Posted in Chaptered, KiSoo FF "Keep In Touch", Romance, School Life, Teen

Keep In Touch – Part 1

Genre: School Life, (Absurd) Romance
Rated: Teen (rating bisa berubah #plak-__-)
Length: Mini Chaptered
Kim Ki Bum || Park Soo Rin
Sae Hee || Jong Dae KITcover

This story comes from my absurd imagination~ hehet! Casts are belongs to God, also the story but comes to my head (?) //what am I talking about?-_-// Okay! Let’s have a good time, together! 기대해도 좋아 let’s go!! Enjoy~^^

Mari bermual ria lagi~ #ngek

ㅡㅡ

:: Incheon International Airport – Incheon-shi, Jung-gu, Unseo-dong 2850 (08:24 KST)

 

Daddy, I just arrived. Where are you now, Dad?

Seorang gadis cantik berpakaian begitu modis serta mengenakan kacamata hitam baru saja keluar dari pintu terminal kedatangan internasional. Sebelah tangannya tampak memegangi ponsel keluaran terbaru negeri ini dan tengah menghubungi seseorang.

Oh, Dad! Why don’t you come to pick me up?!” gadis itu tampak menghentikan langkahnya setelah menghentakkan sebelah kakiknya dengan kesal. “I don’t need a driver! I just need my family to pick me up, Daddy!” gerutunya. Lalu mendesah kesal begitu mendengar balasan dari seberang telepon. “Okay, but don’t blame me if I don’t immediately go home after this,” lanjutnya tampak menggertak sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.

Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju seorang supir yang cukup dikenalinya. Ternyata ayahnya masih saja memperkerjakan supir tersebut setelah pindah ke Negara ini. Tapi pada kenyataannya supir tersebut memang sangat dipercaya.

“Selamat datang, Nona. Barang-barang bawaan Nona sudah saya masukkan ke dalam bagasi. Silahkan masuk,” sambut supir itu sambil membukakan pintu penumpang mobil mewah yang sedari tadi sudah terparkir.

Gadis itu melepas kacamata hitamnya. Dengan malas, ia masuk ke dalam mobil. Mood-nya sudah turun setelah percakapan singkat dengan ayahnya di telepon. Yang benar saja, dirinya sudah mengharapkan akan disambut oleh salah satu anggota keluarganya—atau akan lebih menyenangkan jika seluruh keluarganya—begitu dirinya menginjakkan kaki di negeri ini. Tapi kenyataannya, ayahnya lebih memilih untuk menurunkan supir kepercayaan beliau untuk menjemputnya. Menyebalkan.

Segeralah sang supir masuk ke kursi kemudi setelah menutup pintu penumpangnya. Lalu melaju meninggalkan bandara.

Musim semi masih berlanjut. Udara Kota Metropolitan ini telah menghangat setelah lepas dari musim bersalju. Bunga-bunga maupun tumbuhan lainnya telah bermekaran kembali setelah menguncup bahkan menggugur. Taman-taman kota, tanaman umum di tepi jalan besar, bahkan daerah subur lainnya telah kembali menghijau. Memberikan kesan yang begitu indah dan sangat menyejukkan bagi siapa saja yang menikmatinya. Seperti inilah musim bunga.

Hanya saja, gadis yang duduk di kursi penumpang saat ini tidak tampak tengah menikmati keindahan kota di musim bunga kini. Auranya terlihat mengeruh, mengingat percakapan singkat bersama ayahnya melalui telepon tadi. Hanya sebuah tatapan kosong yang memandang jalanan kota ini melalui kaca jendela mobil.

“Song Ahjusshi,” panggil sang gadis dengan logat Koreanya yang masih begitu kental. Segeralah sang supir menoleh ke belakang sejenak demi merespon panggilannya.

Ye?”

“Aku tidak ingin langsung pulang.”

Ye?! Tapi—”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat,” gadis itu tampak bertopang dagu. Dia bosan. Dan sepertinya akan semakin bosan jika sampai rumahnya untuk saat ini. Meski sebenarnya dia sudah merindukan keluarganya. “Ah, bagaimana dengan urusan sekolah baruku?” tanyanya begitu teringat sesuatu.

“Sudah beres sejak awal. Sebenarnya Nona sudah bisa bersekolah di sana di hari pertama sekolah beroperasi semester ini. Tapi kami sudah meminta izin pada pihak sekolah bahwa Nona akan bergabung sedikit terlambat.”

“Kalau begitu aku ingin bersekolah hari ini.”

“Tapi, Nona baru saja sampai. Sebaiknya Nona beristirahat dulu untuk hari ini.”

“Tidak. Aku ingin langsung ke sekolah,” gadis itu tampak tak terbantahkan. Sambil memandang jalanan kota lewat kaca jendela mobil di sebelahnya, sebuah senyum lebar segera menghiasi wajah cantiknya. Membayangkan sesuatu yang tiba-tiba saja melintas di pikirannya. “Aku ingin segera menemui Ki Bum Oppa.”

****

Pluk

Gadis itu sedikit tersentak hingga menghentikan kegiatan mencatatnya, merasakan sesuatu yang dipastikan sebuah buku tengah menepuk puncak kepalanya tiba-tiba. Langsung saja dirinya menoleh ke belakang lalu mulai memberenggut begitu melihat orang yang duduk di belakangnya adalah sang pelaku.

“Sudah waktunya istirahat. Kau tidak ingin mengisi perutmu?” sapa orang itu tanpa merasa bersalah.

“Nanti.” Soo Rin, gadis itu kembali menghadap ke depan lalu melanjutkan kegiatan mencatatnya yang sempat tertunda karena perilaku lelaki itu.

Tuk

Kini Soo Rin merasakan sebuah benda kaku tapi tidak keras baru saja menyentuh belakang kepalanya. Membuat Soo Rin terpaksa meremas pulpen yang tengah digunakannya demi menahan diri untuk tidak menyemprotkan protesnya hingga harus kembali menoleh ke belakang. Lalu kembali memfokuskan diri untuk mencatat materi yang baru tersalin setengahnya dari papan tulis.

Menahan diri untuk tidak melebarkan senyumannya, Ki Bum, lelaki itu kembali melakukan aksi jahilnya dengan kembali mengetuk kepala gadis itu dengan pulpennya.

Tuk

YA!!”

Misi berhasil. Gadis itu akhirnya menyemburkan protesnya.

“Jangan salin semua yang ada di papan tulis ke buku catatanmu,” tegur Ki Bum kemudian. Berusaha untuk tidak mempedulikan raut wajah Soo Rin yang sudah kesal akibat perlakuannya tadi.

“Aku bukan murid sepertimu yang dengan mudahnya mengerti hanya dengan melihat rumus!” gerutu Soo Rin sebelum kembali menghadap ke buku catatannya. Mencoba untuk berkonsentrasi lagi tapi lelaki itu mengusiknya lagi.

“Kalau begitu aku akan mengajarimu nanti.”

“Apa?!” Soo Rin terpaksa menoleh ke belakang lagi.

“Lakukan saja apa kata-kataku. Nanti aku akan menjelaskannya lebih detil dari yang Cha Seonsaengnim jelaskan tadi,” tanpa mempedulikan ekspresi melongo Soo Rin, Ki Bum bangkit dari duduknya lalu menempatkan diri di sisi meja Soo Rin. Meletakkan buku catatannya di atas buku catatan Soo Rin lalu menutup lembarannya hingga tertumpuk rapih. Dan merebut pulpen gadis itu lalu meletakkannya. “Salin catatanku nanti. Sekarang, makan!” kini Ki Bum meraih lengan Soo Rin.

Seolah perkataan lelaki itu tak terbantahkan, mau tidak mau Soo Rin bangkit dari duduknya. Membiarkan lelaki ini menarik pergelangan tangannya. Keluar dari kelas.

Ish, sejak kapan kau menjadi diktator seperti ini?” gumam Soo Rin menggerutu.

“Sejak kau berada di dekatku,” jawab Ki Bum kalem. Membuat gadis itu mendengus sebal mendengarnya, dan juga mulai salah tingkah. Sedangkan Ki Bum harus mengulum senyum begitu melihat reaksi gadisnya ini.

“KI BUM OPPA!”

Sontak keduanya menghentikan langkah begitu mendengar seruan menggelegar di sepanjang koridor kelas 3. Tepat tak jauh dari hadapan mereka, berdiri seseorang yang jelas bukan murid tingkat akhir karena wajah yang masih sangat dini dan juga belum familiar. Tapi siapa yang menyangka jika Ki Bum begitu terkejut begitu menyadari siapa sosok yang berdiri di depan sana?

Belum sempat keterkejutan Ki Bum berakhir, sosok yang merupakan seorang gadis itu segera berlari mendekat lalu berhambur memeluk lelaki itu. Memberikan keterkejutan bagi Ki Bum hingga dirinya terpaksa mundur selangkah akibat dorongan gadis yang memeluknya. Secara terang-terangan. Bahkan gadis yang masih digandeng Ki Bum terpaksa melepas diri dan membuat jarak. Dia terkejut melihat adegan itu, tepat di depan mata.

Astaga, siapa gadis ini?!

Oppa, I miss you so much!

Ki Bum segera melepas pelukan gadis ini. Lalu menatap sosok di depannya ini dengan lekat dan masih dengan ekspresi terkejut, juga heran. “Sae Hee?” gumamnya tercekat.

Gadis itu semakin melebarkan senyumannya. Dengan gemulai kedua tangan lentiknya bergerak merengkuh wajah tegas Ki Bum. “Yup! Your Sae Hee is in front of you, now. Surprised?” jawabnya halus.

Ki Bum mendengus geli mendengar tutur kata gadis ini. Senyum manisnya mulai mengembang bersamaan kedua tangannya meraih tangan gadis ini dan melepas rengkuhannya. Lalu beralih mengusap puncak kepala gadis ini dengan gemas. “When did you come, huh? You didn’t tell me that you’ll come today! And what’s this? You wearing Neul Paran’s uniform?

Gadis itu semakin tampak sumringah. Sejenak dirinya menunduk memperhatikan penampilannya sendiri. “Well, I’ve been a part of this school now,” jawabnya dengan santai.

What?” Ki Bum tampak terkejut lagi.

I’ve become a student of this school. And I’m going to schooling here from now!

Ki Bum semakin mengembangkan senyumnya. Dia benar-benar terkejut kali ini. Melihat ekspresi lelaki ini, jelas membuat gadis itu semakin senang.

Surprised—again?

Of course!!” Ki Bum segera menyambar. “Sae Hee, you’re really! You successfully made me very surprised!

“Kalau begitu, misiku berhasil dengan sangat mulus,” pungkas gadis itu yang kini menggunakan Bahasa Korea dengan fasih. Tak sengaja pandangannya beralih pada gadis yang sedari tadi mematung di sebelah Ki Bum. Mengangkat sebelah alisnya, lalu mulai memicing. “Oppa, who is she?”

Ki Bum beralih menatap Soo Rin yang masih betah berdiri di sebelahnya. Tiba-tiba saja dirinya merasa bersalah dengan gadis ini karena sempat tak menghiraukannya. Ki Bum segera meraih tangan Soo Rin dan menggenggamnya. Lalu menarik gadis itu semakin mendekat. Membuat sang empu tersentak kaget akibat sentuhannya.

She’s my girlfriend,” jawab Ki Bum dengan halus. Yang justru membuat Soo Rin berdesir karena pernyataannya. Dia memang tidak begitu menguasai Bahasa Inggris, tapi dia tahu pasti arti dari tiga kata yang termasuk dalam kata dasar yang diucapkan lelaki ini. Ditambah lelaki ini menyatakannya dengan begitu lugas dan sangat jelas di telinga Soo Rin.

Girlfriend?” ulang gadis bernama Sae Hee itu. Dengan kedua mata sipitnya yang mulai melebar.

Eum.” Ki Bum mengangguk dengan ringan. Lalu tatapannya kembali beralih pada Soo Rin. “Ah, Soo Rin-ah, dia adalah—”

Oppa!” Tiba-tiba Sae Hee memeluk sebelah lengan Ki Bum yang lain. Memaksakan Ki Bum untuk berhenti berbicara. “Maukah kau menemaniku untuk berkeliling sekolah ini? Aku baru saja sampai dan pastinya aku belum mengenal betul sekolah ini,” pintanya kemudian.

Ki Bum mulai melirik Soo Rin yang masih belum bersuara. Dia juga mulai dirundung bingung. Padahal rencana awal dirinya ingin mengajak gadisnya ini makan bersama. Tapi apakah dia harus merubah jalur menjadi menemani Sae Hee yang baru saja dia temui dan menjadi murid baru di sekolah ini?

Tiba-tiba, Soo Rin melepas genggaman Ki Bum dan sedikit mundur. Membuat Ki Bum sedikit terpana dengan perlakuannya. Memberanikan diri menatap Ki Bum, lalu mencoba memasang wajah sedatar mungkin. “Temani saja dia. Lagipula, sepertinya dia hanya mengenalmu di sekolah ini. Aku akan kembali ke kelas dan melanjutkan catatanku yang tertunda.”

Soo Rin segera berbalik dan menuju ke kelasnya sebelum Ki Bum membuka mulut. Sedangkan Ki Bum mulai kesulitan mengejar gadis itu karena Sae Hee segera menariknya.

Oppa, ayo!”

Tanpa Ki Bum ketahui, Sae Hee melirik kepergian gadis itu dengan senyum kepuasan.

ㅡㅡ

Soo Rin tampak terduduk di tempatnya tanpa melakukan apapun. Pandangannya kosong menatap buku-buku catatan yang masih tertumpuk di atas mejanya. Menatap tanpa minat. Sebenarnya dia tidak ada niat ingin melanjutkan kegiatan mencatatnya yang sempat tertunda. Lebih tepatnya, niatnya sudah menguap sejak sebelum dirinya masuk kembali ke dalam kelas. Pikirannya saat ini tengah melayang ke kejadian yang baru saja menimpanya.

Gadis yang baru saja dilihatnya tadi, memang tidak familiar. Meski Soo Rin tidak mengenal semua murid tiap angkatan di Neul Paran—bahkan seangkatannya pun dia tidak mengenal semua—ia tahu pasti bahwa gadis yang dengan lihainya mendekati Ki Bum tadi adalah murid baru. Entah murid tahun ajaran baru di sekolah ini atau murid baru yang berasal dari tingkatan kedua maupun ketiga, dia tidak yakin. Hanya saja yang membuat dirinya terkejut adalah perlakuan gadis itu yang seolah memang sudah kenal lama dengan Ki Bum, begitu juga dengan Ki Bum sendiri. Bahkan dengan mudahnya gadis itu memeluk Ki Bum, dan Ki Bum juga dengan mudah menyentuh gemas puncak kepalanya.

Sae Hee…

Soo Rin sempat mendengar Ki Bum menyebut nama gadis itu. Dan lagi, gadis itu menyebut dirinya adalah Sae Hae lelaki itu. Soo Rin memang tidak mengerti betul apa yang mereka katakan, tapi jelas dia tahu kata ‘your Sae Hee’ adalah kata kepemilikan.

Jadi, siapa gadis bernama Sae Hee itu?

Soo Rin menghela napas panjang. Dia mulai merasa ada yang aneh di benaknya. Tidak mungkin ‘kan dia sedang merasakan apa yang pernah dia rasakan ketika Ham Eun Jung berada di dekat Ki Bum dulu?

Mencoba untuk menepis perasaan anehnya, Soo Rin akhirnya kembali bangkit dari duduk lalu beranjak ke luar kelas. Mungkin dengan melepas dahaga dirinya juga akan dengan mudah melepas perasaan aneh di benaknya kini.

Soo Rin melangkah menuju kantin seorang diri. Sebelumnya ia sempat melirik ke dalam kelas Ah Reum namun tidak ditemukan sahabatnya itu di sana. Sepertinya gadis itu sudah berada di kantin bersama yang lain, pikirnya. Begitu gerbang kantin sudah terlihat, Soo Rin segera mempercepat langkahnya. Namun tanpa diduga, begitu langkahnya mulai memasuki area kantin, ia dikejutkan oleh seruan seseorang.

“AKH!!”

Bruk!

PRANG

Soo Rin terkejut bukan main. Seseorang baru saja menabraknya hingga menumpahkan minuman dingin ke jas seragamnya sebelum akhirnya terdengar bunyi dentingan pecahan. Gelas minuman dingin itu terjatuh di dekat kakinya. Mengakibatkan seluruh penghuni kantin segera beralih memandangnya.

Joeseonghamnida (Maafkan aku)!!”

Soo Rin melihat orang yang baru saja menabraknya langsung membungkuk meminta maaf padanya. Melakukannya beberapa kali sebelum kembali menegakkan tubuhnya menghadapi Soo Rin. Seketika Soo Rin dapat melihat raut wajah orang itu—yang ternyata seorang siswa—tampak begitu panik dan semakin kelabakan begitu melihat keadaannya yang sudah basah akibat tumpahan minuman.

“Astaga, aku benar-benar minta maaf!!” serunya sambil membungkuk lagi. Segeralah ia merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu menyerahkannya pada Soo Rin. “Tolong bersihkan dengan ini! Sungguh aku benar-benar minta maaf,” serunya lagi.

“A-aku tidak apa-apa.” Soo Rin akhirnya membuka mulut. Suaranya memang terdengar begitu kecil, tapi sukses membuat lelaki itu mendengakkan kepala dan menatapnya. Dilihat dari penampilan dan sikapnya, sepertinya lelaki ini merupakan murid baru angkatan pertama. Terlihat sekali kekhawatirannya akibat apa yang sudah terjadi.

“Tapi tolong terima ini dan tolong bersihkan dengan ini!” serunya lagi.

Dengan ragu, Soo Rin akhirnya menerima sapu tangan itu. Mengucapkan terima kasih dan kembali menunduk. Sungguh dia merasa malu saat ini. Jelas saja karena kejadian seperti ini tidak pernah terpikirkan sama sekali.

“Soo Rin-ah, kau tidak apa-apa? Omo! Seragammu basah!” Ah Reum baru saja menghampiri setelah melihat dari kejauhan ada kerumunan kecil di depan pintu masuk kantin dan matanya menangkap sosok gadis ini. Ah Reum beralih menatap lelaki di depannya kini. “Ya, apa yang sudah kau lakukan pada temanku?” serunya dibuat ketus.

“Maafkan aku!” lelaki itu segera membungkuk lagi. Dia tahu benar bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini adalah seniornya.

“Aku tidak apa-apa, Ah Reum-ah,” sergah Soo Rin sebelum sahabatnya ini kembali menyemprot marah. Pandangannya tak sengaja mengarah pada pecahan gelas yang sudah berkeping-keping di dekat kakinya. Ia pun berinisiatif dengan berjongkok dan mencoba untuk membersihkan pecahan-pecahannya.

“Ah! Tolong jangan lakukan itu!” lelaki itu segera ikut berjongkok dan sontak meraih tangan Soo Rin yang ingin menyentuh pecahan gelas itu. “Biarkan aku saja yang membersihkannya!” serunya lagi dan mulai bergerak membereskan setelah menyingkirkan tangan Soo Rin dengan halus.

“I-ini juga karenaku…”

“Tidak. Ini sepenuhnya salahku karena tidak berhati-hati. Jadi biarkan aku saja yang—akh!”

Soo Rin tertegun begitu mendengar rintihan lolos dari mulut lelaki ini dan mulai mengibas-kibaskan tangannya yang baru saja menyentuh pecahan gelas itu. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya mulai khawatir.

“Ah, iya. Hanya… sedikit tergores,” jawab lelaki itu sambil sesekali merintih.

Meski merasa ragu, Soo Rin memberanikan diri meraih tangan itu sebelum akan kembali menyentuh pecahan gelas, lalu memeriksanya. Tanpa dia sadari, lelaki itu tampak terkejut dengan perlakuannya. “Yaa, ada pecahan beling menancap di sini!” Soo Rin mulai panik begitu melihat serpihan mengilap menancap di jari telunjuk lelaki itu.

“Ti-tidak apa-apa. A-aku harus segera membersihkan ini,” lelaki itu segera menarik tangannya dari pegangan Soo Rin dan kembali membersihkan pecahan gelas yang masih berserakan. Entah Soo Rin menyadarinya atau tidak, lelaki ini mulai tergagap.

Soo Rin segera menyingkirkan tangan itu dengan hati-hati. Hingga kembali membuat lelaki itu tertegun dan kembali menatapnya. “Biar aku saja,” ujarnya langsung membereskan serpihan beling yang tersisa.

“Soo Rin-ah, hati-hati!” Ah Reum ikut berjongkok dan membantu membersihkan. Meminta Soo Rin untuk menyerahkan sisanya ke tangannya lalu membuang seluruhnya ke tempat sampah terdekat.

“Aku benar-benar meminta maaf!” lelaki itu kembali membungkuk. Membuat Soo Rin merasa semakin tidak enak dengan perlakuannya yang terlalu menghormati.

“Tidak apa-apa. Sepertinya kita harus mengganti rugi gelas itu kepada pemiliknya,” gumam Soo Rin tampak salah tingkah.

“Ah, benar juga! Haishi…” lelaki itu kembali panik hingga sebelah tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. Yang justru terlihat begitu lucu di mata Soo Rin.

“Tapi lebih baik obati dulu lukamu. Itu harus segera diambil.” Soo Rin melirik jari yang tertancap beling itu mulai mengeluarkan darah. Tanpa berpikir dua kali dan panjang, Soo Rin kembali meraih tangan itu. “Ayo ke Ruang Kesehatan,” ajaknya kemudian.

ㅡㅡ

:: Ruang Kesehatan

Gadis itu tampak serius mengarahkan pinset yang berujung cukup lancip serta sudah disterilkan pada jari telunjuk lelaki itu. Dengan sangat hati-hati diambilnya serpihan beling yang sangat kecil dan halus tersebut. Menimbulkan ringisan halus dari sang lelaki begitu serpihan itu berhasil diraih lalu dicabut.

Soo Rin, gadis itu segera beralih mengambil kapas lalu mencelupkannya ke dalam cairan alkohol antiseptik yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Menyekanya ke atas luka bekas tancapan beling tersebut. Yang seketika membuat lelaki itu kembali meringis karena perih.

“Maaf, aku akan lebih berhati-hati,” lirih Soo Rin sambil memperlambat gerakannya. Tanpa dia sadari, lelaki itu memandanginya dalam diam. Memperhatikan dengan seksama raut wajahnya yang begitu serius. Padahal, ini ‘kan hanya luka kecil… di jari telunjuk.

“Selesai!”

Lelaki itu sedikit tersentak mendengar seruan Soo Rin. Dia baru menyadari bahwa gadis ini sudah menutup luka kecilnya dengan sedikit perban. Menyadari bahwa sedari tadi dirinya melamun, dia mulai terlihat salah tingkah.

“Te-terima kasih,” ucapnya dengan sedikit gugup dan dengan begitu sopan.

“Tidak masalah,” balas Soo Rin sambil menampakkan senyum tipisnya. Yang justru memberikan efek lebih bagi lelaki itu. Tanpa menyadari reaksi tersebut, Soo Rin mulai membereskan peralatan obat yang sudah ia keluarkan.

S-Sunbae!”

Merasa terpanggil, Soo Rin menoleh kepada lelaki itu. Dan lelaki itu memanfaatkannya dengan melirik identitas Soo Rin di jas seragamnya yang sudah basah itu.

Aah, namanya Park Soo Rin, batinnya bergumam.

“Ada apa?”

Lelaki itu kembali tersentak mendengar pertanyaan Soo Rin dan kembali salah tingkah. “Eung… maafkan aku. Aku sudah membuat seragammu basah,” sesalnya lagi.

“Tidak apa-apa. Ini akan segera kering.” Soo Rin kembali mengulas senyum tipisnya. Membuat lelaki itu semakin salah tingkah.

Itu hanya sebuah senyum tipis tapi kenapa sangat berpengaruh padanya? pikirnya heran.

“Ah, ini sapu tanganmu.” Soo Rin menyerahkan kembali sapu tangan milik lelaki itu yang belum dipakainya sama sekali.

“Tidak! Sunbae harus gunakan itu untuk mengeringkan seragamnya.”

“Tidak apa-apa. Sudah kukatakan bahwa ini akan segera kering.”

“Maaf. Tapi aku menolak.”

“Eh?” Soo Rin melongo bingung. Kenapa lelaki ini tidak mau menerima sapu tangannya sendiri? Padahal sapu tangannya masih bersih.

“Kembalikan nanti saja,” lelaki itu tampak membuang muka sambil menggaruk pipinya yang tidak terasa gatal. “Ah, di mana kelas Sunbae?” tanyanya kemudian dengan hati-hati.

“Eh? Kelasku?” Soo Rin mengangkat kedua alisnya, semakin bingung. “Um… aku di kelas 3-2,” akhirnya Soo Rin memilih menjawab jujur.

“Ah, begitu. Kalau begitu, aku akan meminta sapu tanganku pada Sunbae besok!” pungkasnya sambil bangkit dari duduknya dan beranjak menuju pintu ruangan. Sebelum dirinya keluar dari ruangan, ia berbalik kembali menghadap Soo Rin dan sedikit membungkuk. “Aku Kim Jong Dae dari kelas 1-3. Senang bertemu denganmu, Park Soo Rin Sunbae!”

Dan lelaki itu segera keluar dari ruangan tanpa mengharapkan balasan apapun. Meninggalkan Soo Rin yang semakin melongo bingung melihat tingkah lelaki itu.

Ditatapnya kembali sapu tangan yang masih di genggaman. Pikirannya berputar kembali pada berbagai tutur kata lelaki itu. Ada yang aneh dengan lelaki yang mengaku bernama Kim Jong Dae itu, tapi dia tidak tahu apa. Mengedikkan bahu, Soo Rin akhirnya menyimpan sapu tangan itu di saku jas seragamnya. Lalu tak sengaja kembali melirik jasnya yang basah di sepanjang dada hingga perut sisi kirinya. Sepertinya ini akan kering dalam waktu lama, pikirnya sambil menghela napas panjang. Akhirnya Soo Rin memilih untuk melepasnya dan menyelampirkannya di pergelangan tangan kanannya, sebelum dirinya mulai melangkah meninggalkan ruangan ini.

****

“Kenapa dengan jasmu?”

Soo Rin menghentikan kegiatan mencatatnya. Mendengakkan kepala demi memastikan bahwa guru sedang tidak memperhatikan murid-muridnya dan masih serius menyalin materinya ke papan tulis. Lalu menoleh ke belakang, melihat Ki Bum tengah melirik jas seragamnya yang diselampirkan di sandaran kursi.

“Sepertinya jas seragammu basah.”

“Um.” Soo Rin mengangguk sebelum kembali menekuri kegiatan sebelumnya.

“Kenapa?”

“Terkena tumpahan air minum.”

“Siapa yang menabrakmu di kantin tadi?”

Soo Rin terpaksa menghentikan gerakan tangannya. Tertegun mendengar pertanyaan Ki Bum. Bagaimana lelaki itu bisa tahu bahwa dia ditabrak orang di kantin? Apakah saat itu dia ada di lokasi? Kembali menoleh ke belakang, Soo Rin mengernyit. “Dia murid kelas satu,” jawabnya jujur.

“Kau mengenalnya?”

Soo Rin menggeleng sambil kembali menghadap ke depan.

“Lalu kenapa kau membawanya ke Ruang Kesehatan?”

Kini jantung Soo Rin seolah berjengit. Terkejut betul dengan pertanyaan Ki Bum barusan. Astaga, bagaimana bisa lelaki di belakangnya ini tahu? Apakah dia memang berada di lokasi saat kejadian? Tapi bukankah dia sedang bersama gadis yang bernama Sae Hee itu?

Dan entah mengapa, Soo Rin menghela napas lega ketika guru mulai menginterupsi pada seisi kelas untuk memperhatikan sebelum mulai menjelaskan. Jujur saja, dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Bukan karena dia ingin menghindar seolah menyembunyikan, tapi dia sudah terlanjur gugup dengan segala pertanyaan Ki Bum yang tersirat bahwa lelaki itu mengawasinya.

Sedangkan Ki Bum, pandangannya tak lepas dari gadis yang memunggunginya itu. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, dikatakan datar pun tidak bisa. Dia tahu betul bahwa gadis di depannya ini tampak gugup begitu dihujani pertanyaannya. Terlihat sekali dari kedua bahunya yang terlihat begitu kaku lalu melemas begitu guru berhasil menengahi dengan interupsinya.

Ki Bum memang tidak berada di lokasi saat kejadian. Tapi dia mendengarnya dari teman sekelas sekaligus teman dekat gadisnya ini—Tae Yong—yang saat itu berada di lokasi dan melihat semuanya, lalu menceritakannya pada Ki Bum begitu kembali ke kelas.

ㅡㅡ

:: Next Day

Ada yang aneh ketika Soo Rin baru saja menginjak lantai gedung sekolah. Beberapa siswi tengah berdesas desus, dan mereka mulai melirik dengan ekspresi aneh ketika mendapati dirinya. Meski sudah sering mendapatkan perlakuan di mana ‘ada-saja-yang-melirik-dan-membicarakannya’, Soo Rin semakin aneh ketika dia melewati berbagai gerombolan itu dia mendengar Kim Ki Bum… bersama seorang gadis?

“Kau tidak tahu jika kemarin gadis itu juga mendekati Kim Ki Bum?”

“Kemarin pun mereka berkeliling sekolah bersama. Mereka terlihat sangat akrab.”

“Dan tadi pagi mereka datang bersama?”

Soo Rin terhenyak dalam diam. Entah mengapa pendengarannya menjadi begitu tajam begitu nama Ki Bum menusuk telinganya. Dia juga tahu benar bahwa gadis yang dimaksud dalam pembicaraan adalah gadis bernama Sae Hee itu. Dan lagi, mendengar desas-desus mereka itu membuat Soo Rin merasa tersindir. Bagaimana bisa dirinya tidak tahu akan hal ini? Berkeliling sekolah bersama dan terlihat sangat akrab? Lalu datang ke sekolah bersama pula, tadi pagi?

Siapa sebenarnya Sae Hee itu?

Entah Soo Rin menyadarinya atau tidak, kedua tangannya yang menggenggam tali tas ranselnya mulai mengerat hingga meremas. Perasaan aneh itu datang lagi. Hingga sedikitnya membuat ia mulai merasa pengap. Soo Rin mempercepat langkahnya menuju lantai tiga tempat kelasnya berada. Mencoba tidak menghiraukan berbagai macam desas-desus dan berbagai lirikan yang mengarah kepadanya.

“Park Soo Rin Sunbae!!”

Soo Rin segera menghentikan langkahnya begitu hendak memasuki kelasnya melalui pintu belakang yang lebih dekat dari tangga sekolah tempat dia datang. Membalikkan badan, Soo Rin langsung mendapati siswa yang dia obati kemarin tampak melangkah cepat mendekatinya.

Kim Jong Dae, lelaki itu tampak begitu cerah dengan senyum merekah di bibirnya yang sedikit tipis itu. Yang justru semakin menipiskan bibirnya yang sedikit bergelombang di bagian atas hingga membentuk tumpukan garis lengkung. Lekukan wajahnya yang cukup tegas memberikan kesan bahwa lelaki ini terlihat lebih muda dibandingkan usianya. Bisa dikatakan dia tidak terlihat seperti siswa Menengah Atas, melainkan di bawahnya.

“Ah, jadi di sini kelas Sunbae?” Jong Dae mendengakkan kepala demi melihat papan kelas yang menggantung di atas kepala Soo Rin, menunjukkan bahwa ini merupakan Kelas 3-2. Kemudian mengangguk-angguk, membuatnya tampak seperti bocah yang baru saja memahami sesuatu.

“Iya.” Soo Rin mengulas senyum tipisnya. Yang memang tertangkap oleh pandangan Jong Dae hingga lelaki itu tampak berbinar menyambutnya. Entah Soo Rin menyadarinya atau tidak. “Kau benar-benar datang, ternyata…” Soo Rin bergumam.

Ne! Aku ingin meminta kembali sapu tanganku.” Jong Dae memamerkan senyum lebarnya hingga menampakkan deretan giginya yang terlihat terawat. Kemudian mengulurkan sebelah tangan dan membuka telapak tangannya. “Sunbae membawanya ‘kan?”

Soo Rin mengangguk sebelum merogoh saku seragamnya demi mengambil barang milik lelaki ini. Lalu meletakkannya ke atas telapak tangan yang terbuka itu. “Boleh aku bertanya?” tanya Soo Rin kemudian. Mendapatkan izin dari lelaki itu melalui berupa anggukan dan senyuman ringan, Soo Rin melanjutkan, “Kenapa kau menolak aku mengembalikan sapu tanganmu kemarin? Padahal aku belum memakainya sama sekali?”

Jong Dae melebarkan senyumannya hingga kembali menampakkan deretan giginya. Membuat Soo Rin harus menatap bingung lelaki yang sudah berdiri di hadapannya kini. Sudah tidak terlihat lagi raut wajah yang begitu gugup dan khawatir seperti kemarin. Seolah dia tidak pernah mengalami kejadian yang menimpanya sehingga harus kelabakan mengingat dirinya adalah seorang junior di sekolah ini. Lelaki ini seperti berubah, seolah menunjukkan sisi aslinya—yang menunjukkan bahwa dirinya merupakan orang yang cukup bersahabat.

Bukankah seharusnya begitu? Setidaknya dia tidak akan merasakan kecanggungan di antara mereka.

“Supaya aku bisa bertemu dengan Sunbae lagi,” jawab Jong Dae dengan ringan.

Ne?” Soo Rin tampak tertegun mendengarnya. Barusan lelaki ini menjawab apa? Bisa bertemu dengannya lagi? Apa maksudnya?

“Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Park Soo Rin Sunbae!” Jong Dae membungkuk sejenak sebelum beranjak pergi. Meninggalkan Soo Rin yang melongo kebingungan karena dirinya.

Ada apa dengan lelaki itu? Kenapa berbeda sekali dibandingkan hari kemarin? Dan lagi, gadis ini ‘kan belum mengucapkan terima kasih atas pinjaman sapu tangannya. Soo Rin menggeleng keheranan. Kemudian berbalik melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju ke dalam kelas. Namun lagi-lagi dia harus mengurung niatnya dan terpaksa berjingkat kaget begitu mendapati seseorang sudah berdiri tegap di hadapannya, dengan kedua tangan disimpan di balik saku celana. Memberikan pemanasan di pagi hari untuk jantungnya.

“Siapa?” Ki Bum sedikit menggerakkan dagunya memberikan isyarat bahwa dia menunjuk ke arah orang yang baru saja pergi dari hadapan Soo Rin.

“Eh? Maksudmu murid yang tadi?” Soo Rin memastikan dengan hati-hati.

“Dia yang menabrakmu di kantin dan kau bawa ke Ruang Kesehatan kemarin?” Ki Bum seolah tidak menghiraukan pertanyaan Soo Rin. Mau tidak mau Soo Rin langsung mengangguk, dan dia mulai gugup. Ada yang aneh dengan pertanyaan Ki Bum, seolah tangah memojokkannya. Dan semakin merasa aneh ketika Ki Bum kembali bertanya, “Siapa namanya?”

“Kim Jong Dae.” Soo Rin menjawab dengan jujur.

Merasa lelaki itu tidak bersuara lagi, Soo Rin akhirnya melangkah masuk ke dalam kelas. Dan begitu dirinya berhasil melewati tubuh yang masih berdiri tegap di tempat, Soo Rin harus berhenti melangkah ketika pergelangan tangannya digenggam. Mendengakkan kepala, mendapati Ki Bum sudah kembali menghadapnya. Soo Rin baru menyadari bahwa ekspresi lelaki ini begitu datar. Lebih tepatnya, sulit ditebak.

“Selamat pagi.”

Namun segera berubah begitu Ki Bum mengucapkan dua kata itu. Mengulas senyum tipis tapi begitu teduh, serta tangan lainnya yang masih tersimpan di saku celananya bergerak menuju puncak kepala Soo Rin, mengusapnya dengan begitu lembut. Yang seketika memberikan kehangatan dan desiran di benak Soo Rin.

-To Be Continued


apalagilahini -__- #hening

Haaaaii, bertemu lagi dengan kisukisu yang super absurd ini hahahahahah #tawahambar(?) Kependekan? Atau kepanjangan? Makin hambar? Makin gajelas? Yah, aku juga merasa begitu T____T

Berhubung sebentar lagi puasa, aku mohon maaf jika sudah membuat readers kecewa dengan tulisan absurdku ini. Tulisanku memang masih sangat jauh dari kata sempurna dan jauh dari penulis-penulis hebat lainnya. Dan mohon untuk tidak ada bashing mengenai penokohan yang kubuat di cerita ini karena sebagaimana yang kita tahu bahwa…….yah, tau sendiri kan? Aku menghargai semua dari mereka yang sudah membuat kita menikmati bahkan mencintai musik pop dari Negeri Ginseng itu. Tolong dihargai yaa (T/\T)

Mohon maaf juga jika judul cerita tidak sesuai dengan isinya. Karena, selama bikin cerita ini aku ngga kepikiran kudu dikasih judul hahahahah /nangis/ Dan untuk dialog englishnya hahahahah /ngga usah dijelasin/? xD Juga covernya………aku ngga pinter bikin cover seperti cover ff kebanyakan -__- hehet

Dan, mohon maaf, mengingat bulan Ramadhan sudah berada di depan mata, sepertinya aku akan sedikit memperlambat waktu memposting lanjutan dari cerita ini. Aku harap readers mengerti yaa heheheh ><

(Chen: halah, tinggal bilang ceritanya belum kelar disalin aja pake bertele-tele -__-) :: Jangan dibongkar dong Cheeenn!! /tendangin Jongdae/? :c

Okeh! Sudah cukup pidato kepanjangan ini._. Terima kasih atas waktu luangnya~ Dan terima kasih sudah mampir~~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

21 thoughts on “Keep In Touch – Part 1

  1. siapakah sae hee?? dan apa soorin d sukai sama berondong(?), hayo kim kibum kamu punya saingan baru. d tunggu next chap nya.. mudah mudahan ratingnya bertambah(?), kekekee *okey abaikan

  2. Cheeeeennnnn ><
    jd bneran chen yg dmasukin thor 😀
    akhrnya ada saingan buat kibum, hehe *evil laugh. author mah sneng bkin pnasaran reader yak, mana nant ng-post-ny lama T.T kan kburu kangen sma kisoo "/
    oya, sdkit gregetan sma sae hee yg tba" nemplok kibum, butttt suka sma sikap-ny soorin yg udah mlai brani (¿) next part dtggu thor ^,~

    1. iya beneran.. udah muncul kan ( ̄︶ ̄) justru bukannya emang harus bikin pembaca penasaran? Kan biar greget #halah xD bulan puasa, kudu yg bener dipostnya ntar ngahaha /ditendang/?
      Makasih ya udah baca+komen di sini~~><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s