Posted in Fiction, One Shot, PG-17, Romance, Special FF "My Favorite Girl"

My Favorite Girl – First

Genre: Romance, School Life
Rated: PG-17 (uhukk! -__-)
Length: One Shot

Who is He? | Meet Again | First

mfgFirst
This story comes from my absurd imagination~ seperti biasanya hehet! Dan untuk kali ini ceritanya begitu panjang….. Jadi mohon maaf jika membosankan >.< Let’s have a good time, together! Enjoy~^^ 

Typos masih bertebaran.__.

ㅡㅡ

Seorang gadis tengah memberikan sesuatu pada Soo Rin. Sebuah kartu undangan berbentuk persegi panjang, berwarna merah lembut, dengan bagian sampul tertulis dua buah nama beserta jenis acara. Soo Rin melebarkan mata, terkejut.

“Kalian benar-benar akan melaksanakannya?” tanya Soo Rin takjub.

Ham Eun Jung—gadis yang tengah menyodorkan sebuah kartu undangan pada Soo Rin tampak mengembangkan senyum manisnya sebelum mengangguk mantap. Lalu mengayunkan kartu undangan di tangannya yang belum juga diterima Soo Rin. Menyadarkan Soo Rin untuk segera mengambilnya.

Undangan Pertunangan

Kim Jong Jin & Ham Eun Jung

Soo Rin membuka halaman berikutnya yang ternyata menerterakan tempat pelaksanaan sekaligus waktunya. Dan Soo Rin harus melebarkan matanya lagi.

Saturday Night, April 18th 2015

09:00 PM

5-14 Hwayang-dong, Gwagjin-Gu, Seoul-shi. Mouse Rabbit Café.

“Sabtu ini?!” Eun Jung mengangguk mantap lagi. “Di— Mouse Rabbit Café?”

“Jong Jin Oppa yang menginginkan acara ini dilaksanakan di kafenya. Karena kakak-beradik itu juga ingin merayakan kesuksesan bisnis kafe tersebut. Tentu saja aku sangat menyambut rencananya yang sangat menguntungkan itu.” jelas Eun Jung sumringah. “Aku tidak mau mendengar alasan apapun, pokoknya kau harus datang. Mengerti?” Eun Jung menuding jari telunjuknya tepat di depan hidung Soo Rin. “Aku juga mengundang teman-temanmu, termasuk Jung Eun Ji. Ah, tentu saja dia diundang karena dia adalah saudara sepupu Jong Jin Oppa.” Eun Jung menampakkan senyum manisnya lagi.

“Bukan begitu. Hanya saja—” Soo Rin menggantung kalimatnya melihat raut wajah Eun Jung berubah, dengan kedua mata memicing. “A—apakah ini tidak terlalu cepat? Bukankah, kalian baru bisa bertunangan setelah kau lulus sekolah?” kini Soo Rin melanjutkan dengan hati-hati.

“Memang terlalu cepat, tapi karena kami sudah merasa mantap sudah saatnya kami mengikat diri. Yah, karena aku masih bersekolah jadi kami memilih untuk bertunangan terlebih dahulu. Aku rasa tidak ada larangan murid Menengah Atas bertunangan. Mungkin begitu aku sudah menginjak jadi mahasiswi, kami akan segera menikah.” Eun Jung kembali menguarkan raut cerianya.

Soo Rin kembali menatap Eun Jung dengan takjub. Gadis di hadapannya terlihat begitu bahagia mengenai hal ini. Bahkan ia dapat melihat sisi lain dari Eun Jung—gadis itu menjadi tampak dewasa. Seketika batinnya merapal doa, semoga pasangan ini benar-benar diberkati. Karena Soo Rin tidak bisa membayangkan jika seandainya kebahagiaan ini berhenti di tengah jalan. Tidak tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Jangan sampai!

“Kau harus dandan yang cantik, Soo Rin-sshi!” tuntut Eun Jung kemudian. “Dan aku akan memberikan pelayanan spesial untukmu nanti.”

“Apa? Pe-pelayanan spesial?” Soo Rin tergagap.

Eun Jung mengangguk. “Karena apa yang kudengar dari Jung Eun Ji adalah dirimu yang tidak bisa feminim.” Eun Jung menekankan kata terakhirnya. “Karena itu, sepulang sekolah nanti, kau harus ikut dengan kami. Mengerti?”

“Ta-tapi—”

“Tidak ada penolakan, Soo Rin-sshi! Aku ingin kau tampil sempurna seperti yang lainnya. Meski kau sudah terlihat cantik tapi aku tidak mau dirimu terlihat redup di acaraku nanti.” Eun Jung kembali menuding telunjuknya di depan wajah Soo Rin hingga gadis itu terpaksa sedikit memundurkan kepalanya.

Ham Eun Jung… kenapa dia semangat sekali? Pikir Soo Rin heran.

****

:: Myeong-dong

“Tunggu, Eun Jung-sshi!”

Soo Rin menahan tarikan Eun Jung dengan menghentikan langkah secara paksa. Mereka baru saja sampai di distrik pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di Seoul. Surga belanja dan pusat fashion yang sangat dikenal kalangan wisata mancanegara. Aneka item produk lokal hingga bermerk internasional ada di sini. Myeong-dong juga merupakan tempat berdirinya beberapa department store dan shopping centre besar, seperti: Lotte Department Store, M Plaza, Noon Square, dan masih banyak lagi. Bahkan aneka merchandise dan aneka CD tersedia di distrik ini. Benar-benar surga perbelanjaan.

“Kenapa? Ayo kita masuk!” Eun Jung kembali menarik pergelangan tangan Soo Rin. Saat ini mereka sudah berdiri di depan salah satu butik.

“Aku rasa tempat ini terlalu mewah untukku. Tidak bisakah kita ke tempat lain saja?” Soo Rin berkata lamat-lamat. Sungguh, dia merasa butik di hadapannya sekarang ini terlihat cukup glamour dan sepertinya tidak akan sesuai untuknya. Lagipula, mengapa Eun Jung dengan relanya mengajak dirinya ke tempat yang jelas-jelas berkelas menengah ke atas seperti Myeong-dong?

“Tidak bisa, Soo Rin-sshi. Sejak awal tujuan kami adalah kemari. Tenang saja, kau tidak perlu memikirkan apapun dan biarkan kami yang melakukan ini semua. Mengerti?” jawab Eun Jung lugas.

“Tapi—”

Eonni, kami melakukan ini demi Eonni dan Ah Reum Eonni. Dan aku ingin kalian menerima pemberian kami ini, hum?” tiba-tiba Sae Hee menyahut. Yah, sebenarnya sejak awal tidak hanya Soo Rin dan Eun Jung yang pergi. Tapi Sae Hee bersama Ah Reum.

“Tapi, tempat ini terlihat begitu mahal,” gumam Ah Reum akhirnya. Setelah dirinya menelusuri segala penjuru distrik yang terjangkau pandangannya, Ah Reum begitu terkagum-kagum sekaligus minder. Sudah pasti pusat perbelanjaan terkenal ini menyediakan barang-barang berkualitas yang tentunya berharga mahal.

“Sudah kukatakan, jangan memikirkan apapun. Serahkan semuanya padaku!” Eun Jung kembali meyakinkan sebelum akhirnya menarik Soo Rin kembali serta mengajak yang lainnya untuk mengikuti.

Kaja, Eonni!” ajak Sae Hee sembari menarik pergelangan tangan Ah Reum dengan antusias.

.

Menit-menit berlalu seiring dengan sibuknya mereka mencari gaun yang pas untuk diri mereka. Sebenarnya, Eun Jung lah yang tampak lebih sibuk memilah-milah deretan gaun yang bergantung rapih. Dibantu dengan Sae Hee yang sesekali mencocokkan gaun yang didapatnya pada tubuh Ah Reum maupun Soo Rin.

“Warnanya terlalu mencolok.”

“Itu terlalu mewah.”

“Ah, corak itu terlalu berlebihan untuk Eonni.”

“Bagian bahunya terlalu terbuka. Kurang pantas dengan gaun itu sendiri.”

Ough, itu terlalu seksi.”

Dan berbagai komentar lainnya yang keluar dari mulut Eun Jung maupun Sae Hee setiap Ah Reum mengganti beberapa gaun pilihan mereka sendiri. Sampai-sampai sang model merasa jenuh mondar-mandir menuju kamar pas untuk berganti.

Eonni, kenapa tidak ikut mencoba? Ini, coba pakai yang ini.” Sae Hee menyodorkan sebuah gaun berwarna pink pilihannya pada Soo Rin. “Ini warna kesukaan Eonni, bukan? Dan aku rasa ini sangat cocok untuk Eonni.” Lanjut Sae Hee sumringah.

Begitu Soo Rin menerimanya, Sae Hee segera menuntunnya untuk segera masuk ke dalam kamar pas yang masih kosong di sebelah tempat Ah Reum. Eun Jung mengangkat sebelah tangannya sekaligus mengacungkan ibu jarinya pada Sae Hee. Gadis itu membalas dengan membuat lingkaran menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya sekaligus mengedipkan sebelah mata.

Tak lama kemudian Ah Reum keluar dari tempat persembunyiannya dengan gaun yang berbeda lagi. Kini keduanya tampak kagum dengan mata berbinar melihat penampilan Ah Reum. Dress di atas lutut berwarna lembut paduan dari soft pink dan putih dengan bagian pinggang hingga ke bawah berkerut samar serta bagian perut dihiasi semacam pita berwarna pink mengitari. Sangat cocok di tubuh Ah Reum. tumblr_mkxht4vsSR1sn4typo1_2501

Beautiful…” gumam Sae Hee tanpa sadar.

“Terlihat sederhana tetapi mampu menambah kadar kecantikanmu. Johayo, Ah Reum-sshi!” seru Eun Jung tampak berbinar. “Kita ambil yang ini!” serunya lagi.

“Benarkah? Aah, secara pribadi aku juga menyukai yang ini.” Ah Reum menampakkan senyum manisnya. “Benar kita ambil yang ini?”

“Apalagi kau menyukainya, tentu saja kita ambil!” tandas Eun Jung. “Cah, kita hanya tinggal menunggu Soo Rin-sshi.”

Eonni sudah mengenakannya?” tanya Sae Hee yang masih berdiri di samping pintu kamar pas Soo Rin.

“Sudah, tapi…” terdengar Soo Rin menggantungkan kalimatnya.

“Ada apa? Coba tunjukkan pada kami,” pinta Sae Hee.

Detik kemudian pintu kamar pas itu terbuka, menampakkan sosok yang tengah mereka tunggu. Seketika ketiganya melebarkan mata melihat penampilan gadis itu. Rasanya, baru kali ini mereka melihat dirinya berpenampilan seperti itu.

“A-apakah ini tidak terlalu pendek? Aku rasa bagian roknya terlalu menampakkan bagian atas lututku,” keluh Soo Rin sambil menarik-narik ujung gaun agar lebih menutupi bagian pahanya yang sebenarnya hanya terekspos sedikit. Tidak sampai 15 cm panjangnya._.

“Aku rasa itu setara dengan rok seragam sekolah kita,” sahut Eun Jung sembari mendekati Soo Rin. Kemudian tangannya menjelajah, meraba bagian pundak Soo Rin yang tertutup.

Sebenarnya gaun itu bermodelkan tanpa lengan, tapi karena dihiasi dengan kain berlipat yang menjuntai hingga mendekati pinggang, kain itu menutupi sedikit lengan bagian atasnya. Bahkan gaun tersebut tidak dihiasi corak apapun, berwarna merah muda secara keseluruhan hingga sabuk yang melingkar bagian perutnya. Polos. Tapi begitu anggun. Sangat cocok dikenakan oleh Soo Rin.

“Kita ambil yang ini!” cetus Eun Jung akhirnya.

“Ini?” Soo Rin menunjuk gaun yang dikenakannya. “Tapi ini—”

Eonni sangat pantas dengan gaun itu,” potong Sae Hee.

Yeppeuda (Cantik)!” sambung Ah Reum sambil mangacungkan ibu jarinya.

“Sesekali keluarlah dari zona aman, Soo Rin-sshi,” tegur Eun Jung kalem. “Cah! Gantilah dengan seragam kalian, aku akan membayar keduanya. Setelah itu kita mencari sepatu dan juga tas!”

NE?!” seru Soo Rin dan Ah Reum bersamaan.

Sebenarnya siapa yang akan menjadi tokoh utama dalam acara pertunangan nanti? -__-

****

D-Day

Eonni!”

Soo Rin menghentikan kegiatan membereskan buku-bukunya dan memilih untuk menoleh. Mendapati Sae Hee yang melenggang masuk ke dalam kelasnya dan mendekatinya.

“Hari ini aku mampir ke rumah Eonni!”

“Apa?” Soo Rin melebarkan matanya. “Kenapa? Kau ingin bertemu dengan Henry?”

ANI (Tidak)!! Siapa juga yang ingin melihatnya?” elak Sae Hee dengan cepat tapi kemudian tangannya bergerak membekap mulutnya. Menyadari kata-katanya bisa saja menyinggung Soo Rin yang statusnya merupakan saudara sepupu Henry. Tapi melihat Soo Rin yang justru sedikit mengulas senyum simpul, Sae Hee mengerucutkan bibir. “Bukan itu. Tapi aku ada perlu dengan Eonni.”

“Aku?”

Sae Hee mengangkat tasnya. Menepuk bagian luar tas itu dengan senyum penuh arti. “Eun Ji Eonni mengatakan padaku bahwa Eonni tidak bisa berdandan. Jadi aku harus turun tangan.”

“Apa?!”

Oppa, aku pinjam kekasihmu! Jangan lupa pukul delapan nanti, okay?” Sae Hee menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya sekaligus mengacungkannya. Sebelum kemudian beralih membereskan peralatan belajar Soo Rin sebelum menarik gadis itu keluar dari kelas.

“Tunggu—Sae Hee-sshi!” Soo Rin sedikit kewalahan. Pandangannya sempat beralih pada lelaki yang masih duduk di tempatnya.

Ki Bum—lelaki itu hanya melempar senyum simpulnya melihat tingkah keduanya.

****

“Aku pulang!”

“Selamat datang, Noo—” Henry yang dengan segera berlari dari ruang tengah menuju pintu utama rumah, menghentikan seruannya yang belum selesai begitu saja. Melihat saudara sepupunya itu datang tidak sendiri. “Kenapa kau kemari?” sambut Henry pada Sae Hee. Terdengar tidak bersahabat.

“Tidak boleh?” balas Sae Hee cuek. Sebenarnya dirinya sedang menyembunyikan rasa malu mengingat kejadian yang menimpanya minggu lalu, dengan lelaki itu.

Miss me?” goda Henry kemudian. Sepertinya bocah ini tahu apa yang ada di pikiran Sae Hee saat ini. Langsung saja Henry mendapat pelototan gratis dari gadis itu. Tapi justru Henry menjadi-jadi. “Aah, ternyata benar. Apa yang kau rindukan dariku? Mengataiku? Lakukan saja. Aku akan memberi hadiah special untukmu setelahnya,” ujarnya dengan kerlingan nakal.

Langsung saja wajah Sae Hee merona. Dia tahu betul hadiah special yang dimaksud oleh bocah itu. Batinnya langsung mengumpat tak karuan, bahkan kata Bakpao tidak terlewatkan. Andaikan hadiah special itu tidak ada sudah dipastikan Sae Hee akan menyemprot bocah itu dengan umpatan mengandung kata Bakpaonya. Tak peduli jika bocah itu merupakan sang tuan rumah di sini.

“Jika kalian ingin melepas rindu, lebih baik jangan di depan pintu seperti ini. Duduklah di sana. Aku akan mengambilkan minuman untuk Sae Hee.” Soo Rin menengahi sambil melengos pergi meninggalkan mereka ke dalam.

Noona!!”

Eonni!!”

Tanpa sadar mereka berseru secara bersamaan. Sedangkan Soo Rin hanya terkekeh geli tanpa suara, tanpa menoleh ke belakang.

.

.

Eonni.”

Hm?”

“Kenapa sepupu Eonni itu belum kembali ke tempat asalnya?”

“Apa?”

“Ah, Eonni, ini belum selesai.”

“Aah, maaf.” Soo Rin kembali menutup matanya. Sedikit terheran mendengar pertanyaan Sae Hee hingga tanpa sadar dirinya membuka kelopak matanya. Padahal Sae Hee masih berkutat menghiasi kelopak matanya, membubuhinya dengan eye shadow tipis. Yah, Soo Rin tengah didandani oleh Sae Hee saat ini.

“Bukan apa-apa. Hanya saja, apakah dia tidak memikirkan sekolahnya? Ataukah dia tidak bersekolah?”

“Henry bilang bahwa dia tengah menjalankan waktu liburan sekolah. Dan ibuku memintanya untuk menghabiskan waktu liburannya di sini.”

“Begitu? Lalu kapan dia akan kembali?”

“Entahlah. Dia tidak memberitahuku.” Soo Rin sedikit mengerutkan keningnya. “Kau ingin dia segera kembali?”

“Um… bukan seperti itu. Hanya, aku mengira dia sedang membolos sekolah.” Sae Hee memperhatikan hasil karyanya. Sejenak dirinya meminta Soo Rin untuk membuka matanya lalu tersenyum puas melihat hasilnya. Tidak mencolok dan cukup menambah kadar kecantikan gadis di hadapannya.

“Kau akan merindukannya?”

Seketika Sae Hee menghilangkan senyumnya. “Ti-tidak! Tidak akan!”

Dan Soo Rin mulai memajukan bibir bawahnya. “Mungkin kau harus mengantarnya ke bandara ketika dia akan pulang, Sae Hee-sshi.”

“Aku? Kenapa aku? Memangnya aku siapa baginya?” Sae Hee terlihat mulai salah tingkah. Pandangannya beralih pada peralatan kosmetiknya, yang justru menundukkan wajahnya, karena memang itu tujuannya selain ingin mengambil alat kosmetik selanjutnya.

Tanpa Sae Hee ketahui, Soo Rin mengembangkan senyum melihat tingkahnya. Kemudian tangannya bergerak mengambil cermin bulat di sebelahnya demi melihat kondisi wajahnya saat ini. Tapi belum sempat dirinya melihat wajah sendiri, Sae Hee sudah menghentikan niatnya terlebih dahulu.

Eonni tidak boleh melihatnya karena ini belum selesai!” Sae Hee segera merebut cermin itu lalu menyembunyikannya di balik tubuhnya.

“Wajahku tidak berubah, ‘kan?”

“Tentu saja berubah. Menjadi cantik,” jawab Sae Hee dengan santainya. Tak peduli bila raut wajah Soo Rin telah berubah khawatir. “Tenang saja, Eonni. Serahkan semuanya padaku. Aku tidak mungkin membuat wajah Eonni menjadi jelek. Aku tidak mau ditegur oleh Ki Bum Oppa nanti,” lanjutnya sambil mengedikkan bahu.

Soo Rin tertegun mendengar perkataan Sae Hee. Tunggu, ditegur Ki Bum? Apakah itu artinya Ki Bum akan melihat penampilan barunya ini, nanti?

“Astaga, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?” desis Soo Rin.

Wae, Eonni?” Sae Hee yang hendak membubuhi blush on pada pipi Soo Rin terpaksa berhenti.

“Aa—tidak…” tiba-tiba saja Soo Rin tergagap, membuat Sae Hee harus mengernyit.

Astaga, bagaimana bisa dia tidak menyadari? Ini merupakan acara pertunangan Eun Jung dan Jong Jin. Jelas saja kerabat-kerabat dekat Eun Jung maupun Jong Jin diundang. Termasuk Kim Ki Bum yang merupakan saudara sepupu dari Kim Jong Jin!

****

Ting tong

“Biarkan aku yang membukanya!” seru Henry sambil mendahului Nyonya Park yang hendak membukakan pintu. Membuat beliau menggelengkan kepala melihat tingkah keponakannya itu. Sejak tinggal di sini bocah itu yang selalu membukakan pintu jika ada yang menekan bel gerbang, atau menyambut anggota keluarga Park yang pulang dari bepergian.

Sebelumnya Henry memeriksa layar intercom dan melihat seseorang telah berdiri di depan pintu gerbang rumah. Henry memicing. “Kenapa lelaki itu datang kemari?” gumamnya.

Tapi akhirnya dirinya beranjak untuk membukakan gerbang. Mungkin dia ingin menjemput adiknya yang masih bermain di kamar noona-nya itu, pikirnya.

Begitu Henry membuka gerbang, langsung saja mereka saling pandang. Henry dengan tatapan datarnya, dan Ki Bum yang sedikit tertegun hanya mengangkat kedua alisnya. Ternyata bocah ini masih menetap di rumah Soo Rin, pikirnya kemudian.

“Kau mau menjemput adikmu? Dia ada di kamar Noona. Akan aku panggilkan.”

“Juga menjemput Noona-mu.”

Henry yang baru ingin berbalik terpaksa mengurung niatnya. Keningnya berkerut jelas. Menjemput Soo Rin? Apakah dia tidak salah dengar?

“Kau tidak tahu?” kini Ki Bum mengangkat sebelah alisnya, sedikit heran. Kenapa lelaki di depannya tidak tahu?

.

.
Dok dok dok

Noonaaaa!”

“Tunggu sebentar!”

Henry sedikit mengerucutkan bibir. Kenapa bukan noona-nya yang menjawab? Justru gadis menyebalkan itu yang menjawab. Ke mana noona-nya?

Begitu pintu kamar Soo Rin terbuka dan menampakkan sosok yang ternyata bukan noona-nya itu, Henry tertegun. Bukankah yang ada di kamar ini adalah Soo Rin dan Sae Hee? Kenapa ada orang asing? Bahkan orang asing ini yang membukakan pintu kamar Soo Rin.

Tunggu. Dia bukan orang asing, tapi dia adalah Kim Sae Hee!

Henry melongo hebat melihat penampilan Sae Hee yang berbeda dari sebelum ia lihat terakhir tadi sore. Gaun polos tanpa lengan berwarna krem dengan panjang hingga di atas lutut dengan bagian dada menjuntai seperti sebuah tirai hingga atas perutnya, sedikit dihiasi sebuah pita berwaran biru langit sebagai sabuk yang melingkari perutnya. Ditambah rambut pirangnya yang biasa dikuncir atau tergerai lurus kini berubah menjadi bergelombang, tak terkecuali bagian poninya. Memberikan kesan yang begitu anggun bagaikan bidadari! 3b03238e8c49c512dd1c4f141e8c9212

Nuguya (Siapa)?” gumam Henry tanpa sadar. Mata sipitnya yang tengah membulat tanpa mengerjap meneliti Sae Hee dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ough! Kau tidak mengenaliku? Aku Kim Sae Hee! Dasar wajah Bak—” Sae Hee segera membekap mulutnya. Hampir saja dirinya mengeluarkan kata Bakpao di hadapan Henry. Jika tidak, hadiah spesial—mengerikan baginya—itu akan dia dapatkan.

Tapi sepertinya Henry tidak menghiraukannya, buktinya saat ini dirinya masih ‘menelanjangi’ Sae Hee dengan kedua mata sipitnya yang membulat itu. Yang semakin lama membuat Sae Hee merasa risih hingga dengan beraninya ia menoyor kening putih milih bocah itu hingga sang empu mengerjap kaget.

“Aku bukan hantu, bodoh!”

“Apakah aku mengatakan seperti itu?”

“Tapi caramu melihatku seperti tengah melihat hantu.”

“Apakah aku akan memelototimu jika kau adalah hantu? Justru aku akan mendepakmu karena dengan beraninya bergentayangan di kamar noona-ku.”

Ya! Sebenarnya apa tujuanmu kemari, huh?!” Sae Hee mulai merasa kesal. Berdebat dengan Lelaki Bakpao tidak akan ada habisnya.

“Ish…” Henry mengerucutkan bibir. Kenapa dirinya menjadi merasa bahwa gadis di depannya ini adalah sang tuan rumah? Menyebalkan. “Oppa-mu sudah datang!”

“Benarkah?” Sae Hee tertegun. “Eonni, waktunya berangkat!” serunya sambil kembali masuk ke dalam kamar.

“Tunggu, aku tidak bisa memakai ini,” keluh Soo Rin dari dalam. Henry yang masih berdiri di depan pintu kamar Soo Rin yang terbuka akhirnya masuk. Dia mulai penasaran. Memangnya berangkat ke mana? Apakah noona-nya akan pergi ke suatu tempat malam ini? Bersama Kim Bersaudara itu?

Dan Henry harus melongo hebat lagi begitu melihat penampilan Soo Rin yang berbeda dari biasanya. Gaun pink yang melekat pas di tubuh rampingnya, serta rambut panjangnya yang diikat rendah dan menyelampir di bahu kirinya, poninya yang biasa menjuntai kini tersingkap hingga menampakkan dahi putih nan mulusnya. Benar-benar cantik dan anggun. 1_500

Eonni hanya belum terbiasa. Aku akan menuntun Eonni sampai bawah. Ayo! Ki Bum Oppa sudah menunggu di bawah!”

“Apa? Kim Ki Bum datang kemari?!” Soo Rin melebarkan mata, terkejut. Seketika pandangannya beralih pada Henry yang sudah berdiri tak jauh di hadapannya. Masih dengan raut wajah yang sama. “Henry-ah, Kim Ki Bum benar-benar datang?”

“Eh? Ah—iya…” Henry menjawab lamat-lamat. Dia masih terkesima dengan pemandangan di hadapannya. Bagaimana bisa dua gadis ini berubah dengan begitu drastisnya?

“Ayo, Eonni!” ajak Sae Hee lagi sambil menuntun Soo Rin untuk berdiri.

“Tapi, tunggu, hak sepatu ini terlalu tinggi.” Soo Rin tampak kaku berdiri. Dia memang tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi. Selama ini dirinya merasa nyaman menggunakan sepatu selop atau pantofel yang hanya berhak setinggi 1 cm._.

“Sebenarnya kalian ingin pergi ke mana?” akhirnya Henry mengemukakan rasa keingintahuannya. Sebelumnya Ki Bum hanya memberi tahu bahwa mereka akan pergi ke sebuah pesta, tidak detil.

“Acara pertunangan kakak sepupuku bersama teman Soo Rin Eonni,” jawab Sae Hee sekenanya.

Huh?” Henry melongo lagi. “Teman Noona? Teman Noona sudah bertunangan?!”

“Akan bertunangan,” ralat Soo Rin.

Daebak…” gumam Henry takjub. Bagaimana bisa orang yang masih duduk di bangku Menengah Atas sudah mau bertunangan?

“Henry-ah, bisakah kau menuntunku?” pinta Soo Rin tiba-tiba dengan memasang wajah memelas.

Eo-eoh… geurae,” kabul Henry yang segera meraih sebelah tangan Soo Rin yang sempat terulur kepadanya. Noona-nya ini benar-benar tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi.

“Aku akan menemui Oppa-ku terlebih dahulu,” pamit Sae Hee sebelum keluar dari kamar.

Henry mulai menuntun Soo Rin keluar kamar. Setelah diamati baik-baik, sepertinya ada yang familiar dengan gaun yang dikenakan Soo Rin saat ini. Tapi apa? Coraknya? Tapi gaun itu polos. Lalu, modelnya? Yah, modelnya memang out of her character. Sangat feminim, tapi sepertinya bukan karena itu juga. Lalu apa? Warnanya? Ah, itu memang warna kesukaan Soo Rin.

Tunggu. Warnanya?

Warnanya…

Warnanya!

“Ah, itu dia!”

Dapat didengar seruan Sae Hee begitu Henry dan Soo Rin masuk ke area ruang tamu. Tapi sejurus kemudian Soo Rin bersembunyi di balik tubuh tegap Henry begitu pandangannya menangkap sosok Ki Bum yang telah berdiri dari sofa yang tampak nyaman itu. Sudah dipastikan lelaki itu tengah menatapnya sekarang.

Eii, Eonni kenapa bersembunyi?” goda Sae Hee melihat tingkah gadis itu.

Aigo… sejak kapan putri ibu menjadi sangat cantik seperti ini, eo?” sambut Nyonya Park yang sedari tadi menemani Ki Bum, melangkah mendekati Soo Rin lalu menuntunnya untuk keluar dari persembunyian—balik punggung Henry.

Oppa, bagaimana hasil dandananku terhadap Eonni? Memuaskan, bukan?” tanya Sae Hee dengan bangga. Membuat Ki Bum mendengus dan terkekeh, sebelah tangannya mengusap tengkuknya. Dia mulai salah tingkah. Tahukah bahwa sedari tadi Ki Bum tidak bisa melepas perhatiannya dari gadis bergaun pink itu? Begitu sosok itu menapak lantai bawah, lelaki itu segera menyambutnya dengan mata teduhnya tersebut.

Aigo, apakah kalian sudah melakukan suatu perjanjian sebelumnya? Kalian begitu serasi malam ini,” goda Nyonya Park sambil memandang Soo Rin dan Ki Bum bergantian.

“Ah! Itu dia!!” Henry berseru sembari menjentikkan jari. Dugaannya memang tepat sasaran.

Ki Bum mengenakan setelan jas berwarna merah muda dengan dipadukan blazer V-neck berwarna senada di dalamnya, dipadukan lagi dengan celana panjang berwarna biru gelap. Merah muda, sama dengan warna gaun yang dikenakan Soo Rin! kim

Soo Rin harus menyembunyikan wajahnya, menunduk begitu dalam. Dia benar-benar tidak percaya diri dengan penampilannya. Apalagi melihat Ki Bum yang kembali melepas kacamatanya tampak begitu tampan malam ini. Ditambah mata teduh itu selalu mengarah kepadanya, sudah cukup membuat jantungnya berolahraga malam saat ini. Dan lagi, kenapa Kim Ki Bum mengenakan pakaian berwarna yang sama dengan gaunnya?!

“Pilihanku yang terbaik, bukan?” bisik Sae Hee pada Ki Bum. Kemudian terkikik geli melihat ekspresi kakaknya itu berubah. Memang sejak kemarin Sae Hee terus-menerus membujuk Ki Bum untuk mengenakan setelan pilihannya itu. Karena, dia memang menginginkan adanya momen ini.

Jadi ini tujuan adiknya memaksa dirinya mengenakan setelan berwarna pink ini. Ki Bum merasa gemas dengan adiknya sekarang.

****

:: Saturday Night at Mouse Rabbit Café – Seoul-shi, Gwagjin-Gu, Hwayang-dong 5-14.

Suara tepukan riuh mulai menggema di setiap sudut ruangan lantai teratas kafe ini, begitu Eun Jung dan Jong Jin berhasil menyematkan cincin di jari manis sebelah kiri masing-masing. Ditambah dengan sorakan ucapan selamat dari para kerabat yang diundang dalam acara ini.

Ppoppohae (Cium)!!” seru salah satu dari mereka hingga merambat ke lainnya dan berubah menjadi sorakan riuh.

Eii, ini bukan pernikahan!” balas Jong Jin tidak terima. Meski wajah tampannya itu terhiaskan dengan raut bahagia.

Ppoppohae! Ppoppohae!” seru mereka tidak peduli. Hingga akhirnya Eun Jung beraksi lebih dahulu dengan mengecup sebelah pipi Jong Jin. Dan mereka mulai bertepuk tangan semakin riuh. Merasa gemas dengan kelakuan tunangannya yang sudah mencuri start-nya, Jong Jin membalas dengan mengecup bibir Eun Jung. Seketika lantai dua berubah menjadi gaduh. -__-

Suasana pesta baru kembali stabil beberapa menit kemudian. Satu persatu tamu undangan bergantian mengucapkan selamat pada pasangan yang baru resmi bertunangan itu sembari menikmati hidangan yang disediakan dari kafe itu sendiri. Tampak Soo Rin tengah berbincang-bincang dengan Eun Ji dan juga Ah Reum. Sedangkan Ki Bum memilih untuk berkumpul bersama Jong Woon, Tae Yong dan Tae Min yang turut diundang.

“Ki Bum-ah, bagaimana rasanya melihat penampilan Soo Rin yang sekarang, hm?” Jong Woon menyenggol lengan Ki Bum. Baru saja lelaki itu menenggak minumannya. “Ini pertama kalinya aku melihat Soo Rin yang begitu anggun seperti sekarang ini,” lanjutnya sambil terkekeh.

“Haruskah aku menjelaskannya?” Ki Bum memicing, yang malah mendapatkan sebuah cengiran andalan dari Jong Woon dan sebuah senggolan kembali.

“Selama aku mengenalnya, dia tidak pernah mau berpenampilan seperti itu sebelumnya,” sahut Tae Yong sambil berdecak kagum. “Dia terlihat cantik sekali,” lanjutnya.

Eii, kau telah mengaktifkan alarm siaga, Tae Yong-ah. Bersiaplah mendapatkan hadiah dari Kim Ki Bum.” Tae Min terkekeh geli. Melihat ekspresi Ki Bum yang sedikit berubah begitu mendengar kalimat terakhir Tae Yong cukup menggelitiknya. Sedangkan Tae Yong segera menampakkan cengiran lebarnya sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah sebagai bentuk damai.

“Tapi, apakah kalian sudah melakukan perjanjian sebelumnya? Kalian sangat serasi malam ini,” goda Jong Woon kemudian.

“Itu dia yang aku pikirkan sejak tadi!” seru Tae Min sambil terkekeh. “Yaa, kalian akan menjadi pasangan terbaik malam ini!” godanya kemudian.

Best Couple. Pinky Couple.” Tae Yong mengikuti jejak keduanya. Detik kemudian mereka tertawa untuk Ki Bum. Bahkan Tae Yong bersama Tae Min melakukan high five dengan antusiasnya, bagaikan baru saja memenangkan suatu perlombaan.

Sedangkan Ki Bum hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka yang dengan bebasnya menggodanya. Menenggak minumannya sambil mengalihkan pandangannya pada sosok yang tengah mengumbar tawa cerianya di tengah-tengah teman-temannya. Seulas senyum samar menghiasi bibirnya yang tengah menenggak minuman tanpa alcohol itu, dan membiarkan matanya yang tersenyum lebih lebar. Benar, Soo Rin—gadisnya—memang sangat cantik malam ini.

.

.

Soo Rin melangkah menuju lantai bawah. Dirinya ingin menuju ke toilet karena toilet di lantai atas tengah dipakai. Dengan tertatih-tatih dan sangat berhati-hati dirinya menuruni tangga, dia benar-benar kesulitan mengenakan sepatu berhak tinggi ini. Tapi karena terburu-buru, begitu dirinya hampir sampai pada pintu toilet tanpa sadar langkahnya dipercepat dan karena dirinya memang tidak terbiasa, secara tidak sengaja dirinya menyakiti kakinya sendiri. Pergelangan kakinya tertekuk hingga menyebabkan tubuhnya hampir terjatuh jika Soo Rin tidak segera merapatkan tubuhnya pada dinding.

Begitu menyelesaikan urusannya di toilet, Soo Rin tidak langsung kembali ke lantai atas melainkan memilih untuk duduk di salah satu kursi di lantai bawah yang saat ini tengah sepi pengunjung karena tengah disewa untuk acara pertunangan sang pemilik kafe, ditambah acara berpusat di lantai atas. Soo Rin melepas sebelah sepatunya lalu meringis melihat bagian mata kakinya memerah akibat kejadian tadi.

“Sepertinya aku memang tidak cocok mengenakan sepatu semacam ini,” gerutunya sambil melepas sebelahnya laki, membiarkan kakinya bernapas sejenak. Bahkan kaki lainnya tampak sedikit memerah. Dengan hati-hati Soo Rin mencoba mengurut pergelangan kakinya yang terkilir itu.

Awalnya Soo Rin tidak mempedulikan sekelilingnya, tapi menyadari seseorang tengah mendekatinya kemudian berjongkok di depannya terpaksa membuat dirinya menghentikan kegiatan mengurutnya. Dan Soo Rin harus terkejut mendapati siapa orang yang kini tengah mendengakkan kepala demi menatapnya. Seseorang dengan setelan jas berwarna senada dengannya.

Tanpa mengeluarkan patah kata, Ki Bum segera menunduk memeriksa pergelangan kaki Soo Rin. Tanpa gadis itu sadari sejak awal, Ki Bum membawa selembar handuk basah dan mengompreskannya pada bagian mata kaki gadis itu, dengan hati-hati. Seketika membuat Soo Rin terheran, sejak kapan lelaki itu mempersiapkannya?

Sambil terus memeganginya agar tidak terlepas, Ki Bum kembali mendengakkan kepala demi menatap wajah cantik itu kembali. “Apakah terasa begitu sakit?”

Dengan cepat Soo Rin menggeleng, tapi detik kemudian ia tersadar. “Maksudku, sedikit…” lirihnya. Membuat lelaki itu tersenyum sebelum tangannya mulai bergerak memijat hati-hati. Entah menyadarinya atau tidak, Soo Rin tampak merintih dalam diam begitu Ki Bum menyentuh titik sakitnya.

“Sepertinya setelah ini kau tidak bisa mengenakan sepatu ini lagi,” gumam Ki Bum sambil mendengak lagi. “Kau harus bertelanjang kaki sampai pulang nanti,” lanjutnya tersirat mengejek.

“Sepertinya itu akan lebih baik,” balas Soo Rin pelan. Membuat Ki Bum terkekeh mendengar jawaban tak terduga itu.

“Kim Ki Bum, aku tidak tahu bahwa kau bisa menyetir.” Tiba-tiba Soo Rin mengubah topik pembicaraan. Mengingat lelaki ini menjemputnya dan Sae Hee dengan mengendarai mobil pribadi tadi.

“Aku sudah bisa melakukannya sejak masih duduk di bangku Menengah Pertama.”

“Benarkah?”

Eum. Aku sering mengendarai mobil ketika di California dulu.”

Woah, kau sudah menjadi anak nakal rupanya.”

Ki Bum terkekeh lagi mendengar celetukan Soo Rin. “Itu banyak terjadi di sana, Soo Rin-ah,” balasnya kemudian.

“Tapi kau sudah menyetir tanpa izin. Apa kau sudah memiliki SIM sebelumnya?” balas Soo Rin lagi. Yang membuat Ki Bum mulai merasa gemas, sekaligus terpesona melihat wajah cantik itu menguarkan tampang lugunya. Wajah yang amat cantik.

“Sudah.”

“Bohong!” Soo Rin memicing tak percaya.

“Usia tujuh belas tahun di sana memang sudah diharuskan memiliki SIM, Soo Rin-ah. Dan aku sudah memilikinya. Bahkan aku sudah memiliki SIM Negara ini karena aku sudah menginjak usia Sembilan belas tahun,” jelas Ki Bum kalem.

Soo Rin mengerjapkan mata. Mencerna. “Begitu…” gumamnya beberapa saat kemudian.

“Dasar lamban,” kekeh Ki Bum sambil menoyor pelan kening Soo Rin yang terekspos itu. Membuat sang empu mengerucutkan bibir tak suka. Membuat Ki Bum semakin gemas dan terpaksa mengalihkan pandangannya pada pergelangan kaki gadisnya itu. Takut dirinya tidak bisa menahan diri.

“Kim Ki Bum, kenapa kau bisa mengenakan setelan ini?” Soo Rin mengetuk pelan pundak Ki Bum bermaksud menunjukkan maksud yang tengah dibicarakannya.

“Karena aku menyukainya,” jawab Ki Bum sekenanya. Padahal itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.

“Hoo…” sebenarnya Soo Rin merasa kurang puas dengan jawabannya itu. “Kim Ki Bum, apakah itu artinya kau menyukai warna merah muda?” tanyanya lagi.

“Tidak juga.”

Soo Rin mengerucutkan bibirnya. Jawaban yang terlalu singkat baginya. “Kim Ki Bum—”

“Soo Rin-ah.”

Soo Rin terpaksa mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi. Lelaki itu kembali mendengakkan kepala setelah sejak tadi terlihat begitu fokus memijat pergelangan kakinya. Entah mengapa Soo Rin merasa tidak nyaman dengan tatapan yang tengah diberikan Ki Bum saat ini.

“Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu?”

“Eh? I-itu—” Soo Rin tergagap tiba-tiba. Tatapan itu begitu menguncinya hingga ia tak nyaman untuk sekedar mengubah posisi duduk. Entah sejak kapan jantungnya mulai berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan ia merasa kesulitan untuk sekedar menelan saliva. Kenapa Ki Bum menatapnya seperti itu?

“Panggil aku Oppa.”

M-mwo?” Soo Rin merasa jantungnya baru saja berjungkir balik. Astaga, kenapa efeknya bisa seperti ini? Padahal Ki Bum hanya mengucapkan beberapa kata kepadanya, bukan melakukan hal lain. Apa karena kata panggilan yang keluar dari mulut itu penyebabnya?

Pada kenyataannya Soo Rin memang tidak terbiasa memanggil seseorang dengan sebutan itu. Dia memang tidak pernah menggunakannya. Hanya di saat lelaki di depannya kini memintanya di hari ulang tahunnya. Selebihnya? Tidak lagi. Meski sudah beberapa kali lelaki itu memintanya, seperti sekarang ini.

“Untuk kali ini aku benar-benar tidak menerima penolakan,” lanjut Ki Bum dengan lugasnya.

“I—itu…” Soo Rin harus tercekat melihat tatapan itu semakin menghunusnya. Seolah mengatakan jika dia tidak melakukannya maka sang pemilik tatapan itu akan menerkamnya. “A-aku…” katakan sesuatu, Park Soo Rin! Batinnya gusar.

Ki Bum mencondongkan tubuhnya sedikit lebih tinggi, berusaha mensejajarkan wajahnya dengan wajah Soo Rin meski tetap wajah gadis itu masih lebih tinggi karena dia hanya menegakkan tubuhnya yang sempat membungkuk. Dapat ia tebak bahwa gadis di hadapannya ini tengah menahan napas akibat perlakuannya saat ini.

“Panggil aku Oppa,” pinta Ki Bum lagi. Kini dengan suara yang lebih halus, yang justru membuat Soo Rin meremang mendengarnya. Jantungnya semakin bergemuruh. Sedangkan Ki Bum harus menahan gejolaknya sedikit lagi melihat wajah itu mulai menampakkan rona kemerahannya. Tidak sebelum permintaannya terkabulkan.

Karena sungguh, Ki Bum benar-benar ingin mendengarnya saat ini juga!

Op—pa…”

Benar saja, Ki Bum kembali merasakan sensasi itu. Sensasi yang sama seperti saat kali pertama dirinya mendengar gadisnya menyebut panggilan itu untuknya. Ternyata itu bukanlah efek sementara yang begitu dirinya mendengarnya lagi maka sensasi itu tidak akan terasa lagi. Tapi, ini memang terus berlanjut. Bahkan rasanya lebih besar menghantam dibandingkan sebelumnya.

Dashi (Lagi),” pinta Ki Bum. Terdengar berat. Membuat Soo Rin harus susah payah menahan dentuman keras di dalam dadanya. Tanpa disadari kedua tangannya mengepal meremas ujung gaunnya.

Op—pa… Ki Bum… Oppa…” demi Sandy yang hidup di bawah laut, Soo Rin benar-benar gugup mengucapkannya. Bahkan hanya karena sebutan yang ia ucapkan sendiri, sukses membuat wajahnya merona. Kenapa efek menyebut kata Oppa begitu besar baginya?

Bagi mereka.

Ki Bum tak bisa lagi menahan gejolaknya. Melihat wajah yang begitu cantik malam ini semakin merona benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Dengan pasti tubuh tegapnya bergerak mendekat demi meraih wajah cantik itu, dan menyatukan bibir mereka dengan pasti. Yang segera memejamkan mata keduanya demi menikmati kehangatan serta sensasi yang begitu menggetarkan bagaikan disengat listrik bertegangan rendah. Sebelah tangan kekarnya bergerak merengkuh wajah Soo Rin demi menahan tautan mereka, sekaligus menahan wajah cantiknya yang masih tampak lebih tinggi dibandingkan wajahnya.

Chagi-ya…”

Soo Rin segera membuka mata begitu mendengar suara berat dan lembut itu memanggilnya. Ya, sudah dipastikan bahwa itu adalah Ki Bum yang memanggilnya. Dan Soo Rin harus semakin sulit bernapas melihat wajah lelaki yang baru saja menciumnya itu masih sangatlah dekat. Ditambah, lelaki itu memanggilnya dengan nama sayang!

Ki Bum mengulas senyum teduh dan manisnya. Tangan yang masih merengkuh wajah cantik Soo Rin bergerak, membelai dengan penuh rasa, memberikan sensasi hangat sekaligus desiran baru bagi Soo Rin. Padahal sensasi mendebarkan akibat ciuman dari lelaki itu belum mereda.

Happy First Anniversary.

Ada jeda sejenak sebelum gadis itu mulai mengerjap beberapa kali untuk mencerna. “N-ne?” dan itu yang akhirnya keluar dari mulut kecilnya.

“Selamat hari jadi kita yang pertama,” balas Ki Bum dengan lugasnya.

“Be-benarkah?” Soo Rin harus kembali gugup. Bagaimana bisa dirinya tidak tahu bahwa ini hari jadi mereka yang pertama? Hari ini, ‘kan?

“Kau pasti tidak tahu kapan tepatnya hari jadi kita,” tebak Ki Bum dengan senyum miringnya. Menggoda Soo Rin hingga gadis itu semakin gugup. Sekedar menggelengkan kepala saja ia terlihat begitu kaku. Dan Ki Bum harus merasa gemas melihat wajah itu merona lagi.

Kenapa gadisnya ini mudah sekali merona? Tidak tahukah bahwa itu selalu berhasil merusak pertahanan seorang Kim Ki Bum?

Tidak, jangan salahkan Soo Rin. Salahkan Kim Ki Bum yang selalu berhasil membuat gadis itu kewalahan.

“Hari di mana aku menghentikan profesiku sebagai Penggemar Rahasiamu. Itu adalah hari jadi kita,” jelas Ki Bum yang malah membuat Soo Rin mengernyit bingung. Ki Bum tahu benar bahwa gadis ini masih belum tahu waktu yang dimaksud.

“I-itu… kapan?” Soo Rin bersuara lamat-lamat. Benar, ‘kan? tebak Ki Bum dalam hati. Lelaki itu justru tersenyum penuh arti.

“Saat aku berhasil mencuri ciuman pertamamu.”

Dan, Soo Rin harus merasakan wajahnya memanas begitu mendengar penjelasan terakhir Ki Bum. Bayangannya langsung melayang menuju memori di mana dirinya ditahan oleh Ki Bum saat ingin keluar dari kelas, di mana lelaki itu mengguncang batinnya dengan membeberkan kisah masa lalunya yang seharusnya hanya dia dan sahabat pertamanya—Jung Eun Ji—yang mengetahuinya, di mana lelaki itu juga mengungkapkan perasaannya, serta, ciuman pertamanya yang begitu mendebarkan… Astaga, kenapa bayangan itu begitu jelas di kepala Soo Rin?!

Ki Bum tahu pasti bahwa gadisnya itu sudah ingat, terlihat jelas dari gelagatnya yang mulai salah tingkah sekaligus tatapannya yang bergerak menghindarinya. Pemandangan yang begitu menggelitik. Sebelah tangan Ki Bum yang masih merengkuh wajah Soo Rin bergerak menuju puncak kepala gadis itu lalu menepuknya dengan sayang.

“Kau begitu cantik malam ini,” puji Ki Bum yang sukses membuat wajah cantik itu merona lagi. Dan lagi-lagi membuat Ki Bum harus menekan gejolaknya yang kembali naik. Sepertinya dia salah mengucapkan, seharusnya dia tidak pernah mengucapkannya. Meski pada kenyataannya dia begitu mengagumi kecantikan gadisnya dan sebenarnya itu hanyalah sebuah kata pujian yang sederhana, tapi jika reaksinya akan seperti ini… aih, Kim Ki Bum, kau bodoh sekali. Sudah tahu gadismu selalu seperti ini jika menghadapimu. Kenapa otak jeniusmu menjadi macet seperti ini? -__-

아무래도 난 니가 좋아
amuraedo nan niga joha
(Anyway, I really like you)
아무런 말도 없이 웃던 나를 안아줘 babe
amureon maldo eobsi utdeon nareul anajwo babe
(You hugged me when I was quietly smiling babe)
오늘을 기다렸죠 그대 달콤한
oneureul gidaryeotjyo geudae
(I waited for today, for your sweetness)
나를 봐요 그대 ye 지켜줄게요 babe
dalkomhan nareul bwayo geudae ye~ jikyeojulgeyo babe
(Look at me, I’ll protect you babe)

Terdengar alunan nyanyian yang berasal dari lantai atas menusuk pendengaran Soo Rin. Sepertinya ada seseorang tengah menyanyikan sebuah lagu—lagu kesukaannya. Dan suaranya terdengar begitu familiar. Padahal suara itu bukanlah si pemilik lagu yang tengah dinyanyikannya.

Seketika sebuah ide melintas di pikirannya, ide untuk membebaskan diri dari posisi yang begitu menyesakkan ini.

“A-ah! Y-Ye Sung Sunbae sedang bernyanyi di atas! I-itu lagu kesukaanku! B-bagaimana jika kita melihatnya?” Soo Rin bisa merasakan bahwa suaranya sedikit bergetar dan tergagap. Bahkan dengan bodohnya dia mengatakan bahwa lagu itu adalah lagu kesukaannya, memangnya siapa yang peduli? Tapi tanpa berpikir panjang lagi ia segera bangkit dari duduknya—tanpa mempedulikan pergelangan kakinya yang masih dikompres sekaligus kedua kakinya yang tak beralas. Karena ingin segera bebas dari jeratan lelaki di depannya ini!

Tapi, rasanya tidak ada dalam hitungan detik Soo Rin harus kembali dikejutkan dengan gerakan cepat Ki Bum yang ternyata juga ikut berdiri lalu menariknya ke dalam pelukan. Merangkum wajahnya, dan kembali memagut bibirnya.

Tidak ada dalam hitungan detik rasanya, Soo Rin harus melebarkan mata karena kejutan lelaki ini, hingga detik-detik kemudian ia harus terpejam begitu merasakan pergerakan lembut di bibirnya. Menyapu hingga sudut-sudut bibirnya. Menyesapnya dengan hati-hati namun intens hingga membuat Soo Rin memeluk juga meremas jas Ki Bum demi mencari kekuatan.

Tanpa melepas pagutan mereka, Ki Bum meraih kedua tangan Soo Rin dan menuntunnya menuju pundak lebarnya, yang segera direspon oleh Soo Rin dengan memeluk lehernya karena di waktu yang sama Ki Bum bergerak seolah meraup lebih dalam lagi. Dan kedua tangan kekar itu kini berhasil memeluk pinggang ramping itu dengan begitu ketatnya.

매일 매일 꿈을 꾸죠
maeil maeil kkumeul kkujyo
(I dream every day)
그대 손을 잡고 날아가 영원히 언제 까지나
geudae soneul japgo naraga, yeongwonhi eonje kkajina
(Of holding your hand and flying forever, until always)
보고 싶은 나의 사랑 운명 이죠 피할수도 없죠
bogo sipeun naui sarang unmyeong ijyo, pihalsudo eobtjyo
(My love I miss you, It’s destiny, you can’t avoid it)
every day I’m so lucky
숨겨왔던 내 맘을 고백 할래
sumgyeowatdeon nae mameul gobaek hallae
(I want to confess my hidden heart)

Alunan musik yang menggema dari lantai atas hingga merambat ke lantai bawah, ditambah kondisi lantai bawah yang memang begitu sepi, juga terangan lampu di lantai itu yang memang pada dasarnya dibuat hampir remang. Kenapa suasana ini begitu mendukung kondisi mereka saat ini?!

Lumatan yang semakin intens membuat lelaki itu sulit untuk berhenti. Otak jeniusnya sudah benar-benar tidak berfungsi untuk saat ini, hanya naluri yang semakin menguasainya. Sampai-sampai Ki Bum harus dikejutkan dengan sedikit gerakan dari Soo Rin. Gadis yang selama ini memilih untuk diam jika ia mulai beraksi, kini tengah mencoba untuk… membalasnya! Ki Bum merasa benaknya mendidih. Gerakan yang sangat kecil yang diciptakan oleh gadisnya meski hanya sekali dan bahkan ragu-ragu itu sukses membuat gejolaknya naik. Ki Bum semakin tidak bisa berhenti. Lebih tepatnya, tidak mau.

너를 사랑해…
Neoreul saranghae…
(I love you…)

Soo Rin merasa tidak menapak. Lumatan Ki Bum yang begitu mendominasi sekaligus menguasainya benar-benar membuatnya pening hingga merasa dirinya terbang. Kenapa lelaki ini begitu ahli menguasainya jika sudah melakukan hal ini? Sedangkan dirinya tidak mampu berkutik untuk membalas atau melawan. Dan kenapa lelaki ini semakin melakukannya, semakin membuatnya berdebar dan juga melayang.

Tunggu, rasanya ia memang tengah melayang.

Astaga, dia memang tidak menapak!

Seolah baru saja dibangunkan dari mimpi indahnya, Soo Rin terperanjat hingga segera melepas pagutan mereka. Melebarkan mata begitu menyadari wajah tampan yang semula lebih tinggi darinya itu, telah berbalik menjadi lebih rendah darinya. Soo Rin menegang. Benar, Kim Ki Bum tengah mengangkat tubuhnya!

Mau tidak mau Soo Rin mengeratkan pelukannya di leher lelaki ini. Wajahnya yang sudah memanas semakin merana. Bagaimana bisa dirinya tidak menyadari bahwa lelaki ini begitu rapat dengannya bahkan sampai mampu mengangkat tubuhnya?!

“Aku tidak akan tahu jika kau tidak menghentikannya terlebih dahulu,” gumam Ki Bum terdengar berat dan sedikit terengah. Tidak seperti Soo Rin yang benar-benar kehilangan napas. Dengan kurang ajarnya lelaki ini menghembuskan napas beratnya tepat di depan wajah Soo Rin. Benar-benar membuatnya frustasi.

“Mungkin aku tidak akan pernah bisa menghentikannya,” dan seringaian mulai tampak di bibir penuhnya. Membuat Soo Rin menelan salivanya dengan susah payah. Sial, di saat seperti ini lelakinya masih bisa memberikan senyum membunuh seperti itu. Siapa saja, tolong Soo Rin!

Omo!”

Seketika suasana romantis itu lenyap tak bersisa. Begitu sebuah suara asing menginterupsi kegiatan adu pandang keduanya, dan beralih pada pemilik suara asing itu.

Mati kau, Park Soo Rin. Batin Soo Rin kelabakan.

Eun Ji—sejak tadi ia mencari keberadaan Soo Rin hingga ke lantai bawah. Dengan tanpa sengaja mendapati pasangan itu tengah berada dalam posisi yang… sangat canggung bagi siapa saja yang melihatnya. Tapi sebenarnya Eun Ji tidak bermaksud untuk mengganggu. Dia tidak sengaja memergoki dan meluncurkan seruannya begitu saja.

“Jadi sebenarnya siapa pasangan utama dalam acara ini, hm?” Eun Ji tampak bersedekap, matanya memicing curiga, menusuk dua sejoli itu dengan matanya yang menajam.

“Itu—itu tidak seperti yang kau—aak!” Soo Rin yang segera melepas diri dengan menapakkan kaki dalam hentakan, justru memberikan sengatan pada pergelangan kakinya yang belum sembuh. Beruntung Ki Bum segera kembali menangkap tubuhnya yang sedikit limbung—setelah lengah akibat penangkapan basah dari Eun Ji.

Eun Ji segera mendekati mereka lalu menyadari bahwa sahabat Menengah Pertamanya itu bertelanjang kaki, juga melihat kakinya yang memerah itu. Melihat sepatu yang sudah teronggok di lantai itu, Eun Ji menyadari, “Kakimu terkilir?”

“Um… sepertinya aku memang tidak bisa mengenakan sepatu hak tinggi seperti itu. Ahahaha.” Soo Rin tertawa hambar. Selain karena kondisi kakinya saat ini, ia juga tengah berusaha menyembunyikan rasa malu akibat sahabatnya ini memergokinya tengah bersama Ki Bum.

“Aku akan mengantarnya pulang dengan segera. Daripada ia tersiksa dengan sepatu itu di sini.” Ki Bum menginterupsi. Yang segera mendapatkan picingan dari Eun Ji. Entah kenapa sepupunya itu masih menaruh curiga terhadapnya.

Geurae. Antarkan dia pulang. Sepertinya acara ini akan terus berlanjut hingga dini hari, sedangkan Soo Rin tidak boleh pulang di atas pukul satu malam. Biarkan aku yang menitipkan izin pada Eun Jung dan Jong Jin Oppa nanti.”

“Soo Rin-sshi!” Eun Jung yang baru saja turun segera menghampiri. “Aigo, aku mencarimu ke mana-mana ternyata kau ada di sini… omo! Ada apa dengan kakimu?”

“Dia terkilir. Karena sepatu itu.” Ki Bum menunjuk sepatu Soo Rin dengan dagunya. “Dia harus segera pulang.”

“Astaga! Maafkan aku. Itu adalah sepatu pilihanku. Aku tidak menyangka akan seperti ini akhirnya.” Eun Jung tampak menyesal. Lalu ia melanjutkan, “Geurae, sebaiknya kau pulang. Tidak perlu lama-lama di sini dan beristirahatlah! Aku sudah sangat berterima kasih karena kau mau datang.”

“Aku juga sangat berterima kasih karena sudah mengundangku dan memberikan ini semua padaku,” balas Soo Rin merasa tak enak hati. Bagaimana tidak jika Eun Jung dengan relanya memberikan gaun dan sepatu yang begitu mahal secara cuma-cuma?

“Ji-ya, jika Sae Hee ingin pulang sedangkan aku belum kembali, tolong antarkan dia nanti,” pinta Ki Bum.

Eo, tenang saja.” Eun Ji mengangguk.

Ki Bum melepas jasnya, menyelampirkannya pada pundak Soo Rin serta membenarkannya agar benar-benar membungkus tubuh gadisnya itu. Membuat sang empu harus tertunduk malu mendapati perlakuannya ini. Bagaimana bisa lelaki ini dengan berani melakukannya di depan teman-temannya? Eii -_-

Mengambil sepasang sepatu Soo Rin, lalu dengan berani mengangkat tubuh Soo Rin dan menggendongnya ala bridal. Membuat tidak hanya Soo Rin yang terkejut, Eun Ji dan Eun Jung pun juga bereaksi sama.

Y-ya! Apa yang kau lakukan?!” Soo Rin memukul pundak Ki Bum dengan sebal sekaligus merasa malu. Bagaimana bisa lelakinya melakukan hal ini di depan teman-temannya?!

“Aku tidak mungkin membiarkan gadisku menyeret kakinya yang tengah terluka bahkan tanpa alas menuju mobil,” balas Ki Bum kalem.

Y-ya! Kim Ki Bum! Turunkan aku!!”

“Kami pamit.” Ki Bum tidak menghiraukan seruan Soo Rin dan memilih segera melenggang membawa gadisnya itu keluar dari kafe, meninggalkan Eun Ji dan Eun Jung yang tengah melongo melihat kelakuan pasangan itu.

“Aku juga ingin seperti itu bersama Jong Jin Oppa…” rengek Eun Jung tiba-tiba. “Oppaaaaaa!!” Dan Eun Jung segera berlari ke lantai atas, menuju ke tempat tunangannya itu berada.

Aishi, Kim Ki Bum, kau benar-benar!” Eun Ji mengumpat tak terima melihat perlakuan sepupunya itu terhadap sahabatnya. Bagaimana bisa dengan mudahnya sepupunya itu menebarkan pesona pada Soo Rin, juga mereka? Hingga membuat Eun Jung terpengaruh!

“Awas saja kau nanti,” gumam Eun Ji sebelum ikut melangkah ke lantai atas. Menyusul Eun Jung dan menghentikan tunangan kakak sepupunya yang sudah terkena virus itu.

I’ll promise you that I’ll care for you
Even if time passes and everything changes
Even if the world ends, my love
You are my luck, I can’t avoid it
Every day I’m so lucky
I want to confess my hidden heart, I love you*

.

.

.

-END 


Uhukk!!

Yeah, sebagaimana dengan kembalinya Kibum ke dunia per-twitter-an maka, kisukisu juga kembali~~ ><

aku bingung mau ngoceh apa.. karna udah pasti para pembaca keburu jenuh.. ceritanya udah panjang, tambah lagi sama ocehan saya hahahahah -__-

saking udah lamanya ga ngetik, rasanya ini tulisan makin ngambang aja ya hahah T.T ditambah ini ngga jelas maksud dan tujuannya duhh-__- kali ini, butuh kritik dan saran juseyo~>,< tapi ga maksa juga sih._.

sudahlah! Terima kasih udah mau mampir~^-^

*) Chen – Best Luck

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

19 thoughts on “My Favorite Girl – First

  1. wuah,. s0 sweet
    q juga ingin seperti itu dgn yesung oppa,.0ppaaa!
    aduh q ikut ketularan

    ne0mu daebak. joahe,. p0k0knya hrus dilanjt l0k perlu mpe kibum menikah ma s00 rin

  2. Omg~ ciumannya kibuuummmm *mupeng XD feelnya ngena bgt! Dtunggu cerita selanjutnya!!! Ohya, buat versi henly- sae hee dong kalu bisa hehe suka jg sama mereka. Kayanya lucu deh kkk

  3. aish jinjja so sweet banget sih uri kibum oppa and soo rin eonni hohoho jadi iri aku sama mereka. good job thor, you’ve written such a beautiful story abour kibum ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s