Posted in Category Fiction, Fantasy, Fiction, One Shot, PG, PG-17, Romance

When Full Moon Comes

Genre : Fantasy, Romance
Rated : PG-17
Length : One Shot
Kyu Hyun || Yeon Soo
CKH
“This story comes from my mind aka fiction^^ And this story is dedicated to My Best Friend who always loved Cho Kyu Hyun, Rahma-ke!! Hope you like it, Chingu-ya~^^ 헤헷
Okay! Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~”

ㅡㅡ

You shower in the pouring moonlight
I haven’t seen that entrancing expression before
I look at you who’s stopped like a picture and at the end of that gaze*

Pagi yang cukup cerah mengingat saat ini musim gugur semakin mendekati musim bersalju. Baru saja Kota Metropolitan ini diguyur hujan semalam. Jalanan yang masih basah dan dipadukan sinar matahari yang sedikit menghangatkan atmosfir dingin menusuk khas musim gugur menjadi pendukung suasana kota ini sejuk di pagi hari, serta pantas untuk dinikmati.

Seorang gadis cantik dengan wajah putih sedikit merona tengah bersiap diri untuk berangkat kuliah. Mengenakan kaus putih berlengan panjang serta celana jeans biru gelap. Memang saat ini udara sudah mulai dingin, tapi dirinya juga memang sudah tidak menyukai pakaian yang memperlihatkan pundak sekaligus kaki jenjangnya. Dia adalah gadis yang sudah berkuliah, Bae Yeon Soo.

Yeon Soo beranjak menuju cermin besarnya, mematut dirinya yang sudah tampak rapih dengan rambut panjangnya yang diikat ke belakang. Begitu dirinya ingin merapikan kerah vintage kaus yang dikenakannya, ia mematung. Matanya terpaku pada sesuatu yang melekat di leher sebelah kirinya, yang tersembunyi sebagian di balik kausnya. Perlahan tangannya bergerak membuka kerahnya, segeralah tampilan itu terpampang dengan sangat jelas. Dari pantulan cermin besarnya, Yeon Soo dapat dengan jelas melihat bekas yang sudah menghiasi leher putihnya itu. Bekas yang selalu membuatnya risih jika memakai pakaian yang harus memperlihatkan leher jenjangnya. Bekas yang selalu membuatnya meringis meratapi nasib dirinya sejak kejadian itu hingga detik ini. Bekas yang selalu membuatnya harus merasa sakit di suatu malam dan menjadi rutinitasnya. Bekas yang telah membuat dirinya menjadi gadis yang tertutup dan pendiam.

Bekas yang membentuk mirip seperti bulan sabit dengan warna biru keunguan seperti sebuah lebam yang tak pernah menghilang.

Bekas gigitan.

Yeon Soo menghela napas panjang. Kembali dirapikan pakaiannya. Lalu melepas ikatan rambutnya hingga tergerai dan ia rapikan hingga menutupi lehernya, terutama bekas yang mencolok di lehernya itu. Diraihnya sebuah jaket kulit berwarna hitam lalu dikenakannya. Dan kembali merapikan rambut panjangnya yang tergerai.

Bahkan ditutup dengan jaket pun masih sedikit tampak. Hanya rambut panjangnya yang dapat dia andalkan.

****

Tak ada makhluk penghisap darah manusia di dunia ini.

Itu hanya tokoh fiksi yang bertujuan menakuti anak kecil yang tidak mau segera beranjak tidur.

Wujud yang hanya muncul di televisi dan film.

Wujud yang hanya ada di dalam tulisan.

Bukan wujud yang nyata.

Tak ada makhluk penghisap darah yang sering diceritakan banyak orang. Tak ada makhluk seperti itu.

Begitulah menurut Yeon Soo… sebelum dirinya benar-benar diperlihatkan secara gamblang. Bahwa makhluk itu, memang benar ada. Di dunianya ini.

 

_3 Months Ago_

Yeon Soo baru saja menyelesaikan tugas makalahnya bersama teman dekatnya serta di rumah teman dekatnya tersebut, Lee Bo Na. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Itu artinya, dia harus segera pulang.

“Kau yakin tidak ingin menginap?” tanya Bo Na kembali memastikan. Sebelumnya dia sudah menawarkan teman dekatnya ini untuk menginap karena hari sudah gelap. Tapi Yeon Soo menolaknya dengan alasan besok pagi dia harus menemani ibunya berbelanja.

“Um. Aku takut besok akan bangun terlambat dan kembali ke rumah terlambat pula.” Yeon Soo kembali menolak.

“Baiklah. Apa kau ingin kuantar?”

Eii, tidak perlu. Rumahku tidak sejauh letak kampus kita, kau ini.”

Yeon Soo memang bertempat tinggal tidak jauh dari rumah Bo Na. Jarak rumah keduanya hanya sekitar 200 meter dan masuk dalam komplek yang sama. Cukup dengan berjalan kaki, Yeon Soo hanya membutuhkan waktu 10-15 menit untuk sampai ke rumahnya.

“Hati-hati, Bae Yeon Soo!”

Yeon Soo melambaikan tangan pada Bo Na sebelum keluar dari pekarangan rumah teman dekatnya itu. Lalu mulai menelusuri jalanan komplek yang sudah sepi dan juga sunyi.

Gadis ini memang tidak merasa takut dengan kesendiriannya—berjalan di jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu jalanan di beberapa titik dengan jarak yang saling berjauhan. Malam ini merupakan di mana bulan purnama mulai tampak. Memberikan ketenangan pada Yeon Soo karena cahayanya yang meski tidak seterang matahari namun mampu menyinari perjalanan pulangnya. Sambil memecah suasana senyap, Yeon Soo memilih untuk mendengarkan musik dari ponselnya.

Yeon Soo baru memasang sebelah headset-nya ketika dirinya mulai merasakan sesuatu di belakangnya. Seperti ada seseorang yang tengah mengikutinya. Menghentikan langkah, dengan berani, Yeon Soo menoleh ke belakang. Dan dia tidak menemukan siapapun di sana. Hanya jalanan komplek yang sempit dan lengang. Yeon Soo melanjutkan langkahnya, dengan sifat acuh, ia memasang sebelah headset-nya yang lain. Lalu beralih mengutak-atik ponselnya, membuka fitur pemutar musik.

Tap… tap..

Yeon Soo kembali menghentikan langkahnya begitu indera pendengarnya yang belum disumpal dengan dentingan lagu menangkap suara langkah kaki di belakang. Tanpa berpikir dua kali dia kembali menoleh ke belakang. Dan detik itu pula, dia merasakan angin kencang berhembus menerpa sebelum merasakan dorongan keras yang membuat dirinya terhempas.

BUG

“Ugh—”

Yeon Soo merintih begitu merasakan punggungnya menabrak tiang lampu di persimpangan jalanan komplek. Benturan yang cukup keras telah berhasil membuat dirinya seperti kehilangan napas dan sukses menjatuhkan ponsel beserta headset-nya. Yeon Soo tak dapat berpikir mengenai apa yang tengah menimpanya saat ini, sebelah tangannya telah memegangi belakang pundaknya, dan ia mencoba bergerak mengambil ponselnya yang tergeletak cukup jauh dari tempatnya.

Tapi kakinya yang baru akan melangkah terhenti begitu dirinya menyadari ada sepasang kaki di dekat ponselnya. Perlahan pandangannya mengangkat demi melihat pemilik sepasang kaki itu. Belum sempat dirinya melihat wajah itu, dia harus kembali merasakan punggungnya membentur tiang lampu dan seketika lampu yang menjadi penerang jalanan ini terpadam. Angin yang begitu kencang beserta dorongan yang sekaligus menahan tubuhnya berhasil membuat dirinya kembali merintih kesakitan. Yeon Soo membuka matanya kembali, dan saat itu juga dirinya dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri menghimpit tubuhnya. Mencengkeramnya.

Yeon Soo dapat melihat wajah orang itu—samar-samar. Lampu penerang persimpangan jalan yang berada tepat di atas mereka telah mati total hingga dirinya hanya dapat memanfaatkan cahaya bulan purnama yang sebenarnya tak cukup untuk melihat dengan jelas wajah di hadapannya kini. Yang dapat dia pastikan, hidungnya tampak mancung, dan sepasang mata itu menyala dengan iris merah darah.

Merah darah?

Astaga, siapa orang ini?!

Yeon Soo mulai meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman orang ini. Tapi semakin dia banyak bergerak, semakin cengkeraman orang ini menguat. Seolah tengah meremas tubuhnya dan itu membuatnya meringis.

“Lepaskan aku,” cetus Yeon Soo dingin. Mencoba untuk melawan. “Kau siapa, huh? Lepaskan aku!” serunya dengan kembali meronta.

Yeon Soo baru menyadari bahwa tubuh yang tengah menghimpitnya ini terasa begitu keras. Seolah tak ada kehangatan di sana. Bahkan dia dapat merasakan bahwa kedua tangan yang tengah mengurungnya ini terasa begitu dingin hingga menembus sweater yang dikenakannya. Dan, Yeon Soo kembali dikejutkan begitu orang ini menampakkan seringaiannya.

Dia dapat melihat, di balik seringaian itu… sebuah taring!

Seolma—” Yeon Soo tercekat. Tanpa aba-aba, tubuhnya mulai kaku, bulu kuduknya meremang, bergidik.

Tidak mungkin.

Makhluk itu ada?

Tidak mungkin!

Dia pasti tengah bermimpi!

Yeon Soo terhenyak begitu tubuh orang ini semakin menghimpitnya. Memajukan wajahnya, hingga berhenti tepat di depan ceruk lehernya yang terpampang jelas akibat rambut panjangnya yang terikat ke belakang. Dia dapat mendengar tarikan napas orang ini, yang seolah tengah mengendus wangi tubuhnya, lalu mendesah panjang yang jelas membuat dirinya menegang begitu merasakan terpaan dingin yang keluar dari mulut orang ini. Ya, dingin.

“Kau memiliki wangi darah yang berbeda dari lainnya.”

Yeon Soo kembali tercekat begitu indera pendengarannya menangkap suara yang begitu berat. Halus. Juga mencekam. Dan, mulai gemetar karena kalimat yang terlontar itu. Wangi darah? Yang benar saja, apa-apaan orang ini?

Tapi bodohnya, batinnya sempat berkomentar bahwa suara itu terdengar begitu indah.

Yeon Soo dapat mendengar suara dengusan dari orang ini.

“Yah, suaraku memang terdengar sangat indah.”

Mwoya, dia dapat mendengar suara batinku?

“Suaramu juga terdengar indah. Membuatku bersemangat untuk segera merasakan kenikmatanmu.”

Yeon Soo berjengit begitu merasakan benda lunak dan dingin menyentuh ceruk lehernya. Sempat dirinya berpikir kenapa terasa begitu dingin, namun dirinya segera menduga bahwa orang ini bukan manusia biasa. Astaga, dia tahu pasti apa yang tengah dilakukan orang ini. Dan dia mulai ketakutan begitu pikirannya mulai berimajinasi akan apa yang diceritakan oleh orang-orang itu.

“Apa yang kau lakukan?! Lepas— Aaaaaaaaakh!!!”

Mulut pucat itu terbuka hingga menampakkan sepasang taring yang segera menancap pada kulit putih Yeon Soo. Menembus hingga ke dagingnya, hingga mencuatkan darah segar yang segera dihisapnya. Yeon Soo berteriak kesakitan, merasakan perih dan panas yang luar biasa hingga sukses membuat pandangannya mengabut dengan cepat. Lalu terpejam kuat begitu dirinya semakin merasakan gigitan dan hisapan yang semakin dalam di leher sebelah kirinya.

Apa ini? Kenapa bisa seperti ini? Kenapa ini benar-benar terjadi? Makhluk itu benar-benar ada?

Tidak mungkin…

Tapi, ini—

Tangan kekar itu bergerak, dengan tetap menghisap, ia menggerakkan sebelah tangannya membekap mulut Yeon Soo yang meraung kesakitan. Tangan lainnya ikut bergerak merengkuh keras tubuh ramping gadis ini.

Yeon Soo dapat merasakan pening yang segera menderanya. Tubuhnya yang bergetar semakin kehilangan tenaga. Bahkan dia mulai merasa perutnya seperti tengah diaduk-aduk hebat yang sukses membuat dirinya berkeringat dingin. Sakit dan panas yang luar biasa telah merenggut segala kekuatannya untuk melawan. Tak dapat meronta. Dan dirinya hanya dapat pasrah.

Tuhan, apakah aku akan mati?

Saking kesakitan juga ketakutan, Yeon Soo menangis. Matanya yang terpejam mengalirkan bulir bening yang hangat dan membasahi kedua pipinya. Hingga mengaliri tangan dingin yang tengah membekapnya. Dan, dia mulai merasakan orang ini melepas gigitannya.

Yeon Soo masih merasakan dirinya bernapas, meski terasa sangat berat. Dia mulai membuka mata perlahan, susah payah. Lalu mendapati wajah itu tengah menghadapnya. Dan mata itu tengah menatapnya tajam. Dia dapat melihat sesuatu menetes dari dagu runcing itu, yang disusul dengan dirinya menangkap bau anyir yang jelas merupakan bau darah. Darahnya.

Tangan dingin yang membekapnya telah beralih, menjadi merengkuh wajahnya dan menggerakkan ibu jari demi mengusap air matanya.

Kenapa aku tidak mati? Bukankah seharusnya aku mati kehabisan darah?

Dan apa ini? Apa yang dia lakukan?

Orang itu kembali bergerak maju, mencondongkan wajahnya hingga berhenti tepat di depan telinga Yeon Soo. Membisikkan sesuatu yang seolah bagaikan hipnotis sukses membuat Yeon Soo mulai kehilangan kesadarannya. Dan sebelum tubuh gadis itu merosot jatuh, tangan kekar itu kembali merengkuh tubuhnya hingga terjatuh ke dalam pelukannya.

Yeon Soo tak sadarkan diri.

&&&

Yeon Soo mengira dirinya sudah mati setelahnya. Dia justru terkejut begitu mendapati dirinya yang sudah terbaring di tempat tidurnya—kamarnya—hingga membuat kedua orang tuanya terheran melihat anak gadis mereka sudah pulang tanpa sepengetahuan mereka. Awalnya Yeon Soo mengira dirinya tengah bermimpi. Tapi begitu ibunya terkejut bukan main melihat bercak keunguan di lehernya, sukses membuat dirinya berjengit sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Yeon Soo drop saat itu juga. Dirinya tidak ingin berkuliah hampir seminggu lamanya dan memilih untuk mengurung diri di kamar. Tak tahu bagaimana dirinya harus menjelaskan pada orang tuanya. Meski ibunya selalu bersikap seperti biasa setelahnya, dia tahu pasti ibunya masih bertanya-tanya mengenai luka yang membekas itu. Syukurnya, sang ibu tidak menceritakan hal ini pada ayahnya dan memberikan alasan lain. Bagaimana jika beliau tahu soal luka ini? Sudah pasti dirinya akan mendapatkan banyak interogasi dari ayahnya yang begitu tegas sekaligus protektif itu. Mengingat dirinya merupakan anak satu-satunya dari mereka.

Dan sejak kejadian itu, Yeon Soo berubah drastis. Gadis yang selalu menampakkan senyum ceria dan pemberani itu berubah menjadi gadis yang pendiam, tertutup, dan gadis yang selalu melamun. Seolah tidak memiliki kerjaan yang dapat dia lakukan. Bahkan dia mulai berubah menjadi gadis yang takut untuk pulang di malam hari hingga selalu meminta Ayahnya untuk menjemput. Dan, satu hal yang seolah mulai menjadi rutinitasnya, dia akan selalu melemah tiap bulan purnama datang.

“Bae Yeon Soo!”

Yeon Soo tersentak kaget dan mendapati Bo Na sudah duduk di hadapannya. Saat ini dirinya tengah terduduk di kantin kampusnya ditemani segelas cappuccino hangat. Astaga, dia baru saja melamun lagi, ternyata.

Yaa, kau melamun? Eii, kenapa belakangan ini kau sering melamun, huh?” Bo Na menggeleng prihatin.

Aniya.”

“Kau sedang ada masalah? Katakan saja, Yeon Soo-ya. Aku akan membantumu sebisa mungkin.”

Yeon Soo tersenyum tipis. Batinnya mendesah, tidak mungkin temannya ini bisa membantu masalahnya. Sudah jelas.

Tapi…

“Bo Na-ya, apa kau percaya akan adanya Vampire?” Yeon Soo menatap Bo Na sendu. Membuat teman dekatnya itu mengerjap sedikit tertegun mendengar petanyaannya.

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Tidak bisakah kau langsung menjawab saja pertanyaanku?”

“Baiklah. Menurutku, antara percaya dan tidak. Aku merasa bahwa mereka tidak mungkin ada. Jika memang mereka ada, sudah dari dulu Negara kita menjadi Negara Mencekam karena keberadaan mereka. Tapi terkadang pula aku merasa bahwa mereka bisa saja ada. Kau tahu sendiri, kan? Legenda akan keberadaan mereka itu memang benar. Mungkin mereka ada di zaman dulu, tapi bisa saja mereka masih memiliki turunan yang hidup hingga sekarang. Bukankah mereka immortal?” Bo Na tampak menerawang sebelum akhirnya menggeleng. “Tapi aku juga ragu akan adanya mereka,” gumamnya kemudian.

Yeon Soo menghela napas panjang. Bukan, bukan itu jawaban yang dia inginkan. Mendengar jawaban Bo Na, dia dapat menangkap bahwa temannya ini lebih berat ke Tidak Percaya.

Ya, kenapa kau bertanya seperti itu, huh? Jangan katakan bahwa kau mulai percaya bahwa mereka benar-benar ada.” Bo Na memicing.

Yeon Soo hanya menggeleng pelan sambil kembali menyeruput minumannya.

Ya, dia mulai percaya. Karena dia benar-benar melihatnya, bahkan merasakan perlakuannya.

****

Yeon Soo pulang lebih cepat. Dia hanya memiliki dua jadwal mata kuliah hari ini. Begitu sampai ke dalam apartemennya, Yeon Soo segera masuk ke dalam kamarnya lalu merebahkan diri. Entah mengapa dirinya mulai merasa terengah-engah. Padahal dia tidak sedang bermarathon. Melakukan kegiatan yang menguras banyak tenaga pun tidak. Dia juga mulai merasa tubuhnya tidak terasa nyaman.

Apakah ini gejala akan datangnya rasa sakit itu?

Yeon Soo meraih ponsel di saku jaketnya, menyalakan layar sentuhnya. Lalu menghela napas panjang begitu melihat tanggal hari ini.

Sial, ini benar akan terjadi.

 

Malam mulai datang. Menghembuskan angin yang begitu menusuk mengingat saat ini merupakan malam di musim gugur. Entah mengapa, malam ini terlihat sangat cerah dibandingkan malam sebelumnya yang menuangkan air hujan hingga menjelang dini hari. Dan malam ini, langit malam tengah menampakkan satelit alami bumi satu-satunya, bulan. Malam ini, merupakan hari di mana benda langit tersebut menampakkan seutuhnya.

Bulan Purnama.

Tak biasanya, Yeon Soo telah tertidur di waktu menunjukkan masih pukul 9 malam. Lebih tepatnya, merebahkan diri—meringkuk di dalam selimut tebalnya. Dengan tubuh yang sudah gemetar kedinginan, serta peluh yang sudah membasahi wajahnya.

Yeon Soo demam. Demam tinggi. Sejak malam mulai datang, tubuhnya semakin melemah. Bahkan dia mulai merasakan perih sekaligus panas di bagian lehernya. Tepatnya di bagian bekas gigitan yang semakin melebam. Dan tepat di mana bulan purnama muncul, dia mulai melenguh kesakitan di bagian itu. Bahkan tepat di mana bulan purnama tampak, bekas gigitan itu berubah menjadi hitam. Memberikan kesakitan pada gadis ini hingga terbaring lemah tak mampu bergerak.

Inilah rutinitas barunya. Dan inilah yang terjadi di tiap bulan purnama datang. Sejak kejadian itu…

Eomma…” Yeon Soo meracau lemah. Saat ini dirinya benar-benar sendirian di rumah. Ayah dan ibunya tengah menjenguk neneknya yang sedang sakit di Busan sedangkan dirinya tak dapat ikut karena kuliahnya yang memang tak dapat ditinggalkan. Kini, dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Sekedar ingin menghubungi Bo Na pun dia tak mampu. Dia benar-benar tak bisa bergerak. Tubuhnya seperti kesemutan dan benar-benar kehabisan tenaga. Dan dia hanya mampu meracau lemah. Meringis kesakitan.

Terdengar jendela kamarnya terbuka. Membuat Yeon Soo dengan susah payah membuka matanya yang sedari tadi terus terpejam. Dan dia mendapati bahwa jendela kamarnya memang terbuka hingga tirainya melambai terbang dihembus angin malam. Padahal, sejak dirinya kembali dari kampus jendela itu tetap terkunci.

Yeon Soo teringat, ini juga terjadi di bulan-bulan sebelumnya.

“Ugh…” lenguhnya lagi. Kembali merasakan sakit luar biasa di bagian lehernya. “Eomma…” Yeon Soo terisak. Berharap ibunya datang saat ini juga dan memberikan ketenangan untuknya. Sejak dirinya mengalami hal ini, ibunya lah yang selalu merawatnya. Tapi apa daya, ibunya baru akan kembali lusa.

Yeon Soo dapat merasakan kasurnya bergerak. Merasakan sisinya menekan ke bawah seolah tengah ada yang mendudukinya. Ingin dirinya melihat apa yang tengah berada di sisinya saat ini. Tapi seolah ada yang tengah menahan kelopak matanya, Yeon Soo tak mampu membuka mata. Yeon Soo merasakan sesuatu menyentuhnya, menelentangkan tubuhnya yang sedari tadi meringkuk sebelum menyelip ke bawah punggungnya lalu mengangkat tubuhnya hingga setengah terduduk. Yeon Soo dapat merasakan bahwa ini merupakan sepasang tangan yang tengah merengkuhnya. Dan dia merasa begitu familiar dengan sentuhan ini. Sentuhan yang terasa dingin, tapi juga menghangatkan untuknya. Lalu salah satunya bergerak menyingkap rambut panjangnya hingga dia dapat merasakan hembusan angin yang dingin menerpa lehernya.

Aah, ya, ini juga terjadi di bulan-bulan sebelumnya. Dan Yeon Soo tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Pria ini, pria yang telah memberikan tanda pada Yeon Soo, tengah menatap teduh wajah Yeon Soo yang begitu terbaca begitu kesakitan. Dengan tangan dinginnya, disingkapnya rambut panjang gadis ini hingga menampakkan bekas gigitan yang semakin menghitam. Dan entah mengapa, dia selalu menggeram melihat bekas di leher ini. Bekas gigitannya sendiri. Sama di saat dia melihat gadis ini menangis ketika dirinya menghisap darahnya.

Tiga bulan yang lalu, untuk pertama kalinya, dia menggeram melihat mangsanya menderita. Bukan menggeram karena puas telah menghisap darah, melainkan menggeram tak kuasa melihat gadis ini menderita. Hingga dirinya menyadari, bahwa gadis ini tidak seharusnya dia jadikan mangsa. Tapi sebaliknya. Karena aroma darahnya yang berbeda dibandingkan lainnya.

Seharusnya, dia menyadarinya sejak awal.

Dia mulai mencondongkan wajahnya maju, hingga berhenti di ceruk leher Yeon Soo. Lalu mendaratkan kecupan tepat di atas luka yang menghitam tiap bulan purnama muncul itu. Dan harus segera dipulihkan sebelum benar-benar menjadi hitam secara permanen. Sudah cukup dia jadikan lebam bahkan merusak kulit mulus ini. Dia kembali memberikan kecupan pada luka tersebut, dan terus dia lakukan hingga kecupannya berubah menjadi ciuman, lalu menjadi menyesap. Dengan perlahan, takut taring di balik bibir penuhnya menggores yang malah memperparah luka ini, dia menyesap leher Yeon Soo. Seolah tengah menghisap luka tersebut karena perlahan mulai berubah menjadi kembali membiru. Dan perlakuan itu juga bereaksi pada Yeon Soo yang mulai meredakan rintihannya.

Perlahan dia menjauhkan wajahnya. Lalu menatap wajah yang mulai terlihat damai di pelukannya. Selalu seperti ini. Begitu dirinya berhasil menyembuhkan luka ini, gadis ini akan terlelap dengan tenang beserta suhu tubuh yang mulai berangsur normal. Dan tanpa komando, dia menyunggingkan senyum tipis—tapi teduh, begitu melihat wajah ini telah menampakkan wujud kepolosannya.

Entah dorongan dari mana, dia kembali mencondongkan wajahnya. Dan untuk kali pertama, dia mendaratkan kecupan di kening Yeon Soo. Kecupan yang begitu lembut serta hangat meski dengan bibirnya yang sangat dingin. Dalam waktu yang cukup lama. Dan begitu dirinya kembali memberi jarak demi kembali menatap wajah ini, dia sedikit tertegun. Yeon Soo telah membuka matanya.

“Kau siapa?”

Terdengar suara Yeon Soo yang masih begitu lemah. Dengan mata sayunya, Yeon Soo menatap wajah tegas dengan kulit pucat serta mata dengan iris hitam gelapnya itu.

Hitam gelap? Bukankah sebelumnya, merah darah?

“Jika aku tunjukkan mata merahku, sudah kupastikan bahwa kau akan ketakutan begitu melihatku.”

Yeon Soo tercenung. Pria ini benar-benar dapat membaca pikirannya.

“Kau Vampire?”

“Aku manusia yang dikutuk untuk menjadi monster penghisap darah.”

Huh?”

Pria itu kembali membaringkan tubuh Yeon Soo. Menyelimuti gadis itu sebelum dirinya beranjak bangkit. Berniat untuk keluar dari tempat ini. Namun gerakannya terhenti ketika dirasakan tangan hangat menyentuh pergelangan tangannya, menahannya untuk bangkit.

“Kau siapa?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?”

“Namamu.”

Pria itu menatap tajam Yeon Soo. Tapi matanya yang hitam gelap membuat tatapannya tidak terlihat menyeramkan untuk Yeon Soo. Justru menenangkan. Tidakkah itu aneh?

“Kyu Hyun.”

Untuk kali pertama, Yeon Soo melemparkan senyum untuk pria ini. Membuat pria ini merasakan getaran aneh di benaknya yang membuatnya tak mampu mengalihkan pandangan dari gadis ini. Yeon Soo baru membuka mulut bermaksud membalas ketika dirinya langsung menyela.

“Aku sudah tahu namamu.”

Yeon Soo mengerjap. Pria ini sudah tahu maksud dirinya.

“Kau tahu?”

Kyu Hyun, pria itu hanya menatap Yeon Soo. Tajam.

“Kenapa kau tidak membiarkanku mati? Apakah Vampire tidak membiarkan mangsanya mati?”

“Aku bukan Vampire.

“Tapi kau menghisap darah. Dan bukankah manusia yang dihisap darahnya akan mati?”

“Kau ingin aku menghisap darahmu sampai kau mati?”

Yeon Soo menegang. Merutuki ucapannya yang telah mengantarnya menuju area berbahaya. Dan benar saja, dia melihat Kyu Hyun bergerak maju hingga kembali menghimpit tubuhnya yang terbaring. Bahkan bukan menghimpit lagi, melainkan menindihnya. Yeon Soo mulai ketakutan begitu wajah Kyu Hyun kembali berhenti di depan lehernya. Tapi yang dia rasakan bukan gigitan setelahnya, melainkan sebuah ciuman yang mendarat di lehernya. Membuatnya berjengit bagaikan disengat listrik hingga memicu jantungnya berdetak cepat.

Astaga, perasaan apa ini?

“Tak kan kulakukan lagi,” gumam Kyu Hyun begitu kembali menatap Yeon Soo yang berada di bawahnya.

“Kenapa?” sahut Yeon Soo dengan lirih. Matanya tak dapat lepas dari iris hitam itu.

“Tidak seharusnya aku melakukannya.”

“Kenapa?”

Tatapan mereka kembali terputus begitu Kyu Hyun kembali bergerak, kini mencondongkan wajahnya hingga ke depan telinga Yeon Soo. Dengan suara berat namun tersirat begitu tenang dan hampir menyamai bisikan, Kyu Hyun melontarkan kalimat yang pernah ia bisikkan di saat gadis ini mulai kehilangan kesadarannya tiga bulan lalu. Kalimat yang—kini didengar dengan jelas oleh Yeon Soo—sukses membuat gadis ini terhenyak hingga jantungnya mulai jumpalitan.

“Kau harus bersamaku. Dan kau harus menjadi milikku. Apapun yang terjadi.”

My heart is going to burst
My heart is filled to the rim at the thought of you
You make me go crazy
Make me become trapped in you
Take this burning love
Let me be your man for tonight**

 

-END


Ddehet!! /piss ala Hyungsik/? #gatot-_-

Ini dia karya baru (dadakan) saya~~ Entah ini memuaskan atau tidak tapi aku merasa sayang banget kalo dibiarin kadaluarsa di otak ㅠ Yah, seperti biasa ini muncul akibat pengaruh dari berbagai FF yang udah pernah kubaca. Dan jajjaan! jadilah cerita dengan gaya(?)ku sendiri /elap ingus/? -/\-

Dan berhubung karakter si magnae yang udah kebayang di otak, mau ngga mau aku suruh deh si Gyusshi langsung syuting/? buat FF ini. Padahal, aku udah bertekad gamau make nih bocah buat FF-ku -_- /digebuk/? Tapi yasudah, dia emang cocok kok buat jadi orang macam di FF ini~ ngahaha xD (Kyu: hanjeeerr gue disamain ama mayat idup!) :: bukan mayat idup, but a monster._. /Kyuhyun ngamuk/?

Okay, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya di atas, cerita ini aku persembahkan buat teman masa SMP-ku. Yang udah relain pundaknya buat aku nangis dulu gegara….err…cinta monyet xD (bongkar bongkar!-_-) Yang ternyata setelah lama ngga ketemu karna pisah SMA, dia adalah seorang ELF sepertiku. And, she really loved SJ’s magnae named Cho Kyu Hyun ^^ So, I dedicated this story for her~ Maaf kalo tidak memuaskan. Hope you like it! ><

Dan karena aku masih dalam tahap belajar, aku benar-benar mohon maaf kalo cerita ini bikin mual (?)

Terima kasih sudah mampir~ SWING!! ^-^

777571552

*) EXO – Moonlight

**) Super Junior – Club No.1

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

17 thoughts on “When Full Moon Comes

  1. aihh … jeongmal gamsahabnida *bow90°
    ini keren banget ceritanya… sumpah dan ga bohong, bikin ngfly aja ihh >\\\\\♡<arrgg
    ♥ for you siskakee :*

  2. thor, minta sequelnyahh ini menyangkut kelangsungan hidup anak manusia *apasih*. kyuhyun beneran jadi jelmaan setan setelah dirinya menyandang gelar setan (?) nyuahahahahaha

  3. Wah Kyu jd manusia penghisap darah, siapa yg ngutuk dia sampe jd seperti vampire?
    Kyu emang pantes dengan karakter seperti ini tp tetep suka kkkkkk….

  4. kyuhyun itu emang cocok banget kalo meranin yg kaya begini eonn, suka mikir jangan2 dia itu beneran vampir haha. aku suka ceritanya, penggambaran karakter kyuhyunnya juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s