Posted in Category Fiction, Romance, Teen, Vignette

Back Hug?

Genre: Romance
Rated: Teen
Length: Vignette

Kim Ki Bum || Park Soo RinBackHug_cvr

This story comes from my absurd imagination. Hope readers enjoy it ^^ hehet.. Let’s have a good time, together! 기대해도 좋아 let’s go!! 

ㅡㅡ

:: Sunday at Lotte World – Seoul-shi, Songpa-gu, Jamshil-dong 40-1 (10:47 KST)

.

Seorang lelaki tengah berdiri di depan sebuah pintu masuk yang megah, dengan sebelah tangan memegang benda persegi panjang yang biasa disebut ponsel. Pukul 10 lewat 47 pagi, tengah menuju ke pukul 11. Hampir dua puluh menit lamanya ia berdiri di situ sejak dirinya datang. Dan selama itu pula dirinya tengah menunggu kedatangan seseorang.

Yah, orang itu melewati batas waktu yang dijanjikan.

Kim Ki Bum—lelaki itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Sebenarnya ia mengambil ponsel untuk memeriksa apakah ada panggilan masuk atau sekedar sebuah pesan masuk, tapi ternyata tidak ada tanda-tanda apapun. Merasa bosan terus berdiam diri, ia akhirnya menggerakkan kakinya untuk berjalan kecil, sekaligus menghilangkan rasa pegal yang mulai melanda. Juga mencoba untuk menghindari beberapa tatapan aneh yang menuju kepadanya.

Siapa yang tidak tertarik untuk memperhatikannya? Tubuh tegapnya yang dibalut cardigan berwarna biru gelap dengan bagian lengan disisingkan hingga bawah siku, dan hanya dua kancing dari bawah yang dibiarkan menutupi tubuh bagian depannya sehingga menampakkan kaus (singlet) hitam di dalamnya. Dipadukan dengan jeans berwarna hitam dan sepatu kets yang sangat pas. Ditambah, lelaki itu kembali melepas kacamata silindernya.

Lengkap sudah. Jangankan para gadis single, gadis-gadis yang sudah menggandeng lelaki alias memiliki kekasih pun tidak sanggup untuk tidak meliriknya meski barang sejenak. Lelaki itu benar-benar tampan hari ini!

Ki Bum melirik arlojinya yang menghiasi tangan kanannya. Sejenak batinnya menggerutu begitu melihat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Setengah jam sudah dirinya menunggu tetapi yang ditunggu masih belum menampakkan batang hidungnya. Tapi, dirinya segera termangu begitu melihat benda lain yang menghiasi tangan kanannya. Sebuah gelang berbandul kunci berwarna perak. Membuat lelaki itu sedikit mengulas senyum manis. Ia kembali menyembunyikan tangannya di balik saku celana. Wajah tampannya kembali tampak cerah.

Baiklah. Dia akan tetap setia menunggu.

Drrt.. drrtt…

Dirasakan ponselnya bergetar, Ki Bum segera meraih benda itu. Sebuah panggilan masuk, dan panggilan itu berasal dari orang yang ditunggunya. Langsung saja Ki Bum menyentuh layar ponselnya dan menggeser tanda answer.

Yeoboseyo.” Ki Bum mencoba untuk menjawab sedatar mungkin. Mungkin bermaksud untuk menunjukkan secara tersirat bahwa dirinya sudah menunggu sangat lama.

Eodiya (Di mana)?

“Di tempat perjanjian.”

“Ah, kau masih di sana? Tunggu sebentar lagi. Aku sedang menuju ke sana!”

Ki Bum terkekeh tanpa suara. Sejenak dirinya merasa tergelitik mendengar suara merdu itu mengatakan hal yang menurutnya cukup konyol. Tentu saja dirinya masih di sini. Ini ‘kan tempat perjanjian mereka akan bertemu. Apakah orang ini berpikir bahwa dirinya di tempat lain atau bahkan sudah pulang?

Tapi tunggu dulu, suara merdu itu terdengar sedikit berat dan tersengal. Apakah…

“Soo Rin-ah, kau berlari?”

“Eh? Ah… tunggu—tunggu sebentar lagi.”

Ya, jangan berlari apalagi di saat sedang menelepon!”

“Kim Ki Bum, jangan ke mana-mana, eo?

“Kau dengar aku tidak?”

“Aku hampir sampai!”

“Kubilang jangan berlari! Aku tidak ke mana-mana jadi jangan berlari!”

“Ah! Aku melihatmu!”

Ki Bum yang mulai gemas dengan gadis yang tengah meneleponnya, mulai mengedarkan pandangannya. Dirinya bersumpah jika berhasil melihat sosok itu maka ia akan menyemprotnya dengan teguran. Sudah dibuat menunggu, ia juga harus dibuat khawatir. Bagaimana jika gadis itu tengah menelepon di pinggir jalan raya dan menyeberang jalan tanpa melihat situasi? Tapi Ki Bum sedikit bernafas lega mendengar kalimat terakhir gadis itu. Bukankah itu berarti gadis yang merupakan orang yang ditunggunya itu sudah di dekat-dekat sini?

“Kau di mana? Kau bisa melihatku?”

“Um. Kau paling mencolok!”

Mwoya?” Ki Bum harus menahan tawanya agar tidak terdengar. Apakah gadis itu sadar dengan apa yang sudah diucapkannya? Ki Bum merasa bahwa gadis itu terlalu jujur. Dan entah mengapa begitu mendengar ungkapan jujur itu, rasa ingin menyemprot gadis itu mulai menguap. Malah terganti dengan rasa ingin… segera mendekap tubuh ramping itu.

“Soo Rin-ah, katakan di mana kau seka—”

Belum sempat Ki Bum menyelesaikan kalimatnya, belum sempat juga dirinya ingin membuka langkah bermaksud ingin mencari, ia harus dikejutkan dengan sesuatu yang melingkar di perutnya. Lebih tepatnya, sepasang tangan yang melingkar di tubuhnya dan mendekapnya. Seseorang tengah memeluknya dari belakang!

Tapi, ia segera menyadari siapa orang yang dengan berani memeluknya tiba-tiba. Di tambah, ini di tempat umum dan mengingat dirinya juga tengah menjadi objek perhatian kaum hawa di sekitarnya. Melihat sepasang tangan putih itu memeluknya dengan cukup erat, dengan sebelah tangan memegang benda putih yang tak lain merupakan sebuah ponsel, juga sebuah gelang melingkar manis di tangan lainnya yang sangat Ki Bum kenal. Dan, tubuh yang menempel di punggungnya terasa naik turun seolah tengah menghirup nafas dalam-dalam. Yah, tubuh itu memang sedang kehabisan pasokan oksigen.

Senyum manis kambali berkembang di bibir Ki Bum. Diturunkan ponselnya dari telinga dan segera mengakhiri panggilan. Karena dia yakin gadis yang sudah memeluknya ini tidak mengakhirinya terlebih dahulu. Tangan kekarnya yang masih bebas ia gerakkan hingga berhasil menyentuh tangan putih itu. Astaga, berkeringat.

“Aku sudah sampai…” gumam pemilik tangan itu. Suaranya terdengar begitu lugu meski didominasi dengan hembusan nafas beratnya. Ditambah terdengar kekehan yang semakin menampakkan keluguannya.

“Kau terlambat lebih dari tiga puluh menit lamanya.”

Mian… (Maaf)”

Ki Bum tersenyum semakin lebar. Bukan karena ucapan menyesal dari gadis itu. Dia tahu pasti alasan gadis—gadisnya—itu datang terlambat yang dikarenakan panggilan mendadak dari teman-teman sekelasnya yang membutuhkan dirinya dalam tugas kelompok. Ki Bum tersenyum melainkan karena, sejak kapan gadis itu mulai menyentuhnya terlebih dahulu? Tanpa diperintah, mendekapnya, di tempat umum seperti ini?

“Kau ingin kita terus seperti ini, hm?” gumam Ki Bum mencoba menyadarkan. Siapa tahu saja gadis itu sedang khilaf dan secara tak sadar memeluknya seperti ini. Mengingat selama ini gadis itu tidak suka bertindak agresif di tempat umum.

“Maaf tapi, aku butuh bersandar. Izinkan aku untuk seperti ini sebentar.” Soo Rin—gadis itu masih berucap dengan susah payah. Entah Ki Bum mengetahuinya atau tidak bahwa sebenarnya dia malu bertindak seperti ini. Tapi karena dirinya yang kelelahan berlari kencang dari halte terdekat hingga kemari, sukses membuat dirinya tanpa berpikir panjang memeluk Ki Bum begitu lelaki itu tertangkap dalam jarak pandangnya.

Yah, setidaknya dia sedikit bersyukur mendapati Ki Bum yang segera membelakanginya. Bagaimana jika lelaki ini mendapatinya terlebih dahulu? Mungkin dia akan berpikir lagi untuk melakukan hal ini dan pasti ia akan memilih untuk berjongkok setelahnya. .__.

“Aah, dia sudah punya kekasih.”

“Astaga, mereka terlihat manis.”

Eomma, mereka berpelukan.”

“Jangan dilihat!”

“Ini ‘kan hari libur. Kenapa gadis itu memakai seragam?”

Ki Bum termangu. Awalnya ia tidak peduli dengan kasak-kusuk di sekitarnya yang sudah pasti tengah membicarakan mereka. Tapi  setelah mendengar kalimat itu langsung saja dirinya menurunkan pandangan demi melihat sepasang tangan yang masih melingkar di perutnya. Benar saja, tangan itu terbalut dengan pakaian yang sangat dikenalnya. Seragam Neul Paran.

Ki Bum segera melepas pelukan Soo Rin dan menghadap gadis itu. Akhirnya dia melihat wajah cantik itu. Rambut panjangnya yang seperti biasa dibiarkan tergerai tampak sedikit berantakan. Poninya tampak lepek karena terlihat di sekeliling wajah yang sedikit merona itu berpeluh. Dan yang membuat Ki Bum tertegun adalah gadis itu mengenakan seragam sekolah.

“Kenapa kau memakai seragam?”

“Aku datang dari sekolah.” Soo Rin menampakkan cengirannya. “Kami melakukan pertemuan di sekolah dan mengerjakan tugas di sana.”

“Dan setahuku tidak ada larangan untuk tidak mengenakan seragam ke sekolah karena ini hari libur.” Ki Bum memicing melihat gadis itu semakin melebarkan cengirannya.

“Kau benar…”

“Jangan katakan bahwa hanya kau yang memakai seragam tadi.”

Sambil menunduk serta sebelah tangan mengusap tengkuk di balik rambut panjangnya, Soo Rin mengangguk. Membuat Ki Bum gemas dan mau tidak mau ia mengetuk kepala gadisnya itu.

Aigo, dasar bodoh!” ejek Ki Bum yang sukses membuat Soo Rin mengerucutkan bibir. Melihat reaksi itu tentu saja membuat Ki Bum terkekeh geli. Astaga, gadisnya ini benar-benar. Ki Bum beralih merapikan rambut panjang itu. Membuat sang empu merasa berdesir hingga wajahnya makin merona. Juga merasa hangat. Melihatnya, Ki Bum tersenyum.  Gadisnya benar-benar menggemaskan.

“Sepertinya kita harus mampir ke tempat lain terlebih dahulu.”

“Eh? Ke mana?” Soo Rin mengerjap tak paham.

“Menurutmu?” Ki Bum mengangkat sebelah alisnya sebelum meraih tangan Soo Rin, menggamitnya, lalu mengajaknya untuk beranjak. “Tempat mana yang menjual pakaian di sekitar sini?” lanjutnya seolah memberi tebak-tebakan.

“Pakaian? Kau ingin membeli pakaian?”

Eum.

“Untuk apa? Untuk oleh-oleh? Atau, apakah pakaianmu ini tidak nyaman karena itu kau ingin menggantinya? Akh! Yaa, kenapa memukulku lagi?!” Soo Rin mengusap keningnya yang baru saja menjadi sasaran empuk tangan gemas Ki Bum.

“Aku akan membeli pakaian untukmu.”

“Untukku? Tapi aku tidak butuh pakaian baru— Tunggu! Tidak perlu! Aku merasa nyaman mengenakan ini. Sungguh!”

“Jangan berbohong dan jangan menolak.”

“Tapi—”

“Jika kau menolak maka kita akan berkencan di tempat lain.”

Yaa, jangan begitu! Aku ingin mencoba wahana Gyro Drop dan Gyro Swing!”

“Kalau begitu turuti aku maka kita akan mencoba semua wahana di sini.”

Dan, akhirnya Soo Rin memilih untuk menurutinya. Dari pada mereka batal kencan di sini hanya karena dirinya tidak mau berganti pakaian?

Benar, kencan. Setelah cukup lama hubungan mereka terjalin, kencan pertama mereka akhirnya terlaksana. Kencan yang sebenarnya. Karena sebelumnya Ki Bum hanya mengajak Soo Rin ke Mouse Rabbit Café di hari ulang tahunnya. Itu pun mereka tidak bisa menghabiskan waktu sepenuhnya berdua karena tak lama saudara sepupu Ki Bum yang merupakan pemilik café sekaligus selebriti papan atas—Yesung—itu datang dan merayakan hari lahirnya, bersama Jong Jin—adiknya yang merupakan Barista Café itu.

Dan, sekaligus merayakan hari jadi mereka yang pertama, Ki Bum mengajaknya berkencan di tempat yang sangat ingin didatangi Soo Rin, tempat yang tidak klasik tetapi banyak juga pasangan yang berkencan di sana, tempat yang megah dan terletak di jantung ibukota. Taman Indoor terbesar, Lotte World.

.

.

.

-END


 Come back hooooome~~ KiSoo come back hoooooome~~ Eah~

/ditendang 2NE1/? hahahah lagi suka dengerin lagu-lagu mereka soalnya~~>< ini semua garagara adekku…. T__T 

malah curhat-__-

hai hai!! kopel absurd kisukisu kembaliiiii~~ /tumpengan/? Hahahah sama seperti ff 30 Seconds & Same Class, aku bikin ff ini cuma dalam sehari yaitu hari ini juga. Sebenernya ide ini udah muncul entah dari kapan tapi baru mood ngetik sekarang setelah sedikit move on galauin kampung hehet! Mungkin setelah ini bakal ada cerita absurd lainnya milik kopel absurd ini (?) .__.

Yosh! Sekian untuk hari ini/? mohon maaf jika readers yang nyasar kemari merasa ngambang dengan cerita ini hahahah xD

Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “Back Hug?

  1. akhirnya muncul lagi ini couple..
    soo romantic, ciee yg udah berani ambil star duluan(?), oke LANJUTKAN!!!
    yosh di tunggu crita kisoo kopel slnjutnya

  2. yeye… sweet banget ~
    *ngeliat mereka jadi pengen ikutan (っˆヮˆ)っ
    ini si soorin tingkahnya udah mirip kaya yg buat… *pengen jitak aja bawaanya* 😜
    (terlalu lugu, nggemesin pula) *jitakahjusshi ~~~(\ ˚o˚)/#kabur

  3. uhuuuuu stlh sbulanan hiatus(?) akhrnya ni couple kambekk yeayyy!
    sperti biasa thor bagusss ^^b tpi kurang greget sdkit ._.v soorin kurang agresif *nah lo! abaikan
    next story dtgguuuu

  4. Lagi xD , Aku punya pertanyaan.. Kenapa hanya Soo rin yg pake Seragam? Apa dia kesiangan dan lupa ini hr libur, atau Semua baju di lemarinya lg di cuci #doenk xD

  5. ngebayangin kalo itu terjadi sebaliknya. kibum yang meluk soo rin whuahaha *muka langsung merah* sweet thor ^^ jempol deh (y)

  6. Uwaaa sumpah so sweet bgt sihh,, kek suka bgt gitu karakter kibum disini >.< diaaaa bikin org meleleh tauu 😚😚 pen bgt punya pacar kek gitu 😓😆😆

  7. Aigo Aigoo Manis banget liat mereka ({}) , Kapan aku punya Ki Bum T.T , Ki Bum perhatian banget aku serasa jadi Soo Rin aku malu banget bacanya pipi aku jadi anget terus kenap senyum terus ah pokoknya mereka manis banget 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s