Posted in Chaptered, Fiction, KiSoo FF "Keep In Touch", PG, PG-15, Romance, School Life

Keep In Touch – Part 2

Genre: School Life, (Absurd) Romance
Rated: PG-15 (Rating terus bertambah #ditendang-__-)
Length: Mini Chaptered
Kim Ki Bum || Park Soo Rin
Sae Hee || Jong DaeKITcover

This story comes from my absurd imagination~ hehet! Casts are belongs to God, also the story but comes to my head (?) //what am I talking about?-_-// Okay! Let’s have a good time, together! 기대해도 좋아 let’s go!! Enjoy~^^

 ㅡㅡ

“Ki Bum Oppa!”

Ki Bum terpaksa menghentikan kegiatan membereskan buku-buku pelajarannya yang berserakan di atas meja. Waktu istirahat tengah berjalan. Dan, cepat sekali orang itu sudah berada di depan kelasnya. Ki Bum menoleh ke arah panggilan yang berasal dari pintu belakang kelas. Benar saja, Sae Hee tengah melambaikan tangan kepadanya dari ambang pintu kelasnya.

Bahkan gadis yang duduk di depannya terpaksa ikut menoleh ke sumber panggilan itu. Soo Rin sedikit terkejut melihat siswi baru itu sudah berada di depan kelasnya. Hebatnya, berani sekali gadis itu menginjakkan kaki di wilayah tingkat akhir dan dengan lancangnya memanggil idola lokal sekolah ini?

Merasa berbagai pasang mata dan mulut mulai mengarah padanya, Ki Bum segera menghampiri Sae Hee yang masih betah serta dengan santainya menunggu dirinya.

“Kenapa kau datang kemari?”

Sae Hee segera menyambut lelaki itu dengan senyuman lebar yang semakin mempercantik lekuk wajahnya. “Kenapa? Apa aku tidak boleh menemui Uri Ki Bum-ie?” balasnya dengan nada yang cukup manja. Yang justru membuat Ki Bum mendengus geli mendengar sebutan itu. Uri Ki Bum-ie?

“Jadi, kau ingin apa?” tanya Ki Bum sambil melipat kedua tangannya, bersedekap. Mata teduhnya begitu tampak ketika memandangi gadis di hadapannya ini.

Sae Hee tampak tengah berpikir. Entah Ki Bum menyadarinya atau tidak, Sae Hee menyempatkan diri untuk melirik ke dalam kelas. Melihat gadis yang berstatus sebagai kekasih lelaki ini tengah memperhatikan dari tempat duduknya dengan raut datar. Tapi, raut wajah itu yang membuat dirinya mengembangkan senyumnya lagi. Tanpa aba-aba, Sae Hee bergerak maju demi memeluk sebelah lengan kekar Ki Bum. Menggelayut dan menempelkan diri ke samping lelaki ini. Yang semakin membuat berbagai pasang mata terkejut melihat perlakuannya. Termasuk Soo Rin.

“Aku ingin makan bersama Oppa di kantin.” Sae Hee kembali menguarkan nada manjanya. Sedangkan Ki Bum harus mengangkat kedua alisnya karena terpana. Sae Hee mencoba untuk mempertahankan raut wajah manisnya. “Please?” lanjutnya tampak memohon.

Allright.” Ki Bum mengulas senyum teduhnya begitu mengabulkan permintaan gadis ini.

Yaaayy!” Sae Hee bersorak dengan anggun. Kemudian mulai menarik lengan yang sempat dipeluknya untuk segera beranjak. “Let’s go, Oppa!!”

Ki Bum sempat menoleh ke dalam kelasnya. Melihat gadisnya yang tengah membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya yang berserakan. Dia tahu pasti gadis itu sempat memperhatikannya karena sekilas dia mendapati gadisnya itu membuang muka.

Soo Rin menghela napas panjang begitu dirinya selesai membereskan mejanya. Lagi-lagi dia merasakan perasaan aneh itu. Melihat Ki Bum yang begitu meladeni gadis bernama Sae Hee itu cukup membuatnya pengap. Dan semakin membuatnya ingin tahu, siapa gadis itu dan kenapa dengan mudahnya mereka menjadi akrab seperti itu?

Dan ia semakin pengap begitu berbagai macam bisikan mulai menusuk telinganya. Lagi-lagi membicarakan Ki Bum dan gadis bernama Sae Hee itu. Dan dirinya terpaksa menjadi bahan lirikan mereka. Mungkin mereka juga tengah membicarakannya juga. Tidak, sudah pasti membicarakan dirinya juga. Membicarakan kenapa dirinya diam saja dan hanya menonton kedekatan mereka.

Soo Rin pun memilih untuk bangkit dari duduknya, segera mengenyahkan diri dari kelasnya yang sudah berubah menjadi begitu pengap baginya. Dan ia mengingat ketiga temannya yang mungkin sudah berkumpul di tempat biasa.

Tapi Soo Rin segera menyesali diri sendiri. Langkah kakinya membawa dirinya ke kantin dan ia langsung mendapatkan pemandangan yang sebenarnya tidak ingin dilihat. Ki Bum dan Sae Hee tengah duduk berhadapan di salah satu meja. Dan ia harus melihat keakraban mereka yang begitu tampak mengumbar seolah tengah dipamerkan. Yang seketika melemaskan kedua bahu Soo Rin.

Kenapa aku merasa tidak senang melihat mereka seperti itu? batinnya mengeluh. Bodoh, itu namanya cemburu. Bodoh, kini batinnya merutuk.

Soo Rin tercenung. Apa? Aku cemburu?

Tiba-tiba, Soo Rin merasa sesuatu yang panas menjalar ke wajahnya. Menyadari perasaan yang mengganjal aneh di benaknya sejak tadi. Lebih tepatnya, sejak kemarin. Jadi, dia cemburu?

Soo Rin menggeleng cepat, mencoba menepis segala pikiran anehnya. Tapi memang tak dapat dipungkiri bahwa dia memang seperti itu. Dia benar-benar menyadarinya kini. Park Soo Rin, kau benar-benar cemburu terhadap gadis bernama Sae Hee itu!

“Akh!!”

Soo Rin berjengit mendengar seruan ketika dirinya berbalik mencoba untuk melangkah. Sekaligus mendapati seseorang yang berseru itu sudah berdiri di hadapannya. Dan ia melihat orang itu tampak menutupi sesuatu di tangannya. Gelas?

Fiuh! Hampir saja aku melakukannya lagi,” gumam orang itu sambil mendesah lega. Lalu menampakkan senyum manis yang selalu memberikan kesan bahwa pemilik senyuman itu tampak lebih muda dari usianya. “Maaf, Sunbae. Apakah Sunbae tidak apa-apa?”

Soo Rin mulai mengerjap sadar begitu mendengar pertanyaan yang terlontar dari orang di hadapannya kini. Kim Jong Dae. Tapi Soo Rin tidak langsung menjawab. Justru dia tampak mulai merenung.

Sunbae?” Jong Dae sedikit membungkukkan tubuhnya yang memang lebih tinggi dari Soo Rin. Mengibaskan sebelah tangannya yang sempat digunakan untuk menutup mulut gelas minuman yang dibawanya, ke depan wajah Soo Rin. Membuat gadis itu sedikit tersentak hingga kembali mengerjap.

“Ah, iya. Aku tidak apa-apa. Maaf aku tidak memperhatikan jalan.” Soo Rin menjawab dengan suara kecilnya.

“Ah, tidak. Ini karena aku terlalu mengkhawatirkan gelas minumanku sehingga tidak memperhatikan jalan.” Jong Dae terkekeh. “Apakah Sunbae sendirian?”

“Eh? Eung… iya…” Soo Rin merenung lagi. Pikiran dan perasaannya sedang campur aduk saat ini. Hingga ia merasa tidak fokus saat ini.

“Apakah Sunbae sedang kurang sehat?” tanya Jong Dae dengan hati-hati. Lelaki ini tahu perubahan sikap Soo Rin. Jelas karena dia terlalu memperhatikan gadis di hadapannya ini.

Soo Rin menggelengkan kepala, mendengakkan kepala demi menatap Jong Dae, lalu mencoba untuk mengulas senyum. “Aku baik-baik saja. Terima kasih,” ucapnya.

Seketika Jong Dae bereaksi melihat senyum serta mendengar tutur kata Soo Rin. Jong Dae mulai merasa gugup, juga merasa senang.

“Soo Rin-ah!”

Soo Rin mulai mencari sumber panggilan itu berada. Lalu mendapati Ah Reum tengah melambaikan tangan kepadanya. Disusul Tae Yong dan Tae Min yang ikut menatapnya dan melakukan hal sama. Kemudian Ah Reum mengibaskan tangannya memberi isyarat kepada Soo Rin untuk mendekat dan bergabung.

“Apakah mereka teman-teman Sunbae?” tanya Jong Dae yang ikut menatap tiga serangkai itu.

“Um.” Soo Rin mengangguk. “Kalau begitu, aku permisi,” pamitnya kemudian.

“Ah, ne. Sampai bertemu lagi, Park Soo Rin Sunbae!” Jong Dae menampakkan cengirannya. Membuat Soo Rin mengembangkan senyumnya sebelum beranjak karena merasa senang melihat raut wajah cerah lelaki itu. Sepertinya Kim Jong Dae adalah lelaki yang murah senyum.

Sedangkan Jong Dae mengantar kepergian Soo Rin dengan tatapan binarnya. Dia merasa senang bisa bertemu lagi dengan senior yang tak sengaja ditabraknya kemarin. Ditambah perlakuan Soo Rin yang sudah mengobatinya, serta senyum yang begitu teduh di matanya membuat dirinya merasa bahwa gadis itu memiliki sikap yang hangat. Meski dari luar terlihat seperti tidak berekspresi dan acuh. Dan lagi…

“Dia begitu cantik,” gumam Jong Dae berbisik.

.

Oppa, kenapa tidak dimakan?” Sae Hee melirik Ki Bum dan makanannya bergantian. Lelaki di hadapannya ini belum menyentuh makanan pesanannya sama sekali. Dan ia baru menyadari bahwa lelaki itu tengah mengedarkan pandangan di belakangnya. Sae Hee mencoba mengikuti arah tatapan Ki Bum, benar saja dirinya langsung mendapatkan objek yang sudah pasti menjadi bahan tatapan lelaki itu.

Sae Hee mengehela napas dengan kasar. Kembali menatap Ki Bum yang masih tidak bergeming. Dengan gemas Sae Hee menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Ki Bum hingga lelaki itu tersadar dan menatapnya.

Oppa sedang bersamaku. Jadi jangan melirik gadis lain. Termasuk gadis itu!” cetusnya terdengar tandas sekaligus tersirat ketidaksukaan. “Lagipula gadis itu juga sedang tebar pesona dengan lelaki lain,” lanjutnya.

Don’t say a rude word, Sae Hee.” Ki Bum menatap datar Sae Hee.

I didn’t. But I said the truth.” Sae Hee mengelak.

No. You don’t know My Girl, Sae Hee.”

Sae Hee memutar bola matanya sambil mendengus kesal. Merasa tidak suka dengan pengakuan Ki Bum mengenai gadis yang baru saja dilihatnya itu. Dia tidak senang. Tidak senang dengan sikap Ki Bum jika sudah berubah dingin, juga tidak senang terhadap gadis itu.

Don’t make me down, Oppa. And I don’t like you to call me like that.

But that’s your name.

Yeah. But I don’t like the way you call me. Like that!” Sae Hee mulai geram.

Ki Bum menegakkan tubuhnya begitu tatapannya melihat gadis itu sudah menjauh dari junior itu. Tapi dia mulai memicing melihat siswa junior itu masih memandang gadis yang sudah berlalu itu. Melihat senyum yang terus merekah bersamaan dengan tatapan yang begitu berbinar, terlihat sekali bahwa siswa junior itu… mulai tertarik terhadap gadisnya.

“Ayo makan.” Ki Bum meraih sumpit di hadapannya dan mulai menyantap makanan pesanannya. Tanpa minat.

Sae Hee mengela napas dengan kesal lagi. Kembali menyantap makanannya. Mulai tak berminat. Batinnya menggerutu, gadis itu benar-benar membuat suasana hangat di antara mereka menjadi menyebalkan seperti ini dengan begitu mudah.

Dan Sae Hee benar-benar mulai tidak menyukai gadis itu.

****

Soo Rin baru saja mengganti pakaian olahraga dan hendak menyimpan seragamnya ke dalam loker. Tak disangka, dia dicegat oleh seseorang yang cukup dikenalnya. Lebih tepatnya, dia bertemu dengan orang itu begitu keluar dari lorong ruang ganti. Soo Rin cukup terkejut mendapati Sae Hee yang tengah ditemuinya. Sempat dirinya melihat gadis itu bersandar di tembok seolah tengah menunggunya dan segera menghalanginya begitu datang. Tidak akan aneh jika mereka bisa bertemu karena Soo Rin memilih untuk mengganti pakaian di toilet lantai bawah.

“Park Soo Rin-sshi,” sapa Sae Hee dengan mengembangkan senyum. Entah itu bisa disebut dengan senyuman atau bukan. “Ah, maksudku, Park Soo Rin Sunbae. Maaf,” lanjutnya meralat.

“Ada apa?” Soo Rin membalas dengan lamat-lamat. Dirinya mulai merasa aneh dengan gelagat Sae Hee yang dengan tumbennya mau menemuinya. Padahal selama ini dia selalu menempel dengan Ki Bum sejak menjadi murid di sekolah ini.

“Aku ingin bicara denganmu. Selama ini aku hanya melihatmu dari kejauhan atau sekedar bertemu muka tanpa saling menyapa jika sedang bersama Ki Bum Oppa.” Sae Hee kembali menampakkan senyumnya. “Kau masih memiliki waktu luang, ‘kan? Ah, aku tahu bel masuk masih lama akan berdering. Kurasa aku memiliki waktu yang cukup untuk mengutarakannya padamu.”

Soo Rin mengernyit bingung mendengar kalimat terakhir Sae Hee. Mengutarakan? Mengutarakan apa? Dan Soo Rin semakin merasa tidak nyaman begitu gadis di hadapannya ini mulai menampakkan senyum miringnya. Ditambah tatapan itu sudah tidak terlihat ramah lagi.

“Aku tahu dan sangat mengerti mengenai statusmu yang merupakan kekasih dari Ki Bum Oppa. Tapi, perlu kau ketahui bahwa aku yang terlebih dahulu mengenal Ki Bum Oppa. Dan aku yang lebih lama bersamanya.”

“Maksud—mu?” Soo Rin kembali bertanya lamat-lamat. Meski dia belum begitu menangkap maksud perkataan Sae Hee, dia sudah merasa tidak nyaman dengan perlakuan gadis di hadapannya ini.

Sae Hee mendengus geli. Senior di hadapannya ini ternyata tidak patut untuk ditakuti sebagaimana senior-senior yang selama ini selalu dia dengar. Atau mungkin hanya senior ini yang tidak bisa bertingkah seperti senior kebanyakan. Terlihat sekali dari gelagatnya. Dan ini semakin membuat dirinya percaya diri untuk melanjutkan aksinya.

Well, aku hanya ingin mengatakan… aku ingin Sunbae menjaga jarak darinya. Apakah Sunbae tahu? Ki Bum Oppa terlalu memperhatikanmu hingga dirinya melupakanku. Dan aku tidak suka jika milikku mulai terambil alih alias direbut oleh orang lain. Padahal akulah yang sudah mendapatkannya terlebih dahulu.” Sae Hee mulai menampakkan raut tidak suka. “Jadi, aku ingin Sunbae tidak terlalu dekat dengan Ki Bum Oppa. Bisa dikatakan, Sunbae sudah terlalu jauh dan lancang hingga berhasil membuat Ki Bum Oppa hampir sepenuhnya beralih padamu. Hingga akhirnya melupakan aku yang selalu berada di dekatnya. Well, akan lebih bagus lagi jika Sunbae memilih untuk benar-benar menjauh darinya. Mengerti maksudku, ‘kan?”

Soo Rin seolah baru saja terhantam. Sebelah tangannya yang memegang seragam sekolahnya tampak mengerat hingga meremas seragamnya. Jantungnya berdetak kencang, tak tenang. Dia berhasil mencernanya. Mencerna segala tutur kata Sae Hee yang begitu memojokkannya. Dengan begitu lihai dan mudah.

“Memangnya kau siapa?” Soo Rin membalas dengan datar. Sedatar mungkin. Mencoba untuk tidak menunjukkan keguncangannya. “Setahuku kau baru dekat dengan Kim Ki Bum sejak menjadi murid di sini. Tidak lebih,” lanjutnya. Meski sebenarnya dia sudah merasa bahwa mereka sudah saling mengenal sejak lama.

Sae Hee terkekeh dengan anggun. Merasa geli dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Soo Rin. Gadis di hadapannya ini memang tidak tahu, ternyata.

Well, bisa dikatakan bahwa aku dan Ki Bum Oppa adalah Soulmate. Apakah Sunbae mengerti Soulmate? Lebih jelasnya adalah, aku bagian dari Ki Bum Oppa dan Ki Bum Oppa adalah bagian dariku. Dan lebih mudahnya adalah, belahan jiwa?” Sae Hee seolah ragu mengucapkan dua kata terakhir. Dan ia mulai melebarkan senyum kepuasan begitu melirik gadis di hadapannya sekarang sudah menampakkan reaksi terkejutnya. “Jadi, Sunbae, aku berharap Sunbae tidak merebut Kim Ki Bum-ku. Karena jelas, Kim Ki Bum adalah milikku.”

Soo Rin mencelos mendengar kata kepemilikan itu. Kini kedua tangannya mengepal demi menahan gejolak yang mulai mendesak hingga menyesakkan benaknya. Apakah semua itu benar? Apakah semua perkataan Sae Hee memang benar? Jika memang benar, itu benar-benar menyesakkan baginya. Ditambah, Ki Bum tidak pernah mengatakan apapun padanya mengenai hubungan mereka. Lalu untuk apa dirinya menjadi kekasih Kim Ki Bum jika Sae Hee adalah milik lelaki itu?

Soo Rin mulai gamang.

“Kurasa sudah cukup. Aku harus segera ke kelas. Terima kasih atas waktunya, Park Soo Rin Sunbae.” Sae Hee mengembangkan senyum kepuasannya begitu berbalik dan melangkah menjauh. Meninggalkan Soo Rin yang masih mematung di tempat dengan ekspresi kakunya.

Siapa sebenarnya Sae Hee itu? Kenapa bisa dengan mudahnya membuat Soo Rin merenung seperti sekarang ini? Mengingat segala perkataan Sae Hee… apakah, Sae Hee merupakan kekasih Ki Bum dulu? Ataukah cinta pertama Kim Ki Bum?

Soo Rin terhenyak dalam diam. Menyadari sesuatu. Bahwa Ki Bum tidak pernah menceritakan masa lalunya kepada Soo Rin. Bahkan Ki Bum tidak pernah menceritakan soal keluarganya. Dia hanya sempat bertemu ibunya dan itu tidak dapat dijadikan tolak ukur mengenai keluarganya. Dia juga hanya sekedar mengetahui bahwa Ki Bum memiliki saudara sepupu seorang artis bernama Ye Sung, dan itu juga tidak bisa dijadikan tolak ukur mengenai status keluarga lelaki itu yang sebenarnya. Astaga, bagaimana bisa Soo Rin baru menyadari bahwa Ki Bum begitu tertutup?

“Soo Rin Sunbae?”

Soo Rin terlonjak kaget begitu mendengar sebuah suara memanggilnya. Ditambah pemilik suara itu sudah berdiri di hadapannya sekarang. Sedikit membungkuk demi melihat wajahnya.

Sunbae, kenapa melamun di sini?” Jong Dae tampak heran melihat raut wajah Soo Rin yang seolah baru saja disengat listrik tegangan rendah. “Apakah Sunbae merasa tidak enak badan?” tanyanya berhati-hati.

“Tidak… aku tidak apa-apa.” Soo Rin melirih. “Aku harus segera ke lapangan,” lanjutnya pamit.

Jong Dae mengantar kepergian Soo Rin dengan tatapan herannya. Ada apa dengan gadis itu? Dia sempat melihat Sae Hee beranjak dari lorong ini dengan sumringah hingga terpaksa dirinya melirik kemari. Dan mendapati Soo Rin sudah berdiri kaku di sini, tadi. Apakah, Soo Rin dan Sae Hee baru saja saling bertemu.

Entah mengapa, melihat raut wajah Soo Rin yang seperti itu seketika membuat Jong Dae khawatir.

****

:: Neul Paran’s Library

Tampak Soo Rin tengah menekuri rak yang berisikan bacaan fiksi di hadapannya kini. Sebelah tangannya mengabsen deretan buku-buku tebal itu tanpa minat. Padahal dia berharap dengan mendatangi tempat ini dirinya akan merasa terhibur. Ternyata, buku-buku bacaan fiksi di hadapannya kini tidak ada yang menarik di matanya saat ini. Soo Rin menghela napas panjang nan beratnya. Ternyata ini bukanlah pelarian yang tepat.

Pikirannya kembali berputar di saat pertemuannya dengan Sae Hee di pagi itu, beberapa hari lalu. Mengingat segala pernyataan gadis itu, ditambah kedekatan mereka yang semakin tampak membuatnya semakin merasa sesak. Dia akui sekarang, dia cemburu terhadap Sae Hee. Bagaimana bisa gadis junior itu dengan mudah masuk ke wilayah dirinya dan Ki Bum? Bahkan Ki Bum juga menerima sekaligus meladeninya tanpa beban. Terlihat sekali dari perlakuan lelaki itu. Dan Ki Bum mulai tampak lebih condong pada Sae Hee dibandingkan padanya. Yang justru semakin membuatnya ciut untuk mencoba lebih mendekat. Yang benar saja, hanya dalam waktu singkat, gadis itu berhasil menyita segala perhatian Ki Bum?

Apa yang harus Soo Rin lakukan? Dia tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Apakah dia hanya diam saja melihat lelakinya diambil secara perlahan darinya? Sebagaimana dulu dirinya membiarkan Kim Ryeo Wook bersama Seo Ji Hyun? Tanpa perlawanan apapun?

Aku rasa, aku tidak bisa melakukan hal yang sama, batin Soo Rin meringis.

Sunbae?”

Soo Rin terentak kaget begitu merasakan tepukan lembut di pundaknya. Segeralah ia menoleh hingga mendapati Jong Dae sudah berdiri di sampingnya. Memandangnya dengan raut melongo sekaligus khawatir. Khawatir?

“Aku sudah memanggil Sunbae beberapa kali tetapi tidak disahut. Sunbae melamun lagi?” Jong Dae sedikit memiringkan kepalanya. Terheran. “Sunbae, kenapa Sunbae selalu melamun? Apakah Sunbae sedang ada masalah? Ataukah Sunbae sedang tidak sehat?” tanyanya hati-hati.

“Ti-tidak… aku tidak apa-apa.” Soo Rin menundukkan pandangannya. Merasa malu karena tertangkap basah tengah melamun di tempat senyap seperti ini.

Sunbae, maaf jika aku lancang. Tapi, aku mengkhawatirkan Sunbae.”

Ne?” Soo Rin terpaksa mendengak. Barusan lelaki ini mengatakan apa? Mengkhawatirkannya?

Tanpa diduga, Jong Dae mengangkat sebelah tangannya dan meletakkan punggung tangannya tepat di kening berponi Soo Rin. Membuat sang empu terperangah hingga melebarkan kedua matanya. Apa yang sedang dilakukan lelaki ini?

“Apakah suhu tubuh Sunbae memang seperti ini? Sedikit hangat.” Jong Dae bergumam pelan. Namun seolah dirinya baru dibangunkan dari tidur singkatnya, Jong Dae segera melepas sentuhannya dari kening Soo Rin. Menyadari bahwa dirinya sudah membuat gadis di hadapannya ini terbengong-bengong. “Ma-maaf. Aku hanya bermaksud untuk memeriksa keadaan Sunbae.” Jong Dae mulai terlihat salah tingkah.

“Tidak apa-apa. Aku—aku tidak merasa sakit. Hanya sedang merasa jenuh dengan kegiatan kelas.” Soo Rin kembali menundukkan pandangannya. Bahkan ia sedikit mundur. Dia juga mulai salah tingkah. Menyadari bahwa hanya ada mereka berdua di bagian sini.

Sunbae, jika tidak keberatan, Sunbae bisa bercerita padaku. Mungkin saja aku bisa membantu, atau setidaknya sekedar meringankan beban Sunbae.” Jong Dae mengusap tengkuknya dan mencoba untuk tersenyum. “Aku… ingin mengenal Sunbae lebih dekat lagi. Boleh ‘kan?”

Soo Rin terpana mendengar perkataan Jong Dae. Ditatapnya lelaki itu dengan mata melebarnya. Melihat senyum teduh lelaki itu membuat dirinya sedikit merasa tenang. Meski dia merasa aneh dengan pernyataan ‘ingin mengenal lebih dekat’ dari lelaki itu, dia juga merasa senang karena masih ada orang yang mempedulikannya. Tanpa sadar, Soo Rin mengulas senyum yang seketika membuat Jong Dae berbalik terperangah.

“Terima kasih. Aku hargai itu, Jong Dae-sshi,” ucap Soo Rin dengan halus.

“A-aa… panggil saja aku Jong Dae, Sunbae…” Jong Dae menampakkan cengirannya demi menyembunyikan kegugupannya. Ya, dia mulai gugup begitu mendapatkan senyuman dan balasan dari gadis di hadapannya ini.

Soo Rin akhirnya mengangguk. Lalu berucap, “Sepertinya aku harus segera kembali ke kelas. Bel masuk akan segera berbunyi. Kau tidak kembali ke kelas?”

“Ah, iya. Setelah aku mendaftarkan buku-buku ini untuk kupinjam.” Jong Dae menunjukkan beberapa buku yang berada di pelukan sebelah tangannya. Yang segera dibalas dengan anggukan paham dari Soo Rin.

“Kalau begitu, aku pergi duluan,” pamit Soo Rin yang segera disambut oleh Jong Dae dengan sedikit menyingkir memberi jalan.

Begitu sosok Soo Rin hilang dari balik rak-rak yang menjulang tinggi. Jong Dae segera menghela napas dengan sangat panjang. Meredakan rasa gugup yang cukup membuatnya pengap sejak berhadapan dengan gadis itu. Sebelah tangannya yang sempat digunakan untuk menyentuh kening gadis itu ia angkat hingga sanggup untuk dipandanginya. Tanpa komando, senyum lebar merekah menghiasi wajahnya yang tampak begitu muda. Bahkan dia dapat merasakan debaran jantungnya yang sudah di atas normal.

“Sepertinya, aku menyukai Sunbae itu,” bisiknya pada diri sendiri.
.

Soo Rin melangkah menelusuri koridor lantai satu yang mulai sepi. Sekitar lima menit lagi bel tanda kegiatan belajar-mengajar kembali dimulai akan berbunyi. Sudah dipastikan seluruh murid telah kembali ke kelas dan menunggu bel dibunyikan. Soo Rin yang sedari tadi berjalan sambil menunduk kini mendengakkan kepalanya demi memastikan bahwa tangga sekolah sudah dekat, namun tak sengaja pandangannya mendapatkan seseorang tengah berjalan dari arah berlawanan menuju ke arahnya.

Dan Soo Rin menghentikan langkahnya tepat di dekat tangga yang akan dipijakinya. Begitu juga dengan Ki Bum yang ikut menghentikan langkahnya, tepat di hadapan Soo Rin.

“Kenapa belakangan ini kau berkeliaran sendirian?”

“Aku berkeliaran sendirian?”

“Kenapa kau terlihat sedang menghindariku?”

“Eh?” Soo Rin mengernyit. Tidak mengerti dengan pertanyaan lelaki ini. “Bukankah—bukankah justru kau yang sedang menghindariku?” Soo Rin mengatakannya dengan lamat-lamat.

Ki Bum menghela napas. Kali ini, dia tidak mengerti apa yang sedang gadis ini lakukan. Yang dia tahu, gadis ini selalu mencoba untuk tidak berada dalam pandangannya. Ditambah, gadis ini selalu terlihat sedang berbicara dengan siswa bernama Kim Jong Dae itu. Baru saja dirinya ingin kembali membuka mulut, tiba-tiba saja gadis ini menariknya menuju ke bawah tangga. Mengajaknya bersembunyi. Yang seketika membuat dirinya kebingungan. Apa lagi yang sedang dilakukan gadisnya ini?

Soo Rin yang sedang mencoba untuk menghindari tatapan Ki Bum secara tidak sengaja melirik ke belakang lelaki ini. Melihat sosok yang sudah membuatnya kembali menjadi gadis yang selalu melamun setiap saat baru saja keluar dari koridor tempat kantin sekolah berada. Menoleh ke arah mereka berada saat ini lalu melangkah ke tempat mereka sekarang. Sudah dipastikan bahwa gadis itu ingin mendekati Kim Ki Bum lagi.

Entah apa yang ada di pikiran Soo Rin sekarang. Dia hanya tidak mau melihat gadis itu bergelayut manja pada Kim Ki Bum, di depan matanya. Hingga tanpa sadar—secara reflek—Soo Rin meraih sebelah tangan Ki Bum dan menarik lelaki ini untuk beranjak. Dan entah mengapa dirinya memilih untuk mengajak lelaki ini bersembunyi, hingga akhirnya dia memilih untuk menarik lelaki ini ke bawah tangga yang masih memiliki ruang kosong. Segeralah Soo Rin masuk terlebih dahulu ke dalam ruang kosong yang sempit itu. Lalu menarik Ki Bum untuk ikut masuk. Hingga tanpa ia duga dan rencanakan, dia membuat lelaki ini mengurungnya.

Di sisi lain, Sae Hee melihat Ki Bum tengah berdiri membelakanginya. Sedikit kesal dengan lelaki itu karena meninggalkannya yang masih asyik menyantap makanannya. Sebenarnya Ki Bum sudah pamit untuk kembali ke kelas terlebih dahulu. Tapi memang dirinya saja yang tidak suka ditinggal sendiri. Sae Hee mulai mengernyit begitu menyadari bahwa Ki Bum tengah berhadapan dengan seorang gadis. Lalu tak lama Ki Bum tampak ditarik oleh gadis itu menuju tangga. Sontak saja Sae Hee mempercepat langkahnya demi melihat siapa yang sudah dengan beraninya membawa Ki Bum seperti itu. Meski sebenarnya dia tahu siapa.

Sae Hee mendesah kesal begitu dirinya tidak mendapatkan keberadaan mereka. Tak ada siapapun di sana. Membuatnya terheran, cepat sekali gadis itu membawa Ki Bum-nya kabur? Dan Sae Hee semakin kesal begitu bel masuk mulai berdering memenuhi seluruh penjuru sekolah ini. Mau tidak mau, Sae Hee merelakan Ki Bum-nya untuk kali ini dan kembali ke kelas.

Merasa di luar sana sudah senyap. Soo Rin akhirnya menghela napas lega. Batinnya mengucapkan rasa terima kasih terhadap bel sekolah yang telah menyelamatkannya. Seolah bel sekolah tengah berpihak kepadanya. Dan, ia mulai tersadar bahwa dirinya tidak bisa bergerak. Tubuh tegap di hadapannya kini sudah mengurungnya.

Tanpa gadis ini sadari, Ki Bum sedikit menyeringai melihat wajah itu mulai menampilkan ekspresi gugup. Sepertinya gadis ini mulai menyadari perbuatannya yang mengakibatkan berakhir seperti ini. Dan entah mengapa, Ki Bum mulai mengingat momen di mana dirinya juga melakukan hal yang sama ketika dirinya masih berstatus sebagai Penggemar Rahasia. Mengajak gadisnya ini bersembunyi di sisi rak sempit di perpustakaan ketika seseorang akan datang.

“W-waktu istirahat sudah berakhir. Sebaiknya, kita kembali ke kelas.” Soo Rin mencicit. Ia mencoba untuk menerobos kurungan lelaki ini. Namun ia harus dibuat kaku begitu tubuh tegap itu bergerak maju, mempersempit jarak.

“Jika aku tidak mau?” Ki Bum seolah tengah mengulang kejadian mereka dulu. Kini, dirinya merasa lebih leluasa untuk menahan gadisnya dibandingkan ketika bersembunyi di celah sempit di perpustakaan dulu. Ditambah dirinya yang menghimpit seolah lebih berkuasa.

Se—seonsaengnim akan menanyakan keberadaan kita jika tidak segera kembali…” Soo Rin mulai tergagap. Batinnya merutuki kebodohannya yang sudah melakukan hal yang berakhir dengan seperti ini. Hal yang berada di luar kendalinya. Dan sekarang, dia hanya mampu menelan saliva akibat perbuatannya ini.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa belakangan ini kau terlihat sedang menghindariku?”

“Bu-bukankah aku sudah menjawabnya?”

“Dan kenapa kau terlihat semakin dekat dengan siswa bernama Kim Jong Dae itu?”

Soo Rin memberanikan diri untuk menatap Ki Bum. Kedua matanya mengerjap tak paham. Tak paham dengan pertanyaan lelaki itu. “Aku—aku dekat dengannya sebagaimana aku dekat dengan Tae Yong dan Tae Min. Apakah ada yang salah?”

“Ada.”

Soo Rin mulai berdebar ketika kedua mata di balik kacamata itu mulai menajam. Seolah ingin menghunusnya ke dalam retina. Yang seketika membuat Soo Rin menahan napas.

“Apakah ini yang membuatmu menghindariku?”

Huh?”

“Apa kau menghindariku karena siswa junior itu?”

Ya, kau ini bicara apa?” Tiba-tiba saja Soo Rin tersinggung. Menyadari bahwa lelaki di hadapannya ini tengah memojokkannya. “Apakah aku terlihat seperti sedang beralih pada Kim Jong Dae?”

“Jangan sebut namanya di hadapanku.” Ki Bum mulai terlihat dingin. Kedua matanya sudah menajam di balik kacamatanya.

“Sebelumnya kau juga menyebut nama Kim Jong Dae di hadapanku. Lalu apa yang salah jika aku menyebut nama Kim Jong Dae?”

“Kubilang, jangan sebut namanya di hadapanku. Aku tidak suka kau menyebut namanya di hadapanku.”

“Kenapa? Apakah Kim Jong Dae sudah melakukan sesuatu padamu?”

“Park Soo Rin.” Ki Bum mendesis tajam. Merasa tidak suka gadisnya berkali-kali menyebut nama itu seolah tengah mengujinya. Sedangkan Soo Rin segera bungkam begitu mendengar geraman halus begitu lelaki ini menyebut namanya. Seolah tengah menggertak.

“Sebaiknya kita kembali ke kelas. Kita sudah terlambat beberapa menit.” Soo Rin mencoba menerobos kurungan Ki Bum dan berhasil. Sesaat ia merasa lega begitu terbebas dari ruangan sempit dan pengap itu. Juga merasa lega dirinya berhasil memutus pembicaraan aneh di antara mereka dengan segera. Namun ia harus menahan napas lagi begitu sebelah tangannya dicekal. Siapa lagi jika bukan Ki Bum pelakunya.

“Jika aku menjawab ‘iya’, bahwa kau terlihat seperti sedang beralih pada lelaki itu, apa kau akan menjawab dengan jujur? Bahwa kau memang seperti itu.”

Soo Rin segera menatap Ki Bum tak suka. Barusan lelaki itu bilang apa? Dirinya memang sedang beralih pada lelaki lain? Merasa semakin tersinggung, Soo Rin melepas cekalan Ki Bum dengan paksa. Meninggalkan rasa sedikit perih di pergelangan tangannya yang baru saja dicekal.

“Apakah selama ini kau menganggap bahwa aku seperti itu? Lalu bagaimana denganmu? Apakah karena aku selalu dekat dengan Kim Jong Dae maka kau semakin dekat pula dengan siswi bernama Sae Hee itu?”

Mwo?” Ki Bum sedikit terperangah begitu Soo Rin menyebut nama Sae Hee.

“Apa kau tidak menyadari bahwa selama ini kau juga terlihat seperti sedang beralih pada gadis bernama Sae Hee itu? Aku tidak tahu hubungan kalian yang pasti itu seperti apa. Tapi aku sedikit kecewa karena ternyata kau sudah mengenalnya sangat lama dan aku tidak mengetahui akan hal itu. Hingga aku terpaksa mengetahuinya dari mulut Sae Hee sendiri.” Soo Rin mulai merasa sesak begitu segala tutur kata Sae Hee kembali berputar di otaknya. Hingga membuat kedua tangannya mengepal. Dan dengan suara yang mulai tersendat, Soo Rin melanjutkan, “Aku juga bodoh karena baru menyadari bahwa aku tidak mengetahui masa lalumu. Bagaimana bisa aku dengan mudahnya menerimamu tanpa mengetahui seluk beluk mengenai dirimu? Sekarang, sepertinya masa lalumu sudah kembali dan kini kau sedang mencoba untuk meraihnya lagi.”

Ki Bum menatap datar gadis di hadapannya kini. Sebenarnya di balik tatapan datar itu, dia sedang menahan gejolaknya untuk tidak menerkam gadis ini. Membiarkan gadis ini melontarkan semua pemikirannya, mencoba mendapatkan segala yang sedang berada di pikiran gadisnya yang selama ini tidak dimengerti. Dan sekarang, terjawab sudah. Gadis ini ternyata… benar-benar—

Soo Rin membuang napas dengan kasar. Mencoba untuk melonggarkan dadanya yang sedari tadi terasa begitu sesak. Menggigit bibir bawahnya agar tidak menyeruakkan sesuatu di pelupuk mata. Tidak boleh. Dia tidak boleh menunjukkan bahwa dirinya begitu cengeng.

“Aku ingin kembali ke kelas. Ini sudah sangat terlambat.” Soo Rin mulai melirih. Tidak ingin menunjukkan dengan gamblang bahwa dia mulai bergetar. Dengan segera ia berlari menuju ke lantai atas. Meninggalkan Ki Bum begitu saja.

Sedangkan Ki Bum tidak berniat untuk mengejar. Lebih tepatnya, dia menyadari bahwa itu merupakan tindakan gegabah. Menghela napas dengan kasar, Ki Bum menepuk keningnya frustasi. Lalu menjambak rambutnya dengan gemas. Dia tidak menyangka akan berujung seperti ini. Seharusnya dia juga menyadari kelakuannya sendiri. Tapi karena terlalu fokus dengan kedekatan gadisnya bersama Kim Jong Dae itu, Ki Bum tidak menyadari kesalahannya sendiri.

Tak sengaja matanya melirik ke pergelangan tangannya. Menurunkannya sehingga terpampanglah pemandangan yang menghiasi pergelangan tangannya. Gelang berbandul kunci pemberian gadisnya. Dan ia semakin merasa geram dengan dirinya sendiri. Tangan berhias gelang sederhana itu mengepal.

Bagaimana bisa ia tidak menyadari bahwa dirinya telah membuka ruangan pribadi mereka?

****

Sejak perdebatan aneh itu. Soo Rin benar-benar menjaga jarak dari Ki Bum. Dia selalu dengan segera meninggalkan kelas begitu waktu istirahat dimulai maupun pulang sekolah. Bahkan hampir setiap hari dia datang di waktu hampir bel masuk akan berbunyi. Soo Rin lebih memilih untuk berkumpul dengan ketiga temannya atau mendekam diri di perpustakaan di saat yang lainnya disibukkan oleh tugas kelas masing-masing. Memang sejak menjadi murid tingkat akhir, segala macam mata pelajaran selalu menelurkan tugas yang memaksa para murid untuk selalu membuka buku hingga harus menghabiskan waktu untuk mengurung diri di ruangan penuh buku itu.

Bahkan dirinya harus menyaksikan kelakuan Sae Hee yang hampir di tiap waktu istirahat hingga pulang sekolah, mondar-mandir ke kelasnya demi menemui Ki Bum. Yang langsung saja mendapatkan banyak perhatian dari seluruh murid kelas 2-3, bahkan sampai murid seangkatan mengenai perlakuannya yang tergolong agresif. Bagaimana bisa siswi baru—siswi kelas satu itu menempel dengan Kim Ki Bum, dengan begitu mudahnya? Bahkan Kim Ki Bum sendiri begitu meladeninya. Dengan sangat mudah pula. Sebenarnya apa yang sudah gadis ini lakukan hingga membuat seorang Kim Ki Bum dengan mudah menerimanya? Apakah dia memiliki ilmu sihir yang dapat membuat Jenius Peringkat Satu berhati dingin itu berubah menjadi luluh padanya?

Lalu bagaimana dengan nasib Soo Rin yang berstatus sebagai kekasih lelaki itu? Mereka mulai bertanya-tanya. Dilihat dari gelagat Soo Rin yang terlihat selalu menghindari lelaki itu, juga dilihat dari dua sejoli itu yang sudah tak tampak selalu bersama sejak kedatangan siswi baru itu, membuat mereka mengambil kesimpulan bahwa, Kim Ki Bum dan Park Soo Rin sudah berpisah.

Secepat itukah? Padahal hubungan mereka belum menginjak umur satu tahun. Dan lagi, mereka berada di kelas yang sama. Bahkan duduk di barisan yang sama, depan dan belakang, berdekatan. Tidakkah hal itu begitu disayangkan? Mereka pun mulai berpikir bahwa penyebab berpisahnya mereka adalah gadis baru bernama Sae Hee itu. Sepertinya gadis itu memang memiliki sihir yang mampu membuat seorang Kim Ki Bum berpaling padanya.

Namun mereka juga mendapatkan topik lain yang mengatakan bahwa Soo Rin juga tengah dekat dengan siswa kelas satu bernama Kim Jong Dae. Beredar bahwa mereka mulai saling mengenal hingga dekat akibat kejadian di mana Jong Dae tak sengaja menabrak Soo Rin dan menumpahkan minuman ke seragam gadis itu, lalu mereka pergi ke Ruang Kesehatan bersama. Yang langsung saja membuat mereka berpikir, apakah Soo Rin sedang melakukan pelarian dengan menjadikan siswa baru itu sebagai objek pelariannya?

BRAK

Aishi! Bagaimana bisa mereka dengan seenak jidatnya mengatakan bahwa kau tengah melakukan pelarian, huh?!” Ah Reum mengumpat sengit dengan sebelah tangannya yang sudah mengepal menggebrak meja kantin. “Kau tahu, telingaku terasa sangat panas mendengar segala ocehan mereka yang omong kosong itu setiap melewati koridor,” sungutnya.

Yaa, kau ini perempuan tapi cara bicaramu sudah seperti preman.” Tae Min menggerutu. Gebrakan Ah Reum telah membuat sedikit minumannya yang masih penuh meloncat tumpah. Ditambah telinganya terasa panas mendengar umpatan gadis itu.

Aishi, aku tidak habis pikir. Imajinasi mereka sudah terlalu jauh hingga harus ikut menyalahkanmu. Yaa! Mereka terlalu banyak menonton drama hingga berpikiran melenceng seperti itu!! Haishi, benar-benar!” Ah Reum kembali menumpahkan umpatannya.

“Tapi, apa benar kau memang sedang dekat dengan siswa junior bernama Kim Jong Dae itu?” Tae Yong yang sedari tadi menyeruput minumannya mulai membuka suara.

“Aku hanya dekat sebagaimana aku dekat denganmu dan Tae Min,” jawab Soo Rin dengan nada mengeluh. Sedari tadi dirinya hanya mengaduk-aduk minumannya tanpa berniat ingin diminumnya. Memang seperti itu yang dia rasakan. Tidak lebih. “Tapi kenapa mereka memandang seperti itu?” keluhnya lagi.

“Itu karena kalian terlalu dekat. Lebih tepatnya, Kim Jong Dae itu selalu mendekatimu. Apakah kau tidak menyadarinya?” tanya Ah Reum yang membuat Soo Rin mengernyit bingung.

“Mendekati? Sepertinya kita memang selalu bertemu secara tidak sengaja.” Soo Rin tampak berpikir. Sedangkan Ah Reum harus memutar bola matanya mendengar jawaban dari gadis itu.

“Tapi apakah kau tidak merasa aneh jika kalian selalu bertemu secara tidak sengaja? Bahkan sesekali kau mengobrol lama dengannya.” Tae Yong berpendapat. “Ya, Soo Rin-ah, aku selalu melihat Kim Jong Dae itu mengikutimu. Dia juga selalu terlihat sedang mencari-cari. Entah mengapa instingku mengatakan bahwa dia sedang mencarimu,” lanjutnya.

Maja (Benar)! Aku juga hampir selalu melihat Kim Jong Dae itu berusaha mendekatimu. Karena itu kalian selalu bertemu. Mungkin bagimu kalian bertemu secara tidak sengaja. Tapi bagaimana jika memang dia yang merencanakan ingin bertemu denganmu?” tambah Ah Reum.

Eii, bagaimana bisa kau tidak menyadarinya?” gerutu Tae Min begitu melihat ekspresi kebingungan dari Soo Rin. Gadis ini benar-benar tidak peka, pikirnya.

“Tapi, Soo Rin-ah, kau tidak berpisah dengan Kim Ki Bum, ‘kan?” tanya Tae Yong lamat-lamat. Seketika membuat Ah Reum dan Tae Min bergerak merapat seperti yang dia lakukan.

Sedangkan Soo Rin harus menunduk tercenung dengan pertanyaan Tae Yong. Jangankan mereka, dia sendiri juga tidak tahu hubungannya dengan Kim Ki Bum sudah bagaimana. Ibaratkan sebuah kata dan kalimat, hubungan mereka mulai ambigu sekarang. Menggantung. Bahkan mungkin semu. Mendekati tak tampak. Entah dirinya harus menganggap hubungan ini seperti apa. Ditambah Ki Bum sepertinya sudah tidak peduli dengan perlakuannya yang terlihat sekali tengah menghindar. Mungkin, Ki Bum sudah jenuh terhadapnya… juga bosan.

“Aku rasa… sudah…” gumam Soo Rin dengan suara yang sangat kecil.

Sedangkan ketiga temannya itu mulai saling pandang. Tertegun.

.

-つづく


itu To Be Continued ya hehet!

kisukisubalik lagiiii~ adakah yang menunggu part.2nya? #krikrik heu.. maaf ya kalo makin aneh.. heheh ㅜ w ㅜ

Sepertinya aku tidak bisa kalo ngepost 10 hari sekali selama bulan puasa ini. Rasanya lama banget ya.. sedangkan tangan udah gatel banget pengen ngepost bahahahaha

Mungkin selang seminggu cukup ya xD Jadi, part.3nya minggu depan yaa~ Tenang, selama seminggu aku bakal tebarin spoiler sehari sekali di fb huehehehehe >< #krikriklagi (?)

sedikit kisikisi #halah, part.3 sepertinya ngga ada seneng-senengnya(?) dulu ya hahahahahahahahahaha /ditendang Kibum/?

Oke! Udah bingung mau ngomong apa xD Terima kasih sudah mampir~ SWING!! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

23 thoughts on “Keep In Touch – Part 2

  1. akhirnya part 2 terbit juga, kenapa sae hee slalu nempel sama kibum sih, kan kasian soo rinnya. dan lagi jong dae suka sama soo rin,.smoga part slanjutnya makin mendebarkan, hehe 😀

  2. ahh jinjja jinjja jinjja! knpa kibum jd kaya gtu thor? knpa dgan mudahnya ngabaikan soorin hny krn sae hee dtang? brhrap jong dae mampu mnghbur soorin /^\
    ah! ya! smkin suka sma sikap soorin yg ngluarin uneg”(?)ny sma kibum tadi. tpi skap lamat”ny it sdkit mgganggu T^T
    oya! sma kya kata author, dpart ini jga krang greget! msh bnyak tnda tanya 😮
    tpi untk sgala macm pnulisan, pmilihan kata, dll ku acungin jempol. degaga typo 😀
    next part dtgguuuuuu ><

    1. jinjja jinjjaa~ aku bingung kudu ngebales komenanmu gimana hahahah xD apalagi di part.3 nanti heu~ gatau deh greget atau ngga ㅠ hehet makasih banyak ya untuk waktu luangnya mampir ke sini, plus komenannya heu.. terharu ><

  3. sae hee itu sebenernya siapa sie jd sebel liatnya yg selalu nempel sama kibum
    jangan sampe soorin sma kibum pisah soorin kan baru merasakanbahagia dlm cinta

  4. Ki bum yg tegas dong! Ga tega sy klo soo rin di giniin huhuhu itu si sea hee siapa dia? Gau tau diri tuh orang. Pengen jambak rambutnya masa.. Ish!!!

  5. aish aku ketinggalaaan…
    gak apa apa lah soorin kim jongdae juga imut kok, terus aja buat kibum nya cemburu.
    ( aku puas) hehee.
    okey next chap nya d tunggu dgn rating yg semakin bertabah *muehehehe

  6. Hanya perlu penjelasan ki bum ke soorin sebenernya hubungan ki bum dan sae hee itu apa..

    Asshh jong dae sepertinya gencar bgt buat deketin soo rin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s