Posted in Category Fiction, Chaptered, KiSoo FF "Summer (Love) Holiday", PG, PG-15, Romance

Summer (Love) Holiday – Part 2

Genre : Absurd Romance (헤헷)
Rated : PG-15
Length : Mini Chaptered
Kim Ki Bum || Park Soo Rin || Kim Ryeo Wook
and Others

This story comes from my mind aka fiction^^ Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~

****

:: Next day – Monday

Pukul tujuh pagi Pantai Gyeongpo masih tampak tenang. Hanya alunan desiran ombak laut yang terdengar. Memberikan suasana yang begitu tampak yang menunjukkan bahwa seperti inilah pantai di pagi hari. Seorang gadis yang terbangun lebih awal tampak keluar dari kamarnya. Berjalan menuju pintu kaca besar di ruang tengah yang sudah terbuka tirainya. Menampakkan hamparan pantai dan sinar matahari yang menyorot hangat menembus ruangan. Dengan hati-hati dibukanya pintu kaca tersebut lalu segera disambut dengan hembusan angin pantai yang begitu sejuk. Memejamkan mata, dia menikmati hembusan lembut menerpa wajah putihnya yang sedikit merona.

“Selamat pagi.”

Sebuah suara yang terdengar berat dan halus berbisik menyapu telinga kirinya. Memberikan efek berupa desiran halus hingga dirinya menoleh ke sumber suara tersebut. Didapatinya seorang lelaki yang sangat dikenalnya sudah berdiri di sampingnya dengan satu tangan menggenggam sebuah cangkir. Dan menampakkan senyum manis andalan kepadanya. Sontak membuat dirinya harus kembali merasa gugup hingga jantungnya mulai berolahraga. Efek yang begitu besar, bukan?

“Tumben sekali sudah terjaga sepagi ini,” ucap lelaki itu lagi—Ki Bum, yang terdengar tengah mengejek secara halus. Yang jelas saja langsung ditangkap oleh gadis itu—Soo Rin, dengan mengerucutkan bibirnya tak suka.

“Aku selalu terjaga lebih cepat jika sedang berada di tempat asing,” jawab Soo Rin akhirnya.

“Kau pikir ini adalah tempat asing?”

“Um. Karena ini adalah kali pertama aku datang kemari.”

Ki Bum mendengus hingga membentuk seulas senyum lagi, merasa geli dengan jawaban yang begitu jujur dari gadis di sebelahnya ini. “Begitu…” gumamnya sambil mengalihkan pandangannya ke depan.

Soo Rin melirik pada cangkir yang tengah dipegang Ki Bum. Melihat isinya yang sedikit mengepul membuat dirinya penasaran. Ditambah ia mulai mencium harum dari dalam cangkir itu yang sangat familiar di hidungnya. “Apakah itu susu cokelat?” tanya Soo Rin.

“Bukan susu cokelat, tapi Hot Chocolate. Kau mau?” Ki Bum menyodorkan cangkirnya ke hadapan Soo Rin. Segera dihirupnya sambil melirik isinya. Seulas senyum terpatri di bibir kecil Soo Rin begitu indera penciumannya menangkap harum cokelat yang begitu manis. Membuat Ki Bum ikut mengulas senyum tipisnya. “Aku baru meminumnya sedikit,” lanjutnya yang detik kemudian gadis itu meraih cangkirnya lalu menyesapnya perlahan. Ki Bum semakin melebarkan senyumnya. Apakah gadis ini tidak tahu bahwa bagian mulut cangkir yang disentuh bibirnya merupakan bekas dari bibir lelaki itu?

Soo Rin yang memang tidak menyadari hal kecil itu hanya kembali tersenyum begitu lidahnya merasakan manis cokelat yang begitu lembut dan hangat hingga mengisi tenggorokannya yang sempat terasa kering akibat baru bangun tidur. Lalu dikembalikannya cangkir itu kepada Ki Bum yang membuat lelaki itu mengerutkan keningnya. “Aku hanya ingin mencobanya sedikit,” ucapnya dengan memamerkan cengiran yang baru kali pertama Ki Bum lihat. Ki Bum kembali mendengus hingga seulas senyum lima jari terukir di bibirnya. Mengambil cangkirnya kembali, lalu menyesapnya di mulut cangkir yang sama. Dan gadis itu mulai bereaksi. “Hei, itu bekas mulutku! Gunakan sisi yang lain!” serunya tiba-tiba.

“Sebelumnya aku sudah menggunakan sisi yang ini,” jawab Ki Bum kalem. Sedangkan Soo Rin mulai melongo bodoh. Detik kemudian wajahnya mulai merona begitu menyadari kelakuannya tadi. Sambil menunduk salah satu tangannya menyentuh bibirnya dan menepuk-tepuknya secara perlahan. Wajahnya terlihat sekali tengah merutuki sesuatu, yang justru membuat Ki Bum terkekeh geli melihat tingkahnya. Gadis ini masih saja terlihat begitu kikuk terhadapnya, pikirnya. “Apakah yang lainnya sudah bangun?” tanya Ki Bum mengalihkan situasi.

“Belum. Bagaimana dengan para lelaki?”

“Sepertinya Tae Yong dan Tae Min masih terlelap. Sedangkan dua bersaudara itu tengah berkutat di dapur membuat sarapan.”

“Benarkah?” Soo Rin merasa tidak enak hati tiba-tiba. Jelas saja, sejak kemarin para pria itu yang selalu berkutat di dapur menyiapkan santapan makanan. Para gadis hanya sekedar membantu, kecuali Eun Jung yang sudah terlihat begitu pandai dalam memasak. Sedangkan Soo Rin yang belum pandai dalam hal masak-memasak hanya sekedar menata juga merapikan meja makan. “Haruskah aku membantu mereka?” gumamnya sambil beranjak menuju dapur.

Soo Rin mendapati kedua bersaudara itu tampak begitu lihai di dapur. Tiba-tiba saja nyali ingin turun tangan menciut melihat mereka yang begitu ahli dalam memasak. Tapi jika dia tidak membantunya, itu terlihat tidak sopan, bukan?

“Oh, Soo Rin-ah! Selamat pagi!” Jong Woon yang tengah mengaduk sebuah adonan menghadap ke arah datangnya Soo Rin segera mendapati gadis itu dan menyapanya sambil tersenyum lebar. Soo Rin mulai terlihat salah tingkah. Dengan perlahan ia melangkah mendekati meja bar yang berdiri di depan pria itu. “Kau sudah lapar? Bersabarlah karena ini akan memakan waktu yang tidak sebentar,” ucap Jong Woon sambil terkekeh.

“Perlu kubantu?” tawar Soo Rin yang langsung mendapat gelengan dari Jong Woon.

“Tidak perlu. Ini merupakan menu buatan Kim Bersaudara dan hanya kami yang boleh membuatnya. Kau hanya perlu duduk di situ dan menunggu,” jawab Jong Woon yang langsung mendapat cibiran gratis dari Jong Jin.

“Kim Bersaudara, kau bilang? Menu ala Kim Jong Jin, barulah benar!”

Tak!

“Akh! Aih, Hyung!!” rintih Jong Jin sambil mengusap sebelah kepalanya yang baru saja menjadi sasaran pukulan spatula kayu dari Jong Woon.

Soo Rin yang sudah duduk manis di kursi bar yang cukup tinggi, tertawa kecil melihat tingkah kakak-beradik di depannya. Membuat Jong Woon yang tengah tersungut-sungut segera beralih kembali kepada Soo Rin dan kembali menampakkan senyumnya. “Kau suka pancake?” tanyanya yang langsung mendapat anggukan dari Soo Rin. “Kau suka pancake dengan rasa apa, hum?” tanyanya lagi sambil kembali mengaduk adonannya.

“Aku sangat menyukai pancake yang dilumuri oleh saus cokelat,” jawab Soo Rin dengan mata berbinar membayangkan kue dadar bertumpuk yang diselimuti dengan saus cokelat hingga mengalir ke piringnya serta dihiasi buah-buahan mungil di puncaknya. Sungguh, gadis ini begitu menyukai makanan maupun minuman yang berbau dengan cokelat-cokelatan.

“Sepertinya kau begitu menyukai cokelat, ya?” gumam Jong Woon renyah. Soo Rin mengangguk membenarkan. “Yah, semua orang memang sangat menyukai cokelat,” lanjut Jong Woon dengan tersenyum lebar.

“Tidak juga. Buktinya Eun Jung lebih menyukai strawberry dibandingkan cokelat,” celetuk Jong Jin di sela-sela kegiatan memanggangnya.

Ya!!” Jong Woon kembali tersungut akibat tingkah adiknya yang terlihat tidak memihaknya. Lagi-lagi Soo Rin harus tertawa melihat tingkah kedua bersaudara itu.

“Jadi menu sarapan pagi ini adalah pancake?” tanya Soo Rin kemudian.

“Benar!” seru Jong Woon sambil menjentikkan jarinya ke hadapan Soo Rin.

“Kau ingin mencobanya?” tawar Jong Jin sambil menyodorkan dua lembar tumpukan pancake kepada Soo Rin.

“Bolehkah? Tapi apakah jatahku akan berkurang nantinya?” tanya Soo Rin dengan lugu. Yang membuat kedua pria itu terkekeh geli.

“Tentu saja tidak, kau ini! Kami membuat pancake sangat banyak pagi ini. Tenang saja,” jawab Jong Jin sambil meletakkan sepiring pancake tersebut lengkap dengan pisau dan garpunya ke hadapan Soo Rin. Lalu Jong Woon dengan inisiatif memberikan semangkuk kecil saus cokelat serta menuangkannya di atas pancake itu.

Cah, cobalah!”

Soo Rin mulai mengiris kecil pancake berlumur cokelat itu. Begitu potongan kecil itu masuk ke dalam mulutnya, Soo Rin mengunyahnya dengan khidmat. Dengan mata yang terpejam, bibirnya mulai menyungging membentuk senyuman takjub.

“Bagaimana?” tanya Jong Woon.

“Aku merasa seperti sedang berada di kafe kalian saat ini,” jawab Soo Rin sambil menampakkan cengirannya. Membuat mereka tertawa mendengar jawaban jujur dari gadis itu.

“Itulah mengapa menu ini hanya kami yang bisa membuatnya,” pungkas Jong Jin dengan bangga.

“Biarkan aku mencobanya,” pinta Ki Bum yang sudah duduk di sebelah Soo Rin. Disusul dengan mulutnya yang dibiarkan terbuka, membuat Soo Rin memicing.

“Tidak bisa mencobanya sendiri?” tanya Soo Rin mencibir.

Dengan santai Ki Bum menggeleng. “Selama ada kau yang bisa menyuapi, kenapa tidak?” balasnya sambil kembali membuka mulut. Mau tidak mau, Soo Rin kembali mengiris kecil pancake tersebut lalu menyodorkannya ke mulut Ki Bum. Dengan senang hati Ki Bum melahapnya, lalu mengunyahnya dengan mulut mengatup dan membentuk sebuah senyuman.

Eii, ini masih pagi. Jangan mengumbar kemesraan kalian di dapur kami!” sindir Jong Jin sambil kembali melanjutkan aktifitasnya.

“Lakukanlah bersama Eun Jung-mu, Hyung, jika kau merasa iri pada kami,” balas Ki Bum yang membuat Jong Jin menatap sengit kepadanya. Sedangkan Soo Rin hanya tertunduk malu sambil kembali mengiris pancake-nya.

“Soo Rin-ah, aku juga ingin mencobanya! Aaa…” Jong Woon berulah. Soo Rin yang tampak tertegun mendengar pinta dari Jong Woon mulai gugup. Dengan ragu-ragu, dia mengulurkan garpu yang sudah menancapkan pancake irisannya ke mulut Jong Woon yang sudah terbuka menunggu. Namun gerakannya terhenti di tengah jalan begitu tangan Ki Bum menyambar garpunya lalu menjejalkannya langsung ke dalam mulut Jong Woon. “Ya!! Kau ingin membunuhku, hah?!” sungut Jong Woon dengan mulut yang sudah penuh dengan pancake beserta garpunya.

“Bersyukurlah karena aku tidak menjejalkan pisau ke dalam mulutmu, Hyung,” balas Ki Bum datar. Membuat Jong Woon mencibir kesal, Jong Jin yang tertawa geli, dan Soo Rin yang bergidik ngeri.

 

****

Begitu mereka menyelesaikan waktu sarapan bersama, mereka segera keluar dari villa. Jong Woon mengajak mereka untuk bersepeda. Menurutnya, bersepeda di pagi hari itu sangat menyenangkan dan juga menyehatkan. Memang benar. Ditambah, di sekitar pantai memang menyediakan penyewaan sepeda yang bisa membawa para pengunjung untuk menelusuri sepanjang pantai Gyeongpo. Jong Woon menraktir mereka untuk bersepeda.

Mereka mulai bergerak ke utara. Awalnya mereka hanya mengayuh dengan santai sambil bersenda gurau. Namun begitu hampir sampai di ujung pantai Gyeongpo di bagian utara, tiba-tiba saja Tae Min memberikan usul, “Bagaimana jika kita bertanding sampai ujung selatan pantai? Siapa yang kalah, dia yang akan membelikan minuman untuk kita semua.”

Tentu saja usulnya membuat para lelaki merasa tertantang. Sedangkan para gadis hanya mendesah antara mau dan tidak. Yang benar saja, mereka harus bertanding mengayuh dengan lelaki?

“Tidak ada toleransi untuk para gadis?” Eun Jung mengeluh. Membuat Tae Min berpikir sejenak.

“Bagaimana jika tidak ada?” Tae Min menyeringai.

“Begini saja. Jika salah satu dari para gadis kalah, harus ada lelaki yang menanggungnya. Dan jika para lelaki sudah berada di garis finish bersama gadis yang ditanggungnya, maka mereka dikatakan menang,” usul Jong Jin.

“Itu berarti, sama saja dengan bermain berpasangan,” gumam Jong Woon. “Baiklah! Jadi, kau yang menanggung Eun Jung jika dia kalah.” Jong Woon tersenyum melihat adiknya melongo sebelum akhirnya menyetujui. “Dan siapa yang mau menanggung Eun Ji jika dia kalah?” Jong Woon melempar pandangannya pada yang lain.

“Baiklah, aku!” jawab Tae Yong tiba-tiba. Membuat yang lainnya terpana, apalagi Eun Ji.

“Wah, kau baik hati sekali,” gumam Eun Ji. Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum manis.

“Lalu, siapa yang mau menanggung Ah Reum jika dia yang kalah?” lanjut Jong Woon.

“Aku saja.” Tae Min mengangkat tangannya.

“Benarkah?” Ah Reum terpana.

“Aku berharap kau tidak membuatku menguras uang sakuku nanti,” balas Tae Min sambil mengedikkan bahu. Detik kemudian dirinya mendapat sikutan keras dari Ah Reum di ulu hatinya. “Akh!!”

“Jadi, Ki Bum, kau yang akan menanggung Soo Rin jika dia yang kalah. Benar, kan?” lanjut Jong Woon yang langsung mendapat anggukan dari Ki Bum.

“Kau tidak akan menyesal?” tanya Soo Rin.

“Aku akan menyesal jika kau memilih untuk ditanggung oleh lelaki lain,” jelasnya yang membuat Soo Rin mengerucutkan bibirnya. Memangnya siapa yang aku harapkan untuk menanggungku? gerutu Soo Rin dalam hati.

“Lalu bagaimana dengan Hyung?” sanggah Jong Jin tiba-tiba.

“Oh, aku hanya berperan sebagai wasit di sini,” jawab Jong Woon dengan menampakkan cengiran andalannya.

“Kau pikir kita sedang bermain bola, huh? Begini saja, jika Hyung kalah, maka Hyung harus menraktir kami minum dan juga menraktir makan di luar malam ini,” usul Jong Jin menantang.

“Baiklah!” jawab Jong Woon setelah berpikir sejenak.

Begitu sampai di ujung pantai bagian utara, mereka mulai berbalik. Begitu Jong Woon berteriak ‘mulai’, mereka segera mengayuh dengan kecepatan tinggi menuju ke selatan. Menelusuri tepi pantai sepanjang 1,8 km dengan berlomba-lomba. Dan benar saja, tak ada sepuluh detik semenjak mereka mengayuh, para lelaki mulai mendahului dan mulai mengadu kecepatan mereka. Hingga para gadis tertinggal begitu jauh di belakang.

Dan, orang yang sampai di garis finish pertama adalah Tae Min. Dengan gaya sok kerennya, dia menghentikan sepedanya dengan membelokkan stang hingga sepedanya mengerem secara horizontal. Disusul dengan Ki Bum yang menempati posisi kedua. Kemudian Tae Yong. Dan hampir saja permainan berakhir dengan segera jika Jong Woon tidak mempercepat kayuhannya hingga menempati posisi setelah Tae Yong. Tentu saja, Jong Jin menempati posisi terakhir.

“Ini belum berakhir! Kita lihat gadis tanggungan siapa yang akan menempati posisi terakhir,” ucap Jong Jin tersengal.

Tak lama, sosok yang ditunggu-tunggu muncul. Salah satu di antara mereka mulai mengembangkan senyumnya begitu melihat sosok itu adalah pasangannya. Dan dia mulai turun dari sepeda demi memberikan seruan berupa dorongan agar sosok itu segera kemari.

“Lee Ah Reum!! Kayuh lebih cepat lagi!!!” teriak Tae Min.

Tak lama, sosok lain mulai terlihat menyusul di belakang Ah Reum. Membuat salah satu dari mereka yang lainnya ikut turun dari sepeda dan melakukan hal yang sama seperti Tae Min.

“Jung Eun Ji!! Susul dia!!!” teriak Tae Yong.

Ah Reum mencapai garis finish dengan sukses. Sambil melepas kayuhannya, Ah Reum membiarkan sepedanya melaju hingga ke dekat para lelaki. Tae Min mulai bersorak gembira mengingat gadis ini sudah menyelamatkan isi dompetnya. Tak perlu berpikir lagi, mereka sudah pasti mendapat minuman gratis nanti. Kemudian disusul dengan Eun Ji yang memang berjarak tidak jauh dari Ah Reum tadi. Begitu sampai garis finish, Tae Yong segera menyambutnya dengan sorakan gembira dan tepuk tangan meriah. Setidaknya, mereka masih berada di posisi aman.

Tak lama kemudian, sosok lain mulai tampak dari kejauhan. Lalu jauh di belakangnya mulai muncul sosok yang jelas berada di posisi terakhir. Ki Bum dan Jong Jin segera turun dari sepedanya. Tapi sosok yang lebih dulu tampak telah membuat salah satu dari keduanya membentuk seulas senyum di bibirnya.

“Soo Rin-sshiii, tunggu akuuuu!!” seru Eun Jung yang berada di posisi terakhir. Gadis ini mengayuh terlalu pelan di bandingkan yang lainnya. Bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa kayuhannya masih masuk dalam taraf bersepeda santai. Sedangkan Soo Rin yang mengayuh dengan susah payah sudah tidak bisa menangkap segala seruan yang ditujukan kepadanya.

Mungkin 1,8 km tidak begitu berarti bagi para lelaki apalagi bagi para atlet persepedaan. Tapi sepertinya, jalanan ini tidak sesuai dengan panjang pantai karena ini berkelok-kelok dan sedikit demi sedikit menjauhi pantai. Soo Rin kelelahan karena memaksakan diri untuk mengayuh, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ditambah dirinya tidak pernah yang namanya melakukan balap sepeda. Dan, Soo Rin hanya bersepeda di saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Sepertinya kita sudah mendapatkan siapa yang akan menraktir kita minum nanti,” sindir Jong Woon sambil melirik adiknya, membuat pria yang diliriknya mulai memutar bola matanya jengah.

Dan benar saja, dengan susah payah, Soo Rin berhasil mencapai garis finish menempati posisi ketiga. Disusul dengan Eun Jung yang terpaut begitu jauh dari Soo Rin sehingga menempati posisi terakhir. Membuat Jong Jin harus rela menraktir mereka semua yang sudah haus akibat pertandingan dadakan ini.

Soo Rin baru saja menghentikan sepedanya. Dengan sedikit gemetar, dia mencoba menapak jalanan aspal dengan satu kaki. Namun kaki lainnya tak berhasil menapak ketika harus melangkahi sepedanya karena tak sengaja menyandung bagian depan jok sepeda dan tersangkut. Membuat tubuhnya yang sudah lelah menjadi limbung dan hampir saja jatuh berdebam jika Ki Bum tidak segera menangkap tubuhnya dan sedikit mundur menghindari dirinya tertimpa sepeda yang ikut terjatuh. Ki Bum juga ikut limbung dan terpaksa meluruhkan tubuhnya hingga terjongkok dengan masih memeluk Soo Rin. Dan gadis itu hanya terbengong-bengong mencerna kejadian yang baru saja menimpanya hingga dirinya sudah terduduk di pelukan Ki Bum.

“Hei, kalian tidak apa-apa?” Jong Woon segera menghampiri mereka dan ikut berjongkok di dekat mereka. Segera yang lainnya ikut mendekat dan mengelilingi pasangan itu.

“Soo Rin-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Eun Ji yang mulai berjongkok dan menepuk pundak Soo Rin. Begitu juga dengan Ah Reum yang ikut berjongkok. Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk dengan ekspresi melongonya.

“Soo Rin-ah, apa kau merasa ingin kambuh, hum?” tanya Ah Reum mulai tampak khawatir melihat yang ditanya sudah terlihat pucat sejak sampai di garis finish dan juga berkeringat. Entah itu keringat dingin atau hanya keringat biasa. Lagi, Soo Rin menjawab tanpa suara dengan menggelengkan kepalanya.

“Jong Jin-ah, cepat belikan minum!” titah Jong Woon yang langsung dituruti Jong Jin.

“Aku ikut!” seru Eun Jung sambil berlari menyusul Jong Jin.

“Ah, Hyung, tolong bawakan sebungkus es dan handuk!” tambah Ki Bum yang langsung mendapat jawaban berupa acungan jempol dari Jong Jin yang sudah beranjak menjauh.

“Kita istirahat di sana saja,” ajak Jong Woon sambil menunjuk ke beberapa tempat duduk yang tersedia di dekat deretan pohon pinus tidak jauh dari mereka berada.

“Kau bisa jalan sendiri? Atau aku harus menggendongmu?” Ki Bum kembali memandang Soo Rin yang mulai tersadar dari lamunannya.

“Aku bisa jalan sendiri,” jawab Soo Rin lirih dengan wajah yang semakin tertunduk. Ki Bum mulai bangkit sambil menuntun Soo Rin untuk ikut berdiri. Masih dengan memeluk gadis itu, Ki Bum menuntunnya menuju ke tempat yang ditunjuk Jong Woon.

Eun Jung datang lebih cepat dan segera menyerahkan sebungkus es serta handuk yang dibawanya kepada Eun Ji yang terduduk di permukaan tanah bersemen bersandarkan pada mulut kursi, dengan Soo Rin yang tengah berbaring di pangkuannya. Ditemani dengan Ah Reum yang ikut duduk berlesehan menghadap Eun Ji.

“Ingin kuseka atau ingin menyekanya sendiri?” tawar Eun Ji yang langsung dijawab oleh Soo Rin dengan meraih handuk kecil tersebut.

“Terima kasih.” Soo Rin menyungging senyum tipisnya. Kemudian tangannya mulai menyeka wajahnya yang masih dipenuhi dengan peluh. “Lalu es itu untuk apa?” tanyanya kemudian.

“Entahlah,” jawab Eun Ji dengan memandang bungkusan es tersebut.

“Untuk berjaga-jaga seandainya kau mimisan lagi,” sambar Ki Bum begitu sampai dan langsung berjongkok di sebelah gadis itu. “Minumlah ini,” lanjutnya sambil membantu gadis itu untuk bangun lalu memberikan segelas minuman dingin kepadanya.

“Aku tidak selemah itu,” gerutu Soo Rin sambil meraih minumannya lalu meminumnya.

“Apakah sekedar mengantisipasi sama saja dengan menganggapmu seperti itu?” tanya Ki Bum yang membuat Soo Rin melirik di sela-sela minumnya. Ki Bum tahu maksud dari lirikan itu. Diulurkan sebelah tangannya ke puncak kepala gadis itu lalu mengusapnya gemas. “Jika aku menganggapmu seperti itu, sejak awal aku sudah melarangmu untuk berpanas-panasan bahkan mengurungmu di villa sampai waktu liburan ini berakhir. Atau mungkin aku akan melarangmu untuk ikut dengan kami.”

Mwo?” Soo Rin tersulut hingga menepiskan usapan Ki Bum dari kepalanya. Bukankah secara tersirat lelaki di hadapannya ini tengah menyindirnya? Dan apa itu, melarang? Dia pikir dirinya adalah ayah Soo Rin? Meletakkan gelas minumannya dengan hentakan di atas kursi di sebelahnya, sambil mendengus kesal Soo Rin bangkit dari duduknya dengan susah payah. Yang justru menguntungkan Ki Bum dengan kembali menarik gadis itu hingga kembali terduduk bahkan hingga tubuh itu limbung. Dengan gesit tangan lainnya ikut andil merangkul bahu Soo Rin dan membimbingnya hingga tubuh itu tersandar di dada bidangya. Lututnya yang tidak menyentuh tanah digunakan sebagai sandaran tangannya yang sudah memeluk tubuh Soo Rin.

“Kau ini mudah sekali terpancing, hum?” Ki Bum menggerakkan wajahnya maju hingga membuat gadis di pelukannya menegang hingga menahan napas. Dan Ki Bum menyadari semburat merah muda telah menjalar di kedua pipi gadisnya membuat dirinya sangat gemas dengan reaksi itu. Hampir saja wajahnya—yang sedikit lagi bisa meraih benda tak bertulang itu, kembali bergerak maju jika tidak ada suara yang segera menengahi gejolaknya.

“Kim Ki Bum.” Eun Ji mendesis menyebut nama saudara sepupunya itu. Seolah bisa merasakan tatapan tajam yang menghunus bagaikan laser menembus langsung ke kepalanya, Ki Bum segera menjauhkan wajahnya dari wajah merona Soo Rin dan mengalihkan pandangannya kepada Eun Ji. “Jangan pernah melakukannya di hadapan orang banyak, apalagi di hadapanku. Jika kau tidak ingin merasakan manisnya ini.” Eun Ji menunjukkan kepalan tangannya yang terlihat sudah mengeras. Membuat mereka yang sedari tadi memperhatikan adegan itu terkikik geli.

Ki Bum mendengus lalu kembali menatap Soo Rin yang masih mematung di pelukannya. Menegakkan tubuh itu hingga terduduk dengan benar, lalu kembali mengusap puncak kepalanya dengan sayang. “Maaf,” ucapnya yang langsung membuat gadis itu tertunduk menyembunyikan wajah meronanya. Kim Ki Bum, kau hampir lepas kendali di tempat umum seperti ini, rutuknya.

Hari semakin terik. Suasana pantai telah kembali penuh dan ramai oleh para pengunjung. Gerombolan tersebut juga ikut memenuhi pantai dan bermain di sana. Jong Woon, Jong Jin, Tae Yong, dan Tae Min tengah mencoba fasilitas yang disediakan di sana, Jet Ski. Soo Rin bersama Ah Reum yang baru saja kembali bermain dengan air laut tengah berduduk santai di bawah payung, ditemani dengan makanan yang didapat melalui pesan antar.

“Di mana Eun Ji?” tanya Soo Rin.

“Dia bilang ingin mengambil makanan ringan yang dibawanya dari rumah.” Ah Reum mengedikkan bahu.

Soo Rin bangkit dari duduknya bermaksud ingin menyusul Eun Ji. Angin pantai yang sepoi-sepoi membuat Soo Rin terpaksa mengikat rambutnya yang sempat dibiarkan tergerai. Hingga wajahnya terlihat secara menyeluruh membuat siapa saja yang mengenal dirinya langsung menyadari bahwa itu adalah dia. Dan benar saja, begitu Soo Rin hampir mendekati undakan yang menjadi pembatas antara pantai dengan bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang tepi, sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Park Soo Rin!”

Mendengar suaranya terpanggil, Soo Rin menoleh ke sumber panggilan itu. Detik kemudian kedua matanya melebar begitu mendapati sosok yang pernah dikenalnya tengah berlari mendekatinya. Tiba-tiba saja dirinya menahan napas hingga tubuhnya mematung di tempat.

“Kim Ryeo Wook?” Soo Rin menggumam begitu pelan. Namun gerak bibirnya mampu terbaca oleh orang itu.

Ryeo Wook, lelaki itu mengembangkan senyumnya. Dengan penampilannya yang begitu santai—mengenakan kaus bergaris putih dan biru serta celana pantai ¾—membuat dirinya tampak lebih muda. Kedua matanya yang tampak begitu teduh membuat Soo Rin sedikit terguncang. Hingga pandangannya harus sedikit mendengak begitu tubuh yang sudah bertumbuh tinggi dan tegap itu berhenti tepat di hadapannya. Dan, Soo Rin belum mampu mengalihkan pandangannya.

“Kita bertemu lagi,” sapa Ryeo Wook dengan suaranya yang sudah terdengar berat. “Terakhir bertemu saat marathon dulu, kita tidak saling menyapa. Bagaimana kabarmu?” lanjutnya.

Soo Rin menelan ludah. Astaga, dia baru menyadari bahwa mulutnya tidak mengatup sejak tadi! Kini pandangannya mulai turun dari wajah itu. Wajah yang pernah dia pandangi tanpa bosan meskipun dirinya harus menutupi kekagumannya dengan sifat dinginnya. Wajah yang selalu muncul di tiap lamunannya dulu. Wajah yang selalu membuatnya salah tingkah dulu, apalagi jika dihiasi dengan senyum jenaka maupun senyum yang begitu manis.

“Um… kabarku baik. Bagaimana denganmu sendiri?” Soo Rin mencoba menyungging senyum meski tipis. Dia sadar bahwa suaranya terdengar gugup. Tanpa sadar salah satu tangannya meremas dress pantai selututnya.

“Aku juga. Selalu baik.” Ryeo Wook menampakkan senyum jenakanya. Senyum yang masih sangat familiar di mata Soo Rin. Mau tidak mau, Soo Rin mengembangkan senyumnya. Entah mengapa, dia masih merasa senang melihat senyuman itu. Dan tanpa dia sadari, Ryeo Wook begitu memperhatikan wajahnya. Hingga sebuah senyuman tercetak… di mata lelaki itu.

“Kau… datang sendiri?” Soo Rin mencoba kembali bertanya. Yang langsung disambut dengan senyuman lebar dari Ryeo Wook.

“Tidak. Aku bersama teman-teman satu angkatan di sekolahku.” Ryeo Wook melihat reaksi kebingungan dari wajah Soo Rin. Kemudian dia melanjutkan, “Kita merencanakan liburan musim panas bersama-sama.” Ryeo Wook melihat reaksi gadis itu berubah. Kenapa dia baru menyadari bahwa gadis di hadapannya memiliki berbagai macam ekspresi yang cukup… membuatnya tertarik?

 

Eun Ji tengah melangkah menuju pintu kaca besar yang menghadap hamparan pantai sambil membawa beberapa makanan ringan yang dibawanya dari rumah tempat tinggalnya saat ini. Eun Ji mendapati seseorang yang sangat dikenalnya tengah berdiri di teras dengan pandangan menuju ke depan. “Ki Bum-ah, kau tidak bergabung dengan yang lainnya?” sapanya begitu menghentikan langkahnya tepat di sebelah Ki Bum. Eun Ji mengernyit bingung. Kenapa Ki Bum tidak membalas sapaannya? Apakah lelaki ini sedang melamun?

“Hei, Kim Ki Bum!” Eun Ji mencondongkan tubuhnya hingga matanya mendapati wajah lelaki itu. Eun Ji semakin bingung, ekspresi Ki Bum begitu datar—lebih tepatnya sulit untuk di tebak. Pandangan Ki Bum sepertinya bukan tertuju kepada hamparan pantai, melainkan tertuju pada titik lainnya. Eun Ji mencoba mengikuti arah pandang saudara sepupunya itu. Benar saja, Eun Ji mendapatkan objek yang sudah pasti menjadi sasaran pandangan Ki Bum. Ia mendapati Soo Rin yang tengah berhadapan sekaligus tampak tengah berbincang dengan— “Kim Ryeo Wook…” desis Eun Ji tanpa sadar. Kedua matanya tampak melebar dengan ekspresinya yang terlihat begitu terkejut.

Ki Bum beralih menatap Eun Ji. “Siapa?” tanyanya yang membuat Eun Ji segera beralih kembali menatapnya.

“Oh, tidak,” sergah Eun Ji cepat. Mendapati tatapan yang begitu dingin membuat Eun Ji sedikit gugup. Padahal dia selalu berbuat berani terhadap saudara sepupunya ini. Eun Ji segera melesat menjauh menuju pantai, meninggalkan Ki Bum.

Bukan berarti Ki Bum tidak mendengar. Lelaki itu mendengarnya dengan sangat jelas nama yang keluar dari mulut Eun Ji. Yang seketika membuat dirinya menahan napas, serta tangan yang bersembunyi di balik saku celananya mengepal.

****

:: Chodang Sundubu Village – Gangneung

 

Malam harinya, Jong Woon mengajak yang lainnya untuk makan di luar. Ternyata dirinya memang memiliki niat untuk menraktir mereka makan malam sebelum terjadi balap sepeda dadakan di pagi hari tadi. Jong Woon mengajak ke sebuah restoran yang tidak jauh dari Pantai Gyeongpo. Bahkan Jong Woon mengajak mereka untuk berjalan kaki dibandingkan naik mobil.

Chodang Sundubu Village merupakan sebuah rumah makan yang menyajikan berbagai masakan tahu khas Korea bernama Dubu. Sedangkan Sundubu merupakan tahu sutera atau tahu bertekstur lembut karena terbuat dari air laut yang bersih. Dan Sundubu yang paling terkenal adalah dari desa Chodang ini, Chodang Sundubu. Tak hanya Sundubu, Dubu lainnya juga tersaji di Village ini. Seperti Dubu Jorim (tahu goreng dengan saus Jorim), Dubu Kimchi, dan lain sebagainya.

Tae Yong dan Tae Min yang sudah bersemangat ingin mencoba kuliner baru segera memasuki Village tersebut bersama Jong Woon. Soo Rin bersama Eun Ji dan Ah Reum tampak berjalan bersama di jarak yang cukup jauh. Di susul dengan Ki Bum, lalu Jong Jin dan Eun Jung yang saling bergandengan tangan.

“Soo Rin-ah?”

Langkah Soo Rin terhenti begitu ingin menyusul Ah Reum dan Eun Ji yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam Village. Tubuhnya sedikit berbalik demi melihat siapa yang memanggilnya, meskipun sebenarnya dia merasa sudah tidak asing dengan suara yang memanggilnya barusan. Dan benar saja, Soo Rin tampak tertegun begitu mendapati orang itu sudah berdiri tak jauh darinya.

“Kim Ryeo Wook?”

Ryeo Wook mengembangkan senyumnya dan berjalan semakin mendekat. “Kau ingin makan di sini?” tanyanya yang langsung mendapat anggukan dari Soo Rin.

“Kau sendiri?” Soo Rin ikut bertanya yang mendapat anggukan pula dari Ryeo Wook. “Hanya sendiri?” lanjutnya.

“Tidak. Teman-temanku sudah datang lebih dulu. Mereka ada di dalam.” Soo Rin mengangguk-angguk paham. Mulutnya ber-oh ria tanpa suara, yang justru membuat Ryeo Wook merasa senang tiba-tiba. Bahkan ekspresi bodohnya masih terlihat sama, pikirnya. “Bagaimana denganmu? Ah, aku melihat Eun Ji barusan. Apakah itu benar dia?” tanyanya. Soo Rin mengangguk sambil tersenyum.

Ada kecanggungan yang baru saja mereka sadari. Perpisahan yang sudah cukup lama ternyata telah melenyapkan kenyamanan mereka dalam berinteraksi. Meskipun sifat mereka masing-masing masih dibilang sama seperti dulu, tapi rasa kedekatan yang mereka ciptakan untuk saling berinteraksi dulu telah hilang. Mau tidak mau, tidak hanya Soo Rin yang sejak awal selalu terlihat kaku, Ryeo Wook yang selalu terbuka dengan siapa saja juga harus terlihat kaku di hadapan gadis ini. Dan juga—tanpa disadari Soo Rin, lelaki itu mulai terlihat gugup.

Tiba-tiba seseorang datang dan berdiri di dekat Soo Rin. Meraih tangan gadis itu hingga menautkan jari-jarinya ke jari-jari gadis itu, mengapit lengan mereka hingga tubuh mereka memepet. Sontak membuat Soo Rin terhenyak begitu merasakan sentuhan kulit hangat serta perlakuannya dan segera menoleh ke arahnya. Memandang Soo Rin dengan ekspresi datarnya, lalu mengucap, “Ayo masuk,” dengan suara beratnya yang terdengar… juga datar.

Soo Rin mengikuti langkah Ki Bum yang menarik tautan mereka untuk masuk ke dalam. Sejenak ia kembali menatap Ryeo Wook yang terbengong-bengong demi memberi salam pamit kepadanya. Lalu kembali menatap Ki Bum yang berjalan sedikit mendahului tanpa melepas tautan mereka. Sambil mengernyit bingung dirinya menggerutu, kenapa lelaki ini tiba-tiba menggandengnya padahal mereka hanya berjalan masuk ke dalam rumah makan? Dan lagi, dia kan sedang berbicara dengan Ryeo Wook.

Sedangkan Ryeo Wook yang melihat kejadian barusan, tampak masih mematung di tempat. Pikirannya mulai bertanya-tanya, siapa lelaki yang dengan beraninya menggandeng dan membawa pergi Soo Rin dari hadapannya?

****

:: Next Day – Tuesday

 

Soo Rin kembali bertemu Ryeo Wook. Tempat menginap yang merupakan sebuah hotel berjarak tidak jauh dari villa membuat lelaki itu dengan mudah bertemu dengan Soo Rin di pantai. Dengan ditemani Eun Ji, mereka berbincang bersama sambil berjalan menuju sebuah meja piknik yang masih kosong dan duduk di sana. Bernostalgia ria akan kebersamaan mereka, seperti dulu.

“Jadi berapa lama kau berlibur di sini?” Eun Ji mengubah topik.

“Hari Kamis kita sudah selesai di sini,” jawab Ryeo Wook dengan sedikit menyesal. Mengingat kedekatan mereka sudah mulai terasa karena adanya Eun Ji. Membuat Eun Ji dan Soo Rin mendesah bersamaan.

“Sayang sekali. Padahal kita masih di sini sampai hari Minggu. Kenapa sebentar sekali di sini?” Eun Ji mengernyit tak rela.

“Kita harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Jeju,” jawab Ryeo Wook yang membuat mereka tercengang.

“APA? JEJU??” seru kedua gadis itu bersamaan. Ryeo Wook terkekeh geli melihat reaksi terkejut mereka. Dengan bangga, Ryeo Wook mengangguk sebagai jawabannya.

“Kau juga akan berlibur ke sana?” tanya Soo Rin yang langsung mendapat anggukan dari Ryeo Wook. “Bersama teman-teman satu angkatan sekolahmu?” lanjutnya yang mendapat jawaban sama dari Ryeo Wook.

“Kau ini sedang berstudi wisata atau apa, huh?” tanya Eun Ji sedikit kesal sekaligus iri.

“Itu dia! Kita memang sedang berstudi wisata sekaligus berlibur. Perjalanan ini juga menjadi tugas liburan musim panas kami, yaitu membuat laporan selama perjalanan studi ini.”

“Jadi, tempat wisata mana saja yang kalian kunjungi?”

“Setelah mengunjungi Pulau Jeju selama empat hari, kunjungan terakhir kita adalah Mokpo. Kita akan menetap di sana selama dua malam.”

Kedua gadis itu kembali tercengang. Yang benar saja, bisa-bisanya sekolah melakukan studi wisata ke berbagai tempat yang tergolong begitu terkenal. Berapa banyak biaya yang mereka keluarkan untuk kegiatan ini? Ryeo Wook kembali terkekeh. Dia sudah menduga akan mendapat reaksi seperti sekarang ini.

“Kau curang.”

Ryeo Wook menoleh. Detik kemudian tatapannya terkunci dengan ekspresi itu. Wajah yang memberenggut tak suka dengan bibir yang mengerucut. Entah mengapa, dia langsung menyukai ekspresi itu. Tanpa sadar tangannya terulur hingga ke puncak kepala itu dan mengusapnya gemas.

“Siapa suruh tidak bersekolah di sekolah yang sama denganku?” tanya Ryeo Wook spontan. Sedangkan Soo Rin harus tercenung dengan pertanyaannya, juga perlakuannya yang masih terasa sama. Mengusap gemas puncak kepalanya.

 

 

Soo Rin melangkah menuju dapur villa. Dilihatnya Jong Woon yang tengah berkutat dengan segala peralatan dapur. Mengernyit bingung, Soo Rin berjalan mendekati Jong Woon. Apa lagi yang sedang idola itu buat, pikirnya.

“Perlu kubantu?” sapa Soo Rin yang sedikit mengejutkan Jong Woon dari keseriusannya.

“Oh, Soo Rin-ah!” sambut Jong Woon dengan senyum andalannya. “Tidak. Aku hanya sedang membuat Frappuccino. Entah mengapa saat ini aku ingin minum minuman ini,” ujarnya sambil menuang minuman berwarna cokelat terang yang baru diblendernya ke dalam gelas yang cukup panjang lalu menambahkan krim kocok di atasnya. “Kau mau mencobanya?” tawarnya kemudian.

Soo Rin mengambil sedotan yang tersedia tak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu menyeruput Frappuccino buatan Jong Woon yang ternyata merupakan rasa Mocca. Soo Rin mengembangkan senyumnya. “Mocca-nya terasa sangat pas!” komentarnya.

“Tentu saja! Siapa dulu yang membuat? Sudah, itu untukmu saja. Aku akan membuat lagi.” Jong Woon terlihat sumringah. Detik kemudian pandangannya beralih. “Oh, Ki Bum-ah! Kau ingin mencoba Frappuccino buatanku juga?” serunya membuat Soo Rin menoleh ke belakang dan mendapati Ki Bum yang tengah berjalan mendekat lalu berdiri di sebelahnya.

Eum.” Ki Bum menjawab dengan datar. Membuat Soo Rin sedikit mengernyit bingung. Tingkah Ki Bum hari ini terlihat berbeda dibandingkan biasanya. Tapi memang dasarnya Soo Rin masih begitu kikuk, dia tidak berani untuk sekedar bertanya ‘kenapa’. Ki Bum melirik Soo Rin yang kembali menyeruput minumannya sambil menunduk. Memperhatikan puncak kepala gadis itu membuat ingatannya kembali memutar kejadian yang dilihatnya tadi. Tanpa sadar, tangannya terulur hingga mendarat ke puncak kepala itu. Membuat sang pemilik sedikit tersentak dan terpaksa memandangnya. Ki Bum menatap tepat di manik mata Soo Rin. Seolah mengerti apa yang tengah berada di pikiran gadisnya, Ki Bum hanya berkata, “Rambutmu terlihat berantakan.”

“Huh? Be-benarkah?” Soo Rin tergugup. Tangannya terangkat bermaksud ingin merapikan rambutnya. Tapi tangan Ki Bum segera menepisnya dengan perlahan sebelum kembali bergerak seolah merapikan rambut panjang tersebut.

“Lebih baik ikat rambutmu jika sedang berada di luar,” ujar Ki Bum seolah menasehati sebelum dirinya berbalik lalu melangkah pergi.

“Hei, Ki Bum-ah! Kau mau ke mana?” tanya Jong Woon yang tengah menuang Frappuccino buatannya untuk Ki Bum. Tak mendapat balasan dari yang dipanggilnya, Jong Woon memberenggut. “Ish, sudah kubuatkan malah pergi,” gerutunya.

Sedangkan Soo Rin hanya melongo melihat tingkah lelaki itu. Dia kenapa? batinnya.

Malam ini mereka memilih untuk berkumpul bersama di salah satu meja piknik tak jauh dari villa. Mereka memilih untuk barbecue sebagai menu makan malam ini. Jong Jin bersama Eun Jung berbelanja segala macam daging ayam dan sapi serta berbagai pelengkap tadi siang di supermarket terdekat. Sambil menikmati sejuknya pantai di malam hari, mereka mulai berpanggang ria sambil bersenda gurau.

Soo Rin baru menyelesaikan kegiatan mandinya dan segera menyusul untuk bergabung setelah berganti pakaian. Seperti biasa, Soo Rin mengenakan dress musim panas yang kini dengan panjang di bawah lutut serta berlengan pendek. Gadis itu memang tidak suka memakai pakaian yang terlalu terbuka.

“Soo Rin-ah!”

Langkah Soo Rin terhenti di jalan setapak yang sedikit lagi mendekati undakan pantai. Pandangannya mendapati sosok yang dikenalnya tengah melambaikan tangan di bawah sana. Sempat matanya memicing demi memastikan bahwa dugaannya adalah benar karena kurangnya penerangan di tempat sosok itu berdiri. Kemudian ia membuka langkah menuruni undakan hingga menapak pasir putih nan lembut, berdiri menghadap orang tersebut. “Kim Ryeo Wook? Ada apa?”

Ryeo Wook, lelaki itu menampakkan senyum jenakanya sambil mengusap tengkuk beberapa kali. Entah mengapa, dia mulai kembali gugup berhadapan dengan Soo Rin. “Tak sengaja aku melihatmu sedang berjalan sendirian. Kau ingin ke mana?”

“Aku? Aku ingin menyusul yang lainnya di sana.” Soo Rin menunjuk ke salah satu meja piknik yang tengah dikerumuni sekelompok orang dengan alat panggang yang cukup besar di dekat mereka. “Kenapa kau ada di sini? Apakah kau tidak ada kegiatan bersama yang lainnya?” tanya Soo Rin kemudian.

Ryeo Wook menggeleng. “Malam ini adalah waktu bebas setelah makan malam. Karena tidak punya tujuan, akhirnya aku berjalan-jalan saja di pantai. Mau menemaniku?” Ryeo Wook terkekeh.

Soo Rin terlihat salah tingkah. Meskipun dia sudah tidak merasakan perasaan aneh yang pernah bersarang dulu, dia masih merasa gugup untuk berhadapan dengan Ryeo Wook. Siapa yang tidak gugup berhadapan dengan orang yang pernah disukainya? Apalagi jika orang itu adalah cinta pertamanya dulu?

“Soo Rin-ah?” Ryeo Wook sedikit membungkuk demi melihat wajah tertunduk itu. Melihat gadis itu sedikit tersentak membuat dia berdecak. “Hei, kau belum bisa menghilangkan penyakit melamunmu itu, huh?” Ryeo Wook berkacak pinggang.

“Apa? Si-siapa yang melamun? Aku tidak melamun!” kilah Soo Rin membuat Ryeo Wook tertawa melihat reaksinya. Ternyata gadis ini belum banyak berubah, pikirnya.

“Jangan mengelak. Aku tahu kau, Rin-ah!”

Soo Rin tertegun mendengar sebutan itu. Begitu juga Ryeo Wook. Tanpa sadar, lelaki itu mengucapkannya dengan spontan. Hingga kemudian terasa aura kecanggungan di antara mereka. Hanya karena sebutan nama itu—sebutan akrab yang diciptakan Ryeo Wook untuk Soo Rin dulu, mereka mulai terlihat salah tingkah!

Eung… Soo Rin-ah, jika aku boleh tahu… siapa lelaki yang kemarin bersamamu itu?”

Eoh?”

Soo Rin melongo. Sedangkan Ryeo Wook semakin gugup merutuki pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya. Bukannya mencairkan suasana, justru dia membuat suasana semakin canggung. Soo Rin yang sempat tengah mencerna maksud pertanyaan Ryeo Wook mulai menangkap siapa yang tengah lelaki itu maksudkan.

“Dia Kim Ki Bum,” jawab Soo Rin dengan suara pelannya. “Dia adalah kekasihku.” Soo Rin merasa berdebar-debar mengucapkannya. Tanpa dia sadari, semburat merah muncul di kedua pipinya yang sedikit kemerahan. Membuat wajah itu tampak begitu merona. Hanya karena menyebut kata ‘kekasih’ sudah membuat bayangannya langsung dihantui oleh wajah yang selalu membuat jantungnya jumpalitan selama ini.

Ryeo Wook melihat ekspresi itu. Tiba-tiba ada rasa kecewa dan menyesal menyeruak di benaknya. Mendengar jawaban serta ekspresinya ketika mengucapkan kalimat itu, membuat Ryeo Wook seketika mengendurkan kedua bahunya. “Jadi, kau sudah punya kekasih?” tanyanya yang lebih mirip dengan sebuah ungkapan.

“Um…” Soo Rin mengangguk dengan salah tingkah. Dia mencoba mengangkat pandangannya begitu mengingat sesuatu. “Ah, bagaimana kabar Seo Ji Hyun?”

Ryeo Wook menundukkan pandangannya. “Seo Hyun? Aku—aku tidak tahu…”

“Eh? Kenapa tidak tahu?”

“Aku—aku dan Seo Hyun sudah berpisah…”

Soo Rin tertegun mendengarnya. Tanpa sadar sebelah tangannya terangkat menutup mulutnya yang sedikit menganga. “Se-sejak kapan?” tanyanya hati-hati.

“Sejak kita mulai berlanjut ke tingkat kedua.” Ryeo Wook hanya tersenyum tipis dengan mata yang sudah sendu. “Karena perbedaan sekolah, sepertinya rasa kepercayaan kami mulai memudar. Akhirnya, di awal semester tahun ini, kami sepakat untuk mengakhiri hubungan kami,” jelasnya terdengar miris.

“Aku… maafkan aku. Aku turut menyesal,” ucap Soo Rin lirih.

“Tidak, tidak! Tidak apa-apa!” Ryeo Wook merubah raut wajahnya kembali menjadi ceria. Sampai sekarang pun, dia masih bisa mengubah ekspresi dengan begitu cepat. “Lebih baik, kau segera menyusul mereka. Aku takut mereka akan mengkhawatirkanmu yang tak kunjung datang.”

Soo Rin akhirnya mengangguk. “Kau juga. Jangan berkeliaran sendirian terlalu lama. Bagaimana jika teman-temanmu mengkhawatirkanmu?” ujarnya sambil mencoba tersenyum.

“Aku ini sudah menjadi lelaki dewasa. Tidak masalah!” Ryeo Wook menunjukkan cengirannya. Menyadari bahwa gadis itu tengah memicingnya, Ryeo Wook terkekeh. “Aku mengerti. Aku akan segera kembali ke hotel setelah ini!” Ryeo Wook mendaratkan tangannya di puncak kepala Soo Rin. Mengusapnya dengan gemas hingga mengacak-acak rambut panjangnya yang diikat hanya sebagian.

Ya!!” Soo Rin memberenggut kesal. Membuat Ryeo Wook tertawa kecil melihat raut wajah kesal gadis itu. Gadis ini memang tidak banyak berubah.

“Pergilah,” titah Ryeo Wook yang langsung dituruti Soo Rin.

Gadis itu berbalik lalu melangkah menaiki beberapa undakan. Karena terburu-buru, tanpa sadar pijakannya tidak menapak salah satu anak tangga dengan sempurna hingga tergelincir. Membuat tubuhnya limbung ke depan dan wajahnya hampir membentur ujung anak tangga jika sebuah tangan tidak langsung menarik lengannya.

Ryeo Wook menarik dengan sigap hingga tubuh Soo Rin berbalik menghadapnya dan jatuh ke tubuhnya. Yang malah membuat dirinya kehilangan keseimbangan hingga terjungkal ke belakang dan jatuh berdebam dengan punggung mencium tanah pasir terlebih dahulu. Dengan Soo Rin yang langsung dipeluknya berusaha melindungi tubuh itu agar tidak ikut mencium tanah pasir, kini gadis itu berada di atas tubuhnya.

Soo Rin terkesiap begitu mendapati dirinya sudah menimpa tubuh Ryeo Wook. Detik kemudian ia bangkit dari tubuh Ryeo Wook dan segera terduduk. “Kim Ryeo Wook, kau tidak apa-apa?” tanyanya panik. “Ma-maaf. Maafkan aku!”

“Aku… tidak apa-apa…” Ryeo Wook terbata-bata. Soo Rin membantu Ryeo Wook agar terduduk. Dirasakan punggungnya begitu nyeri hingga membuat dirinya sedikit meringis. Yang malah membuat Soo Rin khawatir. Melihat itu, Ryeo Wook mencoba tersenyum. “Sungguh, aku tidak apa-apa. Justru aku mengkhawatirkanmu. Kau… tidak ada yang terluka, kan?”

Soo Rin menggeleng cepat. Raut wajahnya tidak berubah. Membuat Ryeo Wook tanpa sadar mengangkat sebelah tangannya ke wajah gadis itu. Mencoba merengkuhnya… untuk yang pertama kalinya. Membuat Soo Rin terpana sekaligus terhenyak begitu merasakan sentuhan itu. Namun itu tidak berlangsung lama karena sebuah tangan segera menepis tangan Ryeo Wook hingga terlepas dari wajahnya.

Mendengakkan wajah, Soo Rin kembali terkesiap begitu seseorang sudah berdiri di dekatnya. Menatap Ryeo Wook dengan tajam dan dingin sebelum beralih menatapnya. Dan Soo Rin mulai bergidik melihat tatapan yang menghunus langsung ke matanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Ki Bum menarik lengan Soo Rin hingga tubuh gadis itu berdiri. Lalu turun hingga ke pergelangan tangan Soo Rin dan kembali menariknya untuk pergi dari tempat itu—dengan paksa. Meninggalkan Ryeo Wook yang masih terduduk, yang kini tengah memandang kedua orang itu dengan sendu. Bahkan gadis itu tidak pernah menoleh lagi kepadanya, pikirnya.

Soo Rin yang awalnya hanya mengikuti tarikan Ki Bum dalam diam, mulai meringis begitu dirasakan cengkeraman Ki Bum yang sangat erat di pergelangan tangannya. Ditambah Ki Bum menariknya tidak menuju ke tempat yang lainnya berkumpul, melainkan menuju ke villa. “Ki-Kim Ki Bum, tung—” Soo Rin tak mampu melanjutkan kalimatnya begitu dirasakan langkahnya semakin cepat hingga harus berlari kecil demi mengimbangi langkah Ki Bum yang begitu cepat dan lebar.

Ki Bum baru menghentikan langkahnya begitu sampai di ruang tengah. Menarik Soo Rin hingga berdiri di hadapannya, lalu menatap wajah itu dengan lekat—dan tajam. Membuat tubuh Soo Rin kaku dan dirinya kembali bergidik ngeri.

“Kau ingin membuatku marah?”

“Huh?” Soo Rin mengernyit bingung dengan pertanyaan Ki Bum. Dirinya juga mulai gugup melihat wajah itu tampak mengeras.

“Kau sedang mengujiku, huh?”

“A-apa maksudmu?” Soo Rin tergagap. Keningnya semakin berkerut mendengar pertanyaan Ki Bum yang sangat ambigu. Dan sangat tidak dia pahami.

“Kau pikir seharian ini aku berusaha tidak peduli padamu karena tanpa alasan?” tatapan Ki Bum semakin menghunus ke dalam retina. Membuat Soo Rin tak sanggup untuk beralih dan semakin membuat gadis itu kaku. “Kau pikir aku tidak memperhatikanmu seharian ini?”

Soo Rin mulai mencerna maksud dari segala tutur kata Ki Bum. Yang kemudian kedua matanya melebar dan mulutnya terbuka mencoba kembali berbicara. Tapi niatnya harus ditelan mentah-mentah begitu Ki Bum mulai bergerak maju. Sontak membuat Soo Rin terpaksa mundur hingga tubuhnya membentur bagian belakang sofa dan tubuhnya hampir terjungkal ke belakang jika Ki Bum tidak segera meraih pinggangnya dan memeluknya.

Ki Bum dapat merasakan tubuh gadisnya menegang akibat perlakuannya. Matanya tidak beralih dari wajah yang selalu mengeluarkan ekspresi yang berbeda-beda. Kini wajah itu terlihat merona dan itu selalu membuat gejolaknya naik dengan tiba-tiba. Ditambah bayang-bayang yang telah dilihatnya seharian ini—hingga kejadian terakhir tadi, membuat gejolaknya semakin mendesak dan terasa ingin meledak kapan saja.

“Kim Ki Bum…” Soo Rin melirih. Dia hanya sanggup menyebut nama lelaki yang kini tengah memeluknya, memandangnya lekat—dengan begitu tajam serta rahang yang mengeras. Dan itu membuat jantungnya semakin bergemuruh hebat.

Sedangkan Ki Bum semakin tidak bisa menahan gejolaknya begitu suara gadis ini menusuk gendang telinganya, menyebut namanya dengan begitu halus, membuat jantungnya juga ikut bergemuruh. Ki Bum mencondongkan wajahnya mendekat, tubuhnya semakin dihimpitkan pada tubuh Soo Rin. Hingga jarak di antara wajah mereka tidak lebih dari 5 centimeter, Soo Rin mulai menahan napas dan mulutnya mulai terkatup rapat.

Namun dugaannya meleset begitu wajah Ki Bum melewati wajahnya. Kemudian dirasakan sesuatu menyentuh daun telinga sebelah kirinya. Detik kemudian, Soo Rin terperanjat. Merasakan sesuatu tengah mengulum daun telinganya dengan perlahan, lalu menggigit gemas seolah memberikan sengatan listrik yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Memberikan efek menggelitik di bagian perutnya. Memicu darahnya mengalir deras hingga menimbulkan rasa panas yang menjalar ke wajahnya. Dan memicu jantungnya ingin meloncat keluar dari tempatnya.

Ki Bum merasakan kedua tangan Soo Rin meremas bajunya seolah memberikan isyarat bahwa gadis ini butuh sesuatu untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Dan itu direspon oleh Ki Bum dengan mengeratkan pelukannya, dengan masih mengulum daun telinganya, dengan gemas, Ki Bum kembali menggigit kecil telinga gadis ini. Melampiaskan segala perasaannya yang campur aduk akibat gadis ini. Meskipun tidak keras—bahkan tidak sampai mengeluarkan tenaga, Ki Bum sukses membuat tubuh di pelukannya benar-benar kaku dan menegang. Sudah dirasa cukup, Ki Bum mengakhirinya dengan menjauhkan wajahnya hingga matanya mampu kembali manatap wajah Soo Rin. Jika saja dia sedang tidak dalam keadaan marah, sudah dipastikan dia akan menampakkan seringaiannya. Hanya saja dalam hati, Ki Bum bersorak karena telah menemukan titik lemah gadis ini.

Sungguh, wajah Soo Rin sudah merah padam sekarang!

Ki Bum melepas pelukannya setelah membuang napas dengan kasar. Jujur, rasa sesak di benaknya belum juga mereda. Melihat sosok yang merupakan cinta pertama Soo Rin—dulu—muncul di hadapan gadis ini, telah membuat Ki Bum kalut selama dua hari ini. Awalnya dia mengkhawatirkan akan adanya Jong Woon di sekitar Soo Rin, tapi ternyata sosok Ryeo Wook lah yang membuat dia merasa dipontang-panting. Takut gejolaknya semakin memberontak dan kembali menyerang gadis di hadapannya, Ki Bum melangkah cepat meninggalkan Soo Rin. Menuju ke kamarnya.

Begitu suara pintu tertutup dengan keras terdengar, Soo Rin yang sedari tadi hanya membeku mulai merosot hingga terduduk lemas di lantai. Napasnya tampak tersengal-sengal layaknya habis bermarathon. Tangannya terangkat meremas dadanya, merasakan jantungnya yang sudah berdetak sangat-sangat cepat dari batas normal. Dan Soo Rin merasa ingin menangis bahkan jatuh pingsan!

“Soo Rin-ah! Kau kenapa?” Eun Ji yang berniat ingin memeriksa Soo Rin dan Ki Bum karena sebelumnya dia sempat melihat mereka masuk ke dalam villa hingga tidak keluar lagi, kini terheran-heran dan mulai khawatir begitu mendapati Soo Rin sudah terduduk lemas di lantai. “Astaga, Soo Rin-ah, kau sakit? Wajahmu sangat merah.” Eun Ji menyentuh kening Soo Rin memeriksa suhu tubuhnya. Lalu mengernyit begitu dirasakan bahwa gadis ini tidak demam. “Di mana Ki Bum, hum?” tanyanya kemudian.

Soo Rin terhenyak mendengar nama Ki Bum. Jantungnya semakin bergemuruh begitu ingatannya kembali ke kejadian barusan. Dengan spontan Soo Rin menyentuh telinga kirinya. Bahkan perlakuan lelaki itu masih terasa membekas di telinganya. Dan itu membuat Soo Rin kalut. Dengan susah payah, Soo Rin bangkit dari duduknya lalu berlari meninggalkan Eun Ji yang terus memanggilnya. Mengurung dirinya di kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamar inapnya. Lalu kembali meluruhkan tubuhnya, kini dengan memeluk kedua lututnya.

Sungguh, Soo Rin mengutuk dirinya yang memiliki titik kelemahan di telinganya.

-To Be Continued


IGE MWOYA?!

hahahahahahaha /ketawa sambil nangis/? Ah, ini ff makin absurd dan makin menjadi-jadi…..panjang pula lah! /ditendang Kibum/  Maafkan saya ㅠㅠ Bahkan saya udah bikin Kibum jadi kayak si Hyukjae di sini /diplototin/? (Tetem: man, dari awal juga Kibum Hyung udah dibikin kurang ajar di sini keleusss) :: oh iya =___=

Oke, part berikutnya adalah part terakhir. Yah, namanya juga Mini Chaptered. Saya juga males bikin panjang-panjang (Wook: padahal pertama kali bikin ff dengan main cast gue sampe berkapter-kapter lu ah, tabokin nih) :: sshh!! -__- || Apalagi isinya aneh bin absurd kayak gini #nyess lah pokoknya (?)

Ah, ya, di sini ada sedikit hubungannya di ff sebelumnya. Ada salah satu kata yang aku kasih link. Itu merupakan awal mereka ketemu lagi setelah mereka jadi anak SMA. Yah, Wook kan dulu masa lalunya Soorin. Jadi, bagi anda yang berkenan untuk membaca sebelumnya silahkan klik!

Okay, sekian dari saya. Terima kasih sudah mampir~ SWING!! ^-^

KR

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

16 thoughts on “Summer (Love) Holiday – Part 2

  1. ceritanya bagus banget kak, apalagi ada yesung oppa bias ku yg kece badai.. hehe:D
    pengen tau cerita selanjutnya soo rin sama ki bum oppa. ditunggu ya kak
    gomawoo #bow90° ^^

  2. setelah sekian lama gak pernah muncul akhirnya nongol jg sie ryeo wook
    kirain kibum bakal cemburu sam jong woon ternyata cemburu sama ryeo wook cinta pertamanya soo rin
    kibum paling bisa buat soo rin memerah,, ohh sweet bgt. 🙂

  3. Hyaaa kibum cemburu bgt sama ryeowook 😀
    degdegan baca part yg satu ini, nggak kebayang ekspresi kibum kayak apa :3

  4. Ryeowook datangggg omgg wakakaa sorry yaa aku gk baca part cerita yg when i get this feeling itu u.u soalnya udh terlanjur baca yg who are you duluan jadi agak aneh kalo baca yg sebelumnya lagi wkwkwkk jadi lanjutt aja terosss,, pengen juga dah dicium telinganyaa 😆😆 ohh kim kibum 😍

  5. Ki Bum bener aku juga ngira yang bakalan bikin Ki Bum cemburu itu Yesung Oppa ternyata ada Rye Wook muncul toh 😀 , pas baca cast dan ada nama Rye Wook Oppa langsung sesek nafas pasti bakal ada konflik kecil kecilan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s