bagian kepalanya itu berdenyut hingga menambah bobot di dalam sana. Dengan terpaksa Soo Rin kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja belajarnya.

“Kenapa tidak istirahat saja di rumah, hm?” Ki Bum berjongkok di sebelah meja Soo Rin, hingga wajah mereka tampak sejajar. Dia memang tidak bisa melihat wajah gadis itu secara keseluruhan karena masker yang menghalangi hingga bawah matanya, tapi melihat mata jernih itu tampak sayu sudah mampu membaca keadaannya.

Soo Rin menggelengkan kepala perlahan. “Aku tidak ingin melewatkan kuis dari Jung Seonsaengnim nanti,” balasnya,

“Bodoh. Kuis itu hanya untuk mengulang materi yang sudah diajarkannya kemarin, bukan untuk menambah poin harian.” Ki Bum menoyor kening gadis itu dengan sangat pelan. Tanpa lelaki itu ketahui, bibir gadis itu mengerucut di balik masker yang dikenakannya.

“Aku ‘kan ingin menguji daya ingatku. Lagipula kuis dari Jung Seonsaengnim itu sangat mengasyikkan. Aku tidak mau melewatkannya barang sekalipun,” kilahnya kemudian. “Aah, selalu seperti ini. Jika ingin memasuki musim dingin, aku pasti seperti ini. Menyebalkan sekali,” keluhnya sambil memejamkan mata yang terasa perih.

Tanpa Soo Rin ketahui, Ki Bum mengulas senyum teduhnya begitu mendengar keluhannya itu. Ki Bum bangkit lalu meletakkan tas punggungnya yang belum ia lepas, ke atas meja belajarnya. Meraih lengan gadis itu hingga sang empu terpaksa membuka mata.

“Ikut aku.” Ki Bum menuntun Soo Rin untuk bangkit dari duduknya.

“Ke mana?” Soo Rin tampak mengerutkan keningnya. Jelas saja gadis itu kebingungan. Dan semakin bingung begitu lelaki itu membimbingnya untuk keluar dari kelas. “Yaa, kau mau membawaku ke mana? Aku tidak ingin melewatkan kuis dari Jung Sonsaengnim!” Soo Rin mulai gusar.

“Pelajaran Jung Seonsaengnim setelah istirahat kedua nanti. Aku pastikan kau akan membaik sebelum itu,” balas Ki Bum sambil mengulas senyum pada gadisnya itu.

“Maksudmu?”

“Aku akan menyembuhkanmu.”

Huh? Bagaimana caranya?”

Ki Bum kembali menatap gadis yang masih dituntunnya ini. Dapat ia lihat alis itu bertautan menandakan bahwa sang empu tengah bertanya-tanya. Dengan senyum penuh arti, Ki Bum menjawab, “Kau lihat saja nanti.”

Entah mengapa melihat senyuman itu membuat perasaan Soo Rin menjadi tidak enak. -_-

****

Ya, kenapa membawaku kemari?”

Ki Bum merasa tergelitik mendengar protesan dari Soo Rin. Gadis itu tampak memberenggut—dapat dilihat dari keningnya yang berkerut jelas juga kedua matanya yang melebar. Sudah bisa ia tebak bahwa gadisnya akan bereaksi seperti sekarang ini.

“Kenapa?” balas Ki Bum dengan tampang tanpa merasa bersalah.

“Apakah ini yang kau maksud dengan ingin menyembuhkanku? Bermaksud membiarkanku beradaptasi dengan angin pertengahan pergantian musim? Justru sebaliknya, aku akan merasa lebih sakit lagi!” sungut Soo Rin. Bagaimana bisa lelakinya ini membawanya ke atap gedung sekolah di waktu yang tidak tepat? Di tengah pergantian musim yang akan menuju ke musim dingin jelas saja membuat kondisi lingkungan tidak dalam keadaan sejuk serta bersahabat lagi.

“Siapa bilang aku ingin membiarkanmu seperti itu?” tanya Ki Bum kalem. Membuat Soo Rin merasa gemas dan ingin memukul lelaki ini. Tapi belum sempat tangannya bergerak untuk melaksanakan aksinya, Soo Rin harus merasakan sesuatu menggelitik bagian dalam hidungnya dan segera ingin dilepaskan.

HATCHI!!”

Soo Rin segera merasakan kepalanya semakin berdenyut setelahnya. Hentakan akibat bersin barusan sukses mengguncang kepalanya yang terasa berat menjadi semakin mendera. Terpaksa sebelah tangannya ikut andil memegang kepalanya yang terasa ingin lepas dari tubuhnya itu.

“Sepertinya duduk di kelas adalah yang terbaik dibandingkan merasakan angin pagi di musim gugur seperti ini. Aku akan kembali ke kelas.” Soo Rin berbalik dan hendak melangkah menuju pintu. Tapi Ki Bum segera meraih lengannya hingga mematahkan niatnya untuk melangkah.

“Siapa bilang aku menyuruhmu untuk merasakan angin musim gugur?” tanya Ki Bum. Nada bicaranya mulai berubah, membuat Soo Rin terpaksa menatapnya.

Tunggu dulu, sejak kapan lelaki itu melepas kacamatanya? Rasanya lelaki itu masih mengenakan kacamata saat membawanya kemari tadi. Aah, apakah rasa pening di kepalanya sudah merenggut sebagian fokusnya sejak tadi?

“Bukankah aku sudah bilang akan menyembuhkanmu?”

Soo Rin mengerjap beberapa kali. Rasanya lelaki itu berubah menjadi tampak serius. Apakah karena ia melepas kacamatanya? Tapi sepertinya tidak.

Tunggu, Soo Rin mulai merasa tidak enak mendapati tatapan lelaki itu. Soo Rin tidak bisa menjelaskan arti tatapan itu, tapi dia dapat merasakan maksud dari tatapan itu… adalah cukup tidak baik.

Ki Bum menarik lengan Soo Rin yang masih digenggamnya, menarik gadis itu untuk mendekat padanya, menghadapkan gadis itu padanya. Sebelah tangan lainnya bergerak menyingkap poni Soo Rin yang tampak mulai memanjang hingga hampir menghalangi mata beriris kecokelatan itu. Dapat ia rasakan gadis itu sedikit berkeringat.

“Pantas saja. Kau kurang berkeringat. Gejala flu bisa diredakan jika kau mengeluarkan banyak keringat. Karena berkeringat menandakan virus penyebab flu di dalam tubuhmu menguap dan keluar melalui pori-pori kulitmu,” jelas Ki Bum. Tatapannya tidak lepas dari wajah yang masih terhalangi masker sebagian itu.

“Lalu aku harus bagaimana supaya berkeringat? Apa aku harus berlari mengelilingi atap gedung ini sebanyak sepuluh kali?” tanya Soo Rin, terdengar lugu.

“Tidak perlu.”

“Lalu bagaimana?”

Tanpa menghiraukan pertanyaan terakhir Soo Rin, Ki Bum bergerak maju, yang justru mempersempit jarak di antara keduanya. Yang malah membuat gadis itu melangkah mundur demi kembali melonggarkan jarak di antara mereka, tapi itu tidak menghentikan Ki Bum untuk mendekat. Lelaki itu justru kembali bergerak maju, dan otomatis Soo Rin juga bergerak mundur.

“K-kau mau apa?” Soo Rin mulai gugup. Tingkah lelaki ini menjadi aneh dan Soo Rin mulai menaruh rasa curiga. Ditambah tatapan itu semakin terlihat mencurigakan di mata Soo Rin.

Dan Soo Rin harus sedikit tersentak begitu merasakan tangan lelaki ini kembali meraih lengannya. Menahannya untuk tidak bergerak mundur lagi dan membiarkan lelaki itu bergerak semakin maju. Soo Rin harus menelan saliva begitu jarak di antara mereka hampir tak bercelah. Dan harus melebarkan mata begitu melihat lelaki ini memajukan kepalanya.

Y-ya—

Soo Rin harus menahan napas begitu merasakan sentuhan hangat di keningnya. Dan harus kelabakan mendapati wajah Ki Bum benar-benar dekat. Lelaki ini, tengah menyatukan kening mereka. Dengan gusar kedua matanya bergerak menghindari tatapan yang kini tengah menghunus maniknya.

“K-kau—kau sedang apa?” Soo Rin tergagap, tentu saja. Di balik masker yang masih dikenakannya, mulut Soo Rin mengatup dengan begitu rapat begitu selesai mengucapkan pertanyaan itu. Dapat dia rasakan jantungnya mulai berdetak 2 bahkan 3 kali lebih cepat. Bagus sekali, di pagi hari yang cukup dingin ini, Soo Rin sudah merasakan jantungnya tengah berolahraga. Sangat bagus.

Tapi kenapa harus dengan cara ini?!

“Kim Ki—”

Ssh…”

Soo Rin harus kembali mengatup bibirnya. Desisan halus yang keluar dari bibir penuh itu membuat jantungnya bergemuruh layaknya gunung aktif yang ingin menyemburkan isinya. Hembusan napas hangat lelaki ini berhasil menerobos serat-serat benang pada masker yang dikenakan Soo Rin hingga masih mengenai permukaan kulit wajah di baliknya. Dan lagi, dia dapat merasakan ujung hidung lelaki ini menyentuh ujung hidung di balik maskernya. Bagus, ini sukses membuat Soo Rin kewalahan.

Ayolah, kenapa kedua kakinya sulit untuk digerakkan demi kembali membuat jarak dengan Kim Ki Bum?!

“Tutup matamu,” bisik Ki Bum dengan begitu halusnya. Membuat Soo Rin berdesir dan mau tidak mau menurut meski dia tidak mengerti untuk apa. Karena sungguh, Soo Rin sudah merasa kesulitan untuk berpikir lagi.

Tangan Ki Bum yang sempat digunakan untuk menyingkap poni Soo Rin terangkat, lalu bergerak dengan begitu pelannya menelusuri wajah Soo Rin. Dimulai dari pelipis, turun hingga ke pipi lalu menuju ke rahang yang masih dihalangi oleh masker itu. Meski tidak menyentuhnya secara langsung, tapi tangannya yang sempat menyentuh pelipis yang tak terhalangi oleh apapun telah sukses membuat Soo Rin berdesir hebat. Tidak sampai di situ, tangan kekar itu kembali bergerak menelusup ke balik rambut panjangnya, menuju ke balik telinga, lalu menyentuh cupingnya.

Tubuh Soo Rin menegang begitu merasakan sentuhan hangat itu pada telinganya. Kedua kelopak matanya yang mengatup itu tampak begitu rapat hingga menimbulkan beberapa kerutan. Di balik masker itu Soo Rin menggigit bibir bawahnya karena saking gugupnya. Sial, itu merupakan bagian sensitifnya dan lelaki ini dengan berani menyentuhnya! Apakah lelaki ini sedang menggodanya? Kurang ajar sekali kalu begitu.

Ki Bum menarik tali masker yang menggantung di daun telinga gadisnya itu dengan perlahan, lalu melepasnya begitu saja hingga masker itu terjatuh ke sisi lain dari wajah cantik itu dan menggantung di sana—begitu Ki Bum memberi sedikit celah karena sempat menghimpitnya. Hingga akhirnya, wajah gadisnya tak terhalangi apapun lagi. Dan dapat ia lihat kedua bibir itu mengatup dengan begitu rapatnya.

Soo Rin semakin sulit bernapas begitu merasakan sesuatu menyentuh ujung hidungnya. Bagaikan tersengat listrik bertegangan rendah, Soo Rin semakin berdesir hebat begitu tahu benda apa itu. Ujung hidung Ki Bum. Yang memberikan sengatan itu dengan menyatukan kedua hidung mereka seperti sebelumnya—kini tanpa halangan apapun. Bergesekan. Menciptakan percikan gejolak yang mulai menggelitik tubuh gadis ini. Bahkan dapat ia rasakan seolah gerombolan kupu-kupu tengah bertebaran di perutnya, merambat hingga ke kaki, yang kapan saja bisa membuatnya ambruk karena lemas!

Soo Rin tidak berani berbicara, apalagi membuka mata. Dia tahu pasti lelakinya ini benar-benar ada di dekatnya. Sangat dekat. Hembusan napas hangat yang sudah dengan jelasnya menerpa wajahnya benar-benar membuat jantungnya jumpalitan.

Sebenarnya apa yang sedang Kim Ki Bum lakukan padanya? Bukankah dia tahu sendiri bahwa Soo Rin sedang tidak fit? Dan bukankah perlakuannya ini membuat gadisnya ini semakin tidak fit?!

Sejenak saja, Soo Rin ingin bernapas dengan bebasnya. Dia sudah merasa pengap sejak Ki Bum memenjarakannya seperti ini!

Tidak berhenti sampai di situ. Tangan Ki Bum yang masih menggenggam lengan Soo Rin mulai bergerak turun, dengan begitu pelan—dengan seduktif—menelusuri tangan ramping di balik seragam itu. Dan semakin menjadi begitu berhasil menyentuh punggung tangan Soo Rin yang jelas tidak ditutupi oleh sehelai benang pun. Dapat dirasakan tangan itu semakin kaku begitu merasakan gesekan kulit hangatnya. Dengan penuh rasa, Ki Bum menelusupkan jemarinya ke jemari lentik Soo Rin, menautkannya, lalu menggenggamnya dengan begitu erat namun penuh kehangatan. Tangan lainnya yang masih bersembunyi di balik rambut panjang itu, kembali bergerak. Dan Ki Bum mengulas senyum begitu merasakan hawa di balik rambut panjang gadisnya ini telah memanas. Tidak seperti sebelumnya.

Bergerak turun, meraba leher yang sedikit terbuka karena tak terjangkau dengan kerah kemejanya. Langsung saja membuat Soo Rin merasa kembali disetrum hingga tubuhnya semakin kaku. Soo Rin sangat sadar bahwa ini adalah kali pertama Kim Ki Bum menyentuhnya seperti ini!

Sebenarnya apa yang sedang dilakukan lelaki ini?! Batin Soo Rin menjerit frustasi. Dia tidak bisa melawan. Sungguh!

Tak sampai di situ, tangan kekar itu terus bergerak menuju pundaknya, lalu turun menelusuri lengan hingga pergelangan tangannya—sama seperti sebelumnya—dengan seduktif. Tapi kemudian tangan itu menelusup ke belakang, menuju pinggang ramping itu, dan berhenti di situ dengan memeluknya. Merapatkan tubuh mereka.

Sungguh, Soo Rin merasa panas sekarang. Segala sentuhan perlahan yang diciptakan Ki Bum benar-benar membuat jantungnya berolahraga keras hingga terasa ingin mematahkan tulang rusuknya, seolah tengah menjerit meminta dibebaskan dari tempatnya sekarang juga karena begitu panas!

Soo Rin butuh bernapas. Benar-benar butuh bernapas. Keringat telah mengalir membasahi sisi wajahnya. Dia seperti habis berlari mengelilingi lapangan utama sekolah sebanyak lebih dari tiga putaran. Wajahnya memerah padam. Gadis ini seperti mati rasa, dia benar-benar tidak dapat berkutik lagi.

Dalam diam, Ki Bum mengembangkan senyum manisnya. Melihat dan merasakan reaksi yang dikeluarkan gadisnya ini begitu menarik. Sejak awal Ki Bum memulai aksi gilanya hingga sekarang, tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Dan pergerakan yang begitu intens dari kedua tangan Ki Bum sangat sukses membuat gadisnya telak tak berkutik.

Ini adalah kali pertama Ki Bum memperlakukan Soo Rin hingga sejauh ini. -__-

Menit demi menit berlalu dengan posisi mereka yang masih sama. Seolah tak ingin melepas Soo Rin dari pelukannya, Ki Bum memejamkan mata menikmati sensasi yang ia ciptakan sendiri. Tapi tahukah bahwa sebenarnya Ki Bum juga tengah menekan gejolaknya yang tengah meronta di benaknya? Sejak awal sebenarnya Ki Bum juga tersiksa melihat wajah cantik itu merona akibat perlakuannya. Ditambah jarak bibir yang tidak lebih dari 2 cm dari bibirnya sendiri itu bisa saja diraihnya dengan begitu mudah jika ia sudah tidak peduli dengan kondisi gadisnya saat ini.

Bel tanda kegiatan belajar mengajar berdering begitu nyaring. Memperingati siapa saja yang masih berkeliaran untuk segera masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Menyadarkan Ki Bum dari kenikmatan yang menghanyutkan. Ia juga merasakan hembusan napas gadis ini hampir menyamai detakan jarum jam—menandakan gadis ini mulai kesulitan untuk… menahan napas. Ki Bum memilih untuk mengalah, melepas penyatuan kening dan hidung mereka secara perlahan, membuat jarak, dengan mata yang terus tertuju pada wajah cantik yang sudah seperti kepiting rebus itu.

Sebelum sensasi itu berakhir, dengan gerakan cepat tapi tidak terburu-buru Ki Bum memberikan kecupan hangat pada tiga bagian di wajah gadisnya. Dimulai dari keningnya yang telah berkeringat, kemudian turun ke hidungnya, lalu turun lagi ke bibir manis itu sebagai penutup. Meski sebenarnya dia tidak ingin menyentuh bagian itu, tapi ternyata dia tidak bisa mengelaknya.

Tapi sentuhan di bagian bibir itu sukses membuat Soo Rin membuka mata dengan lebarnya. Kesadarannya kembali terkumpul hingga berhasil mendorong lelaki itu sekaligus melepas diri untuk menjauh. Lagi-lagi Kim Ki Bum berhasil mencuri ciumannya.

“Kau—apa yang telah kau lakukan padaku, huh?” Soo Rin masih terbata-bata mengucapkannya. Tangannya yang menuding lelaki itu terlihat sedikit gemetar.

“Bukankah sudah kubilang bahwa aku akan menyembuhkanmu?” balas Ki Bum dengan senyum penuh kemenangan.

“Menyembuhkan apanya?! Kau justru membuatku semakin sulit untuk sembuh!”

“Benarkah? Tapi aku ‘kan berhasil membuatmu berkeringat. Itu artinya kau akan segera sembuh.”

Soo Rin merasa jengkel melihat lelaki itu kini menyeringai. Kedua tangannya mengepal menahan rasa malu. Bagaimana bisa dirinya terbuai dengan segala perlakuan lelaki itu tadi?!

Byuntae (Mesum)!! Jangan pernah mendekatiku lagi!!” pekik Soo Rin sebelum berlari menuju pintu, kembali menuju kelas, meninggalkan Ki Bum yang sudah tergelak begitu puasnya.

Tapi, tunggu.

Ya! Tarik lagi ucapan terakhirmu itu!” seru Ki Bum sambil mengejar gadisnya itu.

Shirheo!!”

Ya, Soo Rin-ah!”

“Menjauh dariku!!”

Ya! Mana bisa begitu?!”

“Jangan mendekatiku sampai otak mesummu itu menghilang!”

Yaa, Park Soo Rin!!”

“Dasar Jenius Berotak Mesum!!”

Tapi pada kenyataannya Kim Ki Bum memang selalu berhasil membuat Park Soo Rin terbuai dengan segala perlakuannya. -__-

FIN


bahahahahahahah!! ini nista banget T____T

ini yg aku maksud (di fb) dengan cerita yg aku sendiri ngga nyangka bisa bikin momen macam ini ㅠ entah aku abis kesurupan apa hahahah ㅠㅠ

ini beneran muncul pas aku lagi sakit beberapa hari yg lalu. Lagi sakit imajinasiku malah ke mana-mana duhh -.- maaf banget buat Kim Ki Bum yg udah aku nistain di sini hahahahah

(Kibum: sejak awal gue juga udah dinistain keles….) :: ini #jleb Kibuuuuuumm!! T______T

udah, anggap aja ini selingan sebelum MFGnya kulanjutin lagi. Terima kasih sudah mampir~~><

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

24 thoughts on “Gonna Heal You

  1. Ye saya mampir lg xD , kalo Soo rin gkx mau di deketin Ki bum 0ppa, aku ajah yg gantiin xD #Plakkk

    keren… Aku bakal mampir lg, mau di yg p0st SJFF sama disini yah thor 🙂 Semangat

  2. ide ceritanya simple tapi karena kamu nyusun kata jadi kalimatnya jago makanya ff ini jadi sesuatu, tak membosankan hehe
    dtunggu ff selanjutnya 🙂

  3. Aaaa, ikut keringetan nih >.< Kalo baca ffmu bawaanya kek jadi Soorin. Daebak Thor 😀

    Uwooo, what the jenius berotak mesum?
    *plaak

    Soorin GWS ya 🙂

  4. rela sakit deh kalo disembuhinnya ama kibum oppa *tapi gak pake cara begituan* nyuahahaha bisa suffocation dadakan aku.. nice job eonni

  5. Aq ikutan panas dingin bacanya…duuh obat paling mujarab sepanjang sejarah xD
    eung…aq udah baca karya karya kamu tp gpp kan klo aq gk komen d tiap post, aq telat sih nemu wp ini. tp ntar aq bakal rajin komen d tiap post berikutnya 🙂

  6. hey kisoo! long time no read ur story… ><
    ya ampun kibumm, makin mesum drimu nak? sapa yg mmpngaruhimu syang? *kibum : authornya ma T.T

    wkwkwk, yaudah lah thor. ur story is good smua. Ga ada yg prlu dkomeni lbih lanjut hoho

  7. Aku jg tahan nafas sama sikapnya Kibum oppa yg suka bikin aku ikut berdebar…

    Ini ff bgs ceritanya kata2nya ringan mudah dimengerti…..

    Sukses terus buatmu thor….

  8. Kim kibum byuntae~~ wakakaaak mau juga kali jadi soorin 😆😆 entah pembawaan bahasa di setiap karyamu itu asik bgt dibacanya,, jadi kaya ngerasain langsung wkwkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s