Posted in Chaptered, Fiction, KiSoo FF "Keep In Touch", PG, PG-17, Romance, School Life

Keep In Touch – Part 4 (Last)

Genre: School Life, (Absurd) Romance
Rated: PG-17 (ini udah mentok, jadi, warning! (?) -_-)
Length: Mini Chaptered

Kim Ki Bum | Park Soo Rin | Kim Jong Dae | Kim Sae HeeKITcover

This story comes from my absurd imagination~ hehet! Casts are belongs to God, also the story but comes to my head (?) //what am I talking about?.__.// Okay! Let’s have a good time, together! 기대해도 좋아 let’s go!! Enjoy~^^

ㅡㅡ

“Ki Bum-ah!”

Ki Bum menghentikan langkahnya sebelum menapak ke dalam kelas. Menoleh ke sumber suara, mendapati Tae Yong tengah berdiri bersandar di sebelah jendela koridor. Sebelum akhirnya menegakkan tubuh lalu berjalan menghampirinya. Berdiri tegap di hadapannya.

“Kenapa?” Ki Bum membuka percakapan setelah ada jeda yang cukup lama karena Tae Yong tidak segera membuka mulut. Justru yang dia dapatkan adalah Tae Yong yang menatap aneh padanya dan sesekali menghela napas sedikit kasar.

“Apa yang sudah kau lakukan padanya?”

“Kau sedang membicarakan siapa?” Ki Bum berbalik bertanya.

“Gadismu.”

Ki Bum tercenung. Langsung saja pikirannya mengarah pada Soo Rin. Memangnya siapa lagi gadis yang dia anggap sebagai gadisnya?

“Sebelumnya aku ingin bertanya, sebenarnya status kalian sekarang seperti apa?” Tae Yong menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, “Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah melihat kalian bersama lagi. Sebenarnya ada apa dengan kalian? Apakah rumor yang mengatakan bahwa kau sudah berpaling dengan murid baru bernama Sae Hee itu benar?”

“Itu tidak seperti yang kalian pikirkan selama ini.”

“Lalu kenapa justru kau terlihat tengah menggantung Soo Rin sekarang? Apa kau menyadari keadaannya sekarang?” Tae Yong langsung menyambar. “Kim Ki Bum, bukankah kau tahu sendiri bahwa ini merupakan kali pertama baginya dalam menjalani hubungan yang cukup serius seperti saat ini? Meski dia sudah pernah melakukannya dulu, tapi hubungannya denganmu adalah yang kali pertama berjalan hingga sejauh ini.”

“Aku tahu,” balas Ki Bum datar. Tapi di balik kedataran itu, Ki Bum benar-benar tengah menahan gejolaknya untuk tidak meledakkannya di hadapan Tae Yong. Lucu sekali jika dirinya menggertak secara tiba-tiba.

Sedangkan Tae Yong harus membuang napas dengan kasar. Menatap tajam sekaligus prihatin pada Ki Bum. Dia tidak mengerti kenapa lelaki di depannya ini terlihat begitu tenang seolah tidak pernah melakukan apapun. Padahal dia sendiri begitu geram dengan masalah ini. Kini Tae Yong membuang pandangan ke arah lain, tanpa diduga ia melihat orang yang tengah dibicarakannya sedang berjalan mendekat. Melihat Tae Yong yang begitu terpaku dengan apa yang tengah dilihatnya, Ki Bum akhirnya mengikuti. Dan ikut terpaku dengan apa yang dia lihat sekarang.

Soo Rin baru saja datang. Seperti biasa—yang belakangan ini sudah menjadi kebiasaannya—ia datang di waktu mepet. Seperti biasa pula dirinya melangkah membawa diri dengan kepala tertunduk. Kedua tangan yang menggenggam tali tas ransel di pundaknya, dan… kacamata yang bertengger di hidungnya.

Begitu mendongak demi memastikan bahwa pintu kelas bagian belakang sudah dekat, Soo Rin terpaksa menghentikan langkahnya. Terkejut melihat dua lelaki itu berdiri tepat di depan pintu yang ingin ditujuinya. Soo Rin juga harus menahan napas begitu tatapannya secara tak sengaja menatap kedua iris hitam pekat milik Ki Bum. Takut merasa ketahuan, Soo Rin segera menunduk begitu kesadaran kembali menguasainya, lalu melangkah melewati mereka dengan cepat menuju pintu kelas bagian depan.

Ki Bum tercenung melihat penampilan gadis itu hari ini. Ini merupakan kali pertama baginya melihat gadis itu mengenakan kacamata. Dan entah mengapa dia langsung dapat menebak mengapa gadis itu mengenakan kacamata.

“Kau lihat sendiri? Kondisi Soo Rin sekarang?” Tae Yong memecahkan lamunan Ki Bum. Sebelah tangannya bergerak menyentuh pundak Ki Bum, meremasnya perlahan. “Mungkin bagimu, seharusnya aku tidak ikut campur akan masalah ini. Tapi Soo Rin adalah teman dekatku. Aku tidak bisa diam saja melihat dirinya yang seperti sekarang. Dan, perlu kau ketahui, kemarin… Soo Rin menangis. Aku, Tae Min, dan Ah Reum adalah saksinya. Entah mengapa instingku mengatakan bahwa kau adalah penyebabnya.” Kemudian Tae Yong beranjak menuju ke dalam kelas terlebih dahulu. Meninggalkan Ki Bum yang termangu di tempat.

Dan begitu sosok Tae Yong menghilang dari hadapan, Ki Bum menggeram tertahan. Lalu ikut melangkah masuk ke dalam kelas. Menjatuhkan tas ranselnya begitu saja ke tempat duduknya. Tanpa berminat untuk segera duduk, Ki Bum beralih menatap lekat gadis yang duduk tertunduk di depan tempat duduknya. Tengah merogoh isi tasnya. Tanpa berpikir panjang, Ki Bum merebut tas yang tengah ditekuri oleh gadis itu. Sontak saja membuat sang pemilik terkejut dengan perlakuannya hingga terpaksa mendengakkan kepala demi melihat siapa yang sudah berani merebut barangnya. Dan seketika gadis itu terkejut begitu melihat Ki Bum.

Sudah cukup. Ki Bum sudah tidak bisa menahannya lagi. Tak peduli dengan reaksi gadis ini. Tak peduli dengan waktu belajar-mengajar yang sebentar lagi akan dimulai. Meletakkan tasnya di atas meja, Ki Bum beralih meraih sebelah tangan Soo Rin, menariknya hingga tubuh ramping itu berdiri lalu menggiringnya keluar kelas. Tentu saja hal ini mengundang banyak perhatian dari seluruh penghuni kelas ini. Termasuk Tae Yong. Lelaki itu hanya menggelengkan kepala melihat pemandangan itu. Sambil berdecak, batinnya juga menggumam, Meski baru sekarang, tapi akhirnya Kim Ki Bum bertindak.

Y-ya, kelas sebentar lagi akan dimulai!” Soo Rin mencoba untuk menghentikan tarikan Ki Bum. Tapi sepertinya lelaki itu tidak mau mendengar protesannya. Bisa dilihat bahwa lelaki itu tetap menariknya menuju ke lantai dasar. Tempat yang sudah sepi karena sudah tidak ada lagi murid yang berdatangan mengingat kegiatan belajar-mengajar sebentar lagi akan dimulai.

Barulah Ki Bum berhenti begitu mereka berbelok ke koridor yang jarang didatangi. Lokasi di mana beberapa fasilitas khusus milik sekolah berada; segala macam Laboratorium, Ruang Kesenian, hingga Aula Sekolah. Segeralah Ki Bum menghadap gadis yang sudah dibawanya ini.

“Lepaskan itu,” perintah Ki Bum tiba-tiba.

“A-apa?”

“Lepas. Kacamatamu.” Ki Bum menekankan tiap katanya. Membuat Soo Rin semakin gugup melihat kedua matanya yang sudah menajam.

“Tidak mau.” Soo Rin membuang muka. Melemparkan pandangannya ke arah lain. Takut dirinya tak dapat beralih dari tatapan itu. “Aku harus kembali,” ujarnya sambil berbalik.

Ki Bum semakin geram. Sampai kapan gadis ini terus menghindarinya? pikirnya gamang. Ki Bum mencekal lengan Soo Rin hingga gadis itu kembali berbalik menghadapnya. Dengan segera Ki Bum melepas kacamata gadis itu hingga terpampanglah kedua mata yang cukup membuatnya tercekat. Mata indah itu tampak membengkak, kantung mata indah itu juga menggelap. Apa yang sudah terjadi hingga gadis ini mengalami hal seperti ini? Apakah gadis ini menangis semalaman hingga tak sempat tidur?

Ya! Kembalikan kacamataku!” seru Soo Rin berusaha menyambar kacamatanya dari tangan Ki Bum. Tapi Ki Bum segera menjauhkannya dari jangkauan Soo Rin. Mengangkat tangan yang memegang kacamata Soo Rin tinggi-tinggi. Hingga mau tidak mau Soo Rin menjijit demi meraih kacamatanya yang justru membuatnya mendekat pada lelaki itu.

Dan benar saja, Ki Bum memanfaatkan kesempatan ini dengan meraih pinggang gadis itu dengan sebelah tangannya yang lain. Menariknya hingga tubuh gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Yang seketika membuat sang empu berjengit kaget dengan perlakuannya ini.

Tubuh Soo Rin segera kaku. Seolah baru saja dirinya dikejutkan oleh dentuman keras, jantung Soo Rin mulai berpacu cepat. Bahkan napasnya mulai tercekat menyadari jarak wajahnya dengan wajah Ki Bum sudah dekat. Entah dirinya menyadari atau tidak, semburat kemerahan mulai menjalar di kedua pipinya. Dan, dia merasa… merindukan hal ini.

Tangan Ki Bum yang sempat terangkat mulai turun. Beralih merengkuh wajah yang begitu ia rindukan, dengan hati-hati. Tatapannya telah berubah menjadi teduh dalam sekejap. Dan semakin merapatkan tubuh mereka dengan hati-hati pula.

“Sampai kapan kau ingin seperti ini? Sampai kapan kau ingin menghindariku seperti ini? Sampai kapan kau tidak ingin mendengarkanku untuk menjelaskan semuanya?” ucap Ki Bum dengan suara lembut sekaligus beratnya, terbaca sekali nada kefrustasiannya. Tapi juga memberikan desiran hebat bagi Soo Rin begitu mendengar suaranya dan berbicara. “Kenapa kau berpikir bahwa aku sudah tidak menginginkanmu lagi? Kenapa kau berpikir bahwa aku sudah tidak mau bersamamu lagi? Kenapa kau berpikir bahwa aku sudah berpaling pada gadis lain?”

Soo Rin menelan salivanya dengan susah payah. Kedua tangannya yang tersanding di dada Ki Bum tampak mengepal. Dan dia tidak berani menatap wajah tegas lelaki ini. Mulai kewalahan, jantungnya berpacu semakin cepat. Dia mulai sulit untuk bernapas. Bagaimana bisa dia bernapas dengan leluasa di dekapan lelaki yang sudah membuatnya jungkir-balik selama ini?

Ki Bum menatap sendu gadis yang masih tidak mau membalas tatapannya ini. Dia semakin menundukkan wajahnya, mendekatkannya pada wajah cantik Soo Rin. Lalu perlahan, dia mendaratkan kecupannya pada hidung Soo Rin. Kecupan lembut dan hangat yang seketika meledakkan gejolak di benak Soo Rin hingga membuat wajahnya memanas seketika. Kecupan yang terasa begitu lama seolah tengah menyalurkan segala perasaan lelaki ini kepadanya. Bahkan dapat dirasakan pelukan di pinggangnya semakin mengerat.

Soo Rin tak dapat berkutik lagi.

Begitu Ki Bum melepas kecupannya, segeralah tatapan mereka bertemu. Berkat keterkejutannya yang luar biasa akibat perlakuan Ki Bum barusan, Soo Rin harus melebarkan matanya dan tanpa sadar menyorot pada wajah tegas Ki Bum. Keheningan segera menyelimuti mereka sejenak. Sebelum akhirnya Ki Bum kembali membuka mulut.

“Aku tidak pernah melepasmu. Dan aku tidak mau melepasmu.”

****

Tampak Sae Hee berjalan sendirian menelusuri koridor lantai dasar. Tidak seperti biasa dirinya akan mencari Ki Bum begitu waktu istirahat dimulai. Tidak seperti biasa pula dirinya berjalan dengan tatapan kosong seperti sekarang ini. Terlihat sekali bahwa dirinya tengah merenung sambil berjalan saat ini. Hingga dirinya tidak menyadari bahwa ia sudah dihadang oleh dua orang murid.

Sae Hee baru tersadar begitu kedua lengannya dicekal. Tubuhnya diseret dengan paksa menuju tempat yang hampir tidak pernah dikunjungi oleh murid di sekolah ini. Gudang sekolah.

YA!! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!!” Sae Hee meronta sekuat tenaga.

“Diam!!!” bentak salah satu siswi yang tengah menyeretnya.

“Apa lagi yang kalian mau dariku, hah?! Lepaskan aku!!!” Sae Hee mengencangkan gertakannya. Tapi justru membuat cekalan di kedua lengannya semakin mengetat. Membuatnya harus meringis ditambah kakinya yang sempat terkilir masih terasa ngilu.

YA!! Hentikan!!!”

Terpaksa keduanya menghentikan seretannya. Menoleh ke belakang dan terkesiap begitu melihat siapa yang baru saja meneriakinya.

Aishi, kenapa dia lagi?” desis salah satunya dengan panik.

“Terlanjur! Lakukan saja!” seru yang lain. Mereka kembali menyeret Sae Hee dengan paksa. Begitu pula dengan Sae Hee yang kembali meronta mencoba membebaskan diri.

Soo Rin berlari cepat mendekati mereka. Dia khawatir mereka akan menyakiti Sae Hee lagi. Mengingat baru kemarin kejadian itu terjadi, sudah dipastikan bahwa Sae Hee belum sembuh total. Beruntung Soo Rin yang baru saja turun dari lantai tiga segera melihat Sae Hee yang kembali diseret oleh siswi-siswi yang sama. Langsung saja dirinya mengejar demi menolong.

YA, lepaskan dia!!” seru Soo Rin lagi. Kemudian, tak sengaja pandangannya menangkap, dari arah berlawanan terlihat seorang siswi bergerak mendekat. Melihat apa yang dibawa oleh siswi itu membuat Soo Rin panik hingga semakin mempercepat larinya.

Kedua siswi itu segera melepas cekalannya. Mulai menjauh dari Sae Hee. Di waktu bersamaan Sae Hee menyadari bahwa ada siswi lain yang dengan cepat menghampirinya sambil membawa sebuah ember yang cukup besar. Langsung saja siswi itu mengayunkan ember yang dibawanya, tepat ke arah Sae Hee.

SPLASH

Mereka terkejut bukan main. Tercengang. Bahkan siswi yang membawa ember tersebut segera menjatuhkan embernya saking terkejutnya. Dia salah sasaran. Mereka salah sasaran. Bukan Sae Hee yang terkena air dingin sedingin es yang sudah mereka siapkan. Melainkan orang yang berusaha menolong Sae Hee yang terkena.

Di waktu yang tepat begitu Sae Hee berada dalam jangkauannya, Soo Rin segera menarik Sae Hee ke belakang hingga gadis itu terhuyung dan terjungkal. Tanpa sadar dirinya menggantikan posisi Sae Hee sebelumnya. Kini, Soo Rin sudah basah kuyup. Tersiram air dingin yang sudah mereka siapkan—seharusnya—untuk Sae Hee. Jangankan mereka bertiga, Sae Hee pun juga ikut terkejut. Gadis yang sudah berdiri dengan tubuh basah kuyup di depannya kembali menolongnya!

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

Suara menggelegar itu segera menyadarkan mereka. Melihat pemilik suara itu sudah memandang mereka dengan bengis, mereka bertiga segera berlari terbirit-birit meninggalkan Soo Rin dan Sae Hee. Melarikan diri melalui jalur memutar.

Orang itu segera berlari menghampiri Soo Rin. Memegang pundak Soo Rin yang sudah kaku. Dia mulai khawatir.

Sunbae, gwaenchanha (kau tidak apa-apa)?” Jong Dae bertanya lamat-lamat. Mendapat jawaban hanya sebuah anggukan dari Soo Rin membuat dirinya semakin khawatir. Ditambah dia dapat merasakan dinginnya air yang sudah menyerap membasahi seragam gadis ini. Jong Dae baru ingin melepas jas seragamnya begitu matanya tak sengaja menangkap siluet seseorang tengah berlari menghampiri. Mau tidak mau, Jong Dae menghentikan niatnya.

Sae Hee merasa sebelah lengannya terangkat sebelum ia juga merasakan sesuatu melingkar di pundaknya hendak membantunya berdiri. Sae Hee tertegun begitu mengetahui siapa yang sudah membantunya berdiri.

Oppa…”

“Kau bisa berjalan sendiri?”

Sae Hee segera mengangguk. Pandangannya beralih pada Soo Rin sejenak sebelum kembali menatap lelaki di depannya kini. Tapi lelaki ini sudah mengalihkan tatapannya.

“Kim Jong Dae, antarkan Sae Hee ke kelas.”

Seolah titahan Ki Bum tak terbantahkan, Jong Dae tidak menolak sama sekali. Lebih tepatnya, dia tidak bisa menolak karena saat ini dirinya tengah terpaku. Melihat Ki Bum yang dengan gerakan cepat melepas jas seragamnya lalu segera menyelampirkannya ke bahu Soo Rin. Membungkus tubuh ramping itu sebelum kemudian merangkulnya.

“Aku yang akan mengurus gadisku,” tandas Ki Bum yang seketika membuat Jong Dae terhenyak.

Ki Bum segera menuntun Soo Rin keluar dari koridor tersebut. Meninggalkan Sae Hee dan Jong Dae yang masih berdiam diri di tempat. Mengantarkan kepergian mereka dalam diam. Terutama Jong Dae. Kini dia melihat dengan jelas, bukti dari rumor yang beredar serta yang sudah dia dengar itu. Ditambah kalimat terakhir lelaki itu benar-benar membuktikannya.

Ya.” Sae Hee memanggil Jong Dae. Begitu lelaki itu menoleh dengan ekspresi baru tersadar dari lamunan, Sae Hee melanjutkan, “Kau tidak mendengar perintah Oppa-ku? Cepat bantu aku!”

.

::Ruang Kesehatan

Soo Rin tidak berusaha mengelak begitu lelaki ini membungkus kepalanya dengan handuk kering. Mengusap dengan perlahan demi mengeringkan rambutnya yang sudah basah. Dia hanya berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dari tatapan lelaki ini. Mereka sudah duduk saling berhadapan. Soo Rin yang duduk di tepi tempat tidur, sedangkan Ki Bum duduk di kursi menghadapnya.

“Kenapa kau melakukan hal itu?” Ki Bum memecah keheningan di antara mereka. Kedua tangannya masih mengusap rambut Soo Rin dengan handuk, dengan telaten.

“Aku ingin menolongnya.” Soo Rin menjawab dengan suara yang begitu kecil. Masih menunduk.

“Dengan mengorbankan dirimu sendiri?”

“Itu terjadi begitu saja. Aku tidak berpikir panjang saat itu.”

Tanpa Soo Rin ketahui, Ki Bum mengulas senyum teduhnya begitu mendengar jawaban yang begitu jujur dari Soo Rin.

“Terima kasih.”

Kini Soo Rin harus mengangkat pandangannya. Tidak mengerti dengan ucapan lelaki ini. Untuk apa Kim Ki Bum berterima kasih kepadanya?

“Sae Hee sudah menceritakan semuanya padaku.” Ki Bum seolah tidak menghiraukan tatapan bingung dari Soo Rin. Dia melanjutkan, “Alasan mengapa kau bersikap menghindar dariku. Dia mengakui bahwa dia yang melakukannya. Dia juga menyadari bahwa semua yang dia lakukan itu salah.”

Soo Rin kembali menunduk. Merenung. Juga menyimak penjelasan lelaki ini dalam diam.

“Awalnya aku merasa marah. Tidak menyangka bahwa dia sengaja melakukannya hanya karena tidak ingin aku melupakannya. Tapi mengingat dirinya yang sudah sangat menyesal hingga menangis deras kala itu, aku sadar bahwa tidak sepatutnya aku menambah beban kesalahannya dengan menumpahkan amarahku. Aku juga tidak mungkin berubah menjadi benci padanya. Lagipula, tidak mungkin juga aku membenci adikku sendiri.”

Soo Rin tercenung. Detik kemudian, dia tersentak kaget hingga kembali mendengak dan menatap lelaki ini dengan mimik terkejut. “Kau bilang apa?”

“Apa?” Ki Bum berbalik bertanya. Memasang wajah melongo dengan kedua alis terangkat.

“Kau bilang… adik?” Soo Rin bertanya dengan lamat-lamat, sedikit tercekat.

Eum. Adik.” Ki Bum mengangguk ringan. Tanpa gadis ini sadari, ia tengah menahan sesuatu di benaknya. Kemudian mencoba memasang ekspresi-baru-mengingat-sesuatu. “Ah, aku belum mengatakannya padamu, ya? Sae Hee adalah adik kandungku. Dia baru pindah dari California dan ingin melanjutkan pendidikannya di sini. Aku dan dia sempat tinggal di sana sejak usiaku sepuluh tahun. Aku pindah terlebih dahulu kemari dan bersekolah di sini.”

Soo Rin melongo hebat mendengar penjelasan Ki Bum. Terkejut. Tercengang. Jadi, Sae Hee adalah adik Kim Ki Bum? Adik kandung? Kenapa dia tidak pernah terpikirkan akan hal ini? Padahal sudah jelas berkali-kali dirinya melihat hingga hapal betul bahwa gadis itu bernama Kim Sae Hee! Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang baru menjadi murid kelas satu itu adalah adik dari Kim Ki Bum! Pantas saja gadis itu selalu menempel dengan Ki Bum. Astaga, mimpi ada dia semalam? Jadi, selama ini, dirinya cemburu dengan adik kandung Kim Ki Bum?!

Park Soo Rin, memalukan sekali dirimu.

Ki Bum yang mengerti ekspresi terkejut Soo Rin mulai tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Sebelah tangannya bergerak mencubit lembut hidung gadis ini. “Kau cemburu dengan adikku, ya?”

Telak. Soo Rin mati kutu. Dia benar-benar malu sekarang. Wajahnya sudah merah padam. Dan dia juga jengkel. Kenapa lelaki ini tidak pernah memberi tahu?!

Yaa, jadi selama ini kau cemburu dengan adikku, hum?” Ki Bum sudah tidak tahan lagi ingin tertawa. Melihat gadis ini sudah merona padam benar-benar menggelitik baginya.

“KIM KI BUM!!!!” Soo Rin akhirnya meledak. Segala emosinya mencuat menyebar. Langsung saja kedua tangannya bergerak brutal. Menyerang Ki Bum yang sudah tergelak dengan menghujani pukulan-pukulan ke lelaki itu. Tapi dengan cekatan Ki Bum berhasil menepis segela serangan brutal gadis ini.

Soo Rin benar-benar geram sekarang. Ditambah melihat Ki Bum yang tergelak menertawainya benar-benar membuatnya jengkel. Dia ditipu oleh lelakinya sendiri selama ini!

“Kau menyebalkan!! Kau tidak pernah memberi tahu padaku!!” Soo Rin memekik. “Apa kau senang melihatku yang seperti itu?! Apa kau senang melihatku cemburu terhadap adikmu, hah!! Apa kau senang melihatku menjadi gadis cengeng dan gadis bodoh?! Kau benar-benar menyebalkaaaaann!!!!”

Ki Bum mulai kewalahan. Seolah amarah yang keluar dari mulut gadis ini menambah intensitas serangannya, gadis ini semakin brutal dan mulai kelewat geram. Dengan cekatan serta gerak cepat, Ki Bum segera menangkap kedua tangan yang sudah membuatnya kesakitan di beberapa titik tubuhnya. Mencekalnya, sekaligus menguncinya. Dan kini dapat ia lihat dengan jelas, gadis ini terlihat ingin menangis.

“Maafkan aku.” Ki Bum kembali menatap lekat gadis itu. Raut wajahnya berubah, terlihat menyesal. “Tapi kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kau selalu menghindariku. Menghilangkan diri dari jangkauanku, bahkan jarak pandangku. Seolah kau sudah tidak ingin berada di dekatku lagi. Seolah kau sudah tidak membutuhkan lagi penjelasan dariku. Seolah kau sudah tidak mau mengenalku lagi.”

Soo Rin terpaksa menundukkan pandangannya. Tidak ingin membiarkan Ki Bum melihat dirinya yang ingin menyeruakkan cairan bening dari matanya yang sudah mengembun. Susah payah dirinya menahan diri untuk tidak mengalirkannya. Tapi justru dengan dirinya menunduk malah membuat cairan bening dan hangat itu terjun bebas ke pangkuannya. Perasaannya sudah tak karuan. Antara kesal, geram, marah, tapi juga lega. Lega dengan penjelasan Ki Bum yang membuktikan bahwa ternyata mereka masih terhubung.

Ki Bum yang melihat tetesan itu jatuh dari mata Soo Rin, mulai menurunkan kedua tangan yang masih dicekalnya ke pangkuan pemilik sebelum melepasnya. Demi merengkuh wajah cantik itu lalu mengangkatnya hingga kedua mata mereka bertemu. Tapi Soo Rin segera menurunkan pandangannya demi menghindari iris hitam pekat milik Ki Bum. Sedangkan Ki Bum harus mencelos melihat mata itu sudah basah tergenang air mata. Lagi-lagi dia membuat gadisnya menangis.

Dengan penuh perasaan, kedua ibu jari Ki Bum bergerak mengusap air mata itu. Kemudian, perlahan wajahnya bergerak maju. Sontak membuat Soo Rin harus menelan saliva begitu menyadari apa yang akan lelaki ini lakukan. Namun begitu wajah mereka sudah sangat-sangat dekat, Soo Rin merasakan sesuatu menggelitik di dalam hidungnya dan ingin segera dikeluarkan. Langsung saja dirinya mendorong tubuh Ki Bum.

HATCHII!!

Soo Rin langsung membekap mulut dan hidungnya begitu bersin. Lalu mulai menggosok bawah hidungnya yang mulai memerah. Dia mulai mengendus tak karuan demi menormalkan kembali hidungnya yang terasa gatal.

Ki Bum mendengus geli melihat tingkah gadis ini. Merasa geli juga dengan dirinya sendiri yang hampir melupakan kondisi gadis ini sekarang. Gadis ini ‘kan baru saja tersiram air dingin. Ki Bum pun kembali mengusap mengeringkan rambut basah Soo Rin dengan handuk.

“Ternyata sistem imunmu cukup lemah.” Ki Bum menggumam sambil menyeringai.

Shikkeureo (Diam)!” gerutu Soo Rin mulai tak suka. Membuat Ki Bum mulai merasa gemas melihatnya yang tampak mengerucutkan bibir.

“Apa yang kau rasakan sekarang? Tubuhmu mulai menghangat?” tanya Ki Bum yang segera membuat Soo Rin menyentuh keningnya sendiri.

Eung… aku tidak yakin. Aku masih merasa baik, tapi rasanya tubuhku sedikit hangat.” Soo Rin tampak mengernyit. “Jong Dae juga pernah mengatakan hal seperti itu padaku. Padahal aku tidak sedang dalam keadaan sakit,” lanjutnya tanpa sadar.

Mwo?” Ki Bum memicing mendengar kata-kata terakhir Soo Rin. Merasa janggal dengan kalimat bahwa Jong Dae pernah mengatakan tubuh gadis ini sedikit hangat. Bukankah itu artinya… Jong Dae pernah menyentuh Soo Rin? “Apa yang sudah lelaki itu lakukan padamu?”

“Eh?” Soo Rin mengerjap tak paham. “Jong Dae? Dia tidak melakukan apa-apa,” jawabnya polos.

Ki Bum menghembuskan napas kasar. “Kau mengatakan bahwa lelaki itu pernah mengatakan tubuhmu sedikit hangat. Apa dia pernah menyentuhmu?” tanyanya dengan nada tak suka.

Eung… itu…” Soo Rin mulai gugup. Dia menyadari bahwa sepertinya Ki Bum mulai tidak senang. Tapi memang dasarnya dia tidak bisa berbohong, dia akhirnya menjawab, “Jong Dae pernah memegang keningku untuk memeriksa keadaanku saat itu.”

Ki Bum menarik napas dalam. Berusaha untuk tidak mengeluarkan emosinya begitu mendengar jawaban jujur dari gadis ini. Meski batinnya menyugesti bahwa itu hanya hal sepele jadi tidak perlu dipermasalahkan, tapi sisi lain dari batinnya menjerit. Kim Jong Dae sudah menyentuh gadisnya!

“Di-dia hanya sekedar memegang keningku. Tidak lebih,” cicit Soo Rin. Menyadari bahwa lelaki ini merasa tidak suka dengan jawaban jujurnya.

Tanpa diduga, wajah Ki Bum bergerak maju hingga mampu meraih wajah gadis ini. Mendaratkan kecupan gemasnya pada kening berponi Soo Rin yang seketika membuat sang empu berjengit kaget. Sekilas Soo Rin mengira bahwa ini hanya sebuah kecupan yang akan segera lepas. Tapi ternyata kecupan itu berubah menjadi ciuman yang berlangsung lama di keningnya. Tak dapat dipungkiri bahwa dirinya mulai berdesir. Wajahnya memanas hingga kembali merona. Jantungnya bahkan berdetak semakin cepat. Rasanya baru kali ini dirinya mendapatkan ciuman di kening dari lelaki ini. Biasanya dia akan mendapatkannya di hidung maupun di bibirnya. -__-

Memang butuh waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Ki Bum melepasnya. Wajah tegasnya kembali turun hingga sejajar dengan wajah Soo Rin. Menatap lekat gadis yang sudah merona akibat perlakuannya barusan. Tak dapat dipungkiri bahwa dirinya cemburu terhadap lelaki bernama Kim Jong Dae itu. Apalagi lelaki itu sudah berani menyentuh gadisnya. Meski hanya sebatas menyentuh kening, tetap saja dia tidak terima.

“Jangan lakukan lagi,” ujar Ki Bum dengan halus.

“U-um?” Soo Rin merasa tidak sanggup lagi berkata-kata. Dia sudah terlanjur gugup. Sangat gugup. Membalas tatapan lelaki ini saja sudah takut-takut seolah dia akan bertatapan dengan siluman pemangsa.

Ki Bum tidak menjawab. Dia tidak ingin menjelaskan. Terlalu jelas jika dia mengutarakan kecemburuannya. Dia tidak mau. Lagipula dia sudah keburu gemas dengan reaksi gadis ini sejak apa yang sudah dia lakukan tadi. Melepas kacamatanya, Ki Bum meletakkannya begitu saja di sisi Soo Rin. Wajahnya kembali bergerak maju, memiringkan kepalanya, hingga dirinya berhasil kembali mendaratkan ciumannya. Kini di bibir Soo Rin.

Soo Rin segera memejamkan mata. Kedua tangannya mulai mengepal meremas rok seragamnya yang tidak begitu basah dibandingkan atasannya, begitu merasakan tangan besar Ki Bum yang sempat digunakan untuk melepas kacamata mulai kembali merengkuh wajahnya. Meski tidak ada pergerakan, tetap saja sudah berhasil membuat jantungnya melompat-lompat tak karuan. Seolah tengah menyalurkan kehangatan secara perlahan. Juga kerinduan secara perlahan. Meski tidak ada pergerakan, bibir penuh dan hangat itu begitu menguasainya sehingga dirinya tak mampu berkutik lagi. Bahkan saking berkuasanya, dia tidak mampu untuk bernapas!

Dengan kedua tangan merengkuh sekaligus menahan agar handuk yang masih mengerudungi kepala gadisnya tak terlepas, Ki Bum melepas ciumannya perlahan. Tapi hanya sepersekian detik, ia kembali mencium gadisnya. Memberikan kecupan-kecupan lembut—yang justru terasa seperti lumatan tertahan—pada gadisnya. Yang segera menggetarkan benak keduanya. Seolah Ki Bum tengah menyalurkan kerinduannya setelah begitu lamanya mereka tidak saling bertemu. Bertemu dalam arti, tidak saling menyapa bahkan hingga seolah tidak saling mengenal. Dia benar-benar merindukan gadis ini. Gadis yang tengah diciumnya kini. Ki Bum sangat merindukan Soo Rin.

Jantung Soo Rin seolah tengah berjungkir balik berkali-kali sebanyak lelaki ini mengecupnya berkali-kali pula. Entah berapa banyak, dia bahkan tidak ingin menghitungnya. Dia hanya mempedulikan jantungnya. Bahkan dia merasakan wajahnya benar-benar terasa panas. Namun, di sisi lain ia juga menikmati kehangatan yang menggetarkan ini. Tak dapat dipungkiri, dia juga merindukan perlakuan hangat ini. Sama seperti Ki Bum, Soo Rin juga sangat merindukan lelaki yang tengah menciumnya ini.

Ki Bum akhirnya mengakhiri kegiatannya. Menatap lekat wajah yang sudah merona padam, membuat seulas senyum teduh dan manis tersungging di wajah tegasnya. Dia begitu menyukai reaksi gadis ini. Gadisnya ini.

“Kau benar-benar menggemaskan.” Ki Bum akhirnya melontarkan pendapat jujurnya. Yang justru semakin membuat Soo Rin kewalahan.

“Diam!” Soo Rin menggerutu salah tingkah. Rasanya percuma jika dia menundukkan wajahnya. Akhirnya, dengan jantung yang semakin berdegup kencang—demi menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus, Soo Rin menjatuhkan kepalanya di salah satu pundak Ki Bum.

Tak dapat dipungkiri bahwa Ki Bum terpana dengan apa yang dilakukan Soo Rin. Tapi dia juga merasa senang melihat gadis ini rela menempel padanya hanya demi menyembunyikan wajah cantiknya yang sudah sangat padam. Dengan senang hati, Ki Bum meraih kedua tangan Soo Rin, mengiringnya untuk memeluk dirinya sebelum kemudian melingkarkan kedua tangannya di punggung gadis ini. Sebelah tangannya bergerak mengusap kepala Soo Rin yang masih dibungkus dengan handuk. Dengan penuh kasih sayang.

“Aku merindukanmu.”

****

Ki Bum menyandarkan tubuhnya tepat di samping pintu Ruang Kesehatan. Sesekali pandangannya menerawang ke arah lapangan dalam sekolah yang terpampang di depannya. Terlihat begitu acuh dengan tatapan-tatapan aneh yang menghujaninya saat ini. Dia memang sudah biasa menjadi pusat perhatian, karena itu dia tidak peduli dengan mereka yang menatap aneh kepadanya akibat penampilannya saat ini. Memang jika dilihat sekilas, penampilannya terlihat sama seperti murid kebanyakan. Tapi jika diperhatikan, akan terlihat bahwa Ki Bum hanya memakai jas seragam sekolah beserta celana. Tidak ada kemeja serta dasi di balik jas itu. Hanya kaos putih polos.

Setelah cukup lama dirinya berdiri menunggu, akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Dan keluarlah sosok seorang gadis dari dalam. Ki Bum segera memperhatikan penampilan gadis itu. Tak lama kemudian dia mendengus sebelum akhirnya terkekeh geli.

Soo Rin, gadis itu mengerucut kecut mendapatkan reaksi dari lelaki itu. Dia sudah menduga bahwa lelaki itu akan menertawakannya. Saat ini dirinya sudah mengenakan kemeja lelaki itu sebagai ganti dari seragamnya yang basah. Meski tubuhnya tidak semungil gadis-gadis kebanyakan, tetap saja kemeja Ki Bum tampak kebesaran di tubuhnya. Pasti dia terlihat konyol hingga membuat lelaki di depannya itu tertawa.

“Terus saja menertawakanku,” gerutu Soo Rin sebal.

Ki Bum akhirnya menghentikan tawanya, meski dirinya tidak dapat meredakan senyum lebarnya melihat penampilan gadis ini. Begitu menegakkan tubuhnya, Ki Bum segera menghadap Soo Rin, sedikit memiringkan kepala demi meneliti penampilan gadis ini. Kemudian kedua tangannya terangkat begitu melihat ada yang tidak sesuai. Membenarkan dasi yang terpasang miring di leher Soo Rin. Kemudian beralih merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan mengingat dirinya tidak sempat untuk menyisir rambutnya yang basah. Jelas saja membuat Soo Rin kembali gugup akibat perlakuan yang begitu perhatian dari Ki Bum. Ditambah tubuh tinggi dan tegap lelaki ini begitu dekat dan tampak seolah menguasai sehingga ia tak mampu bergerak. Bahkan perlakuannya ini, juga kedekatan mereka ini, berhasil menarik perhatian murid-murid di sekitar. Apalagi para murid kelas 3 yang tengah berlalu-lalang tampak begitu terkejut melihat pemandangan itu.

Kim Ki Bum bersama Park Soo Rin lagi!

“Apakah tidak masalah bagimu hanya berpenampilan seperti itu?” Soo Rin mulai merasa tidak enak membiarkan Ki Bum hanya sekedar memakai jas tanpa kemeja di dalamnya. Jika memakai seragam kemeja tanpa jas, tidak akan masalah. Tapi jika sebaliknya, itu bisa mendapat teguran dari guru. Apalagi jas itu sudah sempat digunakan untuk menyelimutinya yang basah kuyup sebelumnya.

“Akan menjadi masalah jika kau tetap memakai seragammu yang sudah basah itu,” jawab Ki Bum dengan ringannya. “Cah! Kemarikan seragammu.” Ki Bum meraih seragam Soo Rin yang basah dari genggaman pemiliknya. Lalu tangan lainnya meraih sebelah tangan Soo Rin dan menautkan jemari mereka sebelum membuka langkah.

“Mau kau apakan seragamku?” tanya Soo Rin bingung.

“Menyimpannya di dalam loker untuk sementara.” Ki Bum mengedikkan bahu.

“Kalau begitu biar aku saja yang membawanya.”

“Tidak. Biar aku saja. Dan jangan membantah.”

Soo Rin terpaksa mengerucutkan bibirnya lagi. Kenapa lelaki ini kembali menjadi diktator lagi, pikirnya keheranan. “Itu ‘kan seragamku,” gumamnya menggerutu.

Sedangkan Ki Bum hanya mengembangkan senyumnya. Senyum kepuasan. Karena setelah begitu lama waktu yang terlewat, akhirnya gadis ini sudah kembali berada di genggamannya.

****

“Aku ingin bicara denganmu.”

Soo Rin yang tengah membereskan buku-buku pelajaran terpaksa menoleh ketika sebuah suara menginterupsinya. Lalu terkejut begitu melihat Sae Hee sudah berdiri di sampingnya. Ditambah, ini ‘kan kelasnya. Apakah gadis ini tidak merasa takut masuk ke dalam kandang senior?

“Aku?” Soo Rin menunjuk diri sendiri. Mencoba memastikan.

Sae Hee mengangguk mantab. Kemudian sejenak melirik ke belakang Soo Rin di mana lelaki itu masih duduk manis di tempatnya. Tanpa ragu Sae Hee meraih lengan Soo Rin, menyuruhnya untuk segera berdiri. Dengan raut wajah bingung, Soo Rin menurut begitu saja.

“Tapi hanya empat mata. Hanya kau dan aku!” Sae Hee menekan sambil kembali melirik Ki Bum. Sedangkan lelaki itu hanya mengangkat sebelah alisnya sambil bersedekap.

Sae Hee segera menarik Soo Rin keluar dari kelas. Tak peduli dengan reaksi Soo Rin yang kebingungan, juga tatapan-tatapan aneh para penghuni kelas 3-2. Sedangkan Ki Bum mengantar kepergian dua gadis itu dengan senyum simpul.

Ya, kenapa kau membiarkan murid baru itu membawa gadismu?” Tae Yong yang terheran-heran segera menghampiri Ki Bum. “Kau tidak khawatir jika akan terjadi sesuatu padanya? Aku saja merasa was-was,” lanjutnya sedikit memberenggut.

“Tidak. Adikku sudah berubah,” balas Ki Bum kalem sambil mengedikkan bahu.

ADIK?!” Tae Yong menganga hebat.

.
.

Kedua gadis itu telah duduk berdampingan di salah satu kursi panjang di pinggir lapangan dalam sekolah. Keduanya tertunduk. Tidak ada yang langsung berbicara begitu mereka sampai di sana. Dalam waktu yang cukup lama.

“Aku ingin meminta maaf.” Sae Hee—gadis itu akhirnya membuka mulut. Yang segera mengalihkan pandangan gadis di sebelahnya—Soo Rin—itu kepadanya. Melihat reaksi itu dari sudut matanya, Sae Hee melanjutkan, “Aku sudah melakukan hal yang tidak sepatutnya kulakukan padamu. Semua itu hanya karena kekhawatiran anehku. Aku khawatir Ki Bum Oppa akan melupakanku. Melupakan bahwa Ki Bum Oppa masih memiliki aku. Adiknya.

Aku—aku menyayangi Oppa-ku. Bahkan aku sangat menyayanginya. Aku merasa, tidak ada yang bisa seperti dirinya. Dia begitu melindungiku. Dia sangat memperhatikanku. Aku selalu merasa sangat disayangi olehnya. Karena itu, sampai sekarang aku tidak pernah memiliki kekasih. Bahkan mungkin aku tidak pernah memikirkannya. Karena dari semua lelaki yang pernah dekat denganku, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa seperti dirinya.

Dan sekarang, kau mendapatkan Oppa-ku. Aku takut… takut bahwa Oppa-ku akan berubah. Ditambah kami sempat berpisah karena dia harus melanjutkan pendidikannya di sini lebih dahulu. Aku takut tidak akan merasakan kasih sayangnya lagi. Karena, dialah satu-satunya saudara kandungku. Dan dialah satu-satunya kakak kandungku. Oleh sebab itu, selama ini, aku berusaha untuk menarik perhatiannya lagi. Mungkin di matamu… bahkan di mata yang lainnya, aku terlihat begitu memonopolinya. Tapi, aku memang takut akan kehilangan itu.”

Soo Rin menatap sendu gadis yang masih tertunduk. Dapat dilihat bahwa kedua tangan itu mengepal erat meremas rok di pangkuannya. Soo Rin memang tidak memiliki saudara kandung. Dia merupakan anak satu-satunya. Tapi setidaknya dia masih memiliki saudara sepupu. Mungkin itu tidak seberapa, tapi sepertinya itu cukup untuk mengerti perasaan Sae Hee. Atau, ibaratkan dia begitu menghargai kasih sayang kedua orang tuanya, mungkin seperti itulah perasaan Sae Hee sekarang. Perasaan takut tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang sama.

“Aku mungkin mendapatkannya. Mendapatkan Oppa-mu. Tapi, kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya tidak akan berubah sekalipun dia sudah mendapatkan tambatan hatinya. Mungkin, dia… menyayangiku, tapi aku yakin dia tidak akan pernah mengesampingkan dirimu yang berstatus sebagai adiknya. Kau masih menjadi prioritas teratas baginya, dibandingkan diriku,” tutur Soo Rin. Senyum teduhnya mengembang begitu gadis itu membalas tatapannya. “Kau beruntung, Sae Hee-sshi. Kau sangat beruntung karena memiliki Oppa seperti dirinya.”

Sae Hee ikut mengembangkan senyumnya. Meski tipis, tapi cukup membuat kadar kecantikannya bertambah. Meski tatapan itu masih terlihat redup. Kini tatapannya beralih menerawang pada lapangan dalam sekolah yang terpampang di depan.

“Ya… aku memang beruntung. Tapi tidak seberuntung dirimu,” gumamnya yang sukses membuat Soo Rin mengernyit. Kemudian ia melanjutkan, “Aku mungkin bisa selalu bersamanya. Bersama dalam arti, sebagai adiknya. Hanya itu. Sedangkan dirimu? Mungkin untuk saat ini aku masih menjadi prioritas tertinggi baginya. Tapi, semua itu akan berubah jika kalian… sudah berada di dalam ikatan yang lebih serius lagi.”

Sae Hee melirik Soo Rin yang tampak mengerjap tak paham. Batinnya berdecak, gadis di hadapannya ini benar-benar tidak tampak seperti seorang senior. Bagaimana bisa dirinya lebih mengerti dibandingkan gadis ini? Membalas tatapan tak paham dari Soo Rin, ia melanjutkan, “Ya, ikatan yang lebih serius lagi. Per-ni-ka-han.” Sae Hee tampak mengeja. Sepertinya memang harus dijelaskan secara terang-terangan jika untuk gadis ini, pikirnya.

Seketika Soo Rin salah tingkah. Semburat kemerahan mulai menghiasi kedua pipinya. Kedua tangannya mengibas-kibas tak karuan. “Y-yaa, itu—itu masih sangat jauh untukku… untuk Kim Ki Bum juga! Tidak ada yang tahu seperti apa nanti!” Soo Rin tampak tergagap.

Untuk pertama kalinya, di depan Soo Rin, Sae Hee terkekeh. Melihat reaksi Soo Rin yang seperti itu begitu menggelitik baginya. Ditambah wajah cantik senior itu sudah memerah hanya karena mendengar kata Pernikahan? Menggemaskan sekali, pikirnya.

Aah, mungkin ini yang membuat Ki Bum Oppa jatuh hati padanya, batinnya menyimpulkan.

“Perlu kau ketahui, jika aku bukanlah adiknya, mungkin sudah dari dulu aku mengajaknya menikah denganku.” Sae Hee terkekeh dengan pandangan kembali menerawang. “Kau sangat beruntung bisa mendapatkan Oppa-ku. Aku mengakui itu. Kau sangat beruntung, Soo Rin Sunbae…”

Soo Rin berdesir mendengarnya. Sekaligus merasa hangat karena gadis itu menyebut namanya terdengar begitu tulus. Tanpa komando, Soo Rin mengulas senyum manisnya. Ditambah dengan semburat kemerahan yang masih menghiasi wajahnya, kadar kecantikannya menjadi begitu tampak. Gadis ini benar-benar cantik jika tersenyum manis dengan kedua pipi yang merona.

“Boleh aku meminta sesuatu padamu?”

Soo Rin kembali menatap Sae Hee yang ternyata sudah beralih menatapnya pula. Setelah ada jeda sejenak, Soo Rin akhirnya mengangguk. “Um… apa saja. Asalkan jangan memintaku untuk berpisah lagi dari Oppa-mu.”

Sae Hee tergelak mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Soo Rin. “Eii, ternyata Sunbae cukup agresif, ternyata.” Sae Hee tampak mulai menggoda. Sedangkan yang digoda terpaksa kembali salah tingkah.

Bodoh sekali diriku. Kenapa aku berkata seperti itu? batin Soo Rin menggerutu. Dia begitu malu saat ini. Untung saja yang mendengar adalah Sae Hee. Bagaimana jika Kim Ki Bum sendiri yang mendengar? Mau disembunyikan di mana wajahnya?

“Tidak. Aku tidak akan pernah memintamu untuk berpisah dari Ki Bum Oppa. Sekalipun Sunbae sendiri yang ingin berpisah dengannya, dengan cara apapun aku akan membuatmu kembali padanya.”

“Huh?” Soo Rin tertegun mendengarnya. Kenapa Sae Hee bicara seperti itu?

“Sebelum aku sampai di sini, sebenarnya aku sudah mendengar kabar bahwa Ki Bum Oppa sudah memiliki kekasih dan itu adalah Sunbae. Hanya saja begitu aku mengetahui sosok Sunbae, aku merasa kekhawatiran yang begitu besar hingga akhirnya aku melakukan hal yang berlebihan seperti itu. Aku merasa iri. Karena Sunbae terlihat sangat cantik.” Sae Hee terlihat salah tingkah begitu mengucapkan kalimat terakhir. “Aah, bagaimana bisa aku merasa iri dengan kekasih Oppa-ku sendiri?” gerutunya kemudian.

Aniyo. Sae Hee-sshi terlihat lebih cantik dariku. Bagaimana mungkin Sae Hee-sshi tidak terlihat cantik sedangkan Oppa-mu terlihat—” Soo Rin menggantungkan kalimatnya. Menyadari bahwa dirinya hampir mengucapkan kata yang jelas-jelas akan membuatnya serasa jungkir-balik.

Tapi Sae Hee yang menyadari bahwa Soo Rin menggantungkan ucapannya mulai tersenyum simpul, kembali menggoda Soo Rin. “Oppa-ku terlihat apa?”

Lagi-lagi Soo Rin harus merutuki mulutnya yang berbicara tak terkendali. Tapi mendapatkan godaan dari Sae Hee yang ternyata tidak berhenti begitu saja, membuat Soo Rin akhirnya mengucapkannya. Meski harus dengan susah payah.

Oppa-mu terlihat… tampan…”

Dan Sae Hee harus tergelak lagi melihat wajah Soo Rin kembali merona. Bahkan lebih merona dibandingkan sebelumnya. Apakah efek dari kata sederhana itu begitu besar hingga berhasil membuat gadis ini seperti baru saja kepergok mencuri? Sae Hee benar-benar tidak menyangka bahwa gadis yang seharusnya dia anggap senior, tidak terlihat seperti senior. Bukankah senior akan memperlihatkan keseniorannya kepada juniornya. Tapi hal itu benar-benar tidak terlihat di diri Soo Rin. Justru gadis itu terlihat seperti gadis yang sebaya dengannya.

Sepertinya memang sisi inilah yang membuat Ki Bum Oppa begitu tertarik padanya, batin Sae Hee bergumam lagi.

“Tapi… setelah aku perhatikan seperti apa diri Sunbae, aku sadar. Sunbae memang pantas bersama Oppa-ku. Sunbae memang pantas berada di sisi Ki Bum Oppa. Aku juga menyadari bahwa selama ini aku egois. Egois karena tidak rela membiarkan Ki Bum Oppa bersama gadis lain. Apalagi gadis secantik Sunbae. Dan, aku ingin menebus keegoisanku mulai sekarang hingga nanti. Jadi, maukah Sunbae mengabulkan permintaanku?”

“Apa?”

Ada jeda sejenak lagi. Melihat Soo Rin yang masih tampak merona membuat Sae Hee semakin mengembangkan senyumnya. Ternyata gadis milik Oppa-nya ini begitu mempengaruhinya. Dan ia semakin yakin bahwa gadis ini memang pantas untuk Oppa-nya.

“Aku ingin memanggilmu Eonni. Mulai dari sekarang. Sampai nanti.”

****

Ki Bum baru saja turun ke lantai dasar. Tak perlu waktu yang lama, dia berhasil menemukan kedua gadis itu tengah duduk berdampingan di salah satu bangku panjang di pinggir lapangan dalam sekolah. Kedua tangannya bersedekap. Meski hanya menampakkan senyum tipis, kedua matanya tampak tersenyum lebar melihat pemandangan itu. Kedua gadis itu tampak memancarkan wajah cerahnya. Bercengkerama. Bahkan adiknya itu selalu menampakkan senyum lebar hingga tawanya.

Sepertinya Sae Hee sudah menerima keberadaan Soo Rin, pikir Ki Bum. Dia merasa lega. Apalagi melihat gadisnya itu sudah menampakkan senyum tanpa beban terhadap adiknya, telah membuatnya merasa ringan pula sekarang.

“Apa kalian sedang mengabaikan waktu makan kalian?” sapa Ki Bum begitu dirinya berhasil sampai di dekat mereka. Sontak saja membuat mereka beralih menoleh kepadanya.

Oppa!” Sae Hee menyambut dengan sumringah.

“Waktu istirahat tinggal dua puluh menit lagi. Ditambah ini sudah masuk waktu makan siang.” Ki Bum berdecak. “Ya, Saeddong, jangan sampai penyakit maag-mu kambuh hanya karena mengabaikan hal sepele seperti ini. Cepat makan!” lanjutnya memerintah.

Arasseo (Aku mengerti).” Sae Hee mengerucutkan bibirnya. Kemudian beralih menatap Soo Rin kembali. “Apakah Eonni pernah diperlakukan seperti ini juga? Jika iya, Eonni pasti pernah berpikir bahwa Ki Bum Oppa begitu protektif. Seperti itulah dia,” gerutunya.

“Tidak. Justru aku menganggap bahwa Oppa-mu itu terlihat seperti diktator.” Soo Rin menjawab dengan senyum lebarnya.

“Aku masih bisa mendengarnya, Park Soo Rin.” Ki Bum memicing. Dan semakin memicing begitu gadis itu membalas dengan memajukan bibir bawahnya. Jadi seperti itu jika gadisnya sedang mengejek tanpa kata, pikirnya.

“Baiklah. Aku harus segera ke kantin. Sampai nanti, Eonni!” Sae Hee bangkit dari duduknya sambil melambaikan tangan pada Soo Rin. Begitu menghadap Ki Bum, Sae Hee segera berhambur memeluk Ki Bum. “Sampai nanti, Oppa!”

Chup

Dan Sae Hee mengecup sebelah pipi Ki Bum. Langsung saja membuat Ki Bum terpana. Apalagi Soo Rin. Dia terkejut melihat pemandangan dadakan itu.

Sae Hee menoleh pada Soo Rin, melihat ekspresi gadis itu membuat cengirannya mengembang. Yang semakin memastikan bahwa gadis milik kakaknya ini begitu menggemaskan. Merasa misinya berhasil, Sae Hee melenggang dengan anggun dan sumringah meninggalkan pasangan itu.

Soo Rin pun ikut bangkit. Tanpa berkata apapun, dia beranjak pergi begitu saja. Yang justru membuat Ki Bum mengembangkan senyum penuh artinya melihat tingkah laku gadisnya itu. Ia pun mengekori ke mana gadis itu melangkah.

“Masih cemburu terhadap adikku?”

“Siapa?”

“Siapa lagi memangnya jika bukan kau?”

“Aku? Tidak.”

Ki Bum semakin mengembangkan senyumnya. Mempercepat langkah, dengan tiba-tiba Ki Bum merangkul Soo Rin yang seketika merapatkan tubuh mereka. Sontak saja membuat Soo Rin terkejut dengan perlakuannya itu. Dan berhasil membuat gadis itu gugup.

Y-ya! Ini di tempat umum!”

“Memangnya kenapa?”

“Kau bertanya kenapa? Kau tidak lihat mereka mulai memandang kita?!”

“Memang seperti itu tujuanku. Aku ingin membuktikan pada mereka yang suka bergosip ria bahwa kau masih berstatus sebagai gadisku.”

Soo Rin harus kembali merona mendengar kata kepemilikan itu terlontar dari mulut Ki Bum. Rasanya baru kali ini dirinya mendengar kata itu secara langsung. Padahal sebelumnya Ki Bum sudah pernah melontarkannya ketika insiden penyiraman air dingin sekaligus melontarkannya di hadapan Jong Dae. Tapi, sepertinya Soo Rin tidak menyimak mengingat dirinya menjadi korban kejadian itu.

Sedangkan Ki Bum yang melihat reaksi itu terpaksa menekan gejolaknya yang tiba-tiba menyeruak. Reaksi itu benar-benar membuatnya gemas. Entah Soo Rin menyadarinya atau tidak, kini Ki Bum menuntunnya menuju kantin.

“Katakan bahwa kau masih cemburu terhadap adikku.”

“Tidak!”

“Tidak mau?”

“Bukan! Aku tidak cemburu!”

“Jangan mengelak. Aku tahu kau cemburu karena Sae Hee telah menciumku tadi.”

“Sudah kubilang aku tidak cemburu!!” Soo Rin mulai jengkel. Dilepasnya rangkulan Ki Bum secara paksa. Lalu melangkah lebih cepat begitu terbebas dari kurungan paksa lelaki itu. Wajahnya yang sudah merona ia tundukkan. Tidak mungkin membiarkan siapapun melihatnya yang sedang seperti sekarang. Dan tidak mungkin pula membiarkan dirinya berkata jujur. Mau disembunyikan di mana wajahnya nanti? Di pundak lelaki itu lagi? Lucu sekali.

“Dan lagi, panggilan apa itu tadi? Saeddong?” Apakah itu merupakan panggilan sayang? Soo Rin melanjutkan kalimat itu di dalam hati.

“Itu panggilan sayang dariku untuk Sae Hee.” Tiba-tiba saja Ki Bum sudah berada di sampingnya. “Kau ingin panggilan sayang dariku untukmu juga?” goda Ki Bum.

“Tidak!!” Soo Rin semakin merona. Astaga, bagaimana bisa lelaki ini mendengar gerutuannya yang terdengar memalukan itu? Soo Rin semakin mempercepat langkahnya. Bahkan dia sudah masuk dalam taraf berlari kecil. Dia ingin menghindari Kim Ki Bum saat ini. Menghindari karena sedang merasa malu!

Tiba-tiba sebelah tangannya terasa digenggam. Yang sontak menghentikan langkah cepatnya. Bahkan dia merasakan tangan yang digenggam juga ditarik hingga memaksakan tubuhnya untuk berbalik. Rasanya tidak ada dalam sedetik, Soo Rin sudah berada di dekapan lelaki ini. Tangan lain milik lelaki ini sudah berhasil melingkar di pinggangnya. Sedangkan Soo Rin harus mengerjap beberapa kali demi mencerna apa yang sudah terjadi padanya. Barulah dia merasakan jantungnya sudah berdetak tak karuan.

Meski dirinya sudah membawa gadis ini menyingkir dari koridor yang ramai, tak dapat dipungkiri bahwa masih ada yang melihat perlakuannya ini. Karena itu, Ki Bum sengaja membuat gadis ini membelakangi pandangan-pandangan itu dan membiarkan hanya dirinya yang tahu. Jika tidak, sudah dipastikan gadis di pelukannya ini akan semakin malu hingga terpaksa semakin menampakkan semburat kemerahan yang sangat menguji pertahanan gejolaknya untuk tidak menerkam. Ini saja dia sudah kewalahan melihat wajah cantik itu kembali merona. Kim Ki Bum, tahan dirimu!

Ki Bum mulai menampakkan seringainya melihat gadis yang sudah berada di pelukannya kini tampak semakin gugup. Sebelah tangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan gadis ini mulai turun, hingga jari-jari mereka bertautan. Menatap lekat gadis yang sudah membisu sejak perlakuan tiba-tibanya ini.

“Sepertinya, Chagi terdengar bagus untuk kujadikan sebagai panggilan sayang untukmu.” Ki Bum menggumam kalem.

M-mwo?!” Soo Rin terhenyak mendengar sebutan itu. Jujur saja, dirinya belum pernah mendapatkan panggilan seperti itu dari siapapun. Saat masih berhubungan dengan Kai, Soo Rin tidak pernah mendapatkan panggilan itu. Bahkan orang tuanya sekalipun tidak pernah memanggilnya seperti itu. Dan, kenapa dirinya berdesir begitu mendengar panggilan itu?

“Dan sepertinya, Oppa terdengar bagus untuk dijadikan sebagai panggilan sayang untukku. Darimu.” Ki Bum mengembangkan seringaiannya.

“Ti-tidak mau!!” Soo Rin melotot sebal.

“Apa kau tidak ingat bahwa itu merupakan permintaanku di hari ulang tahunku saat itu?”

“I-itu ‘kan hanya berlaku di hari ulang tahun!”

“Siapa bilang?”

“Pokoknya tidak mau!” Soo Rin bebal.

Chagi-yaa.” Ki Bum benar-benar menggoda gadisnya ini. Langsung saja membuat Soo Rin bungkam. Detak jantungnya semakin berpacu begitu Ki Bum memanggilnya seperti itu. Kim Ki Bum benar-benar memanggilnya dengan sebutan itu!

Hampir saja dirinya lupa bahwa waktu istirahat terus berjalan. Dan lagi, gadisnya ini belum makan! Dengan sedikit tidak rela, Ki Bum akhirnya melepas pelukannya. Tapi tidak dengan tautan tangan mereka.

“Kau harus makan bersamaku, Chagi.” Ki Bum kembali menggoda Soo Rin sambil membuka langkah. Menarik lembut gadis ini, beranjak menuju kantin.

“Hentikan…” Soo Rin menggerutu susah payah. Dia benar-benar kewalahan mendengar lelaki ini menyebut kata sayang itu. “Kau terlihat aneh jika seperti itu,” lanjutnya.

“Asal kau tahu, aku bisa berubah menjadi seperti Tae Min maupun Jong Woon Hyung jika kau mau.”

“Apa?” Soo Rin tertegun hingga mau tidak mau menatap lelaki yang tengah menggandengnya ini.

Dan Ki Bum benar-benar membuktikannya. Dengan memanfaatkan Soo Rin yang tengah menatapnya, Ki Bum mengedipkan sebelah mata seraya tersenyum. Senyum yang bisa dikatakan dengan sebuah seringaian tapi cukup… mematikan! Langsung saja membuat Soo Rin berjengit hingga melotot saking terperangahnya, merasakan sebuah ledakan di benaknya yang serta merta menggetarkan sekujur tubuhnya.

Astaga, Kim Ki Bum benar-benar berbahaya!

.

.

.

-END


ddehet!! /gaya Hyungshik gatot/?

akhrinya cerita absurd dari couple absurd ini selesaaaaaaii~ #tumpengan(?) Anehkah? Makin ngga jelaskah? Pasti, iya! Ditambah part ini lebih panjang dibandingkan sebelumnya. Hahahahah maaf ya, pasti membosankan ;/\; Dan, ada yang merasa tertipu seperti Soorin kah? #krikrik ngga ada ya? Padahal aku ketipu loh (??) #hening T.T Ah! Mungkin ada yang bingung sama dialog Kibum yang menyinggung soal ulang tahunnya? Kalo ngga ada, gapapa, tetep bakal kukasih tau kok._. Well, seperti yang udah kubilang sebelumnya kalo aku lompatin cerita project buat si Jenius itu. Jadi, yah.. tunggu penjelasannya nanti aja yaa #apasih ><

Yosh! Terima kasih udah mau ngikutin cerita ngambang ala saya ini. Mohon maaf ya kalo mengecewakan dan ngegantung (gantung darimana? abstrak iya.__.) hehet! Terima kasih juga buat yang udah bersedia berkomentar~ Jujur, ada 1 komentar aja udah bikin aku kesenengan T.T tapi bukan berarti aku ga menghargai yang ga komen.. Setidaknya, udah mampir+baca itu cukup bikin aku semangat. Jadi terima kasih banyak untuk semua pembaca yang udah mampir~ -^^-

Cah! Sampai bertemu di kisah kisukisuberikutnya~~ dan sampai bertemu di cerita absurd yang lainnya~~ xD

끝!!!! #bow

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

22 thoughts on “Keep In Touch – Part 4 (Last)

  1. ooooooo jinjja! ternyata sae hee adeknya kibum >< penasarannnn..
    oya, thenkyu jga udah di tag-in di Fb thor ^^
    cerita selanjutnya di tgguuuuu ^^/

  2. thorr..komenannya tpotong kah? itu penasaran sama ceritanya pas kibum dikasih gelang sama soorin trus pas ultahnya kibum ><

  3. oyeah! akhirnya mereka kembali… uu~ kibum romantis bgt, apalagi waktu di ruang kesehatan itu aaaa~ mau dong/? XD

    eh, ternyata sae hee sodara kandung sm kibum? aku udah ngira sih kalau mereka ada hub. keluarga tp aku kira mereka sepupuan taunya sodara kandung kkk..
    ahya apa kbr jong dae? kasian dia..dia sama sae hee aja, cocok hihihi

    okdeh thor,, dtunggu cerita mereka selanjutnya…. semangat!!!!!

  4. Huaaa.. Ini ff emang ‘Daebak’ (っˆヮˆ)っ ga kuat liat kemesraan 😆 adududuh…. Gemas 😻 pengen tak cubit (๑ˇ3ˇ๑)
    Pokoknya part ini T.O.P (bigbang) *loh BGT
    Yang lainnya juga bigbang ko 😄

    Ga nyangka kalau sae hee adiknya… Babonya saya ga nyadar marganya sama 😒 *hue..hue hiks hiks (merasa bersalah ngejelek”in sae hee) lagi kibum juga ngapa ga bilang kesaya 😐 /ya wong mba juga ga nanya/ oh iyeh keh 😓

    Ditunggu kelanjutan kisah kisah dari kisukisu couple ini lagi ! Hugfull for you thor 😄
    Mian baru bisa komen, jaringan lagi bermasalah 😫

    1. hwaaaaa makasih banyak~~ xD hahahah duh bias saya yg itu knapa dibawa-bawa? //bias?!//
      kudu minta maaf loh sama Saehee hahahah #plak
      gapapa yang penting makasih banyak loh udah mau baca~~ #hugback ><

  5. Iyah sama sama .. Tkhs juga udah ditag-in.. 😉
    Wah wah hati siska bercabang 3.. /sabar yah ahjusshi😰/ *unyukelus”dada xp
    ‘Mianhae saehee-yaa’ *berpelukan
    Iyah thor.. Aku seneng ko bisa baca ff buatan istrinya k…unyuk xD ✌

    1. sama-sama juga~
      bercabang 4 malah (Ahjusshi, Kibum, Luhan, TOP) /digampar/? tapi ga yakin sih.. jarang banget ngestan TOP ╮(╯_╰)╭ muahahahah
      ga usah malu-malu.. KUNYUK. Iya, Kunyuk /ditendang Hyukjae/ -_- hahahah jangan bilang istri ah T,T heu..

  6. akhirnya happy ending jga:-)
    ceritanya bagus,ringan,bhsa yg di pke jga bagus
    aku suka pkknya^^
    karakter kibum dsni kyknya menggambarkan karekter aslinya
    hehehe
    akhh….jdi kangen kibum,i miss you oppa:-)♡

    1. wah, terima kasih udah mau mampir~ heheh
      ah, jujur aja aku masih belum begitu mengenal karakter Kibum sendiri gimana.. tapi, syukurlah kalo sesuai dengan aslinya hahahah berarti sifat nakalnya juga begitu ya? #plak xD
      sama kalo gitu~ kangen juga :^) hehet

  7. gg kebayang,malunya minta ampunn.., mau dibuang kemana kek tu muka ttep ajja. Astagaahh, masuk kolong!! Cemburu ama adik sendiri…heeiissh. 😉

  8. Arghhhh author kau memang keren…aku iri sama Soo rin aku jg klepek2 sama sikap Kibum oppa…

    Aku sampe senyum2 sendiri bacanya…

  9. Omgg saehee adenya ohh iyaa marganya kim wakakaaa kirain siapanyaa hadeh bikin org kesel jadinyaa wkss~~ si saehee sm jongdae itu aja wkkka 😆😆

  10. Oh ternyata Sae Hee adik Kibum dan Sae Hee kena Sister Complex apa Brother Compley ya :v , yaampun kenapa Kibum suka banget cium Soo Rin diSekolah gimana kalo kepergok guru 😀 , Soo Rin manis banget pipinya merona terus ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s