Posted in Chaptered, KiSoo FF "Keep In Touch", PG, PG-15, Romance, School Life

Keep In Touch – Part 3

Genre: School Life, (Absurd) Romance
Rated: PG-15 (rating mandeg dulu #ngek)
Length: Mini Chaptered
Kim Ki Bum || Park Soo Rin
Sae Hee || Jong DaeKITcover

This story comes from my absurd imagination~ hehet! Casts are belongs to God, also the story but comes to my head (?) //what am I talking about?-_-// Okay! Let’s have a good time, together! 기대해도 좋아 let’s go!! Enjoy~^^

 swing~~

ㅡㅡ

Jong Dae baru saja menyelesaikan kegiatan memilah berbagai buku yang berderet rapih di hadapannya. Saat ini dirinya tengah berada di Perpustakaan. Mencari beberapa referensi untuk tugas kelasnya. Jong Dae segera menuju ke area membaca begitu merasa sudah cukup. Ada empat buku tebal bertumpuk di tangannya. Begitu sampai di tempat yang kosong, Jong Dae segera meletakkan buku-buku tebal itu ke atas meja. Lalu mulai memilih, mana dulu yang ingin dia baca.

Belum lama Jong Dae mulai fokus terhadap kegiatan membacanya, keseriusannya terpaksa terusik akibat suara berkasak-kusuk yang saling menyahut tak jauh di sebelahnya. Mulai mengernyit tak suka, batin Jong Dae mulai menggerutu. Ini ‘kan di Perpustakaan. Tidak bisakah mereka keluar saja dan berkasak-kusuk di tempat lain? Dasar perempuan.

“Jadi dia yang bernama Kim Ki Bum Sunbae? Murid yang selalu mendapat peringkat satu itu?”

“Benar. Dia tampan, ‘kan?”

“Sangat! Aah, sepertinya aku akan mengidolakannya juga.”

“Tapi, dia ‘kan sudah punya kekasih.”

Jinjja? Siapa? Siapa gadis yang beruntung itu?”

“Dia siswi yang berada satu kelas dengan Kim Ki Bum Sunbae ‘kan? Kalau tidak salah namanya—ah! Park Soo Rin Sunbae!”

Jong Dae terhenyak dalam diamnya. Tak disangka bahwa sedari tadi telinganya juga ikut mendengarkan kerumunan kecil di sebelahnya saling bergosip ria. Dan dia tertegun begitu nama Park Soo Rin disebut. Bayangannya segera menampilkan sosok gadis pemilik nama itu. Siapa lagi siswi di sekolah ini yang memiliki nama itu selain gadis senior yang selalu ditemuinya? Rasanya tidak mungkin nama yang terdengar begitu berkesan di telinganya dimiliki oleh banyak gadis. Ditambah, Jong Dae tahu bahwa orang yang menjadi topik pembicaraan kerumunan kecil itu adalah siswa tingkat akhir di sekolah ini. Dia selalu mendengar nama itu menjadi bahan pembicaraan para siswi dari kalangan manapun. Siapa yang tidak mengenal Si Jenius Peringkat Satu itu? Bahkan namanya langsung menyebar luas di kalangan para murid tingkat pertama seperti sekarang ini.

Dan Jong Dae pernah dengar bahwa penyandang nama itu merupakan siswa kelas 3-2, kelas di mana Park Soo Rin juga berada!

Jong Dae mulai melirik kerumunan kecil itu. Tampak mereka yang sesekali melemparkan pandangan ke arah sudut ruangan di seberangnya. Jong Dae segera mengikuti arah pandangan mereka, hingga akhirnya dia mendapatkan objek yang sudah dipastikan menjadi pembicaraan hangat para siswi itu. Sosok yang tengah duduk seorang diri seolah tengah mengasingkan diri. Dengan ditemani beberapa buku yang tengah ditekuninya. Tampak begitu serius hingga terkesan bahwa sosok itu begitu acuh dengan sekelilingnya. Jong Dae tercenung.

Jadi lelaki itu… yang merupakan kekasih dari Park Soo Rin? Dia memang mengakui bahwa lelaki yang tengah duduk menyendiri di sana terlihat begitu tampan dan berkharisma. Hanya saja terpadukan dengan aura yang begitu dingin hingga membuat siapa saja yang ingin mendekatinya harus berpikir dua kali. Tapi, tak disangka sosok sedingin dirinya sudah memiliki kekasih. Dan orang yang menjadi kekasih lelaki itu adalah… Park Soo Rin. Senior yang dia sukai?!

Jong Dae memang harus berpikir dua kali. Kali pertama berpikir, dia merasa tidak mungkin bisa melakukannya. Tapi begitu dirinya ingin kembali fokus menekuni buku-buku yang sudah dipinjaminya, bayangan gadis senior itu beserta lontaran kalimat dari kerumunan itu benar-benar mengganggunya. Dan Jong Dae akhirnya berpikir untuk yang kedua kalinya. Sepertinya, dia harus melakukannya, pikirnya sebelum kembali menutup buku yang belum ada tiga halaman dibacanya. Menumpuknya, lalu membawanya lagi ke dalam dekapan, sebelum akhirnya dia bangkit dari duduknya. Berpindah tempat. Ke hadapan Kim Ki Bum!

Ki Bum—mungkin tampak luar, dia terlihat begitu menghayati buku-buku yang bertebaran di hadapannya kini. Dan memang pada dasarnya, kharisma lelaki itu tidak pernah hilang meski sebenarnya dia sedang tidak bekonsentrasi dengan bacaan-bacaanya. Yang justru membuat siapa saja semakin tertarik untuk memperhatikannya yang terlihat begitu acuh dari luar. Tapi tidak di dalamnya. Seperti sekarang ini. Siapa yang mengira bahwa sebenarnya Si Jenius Peringkat Satu ini tengah berkeliaran di dunia lain dengan pikirannya, saat ini?

Entah sudah berapa lama—mungkin sudah mendekati satu bulan lamanya, Ki Bum benar-benar tidak mendekati Soo Rin. Lebih tepatnya, dia tidak mampu mendekati gadis itu. Dia tahu pasti bahwa gadis itu benar-benar menghindarinya. Dia mencoba untuk membiarkan. Tapi semakin lama, dia merasa semakin jauh dari gadis itu. Seolah tangannya sudah tak mampu meraih lengan gadis itu dan menariknya untuk mendekat. Ditambah, kedatangan Sae Hee yang semakin memperbesar jarak di antara mereka begitu tampak. Tak dipungkiri bahwa dirinya juga selalu mendengar bahwa murid-murid seangkatannya tengah membicarakannya. Menanyakan kabar hubungannya dengan Soo Rin. Bukan Ki Bum namanya jika harus meladeni mereka yang terlalu ingin tahu urusan pribadinya.

Dia tidak bisa manyalahkan Sae Hee. Tidak mungkin. Gadis itu terlalu dekat dengannya. Sudah terlalu dekat. Dan tidak mungkin Ki Bum menyuruhnya menjauh secara tiba-tiba, begitu saja. Terkesan tidak berperasaan baginya.

Tapi, kenapa begitu sulit untuk mendekati Soo Rin? Padahal gadis itu selalu berada di depannya. Duduk memunggunginya. Kenapa sekedar menyentuhnya saja tidak bisa? Apa yang sudah dilakukan oleh gadis itu sehingga dirinya tidak mampu menjangkaunya barang sedikit pun? Padahal, dia ingin mengutarakan apa yang sudah dipendamnya sejak kedatangan Sae Hee. Sejak Soo Rin—gadisnya itu merasa tersinggung hingga harus melontarkan segala kalimat yang begitu menyelekit di telinga hingga benaknya. Ya, tentu saja, Soo Rin masih berstatus sebagai gadisnya. Hingga sekarang.

Ki Bum mulai terusik begitu sudut matanya menangkap seseorang tengah mendudukkan diri di hadapannya. Mau tidak mau dia mendengakkan kepalanya demi melihat sejenak siapa yang sudah mengusiknya. Hanya sejenak. Tapi tak disangka bahwa Ki Bum harus memaku pandangannya pada sosok yang sudah dengan berani mendekatinya. Tak dipungkiri juga, dia cukup terpana dengan kedatangan orang ini. Tapi wajah datarnya sudah mampu menyembunyikan keterpanaannya. Sehingga hanya terlihat sebuah reaksi tak penting alias datar pula yang ada di wajahnya.

Melihat gelagat orang ini, sepertinya Ki Bum dapat menangkap bahwa orang ini tidak berniat ingin sekedar membaca buku-buku tebal yang dibawanya di sini. Dan dugaan Ki Bum benar begitu orang di hadapannya ini tidak segera menyelami buku-buku tebalnya, melainkan justru semakin menatap lekat dirinya dengan seulas senyum tersungging di bibirnya yang sedikit tipis dan bergelombang di bagian atasnya itu.

Ki Bum mencoba untuk tidak menghiraukan sapaan tidak langsung itu. Berusaha untuk kembali mengumpulkan konsentrasinya yang memang sudah buyar sejak awal dirinya datang kemari. Mencoba untuk menekuni buku-buku yang bahkan dengan asal dia ambil. Sebenarnya, dia sedang menghindari Sae Hee saat ini. Mengingat gadis itu selalu menempel kepadanya seolah tidak ingin dipisahkan dengan cara apapun. Apakah tinggal di luar negeri beberapa tahun lamanya telah membuat gadis itu berubah menjadi manja? pikirnya heran.

“Kim Ki Bum Sunbae-nim.”

Ki Bum harus tercenung sesaat sebelum dirinya kembali mendengak menatap orang yang sudah memanggilnya ini. Dengan tatapan datar sekaligus dinginnya, ternyata tidak mempengaruhi orang ini untuk menciut. Justru orang ini berbalik menatapnya. Seolah Ki Bum membalas dengan tatapan datarnya, Jong Dae, lelaki itu melanjutkan sapaannya.

Kim Jong Dae imnida.” Jong Dae memperkenalkan diri. “Ini adalah kali pertama aku melihat Sunbae-nim. Murid yang selalu menjadi topik pembicaraan di angkatan kami.”

Geuraeseo (Lalu)?” Ki Bum menyambar. Ingin segera ke inti. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh junior ini. Tapi yang pasti, Ki Bum sudah merasa tidak enak dengan kedatangan Jong Dae. Mengingat bahwa lelaki muda ini yang telah menjadi bayang-bayang aneh mengenai gadisnya.

Jong Dae merasa bahwa lelaki di depannya ini tidak suka bertele-tele. Ia pun membenarkan duduknya dan menarik napas sejenak. Lalu berusaha untuk kembali tersenyum.

“Tapi aku baru mengetahui bahwa Sunbae-nim merupakan kekasih dari Park Soo Rin Sunbae. Aku mengenal Park Soo Rin Sunbae, meski tidak bisa dikatakan mengenal dekat. Tapi bolehkah aku mengatakan suatu hal?” Jong Dae menatap lekat lelaki di depannya ini. Tidak ada maksud untuk memulai suatu permusuhan. Hanya saja lelaki di depannya ini semakin menguarkan aura dinginnya. Dengan berani, Jong Dae melanjutkan—karena dia memang tidak membutuhkan jawaban mengingat lelaki di hadapannya tidak ada niatan untuk menjawab, “Aku tertarik dengan Park Soo Rin Sunbae. Aku menyukai kekasihmu, Sunbae-nim.”

Terkejut? Tidak. Ki Bum tidak terkejut. Sejak awal Ki Bum sudah tahu bahwa lelaki ini menyukai Soo Rin. Terlihat dari tingkahnya ketika berhadapan dengan Soo Rin. Tapi, mendengar langsung dari mulut Jong Dae, sudah cukup membuatnya panas. Ki Bum mulai menatap Jong Dae dengan begitu tajam. Iris di balik kacamatanya tampak menyala seolah menunjukkan ketidaksukaannya. Mungkin bahkan kemarahannya. Apakah lelaki di hadapannya ini bodoh? Kenapa berani sekali mengatakan bahwa dirinya menyukai Soo Rin? Menyukai gadisnya? Secara terang-terangan kepadanya?

“Tapi, selama ini aku tidak pernah melihat Soo Rin Sunbae sedang bersamamu. Atau sekedar melihatmu sedang berada di dekat Soo Rin Sunbae. Aku lebih sering melihat Soo Rin Sunbae berjalan sendirian bahkan melamun sendirian. Atau mungkin sesekali melihatnya berkumpul bersama teman-temannya. Hal itu membuatku bertanya-tanya, apakah Soo Rin Sunbae memang kekasih dari Sunbae-nim?”

Ki Bum merasa sedang dipojokkan saat ini. Secara halus dan tak kasat mata Jong Dae tengah menyindirnya saat ini. Dalam hati Ki Bum membenarkan segala lontaran kalimat Jong Dae. Dan lagi, kata-kata Jong Dae yang mengatakan bahwa ‘Soo Rin sering berjalan sendirian bahkan melamun sendirian’ cukup membuatnya mencelos. Bagaimana bisa dia membiarkan gadisnya seperti itu. Melamun? Itu sama saja membuat penyakit aneh gadisnya itu kembali kambuh. Tapi haruskah dia menjawab secara terang-terangan bahwa Soo Rin memang kekasihnya? Jika bisa membuat lelaki ini bungkam, kenapa tidak?

“Mungkin jika Sunbae-nim bisa memperlihatkan bahwa itu memang benar, aku akan percaya. Aku… merasa khawatir karena belakangan ini Soo Rin Sunbae selalu merenung. Dan aku khawatir jika seandainya dia tengah tertekan karena berita yang sedang beredar saat ini. Karena aku juga pernah mendengar desas-desus bahwa Sunbae-nim sedang dekat dengan gadis lain. Aku tidak ingat siapa namanya. Tapi yang pasti, bukan Park Soo Rin Sunbae.”

Jong Dae bangkit dari duduknya dengan hati-hati. Dia memang melihat ekspresi Ki Bum yang begitu dingin dan kaku. Dia tahu benar bahwa lelaki ini tidak ingin diajak bersahabat. Tapi memang dasarnya sifat Jong Dae yang begitu tidak peduli orang yang didekatinya mau menerimanya atau tidak, Jong Dae tidak memusingkan jika suatu saat lelaki di hadapannya ini akan menyerangnya.

“Aku permisi, Sunbae-nim. Terima kasih atas waktu luang yang sudah Sunbae-nim berikan padaku.” Jong Dae membungkuk sejenak sambil kembali mengembangkan senyum bocahnya. Seolah dirinya tidak pernah melakukan apapun sebelumnya. Mendekap kembali buku-buku tebalnya, lalu pergi meninggalkan Ki Bum dengan sopan.

Sedangkan Ki Bum tampak mematung di tempatnya. Mencerna segala perkataan Jong Dae tadi tidaklah sulit baginya, sangat mudah. Otak cerdasnya selalu berhasil menganalisa segala sesuatu dengan begitu mudah. Hanya saja, kini dia tengah merenunginya. Merenungi segala perkataan Jong Dae yang secara halus sedang memperingatinya. Tidak ada yang tahu bahwa dirinya tengah menggeram. Tidak ada yang tahu bahwa dirinya tengah mengeraskan rahang. Tidak ada yang tahu bahwa dirinya tengah menekan gejolak emosinya.

Dan dalam satu tarikan napas, Ki Bum menghelanya dengan frustasi. Batinnya mengumpat tak karuan. Bagaimana bisa dia membuat Soo Rin seperti itu?

****

Jong Dae baru saja keluar dari Perpustakaan. Tak disangka dirinya bertemu dengan orang yang memang ingin dicarinya. Jong Dae segera menghampiri orang itu, berlari seolah takut sosoknya akan hilang jika tidak segera didekati.

“Soo Rin Sunbae!!”

Merasa terpanggil, Soo Rin menghentikan langkahnya yang ingin beranjak menuju ke lantai atas setelah berkumpul bersama ketiga temannya. Saat ini dirinya ingin segera kembali ke kelas mengingat ia hanya merenung tak jelas di tengah-tengah keramaian. Soo Rin mengangkat kedua alisnya begitu melihat siapa yang tengah berlari ke arahnya.

“Kim Jong Dae? Ada apa? Kenapa kau terlihat terburu-buru seperti itu?” sambut Soo Rin sedikit bingung.

Jong Dae menampakkan cengirannya sambil mengusap tengkuk. Selalu seperti ini jika sudah berada di dekat Soo Rin. Dia akan merasa gugup hingga salah tingkah. Padahal gadis ini tidak melakukan apapun. Hanya berdiri menghadapnya dan menatapnya. Atau sesekali memberikan senyuman tipis kepadanya. Ah, mungkin memang itu penyebabnya.

Aniyo (Tidak). Rasanya jika belum melihat Sunbae, aku akan merasa ada sesuatu yang kurang. Karena itu begitu aku melihat Sunbae, aku ingin segera menghampiri Sunbae.” Jong Dae menjawab dengan jujur. Seketika membuat Soo Rin mengerjap kaget mendengar tutur katanya yang begitu gamblang, menurutnya.

Eii, kau ini…” Soo Rin membuang muka. Mulai salah tingkah. Bahkan ia ikut mengusap tengkuk di balik rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai seperti biasa.

Jong Dae merasa senang melihat reaksi gadis di hadapannya ini. Ternyata jika gadis ini berekspresi, auranya semakin terlihat. Terlihat bahwa Soo Rin merupakan gadis yang begitu feminim. Dan itu semakin membuat gadis ini terlihat begitu cantik di matanya. Namun, mengingat apa yang sudah dia dapat tadi, membuatnya introspeksi bahwa ia harus tahu diri. Jika memang semua itu benar, berarti gadis ini tidak bisa dia dekap. Hanya saja—

Sunbae…” Jong Dae memanggil dengan halus. Begitu Soo Rin kembali mendengak dan menatapnya, Jong Dae segera mengulas senyumnya. Senyum teduhnya. “Aku menyukai Sunbae.”

Soo Rin terpaksa melebarkan matanya. Iris kecokelatannya tampak membulat. Dia tertegun mendengar pernyataan itu. Bahkan jantungnya terasa berhenti berdetak hingga tubuhnya kaku dengan segera. Barusan lelaki ini… mengutarakan perasaannya?

“Aku menyukai Sunbae. Tapi aku tidak bisa meminta Sunbae untuk menjadi kekasihku. Aku sudah tahu… lebih tepatnya aku baru mengetahui bahwa sebenarnya Sunbae sudah memiliki kekasih.” Jong Dae berusaha untuk tetap menyungging senyumnya. Meski sebenarnya kedua mata teduhnya mulai meredup. “Lagipula, aku ‘kan lebih muda dari Sunbae. Pasti akan terlihat aneh nantinya,” lanjutnya meringis. Dan ia mencoba untuk terkekeh, meski jatuhnya menjadi tawa hambar.

Soo Rin mencelos mendengarnya. Apa yang sudah dia lakukan sehingga mampu membuat seorang Kim Jong Dae menyukainya? Dia tidak pernah bermaksud untuk membuat lelaki ini tertarik padanya. Dia hanya merasa senang karena masih ada siswa yang mau bicara padanya. Karena selama ini hanya Tae Yong dan Tae Min yang mau bicara—bahkan mau menjadi teman dekatnya. Dia juga memperlakukan lelaki ini sebagaimana dirinya berteman dengan dua teman lelakinya itu.

“Maafkan aku, Sunbae. Tapi, jika Sunbae masih ingin menjadi temanku, apakah Sunbae mau?” kini kedua mata Jong Dae sudah meredup. Tak ada lagi tawa di dalam sana. Hanya sebuah harapan. Harapan dirinya masih bisa berteman dengan gadis di hadapannya kini. Tidak lebih.

Soo Rin merasa bersalah. Sangat. Dia tidak tahu apa yang sudah dia lakukan, tapi dia benar-benar merutuki kesalahan yang tidak ia ketahui itu. Soo Rin menunduk dalam. Tercenung. Bagaimana dia harus menyikapi hal seperti ini? Dia tidak pernah mendapatkan situasi seperti ini. Pertama kalinya seseorang yang menyatakan perasaan padanya adalah Kim Jong In, dan saat itu juga dia menerima. Dia belum paham jika tindakannya terlalu gegabah karena tidak memberikan kesempatan bagi dirinya sendiri untuk mencerna perasaan sendiri. Padahal dia tidak mengenal dekat Kim Jong In. Lalu, Kim Ki Bum. Entah, saat itu situasi berjalan begitu saja. Mengalir begitu saja. Tidak seperti sebelumnya, Soo Rin merasa menerima dengan terbuka. Karena jelas, dia juga memiliki perasaan yang sama.

Hingga saat ini…

Sunbae?”

Soo Rin tersentak kaget. Dia melamun lagi ternyata. Astaga, sepertinya penyakit aneh lamanya kembali kambuh. Mengingat belakangan ini sudah berapa kali dirinya dikejutkan hanya dengan sebuah sapaan halus.

“Maafkan aku…” ucap Soo Rin dengan suara yang sangat kecil, namun masih bisa didengar Jong Dae. Soo Rin segera kembali mendengak. Menatap Jong Dae. “Tapi, aku masih ingin menjadi temanmu,” lanjutnya tersendat.

Jong Dae mengulas senyum. Merasa lega, tapi sekaligus juga sesak. Sudah dipastikan bahwa gadis di hadapannya ini tidak bisa menerima perasaannya. Meski bukan karena dirinya lebih muda—mengingat gadis ini masih mau berteman dengannya—tapi sepertinya dia sudah tahu alasan gadis ini menolaknya.

Dia menyukai lelaki lain. Dan jelas lelaki itu adalah kekasihnya, bukan?

“Terima kasih, Sunbae!” ucap Jong Dae dengan menampakkan senyum cerianya, kini. “Ah, sebentar lagi pelajaran kembali dimulai. Sebaiknya Sunbae segera kembali ke kelas,” lanjutnya memperingatkan.

Soo Rin mengangguk. Mencoba untuk mengulas senyum.

“Kalau begitu, aku ke kelas terlebih dahulu. Sunbae berhati-hatilah!” Jong Dae membungkuk sejenak sebelum berbalik. Masih dengan mengulas senyum lebarnya, Jong Dae berlari menjauh menuju kelasnya yang berada di koridor lain. Semakin jauh, semakin memudar pula senyum lebarnya. Kedua matanya yang memang sudah redup, kini semakin meredup.

Begitu berbelok ke koridor lain. Jong Dae menghentikan larinya. Membuang napas yang sudah terasa berat dengan kasar, seolah menghentakkannya. Mencoba untuk melonggarkan sesuatu yang sedari tadi sudah mengikat dadanya hingga terasa sesak.

“Aah, seperti ini rasanya jika sedang patah hati…” gumamnya terhadap diri sendiri. Terdengar miris.

.

Soo Rin masih berdiri mematung di tempatnya. Mengantar kepergian Jong Dae dalam diam. Bahkan sekedar memberikan salam perpisahan dia merasa tak sanggup. Tatapannya sudah sendu sejak awal. Dia merasa bersalah. Benar-benar merasa bersalah. Mengingat segala tutur kata lelaki itu membuat dirinya begitu terpojok.

Memiliki kekasih? Tapi dia merasa sudah tidak dianggap oleh kekasihnya sendiri. Bodohnya, dia masih berharap dengan masih memegang perasaannya sendiri.

Soo Rin menunduk semakin dalam. Menghela napas panjang dan juga berat. Mencoba untuk melonggarkan sesuatu yang sedari tadi sudah mengikat dadanya hingga terasa sesak… sejak kata-kata yang menohoknya itu terlontar dari mulut Jong Dae.

“Bahkan aku tidak yakin jika hubungan ini masih berlanjut…” gumamnya dengan sangat lirih. Terdengar miris.

****

::Another Day

Sae Hee tampak tengah berkeliling dengan kedua mata berkeliaran mencari-cari. Begitu waktu istirahat kembali dimulai, dia segera beranjak menemui lelaki yang belakangan ini mulai jarang ia temui. Entah mengapa, belakangan ini dia selalu tidak mendapati lelaki itu di kelasnya seperti biasa. Selalu sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak. Dia mulai berpikir bahwa lelaki itu sedang bersama gadisnya. Namun, dia juga melihat bahwa gadis milik lelaki itu selalu berjalan sendirian. Atau terkadang ditemani dengan siswa yang sekelas dengannya itu.

Ya, Kim Jong Dae berada di kelas yang sama dengan Sae Hee. Sesaat batinnya merasa senang mengingat bahwa gadis lelaki itu sudah bersama dengan lelaki lain. Dan ia merasa semakin leluasa untuk kembali menguasai lelaki itu, Kim Ki Bum. Hanya saja, justru kini Kim Ki Bum seolah tengah menyembunyikan diri darinya. Dan ia selalu tidak berhasil menemukannya. Sebenarnya, ke mana lelaki itu menghilang?

Sae Hee kembali ke lantai dasar. Menelusuri koridor lantai dasar dengan mata yang tak lelah menyapu setiap sisi dan sudut demi mendapatkan orang yang tengah dicarinya. Hingga ujung koridor yang sudah menampakkan pemandangan lapangan utama sekolah pun, dia tetap tidak menemukan di mana Ki Bum berada. Sae Hee mendesah frustasi. Dia tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi. Teman-teman sekelas Ki Bum bahkan tidak tahu ke mana lelaki itu pergi. Entah mereka memang tidak tahu atau sengaja tidak mau memberi tahu. Toh pada akhirnya dia akan mencari sendiri, bukan?

Sae Hee berbalik dengan wajah yang semakin kusut. Dia merasa lelah setelah naik-turun ke lantai dua hingga tiga lalu kembali lagi ke lantai dasar. Dia ingin melepas dahaga terlebih dahulu. Langkahnya pun membawa dirinya menuju ke kantin.

Ya, murid baru!”

Sae Hee menghentikan langkahnya. Dia merasa panggilan itu tertuju padanya. Menoleh ke sumber suara, Sae Hee mendapati tiga siswi tengah berjalan mendekatinya dengan wajah yang tidak begitu bersahabat. Bahkan aura yang mereka kuarkan terasa sekali tidak bersahabat. Dilihat dari tingkah yang begitu angkuh serta penampilan yang tergolong sudah minim, Sae Hee menebak bahwa ketiga siswi itu merupakan seniornya.

“Ah, jadi benar kau? Yang selalu menempel pada Si Jenius Peringkat Satu angkatan kita?” gumam siswi yang berdiri di tengah dengan mata sipitnya melirik pada tanda pengenal Sae Hee di jas seragamnya.

“Kenapa?” Sae Hee menyahut dengan datar. Terpengaruh? Tidak. Sae Hee sudah biasa dengan perlakuan seperti ini. Dia sudah sering melihat hal seperti ini di sekolahnya dulu. Bahkan yang lebih dari ini juga ada. Menyeret objek bully-annya ke toilet lalu mengurungnya hingga menyiramnya dengan air kotor. Bahkan aksi itu juga selalu berlaku di kantin. Negara tempat tinggalnya dulu lebih ekstrim dibandingkan di sini. Jadi bisa dikatakan bahwa Sae Hee sudah cukup kebal. Dia sudah belajar banyak.

“Kau bertanya kenapa? Dasar junior tidak tahu diri. Kau pikir dengan bergelayut manja pada Kim Ki Bum seperti koala bisa meningkatkan ketenaranmu?” gertak siswi yang lain. “Ya, kau hanya murid baru di sini. Jangan dengan seenaknya mendekati seniormu itu! Ditambah Kim Ki Bum adalah orang terpenting kami!”

“Orang terpenting?” Sae Hee mendengus geli. “Kenapa tidak katakan saja bahwa Kim Ki Bum adalah idola kalian dan kalian tidak suka aku mendekati idola kalian itu, heh?” lanjutnya terdengar mengejek.

“Ah, kau tahu akan hal itu, bukan? Lalu kenapa kau masih saja dengan tidak tahu malunya mendekati Kim Ki Bum kami?!”

“Kim Ki Bum kami?” Sae Hee merasa ingin tertawa terbahak. Menggelikan sekali kata-kata itu di telinganya. “Kalian pikir Kim Ki Bum mau menerima kalian dengan senang hati? Dan lagi, bukankah kalian tahu bahwa Kim Ki Bum sudah memiliki seorang kekasih? Lalu kenapa kalian masih menganggapnya sebagai Kim Ki Bum kalian? Lucu sekali.”

Mwoya?!” satu dari ketiga siswi itu mulai tampak emosi.

“Kalian hanya merasa iri karena tidak bisa seperti diriku yang bisa dengan mudahnya mendekati Kim Ki Bum meski dia sudah memiliki kekasih. Ditambah, kalian tidak bisa melampiaskan kekesalan kalian terhadap kekasihnya karena jelas kekasihnya itu setara dengan kalian juga berada di kelas yang sama dengan Kim Ki Bum. Sedangkan aku yang lebih muda dari kalian merasa akan lebih mudah untuk ditindas.” Sae Hee terkekeh geli sebelum melanjutkan, “Ternyata kalian hanya mampu menindas kalangan yang lebih muda alias rendah dari kalian. Menggelikan sekali.” Sae Hee berdecak seolah prihatin.

“KAU!!”

Merasa sudah terpojokkan, ketiga siswi itu segera menyerang Sae Hee. Mencekal kedua lengannya bahkan menarik jas seragamnya sebelum menyeretnya ke tempat yang lebih sepi. Tentu saja Sae Hee meronta. Merasa tidak elit sekali dengan perlakuan ketiga senior ini. Sae Hee benar-benar melawan perlakuan mereka. Membebaskan diri dari cekalan erat ketiga senior yang sudah menghimpitnya dengan sekuat tenaga. Merasa kewalahan sekaligus semakin jengkel, ketiga siswi itu mendorong Sae Hee tanpa ampun. Yang entah mereka sadari atau tidak, ternyata mereka mendorong Sae Hee ke undakan tangga yang menghubung ke lapangan dalam sekolah.

Sae Hee yang merasa cekalan mereka melonggar juga segera menjauhkan diri yang ternyata dalam waktu bersamaan ia merasa didorong keras oleh mereka. Tanpa ia sadari bahwa di dekatnya terdapat undakan tangga dan ternyata tubuhnya oleng ke sana. Sae Hee yang sudah kehilangan keseimbangan tubuhnya, akhirnya jatuh berguling ke bawah. Membuat mereka terkesiap.

YA!!”

Sontak ketiganya menoleh. Dan semakin terkesiap begitu melihat orang yang baru saja berseru sudah berdiri di belakang mereka. Langsung saja mereka berlari terbirit.

Itu terjadi secara reflek. Soo Rin berteriak tanpa berpikir terlebih dahulu. Dari kejauhan dia sudah melihat Sae Hee tengah diseret paksa oleh ketiga siswi itu. Langsung saja dirinya berlari mendekat demi menolong gadis itu. Namun belum sempat dirinya sampai, dia harus terkejut begitu melihat Sae Hee terdorong hingga terjatuh berguling ke bawah sana.

Soo Rin segera menuruni undakan tangga demi menghampiri Sae Hee yang sudah menelungkup. Dia mulai panik begitu melihat tubuh itu sulit untuk bergerak serta mendengar suaran rintihan dari pemiliknya. Soo Rin segera berjongkok demi membantu Sae Hee untuk terduduk.

“Sae Hee-sshi, kau tidak apa-apa?” Soo Rin terlihat begitu khawatir. Dia juga ikut meringis begitu melihat raut wajah Sae Hee yang tampak begitu kesakitan. Lalu semakin meringis begitu matanya menangkap salah satu lutut gadis itu mengeluarkan darah. Terluka cukup lebar. Kemudian melihat keadaan bagian lain, gadis ini sudah berantakan. Seragamnya sudah kotor terkena debu akibat terguling tadi. Bahkan telapak tangan gadis ini lecet yang pasti diakibatkan tergesek aspal.

Sae Hee cukup terkejut begitu mengetahui siapa yang tengah menolongnya. Bagaimana bisa gadis senior ini yang datang menolongnya? Gadis yang sudah membuat dirinya merasa jengkel akibat Kim Ki Bum-nya terambil alih. Entah apa yang dirasakan Sae Hee saat ini. Dia mulai tak karuan. Dia merasa tidak suka dengan kedatangan gadis ini. Tapi dia juga merasa tertolong.

“Sae Hee-sshi, apa kau bisa berdiri? Kau harus segera diobati. Kita harus ke Ruang Kesehatan sekarang.” Soo Rin menepuk-tepuk pelan bagian punggung Sae Hee demi membersihkan debu yang menempel di sana sebelum perlahan mencoba menuntun Sae Hee untuk berdiri.

Sae Hee menepis kedua tangan Soo Rin, melemparkan tatapan sinisnya sebelum membuka mulut. “Aku bisa berdiri sendiri. Tidak perlu mempedulikanku!” ketusnya.

Soo Rin sedikit tersinggung. Apakah gadis ini sangat tidak menyukainya? Sampai-sampai tidak membutuhkan pertolongannya. Melihatnya yang begitu kesulitan untuk berdiri saja sudah bisa ditebak bahwa ia butuh pertolongan. Mencoba untuk bebal, Soo Rin kembali meraih tubuh Sae Hee dan kembali membantunya untuk berdiri.

“Sudah kubilang aku bisa sendiri! Aku tidak butuh pertolonganmu!!” Sae Hee membentak. Tatapannya sudah berubah bengis. Sekaligus memerah. Terlihat tengah menahan sesuatu di sana. Dan ia tidak mau menumpahkannya dengan segera. Di depan orang yang dijengkelinya? Lucu sekali.

Menepis segala pegangan Soo Rin, Sae Hee mulang melangkah. Dan ia hampir terdebam lagi jika Soo Rin tidak segera menangkap tubuhnya. “Aakh! Kakiku sakit…”

“Kau lihat sendiri? Kau tidak bisa sendiri. Untuk berjalan pun kau tidak bisa sendiri. Saat ini kau butuh pertolongan. Sedangkan di sini hanya ada aku. Dan aku memang tidak bisa untuk tidak peduli. Aku tidak bisa membiarkanmu yang sedang terluka seperti ini berjalan sendirian!”

Sae Hee terpana dengan lontaran Soo Rin. Tanpa komando dirinya menatap gadis senior ini. Menatap ke dalam matanya yang memang terbaca bahwa ia benar-benar khawatir, peduli. Entah mengapa, melihat kesungguhan itu membuat Sae Hee merasa hangat di sekujur tubuhnya. Dia merasa… ada yang masih peduli dengannya di sekolah ini.

Tanpa mengucap apapun lagi, Soo Rin melingkarkan sebelah tangan Sae Hee dengan hati-hati ke pundaknya. Memeluk pinggangnya agar merapat. Lalu memapahnya dengan perlahan menuju Ruang Kesehatan.

.

::Ruang Kesehatan

Soo Rin menyeka darah yang mulai menggumpal di permukaan kulit Sae Hee di bagian dengkul dengan handuk basah. Lalu beralih pada kedua tangan Sae Hee yang lecet, membersihkannya dari kotoran maupun debu yang menempel di sana. Bahkan bagian siku gadis itu juga terdapat lecet akibat benturan di saat ia terjatuh. Dengan telaten, Soo Rin membersihkan luka-luka itu sebelum diobatinya.

Begitu bersih, barulah Soo Rin beralih mengambil kapas lalu mencelupkannya pada cairan antiseptik. Mengoleskannya pada setiap luka di tubuh Sae Hee dengan hati-hati. Sae Hee terpaksa merintih perih akibat efek alkohol dari obat tersebut begitu menyentuh lukanya. Soo Rin mencoba untuk lebih berhati-hati. Lalu Soo Rin menutup luka di bagian lutut yang cukup besar dan lebih parah dibandingkan luka-luka lainnya, dengan perban dan plester.

“Kemarikan kakimu.” Soo Rin menitah dengan halus. Sae Hee menurut saja begitu gadis ini meraih sebelah kakinya yang terkilir. Melepas sepatu hingga kaus kakinya. Kemudian meraih sebuah spray penghilang rasa sakit—Ethylcloride—yang sudah dipersiapkan sejak awal. Menyemprotkannya pada pergelangan kaki Sae Hee yang tampak memerah. “Ini hanya untuk sementara. Besok kau tempelkan saja koyo di sini. Jika selama tiga hari masih terasa sakit, kau harus memeriksanya ke dokter,” jelas Soo Rin sambil melilitkan perban ke pergelangan kakinya.

Sae Hee memperhatikan gerak-gerik telaten gadis di hadapannya kini. Gadis ini benar-benar mengobatinya dengan serius. Membuat Sae Hee harus kembali merasakan sesuatu yang menjalar di sekujur tubuhnya. Merasa hangat. Melihat keseriusannya dalam mengobati justru membuatnya mulai tersentuh.

“Apakah kau seorang dokter?”

Soo Rin mendengak dengan kedua alis terangkat. Menatap Sae Hee sesaat sebelum kembali merunduk melanjutkan kegiatannya. “Jika aku seorang dokter, untuk apa aku bersekolah? Lebih baik aku bekerja mencari banyak pasien dan menghasilkan banyak uang.” Soo Rin tersenyum.

Meski tertunduk, tapi Sae Hee masih bisa melihat senyumannya itu. Ternyata melihat senyumannya dari atas sini, sudah cukup mampu memberikannya sebuah kesimpulan bahwa gadis ini begitu cantik.

“Aku hanya pernah melihat cara ini di televisi. Pertolongan pertama untuk orang yang terkilir maupun cedera.” Soo Rin kembali mendengak, yang semakin menampilkan dengan jelas senyum teduhnya kepada Sae Hee. “Cah! Sudah selesai,” serunya begitu selesai. Tatapannya memancarkan kepuasan akan hasil kerjanya. Lalu berdiri demi membereskan segala peralatan obat yang sudah dikeluarkannya.

Sae Hee tercenung dengan hasil kerja gadis itu di kakinya. Bahkan lututnya. Benar-benar rapih. Kemudian tatapannya beralih pada Soo Rin yang kini memunggunginya. Dia merasa, segala perasaannya mulai menguap terhadap gadis itu. Bagaimana bisa? Padahal gadis itu hanya sekedar mengobatinya. Tapi dia merasa baru saja menyadari sisi lain dari gadis itu. Sisi yang menyadarkannya untuk tidak seharusnya melakukan hal selama ini sudah dia lakukan.

“Sae Hee-sshi.”

Sae Hee tersentak kaget begitu namanya terpanggil. Menyadari bahwa dia telah tenggelam ke dalam pikirannya. Tak lama kemudian, Soo Rin berbalik hingga kini menghadap kepadanya. Dan Sae Hee harus tercenung lagi. Raut wajah gadis itu sudah tidak seperti tadi. Meski bibir itu berusaha untuk tetap tersenyum, tetap saja wajahnya tampak begitu redup.

“Setelah beberapa kali aku memikirkan hal ini, aku benar-benar menyadari bahwa aku memang seperti ini. Semakin aku menepisnya, semakin kuat pula kenyataan bahwa aku memang seperti ini.”

Kini Sae Hee melihat wajah itu mulai tertunduk. Seolah tengah merenungi sesuatu, yang justru membuat ia kebingungan. Apalagi kalimat yang terlontar dari mulut itu terdengar ambigu.

“Maafkan aku… ternyata aku tidak bisa menjauhkan diri dari Kim Ki Bum. Semakin aku mencoba untuk membuat jarak, semakin aku menyadari bahwa aku memang tidak bisa menjauh. Mungkin selama ini kau melihat bahwa aku memang bisa menjaga jarak darinya. Tapi, tidak dengan perasaanku. Semakin aku berusaha untuk menjauhkan perasaanku mengenai dirinya, semakin aku menyadari bahwa aku tidak bisa melepaskannya. Aku—aku sudah terlanjur memberikan perasaanku ini padanya. Aku sudah terlanjur membuka perasaanku untuknya.”

Sae Hee terhenyak dalam diam. Kalimat panjang dan lebar itu benar-benar menohoknya. Ditambah raut wajah itu semakin meredup bahkan kedua mata itu sudah tampak mengembun. Menyendu. Memerah. Dia tahu pasti bahwa gadis itu sedang menahannya. Dia bahkan melihat kedua tangan itu terkepal di kedua sisi tubuhnya.

“Dan, aku tidak akan melepasnya. Aku tidak akan menjauh. Tidak akan aku lakukan sebelum Kim Ki Bum sendiri yang menyuruhku untuk melakukannya.”

Sae Hee benar-benar tercekat mendengarnya. Dia tidak mampu bicara, tidak mampu membalas. Entah karena perasaannya terhadap gadis itu mulai menguap ataukah karena segala gelagat gadis itu yang telah membuatnya bungkam, dia tidak mengerti.

Sedangkan Soo Rin beberapa kali menggigit bibir bawahnya. Semakin ia tahan, semakin sakit pula tenggorokannya. Sekaligus benaknya. Dia ingin mengatakan semuanya. Semua yang ada di dalam benaknya. Tak peduli bagaimana reaksi Sae Hee nantinya. Dia hanya ingin mengutarakan segala perasaannya. Tak peduli jika segala perasaannya nanti tidak membuahkan hasil. Dia hanya ingin mengeluarkan semuanya. Agar setidaknya dia bisa merasa lega… meski hanya sedikit bahkan hanya sejenak.

Dengan suara yang sudah tercekat hingga tersendat sejak awal. Soo Rin mencoba untuk melontarkan kata-kata terakhirnya. Kata-kata yang ingin sekali dia tunjukkan pada gadis di depannya kini. Dan kata-kata itu, berhasil membuat Sae Hee mencelos.

“Maafkan aku, Sae Hee-sshi. Aku sudah terlanjur mencintai Kim Ki Bum-mu.”

****

Soo Rin melangkah dengan lesu di sepanjang koridor. Wajahnya yang selalu tertunduk, kini semakin tenggelam bersembunyi. Dia berusaha untuk tidak memperlihatkan bahwa dirinya ingin menangis saat ini. Dia sudah berhasil tidak menunjukkannya pada Sae Hee, dan sekarang dia juga harus menekan dalam-dalam keinginan tubuhnya ini.

Ternyata memang benar, dia sedikit merasa lega karena sudah melontarkan semuanya. Beruntung Sae Hee tidak membalas. Mungkin gadis itu akan membalasnya besok mengingat saat ini kakinya tengah terkilir, pikir Soo Rin. Tapi itu juga sekaligus membuatnya merasa miris terhadap diri sendiri. Menyesakkan sekali kisahnya sekarang. Lagi, dia harus merasakan sakit yang dulu pernah bersarang ketika masih menyukai Kim Ryeo Wook. Dan untuk yang kali ini, dia merasa lebih sakit. Setelah apa yang sudah mereka lakukan bersama… itu benar-benar membuatnya merasa sesak.

Jika pada akhirnya seperti ini, seharusnya aku tidak pernah menerima Kim Ki Bum sejak awal, batinnya menggumam miris.

Dan lebih menyesakkan jika ia harus kembali bertemu dengan sosok yang tidak ingin dia lihat saat ini. Batinnya terheran, bagaimana bisa mereka masih selalu bertemu secara tidak sengaja padahal dirinya sudah merasa yakin bisa menghindari? Seperti sekarang ini.

Soo Rin menghentikan langkahnya di undakan tangga pertama. Terhenyak mendapati Ki Bum berdiri tak jauh di hadapannya. Di undakan teratas. Soo Rin menelan saliva, sudah pasti dia merasa gugup. Dia akan selalu merasa gugup jika berhadapan dengan lelaki itu. Karena itu dia kembali menundukkan pandangannya.

Tanpa gadis itu ketahui, Ki Bum menatap reaksi itu dengan sendu. Sampai kapan gadis itu ingin menghindarinya? Sampai kapan pula dirinya harus membiarkan gadis itu menghindarinya? Sampai kapan dia akan kesulitan untuk menggapai gadis yang sebenarnya berada di jangkauannya?

Ki Bum menyadari gadis itu mulai kembali melangkah. Seolah bahwa dirinya adalah orang lain, gadis itu melangkah begitu saja tanpa berniat ingin melihatnya lagi. Dan dia tahu bahwa gadis itu akan melewatinya begitu saja. Begitu Soo Rin berada di anak tangga yang sama dengannya—hendak menapak anak tangga berikutnya, Ki Bum segera meraih tangan Soo Rin. Dan segera menautkan jari-jarinya ke jari-jari lentik milik gadis ini—gadisnya ini.

Sontak saja membuat Soo Rin terpaksa mendengakkan kepala dan tercenung untuk beberapa saat. Sebelum perlahan akhirnya mulai melirik ke tangannya yang sudah tergenggam begitu erat dengan tangan besar dan hangat itu. Soo Rin tak berani untuk mengangkat pandangannya. Dia tahu dengan sudut matanya bahwa lelaki ini tengah menatapnya. Ditambah dirinya memang tidak ingin melihat lelaki ini dengan kedua mata yang sudah mengembun. Susah payah dirinya berusaha untuk menekan keinginannya untuk tidak menumpahkannya saat ini juga.

Sedangkan Ki Bum, meski di sisi lain dia merasa cukup lega karena akhirnya dia mampu menyentuh tangan gadis ini—menggenggamnya dengan begitu erat seolah tidak ingin melepasnya lagi, dia juga mencelos menyadari bahwa gadis ini tetap tidak mau menatapnya. Ingin sekali dia menarik tubuh ramping dan kecil gadis ini ke dalam dekapan. Hanya saja, menggenggam tangannya saja terasa begitu sulit mewujudkannya. Dia khawatir perlakuan yang tergolong tiba-tiba itu justru semakin membuat gadis ini menjauh hingga bahkan tak mau bertemu dengannya lagi seperti sekarang ini.

“Sae Hee-mu…”

Ki Bum harus mengerjap begitu pendengarannya menangkap suara halus dan kecil gadis ini. Barusan gadis ini berkata apa? Sae Hee-nya? Apa yang sedang dikatakan gadis ini?

“Sae Hee-mu… sedang terluka. Dia berada di Ruang Kesehatan sekarang.” Soo Rin melakukan jeda sejenak. Menelan saliva demi membetulkan nada bicaranya yang sudah bergetar agar tidak semakin bergetar. Lalu dia melanjutkan, “Temuilah dia… dia pasti sangat membutuhkanmu saat ini.”

Dan hanya dengan percobaan pertama, meski harus berusaha sedikit keras, Soo Rin berhasil melepas tautan tangan kiri mereka. Melanjutkan langkahnya yang terpaksa berhenti. Bahkan karena ingin segera menjauhkan diri, Soo Rin harus berlari menapaki anak-anak tangga menuju ke lantai tiga. Kembali meninggalkan Ki Bum yang masih berdiri mematung di tempat.

Ki Bum memejamkan mata. Mengepalkan tangan kirinya—tangan yang baru saja merasakan kelembutan serta kehangatan yang begitu dirindukan. Menekan bulat-bulat gejolaknya yang ingin mengejar Soo Rin. Ki Bum gamang. Di sisi lain dia mendengar kabar dari mulut gadis itu sendiri bahwa Sae Hee terluka. Dia juga tidak bisa membiarkan Sae Hee begitu saja. Dia juga mengkhawatirkan Sae Hee. Seperti apa luka yang tengah diderita Sae Hee? Ki Bum mulai kalut.

Akhirnya, dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk, tak karuan, Ki Bum memilih untuk menuruni tangga. Dengan langkah lebar dan cepatnya, Ki Bum bergegas menuju Ruang Kesehatan.

Soo Rin menoleh ke belakang. Melalui celah tangga, dia melihat ke bawah. Melihat sekilas sosok lelaki itu berlari menuruni tangga, bukan naik. Soo Rin mengembangkan senyum tipisnya. Senyum mirisnya. Dia sudah tahu jawabannya.

“Sejak awal dia memang tidak ingin mendekatiku…” gumamnya sangat lirih.

.

Ki Bum membuka pintu ruangan tempat Sae Hee berada saat ini. Langsung saja dirinya menangkap sosok gadis itu tengah duduk di pinggir ranjang sambil tertunduk. Sebelum akhirnya mendengak begitu mendengar suara pintu terbuka. Ki Bum tertegun melihat wajah gadis itu. Begitu merah dan basah. Sae Hee menangis?

“Sae Hee-ya, kau tidak apa-apa?” Ki Bum segera mendekati gadis itu. Ia semakin terkejut melihat kondisi Sae Hee saat ini. Lutut dan kakinya diperban, bahkan tangannya juga terdapat lebam. “Sae Hee-ya, apa yang sudah terjadi padamu? Kenapa kau bisa seperti ini?” Ki Bum semakin khawatir karena gadis ini tidak menjawab.

Tanpa diduga Sae Hee segera bangkit dan berhambur memeluk Ki Bum begitu erat. Membuat Ki Bum terpana dan secara spontan kedua tangannya melingkar di pinggang gadis ini. Beberapa detik kemudian terdengar isak tangis dari gadis ini hingga tubuh kecil di pelukannya bergetar.

“Sae Hee-ya, apa yang kau rasakan sekarang, hum? Apakah sangat sakit?” Ki Bum mencoba untuk kembali bertanya. Lebih halus. Justru dibalas dengan isak tangis gadis ini yang semakin mengencang. Astaga, kenapa dengan gadis ini?

Nan jalmotdwaesseo (Aku salah). Nan jalmotdwesseo, Oppa…” Sae Hee tergugu begitu kencang. Pelukannya semakin erat. Sebagaimana dengan tangisannya yang sudah pecah dan mengencang. “Maafkan aku, Oppa. Sungguh maafkan aku…” raungnya lagi.

Ki Bum mengernyit kebingungan. Dia belum menangkap maksud ucapan gadis ini. Untuk apa gadis ini meminta maaf dan memangnya apa yang sudah dia lakukan hingga mengaku salah? Dan lagi, tangisan gadis ini terdengar begitu miris. Sebagaimana dengan ucapan maafnya, tangisan gadis ini sangat menggambarkan bahwa ia merasa bersalah.

Akhirnya, Ki Bum membalas pelukan Sae Hee. Menepuk dan mengusap dengan lembut punggung yang masih bergetar akibat tangisannya, mencoba untuk memberikan ketenangan dan kehangatan. Untuk saat ini, hanya ini yang bisa Ki Bum perbuat. Mencoba meredakan gejolak emosi yang tengah menguasai gadis ini.

.

“Soo Rin-ah, kau kenapa?”

Soo Rin mengangkat pandangannya. Mendapati Tae Yong dan Tae Min sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah bingung. Dan Tae Yong melebarkan matanya begitu melihat mata itu sudah memerah hingga ke pelupuknya. Memperingati bahwa isinya akan tumpah kapan saja.

“Soo Rin-ah, ada apa denganmu, huh?” Tae Yong meraih bahu Soo Rin. Terasa sekali bahwa bahu gadis ini benar-benar kaku. “Ya, Tae Min-ah, panggilkan Ah Reum, cepat!” titahnya pada Tae Min yang segera dituruti.

Belum sempat Tae Min kembali membawa Ah Reum, Soo Rin sudah segera pecah. Setetes cairan bening dan hangat berhasil menerobos pertahanannya dengan mengalir bebas ke pipinya yang kemerahan. Dua tetes. Tiga. Hingga akhirnya tak terbendung lagi. Membuat Tae Yong semakin khawatir dan kelimpungan. Ditambah mereka masih berada di koridor hingga mulai mengundang perhatian para murid yang berlalu lalang.

“Soo Rin-ah, kau kenapa?” Ah Reum berseru kaget dan segera mendekat. Mulai khawatir melihat gadis itu sudah berlinangan air mata. “Soo Rin-ah, siapa yang sudah membuatmu menangis, huh? Katakan padaku,” titahnya sambil merengkuh kedua pundak Soo Rin.

Langsung saja Soo Rin memeluk Ah Reum. Menjatuhkan kepalanya di salah satu pundak Ah Reum, menyembunyikan wajahnya di sana, lalu mulai tersedu-sedu. Menumpahkan segalanya yang sudah ia tahan selama ini dalam bentuk tangisan deras. Ah Reum yang semakin kebingungan dan tidak tahu alasan gadis ini menangis, akhirnya hanya dapat membalas pelukan erat ini. Memeluk punggungnya, menepuknya perlahan demi memberikan ketenangan. Ah Reum belum pernah melihat Soo Rin menangis hingga seperti ini. Meski hanya suara isakan tanpa raungan, sebuah tangisan dalam diam tapi jika merasakan pundaknya yang bergetar hebat, tetap saja begitu memilukan. Apakah terasa begitu sakit?

Tak ada yang berani bertanya lagi untuk saat ini. Hanya sebuah pancaran kebingungan yang terbaca di raut wajah mereka ketika saling memandang. Ah Reum yang membiarkan Soo Rin menangis di pelukannya, serta Tae Yong dan Tae Min yang mencoba meminimalisir pemandangan ini dengan tubuh tegap mereka. Tidak ingin membiarkan siapa saja melihat keadaan ini.

Pertahanan Soo Rin sudah runtuh.

.

.

-つづく


TBC lagi yaa~

hahahahah yaampun part ini bener-bener ngga jelas dan ngga ada seneng-senengnya /-\

Haaaaiii /telat nyapa/ adakah yang menunggu kelanjutan kisukisu ini? #krikrik Pasti yang nyasar ke sini makin jengkel sama Kibum plus si Saehee juga hahahahahaha Aku merasa senang~~ #dapuk-__- tapi, semua akan dijelaskan di part selanjutnya….yang merupakan part terakhir dari cerita absurd ini #bocoranlagi~ heheheheheh ><

Maaf ya, aku ngepost di waktu siang begini. Sedikit curcol~ Karena lagi di kampung, aku sedikit khawatir bakal gabisa ngepost di waktu malam. Dan ternyata benar, aku mengalami sedikit banyak rintangan hahahah

(Kibum: sedikit banyak?)

(Taeyong: sedikit banyak…………..)

(Chen: sedikit………………banyak…??)

(Taemin: ……………………………………… /mikir sampe ubanan/?)

elah! Serius amat pada hahahahahahahahah x’D #digetok

Yosh! Silahkan menunggu part berikutnya (jika berkenan) ~~ maaf kalo ceritaku begitu hambar dan ngambang /ada yang komen kalo ff bikinan pertamaku kurang hidup/? >< Tapi aku sangat menghargai readers yang masih mau baca bahkan berkomentar..

Terima kasih sudah mampir! SWING~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “Keep In Touch – Part 3

  1. part ini galau sekali… hhaaa
    kenapa mau end elah cepet amat,
    tapi gak papalah yg penting nanti tetep masih ada ff kibum soorin lagi kan ya yaaa yaaaaa

  2. ommonaaaaa kim jong daeeee.. >< lu keren bnget sumpah! berani bnget ngomong gitu ke kibum! Daebak!
    Tpi syang, blum mmulai tpi udah ptah hati aja u,u mmm, tenang jong dae ada aku *kurungHyuk
    Ahh~ makin suka thor sma sikap soorin yang makin brani! udah ga lamat-lamat lgi dia haha
    buat kibum sma sae hee no coment lah. bner kata author, makin kesel sma mreka. bisanya kibum lbih mrhatiin saehee dripada soorin. Dsini soorin yg lbh sakit kibum-ahhh T^T nappeun namja!
    GOOD JOB buat authornya ^^b nex part and another story about kisoo dtggu haha

  3. wow aku salut sama keberanian jong dae. berani bgt menemui ki bum dan menyampaikan kalau dia menyukai soo rin. salut pokoknya..

    mudh2an stlh kejadian di ruang kesehatan itu bisa menyadarkan sae hee kalau soorin memang cocoknya sama ki bum.

    part ini feelnya dpt bgt.. apalagi pas di akhirnya itu, nyesek!!! lanjutannya jan lama2 yak thor.. hehe

  4. Part ini bikin aku nangis thor, alurnya mudah dicerna dan dapet bgt feelnya …

    Sukses terus buatmu thor…

    Tinggal part end, lanjut aja kalo gitu thor….

  5. Nyeselll saeheenya yaa? Dia udh gitu sama soorin tapi soorin nya baik sama dia,, omg itu nyesek bgt pas soorin bilang “Dan, aku tidak akan melepasnya. Aku tidak akan menjauh. Tidak akan aku lakukan sebelum Kim Ki Bum sendiri yang menyuruhku untuk melakukannya.” 😢😢😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s