Posted in Fiction, One Shot, PG, PG-15, Romance, School Life, Special Fanfics

[Special Ki Bum’s Birthday] I’m Sorry, Happy Birthday!

Genre: Romance, School Life
Rated: PG-15
Length: One Shot 
Kim Ki Bum | Park Soo Rin
Ham Eun Jung (Support)bdCasts

This story is dedicated to our Killer Smile whom we missed so much, Kim Ki Bum! Happy Birthday, Snow White!! Hohohoh Just please enjoy~>< Let’s have a good time together, today!! Hehet ^^ Hope readers like it~~ 

Sorry for typos and…..it’s a long story ㅋㅋㅋㅋ

ㅡㅡ

:: August 21st

Pagi yang cerah di penghujung musim panas hari ini. Sang Surya dengan gagah membusungkan bias cahaya kehangatannya menghujani Kota Metropolitan ini, memberikan percikan kesejukan dan semangat bagi para penghuni kota untuk memulai aktivitas hari ini.

Pagi ini pula, kegiatan sekolah kembali berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Seorang gadis cantik yang baru saja datang segera memasuki area sekolah tempat di mana dirinya menuntut ilmu. Neul Paran High School. Hanya saja, hari ini, tampak sedikit sesuatu yang membuat aneh di sekolah ini. Soo Rin—gadis cantik itu terheran-heran melihat di sepanjang lorong lantai dua, beberapa kelompok siswi seangkatannya tengah bergumul ria dengan tangan masing-masing memegang sebuah benda kubus maupun balok—yang pasti, sebuah kotak—yang dibungkus dengan kertas hias.

“Sepertinya hari ini bukanlah Hari Valentine,” gumam Soo Rin lirih. Tentu saja bukan. Ini, ‘kan, Bulan Agustus, pikirnya kemudian. “Ataukah ada acara bertukar kado?” lanjutnya bergumam.

Soo Rin semakin merasa aneh begitu pandangannya mengarah pada kelas 2-1. Di depan sana, banyak siswi yang tengah berkumpul seolah menyemuti sepanjang depan kelas itu. Sampai-sampai murid penghuni kelas itu kesulitan untuk masuk ataupun keluar dari kelas tersebut. Soo Rin baru saja ingin beralih pandang ketika dirinya mendapati sosok yang begitu dikenalnya tengah keluar dari kelas itu, dengan susah payah.

“Ah, Soo Rin-sshi!!” Eun Jung, gadis itu langsung melambaikan tangan sambil melangkah begitu dirinya terbebas dari kerumunan dan pandangannya langsung menangkap sosok Soo Rin di depannya.

“Apakah kelasmu sedang mengadakan acara tukar kado?” sambut Soo Rin begitu Eun Jung sampai di dekatnya.

Heh! Tukar kado apa? Itu semua karena lelakimu itu!” gerutu Eun Jung dengan bibir mengerucut serta mimik masam. Sedangkan Soo Rin, dia mengernyit bingung. Lelakinya?

“Kim Ki Bum? Apa hubungannya mereka dengan Kim Ki Bum?”

“Oh, ayolah, Soo Rin-sshi, jangan berpura-pura tidak tahu. Kau tidak ingat sekarang hari apa?” Eun Jung mendengus.

“Hari ini? Hari ini adalah Hari Kamis. Lalu?” jawab Soo Rin dengan mimik tak paham. “Ah! Hari ini kelasku akan mengadakan pengambilan nilai Voli,” lanjut Soo Rin kini dengan ekspresi dirinya baru ingat.

Sedangkan Eun Jung, dia melongo menatap Soo Rin. Astaga, jangan katakan bahwa gadis di hadapannya ini benar-benar tidak tahu. “Hei, Soo Rin-sshi, kau benar-benar tidak tahu? Sekarang tanggal berapa, huh?

“Tanggal? Tunggu sebentar,” Soo Rin tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya merogoh saku seragamnya. Membuat Eun Jung semakin melongo hingga mulutnya ternganga. Gadis di hadapannya ini benar-benar tidak tahu? “Ah, tanggal 21 Agustus!” seru Soo Rin begitu melihat layar ponsel yang didapatkan dari dalam sakunya. Lalu beralih kembali menatap Eun Jung dan kembali kebingungan. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tanggal?”

“Soo Rin-sshi…”

Ne?”

“Kau benar-benar tidak tahu sekarang hari apa?”

“Eh? Hari… Hari Kamis, bukan? Bukankah kau sudah bertanya dan aku sudah mengatakannya?”

“Astaga, Park Soo Rin!!!!” Eun Jung mencengkeram kedua pundak Soo Rin dengan gemas. Membuat sang pemilik bahu terkejut dengan perlakuannya. Dan dengan gemas pula Eun Jung melanjutkan, “Hari ini. Tanggal 21 Agustus. Adalah hari ulang tahun Kim Ki Bum!!”

NE?!”

Dapat dilihat bahwa Soo Rin terkejut bukan main hingga kedua matanya terbelalak. Yang seketika Eun Jung menangkap bahwa gadis-ini-benar-benar-tidak-tahu-akan-hal-ini.

“Ya ampun, Park Soo Rin!! Bagaimana bisa kau tidak tahu akan hal ini, huh?!” desis Eun Jung dengan gemas-segemas-gemasnya.

“A-aku—” Soo Rin kalut seketika. Astaga, bagaimana bisa dirinya tidak tahu soal ulang tahun Kim Ki Bum? Lelakinya sendiri?! Kekasihnya sendiri!!

Hari ini. Dan dia tidak memiliki persiapan apapun…

Park Soo Rin, kau sudah kelewatan.

Eun Jung segera melepas cengkeramannya begitu sudut matanya menangkap sosok yang baru saja muncul dari tangga. Dan benar saja begitu dirinya menoleh, dia sudah mendapati lelaki itu berdiri tak jauh dari mereka berada. Membuat Soo Rin bergerak mengikuti arah pandangnya dan akhirnya gadis itu terhenyak dalam diam.

Orang yang menjadi topik pembicaraan mereka sudah datang.

Langsung saja Soo Rin berdebar panik. Harus bagaimana dia menghadapi lelaki itu? Dia tidak memiliki persiapan apapun. Tentu saja! Dia baru mengetahuinya hari ini. Lalu, dia harus bersikap bagaimana? Diam saja? Atau hanya sekedar mengucapkan ‘Selamat’?

Aih, lucu sekali.

Soo Rin merasakan pergelangan tangannya digenggam erat. Membuatnya terpaksa beralih kembali menatap Eun Jung yang kini sudah menatapnya juga.

“Ikut aku!” bisik Eun Jung sambil menariknya pergi dari depan kelasnya. Melewati Ki Bum yang baru saja datang. Menuju ke lantai bawah.

Sedangkan Ki Bum terpaksa mengantar kepergian mereka dengan tatapan heran. Mengingat gadis berambut panjang itu mulai tertunduk begitu melewatinya tadi. Ada apa dengan gadisnya?

“Kim Ki Bum, selamat ulang tahun!”

Ki Bum mulai menghela napas panjang begitu menyadari dirinya mulai dikerumuni para kaum hawa sekolah ini dengan berbagai hadiah untuknya. Sama seperti tahun lalu. Dan dia yakin bahwa meja belajarnya di kelas juga sudah dipenuhi dengan tumpukan kotak berhias mengingat dirinya juga mendapati lokernya sudah dipenuhi dengan berbagai kotak berhias lainnya. Kenapa gadis-gadis ini mau merepotkan diri bahkan rela menghabiskan uangnya hanya demi dirinya, pikirnya sambil berdecak. Dengan masih memasang wajah datar yang memancarkan aura dinginnya, Ki Bum menerobos kerumunan yang mencekiknya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

****

Waktu istirahat baru saja dimulai. Soo Rin segera keluar dari kelas, menoleh ke arah kelas 2-1, hingga melihat di depan sana sudah kembali dipenuhi para siswi. Membuat dirinya harus menghela napas panjang merutuki kebodohannya. Sampai-sampai Eun Jung harus turun tangan memberikan pencerahan sekaligus nasihat kepadanya tadi pagi. Bagaimana bisa dirinya tidak tahu bahwa kekasihnya itu berulang tahun di hari ini? Ditambah melihat para gadis yang mengerubungi kelas tersebut dengan membawa berbagai macam hadiah membuatnya meringis mengingat dirinya tidak membawa bahkan memiliki apapun untuk dijadikan sebagai hadiah. Dan meringis karena mereka yang bergerak lebih cepat dibandingkan dirinya sendiri.

Dia benar-benar bukan kekasih yang baik, pikirnya merutuki diri sendiri. Kenapa dirinya tidak pernah mencoba untuk bertanya, ‘Kapan hari ulang tahunmu?’ meski itu merupakan hal yang sepele dari luar, tetapi memiliki makna yang cukup membuat sang empu merasa diperhatikan, bukan?

Dan sekarang, dia harus melakukan apa? Hanya berdiri mematung? Menonton keagresifan para gadis yang berusaha untuk diperhatikan oleh lelaki itu?

Tiba-tiba saja Soo Rin merasa tidak rela.

Soo Rin menggaruk pipinya yang tidak gatal, menundukkan kepala, lalu merenung. Tak sengaja matanya melirik ke pergelangan tangannya yang tengah menggaruk pipinya, membuatnya termangu.

Tunggu.

Soo Rin sedikit menurunkan tangannya tersebut demi melihat dengan jelas pergelangan tangannya. Dan langsung memperlihatkan perhiasan sederhananya yang melekat indah di sana. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Soo Rin segera mengerti apa yang harus dia lakukan.

Pandangan Soo Rin kembali terangkat begitu mendengar suara pekikan ramai yang semakin riuh dari sana. Menandakan bahwa target tengah berada sangat dekat dengan mereka. Benar saja, Soo Rin dapat melihat lelaki itu baru saja keluar dari sarangnya. Dengan ekspresi datarnya, juga dengan aura dinginnya yang sengaja menguar. Dan Soo Rin harus merasa gugup begitu pandangannya bertemu dengan kedua mata tajam itu, yang segera menghentikan langkah lebar sang pemilik mata tajam itu sejenak sebelum kembali berlanjut mendekatinya.

Baiklah, Park Soo Rin, lakukan sekarang!

Tanpa berpikir panjang lagi, meski degup jantungnya semakin kencang bermarathon, Soo Rin tetap membuka langkah. Ikut mendekati lelaki itu. Dan begitu jarak mereka sudah memungkinkan untuk gadis itu meraih, dengan modal nekat, Soo Rin meraih pergelangan tangan Ki Bum dan segera menariknya pergi menjauhi gerombolan penggemarnya yang masih betah membuntutinya. Sontak membuat mereka terkejut dan mulai mengejar dengan ocehan besar mereka.

Jangankan mereka, bahkan Ki Bum juga terkejut dengan perlakuan gadis itu. Dan dirinya hanya mengikuti tarikan gadis itu tanpa mencoba untuk mengucap apapun. Di samping karena tengah kebingungan, Ki Bum juga ingin segera menjauh dari gerombolan menyesakkan yang terus menghantuinya sejak pagi tadi itu.

Entah Soo Rin akan membawa lelaki ini ke mana. Mereka sudah berada di lantai dasar dan terus menelusuri koridor yang seolah tak berujung. Dan ternyata, Soo Rin pun tidak tahu ingin membawa lelaki ini ke mana. Ingat, dia hanya menggunakan modal nekat yang sudah pasti tidak terencana untuk ke depannya. Dan kini ia mulai kelimpungan. Ditambah sepertinya gerombolan itu masih mengejar mereka, Soo Rin semakin kelimpungan. Harus bersembunyi di mana mereka?!

Sedangkan Ki Bum yang melihat tingkah gadis yang masih menariknya ini, mulai merasa geli. Jelas sekali bahwa gadisnya ini memang nekat membawanya entah ke mana. Dan sekarang keadaan justru berbalik. Padahal lelaki ini yang tengah dikejar-kejar, tetapi gadis ini yang kebingungan harus lari ke mana.

Ki Bum akhirnya mengalah. Begitu mereka berbelok menuju koridor yang dipenuhi ruangan tak sering berpenghuni, Ki Bum meraih tangan Soo Rin yang masih menariknya lalu berbalik dirinya yang mulai menarik. Membawa gadis itu masuk ke dalam salah satunya sebelum gerombolan itu ikut berbelok.

Dan benar saja, gerombolan itu tak dapat menemukan keduanya. Dengan raut kesal hingga frustasi, mereka mencoba mengintip beberapa ruangan yang sebenarnya tidak boleh mereka datangi sembarangan. Karena jelas, laboratorium, ruang seni, dan audiotorium hanya boleh dikunjungi di waktu belajar-mengajar yang sudah dijadwalkan.

Tapi karena masalah mendesak, Ki Bum terpaksa membawa Soo Rin masuk ke dalam Ruang Seni Lukis yang tak jauh dari persimpangan tadi. Dan hanya berharap tidak ada yang berusaha masuk ke dalam sini hingga menangkap basah mereka yang tengah dalam posisi tidak mengenakkan. Ki Bum yang tengah menahan pintu dengan sebelah kaki dan tangannya, juga menghimpit Soo Rin di sudut pintu ruangan. -_-

Ki Bum harus menekan pintunya begitu seseorang berusaha untuk membukanya. Membuat Soo Rin segera menahan napas hingga tanpa sadar kedua tangannya bergerak membekap mulutnya sendiri.

“Eh? Pintunya terkunci?”

“Bukankah memang terkunci?”

“Tapi beberapa dari yang lainnya tidak terkunci.”

Ki Bum dan Soo Rin mulai saling menatap. Sebelah tangan Ki Bum yang masih bebas terangkat hingga jari telunjuknya menempel pada bibirnya, memberikan isyarat untuk tidak melakukan pergerakan apapun maupun bersuara. Yang malah membuat Soo Rin menelan saliva.

“Mungkin yang ini memang terkunci.”

“Lalu ke mana mereka pergi? Bukankah mereka berbelok ke koridor sini?”

“Sepertinya mereka berputar arah melalui belakang gedung sana.”

“Aku akan mencegat mereka dari arah berlawanan.”

Kemudian terdengar derap kaki yang mulai menjauhi koridor ini. Begitu dirasakan suasana koridor yang sudah kembali senyap, keduanya segera menghela napas panjang sekaligus lega.

“Sepertinya kita sudah bisa keluar,” gumam Soo Rin mencoba meraih gagang pintu dan membukanya. Namun harus kembali tertutup begitu Ki Bum kembali mendorongnya. Membuat Soo Rin mau tidak mau menatap lelaki itu.

“Jadi tujuanmu membawaku kemari untuk apa?” tanya Ki Bum segera.

Huh? Siapa yang membawamu kemari? Bukankah justru kau yang membawaku kemari?” Soo Rin mulai gugup begitu menyadari Ki Bum sudah mengurungnya lagi.

“Memang benar. Tapi apa tujuanmu menarikku hingga berakhir seperti ini?” Ki Bum meralat.

Soo Rin semakin gugup begitu mengingat tujuan utamanya sebelum berakhir dengan Ki Bum yang menyelamatkannya. Modal nekatnya mulai sirna begitu menghadapi lelaki ini. Dan dia semakin ragu untuk melakukan niatnya yang sempat muncul di pikirannya hingga nekat melakukan aksi yang tidak pernah dia lakukan selama bersama lelaki ini.

Tapi, dia sudah sampai sejauh ini.

“Soo Rin-ah?” Soo Rin tampak berjengit begitu lelaki itu menyebut namanya. Selain karena baru saja dirinya melamun, dia juga berdesir mendengar suara halus milik lelaki itu. “Kau ingin apa, hm?” lanjut Ki Bum yang semakin membuat gadis ini berdebar-debar.

“Um… ini…” dengan perlahan, Soo Rin melepas salah satu gelang yang menghiasi pergelangan tangannya. Lalu beralih meraih sebelah tangan Ki Bum dan mencoba memasangkannya ke pergelangan tangan lelaki itu. Sontak saja membuat Ki Bum terperangah dengan perlakuannya ini.

“Maaf, aku hanya dapat melakukan ini. Dengan bodohnya aku baru mengetahui hari kelahiranmu pagi tadi. Itu pun aku mengetahuinya dari Ham Eun Jung. Jelas saja aku tidak memiliki persiapan apapun. Jadi, aku hanya dapat memberikan satu gelangku untukmu,” ujar Soo Rin dengan suara kecilnya. Kepalanya tertunduk demi menghindari tatapan lelaki itu sekaligus menyembunyikan rasa gugup dan malunya.

“Ta-tapi, kau tidak perlu khawatir. Gelang itu memang seharusnya tidak kupakai sendiri.” Soo Rin mengacungkan pergelangan tangannya yang dihiasi satu buah gelang yang tersisa. “Aku masih memiliki pasangannya,” jelasnya lagi dengan kepala semakin tertunduk. “Maaf, mungkin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan hadiah mereka yang lebih besar. Maafkan aku—aku benar-benar… gadis yang tidak perhatian…” lanjutnya semakin lirih.

Ada keheningan sejenak sebelum Ki Bum mulai mendengus menampakkan senyum lebarnya. Perasaannya yang sedari tadi tertahan kini membuncah menyebar ke seluruh tubuhnya. Sejak dikelilingi para penggemar dadakannya tadi pagi, Ki Bum sudah merasa jenuh dengan perlakuan mereka yang selalu berlebihan terhadapnya. Hingga dirinya mengira akan kembali merasakan hari kelahirannya dengan penuh kebosanan. Bodohnya, dia hampir melupakan adanya gadis di hadapannya ini. Dan tanpa diduga gadis ini pula yang benar-benar membuat suasana hatinya berubah drastis. Sekarang, dia benar-benar tercengang mendapatkan perlakuan gadis ini. Perlakuan yang tidak biasa dan sangat manis baginya. Kapan lagi gadisnya akan melakukan hal seperti ini?

“Bodoh, sejak kapan kau mengenakan gelang pasangan ini sendirian, hm?” tanya Ki Bum gemas. Yah, gadisnya ini benar-benar menggemaskan saat ini.

“Sejak—” Soo Rin tampak berpikir sejenak. “Sejak sebelum aku mengenalmu?” lanjutnya ragu. Jujur, dia lupa sejak kapan mengenakan gelang pasangan tersebut.

“Untuk apa kau mengenakan gelang pasangan di saat kau belum mengenalku?”

“Eh? Aku—saat itu aku sangat tertarik dengan gelang ini, jadi aku membelinya.”

“Dan kau mengenakan keduanya selama ini?”

“Um.”

“Kenapa kau tidak pernah menunjukkannya padaku setelahnya? Kenapa kau mengenakan keduanya?”

“E-eung… itu… u-untuk apa kau mengetahui hal itu?” Soo Rin tidak mendapatkan balasan lagi. Justru dirinya semakin gugup mendapati Ki Bum sudah menatapnya begitu lekat. Di balik kacamatanya, iris hitam itu begitu menghunus hingga sukses membuat jantung Soo Rin jumpalitan. “A-aku—aku menyukai keduanya. Jadi aku kenakan keduanya.” Soo Rin akhirnya menjawab, dengan suara yang mulai gagap.

Ki Bum mulai mengembangkan senyum penuh arti. Tangan yang sudah terhias oleh gelang pemberian gadisnya itu diacungkan ke hadapan. “Lalu kenapa kau memberikan gelang yang ini?” tanyanya lagi.

“Eh?” Soo Rin mengamati gelang pemberiannya, lalu mengamati gelang yang masih menjadi miliknya. Ki Bum sudah mengenakan gelang dengan bandul berbentuk kunci, sedangkan yang masih tertinggal di pergelangan tangannya adalah dengan bandul berbentuk gembok. Jujur, dirinya juga tidak mengerti kenapa memberikan gelang yang itu kepada Ki Bum. Dia langsung melepas gelang berbandul kunci itu begitu saja.

Apakah itu ada maknanya?

Lama tidak mendapatkan jawaban membuat Ki Bum mengerti bahwa gadis ini tidak tahu alasannya. Lebih tepatnya, belum mengerti. Ki Bum mengangguk-angguk paham.

“Bukan apa-apa. Hanya saja itu berarti, kau tidak bisa membukanya tanpa kunci ini.”

Soo Rin melongo bingung. “Bukankah ini memang tidak bisa dibuka? Ini ‘kan hanya gembok hiasan,” ujarnya polos. Membuat Ki Bum tergelak mendengar jawabannya sekaligus melihat ekspresi bodohnya itu. “Yaa, apa ada yang lucu?” Soo Rin mulai memberenggut.

“Kau yang membeli gelang ini tetapi tidak tahu makna dari gelang ini. Dasar Bodoh.” Ki Bum mencubit gemas hidung gadisnya itu yang seketika mendapat ringisan dari pemiliknya.

Ya! Aku tidak bodoh!” sungut Soo Rin dengan menepis tangan jahil Ki Bum. Membuat lelaki itu kembali tergelak. Sudah berapa kali lelaki itu mengatainya bodoh dan dia baru bereaksi sekarang? Benar-benar.

“Jangan dilihat dari berfungsi atau tidaknya benda ini, Soo Rin-ah. Anak kecil pun juga akan mengerti bahwa ini hanya gembok hiasan. Tapi lihat arti dari kedua benda ini,” ucap Ki Bum sambil meraih pergelangan tangan Soo Rin. “Seandainya kau mengunci pintu kamarmu dengan gembok ini dan kau menghilangkan kuncinya, apa yang akan terjadi?”

“Aku tidak bisa membuka pintu kamarku.”

“Lalu?”

“Aku tidak bisa masuk ke dalam kamarku.”

“Benar. Itu juga berlaku padamu dan aku.”

Huh?

Ki Bum semakin gemas melihat ekspresi melongo Soo Rin. Gadisnya ini benar-benar perlu dituntun ternyata. Ki Bum mulai meremas lembut tangan Soo Rin, memberikan sensasi hangat dan menggetarkan bagi Soo Rin. Membuat gadis itu kembali berdesir dibuatnya.

“Sebagaimana dengan hubunganmu dan aku. Jika ruanganmu bersamaku kau kunci dengan gembok ini dan kau tidak memiliki kuncinya, maka kau tidak akan bisa membukanya karena kuncinya ada padaku. Dan sudah dipastikan aku tidak akan membukanya dengan kunci ini.”

“Ke-kenapa begitu?”

“Karena aku tidak mau siapapun memasukinya. Karena aku tidak mau siapapun mengutak-atik hubungan kita. Dan karena aku tidak mau melepas diriku sendiri apalagi melepasmu.” Ki Bum dapat melihat wajah itu mulai menampakkan semburatnya. Itu artinya, gadis ini sudah mengerti. “Jadi, terima kasih sudah memberikan kuncinya padaku. Aku akan menjaganya dengan baik,” ucap Ki Bum sambil menampakkan senyum manisnya. Terdengar begitu lugas.

Sedangkan Soo Rin, gadis itu perlu memompa jantungnya lebih keras lagi. Mendengar penjelasan Ki Bum sama seperti ketika lelaki ini mengutarakan perasaanya dulu. Benar-benar membuatnya jadi tidak karuan dan salah tingkah. Ditambah, dia semakin kewalahan ketika tubuh tegap itu mulai membuat kurungan lagi, semakin rapat.

“Aku punya permintaan.”

Huh?

“Dan aku ingin kau mengabulkan permintaanku.”

Soo Rin tampak menelan saliva. Tumben sekali Ki Bum meminta sesuatu padanya. Ah, benar, ini ‘kan hari ulang tahunnya. Jadi, sebagai gadis yang baik, Soo Rin harus mengabulkannya.

Anggap saja sebagai balasan karena dirinya terlambat mengetahui hari kelahiran lelaki ini, pikir Soo Rin positif.

“Baiklah.”

Ki Bum mengembangkan senyumnya begitu mendengar jawaban gadis ini. “Aku ingin kau mengabulkan tiga permintaanku.”

“Tiga?!” Soo Rin tertegun.

Eum.”

“Ha-hanya tiga?”

“Kau ingin lebih dari tiga? Baiklah, kalau begitu—”

“Baiklah! Tiga permintaan!” Soo Rin segera menyambar sebelum lelaki ini menyebutkan angka lebih dari tiga. Sedangkan Ki Bum harus mengulum senyumnya begitu melihat ekspresi panik dari gadisnya ini.

Setidaknya gadis ini mau mengabulkan tiga permintaannya.

“Permintaan pertama, ucapkan selamat ulang tahun untukku. Kau belum mengucapkannya padaku.”

Soo Rin mengangkat kedua alisnya. Heh, kukira dia akan meminta yang macam-macam. Kalau ini aku bisa, batinnya lega. Meski di samping itu dia merasa bersalah karena baru menyadari bahwa dirinya belum mengucapkannya.

Ki Bum menunggu dengan tatapan teduhnya yang tak pernah beralih dari wajah gadis di kurungannya kini. Sedangkan Soo Rin, tiba-tiba saja dia mulai gelisah. Padahal sebelumnya dia merasa ini sangat mudah. Tapi ternyata dengan ditatap lekat oleh lelaki ini membuat hal semudah itu menjadi sulit. Gadis ini semakin gugup.

“Selamat ulang tahun.” Soo Rin mengucapkannya dengan susah payah. Bahkan dapat dirasakan suaranya sedikit tergagap ketika mengucapkannya. Dan ia juga tidak berani membalas tatapan teduh itu.

“Apa kau sedang berbicara dengan tembok? Kenapa datar sekali?” Ki Bum dapat melihat wajah itu mulai memberenggut akibat pendapatnya. Membuat dirinya kembali mengulum senyum demi menahan kekehannya. “Lagi,” lanjutnya memerintah.

Soo Rin mengerucutkan bibirnya. Batinnya mulai mengelus dada agar dirinya tidak mengeluarkan emosinya hanya karena lelaki ini sedikit mengejek cara bicaranya. Lalu dengan satu tarikan napas, Soo Rin kembali mengucap, “Selamat ulang tahun,” dengan suara yang kecil namun berhasil melembut.

Dan dia mulai berharap bahwa ini harus berhasil.

“Bukankah kau harus menatap orang yang sedang kau beri selamat? Jika kau tundukkan pandanganmu, orang itu tidak akan tahu bahwa kau mengucapkannya dengan tulus atau tidak.” Ki Bum hampir tergelak begitu melihat wajah itu semakin memberenggut. Menggoda gadisnya di hari ulang tahunnya ternyata lebih terasa menyenangkannya. Dan ia semakin gemas melihat bibir itu kini tampak mengerut hingga sejajar dengan dagunya.

Mengingat soal dagu, Ki Bum akhirnya menyentuh dagu Soo Rin dan mengangkatnya hingga iris kecokelatan itu tertangkap di pandangannya. Beruntung kedua iris itu segera menyorotnya dan langsung terpaku dengan tatapannya. Dengan keteduhan yang dimiliki, Ki Bum sukses membuat Soo Rin harus menahan napas dan berdesir, tentunya.

“Lagi,” kini Ki Bum mengucapkannya dengan halus. Membuat gadis ini kaku hingga sulit untuk mengelak. Ditambah kurungannya yang jelas tidak mungkin diterobos oleh gadis ini sudah memenangkannya.

“Selamat ulang tahun…” Soo Rin berhasil mengucapkannya lagi. Dengan satu tarikan napas, dengan suara yang semakin mengecil yang justru semakin melembut, dan dengan tatapan yang sudah terkunci dengan iris hitam pekat di balik kaca mata itu.

Ki Bum kembali mengembangkan senyumnya, yang justru membuat wajah itu semakin menampakkan semburat kemerahannya. Gadisnya ini benar-benar menggemaskan.

“Permintaan kedua.”

Soo Rin sedikit bisa bernapas lega karena dirinya telah lolos dari ujian pertama. Namun dirinya juga mulai merasa was-was begitu lelaki ini akan berlanjut ke permintaan kedua. Ditambah, wajah tegas itu sedikit demi sedikit menampakkan sesuatu yang mirip dengan sebuah… seringaian.

“Cium aku.”

NE?!” Soo Rin terkejut bukan main. Barusan lelaki ini berkata apa? Cium? Dia tidak salah dengar? Kim Ki Bum meminta Soo Rin menciumnya?!

“Cium aku,” ulang Ki Bum kini dengan tubuh mulai dibungkukkan hingga wajahnya sejajar dengan wajah Soo Rin. “Di sini,” lanjutnya sambil menunjuk bibirnya sendiri.

H-huh?!” Soo Rin tak mampu mengungkapkan sepatah kata. Dirinya tercengang sekaligus jantungnya semakin berdebar kencang. Gila, bagaimana bisa dirinya melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan? Mencium—mencium Kim Ki Bum?! Yang benar saja! Jangan karena dirinya sudah pernah dicium lelaki ini, itu berarti dia bisa melakukan hal yang sama. Sudah jelas bahwa dia selalu tidak bisa berkutik dan tidak tahu harus bagaimana jika lelaki ini mulai melakukannya.

Bahkan Soo Rin belum pernah mencium ayahnya sendiri!

Cah!” Ki Bum menutup kedua matanya bersamaan dengan dilepaskan kacamatanya. Mulai menunggu. “Aku tidak akan membuka mataku sampai kau melakukannya,” ucapnya sambil mengulas senyum tipis.

“Apakah tidak ada permintaan lain?”

“Itu ada di permintaan ketiga.”

“Ma-maksudku—”

“Tidak ada. Tidak ada pengganti permintaan kedua.”

Soo Rin mulai kembali sulit bernapas. Dapat dirasakan jantungnya sudah melompat-lompat tak karuan dan ingin sekali rasanya melarikan diri dari tempatnya berdiri sekarang. Tapi apa daya jika kurungan lelaki ini telah berhasil melenyapkan kesempatannya untuk melakukan aksi tersebut?

Dengan mengumpulkan segala keberanian yang—entah bisa dikatakan sebagai suatu keberanian, Soo Rin menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menatap wajah yang masih betah menunggu dengan mata terpejam, dengan jarak yang hampir sangat dekat dengan wajahnya. Dan ia dapat melihat dengan jelas guratan-guratan yang semakin mempertegas ketampanan lelaki ini. Astaga, lelaki ini begitu sempurna jika dilihat dari jarak sedekat ini.

Park Soo Rin, bagaimana bisa kau membuat lelaki setampan Kim Ki Bum jatuh cinta kepadamu hingga rela menjadi Penggemar Rahasiamu, dulu?

Soo Rin mulai bergerak mencondongkan wajahnya. Dengan kembali menahan napas dan ikut memejamkan mata, Soo Rin berhasil mempertemukan bibir mereka. Entah itu bisa disebut sebuah ciuman atau hanya sekedar kecupan karena terjadi bagaikan secepat kilat. Tidak ada dalam sedetik, mungkin. Tapi yang jelas, Soo Rin berhasil melakukannya.

Hanya saja, gadis ini mulai khawatir karena kedua kelopak itu tak kunjung terbuka dan hanya bibir itu yang mulai mengembang.

“Apakah itu bisa dikatakan sebuah ciuman? Aku bahkan tidak yakin jika itu bisa dikatakan dengan sekedar kecupan.” Ki Bum terkekeh pelan. “Lakukan lagi.”

Mwo?!” Soo Rin tercengang.

Astaga, lelaki ini benar-benar sedang mengerjainya!

Ki Bum memegang sebelah pundak Soo Rin. Dengan mata yang masih terpejam, Ki Bum mengulang, “Lakukan lagi. Kini lebih lama.”

Ayah, maafkan aku karena telah memberikan ciumanku untuk lelaki menyebalkan ini terlebih dahulu, batinnya memelas. Dengan mengumpulkan keberaniannya lagi, dengan kembali menelan saliva, Soo Rin kembali mencondongkan wajahnya. Sambil kembali memejamkan mata, gadis ini berhasil kembali mendaratkan ciumannya. Dan kini, ia berusaha untuk menahannya. Meski sebenarnya dia sudah merasa tubuhnya ingin rubuh kapan saja…

Ki Bum semakin mengembangkan senyumnya. Dapat dirasakan bahwa perasaannya kembali membuncah hingga menggerakkan jantungnya untuk berdegup lebih cepat. Dia begitu menikmatinya dalam diam, tidak mencoba untuk bergerak. Karena dia tahu pasti gadisnya ini akan segera melepasnya jika dirinya mulai menunjukkan taringnya—lagi.

Ki Bum mulai membuka mata. Dan tak lama Soo Rin mulai bergerak mundur. Namun Ki Bum segera menahannya sebelum benar-benar terlepas, tangannya yang bebas bergerak merengkuh wajah itu demi kembali menyatukan ciuman mereka. Yang sontak membuat Soo Rin membuka mata saking terkejutnya. Dan detik itu pula matanya segera terpaku dengan iris hitam yang sudah menggelap itu. Tangan yang menggenggam kacamatanya serta memegang pundak Soo Rin, mulai bergerak memeluk tubuh ramping gadis itu. Merapatkan tubuh mereka. Dan Ki Bum mulai menekan ciumannya. Membuat Soo Rin kembali memejamkan mata, rapat-rapat.

Tapi Ki Bum tidak memulai pergerakan seperti biasa. Dengan mata yang masih terbuka, dalam keheningan, Ki Bum dapat melihat dan merasakan bahwa gadisnya benar-benar bereaksi terhadap perlakuannya. Detakan jantungnya yang sudah berpacu jauh di atas normal, tubuh yang semakin kaku di pelukannya, hingga wajah yang semakin merona. Membuat dirinya semakin menginginkan gadis ini untuk terus berada dalam jarak pandangnya.

Apa pun yang terjadi, di mana pun, dan kapan pun. Sungguh, dia tidak ingin melepas gadis ini, meski barang sejenak, dia tidak ingin melepas gadis ini. Dari genggamannya.

Akhirnya, Ki Bum melepas ciuman mereka. Sejenak batinnya merasa takjub sekaligus terheran dengan dirinya sendiri karena dirinya hanya melakukan sebatas menempel, tidak lebih. Meski rasa gemas memang tak dapat dipungkiri akan selalu muncul tiap melihat wajah merona itu, Ki Bum merasa untuk kali ini dirinya mampu menahan gejolak menggebunya.

Apakah karena hari ini adalah hari ulang tahunnya?

“Sudah kubilang, lebih lama, Park Soo Rin,” gumamnya tepat di depan wajah itu. Dan kedua kelopaknya mulai terbuka hingga menampakkan iris kecokelatan di dalamnya.

Ki Bum kembali mengulas senyum manisnya, lalu wajahnya kembali bergerak maju demi mendaratkan kecupan hangat di hidung gadisnya.

Soo Rin merasa ingin meleleh. Sarafnya seperti telah berhenti bekerja. Perlakuan manis yang didapatkan dalam selang waktu tidak ada dalam tiga puluh detik sejak kejadian barusan dari lelaki ini benar-benar membuatnya tersiksa karena ia seperti orang yang terkena penyakit serangan jantung dan membutuhkan banyak pasokan oksigen!

“Terima kasih,” ucap Ki Bum halus, terdengar begitu tulus. Membuat Soo Rin harus kembali berdesir dan merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya.

Seolah kantung suaranya sudah menghilang entah ke mana, Soo Rin hanya mampu membalasnya dengan sebuah anggukan.

“Boleh kuajukan permintaan ketigaku, sekarang?” kini Ki Bum seolah tengah meminta izin. Karena jelas gadisnya ini masih terguncang akibat perlakuan bertubinya tadi dan butuh waktu untuk meredakannya.

Setelah ada jeda yang cukup lama, Soo Rin akhirnya mengangguk sebagai jawabannya. Menandakan dirinya mengizinkan.

“Jangan panggil aku Kim Ki Bum.”

Soo Rin mengernyit bingung dengan permintaan ketiga lelaki ini. Jangan memanggilnya Kim Ki Bum?

“Kenapa?”

“Aku ingin kau memanggilku dengan panggilan lainnya.”

Soo Rin mengernyit lagi. Panggilan lainnya? Apakah lelaki ini memiliki panggilan yang lainnya?

“Ki Bum-sshi?”

Ki Bum mendengus geli begitu Soo Rin mengucapkannya. Ditambah gadis ini dengan cepat menampakkan wajah lugunya yang jelas membuat Ki Bum gemas. Lalu dirinya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.

“Ki Bum-nim?”

“Bukan.”

“Ki Bum Sunbaenim?”

“Bukan!”

“Ki Bum­-ie? Ki Bum—ah?”

Ki Bum menghelan napas panjang, mulai geram. Gadisnya ini benar-benar. “Bukan, Park Soo Rin.”

“Lalu apa? Ki Bum Ahjusshi? Atau Jenius Berotak Mesum? Huh?!” Soo Rin mulai tersungut hingga tanpa sadar dirinya menyebut julukan buatannya yang spontan terucap di liburan musim panas lalu.

“Panggil aku Oppa.”

Sempat ada jeda sejenak sebelum Soo Rin mulai melotot begitu otaknya berhasil mencerna.

M-mwo? Shirheo (tidak mau)!”

“Itu permintaanku, Soo Rin-ah.” Ki Bum menampakkan seringaiannya lagi. “Aku ingin kau memanggilku seperti itu.”

“Tidak! Aku bahkan belum pernah menggunakan sebutan itu seumur hidupku!”

Ki Bum semakin mengembangkan seringaiannya, sedangkan Soo Rin yang baru tersadar akan ucapannya barusan terkesiap hingga membekap mulutnya. Satu kartu As milik gadis ini telah terbongkar.

“Benarkah? Kalau begitu, gunakan sebutan itu untukku sekarang. Jadikan aku orang pertama yang kau panggil dengan sebutan itu dan jadikan itu sebagai hadiah ulang tahunku,” jelas Ki Bum kalem.

Soo Rin kembali berdebar-debar dibuatnya. Sungguh, memang selama ini dirinya tidak pernah mengeluarkan satu kata itu. Dia merupakan anak tunggal. Saudara laki-laki yang dia punya kebanyakan lebih muda darinya, sedangkan yang lebih tua darinya adalah perempuan seluruhnya. Dulu dia juga tidak memiliki teman lelaki yang spesial. Hingga dirinya mengenal Ryeo Wook dan juga Kai, dia tidak pernah berpikiran untuk memanggil mereka dengan sebutan itu. Apalagi Tae Yong dan Tae Min?

Jika dia berani melontarkan sebutan itu, sudah jelas akan menjadi kali pertama baginya. Ditambah dia harus menyebutnya untuk lelaki ini, sudah jelas lelakinya ini akan menjadi orang pertama yang dia panggil seperti itu.

Park Soo Rin, ini merupakan permintaannya. Jadi, harus dikabulkan.

Op—Oppa…”

Tiba-tiba saja seringaian Ki Bum menghilang. Dia dapat merasakan kecanggungan yang terhias dalam suara yang menyebut kata tersebut. Dan lagi, ada sensasi aneh yang menguar deras di benaknya begitu gadis ini menyebut sebutan itu. Sesuatu yang mirip dengan sebuah desiran, tapi ini lebih hebat. Dan dia tidak tahu apa itu.

Padahal dia sudah sering mendengar sebutan itu untuknya, sebelumnya. Lalu kenapa ini terasa begitu berbeda? Apakah karena ini merupakan kali pertama untuk gadis ini? Benar-benar kali pertama untuk gadis ini? Tapi kenapa efeknya bisa sampai padanya?

S-saengil chukhahae… Ki Bum—Oppa…

Ki Bum merasa jantungnya berjengit baru saja. Sensasi itu terasa semakin kuat menghantamnya. Menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan seolah terpusat di bagian perutnya, Ki Bum merasa daerah sana seperti tengah digelitik oleh gerombolan kupu-kupu yang bahkan dirinya tidak tahu mengapa perumpamaan itu terpikirkan di otaknya. Ditambah wajah cantik itu kembali merona begitu mengucapkan dua kata itu. Dua kata yang merupakan nama panggilannya itu!

Gila! Kenapa efeknya bisa seperti ini?!

“Su-sudah, kan? Begitu saja?” Soo Rin tergagap. Sungguh dia merasa ingin kabur saat ini juga. Ternyata efek menyebut sebutan itu benar-benar membuatnya seperti baru saja tertangkap basah mencuri barang berharga orang lain. Dia benar-benar malu saat ini. Bahkan dia seolah dapat mendengar degup jantungnya yang menjerit dan meronta.

Memberanikan diri menatap lelaki yang masih merengkuhnya, Soo Rin termangu begitu mendapati kedua mata teduh itu telah berubah. Wajah tegas itu juga tengah terperangah. Dan tampak memerah.

Memerah?

“Kim Ki Bum, kau tidak apa-apa?” tanya Soo Rin hati-hati. Sedangkan yang ditanya tidak merespon apapun. Tatapannya terus tertuju pada gadis yang mulai menampakkan ekspresi khawatirnya. Soo Rin mulai menggerakkan tangannya, mencoba menyentuh kening lelaki ini, memeriksa keadaannya. Apakah lelaki ini sedang sakit?

Namun belum sampai tangannya menyentuh, Ki Bum sudah mencekalnya. Membuatnya terkejut dan terheran begitu melihat ekspresi lelaki ini kembali berubah. Seolah tengah menahan sesuatu.

“Sudah kubilang, jangan panggil aku Kim Ki Bum,” desis Ki Bum sebelum bergerak maju. Mendaratkan sebuah kecupan di hidung Soo Rin—lagi—dan kini tersirat rasa gemas dibandingkan sebelumnya, karena saat ini dirinya tengah dilanda gejolak yang menyeruak tiba-tiba.

Sedangkan Soo Rin harus kembali berjengit dan kembali memompa jantungnya untuk bermarathon. Astaga, Kim Ki Bum menciumnya lagi!

“Jangan pernah gunakan sebutan itu pada siapapun.”

Huh?” Soo Rin mengerjap tak paham. Memberanikan diri menatap mata yang kembali menggelap itu. Dan mulai bergidik begitu pendengarannya menangkap sebuah geraman halus yang seolah tengah menggertak ketika mulut itu kembali mengucap.

“Jangan pernah gunakan sebutan itu untuk siapapun. Sekalipun itu untuk Tae Yong atau Tae Min, maupun Jong Jin Hyung atau Jong Woon Hyung. Siapapun! Jangan pernah memanggil mereka dengan sebutan itu.”

“K-kenapa?”

Ki Bum menatap Soo Rin semakin lekat. Dengan semakin mengeratkan pelukannya, dengan jarak kedua wajah yang masih sangat dekat, dengan iris hitamnya yang semakin menggelap serta geraman yang semakin tampak, Ki Bum menjawab. Yang seketika membuat Soo Rin tercengang hingga kembali berjengit dan jantungnya semakin jumpalitan.

“Selama kau bersamaku, hanya aku yang boleh mendapat panggilan itu. Dari mulutmu. Ini bukan permintaan, tapi perintah dariku.”

****

Waktu belajar-mengajar telah usai. Segera saja para murid membubarkan diri sebelum waktu malam tiba. Kecuali para murid tingkat akhir yang harus tetap tinggal dan kembali belajar hingga larut menjelang nanti.

Soo Rin baru saja melangkah keluar dari kelas begitu pandangannya mendapatkan sosok lelakinya sudah berdiri bersandar di seberang pintu kelasnya. Hingga akhirnya mereka saling menatap untuk barang sejenak sebelum akhirnya lelaki itu menegakkan tubuhnya dan melangkah mendekat.

“Cepat sekali keluar dari kelas?” tanya Soo Rin terheran.

“Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu hari ini,” jawab Ki Bum kalem.

“Apa?” Soo Rin terpaksa melongo.

Ki Bum mengulurkan sebelah tangannya. Tangan yang sudah dihiasi dengan gelang pemberian gadis di hadapannya ini. “Aku ingin berkencan.”

NE?!” kini Soo Rin terpaksa tercengang.

“Kenapa? Kita ‘kan belum pernah berkencan sebelumnya.” Ki Bum tampak tetap tenang. Padahal batinnya sudah terkekeh geli melihat raut wajah gadisnya yang tampak terkejut itu.

“Tapi… hari ini?”

Eum.”

Soo Rin semakin melongo bodoh. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Memang benar bahwa mereka belum pernah melakukan yang namanya berkencan itu. Hanya saja, ini mendadak sekali.

“Kau tidak mau?” tiba-tiba saja Ki Bum menampakkan raut wajah memelasnya. Yang seketika membuat Soo Rin kembali tercengang melihat ekspresi itu. Ini adalah kali pertama dirinya melihat lelaki itu tampak seperti tengah memohon.

“Aku hanya ingin menghabiskan hari ulang tahunku dengan berkencan denganmu. Tidak boleh?” Ki Bum memelas lagi. “Lagi pula tahun depan sudah dipastikan tidak akan ada waktu seperti ini lagi karena kita sudah berada di tingkat akhir,” dan lagi-lagi Ki Bum memelas.

Astaga, ada apa dengan lelaki ini? pikir Soo Rin takjub. Bagaimana bisa sang Jenius Peringkat Satu ini rela meruntuhkan wajah dinginnya—di depan umum!—hanya karena ingin berkencan? Berkencan!

“Baiklah jika kau tidak mau,” dan kini Ki Bum menunjukkan ekspresi mirisnya. Dengan menjatuhkan tangannya yang sempat terulur, lalu mulai melangkah meninggalkan Soo Rin. “Sampai bertemu besok,” pamitnya kemudian.

Arasseo (Baiklah)!!” Soo Rin segera meraih pergelangan tangan Ki Bum. Tiba-tiba saja tubuh dan benaknya tergerak karena tingkah langka lelaki ini. Ternyata lelaki ini sangat mampu mempengaruhi pikiran dan hatinya. Hebat sekali.

“Kita… berkencan hari ini…” gumam Soo Rin, mulai merasa gugup. Sedangkan Ki Bum segera menampakkan raut sumringahnya hingga terbentuk seulas senyum yang sangat manis di mata Soo Rin. Bisa dilihat sendiri? Ki Bum benar-benar terlihat berbeda!

Ki Bum kembali mengulurkan sebelah tangannya. Tak lama, Soo Rin meraih tangan itu hingga sang pemilik segera menautkan jemari mereka sekaligus mengapit lengan mereka hingga rapat. Dan, mereka mulai melangkah. Sedangkan Soo Rin harus menunduk. Merasa belum percaya diri dengan tatapan-tatapan yang begitu jelas menghunusnya. Sejak mereka bertemu tadi, sebenarnya mereka sudah menjadi pusat perhatian penghuni sekolah ini. Tapi karena lelaki ini terlihat tidak peduli, dia terpaksa harus tidak peduli juga.

“Jangan hiraukan mereka. Aku ingin kau bersenang-senang bersamaku hari ini,” tegur Ki Bum yang menyadari kegugupan gadisnya ini. Menghentikan langkah, Ki Bum beralih menatap gadis di sampingnya ini. Membuat Soo Rin akhirnya ikut menatapnya. Dan, Ki Bum kembali mengulas senyum teduh dan manisnya. Sebelah tangannya yang bebas bergerak menuju puncak kepala Soo Rin lalu mengusapnya dengan lembut. Yang justru membuat Soo Rin salah tingkah serta para penguntit itu berdecak iri.

Sial. Lelaki itu benar-benar sangat manis, ternyata, pikir mereka.

Saranghae,” bisiknya tepat di depan telinga Soo Rin. Memberikan gelenyar yang seketika membuat kedua pipi itu memanas hingga merona. Mencoba untuk tidak menghiraukan reaksi itu—takut dirinya lepas kendali karena pemandangan itu, Ki Bum kembali melangkah yang otomatis diikuti oleh gadis ini.

Dan tanpa Ki Bum sadari, Soo Rin yang sudah tertunduk tampak mengembangkan senyum manisnya. Membiarkan dirinya dituntun lembut oleh lelaki ini. Lalu pandangannya tertuju pada tautan mereka. Tautan yang dihiasi oleh gelang sederhana namun sangat bermakna, di masing-masing pergelangan. Memberikan kesan tersendiri bagi siapa saja yang tidak sengaja melihatnya. Kesan yang begitu manis, dan juga indah tentunya.

Nado saranghae. Keurigo, saengil chukhahae, Ki Bum—Oppa…

You always lift your head to look at me

I take my big hands and cup your cheeks and you freeze

I want to be face to face until our noses press together

I want to go everywhere and anywhere with you

My little girlfriend*

.

.

.

-END 


 

ciee kisukisu balik lagi ciee #hening-_-

akhirnya project abalanku terbiiiiitt~ untuk kali ini, aku ngga mengharapkan para readers untuk mual (meski sebenarnya, iya._.) aku berharap, readers ikut menikmati.. (menikmati gimana? ngambang iya -__-) hahahah Cuz it’s special day!

Happy Birthday Kim Ki Bum!! Semoga sehat selalu dan diberkahi selalu. Semoga kembali ke Super Junior dalam waktu dekat. You said that being a singer is God’s will so you have to go back and sing with Super Junior again! We waiting~~^^ come back hooooomme~~ //efek2ne1lagi// ><

sebenarnya ini project pertamaku. Selama ini aku belum pernah bikin yg beginian, secara belum lama aku berkecimpung di dunia per-ff-an. Bikin project buat bias aja belum hahahahah /lirik Hyukjae/? xD Jadi, semoga readers menyukainya~ ah tidak tidak, semoga readers menikmatinya~~><

Yosh! Sekali lagi, Happy Birthday Kim Ki Bum!!

dan terima kasih sudah mau mampir~^-^

couple-bracelet
ini gelang pasangan si kisukisu xD

*) Super Junior – Haru

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

20 thoughts on “[Special Ki Bum’s Birthday] I’m Sorry, Happy Birthday!

  1. Kim kibum-nya aku culik aja yaa hahaha bercanda. Duhh sweet bangett aku sampe meleleh bacanyaaa. Apalagi pas bayangin wajah Kim Kibum yang sedang memelas, jadi cute gimana gituuu hihiii pokoknya ini blog fanfiction yang paling aku sukaaa ^^

  2. lama tak berkujung ksini ternyata sdh bxk yg baru..

    ngomong2 soal ff ini ceritanya aduhh manis bgt …
    waktu soorin mau nyium kibum kok sy yg deg degan yaa? hahaha

  3. Daebak itu kata yg tepat untuk menggambarkan perasaanku setelah baca nih ff pokoknya mah selalu bikin aku deg2an berdebar and senyum2 sendiri saking terbawa suasana…
    Kibum oppa sweet bgtzzzz…

  4. Omgg kibum~~ 😍 soorin gk tau ultah kibumm wakaka padahal udh 1th pacaran 😆😆 modal nekat wkwkkwkkks gelangnya bagus dah jadi mau 😓😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s