Posted in Fiction, PG, Romance, School Life, Special FF "My Favorite Girl", Vignette

My Favorite Girl – Meet Again {HenHee}

Genre: Absurd Romance, School Life
Rated: PG-15
Length: Vignette

Who Is He? | Meet Again

mfgCover
Cerita ini special untuk Henry-Saehee. Dan seperti biasa cerita ini berasal dari imajinasi absurd saya. Maaf untuk segala typo dan alur yang ngambang.. hehet! Let’s have a good time, together! Please enjoy~^^

ㅡㅡ

“Tidak perlu! Biar aku saja yang menelepon. Oppa antarkan Eonni saja sampai depan rumah!” seru Sae Hee sambil melambaikan tangan. Mengantar kepergian pasangan itu.

Haish, gadis itu…” gerutu Henry sebal. Bisa-bisanya gadis itu berhasil menghalangi rencananya. Terpaksa dirinya pulang ke rumah Keluarga Park tanpa membawa sang tuan rumah. Padahal niatnya datang kemari ‘kan ingin menjemput, selain memberi kejutan.

Begitu Sae Hee berbalik hendak kembali ke sekolah, tanpa komando matanya melirik Henry hingga detik kemudian ia kembali mematung. Sontak saja keduanya kini saling melempar pandang. Begitu jeda terlewatkan, keduanya melebarkan mata bebarengan. Menyadari siapa yang ada di hadapan.

You?!

Dengan kompak mereka berseru dengan saling menunjuk satu sama lain. Bahkan dengan kompak pula mereka berseru dengan Bahasa Inggris yang sangat fasih. Dan mereka terkejut menyadari bahwa mereka seolah memiliki ikatan batin…

What are you doing in here?!” Sae Hee mengucap terlebih dahulu. Keningnya mulai berkerut membentuk beberapa lipatan, kedua matanya yang sempat melebar mulai menyipit.

Me?” Henry mengerjap beberapa kali. Mata sipitnya yang sempat melebar kini membulat yang memberikan kesan kekanakannya. “Vacation. What about you? Why are you here? Ah, you’re following me, don’t you?!” tuding Henry tiba-tiba.

Babo (Bodoh)!! Untuk apa aku mengikutimu?” sungut Sae Hee kembali dengan bahasa asalnya. “Apa kau tidak lihat penampilanku sekarang? Aku bersekolah di sini. Aku sudah lama di sini! Jadi untuk apa aku mengikutimu? Percaya diri sekali dirimu, dasar Bakpao!”

Yaa, kau masih saja memanggilku begitu?!” Henry ikut kembali dengan bahasa negeri di pijakannya. “Apa kau tidak lihat wajahku ini? Bagaimana bisa kau menyebut wajah tampan ini dengan sebutan Bakpao?! Aishi, jinjja…” sungutnya.

Cih! Wajahmu tidak ada bedanya dengan yang dulu. Tidak perlu berbangga diri! Wajah bakpao seperti itu dibilang tampan? Heol…

Ish… gadis ini benar-benar. Tidak ada sopan santunnya,” gerutu Henry. “Tunggu dulu. Tadi kau memanggil lelaki berkacamata itu dengan sebutan apa?” lanjutnya begitu mengingat sesuatu.

Oppa. Dia Oppa-ku. Ya, apa yang sudah kau lakukan hingga Oppa-ku berperilaku seperti tadi?” Sae Hee memicing. “Jangan katakan bahwa kau sudah melakukan sesuatu pada Soo Rin Eonni. Ya, berani merebut Soo Rin Eonni dari Oppa-ku maka kau harus berhadapan denganku terlebih dahulu!” Sae Hee mengacak pinggang.

Hoo, jadi kau adiknya?” Henry tampak memandangi Sae Hee dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kau juga mengenal dekat Soo Rin Noona rupanya. What a narrow world,” gumamnya kemudian.

“Jadi, kau ini siapa? Kau menyebut Soo Rin Eonni dengan sebutan seperti itu, kau mengenal dekat Soo Rin Eonni?” Sae Hee masih bertahan dengan posisinya.

Aih, gadis ini, seenaknya saja menyebut Noona seperti itu. Memangnya dia adik Noona?” gerutu Henry yang masih terdengar jelas di telinga gadis di hadapannya itu.

Ya, malhae (katakan)!!” sungut Sae Hee tak sabaran.

Ish! Aku adik sepupu dari Soo Rin Noona!”

What?” Sae Hee melongo. Terkejut.

****

Noonaaaaaaa!!!”

Ya!! Apa kau sudah melupakan tata krama mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan orang lain, huh?!”

Henry memamerkan cengiran lebarnya mendapati semprotan dari Soo Rin. Lalu dengan tanpa permisi dirinya melengos masuk ke dalam kamar gadis itu dan menjatuhkan diri di kasur empuk berbalut sprei berwarna merah muda itu, duduk bersila dengan nyamannya tanpa menghiraukan tatapan memicing dari sang pemilik kamar yang masih duduk di kursi belajarnya. Akhirnya, Soo Rin memilih untuk memutar kursi yang didudukinya hingga menghadap bocah itu.

Wow, kamar Noona masih belum lepas dari warna Pink ternyata,” gumam Henry dengan mata bergerak liar mengedar ke seluruh sudut ruangan. Kemudian berhenti tepat pada tumpukan bantal di atas kasur berukuran single tersebut dan mengambil salah satu bantal berbentuk Winnie The Pooh lalu memeluknya. “Noona masih menyimpannya? Waaah, padahal punyaku sudah entah ke mana. Dan, wow, kenapa begitu wangi?” gumamnya lagi.

“Aku mencucinya setiap bulan. Kau memang selalu tidak bisa menjaga barang kepunyaan dengan baik,” cibirnya sambil berdecak. Membuat lelaki itu mengerucutkan bibir. Lucu sekali. Memang kenyataannya begitu. Sejak dulu, apapun barang kepunyaan lelaki itu selalu tidak bertahan lama. Entah itu karena rusak atau bahkan menghilang. Entah apakah sekarang kebiasaan buruk itu masih menyarang di dirinya atau sudah pudar. Semoga saja dirinya tidak selalu berganti ponsel selama ini.

“Ah, Noona, aku ingin bertanya sesuatu,” seru Henry begitu menampakkan ekspresi baru ingatnya. “Noona mengenal dekat gadis bernama Sae Hee itu?”

“Sae Hee? Kim Sae Hee?” Soo Rin memastikan. Begitu melihat lelaki itu mengangguk, Soo Rin menggangguk pula. “Eo. Kenapa? Kau mengenalnya?” Henry mengangguk. “Benarkah? Bagaimana bisa? Kau pernah bertemu dengannya sebelumnya?” Soo Rin sedikit terpana melihat Henry kembali mengangguk. “Apakah kalian satu sekolah dulu?”

Ctik! Henry menjentikkan jari. “That’s right!

Huh?” kini Soo Rin mengernyit, bingung. Sebenarnya dia asal menebak, tapi tidak disangka bahwa tebakannya itu benar. “Bagaimana bisa? Kalian ‘kan tinggal di Negara yang berbeda.”

“Aah, Noona tidak tahu? Aku pernah mengikuti pertukaran pelajar saat Middle School selama enam bulan. Dan aku ditempatkan di sekolah gadis itu, di California. Bahkan satu kelas dengannya,” jelas Henry dengan raut wajah sedikit masam. Tampak dirinya tengah mengenang masa lalunya itu.

Daebak (Hebat),” gumam Soo Rin kagum. “Kau sudah mengenal dekat Sae Hee rupanya.”

Aniya! Dia itu menyebalkan,” balas Henry menggerutu.

“Kenapa? Apakah dia melakukan aksi bully padamu?” mendadak Soo Rin khawatir, meski sebenarnya dia tidak percaya jika Sae Hee pernah seperti itu di sana dulu. Tanpa sadar saja dirinya mengutarakan pertanyaan itu, mengingat kebudayaan sana yang selalu terjadi aksi mengerikan semacam bullying membuat dirinya takut bahwa saudaranya itu pernah mengalaminya.

Tapi ternyata, Henry mengibaskan tangannya sambil menggeleng. Menyadari raut wajah kakak sepupunya itu begitu khawatir. “Tidak, Noona. Aku selalu menjadi murid yang disegani. Aku anak dengan segudang bakat hingga mereka tidak berani menyakitiku, Noona tahu sendiri, ‘kan?” ucapnya menenangi, sekaligus membanggakan diri sendiri. Lihat saja wajah cerahnya dengan senyum lebar yang semakin menampakkan paras bocahnya itu. Mungkin wajah itu juga yang selalu menyelamatkannya selama bersekolah di sana.

Soo Rin memicing meski merasa lega. Batinnya memang mengakui segala kemampuan yang dimiliki oleh bocah di hadapannya itu. Dengan usia yang masih sangat muda, Henry sudah menguasai berbagai macam alat musik: biola, piano, gitar, bahkan saat ini bocah itu sedang mencoba untuk menguasai drum. Dia sudah membuktikan bakat permainan biolanya itu di berbagai kompetisi musik di sana dan selalu menjadi juara. Selain menguasai alat musik, dia juga memiliki kemampuan otak di atas rata-rata. Tanpa menjadi kutu buku, bocah itu sudah jenius. Dan lagi, dia juga memiliki kemampuan bela diri. Jadi siapa yang berani mendekatinya dengan niatan untuk menyakitinya?

“Lalu karena apa?” tanya Soo Rin akhirnya.

“Dia selalu mengataiku Wajah Bakpao!” gerutu Henry sambil kembali mengerucutkan bibir. Kedua tangannya semakin erat memeluk bantal Winnie The Pooh tersebut.

“Hanya itu?”Soo Rin mengangkat kedua alisnya, dan menahan keinginannya untuk tertawa. Dia mengira karena hal yang serius, tapi ternyata, hanya karena itu?

“Aku tahu Noona pasti ingin tertawa.” Henry memicing sebal. “Aih, bagaimana bisa wajah tampanku ini disebut wajah bakpao? Sepertinya gadis itu mengalami gangguan penglihatan,” sungutnya sambil mengelus wajahnya itu. Bermaksud memanjakannya, mungkin.

“Wajahmu itu memang seperti Bakpao!” tandas Soo Rin tiba-tiba.

Aih, Noonaaa, wajahku ini tidak bulat seperti bakpao!”

“Memang tidak bulat, tapi dari dulu wajahmu itu tembam dan merah seperti bakpao. Aku rasa justru Sae Hee memiliki penglihatan yang begitu tajam.”

Noonaaaa!!

“Kau menyukainya?”

WHAT?! Yaa, Noona!! Kenapa bertanya seperti itu dengan tiba-tiba?! Tentu saja aku tidak menyukainya! Sejak dulu aku benar-benar anti padanya!!”

Hoo…” Soo Rin memajukan bibir bawahnya. Begitulah jika dirinya sedang mengejek tanpa bicara. Apalagi melihat raut wajah saudara sepupunya itu berubah dengan cepatnya begitu dirinya mengeluarkan pertanyaan itu. “Memangnya dia itu virus?” gumamnya asal, mendengar kalimat terakhir lelaki itu.

That’s right! She’s like a virus which must be avoided! Noona, jangan terlalu dekat dengannya!” ujar Henry dengan serius. Dia tampak begitu mewanti, ternyata.

Soo Rin berdecak. Bocah di hadapannya itu pasti baru saja menonton salah satu film thriller. “Kau terlalu berlebihan, Henry-ah. Sae Hee itu gadis yang baik, sangat jauh dari deskripsimu itu. Kenalilah dia lebih dekat lagi,” balas Soo Rin sambil membalikkan kursi yang didudukinya, kembali menghadap meja belajarnya.

“Aku serius, Noonaa!” Henry cemberut. Dia mulai tidak suka jika Noona-nya itu mengalihkan perhatian darinya. Kemudian dia termangu, kembali mencerna perkataan Soo Rin. “Mengenalinya lebih dekat lagi? Huh! Never!!

****

Oppa!

Ki Bum yang tampak tengah berkutat dengan buku-buku tebal di meja belajar, menoleh begitu mendengar panggilan serta derikan pintu kamarnya. Adik perempuannya itu dengan tanpa permisi masuk ke dalam ruang pribadinya. Lelaki itu hanya merespon dengan gumaman sambil kembali menekuri kegiatan sebelumnya.

Sae Hee menarik kursi empuk berbentuk lingkaran yang menghiasi kamar itu lalu mendudukinya tepat di samping kakaknya. Melipat kedua tangannya di atas meja belajar dan memandang kakak lelakinya itu.

Oppa, Soo Rin Eonni memiliki adik sepupu?”

Eum. Wae?

“Jadi benar Henry Lau adalah adik sepupu Soo Rin Eonni?

Ki Bum kembali menghentikan kegiatan mencatatnya dan menoleh. “Kau mengenalnya?” kening Ki Bum mengerut.

“Dia murid pertukaran pelajar di sekolahku dulu, Oppa. Yang selalu aku ceritakan pada Oppa dulu!”

“Benarkah?” kini Ki Bum mengangkat kedua alisnya, sedikit terpana. “Daebak,” gumamnya kemudian sambil kembali mencatat.

Ish, daebak apanya? Bukankah aku sudah pernah menceritakannya pada Oppa? Dia bocah yang sombong karena tidak mau mengakui kenyataan bahwa wajah bulatnya itu memang seperti bakpao. Aah, aku tidak menyangka bocah sipit itu merupakan adik sepupu dari Soo Rin Eonni. Mereka tidak mirip!”

“Kebanyakan saudara sepupu itu tidak terlihat mirip, Sae Hee.”

“Aku tahu, tapi bagaimana bisa bocah sombong itu merupakan adik dari kekasih Oppa? Ough, benar kata dia, what a narrow world…

“Kau senang bertemu dengannya lagi?”

Whaaatt?! No, Oppa! I was not happy to see him again!! Wajah bakpaonya itu benar-benar ingin kutindas dengan kedua tanganku!”

Ki Bum tersenyum simpul mendengar ocehan adiknya itu. “Itu tandanya kau sangat ingin menyentuh wajah bakpaonya itu,” sindirnya kemudian.

Oppa!!

“Itu benar, ‘kan?”

Totally not!!

Ki Bum menghentikan kegiatannya, memilih untuk beralih menatap adiknya itu. Dan kembali tersenyum simpul melihat wajah memberenggut adiknya yang begitu menggemaskan itu. Sebelah tangan kekarnya bergerak mengusap gemas puncak kepala Sae Hee. “Aku rasa dia satu-satunya orang yang selalu membuatmu banyak mengoceh seperti ini. Dia pasti selalu membuatmu geram selama enam bulan itu.”

That’s right!!” Sae Hee menekankan tiap kata. Beginilah jika dia sedang merasa gemas. Ki Bum mengangguk-angguk paham.

“Kau pasti merindukannya.”

WHAT?! NO, OPPA!!

****

From: Henry

Noona, aku sudah berada di depan sekolah Noona.

Soo Rin segera membalas pesan singkat dari Henry itu. Menyuruh saudara sepupunya itu untuk menunggu sebentar lagi. Kemudian dengan bergegas ia membereskan buku-bukunya dan memikul tas ranselnya.

“Tidak menunggu Ah Reum?”

Soo Rin yang baru ingin melangkah mengurung niatnya, menoleh ke belakang dan mendapati Ki Bum tengah menatapnya.

“Hari ini aku akan pergi bersama Henry. Aku sudah mengabari Ah Reum, dia akan pulang bersama Tae Yong.” Soo Rin menunjuk lelaki yang masih beberes di bangku belakang dengan dagunya. Seolah tunjukan itu seperti sebuah panggilan, lelaki bernama Tae Yong itu mendengak dan tersenyum, melambaikan tangan sejenak sebelum beranjak keluar kelas. “Tae Yong-ah, tolong jaga Ah Reum!” serunya kemudian.

“Laksanakan!” Tae Yong mengacungkan jempolnya sambil berlalu.

“Kau akan pergi bersamanya? Ke mana?” Tanya Ki Bum setelahnya.

“Mengantarnya berkeliling. Dia bilang ingin jalan-jalan bersamaku. Lagipula besok hari libur,” jawab Soo Rin dengan jujur. Memamerkan senyum lugunya.

“Kenapa tidak besok saja?”

“Entahlah. Dia mengatakan ingin pergi hari ini juga.” Soo Rin menyipitkan mata melihat ekspresi lelaki itu. Sejurus kemudian sebuah senyum jahil menghiasi wajah cantiknya. “Kau tidak cemburu, ‘kan?” tudingnya.

Langsung saja Ki Bum menoyor kening gadisnya itu. Lagi-lagi dirinya disindir. “Pergilah sesuka hatimu,” balasnya datar.

Soo Rin memajukan bibir bawahnya. “Benarkah? Kalau begitu kau ingin menitip sesuatu?”

Ki Bum berdecak. Gadisnya ini sudah berani menyindirnya ternyata. “Dwaesseo (Tidak perlu). Jangan pulang larut malam,” ujarnya sebelum beralih meraih tas ranselnya.

“Kim Ki Bum masih cemburu pada Henry,” gumam Soo Rin sambil berlalu menuju pintu kelas bagian depan. Tidak tahukah dirinya bahwa lelaki itu kembali menatapnya tajam? Tapi begitu sampai di ambang pintu, beruntungnya Ki Bum bahwa Soo Rin menoleh padanya. Langsung saja kedua iris kecokelatan itu melebar mengetahui lelaki itu melangkah lebar mendekatinya dengan mimik ingin menerkam. “Hwaaaaaaa!!!”

Soo Rin berlari menelusuri koridor, yang justru mengundang perhatian melihat hanya dirinya tengah terbirit. Tapi penghuni koridor itu segera terpana melihat Ki Bum juga berlari di belakang gadis itu. Mengejarnya.

Omo! Soo Rin-ah, jangan berlari! Kau bisa jatuh!” Ah Reum yang tengah menuruni tangga bersama Tae Yong tertegun begitu melihat sosok sahabatnya itu menuruni tangga dengan tergesa, mendahuluinya. “Yaa, Soo Rin—” dan tercekat begitu mendapati Ki Bum menyusul.

“Astaga, sejak kapan mereka suka bermain kejar-kejaran?” gumam Tae Yong, terperangah.

“Bukankah kau satu kelas dengan mereka? Kenapa tidak tahu?” Ah Reum mengernyit mendapati jawaban Tae Yong yang hanya mengedikkan bahu.

“Tae Min-aaahh!!

Merasa terpanggil, Tae Min yang tengah berjalan santai menelusuri koridor lantai dasar berbalik badan dan terkejut mendapati Soo Rin tengah berlari ke arahnya lalu segera berdiri di belakangnya, menyembunyikan diri?

Yaa, kau kenapa?” Tae Min melongo bingung. Apakah gadis ini baru saja berlari marathon? Nafasnya begitu tersengal. Tapi Tae Min segera menghadap ke depan begitu mendengar derap kaki mendekat. Seketika otaknya menganalisis begitu lelaki gadis ini sudah berdiri di hadapannya. “Ya, jangan katakan kalian sedang bermain kejar-kejaran,” ujarnya memicing.

“Semacam itu,” sahut Ki Bum datar. Nafasnya yang sempat tersengal dengan cepat kembali teratur. Berbeda dengan Soo Rin, gadis itu masih sibuk mengatur nafas sambil bersembunyi di balik tubuh kurus tegap Tae Min. Begitu Ki Bum melangkah mendekat, gadis itu semakin menyembunyikan diri. Membuat Ki Bum berdecak tak suka melihat kelakuan gadisnya itu.

“Soo Rin-ah, bisakah kau tidak melibatkanku? Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kalian dan aku tidak mau babak belur di tangan lelakimu,” pinta Tae Min yang sukses membuat Ki Bum memicing tak suka. Sedangkan Tae Min hanya memamerkan senyum lebarnya, lebih tepatnya meringis.

.

Sae Hee baru saja keluar dari kelasnya, melangkah menuju ke depan gedung—tempat yang sudah menjadi kebiasaannya menunggu kakaknya turun dan menjemputnya sebelum pulang bersama. Pandangannya menelusuri lapangan besar Neul Paran yang dipenuhi para murid sekolah tersebut. Tempatnya yang menjadi pembatas antara gedung sekolah dan pintu gerbang utama sekolah hingga sering diseberangi para murid untuk berlalu-lalang.

Namun kemudian, tak sengaja tatapannya terpaku pada pintu gerbang utama Neul Paran. Mendapati sosok yang tak asing menurutnya tengah berdiri bersandar pada dinding gerbang sekaligus mengenakan pakaian yang dipastikan bukan seragam Neul Paran hingga sangat mencolok. Begitu menyadari siapa sosok itu, matanya yang sempat menyipit demi menajamkan penglihatannya, sedikit melebar.

That kid…” desisnya sebelum melangkah cepat menuju gerbang, menghampiri sosok mencolok itu.

.

From: Soo Rin Noona

Tunggu saja di situ. Aku akan segera datang.

Okay, Noona,” gumam Henry begitu membaca balasan dari Soo Rin. Disimpannya ponsel berwarna silver tersebut ke saku celananya. Mulai menunggu. Tanpa menghiraukan tatapan aneh dari para murid Neul Paran yang tengah menyerbu keluar dari area sekolah mengingat ini sudah waktu jam pulang. Siapa yang tidak tertarik untuk memperhatikannya? Wajah asingnya meski bermata sipit tetapi mengenakan pakaian santai sudah jelas sangat mencolok.

Tapi ketidakhirauannya sirna begitu matanya menangkap sosok yang cukup dikenalnya tengah melangkah cepat mendekatinya. Dia sangat yakin sosok itu memang ingin menghampirinya melihat tatapan menghunus itu benar-benar ditujukan untuknya. Langsung saja tubuh tegapnya ditegakkan demi menyambut orang itu.

“Sedang apa kau di sini?” tanpa basa-basi Sae Hee langsung mengajukan pertanyaan pada Henry. Mata sipitnya memicing. “Spying me, huh?!” tudingnya langsung.

Heh! Percaya diri sekali orang ini,” dengus Henry. “Maaf mengecewakanmu, Nona. Sayangnya aku datang kemari untuk menjemput kakak sepupuku. Aku akan berkencan dengannya hari ini,” lanjutnya sambil tersenyum lebar.

“Apa?! Kencan?!” Sae Hee melotot.

“Kenapa? Kau tidak terima? Aah, you’re jealous, hm?” ejek Henry dengan percaya diri.

Jealous?! Huh! Mimpi saja kau!! Ya, kau akan kuadukan pada Ki Bum Oppa karena berani mengajak Soo Rin Eonni berkencan!”

“Adukan saja. Memangnya kenapa jika aku berkencan dengan Noona-ku sendiri?” Henry menjulurkan lidah.

Sae Hee tampak mengumpat tanpa suara. Mulutnya sudah komat-kamit mengutarakan berbagai umpatan untuk lelaki di hadapannya itu. Tapi akhirnya ia berseru, “Dasar Bakpao!!”

Ya! Stop calling me like that!!

“Bakpao!!”

Aishi…

“Dasar Wajah Bak—”

CHUP

Sae Hee merasa dihantam tiba-tiba. Suaranya yang tengah berkicau mengeluarkan ejekan untuk lelaki di depannya itu menghilang begitu saja bagai direnggut secara paksa. Tubuhnya kaku seketika. Bahkan jantungnya serasa berhenti berdetak. Begitu matanya mengerjap demi mencerna apa yang baru saja terjadi, dia mulai merasakan kembali jantungnya berdetak, dua kali—tidak, bahkan tiga kali lebih cepat.

Apa yang baru saja lelaki itu lakukan padanya?

Once again you call me like that, I will kiss your lips,” kecam Henry dengan suara beratnya. Tunggu, rasanya baru kali ini Sae Hee mendengar suara berat itu. Biasanya lelaki itu akan berbicara dengan suara cemprengnya, tapi ini terdengar berbeda. Lugas dan, cukup membuatnya merinding…

Perlahan tangan Sae Hee terangkat, menyentuh ujung hidungnya yang baru saja diserang Henry. Seolah lelaki itu masih melakukannya, jejaknya masih sangat terasa. Hangat—tidak, panas. Sae Hee merasa panas di hidungnya, bahkan mulai menjalar hingga ke seluruh wajahnya, begitu menyadari apa yang sudah lelaki itu lakukan padanya.

Henry mencium hidungnya!

OPPAAAAAAAAAAAAAA!!!

.

.

.

-END


 

MFG kembali lagiiii~~

Untuk kali ini, cerita absurd ini special untuk Henlli~ hahahah Ngambang ya? Begitulah……… /elapingus/?

Jujur aja, aku masih bingung untuk kelanjutan dari MFG ini, ditambah, perasaan dari awal judul sama isi ngga sesuai ya ==” padahal rencana mau bikin cerita kisukisu dengan judul itu, malah isinya ke mana-mana. Hahahah salah kaprah.. maaf v(_ _)v

Tapi, semoga readers yang nyasar kemari merasa terhibur meski merasa ngambang (?) hehet! xD

Terima kasih sudah mau mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

6 thoughts on “My Favorite Girl – Meet Again {HenHee}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s