Posted in Category Fiction, Chaptered, Fiction, KiSoo FF "Summer (Love) Holiday", PG, PG-17, Romance

Summer (Love) Holiday – Part 3, Last

Genre : Absurd Romance (헤헷)
Rated : PG-17 (warning! Area absurd ini khusus yang udah punya KTP! ngahaha #plak)
Length : Mini Chaptered
Kim Ki Bum || Park Soo Rin || Kim Ryeo Wook
and Others

yelah-_-This story comes from my mind aka fiction^^ Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~

****

:: Next Day – Wednesday

Soo Rin terbangun lebih cepat. Bukan karena dia sedang berada di tempat asing, melainkan karena dirinya tidak bisa tidur dengan lelap seperti sebelumnya. Dia terus terjaga hingga jam menunjukkan pukul tiga pagi. Begitu dirinya mulai tenggelam ke alam bawah sadar lebih dalam, dia kembali terjaga di waktu yang menunjukkan sudah pukul enam pagi. Dan dia merasa tidak menikmati tidurnya selama itu.

Bahkan efeknya sampai membuat dirinya seperti zombie hari ini.

Soo Rin keluar dari kamar inapnya lalu melangkah menuju dapur. Membuka kulkas besar tersebut lalu mengambil salah satu botol minum yang masih tersegel. Setelah meneguk hampir setengah dari isinya, Soo Rin mendudukkan diri di salah satu kursi tinggi dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja bar. Memejamkan mata yang terasa perih dan berat, lalu menghela napas sangat panjang. Lagi-lagi, kejadian semalam kembali berputar di otaknya. Yang seketika membuat dirinya meringis serta melenguh frustasi. Bahkan dapat dirasakan wajahnya kembali memanas.

“Demi Sandy yang bisa hidup di bawah laut, aku lebih memilih untuk menghilangkan ingatanku mengenai kejadian semalam,” lirihnya sambil menelungkup.

Rasanya belum ada sepuluh detik kesadarannya mulai hilang, Soo Rin harus kembali terjaga begitu merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Soo Rin-ah?”

Soo Rin terlonjak kaget hingga menegakkan tubuhnya. Kemudian mendapati pria bermata sipit itu sudah berdiri di sebelahnya dan tengah memandangnya heran. “Astaga, kau tidur di sini?” Jong Woon, pria itu melongo melihat penampilan Soo Rin yang jelas sekali seperti baru terbangun dari lelapnya. “Sejak kapan kau berada di sini, hum?” lanjutnya.

Soo Rin yang gugup karena tertangkap basah mencoba melirik ke arah jam dinding tidak jauh dari pandangannya. Lalu kedua bahunya yang terasa kaku mulai dikendurkan. Dia hanya terlelap tidak lebih dari 15 menit lamanya. Sambil mengusap tengkuknya menjawab, “Belum lama. Aku hanya bermaksud untuk menghilangkan rasa haus.”

Jong Woon melirik botol minum yang dipastikan diambil oleh gadis ini untuk melepas dahaganya. Pria itu berdecak. “Sebaiknya ketika kau baru bangun tidur, minumlah air hangat karena lambung membutuhkan penyesuaian untuk memulai beraktivitas sehingga perlu pemanasan. Minum air dingin tidak apa-apa, tapi akan lebih bagus jika dimulai dengan air hangat,” ucapnya menasihati. “Akan aku buatkan minuman hangat untukmu.” Jong Woon beranjak masuk ke area dapur dan mulai mengambil segala alat dan bahan. Membuatkan cokelat panas yang merupakan minuman kesukaan gadis itu. Tak perlu menunggu waktu lama, Jong Woon menyerahkan secangkir cokelat panas buatannya ke hadapan Soo Rin.

“Terima kasih.” Soo Rin mengucapnya dengan lirih. Perlahan mulai diseruputnya cokelat panas tersebut. Hanya sedikit.

Jong Woon mengernyit baru menyadari bahwa raut wajah gadis di hadapannya ini tampak berbeda. Murung dan redup. Kedua kantung matanya yang sedikit menggelap membuatnya langsung menebak bahwa gadis ini sepertinya kurang tidur semalam. Membicarakan soal semalam, Jong Woon juga mendapati gadis ini tampak begitu murung selama acara makan malam barbecue. Jong Woon membungkukkan tubuh tegapnya hingga kedua tangannya terlipat di atas meja serta mencondongkannya ke dekat Soo Rin. “Ada sesuatu yang tengah mengganggumu?” tanyanya.

Ne?” Soo Rin mengangkat wajahnya sejenak. “Tidak ada…” balasnya kembali menunduk. Membuat Jong Woon mengernyit bingung. Sudah diduga bahwa gadis ini sedang kenapa-kenapa.

Pandangan Jong Woon beralih ke belakang Soo Rin begitu mendapati siluet tubuh tengah berjalan masuk ke dapur. Jong Woon menegakkan tubuhnya begitu menyadari sosok itu menghentikan langkahnya. “Ki Bum-ah, selamat pagi!” sapanya dengan ceria. Tanpa Jong Woon sadari, gadis yang masih duduk menunduk di hadapannya terhenyak hingga tubuhnya menegang begitu nama itu disebut.

Ki Bum memperhatikan punggung yang tampak kaku itu sejak Jong Woon menyapanya. Mencoba tidak peduli, Ki Bum kembali melangkah masuk mendekati kulkas besar yang terpajang di belakang Jong Woon berdiri saat ini. Melewati Soo Rin begitu saja.

“Apakah Jong Jin sudah bangun?” tanya Jong Woon kemudian.

“Belum.” Ki Bum menuangkan minuman dingin ke dalam gelas yang baru diambilnya. Mencoba untuk tidak menoleh ke belakang, Ki Bum meneguk minumannya.

Soo Rin yang mulai merasa tidak nyaman kini berdiri dari duduknya. Ditambah, dia merasa ingin menghindari sosok yang tengah berdiri memunggunginya saat ini. “Aku ingin kembali ke kamar. Terima kasih untuk cokelat panasnya,” ucapnya terdengar lirih sambil membungkuk pada Jong Woon sebelum melesat pergi keluar dari dapur.

Jong Woon semakin heran melihat tingkah gadis itu. Terbaca sekali bahwa gadis itu tengah mencoba menghindari sesuatu. Pandangan Jong Woon beralih pada Ki Bum yang telah meletakkan gelas minumnya. Dia juga baru menyadari bahwa lelaki ini terlihat tidak peduli dengan adanya Soo Rin sejak tadi. Jong Woon berkacak pinggang.

“Jangan membuat gadismu merasa tidak nyaman dan ingin segera pulang sebelum waktunya. Selesaikan masalah kalian secepatnya jika kau tidak mau aku yang menyelesaikannya.”

Ki Bum menatap tajam Jong Woon. Otaknya yang cerdas segera mencerna maksud dari segala tutur kalimat Jong Woon. Ki Bum berbalik hendak beranjak, namun dia menghentikan langkahnya di dekat Jong Woon. “Jangan pernah mencoba untuk mendekatinya,” ucapnya tandas dan terdengar dingin. Lalu pergi meninggalkan saudara sepupunya itu.

Jong Woon berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Bibirnya bergerak mencibir. Ternyata lelaki itu begitu sensitif jika sudah menyangkut soal gadisnya, pikir Jong Woon.

“Soo Rin-ah, ayo kita naik Banana Boat!” Ah Reum berseru sambil menarik-tarik lengan gadis yang tengah terduduk di lantai mengaduk-aduk isi kopernya. Soo Rin, gadis itu mengangguk sambil mencoba tersenyum. Mereka tengah bersiap-siap ingin kembali ke pantai. Dan hari ini mereka memiliki rencana ingin mencoba wahana boat berbentuk pisang raksasa yang mengapung itu. Soo Rin mengambil kaus berlengan pendek dengan celana santai sedikit di atas lututnya.

Eun Jung yang memperhatikan Soo Rin mulai mendekat. “Soo Rin-sshi, apa kau tidak memiliki pakaian yang lebih segar lagi?”

“Huh?” Soo Rin melongo.

Eun Jung berjongkok lalu mengaduk isi koper Soo Rin. Melihat pakaian-pakaian yang dibawa Soo Rin. Meskipun cukup modis, tapi dia tidak menemukan pakaian yang seperti dia pakai saat ini. Hot pants dan kaus santai tanpa lengan. Selama ini Eun Jung selalu melihat Soo Rin yang selalu memakai dress tapi tidak pernah terbuka. Sekalinya ingin memakai celana, bukan hot pants yang akan dipakainya.

“Kau membutuhkan penampilan yang lebih segar, Soo Rin-sshi!” tandas Eun Jung yang membuat Soo Rin semakin melongo bingung. Eun Jung beralih mengaduk kopernya yang berukuran lebih besar dari milik Soo Rin. “Ini, pakailah ini!” Eun Jung menyerahkan sepasang pakaian musim panasnya pada Soo Rin.

Sedangkan Soo Rin terpaksa melotot begitu melihat pakaian yang diberikan Eun Jung. Mungkin baginya itu sudah tidak bisa dikatakan sekedar pakaian. Sebuah hot pants berbahan jeans yang sudah pasti sangat pendek dengan atasan yang sudah tidak dapat dikatakan sebagai kaus! Yang benar saja, atasan itu hanya menutupi bagian dada sedangkan sisanya hanya berupa kain tipis yang jelas sekali transparan dan akan tetap memperlihatkan perutnya, ditambah bagian tali bahu itu juga berwarna transparan sehingga jika dilihat sekilas akan seolah tidak bertali!

“Aku tidak mau!” seru Soo Rin spontan sambil menggeleng cepat.

“Oh, ayolah Soo Rin­-sshi. Pakai ini! Ini belum seberapa dibandingkan yang kupakai.” Eun Jung menjejalkan pakaiannya ke tangan Soo Rin lalu meletakkan kembali pakaian yang ingin dipakai Soo Rin. Bukan seberapa, tapi memang sama. Bedanya hanya Eun Jung memakai pakaian yang tidak bertali. “Kau tidak lihat bahwa Ah Reum dan Eun Ji juga memakai pakaian sepertiku?”

Memang. Tapi setidaknya mereka memakai kaus yang masih tergolong normal dan tidak transparan! gerutu Soo Rin. “Tidak! Aku tidak mau!”

Eun Jung berdecak. Kemudian menarik Soo Rin agar berdiri lalu mendorong tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam kamar mandi bersamanya. Tak peduli jika gadis itu meronta-ronta berseru tidak mau. Tak lama, Eun Jung kembali keluar dari kamar mandi dengan membawa pakaian Soo Rin yang sempat melekat di tubuh gadis itu. Lalu menahan pintu kamar mandi agar tidak terbuka.

“Eun Ji-ya, tahan pintunya!” bisik Eun Jung yang langsung dituruti Eun Ji dengan terheran-heran. Eun Jung bergerak mendekati koper Soo Rin, menutup resletingnya, lalu menyeretnya hingga ke bawah tempat tidur, menyembunyikannya. Eun Ji bersama Ah Reum hanya terkekeh melihat tingkah Eun Jung yang tengah membuat sahabat mereka untuk merubah penampilan. Memang, setidaknya mereka ingin melihat Soo Rin yang berpenampilan lebih segar meskipun gadis itu sudah terlihat begitu cantik.

“Eun Jung-sshi, tolong buka pintunya!” seru Soo Rin dari dalam.

“Kau sudah memakainya?” balas Eun Jung.

“Aku tidak mau keluar dengan penampilan seperti ini! Tolong kembalikan pakaianku!”

“Biar kulihat!” Eun Jung membuka pintu kamar mandinya setelah Eun Ji menyingkir. Mengintip ke dalam, lalu berdecak kagum. “Hei, kau terlihat cantik seperti itu, Soo Rin-sshi!

“Aku tidak mau. Tolong kembalikan pakaianku!”

“Tidak! Kau harus berpenampilan seperti itu!” Eun Jung melangkah mundur.

Tak lama Soo Rin keluar dengan handuk yang menutupi bagian atas tubuhnya hingga sedikit bagian pahanya. Berniat mengambil pakaiannya yang lain, tapi lagi-lagi dia terkejut. “Di mana koperku?”

“Aku sembunyikan.”

Soo Rin mulai frustasi. “Eun Jung-sshi, tolong kembalikan pakaianku!” Eun Jung menggeleng. Membuat Soo Rin berjalan mendekat bermaksud ingin merebut pakaiannya dari Eun Jung. Namun Eun Jung bergerak lebih cepat dengan melesat keluar kamar. Tanpa sadar Soo Rin juga melesat mengejar Eun Jung. Diikuti dengan Ah Reum dan Eun Ji.

Eun Jung berlari keluar villa menuju pantai. Diikuti Soo Rin sambil berseru meminta pakaiannya. “Kembalikan pakaianku!” Eun Jung tidak mengindahkan seruan Soo Rin. Dia tidak tahu bahwa gadis itu sudah ingin menangis karenanya. Eun Jung berlari berputar-putar tak tentu arah demi menghindari Soo Rin yang terus mengejarnya. Pandangannya mendapati Ah Reum dan Eun Ji yang juga mengikutinya. Spontan Eun Jung melemparkan pakaian Soo Rin hingga Ah Reum yang menangkapnya.

“Jangan biarkan dia mendapatkannya!”

Soo Rin beralih mengejar Ah Reum yang sudah berlari menjauh. “Ah Reum-ah! Pakaianku!!” teriaknya frustasi.

“Mereka itu sedang apa?” gumam Tae Min yang sedari tadi melihat tingkah para gadis itu dari pinggir pantai.

Jong Woon melirik pada lelaki yang hanya berdiam diri di sampingnya dengan tatapan jelas menuju ke mereka, kemudian menyikut lengan lelaki itu. “Kau tidak ingin menolongnya?” tanyanya yang tidak mendapat jawaban apapun. Sedangkan yang ditanya hanya terus memperhatikan gadis yang tubuhnya diselimuti dengan handuk besar tengah berlari ke sana kemari mengejar teman-temannya.

Soo Rin semakin frustasi. Kedua matanya sudah memerah dan siap untuk menangis kapan saja. Terus mengejar Ah Reum demi mendapatkan pakaiannya. Dan tanpa gadis itu sadari, Eun Jung berlari di belakangnya. Tangannya terulur meraih handuk yang membungkus tubuh Soo Rin lalu menariknya hingga terlepas. Detik kemudian, Soo Rin menghentikan larinya dan langsung terpaku di tempat. Matanya melebar begitu mendapatkan dirinya sudah ‘terekspos’ dengan pakaian pemberian Eun Jung yang sudah melekat di tubuhnya.

Di kejauhan, mereka yang melihat penampilan mendadak Soo Rin juga terkejut. Kedua bahu yang tampak mulus dan putih, kaki jenjang yang selama ini disembunyikan, kini terlihat dengan jelas. Membuat mereka terpana, takjub, dan terpesona. Sedangkan lelaki yang sempat ditegur Jong Woon tadi—Ki Bum, kedua matanya melebar hingga menahan napas tanpa sadar.

Soo Rin yang mulai tersadar dari keterpanaannya langsung berjongkok. Memeluk kedua lututnya, meringkuk. Tubuhnya mulai bergetar. Rasa malu, panik, takut, semua bercampur aduk. Mulai merasa semua mata tengah tertuju padanya. Memberikan kesan yang negatif kepadanya. Dan mungkin setelah ini, akan ada orang tidak benar mendatanginya. Menyentuhnya… Soo Rin kalut! Sungguh dia tidak nyaman dengan penampilan ini, penampilan terbuka ini. Tanpa sadar, matanya yang sudah mengembun semakin terasa panas dan mulai mengalirkan cairan bening dari pelupuknya.

Eun Jung, Ah Reum, dan Eun Ji yang masih berada di jarak cukup jauh mulai merasa tidak enak. Gadis itu sudah seperti anak yang di-bully. Meringkuk sendirian di tengah-tengah kerumunan orang banyak seolah menjadi pusat perhatian. Dan jelas membuat mereka merasa bersalah.

Ki Bum mengepalkan kedua tangannya begitu melihat gadis itu jatuh terjongkok dan meringkuk ketakutan. Ditambah telinganya mulai panas mendengar celotehan orang-orang di dekatnya yang mengatakan bahwa gadisnya terlihat menarik.

Sial.

Ki Bum berlari mendekati gadis itu, berjongkok di depannya, lalu kembali menahan napas. Melihat bahu yang terekspos itu membuatnya menggeram tertahan. Ki Bum melepas jaket musim panasnya hingga membiarkan lengan kekarnya terlihat dengan jelas akibat kaus singlet yang dikenakannya. Lalu menyelampirkannya ke punggung dan membungkus tubuh meringkuk itu.

Soo Rin tersentak kaget begitu merasakan sesuatu membungkus punggungnya. Mendengakkan kepala, dia terkejut mendapati Ki Bum sudah berada di hadapannya, lalu membimbing tubuhnya untuk berdiri. Tanpa sadar, Soo Rin menurutinya.

Ki Bum segera menutup bagian depan tubuh Soo Rin dan menaikkan resletingnya hingga benar-benar rapat. Pandangannya tidak beralih dari wajah yang sudah merona serta mata yang basah. Ki Bum merapatkan tubuhnya dengan tubuh Soo Rin, merengkuh wajah Soo Rin lalu menggerakkan kedua ibu jarinya mengusap pipi yang basah karena air mata. Memberikan sensasi yang begitu hangat bagi Soo Rin serta membuatnya mulai berdesir. Dan jelas pemandangan ini menarik perhatian di sekitar mereka. Ki Bum merangkul tubuh yang masih terasa bergetar itu. Dengan posesif, Ki Bum menuntun Soo Rin menuju ke dalam villa. Membiarkan mereka yang terpana hingga melongo melihat kejadian barusan.

“Maafkan aku…” Soo Rin membuka suara begitu sampai di depan pintu kamar inapnya. Ki Bum tidak menjawab apapun, membuat Soo Rin merasa tidak dianggap. Apakah dia masih marah padaku? batinnya. “Aku tidak bermaksud untuk memakainya. Aku sudah berusaha mengatakan bahwa aku tidak menyukainya. Tapi Eun—Jung tidak mau mengembalikan pakaianku. Bahkan koperku juga disembunyikan.”

Soo Rin tidak berani mengangkat pandangannya. Suara kecilnya terdengar begitu gagap. Ditambah Ki Bum yang tetap tidak bersuara membuat dirinya semakin yakin bahwa lelaki di hadapannya kini sedang marah. Marah karena dirinya sekarang, marah karena dirinya semalam. Merasa dirinya benar-benar tak dianggap, tanpa sadar, Soo Rin kembali terisak. “Maafkan aku. Maafkan aku… soal semalam… sungguh, aku—”

Kalimat Soo Rin terhenti begitu dirasakan tubuhnya ditarik mendekat pada tubuh Ki Bum. Lelaki itu segera memeluk erat tubuh ramping gadisnya. Membuat keadaan menjadi hening sejenak. Soo Rin yang terkesiap dengan perlakuan yang didapatinya, serta Ki Bum yang tengah menahan gejolaknya untuk tidak melakukan hal yang lebih dari ini.

“Aku tahu. Tidak perlu dilanjutkan.” Ki Bum akhirnya membuka mulut. “Aku yang meminta maaf… Maafkan aku,” lanjutnya berbisik di telinga Soo Rin. Memberikan sensasi hangat dan nyaman kepada Soo Rin. Membuat gadis itu hampir terbuai dengan kehangatan itu jika kesadarannya tidak segera menguasainya.

Soo Rin tersadar bahwa tubuh yang memeluknya hanya memakai pakaian yang bisa disebut dengan pakaian dalam milik pria. Sontak Soo Rin melepas tubuhnya dari pelukan itu, yang membuat Ki Bum sedikit terpana dengan tingkahnya. Dan gadis itu sempat melotot begitu melihat lengan kekar yang begitu terlihat akibat pakaian tanpa lengan yang dikenakan Ki Bum, sebelum akhirnya berbalik membelakangi Ki Bum dengan wajah yang mulai kembali memanas.

“K-kau—pakai bajumu!” Soo Rin tergagap.

Ki Bum yang berpikir cepat segera menangkap ucapan gadis yang tengah memunggunginya. Tanpa gadis itu ketahui, Ki Bum mulai mengembangkan senyumnya. “Tapi bajuku sedang kau pakai,” balasnya kemudian.

Soo Rin menunduk melihat sebuah jaket yang tengah membungkus tubuhnya bahkan tangannya. Dalam hati dia membenarkan jawaban Ki Bum serta merutuki perbuatannya yang membuat Ki Bum harus menyerahkan jaket untuknya. “Ya sudah! Ambil saja pakaianmu. Ini!” dengan terburu-buru Soo Rin melepas resleting jaket Ki Bum tanpa berpikir lagi. Tapi dengan sigap Ki Bum menghentikan gerakannya dengan memeluknya dari belakang, menahan tangannya yang ingin membuka jaket itu, lalu kembali merapatkannya.

“Lalu membiarkanku untuk melihat tubuhmu?” gumam Ki Bum yang membuat Soo Rin terperanjat. Tubuhnya kembali kaku begitu merasakan hembusan napas Ki Bum menerpa telinga kanannya. “Dan membiarkanku untuk menyerangmu sekarang juga? Di sini?” lanjutnya dengan berbisik tepat di depan telinga Soo Rin. Memberikan gelenyar aneh serta membuat wajah Soo Rin semakin memanas.

Ki Bum bersorak senang di dalam hati. Dia benar-benar mendapatkan titik lemah gadis ini, yang bodohnya baru dia sadari semalam. Padahal selama ini dia sudah melihat reaksi gadis ini tiap dia mendekatkan bibirnya ke depan telinga. Ki Bum kembali menaikkan resleting jaket itu hingga kembali benar-benar menutupi tubuh gadisnya ini. Sebelah tangannya bergerak membuka pintu kamar inap gadis ini lalu membimbingnya untuk masuk.

“Tunggulah di dalam. Aku akan meminta Eun Jung untuk mengembalikan pakaianmu,” ujarnya sebelum kembali menutup pintu kamar itu. Membiarkan Soo Rin yang masih terpaku di dalam.

Begitu berbalik, Ki Bum menghela napas panjang. Menyandarkan tubuhnya di sebelah pintu kamar, mengusap rambutnya hingga menjambaknya. Astaga, Kim Ki Bum, kau hampir lepas kendali lagi!

Eun Ji, Ah Reum, dan Eun Jung kembali ke dalam villa demi melihat keadaan Soo Rin—setelah melakukan perdebatan kecil mengenai kelakuan mereka yang sudah kelewatan. Langkah mereka terhenti di lorong dekat kamar inap mereka begitu bertemu dengan Ki Bum yang baru saja beranjak. Tanpa sadar, mereka menelan saliva begitu mendapat tatapan yang begitu tajam dari Ki Bum. Ditambah tubuh kekarnya yang terlihat hampir seutuhnya memberikan kesan seolah-olah mereka bisa saja mendapatkan suatu balasan fisik dari lelaki ini.

“Kembalikan pakaian Soo Rin. Sekarang!” dengan suara berat dan dinginnya, Ki Bum sukses membuat mereka—bahkan termasuk Eun Ji—bergidik ngeri dan segera mengangguk menurut.

****

“Aku bosan.”

Tae Min tampak mengeluh setelah beberapa lama berdiam diri menatap layar televisi. Baru saja mereka menyelesaikan makan malam lalu memilih untuk berkumpul di ruang tengah.

“Bagaimana jika kita bermain?” usul Tae Yong yang langsung disambut oleh Tae Min.

“Bermain apa? Apakah kita akan bersepeda di malam hari? Lalu bertanding lagi?”

Tae Yong segera menoyor kening Tae Min hingga sang empu meringis. “Kau ini sedang mengidam balap sepeda, ya?” cibir Tae Yong yang mendapat cengiran dari Tae Min.

“Mau main ini?” Jong Woon yang baru datang dari dapur langsung bergabung. Memamerkan sebotol wine kosong.

“Apa? Berpesta minum wine?” tanya Eun Jung semangat yang langsung mendapat jitakan gratis dari Jong Jin.

“Tidak ada pesta minum-minum! Hyung, kenapa ada botol wine di sini, huh?” Jong Jin tampak memprotes. Bagaimana bisa kakaknya membawa botol minuman untuk orang dewasa itu? Padahal di sini mayoritas masih di bawah umur 20 tahun.

“Ini sudah ada sejak lama sekali. Hanya saja aku masih menyimpannya. Ini sudah kosong, kok!” Jong Woon membalikkan botol wine tersebut, menunjukkan bahwa itu memang botol yang sudah kosong. “Maksudku, kita bermain dengan menggunakan botol ini. Seperti… Truth or Dare, mungkin?” Jong Woon memamerkan senyumannya.

“Aku mau! Ayo kita bermain Truth or Dare!” seru Ah Reum antusias.

Mereka duduk berlesehan mengitari meja utama yang cukup besar di ruang tengah. Jong Woon meletakkan botol tersebut ke tengah meja, lalu mulai memutarnya. Tak lama botol itu berhenti berputar dengan bagian mulut menunjuk pada Tae Yong.

“Jadi, Tae Yong-ah, kau memilih Truth or Dare?” tanya Jong Woon.

Truth?” Tae Yong merasa ragu dengan jawabannya meskipun sudah berpikir sejenak.

“Siapa yang ingin mengajukan pertanyaan pada Tae Yong?” tanya Jong Woon lagi. Tidak ada yang menjawab. “Baiklah, biarkan aku yang bertanya.” Jong Woon menampakkan senyum penuh arti sambil menatap lelaki itu. “Tae Yong-ah, sejak kapan kau diterima menjadi trainer di SM Entertainment?”

MWO?!” Mereka—kecuali Jong Woon dan Tae Yong—berseru bersamaan. Sebagian dari mereka ada yang melotot, menatap takjub pada Tae Yong yang mulai terlihat salah tingkah dan tampak tengah mengusap-usap tengkuknya.

“T-Tae Yong… kau… SM?” Tae Min terbata-bata dengan jari telunjuk mengarah pada Tae Yong.

“Awal musim dingin kemarin.” Tae Yong akhirnya menjawab. Yang membuat mereka kembali tercengang. Tak pernah menyangka bahwa lelaki di dekat mereka sudah menjadi murid didikan agensi terbesar di Negara mereka. Dan hebatnya, mereka yang sudah kenal dekat dengan Tae Yong tidak tahu akan berita menghebohkan ini.

Yaa! Bagaimana bisa kau tidak memberi tahu kabar menggembirakan ini padaku?” semprot Ah Reum.

“Aku baru menjadi trainer. Ini bukan hal yang patut diumbar-umbarkan.” Tae Yong memamerkan cengirannya.

Yaa, kau membuatku semakin bangga karena memiliki teman sepertimu!” Tae Min tergelak sambil merangkul Tae Yong yang memang duduk di sebelahnya. Kemudian terdengar ucapan selamat dari yang lainnya pada Tae Yong serta memberikan ucapan berupa harapan supaya dirinya mendapatkan kesempatan untuk debut melalui agensi besar tersebut.

“Tapi, Hyung, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Jong Jin penasaran.

“Aku beberapa kali mendatangi gedung latihan para trainer untuk memberikan pelatihan singkat. Dan aku selalu melihat Tae Yong di sana. Aku juga pernah memberikan pelatihan singkat untuknya,” jawab Jong Woon sumringah.

“Itu artinya kau sudah mengenal Ye Sung Oppa sejak lama? Yaa, kau keren sekali, Tae Yong-ah!” seru Ah Reum terharu. Membuat Tae Yong semakin terlihat salah tingkah dan merasa tersanjung.

Cah! Kita lanjutkan permainannya. Tae Yong-ah, putar botolnya!” Jong Woon mengakhiri keterkaguman di tengah-tengah mereka.

Tae Yong mulai memutar botol tersebut, dengan semangat akibat perasaannya yang tengah membuncah. Tak lama, botol itu berhenti dengan mulut menunjuk pada Soo Rin.

“Soo Rin-ah, kau memilih Truth or Dare?” tanya Tae Yong kemudian.

Truth?” seperti Tae Yong, Soo Rin tampak ragu dengan jawabannya.

“Siapa yang ingin mengajukan pertanyaan pada Soo Rin?” Jong Woon bertanya lagi. “Ki Bum-ah, kau tidak ingin bertanya sesuatu pada Soo Rin?” Jong Woon beralih menatap Ki Bum.

“Aku bisa menanyakannya nanti,” jawabnya yang membuat mereka mulai memicing curiga.

Cih, berlagak rahasia sekali,” cibir Eun Ji yang hanya dibalas Ki Bum dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak ada yang mau bertanya? Baiklah, biarkan aku yang bertanya.” Jong Woon kembali bersemangat. Tubuhnya mulai merapat pada mulut meja di depannya. Mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Soo Rin yang tidak jauh dari hadapannya. “Soo Rin-ah, antara aku dan Ki Bum… siapa yang lebih tampan?”

Ne?!” Soo Rin tercengang. Begitu juga dengan yang lainnya, tapi tak lama kemudian beberapa dari mereka mulai terkikik geli.

Hyung, pertanyaan macam apa itu?” Ki Bum mendesis dengan menatap tak suka pada Jong Woon. Sedangkan yang ditatap berlagak tidak menghiraukan suara Ki Bum.

Tiba-tiba saja Soo Rin salah tingkah. Bahkan dapat dirasakan dirinya mulai berdebar-debar. Batinnya merusuh, haruskah dia menjawab jujur atau menutupinya? Tapi ini, kan, permainan kejujuran dan juga keberanian. Mau tidak mau, dia harus jujur dengan berani… di hadapan mereka, sekaligus di hadapan lelakinya!

“Kim…” Soo Rin mulai menjawab. Kim, nama marga yang dimiliki Jong Woon dan juga Ki Bum. Dan itu merupakan jawaban yang masih ambigu. Dalam jeda, mereka mulai memasang kedua telinga mereka demi dapat mendengar suaranya yang tergolong begitu kecil. Jong Woon tengah berusaha untuk tidak tersenyum. Sedangkan Ki Bum mulai menopang dagu dengan tatapan terus tertuju pada Soo Rin yang duduk selang 3 orang di sebelah kanannya. Soo Rin tidak berani mengangkat pandangannya. Bahkan wajahnya mulai merona. Dengan satu tarikan napas, serta volume suara yang semakin mengecil, Soo Rin menjawab, “Kim—Ki Bum…”

Eeeeyy!” seru mereka bersamaan setelah ada keheningan beberapa saat. Sontak mereka mulai menggoda Soo Rin dan juga Ki Bum. Gadis itu semakin menunduk dalam. Dan lelaki itu mulai mengusap tengkuknya salah tingkah, tanpa sadar, dia sudah mengembangkan senyumnya.

Eii, sudah kuduga kau akan menjawab begitu!” Jong Woon mulai tergelak menggoda Soo Rin. “Tapi berikan aku alasannya, kenapa kau memilih Ki Bum?”

Wae, wae, wae?” hampir bersamaan mereka berseru dengan pandangan menghujani Soo Rin yang sudah tertunduk malu.

“Apa karena Ki Bum adalah kekasihmu?” celetuk Tae Yong yang membuat Tae Min tertawa dan menepuk keras punggung Tae Yong.

“Tidak.” Mereka terdiam dan mulai kembali menyimak. “Aku tidak memiliki alasan khusus, mungkin memang tidak ada. Karena apa yang selalu kulihat, bagaimana pun situasinya, Kim Ki Bum memang… selalu… terlihat—” Soo Rin menelan salivanya. “Tampan…” Soo Rin hampir seperti berbisik. Untungnya suasana sunyi yang sudah mereka buat telah membuat mereka mampu mendengar segala tutur kalimatnya. Yang begitu Soo Rin mengakhiri dengan kembali tertunduk dalam, mereka kambali berseru menggoda pasangan ini.

Ki Bum kembali bertopang dagu. Kini sudah tidak dipedulikan lagi seruan godaan yang menusuk telinganya. Pandangannya terus tertuju pada gadis yang tertunduk hingga wajahnya sudah tidak terlihat akibat tertutup oleh rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai dan hanya dihiasi dengan jepit rambut di sisi kirinya. Ki Bum mencoba untuk tidak tersenyum lebar, dan hanya membiarkan hatinya yang tersenyum lebih lebar.

Ehem!” Jong Woon berdeham mencoba menghentikan siulan mereka. “Nah, Soo Rin-ah, sekarang putar botolnya!” titahnya yang tak lama dituruti.

Soo Rin memutar botol tersebut dengan tangan gemetar. Batinnya merutuki dan hanya berharap tidak ada yang menyadari kegugupannya yang luar biasa ini. Sungguh, dia merasa seperti habis mengaku bahwa dirinya sudah mencuri berlian milik orang lain!

Dan botol itu berhenti dengan mulut menunjuk pada Ki Bum.

“Ki Bum-ah, kau memilih Truth or Dare?” Jong Woon mewakili Soo Rin.

Dare.

Sontak membuat mereka bersiul hampir bersamaan. Lelaki ini lebih memilih ditantang dibandingkan diberi pertanyaan, ternyata.

“Siapa yang ingin menantang Ki Bum?” seperti biasa Jong Woon menawarkan pada mereka.

“Aku!” Eun Jung mengangkat sebelah tangannya bersemangat. Begitu Jong Woon mempersilahkan, Eun Jung segera mengulum senyum penuh arti. “Ki Bum-ah, cium Soo Rin di hadapan kami, sekarang!”

Lagi-lagi mereka bersiul menggoda. Soo Rin mulai kaku di tempat, sedangkan Ki Bum mendengus hingga memamerkan deretan giginya.

“Kau harus meminta izin pada Eun Ji terlebih dahulu,” ujar Ki Bum.

“Kenapa harus meminta izin pada Eun Ji?”

“Kau tidak ingat dengan apa yang sudah dia katakan dua hari yang lalu?”

“Baiklah, aku izinkan untuk kali ini saja.” Eun Ji tiba-tiba membuka mulut.

“Eun Ji-ya!” desis Soo Rin menatap Eun Ji yang duduk di sebelahnya, memelas. Yang benar saja, dia harus menerima perlakuan itu, di depan teman-temannya?!

“Kau dengar? Sekarang lakukan jika kau memang berani,” tantang Eun Jung.

Ki Bum bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Soo Rin, membuat mereka mulai antusias sedangkan Soo Rin mulai panik hingga ikut bangkit dari duduknya berniat kabur. Meski berhasil menepis segala halangan yang Eun Ji dan Ah Reum buat karena mereka duduk di tiap sisinya, tapi Soo Rin tetap tidak bisa lari dari Ki Bum begitu lelaki itu menarik tangannya hingga tubuhnya berbalik menghadap Ki Bum, memeluk pinggangnya, membuat jantungnya langsung bermarathon. Ki Bum meraih wajah Soo Rin dan mencondongkan wajahnya. Sontak membuat gadis itu mengatupkan kedua mata serta mulutnya rapat-rapat. Detik kemudian, dapat dirasakan sebuah kecupan hangat mendarat—di hidungnya.

Terdengar desahan sebagai bentuk rasa kekecewaan dari mereka. Sudah menunggu detik demi detik hingga sebagian dari mereka menahan napas, tapi ini yang mereka dapat. Ki Bum hanya mengecup hidung Soo Rin.

Cukup lama posisi itu bertahan hingga akhirnya Ki Bum melepas kecupannya, memandang wajah Soo Rin yang sudah merona hingga membuat dirinya merasa gemas dan ingin lebih jika tidak mengingat bahwa mereka sedang menjadi pusat perhatian.

Yaa, kenapa hanya di hidung?” protes Eun Jung yang langsung disetujui oleh lainnya.

“Yang penting aku sudah menciumnya di hadapan kalian, kan?” Ki Bum menyeringai bangga. “Lagipula kalian pikir aku akan menunjukkan yang lebih secara gratis?” lanjutnya yang langsung mendapat cibiran dari Eun Jung.

Sedangkan Soo Rin hanya mampu menunduk terpaku di pelukan Ki Bum yang belum terlepas. Menyembunyikan wajahnya yang sudah memanas di dada bidang lelaki itu.

****

Soo Rin terbangun dari tidur singkatnya. Begitu melihat jam dinding, dia tersadar bahwa dirinya memang belum tenggelam ke alam mimpi. Soo Rin mengalihkan pandangannya pada Eun Ji yang sudah terlelap di sebelahnya. Lalu bergerak memandang Ah Reum yang juga sudah terlelap di ranjang lainnya. Namun kemudian keningnya mengerut begitu mendapati bahwa sebelah Ah Reum kosong. Di mana Eun Jung? pikirnya. Namun pertanyaan itu segera lenyap begitu mendapatkan jawaban, mungkin Eun Jung sedang berada di kamar mandi.

Soo Rin beranjak turun dari tempat tidurnya. Tiba-tiba saja dia merasa haus. Soo Rin keluar kamar bermaksud ingin menuju dapur. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah, mendapati pintu kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan pantai itu ternyata masih terbuka—sedikit.

Kenapa tidak ada yang menyadari bahwa pintu itu terbuka? Bagaimana jika itu terbiarkan hingga esok hari dan bagaimana jika ada orang asing menyusup masuk kemari? Soo Rin menggerutu dalam hati. Langkahnya kemudian berbelok mendekati pintu tersebut bermaksud ingin menutupnya. Begitu tangannya ingin meraih gagang pintu tersebut, tak sengaja sudut matanya menangkap siluet pergerakan di luar, yang langsung saja ia menoleh demi melihat siluet apa itu. Tak ada hitungan detik, Soo Rin terkesiap hingga tubuhnya mundur selangkah. Dengan segera Soo Rin membekap mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Matanya yang sempat sayu langsung melotot.

Soo Rin melihat di luar sana, Jong Jin dan Eun Jung… tengah bercumbu… panas!

Soo Rin segera berbalik bermaksud kembali ke dalam kamar. Dia sudah merasa tidak haus sekarang, dalam sekejap. Namun dirinya harus dikejutkan lagi begitu tubuhnya menabrak tubuh tegap yang selama ini sudah berdiri di belakangnya. Soo Rin hampir memekik begitu mendapatkan siapa pemilik tubuh itu.

“Kenapa?” Ki Bum memasang wajah datarnya.

Ssh!” Soo Rin segera menempelkan telunjuknya ke depan bibir. Begitu Ki Bum mencondongkan tubuhnya bermaksud memeriksa ke luar, Soo Rin segera membalikkan tubuh Ki Bum dan mendorongnya menjauhi pintu kaca besar itu.

“Kenapa kau membawaku kemari?” tanya Ki Bum begitu Soo Rin berhenti mendorongnya.

Soo Rin tersadar bahwa dirinya sudah membawa Ki Bum ke teras villa. Yang kemudian dirinya menepuk kening menyadari kebodohannya. Untuk apa dirinya membawa Ki Bum kemari?

“Ah, kita kembali saja ke dalam,” balasnya kemudian sambil berbalik bermaksud kembali masuk. Namun langkahnya harus kembali mundur begitu dirasakan sebuah tangah meraih lengannya.

“Hanya itu?”

Eoh?”

Ki Bum mengela napas, sedikit gemas dengan tingkah gadis yang tengah memasang mimik melongonya kini, gadis yang begitu kikuk dan juga polos—mungkin. “Kau tidak ingin menghabiskan waktumu bersamaku? Temani aku di sini,” ujarnya kemudian.

“Di sini? Lalu, kau ingin apa di sini?” tanya Soo Rin yang membuat Ki Bum berlagak berpikir.

“Hm… bagaimana jika melakukan hal yang Eun Jung dan Jong Jin Hyung lakukan saat ini, tentunya bersamamu?”

Ada jeda sejenak sebelum Soo Rin melotot sebal dan memberikan jitakan di kepala Ki Bum. Membuat Ki Bum merintih dan terpana akan perlakuan tiba-tiba gadis itu.

Ya, kau berani memukul kepalaku?” protes Ki Bum dengan wajah terperangahnya.

Sedangkan Soo Rin tengah menatap tangannya yang baru saja digunakan untuk menyerang lelaki itu, dengan wajah melongonya. Ternyata dia juga terperangah dengan kelakuannya sendiri barusan. Soo Rin melirik Ki Bum dengan ragu-ragu sebelum akhirnya dia kembali memasang wajah kesalnya serta berkacak pinggang.

“Siapa suruh kau mengatakan kalimat yang begitu tidak sopan terhadapku, huh?” Soo Rin mencoba melawan meski cara bicaranya sedikit tergagap.

“Memangnya bagian mana yang tidak sopan? Aku bahkan tidak mengucapkan kata-kata kasar terhadapmu.” Ki Bum ikut berkacak pinggang dengan langkah terbuka maju. Membuat Soo Rin terpaksa mundur bersamaan dengan nyali melawannya mulai menciut. “Memangnya apa yang ada di pikiranmu di saat aku mengucapkannya, hum?” suara Ki Bum melembut dengan seringainya yang mulai tampak.

Dalam hati, Soo Rin merutuki pikirannya yang langsung berputar pada apa yang dia lihat di luar pintu kaca besar itu begitu Ki Bum menyebut nama Eun Jung dan Jong Jin. Tapi, bukankah itu berarti Ki Bum juga melihatnya tadi? Itu artinya, dia tidak salah jika memarahi lelaki ini, kan? Siapa suruh lelaki ini mengumbar kalimat yang membuat pikirannya menjadi seperti sekarang?

Soo Rin merasakan keningnya sedikit terdorong ke belakang begitu Ki Bum menyentuhnya dengan jari telunjuk. Menoyornya dengan lembut sambil memamerkan deratan giginya seolah tengah mengejeknya.

“Kau ternyata gadis mesum, ya?” bisik Ki Bum di depan Soo Rin.

“TIDAK!” Soo Rin memekik. Menumpahkan emosinya yang tiba-tiba mencuat akibat pernyataan Ki Bum. “Apa karena aku tengah memikirkan kejadian yang baru saja kulihat lalu aku menjadi gadis mesum?! Kau pikir dirimu sendiri tidak seperti itu? Setelah apa yang kau lakukan terhadapku selama ini? Bahkan kau sudah berani melakukan hal aneh terhadap telingaku sehingga membuatku tidak bisa tidur dan kau tahu bahwa itu adalah kelemahanku! Dasar Jenius Berotak Mesum!!”

Soo Rin terlihat terengah-engah begitu menyelesaikan kalimatnya. Menumpahkan amarahnya ke dalam kata-kata, yang bukannya membuat Ki Bum menyesal apalagi berbalik marah mendapati julukan yang sangat mengejeknya—Jenius Berotak Mesum, tapi justru membuat lelaki itu semakin mengembangkan senyumnya. Yang sejurus kemudian, Soo Rin terkesiap dan membekap mulutnya rapat-rapat, menyadari bahwa dirinya sudah mengeluarkan satu kartu As kepada lelaki di hadapannya. Lalu dia mulai menunduk dalam sambil mengutuk dirinya sendiri, terutama mengutuk mulutnya yang tiba-tiba hilang kendali. Soo Rin hendak memutar tubuhnya demi menyembunyikan rasa malunya, tapi Ki Bum segera meraih kedua bahunya hingga tubuhnya kembali menghadap lelaki itu.

Earlobe Kiss. Itu adalah nama dari ciuman yang aku lakukan padamu kemarin malam.”

M-mwo?” Mendadak Soo Rin berdesir mendengar sebutan yang Ki Bum ucapkan itu. “U-untuk apa kau memberitahuku soal itu?” gumamnya dengan suaranya yang semakin mengecil hingga hampir menyamai bisikan.

“Sekedar membuatmu tahu saja.”

“Kenapa kau melakukan itu… kemarin malam…”

“Daripada aku mencium bibirmu sampai bengkak?” Ki Bum menyeringai.

YA!!” Soo Rin memekik kembali. “Tidak bisakah kau menggunakan kata-kata yang lebih sopan lagi?!” serunya mulai terlihat frustasi. Membuat Ki Bum terkekeh geli melihatnya yang sudah salah tingkah.

“Itu sudah menggunakan kata yang sopan.” Ki Bum kembali menoyor kening gadisnya. “Aku tidak mau melampiaskannya dengan melakukan ini,” gumamnya dengan jari telunjuk menyentuh bibir Soo Rin dengan lembut. Memberikan sensasi yang membuat gadis itu menahan napas begitu merasakan sentuhannya. “Di sisi lain aku mengingat bahwa aku tidak mau membuatmu menganggapku adalah lelaki yang buruk, tapi sisi lain dariku saat itu juga sudah tidak bisa menahannya. Karena itu, aku melampiaskannya dengan melakukan ini,” kini jari telunjuk Ki Bum beralih menyentuh telinga kiri Soo Rin. “Maafkan aku,” dan kini Ki Bum menatap Soo Rin dengan sendu.

Soo Rin kembali menunduk. Perasaannya membuncah mendengar segala pengakuan Ki Bum. Bahkan hanya dengan mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya, sudah membuat wajah Soo Rin merona. Dan jantungnya mulai berdetak di atas normal begitu dirasakan tangan itu kembali bergerak menyentuh dagunya dan mengangkatnya hingga matanya terpaku dengan mata hitam pekat itu.

“Aku sangat cemburu, kemarin malam,” gumam Ki Bum tepat di depan wajah Soo Rin. Membuat gadis itu semakin berdebar-debar.

“Ap-apakah itu bisa disebut dengan sebuah—kiss?” Soo Rin menggerutu dengan susah payah, mencoba mengalihkan pandangannya dengan wajah yang semakin merona karena mengingat kejadian tadi malam.

Ki Bum tidak segera menjawab. Matanya semakin lekat memandang wajah yang merona itu. Bahkan dirinya juga tengah menahan napas demi menahan gejolaknya yang mulai kembali bangkit. Sedangkan Soo Rin mulai merutuki kalimat terkahir yang diutarakannya. Untuk apa dia memberikan pertanyaan yang terdengar begitu bodoh itu?

“Kau ingin mencobanya lagi?”

“A-apa?” Soo Rin terhenyak mendengarnya. Mulutnya terbuka karena ketertegunannya. Barusan Ki Bum bertanya seperti itu?

Earlobe Kiss…” gumam Ki Bum. Tangannya yang memegang dagu Soo Rin kembali bergerak ke sisi kiri wajah, memutar hingga ke sisi kanan wajah, menyingkap rambut panjang yang menutupi telinga sebelah kanan lalu mengumpulkannya ke bahu kiri Soo Rin. “Di sisi lainnya,” lanjutnya dengan halus.

Soo Rin kembali mengatupkan mulutnya, menelan ludah dengan gugup. Mendapatkan perlakuan seperti ini sudah sulit membuatnya untuk melawan. Ditambah tubuh tegap itu bergerak maju demi merapat dengan tubuhnya. Melingkarkan sebelah tangan kekar itu ke pinggangnya. Dan, wajah tegas itu mulai maju hingga ke sisi kanan wajahnya. Detik kemudian, tubuh Soo Rin menegang begitu benda tak bertulang itu menyentuh telinganya.

Ki Bum tidak bergerak setelahnya. Merasakan reaksi yang begitu terasa dari gadis di pelukannya begitu bibirnya menyentuh telinga kanan gadis ini. Tak lama bibirnya mulai mengembangkan senyum. Lalu wajahnya mulai bergerak mundur. Dia hanya bermaksud ingin menggoda gadis ini, ternyata. Namun senyumnya segera menghilang begitu matanya berhasil menangkap wajah Soo Rin. Ki Bum tertegun. Terpana.

Wajah itu benar-benar sudah berubah menjadi merah padam.

Dan itu sukses membuat gejolaknya semakin naik. Semburat itu selalu membuatnya tersiksa. Gemas. Bahkan bisa membuat dirinya menggeram tanpa sadar. Entah Soo Rin menyadarinya atau tidak, bahwa ini adalah salah satu dari kartu As milik Ki Bum.

Ki Bum kembali menggerakkan wajahnya maju. Tangannya yang sempat terselampir di bahu Soo Rin, bergerak merengkuh wajah yang merona padam itu. Detik kemudian, Ki Bum berhasil membungkam bibir kecil gadisnya. Memejamkan kedua matanya, merasakan sensasi kehangatan yang segera menjalar ke tubuhnya. Sedangkan Soo Rin harus terkesiap begitu lelaki ini menciumnya, untuk yang ketiga kalinya.

Tak ada pergerakan untuk waktu yang cukup lama. Membiarkan diri mereka merasakan kehangatan yang tercipta dengan sendirinya. Merasakan sensasi yang menggerakkan jantung mereka untuk memompa lebih cepat dari batas normal. Merasakan sengatan yang menjalar hingga menggelitik perut mereka. Soo Rin bahkan masih melebarkan matanya. Sarafnya terasa berhenti berfungsi secara tiba-tiba. Wajahnya yang sudah merona padam semakin memanas.

Tapi ketenangan itu berubah begitu Ki Bum membuka matanya. Kedua tangannya bergerak meraih kedua tangan Soo Rin, menuntunnya hingga menyelampir ke bahunya, bersamaan dengan dirinya yang mulai bergerak mengulum. Yang seketika berhasil membuat Soo Rin terperanjat dan mulai memejamkan mata. Ki Bum melepas ciumannya demi memberikan udara luar yang langsung dihirup oleh gadisnya, tapi tidak ada dalam waktu tiga detik Ki Bum kembali mengulumnya dengan kembali memejamkan mata. Menyesapnya bergiliran, mencecapi kelembutannya, mendominasi dengan tangan yang kembali memeluk tubuh ramping itu—posesif. Tapi tak bertahan lama karena sebelah tangannya kembali bergerak ke atas, menuju tengkuk gadisnya demi memperdalam ciumannya. Bahkan dengan berani Ki Bum meremas rambut panjang gadisnya. Tak peduli jika rambut yang tergerai rapih itu menjadi berantakan akibat perlakuannya. Ki Bum sudah kehilangan akal. Lelaki ini sudah meledak.

Sedangkan Soo Rin, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tubuhnya benar-benar tak dapat bergerak, terkurung dengan pelukan lelaki ini. Dan begitu dirinya meremas kedua bahu ini demi mencari kekuatan, lelaki ini semakin mengeratkan pelukannya hingga memperdalam perlakuannya dengan meraup bibir manisnya seolah tengah menjangkau lebih dalam. Membuat Soo Rin harus merasa pening dan jantungnya berdetak semakin memburu seolah ingin meledak kapan saja. Kakinya mulai lemas. Mungkin tak lama dirinya akan meleleh. Merasakan berbagai lumatan yang menguasai bibirnya yang terkatup rapat. Hingga akhirnya dirinya kembali dibuat terperanjat begitu merasakan benda tak bertulang lainnya bergerak menyapu bibirnya. Ikut mencicipi kelembutannya. Yang seketika membuat tubuhnya bergetar, tegang, dan memanas!

Ki Bum segera menghentikan aktivitasnya—dengan sedikit menyesal. Menyadari bahwa dirinya sudah kelewatan. Sebelah tangannya bergerak menuju ke dagu gadisnya, mengusap sudut bibir yang terlihat basah itu, akibat perlakuannya. Hampir saja dirinya memakan omongannya yang hanya dimaksudkan sebagai gurauan, mencium bibir Soo Rin sampai bengkak.

Soo Rin mencoba membuka mata dan segera menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dirinya megap-megap. Kakinya benar-benar lemas, hanya saja karena Ki Bum memeluknya maka dia tidak terjatuh. Bahkan dapat dirasakan bahwa pandangannya begitu sayu. Sungguh, ini lebih mencengangkan dibandingkan sebelumnya!

Satu kartu As milik Ki Bum yang lainnya dan baru dia dapatkan, dia tidak tahan dengan mata sayu itu. Ki Bum mulai menggeram. Demi menekan gejolaknya yang kembali naik, Ki Bum menenggelamkan wajah gadisnya ke dada bidangnya. Mendekapnya, sambil memejamkan mata, berusaha menahan perasaannya yang ingin kembali merasakan kelembutan bibir manis itu.

Saranghae.”

Ki Bum berhasil melontarkannya, dengan sebuah bisikan, tepat di telinga Soo Rin. Dan Soo Rin mulai terbuai dengan kehangatan yang Ki Bum buat. Memejamkan mata, Soo Rin hanya mampu membalasnya dengan sebuah anggukan. Dan itu sudah cukup bagi Ki Bum.

****

:: Thursday

Pagi hari setelah sarapan bersama, mereka memilih untuk kembali bersepeda. Tae Min sempat mengajak untuk bertanding lagi, tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh para lelaki—apalagi para gadis. Akhirnya, mereka memilih untuk bersepeda sendiri-sendiri.

Soo Rin baru saja mengembalikan sepeda sewaannya begitu matanya menangkap sosok yang tengah berjalan keluar dari lingkungan hotel dengan menenteng tas besar. Ah, dia akan melanjutkan perjalanannya hari ini, batinnya. Tanpa sadar, Soo Rin mendesah kecewa. Rasanya baru kemarin dia berhasil kembali bertemu dengan orang itu.

“Soo Rin-ah!”

Soo Rin sedikit tersentak mendengar seruan itu. Ternyata orang itu mendapatinya dan kini dia tengah berjalan mendekat. Dengan ragu Soo Rin pun ikut melangkah mendekat.

“Sedang apa kau di sini?” Ryeo Wook menyapa terlebih dahulu.

“Aku baru saja bersepeda,” jawab Soo Rin. “Kau akan berangkat hari ini?” lanjutnya.

Ryeo Wook mengangguk. Sedikit tidak rela untuk pergi begitu mendapat pertanyaan dari gadis di hadapannya ini. Ryeo Wook bisa melihat bahwa Soo Rin mengendurkan kedua bahunya. “Rasanya waktu berjalan begitu cepat, ya? Sekarang kita harus berpisah lagi,” gumamnya dengan sedikit menampakkan senyumnya.

“Kau benar,” balas Soo Rin lirih.

“Ah, soal malam kemarin lusa… aku minta maaf,” ucap Ryeo Wook dengan mata sendunya. “Apakah… kekasihmu memarahimu setelah kejadian itu?”

Soo Rin mulai tampak salah tingkah begitu ingatannya kembali mengingat kejadian di mana dirinya mendapatkan ciuman-pertama-di-telinganya. Merasa wajahnya memanas tiba-tiba, Soo Rin akhirnya menundukkan kepala. Menggeleng pelan. “Dia hanya merasa khawatir,” jawabnya kemudian.

Tanpa gadis itu ketahui, Ryeo Wook semakin menampakkan wajah sendunya. Dilihat dari gelagat Soo Rin, Ryeo Wook sudah mengerti. Dan dirinya hanya mampu membuang napasnya yang mulai terasa berat, hanya karena gadis di hadapannya. “Kalau begitu, tolong sampaikan salam maafku… untuk lelakimu,” ucapnya. Tangannya terangkat mencoba meraih puncak kepala yang tertunduk itu, tapi segera diurungkan begitu pemiliknya kembali mengangkatnya dan memandangnya. Mengumbarkan senyumnya yang begitu manis, yang bodohnya baru dia sadari bahwa itu memang terlihat… manis.

“Um.” Soo Rin mengangguk. “Sepertinya sudah waktunya untuk berangkat.” Soo Rin melirik ke belakang Ryeo Wook. Mendapati gerombolan yang mengenakan pakaian seragam seperti Ryeo Wook mulai berbondong-bondong keluar dari lingkungan hotel menuju beberapa bus yang sudah memarkir tak jauh dari mereka keluar.

Ryeo Wook sempat menoleh ke belakang. “Kau benar. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa lagi,” pamitnya kemudian.

“Kim Ryeo Wook!” seru Soo Rin begitu Ryeo Wook berbalik, membuat lelaki itu kembali menghadapnya. Sempat ada jeda di antara mereka sebelum Soo Rin kembali membuka mulut. “Kita… masih menjadi teman, kan?” tanyanya dengan hati-hati.

Detik kemudian Ryeo Wook mendengus hingga terkekeh. Kini tanpa ragu Ryeo Wook mendaratkan sebelah tangannya ke puncak kepala Soo Rin dan mengusapnya gemas. “Bahkan kita masih bersahabat!” balasnya terdengar riang. Lalu tangan itu beralih ke hadapan Soo Rin, menunjukkan jari kelingkingnya. “Janji persahabatan?”

Soo Rin tersenyum lega. Dengan ringan ia membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada milik Ryeo Wook. Bersamaan, mereka juga menyatukan jempol mereka lalu mengayunkan kaitan mereka. Memang sudah harus seperti ini hubungan mereka. Tetap menjadi teman, tetap menjadi sahabat. Meski sempat terjadi kesalahpahaman hati, pada akhirnya mereka akan tetap menjadi sepasang sahabat. Soo Rin sudah membuktikannya dulu. Dan kini, giliran Ryeo Wook yang harus membuktikannya.

“Sehat selalu, Bocah!” ucap Soo Rin dengan ringan. Membuat Ryeo Wook harus kembali terkekeh mendengarnya. Sudah lama sekali dirinya tidak mendengar julukan itu dari mulut sang pencetusnya.

“Kau juga, Gadis Aneh!” balas Ryeo Wook yang langsung mendapatkan tatapan tak suka dari Soo Rin. “Ingat, kau sudah tidak bisa menyebutku Pendek lagi.” Ryeo Wook menyeringai bangga.

“Sudah kubilang jangan menyebutku Gadis Aneh lagi!” sungut Soo Rin yang membuat Ryeo Wook tergelak. Gadis ini masih terlihat sama jika sedang marah, pikir Ryeo Wook.

“Aku mengerti. Maaf.” Ryeo Wook mulai berjalan mundur. “Sampai jumpa lagi, Rin-ah!” pamitnya sebelum berbalik. Meninggalkan gadis yang mulai melambaikan tangan untuknya, dengan perasaan campur aduk. Namun baru tiga langkah, Ryeo Wook kembali menghadap gadis itu. “Soo Rin-ah.

“Um?”

“Kau… terlihat sangat cantik.” Ryeo Wook mengulas senyum manisnya. Sedangkan Soo Rin terperangah mendengar pernyataannya, yang kemudian gadis itu sedikit menunduk salah tingkah. “Sayang sekali, ya… aku baru menyadarinya sekarang,” lanjut Ryeo Wook yang membuat gadis itu kembali menatapnya—melongo bingung. Tapi Ryeo Wook segera kembali menampakkan wajah cerianya dan kembali mengucapkan salam perpisahan sebelum akhirnya dia benar-benar pergi menjauh. Tanpa menoleh lagi.

Soo Rin mengantarkan kepergian Ryeo Wook. Memandang punggung yang sudah tegap itu, dengan mengulas senyum tipis. Sungguh, dia merasa ringan melihat sosok itu sekarang. Bahkan kini dirinya tengah menertawai dirinya yang dulu, yang pernah memiliki perasaan begitu dalam terhadap sosok itu, bahkan sampai menangisinya. Meskipun dia begitu mengenang perasaannya dulu, menjadikannya sebagai sebuah pelajaran berharga mengenai hatinya, tapi, tidakkah dirinya yang dulu terlihat lucu?

Kini, dia mendapatkan lagi perasaan itu, dari sosok yang berbeda, bahkan mendapatkan balasannya.

“Apa yang sedang kau lihat?”

Soo Rin terlonjak kaget begitu mendapatkan sapuan halus berupa gumaman di telinganya. Yang secara spontan membuatnya menoleh dan harus segera menahan napas begitu mendapati wajah itu sudah berada di hadapannya, sangat dekat.

Dengan posisi tubuh berdiri tepat di belakang Soo Rin serta wajah yang masih betah dicondongkan ke sisi wajah yang kini sudah berubah menjadi saling berhadapan, Ki Bum melirik ke depan. Melihat sosok yang sempat membuatnya cemburu kemarin tengah beranjak masuk ke dalam bus. Lalu tatapannya kembali menghunus mata jernih kecokelatan itu. “Sudah melakukan perjanjian apa dengan lelaki itu?” tanyanya kemudian.

Soo Rin segera membuat jarak. Terlihat sekali bahwa wajahnya kembali merona. Bukan karena pertanyaan yang Ki Bum lontarkan, tapi karena perlakuan Ki Bum yang tiba-tiba itu. “Apakah itu penting untukmu?” balas Soo Rin tergagap.

“Jika memang iya?”

Ish! Hanya sebuah janji pertemanan, kau puas?” Soo Rin mengerucutkan bibirnya. Membiarkan dirinya berkata jujur. Lagipula untuk apa hal seperti itu disembunyikan dan untuk apa pula lelaki ini bertanya soal itu? pikirnya.

Ki Bum menegakkan tubuhnya. Sebenarnya tanpa dia harus bersikap seperti ini pun dia sudah mengerti akan gadis ini. Hanya saja, melihat gerak-gerik Ryeo Wook saat berhadapan dengan gadisnya ini tadi membuat dirinya bersikap demi menekankan sesuatu. “Kemarikan tanganmu!” titahnya sambil mengulurkan sebelah tangannya.

Soo Rin menurut saja. Mengulurkan tangan yang tanpa dia ketahui merupakan tangan yang diharapkan oleh Ki Bum—tangan yang sempat digunakan untuk melakukan janji persahabatan dengan Ryeo Wook. Begitu tangan Soo Rin berada di atas tangannya, Ki Bum segera meraihnya. Menautkan jari-jari mereka lalu mengapit lengan mereka hingga tubuh mereka rapat. Dan perlakuan ini selalu membuat Soo Rin merasa gugup tiba-tiba.

“Aku ingin seperti ini sampai besok.”

“Apa?!”

Ki Bum membalas tatapan terkejut Soo Rin. “Suka atau tidak, kita harus seperti ini selama seharian penuh. Atau tidak, sampai kita pulang dari sini,” ucapnya terdengar menekankan.

“Huh?! Ta-tapi… kenapa?” Soo Rin tampak tengah syok. Apa lelaki ini sedang tidak waras? Atau memang sudah tidak waras? pikirnya kalut. Bagaimana mungkin dirinya harus seperti ini, bersama lelaki ini, seharian penuh? Ah tidak, sampai pulang dari sini?!

Ki Bum mulai menarik tautan mereka dan mulai melangkah menuju villa. Tak peduli dengan protesan Soo Rin yang meminta penjelasan. Yang justru membuat Soo Rin tersungut kesal. Dia tidak mau menejelaskan alasannya. Biarkan saja gadis ini yang menerka. Atau tidak, biarkan hanya dirinya yang tahu. Mengingat gadis ini begitu lambat dalam menangkap segala perlakuannya.

“Bagaimana jika aku ingin makan? Aku tidak bisa makan dengan tangan kiri!”

“Aku akan menyuapimu nanti.”

M-mwo?! Lalu bagaimana jika aku harus ke kamar mandi?”

“Aku akan menemanimu.”

YA!!”

“Dan jika kau ingin tidur, aku akan tidur bersamamu.”

YA, KIM KI BUM!!”

 

 

-END


 

Because I naughty naughty~

Yah, mungkin seperti itu gambaran saya (?) T____T

Hwaaaaaaaaaaa sumpah ini makin ngasal, makin absurd, makin ngaco, makin aneh, makin………..yah, tebak sendiri aja -__,- Kibum-sshi, sungguh maafkan saya yang udah bikin kamu makin liar/? di sini. Ini berkat imajinasi saya yang luar binasa (?!) Tolong jangan salahkan saya akan otak saya ini, tapi salahkan Ahjusshi yang sudah menodai otak saya!! /tunjuk-tunjuk Hyukjae/? /diplototin/ -__-

Untung ini udah part terakhir. Jadi kami selaku para staff dan para pemain FF (?) bisa bernapas lega……sejenak u.u

Yosh, setelah ini, aku mau hiatus bikin FF Kibum. Dan mencoba fokus buat FF member lain. Khukhukhukhu. Atau mungkin ngga bikin sama sekali.__. #duagh Aku bakal comeback (mudah-mudahan) di menjelang ultahnya ngahahaha xD Lagipula aku harus fokus ujian masuk ptn yang akan diadakan sebentar lagi~ ㅠ Doakan aku!! #krikrik

Baiklah, sebagaimana menghargai karya orang, meski cerita ini sangat sangaaaaaatt jauh dari kata sempurna, aku mohon tidak melakukan aksi duplikat/? alias plagiat ya._. Aku ngga masalah dengan sider tapi aku begitu mewanti dengan aksi copas tanpa izin ^^

Yosh! Akhir kata, Terima kasih sudah mampir~^-^ 끝!!!

casts2

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

16 thoughts on “Summer (Love) Holiday – Part 3, Last

  1. waahh.. akhirnya kelanjutan cerita yg ditunggu” sudah ada,senengnya. #terharu sejenak hehe
    daebak banget deh kakak, kasih 2 jempoll. mungkin aku akan jadi penggemat ff kakak, hehe. semangat buat ujian ptnnya, aku tunggu ff terbaru kakak. kamsahamnida #bow90°

  2. baru aja td ngomen kalo ada wookie oppa jgn smpe ganggu hub. KiSoo couple, eh pas bca yg ini wookie oppa ada. aduh thorr senyum2 sndiri aku bcanya, bener2 bgus ff ini! daebak! please jgn hiatus buat ff kibum, udh srekk bnget sma krkter kibum yg author buat >< aplg sma KiSoo couple. next story dtunggu.. 😀

    1. aku jg senyum2 sendiri baca komenannya hehehet >< makasih banyak ya.. tapi diusahain untuk ga hiatus lama-lama kok #plak terima kasih udah bersedia menunggu~ kkk^^

  3. Thor kau membuat image kibumku yg unyuunyu(?) menjadi hancur T_T /desh/ btw akhir yg menyenangkan kkk oiya ujian ptnnya itu…sbmptnkah? Jika iya,woah sama! Semoga kita diterima di ptn yg diinginkan ya thor >< hwaiting!

    1. tidak selamanya seorang Kibum harus unyuunyu hueheheheh #ditendang xD maaf ya ;w;)/
      waah, aamiin kalo gitu 🙂 kita harus tetap optimis ya..^^ ajaaja!!
      terima kasih atas waktu luangnya untuk mampir~><

  4. Duh author sukses buat aku dapet feel bacanya senyum2 sendiri ikut deg2an…

    Sika sama couple KiSoo, Kibum nya sweet bgtzzzzz…

    Sukses terus buatmu author 👍👍👍

    1. wks~ sebenernya aku juga kaget, kok Jongjin lebih banyak peran dibanding si Jongwoon alias Yesung itu XD ah, sudah terlanjur, biarkan saja~ kkk
      makasih yaa udah mau bacaa~^^

  5. Kibum lucu bgtt sih 😝😝 earlobe kiss nya lucu hiks 😚😗 sukaa sama couple ini sumvehh xD authoorr nya udh gk hiatus kann? Wkwkk aku panggil kak aja yaa 😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s