Posted in PG-15, Romance, School Life, Special FF "My Favorite Girl", Vignette

My Favorite Girl – Who Is He?

Genre: Absurd Romance, School Life
Rated: PG-15
Length: Vignette / One Shot

Kim Ki Bum | Park Soo Rin | Henry LauMFG1

This story comes from my absurd imagination. Sorry for typos and please enjoy~^^ Let’s have a good time, together! 기대해도 좋아 let’s go!!

ㅡㅡ

Guess who?

“Si-siapa?”

“Kau tidak ingat aku?”

&&&

Musim semi terus berjalan menuju penghujung. Memberikan semangat para penduduk Negeri Ginseng untuk menyambut musim panas. Sekolah-sekolah masih melaksanakan rutinitas belajar-mengajar seperti biasanya. Tak terkecuali Sekolah Menengah Atas Neul Paran.

Hari telah sore. Kegiatan sekolah telah berakhir. Para Murid Neul Paran tampak menyerbu gerbang utama sekolah untuk kembali ke rumah masing-masing. Tak luput dari kedua gadis yang sudah dekat sejak duduk di bangku kelas satu, mereka tampak berjalan beriringan keluar dari kawasan sekolah demi kembali ke rumah. Arah pulang yang sama sukses membuat mereka tetap dekat meski harus berbeda kelas di tahun terakhir di sekolah tersebut.

Soo Rin dan Ah Reum.

Hanya saja, begitu mereka berhasil lepas dari kawasan sekolah, sesuatu memaksakan mereka untuk menghentikan langkah. Ah Reum tampak merogoh tasnya, keningnya berkerut menandakan dirinya belum juga mendapatkan apa yang ingin ia raih dari dalam. Hingga akhirnya ia menepuk keningnya keras tanda menyadari sesuatu.

“Bodohnya aku! Aku meninggalkan ponselku di dalam loker kelas.” Gerutu Ah Reum sambil menutup kembali resleting tasnya. “Soo Rin-ah, aku kembali ke sekolah dulu. Kau mau ‘kan tunggu di sini? Atau kau mau ikut aku?” lanjutnya.

“Aku tunggu di sini saja. Cepatlah ambil ponselmu, jangan sampai hilang.” Soo Rin terkekeh melihat Ah Reum mengerucutkan bibir karena kalimatnya. Gadis itu mengantarkan kepergian Ah Reum dengan decakan. Bisa-bisanya sahabatnya itu melupakan benda penting begitu saja.

Drrt drrtt…

Merasakan getaran di saku seragamnya setelah cukup lama berdiri, Soo Rin merogohnya demi meraih benda yang diyakininya baru saja mengeluarkan getaran itu. Sebuah pesan masuk di ponselnya, ternyata. Melihat siapa yang mengirim pesan, gadis itu mengembangkan senyumnya sambil membuka pesan tersebut.

From: Ki

Jangan melamun. Bukankah kau bersama Ah Reum? Di mana dia?

Langsung saja Soo Rin mengedarkan pandangan. Mencari sosok yang baru saja mengirimi pesan dengan isi yang cukup membuat dirinya tertegun. Tapi, entah Soo Rin kurang cermat atau orang itu memiliki sihir yang membuat wujudnya tak terlihat, Soo Rin tak dapat menemukannya di mana pun. Sebenarnya bukan sekali ini Soo Rin diperlakukan seperti ini, tapi hampir tiap kali. Tak dapat dipungkiri, orang itu masih bertingkah seperti dulu. Mengawasi tanpa Soo Rin sadari.

Soo Rin kembali menunduk mengamati layar ponselnya. Pesan dari Ki itu masih tertera, tentu saja. Tapi sadarkah kalian jika nama pengirim itu masih seperti awal di mana Soo Rin mendapatkan panggilan misterius dari Ki itu?

Pada kenyataannya, Soo Rin sadar betul bahwa dia belum mengganti nama kontak pengirim yang sudah menyandang status sebagai kekasihnya itu. Mungkin di luar sana, setiap pasangan akan menyimpan nama kontak kekasihnya dengan nama-nama yang manis seperti: My Sweetheart, My Boy / My Girl, My Hubby, My Sweety, atau nama-nama manis lainnya mungkin. Tapi Soo Rin adalah pengecualian. Ki sudah cukup manis baginya.

Baru saja jemarinya akan bergerak mengetik balasan pesan tersebut, Soo Rin harus dikejutkan dengan gelapnya pandangan secara tiba-tiba. Apakah malam sudah tiba? Tapi cepat sekali, ini masih menunjukkan pukul setengah tujuh sore. Lalu? Apakah lisrik tiba-tiba padam? Tapi, hei, dia sedang berada di pinggir jalan. Lalu kenapa dirinya tidak bisa melihat tiba-tiba? Setahu Soo Rin, dia tidak memiliki gangguan mata sama sekali.

Tunggu, dia merasakan sesuatu tengah menutup matanya. Langsung saja Soo Rin meraba benda apa yang tengah menghalangi pandangannya. Tangan… astaga, tangan! Sepasang tangan tengah menutup matanya dan dia tidak tahu tangan siapa itu. Jika dirasakan, tangan Ah Reum tidak sebesar ini. Dan sepertinya tangan perempuan tidak besar dan tidak kekar seperti ini. Apakah ini… tangan Kim Ki Bum?

Guess who?

Soo Rin mendadak kaku. Dia yakin suara itu adalah si pemilik tangan ini. Tapi suara itu terdengar asing. Bukan, ini bukan Kim Ki Bum. Rasanya Soo Rin belum pernah mendengar suara berat itu. Jika dicermati, suara itu adalah suara lelaki—lelaki? Siapa? Yang pasti bukan Tae Yong apalagi Tae Min. Mereka tidak pernah melakukan hal seperti sekarang ini. Jadi, siapa?!

Guess who?

Orang itu berucap lagi. Membuat Soo Rin yakin bahwa orang itu bukanlah orang yang ia kenal. Ditambah, orang itu berbahasa Inggris. Ini ‘kan di Korea! Jadi siapa orang ini? Soo Rin mulai takut. Bagaimana jika orang itu adalah orang jahat?

“Si-siapa?” Soo Rin tergagap. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak gugup apalagi takut diperlakukan secara tiba-tiba seperti ini? Oleh orang asing?

“Kau tidak ingat aku?”

Kini orang itu mengucapkannya dengan Bahasa Korea. Tapi, logat yang dikenakan tidak sebagaimana Orang Korea kebanyakan. Kaku.

“Padahal aku sangat merindukanmu.”

Tunggu, logat ini… Jangan-jangan…

“Hen—ry?”

Detik kemudian, tangan itu lepas dari mata Soo Rin. Segera saja gadis itu berbalik demi memastikan bahwa tebakannya itu benar. Langsung saja sosok itu terpampang di hadapannya. Wajah putih pucatnya, tubuh kurus namun tegap juga tinggi, dan senyum manis tapi juga tampak jenaka. Astaga, jadi benar—

Noonaaaa!!!” Tiba-tiba saja sosok itu berhambur memeluk Soo Rin. Membuat gadis itu berjengit kaget akibat perlakuannya itu. “Aku merindukan noona!!” lanjutnya terdengar begitu riang.

“Tu-tunggu… yaa, Henry! Kau membuatku sesak!” protes Soo Rin sedikit kepayahan. Benar-benar. Tidak bisakah lelaki ini memeluknya tanpa menggunakan tenaga lelakinya itu?

Henry—lelaki yang memang tampak muda itu segera melepas pelukan eratnya. Memandang Soo Rin dengan mata berbinar sekaligus senyum lebarnya. Membuat wajah yang sebenarnya tampan itu menyimpang menjadi kekanakan. Dengan logat Koreanya yang kaku, ia berucap, “Aku tidak menyangka bahwa noona akan menebakku dengan cepat.”

“Memangnya siapa lagi orang berdialog aneh yang kukenal selain dirimu?” cibir Soo Rin yang sukses membuat lelaki itu cemberut.

Eii, tapi setidaknya aku berhasil membuat noona terkejut. Benar, ‘kan?” dengan cepat raut wajah Henry berubah kembali cerah.

Geurae (Benar)! Bahkan aku hampir berteriak minta tolong karena sempat menganggapmu penculik!” kini berbalik Soo Rin yang memberenggut. Bukannya merasa bersalah, lelaki muda itu malah tertawa. Menyebalkan. Tidak tahukah dia bahwa Soo Rin hampir terkena serangan jantung karena ketakutan?

“Tapi, kapan kau datang? Dengan siapa kau datang? Kenapa tidak memberi kabar? Kau sedang liburan sekolah? Ya, kau sudah mampir ke rumah?”

“Mana dulu yang harus kujawab?”

Ish, jawab saja!” Soo Rin memberenggut lagi melihat raut polos itu terpampang di wajah Henry.

“Baiklah, baiklah. Aku baru saja sampai tadi pagi. Sengaja tidak memberi kabar karena Imo yang meminta. Lagipula aku juga tidak berniat untuk memberi kabar terlebih dahulu pada noona. Aku juga datang karena permintaan dari Imo dan, yah, aku akan menginap di rumah noona untuk beberapa hari ke depan!” Henry memamerkan cengiran polosnya. “Ah, ya, aku datang sendiri. Samchon menjemputku di bandara tadi. Bagaimana? Aku hebat ‘kan bisa terbang kemari seorang diri?” tambahnya dengan bangga.

Ya! Kau—”

“Soo Rin-ah.”

Belum sempat Soo Rin melancarkan semprotannya, sebuah suara segera menginterupsi. Sontak tak hanya Soo Rin yang menoleh, Henry pun juga ikut menoleh ke sumber panggilan itu. Lelaki muda itu hanya bereaksi layaknya melihat orang asing tengah mendekat. Yah, memang orang asing karena baru kali ini dia melihat. Tapi tidak dengan Soo Rin, gadis itu tertegun melihat orang itu sudah berada di dekatnya.

“Kim Ki Bum?” Soo Rin melongo sekaligus terheran. Lelaki itu tampak tersengal, seperti habis berlari. Tapi, kenapa lelaki itu harus berlari? Kenapa pula lelaki itu menghampirinya?

Ki Bum—lelaki itu bergerak meraih lengan gadis itu dan menariknya untuk mendekat. Yang justru menjauh dari Henry. Sekilas Ki Bum melirik Henry datar sebelum menatap gadis itu. Nafasnya yang sempat tersengal mulai teratur. Benar, dia berlari dari koridor gedung sekolah menuju ke dekat Soo Rin. Bagaimana dia tidak kalut melihat dari kejauhan bahwa gadisnya itu diserang tiba-tiba oleh lelaki yang masih betah berdiri di tempat itu? Tapi melihat mereka yang sempat bercengkerama, dia sedikit merasa lega, meski dia masih bertanya-tanya, siapa lelaki berkulit pucat tersebut.

“Kenapa belum pulang? Di mana Ah Reum?” Tanya Ki Bum yang terdengar datar. Padahal dia belum bisa meredakan kekhawatirannya.

“Ah Reum mengambil ponselnya yang tertinggal… Kim Ki Bum, kenapa kau kemari? Kau tidak pulang bersama Sae Hee?” Soo Rin masih kebingungan dengan kedatangan lelaki itu. Ditambah lelaki itu datang sendiri. Apakah adiknya itu sudah pulang terlebih dulu?

Noona, siapa dia?” Henry akhirnya menunjukkan keingintahuannya. Keningnya berlipat membentuk beberapa kerutan.

Nan geunyeo ui namja chingu (Aku pacarnya). Neon nuguya?” sambar Ki Bum datar.

Noona sudah punya kekasih?” Henry tampak terkejut—tidak menghiraukan pertanyaan Ki Bum. Mata sipitnya melebar hingga hampir membulat. Lucu sekali. Tapi Soo Rin tidak bisa tertawa mengingat atmosfir di sekitar mereka terasa kurang menyenangkan mengingat Ki Bum tampak tidak menikmati pertemuan ini.

“Dia Kim Ki Bum,” ujar Soo Rin memperkenalkan, mencoba mengulas senyum. Lalu menoleh sekaligus melanjutkan, “Kim Ki Bum, dia Henry Lau. Dia—”

“Soo Rin-ah!!”

Dengan kompak mereka bertiga menoleh ke sumber panggilan itu. Tampak Ah Reum tengah berlari mendekat.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama… tunggu, Kim Ki Bum? Sedang apa kau di sini?” Ah Reum mengernyit bingung melihat lelaki itu. Dan terkejut melihat sosok baru berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Dia… siapa?”

“Dia—”

Noona, ayo kita pulang!” Henry menyambar tiba-tiba. Tiba-tiba pula ia meraih sebelah tangan Soo Rin bermaksud mengajaknya untuk segera beranjak.

Tapi dengan gesit Ki Bum meraih tangan gadis itu dan melepaskannya secara paksa dari genggaman Henry. Untung Henry belum menggenggamnya dengan erat, jika tidak Soo Rin pasti akan kesakitan.

Hey, what are you doing? What the hell are you, huh?” spontan Henry mengatakannya dalam Bahasa Inggris. Wajah tampan nan imutnya mulai berubah masam melihat perlakuan lelaki itu. Namun batinnya mulai bergumam, lelaki itu pasti tidak mengerti apa yang baru saja dikatakannya mengingat dia sempat mengeluarkan kata umpatan.

I just rid your naughty hand from my girl. I’ve told you who I am.

Henry hampir tersedak salivanya sendiri mendengar jawaban Ki Bum. Dia terpana mengetahui bahwa lelaki berkacamata itu dengan mudahnya membalas dengan Bahasa Inggris pula. Bahkan lelaki itu tampak fasih mengucapkannya, sama seperti dirinya.

Wow, sepertinya akan seru jika aku melakukan sesuatu. Kapan lagi aku merasakan memiliki saingan yang sepadan di Korea Selatan? Batin Henry. Detik kemudian, sebuah seringaian muncul di bibir tipis lelaki berparas imut itu.

“Soo Rin-ah, jadi pulang bersamaku atau tidak?” Ah Reum mencoba menengahi. Dia mulai merasa risih dengan suasana pengap ini.

No! Dia pulang bersamaku.” Tapi Henry terlebih dulu yang menjawab. “Cause we’re in the same house! Right, Noona?” lanjutnya sambil menatap Soo Rin dengan senyum lebar.

Soo Rin masih mencerna kalimat Henry. Sedangkan Ki Bum yang statusnya pernah tinggal di California dalam waktu cukup lama sudah menganggap English sebagai bahasa sehari-hari, jelas saja dia dengan mudah menangkap perkataan Henry. Wajah lelaki itu mengeras.

“Ah Reum-ah, maaf tapi, untuk hari ini kau pulang sendiri saja.” Soo Rin membuka mulut. Jujur saja dirinya juga mulai merasa pengap dengan situasi yang tidak sengaja terjadi ini. Tapi sebelumnya dia harus melepaskan Ah Reum terlebih dahulu mengingat sahabatnya itu tidak tahu apa-apa.

“Baiklah, aku pulang duluan. Hati-hati, Soo Rin-ah.” Ah Reum pamit. Sejenak dirinya melirik Henry sebelum beranjak. Semoga saja lelaki berparas bocah itu tidak melakukan hal aneh pada pasangan itu, pikirnya.

Let’s go, Noona!” Henry kembali meraih sebelah tangan Soo Rin. Tapi lagi-lagi Ki Bum mematahkan niatnya. Lelaki berkacamata itu bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Gadis itu sudah ditarik hingga bersembunyi di balik tubuh tegapnya.

She will go with me.” Tandas Ki Bum, dingin. Lelaki itu sudah menunjukkan ketidaksukaannya. Langsung saja Ki Bum menarik Soo Rin beranjak pergi. Meninggalkan Henry yang dengan santainya mengangkat sebelah alisnya.

Oppa!

Terpaksa Ki Bum menghentikan langkahnya begitu mendengar panggilan dari suara yang sangat dikenalnya. Langsung saja batinnya mengumpat bahwa ia hampir melupakan adiknya.

“Ah, Eonni!” Sae Hee segera menyapa begitu melihat kakaknya bersama Soo Rin. “Apakah kalian ingin pergi bersama? Tahu begitu, aku tidak perlu menunggu Oppa dan meminta Song Ahjusshi untuk menjemputku.” Sae Hee mengerucutkan bibir.

“Bukan begitu! Sebenarnya aku akan pulang bersama—”

“Maaf, Sae Hee-ya. Oppa akan menghubungi Song Ahjusshi untuk menjemputmu. Tunggulah di dalam sekolah. Oppa harus mengantar Soo Rin pulang.” Ki Bum memotong ucapan Soo Rin dan kembali mengajak Soo Rin pergi dari situ.

Yaa, Kim Ki Bum!” Soo Rin mulai protes. Tapi ia tidak mampu melepas cekalan Ki Bum yang ketat. Pasrah, ia memilih untuk mengikuti ke mana lelaki itu membawanya.

“Tidak perlu! Biar aku saja yang menelepon. Oppa antarkan Eonni saja sampai depan rumah! Hati-hati!” seru Sae Hee sambil melambaikan tangan. Mengantar kepergian pasangan itu.

Haish, gadis itu…” gerutu Henry sebal. Bisa-bisanya gadis itu berhasil menghalangi rencananya. Terpaksa dirinya pulang ke rumah Keluarga Park tanpa membawa sang tuan rumah. Padahal niatnya datang kemari ‘kan ingin menjemput, selain memberi kejutan.

Begitu Sae Hee berbalik hendak kembali ke sekolah, tanpa komando matanya melirik Henry hingga detik kemudian ia kembali mematung. Sontak saja keduanya kini saling melempar pandang. Begitu jeda terlewatkan, keduanya melebarkan mata bebarengan. Menyadari siapa yang ada di hadapan.

You?!

****

Dua makhluk itu tampak berdiri kaku di dalam halte, menunggu kedatangan bus dalam diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sudah dipastikan memikirkan kejadian yang baru saja mereka alami. Bahkan sampai bus datang pun, tidak ada yang mencoba untuk memulai percakapan. Padahal, sang gadis begitu tidak menyukai suasana dingin dan kaku seperti ini. Apalagi yang menciptakan adalah sang lelaki.

Terpaksa mereka kembali berdiri berdampingan di dalam bus. Keadaan bus yang penuh dengan penumpang membuat mereka tidak mendapatkan tempat duduk. Dan masih, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga suasana dingin itu pecah begitu bus rem mendadak akibat sang supir hampir menerobos lampu merah.

Soo Rin hampir terjatuh mengingat ia tidak siap dengan kejutan itu, jika Ki Bum tidak segera meraih lengannya dan menariknya untuk kembali berdiri tegak. Sambil berdecak, Ki Bum menarik Soo Rin ke posisinya dan ia berpindah ke posisi Soo Rin sebelumnya. Mewanti jika seandainya kejadian sama terulang lagi nantinya.

Gadis itu menunduk. Dirinya merasa hangat. Setidaknya lelaki itu masih memperhatikannya, pikirnya. Tapi melihat gelagat itu, Ki Bum menganggap bahwa gadis itu sedang menghindarinya. Tanpa basa-basi, Ki Bum meraih sebelah tangan Soo Rin, menautkan jemari mereka, menggandengnya. Dan perlakuan itu sukses membuat Soo Rin terkejut hingga mengangkat kepala sekaligus pandangannya hingga menatap lelaki itu. Sejenak dirinya berpikir bahwa ia akan mendapatkan tatapan yang sama ketika berhadapan dengan Henry, tapi justru tatapan teduh itu yang didapat. Membuatnya merasakan desiran halus yang cukup membuat wajahnya mulai menghangat. Gadis itu memang mudah tersipu.

“Maaf.”

Soo Rin mengerjap bingung. Kim Ki Bum meminta maaf? “Untuk apa?” tanyanya kemudian.

“Untuk kejadian tadi.” jawab Ki Bum seadanya.

“Tidak. Justru aku yang meminta maaf. Aku tidak sempat menjelaskannya padamu.” Soo Rin menunduk.

“Menjelaskan apa?” kini giliran Ki Bum yang mengerjap bingung.

“Soal Henry.” Gumam Soo Rin. “Dia adik sepupuku. Dia datang dari Canada, katanya ibuku yang menyuruhnya untuk datang kemari. Entah untuk apa.” Soo Rin memberanikan diri untuk menatap lelaki di sampingnya itu. “Dia adik sepupuku yang cukup dekat denganku sebelum dia pindah ke Canada sepuluh tahun yang lalu, demi mengikuti ayahnya yang bekerja di sana.”

Soo Rin terpaksa diam melihat raut wajah Ki Bum berubah. Entah bagaimana menjelaskannya tapi Soo Rin merasa raut wajah itu bukanlah ekspresi yang bagus. Beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu. Mengingat kejadian tadi, sikap Ki Bum yang terlihat tidak menyukai Henry, sepertinya dia tahu kenapa Ki Bum melakukan hal seperti tadi. Bukan karena lelaki ini menganggap Henry adalah orang jahat, melainkan…

“Kau… cemburu pada Henry?”

Bingo!

Ki Bum segera membuang muka. Sial! Dia tertangkap basah. Bagaimana bisa dirinya cemburu terhadap sepupu gadisnya sendiri? Memalukan!

Soo Rin yang melihat reaksi itu, mulai merasa geli. Astaga, lelakinya cemburu terhadap saudara sepupunya sendiri. Mau tidak mau dirinya terkikik geli mengetahui kenyataan lucu ini.

Hoo, Kim Ki Bum cemburu pada Henry…” ejek Soo Rin. “Sepertinya kita impas, Kim Ki Bum.” Tandasnya kemudian.

Ki Bum mengerti maksud Soo Rin. Mengingat dulu dirinya sempat membuat gadisnya ini cemburu terhadap Sae Hee yang merupakan adiknya, kini berbalik dirinya cemburu terhadap Henry yang merupakan saudara sepupu Soo Rin. Benar, mereka impas. Tapi entah kenapa Ki Bum tidak rela jika mereka impas. Sial, kenapa dia harus cemburu pada bocah berkulit pucat itu? -_-

“Kim Ki Bum cemburu. Kim Ki Bum cemburu pada adik sepupuku.” Soo Rin tampak bersenandung senang kali ini. Akhirnya dia bisa kembali mengejek lelaki di sebelahnya ini. Setelah dirinya dulu ditertawakan oleh lelaki ini akibat cemburu pada Sae Hee, sekarang giliran dirinya yang harus menertawakan. “Kim Ki Bum cembu— akh!”

Tiba-tiba bus kembali rem mendadak. Membuat tubuh rampingnya limbung dan hampir terjatuh jika tidak ada Ki Bum yang menghalangi kesempatannya untuk jatuh. Dengan sigap lelaki itu menangkap tubuhnya yang malah menariknya ke dalam pelukan. Dan suasana yang tadinya menyebalkan—bagi Ki Bum—kini berubah menjadi memihaknya. Dapat!

Entah dirinya kerasukan setan apa, melihat wajah cantik itu mulai gugup sukses membuat dirinya ingin melakukan sesuatu. Dengan gerakan cepat tapi tidak terkesan buru-buru, Ki Bum mendekatkan wajah mereka yang sudah dekat menjadi semakin dekat, lalu dengan berani dirinya mendaratkan sebuah kecupan lembut dan hangat di hidung Soo Rin.

Soo Rin merasakan sesuatu meletup hebat dan menyebar di perutnya. Menggetarkan seluruh tubuhnya hingga berhasil memicu jantungnya untuk berdegup kencang, sekaligus rasa panas langsung menjalar hingga ke wajahnya. Dan, wajah cantiknya dengan cepat berubah menjadi merah padam.

“Apa kau bisa membalasnya supaya kita kembali impas?” goda Ki Bum dengan seringaian mematikannya. Melihat reaksi gadisnya yang sudah kembali bungkam benar-benar memenangkan batinnya. Meski dia harus menekan dalam-dalam gejolaknya yang mulai naik melihat wajah merona itu.

Dan telak. Soo Rin sudah tidak bisa membalas. Bagaimana dia mau membalas? Dia benar-benar sudah tidak berkutik. Ki Bum kembali menang.

.

Astaga, mereka masih di dalam bus! -_-

.

.

.

-END


Ini pasti makin adsurd. Hahahah-__-

kisukisu kembali lagi~~ ddehet!!

Di sini ambigu ya? Yah, dilihat dari judulnya, aku merencanakan untuk membuat one shot tapi berseri (nahloh gimana ceritanya itu._.) hehet! Bukan gimana-gimana, hanya saja, bingung ngejelasinnya-..- Jadi, tunggu another My Favorite Girl-nya aja yaa~ /ditendang/?

Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

10 thoughts on “My Favorite Girl – Who Is He?

  1. buka Fb trus yg pling atas muncul Ff kisoo, lgsung baca dah! haha
    kirain ini td part, trnyata oneshoot haha..
    bagus thor bagus, kibum akhrnya dpt blasan(?) jg haha dan sprtinya bkal ad new couple nih .”/ *poke henry sma sae hee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s