Posted in Fiction, Friendship, One Shot, School Life, Slice of Life, Teen

Dear My Friend

Genre: Friendship, School Life, Life
Rated: Teen 
Length: One Shot DMFcover1
Cerita ini berasal dari pengalaman Eonni-ku. Dan cerita ini sudah pernah dipost di akun social media-ku. Hanya saja terdapat beberapa perbaikan di sini ^^ Okay! Let’s have a good time, together! 기대해도 좋아 let’s go!! Enjoy~^-^

 Kau adalah sahabatku. Selamanya sahabatku. Dan aku menyayangimu.

ㅡㅡ

:: May 20th (04:00 AM)

Alarm ponsel berbunyi dengan nyaring.. Gadis yang masih menikmati mimpinya terbangun ketika lagu itu melantun. Dengan setengah melek ia meraih ponsel yang tergeletak di nakas sebelah tempat tidurnya lalu disentuhnya tanda turn off. Perlahan dirinya mulai membiasakan kedua matanya pada flashlight ponselnya yang menyala. Ditatapnya layar ponsel tersebut dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya dia tercenung.

Ah… Dua Puluh Mei.

Dan secara otomatis bayang-bayang itu berputar bagaikan roll film di ingatannya. Membuka kembali kenangan yang sebenarnya tidak ingin dikenang sekaligus tidak ingin diingat. Kenangan yang sebenarnya bersangkutan dengan orang terkasihnya, namun sangat tidak ingin dibayangkan. Tapi sepertinya, Tuhan berkata lain. Setiap tanggal 20 Mei, kenangan—buruk—itu akan selalu terngiang. Seolah tanpa bosan menyiksanya hingga dirinya membenci hari di tanggal ini. Ah, kenapa Tuhan selalu mengingatkanku akan hal ini? Apakah Tuhan tidak ingin membiarkanku bernapas sejenak di hari ini?

Tidak, tidak, tidak.

Menggelengkan kepala, ia menutup mata, menghirup napas panjang yang mulai terasa berat. Dan, membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan yang telah menguasai segala imajinasinya di pagi ini.

.

.

 _3 years ago_

Luna—gadis cantik berusia 18 tahun tengah melangkah membawa diri menuju sekolahnya. Pagi ini, lebih tepatnya hari ini merupakan hari pertama berjalannya tahun ajaran baru di semester tahun ini. Dengan raut cerah yang menghiasi wajah cantiknya dia segera memasuki lingkungan sekolah.

“Luna!!”

Sebuah panggilan yang terdengar sangat familiar di telinga Luna menghentikan langkahnya. Dengan mengembangkan senyum, Luna pun berbalik badan. Langsung saja dirinya mendapati pemilik suara nyaring dan sangat dikenalnya itu tengah berlari menghampirinya. Dengan senyum yang semakin mengembang ia melangkah ikut menghampiri orang itu. Begitu jarak mereka sudah dekat, orang yang merupakan seorang gadis itu segera berhambur memeluknya, yang seketika membuat Luna terkejut hingga terpaksa satu langkah mundur dilakukannya demi menghindari ketidakseimbangan.

“A-ada apa, Sunny?”

“Hehehe. Kita sekelas lagi.” Sunny—gadis yang tengah memeluk Luna itu tampak terkekeh. Nada antusiasnya juga terasa hingga membuat Luna tertegun. “Kita satu kelas lagi, Luna! Kita satu kelas lagi!!” kini Sunny berseru. Bahkan pelukannya mengerat saking senangnya.

Mendengarnya, serta merta Luna segera membalas pelukan Sunny, mengajak Sunny berjingkrak-jingkrak. Segera saja seruan mereka bersahutan menggambarkan begitu senangnya mereka akan kabar ini. Satu kelas lagi. Di tahun kedua. Bukankah itu berarti mereka akan menghabiskan waktu bersama lagi?

Sunny mengakhiri perayaan kecil tersebut, kemudian menarik Luna, mengajaknya bergegas menuju kelas yang akan menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama di sekolah. Kelas 3-1. Dan begitu memasuki kelas baru mereka, langsung saja mereka menduduki tempat duduk yang masih kosong. Serta tempat yang bisa menempatkan mereka untuk berdampingan. 

 “Aah, syukurlah. Akhirnya aku bisa duduk di samping Luna lagi,” gumam Sunny dengan senyum lebarnya. “Aku harap kita bisa seperti ini sampai lulus. Um… bahkan sampai kita kuliah nanti!” Sunny menampakkan cengirannya.

Luna tertawa mendengarnya. “Apakah kita akan di kampus yang sama, hum?” godanya. Membuat senyum lebar Sunny segera menghilang dan berganti cemberut.

“Jadi kau tidak senang jika kita selalu sekelas? Baiklah. Aku akan berdoa supaya kita tidak sekelas lagi di tahun depan!”

“Hei, aku ‘kan hanya bercanda.” Luna merajuk. Jika Sunny sedang seperti sekarang, Luna pasti akan mengeluarkan jurus aegyo-nya. Dengan sebelah tangan dikepal dan disandingkan ke sebelah pipinya. “Bbuing bbuing?” Luna beraksi.

Sunny mendengus geli. Mau tidak mau dirinya tersenyum melihat aksi sahabatnya itu. “Aku juga bercanda!” balasnya kemudian sambil menjulurkan lidah. Membuat Luna merasa gemas hingga akhirnya menyubit kedua pipi Sunny hingga gadis itu meringis minta ampun.

****

“Luna, kau tidak langsung pulang?”

Seorang lelaki yang bukan dari kelas 3-1 masuk ke dalam dan segera menghampiri dua sahabat itu. Waktu belajar-mengajar telah berakhir. Hampir seluruh murid telah meninggalkan sekolah. Hanya saja, kedua gadis itu masih betah duduk manis di dalam kelas. Padahal kelas sudah sangat sepi.

Ingin kuantar pulang?” Henry—lelaki berparas tampan dan tampak begitu hangat—memberikan penawaran. Siapa yang menyangka bahwa lelaki yang terkenal sebagai siswa terpintar di angkatannya merupakan kekasih Luna? Gadis yang juga termasuk dalam deretan murid terpintar di angkatannya.

“Maaf, Henry, aku masih ingin di sini bersama Sunny.” Luna membalas dengan mengumbar senyum.

Ya, jangan begitu! Lebih baik kau pulang saja bersama Henry!” sahut Sunny sambil mengibas-kibas sebelah tangannya, merasa tidak enak. 

“Tapi, aku masih ingin bersama Sunny,” gerutu Luna dengan bibir mengerucut. Membuat Henry terkekeh melihat tingkahnya itu.

“Baiklah. Pulanglah sebelum petang. Jangan membuat nenek dan kakekmu khawatir. Mengerti?” peringat lelaki itu. Sejak Menengah Pertama, Luna telah tinggal bersama nenek dan kakeknya, meninggalkan orang tua terkasihnya di kota besar. Rasa kasih sayang yang besar terhadap nenek dan kakeknya membuat gadis itu ingin tinggal di kota asri ini. Orang tua Luna pun mengizinkannya untuk tinggal dan bersekolah di sini.

“Aku mengerti.” Luna mengangguk. 

“Jika sudah mau pulang, hubungi saja aku. Akan aku jemput nanti,” tawar Henry lagi.

“Tidak, tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri nanti.” Luna mengibas-kibaskan sebelah tangannya, sambil menyembunyikan wajahnya yang mulai merona. Aah, kenapa lelaki ini begitu baik padanya, pikir Luna terharu.

Baiklah, aku mengalah. Berhati-hatilah. Aku pulang dulu, hum?” Henry mengusap puncak kepala Luna sesaat, kebiasaannya sebelum berpisah dengan Luna. Melempar senyum teduhnya, kemudian Henry pergi meninggalkan mereka.

Eii! Dasar pasangan jenius ini, tidak ada mesra-mesranya.” Sunny baru membuka mulut setelah Henry menghilang dari balik pintu kelas. “Seharusnya kau terima saja tawarannya. Tidakkah kau menyadari bahwa kau bisa menghemat pengeluaran jika menerima tawaran Henry tadi?” lanjutnya sambil berdecak heran.

Yaa, memangnya dia tukang antar-jemputku? Meski dia selalu membawa motor besarnya itu, aku tidak mau memperlakukan dia seperti itu. Itu sama saja memanfaatkannya.”

“Hei, yang namanya berpacaran memang harus seperti itu!” Sunny mendengus. “Aah, memang benar-benar pasangan jenius. Menghabiskan waktu kencan hanya dengan belajar, belajar, dan belajar. Tidak ada yang menarik. Kau harus tau itu, Luna!” Sunny membuka comic yang dibawanya dari rumah.

Luna menopang dagu. Bibirnya mengerucut setelah mendengar tuturan Sunny. Matanya tampak menerawang. Berpikir sesuatu.

“Hei, Sunny.”

“Hm?”

“Aku lebih memilih sahabat dibandingkan kekasih.”

Sunny beralih dari comicnya. Kini dia memandang sahabatnya itu.

“Lagi pula, di liburan akhir pekan ini, kita tidak bisa bertemu. Karena aku akan mengunjungi orang tuaku di kota besar dan berlibur di sana. Jadi aku ingin menghabiskan waktu bersamamu hari ini. Besok pagi aku akan berangkat…”

Luna berhenti berbicara ketika merasakan sesuatu melingkar di lehernya. Segera saja Luna menoleh. Dan mendapati Sunny telah memeluknya sambil menyenderkan kepala di pundaknya. Terlihat gadis itu memejamkan mata sipitnya, tersenyum, bahkan wajahnya merona. Membuat Luna ikut tersenyum dan membalas pelukan Sunny.

Tak ada yang berbicara setelahnya. Seketika keadaan menjadi sunyi. Tenang. Untuk beberapa saat.

“Hei, Luna.”

“Hm?” 

“Mau dengar harapanku?”

“Harapan? Apa?”

“Agar kau tidak pernah memarahiku, bahkan membenciku.”

Yaa, aku memarahimu pasti demi kebaikanmu. Dasar kau ini,” gerutu Luna sambil tersenyum. Sedikit tidak terima tapi juga merasa geli mendengar harapan sahabatnya ini. “Lagipula, aku tidak akan membencimu. Aku berjanji.”

Sunny terkekeh. “Terima kasih. Aku juga tidak akan membencimu. Karena aku sangat, sangat, saangaaat menyayangi Luna-ku tercinta!”

Kini Luna yang terkekeh. Terdengar berlebihan, memang, tapi Luna begitu menyukainya. Tentu saja. “Aku juga menyayangi Matahariku ini!” balas Luna sambil tertawa geli. Diikuti dengan Sunny. Sungguh, terdengar norak.

Sunny melepas pelukannya kemudian mengulurkan sebelah tangannya ke hadapan Luna dengan jari telunjuk yang berdiri. Luna pun mengembangkan senyumnya, mengerti maksud sahabatnya itu. Kemudian membalas uluran telunjuk Sunny dan mengaitkannya.

Yaksok (Janji)!”

Janji persahabatan yang berbeda. Bukan kelingking. Melainkan telunjuk. Begitulah, janji persahabatan Luna dan Sunny.

.

.

::May

“Hei, Sunny,” panggil Luna. Berniat mengajaknya ke kantin karena waktu istirahat telah berjalan.

Namun Sunny tampak terburu-buru dan segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi keluar kelas begitu saja. Tanpa menanggapi panggilan Luna. Membuat Luna mengerutkan kening. Bingung.

Ada apa dengannya? Apa ada urusan mendadak yang membuat Sunny terburu-buru?

.

“Sunny-ya, ayo kita pulang!”

“Ah, maaf, Luna. Kau pulang duluan saja. Aku masih ada urusan.”

“Urusan apa?” Luna mengernyit.

“Rahasia!” Sunny tersenyum. Tapi senyum itu terlihat tidak natural. Terlihat dipaksakan. Dan Luna sangat menyadari akan hal itu. “Aku pergi dulu!” Tanpa menunggu balasan Luna, Sunny segera berlari ke luar kelas.

Luna terheran-heran. Hari ini sahabatnya terlihat aneh. Setiap waktu istirahat dimulai, Sunny langsung melesat keluar kelas tanpa menghiraukan panggilannya. Baru kali ini Sunny meresponnya, tapi tetap saja gadis itu terlihat aneh. Bahkan semakin aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu.

****

Sudah 3 hari Sunny menghindari Luna dengan alasan “Rahasia”. Tingkah anehnya justru semakin menjadi. Sikap tampak-menyembunyikan-sesuatunya itu semakin menjadi. Luna selalu berusaha memaklumi. Bahkan sikapnya hingga bercabang, Sunny tidak pernah mengirim pesan lagi, dan lagi-lagi Luna berusaha maklumi. Padahal gadis bermata sipit itu selalu merecoki waktu malam Luna dengan meneleponnya atau sekedar mengirim pesan.

Tapi Luna mulai tak tahan dengan tingkah laku sahabatnya itu. Menghindarinya dengan alasan “Rahasia”. Setiap bel istirahat berbunyi Sunny selalu melesat pergi keluar kelas dan kembali begitu bel masuk kelas berbunyi. Begitu pula saat pulang sekolah, dan Luna mulai kesal ketika Sunny benar-benar tidak menanggapi sapaannya.

Kali ini tidak. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, saat Sunny akan kembali melesat pergi, Luna segera meraih tangannya. Mencekalnya.

“Aku ingin bicara denganmu!” ucap Luna terdengar dingin. Langsung saja membuat Sunny gugup melihat wajah sahabatnya itu tidak terlihat bersahabat.

“A-ada apa, Luna?”

“Jika aku punya salah, katakan saja! Tidak perlu dipendam dan menghindariku begitu saja!”

“Ma-maksudmu?” Sunny semakin gugup. Matanya tidak berani menatap mata Luna. Begitu melihat mata bulat Luna tampak menyala seketika membuat Sunny gelagapan.

“Kenapa kau menghindar dariku? Apa salahku sampai kau terlihat enggan bicara denganku, huh?” Dan kini, Luna mulai menggertak. Dia mulai tidak mampu mengontrol emosinya. Melihat gadis bermata sipit di hadapannya terlihat begitu enggan menatapnya. Luna, salah menangkap gelagat itu. “Jika aku punya salah, ungkapkan! Atau jika kau bosan duduk denganku, katakan saja! Jika kau seperti ini, justru membuatku kesal, Sunny!! Aku tidak tahu apa-apa tapi kau menghindariku! Aku benci!!

Sunny terkesiap. Kata itu. Kata yang sangat tidak ingin didengarnya itu… terlontar dari mulut Luna. Kata yang berhasil menohok Sunny tepat di ulu hatinya. Dan ternyata, Luna juga mengalami hal yang sama. Tidak percaya dengan apa yang telah terucapkan oleh dirinya sendiri. Kata itu, terucapkan begitu saja. Karena emosi yang meluap tiba-tiba dan sulit untuk dikontrol. Kata yang sebenarnya tidak ingin diucapkan, meluncur begitu saja dari mulut amarahnya.

Benci.

Ruangan itu berubah menjadi sunyi seketika. Senyap. Tegang. Mereka terdiam. Saling menatap tidak percaya. Beberapa murid yang masih ada di kelas menyaksikan kejadian yang tak terduga itu dengan diam. Kaget. Heran. Sepasang sahabat yang selalu terlihat akur itu, kini bersitegang.

Luna mencelos begitu melihat raut wajah Sunny berubah. Dari terkejut melunak menjadi kusut. Tersirat kesedihan di matanya yang mulai berkaca-kaca. Tunggu. Apa itu kesedihan? Atau kekecewaan? Ia merasakan tangan yang mencengkeram itu gemetar. Dadanya mulai terasa sesak, menelan saliva dengan susah payah. Luna tercekat. Perlahan, cengkeramannya terlepas. Dapat dia rasakan bahwa tangan yang baru saja mencengkeram Sunny, gemetar hebat.

Apa yang telah aku lakukan?

“Luna…”

Dengan kalap Luna mengambil tasnya lalu berlari ke luar kelas. Tidak peduli dengan panggilan Sunny yang bertubi-tubi itu, yang mengharapkan dirinya berhenti lalu berbalik. Luna meninggalkannya begitu saja. Takut. Kalut. Dan terus berlari. Menyesali perbuatannya. Ya, Luna menyesali perbuatannya. Hingga mengutuk dirinya sendiri. Terutama mengutuk mulutnya. Matanya mulai terasa panas. Pandangannya mulai mengabur. Hingga akhirnya, sebutir air bening menyeruak mengalir bebas membasahi pipi putihnya. Dua butir. Tiga. Lalu deras begitu saja.

****

Tampak Luna tengah terduduk memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur, menenggelamkan kepala di sana, dengan salah satu tangannya menggenggam ponsel. Dia menunggu. Menunggu ponsel itu berdering menandakan setidaknya ada pesan masuk. Atau akan lebih melegakan jika berdering menandakan panggilan masuk. Menunggu gadis yang selalu merecoki waktu malamnya. Tapi, tidak terjadi apapun pada ponselnya.

Sunny marah padaku.

Luna mengangkat kepala. Langsung saja menampakkan kedua matanya yang begitu muram. Sungguh, kali ini dirinya sangat mengharapkan ponselnya berdering. Tapi begitu dirinya kembali memeriksa layar ponselnya, tidak ada. Tidak terjadi apapun.

Kini Luna merebahkan tubuh di kasur empuknya. Memejamkan mata. Ingin sekali dirinya menghubungi terlebih dahulu. Tapi… kenapa rasanya berat sekali? Dia masih merasakan ketakutan itu. Ketakutan itu begitu menguasainya saat ini. Dan ia hanya mampu berharap bahwa, Sunny akan menghubunginya terlebih dahulu. Seperti biasa. Tapi, bermenit-menit ia menunggu, hingga batas waktu yang biasanya, Sunny… tetap tidak menghubunginya. Luna meringis. Tangan yang menggenggam ponselnya tampak mengerat, mengepal. Dengan mata yang masih terpejam, Luna menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan sesuatu yang ingin kembali menyeruak. Dan, kedua bahunya mulai bergetar. Hingga satu isakan lolos dari mulutnya.

Sunny kecewa padaku.

****

:: Saturday, May 20th (09:09 AM) 

Ponsel Luna berdering menandakan sebuah pesan masuk. Luna yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk—baru saja menyelesaikan kegiatan mandinya—menghentikan aktivitasnya lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Mata Luna melebar begitu melihat di layar ponselnya, nama si pengirim pesan.

From Sunny

Lunaaaaaa!!

Selamat pagi~ Sedang apa? Jangan katakan bahwa kau masih bergumul di alam mimpi, huh? kkkk

Hei, hei, Luna-ya, apakah hari ini kau senggang? Eum?

Luna tercenung. Padahal dia mengharapkan adanya hal semacam ini. Tapi sekarang, dia tidak mengerti. Tidak mengerti apa yang ada di pikiran Sunny. Apa-apaan pesan ini? Bukankah mereka sedang melakukan aksi saling diam? Tidak ada angin tidak ada badai, tiba-tiba saja gadis itu mengirim pesan seperti ini. Seperti tidak pernah terjadi hal yang wah sebelumnya.

Tapi, apa benar ini dari Sunny? Dia tidak marah? Batin Luna skeptis. Setelah jeda yang cukup lama, akhirnya Luna memilih untuk membalas pesan itu.

Aku sudah bangun. Hari ini aku senggang.

Dan tidak ada selang waktu 3 menit setelah pesan itu terkirim, Sunny kembali membalas.

Wah! Tumben sekali sudah bangun pagi di hari libur? Kkk~

Ah tapi syukurlah! Dengan begini aku bisa datang ke rumahmu. Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Jangan menolak! Karena ini sangat penting. Kau mengerti? Aku akan tiba di rumahmu sekitar pukul 11. Tunggu aku!!

Pai pai ^-^

Ada apa dengan anak ini? Setelah melakukan aksi diam, dia ingin datang ke rumahku? Untuk apa? Kening Luna berkerut. Apa dia ingin minta maaf padaku? Tapi, aku ‘kan yang sudah membentaknya. Dan mengeluarkan kata itu. Apa dia tidak kecewa padaku?

Luna juga merasa aneh. Mungkin itu hanya masalah sepele, tapi… tidak biasanya Sunny menutup pembicaraan seperti itu. Biasanya Sunny akan mengucapkan ‘Sampai nanti’, ‘Sampai besok’ atau ‘Selamat malam’. Tapi ini kenapa…

Sunny, sebenarnya, apa yang sedang ada di pikiranmu?

****

“Jangan-jangan, Sunny berbohong padaku,” gerutu Luna. Saat ini dirinya tengah duduk di teras rumahnya, menunggu kedatangan Sunny. Namun gadis yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sengaja Luna tidak menghubungi karena ia tidak mau dianggap sedang menunggu kedatangan Sunny. Itu ‘kan kemauan Sunny. Seenaknya saja. Luna merasa gengsi.

Tapi, Sunny benar-benar tak kunjung datang, ia juga tidak menghubungi Luna sama sekali. Tiba-tiba saja perasaan Luna berubah. Yang tadinya menahan gengsi berubah menjadi khawatir. Mengkhawatirkan Sunny tanpa diketahui sebabnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Sunny? Setidaknya sekedar menanyakan apakah gadis itu jadi datang atau tidak, bisa, bukan? Tapi, lagi-lagi rasa gengsi yang masih sedikit tersarang menguasai benak Luna. Itu ‘kan kemauan Sunny.

Seseorang dengan menunggangi motor datang menghampiri rumah Luna. Menghentikan motornya tepat di depan pintu gerbang rumah Luna. Melepas helmnya lalu turun dari motornya dan masuk ke pekarangan rumah gadis itu. Luna terheran. Kenapa orang itu datang ke rumahnya? Rasanya dia tidak memiliki janji apapun dengan orang itu. Apa karena sekarang merupakan hari libur?

“Henry-ah, kenapa kemari? Ada apa?” sambut Luna begitu orang itu—yang merupakan kekasihnya, Henry—berhenti tepat di depannya.

Henry tidak langsung menjawab. Ia terdiam sambil menatap dalam pada Luna. Menghembuskan napas yang sepertinya terasa begitu berat membuat Luna mengernyit kebingungan. Mata kecil tapi tajamnya itu memancarkan kelelahan, khawatir, sekaligus sedih.

Sedih?

Tiba-tiba saja jantung Luna berdebar tak karuan. Bukan, bukan karena gugup berhadapan dengan Henry. Tapi, Luna mulai merasa takut. Entah mengapa, dia bahkan tidak mengerti apa yang mulai ditakutinya. Tapi yang pasti, bukan takut pada Henry. Melainkan pancaran yang keluar dari mata Henry, seperti tengah mencoba memberi tahu sesuatu.

“Henry-ah, wae geurae (ada apa), huh?” tanya Luna, dengan sedikit menuntut. Lagi, Henry tidak bergeming. Mulutnya tidak mengucapkan apa pun. Membuat Luna menjadi tidak sabar. “Henry-ah!”

“Sunny…”

Jantung Luna berdebar semakin kencang. Kenapa tiba-tiba Henry menyebut nama Sunny? Apakah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu? Luna mulai kalut.

“Sunny…” lagi-lagi Henry menghela napas. Terasa semakin berat. Kemudian, dengan satu tarikan napas, meski tercekat, Henry mencoba mengatakannya. “Sunny—Sunny kecelakaan.”

.

.

Sakit… Rasanya begitu sakit. Luna merasa sesak di dada. Luna seperti tidak menapak. Tidak bisa merasakan kakinya menapak. Bahkan seperti tidak merasakan berat tubuhnya sendiri. Seperti nyawa yang baru saja ditarik dari tubuhnya begitu saja.

Apa ini? Apa yang barusan aku dengar?

Kecelakaan? Sunny?

Sunny kecelakaan?

.

Luna kembali tersadar saat Henry memegang pundaknya, menuntunnya untuk duduk di kursi teras. Kemudian Henry berjongkok di hadapannya. Mengusap wajah Luna yang telah berubah menjadi pucat pasi dan seketika dibanjiri keringat dingin, dengan saputangannya.

Luna terguncang.

“Bohong… Ini tidak benar, ‘kan?” gumam Luna lirih. Mirip seperti bisikan. Matanya menerawang ke depan. Dan mata itu telah kosong. Luna tidak bisa berpikir apapun. Hanya Sunny. Hanya sosok itu yang sekarang berada di pikirannya.

“Aku mendapatkan kabar ini dari keluarganya. Mereka ingin memberi kabar ini langsung padamu. Tapi, nomor ponselmu selalu nada sibuk.”

Luna menatap Henry tidak percaya. Dengan tangan yang bergetar, ia serahkan ponselnya yang sedari tadi digenggam, pada Henry. “Jangan bercanda, Henry. Ponselku selalu aktif…” bahkan suaranya juga ikut bergetar.

Sungguh, Luna takut. Ada apa dengan ini semua?

****

Mereka tiba di rumah sakit tempat Sunny ditangani. Di depan pintu masuk terlihat seorang anak lelaki yang sangat dikenal mereka, berusia sekitar 13 tahun, yang ternyata adalah adik kandung Sunny. Sepertinya ia menunggu kedatangan mereka.

“Luna, masuklah duluan. Aku harus memarkirkan motorku terlebih dahulu,” titah Henry yang segera dituruti Luna.

“Jeno-ya, di mana noona-mu?” Luna segera menghampiri anak lelaki itu dan segera mencerca.

Jeno segera menarik tangan Luna. Mereka berlari menuju ruang ICU. Sampai di depan ruangan itu, jantung Luna kembali berdebar kencang. Jeno membuka pintu ruangan itu, membuat jantung Luna berdebar semakin kencang.

Pertama kali ia melihat ibu dari Sunny yang menangis di pelukan suaminya yang merupakan ayah Sunny. Ayah Sunny, menyadari kedatangannya. Kemudian beliau mengajak ibu Sunny untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu, mengizinkan Luna untuk bertemu dengan anak mereka.

Dan, Luna melihat sosok sahabatnya itu. Terbaring di atas ranjang pasien dengan selang infus di pergelangan tangan kirinya, selang oksigen yang menancap di hidungnya, kepala yang dililit dengan perban, wajah yang penuh memar, koma. Membuat Luna hampir tak kuasa melihat keadaan sahabatnya itu. Terlihat sangat miris.

Perlahan Luna berjalan mendekati ranjang di mana Sunny terbaring, lalu duduk di kursi yang tersedia. Menatapnya getir. Lalu menyentuh tangan Sunny dengan sangat berhati-hati. Takut tangan mungil yang terlihat rapuh itu akan rusak.

Hangat. Tangan Sunny terasa hangat.

Ya, kenapa kau tidur di sini?” akhirnya Luna membuka mulut. Dan suaranya terdengar parau.

Tidak ada jawaban.

“Bangunlah. Tempat ini tidak cocok untukmu.”

Tidak ada reaksi.

“Sunnya-ah, buka matamu! Apa kau tidak bosan berdiam diri seperti ini, hum?”

Tubuh itu tidak bergerak.

Luna menghela napas panjang. Entah mengapa, dia tidak bisa menangis. Bukan karena dirinya tidak ingin menangis. Dia ingin menangis. Siapa yang tidak mau menangis melihat sahabat kesayangannya terbaring lemah dengan kondisi yang memprihatinkan?

Jeno menyerahkan sesuatu pada Luna. Menyodorkannya tepat di hadapan Luna. Sebuah kotak kecil yang sudah penyok dengan dibungkus kertas kado yang sudah kotor. Dengan bingung Luna menerimanya.

“Polisi menemukannya. Itu adalah kado yang akan diberikan padamu hari ini.” Jeno seolah dapat membaca pikiran Luna.

Kado?

Hari ini? Memangnya ada apa dengan hari ini? Hari ini tanggal berapa?

Ah, benar juga. Hari ini tanggal 20. Bulan Mei.

20 Mei…

Luna terhenyak. Segera saja dirinya kembali mengalihkan pandangannya pada Sunny. Tiba-tiba dirinya ingin sekali berteriak memarahi gadis yang tengah terbaring tak sadarkan diri di hadapannya. Emosi Luna kembali naik. Tapi apa daya, tenggorokannya sakit. Ditambah dengan dadanya yang sudah sesak sejak awal melihat kondisi Sunny, hingga bahunya naik-turun.

“Maaf.” Luna berhasil mengeluarkan suaranya meski dengan susah payah. Tapi, justru itu yang terucap dari mulutnya. Padahal dia ingin mencerca Sunny habis-habisan. “Maafkan aku…” Luna mengucapkannya lagi. Kini dengan suara lirihnya. “Aku tidak membencimu. Sungguh, aku tidak membencimu.” Luna mulai tercekat.

Henry masuk ke dalam ruangan. Lalu terkesiap melihat keadaan sahabat Luna yang merupakan sahabatnya juga itu. Ia hampiri ranjang itu, berdiri tepat di samping Luna. Dan memandang Sunny yang tak sadarkan diri. Kondisinya, sungguh mengkhawatirkan.

Luna menatap tubuh lemah itu. Tubuh yang terancam rapuh itu. Wajah mungil yang putih itu kini dipenuhi oleh lebam dan luka-luka irisan. Tubuh putih susu itu kini tidak terlihat mulus. Banyak luka yang menimpalnya. Bahkan jantungnya berdetak begitu lemah.

Andaikan tadi aku melarangmu agar tidak datang ke rumahku, kau tidak akan mengalami hal yang sangat menyakitkan seperti ini, Sunny-ah. Sungguh, aku benar-benar jahat.

****

Ponsel Luna berdering menandakan panggilan masuk. Tertera di layar ponselnya sebuah panggilan masuk dari pamannya. Luna lupa berpamitan sebelum pergi sehingga membuat neneknya khawatir. Pamannya menelpon menanyakan keberadaannya. Setelah Luna menjelaskan, pamannya pun menyuruhnya untuk tidak pulang menjelang petang.

Hari mulai sore dan Luna harus segera pulang. Henry pun keluar terlebih dahulu untuk mengambil motornya.

“Sunny-ah, aku pulang dulu. Nanti malam aku akan menjengukmu lagi. Aku ingin meminta izin pada kakek dan nenekku terlebih dahulu,” ucap Luna sambil berdiri. Pandangannya beralih memperhatikan kado yang dipegangnya. Dia baru sadar, bahwa kado itu terus dipegangnya sejak diberikan oleh Jeno.

“Aku harap, ketika aku kembali kemari, kau sudah membuka matamu,” sambungnya seraya mencoba mengulas senyum. Kemudian, Luna meraih jari telunjuk Sunny yang terlihat begitu rapuh itu, menautkannya dengan jari telunjuknya. Dengan sangat hati-hati. Luna berkata, “Kau adalah sahabatku. Selamanya sahabatku. Dan aku menyayangimu.”

Dengan sangat hati-hati lagi Luna melepas jari telunjuknya dari jari telunjuk Sunny. Kemudian dia berpamitan dengan Jeno yang sedari tadi menemaninya, lalu keluar dari ruangan. Terlihat ibu Sunny yang masih terisak di pelukan ayah Sunny. Tak lupa Luna berpamitan pada mereka. Kemudian melangkah meninggalkan mereka.

Entah mengapa, ada sesuatu yang membuat Luna merasa berat untuk meninggalkan tempat itu. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Rasanya dia tidak ingin segera pergi. Dia tidak ingin pulang ke rumah begitu saja. Tapi meski dengan berat hati yang tidak diketahui penyebabnya, langkah Luna tetap membawa dirinya keluar dari rumah sakit.

Begitu keluar melewati pintu masuk utama rumah sakit, terlihat Henry sudah menunggu di atas motornya. Segera saja Luna mendekati kekasihnya itu.

“Luna Noona!!”

Tiba-tiba sebuah panggilan menginterupsinya yang ingin menaiki motor Henry. Luna menoleh ke arah suara panggilan itu. Lalu mendapati Jeno yang berlari menuju ke arahnya, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Membuat Luna serta-merta kembali merasakan sesuatu yang begitu ditakutkan. Sesuatu yang bahkan dia tidak ketahui apa itu.

“Jeno, ada apa? Kenapa kau menangis?” sambut Luna segera setelah Jeno berada di hadapannya. Sedangkan Henry segera mematikan mesin motor lalu turun dari motornya.

Jeno mulai terisak. Bahkan lelaki muda itu menangis. Membuat wajahnya semakin basah dengan air matanya. “Sunny—Sunny Noona… Sunny pergi…” dan Jeno menangis semakin kencang.

Luna merasa melayang untuk yang kesekian kalinya. Dia seperti anemia. Sesak. Mulas. Isi tubuhnya terasa tengah dijungkir-balikkan, di aduk-aduk. Membuat ia mengutuk dirinya sendiri.

Pergi. Sunny pergi. Pergi dalam arti…

Luna melesat berlari masuk ke dalam rumah sakit lagi. Menuju ruang ICU tempat di mana Sunny berada. Lagi, dia tidak merasakan kakinya menapak. Tapi dia terus berlari. Tak peduli dengan dirinya yang tidak merasakan berat tubuhnya untuk yang kesekian kali. Luna terus berlari. Berlari menghampiri Sunny.

Dengan kasar Luna membuka pintu ruangan hingga menjeblak. Napasnya tersengal-sengal. Bahkan keringat dingin. Dia melihat ibu Sunny menangis keras, meraung sambil memeluk tubuh itu. Sedangkan ayah Sunny terlihat mengusap-usap bahu sang istri, beberapa kali pula terlihat mengusap wajahnya. Sudah dipastikan bahwa beliau juga tengah menangis. Dengan kaki yang gemetar, Luna mendekati mereka. Mendekati ranjang Sunny.

Selang infuse sudah terlepas dari pergelangan tangannya. Begitu juga dengan selang oksigen yang menancap di hidungnya. Monitor jantungnya sudah mengeluarkan bunyi ‘pip’ yang sangat panjang. Tanpa putus.

Apa-apaan ini? Tidak berdetak? Itu artinya, tidak bernapas? Sunny tidak bernapas?

Tidak mungkin. Sunny… Tidak mungkin!

“Tidak mungkin… Sunny—”

Luna menyentuh wajah Sunny dengan sangat hati-hati. Dapat dia lihat bahwa tangannya tersebut bergetar. Dan dia merasakan wajah itu hangat. Masih hangat. Hanya saja bibirnya putih pucat. Itu artinya, Sunny masih hidup, bukan?

Tangan Luna beralih menyentuh jemari Sunny. Dengan sangat hati-hati pula. Dan dia merasa, tangan itu dingin. Sangat dingin. Seolah tidak ada darah yang mengalir di sana. Padahal terakhir dirinya menyentuh demi melakukan janji persahabatan mereka itu masih terasa hangat.

Tidak. Tidak mungkin. Sunny sudah tidak bernyawa? Luna menggeleng kepala lemah. Dia masih belum menerima kenyataan itu. Lebih tepatnya, tidak bisa.

Sunny, buka matamu, batin Luna meminta.

Tubuh itu tidak bergeming.

Aku mohon buka matamu. Buktikan kalau kau masih di sini, batin Luna meminta lagi.

Tidak ada reaksi.

Sunny-ah, aku mohon buka matamu! Kini batin Luna menjerit.

Lagi-lagi, monitor jantung itu menyadarkannya. Tidak ada detak jantung. Sunny benar-benar tak bernyawa lagi…

Luna mundur dari ranjang itu. Tidak percaya. Sungguh, dia masih belum menerima kenyataan di depan matanya. Dia terus melangkah mundur, dengan kepala yang terus menggeleng lemah. Hingga kakinya merasa lemas dan membuat tubuhnya limbung dan pasti terjatuh jika Henry yang telah datang sedari tadi bersama Jeno tidak segera menangkap tubuhnya yang sudah tak bertenaga itu.

Perlahan Luna berbalik menghadap Henry. Wajahnya yang sudah berubah pucat itu memandang Henry. Dengan mata yang sudah mengembun, Luna berkata, “Sunny sudah pergi,” dengan sangat lirih.

Perlahan, Henry menarik tubuh Luna ke dekapannya. Memeluknya, menepuk pundak Luna yang kecil itu. Entah mengapa perlakuan Henry yang seharusnya terasa nyaman itu justru membuat tubuh Luna mulai bergetar. Matanya yang sudah berkaca-kaca itu sudah lelah menahan sesuatu yang terus mendesaknya di pelupuk. Dan, setelah begitu lama ditahan, setelah begitu lama dirinya pantang untuk tidak menyeruakkan bahkan menumpahkannya, akhirnya butiran-butiran itu mengalir mulus di pipinya. Dan Henry segera mengusap-usap punggung kecil itu. Memberikan kehangatan sebisanya pada gadis yang sedang menangis deras di pelukannya. Pertahanan Luna runtuh begitu saja.

Sunny telah tiada.

&&&

Luna membuka mata yang kembali terasa perih, lalu bangkit dari tidurnya, mendudukkan tubuhnya. Tiba-tiba sebutir cairan bening nan hangat mengalir di pipinya. Segera dirinya mengusapnya. Juga mengusap matanya yang ternyata sudah basah. Lagi-lagi dia menangis.

Ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Diraihnya ponselnya yang tergeletak di nakas dan melihat layarnya. Tertera sebuah panggilan dari Sulli—sahabat kampusnya sejak dirinya mengubah status menjadi mahasiswi. Segera Luna menjawab panggilan tersebut.

Yeoboseyo?”

Luna-yaa, sudah bangun, hum? Jangan lupa, pukul sembilan di kafe kampus. Mengerti?

“Memangnya mau ada apa di sana?”

Kita akan berburu pria!

“Apa?!”

“Ish, tentu saja kita akan berkumpul bersama yang lain. Kau ini! Sudah saatnya kau mencari teman lebih banyak lagi!

Ck, baiklah. Terserah kau saja.”

Ingat, pukul sembilan!

“Um!”

“Ya, kau menangis?

Luna tidak langsung menjawab. Tertegun. Sulli, sahabat kampusnya ini, mudah sekali menebak keadaannya. Padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak menunjukkan kondisinya dengan berbicara senormal mungkin. Tapi kenapa gadis itu masih saja bisa menebak kondisinya? Apakah gadis itu punya mata-mata di sekitar lingkungannya?

Ternyata benar. Kau menangis.

“Tidak. Aku tidak menangis.”

Jangan berbohong. Jika kau berbohong, selamanya kau akan terus menangis. Sudah, ya? Sampai bertemu di kafe. Ingat! Pukul sembilan! Jangan sampai terlambat apalagi tidak datang!

Ara, araa!”

Sambungan pun terputus. Luna menghela napas panjang. Aku tidak boleh seperti ini, batinnya mengeluh.

****

:: Kafe (09:20 AM)

Luna tampak memberenggut. Saat ini ia tengah terduduk bersama 6 orang temannya di tempat yang dijanjikan. Tapi, orang yang mengusulkan janji malah belum datang! Apa-apaan ini? Dia merasa sedang dipermainkan!

“Hei, Luna, jangan memasang wajah kusut seperti itu!” seseorang di antaranya menegur Luna.

“Bagaimana tidak? Dia yang membuat janji, tapi dia juga yang melanggar! Gadis macam apa dia?!” sungut Luna tak terima.

Sedangkan mereka hanya tersenyum simpul memperhatikan Luna yang sudah semakin kusut. Padahal hari masih pagi. Tapi aura gadis itu sudah mengeruh dengan cepat.

Happy Birthday to you.

Happy Birthday to you.

Happy Birthday, Happy Birthday

Happy Birthday to you.

Seketika Luna menoleh ke sumber suara itu. Terlihat Sulli—orang yang sudah ditunggu-tunggu olehnya—membawa sebuah kue ulang tahun ditemani Henry yang membawa sebuah sebuket bunga. Disusul dengan teman-teman yang lain di belakang mereka berdua. Bersama-sama menyanyikan lagu Ulang Tahun. Untuk Luna?

Luna mematung. Dia terkejut. Mereka yang berdiri tak jauh di hadapannya, membuat kejutan untuknya. Benarkah? Luna tercekat.

Make a wish, Luna!” seru Sulli dengan semangat.

Luna masih belum bergeming. Matanya nyalang menatap Sulli dan Henry bergantian, sekaligus menatap teman-teman yang berpartisipasi di belakang dua orang itu. Tanpa sadar kedua tangan Luna telah mengepal. Mencoba menahan gejolaknya yang mulai menyelimuti benaknya.

Apa kalian tidak mengerti? Aku benci hari ulang tahunku!

“Luna.” Kini Luna menatap Henry yang memanggil namanya. Segera saja Henry mengulas senyum teduhnya. “Sudah saatnya bagimu untuk melepas semuanya. Tidak seharusnya kau seperti ini, selalu. Dan sudah seharusnya kau gunakan hidup panjangmu ini untuk mencari kebahagiaanmu sendiri. Bukan terpuruk dengan hal yang sudah lalu.” ujarnya lembut.

Luna menggelangkan kepala perlahan. “Kau tidak mengerti…” lirih Luna. Terlihat kedua matanya mulai mengembun.

“Luna-ya, apa dengan begini, dia yang ada di sana akan bangga denganmu yang terus seperti ini? Bertahun-tahun menangisinya. Bertahun-tahun terpuruk karena kesalahanmu yang tidak akan termaafkan karena dia sudah tiada. Apa kau akan terus seperti ini sampai kau mati?” tiba-tiba Sulli menyahut.

Seketika, Luna terkesiap.

Sulli menyerahkan kue yang terus dipegangnya pada teman yang berdiri di sebelahnya. Kemudian mendekati Luna. Memegang pundaknya, meremasnya dengan sedikit ketat. “Luna-ya, dengar! Dia sahabatmu. Sahabat semenjak masuk Menengah Atas. Dua tahun kalian bersama, dua tahun sudah kalian saling mengenal satu sama lain. Apa kau tidak berpikir? Tidak mungkin dia tidak memaafkanmu. Apa kau tidak menanggapi hadiah pemberiannya? Hadiah terakhir yang sampai ke tanganmu. Meskipun tidak langsung dari tangannya. Lalu untuk apa dia memberimu hadiah apabila dia tidak memaafkanmu? Dia, sahabatmu, sudah memaafkanmu, Luna-ya! Apa kau tidak menyadari? Bahwa kau terperangkap dalam kesedihanmu sendiri!”

Pundak Luna bergetar. Dengan mudah, sebutir air mata yang hangat mengalir bebas di pipinya. Bibirnya yang sedari tadi dirapatkan dengan paksa, mulai meloloskan isakan pedihnya. Entah ia menyadari atau tidak, bahwa ruangan kafe tersebut telah berubah menjadi sunyi. Sejak nyanyian ulang tahun itu melantun. Dan semakin senyap begitu Sulli melontarkan segala tutur katanya yang panjang itu.

“Keluarlah. Kau harus menghirup udara segar. Udara kebahagiaan. Itu yang dia inginkan untukmu, Luna-ya…” Sulli melembut. Begitu juga dengan remasannya di kedua pundak Luna.

Tangis Luna akhirnya pecah. Sudah tidak kuat membendung semuanya. Dia ingin keluarkan semuanya, hari ini juga. Dia ingin keluar dari tempat itu. Sudah cukup sampai di sini dirinya terkurung sendirian. Sudah saatnya dia mencari kebahagiaan sendiri. Seperti kata Sulli dan Henry. Sulli pun memeluk gadis yang terisak hebat itu. Menepuk sekaligus mengelus punggung yang bergetar hebat itu dengan selembut mungkin. Memberikan kehangatan serta ketenangan sebisa mungkin.

Satu teman bertepuk tangan. Lalu diikuti teman yang lain. Kemudian, tanpa butuh waktu lama, berubah menjadi tepuk tangan meriah. Dan kembali mereka bernyanyi untuk Luna.

“Tiup lilinnya, Luna!”

“Potong kuenya!”

“Luna-ya, selamat ulang tahun!”

****

Luna membuka laci meja dan mengambil sesuatu. Sebuah kotak yang sudah penyok dan lusuh. Dia buka kotak itu dan mengambil sebuah gelang berwarna cokelat. Diperhatikannya lekat-lekat gelang tersebut. Lalu tersenyum. Matanya kembali berkaca-kaca.

Seandainya kau masih ada di sini, aku akan memakainya dengan bangga di hadapanmu.

Dia kenakan gelang itu di pergelangan tangan kirinya. Kembali dia tersenyum begitu melihat gelang sederhana itu telah menghiasi pergelangannya dengan indahnya. Kemudian, ia mengambil secarik kertas dari dalam kotak itu. Dibacanya dengan seksama. Masih dengan senyum, kini air matanya mengalir. Bibirnya mulai bergetar mencoba mempertahankan senyumannya. Tulisan demi tulisan dibaca dengan seksama. Hingga akhir. Luna dekap kertas itu. Dan terisak.

Maafkan aku yang baru mengerti perasaanmu. Sungguh, maafkan aku. Kini aku mengerti. Aku tidak akan menyia-nyiakan perasaanmu. Aku akan tersenyum. Aku akan terus tersenyum. Untuk keluargaku, untuk Sulli, untuk Henry, untuk teman-teman, untuk semua orang, dan tentu saja untukmu. Aku tidak akan terpuruk lagi. Tapi, aku tidak akan melupakanmu. Tidak akan pernah. Karena dirimu, aku mengerti kebersamaan. Karena dirimu, aku mengerti rasa kasih sayang. Karena dirimu, aku mengerti arti persahabatan.

Kali ini aku berterima kasih padamu. Terima kasih karena sudah mau mengenalku, menjadi sahabatku, menyayangiku. Aku juga berterima kasih pada Tuhan. Karena sudah memperkenalkanku padamu. Menjadikan aku sebagai sahabatmu… hingga akhir. Dan aku akan terus menjadi sahabatmu. Karena kita akan bertemu lagi. Suatu saat. Di dunia berikutnya. Pasti!

.

Terdengar suara pintu diketuk. Luna segera membuka pintu kamarnya. Dan ia dikejutkan dengan kedatangan Sulli bersama Henry sekaligus teman-teman yang lain. Membawa kue ulang tahun dengan lilin-lilin yang menyala. Siap untuk ditiup.

Lagi?

Happy Birthday, Luna!!” seru mereka bersamaan.

Luna benar-benar terkejut sekarang. Merasa takjub. Mereka membuat kejutan lagi untuknya!

“Ada apa ini? Bukankah tadi pagi sudah?”

“Ini adalah puncaknya. Lagipula tadi pagi kau menangis. Jadi untuk kali ini, kau jangan menangis, mengerti?” cetus Sulli dengan semangat. Kemudian, Sulli tampak tercenung. “Ya! Kau menangis lagi, huh?!”

A-aniya! Aku—aku hanya merasa terkejut.” Luna berkilah dengan mencoba untuk tersenyum. Kini dirinya berhasil mengulas senyum yang begitu manis.

Sulli memicing sejenak. Tapi kemudian ia ikut mengulas senyum begitu melihat sahabatnya itu mulai menampakkan aura cerahnya. “Baiklah, aku tidak akan banyak bertanya. Sekarang, Luna, tiup lilinnya!!”

“Tunggu dulu! Luna, Make a Wish!” sergah Henry. Luna pun memejamkan mata, menautkan kedua tangannya, berdoa.

Tuhan, terima kasih. Engkau telah mengirimkan mereka di dekatku untuk menyayangiku dan menjagaku. Aku akan menjaga kahangatan ini serta berharap bahwa kebersamaan ini akan terus berlanjut. Dan, tempatkanlah ia di tempat yang terbaik bagi-Mu. Yaitu, di sisi-Mu.

Luna membuka mata. Kini senyumnya semakin lebar, bahkan kedua matanya yang meski masih basah itu ikut tersenyum. Melihat reaksi itu, mereka ikut tersenyum. Tak ada lagi kesedihan di malam itu. Dan, Luna meniup lilin-lilin itu dengan satu tarikan napas.

Sunny-ya, aku menyayangimu!

.

.

.

Untuk Sahabatku

Luna

Selamat Ulang Tahun!

Wah, si cantik ini ternyata sudah semakin tua! Untung aku belum. Itu artinya, aku masih muda~ kkkk

Luna-ya, jangan marah seperti itu. Aku ‘kan menghindarimu bukan karena aku bosan denganmu. Kau ini berlebihan. Aku hanya sedang mempersiapkan sesuatu untukmu. Sebuah hadiah special dariku untukmu. Aku membuatkanmu gelang! Itu asli buatan tanganku sendiri~ Tapi, maaf, ikatan-ikatan simpulnya terlihat asal-asalan. Sebab, ini pertama kalinya aku membuat gelang. Hehe

Luna-ya, aku sangat, sangat, sangaaaaatt menyayangimu. Kau adalah hadiah istimewa dari Tuhan. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu. Aku selalu berharap agar kita terus bersahabat sampai kita menjadi nenek nanti. Bahkan sampai maut memisahkan kita! Hahaha. Terlihat berlebihan, ya? Tapi itulah harapanku. Jadi, jangan membenciku, hum? Aku terkejut saat kau mengatakan benci. Itu membuatku sedih. Padahal aku ‘kan hanya bercanda. Maafkan aku. Aku harap kau mau memaafkanku. Dan kita bisa berteman lagi. Eo, eo, eo?

Luna-ya, semoga kau menyukai gelang buatan pertamaku ini. Untuk selanjutnya, aku akan membuatkan gelang yang lebih bagus dari ini! Lihat dan tunggu saja! Hehehe

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, Luna! Aku menyayangimu ^-^

Dari sahabatmu

Sunny


YEHET!! /sekarang gaya thehun/? #gatot -_-

huaaaaaaahh ada yang nangis? (ngga adaaaa -__,-) hahahah Yah tapi setidaknya, semoga ada yang tersentuh ya.. hehet! Seperti yang udah kukatakan di atas, bahwa cerita ini aku angkat dari pengalaman nyata. Pengalaman kakakku^^ Waktu dia cerita ke aku, aku mewek duh T.T Dan, untungnya, kakakku sekarang udah move on~ seperti yg di cerita di atas >.<

Ah ya, mohon maaf ya ceritanya terkesan kaku. Cerita ini udah pernah kutulis…..sekitar 2 tahun yg lalu apa? #lupa._. dan udah pernah posted di akun fb-ku.. Waktu itu ada acara bikin cerita di sebuah grup dan aku ikutan.. dan karena di dalam grup ngga ada K-Popers, aku pake nama-nama yang ngga menjerumus ke namkor hehet xD Ah, untuk tokoh Jeno, sebelumnya aku gapake nama Jeno, tapi biar jadinya tokoh SM semua, kuganti jadi Jeno yaaaayy~~ #krikrik Daaan, jadilah cerita ini yang kubuat. heheh padahal udah aku edit, tapi tetap saja kesannya masih kaku hahahah Maaf~~ T.T

cah! Aku bingung mau celoteh apa lagi hahahah.. sampai bertemu di cerita absurd lainnya~ dan, sampai bertemu di kisukisu berikutnyaa~ hahahah xD

Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

7 thoughts on “Dear My Friend

  1. hueee.. ceritanya sedih eonni :’),sampe meneteskan air mata sya #hehe lebay
    tpi keren eonni, ditunggu ff selanjutnya 😀

  2. Sukses buat aku mewek thor 😥
    Wong dasarnya udah cengeng kek bang donghae dikasih cerita beginian :’D
    Untung aja aku gak ngalamin hal ini dan jangan sampe 🙂
    Sukses buat authornya 🙂

    1. waaaa maaf ;__; tapi, ambil hikmahnya aja yaa^^ salah paham dalam persahabatan itu pasti ada.. semoga dengan adanya cerita ini kita jadi lebih pengertian lagi sama teman eheheheh
      makasih loh buat masukannya~><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s