Posted in Angst, Category Fiction, Fiction, One Shot, PG-15, Romance

{Songfic} Let’s Not…

Genre: Angst, Sad Romance 
Rated: 15 
Length: One Shot 

Ye Sung || Jae Hee || Kyu Hyun

Ryeo Wook

LNcasts

This story is inspired from their song, Super Junior KRY – Let’s Not… ^^ Hopefully the readers like it. Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! Enjoy~ 

Mari bergalau ria~ #duagh
ㅡㅡ

Dia mulai menggerakkan kedua tongkatnya, mulai melangkah. Mencoba untuk meninggalkan tempat ini, meninggalkan gadis yang sempat menjadi gadisnya, di tempat ini, tempat favoritnya. Meninggalkan segala kenangannya bersama gadis ini. Dan, dia melangkah melewati gadis ini begitu saja.

Sedangkan sang gadis membiarkan pria itu pergi, lebih tepatnya dia tak sanggup bergerak. Kini dia hanya sanggup berharap—berharap pria itu kembali ke hadapannya dan berkata bahwa semua yang dikatakan tadi hanyalah gurauan.

Saying that this moment is the last to you
Whom I love so much

:: Seoul SKY Hospital – Seoul-shi, Songpa-gu, Garak-dong 36-1

Jae Hee

Kulangkahkan kakiku menelusuri lorong lantai empat rumah sakit ini. Langkahku terhenti tepat di depan pintu kamar inap nomor 1106. Kubuka pintu kamar tersebut lalu kusembulkan kepalaku ke dalam untuk melihat keadaan.

Loh? Kenapa…

Akhirnya, aku masuk ke dalam untuk memastikan apa yang kulihat. Kuedarkan pandanganku ke seluruh sisi ruangan ini, berharap menemukan sosok yang sangat kukenal… dan kurindukan. Apakah dia sedang bersembunyi? Tapi, aku tidak menemukannya di sudut manapun. Kuperiksa kamar mandi, juga tidak kutemukan sosoknya. Yang kulihat, hanya seorang suster yang tengah membereskan tempat tidur yang ditempati olehnya.

Lalu, ke mana dia sekarang?

“Maaf, apakah anda tahu ke mana pasien kamar ini?” Akhirnya aku bertanya pada suster itu.

“Ah, Pasien Ye Sung-sshi? Dia sudah pindah.”

“Eh? Pindah? Maksudnya, pindah kamar inap?” keningku mulai mengerut.

“Bukan, tetapi pindah rumah sakit,” jawabnya yang seketika membuatku melebarkan mata. Tiba-tiba saja aku menelan saliva, merasa sesuatu yang tidak aku inginkan. Bagaimana, dan mengapa dia tidak memberi tahuku?

Apakah karena…

Tidak, tidak.

“Kapan dia pindah? Dan ke mana dia pindah?” tanyaku. Aku menyadari bahwa suaraku mulai melirih.

“Sekitar dua jam yang lalu. Dia mengatakan ingin menjalani terapi yang lebih intensif di rumah sakit lain. Tapi, pihak kami tidak diberitahu Ye Sung-sshi akan pindah ke rumah sakit mana. Maaf,” jelasnya yang membuatku lemas. Bagaimana bisa aku tidak tahu bahwa Ye Sung Oppa pindah rumah sakit?

‘Aku beruntung pernah memilikimu.’

Ah, lagi-lagi terngiang di kepalaku. Padahal aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku terus berharap, kejadian itu hanyalah sebuah mimpi buruk.

Aku menghela napas panjang. Mencoba untuk berpikir positif. Di saat aku memejamkan mata, aku mulai merasakan perih dan panas di mataku.

Jae Hee-ya, jangan…

“Kalau begitu, saya permisi dulu,” pamitnya menyadarkanku. Suster itu tersenyum ramah kepadaku sebelum pergi meninggalkan ruangan. Aku pun membalasnya dengan sedikit membungkuk dan mencoba untuk mengulas senyum.

Kuedarkan lagi pandanganku ke seluruh sudut ruangan ini. Merasakan atmosfer yang masih terasa sama ketika dirinya masih menempati kamar ini. Lalu pandanganku terpaku pada tempat tidur yang sudah tertata rapih dengan berbalut sprei putih di sisi ruangan sana. Kulihat sosoknya yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri, berjuang melawan maut dengan wajah damainya—seolah dirinya hanya tengah tertidur pulas.

Astaga, apa yang sedang kubayangkan?

Kuhembuskan napasku yang sudah terasa berat sebelum akhirnya kulangkahkan kakiku meninggalkan ruangan ini. Ruang kenangan ini. Menuju lantai dasar lalu keluar dari gedung, dan entah mengapa langkahku membawa diriku ke taman rumah sakit ini. Taman yang selalu dikunjungi olehnya, taman yang di mana aku selalu menemukannya sedang duduk di bangku panjang di dekat air mancur di sana. Taman… yang di mana aku juga melihatnya untuk yang terkahir kali sebelum dirinya meninggalkan tempat ini. Tanpa sepengetahuanku.

“Ah, mungkin saja Ryeo Wook Oppa tahu,” gumamku setelah teringat sosok pria berparas imut itu. Kurogoh tasku untuk mengambil ponselku lalu membuka fitur kontak, mencari namanya. Kutekan tombol panggil setelah menemukannya lalu menempelkan ponselku ke sebelah telinga. Semoga saja Ryeo Wook Oppa tahu, tidak, pasti dia tahu.

Yeoboseyo, Jae Hee-ya, wae geurae (Halo, Jae Hee, ada apa)?” sambutnya langsung setelah tersambung.

Yeoboseyo, Oppa. Boleh aku bertanya padamu?”

“Tanyakan saja, Jae Hee-ya.”

“Apakah Oppa tahu, Ye Sung Oppa pindah ke rumah sakit mana?”

“……”

Kenapa Ryeo Wook Oppa tidak menjawab?

Oppa, kenapa diam?”

“Eh? Eung… soal itu… maaf, Jae Hee-ya, Oppa tidak bisa memberi tahu,” jawabnya yang seketika membuatku kembali lemas sekaligus mengernyit bingung.

“Kenapa?”

“Entahlah. Dia mengatakan untuk tidak memberi tahu siapa pun kecuali manager dan keluarganya. Mungkin supaya tidak terlalu banyak pengunjung yang menjenguknya.”

“Begitu…”

Eum. Tapi, Oppa akan memberimu kabar mengenai perkembangannya. Kau tidak perlu khawatir, ya?”

Ne… Kalau begitu, terima kasih, Oppa.”

Eo.”

Kujauhkan ponselku dan mengakhiri panggilanku. Lalu menghembuskan napas panjang sambil menundukkan kepala. Tubuhku benar-benar terasa lemas. “Bahkan Ryeo Wook Oppa tidak bisa memberi tahuku,” lirihku.

Aku mendudukkan diri di sini. Tempat duduk yang selalu ditempatinya selama berada di rumah sakit ini. Memandang air mancur yang terletak tak jauh di hadapanku sekarang. Merasakan hembusan angin sore yang begitu sejuk menerpaku. Mengingatkanku akan kejadian kemarin, yang sontak saja membuatku meremas ujung kursi ini.

‘Aku beruntung pernah memilikimu.’

Lagi, kata-kata itu terngiang di kepalaku.

‘Aku beruntung bisa mengenalmu.’

Kupejamkan kedua mataku, menggelengkan kepalaku yang mulai terasa berdenyut, berusaha menepis segala kalimat yang begitu menyakitkanku. Mungkin sebenarnya itu merupakan kalimat yang begitu manis—jika diucapkan di momen yang tepat. Tapi kenyataannya, semua itu benar-benar menyakitkan. Tak ada kata manis untuk menjelaskannya. Dan aku mulai menggigit bibir demi menahan sesuatu yang ingin menyeruak kembali di pelupuk mata. Bahkan aku mulai merasa sesak begitu dalam kondisiku yang memejamkan mata, aku masih bisa melihat sekelebat bayangan wajahnya. Mata sipit namun tajamnya yang menatapku sendu, bibir tipisnya yang menyungging senyum begitu tulus kepadaku. Dia terlihat sempurna, dan seharusnya, aku menggenggamnya. Tapi dengan bodohnya, aku membiarkan sosoknya tertiup angin dan berterbangan meninggalkanku.

Aku bahkan masih merasakan bibir tipisnya mendarat di keningku. Aku masih merasakan bibirnya yang bergetar namun begitu lembut mengecup keningku.

Dan, aku melihat dirinya berjalan melewatiku. Meninggalkanku.

‘Maafkan aku… karena terlalu menginginkanmu.’

Seketika kubuka mataku, bersamaan dengan diriku yang mulai tersentak merasakan sesuatu yang seolah tengah mengikat dadaku begitu kuat. Detik kemudian, dapat kurasakan cairan hangat terjun bebas dari pelupuk mataku, mengalir mulus di kedua pipiku, membiarkanku mengeluarkan semuanya.

Ya Tuhan, aku menangis lagi…

****

Even if you try to turn it back
Even if you hold onto me crying
I was the one who said ‘no’ and bid our farewell

 

Ryeo Wook

Kutatap layar ponselku yang masih menampilkan kontaknya beserta dengan foto manisnya—yang kujadikan foto kontaknya—yang pernah kuambil. Baru saja Jae Hee meneleponku dan bertanya sesuai dengan firasatku. Kuhembuskan napas yang terasa berat sebelum membuka pintu kamar di belakangku dan beranjak masuk. Lebih tepatnya adalah kamarku bersama Si Kepala Besar itu.

Kulihat dirinya sedang berdiri dengan dibantu kedua tongkatnya, menghadap jendela kamar dan memandangi langit sore. Kini dirinya sudah berganti pakaian menjadi pakaian santai. Topinya yang sempat menghiasi kepalanya semenjak dari rumah sakit sudah terlepas dan menunjukkan rambut gelapnya. Kututup pintu kamar yang sukses membuatnya menoleh ke arahku. “Baru saja Jae Hee meneleponku,” ucapku membuka percakapan.

Dia kembali menatap ke luar jendela, seolah tidak tertarik dengan ucapanku. “Lalu?” tanyanya terdengar datar. Heh, tetap saja dia ingin tahu kelanjutannya.

“Dia menanyakan keberadaanmu. Kujawab sesuai dengan keinginanmu,” jawabku sambil melangkah menuju tempat tidurku lalu mendudukkan diriku di kasur empukku. Kulirik dirinya. Dari sini aku bisa melihat sedikit wajahnya. Tidak ada reaksi apapun di sana. Datar.

Hyung, aku semakin gemas melihat wajahmu yang seperti itu. Seolah tidak peduli padahal aku tahu benar yang kau inginkan, batinku menggerutu.

Hyung!” panggilku yang membuatnya menoleh lagi padaku. Lihat, tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Tapi aku dapat melihat dengan jelas auranya yang begitu… kacau. Aku pun berdiri demi mendekatinya. Kutatap wajahnya sejenak sebelum kuayunkan sebelah tanganku.

PLAK

Aku menampar wajahnya.

Ya! Ini sakit.”

“Lihat? Bahkan Hyung tidak sanggup membentakku,” cibirku setelah mendengar responnya yang lemah itu. Kentara sekali, bukan? Aih, orang ini benar-benar. “Hyung, tidak bisakah hyung berpikir terlebih dahulu sebelum mengeluarkan sebuah keputusan?”

“Aku sudah memikirkannya.”

“Tidak. Kau tidak memikirkannya dengan benar. Kau terlalu gegabah, Hyung.” Dia tidak menyambar lagi. “Kau menyakitinya, tetapi juga menyakiti dirimu sendiri. Apakah ini keputusanmu yang benar? Kau ingin membuatnya bahagia dengan melepasnya, tetapi kau malah membuatnya mencarimu, Hyung. Tidakkah hyung menyadari akan hal itu?”

Ye Sung Hyung mulai menunduk. Membuatku merasa semakin simpati padanya. Aku tahu, tahu benar dengan jawabannya. Tanpa perlu dia jelaskan, aku sudah tahu. Bukan seperti ini yang dia inginkan. Aku pun menepuk sebelah pundaknya perlahan. Merasakan lemahnya dirinya saat ini. Lemah karena fisiknya yang sekarang. Lemah karena hatinya yang sekarang.

“Aku mengenal Jae Hee, dan aku mengenal dirimu, Hyung,” gumamku sebelum beranjak menuju pintu. Sengaja kubiarkan dirinya sendiri di kamar kami. Dan kuharap dia akan segera beristirahat. “Ah, aku akan memasak. Hyung ingin kumasakkan apa?” tawarku begitu membuka pintu lalu menoleh ke arahnya lagi. Kulihat dirinya kembali membelakangiku, memandangi langit sore dari jendela di hadapannya.

“Apa saja,” jawabnya tanpa menoleh. Meski tidak begitu jelas, tapi aku yakin, suaranya terdengar bergetar. Membuatku dengan berat hati keluar dari kamar.

Tak lupa kututup lagi pintu kamar kami perlahan. Namun aku tidak segera beranjak, justru aku menghela napas panjang. Aku yakin, Ye Sung Hyung tengah memecahkan pertahanannya sekarang. Kutatap layar ponselku—yang ternyata masih kugenggam sejak panggilan masuk dari Jae Hee—kini tengah menampilkan foto yang kujadikan wallpaper ponselku. Fotoku bersama Ye Sung Hyung, Kyu Hyun, dan juga Jae Hee yang berada di antara kami. Wajah kami terlihat begitu cerah di sini. Lalu kupandangi wajah Jae Hee yang tersenyum manis dihimpit olehku dan juga Ye Sung Hyung. Aku benar-benar merasa bersalah pada gadis ini.

“Jae Hee-ya, maafkan aku. Terpaksa aku berbohong padamu demi Si Kepala Besar yang keras kepala dan bodoh itu.”

****

I always act strong
But I’m a cowardly man who doesn’t have the confidence to protect you forever
And left

 

_3 Weeks ago_

Ye Sung

Susah payah aku meraih bangku panjang ini. Namun kini aku berhasil mendudukinya. Aku menghembuskan napas lega sebelum mulai menghirup udara sore hari yang terasa sejuk ini. Aah, rasanya seperti baru saja aku dibebaskan dari penjara. Sejak aku tak sadarkan diri selama… hm… mereka mengatakan lebih dari seminggu lamanya, aku baru bisa menghirup udara luar tiga hari setelah aku tersadar dari koma. Yah, mungkin bisa dikatakan aku telah terkurung selama dua minggu lamanya di ruangan berbau obat itu. Dan, aku bersyukur karena aku masih akan bisa menikmati yang namanya berjalan, berlari, dan berlompat-lompat. Hampir saja, aku kehilangan kedua kakiku akibat kecelakan mobil yang kualami. Mau jadi apa aku nanti?

Mengingat soal kecelakaan yang kualami, memoriku berputar pada kejadian yang aku lihat sebelum semua itu terjadi. Saat itu aku mengunjungi kampusnya, yang juga merupakan kampus tempat magnae kesayanganku berada. Bahkan, mereka berada di fakultas yang sama. Aku berniat ingin menjemputnya yang tengah berkutat di perpustakaan. Dan, di situlah aku mulai terguncang.

Aku tahu masa lalunya. Di mana dirinya begitu menyukai Kyu Hyun, terlihat sekali dari cara menatapnya dan ketika sedang berada di dekatnya. Aku tahu, mungkin aku bertindak terlalu gegabah. Jujur saja, aku merupakan orang yang tidak bisa bersabar hanya untuk sejenak—bisa dikatakan seperti itu. Karena itu, begitu aku menyadari bahwa aku menyukainya, aku langsung mengajaknya berkencan. Tanpa menunggu jawaban darinya.

Dan seolah baru saja kedua mataku dibuka, aku benar-benar kalap di kala itu. Melihat Kyu Hyun memeluknya dengan penuh perasaan, dan dirinya tidak melakukan suatu penolakan. Di depan Perpustakaan. Membuatku seolah baru saja dibenturkan oleh batu besar yang seketika aku menyadari kegegabahanku, menyadari kebodohanku, menyadari… bahwa mereka, ternyata saling terbalaskan. Dan seolah aku memiliki kepribadian ganda, aku mengamuk saat itu juga. Melampiaskan amarahku dengan mengebut di jalanan kota, hingga akhirnya, tragedi itu terjadi. Aku menabrak truk dan berujung koma.

Kuhembuskan napasku yang mulai berat. Memejamkan mata, mencoba menikmati semilir angin yang menerpa wajahku. Tapi nyatanya, aku tidak menikmatinya. Karena di saat itu juga, bayangan wajah cantiknya mulai memenuhi pikiranku. Gila, bahkan dengan memejamkan mata aku masih bisa melihat dengan jelas wajahnya. Kupikir dengan meledakkan amarahku, aku akan berhenti menyukainya. Tapi ternyata sampai sekarang, justru aku semakin tidak bisa mengenyahkannya dari pikiranku. Kupikir dirinya akan seperti gadis-gadis lain yang pernah singgah di benakku. Tapi…

Shin Jae Hee, gadis itu benar-benar sudah menyita waktuku. Aku tidak bisa berpaling darinya.

Hyung, ternyata kau ada di sini.”

Kubuka mataku begitu indera pendengaranku menangkap suara yang sudah terdengar sangat akrab. Dan saat itu juga aku langsung mendapatkan dirinya sudah berdiri di depanku. Entah aku harus merasa senang atau justru kembali menunjukkan amarahku. Tapi tak dapat dipungkiri memang, aku tidak bisa membencinya.

Hyung, kenapa kau selalu bisa kabur dari kamar inap dan berujung membuat kami kewalahan mencarimu, huh?” keluhnya yang membuatku menampakkan senyumku—dengan mudah. Lihat, aku bahkan tidak bisa mencoba untuk bersikap dingin padanya.

“Duduklah,” aku mulai membuka mulut. Menyuruhnya untuk duduk di sebelahku yang masih sangat lega karena aku duduk di bangku taman yang panjang. Tanpa protes, dia menurut.

Hyung ingin aku menjadi teman melamunmu? Baiklah. Tapi hanya untuk hari ini,” cetusnya lagi yang kembali membuatku tersenyum, bahkan terkekeh.

Dan benar saja, dia tidak mengoceh lagi seperti biasanya. Menciptakan keheningan di antara kami dan hanya terdengar suara percikan air mancur yang berada di depan kami sekarang. Yang malah membuatku tidak betah untuk terus seperti ini. Ditambah, aku ingin mengutarakan sesuatu padanya.

“Kyu Hyun-ah.”

“Hm?”

“Selama aku tak sadarkan diri, apakah kau menjaga Jae Hee dengan baik?”

Aku tidak segera mendapatkan jawaban darinya. Yang kudapat, dari sudut mataku, dia justru menoleh dan menatapku. Sedangkan aku tidak ingin melihat ekspresinya saat ini. Lagi-lagi, keheningan menguasai kami.

“Dia sangat menghawatirkanmu, Hyung,” akhirnya dia menjawab.

Aishi, jawabanmu melenceng jauh dari pertanyaanku, bodoh!” kini aku menatap gemas ke arahnya yang sudah tak menatapku seperti tadi. Dan saat itu juga aku mulai melihat ekspresinya. Kaku.

Ne, aku menjaganya. Seperti yang pernah Hyung bilang padaku sebelumnya,” dia menjawab lagi. Aku kembali tersenyum mendengarnya. Ternyata dia masih ingat permintaanku dulu. Jika aku sedang tidak ada, maka dia harus menjaga Jae Hee untuk sementara waktu.

“Kyu Hyun-ah,” panggilku lagi yang berhasil membuatnya kembali menatapku. Tapi justru kini aku mengalihkan pandangan kembali menuju ke air mancur di depanku. Dengan perasaan yang mulai berat, aku melanjutkan, “Apakah kau menyukai Jae Hee?”

Lagi-lagi dia tidak segera menjawab. Membuatku semakin yakin dan semakin harus melakukan sesuatu.

H-Hyung, kau ini bicara apa?”

Aku kembali menatapnya yang sekarang sudah terlihat gugup. Membuatku merasa, akulah yang salah di sini. Sebagaimana aku yang harus selalu mengalah padanya jika dia mulai rewel dan keras kepala. Dan sepertinya, aku harus melakukan hal yang sama kali ini juga.

Tapi apakah aku bisa melakukannya?

“Kyu Hyun-ah…” panggilku yang seketika diturutinya—kembali menatapku. Kenapa aku tidak bisa membencimu? Ingin rasanya aku mengucapkan kalimat itu padanya. Tapi, aku memang tidak sanggup membuatnya sekedar tersinggung. Dan, kusadari bahwa aku memang benar-benar salah di sini.

Sejenak kuhembuskan napas yang sudah terasa berat. Mencoba untuk tersenyum padanya, dan sebelum tenggorokanku tercekat, aku mengutarakannya yang seketika membuatnya mengernyit.

“Tunggulah sebentar lagi.”

Beri aku waktu sejenak untuk mempersiapkan diri. Dan aku akan memberikan permintaanku dulu, padamu, sepenuhnya.

&&&

Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
There’s one who looks at only you and needs only you
Someone who loves you so much and can’t spend a day without you
Please…

 

_When that moment came_

Ye Sung berjalan menelusuri taman rumah sakit ini, perlahan. Menikmati pemandangan sejuk yang ada di sekitarnya. Pohon-pohon yang berjajar rapih di pinggir jalan setapak, air mancur yang bertengger menghiasi taman, serta hembusan angin sore yang memberikan nilai tambah baginya untuk terus berlama-lama di sini. Ia menghentikan langkah begitu sampai di dekat air mancur tersebut, tempat yang sudah menjadi favoritnya semenjak menjadi pasien di rumah sakit ini. Menghirup dalam udara sore hari ini sambil melemaskan tubuhnya dan membiarkannya tersangga dengan kedua tongkat di kanan dan kirinya. Namun tak lama dirinya kembali menegakkan tubuhnya lalu berbalik badan dengan bantuan kedua tongkatnya. Dilihatnya seorang gadis yang tengah berdiri sekitar tiga meter dari tempatnya sekarang. Membuat dirinya mulai mendengus sebal.

Yaa, memangnya kau pelayanku, huh? Kemari!” titahnya yang segera direspon oleh gadis itu—menampakkan cengirannya sambil melangkah mendekatinya. Membuat dirinya akhirnya tersenyum melihat tingkah gadis itu.

“Sepertinya Oppa sudah ada banyak kemajuan,” ucap gadis itu begitu sampai tepat di hadapan Ye Sung.

“Tentu saja! Aku ‘kan belajar sangat cepat,” balas Ye Sung membanggakan diri. Membuat gadis itu memicing dengan bibir yang mulai mengerucut mencibir sebelum akhirnya mendorong bahunya pelan. Yang justru membuat Ye Sung kehilangan keseimbangannya dan hampir terjerembab jika gadis itu tidak sigap menangkap tubuhnya. Bukannya berteriak protes, pria itu justru melongo bodoh. Dia belum mencerna apa yang tengah menimpanya barusan. Dan butuh waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Ye Sung menampakkan mimik sebalnya. “Kau ingin membuatku lumpuh lagi, huh?”

“Ma-maaf, a-aku hanya bermaksud bergurau. Ternyata doronganku begitu kuat, ya?” pelas gadis ini dengan memasang ekspresi bersalahnya, dengan masih memeluk Ye Sung. Perlahan dirinya mulai melepas pelukannya setelah dirasa yakin bahwa pria ini bisa kembali berdiri tegak. Lalu mulai meringis begitu tatapannya beralih pada wajah pria ini. “Maaf, Oppa,” sesalnya.

Ye Sung terkekeh melihat tingkah gadis ini. Gadis yang selalu bertingkah tanpa berpikir efek ke depannya—sama seperti dirinya. Gadis yang berhasil menyita waktunya dan tidak bisa berpaling ke lainnya.

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau bermaksud untuk menghiburku,” balas Ye Sung sumringah dan percaya diri. Meski kata-katanya benar, tetap saja membuat gadis di hadapannya kembali memicing dan mencibir. “Terima kasih,” lanjut Ye Sung yang membuat gadis itu menghentikan cibirannya dan mulai tersipu ketika Ye Sung mengusap lembut puncak kepalanya.

Ada rasa terpesona dan senang di benak Ye Sung begitu melihat reaksi gadis di hadapannya ini. Gadisnya. Membuat seulas senyum teduh terpatri menghiasi wajah manisnya. Hanya saja, mata sipit dan tajamnya itu tidak melakukan hal yang sama. Memberikan efek pada ekspresinya menjadi sulit untuk ditebak. Apakah dia sedang bahagia atau… sedang murung?

Perlahan tangan Ye Sung turun menuju pipi merona gadis itu, merengkuhnya dengan lembut seolah takut tangan kasarnya memberikan ketidaknyamanan pada sang pemilik wajah. Tatapannya tetap mengarah pada wajah cantik di hadapannya, dan, dia mulai menampakkan wajah sendunya—perlahan.

“Shin Jae Hee,” panggil Ye Sung dengan suara berat dan lembutnya. Membuat sang gadis mengangkat pandangannya demi membalas tatapan Ye Sung. Dan Ye Sung semakin merasa sesak begitu melihat wajah cantik itu begitu merona. Menghembuskan napas beratnya sejenak, Ye Sung mencoba untuk melebarkan senyumannya. “Aku beruntung bisa mengenalmu,” ujarnya dengan sangat lembut.

Jae Hee, gadis itu perlahan menarik bibirnya hingga membentuk seulas senyum manis. Sebelah tangannya terangkat demi memegang tangan Ye Sung yang masih betah merengkuh wajahnya. “Aku juga, Oppa,” balasnya tak kalah lembut.

“Aku beruntung bisa mencintaimu,” ucap Ye Sung lagi. Yang tanpa gadis ini sadari, kalimat itu mengandung makna dan maksud yang tersembunyi. Karena wajah cantiknya semakin merona begitu pria ini berhasil mengucapkannya.

“Aku juga, Oppa,” balas Jae Hee lagi, kini dengan jantung yang mulai berdebar.

Ye Sung seolah baru saja ditusuk di bagian dadanya. Kalimat Jae Hee begitu menohoknya, membuatnya goyah untuk melakukan hal yang sudah dipikirkan beberapa hari sebelumnya. Apakah Jae Hee mengatakan yang sebenarnya? Apakah Jae Hee juga merasakan hal yang sama? Apakah Jae Hee benar-benar sudah menerimanya?

Tapi… bukankah dia tahu Jae Hee? Bukankah dia tahu Jae Hee yang begitu menyukai—

Ye Sung kembali menghembuskan napasnya. Kini terasa semakin berat. Tangannya yang merengkuh wajah Jae Hee mulai dia turunkan. Meski sebenarnya dia tidak rela karena sudah merasa sangat nyaman dengan dekapan tangan hangat gadis ini.

“Aku—” Ye Sung merasa tercekat hingga terpaksa kembali menarik napas. “Aku beruntung pernah memilikimu,” dia berhasil mengucapkannya dalam satu tarikan napas.

Sedangkan Jae Hee harus menyembunyikan senyumnya dan beralih mengerutkan kening begitu kalimat itu terlontar. Kenapa pria ini mengucapkan seolah mereka sudah tidak… bersama lagi?

Oppa—”

“Jae Hee-ya,” Ye Sung segera menyambar. “Selama ini, aku hanya menuruti egoku demi memenuhi segala keinginanku. Aku tidak pernah memikirkan segala konsekuensi yang akan terjadi akibat keputusanku sendiri. Aku bahkan seolah tidak mempedulikan perasaanmu selama ini…”

Oppa, apa yang sedang Oppa bicarakan?” Jae Hee mulai bingung.

“Aku—aku hanya memikirkan perasaanku. Dengan melakukan segala cara agar kau tetap berada di dekatku. Tetap berada di genggamanku…” terdengar suara Ye Sung mulai bergetar. Membuat Jae Hee semakin kebingungan dengan tingkah dan ekspresinya sekarang. “Jae Hee-ya, maafkan aku… karena terlalu menginginkanmu.”

Jae Hee dapat melihat kedua mata tajam itu semakin sendu. Bahkan memerah, seperti tengah menahan sesuatu yang ingin menyeruak keluar dari dalam sana. Dan mata itu, tersirat akan kesedihan yang begitu dalam. Membuatnya mulai merasa gelisah, menuntut penjelasan karena masih belum menangkap ujung dari penjelasan pria ini, hingga membuat dirinya menerka-terka yang justru semakin membuatnya gelisah.

Ye Sung mengeratkan genggamannya pada kedua tongkat yang selalu menopang tubuhnya agar tetap berdiri tegak. Benaknya mulai miris hingga rasa sesaknya semakin menjadi di kala batinnya menjerit untuk segera diselesaikan, meski di sisi lain dia tidak menginginkan ini. Meski di sisi lain, dia masih ingin menggenggam apa yang sudah dia dapatkan. Tapi dia juga menyadari, dia sudah terlalu banyak menekannya. Hanya demi egonya sendiri.

“Seharusnya, aku membiarkanmu untuk memilih. Karena kau juga memiliki hak untuk memilih, bukan?” Ye Sung mencoba untuk kembali tersenyum dengan bibir tipisnya yang mulai bergetar seperti suaranya. “Tidak selayaknya aku memenjarakanmu seperti ini. Tidak seharusnya aku menggenggam paksa dirimu seperti ini. Hanya karena—karena aku tidak ingin kau lepas dari jarak pandangku,” lanjutnya melemah. Dia mulai merasa sakit di tenggorokannya.

Dan Jae Hee, dia mulai menebak maksud dari pembicaraan ini. Mulutnya terbuka, ingin mengucapkan sesuatu. Tapi seolah ada yang tengah mengunci kantung suaranya agar tidak segera berbicara, Jae Hee hanya mampu membiarkan pria ini melanjutkan pembicaraan sepihaknya.

Ye Sung lagi-lagi menghirup udara dengan sangat dalam, dengan mata terpejam. Mencoba menerobos sesuatu yang tengah mengikat dadanya hingga dirinya sulit untuk bernapas dengan normal. Dan, ditatapnya lagi gadis yang sudah mau menerimanya hingga kini. Hingga detik ini. Kemudian dengan nada yang semakin berat dan semakin dipaksakan untuk terdengar pasti, Ye Sung memberanikan diri melontarkannya.

“Aku melepaskanmu.”

Bagaikan di sambar petir, Jae Hee melebarkan mata. Jantungnya mulai kembali berdetak kencang. Kali ini bukan karena sebuah perlakuan manis, melainkan karena dua kata yang langsung menohok jantungnya.

“Kita akhiri. Sampai di sini,” lanjut Ye Sung yang semakin menohok Jae Hee… juga dirinya sendiri. “Temuilah orang yang mencintaimu dan yang kau cintai. Maka kau tidak akan tertekan seperti di kala masih bersamaku.”

Jae Hee mulai menggelengkan kepala, dengan pelan. Rasa sesak di dadanya mulai menyeruak. Dia tidak mengerti Ye Sung—sekarang. Melepasnya? Mengakhirinya? Apakah itu berarti Ye Sung tidak akan berada di sisinya lagi? Menemani kesehariannya seperti biasanya? Tapi kenapa?

Lalu apa maksud Ye Sung agar dirinya menemui orang lain? Siapa orang yang dimaksud pria ini?

Apakah orang itu?

Kyu Hyun?

Jae Hee terhenyak. Memang, memang orang itu. Jae Hee memang memendam rasa pada orang itu, Kyu Hyun. Jae Hee memang menyukai, bahkan sangat menyukai pria berkulit pucat itu. Sudah sangat lama. Tapi apakah itu artinya, dia mencintai Kyu Hyun? Setelah kemunculan pria di hadapannya ini, memperlakukannya dengan sangat baik, mengaku kepada semua orang bahwa dia adalah kekasihnya—dan dia memang membuktikannya dengan nyata, mengajaknya berkencan hingga mengungkapkan perasaanya. Mengubah hidupnya menjadi penuh dengan keceriaan akibat perilakunya yang terkadang sangat abstrak itu. Lalu apakah dirinya mencintai Kyu Hyun?

Tiba-tiba Jae Hee gamang. Napasnya mulai memburu. Ditatapnya lagi Ye Sung dengan kembali menggelengkan kepala. “Oppa, tolong jangan seperti ini,” lirihnya, terdengar tercekat.

You try to hold me back, it’s hurting
But i´m a cowardly man who doesn´t have the confidence to give happiness
To girl like you

Ye Sung semakin bergemuruh. Sungguh, dia tidak kuat menatap gadis yang… begitu dicintainya ini terlihat ingin menangis. Dengan kekuatan yang masih dimiliki, Ye Sung memberanikan diri untuk mendekat. Memperkecil jarak di antara mereka, mulai mendekatkan wajah mereka hingga dirinya mampu mendaratkan bibir tipisnya di kening Jae Hee. Memberikan kecupan yang begitu lembut dan juga hangat. Untuk yang terakhir kali.

Sedangkan Jae Hee hanya mampu berdiri mematung. Andaikan saat ini kondisinya merupakan hal yang membahagiakan, dia pasti akan menikmati perlakuan pria ini. Namun nyatanya, sentuhan lembut dan tulus ini begitu menyakitkan. Dan begitu Jae Hee memejamkan mata, bulir-bulir hangat yang sudah membumbung di pelupuk mata mulai terjun bebas membasahi kedua pipinya yang merona. Jae Hee mulai terisak pelan.

Begitu pula dengan Ye Sung. Pria ini mencelos begitu isakan gadis ini lolos menusuk pendengarannya. Lalu memejamkan mata yang sudah terasa panas sejak awal dirinya mulai melakukan pembicaraan sepihak. Tidak ingin membiarkannya menyeruak keluar di kala dirinya masih berhadapan dengan gadis yang tengah diciumnya kini.

Tidak ada nafsu. Hanya sebuah ketulusan yang begitu mendalam.

Ye Sung mulai melepasnya, menjauhkan wajahnya demi kembali menatap gadis ini. Dan ternyata, mereka membuka mata secara bersamaan lalu saling menatap. Ye Sung harus menahan napas begitu melihat gadis di hadapannya telah berlinangan air mata. Ingin sekali rasanya, menghapus air mata gadis ini dengan jari-jarinya. Tapi apa daya, dirinya merasa sudah tidak memiliki hak untuk melakukan hal tersebut.

Ya Tuhan, aku benar-benar pria yang buruk, batinnya meringis.

“Temuilah dia, Jae Hee-ya,” suara Ye Sung mulai serak. Dan dia kembali melihat gadis ini menggeleng pelan. Aku mohon, jangan menahanku seperti itu, batinnya menjerit lagi. Dia mulai menggerakkan kedua tongkatnya, mulai melangkah. Mencoba untuk meninggalkan tempat ini, meninggalkan Jae Hee di tempat ini, tempat favoritnya. Meninggalkan segala kenangannya bersama gadis ini. Dan, dia melangkah melewati Jae Hee begitu saja.

Sedangkan Jae Hee membiarkan pria itu pergi, lebih tepatnya dia tak sanggup bergerak. Jae Hee benar-benar terguncang. Kini dia hanya sanggup berharap—berharap pria itu kembali ke hadapannya dan berkata bahwa semua yang dikatakan tadi hanyalah gurauan. Namun kenyataan berkata lain. Pria itu terus melangkah menjauh, semakin menjauh, tanpa menoleh kepadanya lagi. Jae Hee masih tidak bergeming dari tempatnya. Tubuhnya benar-benar kaku hingga tangannya mengepal. Dia tengah berusaha untuk tidak menumpahkannya. Namun, sebuah isakan yang berhasil lolos dari mulutnya benar-benar telah meruntuhkan pertahanannya. Jae Hee meledak. Gadis itu menangis tersedu-sedu, menangis sejadi-jadinya, dengan posisi yang masih belum berubah. Dia hanya mampu menggerakkan kedua tangannya untuk meremas dadanya yang berdenyut menyiksa serta membekap mulutnya.

Even if we are ever to regret our breakup
I can´t do anything but give you our farewell

Oppa, jangan pergi. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan perasaanku juga, jeritnya dalam hati. Berharap dirinya dan pria itu memiliki telepati sehingga pria itu kembali padanya. Dia benar-benar tak sanggup berbicara lagi. Pun hanya satu kata dia tidak bisa. Hanya isakan tak terbendung yang mampu dia keluarkan.

Sungguh, Jae Hee merasa sakit. Ingin sekali dirinya berkata jujur, bahwa dia sudah mulai membuka hatinya untuk Ye Sung dan berusaha mengubur perasaannya terhadap Kyu Hyun. Dia menyadari, bukan Kyu Hyun yang dia cintai. Dan dia sudah mencintai pria bermata sipit itu. Pria yang selalu bertindak tanpa berpikir konsekuensinya. Pria yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik dan sangat manis. Pria yang sudah terlebih dahulu mencintainya.

Namun, di kala Jae Hee sudah menerima itu semua, kini berbalik Ye Sung yang melepasnya.

Jae Hee sudah tidak tahu harus bagaimana sekarang. Andai dia bergerak lebih cepat. Andai dia mengutarakannya lebih awal. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, semua itu hanyalah sebuah pengandaian belaka. Semua, sudah terjadi.

Ye Sung melangkah dengan sangat berat hati. Sungguh, hatinya seolah diiris perlahan yang jelas membuatnya sangat tersiksa ketika mendengar isak tangis gadis itu. Ingin rasanya—sangat ingin rasanya dia berbalik dan berlari mendekati gadis itu lalu membawanya ke dalam dekapan. Namun, sudah cukup. Sudah cukup baginya menyakiti gadis itu. Juga menyakiti adik kesayangannya, yang juga mencintai gadis itu.

Tak terasa, bulir hangat yang sudah ditahannya sejak tadi mulai meleleh dan mengalir mulus di pipinya. Yang semakin membuatnya sesak dan semakin memaksanya untuk segera menumpahkan segala perasaannya saat ini. Dengan tertatih-tatih, Ye Sung mempercepat langkahnya demi segera meninggalkan tempat itu. Tempat favoritnya yang telah berubah menjadi tempat yang menyakitkan untuknya.

Jae Hee-ya, aku mengharapkan yang terbaik untukmu, dan untuk Kyu Hyun.

Don´t cry in pain counting the time that´s passed
Don´t miss a foolish love that´s already passed
There’s one who looks at only you and needs only you
Someone who loves you so much and can’t spend a day without you
Please, I hope that you´ll be happy
Let´s never meet again

 

 

 

-END


 

Huwaaaaaaaaaaaa tega sekali saya bikin bapak Ddangkoma begini ㅠㅠ

Maaf ya untuk para Clouds yang ngga sengaja mampir ke sini ㅠ/\ㅠ

Sebenarnya cerita ini udah bersarang lamaaaaaaa banget di fd, tapi baru sekarang aku beraniin publish. Hehet! Jadi mohon maaf jika ceritanya masih berantakan karena aku hanya sedikit mengedit cerita ini u.u Pasti masih keliatan banget kan bahasanya yang sangat-sangat kaku (kayak sekarang udah ngga kaku aja-__-)

(Kyu: iyee, bahkan gue cuma jadi cameo di sini -_-) :: tapi pan elu yang jadi orang ketiga di sini -_-

(Kyu: sumpah ngga elit banget gue di sini. Gue kan biasa jadi tokoh utama!) :: bodo amat, Kyu. Hal itu kagak berlaku di area gue. Atau lu pengen gue putus kontraknya?

Oke, akhirnya mingkem juga tuh bocah (?) /ini lagi ngapain sih?/ -__-

Yosh! Setelah ini, aku akan mencoba kembali aktif bikin ff. Hahahahah padahal aku hiatus ngga sampe sebulan duh xD #ditendang

Sampai bertemu di karya absurd selanjutnya! Terima kasih sudah mampir~^-^ SWING!!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

5 thoughts on “{Songfic} Let’s Not…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s